Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam demografi pertumbuhan penduduk antara lain dipengaruhi oleh


fertilitas. Perkawinan dan perceraian merupakan variabel yang ikut mempengaruhi
tinggi rendahnya tingkat fertilitas, yang secara tidak langsung mempengaruhi
pertumbuhan penduduk. Dalam perencanaan pembangunan seperti penyediaan
fasilitas perumahan bagi keluarga-keluarga muda, fasilitas pelayanan kesehatan,
dan pelayanan dasar lainnya.

Apabila perkawinan dilakukan pada umur yang tepat, maka akan


membawa kebahagiaan bagi keluarga dan pasangan suami dan isteri yang
menjalankan perkawinan tesebut. Perkawinan yang dilakukan pada usia yang
terlalu dini akan membawa banyak konsekuensi pada pasangan suami isteri,
antara lain adalah dalam hal kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dalam hal
kejiwaan, perkawinan yang dilakukan pada usia dini akan mudah berakhir dengan
kegagalan karena kurangnya kesiapan mental menghadapi dinamika kehidupan
berumah tangga dengan semua tanggung jawab, seperti antara lain tanggung
jawab mengurus dan mengatur rumah tangga, mencukupi kebutuhan ekonomi
rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak.

Selain memerlukan kesiapan mental, perkawinan terutama bagi anak


perempuan merupakan persiapan untuk memasuki tahap kehamilan dan kelahiran.
Dari segi kesehatan seorang perempuan yang hamil dan melahirkan pada usia
terlalu muda secara fisik belum sempurna perkembangan semua organ tubuhnya.
Perempuan yang masih berusia muda secara fisik perkembangan tulang
panggulnya belum sempurna untuk menjadi jalan lahir bagi bayi yang
dikandungnya.

1
Perkawinan merupakan suatu perubahan dari status perkawinan lain
menjadi status Kawin, misalnya perubahan dari status belum kawin atau
bujangan (single) menjadi status kawin atau nikah.

Sedangkan perceraian justru akan mengurangi jumlah fertilitas, karena


dengan adanya perceraian maka jumlah rumah tangga yang produktif berkurang
dan tingkat hubungan suami isteri pun berkurang, sehingga tingkat fertilitas
menurun.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari perkawinan dan perceraian?


2. Bagaimana ruang lingkup pada perkawinan dan perceraian?
3. Bagaimana sumber data yang didapat?
4. Bagaimana cara mengukur perkawinan dan perceraian?
5. Apa faktor penyebab perceraian?
6. Bagaimana hukum perkawinan?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui definisi perkawinan dan perceraian


2. Mengetahui macam-macam perkawinan atau jenis-jenis
pernikahan
3. Mengetahui ukuran perkawinan dan perceraian di Indonesia.
4. Mengetahui faktor penyebab terjadinya perceraian
5. Mengetahui hukum perkawinan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

o Pernikahan atau Perkawinan adalah sebuah ikatan lahir batin antara


seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia
dan kekal yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU No.
1 Tahun 1974 tentang perkawinan)

o Perceraian adalah berakhirnya perkawinan yang telah dibina oleh


pasangan suami istri yang disebabkan oleh beberapa hal seperti
kematian dan atas keputusan keadilan. Dalam hal ini perceraian
dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan, dimana
pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui
oleh hukum yang berlaku.

2.2 Ruang lingkup


Perkawinan
1. Macam Macam Perkawinan atau Jenis jenis pernikahan

Ada berbagai jenis macam perkawinan yang mungkin beberapa


jenisnya sudah kita ketahui bersama. Berikut ini adalah penjelasan
beberapa macam perkawinan.

a. Berdasarkan banyak pasangan


1. Monogami

Perkawinan monogami adalah perkawinan umun atau sering kita


jumpai baik itu di Indonesia ataupun di seluruh dunia. Monogami
merupakan perkawinan yang mana seorang suami/laki-laki hanya
memiliki satu orang istri. Dalam perkawnian monogamy yang ada

3
hanyalah satu orang suami dan satu orang istri didalam
perkawinannya.

2. Poligami

Perkawinan selanjutnya adalah perkawinan poligami. Poligami


adalah perkawinan dengan keadaan seorang suami memiliki istri
yang banyak atau lebih dari satu, bisa dua, tiga dan seterusnya.
Poligami biasanya dilakukan oleh orang tertentu saja. Biasanya
seperti di keluarga kerajaan zaman-zaman dahulu, para bangsawan,
orang kaya, ataupun bisa juga orang biasa yang mempunyai alasan
tertentu sehingga punya istri lebih dari satu.

3. Poliandri

Poliandri adalah perkawinan yang dimana seorang istri mempunyai


suami lebih dari satu. Poliandri merupakan perkawinan yang tidak
lazim dan jarang sekali kita menemukannya di Indonesia. Selain itu
poliandri ini di tentang dan tidak dibenarkan dimata hukum baik itu
agama, Negara maupun hukum adat.

b. Berdasarkan daerah asal pasangan hidup

1. Endogami
Endogami merupakan perkawinan yang pasanganya berasal dari
lingkungan sendiri. Maksunya adalah pasanganya bisa berasal dari
baik itu satu desa, satu lingkungan keluarga dekat atau bisa juga
satu marga. Perkawinan jenis ini bisa kita temukan di masyarakat
desa tradisional. Selain di masyarakat tradisional, perkawinan ini
juga dapat ditemukan di lingkungan keluarga orang yang memiliki
maksud untuk menjaga warisan kekayaan agar tidak di ambil atau
jatuh ketangan orang lain.

4
2. Eksogami
Eksogami adalah perkawinan yang dilakuangan dengan orang yang
berasal dari lingkungan luar hidup kita sendiri. Perkawinan ini
merupakan kebalikan dari perkawinan endogami. Perkawinan
eksogami terbagi menjadi 2 yaitu :
- Eksogami Connobium asimetris yaitu perkawinan yang 2 atau
lebih pihak bertindak sebagai pemberi dan penerima.
- Eksogami Connobium simetris merupakan Tukar menukar
jodoh dari 2 atau lebih lingkungan yang berbeda.

2.3 Sumber data


1. Registrasi vital
- Catatan dari pendaftara penduduk dan catatan sipil
- KUA
- Gereja
- Wihara, Pura & Klenteng
2. Sensus dan Susenas ( data terbatas )
3. Survey khusus untuk perkawinan dan perceraian

2.4 Ukuran perkawinan dan perceraian


Ukuran perkawinan :
1. Angka Perkawinan Kasar

Angka Perkawinan Kasar menunjukkan persentase penduduk yang


berstatus kawin terhadap jumlah penduduk keseluruhan pada
pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.

Kegunaan :

Perkawinan merupakan variabel antara yang mempengaruhi fertilitas,


antara lain melalui pendek atau panjangnya usia subur yang dilalui
sebagai pasangan usia subur (PUS) yang menentukan banyaknya
kelahiran. Jika tidak memakai suatu alat kontrasepsi untuk mengatur

5
kelahiran, maka perkawinan usia muda akan membuat PUS melewati
masa yang panjang dan berpotensi melahirkan jumlah anak lebih
banyak dibandingkan dengan perempuan yang menikah diatas usia 25
tahun. Davis dan Blake (1974) mengelompokkan perkawinan sebagai
salah satu variabel antara dalam mempengaruhi tinggi rendahnya
fertilitas.

Cara menghitung :

Jumlah penduduk yang berstatus kawin dibagikan dengan jumlah


penduduk pertengahan tahun dan dikalikan dengan 1000.


MM = 1000

M Angka Perkawinan Kasar

M Jumlah Perkawinan dalam satu tahun

P Jumlah Penduduk pertengahan tahun

Data yang diperlukan :

Jumlah penduduk berstatus kawin dalam satu tahun dan jumlah


penduduk pertengahan tahun

2. Angka Perkawinan Umum

Angka Perkawinan Umum menunjukkan proporsi penduduk yang


berstatus kawin terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun keatas pada
pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.

Kegunaan :

Seperti halnya dengan Angka Perkawinan Kasar, Angka Perkawinan


Umum dipergunakan untuk memperhitungkan proporsi penduduk
kawin. Namun disini, pembaginya adalah penduduk 15 tahun keatas

6
dimana penduduk bersangkutan lebih berisiko kawin. Penduduk
berumur kurang dari 15 tidak diikutsertakan sebagai pembagi karena
umumnya mereka tidak berisiko kawin. Sehingga Angka Perkawinan
Umum menunjukkan informasi yang lebih realitas.

Cara Menghitung :

Jumlah penduduk yang berstatus kawin dalam satu tahun tertentu


dibagi dengan jumlah penduduk berumur 15+ tahun pada pertengahan
tahun tertentu serta dikalikan dengan 1000.


Mu = 1000
15

Mu Angka Perkawinan Umum

M Jumlah Perkawinan dalam satu tahun

P15 Jumlah Penduduk pertengahan tahun usia 15+ tahun

Data yang diperlukan :

Jumlah penduduk berstatus kawin yang tercatat dalam satu tahun


dan jumlah penduduk pertengahan tahun umur 15 tahun keatas

3. Angka perkawinan spesifik ( angka perkawinan menrut kelompok


umur )

Dalam penghitungan Angka Perkawinan Kasar maupun Angka


Perkawinan Umum tidak diperhatikan umur dan jenis kelamin.
Perkawinan merupakan hubungan antara 2 jenis kelamin yang
berbeda, dan pada umumnya mempunyai karakteristik yang berbeda.
Angka Perkawinan Spesifik (agespecificmarriagerate) atau Angka
Perkawinan Menurut Kelompok Umur melihat penduduk berstatus
kawin menurut kelompok umur dan jenis kelamin.

7
Kegunaan :

Angka perkawinan umur spesifik berguna untuk melihat perbedaan


konsekuensi perkawinan yang berbeda antar kelompok umur maupun
jenis kelamin. Perbedaan tersebut menyangkut kesiapan mental,
kesiapanredproduksi dan lain sebagainya. Angka Perkawinan Spesifik
ini memberikan gambaran persentase penduduk kawin menurut
kelompok umur dan jenis kelamin, sehingga dapat diperbandingkan
perbedaannya.

Diketahuinya Angka Perkawinan Menurut Umur dan jenis kelamin ini


dapat memberikan inspirasi pengembangan program-program yang
ditujukan kepada remaja seperti penundaan perkawinan, jika sudah
kawin maka setidaknya bagi anak perempuan disarankan untuk
menunda kehamilan sampai mencapai usia yang cukup, pelayanan
kesehatan reproduksi terutama bagi anak perempuan sehingga mereka
siap untuk mengarungi masa reproduksi sehat.

Cara menghitung :

Jumlah penduduk yang berstatus kawin pada kelompok umur i


dengan jenis kelamin s dibagikan dengan jumlah penduduk pada
kelompok umur i dengan jenis kelamin s dikalikan dengan 1000.


s mi = 1000

s mi Angka Perkawinan Menurut Kelompok Umur (i) dan jenis


kelamin (s)

s Mi Jumlah penduduk kawin menurut kelompok umur (i) dan jenis


kelamin (s)

s Pi Jumlah penduduk menurut kelompok umur (i) dan jenis


kelamin (s)

Data yang diperlukan :

8
Jumlah perkawinan menurut kelompok umur dan jenis kelamin yang
terjadi dalam satu tahun dan jumlah penduduk menurut jenis kelamin
dan kelompok umur pada pertengahan tahun.

Ukuran perceraian :

1. Angka Perceraian Kasar

Angka Perkawinan Kasar menunjukkan persentase penduduk yang


berstatus cerai terhadap jumlah penduduk keseluruhan pada
pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.

Kegunaan

Perceraian mempunyai implikasi demografis sekaligus implikasi


sosiologis. Implikasi demografi adalah mengurangi fertilitas,
sedangkan implikasi sosiologis lebih kepada status cerai terhadap
perempuan dan anak-anak mereka.

Cara Menghitung

Angka perceraian kasar dihitung dengan membagi kasus perceraian


yang terjadi dalam suatu kurun waktu tertentu dengan jumlah
penduduk pada pertengahan tahun di suatu wilayah tertentu.


c = 1000

c = Angka Perceraian Kasar.

C = Jumlah perceraian yang terjadi selama satu tahun.

P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama.

9
2. Angka perceraian umum
Angka Perceraian Umum menunjukkan proporsi penduduk yang
berstatus cerai terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun keatas
pada pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.
Kegunaan
Seperti halnya dengan Angka Perceraian Kasar, Angka Perceraian
Umum dipergunakan untuk memperhitungkan proporsi penduduk
cerai. Namun disini, pembaginya adalah penduduk 15 tahun
keatas dimana penduduk bersangkutan lebih berisiko cerai.
Penduduk berumur kurang dari 15 tahun tidak diikutsertakan
sebagai pembagi karena umumnya mereka tidak berisiko cerai.
Sehingga Angka Perkawinan Umum menunjukan informasi yang
lebih baik karena memperhitungkan umur dan faktor resiko.

Cara menghitung
Untuk memperoleh angka perceraian yang lebih spesifik bisa
dihitung dengan angka perceraian umum, yang sudah
memperhitungkan penduduk yang terkena resiko perceraian yaitu
penduduk berumur 15 tahun ke atas atau disebut penduduk yang
berumur divorceable. Rumus umum yang digunakan adalah:


c15+ = 1000
15+

c15+ = Angka perceraian umum

C = Perceraian yang terjadi dalam satu tahun

P15+ = Jumlah Penduduk 15 tahun ke atas pada pertengahan tahun

10
2.5 Faktor perkawinan dan perceraian
Faktor perkawinan :
1. Faktor Agama
Ada agama yang menyuruh umatnya untuk menikah jika sudah
mampu secara lahir dan bathin
2. Faktor Sosial
Ada masyarakat yang memandang lelaki bujang berbeda ketika
memandang lelaki yang telah berkeluarga. Mereka member
penghormatan lebih kepaa lelaki yang telah menikah. Dan
masyarakata akan merasa aneh ketika mendapati seorang lelaki
diatas 30 tahun dan belum menikah. Begitu juga ketika mendapati
perempuan yang lebih dari 25 tahun belum menikah.
3. Faktor Keibuan/Kebapakan
Karena ada keinginan dari dalam diri untuk menjadi seorang
ibu/bapak
4. Faktor seks
Yaitu rasa condong jasmani lelaki kepada perempuan atau
sebaliknya dan kebutuhan antar satu dengan yang lainnya.
5. Faktor Pribadi
Misalnya :
Kebutuhan akan cinta
Kebutuhan untuk dihargai
Lari dari rasa sendiri
6. Faktor Khusus
Misalnya :
Ingin mendapatkan kekayaan
Ingin popular/terkenal

Faktor perceraian :
1. Ketidakharmonisan dalam keluarga
2. Krisis moral dan akhlak
3. Perzinahan

11
4. Pernikahan tanpa cinta
5. Adanya masalah-masalah dalam perkawinan

2.6 Hukum perkawinan


Ialah peraturan hukum yang mengatur perbuatan hukum serta akibat-
akibatnya antara dua pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang wanita
dengan maksud hidup bersama untuk waktu yang lama menurut
peraturan yang ditetapkan dalam undang-undang.

Menurut Pasal 1 UU No.1/1974, Perkawinan adalah ikatan lahir


batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut kuhperdata/BW tidak ada satu pasal pun yang


memberikan pengertian arti perkawinan itu sendiri. Kuhperdata/BW
memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan
perdata (Pasal 26 BW) artinya bahwa undang-undangnya mengakui
perkawinan perdata ialah perkawinan yang sah, yaitu perkawinan yang
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam kuhperdata, sedang
syarat-syarat serta peraturan agama tidaklah diperhatikan/
dikesampingkan.

Perkawinan menurut hukum islam


Ikatan lahir batin antara pria dan wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 Undang-
Undang No 1 Tahun 1974)

Perkawinan menurut hukum perdata barat antara lain


1. Pihak-pihak calon mempelai dalam keadaan tidak kawin,
2. Laki-laki berumur 18 tahun, perempuan 15 tahun,

12
3. Dilakukan dimuka pegawai catatan sipil,
4. Tidak ada pertalian darah yang terlarang,
5. Dengan kemauan yang bebas.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pernikahan atau Perkawinan adalah sebuah ikatan lahir batin antara


seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal
yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perceraian adalah berakhirnya perkawinan yang telah dibina oleh


pasangan suami istri yang disebabkan oleh beberapa hal seperti kematian
dan atas keputusan keadilan.

3.2 Saran

Semoga dengan adanya makalah ini, dapat menambah peengetahuan bagi


pembacanya mengenai segala sesuatu tentang statistika
perkawian/pernikahan dan perceraian.

14