Anda di halaman 1dari 26

Perbaikan Pembelajaran Kompetensi Dasar Jenis dan Persebaran

Sumber Daya Alam untuk Kegiatan Ekonomi dengan


Menerapkan Pembelajaran Kontekstual (Penelitian Tindakan
Kelas pada Siswa Kelas IV MI Bojongjati Kecamatan Cijati
Kabupaten Cianjur Semeter 1 Tahun Pelajaran 2013-2014)

FALDI HENDRATRESNA
NIM. 819414323
dyefhale@yahoo.com
ABSTRAK

Permasalahan yang terjadi pada pembelajaran IPS di kelas IV MI Bojongjati


adalah rendahnya kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Pada
kegiatan prapenelitian, hanya 7 siswa yang mengalami ketuntasan pembelajaran,
sedangkan 15 siswa lainnya belum mencapai ketuntasan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan pemahaman siswa
dalam kompetensi dasar menunjukkan jenis dan persebaran sumber daya alam
serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat di kelas IV
MI Bojongjati, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur semester 1 tahun pelajaran
2013-2014 melalui pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL). Metode
penelitian yang digunakan adalah metode tindakan (action research) dalam
bentuk penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan.
Pada siklus I diperoleh fakta bahwa siswa belum terbiasa melaksanakan
pembelajaran secara kooperatif. Hasil perolehan nilai rata-rata pada siklus I adalah
62,45 dengan nilai tertinggi sebesar 78,26 dan nilai terendah sebesar 39,13.
Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan (> 70) adalah 12 orang dari jumlah
siswa 22 atau sebesar 54,55 %. Rata-rata perolehan nilai ini masih berada di
bawah KKM, sehingga diperlukan penelitian tindakan siklus II.
Pada penelitian tindakan siklus II dilakukan beberapa perbaikan yang meliputi
perubahan komposisi anggota kelompok, pengarahan atas materi pokok yang
lebih jelas, serta latihan-latihan soal pendahuluan. Hasil rata-rata nilai siklus II
adalah 77,77 dengan nilai tertinggi 89,13 dan nilai terendah 71,74. Jika nilai
tersebut dikomparasikan dengan kriteria ketuntasan minimum (70), maka proses
pembelajaran kompetensi dasar menunjukkan jenis persebaran sumber daya alam
serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat telah
dianggap tuntas. Oleh karena itu, tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada
siklus berikutnya.

Kata kunci: pembelajaran kontekstual, persebaran sumber daya alam

1
BAB I
PENDAHULUAN

A." Latar Belakang Masalah

Kondisi pembelajaran yang masih terpusat pada guru pada dasarnya


masih sangat lekat berlangsung di MI Puncawangi, Kecamatan Cijati,
Kabupaten Cianjur. Guru-guru kelas dalam memberikan pembelajaran masih
belum terbiasa mengembangkan model-model pembelajaran yang bervariasi
dengan siswa sebagai pusat kegiatan. Aktivitas guru jauh lebih besar
dibandingkan dengan kegiatan siswa pada saat proses belajar mengajar
berlangsung. Bahkan, siswa cenderung bersikap pasif dalam kegiatan belajar
dan hanya mendengarkan ceramah yang disampaikan guru serta melaksanakan
tugas-tugas yang diberikan. Akibatnya, tingkat pemahaman siswa terhadap
materi pelajaran masih relatif rendah.

Hasil pembelajaran prapenelitian pada kompetensi dasar menunjuk-


kan jenis dan persebaran sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk
kegiatan ekonomi di lingkungan setempat menunjukkan fakta perolehan nilai
prestasi belajar siswa yang kurang memuaskan sebagaimana terlihat pada tabel
berikut.

Tabel 1.1 Data Hasil Pembelajaran Prapenelitian

Jenis Data Nilai Ketuntasan

Jumlah 1368.75
Nilai Rata-Rata 62.22
Nilai Tertinggi 81.25
Nilai Terendah 43.75
Skor Ideal 100
Siswa Tuntas 7 31.82 %
Siswa Belum Tuntas 15 68.18 %

Rata-rata hasil pembelajaran yang diperoleh siswa hanya mencapai


62,22 dengan nilai tertinggi 81,25 dan nilai terendah 43,76. Jumlah siswa

2
tuntas pada pembelajaran ini hanya 7 orang dari 22 siswa, atau hanay sebesar
31,82%.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, terdapat sejumlah


permasalahan yang dapat teridentifikasi sebagai berikut.
1." Rata-rata prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahu-
an Sosial masih rendah sehingga sekolah belum dapat meningkatkan
KKM (kriteria ketuntasan minimum).
2." Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih terpusat pada
guru dengan menggunakan metode ceramah.
3." Motivasi belajar siswa yang satu dengan yang lainnya tidak sama,
perbedaan motivasi belajar ini kemungkinan menyebabkan perbedaan
prestasi belajar siswa.

Permasalahan pembelajaran merupakan hal yang paling sering


dipersoalkan dalam aktivitas guru. Keberhasilan pembelajaran banyak
ditentukan oleh pemilihan model pembelajaran yang tepat dan ssuai dengan
kebutuhan siswa. Sebagus apa pun sebuah perencanaan pembelajaran yang
dibuat oleh seorang guru, jika tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
siswa, maka perencanaan tersebut tidak aan dapat dijalankan dengan baik.

Kompetensi dasar menunjukkan jenis dan persebaran sumber daya


alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat
merupakan kompetensi dasar yang memuat pokok-pokok masalah
pembelajaran yang relatif luas. Apabila kompetensi dasar ini tidak dianalisis
dan dikaji secara kontekstual, maka pembelajaran yang dilaksanakan akan
berkembang tidak terkendali. Permasalahan-permasalahan prestasi belajar,
proses pembelajaran, dan hasil belajar siswa yang ada tidak akan pernah
terpecahkan.

Pembelajaran kontestual atau CTL (contextual teaching and learning)


merupakan pendekatan pembelajaran yang berusaha mengaitkan materi
pembelajaran yang abstrak ke dalam lingkungan yang nyata sehingga konsep-
konsep materi pembelajaran sedikit demi sedikit dapat terserap dan menjadi

3
pengalaman siswa. Berdasarkan pemikiran inilah penelitian dengan
mengambil judul Perbaikan Pembelajaran Kompetensi Dasar Jenis dan
Persebaran Sumber Daya Alam untuk Kegiatan Ekonomi dengan Menerapkan
Pembelajaran Kontekstual (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV
MI Bojongjati Kecamatan Cijati Kabupaten Cianjur Semeter 1 Tahun
Pelajaran 2013-2014) perlu dilaksanakan.

B." Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas


dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut.

Apakah pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa


dalam kompetensi dasar menunjukkan jenis dan persebaran sumber daya alam
serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat di kelas
IV MI Bojongjati, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur semester 1 tahun
pelajaran 2013-2014?

C." Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Sesuai dengan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah


untuk mendeskripsikan peningkatan pemahaman siswa dalam kompetensi
dasar menunjukkan jenis dan persebaran sumber daya alam serta
pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat di kelas IV
MI Bojongjati, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur semester 1 tahun
pelajaran 2013-2014 melalui pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL).

D." Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi peningkatan pembelajaran


antara lain sebagai berikut.
1. Bagi Siswa
a. Memudahkan siswa untuk menemukan dan memahami permasalahan
lingkungan hidup dan upaya penanggulangannya dalam pembangunan
berkelanjutan secara cepat.

4
b. Melatih siswa agar mampu bekerja sama dengan sesama temannya
dan bertanggung jawab atas diskusi kelompoknya.

2. Bagi Peneliti
Bagi peneliti merupakan suatu upaya untuk meningkatkan profesionalisme
kerja guru dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.

3. Bagi Guru
Apabila penelitian ini menunjukkan peningkatan pemahaman membaca
siswa maka dapat dijadikan acuan untuk digunakan oleh guru bahasa
Indonesia khususnya dan para guru umumnya.

4. Bagi Sekolah
Apabila penelitian ini menunjukkan peningkatan pemahaman membaca
siswa maka dapat meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia
pada umumnya dan khususnya pada aspek membaca, dengan demikian
dapat meningkatkan prestasi siswa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A." Kajian Teoretis

1." Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teachng and Learning)


merupakan konsep belajar yang membantu guru dalam mengaitkan antara
materi yang diajarkan dan dunia nyata siswa. CTL juga membantu
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat. Dengan strategi semacam ini, hasil pembelajaran
diharapkan akan lebih bermakna karena proses pembelajaran berlangsung

5
secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa.

Prinsip-prinsip CTL yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran


adalah sebagai berikut.

a." Pembelajaran berlangsung dalam situasi yang nyata.


b." Pengajaran yang diberikan merupakan pengajaran yang otentik dan
faktual, tidak abstrak.
c." Pembelajaran berbasis inkuiri atau menemukan sendiri konsep,
bentuk, serta hasil.
d." Pembelajaran berbasis masalah. Artinya, masalah yang menjadi
pokok pembelajaran ditentukan dan ditemukan oleh siswa sendiri
serta dikembangkan dengan memecahkan masalah sendiri. Guru
bertindak sebagai fasilitator yang membimbing siswa hingga akhir
penemuan.
e." Pembelajaran yang dikembangkan harus memiliki makna dan
menyenangkan bagi siswa.

Pengembangan pendekatan kontekstual ini melibatkan tujuh


komponen yang terdiri atas

1)" konstrukvisme (constructivism);


2)" bertanya (question);
3)" menemukan (inquiry;)
4)" masyarakat belajar (learning community);
5)" pemodelan (modelling);
6)" refleksi (reflection); dan
7)" penilaian sebenarnya (authenthic assessment).
(Depdiknas, 2002d:17)

2." Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial, biasa disingkat IPS, adalah istilah yang


digunakan untuk menggambarkan penulisan dengan cakupan yang luas
dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia di masa
kini dan masa lalu. IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara

6
mendalam, tetapi memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang
diberikan mulai dari tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB sampai
dengan SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta,
konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang
SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan
ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat
menjadi warga masyarakat yang menghargai keberagaman, bertanggung
jawab terhadap lingkungan sekitar, mampu berkomunikasi dalam berbagai
aspek kehidupan dengan menggunakan berbagai cara.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan


terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan
dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan
peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam
pada bidang ilmu yang berkaitan.

Karena sifatnya yang berupa penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial,


di Indonesia IPS dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa sekolah
dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMP/SLTP).
Sedangkan untuk tingkat di atasnya, mulai sekolah menengah tingkat atas
(SMA/SLTA) dan perguruan inggi, ilmu sosial dipelajari berdasarkan
cabang-cabang dalam ilmu tersebut khususnya jurusan atau fakultas
yangmemfokuskan diri dalam mempelajari hal tersebut.

Ilmu Pengetahuan Sosial secara umum mempelajarai berbagai


bidang ilmu pengetahuan seperti sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi,
antropologi, psikologi, dan tata negara. Pada jenjang pendidikan SD dan
SLTP dikenal istilah IPS Terpadu, yakni bentuk mata pelajaran yang di
dalamnya memadukan berbagai cabang ilmu sosial dalam satu konteks
pembelajaran.

Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembang-


kan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi

7
di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang
terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang
menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-
program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari
rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin,
1998).

a." Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau


lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan
kebudayaan masyarakat.
b." Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan
metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
c." Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta mem-
buat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang ber-
kembang di masyarakat.
d." Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta
mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil
tindakan yang tepat.
e." Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu
membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung
jawab membangun masyarakat.

B." Kerangka Berpikir

Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa pembelajaran kontekstual


(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran
diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung

8
alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan
mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil.

Pembelajaran kompetensi dasar menunjukkan jenis persebaran


sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkung-
an setempat dengan menerapkan model pembelajaran konteksual dianggap
akan mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran sikap siswa akan
sumber daya alam bagi kegiatan ekonomi masyarakat sehingga para siswa
dapat mengimplementasikan wawasan pengetahuan tentang kompetensi dasar
ini dalam konteks nyata yang dialaminya.

Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya.


Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemu-
kan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman
secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar
siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemu-
kan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata,
artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab
dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata,
bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi
materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga
tidak akan mudah dilupakan. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat me-
nerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa
dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi
pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi
pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian
dilupakan akan tetapi segala bekal mereka dalam mengarungi kehidupan
nyata.

9
Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut.

a." Pembelajaran berlangsung dalam situasi yang nyata.


b." Pengajaran yang diberikan merupakan pengajaran yang otentik dan
faktual, tidak abstrak.
c." Pembelajaran berbasis inkuiri atau menemukan sendiri konsep,
bentuk, serta hasil.
d." Pembelajaran berbasis masalah. Artinya, masalah yang menjadi
pokok pembelajaran ditentukan dan ditemukan oleh siswa sendiri
serta dikembangkan dengan memecahkan masalah sendiri. Guru
bertindak sebagai fasilitator yang membimbing siswa hingga akhir
penemuan.
e." Pembelajaran yang dikembangkan harus memiliki makna dan
menyenangkan bagi siswa (Depdiknas, 2002c:4).

Berdasarkan pemikiran tersebut, dapat diasumsikan bahwa pembelajar-


an kontekstual dalam kompetensi dasar dasar menunjukkan jenis persebaran
sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di
lingkungan setempat akan mudah diikuti oleh siswa yang pada akhirnya akan
mampu meningkatkan pemahaman dan sikap sosial siswa.

C." Hipotesis Tindakan

Berdasar kepada kerangka pemikiran yang dikembangkan di atas,


diajukan hipotesis tindakan pada penelitian ini sebagai berikut.

Penerapan pembelajaran kontekstual dapat efektif meningkatkan prestasi


belajar siswa kelas IV MI Bojongjati, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur
semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 pada kompetensi dasar dasar
menunjukkan jenis persebaran sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk
kegiatan ekonomi di lingkungan setempat.

10
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN
PEMBELAJARAN

A." Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian

1." Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Bojongjati,


Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur pada semester 1 tahun pelajaran
2013-2014. Jumlah siswa kelas IV MI Bojongjati Kecamatan Cijati pada
tahun pelajaran 2013-2014 adalah 22 orang yang terdiri atas 9 siswa laki-
laki dan 13 siswa perempuan. Dari 22 siswa tersebut, terdapat 6 siswa
yang memiliki kemampuan di atas rata-rata serta 5 siswa yang selalu
memiliki prestasi di bawah rata-rata. Di samping itu, 5 siswa memiliki
latar belakang sosial yang lebih baik dibandingkan yang lainnya karena
tingkat pendidikan orang tua serta posisi sosial keluarga di mata
masyarakat. Sementara itu, terdapat pula 7 siswa yang berasal dari latar
belakang strata sosial yang kurang karena faktor ekonomi serta pendidikan
orang tua. Siswa-siswa lainnya memiliki latar belakang sosial rata-rata
sebagaimana layaknya masyarakat di sekitar MI Bojongjati, Kecamatan
Cijati, Kabupaten Cianjur.

2." Tenpat Penelitian

Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas IV MI


Bojongjati, yang beralamat di Kp. Bojongjati, Desa Sukamahi, Kecamatan
Cijati, Kabupaten Cianjur tahun pelajaran 2013-2014.

3. Waktu Pelaksanaan

Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan dalam dua


siklus dengan waktu pelaksanaan sebagai berikut.

11
a." Siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 21 Agustus 2013 di
kelas IV MI Bojongjati Kecamatan Cijati. Kegiatan penelitian ini
dilaksanakan pada jam pelajaran ke-3 dan ke-4 sesuai dengan
jadwal mata pelajaran matematika di kelas tersebut.

b." Siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Agustus 2013


pada jam pelajaran ke-3 dan ke-4.

B." Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Penelitian ini merupakan penelitian perbaikan pembelajaran dalam


bentuk penelitian tindakan kelas. Karena permasalahan yang dihadapi dialami
oleh guru/peneliti, maka solusinya dirancang berdasarkan kajian teori
pembelajaran dan input dari lapangan. Di samping itu, pelaksanaan tindakan
juga dilakukan oleh guru/peneliti. Adapun rancangan solusi yang dimaksud
adalah tindakan penerapan pembelajaran kontekstual (CTL) berbentuk pen-
dekatan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam
mengajarkan kompetensi dasar menunjukkan jenis persebaran sumber daya
alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat
di sekolah dasar.

Dalam menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut digunakan


tindakan berulang/siklus dalam setiap pembelajaran, artinya cara menerapkan
pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) pada pembelajaran pertama,
sama dengan yang diterapkan pada pembelajaran kedua, pembelajaran ketiga,
hanya refleksi terhadap setiap pembelajaran berbeda, tergantung dari fakta dan
interpretasi data yang ada atau situasi dan kondisi yang dijumpai. Hal ini
dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal mengenai cara penggunaan
pendekatan pembelajaran kontekstual.

Selanjutnya disain penelitian secara umum digambarkan seperti bagan


di bawah ini.

12
UKMNWU"3" UKMNWU"4"

Keterangan :
P : Perencanaan T : Tindakan
O : Observasi E/R : Evaluasi / Refleksi

Siklus pembelajaran berikutnya dilakukan apabila hasil pembelajaran


tidak menunjukkan ketuntasan yang dipersyaratkan dalam KTSP.

C." Teknik Analisis Data

1." Sumber Data

Sumber data diambil dari guru dan siswa. Dari guru berupa tes
awal dan dari siswa berupa data hasil angket dan tes pada akhir materi.

2." Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Ada tiga macam metode yang digunakan untuk pengumpulan data


dalam penelitian ini, yaitu :

1." Metode survey/observasi, metode ini digunakan untuk mendapatkan


perubahan suasana belajar mengajar, dan perubahan kinerja guru.

2." Metode dokumentasi, metode ini digunakan untuk mendapatkan karak-


teristik siswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga berdampak
pada belum tercapainya prestasi belajar siswa secara perorangan.
Daftar ini diperoleh dari nilai ulangan harian dan nilai ulangan
semester.

13
3." Metode tes, metode ini digunakan untuk mengetahui perkembangan
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.

Untuk pengumpulan data diperlukan instrumen pengambilan data.


Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a." pedoman wawancara untuk mengetahui dampak tindakan;


b." lembar pengamatan untuk melihat perubahan suasana belajar;
c." lembar respon siswa terhadap KBM;
d." catatan lapangan untuk bahan refleksi.

3." Analisis Data

Data yang telah diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis


diskriptif:

Hasil belajar dianalisis dengan analisis diskriptif komparatif yaitu


membandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja.
Sedangkan observasi maupun wawancara dengan analisis diskriptif
kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi.

4. Tolok Ukur Keberhasilan Penelitian

Berdasarkan pengalaman sebelumnya perihal ketuntasan belajar


siswa, maka ditetapkan indikator keberhasilan penelitian sebagai berikut.

Penelitian ini dinyatakan berhasil, jika :

a." Sekurang-kurangnya 85% siswa telah melampaui standar ketuntasan.

b." Sekurang-kurangnya 75% siswa memiliki minat dan motivasi belajar


yang tinggi.

c." Terjadinya peningkatan aktivitas belajar siswa sekurang-kurangnya


75% yang ditandai dengan kreativitas siswa dalam menemukan dan
merumus-kan materi pembelajaran.

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A." Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Dari pelaksanaan penelitian diperoleh berbagai data yaitu data hasil


belajar siswa dan data hasil observasi aktivitas belajar siswa serta tanggapan
siswa terhadap pembelajaran yang diperoleh melalui wawancara singkat.
Analisis terhadap data hasil penelitian dilakukan dengan melihat nilai
perolehan siswa secara individual dibandingkan dengan kriteria ketuntasan
minimum yang ditetapkan dengan ketentuan sebanyak 85 % siswa mencapai
ketuntasan. Secara klasikal, rata-rata perolehan nilai siswa harus > 65.

1." Siklus I

Siklus I pembelajaran kompetensi dasar menunjukkan jenis


persebaran sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan
ekonomi di lingkungan setempat dengan menerapkan pembelajaran
kontekstual pada siswa kelas IV MI Bojongjati, Kecamatan Cijati,
Kabupaten Cianjur semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 ini dilaksanakan
dalam satu kali pertemuan pada hari Rabu tanggal 28 Agustus 2013 pada
jam pelajaran ke-3 dan ke-4. Pada pelaksanaan tindakan pembelajaran
siklus I ini dilakukan pula pengamatan atas proses pembelajaran dan
diperoleh beberapa data temuan sebagai berikut.

a." Proses Pembelajaran

1." Pada awal kegiatan diskusi kelompok, pada umumnya siswa masih
merasa canggung dengan situasi pembelajaran. Apalagi siswa
harus mempelajari sendiri materi pembelajaran melalui LKS yang
dibagikan. Kegiatan menemukan sendiri (inkuiri) konsep materi
persebaran sumber daya alam dan kegiatan ekonomi bagi siswa
merupakan hal yang relatif cukup sulit karena melibatkan beberapa

15
konsep prasyarat seperti pendataan sumber daya alam yang ada di
daerah sekitar maupun di Indonesia.

2." Hal kedua yang merupakan kegiatan baru bagi para siswa adalah
mempresentasikan konsep yang ditemukannya dalam presentasi
kelas. Penguasaan komunikasi yang relatif masih kurang menjadi
hambatan siswa dalam mengungkapkan gagasannya.

3." Proses diskusi yang berjalan pada setiap kelompok tampak tidak
seimbang. Jalannya proses diskusi banyak didominasi oleh siswa-
siswa yang aktif dan biasa memperoleh prestasi baik. Hal ini
menjadi catatan peneliti bagi perbaikan siklus berikutnya.

4." Alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran ternyata tidak


mencukupi sehingga diperlukan tambahan waktu untuk pelaksana-
an kuis atau tes akhir.

b." Hasil Pembelajaran

Data hasil pembelajaran yang diperoleh adalah dalam bentuk


akumulasi skor dan nilai perolehan siswa. Penilaian hasil pembelajaran
ini dilakukan segera setelah siswa melaksanakan kuis sehingga siswa
mengetahui secara langsung hasilnya serta hal apa saja yang seharus-
nya mereka perbaiki.

Perolehan hasil belajar siklus I siswa kelas IV MI Bojongjati,


Kecamatan Cijati terdiri atas nilai rata-rata sebesar 62,45 dengan nilai
tertinggi sebesar 78,26 dan nilai terendah sebesar 39,13. Jumlah siswa
yang telah mencapai ketuntasan (> 70) adalah 12 orang dari jumlah
siswa 22 atau sebesar 54,55 %. Sebagaimana diketahui bahwa batas
taraf ketuntasan pembelajaran di tingkat kelas harus mencapai
sekurang-kurangnya 85 %.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran


siklus I belum mencapai keberhasilan yang diharapkan sehingga perlu
diperbaiki dalam bentuk tindakan siklus berikutnya.

16
2." Siklus II

Siklus II tindakan pembelajaran Perbaikan Pembelajaran Kompe-


tensi Dasar Jenis dan Persebaran Sumber Daya Alam untuk Kegiatan
Ekonomi dengan Menerapkan Pembelajaran Kontekstual (Penelitian
Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV MI Bojongjati Kecamatan Cijati
Kabupaten Cianjur Semeter 1 Tahun Pelajaran 2013-2014) ini merupakan
siklus tindakan tahap kedua dan merupakan perbaikan dari pelaksanaan
siklus tindakan tahap pertama. Pada siklus II ini beberapa hal mengalami
perbaikan dan penyesuaian sesuai dengan data temuan yang diperoleh
selama pembelajaran dan hasil pembelajaran siklus I.

a." Proses Pembelajaran

Pada pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan sejumlah perbaikan


dan penyesuaian bagi siswa agar siswa dapat menyerap pembelajaran
dengan baik.

1)" Pembagian kelompok siswa diubah dengan cara menyebar kembali


siswa-siswa berkemampuan tinggi ke dalam 5 kelompok baru,
demikian juga siswa-siswa yang memiliki kemampuan menengah
dan rendah. Jumlah kelompok belajar di dalam kelas tetap tidak
berubah, hanya anggotanya komposisinya.

2)" Dampak pertama yang dapat dilihat dari perubahan kelompok ini
adalah jalannya proses diskusi menjadi lebih dinamis dan hampir
seluruh siswa terlibat dalam diskusi kelas. Di sisi lain, peneliti
dengan dibantu teman sejawat melakukan layanan individual
kepada siswa-siswa tertentu yang sulit memahami konsep materi
yang sedang dipelajari.

3)" Meskipun proses pembelajaran secara keseluruhan sudah berjalan


lancar dan siswa tidak lagi canggung melaksanakan kegiatan demi
kegiatan, waktu yang tersedia ternyata masih belum cukup juga.

17
Kuis atau tes akhir pembelajaran terpaksa dilaksanakan di luar jam
pembelajaran selama 20 menit.

b." Hasil Pembelajaran

Siklus II penelitian Perbaikan Pembelajaran Kompetensi


Dasar Jenis dan Persebaran Sumber Daya Alam untuk Kegiatan
Ekonomi dengan Menerapkan Pembelajaran Kontekstual (Penelitian
Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV MI Bojongjati Kecamatan Cijati
Kabupaten Cianjur Semeter 1 Tahun Pelajaran 2013-2014) merupa-
kan tahap perbaikan tindakan. Perbaikan ini dilakukan berdasarkan
temuan dan masukan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian
tindakan siklus I.

Rata-rata nilai hasil pembelajaran siklus II adalah 77,77 dengan


nilai tertinggi 89,13 dan nilai terendah 71,74. Jika nilai tersebut
dikomparasikan dengan kriteria ketuntasan minimum (70,00), maka
proses pembelajaran kompetensi dasar menunjukkan jenis persebaran
sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di
lingkungan setempat telah dianggap tuntas. Di samping itu, jumlah
siswa yang mencapai ketuntasan pada siklus II ini sebanyak 22 orang
dengan tingkat ketuntasan pembelajaran mencapai 100 % yang
ternyata lebih tinggi dari prasyarat ketuntasan klasikal sebesar 85 %.
Oleh karena itu, tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada siklus
berikutnya.

B." Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang


sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah
direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pen-
dekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut
Eggen dan Kauchak dalam Wardhani (2005), model pembelajaran adalah
pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang

18
untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab
guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembel-
ajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode,
strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan
dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke arah berpikir
(thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke
pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke
kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksi-
nya pengetahuan siswa (Setiawan, 2005).

Pembelajaran kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and


Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang berusaha mengaitkan
ilmu pengetahuan dengan dunia nyata di sekitar kita. Penggunaan lembar
pembelajaran (LKS) yang dilengkapi gambar-gambar sumber-sumber daya
alam dan kegiatan ekonomi pada faktanya dapat memperjelas konsep
pembelajaran sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. Alat peraga
pada konteks CTL merupakan model ideal yang menghubungkan konsep
keilmuan sosial dengan pemikiran siswa yang didominasi oleh kemampuan
berpikir secara visual.

Apabila dikomparasikan hasil pembelajaran siklus I dan siklus II, akan


dapat dilihat terjadinya peningkatan hasil belajar baik secara klasikal maupun
secara individual sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

Tabel ...
Data empirik hasil pembelajaran siswa kelas IV MI Bojongjati
Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur pada Siklus I dan II
Nilai Nilai Peningkatan
No NIS Nama Siswa L/P Perolehan Perolehan Hasil
Siklus 1 Siklus II Pembelajaran
1 10111721 Abdul Ajiz P 71.74 73.91 2.17
2 10111722 Asni Safitri L 52.17 71.74 19.57
3 10111723 Aditya Pratama L 71.74 80.43 8.69
4 10111724 Cep Irpan L 56.52 71.74 15.22

19
Nilai Nilai Peningkatan
No NIS Nama Siswa L/P Perolehan Perolehan Hasil
Siklus 1 Siklus II Pembelajaran
5 10111725 Dede Sopiah P 71.74 78.26 6.52
6 10111726 Devi Srimulyati P 76.09 82.61 6.52
7 10111727 Eli Andayani P 58.7 76.09 17.39
8 10111728 Fitriani L 71.74 80.43 8.69
9 10111729 Hilmi Aditya L 73.91 82.61 8.7
10 10111730 Iman P 54.35 71.74 17.39
11 10111731 Idris Sopandi L 58.7 73.91 15.21
12 10111732 Mega Silviani L 71.74 80.43 8.69
13 10111733 Neng Intan L 47.83 71.74 23.91
14 10111734 Nurjanah P 71.74 76.09 4.35
15 10111735 Reza Zahra P 43.48 71.74 28.26
16 10111736 Roni Santuri P 78.26 89.13 10.87
17 10111737 Rismawati P 73.91 86.96 13.05
18 10111738 Siti Hindun L 41.3 76.09 34.79
Siti Emah
19 10111739 P 71.74 82.61 10.87
Kasmenda
20 10111740 Tesa Rubiah P 45.65 73.91 28.26
21 10111741 Triana Syahputra P 71.74 86.96 15.22
22 10111742 Yuyun Yuningsih P 39.13 71.74 32.61
Jumlah 1373.91 1710.87 336.96
Skor Rata-Rata 62.45 77.77 15.32
Skor Tertinggi 78.26 89.13 10.87
Skor Terendah 39.13 71.74 32.61
Skor Ideal 100 100 0
Siswa Tuntas 54.55 % 100 % 45.45 %
Siswa Belum Tuntas 45.45 % 0% -45.45 %

Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan selalu terjadi pada setiap
individu siswa. Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran
kontekstual pada kompetensi dasar menunjukkan jenis persebaran sumber
daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan
setempat dapat berhasil. Secara tidak langsung siswa akan aktif berpikir dan
berupaya mencari jawaban yang sesuai untuk setiap permasalahan yang
muncul, sehingga sistem pembelajaran yang terjadi dapat menimbulkan
ketertarikan atau minat dan motivasi pada siswa. Dan juga siswa akan

20
menggunakan pengalaman-pengalaman yang ia temui di lingkungan sebagai
media yang dapat mengantarkan siswa agar lebih mudah memahami suatu
permasalahan yang dimaksud. Hal ini sejalan dengan pendapat Heinich,
Molenda dan Russel dalam Prayitno (1998) yang menyatakan bahwa media
pengajaran dalam membelajarkan dapat mengkonkritkan ide-ide atau gagasan
yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalah-pahaman siswa dalam
mempelajari dan memberikan pengalaman-pengalaman yang nyata yang
merangsang aktifitas diri sendiri untuk belajar. Dengan keaktifan siswa ini
akan meningkatkan motivasi pada siswa untuk belajar, yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Selain itu di dalam pembelajaran kontekstual siswa dibagi-bagi men-


jadi beberapa kelompok untuk mempermudahkan dalam kegiatan pengamatan
dan diskusi. Dalam hal ini, menurut Fajar (2002) guru dalam pembelajaran
berfungsi sebagai fasilitator (pemberi kemudahan dalam belajar) sehingga
guru harus dapat mengubah pola tindakan peran siswa dalam pembelajaran
dari konsumen gagasan (seperti menyalin, mendengar, menghafal) menjadi
peran produsen gagasan (seperti bertanya, menjawab, meneliti, mengemuka-
kan pendapat).

Pembelajaran interaktif menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:297)


adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk
membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan
sumber belajar. UUSPN No. 20 Tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh
guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan
kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan
mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan
yang baik terhadap materi pelajaran.

Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pelajaran


yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan

21
kemampuan berpikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang
dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan
pengajaran yang matang oleh guru. Pendapat ini sejalan dengan Jerome
Brunner (1960) mengatakan bahwa: Perlu adanya teori pembelajaran yang
akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di
kelas. Selanjutnya menurut Bruner teori belajar itu bersifat deskriptif,
sedangkan teori pembelajaran itu preskriptif.

Hal ini menggambarkan bahwa orang yang berpengetahuan adalah


orang yang terampil memecahkan masalah, mampu berinteraksi dengan ling-
kungannya dalam menguji hipotesis dan menarik generalisasi dengan benar.
Jadi belajar dan pembelajaran diarahkan untuk membangun kemampuan
berpikir dan kemampuan menguasai materi pelajaran, dimana pengetahuan itu
sumbernya dari luar diri, tetapi dikonstruksi dalam diri individu siswa.
Pengetahuan tidak diperoleh dengan cara diberikan atau ditransfer dari orang
lain, tetapi dibentuk dan dikonstruksi oleh individu itu sendiri, sehingga
siswa itu mampu mengembangkan intelektualnya.

Pembelajaran interaktif mempunyai dua karakteristik seperti dijelaskan


oleh Dr. H. Syaiful Sagala, M.Pd. (2003:63), yaitu: (1) dalam proses
pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya
menuntut siswa sekedar mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa
dalam proses berpikir; (2) dalam pembelajaran membangun suasana dialogis
dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuan yang
mereka konstruksi sendiri.

Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan


terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis,
CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar
terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah
peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak
sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti

22
emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak,
pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam
diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata
merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya
faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian?
Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya.
Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku.

Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat


beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL
menurut Sanjaya (2005:114) antara lain sebagai berikut.

a." Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahu-


an sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah,
semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahu-
an yang mereka peroleh.

b." Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahu-


an itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami,
sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap
pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemam-
puan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance
seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka
akan semakin efektif dalam berpikir.

c." Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan


masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkem-
bangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kon-
tekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.

d." Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara


bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar
tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.

23
e." Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.
Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang
memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning).

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat memperkuat


ingatan siswa pada materi yang telah diberikan guru di kelas yang pada
akhirnya dapat menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa dan
pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan hipotesis


penelitian Penerapan pembelajaran kontekstual dapat efektif meningkatkan
prestasi belajar siswa kelas IV MI Bojongjati, Kecamatan Cijati, Kabupaten
Cianjur semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 pada kompetensi dasar dasar
menunjukkan jenis persebaran sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk
kegiatan ekonomi di lingkungan setempat. dapat diterima.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A." Simpulan

Pada dasarnya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan


peningkatan hasil belajar siswa kelas IV MI Bojongjati, Kecamatan Cijati,
Kabupaten Cianjur dalam menunjukkan jenis persebaran sumber daya alam
serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan setempat melalui
pembelajaran kontekstual. Maka, berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
atas data hasil penelitian diperoleh fakta sebagai berikut.

1." Terjadi peningkatan prestasi pembelajaran dari siklus I yang memperoleh


rata-rata nilai sebesar 62,45 menjadi 77,77 pada siklus II yang berarti
terjadi peningkatan sebesar 15,32.

24
2." Proses pembelajaran pada siklus I yang berlangsung kaku dan canggung
telah berkembang jauh lebih baik pada siklus II dan siswa menyatakan
lebih senang.

Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran


kontekstual ternyata efektif meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV MI
Bojongjati, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur semester I tahun pelajaran
2013-2014 pada kompetensi dasar menunjukkan jenis persebaran sumber
daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan ekonomi di lingkungan
setempat.

B." Saran Tindak Lanjut

Saran-saran yang dapat disampaikan pada akhir laporan ini adalah


sebagai berikut.

1." Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dapat mengait-


kan konsep ilmu dengan kenyataan yang terdapat di sekitar siswa. Oleh
karena itu, pembelajaran matematika pada kompetensi dasar menunjukkan
jenis persebaran sumber daya alam serta pemanfaatannya untuk kegiatan
ekonomi di lingkungan setempat sebaiknya menggunakan pendekatan
pembelajaran kontekstual dengan memfokuskan pada penerapan salah satu
komponen CTL yang dianggap strategis seperti pemodelan,
konstruktivisme, inkuiri, dan atau learning community.

2." Penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran ilmu pengetahuan


sosial memiliki nilai strategis bagi peningkatan motivasi dan pemahaman
belajar siswa, terutama pada penggunaan peta, globe, atau media gambar
yang dapat menjelaskan konteks materi pembelajaran. Oleh karena itu,
pengadaan alat peraga atau media pembelajaran ini seharusnya menjadi
perhatian yang sungguh-sungguh dari guru pengajar sehingga konsep-
konsep abstrak dalam materi dapat menjadi konkret.

25
3." Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat pula dicoba untuk diterapkan
pada kompetensi dasar lainnya sesuai dengan kebutuhan siswa dan
kebutuhan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).


Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Depdiknas. 2006. Kurikulum Standar Isi. Standar Kompetensi dan Kompetensi


Dasar Mata Pelajaran Ilmu pengetahuan Sosial SD dan MI. Jakarta:
Badan Standar Nasional Pendidikan

Dunne, R & Ted, W. 1996. Pembelajaran Efektif. Jakarta: Gramedia Widiasarana


Indonesia.

Fajar, A. 2002. Portofolio dalam Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial 4:
SD/MI Kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional.

Retno Heny Pujiati dan Umi Yuliati. 2008. Cerdas Pengetahuan Sosial 4: untuk
kelas VI SD/MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional.

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research). Jakarta: Depdikbud. Dirjen Dikti P2GSM

Yuniawan, Tommi. 2003. Paparan Perkuliahan Berbicara I/ Retorika. Fakultas


Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

26