Anda di halaman 1dari 18

BUDIDAYA KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch) DI TAMBAK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kakap putih (Lates calcalifer, Bloch) biasa dikenal dengan nama Giant sea
perch, seabass atau barramundi, ikan ini hidup di perairan pantai, muara dan air tawar dan
termasuk ikan ekonomis penting di Kawasan Indo-Pasifik. Daya dukung komersial yang tinggi dan
menjadi rekreasi perikanan di Australia dan Papua Nugini, dan budidaya di Thailand, Malaysia,
Indonesia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan di Australia, dapat di budidayakan di air payau dan air
tawar, serta di keramba jaring apung di pantai (Kungvankij dkk, 1984;. Abu-abu, 1987, dalam schipp
et al, 2007). Ikan ini memiliki daging yang halus, populer di wilayah Indo-Pasifik, dan memiliki pasar
dan harga yang tinggi. ikan kakap putih memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat, tumbuh dengan
ukuran besar, dan dapat dibesarkan di penangkaran, sehingga membuat ikan kakap putih sangat
cocok untuk akuakultur (Schipp et al, 2007).

Teknik untuk budidaya kakap putih pertama kali dikembangkan di Laboratorium Kelautan
Songkhla di Thailand pada awal tahun 1970 dan kemajuan dalam teknik budidaya untuk kakap putih
yang telah dicapai sejak saat itu (Schipp et al, 2007).

Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di laut,
dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di hasilkan dari usah pemeliharaan (budidaya).
Salah satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di
indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup (Ditjen
Perikanan, 2001).

Produksi perikanan dunia dari kakap putih pada tahun 1983 dilaporkan oleh FAO (1985)
menjadi 14.895 ton, dari 11.456 ton (77%) disumbangkan oleh Asia Tenggara, dengan Indonesia
memproduksi 11.010 ton (dari kedua perairan pedalaman dan laut) dan Malaysia 446 ton. Di tahun
yang sama, produksi kakap putih dibudidayakan di Asia Tenggara adalah 2.416 ton, negara produsen
menjadi Indonesia (1105 atau 46%), Thailand (1084 atau 45%), dan Malaysia (227 atau 9%)
(SEAFDEC, 1985). Produksi Singapura dari budidaya kakap putih adalah 100 ton pada tahun 1983,
menjadi naik berasal dari hasil tangkapan dan budidaya ikan bandengair payau. kasus serupa juga di
alami oleh Filipina, tetapi statistik produksi tidak tersedia. Hasil budidaya biasanya dipasarkan sekitar
500-800 g, sementara yang liar tertangkap biasanya berat 7 kg atau lebih. (Cheong, 1989).

Menurut Murtidjo (1998) ikan kakap hidup dan segar sangat dibutuhkan di restoran-restoran
makanan laut (seafood) dan hotel-hotel berbintang. Hidangan kakap di tonjolkan sebagai hidangan
pilihan dengan berbagai variasi makanan dengan hargayang cukup tinggi. jakarta setiap bulan
membutuhkan 70 ton ikan kakap, sedangakan bali membutuhkan sekitar 30 ton/bulan.

Ikan kakap sebagai komoditas ekspor dapat diekspor ke singapura dan hongkong. singapura
setiap tahun membutuhkan ikan kakap hidup dan segar sebanyak 60 ribu ton per tahun, dan
hongkong membutuhkan sekitar 150 ribu ton per tahun. kebutuhan ikan kakap setiap tahunnya
cenderung meningkat (Murtidjo, 1998).

Selanjutnya Murtidjo (1998) mengatakan pasar ikan kakap saat ini sangat berkembang pesat
dengan tingginya permintaan terhadap ikan kakap baik domestik maupun internasional, maka
kegiatan budidaya ikan kakap memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan dan
peningkatan jumlah produksinya. Ekspor ikan kakap indonesia selama ini adalah singapura baru
mencapai 3000 ton per tahun ikan kakap segar dan 80 ton pertahun ikan kakap hidup. ironisnya,
sebagian dari jumlah tersebut oleh pedagang singapura di ekspor lagi ke Hongkong.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan paper yang berjudul tentang budidaya kakap kutih (Lates
calcalifer, Bloch) diantaranya adalah untuk mempelajari literatur-literatur tentang Kakap Putih,
teknik budidaya kakap kutih di tambak dan menuangkannya kedalam sebuah karya tulis, serta
sebagai salah satu syarat mengikuti ujian semester V.

BAB II

BIOLOGI KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch)

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch)

Ikan kakap putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar
garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut).
Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun
air tawar (Ditjen Perikanan, 2001).

Menurut Ditjen Perikanan (2001). Pada beberapa daerah di Indonesia ikan kakap putih dikenal
dengan beberapa nama seperti: pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dubit
tekong (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).

Menurut Mathew (2009) klasifikasi ikan kakap putih adalah sebagai berikut:

Phylum : Chordata

Sub-phylum : Vertebrata

Class : Pisces

Sub-class : Teleostomi

Order : Percomorphi

Family : Centropomidae

Genus : Lates

Species : Lates calcarifer, Bloch


Gambar 1. Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch)

Sumber: Pusluh KP

Menurut Marwiyah (2001) dalam Mulyono (2011) ciri-ciri morfologis ikan kakap putih (Lates
calcalifer,Bloch) antara lain adalah:

a. Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.

b. Pada waktu masih burayak (umur 1- 3 bulan) warnanya gelap dan setelah

menjadi gelondongan (umur 3-5 bulan) warnanya terang dengan bagian

punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah

menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.

c. Mulut lebar, sedikit serong dengan gigi halus.

d. Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.

e. Sirip punggung berjari-jari keras sebanyak 3 buah dan jari-jari lemah

sebanyak 7 8 buah.

f. Perbedaan jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar berikut :

Gambar 2. Perbedaan jenis kelamin induk kakap putih,

a = induk jantan,

b = induk betina ikan kakap putih

Sumber: Marwiyah (2001) dalam Mulyono (2011)

Morfologi dan khas karakter

Badan memanjang, pipih, dengan batang ekor mendalam. Tubuh besar, memanjang dan
gemuk, dengan cekung diucapkan punggung profil di kepala dan moncong yang menonjol; cekung
punggung profil cembung menjadi di depan sirip punggung. Mulut besar, sedikit miring, rahang atas
sampai ke di belakang mata; gigi villiform, tidak ada gigi taring hadir. Tepi bawah pra-operkulum
adalah dengan tulang yang kuat; operkulum dengan tulang kecil dan dengan flap bergerigi di atas asli
garis lateral. Sirip punggung dengan 7-9 duri dan 10 sampai 11 jari lunak; kedudukan yang sangat
dalam hampir membagi berduri dari bagian lunak sirip; sirip dada pendek dan bulat; beberapa
Singkatnya, gerigi yang kuat di atas basis; punggung dan anal sirip keduanya memiliki bersisik. Bulat
sirip dubur, dengan tiga duri dan 7-8 jari lemah; sirip ekor bulat. Skala besar sisir (kasar menyentuh).
Warna: dua fase, baik zaitun coklat di atas dengan sisi perak dan perut di laut lingkungan atau coklat
keemasan di lingkungan air tawar. Pada orang dewasa, biasanya biru-hijau atau keabu-abuan di atas
dan perak di bawah. Sirip yang kehitaman atau coklat kehitaman. Remaja memiliki Pola berbintik-
bintik coklat dengan tiga garis-garis putih di kepala dan tengkuk, dan putih bercak tidak teratur
ditempatkan di bagian belakang. Mata adalah pink cerah, bercahaya di malam hari (Mathew,2009).

Gambar 3. Skema Morfologi Kakap Putih (Soetomo, 1997)

2.2. Habitat dan Penyebaran

Daerah sebaran kakap putih di daerah tropis dan subtropis, daerah pasifik Barat dan
Samudera Hindia, yang meliputi : Australia, Papua New Guinea, Indonesia, Philipina, Jepang, China,
Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, Srilangka, Pakistan, Iran, Oman
dan negara-negara disekitar laut Arab. Penyebaran kakap putih di Indonesia terutama terdapat di
pantai utara Jawa, di sepanjang perairan pantai Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi
Selatan dan Arafuru (Sulistiono. 2013)

Distribusi ikan kakap putih terdapat di seluruh wilayah pesisir Indonesia, wilayah Pasifik Barat
(dari tepi timur Teluk Persia ke China ,Taiwan selatan, Jepang selatan, ke Papua Nugini , dan
Australia bagian utara . di Barat Australia , barramundi ditemukan di sungai dan di sepanjang pantai
dari Teluk Exmouth ke Wilayah perbatasan Utara. namun, kakap putih yang paling produktif di
Kimberley di mana area besar sungai tropis negara berada (Department of Fisheries, 2011).

Ikan kakap putih merupakan jenis ikan euryhaline dan katadromous. Ikan matang gonad
ditemukan dimuara-muara sungai, danau atau laguna dengan salinitas air antara 10-15 ppt. Larva
yang baru menetas (umur 15-20 hari atau ukuran panjang 0,4 0,7 cm) terdapat sepanjang pantai
atau muara sungai, sedangkan larva yang berukuran 1 cm dapat ditemukan di perairan tawar seperti
sawah dan danau (Mulyono, 2011).
2.3. Kebiasaan Makan

Kebiasan dan cara makan individu merupakan faktor paling penting yang menentukan keberhasilan
mempertahankan eksistensi suatu organisme karena makanan menyediakan semua nutrisi yang
diperlukan oleh organisme untuk tumbuh dan berkembang. Makanan juga berperan dalm
menentukan distribusi dan migrasi ikan. Pengetahuan tentang interaksi makan antara suatu species
lain juga penting diketahui dalam keaitan penyusunan rancangan manajemen sumber daya
perikanan dan konservasi disuatu perairan. Analisis makanan juga penting dilakukan
untuk mengetahui pesaingan makan (diet overlap) antar spesies, informasi ini penting diketahui
dalam kegiatan restocking (Pusluh, 2012 dalam Manalu, 2014).

Ikan kakap putih termasuk jenis ikan karnivora yaitu ikan pemakan daging yang termasuk dalam
predator. ikan predator adalah jenis ikan pemakan hewan yang masih hidup. Ikan jenis ini bersifat
buas sehingga tidak bisa dicampurkan dengan ikan budidaya lain (Thia, 2012).

Analisa perut yang pernah dilakukan padaikan yang berukuran 1-10 cm, ternyata 20% bagian adalah
plankton (terutama diatom dan alga) sementara sisanya terdiri dari udang-udangan kecil, ikan dan
sebagainya ( kungvankij, 1971 dalam Bond et al, 2005). Dipihak lain bahwa larva ikan kakap bisa
tumbuh optimum bila diberi rotifer (Brachionus sp.). Namun untuk ikan yang berukuran lebih dari
20 cm dinyatakan 100 % adalah pemakan daging dimana 70 % adalah crustacea (udang, anak
kepiting) dan 30 % adalah ikan-ikan kecil (Bond et al, 2005)

2.4. Siklus Hidup

Berdasarkan kebiasaan ruang hidup (niche), kakap putih bersifat katadromous, artinya dia
memijah di air laut dan dewasa di air tawar. Hal ini terjadi karena selama ikan berda di air tawar
gonad belum bisa berkembang maksimum. untuk mecapai perkembangan maksimum, kakap putih
mengadakan ruaya ke arah laut (daerah estuaria) dan memijah (Soetomo, 1997).

Menurut Bond et al (2005) Proses pembuahan terjadi di luar tubuh (eksternal), dan
berlangsung pada saat air laut pasang tinggi diwaktu malam hari (sekitar pukul 18.00-22.00) di awal
bulan baru atau bulan penuh.

Telur kakap bersifat mengapung (planktonik) dengan diameter 0,5 mm. telur akan menetas
18 jam kemudian dan larvanya hanyut terbawa arus ke arah estuaria masuk ke batang-batang
sungai, danau-danau dan rawa. selanjutnya larva akan tumbuh menjadi dewasa (Bond et al, 2005).

Selama di lingkungan air tawar, kakap putih mampu tumbuh sepanjang 65 cm dengan berat
badan 19,8 kg. selama ada di air laut, panjang tubuh bisa mencapai 1,7 m bahkan lebih. Kemampuan
kakap putih menghasilkan telur (fekunditas) diduga memiliki hubungan positif dengan berat dan
panjang ikan kakap putih (Soetomo, 1997).

BAB III

BUDIDAYA KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch) DI TAMBAK


3.1. Lokasi Tambak Budidaya Kakap Putih

Lokasi tambak untuk budidaya kakap putih pada hakikatnya tidak jauh berbeda denga tambak
untuk budidaya udang dan ikan bandeng. dengan demikian tambak yang pernah digunakan untuk
budidaya udang atau ikan bandeng dapat dimanfaatkan untuk budidaya kakap putih, tetapi
kedalaman air tambak untuk budidaya kakap putih lebih dalam (Murtidjo, 1998).

Menurut Murtidjo (1998) pemilihan lokasi tambak untuk budidaya kakap harus
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Lokasi yang sering terkena banjir sebaiknya jangan digunakan

2. lokasi sebaiknya dipilih yang dekat dengan jalan besar dan transportasi mudah

3. kondisi tanah dapat menahan air sehingga tidak mudah longsor

4. lokasi cukup aman dan terlindung, baik pencurian maupun terhadap hal-hal yang bersifat
sosiologis

5. dasar tambak memiliki tanah yang coxok, yaitu tanah liat bercampur endapan dan sedikit pasir.
tanah seperti ini biasanya terbentuk oleh air sungai yang bermata air di gunung yang membawa
tanah lahar mengandung abu.

6. lokasi dengan tanah dasar tambak yang berupa tanah liat atau pasir sebaiknya dihindari. tanah
liat yang terlalu banyak akan mengakibatkan tanah mengeras bila kering dan jika basah menjadi
becek, lengket, dan lembek. kemampuan menahan air pun terlalu kecil. jika terlalu banyak pasir,
tanah tambak akan mudah longsor.

3.2. Kontruksi Tambak Budidaya Kakap Putih

Untuk tambak-tambak yang dibangun di sepanjang pantai, tanahnya harus terdiri dari
campuran lumpur, pasir dan tanah liat. Sebaiknya dibangun tanggul penahan angin atau gelombang
yang terbuat dari batu kali atau batu karang guna mencegah kemungkinan kerugian yang tidak
diinginkan. Luas tambak sedikitnya 0,3-0,4 ha dengan kedalaman air 50-60 cm. Kurang dari itu
biayanya relatif akan lebih mahal, dan menghambat kecepatan tumbuh ikan kakap. Tambak sebainya
mempunyai dua saluran (jalan air), yang satu sebagai saluran masuk dan yang satunya lagi sebagai
saluran keluar. Dasar tambak sebainya sedikit miring ke arah pintu keluar, 30- 40 cm lebih dalam
dari pada kedalaman rata-rata dasar tambak, gunanya untuk memudahkan drainase (Akmal, 2011).
Untuk lebih jelas konstruksi tambak ikan kakap putih dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 4. Tambak Ikan Kakap Putih

Sumber: Notowinarto dan Hanum Santoso (1991)

3.3. Persiapan Tambak

Tujuan persiapan tambak adalah untuk memperoleh kondisi lingkungan bagi kultivan secara
fisik, biologi, dan kimia. kegiatan ini melipiti pemberantasan hama, pengeringan tambak, perbaikan
pematang, perbaikan pintu air, perbaikan caren dan saluran air, pengapuran tambak, pemasukan air
dan penyiapan air media (Golez, 2008).

Pengeringan tambak, perbaikan konstruksi dan pengapuran bertujuan untuk mempersiapkan


tanah sehingga mampu menahan air dengan optimal dan memperbaiki pertukaran kation-anion
antara tanah dan air. Penyiapan air dengan pemupukan akan berpengaruh langsung terhadap
pertumbuhan pakan alami yang akan secara langsung pula mendukung pertumbuhan ikan
(Adiwijaya et al, 2001).

3.3.1. Pengeringan Tambak

Menurut Edyatma (2013) Pengeringan tambak membutuhkan waktu selama 10-15 hari untuk
perkolamnnya. Untuk membersihkan tambak membutuhkan waktu selama 2 minggu dari mulai
persiapan hingga penebaran.Untuk mengeluarkan air menggunakan sentral grain berukuran 3 inci..
Bila sudah kelihatan tanda-tanda tanah dasar tambak mulai retak-retak, maka endapan lumpur
hitam (black mud) dikupas dan dibuang. Sekaligus dikerjakan reklamasi tambak, seperti perbaikan
konstruksi tambak, pematang, pintu air, dan sebagainya.

Dasar tambak kembali dijemur 2 atau 3 hari. Lalu dibajak untuk membongkar tanah dasar
tambak agar udara masuk ke tanah dan terjadi proses oksidasi. Sisa-sisa akar yang ada dibuang
untuk menghindari terjadinya pembusukan yang mengeluarkan gas-gas beracun dan berbahaya bagi
organisme . Setelah dibajak tanah dibiarkan beberapa hari agar bakteri anaerob yang sifatnya
pathogen dan bibit penyakit mati, serta gas-gas beracun menguap (Edyatma, 2013)

Diharapkan, setelah dilakukan pengeringan tanah tambak, sinar UV yang ada pada sinar
matahari dapat membunuh bakteri pembusuk, menaikkan pH tanah, serta memudahkan dalam
renovasi kolam agar tidak licin dan berlumpur.( Jayanti, 2012)

3.3.2. Pengapuran

Pengapuran bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah, dilakukan dengan kapur Zeolit
dan Dolomit. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8.
Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena
penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah.
Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup
pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau
10 kg/100 m2 (Rahmat, 1991 dalam Gusriandi, 2012).

Dasar tambak dikeringkan dengan kondisi lembab, kemudian lumpur diangkat ke pematang
sekaligus memperbaiki pematang yang bocor. bila pH tanah kurang dari 6.5 pengapuran perlu
dilakukan dengan dosis 500-1000 kg/ha. Kapur diberikan 60% sebelum pembalikan tanah dan 40%
sesudah pembalikan tanah (sedalam 20 cm). Pengeringan total bisa dilakukan 7-10 hari jika
intensitas cahaya matahari mencukupi. kegiatan yang seiring dengan proses ini adalah perbaikan
pintu dan pemasangan saringannya (Adiwijaya et al, 2001)

Pengapuran ditujukan untuk meningkatkan nilai alkalinitas air, mengatur nilai pH air,
mengurangi metabolit toxic, sanitasi lingkungan, mengurangi kepadatan plankton dan suplai mineral
kalsium (Dwi, 2012). Untuk lebih jelas proses pengapuran tambak dapat dlihat pada gambar dibawah
ini.

Gambar 5. Pengapuran Tambak

Sumber : Murni (2015)

3.3.3. Perbaikan pematang dan pintu air

Menurut Mulyadi (2013) Prinsip perbaikan pematang adalah bagaimana menjaga pematang
kolam, agar berfungsi sesuai tujuan dalam pemeliharaan ikan, yaitu ;

1. Mampu menampung air sesuai persyaratan lingkungan hidup ikan.

2. Mampu melindungi lingkungan perairan dari kondisi yang tidak diinginkan (polusi air, hama.)

3. Mampu memasukan dan mengeluarkan air kolam sesuai kebutuhan, sehingga kedalaman/volume
air kolam sesuai kebutuhan dan terjadi sirkulasi air yang baik, sehingga kualitas air sesuai dengan
parameter kualitas air budidaya yang dikehendaki., terutama kandungan O2, CO2, NH4, dan
kecerahan air kolam

Pematang merupakan bagian kolam yang berfungsi menahan air. Pematang biasanya terdiri
dari tanah liat yang kedap air (tidak porous). Pada lahan yang berpasir, pematang biasanya dibuat
dengan konstruksi beton. Pematang pada kolam biasanya terdiri dari dua jenis, yaitu pematang
primer dan sekunder. Pematang primer adalah pematang yang mengelilingi keseluruhan areal
kolam. Ukurannya biasanya lebar-lebar (antara 2 5 meter). Pematang primer biasanya
bersentuhan langsung dengan sumber air kolam. Pada pematang primer ini dibangun pintu utama
air yang berfungsi untuk mensuplai ke seluruh kolam. Pematang sekunder adalah pematang yang
berada di dalam kolam. Pematang sekunder berfungsi sebagai pembatas antara kolam, ukurannya
relative lebih kecil. Pada pematang sekunder ini biasanya terdapat pula pintu-pintu air pada setip
petakan kolam (Mulyadi, 2013).

Selanjutnya Mulyadi (2013) juga mengatakan untuk memperbaiki pematang biasanya


dilakukan pada saat persiapan lahan, sebelum penebaran. Hal-hal yang diperbaiki meliputi,
perbaikan konstruksi, menambal pematang yang bocor dan membersihkan rumput-rumput yang
tumbuh subur. Beberapa peralatan yang diganakan untuk perbaikan pematang diantaranya cangkul,
linggis, parang, gergaji dan lain-lain. Sedangkan bahan-bahana yang digunakan biasanya adalah,
patok-patok kayu, karung, waring, bambu dan lain-lain.

3.3.4. Pemupukan

Menurut (Suseno 1999) dalam Gusriandi (2012) pemupukan kolam sangat penting karena
pemupukan dapat peningkatkan kesuburan kolam sehingga tumbuh-tumbuhan air atupun biota-
biota air yang menjadi makanan alami ikan dapat tumbuh debgan baik. Pemupukan berupa pupuk
buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga
ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10
gram/meter persegi.

Pemupukan dengan jenis pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), Cara pemupukan dan
dosis yang diterapkan, sesuai dengan tingkat kesuburan di tiap daerah. Beberapa hari sebelum
penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki,
kemudian dasar kolam dicangkul dan diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak
100-150 kg/ha. Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan juga
dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya kolam diberi pupuk organik sebanyak 300-1.000
kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan sebanyak 50 kg/ha. Urea dan TSP diberikan dengan
dicampur terlebih dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam. Selesai pemupukan kalam diairi
sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur
dengan tanah. Hari ke-5 air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari
semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan (Rahmat 1991 dalam Gusriandi, 2012).

3.4. Pengisian air media

Air media yang digunakan untuk pemeliharaan ikan kakap putih harus terhindar dari polutan
berupa pestisida atau bahan berbahaya lainnya. Pengisian air laut dilakukan sampai ketinggian air
dari 80 100 cm dari dasar tambak. Pengisian air ke dalam petakan tambak melalui saluran inlet dan
dibantu dengan menggunakan pompa submersible 10 inchi. Air yang digunakan berasal dari tandon
yang terlebih dahulu diukur kualitas airnya ( Dwi, 2012).

Sumber air sepanjang pantai biasanya bermutu baik. Sebagian air ini harus diganti setiap hari
pada waktu air pasang melalui pintu air masuk dan pada waktu air pasang sedang menurun dengan
jalan membuka pintu air keluar. Pengaliran air keluar sebaiknya melalui bagian bawah tambak,
sedang pemasokannya dari permukaan. Banyaknya air harus cukup untuk mengisi
tambak. Sebaiknya disediakan pompa air bila memerlukan air lebih banyak (Halkan, 2011).

3.5. Penebaran Benih

Sebelum ditebar ditambak, benih kakap dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu. aklimatisasi
benih kakap yang baru didatangkan dimaksudkan sebagai usaha penyesuaian benih kakap terhadap
lokasi pembesaran sehingga dapat mengurangi tingkat mortalitas pada benih kakap putih (Murtidjo,
1998).

Menurut Rahardjo et al (1999) dalam adaptasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain:

- Waktu penebaran (sebaiknya pagi dan sore hari, atau saat cuaca teduh)

- Sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan tinggi

- Aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas

Benih Kakap Putih dapat diperoleh dari alam atau dari panti benih. Ukuran panjang 2-3 an
(30-40 hari) atau ukuran besar 25-30 gram/ekor. Benih berenang cepat/gesit sisik mengkilat
tergolong benih yang baik dan sehat. Kepadatan optimal untuk benih berukuran 25-30 gram/ekor
adalah 100 ekor/m3. Sedangkan benih berukuran 100-150 gram/ekor. padat tebarnya adalah 40-50
ekor/m3 KJA (Mulyono, 2011).

Menurut SNI No 01-6149-1999 Kriteria kuantitatif benih ikan kakap putih kelas benih sebar
seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Kriteria Kuantitatif Benih Ikan Kakap Putih Kelas Benih Sebar

Sumber: SNI No 01-6149-1999

Menurut SNI No. 8115-2015 tentang produksi kakap putih di tambak untuk ukuran benih yang
di tebar adalah yang di ukuran panjang >10 cm dengan padat penebaran 2-3 ekor/m2 dengan waktu
pemeliharaan 5-7 bulan.

3.6. Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan selama pemeliharaan benih ikan Kakap Putih harus sesuai dengan
kebutuhan benih yang dipelihara, baik dari segi jumlah, waktu, syarat fisik (ukuran dan bentuk) serta
kandungan nutrisi, agar pemberian pakan buatan (pellet) ini tepat sesuai dengan kebutuhan dan
memiliki kualitas nutrisi yang baik untuk hidup benih ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)
(Jaya et al, 2013).

Pakan memegang peranan utama dalam keberhasilan pembenihan. Jenis, ukuran, dosis dan
frekuensi pemberian pakan merupakan faktor-faktor yang harus benar-benar diperhatikan (Kumar,
2009)

Pakan yang diberikan yaitu berupa ikan segar dari jenis ikan selar, ikan tembang, ikan japuh,
ikan petek dan ikan kuniran, serta pemberian pakan buatan berupa pellet dengan kandungan
protein tinggi (SNI No. 8115-2015).
Jenis pakan yang diberikan adalah pakan buatan berbentuk pellet kering yang ukurannya
disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut ikan (Jaya et al, 2013)

Standar jenis dan dosis pemberian pakan pada ikan kakap putih dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.

Tabel 2. Jenis dan Dosis Pemberian Pakan pada Ikan Kakap Putih

Sumber: SNI No. 8115-2015 (Pembesaran ikan kakap putih di tambak)

Pada awal pemberian pakan, biasanya nafsu makan sangat tinggi dan mulai terlihat adanya
perubahan setelah pakan yang diberikan mencapai 50 % dari dosis yang telah ditentukan. Pemberian
pakan sebaiknya dengan tangan sehingga tidak ada pakan yang terbuang. hal ini dilakukan untuk
mengurangi biaya pakan, dan memungkinkan setiap ekor ikan dapat makan secara optimal.
pemberian pakan dilakukan dengan menebar sedikit demi sedikit secara merata. Pada kegiatan
pembesaran, pakan yang diberikan berupa ikan rucah dengan dosis 8-10 % dari total biomassa setiap
hari. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan pada pagi hari pukul 08.00-10.00 dan apabila pakan
habis, maka sore hari tidak perlu diberikan pakan (Rahardjo et al, 1999).

3.7. Kualitas Air

Kualitas air untuk keperluan kegiatan budidaya ikan merupakan suatu variabel yang
mempengaruhi pengelolaan dan kelangsungan hidup, berkembang biak, pertumbuhan serta
produksi ikan. Kondisi kualitas air di suatu tempat selalu berubah-ubah tergantung musim atau
cuaca maupun waktu, sehingga akan berpengaruh juga terhadap keberlangsungan hidup biota atau
organisme perairan (Yesiani, 2014).

Menurut SNI No. 8115-2015 tentang pembesaran ikan kakap putih ditambak untuk kualitas air
tambak dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3. Kualitas Air Tambak Ikan Kakap Putih

Sumber: SNI No. 8115-2015

Menurut Yesiani (2014) Hasil analisa kualitas air parameter fisika dan parameter kimia di
tambak pembesaran kakap putih rata rata nilai suhu berkisar antara 28,4 30,1 C, kecerahan
antara 25 27 cm, salinitas antara 34 35 ppt, pH antara 7,6 7,75, Oksigen terlarut antara 3,45
5,3 mg/l, Karbondioksida antara 5,95 8,45 mg/l, ammonia antara 0,053 0,058 mg/l, Nitrat
sebesar 1,254 dan 1,417 mg/l, orthophosphat sebesar 0,034 0,0405 mg/l. Kelimpahan fitoplankton
berkisar 1923 - 3212 ind/ml dan kelimpahan zooplankton antara 46 140 ind/l.

3.8. Panen

Memanen ikan kakap putih belum merupakan kegiatan akhir dalam budidaya, melainkan
merupakan langkah awal penentu dalam usaha meningkatkan pendapatan petani sebesar-bearnya
dari usaha budidaya ikan kakap putih. meningkatnya pendapatan petani ikan bergantung pada
kemampuan petani dalam mempertahankan mutu ikan agar tetap segar sampai ke konsumen.
kondisi ikan yang masih segar akan menarik minat konsumen, dan sudah barang tentu memiliki nilai
jual (harga) yang tinggi. Bila kondisi ikan sudah rusak dan membusuk, nilai jual akan menurun karena
tidak lagi diminati konsumen (Soetomo, 1998)

Waktu panen ditentukan oleh ukuran yang diinginkan. Pada pemeliharaan ikan kakap putih di
tambak selama 5-7 bulan dapat mencapai berat 450 gram/ekor - 500 gram/ekor dengan tingkat
kelangsungan hidup 70 % (SNI No. 8115-2015).

Kegiatan Panen sebaiknya dilakukan pada sore hari, karen saat itu suhu udara relatif rendah.
dengan demikian diharapkan dapat mengurangi stress pada ikan selama proses pemanenan.
disamping itu dapat juga menunjang kegiatan selanjutnya (transportasi) yang dapat dilakukan pada
malam hari. pengangkutan hasil panen pada malam hari juga sangat dianjurkan terutama apabila
disuatu daerah perlengkapan akan transportasi komoditas hidup belum memadai khususnya dalam
hal pengaturan suhu (Dewi dan Kurniastuty, 1999)

3.8.1. Metode panen

Ada 2 metode panen yang dapat dilakukan:

a. Panen Selektif

Menurut Dewi dan Kurniastuty (1999) pada metode panen ini biasanya yang dipanen adalah
ikan yang sudah mencapai ukuranya yang diinginkan sesuai dengan permintaan pasar, sedangkan
ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil dapat terus dipelihara di tempat semula. Panen selektif sering
pula dilakukan untuk memenuhi permintaan dalam skala kecil.

Sistem pemanenan ini sangat dianjurkan apabila pertumbuhan ikan yang dipelihara kurang
seragam. Terjadinya ketidakseragaman pertumbuhan dapat disebabkan oleh teknik
pemeliharaannya yang kurang baik atau penggunaan benih dari alam yang biasanya tidak seragam
(Dewi dan Kurniastuty, 1999).

Panen selektif dapat dilakukan pada saat bulan pernama, karena pada saat bulan purnama air
laut akan mengalami pasang tertinggi dan ikan kakap akan memperoleh rangsangan rindu laut dan
punya keinginan kuat untuk kelaur serta berkumpul didepan pintu air. Pada saat itu, pintu harus
ditutup kuat dan rapat, dan baru dibuka saat air pasang mencapai puncak. Dengan demikian, ikan
kakap yang sedang rindu laut akan berkumpul didepan pintu dan dapat ditangkap dengan jaring
sodor. Dengan cara seperti itu, ikan kakap bisa dipilih berukuran besar-besar dan yang kecil
dapatdilepas kembali (Murtidjo, 1998)

b. Panen Total

Metode ini digunakan apabila permintaan konsumen cukup tinggi dan ikan yang dipelihara
sudah memenuhi syarat untuk dijual baik dari segi ukuran maupun jumlahnya. Metode ini pada
prinsipnya dilakukan dengan cara memanen semua ikan yang dipelihara, cara ini mudah dilakukan
karena petani tidak perlu melakukan seleksi ukuran ikan pada saat panen (Dewi dan Kurniastuty,
1999)

Pemanenan total merupakan cara pemanenan dan penangkapan secara total. Pemanenan
dilakukan dengan cara mengeluarkan air tambak sampai habis. Kemudian, beberapa orang masuk
kedalam tambak sambil mendorong kerai bambu secara bertahap dengan kaki agar ikan kakap
tersebut terkumpul ditempat penimbunan. Cara penangkapan tuntas ini biasanya dilakukan pada
malam hari dengan cara mengeluarkan air tambak secara perlahan-lahan sehingga saat dini hari air
tambak hanya tertinggal di caren. Setelah air tambak habis, beberapa orang turun dengan
membawa papan menggiring ikan kakap menuju tempat penimbunan dekat pintu air. Setelah
berkumpul, dikurung dengan kerai bambu (Murtidjo, 1998). Untuk lebih jelas pemanenan ikan kakap
putih daapt dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 6. Pemanenan Ikan Kakap Putih

Sumber: Sulistiono dan M. Rizki (2013)

3.9. Hama dan Penyakit

Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan laut tersebut, terdapat

pula beberapa masalah yang mengganggu, sehingga menghambat perkembangan usaha budidaya,
yaitu hama dan penyakit ikan. Apabila keadaan tersebut tidak segera ditanggulangi lebih awal, maka
kegiatan budidaya ikan laut akan terganggu, akibatnya ikan akan menurun karena tingkat
kematiannya tinggi. Untuk menghindari hal tersebut perlu diupayakan pencegahan dan pengobatan
terhadap hama dan penyakit ikan. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa tidak semua
penyebab kematian dikarenakan penyakit, maka dalam menangani masalah ini, tindakan
penanggulangannya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar tidak menimbulkan kesalahan yang
merugikan (Tarwiyah, 2001)

Penyakit yang sering menyerang ikan Kakap Putih beserta penanggulangannya dapat dilihat pada
tabel berikut :

Tabel 4. Jenis Penyakit dan Penyebabnya

No Nama Penyakit Penyebab

1. Bintik Putih Penyebabnya adalah protozoa Ichthiopthirius


multifiliis. Faktor pendukung penyebab penyakit ini
(Parasit)
adalah:

- kualitas air yang buruk,

- suhu yang terlalu rendah,


- pakan yang buruk,

- dan kontaminasi ikan lain yang sudah terkena


penyakit bintik putih.

Penularan penyakit ini dapat melalui air dan kontak


langsung antar ikan.

2. Penyakit Gatal Penyakit yang sering menyerang benih arwana ini


disebabkan oleh Trichodina sp. bagian tubuh yang
(Parasit)
diserang adalah kulit, sirip, dan insang.

3 Penducle Penyakit ini sering disebut dengan penyakit air dingin


(cold water descareases) yang bisa terjadi pada suhu
(Bakteri)
160 C. penyebabnya adalah bakteriFlexbacter
psychropahila yang berukuran sekitar 6 mikron.

Sumber: Razi (2013)

Tabel 2. Jenis Penyakit dan Gejala Serangan

No Nama Penyakit Gejala Serangan

1. Bintik Putih Bagian tubuh ikan yang diserang adalah sel lendir, sisik,
dan lapisan insang. Ikan yang terserang penyakit ini
tampak sulit bernafas, sering menggosok-gosokkan
tubuhnya kedinding wadah, munculnya bintik putih pada
insang dan sirip, lapisan lendir rusak, dan terjadi
pendarahan pada sirip dan insang.

2. Penyakit Gatal Serangan penyakit gatal ditandai dengan gerakan ikan


yang lemah dan sering menggosok-gosokkan tubuhnya
kebenda keras dan dinding wadah pemeliharaan.

3. Penducle Ikan arwana yang terserang penyakit penducle tampak


lemah, tidak mempunyai nafsu makan, muncul borok
atau nekrosa pada kulit secara perlahan.

Sumber: Razi (2013)

BAB IV

PENUTUP
Kakap putih (Lates cacalifer, Bloch) biasa dikenal dengan nama Giant sea perch,
seabass atau barramundi, ikan ini hidup di perairan pantai, muara dan air tawar dan termasuk ikan
ekonomis penting di Kawasan Indo-Pasifik.

Teknik untuk budidaya kakap putih pertama kali dikembangkan di Laboratorium Kelautan
Songkhla di Thailand pada awal tahun 1970. Ikan kakap putih adalah ikan yang mempunyai toleransi
yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan
di air tawar dan kawin di air laut).

Ikan kakap putih termasuk jenis ikan karnivora yaitu ikan pemakan daging yang termasuk
dalam predator.Kegiatan budidaya ikan kakap putih ditambak meliputi persiapan lahan (pengeringan
tanah dasar dan perbaikan pematang dan pintu air, pengapuran, pemupukan), pengisian air media,
penebaran benih, pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, dan pengendalian hama dan
penyakit, serta pemanenan

Kepadatan optimal untuk penebaran benih ikan kakap putih berukuran 25-30 gram/ekor
adalah 100 ekor/m3. Pakan yang diberikan yaitu berupa ikan segar dari jenis ikan selar, ikan
tembang, ikan japuh, ikan petek dan ikan kuniran, serta pemberian pakan buatan berupa pellet
dengan kandungan protein tinggi.

Pada pemeliharaan ikan kakap putih di tambak selama 5-7 bulan dapat mencapai berat 450
gram/ekor - 500 gram/ekor dengan tingkat kelangsungan hidup 70 %. Penyakit yang sering
menyerang ikan kakap putih antara lain: Bintik putih (parasit), penyakit gatal (parasit), dan penducle
(bakteri).

DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaya, D., Kokarkin, C., Supito. 2001. Petunjuk Operasional Tambak Sistem Resirkulasi. Ditjen
Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jepara. 24p

Bond, Manja Meyky, Nono Hartono, dan Hanafi. 2005. Pembenihan Kakap Putih (Lates calcalifer).
Loka Budidaya Laut Batam. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan
Perikanan. Batam

Cheong, L. 1989. Status of knowledge on farming of Seabass (Lates calcarifer) in South East Asia.
Advances In Tropical Aquaculture. Singapore

Department of Fisheries. 2011. Fisheries Fact Sheet "Barramundi". Govertment of Western Autralia.
Australia.
Dewi, Julinasari, Kurniastuty. 1999. Hama dan Penyakit Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates
calcarifer, Bloch) di Karamba Jaring Apung. BBPBL Lampung. Lampung

Direktorat Jenderal Perikanan. 2001. Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch) Di Keramba
Jaring Apung. Departemen Petanian. Jakarta

Dwi, Rudian. 2012. Pembesaran Kakap Putih. ruditok.blogspot.co.id (Diakses tanggal 18 november
2015 pukul 20.34 Wib)

Edyatma. 2013. Persiapan Tanah Dasar Tambak. Edyatmabanta. blogspot. co. id. (diakses tanggal 18
November 2015 pukul 20.19 Wib)

Golez, N.V. 2008. Pond Preparation And Fertilization. Short Course Training In Workshop On Shrimp
And Gracillaria Culture: New Trends For Changing World. UBBADC, Aceh

Gusriandi. 2012. Pengolahan Tambak. gusri.heck.in. (Diakses tanggal 18 november 2015 pukul 20.34
Wib)

Halkan, Akmal. 2011. Makala Kakap Putih. wwwfishery08.blogspot.co.id. (diakses tanggal 29


November 2015 pukul 20.51 wib)

Jayanti, Putri. 2012. Persiapan Pembesaran Udang Vannamei. rochmaputri.blogspot.co.id. (diakses


tanggal 18 november 2015 pukul 20.25 Wib)

Kumar, R. 2009. Technical Recommendation for Tilapia Trial. Personal Communication. Worldfish
Center. Aceh.

Manalu, Tiur Natalia. 2014. Makanan Dan Kebiasan Makan. Universitas Sumatera Utara. Medan

Mathew, Grace. 2009. Taxonomy, identification and biology of Seabass (Lates calcarifer). Central
Marine Fisheries Research Institute. Kerala, India

Mulyadi. 2013. Modul Agribisnis Perikanan "Menyiapkan Wadah dan Media Budidaya.
Blomulya.blogspot.co.id. (Diakses tanggal 18 november 2015 pukul 21.12 Wib)
Mulyono, Mugi. 2011. Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates Calcalifer, bloch). Pusat Penyuluhan
Kelautan Dan Perikanan. Jakarta.

Murni, Muhammad. 2015. Pengapuran Tambak. wicaramina.blogspot.com. (diakses tanggal 14


desember 2015 pukul 11.16 wib)

Murtidjo, Bambang Agus. 1998. Budidaya Kakap Putih Dalam Tambak Dan Keramba. Kanisius.
Yogyakarta.

Notowinarto, dan Hanum Santoso. 1991. Teknik Pemijahan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)
Dengan Rangsangan Hormonal. Infish Manual Seri No. 26..Dirjenkan. Jakarta

Rahardjo, Bambang budi, Evalawati, dan P. hartono. 1999. Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih di
Karamba Jaring Apung. Departemen Pertanian. Balai Budidaya Laut Lampung. Lampung

Razi, Fahrur. 2013. Penanganan Hama Dan Penyakit Pada


Ikan .komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.co.id. (Diakses tanggal 03 desember 2015 pukul 21.03
wib)

Schipp, Glenn, Jerome Bosmans, and John Humphrey. 2007. Northen Territory Barramundi Farming
Handbook. Department Of Primary Industri, Fisheries And Mines. Australia

Sulistiono, M. Rizki. 2013. Distribusi dan Penyebaran Ikan Kakap Putih.


Studyaquaculture.wordpress.com (diakses tanggal 17 November 2015 pukul 20.24 Wib)

SNI No. 8115-2015. Pembesaran Ikan Kakap Putih di Tambak. Badan Standar Nasional (BSN). Jakarta

SNI No. 01-6146-1999. Benih Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) kelas benih sebar. Badan
Standar Nasional (BSN). Jakarta.

Soetomo H.A., Moch. 1997. Teknik Budidaya Ikan Kakap Putih di Air Laut, Air Payau, dan Air Tawar.
Trigenda Karya. Bandung

Susanti, P. dan A. Rukyani , 1989. Pengendalian Penyakit Dalam Kurungan Apung Di Laut. Makalah
Temu Tugas Pemanfaatan Sumber Daya Hayati Lautan Bagi Budidaya. Serang 23 24 Mei 1989.
Tarwiyah. 2001. Pedoman Teknis Penanggulangan Penyakit Ikan Budidaya Laut. Direktorat Jenderal
Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta

Thia. 2012. Pola Kebiasaan Makan Si Ikan Ada Ikan. Seputarduniaair.blogspot.co.id. (di akses tanggal
17 November 2015 pukul 22.08 Wib)

Yesiani, Lia Ni Made. 2014. Manajemen Kualitas Air Pada Tambak Pembesaran Ikan Kakap Putih
(Lates Calcarifer ) Dan Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Di Tambak Ud. Laskar Langit Desa Patas
Kecamatan Gerokgak Buleleng, Bali. Universitas Brawijaya. Malang