Anda di halaman 1dari 26

STEP I

1. Model progress
Model studi yang dibuat setelah dilakukan perawatan sebagai evaluasi ada
tidaknya peningkatan setelah perawatan
2. Alat lepasan
Alat orthodontic yang dapat dipasang dan dilepas, memiliki konstruksi
yang sederhana, biasanya digunakan untuk perawatan pada usia 6 16
tahun
3. Aktivasi
Pengaktivan alat orthodontic untuk mengubah tata letak gigi dengan
proses defleksi
4. Komponen pasif
Komponen alat orthodontic yang mendukung komponen aktif, terdiri dari
band, tube, dan bracket
5. Klamer adams
Komponen alat retentif yang paling umum digunakan, memiliki diameter
0,7 mm untuk gigi molar dan premolar serta 0,6 mm untuk gigi anterior..
6. Komponen aktif
Komponen orthodontic yang berfungsi untuk menggerakkan gigi baik ke
mesial-dista, maupun bukal-palatal

STEP II

1. Apa saja komponen dari alat lepasan ?


2. Apa fungsi dari alat lepasan ?
3. Apa indikasi dan kontra indikasi dari alat lepasan ?
4. Apa pertimbangan dilakukan pemutaran scrub ekspansi ?
5. Mengapa terdapat kelonggaran dari klamer adams dan busur labial serta
plat akrilik tidak menekan gigi pada kasus skenario ?
6. Instruksi apa yang diberikan dokter gigi kepada pasien ?

STEP III

1. Komponen Alat Ortodonti Lepasan

1
A. Pelat Dasar /Baseplate
B. Komponen Retentif :
1. Klamer / Clasp
2. Kait / Hook
3. Busur Labial / Labial Arch / Labial Bow (dalam keadaan pasif)
C. Komponen Aktif :
1. Pir-pir Pembantu / Auxilliary Springs
2. Busur Labial / Labial Arch / Labial Bow
3. Skrup Ekspansi / Expansion Screw
4. Karet Elastik / Elastic Rubber
D. Komponen Pasif :
1. Busur Lingual / Lingual Arch / Mainwire

2. Peninggi Gigitan / Biteplane

E Komponen Penjangkar :
a. Verkeilung,
b. Busur Labial dalam keadaan tidak aktif.
c. Klamer-klamer. dan modifikasinya

2. Indikasi

- Umur lebih dari 6 tahun , dalam usia ini pasien sudah mulai kooperatif

- Anak dengan fase geligi pergantian/ fase awal

- Maloklusi dengan pola skelet kelas 1 atau yang tidak jauh menyimpang
dari kelas 1 disertai kelainan letak gigi, yaitu :

1. Terdapat jarak gigit yang besar

2. Gigitan terbalik

3. Kelainan jurusan bukolingual (gigitan silang unilateral posterior) yang


disebabkan diplacement mandibula.

Kontra Indikasi

2
- Diskrepansi skeletal yang jelas dalam arah sagital dan vertikal

- Bila dibutuhkan penjangkaran antar maksila

- Adanya malposisi apeks rotasi yang parah ataupun rotasi multipel

- Bila dibutuhkan pergerakan gigi secara translasi (bodily)

- Bila terdapat problem ruangan, misalnya adanya berdesakan yang parah


ataupun adanya

diastema yang berlebihan

3. Pertimbangan Pemutaran

Srub ekspansi dilakukan pemutaran 90o setiap minggunya. Pada kunjugan


pertama biasanya dilakukan satu kali pemutaran (90 o) sebagai adaptasi,
apabila langsung dilakukan dua kali pemutaran (180 o) pasien akan merasa
kesakitan dan tidak nyaman. Pada skenario, kontrol dilakukan dua minggu
sehingga dilakukan dua kali pemturan atau sebesar 180 o

4. Penyebab Kelonggaran dan Plat yang Tidak Menempel pada Gigi

Karena terdapat pergeseran gigi geligi dan lengkung rahang, sehingga


perlu dilakukan aktivasi kembali pada komponen aktif alat lepasan serta
adjust pada komponen retentive alat lepasan, selain itu karena pemakaian
alat lepasan yang dapat dipasang-lepas oleh pasien sendiri juga
mempengaruhi keadaan alat lepasan tersebut.

5. Instruksi Dokter Gigi


- Menginformasikan mengenai dampak positif dan negatif pemakaian
alat lepasan
- Memberikan contoh cara memakai dan melepas alat lepasan
- Menjaga OH
- Merendam alat lepasan dalam air ketika dilepas

3
STEP IV

ALAT LEPASAN

SYARAT FUNGSI KOMPONEN


4

MACAM
AKTIF INDIKASI
RETENTIF CARA
PLATAKTIVASIPENJANGKARAN
DAN ADJUST
STEP V

Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan :

1. Indikasi dan kontraindikasi alat lepasan.


2. Syarat dan fungsi alat lepasan.
3. Komponen alat lepasan aktif ( macam, indikasi, dan cara aktivasi ).
4. Komponen alat lepasan pasif ( macam, indikasi, dan cara adjust ).
5. Komponen plat dan penjangkaran.
6. Prognosis.

STEP VII

LO 1. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI ALAT LEPASAN


Indikasi penggunaan alat lepasan :

1. Pasien yang kooperatif, kebersihan mulut dan geligi dalam kondisi yang
baik
2. Maloklusi dengan pola skelet kelas 1 atau yang tidak jauh menyimpang
dari kelas 1 disertai kelainan letak gigi, yaitu :

5
1) Terdapat jarak gigit yang besar disebabkan kesalahan inklinasi gigi.
2) Gigitan terbalik disebabkan perubahan inklinasi gigi.
3) Malposisi gigi tetapi akar gigi tersebut terletak pada tempat yang
benar.
4) Kelainan jurusan bukolingual (gigitan silang unilateral posterior)
yang disebabkan displacement mandibula.
3. Pencabutan yang terencana hendaknya memberi kesempatan gigi untk
bergerak tipping, dan hendaknya hanya menyisakan sedikit distema atau
bahkan tidak menyisakan diastema sam sekali.

Kontraindikasi penggunaan alat lepasan :

Peranti lepasan tidak sesuai digunakan pada keadaan-keadaan berikut :

1. Diskrepansi skeletal yang jelas dalam arah sagital maupun vertikal.


2. Bila dibutuhkan penjangkaran antarmaksila.
3. Adanya malposisi apeks, rotasi yang parah ataupun rotasi multiple.
4. Bila diperlukan gerakan gigi secara translasi (bodily)
5. Bila terdapat problema ruangan, misalnya adanya berdesakan yang parah
ataupun adanya diastema yang berlebihan

LO 2. SYARAT ALAT ORTODONTI LEPASAN

Syarat alat-alat yang digunakan dalam orthodontic, dibagi menjadi


4 kelompok :

A. Persyaratan Biologis

Alat tersebut harus bisa memberikan pergerakan gigi yang diinginkan.

Alat tersebut tidak boleh membuat perubahan patologis misalnya


resorpsi akar.

Alat tersebut tidak boleh mempengaruhi pertumbuhan alami.

Alat tersebut tidak boleh memberikan pergerakan yang tidak


diinginkan.

6
Material yang digunakan harus biokompatibel dan tidak memiliki efek
toksin.

Alat tersebut tidak boleh rusak bila terkena saliva.

B. Persyaratan Mekanis

Alat tersebut harus mudah dilepas dan dipasang.

Alat tersebut harus cukup kuat untuk menahan tekanan mastikasi.

Alat tersebut harus memberikan tekanan dalam intesitas arah dan


durasi yang diinginkan.

C. Persyaratan Higienis

Sebaiknya alat orthodontic tersebut memiliki sifat self-cleansing, namun


jika tidak maka alat tersebut harus mudah dibersihkan.

D. Persayaratan Estetik

Alat tersebut harus diterima secara estetik.

Sedangkan secara umum syarat alat ortodonti lepasan :

Mudah dipasang dan dilepas pasien

Terletak stabil di dalam mulut

Nyaman dipakai

Desainnya sederhana, tidak tebal, tidak rumit sehingga tidak


menggnggu fungsi bicara

7
Bahan biokompatibel

Dapat memberikan gaya terus menerus

Fungsi Alat Orto Lepasan :

A. Plat Dasar /Baseplate


Merupakan rangka (frame work) dari alat ortodontik lepasan,
umumnya berupa plat akrilik, berfungsi untuk:
Mendukung komponen-komponen yang lain , seperti tempat
penanaman basis spring, klammer, busur labial dan lain-lain.
Meneruskan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian aktif ke gigi
penjangkar.
Mencegah pergeseran gigi-gigi yang tidak akan digerakkan.
Melindungi spring-spring di daerah palatal.
Menahan dan meneruskan kekuatan gigitan

B. Komponen Retentif
Bagian retensi dari Alat Lepasan umumnya berupa
cangkolan/klamer/clasp dan kait / hook, berfungsi untuk :
Menjaga agar plat tetap melekat di dalam mulut.
Mempertahankan stabilitas alat pada saat mulut berfungsi.
Membantu fungsi gigi penjangkar/anchorage, menghasilkan kekuatan
pertahanan yang berlawanan arah dengan kekuatan yang dihasilkan
oleh bagian aktif untuk menggerakkan gigi.
Klamer dapat diberi tambahan hook untuk tempat cantolan elastik.
C. Komponen Aktif
Pegas-pegas unituk menarik gigi keatah mesial / distal

D. Komponen Penjangkaran

8
Pejangkaran merupakan suatu unit yang menahan reaksi kekuatan
yang dihasilkan oleh komponen aktif piranti lepasan

LO 3. KOMPONEN ALAT AKTIF

A. Komponen Aktif
Pegas-pegas untuk menarik gigi kearah mesial / distal
a. Pegas sederhana (simple spring)
- Disebut juga finger spring = free end spring = cantilever tunggal
- Indikasi : gigi lnsisif
- Gunanya untuk menarik gigi insisif ke mesial / distal
- Jenis kawat SS, jenis spring hard
- Diameter kawat 0,5mm - 0,6 mm

- Lengan pegas di atas titik kontak dan tidak menganggu oklusi


- Tidak menempel gusi
- Bagian labial sejajar permukaan insisal gigi, sepanjang 1/3 mesial-distal
(bila lebih, maka gigi akan rotasi)
- Dapat dimodifikasi dengan menambahkan coil Retensi pegas ke arah
pergerakan gigi Aktifasi dengan menggerakkan lengan pegas 3 mm ke
arah pergerakan atau memperbesar coil (bila menggunakan coil)

b. Pegas C
- Gunanya untuk menarik/mendorong gigi C dan p ke mesial/distal
- Diameter kawat 0,6 mm
- Syarat : seperti pegas sederhana, hanya pada bagian bukar terretak di
bawah lingkar terbesar gigi
- Keuntungan : Memberikan tekanan yang ringan

9
- Kerugian : Kadang dapat menyebabkan gigi terdorong ke labial atau
rotasi
- Pegas C dapat dikombinasi dengan coil atau lus dengan/tanpa hook
- Syarat coil : besar coil 2-3 mm, coil terletak berlawanan dengan arah
pergerakan gigi

Pegas-pegas untuk mendorong gigi kelabial / bukal


a. Pegas Bumper terbuka / Kantilever Ganda
- Disebut juga Matress Spring atau Z spring
- Gunanya untuk mendorong gigi I atau C ke labial

- Diameter kawat 0,6 mm

- Pegas terletak di palatal / lingual


- Terdiri dari 2 loop atau lebih yang sejajar dan selebar bidang
mesiodistal
- Loop kira-kira tegak lurus sumbu gigi

b. Pegas Bumper tertutup


- Ada yang menyebut sebagai T spring
- Gunanya untuk mendorong 2 gigi anterior ke labial bersama-sama
- Diameter kawat 0,6 mm.
- Bentuk lainnya dapat digunakan pada gigi posterior

10
c. Pegas Mershon
- Gunanya untuk mendorong lebih dari 2 gigi bersama-sama
- Diameter kawat 0,6-0,7 mm
- Terletak tegak lurus sumbu panjang gigi

Pegas-pegas untuk mendorong gigi kepalatal / lingual


a. Pegas Labial bow
- Disebut juga Busur labial
- Gunanya untuk- mendorong sekelompok gigi anterior ke paratal/
lingual
- Diameter kawat : 0,6 -0,7 mm (aktif) dan 0,7- 0,9 mm (pasif)
- Berfungsi pasif, sebagai retensi mempertahankan lengkung gigi yang
sudah baik
- Panjang busur dari C-C atau P-P

- Bentuk mengikuti lengkung gigi anterior, sejajar bidang oklusal


- Lebar hop kira-kira 2/3 bidang bukaL gigi C / P
- Tinggi loop kira-kira 1-2 mm dari servikal gigi
- Aktivasi dengan memperkecil loop

b. Modifikasi cengkram Arrow head


- Digunakan untuk mendorong gigi P ke palatal
- Diameter 0,7-0,8 mm
- Digunakan "2 buah half arrow yang tegak lurus
- Bidang "U" di tekan ke palatal sehingga dapat mendorong gigi P ke
palatal

c. Buccal Canine Retractor Spring


- Buccal canine retractor spring digunakan pada kaninus yang
terletak lebih ke bukal sehingga harus digerakkan ke palatal
ataupun ke distal.

11
- Cenderung tidak nyaman bagi pasien sehingga jarang digunakan.
- Relatif memiliki dimensi vertikal yang tidak stabil sehingga sulit
untuk mengaktifkannya.
- Dibuat dengan menggunakan kawat berdiameter 0,7 mm.

- Buccal canine retractor spring diaktivasi sekitar 1 mm yang


diperlukan untuk memberikan gaya yang optimal untuk retraksi
kaninus.

Pegas-pegas untuk memperbaiki rotasi gigi


1. Memperbaiki rotasi sentris / torsion
- Kombinasi pegas bumper terbuka dengan busur labial
- Kombinasi pegas mershon dengan busur labial. Contoh : Bila ada 2
atau 3 gigi yang harus dirotasi
2. Memperbaiki rotasi asentris / torsoversion
- Kombinasi pegas bumper dengan busur labial
- Kombinasi busur labial dengan basis akrilik

Pegas-pegas Ekspansi

12
1. Pegas Coffin
- Ada 2 jenis yaitu untuk rahang atas dan rahang bawah
- Coffin RA (sering digunakan) Diameter 1,1- 1,2 mm
- Dibentuk dengan loop yang cukup besar pada bagian tengah palatal
- Berjarak 1 mm dari mukosa palatal
- Ujung anterior terletak pertengahan gigi dan ujung distal di
pertengahan gigi

2. Pegas W
- Indikasi mengatasi RR yangkontraksi (periode mixed dentition )
- Diameter 1,1 - 1,2 mm

Karet Elastik
Elastik jarang digunakan bersamaan dengan pemakaian peranti lepasan.
Kadang-kadang elastik digunakan untuk retraksi insisiv atas maupun bawah.
Sebuah elastik lateks atau power chain ditarik anatar dua kait di distal kaninus
(Rahardjo, 2009).

Aktivasi Alat Ortodonti Lepasan


Aktivasi dari setiap klamer berbeda tergantung pada jenis klamer apa yang
digunakan, sebagaimana telah dijelaskan pada komponen alat ortodonsi lepasan.
1. Finger spring : dengan membuka coil atau menggerakkan daerah aktif
ke arah gigi yang mau digerakkan. Aktivasi optimal sekitar 3 mm.
2. Double cantilever : dengan membuka helix 2-3 mm dalam sekali
waktu. Hanya 1 helix yang diaktivasi untuk mengkoreksi rotasi ringan
3. T-spring : dengan menarik ujung lengan T kedepan / ke arah
pergerakan gigi yang diinginkan
4. Coffin spring : dengan memegang kedua ujung clasp dan menarik
kedua sisi menjauh. Aktivasi sampai 1-2mm tiap sisi dalam sekali
waktu.

LO 4. KOMPONEN ALAT RETENTIF

13
Klamer adalah suatu bengkokan kawat merupakan bagian/komponen
retentif dari alat ortodontik lepasan . Bagian retensi dari Alat Lepasan umumnya
berupa cangkolan/klamer/clasp dan kait / hook, berfungsi untuk :
a. Menjaga agar plat tetap melekat di dalam mulut.
b. Mempertahankan stabilitas alat pada saat mulut berfungsi.
c.Membantu fungsi gigi penjangkar/anchorage, menghasilkan kekuatan
pertahanan yang berlawanan arah dengan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian
aktif untuk menggerakkaN gigi.
d. Klamer dapat diberi tambahan hook untuk tempat cantolan elastik.

Klamer dipasang pada gigi dapat memberikan tahanan yang cukup


terhadap kekuatan yang dikenakan terhadap gigi yang digerakkan. Dapat menahan
gaya vertikal yang dapat mengangkat plat lepas dari rahang dan menggangu
stabilitas alat . Pemilihan jenis , jumlah dan letak penempatan klamer pada gigi
anchorage tergantung kepada: jumlah spring yang dipasang, letak spring, serta
bentuk dan jumlah gigi penjangkarnya. Macam-macam klamer dan modifikasinya
yang di pakai sebagai komponen retentif
pada alat ortodontik lepasan adalah :
1. Klamer C / Simple/Buccal Clasp.
2. Klamer Adams / Adams Clacp.
3. Klamer kepala panah / Arrow Head Clasp
4. Bentuk modifikasi (Kawat tunggal, Ring, Triangulair, Arrowhea, Pinball)
1. Klamer C (Simple/Bukal Clasp)
Klamer ini biasanya dipasang pada gigi molar kanan dan kiri tetapi
bisa juga pada gigi yang lain. Pembuatannya mudah, tidak memerlukan
tang khusus, tidak memerlukan banyak materi kawat, tidak melukai
mukosa , retensinya cukup, tetapi tidak efektif jika dikenakan pada gigi
desidui atau gigi permanen yang baru erupsi. Ukuran diameter kawat yang
dipakai : untuk gigi molar 0,8 0,9 mm, sedangkan untuk gigi premolar
dan gigi anterior 0,7 mm. Bagian-bagiannya terdiri dari:
A. Lengan:

14
Berupa lengkung kawat dari ujung membentuk huruf C memeluk leher
gigi di bagian bukal dari mesial ke distal di bawah lingkaran terbesar
(daerah undercut), satu milimeter di atas gingiva dengan ujung telah
ditumpulkan.
B. Pundak:
Merupakan lanjutan dari lengan dibagian distal gigi berbelok ke
lingual/palatinal menelusuri daerah interdental. kawat di daerah ini
hindari jangan sampai tergigit.
C. Basis:
Merupakan bagian kawat yang tertanam di dalam plat akrilik,
ujungnya diberi bengkokkan untuk retensi.

2. Klamer Adams (Adams Clasp)


Klamer Adams merupakan alat retensi plat aktif yang paling umum
digunakan . Biasanya dikenakan pada gigi molar kanan dan kiri serta pada
gigi premolar atau gigi anterior. Diameter kawat yang digunakan : 0,7 mm
untuk gigi molar dan premolar serta 0,6 mm untuk gigi anterior. Bagian-
bagiannya yaitu :
a. Cross bar :

15
Merupakan bagian kawat sepanjang 2/3 mesiodistal gigi anchorage yang
akan dipasangi, posisi sejajar permukaan oklusal, terletak 1 mm disebelah
bukal permukaan bukal , tidak
tergigit ketika gigi beroklusi.

b. U loop :
Terletak diujung mesial dan distal cross bar. Menempel pada permukaan
gigi di daerah undercut bagian mesiobukal dan distobukal.
c. Pundak
Merupakan lanjutan dari U loop yang melewati daerah interdental dibagia
oklusal sisi mesial dan distal gigi anchorage.Tidak tergigit sewaktu gigi
beroklusi.

d. Basis :
Ujung kawat pada kedua sisi tertanam didalam plat akrilik, diberi
bengkokan untuk retensi.

Bentuk-bentuk modifikasi klamer Adams :


1. Klamer Adams dengan satu loop (single spur): Biasanya dipasang pada
gigi molar paling distal, dimana daerah dibagian distal belum jelas. U loop
hanya dibuat pada sisi mesial saja.
2. Klamer Adams dengan tambahan tube yang di patrikan pada cross bar.
Tube berfungsi sebagai tempat perlekatan busur labial atau tempat
mengaitkan elastik.
3. Klamer Adams dilengkapi dengan coil (circular traction hook) pada
pertengahan crossbar, yang juga berfungsi untuk tempat mengaitkan
elastik.

16
3. Klamer Kepala Panah (Arrow Head Clasp)
Klamer ini mempunyai bagain yang berbentuk seperti ujung/kepala anak
panah, masuk daerah interdental membentuk sudut 90 terhadap posisi lengannya.
Lengan tidak boleh menempel pada mukosa tetapi berjarak 1 mm di sebelah
bukalnya, lengan juga tidak boleh terlalu panjang sampai melebihi posisi vornic
supaya tidak melukai sulcus buccalis. Klamer ini dapat dipakai untuk memegang
lebih dari satu gigi, biasanya dipakai sebagi bagian retentif plat ekspansi.
Diameter kawat yang di pakai : 0,7 mm
Keuntungannya :
- daya retensi tinggi
- dapat dipakai pada gigi permanen atau gigi desidui
Kerugiannya :
- pembuatannya lebih sulit
- memerlukan tang khusus

17
4. Klamer Modifikasi
Modifikasi klamer berupa tekukan kawat yang ujungnya men cengkram
permukaan interdental dua buah gigi bersebelahan Bagian-bagiannya terdiri dari :
a. Basis yaitu bagian kawat yang tertanam dalam plat akrik, ujungnya
diberiri tekukan agar tidak mudah lepas dari dasar
b. Pundak bagian dari kawat yang melewati daeran interdental dipermukaan
oklusal dua gigi bersebelahan
c. Ujung (End) bagian yang mencengkram daerah inter dental gigi
menghasilkan kemampuan retentif untuk alat lepasan

Modifikasi klamer jenis ini baisanya dipasang di daerah interdental pada gigi
posterior, pemasangannya bisa dikombinasikan dengan klamer C dibuat dari
kawat berdiameter 0,7 mm.

LO 5. KOMPONEN BASEPLATE/FRAMEWORK

Biasa terbuat dari akrilik cold atau heat cure, yang berfungsi
sebagai penyokong untuk sumber gaya dan mendistribusikan aksi gaya

18
tersebut ke gigi penjangkaran. Bahan yang paling sering digunakan untuk
base plate adalah cold cure atau heat cure acrylic. Base plate merupakan
bagian utama dari alat lepasan. Base plate bertindak sebagai support untuk
sumber tekanan dan mendistribusikan reaksi kekuatan ini ke daerah-daerah
yang dituju.

Pelat dasar akrilik

a. Kegunaan Base Plate


1) Menyatukan komponen aktif dan retentif menjadi 1 unit fungsional
2) Membantu penjangkaran dan retensi alat dalam mulut
3) Membantu menahan pergeseran yang tidak diinginkan selama
pergerakan gigi
4) Mendistribusikan gaya dari komponen aktif ke daerah yang luas
5) Melindungi pegas palatal dari distorsi dalam mulut
6) Biting plane dapat disatukan pada base plate untuk merawat masalah
spesifik.
b. Ketebalan Base Plate
a. Base plate sebaiknya tidak dibuat dengan ketebalan yang tidak wajar, tapi
dibuat dengan ketebalan minimum agar pasien merasa nyaman.
Ketebalan wax tunggal (1,5-2 mm) merupakan
b. ukuran yang cukup untuk base plate RA. Base plate tidak boleh
ditebalkan pada semua daerah untuk

19
c. menanam ujung retensi cengkeram, karena akan mengganggu
kemampuan berbicara pasien,
d. sebaiknya hanya ditebalkan pada ekstensi kawat retensi.

c.Ekstensi Base Plate


1. Pada RA, jika palatum terlalu banyak tertutup akrilik akan menyebabkan
nausea. Kondisi ini
2. dapat dikurangi dengan melebarkan base plate sampai distal M1 dan
sedikit dipotong ke depan pada
3. midline. Hal ini juga dapat menyediakan kekuatan yang cukup dan
penjangkaran maksimum
4. Pada RB, base plate tidak diekstensi terlalu dalam untuk menghindari irtasi
ke dalam sulkus dan
5. pergeseran oleh lidah. Jika terdapat undercut lingual, harus diatasi sebelum
akrilisasi agar mudah dilepas.
6. Ujung border dibulatkan untuk menghindari kerusakan jaringan.

Pelat dasar tidak boleh dibuat terlalu tebal. Ketebalan minimum


dapat membuat pasien nyaman untuk memakainya. Sebuah ketebalan
tunggal lilin (1,5-2 mm) cukup dalam pelat dasar atas. Pelat dasar tidak
boleh menebal pada wilayah yang tertanam komponen alat orthodontik.
Jika pelat dasar tebal itu mengisi mulut, dapat mengganggu bicara dan
tidak akan ditoleransi oleh pasien.

Jika dalam lengkung rahang atas terlalu banyak palatum yang


ditutupi oleh akrilik, dapat menghasilkan rasa mual bagi pasien. Masalah
ini dapat diminimalkan dengan memperpanjang pelat dasar sampai distal
dari molar pertama dan sedikit memotong ke depan midline. Hal ini
memastikan kekuatan yang memadai dan distribusi reaksi maksimum pada
waktu yang sama.

Pelat dasar rahang bawah tidak diperpanjang terlalu dalam untuk


menghindari iritasi pada sulkus dan perpindahan lidah. Pada lingual

20
undercut, undercut harus diblokir sebelum pengakrilikan. Tepi harus
dibulatkan untuk menghindari cedera jaringan.

Bite platform, pada anterior atau posterior dapat dimasukkan ke


pelat dasar. Bite plane anterior yang diperlukan untuk pengurangan
overbite dan dibuat di belakang gigi insisiv dan gigi kaninus. Biteplane
harus datar dan tidak miring. Hal ini untuk menghindari proklinasi pada
gigi insisivus rahang bawah. Ketebalan harus cukup untuk membuka
oklusi di wilayah premolar 4-5 mm. Untuk mengurangi overbite, akrilik
tambahan dapat ditambahkan untuk meningkatkan platform dan
melanjutkan pengurangan overbite. Groove dapat diberikan pada bidang
gigitan anterior untuk mendukung tips insisal insisivus mandibula. Gigi
seri rahang atas juga dapat diberi capped untuk mencegah mereka
supraerupsi. Hal ini juga membantu dalam retensi. Sebuah panduan bidang
miring juga dapat diberikan sebagai modifikasi dari anterior bite plane. Ini
akan menyebabkan pasien untuk menggigit lebih maju dibandingkan
dengan normal dan dapat menyebabkan mandibula tumbuh ke depan. Hal
ini juga membuat proklinasi gigi seri rahang bawah.

d. Modifikasi Base Plate


1) Anterior bite plane
Digunakan untuk reduksi overbite dan dibuat di belakang I dan C.
Biteplane tersebut hendaknya flat dan tidak berinklinasi untuk
menghiindari gaya proklinasi pada I RB. Ketebalan diusahakan cukup
untuk membuka gigitan pada area premolar sebanyak 4-5 mm. Selama
reduksi overbite, akrilik tambahan dapat ditambahan untuk menaikkan
bidang dan melanjutkan reduksi overbite. Groove dapat dibuat pada
anterior bite plane untuk menyokong ujung insisal I RB. I RA juga dapat
dilapisi untuk mencegah supraerupsi. Hal tersebut juga membantu retensi
dan meningkatkan potensi penjangkaran alat. Inclined guide plane juga

21
dapat dibuat sebagai modifikasi anterior bite plane, yang dapat membuat
RB tumbuh ke depan dan proklinasi I RB.
2) Posterior bite plane
Digunakan untuk menambah overbite gigi. Ketinggian bidang
hendaknya cukup untuk membebaskan gigi yang akan digerakkan dari
gangguan oklusal gigi lawannya. Pilihan material dari kerangka kerja
biasanya akrilik cold cure (karena lebih mudah dan cepat dibuat),
walaupun akrilik heat cure dapat juga digunakan. Namun, harus
diperhatikan untuk mengurangi monomer residual, yang akan mereduksi
porositas alat.

LO 6. PROGNOSIS PERAWARTAN

Prognosis suatu perawatan berarti tentang kemungkinan dari berhasil atau


tidaknya suatu perawatan yang kita terapkan kepada penderita. Suatu keberhasilan
tersebut diukur dari ada tidaknya perubahan progresif menuju kesembuhan.
Piranti ortodontik lepasan adalah salah satu macam piranti yang jamak digunakan
untuk merawat maloklusi, selain piranti ortodontik cekat. Perawatan dengan
piranti ortodontik diharapkan dapat mencapai susunan gigi yang teratur dan
penampilan wajah yang harmonis. Penilaian keberhasilan perawatan ortodontik
didasarkan pada diagnosis dan rencana perawatan yang lengkap. Diagnosis dan
rencana perawatan maloklusi dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis, analisis
model, analisis radiografis, profil dan wajah.

Menurut Richmond yang dikutip oleh Rahardjo, dinyatakakan bahwa


penilaian keparahan maloklusi terus berkembang dan diupayakan agar mudah
digunakan, akan tetapi tetap memberikan hasil yang objektif. Richmond
memperkenalkan Peer Assessment Rating Index (PAR Index) untuk menilai
keparahan maloklusi yang diharapkan dapat merupakan sarana untuk menentukan
keparahan maloklusi secara objektif. Indeks PAR merupakan suatu nilai tunggal
untuk semua anomali oklusi dan dapat digunakan untuk semua tipe maloklusi.

22
Keuntungan indeks PAR dibanding dengan indeks ortodontik lainnya, adalah telah
diterima secara universal dengan reliabilitas dan validitas yang sudah terbukti,
ketepatan kriteria yang digunakan, metode kuantitatif yang objektif terhadap
pengukuran maloklusi dan efektivitas hasil perawatan ortodontik.

Oleh karena adanya variasi besar perubahan perawatan ortodontik, sehingga


dilakukan pengkategorian berdasarkan persentase perubahan. Tidak ada
perubahan untuk skor PAR yang mengalami penurunan kurang dari 30%, ada
perubahan untuk skor PAR yang mengalami penurunan lebih besar atau sama
dengan 30% dan perubahan besar untuk skor PAR yang mengalami penurunan
lebih besar atau sama dengan 70%.

Perbandingan prognosis perawatan alat orthodonti lepasan dan cekat, dapat


dilihat dari berbagai penelitian. penelitian yang dilakukan oleh Richmond dkk
bahwa dalam perawatan ortodontik lepasan didapatkan persentase perubahan
sebesar 50,4% dari 48 sampel, termasuk ke dalam kategori ada perubahan.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Abtahi yang khusus meneliti hasil
perawatan pada pasien klas II, mendapatkan persentase perubahan sebesar 34.07%
dari 70 sampel yang juga termasuk ke dalam kategori yang sama. Namun, nilai
yang lebih tinggi diperoleh pada perawatan ortodontik cekat yang memiliki hasil
perawatan ortodontik yang lebih baik dibandingkan dengan mengggunakan
ortodontik lepasan. Berdasarkan penelitian Richmond dkk didapatkan persentase
perubahan sebesar 71,4 % dari 196 sampel. Selain itu, penelitian yang dilakukan
oleh Fox dan Chadwick juga mendapatkan persentase perubahan yang hampir
sama yaitu sebesar 72% dari 100 sampel dan hasil penelitian Birkeland dkk pun
juga mendapatkan persentase perubahan yang hampir sama, yaitu sebesar 76,7%.
Semua hasil penelitian dengan perawatan ortodontik cekat ini termasuk ke dalam
kategori perubahan besar yaitu hasil perawatan ortodontik yang mendapatkan
persentase perubahan skor PAR lebih besar atau sama dengan 70%.

Penilaian seberapa jauh penyimpangan yang terjadi atau menilai keparahan


suatu maloklusi tidaklah mudah. Untuk itu diperlukan pengalaman klinik dan
pengetahuan yang luas mengenai oklusi. Meskipun demikian perbedaan persepsi
antar individu tetap saja ada disebabkan adanya perbedaan kriteria penilaian,

23
sehingga kemungkinan tetap ada unsur subjektif dalam menilai suatu keparahan
maloklusi.

Pada perawatan ortodontik lepasan sering terjadi perubahan yang tidak


diinginkan, biasanya setelah pemasangan alat akan terjadi perubahan yang lebih
baik dari sebelumnya, namun setelah itu kemungkinan terjadi perubahan yang
tidak diinginkan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satu hal
yang perlu diperhatikan bahwa faktanya gigi selalu cenderung untuk bergerak
karena adanya gaya saat melakukan gerakan pengunyahan, apalagi saat seseorang
masih dalam usia pertumbuhan (rata-rata di bawah 17 tahun), tulang rahang terus
bertumbuh dan posisi gigi mengikuti pertumbuhan tulang rahang.

Berdasarkan penelitian Powes dan Cook yang dikutip oleh Jazaldi dkk,
dikatakan bahwa hasil perawatan ortodontik dapat dipengaruhi oleh beberapa hal,
yaitu morfologi dan keparahan maloklusi, mekanoterapi perawatan ortodontik,
pola pertumbuhan dan keterampilan operator.

Selain itu ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi dari
keberhasilan prognosis perawatan, yaitu:

- Usia dan jenis kelamin

Berdasarkan temuan Kerr dkk yang dikutip oleh Birkeland dkk yang
menemukan bahwa hasil perawatan ortodontik lepasan lebih baik pada jenis
kelamin perempuan. Hal ini mungkin disebabkan perempuan memiliki kerjasama
yang lebih baik dibandingkan pada laki-laki.

- Lama perawatan

Perawatan ortodontik dalam jangka waktu kurang atau sama dengan satu
tahun menunjukkan persentase perubahan yang lebih besar dibandingkan dengan
jangka waktu perawatan ortodontik lainnya, baik pada penilaian dengan tanpa
pembobotan ataupun dengan pembobotan. Hasil penelitian oleh Bernas dkk
menyatakan bahwa terdapat korelasi positif tetapi kecil (r = 0,24, R2 = 0,06)
antara persentase penurunan skor PAR dan lama perawatan ortodontik. Perawatan

24
ortodontik yang lebih lama menghasilkan penurunan skor PAR yang sedikit lebih
besar

DAFTAR PUSTAKA

Bernas AJ, Banting DW, Short LL. Effectiveness of phase I orthodontic treatment
in an undergraduate teaching clinic. J Dent Educ 2007; 71(9): 1179-86.

25
Richmond S, Shaw WC, Roberts T, Andrews M. The PAR index (peer assessment
rating): methods to determine outcome of orthodontic treatment in terms of
improvement and standards. Eur J Orthod 1992; 14: 180-7.

Sekundariadewi R, Hoesin F, Widayati R. Evaluasi perubahan susunan gigi geligi


pasca retensi perawatan ortodonti menggunakan Indeks PAR. M. I. Kedokteran
Gigi 2007; 22(4): 147.

Laura Mitchell. An introduction to orthodontics, 2nd edition. London : Oxford


University Press, 2001

Muir J D, Reed R T. 1979. Tooth movement with removable appliances. England:


Pitman Publishing.

K.G. Isaacson, J.D. Muir, R.T. Reed. 2002. Removable orthodontic


appliances. India: Elsevier.
Proffit W, Fielsd H W Jr, Sarver Drg. M. 2007. Contemporary
orthodontics. 4th ed. St. Louis: Mosby Inc.
Rahardjo, Pambudi. 2009. Peranti Ortodonti Lepasan. Surabaya :
Airlangga University Press.
Yuwono, Lilian. 1991. Desain, Konstruksi dan Kegunaan Pesawat
Ortodonti Lepasan. Jakarta : Widya Medika

26