Anda di halaman 1dari 3

Sang Harimau Lepas

Tatkala itu, hari sudah senjakala.

Dalam kebudayaan masyarakat Jawa, situasi tersebut merupakan keadaan yang berkaitan

dengan rasa khawatir, takut, ketidakpastian, dan kebimbangan. Artinya pada peralihan hari dari

siang menuju malam, orang seringkali tidak dapat menduga apa yang akan dihadapi, karena

dalam situasi seperti itu banyak tersimpan sebuah misteri. Sehingga semua wargaakan masuk

ke dalam rumah.

Konon, pada saat itu ada seekor Macan (Harimau) bersembunyi di dalam kandang Wedus

(Kambing) di wilayah Desa Kedung Bungkus, karena si Macan menyadari situasi senjakala yang

telah berlangsung.

Tak lama masuklah dua Binyak (Pencuri); Wirondanu dan Wirawangsa ke kandang kambing.

Melihat ada dua Binyak masuk, dalam hati Macan timbul perasaan was-was.

Inikah wujud misteri yang terkandung dalam senjakala itu? Pertanyaan macan dalam lubuk

hatinya.
Belum reda perasaan was-was, si Macan merasakan ada seutas tali tambang yang menjerat

lehernya. Beberapa lama kemudian, ia digelandang Wirondanu dengan diiringi Wirawangsa. Si

Macan diam saja digelandang ke arah selatan dan belok ke timur. Dalam Perjalanan,

Wirawangsa yang ada dibelakang bertanya:

Kang, daning weduse loreng-loreng? (Kak, kok kambing belang-belang warnanya?)

Ya ...... larang ya larang. Kowen mlakune sing cepet oh, ....gagiyan, aja nglengled. (Iya ...mahal

nih mahal. Makanya kamu jalannya yang cepat... cepetan, jangan lelet), balas Wirondanu

tanpa melirik kebelakang.

Melewati hutan jati demi hutan jati, Wirondanu menuntun kambing yang katanya loreng-

loreng. Sementara Wirawangsa terus mengamati apa yang mereka bawa. Semakin diamati,

jelaslah wujud si Macan. Maka berkatalah ia:

Kang, daning macan temenanan? (Kak, ternyata ini macan beneran).

His? Apa iya Wangsa? Macan temenanan? (Haaa? yang benar saja Wangsa? Macan

beneran?). Ujar Wirondanu seraya melirik ke belakang.

Menyadari apa yang sedang ia tuntun, betapa terkejutnya ia. Keringat dingin pun seketika

mengucur. Mrekitik (Gemetaran) takut Wirondanu. Maka tanpa berpikir lagi, Macan yang
dianggap wedus loreng-loreng itu, dilepas begitu saja. Mereka kemudian lari sipat kuping

(tunggang langgang) menyelamatkan diri.

Itulah sebabnya sekarang di wilayah tersebut dikenal masyarakat sebagai Pedukuhan Macan

Ucul. Nama itu diambil dari kejadian antara Macan dan dua Binyak yang ucul (lepas) dari

keganasan misteri sendakala (senjakala).

Pedukuhan Macan Ucul terletak di wilayah desa Kedungjati, Kecamatan Warurejo, Kabupaten

Tegal.

Disadur dari Mantu Poci Antologi Babad Desa dan Cerita Rakyat Tegal karya Lanang Setiawan