Anda di halaman 1dari 10

AKUNTABILITAS PENDIDIKAN

MATA KULIAH PENGELOLAAN LAB BIDANG STUDI

Diajukan guna memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pengelolaan Lab
Bidang Studi yang diampu oleh:

Nugrahani A, S.Pd, M.Pd.

Penyelaras:
Shinda Novinda 15050394006
Tiwi Nugraheni 15050394029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BOGA


JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya sehingga dapat berhasil menyelesaikan makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Akuntabilitas Pendidikan.
Makalah ini berisikan informasi tentang apa yang dimaksud dengan akuntabilitas
pendidikan tentunya dalam ruang lingkup sekolah menengah kejuruan. Diharapkan makalah
ini dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang bagaimana seharusnya menciptakan
sekolah yang menerapkan akuntabilitas pendidikan yang terpercaya. Ketika penyusunan
makalah pembelajaran ini, banyak pihak yang turut membantu serta memberikan dorongan
pemikiran dan materi. Oleh karena itu, penyusun menyampaikan ucapan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah memberi sumbangan dalam penyelesaian makalah ini.
Akhir kata penyusun menyadari bahwa makalah masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan
demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Di era sekarang, hampir semua orang berlomba-lomba untuk mencapai apa yang
diinginkan dnegan kualitas yang terbaik. Terutama dalam hal pendidikan. Banyak orang yang
menginginkan mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Jika pada jaman dahulu
irang hanya menerima segala sesuatu dengan terbuka, sekarang masyarakat lebih merasa
berhak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan terutama pendidikan yang notabene
perlu biaya tertentu untuk mendapatkannya. Disini konsep tentang akuntabilitas pendidikan
sangat berpengaruh dimana dalam akuntabilitas pendidikan tersebut seseorang yang diserahi
tugas mendidik harus bertanggung jawab terhadap apa yang dididik. Namun pada
kenyataannya, tanggung jawab yang diemban tersebut di nilai terlalu luas dan tidak spesifik.
Sehingga banyak orang yang merasa sudah bertanggung jawab namun orang lain menilai
belum bertanggung jawab.
Sebagai contoh, banyak sekolah yang dinilai hanya mengutamakan bisnis dari pada
pelayanan yang nyata. Misalnya orang tua murid mampu membayar uang sekolah secara lebih
dan guru merasa sudah bertanggung jawab terhadap tugasnya dengan cara memberi pelayanan
berupa sarana dan prasarana di sekolah. Dalam pelaksanaan sistem akuntabilitas pendidikan
dangat sulit dijalankan, sehingga diperlukan kerja sama diberbagai pihak demi mewujudkan
akuntabilitas pendidikan yang baik.

2. RUMUSAN
a) Apa yang dimaksud dengan Akuntabilitas Pendidikan?
b) Bagaiamana Dasar dan tuntutan akuntabilitas program pendidikan?
c) Apa sajakah Indikator akuntabilitas program pendidikan?
d) Bagaimana Penanggung jawab program pendidikan SMK?
e) Apa Tujuan SMK?
f) Apakah Organisasi kurikulum?
g) Bagaimana Tema-tema kurikulum SMK?

3. TUJUAN
a) Untuk mengetahui deskripsi tentang Akuntabilitas Pendidikan.
b) Untuk mengetahui Dasar dan tuntutan akuntabilitas program pendidikan.
c) Untuk mengetahui indikator akuntabilitas program pendidikan.
d) Untuk mengetahui penanggung jawab program pendidikan.
e) Untuk mengetahui tujuan SMK.
f) Untuk mengetahui organisasi kurikulum.
g) Untuk mengetahui tema tema kurikulum SMK.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Akuntabilitas Pendidikan
Akuntabilitas dalam bahasa Inggris berasal dari kata accountability yang berarti
yang dapat dipertanggungjawabkan. Berkaitan dengan istilah akuntabilitas, Sirajudin H Saleh
dan Aslam Iqbal berpendapat bahwa akuntabilitas merupakan sisi-sisi sikap dan watak
kehidupan manusia yang meliputi akuntabilitas internal dan eksternal seseorang. Dari sisi
internal seseorang akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban orang tersebut kepada
Tuhan-nya. Sedangkan akuntabilitas eksternal seseorang adalah akuntabilitas orang tersebut
kepada lingkungannya baik lingkungan formal (atasan-bawahan) maupun lingkungan
masyarakat.
Menurut Leon M. Lessinger (dalam Knezevich, 1973), secara operasional
akuntabilitas pendidikan dapat diartikan sebagai penilaian yang bebas dan terus menerus
terhadap pencapaian (hasil belajar) siswa ; dapat diartikan sebagai hubungan pencapaian
siswa dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dengan sumber-sumber yang telah
diadakan, dan dengan cara-cara keahlian yang ditetapkan. Berdasarkan hal tersebut, untuk
mencapai kemantapan akuntabilitas seharusnya ditetapkan apakah penyelesaian suatu tugas
dapat secara objektif diperiksa dan dinilai. Ini berarti bahwa akuntabilitas berkaitan dengan
pelaksanaan evaluasi (penilaian) mengenai standard pelaksanaan kegiatan, apakah standar
yang dibuat sudah tepat dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dan apabila dirasa sudah
tepat, manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengimlementasikan standard-standard
tersebut.
Karena dalam hal pencapaian akuntabilitas tersebut dibutuhkan kriteria dan ukuran,
maka Akuntabilitas adalah suatu keadaan performan para petugas yang mampu bekerja dan
dapat memberikan hasil kerja sesuai dengan criteria yang telah di tentukan bersama sehingga
memberikan rasa puas pihak lain yang berkepentingan. Lalu Akuntabilitas pendidikan adalah
kemampuan lembaga pendidikan (sekolah) mempertanggungjawabkan kepada publik segala
sesuatu mengenai kinerja yang telah dilaksanakan.
Tujuan akuntabilitas pendidikan adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap
sekolah. Sedangkan menurut Slamet (2005,6) Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk
mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk
terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. Sekolah perlu dipercaya karena sekolah
merupakan agen bahkan sumber perubahan dalam masyarakat. Karena sekolah
memertanggungjawabkan kinerjanya kepada publik, maka publik perlu bekerjasama dengan
sekolah dalam hal memberikan pengawasan pelayanan pendidikan terhadap sekolah.
Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat
persiapan, melaksanakan pengajaran, dan mengevaluasi siswa. Selain itu dalam hal keteladan,
seperti disiplin, kejujuran, hubungan dengan siswa menjadi penting untuk diperhatikan.
Akuntabilitas pendidikan ditujukan kepada perencana pendidikan seperti guru/dosen,
administrator/manajer pendidikan (kepala sekolah, kepala kantor, ketua dinas, kepala jurusan,
dekan, rektor), orang tua/wali murid dan yang terakhir pihak luar.
Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki
kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. Lembaga pendidikan beserta perangkat-
perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga
terakreditasi (accredited). Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk
menghasilkan lulusan bermutu, selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga
dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable.

2. Dasar dan tuntutan akuntabilitas program pendidikan


Akuntabilitas menyangkut dua dimensi, yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas
horisontal. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan
masyarakat. Sekolah dan orang tua siswa. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas
pendidikan). Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga
sekolah. Antar kepala sekolah dengan komite, dan antara kepala sekolah dengan guru.
Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen pengelolaan
Manajemen Berbasis Sekolah kepada masyarakat. Komponen pertama yang harus
melaksanakan akuntabilitas adalah guru. Karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen
sekolah adalah proses belajar mengajar. Dan pihak pertama di mana guru harus bertanggung
jawab adalah siswa. Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya sebagai pengajar.
Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat
persiapan, melaksanakan pengajaran, dan mengevaluasi siswa.

3. Indikator akuntabilitas program pendidikan


Menurut McAdams et al. (2003), terdapat lima indikator akuntabilitas, yaitu (1)
rating/ranking sekolah, (2) ragam penilaian terhadap pencapaian belajar siswa, (3) tingkat
kinerja dan tren peningkatan, (4) indikator kinerja tambahan, (5) intervensi, penghargaan dan
sanksi.
Rating sekolah mencerminkan sejumlah informasi yang luas tentang sekolah. Sistem
rating dan ranking memudahkan dinas pendidikan untuk melihat perkembangan dari segi
angka atau kata yang merangkum keseluruhan tingkatan kinerja yang dicapai sekolah.
Penilaian kinerja siswa dengan menggunakan berbagai pendekatan penilaian dengan
berbagai pendekatan kiranya lebih mengukur kinerja secara akurat daripada menggunakan
satu pendekatan pengukuran saja.
Sebagai contoh dalam hal tingkat kinerja dan tren peningkatan yaitu jika sistem
akuntabilitas menargetkan sekolah untuk mencapai 75% passing standard untuk memperoleh
rating yang dapat diterima maka sekolah yang kurang berkinerja mencapai angka di bawah
itu, walaupun terdapat upaya yang dilakukan.
Selanjutnyan indikator kinerja tambahan, pencapaian belajar siswa sebaiknya menjadi
faktor pengukuran utama dari kinerja sekolah. Namun demikian, pengukuran tambahan yang
relevan juga penting. Dinas pendidikan sebaiknya memilih dan menentukan indikator kinerja
yang mencerminkan prioritas daerah. Contohnya adalah tingkat kenyamanan sekolah, kualitas
guru atau persepsi orang tua terhadap sekolah (Supovitz et al., 2000).
Intervensi, penghargaan dan sanksi merupakan konsekuensi yang mempengaruhi
perilaku. Rating atau ranking sekolah yang mencerminkan tingkat kinerja sekolah dapat
memicu perubahan perilaku dalam dinamika sekolah tersebut. Walaupun ketiganya dapat
dilaksanakan secara berbeda, tujuan dari ketiganya adalah untuk merubah perilaku.

4. Penanggung jawab program pendidikan SMK


Penanggung jawab dalam program SMK yaitu seorang guru yang memiliki kualifikasi
pendidikan akademik minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1). Selain itu harus
memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang yang ditekuni serta memilikii
sertifikat profesi guru SMK/MAK. Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat
terdiri atas guru mata pelajaran dan instruktur bidang kejuruan yang penugasannya ditetapkan
oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.
Penanggung jawab dalam program SMK secara rinci yaitu:
Pendidik (guru mata pelajar dan instruktur bidang kejuruan)
Kepala sekolah
Tenaga Administrasi
Tenaga perpustakaan
Tenaga Laboratorium
Tenaga Kebersihan

5. Tujuan SMK
Menurut Permendikbud No. 70 tahun 2013, tentang Kerangkan Dasar dan Struktur
Kurikulum SMK/MAK, Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia
agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif,
kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Kurikulum SMK/MAK dirancang dengan
pandangan bahwa SMA/MA dan SMK/MAK pada dasarnya adalah pendidikan menengah,
pembedanya hanya pada pengakomodasian minat peserta didik saat memasuki pendidikan
menengah.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah,
Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan
lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien
serta mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang
tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi,
memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan
pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri. Tujuan Pendidikan Kejuruan
adalah mempersiapkan perserta didik sebagai calon tenaga kerja dan mengembangkan
eksistensi peserta didik, untuk kepentingan peserta didik, masyarakat, bangsa dan negara.
6. Organisasi kurikulum
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun dan
disampaikan kepada murid-murid yang merupakan suatu dasar yang pentin sekali dalam
pembinaan kurikulum dan berkaitan erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak
dicapai. Dalam penyusunan organisasi kurikulum harus memerhatikan beberapa faktor, yakni:
1. Ruang lingkup (scope)
Merupakan keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang harus dipelajari siswa.
Ruang lingkup bahan pelajaran sangat tergantung pada tujuan pendidikan yang hendak
dicapai.
2. Urutan bahan (sequence)
Berhubungan dengan urutan penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan
kepada siswa agar proses belajar dapat berjalan dengan lancar. Urutan bahan meliputi dua hal
yaitu urutan isi bahan pelajaran dan urutan pengalaman belajar yang memerlukan
pengetahuan tentang perkembangan anak dalam menghadapi pelajaran tertentu.
3. Kontinuitas
Berhubungan dengan kesinambungan bahan pelajaran tiap mata pelajaran, pada tiap
jenjang sekolah dan materi pelajaran yang terdapat dalam mata pelajaran yang bersangkutan.
Kontinuitas ini dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif.
4. Keseimbangan
Adalah faktor yang berhubungan dengan bagaimana semua mata pelajaran itu
mendapat perhatia yang layak dalam komposisi kurikulum yang akan diprogramkan pada
siswa. Keseimbangan dalam kurikulum dapat ditinjau dari dua segi yakni keseimbangan isi
atau apa yang dipelajari, dan keseimbangan cara atau proses belajar.
5. Integrasi atau keterpaduan
Yang berhubungan dengan bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang diterima
siswa mampu memberi bekal dalam menjawab tantangan hidupnya, setelah siswa
menyelesaikan program pendidikan disekolah.
Terdapat beberapa jenis organisasi kurikulum, yaitu:
Separated Subject Curriculum (Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran)
Kurikulum ini disebut demikian karena segala bahan pelajarn disajikan dalam subject
atau mata pelajaran yang terpisah-pisah. Sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi
sempit ruang lingkupnya. Jumlah mata pelajaran yang diberikan cukup bervariasi bergantung
pada tingkat dan jenis sekolah yang bersangkutan. Dalam praktek penyampaian
pengajarannya, tanggung jawab terletak pada masing-masing guru atau pendidik yang
menangani suatu mata pelajaran yang dipegangnya.
Correlated Curriculum (Kurikulum Gabungan)
adalah bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara satu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, Tetapi tetap memperhatikan karakteristik tiap mata
pelajaran tersebut.
Integrated Curriculum (Kurikulum Terpadu)
Dalam integrated curriculum mata pelajaran dipusatkan pada suatu masalah atau unit
tertentu. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat terbentuk kebulatan
pribadi peserta didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, hal-hal
yang diajarkan di sekolah harus disesuaikan dengan situasi, masalah dan kebutuhan
kehidupan di luar sekolah.
7. Tema-tema kurikulum SMK
Pemetaan tema adalah suatu kegiatan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh
dan utuh semua Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator dari berbagai mata
pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Tema menjadi pengikat keterkaitan antara
satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Pemetaan tema dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Menurut Tim Puskur dari Departemen Pendidikan Nasional (2006) menentukan
tema dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, guru mempelajari standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang terdapat dalam tiap-tiap mata pelajaran, dilanjutkan dengan
menentukan tema yang sesuai. Cara kedua, guru menetapkan terlebih dahulu tema-tema
pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerja sama dengan
siswa-siswi sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Perbedaan antara cara
pertama dengan cara yang kedua terletak pada penentuan tema. Cara yang pertama penentuan
tema dilakukan setelah guru melakukan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
karena dalam indikator. Tema ditentukan setelah melihat keterhubungan antara kompetensi
satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.

BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
http://faizfi.blogspot.co.id/2015/03/akuntabilitas-pendidikan-dan.html (diakses pada tanggal
28 Agustus 2017, pukul 19:20)
http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/ekonomi/419-konsep-tentang-
akuntabilitas-dan-implementasinya-di-indonesia.html (diakses pada tanggal 28 Agustus 2017,
pukul 20:25)
Fauzan, M H. 2014. Implementasi Akuntabilitas dalam Manajemen Berbasis Sekolah.
http://bdkbandung.kemenag.go.id/jurnal/325-implementasi-akuntabilitas-dalam-manajemen-
berbasis-sekolah (diakses pada tanggal 28 Agustus 2017, pukul 20:45)
Sudarya, Yahya dan Suratno, Tatang. Prinsip Akuntabilitas Sekolah: Pengembangan Sistem
Akuntabilitas di Dinas pendidikan.
http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_14-
Oktober_2010/Prinsip-
prinsip_Akuntabilitas_Sekolah_Pengembangan_Sistem_Akuntabilitas_di_Dinas_Pendidikan.
pdf (diakses pada tanggal 28 Agustus 2017, pukul 21:30)
PP RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Permendikbud No. 70 tahun 2013, tentangKerangkan Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MAK
Hendarman, Dedi. 2012. Kurikulum Pendidikan Kejuruan.
http://pendtiumarmand.blogspot.co.id/2012/03/kurikulum-pendidikan-kejuruan.html (diakses
pada tanggal 29 Agustus 2017, pukul 08:49)
https://cobah-ajah.blogspot.co.id/2013/06/konsep-dasar-pemetaan-tema-dalam.html?
showComment=1503996566397#c7791314001502728545 (diakses pada tanggal 29 Agustus
2017, pukul 15:50)