Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah
1. Siapa saja yang menjadi subjek hukum dalam muamalah?

PEMBAHASAN

1. Ahliyah (kecakapan hukum)


Ulama ushul fiqih membagi ahliyah kepada dua macam, yaitu:
a.) Ahliyah al-wujub.
Yang dimaksud ahliyah al-wujub menurut Wahab Khalaf yaitu:


Kecakapan manusia yang tetap baginya menerima hak-hak dan
dikenai kewajiban.
Kecakapan dalam bentuk ini berlaku bagi setiap manusia ditinjau
dari segi bahwa ia adalah makhluk Allah, semenjak ia dilahirkan
sampai ia meninggal dunia. Dan ahliyah al-wujub dibagi menjadi
dua bagian, yaitu:
1.) Ahliyah al-wujub naqishah.
Yakni kecakapan dikenai hukum secara lemah, yaitu
kecakapan seorang manusia untuk menerima hak, tetapi tidak
menerima kewajiban, atau sebaliknya kecakapan dikenai
kewajiban tetapi tidak pantas menerima hak.
Contoh kecakapan menerima hak, tetapi tidak untuk
menerima kewajiban adalah bayi dalam kandungan ibunya.
Bayi atau janin itu telah berhak menerima menerima hak
kebendaan seperti waris dan wasiat, meskipun ia belum lahir.
Realisasi dari hak itu berlaku setelah bayi tersebut lahir dalam

[Type text] Page 1


keadaan hidup. Bayi dalam kandungan itu tidak dibebani apa-
apa, karena secara jenis ia belum bernana manusia.
Contoh kecakapan untuk dikenai kewajiban tetapi tidak
cakap menerima hak adalah orang yang mati tetapi masih
meninggalkan utang. Dengan kematian itu, ia tidak akan
mendapatkan hak apa-apa lagi, karena hak adalah untuk
manusia hidup. Tetapi si orang mati itu akan tetap dikenai
kewajiban untuk membayar utang yang dibuatnya selama ia
masih hidup. Kewajiban ini tentunya yang menyangkut harta
benda yang dapat dilakukan orang lain. Adapun kewajiban
yang menyangkut pribadi sperti shalat yang tertinggal
menjadi gugur oleh kematiannya karena pelaksanaan
kewajiban seperti itu tidak dapat digantikan oleh orang lain.
2.) Ahliyah al-wujub Kamilah.
Yaitu seseorang yang secara potensial dipandang
sempurna memiliki kecakapan untuk dikenai kewajiban
sekaligus diberi hak. Kecakapn potensial untuk secara
sempurna memikul kewajiban dan menerima hak itu berlaku
sejak lahir ke dunia sampai akhir hayatnya.
Contohnya yaitu bayi dipandang cakap menerima hak,
seperti hak menerima warisan dari pewrisnya, sekaligus
dipandang cakap dikenai kewajiban tertentu seperti kewajiban
zakat fitrah dan zakat atas hartanya, itu menurut sebagian
ulama. Demikian juga orang yang sedang berada dalam
kondisi menghadapi kematian (sakarotul maut), meskipun ia
berada dipenghujung hidupnya, namun karena ia masih hidup,
maka selain tetapnya kewajiban zakat fitrah dan zakat atas
hartanya, ia juga tetap memiliki hak menerima warisan
sebagai ahli waris dari pewaris yang telah meninggal lebih
dahulu.
b.) Ahliyah al-Ada
Ahliyah al-Ada menurut Abdul Wahad Khallaf yaitu:

[Type text] Page 2



Kecakapan seorang mukallaf secara hukum syara untuk berkata
dan berbuat.
Atau kecakapan bertindak secara hukum, kecakapan bertanggung
jawab secara hukum atas semua perkataan dan perbuatannya.1

2. Mahkum Alaih
Menurut syaikh Khudari Beik, Mahkum Alaih yaitu mukallaf (orang
yang dibebani hukum atau subjek hukum). Sedangkan menurut Abdul
Wahab Khallaf, Mahkum alaih yaitu:
:
mahkum alaih adalah seorang mukallaf yang berhubungan dengan
kemampuan mengerjakan hukum syari.
a. Syarat Mahkum Alaih
Sesorang baru dianggap layak (ahliyah) dibebani hukum taklif, bilamana
pada dirinya terdapat beberapa persyaratan:
1.) Mampu memahami dalil-dali taklif itu dengan sendirinya, atau
dengan perantara orang lain. Karena yang orang tidak mampu
memahami dali-dalil taklif itu tidak mungkin mematuhi apa yang
ditaklifkan kepadanya. Kemampuan memahami dalil-dalil taklif
hanya dapat terwujud dengan akal, karena akal adalah hal yang
tersembunyi dan sulit diukur, maka Allah menyambungkannya
dengan hal-hal yang menjadi tempat anggapan adanya akal yaitu
baligh. Barang siapa yang telah baligh dan dan tidak kelihatan cacat
akalnya berarti ia telah cukup kemampuan untuk ditaklifi.

Begitu juga untuk kewajiban zakat, dan nafkah tidak bisa dibebani
kepada orang gila dan anak kecil, tetapi walinyalah yang mempunyai
kewajiban untuk mengeluarkan zakat dan nafkah tersebut.

1
Mardani, Ushul Fiqh, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 88-90

[Type text] Page 3


2.) Orang tersebut ahli (cakap) bagi apa yang ditaklifkan kepadanya.
ahli disini berarti layak untuk kepantasan yang terdapat pada diri
seseorang. Misalnya, seseorang dikatakan ahli untuk mengurus
wakaf, berarti ia pantas untuk diserahi tanggung jawab mengurus
harta wakaf.2

3. Awaridh Al-Ahliyah
Awaridh al-ahliyah atau penghalang kecakapan dibagi menjadi dua
macam, yaitu:
a. Awaridh Samawiyyah, yaitu penghalang yang datangnya bukan dari
diri manusia, dan bukan pula dari kemauannya, tetapi memang
datangnya dari Allah. Yaitu diantaranya Al-junun (gila) dan anak-
anak.
b. Awaridh Muktasabah, yaitu penghalang yang terjadi dengan
kehendak manusia , baik dirinya sendiri maupun dari luar dirinya.
Yaitu diantaranya As-Sakar (mabuk), Al-Hazl (bergurau/main-main),
As-safah (bodoh), as-safar (perjalanan).
c. An-Naum (tidur). Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw yang
diriwayatkan oleh Tirmidzi:
:

Diangkat kalam (tidak ada tuntutan) dari tiga (golongan),


diantaranya orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sehingga
ia baligh (mimpi), dan orang gila sehingga ia sadar. (HR. Tirmidzi)
d. Al-ittah (lemah akalnya/Dungu/Idiot).
e. An-Nisyan (lupa)
f. Al-Khata (kesalahan/kekeliruan)
g. Al-Ikrah (dipaksa). Hal ini sesuai hadis Nabi Saw. Riwayat Ibnu
Majah.

2
Ibid, hlm. 84

[Type text] Page 4






Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw, bersabda, sesungguhnya Allah
tidak menhukum umatku karena tersalah, lupa, dan dipaksa.
h. Al-Ighma (pingsan)
i. Al-Maradh (sakit). Misalkan orang yang sakit diperbolehkan untuk
tidak berpuasa.
j. Haidh dan Nifas
k. Al-Maut (mati) 3

3
Ibid, hlm. 93-96

[Type text] Page 5