Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN ABORTUS INKOMPLIT
DI RUANG MUTIARA (NIFAS)
RSUD. DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN

Tanggal 8-13 Agustus 2016

Oleh :
Anna Maulina Kustantie, S.Kep
NIM I4B112031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2016
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Anna Maulina Kustantie, S.Kep

NIM : I4B112031

JUDUL LP : Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Abortus Inkomplit di


ruang Mutiara (NIFAS) RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin

Banjarmasin, Agustus 2016

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Emmelia Astika, S. Kep., Ns. M. Kep Norma Ariatie, S. Kep., Ns


NIK. 1990 2001 1 098 NIP. 19840123 200803 2 002
A. Pengertian
Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran
hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup
di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari 28
minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama
kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin
dalam Rahim (Manuaba, 2007:683).
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Reproduksi manusia relatif tidak efisien, dan abortus adalah komplikasi tersering
pada kehamilan, dengan kejadian keseluruhan sekitar 15% dari kehamilan yang
ditemukan.Namun angka kejadian abortus sangat tergantung kepada riwayat
obstetri terdahulu, dimana kejadiannya lebih tinggi pada wanita yang sebelumnya
mengalami keguguran daripada pada wanita yang hamil dan berakhir dengan
kelahiran hidup (Manuaba, 2007:683).
Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal dalam
uterus. Pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat
diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri
eksternum. Pada USG didapatkan endometrium yang tipis dan irreguler (Dr. M.
Hakim, Phd, keadaan darurat ginekologi umum).
Abortus inkompletus yaitu pengeluaran produk konsepsi secara spontan
sebelum minggu ke 24 kehamilan (lebih sering terjadi minggu ke 8-12, lebih
jarang trimester II karena mungkin etiologinya berbeda). (Dr. M. Hakim, Phd,
keadaan darurat ginekologi umum).

B. Etiologi
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi
beberapa faktor yang berpengaruh adalah :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan
cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan
pertumbuhan hasil kosepsi dapat terjadi karena:
a. Faktor kromosom: Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom,
termasuk kromosorn seks.
b. Faktor lingkungan endometritum. Endometrium belurn siap untuk
menerima implasi hasil konsepsi. Gizi ibu kurang karena anemia atau
terlalu pendek jarak kehamilan.
2. Pengaruh luar
a. Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.
b. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan
pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.
3. Kelainan pada plasenta
a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat
berfungsi.
b. Gangguan pembuluh darah palsenta, diantaranya pada diabetes
melitus.
c. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga
menimbulkan keguguran.
4. Penyakit ibu
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam
kandungan melalui plasenta:
a. Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria,
sifilis.
b. Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju sirkulasi
retroplasenter.
c. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati,
penyakit diabetes melitus.
5. Kelainan yang terdapat dalam rahim
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan
abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus, retrofleksi
uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (konisasi, amputasi
serviks), robekan serviks postpartum.
6. Faktor antibody autoimun, terutama :
Antibody antiphosfolipid :
a. Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan
b. Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus
c. Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC)
d. Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan
abortus.

C. Anatomi dan Fisiologi Reproduksi Wanita

Struktur organ reproduksi wanita meliputi organ reproduksi internal dan


organ reproduksi eksternal. Keduanya saling berhubungan dan tak terpisahkan.
Organ reproduksi internal terdapat di dalam rongga abdomen, meliputi sepasang
ovarium dan saluran reproduksi yang terdiri saluran telur (oviduct/tuba falopii),
rahim (uterus) dan vagina. Organ reproduksi luar meliputi mons veneris, klitoris,
sepasang labium mayora dan sepasang labium minora.

Gambar 1. Organ Interna Wanita


1. Ovarium.
Jumlah sepasang, bentuk oval dengan panjang 3-4 cm, menggantung bertaut
melalui mesentrium ke uterus. Merupakan gonade perempuan yang berfungsi
menghasilkan ovum dan mensekresikan hormon kelamin perempuan yaitu
estrogen dan progesteron. Ovarium terbungkus oleh kapsul pelindung yang
kuat dan banyak mengandung folikel. Seorang perempuan kurang lebih
memiliki 400.000 folikel dari kedua ovariumnya sejak ia masih dalam
kandungan ibunya. Namun hanya beberapa ratus saja yang berkembang dan
melepaskan ovum selama masa reproduksi seorang perempuan, yaitu sejak
menarche (pertama mendapat menstruasi) hingga menophause (berhenti
menstruasi). Pada umumnya hanya sebuah folikel yang matang dan
melepaskan ovum tiap satu siklus menstruasi (kurang lebih 28 hari) dari salah
satu ovarium secara bergantian.
Selama mengalami pematangan, folikel mensekresikan hormone estrogen.
Setelah folikel pecah dan melepaskan ovum, folikel akan berubah menjadi
korpus luteum yang mensekresikan estrogen dan hormon progesteron. Estrogen
yang disekresikan korpus luteum tak sebanyak yang disekresikan oleh folikel.
Jika sel telur tidak dibuahi maka korpus luteum akan lisis dan sebuah folikel
baru akan mengalami pematangan pada siklus berikutnya.
2. Tuba falopii/oviduct (saluran telur)
Jumlah sepasang, ujungnya mirip corong berjumbai yang disebut infundibulum
berfungsi untuk menangkap ovum yang dilepas dari ovarium. Epithelium
bagian dalam saluran ini bersilia, gerakan silia akan mendorong ovum untuk
bergerak menuju uterus.
3. Uterus (rahim)
Jumlah satu buah, berotot polos tebal, berbentuk seperti buah pir, bagian bawah
mengecil disebut cervix. Uterus merupakan tempat tumbuh dan
berkembangnya embrio, dindingnya dapat mengembang selama kehamilan dan
kembali berkerut setelah melahirkan. Dinding sebelah dalam disebut
endometrium, banyak mengasilkan lendir dan pembuluh darah. Endometrium
akan menebal menjelang ovulasi dan meluruh pada saat menstruasi.
4. Vagina
Merupakan akhir dari saluran reproduksi wanita. Suatu selaput berpembuluh
darah yang disebut hymen menutupi sebagian saluran vagina. Membran ini
dapat robek akibat aktivitas fisik yang berat atau saat terjadi hubungan badan.
Vagina berfungsi sebagai alat kopulasi wanita dan juga sebagai saluran
kelahiran. Dindingnya berlipat-lipat, dapat mengembang saat melahirkan bayi.
Pada dinding sebelah dalam vagina bermuara kelenjar bartholin yang
mensekresikan lendir saat terjadi rangsangan seksual.
5. Mons veneris
Merupakan bagian yang tebal dan banyak mengandung jaringan lemak terletak
pada bagian paling atas dari vulva.
6. Labium mayora
Jumlah sepasang, merupakan suatu lipatan tebal yang mengelilingi vagina dan
ditumbuhi rambut

Gambar 2. Organ Eksterna Wanita


7. Labium minora
Jumlah sepasang, merupakan suatu lipatan tipis di sebelah dalam labium
mayora, banyak mengandung pembuluh darah dan saraf. Labium minora
menyatu di bagian atas membentuk clitoris. Labium minora mengelilingi
vestibulum, suatu tempat dimana terdapat lubang uretra di bagian atas dan
lubang vagina di bagian bawah.
8. Clitoris
Berupa sebuah tonjolan kecil, merupakan bagian yang paling peka terhadap
rangsang karena banyak mengandung saraf (Bobak, 2000).

D. Manifestasi Klinis
1. Nyeri hebat
2. Perdarahan banyak, Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.
3. Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.
4. Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih
berada di dalam uterus
5. Pemeriksaan dalam :
a. Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa
b. Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam
6. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
7. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat
dipertahankan.
8. Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi.
9. Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma).
10. Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, perdarahan berlangsung
terus.
11. Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang di
anggap corpusglium, maka uterus akan berusaha mengeluarkan dengan
mengadakan kontraksi. Tetapi kalau keadaan ini di biarkan lama, serviks akan
menutup kembali.
E. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian
diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil
konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing
dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya
dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus
desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang
dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas
umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa
waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas
dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk
miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk.
Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa
bentuk yang jelas dan mungkin pula janin telah mati lama. Apabila mudigah yang
mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang cepat maka ia dapat diliputi oleh lapisan
bekuan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk ini menjadi mola
karnosa apaila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi
sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose,
dalam hal ini amnion tampak berbenjol benjol karena terjadi hematoma antara
amnion dan korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses
mumifikasi diamana janin mengering dan karena cairan amnion berkurang maka
ia jadi gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis
seperti kertas perkamen (fetus papiraseus).
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan adalah
terjadinya maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar
karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah merahan dan dapat
menyebabkan infeksi pada ibu apabila perdarahan yang terjadi sudah berlangsung
lama. (Prawirohardjo, 2005).

F. Pathway

Perdarahan
nekrosis

Hasil konsepsi
terlepas dari uterus

Uterus berkontraksi

Hasil konsepsi keluar Hasil konsepsi keluar


sempurna (abortus tidak sempurna (abortus
kompletus) inkompletus)

Merasa kehilangan
perdarahan

Ansietas
Duka cita Kekurangan
volume
Stress cairan

Risiko
Nyeri infeksi
Akut

Risiko syok
Intoleransi
aktifitas

Sumber: Nugroho, taufan. 2010.


G. Klasifikasi
Klasifikasi abortus digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Abortus spontaneous yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-
faktor mekanis atau medisinalis, tetapi karena faktor alamiah. Aspek klinis
abortus spontaneus meliputi:
a. Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus,
dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens ditentukan
apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Yang
pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai
beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin
terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri
punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul, atau
rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Kadang-
kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu.
b. Abortus insipiens
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat
tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi
lebih sering dan kual perdarahan bertambah.
c. Abortus inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya
atau sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan
yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih
lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan
hipovolemia berat.
d. Abortus kompletus
Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada
penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan
uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil
konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah
keluar dengan lengkap.
e. Abortus Servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh
ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul
dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar, kurang lebih
bundar, dengan dinding menipis. Pada pemeriksaan ditemukan serviks
membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. Terapi terdiri
atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan
hasil konsepsi dari kanalis servikalis.
f. Missed Abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi
janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone
progesterone. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens
mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.
g. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi
kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu

2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) yaitu menghentikan


kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya
dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum
mencapai umur 28 minggu, atau berat badanbayi belum 1000 gram, walaupun
terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Abortus ini
terbagi menjadi dua yaitu :
a. Abortus medisinalis (abortus therepeutika)
adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu ( berdasarkan indikasi medis).
Biasanya perlu mendapat persetujuan dua sampai tiga tim dokter ahli
b. Abortus kriminalis
adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan tindakan yang tidak legal
atau tidak berdasarkan indikasi medis.

H. Komplikasi
Abortus inkomplit yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan
syok akibat perdarahan hebat dan terjadinya infeksi akibat retensi sisa hasil
konsepsi yang lama didalam uterus.Sinekia intrauterin dan infertilitas juga
merupakan komplikasi dari abortus.
Berbagai kemungkinan komplikasi tindakan kuretase dapat terjadi, seperti
perforasi uterus, laserasi serviks, perdarahan, evakuasi jaringan sisa yang tidak
lengkap dan infeksi. Komplikasi ini meningkat pada umur kehamilan setelah
trimester pertama. Panas bukan merupakan kontraindikasi untuk kuretase apabila
pengobatan dengan antibiolik yang memadai segera dimulai. Komplikasi yang
dapat terjadi akibat tindakan kuretase antara lain :
1. Komplikasi Jangka pendek
a. Dapat terjadi refleks vagal yang menimbulkan muntah-muntah, bradikardi
dan cardiac arrest.
b. Perforasi uterus yang dapat disebabkan oleh sonde atau dilatator. Bila
perforasi oleh kanula, segera diputuskan hubungan kanula dengan aspirator.
Selanjutnya kavum uteri dibersihkan sedapatnya. Pasien diberikan
antibiotika dosis tinggi. Biasanya pendarahan akan berhenti segera. Bila ada
keraguan, pasien dirawat.
c. Serviks robek yang biasanya disebabkan oleh tenakulum. Bila pendarahan
sedikit dan berhenti, tidak perlu dijahit.
d. Perdarahan yang biasanya disebabkan sisa jaringan konsepsi.
Pengobatannya adalah pembersihan sisa jaringan konsepsi.
e. Infeksi akut dapat terjadi sebagai salah satu komplikasi. Pengobatannya
berupa pemberian antibiotika yang sensitif terhadap kuman aerobik maupun
anaerobik. Bila ditemukan sisa jaringan konsepsi, dilakukan pembersihan
kavum uteri setelah pemberian antibiotika profilaksis minimal satu hari.
2. Komplikasi jangka panjang
Infeksi yang kronis atau asimtomatik pada awalnya ataupun karena infeksi
yang pengobatannya tidak tuntas dapat menyebabkan:
a. infertilitas baik karena infeksi atau tehnik kuretase yang salah sehingga
terjadi perlengketan mukosa (sindrom Asherman)
b. nyeri pelvis yang kronis.

I. Pemeriksaan Diagnostic
Pemeriksaan Ginekologi:
1. Inspeksi vulva
a. Perdarahan pervaginam sedikit atau banyak
b. Adakah disertai bekuan darah
c. Adakah jaringan yang keluar utuh atau sebagian
d. Adakah tercium bau busuk dari vulva
2. Pemeriksaan dalam speculum
a. Apakah perdarahan berasal dari cavum uteri
b. Apakah ostium uteri masih tertutup / sudah terbuka
c. Apakah tampak jaringan keluar ostium
d. Adakah cairan/jaringan yang berbau busuk dari ostium.
3. Pemeriksaan dalam
a. Apakah portio masih terbuka atau sudah tertutup
b. Apakah teraba jaringan dalam cavum uteri
c. Apakah besar uterus sesuai, lebih besar atau lebih kecil dari usia kehamilan
d. Adakah nyeri pada saat porsio digoyang
e. Adakah rasa nyeri pada perabaan
f. Adakah terasa tumor atau tidak
g. Apakah cavum douglasi menonjol, nyeri atau tidak
Pemeriksaan kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang
(crossmatch)
1. Bila terdapat tanda tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai
2. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan
3. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan
lanjut

J. Penatalaksanaan
Penanganan umum:
1. Kuretase dapat dilakukan untuk mengeluarkan sisa hasil konsepsi dalam
uterus Sebelum dilakukan kuretase, biasanya pasien akan diberikan obat
anestesi (dibius) secara total dengan jangka waktu singkat, sekitar 2-3 jam.
Setelah pasien terbius, barulah proses kuretase dilakukan.Ketika melakukan
kuret, ada 2 pilihan alat bantu bagi dokter. Pertama, sendok kuret dan
kanula/selang. Sendok kuret biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan
janin yang usianya lebih dari 8 minggu karena pembersihannya bisa lebih
maksimal. Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk mengeluarkan janin
yang berusia di bawah 8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium. Alat
kuretase baik sendok maupun selang dimasukkan ke dalam rahim lewat vagina.
Bila menggunakan sendok, dinding rahim akan dikerok dengan cara melingkar
searah jarum jam sampai bersih. Langkah ini harus dilakukan dengan saksama
supaya tak ada sisa jaringan yang tertinggal. Bila sudah berbunyi krok-krok
(beradunya sendok kuret dengan otot rahim) menunjukkan kuret hampir
selesai. Sedikit berbeda dengan selang, bukan dikerok melainkan disedot
secara melingkar searah jarum jam. Umumnya kuret memakan waktu sekitar
10-15 menit (Fajar, 2007).
2. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat darurat,
komplikasi berat atau masih cukup stabil)
3. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum
melakukan tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan)
4. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan
setempat atau dirujuk kerumah sakit.
a. Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat
segera atasi komplikasi tersebut
b. Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan tetesan
cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer

Penatalaksanaan berdasarkan jenis abortus (abortus inkomplitus)

1. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan


cairan NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul
dengan transfuse darah
2. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan
3. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular
untuk mempertahankam kontraksi otot uterus
4. Perhatikan adanya tanda tanda infeksi
5. Bila tak ada tanda tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis
(ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)
6. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8
jam

Penatalaksanaan keperawatan yang dapat dilakukan:

1. Melakukan vulva hygiene untuk mengurangi terjadinya infeksi pada


area vagina minimal 2x sehari
2. Menganjurkan pasien istirahat yang cukup
3. Menjelaskan kepada klien tentang penyebab abortus dan penaganan
terhadap abortus
4. Monitor intake dan output cairan klien
K. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan
bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,
umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat
b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang pervaginam berulang
c. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di
luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
d. Riwayat pembedahan: Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh
klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung.
e. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya
f. Riwayat kesehatan keluarga: Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan
penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
g. Riwayat kesehatan reproduksi: Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta
kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
h. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: Kaji bagaimana keadaan anak
klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan
kesehatan anaknya.
i. Riwayat seksual: Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi
yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
j. Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi
oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
k. Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,
eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik
sebelum dan saat sakit.
l. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya
terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan
penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi
terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan
kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan
ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
2) Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan
jari.
Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi
uterus.
Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati
turgor.
Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau respon
nyeri yang abnormal
3) Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada
permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ
atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi: ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut
apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan
stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi
yang terdengar. Mendengar: mendengarkan di ruang antekubiti untuk
tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising
usus atau denyut jantung janin.

(Johnson & Taylor, 2005: 39)

m. Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang:


rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana: Kaji mengenai
pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien
menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.
n. Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan
selama dirawat di RS.
Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola
komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien
dan mekanisme koping yang digunakan.
Status sosio-ekonomi: Kaji masalah finansial klien
Data spiritual: Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME,
dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.
2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
Pre kuretase
a. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus, perubahan dinding
endometrium dan jalan lahir.
b. Ansietas berhubungan dengan kemungkinan akan kehilangan janin
Post Kuretase
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya pendarahan
d. Dukacita b.d kehilangan calon anak
e. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
f. Risiko Infeksi f.r perdarahan, dan kondisi vulva lembab
g. Risiko syok f.r hipovolemik: perdarahan pervaginam
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Rasional
Tujuan
Pre Kuretase
1. Nyeri akut berhubungan dengan Pain Management Pain Management
dengan kontraksi uterus, perubahan
dinding endometrium dan jalan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara 1. Untuk memberikan tindakan
lahir. komprehensif termasuk lokasi, keperawatan yang sesuai
Setelah dilakukan tindakan karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas 2. Untuk mengetahui kemajuan
keperawatan selama 1x60 menit (1 dan faktor presipitasi,. persalinan dan ketidaknyamanan yang
jam) diharapkan nyeri akan 2. Kaji kontraksi uterus dan dirasakan ibu
berkurang ketidaknyamanan (awitan, frekuensi, 3. Respon mimik dari nyeri yang
NOC: durasi, intensitas, dan gambaran dirasakan ibu.
1. Pain level ketidaknyamanan) 4. Dapat mengurangi faktor yang
2. Pain control 3. Observasi reaksi nonverbal dari reaksi memperparah tingkat nyeri
3. Comfort level ketidaknyamanan 5. Membantu mengurangi nyeri
Kriteria Hasil: 4. Kontrol lingkungan yang dapat 6. Untuk diberikan tindakan selanjutnya
1. Mampu mengontrol nyeri mempengaruhi nyeri seperti suhu dalam mengatasi nyeri yang tidak
2. Menyatakan rasa nyaman ruangan, pencahayaan, dan kebisingan berhasil tersebut
3. Mengungkapkan penurunan 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
nyeri 6. Kolaborasikan dengan dokter jika ada Analgesic administration
4. Menggunakan tehnik yang keluhan dan tindakan penanganan nyeri 1. Verifikasi dalam pemberian obat,
tepat untuk mempertahankan yang tidak berhasil menghindari kesalahan dalam
kontrol nyeri. pemberian obat
Analgesic administration 2. Menurunkan tingkat nyeri dengan
teknik farmakologi
1. Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
3. Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi
dosis dan frekuensi
peningkatan kehilangan cairan
2. Kolaborasi dengan dokter pemberian mengakibatkan hipotensi dan takikardi
obat analgesik pada klien
3. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
sesudah diberikan analgesik

2. Ansietas berhubungan dengan NIC:


kemungkinan akan kehilangan Anxiety Reduction Anxiety Reduction
janin 1. Kaji, sifat, sumber dan manifestasi 1. mengidentifikasi perhatian pada bagian
NOC: kecemasan. khusus dan menentukan arah dan
Anxiety self-control, anxiety level, 2. Berikan informasi tentang kemungkinan pilihan/ intervensi.
coping. penyimpangan genetic khusus, resiko 2. dapat menghilangkan ansietas
Setelah dilakukan tindakan yang dalam reproduksi dan ketersediaan berkenaan dengan ketidaktahuan dan
keperawatan selama (1x30 menit) tindakan/pilihan diagnosa membantu keluarga mengenai stress,
Ansietas klien teratasi dengan 3. Kembangkan sikap berbagi rasa secara membuat keputusan, dan beradaptasi
kriteria hasil : terus menerus. secara positif terhadap pilihan.
1. Klien mampu 4. Berikan bimbingan antisipasi dalam hal 3. kesempatan bagi klien untuk mencari
mengidentifikasi dan perubahan fisik/psikologis. pemecahan situasi.
mengungkapkan gejala 4. dapat menghilangkan kecemasan/
cemas depresi pada pasangan.
2. Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tekhnik
untuk mengontrol cemas
3. Vital sign dalam batas
normal
4. Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan

Post Kuretase
3. Kekurangan volume cairan NIC :
berhubungan dengan adanya Fluid Management Fluid Management
pendarahan 1. Monitor vital sign 1. mengetahui keadaan umum pasien
NOC: Fluid Balance, Hydration, 2. Monitor status hydrasi (kelembaban 2. mengetahui perkembangan rehidrasi
Intake membrane mukosa, nadi adekuat, 3. rehidrasi optimal evaluasi intervensi
Setelah dilakukan tindakan selama tekanan darah ortostatik), jika diperlukan 4. mengurangi risiko kekurangan voume
1x24 jam, masalah teratasi dengan 3. Monitor masukan makanan/ cairan dan cairan semakin bertambah
kriteria hasil: hitung intake kalori harian 5. mengurangi risiko kekurangan voume
Mempertahankan urin output 4. Kolaborasi pemberian cairan IV cairan semakin bertambah
dalam batas normal sesuai 5. Dorong masukan oral 6. mengurangi risiko kekurangan voume
dengan usia, dan BB, 6. Berikan penggantian nasogastric sesuai cairan semakin bertambah
TD, nadi, suhu tubuh dalam output 7. mengurangi risiko kekurangan voume
batas normal 7. Atur kemungkinan transfusi cairan semakin bertambah
Tidak ada tanda dehidrasi 8. Persiapan untuk transfuse Hypovolemia Management
Elastisitas turgor kulit baik. 1. mengetahui perkembangan rehidrasi
Membrane mukosa lembab, 2. mencegah infeksi dan
tidak ada rasa haus tambahan. Hypovolemia Management mempertahankan input cairan yang
1. Monitor intake dan output cairan adekuat
2. Pelihara IV line 3. mencegah masuknya cairan berlebihan
3. Monitor adanya kelebihan cairan 4. mengetahui BB dan membandingkan
4. Monitor BB BB pasien sebelum dan sesudah
5. Monitor tingkat HB dan hemtokrit diberikan intervensi
6. Pasang urin kateter jika diperlukan 5. memonitor status kebutuhan cairan
7. Kolaborasikan pemberian diuretic sesuai pasien
interuksi 6. mengetahui jumlah output cairan
7. membantu mempermudah output
cairan, menjaga keseimbangan cairan
4. Dukacita b.d kehilangan calon anak NIC: Grief Work Facilitation
NOC: Grief resolution Grief Work Facilitation 1. Mengetahui penyebab dari kehilangan
Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi perasaan kehilangan klien atau dukacita yang dialami klien saat
keperawatan selama 1x45 menit 2. Dengarkan cerita pasien terhadap ini dan mencari solusi terhadap
masalah dukacita klien teratasi perasaan kehilangan yang dialaminya penyelesaian kehilangan tersebut
dengan kriteria hasil: 3. Buat pernyataan empati tentang dukacita 2. Memberikan kesempatan kepada klien
1. Mencari solusi terhadap yang dialami klien untuk mengutarakan semua perasaan
perasaan kehilangan 4. Dorong diskusi tentang pengalaman yang berkaitan dengan kehilangan
2. Melisankan perasaan dan kehilangan atau dukacita sebelumnya yang dialami
penerimaan terhadap kehilangan yang pernah dialami klien 3. Sikap yang ditunjukkan untuk
3. Mengekspresikan harapan 5. Ajarkan secara bertahap proses berduka memahami apa yang dirasakan dan
positif terhadap masa depan sebagai progresi dukungan yang tepat kemampuan untuk mengenali,
6. Sertakan orang lain yang dekat dengan mempresepsi, dan merasakan
klien untuk berdiskusi perasaan orang lain.
7. Komunikasikan kepada klien untuk bisa 4. Mengetahui pengalaman dukacita
menerima terhadap kehilangan yang dimasalalu yang pernah dialami klien
dialami dan membandingkan perasaan
tersebut dengan saat ini.
5. mengantisipasi kebutuhan emosional
klien dan keluarganya dan juga
rencana intervensi untuk membantu
mereka memahami kesedihan mereka
dan mengatasinya.
6. membantu dalam memberikan
dukungan kepada klien
7. reorganisasi perasaan kehilangan.
Pikiran yang selalu berpusat pada
objek yg hilang akan mulai berkurang
atau bahkan hilang. Perhatiannya akan
beralih pada objek yg baru.
5. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan, NIC: Activity theraphy
penurunan sirkulasi Activity theraphy 1. Mungkin klien tidak mengalami
NOC: 1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk perubahan berarti, tetapi perdarahan
Activity tolerance, energy beraktivitas masif perlu diwaspadai untuk
conservation, self care: ADLs. 2. Evaluasi perkembangan kemampuan menccegah kondisi klien lebih buruk
Setelah dilakukan tindakan klien melakukan aktivitas 2. Aktivitas merangsang peningkatan
keperawatan selama 1x24 jam (1 3. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan vaskularisasi dan pulsasi organ
hari) diharapkan klien dapat aktivitas sehari-hari reproduks
toleransi dengan aktivitas dengan 4. Bantu klien untuk melakukan tindakan 3. Mengistiratkan klilen secara optimal
kriteria hasil: sesuai dengan kemampuan/kondisi klien 4. Menilai kondisi umum klien
1. Mampu melakukanaktifitas 5. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi 5. Mengoptimalkan kondisi klien, pada
sehari-hari secara mandiri uterus/kandungan abortus inkomplit, istirahat mutlak
2. Berpatisipasi dalam sangat diperlukan
aktivitas fisil tanpa disertai
peningkatan TD, N, RR
3. Mampu berpindah dengan
atau alat bantu

4. Risiko Infeksi f.r perdarahan, dan NIC: Infection control


kondisi vulva lembab Infection control 1. Perubahan yang terjadi pada dishart
NOC: 1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang dikaji setiap saat dischart keluar.
1. Immune Status keluar ; jumlah, warna, dan bau Adanya warna yang lebih gelap disertai
2. Knowledge: Infection 2. Terangkan pada klien pentingnya bau tidak enak mungkin merupakan
Control perawatan vulva selama masa tanda infeksi
3. Risk Control perdarahan 2. Infeksi dapat timbul akibat kurangnya
3. Lakukan perawatan vulva kebersihan genital yang lebih luar
Setelah dilakukan tindakan 4. Amati luka dari tanda infeksi (flebitis) 3. Inkubasi kuman pada area genital yang
keperawatan selama 4 jam 5. Anjurkan pada ps untuk melaporkan relatif cepat dapat menyebabkan
diharapkan diharapkan tidak terjadi dan mengenali tanda-tanda infeksi infeksi.
infeksi 6. Anjurkan pada suami untuk tidak 4. Daerah ini merupakan port de entry
melakukan hubungan senggama kuman Penanda proses infeksi
Kriteria Hasil
se;ama masa perdarahan 5. Mencegah infeksi
1. Tidak ditemukan tanda-tanda 6. Pengertian pada keluarga sangat
adanya infeksi. penting artinya untuk kebaikan ibu;
2. Jumlah Leukosit dalam batas Infection Control senggama dalam kondisi perdarahan
1. monitor tanda dan gejala infeksi dapat memperburuk kondisi system
normal
2. Pantau hasil laboratorium reproduksi ibu dan sekaligus
3. Amati faktor-faktor yang bisa meningkatkan resiko infeksi pada
meningkatkan infeksi pasangan.
4. monitor Vital Sign
5. Kontrol infeksi Infection Control
6. Ajarkan tehnik mencuci tangan 1. Proteksi diri dari infeksi
7. Ajarkan tanda-tanda infeksi 2. Mengetahui hasil laboratorium status
8. Batasi pengunjung imunitas terhadap kemungkinan infeksi
9. Cuci tangan sebelum dan sesudah 3. Mencegah infeksi sekunder
merawat ps 4. Mengetahui keadaan umum pasien
10. Tingkatkan masukan gizi yang cukup 5. Meningkatkan daya tahan tubuh
11. Anjurkan istirahat cukup 6. Mencegah terjadinya perpindahan
12. Pastikan penanganan aseptic daerah IV infeksi
13. Berikan PEN-KES tentang risk infeksi 7. membantu proteksi infeksi
8. Mencegah terjadinya infeksi
9. Mencegah terjadinya infeksi
10. Meningkatkan asupan nutrisi pasien
agar meningkatkan status imunisasi
11. Meningkatkan relaksasi
12. Mencegah terjadinya infeksi melalui
IV
13. Meningkatkan pengetahuan pasien
terhadap risiko infeksi

7. Risiko syok f.r hipovolemik: NIC: 1. Memonitor terhadap tanda-gejala syok


perdarahan pervaginam 2. Kebutuhan oksigen dalam tubuh
NOC: Syok prevention minimal 95%
Syok prevention, syok 3. Suhu tinggi dan nafas cepat
management 1. Monitor status sirkulasi, warna kulit, mendapatkan terjadinya sepsis
Setelah dilakukan tindakan suhu, denyut jantung, HR, dan ritme, 4. Untuk mempertahankan intake cairan
keperawatan selama 1x30 menit nadi perifer dalam tubuh dan menjaga
risiko syok teratasi dengan kriteria keseimbangan
hasil: 2. Monitor tanda inadekuat oksigenasi
jaringan
1. TTV dalam batas yang
diharapkan 3. Monitor suhu dan pernafasan
2. Mata cekung tidak ditemukan
demam tidak ditemukan 4. Berikan cairan iv atau oral yang tepat
3. Irama jantung dalam batas
normal
DAFTAR PUSTAKA

1. Affandi B, Adriaansz G, Gunardi ER, Koesno H. Buku panduan praktis


kontrasepsi pelayanan kontrasepsi. Edisi 3. Jakarta: PT Bina Pustaka.
2. Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
3. Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
4. Herdman, T.H. 2015. Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan:
definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.
5. Jhonson, Marion dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). St.
Louise, Misouri: Mosby, Inc.
6. JNPK_KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar
(PONED).
7. Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya.
8. Manuaba, 2007. Pengantar kuliah obstetric. Jakarta: EGC.
9. McCloskey, Joanne C, 2008. Nursing Intervention Classification (NIC).
St. Louise, Misouri: Mosby, Inc.
10. Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika.