Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) diklasifikasikan ke dalam kelas
Angiospermae, subkelas Monocotyledonae, ordo Palmales, famili Palmae, genus
Elaeis, dan species Elaeis guineensis Jacq.di Indonesia kelapa sawit merupakan
tanaman perkebukan yang memengang peranan penting dalam pangan industri.
Menurut BPS (2012), produksi kelapa sawit menigkat yaitu pada tahun 2011
meningkat hingga 22.508.011 ton dibandingkan tahun sebelumnya.kelapa saawit
dapat diolah menjadi minyak sawit yang merupakan sehari-hari manusia. Dalam
pengolahannya tersebut kelapa sawit menjadi minyak sawit menghasilkan beberapa
jenis limbah seperti tandan kosong sawit, serat mesocarp dan cangkang. Limbah-
limbah tersebut sebagian besar belum dimanfaatkan secara maksimal, salah satunya
pemanfaatan tandan kelapa sawit.
Tandan kelapa sawit adalah tandan sawit yang telah diambil buahnya,
memiliki tekstur padat dan pada umunnya di buang begitu saja ke lahan-lahan
kosong di kebung sawit ada juga yang dibakar menggunakan insinerator. Tandan
kelapa sawit memiliki serat berupa selulosa dan lignin yang cukup tinggi. Menurut
Firmansayah (2010), tandan kosong kelapa sawit memiliki komposisi kimia berupa
selulosa 45,95 %, hemiselulosa 22,84 %, lignin 16,49 %, minyak 2,41 %, dan abu
1,23 %. Kandungan yang terdapat pada tandan kelapa sawit dapat dimanfaatkan
menjadi kompos, tetapi serat pada tandan kosong cukup tinggi sehingga sulit
terdegradasi secara alami kecuali didegradasi oleh mikroba.
Kompos atau pupuk kompos adalah pupuk organik yang dibuat manusia
melalui proses pembusukan sisa-sisa bahan organik. Kandungan organik yang
dibuat menjadi kompos akan merombak sehingga bentuk, tekstur, warna dan bau
berbeda dari aslinya. Prinsip dalam pembuatan kompos tersebut yaitu menurunkan
rasio C/N bahan organik sehingga menghasikan C/N yang setara dengan tanah.
Dekomposisi organik adalah perubahan anatara fisika dan kimia bahan organik
menjadi komponen yang sederhana oleh mikroba dengan kondisi suhu lembab dan
aerasi yang benar (Yunindanova, 2009).
Pengomposan tandan kelapa sawit kosong maka di perlukan bahan pengurai
atau aktivator. Penguraian tandan kosong kelapa sawit agar efektif maka diperlukan
mikroba pengurai menbutuhkan nutrien yang memadai. Menurut Setiawan (2005),
kotoran ayam mengandung unsur hara yang relatif tinggi, seperti kandungan N: 1,0
%; P: 9,5 %; dan K: 0,3 sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrien.
Selain menggunakan kotoran ayam agar pengomposan tandan lebih cepat maka di
perlukan dekomposer yaitu dengan MOL bonggol pisang. Menurut literatur dalam
mol bonggol pisang tersebut juga mengandung 7 mikroorganisme yang sangat
berguna bagi tanaman yaitu : Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas,
Aspergillus, mikroba pelarut phospat dan mikroba selulotik.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui cara pembuatan kompos dari campuran tandan kosong
kelapa sawit dan kotoran ayam dengan pemabahan mol bonggol pisang.
2. Untuk mengetahui pengaruh kotoran ayam dan mol bonggol pisang terhadap
pembutan kompos dari tandan kelapa sawit.

Daftar pustaka
Firmansyah, A.M. 2010. Teknik Pembuatan Kompos. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian. Kalimantan Tengah.
Setiawan, I.S. 2005. Memanfaatkan Kotoran Ternak.Jakarta: Penebar Swadaya.
Yunindanova, M.B. 2009. Tingkat kematangan kompos tandan kosong kelapa
sawit dan penggunaan berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan
produksi tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) dan cabai
(Capsicum annuum L.) .Skripsi. Bogor: Program Studi Agronomi, Institut
Pertanian Bogor.