Anda di halaman 1dari 13

1.

Kediaman Elly Hutabarat di Bandung


Beberapa tahun lalu, Elly Hutabarat, seorang pengusaha di bidang biro perjalanan
datang kepada Andra dan berkata bahwa dirinya ingin membuat hunian di Bandung.
Andra menyambutnya dengan suka hati. Terlebih Elly juga memiliki romantisisme
tentang Bandung, serupa dengan apa yang ada di benak Andra.

Di tanah seluas 1.200 meter persegi itu, Andra membangun rumah dua lantai yang
nyaris tanpa dinding dan tampak melayang di atas tanah. Apabila dilihat dari bagian
depan bangunan, eksterior rumah seolah hanya dibentuk oleh sebuah atap sirap. Material
atap dibuat dari kayu ulin berwarna cokelat kehitaman yang sanggup bertahan hingga
setengah abad. Di sana juga tak terlihat jendela, melainkan hanya jajaran garis tipis yang
berfungsi sebagai celah masuk cahaya matahari. Sepintas lekuk fasad rumah seluas 300an
meter ini tampak seperti bangunan futuristik. Tak ada yang menyangka bahwa bangunan
ini justru terinspirasi dari rumah zaman Belanda yang ada di kawasan Ciumbuleuit pada
akhir tahun 1940an.
Tepat di depan fasad bangunan terdapat labirin beton yang berfungsi sebagai
akses masuk ke dalam area rumah. Fasad bangunan yang terkesan gelap dan tertutup,
serta akses masuk yang berliku panjang memberi kesan bahwa rumah ini jauh dari kata
terang dan lapang.
Kesan itu berubah ketika usai melewati labirin. Lorong yang diapit pohon-pohon tinggi
mulai menuntun pada sebuah tangga yang terhubung pada area utama rumah. Ini ialah area
terang dan terbuka. Terangnya warna kayu Jati Belanda yang menjadi material lantai dan langit-
langit membawa kesan hangat.

Perapian ada di bagian tengah ruangan, menjadi pemisah antara ruang keluarga dan ruang
makan. Perapian ini bukan aksesori, melainkan benar berfungsi sebagai penghangat ideal bagi
cuaca daerah Dago Pakar yang sesekali terasa cukup dingin. Di hadapannya, terdapat sofa-sofa
dan armchair putih yang mengundang untuk diduduki sembari menghangatkan diri. Rumah ini
terasa sebagai villa tempat melepas penat. Vacation house, tutur Elly kepada Andra mengenai
konsep hunian ini di awal pertemuan mereka. Elly membayangkan kehangatan yang tercipta
ketika ia dan kedua anaknya Winfred Hutabarat dan Edwin Hutabarat beserta keluarga dekatnya
yakni adik kandung dan cucu-cucu adiknya berkumpul bersama di akhir pekan. Suasana yang
cair itu sangat ditunjang dengan interior yang minim sekat dan pemandangan menawan yang
membentang sepanjang ruang.
Di ujung ruang lantai dua terdapat tangga menuju area mezzanine. Sekali waktu
ruangan ini tampak sebagai ruang keluarga yang menyimpan koleksi buku pemiliknya
dalam rak-rak yang mengelilingi ruang. Ketika keluarga tengah berkunjung, ruangan ini
berubah menjadi tempat bermain sanak saudara Elly yang masih kanak-kanak.
Pemandangan utama dari ruangan ini bukan lagi lahan hijau dan kota Bandung.

Di area ini, struktur utama rumah yang tampak seperti batang pohon menjadi daya
tarik visual, mengingatkan pada interior hunian bergaya Skandinavia yang foto-fotonya
biasa ditemukan di situs desain ternama. Gaya berbeda yang dihadirkan di lantai dua ini,
jelas memberi kejutan manis bagi mereka yang pertama menjejakkan kaki ke sini.
2. AM Residence
Andra mulai merancang rumahnya pada tahun 2007. Saat itu, ia membeli sepetak
tanah yang berada satu kompleks dengan rumah lamanya yang sudah ia tempati sejak
1994.

Selama merancang AM Residence, Andra menggunakan pendekatan yang


berbeda. Tak seperti lazimnya arsitek yang membuat perancangan sebelumnya, Andra
hanya menyimpan bayangan dan konsep rumah di kepalanya sendiri. Tidak ada seorang
pun di studio yang bisa menebak seperti apa hasil akhirnya, ujar Andra. Ia justru lebih
sering mengajak Alex, seorang tukang yang ia percaya, untuk mengunjungi site,
berdiskusi, serta memberi tanda di sana-sini. Karena prosesnya yang tidak biasa itu,
Andra membutuhkan waktu hingga lima tahun mulai dari tahap perencanaan hingga
terbangunnya rumah.

Dalam membangun AM Residence, Andra hanya menggunakan dua material


utama, yaitu beton ekspos dan kayu ulin bekas. Kedua material tersebut berpadu dengan
manis di rumah ini. Kayu ulin dipilih Andra karena kekuatannya dan anti rayap. Ia
mendapatkan kayu-kayu tersebut dari sebuah kapal tua yang dijual murah. Strategi ini
diambil untuk menekan biaya pembuatan rumah yang keseluruhan menghabiskan dana
sekitar 1,6 miliar rupiah.
AM Residence memiliki tiga lantai ditambah satu lagi berupa rooftop. Lantai
dasar terdiri dari area servis, ruang sembahyang, kamar pembantu, dan ruang
perpustakaan yang bersebelahan dengan kolam kecil berbentuk segitiga. Perpustakaan ini
memiliki gaya lesehan ala Jepang dengan penerangan tunggal yang berasal dari lampu
gantung kayu.
Sirkulasi utama pada bangunan ini adalah dengan menggunakan ramp. Berjalan di
sepanjang ramp untuk menuju lantai dua, indera kita akan disapa oleh bau segar tanaman
yang berasal dari kanan kiri ramp. Termasuk sebuah dinding yang penuh oleh tanaman
thunbergia. Andra tampak sangat memperhatikan arah jatuhnya cahaya, sehingga
memberikan pengalaman yang sinematis saat berkunjung ke rumah tersebut.

Di lantai dua terdapat kamar tidur utama. Tidak ada apa-apa di ruangan ini.
Sangat fungsional. Hanyalah sebuah panel jendela yang panjang, yang langsung
berhadapan dengan area hijau. Kamar mandi tanpa pintu yang langsung dapat diakses
dari kamar tidur utama. Benar-benar tanpa sekat. Kamar tidur anak-anak dirancang ala
kapsul. Kamar hanya digunakan untuk tidur. Bila ingin menonton televisi ataupun belajar,
sudah ada ruangan masing-masing. Hal itu didasari supaya anak-anak lebih sering
berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain, tidak hanya mengurung diri di kamar.
Lantai tiga merupakan sebuah ruangan yang dilengkapi meja kayu solid sepanjang
lima meter. Ruang ini bisa disebut ruang tamu sekaligus ruang makan. Di bagian tepi
ruangan ini terdapat rak penyimpanan yang juga dapat digunakan sebagai meja saji
3. Potato Head

Salah satu karya Andra Matin yang mendapat banyak sorotan adalah bagunan Potato
Head Beach Club yang terletak di Seminyak, Bali. Potato Head didirikan oleh Jason Gunawan
dan Ronald Akili yang mengandeng arsitek Andra Matin serta seniman kontemporer Eko
Nugroho. Lokasinya terletak di pinggir Pantai Petitenget, menjadikan bangunan bernuansa
modern-retro ini tempat yang populer untuk menikmati sunset.
Desain Potato Head terasa istimewa karena fasadnya yang melengkung menyerupai
koloseum tersusun dari 6600 jendela kayu antik dari abad 18 yang dikumpulkan dari berbagai
lokasi di Indonesia. Window louvres atau jendela krepyak itu dibiarkan dalam warna aslinya,
tanpa finishing, digabungkan dengan elemen-elemen kontemporer membentuk struktur
melengkung yang gigantis.

Desain interiornya mengadopsi konsep industrial yang mengekspose jaringan utilitas dan
beton tekstur. Jendela krepyak kembali dipakai untuk memenuhi langit-langit area bistro. Nuansa
art deco hadir dalam pemilihan mebel yang menyertai pengunjung bersantai. Salah satunya
adalah coffe table rendah yang kaki-kakinya bergaya pasak dipadu dengan pemilihan kursi dan
sofa dengan style beragam yang menghilangkan kesan monoton. Beberapa furniture seperti bar
meninggalkan kesan rustic dan kuno.
Ruang-ruang di Potato Head semuanya terhubung tanpa adanya sekat masif. Pemisahan
hanya dilakukan dengan split level yang semakin turun ke arah pantai. Lokasi infinity pool yang
menyajikan pemandangan tak terhingga ke arah pantai memiliki daya tarik tersendiri. Sedangkan
di level atas terdapat ruang terbuka yang dihubungkan dengan labirin setengah lingkaran dari
muka restoran Lilin.
4. Le Bo Ye dan Galeri Dia Lo Gue
Kantor Desain Grafis Le Bo Ye & Galeri Dia Lo Gue Kedua bangunan tersebut
dirangkum di atas tanah seluas 500m2 dengan aplikasi material yang sangat menarik yaitu
paduan material beton, semen, dan jati belanda yang ditampilkan apa adanya tanpa
pelapis.
Tekstur material banyak diekspos di area caf, galeri, maupun area servis. Ada
material beton pada plafon, semen pada dinding, dan plywood pada meja bar.
Menggunakan baja telanjang sebagai struktur bangunan kantor pada masa itu adalah tidak
lazim. Belum lagi lantai semen dan dinding yang tidak dicat. Juga tangga plat besi lipat
yang dibuat tanpa alas peredam suara. Kelontang kaki beradu logam akan menggema ke
seluruh ruang tiap kali ada yang naik turun. Tangga itu bahkan tidak dilengkapi dengan
susuran sebuah prasyarat penting untuk keamanan dan keselamatan pengguna. Untuk
penyekat dinding kloset digunakan material GRC (Glassfibre Rainforced Fibre) tanpa
pelapis cat. Teknis pemasangan GRC menggunakan modul per120cm, menyesuaikan
dengan ukuran lembaran GRC itu sendiri. Andra Matin sendiri ingin mmeperlihatkan
tekstur yang apa adanya. Beton dna kayu jati yang digunakan tidak diwarna lagi karena ia
ingin menampilkan keasliannya tapi dengan tampilan yang sebaik-baiknya.
Bentuknya sederhana, sebuah kotak semi transparan berukuran 12 x 12 meter,
dengan tinggi 8 meter, yang dibungkus kisi-kisi kayu. Di dalamnya: kosong. Hanya tiang-
tiang baja hijau, tangga lipat sederhana, dan bayang bilah-bilah kayu yang mengisi
ruang. Kotak besar itu merupakan lobby dari Le Bo Ye, sebuah kantor desain grafis.
Ditempatkan menempel pada bangunan lamanya, massa tersebut memiliki dua sisi
terbuka ke arah halaman luas yang memungkinkan kita mengapresiasi bentuknya secara
utuh, dan memahami dua karakter arsitektur Andra matin yang mendudukkannya hari ini
sebagai salah satu arsitek terbaik Indonesia: Bold and beautiful.

Dalam satu kotak tadi kita juga tidak hanya melihat eksperimen yang mendobrak
ekspresi tipologi yang lazim, tapi juga eksperimen bentuk yang melawan konsensus
umum tentang respons pada iklim tropis. Seperti kita tahu, terik matahari selalu ditangkal
dengan teritisan lebar dan atap miring terjal yang memungkinkan terbentuknya bantalan
udara penahan panas di bawahnya.
Di Le Bo ye, Andra Matin justru menggunakan kaca datar sebagai atap, dilapisi
bilah-bilah kayu yang sama dengan yang digunakan untuk menutupi bagian atas sisi
yang terbuka ke arah taman. Sementara bagian bawahnya dilengkapi dengan jajaran pintu
kaca. Tidak ada pengkondisian udara buatan. Angin dipicu oleh beberapa kipas yang
digantung menyebar di dalam ruang, juga ventilasi silang dari celah antara bilah. Ini
adalah sebuah eksperimen yang berani. Bahkan sebelum kita bicara tentang kemungkinan
gagal, mengusulkannya ke klien pun butuh kenekadan dan keyakinan super. Tapi justru
kenekadan itu yang menghasilkan estetika baru. Tanpa dikatakannya, Andra Matin tahu,
penggunaan material mentah dan kasar itu tidak akan menarik perhatian. Dengan
menempatkannya pada order yang rigid dan tertib, ia membuat mereka hilang.
Komposisi dari jajaran kolom yang mengisi ruang dengan lipatan plat tangga di sisi jauh,
lantai kusam dan dinding polos, atap tinggi dan tembus pandang yang menyangkatkan
kelengangan secara keseluruhan menyusun sebuah latar yang tangible untuk sesuatu yang
intangible: gerak.
5. Gedung Dua8
Gedung Dua8 Konsep utama pada bangunan ini adalah galeri yang tidak hanya
melayani sebagai ruang pamer bagi karya-karya seni, tetapi juga sebagai tempat
berinteraksi bagi penggemar seni dan seniman pencipta karya tersebut. Galeri juga harus
dapat membuat orang-orang memiliki tingkat toleransi tinggi dan penghormatan terhadap
kesenian di Indonesia.

6. Javaplant Office
Javaplant Office Terletak di lereng gunung di Tawangmangu. Dirancang
sedemikian rupa hingga terlahat sangat menyatu dengan alam di sekitarnya. Mengacu
pada konsep modern tropis, rancangan bangunan di kompleks Javaplant memadukan
bahan alami dengan material mutakhir di samping memanfaatkan potensi lingkungan
sekitarnya. Pada tahap awal, arsitek menata posisi bangunan dan jalur sirkulasi baik
sirkulasi untuk orang maupun untuk barang yang efisien. Dua bangunan yaitu kantor dan
laboratorium, ditata dalam formasi saling tegak lurus menyerupai huruf L. Bangunan
kantor yang hanya satu lantai ditandai oleh atap model pelana sedangkan
bangunan pabrik yang terdiri dari dua lantai, ditutup oleh sebidang atap miring. Dalam
pengolahan lahan dan bangunan, arsitek memasukkan unsur air yang berefek
menenangkan dengan cara membuat kolam ikan koi di bagian belakang bangunan kantor
utama dan di bagian muka kantor pemasaran. Kolam ini dibuat mengelilingi kantor
bahkan bangunannya, seolah-olah menjorok di atas permukaan kolam sehingga menarik
perhatian (eye catcher) orang yang datang.

Anda mungkin juga menyukai