Anda di halaman 1dari 34

BAB I

LAPORAN KASUS

I. Identitas
Nama Tn. S
Jenis Kelamin Laki-laki
Umur 50 Tahun
Pendidikan SMP
Pekerjaan Wiraswasta
Status Pernikahan Menikah
Agama Islam
Alamat Ciwandan, Cilegon
Tanggal Masuk RS 15 Januari 2014
No. CM 24.xx.xx

II. Anamnesa
Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 16 Januari 2014 pukul 06.00 WIB di Ruang
Bangsal Aster RSUD Cilegon.

Keluhan Utama
Nyeri pada saat Buang Air Kecil (BAK) sejak 5 bulan sebelum masuk Rumah Sakit

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan nyeri pada saat BAK sejak 5 bulan sebelum
masuk Rumah Sakit. Nyeri dirasakan hilang timbul namun 1 minggu terakhir ini
dirasakan terus menerus. Nyeri dirasakan hingga di ujung kemaluan. Keluhan nyeri
disertai dengan BAK yang keluar sedikit-sedikit dan kadang-kadang mendadak berhenti
keluar namun lancar kembali jika pasien merubah posisi. Pasien mengaku pada akhir
BAK, pasien merasa tidak puas. Pasien juga mengaku lebih sering ingin BAK terutama
di malam hari. 4 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh buang air kecilnya
bercampur pasir dan disertai darah. Namun hal itu hanya terjadi sebanyak 2 kali.
Keluhan nyeri pinggang disangkal. Keluhan mual, muntah dan demam disangkal.

1
Pasien mengaku jarang sekali minum air putih. Dalam sehari pasien mengaku
hanya menghabiskan kira-kira sebanyak 1 botol air mineral 600 ml. Riwayat
mengkonsumsi obat-obatan disangkal.

III. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat operasi batu buli 10 tahun yang lalu

Riwayat trauma, hipertensi, kencing manis, sakit jantung, sakit ginjal, asma, alergi,
batuk dalam jangka waktu yang lama disangkal. Riwayat konsumsi obat-obatan
disangkal.

IV. Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengaku di dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit yang serupa.

V. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 140/90 mmHg
Frekuensi Nadi : 80 x/menit, reguler
Frekuensi Nafas : 20 x/menit, reguler
Suhu : 36,7C
BB : 65 kg

Status Generalis
Kulit : warna kulit sawo matang, tak tampak kelainan kulit, turgor kulit baik

Kepala : normosefali, rambut hitam, tidak mudah dicabut.

Mata : simetris kanan kiri, kelopak mata cekung, konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-, kornea jernih, lensa jernih.

Leher : pembesaran KGB(-), trakea ditengah

Telinga : bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-/-), hiperemis (-/-)

2
Hidung : septum deviasi (-), pernafasan cuping hidung (-), sekret (-/-)

Tenggorok : faring hiperemis(-), tonsil T1-T1, perdarahan (-)

Mulut : mukosa bibir basah, sianosis (-), lidah kotor (-)

Thorax : simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Paru-paru

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri pada saat statis dan
dinamis, tidak terdapat retraksi diafragma.

Palpasi : Fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri

Perkusi : Sonor seluruh lapang paru, dan terdapat peranjakan paru-hati

Auskultasi : Vesikuler kanan dan kiri, rhonki-/-, tidak terdapat wheezing

Jantung

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V linea midklavikula sinistra.

Perkusi : Batas jantung kanan pada ICS V linea sternalis dextra, batas jantung kiri
pada ICS V linea midklavikula sinistra, batas pinggang jantung pada ICS III linea
parasternalis sinistra, proyeksi besar jantung normal.

Auskultasi :Bunyi jantung I dan II regular, tidak terdapat murmur dan gallop.

Abdomen

Inspeksi : Tampak simetris, datar, tidak terdapat kelainan kulit seperti\ sikatrik, dan
tidak ada pelebaran pembuluh darah vena.

Auskultasi :Bising usus normal, bising aorta abdominalis terdengar.

Perkusi :Suara timpani di semua lapang abdomen, shifting dullness (-).

Palpasi : Turgor baik, tidak terdapat nyeri tekan, tidak terdapat nyeri lepas, tidak
teraba organomegali, tes undulasi (-),

3
Ekstremitas : Atas : Akral hangat +/+, Edema -/-

Bawah : Akral hangat +/+, Edema -/-

Status Lokalis
Regio Lumbalis
Inspeksi : Datar
Palpasi : Nyeri tekan (-) ballottement ginjal (-), tak teraba massa
Perkusi : Nyeri ketok (-)

Regio Suprapubic
Inspeksi : Tak tampak massa, bulging (-)
Palpasi : VU teraba penuh, tak teraba massa, nyeri tekan (-)

Regio Genitalia Eksterna


Inspeksi : Tak tampak kelainan
Palpasi : Nyeri tekan (-)

VI. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium (15 Januari 2014)

Hb : 14,2 g/dl (14-18 g/dl)


Ht : 41,3% (40-48%)
Leukosit : 8470/uL (5000-10000 /uL)
Trombosit : 228.000/uL (150.000-450.000/uL)
Masa pendarahan : 2 (1-6)
Masa pembekuan : 8 (5-15)
Golongan darah : O/Rh(+)
Glukosa darah sewaktu : 91 mg/dl
SGOT : 15 u/l (<37 u/l)
SGPT : 16 u/l (<41 u/l)
Albumin : 5,1 g/dl (3-6 g/dl)
Ureum : 22 mg/dl (17-43 mg/dl)
Kreatinin :1 (0,7-1,1)
4
HbsAg : negatif
Anti HIV : non reaktif

Pemeriksaan USG Renal dan VU

Vesica Urinaria : Besar, bentuk baik, dinding menebal dan ireguler berukuran 1,02 x 1,01 cm.
tampak batu berukuran 2,36 x 2,61 cm.

Kesan : Vesicolithiasis dan Cystitis

VII. Resume
Anamnesis

Pasien Laki-laki usia 50 tahun datang dengan keluhan nyeri pada saat BAK sejak 5 bulan
sebelum masuk Rumah Sakit. Keluhan disertai dengan BAK yang keluar sedikit-sedikit
dan kadang-kadang mendadak berhenti keluar namun lancar kembali jika pasien merubah
posisi. Pasien merasa BAK tidak puas dan lebih sering merasa ingin BAK terutama di

5
malam hari. Keluhan BAK berpasir dan BAK disertai darah diakui oleh pasien. Pasien
mengaku memiliki kebiasaan kurang minum air putih.

Pemeriksaan Fisik

Status Present

Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang


Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 140/90 mmHg
Frekuensi Nadi : 80 x/menit, reguler
Frekuensi Nafas : 20 x/menit, reguler
Suhu : 36,7C
BB : 65 kg
Status Generalis : dalam batas normal

Status Lokalis

Regio Lumbalis
Inspeksi : Datar
Palpasi : Nyeri tekan (-) ballottement ginjal (-), tak teraba massa
Perkusi : Nyeri ketok (-)

Regio Suprapubic
Inspeksi : Tak tampak massa, bulging (-)
Palpasi : VU teraba penuh, tak teraba massa, nyeri tekan (-)

Regio Genitalia Eksterna


Inspeksi : Tak tampak kelainan
Palpasi : Nyeri tekan (-)

Pemeriksaan Laboratorium

Dalam batas normal

Pemeriksaan USG Renal dan VU

Kesan : Vesicolithiasis dan Cystitis

6
VIII. Diagnosis Kerja

Vesicolithiasis

IX. Diagnosis Banding


Tumor Kandung Kemih

X. Usulan Pemeriksaan
Urinalisis
BNO-IVP

XI. Penatalaksanaan
Operatif : Vesicolitotomi (Sectio Alta)

XII. Prognosis
Quo ad vitam : Dubia ad bonam

Quo ad functionam : Dubia ad bonam

Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam

Laporan Operasi (16 Januari 2014)

Diagnosis pre-operasi : Batu Buli

Diagnosis post-operasi : Batu Buli

Tehnik operasi : Sectio Alta

Jenis Anestesi : Regional Anestesi

Instruksi pasca operasi :

Banyak minum
IVFD RL 20 tpm
Inj. Cefotaxime 2x1 gr
Inj. Ketorolac 3x1 amp
Inj. Ranitidine 2x1 amp

7
Follow Up

17 Januari 2014 S/ : Nyeri dan perih pada luka bekas operasi, mual (-), muntah (-
), nyeri kepala (+)

O/ : KU : Sedang, Kesadaran : Compos mentis

TD: 120/80 mmHg, N: 80 x/menit,

RR : 20x/menit, S: 36,5C

Status generalis: dalam batas normal

Status lokalis: region abdominalis

Inspeksi: tampak jahitan operasi yang tertutup verband,


rembesan darah (-)
Auskultasi : Bising usus (+)
Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen
Palpasi: supel, datar, nyeri tekan (+)
A/ : Post section alta atas indikasi vesicolithiasis hari ke 1

P/ : IVFD RL 20 tpm

Inj. Cefotaxime 2x1 gr

Inj. Ketorolac 3x1 amp

Inj. Ranitidine 2x1 amp

8
18 Januari 2014 S/ : Nyeri dan perih pada luka bekas operasi, mual (-), muntah (-
), nyeri kepala (-)

O/ : KU : Sedang, Kesadaran : Compos mentis

TD: 130/80 mmHg, N: 60 x/menit,

RR : 20x/menit, S: 36,5C

Status generalis: dalam batas normal

Status lokalis: region abdominalis

Inspeksi: tampak jahitan operasi yang tertutup verband,


rembesan darah (-)
Auskultasi : bising usus (+)
Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen
Palpasi: supel, datar, nyeri tekan (+)
A/ : Post section alta atas indikasi vesicolithiasis hari ke 2

P/ : IVFD RL 20 tpm

Inj. Cefotaxime 2x1 gr

Inj. Ketorolac 3x1 amp

Inj. Ranitidine 2x1 amp

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terdapatsepasang (masing-
masing satu di sebelah kanan dan kiri vertebra) danposisinya retroperitoneal. Ginjal kanan
terletak sedikit lebih rendah (kuranglebih 1 cm) dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan
adanya hati yangmendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga
11(vertebra T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga 11atau iga 12.
Adapun kutub bawah ginjal kiri adalah processus transversusvertebra L2 (kira-kira 5 cm
dari krista iliaka) sedangkan kutub bawah ginjalkanan adalah pertengahan vertebra L3.
Dari batas-batas tersebut dapat terlihatbahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah
dibandingkan ginjal kiri.(1)

Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:(1)


a) Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdiri dari
korpusrenalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus
kontortusproksimal dan tubulus kontortus distalis.

10
b) Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulusrektus,
lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent).
c) Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal
d) Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arahkorteks
e) Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf
atau duktus memasuki/meninggalkan ginjal.
f) Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpuldan
calix minor.
g) Calix minor, yaitu percabangan dari calix major.
h) Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis.
i) Pelvis renalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan
antara calix major dan ureter.
j) Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpusrenalis/ Malpighi
(yaitu glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortusproksimal, lengkung Henle,
tubulus kontortus distal yang bermuara padatubulus pengumpul. Di sekeliling tubulus
ginjal tersebut terdapat pembuluh kapiler,yaitu arteriol (yang membawa darah dari dan
menuju glomerulus)serta kapiler peritubulus (yang memperdarahi jaringan ginjal)
Berdasarkanletaknya nefron dapat dibagi menjadi: (1) nefron kortikal, yaitu nefron di
manakorpus renalisnya terletak di korteks yang relatif jauh dari medula serta hanyasedikit
saja bagian lengkung Henle yang terbenam pada medula, dan (2)nefron juxta medula,
11
yaitu nefron di mana korpus renalisnya terletak di tepimedula, memiliki lengkung Henle
yang terbenam jauh ke dalam medula danpembuluh-pembuluh darah panjang dan lurus
yang disebut sebagai vasa rekta.(1)

Ginjal diperdarahi oleh a/v renalis. A. renalis merupakan percabangandari aorta


abdominal, sedangkan v.renalis akan bermuara pada vena cavainferior. Setelah memasuki
ginjal melalui hilus, a.renalis akan bercabangmenjadi arteri sublobaris yang akan
memperdarahi segmen-segmen tertentu pada ginjal, yaitu segmen superior, anterior-
superior, anterior-inferior, inferiorserta posterior.(1)

Ginjal memiliki persarafan simpatis dan parasimpatis. Untuk persarafansimpatis


ginjal melalui segmen T10-L1 atau L2, melalui n.splanchnicusmajor, n.splanchnicus imus
dan n.lumbalis. Saraf ini berperan untuk vasomotorik dan aferen viseral. Sedangkan
persarafan simpatis melalui n.vagus.(1)

Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasilpenyaringan
ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menujuvesica urinaria. Terdapat
sepasang ureter yang terletak retroperitoneal,masing-masing satu untuk setiap

12
ginjal.Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan m.psoasmajor
memasuki cavitas pelvis dengan menyilang bifurcatio arteria iliaca communis di depan
articulation sacroiliaca. Ureter berjalan secara postero-inferior di dinding lateral pelvis,
lalu melengkung secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria. Adanya katup
uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung kemih.(1)
Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaituperalihan
pelvis renalis-ureter di dalam abdomen, pada tempat ureter menekuk pada waktu
menyilang aperture pelvis superior untuk masuk ke dalam pelvis serta muara ureter
kedalam vesica urinaria. Tempat-tempat seperti ini sering terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliacacommunis,
a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan persarafan ureter melalui
segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis, pleksus aorticus, serta pleksus
hipogastricus superior dan inferior.(1)

Vesica Urinaria
Vesica Urinaria terletak tepat di belakang pubis di dalam cavitas pelvis. Vesica
urinaria cukup baik untuk menyimpan urine dengan kapasitas maksimum kurang lebih
500 ml pada orang dewasa. Vesica urinaria yang kosong terletak sepenuhnya di dalam
cavum pelvis sedangkan jika terisi, dinding atasnya terangkat sampai masuk pada region
hypogastricum.(1)
Vesica urinaria yang kosong berbentuk pyramid, mempunyai apex, basis dan sebuah
facies superior serta dua buah facies inferolateralis (dextra dan sinistra), juga mempunyai
collum. Vesica urinaria memiliki 4 tepi yaitu anterior, posterior, lateral dextra dan lateral
sinistra.(1)
Apex vesica mengarah ke depan dan terletak pada pinggir atas symphisis pubis. Apex
vesicae terhubung dengan umbilicus oleh ligamentum umbilicale medianum (sisa
urachus).Basis atau facies posterior vesica menghadap ke posterior dan berbentuk
segitiga. Sudut superolateralis merupakan tempat muara ureter sedangkan sudut inferior
merupakan tempat asal uretra. Facies superior vesica diliputi oleh peritoneum dan
berbatasan dengan lengkung ileum atau colon sigmoid. Sepanjang pinggir lateral
permukaan ini, peritoneum melipat ke dinding lateral pelvis. Facies inferolateralis vesica
di bagian depan berbatasan dengan bantalan lemak retropubica dan pubis. Lebih ke
posterior, facies tersebut berbatasan di atas dengan musculus obturatorius internus dan di
bawah dengan musculus levator ani. Collum vesica berada di inferior, dipertahankan oleh
13
ligamentum puboprostaticum pada laki-laki dan ligamentum pubovesicale pada wanita.
Tunica mucosa sebagian besar berlipat-lipat pada vesica urinaria yang kosong sedangkan
lipatan tersebut akan hilang jika vesica urinaria terisi penuh. Area tunica mucosa yang
meliputi permukaan dalam basis vesica urinaria dinamakan trigonum vesicae Liutaudi.
Sudut superior trigonum ini merupakan tempat muara ureter dan sudut inferiornya
merupakan ostium uretra internum. Ureter menembus dinding vesica urinaria secara
miring dan keadaan ini yang membuat fungsinya seperti katup yang mencegah aliran
balik urine ke ginjal pada waktu vesica urinaria terisi. (1)

Trigonum vesicae di bagian atas dibatasi oleh rigi muscular yang berjalan dari muara
ureter yang satu ke muara ureter yang lain dan disebut sebagai plica interureterica.Tunica
muscularis vesica urinaria terdiri atas otot polos yang tersusun dalam tiga lapisan yang
saling berhubungan yang disebut sebagai musculus detrusor vesicae. Pada collum vesica
komponen sirkular ini menebal membentuk musculus sphincter vesicae.
Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior yang merupakan
cabang dari a.iliaca interna. Namun pada perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh
a.vaginalis.(1)

14
Persarafan pada vesica urinaria berasal dari plexus hypogastricus inferior terdiri atas
persarafan simpatis dan parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus
lumbalis L1-L2 lalu turun ke vesica urinaria melewati plexus hypogastricus. Adapun
persarafan parasimpatis melalui n.splanchnicus pelvicus S2-S4. Saraf simpatis berfungsi
untuk menghambat kontraksi musculus detrusor vesica dan merangsang penutupan
musculus sphincter vesicae. Saraf parasimpatis merangsang kontraksi musculus detrusor
vesicae dan menghambat kerja musculus sphincter vesicae. (1)

Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju
lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra pada
pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual
(berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar
3.5 cm. selain itu, Pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos
terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars
membranosa,bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter
externa(distal inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter).(1)
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars
membranosa dan pars spongiosa.

15
- Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae danaspek
superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m.sphincter urethrae
internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh
persarafan simpatis.
- Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus kelenjar
prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar disbanding bagian
lainnya.
- Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan tersempit.
Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus penismelintasi diafragma
urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya olehm.sphincter urethrae eksternal
yang berada di bawah kendali volunter(somatis).
- Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang,membentang
dari pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi
oleh korpus spongiosum di bagian luarnya.

Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm) dibanding uretra
pada pria. Setelah melewati diafragma urogenital, uretra akan bermuarapada
orifisiumnya di antara klitoris dan vagina (vagina opening). Terdapat m.spchinter
urethrae yang bersifat volunter di bawah kendali somatis, namun tidak seperti uretra
pria, uretra pada wanita tidak memiliki fungsi reproduktif. (1)

16
2.2 Fisiologi

Fungsi ginjal adalah a) memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis
atau racun, b) mempertahankan suasana keseimbangan cairan, c)mempertahankan
keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan d)mengeluarkan sisa-sisa
metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin danamoniak.(2)
Proses pembentukan urin adalah :
1. Proses Filtrasi ,
Di glomerulus terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan darah
kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri
dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll,diteruskan ke tubulus ginjal.
cairan yang di saring disebut filtrate gromerulus.
2. Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glikosa, sodium,
klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator
reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali
penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi
secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
3. Proses sekresi.

17
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan kepapilla renalis
selanjutnya diteruskan ke luar.

Proses Berkemih (miksi)


Miksi atau urinisasi merupakan proses pengosongan kandung kemih. Setelah dibentuk
oleh ginjal, urin disalurkan melalui ureter ke kandung kemih. Aliran ini dipengaruhi oleh
gaya tarik bumi, selain itu juga kontraksi peristaltik otot polos dalam dinding ureter. Karena
urin secara terus menerus dibentuk oleh ginjal, kandung kemih harus memiliki kapasitas
penyimpanan yang cukup. Mekanisme miksi bergantung pada inervasi parasimpatis dan
simpatis juga impuls saraf volunter. Pada pengeluaran urin dibutuhkan kontraksi aktif otot
detrusor, maka: (1)
a) Bagian otot trigonum yang mengelilingi jalan keluar uretra berfungsi sebagai
sfingter uretra internal yang diinervasi oleh neuron parasimpatis.
b) Sfingter uretra eksternal terbentuk dari serabut otot rangka dari otot perineal
transversa dibawah kendali volunter. Selain itu bagian pubokoksigeus pada otot
elevator juga berkontriksi dalam pembentukan sfingter.
Refleks berkemih dicetuskan apabila reseptor-reseptor regang di dalam dinding kandung
kemih terangsang. Kandung kemih orang dewasa dapat menampung sampai 250 atau 450 ml
urin sebelum tegangan di dinding kandung kemih untuk mengaktifkan reseptor regang.
Makin besar peregangan melebihi ambang ini, makin besar tingkat pengaktifan reseptor.
Selain refleks ini dimulai, refleks ini bersifat regenerasi sendiri. Refleks berkemih terjadi
dengan cara:

18
a) Impuls pada medulla spinalis dikirim ke otak dan menghasilkan impuls parasimpatis
yang menjalankan melalui saraf splanknik pelvis ke kandung kemih.
b) Refleks perkemihan menyebabkan otot detrusor kontraksi dan relaksasi sfingter
internal dan eksternal.
Selama miksi, proses yang terjadi berupa:
a) Refleks detrusor meregang, mencetuskan refleks kontraksi dari otot-otot tersebut
sehingga timbul keinginan untuk miksi.
b) Relaksasi otot puborectalis sehingga kandung kemih akan turun sedikit sehingga
penghambatan uvula menurun dan segmen bagian pertama uretra melebar.
c) Relaksasi otot sfingter uretra eksterna memungkinkan kandung kemih untuk
mengosongkan isinya dan dapat dibantu dengan tindakan valsava.
d) Pada akhir proses miksi, kontraksi kuat dari otot sfingter uretra eksterna dan dasar
panggul akan mengeluarkan sisa urin dalam uretra, setelah itu otot detrusor relaksasi
kembali untuk pengisian urin selanjutnya.
Reflek berkemih adalah refleks medulla spinalis yang seluruhya bersifat
autonomik, tetapi dapat dihambat atau dirangsang di otak. Pusat yang lebih tinggi dapat
mencegah berkemih, bahkan ketika refleks berkemih muncul, yaitu dengan membuat
kontraksi tonik terus menerus pada sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapat
waktu yang baik untuk berkemih. Jika sudah tiba saat berkemih, pusat cortical dapat
merangsang pusat berkemih sacraluntuk membantu mencetuskan refleks berkemih dan
dalam waktu yangbersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih sehingga
peristiwaberkemih dapat terjadi. (1)

2.3 Definisi
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah terbentuknya batu disebabkan oleh pengendapan
substansi yang terdapat dalam air kemih. Proses pembentukan BSK ini disebut urolitiasis
dan dapat terbentuk pada ginjal (nefrolithiasis), ureter (ureterolithiasis), vesica urinaria
(vesicolithiasis), dan uretra (urethrolithiasis).(3)

2.4 Epidemiologi
Batu saluran kemih (BSK) adalah penyakit terbanyak ke tiga pada sistem traktus
urinarius setelah penyakit infeksi saluran kemih dan hyperplasia prostat. Untuk komposisi
batu diperoleh kesan bahwa batu kalsium oksalat merupakan jenis batu yang paling
banyak dijumpai.
19
Amerika serikat melaporkan 5-10% dari penduduknya dalam hidupnya pernah
menderita batu saluran kemih, sedangkan insiden pasien batu ginjal berkisar 0.1-0.3% per
tahun atau sekitar 240.000 sampai 720.000 pasien per tahun. Angka yang didapat di
Amerika Serikat hampir sama dengan angka di Eropa.(4)
Sampai saat ini Indonesia belum memiliki angka penyakit batu saluran kemih
namun bila angka insiden diproyeksikan untuk penduduk Indonesia yang jumlahnya
sekitar 210 juta, maka tiap tahun akan didapat pasien baru batu saluran kemih sekitar
294.000 kasus. Morbiditas yang diakibatkan batu saluran kemih bisa ditandai dengan rasa
sakit yang ringan sampai berat, dan juga komplikasi terjadinya urosepsis dan gagal
ginjal, yang dapat menimbulkan mortalitas. (4,8)
Angka kekambuhan batu setelah pengobatan dan kenaikan faktor resiko kekambuhan
yang perlu diperhatikan. Berdasarkan literatur angka kekambuhan dalam satu tahun 15-
17%, dalam empat tahun 50% dan dalam 10 tahun sekitar 75%. Apabila terdapat kasus
batu kambuh, hal ini akanmenaikkan angka morbiditas dan mortalitas sehingga
diperlukan biaya yang cukup besar.(4)
Prevalensi penyakit batu ginjal di perkirakan antara 1%-5%, dengan kemungkinan
menderita batu bervariasi tergantung pada umur,jenis kelamin,ras dan letak geografi.
Penyakit batu lebihsering terjadi pada laki-laki daripada wanita. Dikatakan bahwa batu
saluran kemih pada laki-laki 3-4 kali lebih banyak daripada wanita. Batu relatif lebih
jarang terjadi sebelum umur 20 tahun tetapi puncak insidens terjadi pada dekade empat
dan ke ke lima.(4)

2.5 Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran
urin, gangguan metabolik, ISK, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang masih belum
terungkap (idiopatik). (8)
Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang memermudah terjadiya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah factor intrinsik yaitu keadaan yang
berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari
lingkungan di sekitarnya. Faktor intrinsic itu antara lain 1) herediter, 2) umur, 3) jenis
kelamin. Faktor ekstrinsik diantaranya adalah: (8,10)
1) Geografi.
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang
lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone
20
belt(sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan hampir tidak
dijumpai penyakit batu saluran kemih
2) Iklim dan temperature
3) Asupan air
Asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi,
dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih
4) Diet
Diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit
batu saluran kemih
5) Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau
kurang aktifitas (sedentary life).

2.6 Patogenesis
Pembentukan batu saluran kemih memerlukan keadaan supersaturasi dalam
pembentukan batu. Inhibitor pembentuk batu dijumpai dalam air kemih
normal.Batukalsiumoksalatdenganinhibitorsitratdan glikoprotein.Beberapa
promotor(reaktan)dapatmemacupembentukan batusepertiasamurat,memacu
pembentukanbatukalsiumoksalat.Aksiinhibitordan reaktanbelumdiketahui sepenuhnya.
Ada dugaanproses ini berperan pada pembentukan awal atau
nukleasikristal,progresikristalatau agregasikristal.Penambahansitratdalam kompleks
kalsium dapatmencegah agregasi kristalkalsium oksalat danmungkin
dapatmengurangirisikoagregasikristaldalamsalurankemih. Secara pasti etiologi batu
saluran kemih belum diketahui dan sampai
sekarangbanyakteoridanfaktoryangberpengaruh untukterjadinyabatusaluran
kemih,yaitu:(6)
1) Teori Supersaturasi.
Supersaturasi air kemih dengan garam-garam pembentuk batu merupakan
dasar terpenting dan merupakan syarat terjadinya pengendapan. Apabila kelarutan
suatu produk tinggi dibandingkan titik endapannya maka terjadi supersaturasi
sehingga menimbulkan terbentuknya kristal dan pada akhirnya akan terbentuk
batu.

21
Supersaturasi dan kristalisasi dapat terjadi apabila ada penambahan suatu
bahan yang dapat mengkristal di dalam air dengan pH dan suhu tertentu yang
suatu saat akan terjadi kejenuhan dan terbentuklah kristal. Tingkat saturasi dalam
air kemih tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah bahan pembentuk batu yang larut,
tetapi juga oleh kekuatan ion, pembentukan kompleks dan pH air kemih. (6)

2) Teori Matriks
Di dalamairkemihterdapatproteinyangberasaldaripemecahanmitochondriasel
tubulus renalis yang berbentuk laba-laba. Kristal batu oksalat maupun kalsium
fosfatakanmenempel padaanyaman tersebut danberadadisela-sela anyaman
sehinggaterbentukbatu. (6)
3) Teori Penghambat Kristalisasi
Urine orang normal mengandung zat-zat penghambat pembentuk kristal.
Dikenal2 jenisinhibitoryaituorganikyang
seringterdapatadalahasamsitrat,nefrokalsindan tamma-horsefall glikoproteindan
jarang terdapat yaitu gliko-samin glikans, uropontin. Inhibitor anorganik yaitu
pirofosfat,magnesiumdanZinc.
Menurutpenelitianinhibitoryang palingkuat yaitusitrat,karenasitratakan
bereaksidengankalsiummembentuk
kalsiumsitratyanglarutdalamair.Magnesiummencegah terjadinyakristal
kalsiumoksalatdenganmengikatoksigenmenjadimagnesium oksalat.Inhibitor
mencegahterbentuknyakristalkalsiumoksalat,mencegahagregasidan mencegah
perlengketankristalkalsiumoksalatpada membrantubulus.(5)
4) Teori Nukleasi
Batu terbentuk didalam urine karena adanya inti batu (nukleus). Partikel-
partikel yang berada dalam larutan yang kelewat jenuh (supersaturated) nakan
mengendap didalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti batu
dapat berupa kristal atau benda asing di saluran kemih.
5) Teori Infeksi
Teori terbentuknya batu juga dapat terjadi karena adanya infeksi dari kuman
tertentu. Pengaruh infeksi pada pembentukan batu adalah teori terbentuknya batu
struvit dipengaruhi oleh pH air kemih > 7 dan terjadinya reaksi sintesis
ammonium dengan molekul magnesium dan fosfat sehingga terbentuk magnesium
ammonium fosfat (batu struvit) misalnya saja pada bakteri pemecah urea yang

22
menghasilkan urease. Bakteri yang menghasilkan urease yaitu Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.(7)
6) Teori Vaskuler
Padapenderitabatusalurankemihseringdidapatadanyapenyakithipertensidan
kadarkolesterol darahyangtinggi,makaStollermengajukan teorivaskuleruntuk
terjadinyabatusalurankemih.
Padapenderita hipertensidisebabkanalirandarahpadapapillaginjal
alirandarahberubahdari aliranlaminermenjaditurbulensi. Aliranturbulenini
berakibatpengendapanion-ionkalsiumpapilla(Ranalls
plaque)disebutjugaperkapuranginjalyangdapatberubahmenjadibatu.
Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah
akandisekresimelaluiglomerulusginjaldantercampurdidalamair kemih.Adanya
butiran kolesterol tersebut akan merangsang agregasi dengan kristal kalsium
oksalatdan kalsiumfosfatsehinggaterbentukbatu yangbermanifestasiklinis (teori
epistaksi). (7)

2.7 Jenis Batu Saluran Kemih


1) Batu Asam Urat
Lebihdari 15%batusalurankemihdengankomposisiasamurat.Pasienbiasanya
berusia60 tahun.Padapasienberusialebihmudabiasanyajugamenderita
kegemukan.Laki-lakilebihseringdaripadawanita.Batuasamuratdibentukhanya
olehasamurat.Dietmenjadi risikopentingterjadinya batutersebut. Dietdengan
tinggiproteindan purinsertaminumanberalkoholmeningkatkanekskresiasamurat
sehinggapHairkemihmenjadirendah.Sebanyak20-40%pasienpada
Goutakanmembentukbatu,oleh karenaitu
tingginyaasamuratyangberakibathiperurikosuria.(3)
2) Batu Kalsium
Batu ini paling banyak ditemui, yaitu kurang lebih 70-80% dari seluruh batu
saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat
atau campuran dari kedua unsur itu.Faktor terjadinya batu oksalat adalah
sebagi berikut:(5)

23
a) Hiperkalsiuri merupakan kenaikan kadar kalsium dalam urin yang melebihi 250-
300mg/24jam, disebabkan oleh peningkatan absorbsikalsium melalui usus,
gangguan reabsorbsi kalsium oleh ginjal, dan peningkatan reabsorbsi tulang
karena hiperparatiroid atau tumor paratiroid.
b) Hiperoksaluri merupakan peningkatan ekskresi oksalat melebihi 45 gram/hari,
keadaan ini banyak diderita oleh penderita yang mengalami kelainanusus karena
post operasi dan diet kaya oksalat, misalnya teh, kopi instant,minuman soft
drinks, kokoa, jeruk, sitrun, dan sayuran yang berwarna hijau terutama
bayam.
c) Hiperurikosuri merupakan kadar asam urat di dalam urin melebihi 850mg/24
jam. Asam urat yang berlebihan dalam urin bertindak sebagai inti batuterhadap
pembentukan batu kalsium oksalat. Sumber asam urat dalam urin berasal dari
makanan yang mengandung banyak purin maupun berasal darimetabolisme
endogen.
d) Hipositraturia merupakan sitrat berikatan dengan kalsium di dalam urin
sehingga kalsium tidak lagi terikat dengan oksalat maupun fosfat, karenanya
merupakan penghambat terjadinya batu tersebut. Kalsium sitratmudah larut
sehingga hancur dan dikeluarkan melalui urin.
e) Hipomagnesia, magnesium juga merupakan penghambat seperti halnyasitrat.
Penyebab tersering dari hipomagnesia adalah inflamasi usus yang diikuti
gangguan absorbsi. Penyebab tersering hipomagnesuria ialah penyakit inflamasi
usus (inflammatory bowel disease)yang diikuti dengangangguan malabsorbsi
3) Batu Struvit ( magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah: Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphyloccocus. Infeksisaluran
kemih terjadikarenatingginyakonsentrasi ammoniumdanpHairkemih>7.Padakondisi
tersebutkelarutan fosfatmenurunyang berakibat terjadinya batu struvit dan
kristalisasikarbonapatite,sehinggabatustruvitseringterjadibersamaan dengan
batukarbonat apatite.
Padabatustruvitvolumeair kemihyangbanyaksangat pentinguntuk membilas
24
bakteri danmenurunkansupersaturasi dari fosfat. Di samping pengobatan terhadap
infeksinya, membuat suasana air kemihmenjadi
asamdenganmethioninesangatpentinguntukmencegahkekambuhan.(5)
4) Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal.
Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%.
Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan
batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain
karena urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu
yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena
imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan
pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani
yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.(5)

2.8 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala penyakit BSK ditentukan oleh letaknya, besarnya dan morfologinya.
Walaupun demikian, penyakit ini mempunyai tanda umum yaitu hematuria, baik
hematuria nyata maupun mikroskopik. Selain itu, bila disertai infkesi saluran kemih,
dapat juga ditemukan kelainan endapan urin, bahkan mungkin demam atau tanda sistemik
lain. BSK dapat mengakibatkan kelainan patologik yang menunjukkan gejala dan tanda
akut, kronik atau sama sekali tidak ada keluhan dan gejala. (3)
a) Batu Pelvis Ginjal
Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana sehingga hanya
menempati bagian pelvis, tetapi dapat juga tumbuh mengikuti bentuk susunan
pelviokaliks sehingga bercabang menyerupai tanduk rusa atau terkadang batu
hanya terdapat pada kaliks. Batu disini dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai
dengan gejala berat. Umumnya gejalanya merupakan akibat obstruksi aliran
kemih dan infeksi.
Nyeri di daerah pinggang dapat dalam bentuk pegal akibat distensi parenkim
dan kapsul ginjal hingga kolik atau nyeri yang terus menerus dan hebat karena
adanya pionefrosis. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak
ada, sampai mungkin terabanya ginjal yang membesar akibat adanya
hidronefrosis. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau nyeri ketok pada daerah arkus
costae pada sisi ginjal yang terkena. Pasien juga mungkin mengeluhkan pernah
25
mengeluarkan batu kecil ketika berkemih. Batu ginjal yang terletak di pelvis dapat
menyebabkan terjadinya hidronefrosis sedangkan batu kaliks tidak memberikan
kelainan fisik.(3)
b) Batu Ureter
Ureter memiliki beberapa penyempitan yang memungkinkan batu ureter
berhenti. Karena peristaltis, akan terjadi kolik disertai perasaan mual dengan atau
tanpa muntah dengan nyeri alih yang khas ke perut bagian bawah sesuai dengan
lokasi batu dalam ureter. Pada pria nyeri dapat ditemukan sampai ke testis (batu
ureter proksimal) dan skrotum (batu ureter distal) sedangkan pada wanita rasa
nyeri dapat sampai ke vulva. Nyeri kolik akan berulang-ulang selama batu masih
menyumbat. Dapat ditemukan juga nyeri tekan atau nyeri ketok sudut
costovertebrae. (3)
Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih kemudian keluar
bersama kemih. Batu dapat juga sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa
nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Jika tetap tertinggal di ureter, akan
menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimptomatik.
Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului dengan serangan kolik. Jika
keadaan ini terus berlangsung, dapat berakibat hidronefrosis dengan atau tanpa
pielonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum. (3)
c) Batu Kandung Kemih
Karena batu menghalangi aliran kemih akibat penutupan leher kandung kemih,
aliran kemih yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes
disertai dengan nyeri. Pada saat sakit lalu kemudian pasien merubah posisi, suatu
saat air kemih dapat keluar kembali karena letak batu yang berpindah. Pada anak-
anak, nyeri menyebabkan anak menarik penisnya sehingga tampak penis yang
agak panjang. Bila selanjutnya terjadi infeksi sekunder, selain nyeri, sewaktu
miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik. Dapat pula ditemukan
hematuria.(3)
Kasus batu kandung kemih pada orang dewasa di negara barat sekitar
5% dan terutama diderita oleh pria, sedangkan pada anak-anak insidensinya
sekitar 2-3%. Beberapa faktor risiko terjadinya batu kandung kemih, obstruksi
infravesika, neurogenic bladder, infeksi saluran kemih (urea-splitting bacteria),
adanya benda asing, divertikel kandung kemih.

26
Di Indonesia diperkirakan insidensinya lebih tinggi dikarenakan adanya
beberapa daerah yang termasuk daerah stone belt dan masih banyaknya
kasus batu endemik yang disebabkan diet rendah protein, tinggi karbohidrat
dan dehidrasi kronik. Pada umumnya komposisi batu kandung kemih terdiri dari
batu infeksi (struvit), ammonium asam urat dan kalsium oksalat. Batu
kandung kemih sering ditemukan secara tidak sengaja pada penderita dengan
gejala obstruktif dan iriatif saat berkemih. Tidak jarang penderita datang
dengan keluhan disuria, nyeri suprapubik, hematuria.(9)
d) Batu Prostat
Pada umumnya batu prostat juga berasal dari kemih yang secara retrograde
terdorong ke dalam saluran prostat dan mengendap yang akhirnya menjadi batu
yang kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala sama sekali karena
tidak menyebabkan gangguan pasase kemih. (3)
e) Batu Uretra
Batu uretra pada umumnya berasal dari ureter atau kandung kemih yang oleh
aliran kemih sewaktu miksi terbawa ke uretra, tetapi menyangkut pada tempat
yang agak lebar. Pada pria biasanya ditemukan pada uretra pars prostatika, bagian
permulaan pars bulbosa dan pada fossa navikular. Gejala yang ditimbulkan
umumnya miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes serta nyeri. Penyulitnya dapat
berupa terjadinya diverticulum, abses, fistel proksimal dan uremia karena
obstruksi urin.(3)

2.9 Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis, perlu anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis perlu ditanyakan seperti intake cairan, diet,
obat-obatan (alkali, analgesic, vitamin D, kemoterapi), immobilisasi yang lama, riwayat
penyakit gout serta riwayat pernah mengeluarkan batu. (3)
Pada pemeriksaan laboratorium, perlu diperiksa urin untuk menunjang adanya batu di
saluran kemih, mengetahui fungsi ginjal dan menentukan sebab terjadinya batu.(6)
a) Darah
- Hemoglobin, akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis
- Leukosit, akan terjadi leukositosis jika terdapat infeksi
- Ureum dan kreatinin utnuk mengetahui fungsi ginjal
- Kadar Ca, fosfor serta asam urat dalam darah.
27
b) Urin
- pH > 7,6 biasanya ditemukan kuman urea splitting organisme yang dapat
membentuk batu magnesium ammonium fosfat.
- pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
- Eritrosit dan leukosit pada urin
- Biakan urin
- Ekskresi Ca, fosfor, asam urat urin dalam 24 jam

Secara radiologi, batu dapat radioopak atau radiolusen sehingga dapat diduga jenis
batu. Batu radiolusen pada umumnya berasal dari asam urat murni. Urutan batu menurut
densitasnya dari opak hingga lusen adalah kalsium fosfat, kalsium oksalat, magnesium
ammonium fosfat, sistin, asam urat dan xantin. Pada pemeriksaan Foto polos abdomen,
dapat ditemukan batu radioopak kecuali pada batu yang terletak di depan bayangan
tulang. Foto BNO-IVP berguna untuk melihat lokasi batu serta untuk menilai apakah
terdapat bendungan pada saluran kemih atau tidak. Foto BNO-IVP juga dapat
memperlihatkan batu radiolusen karena dengan bantuan kontras akan tampak defek
pengisian pada tempat batu sehingga memberi gambaran pada daerah batu yang kosong.
Bila fungsi ginjal sudah menurun, kontras tidak muncul, sehingga diperlukan
pemeriksaan lanjutan yaitu pielografi retrograde yang dilaksanakan pemasangan kateter
ureter melalui sistoskop pada ureter ginjal untuk memasukkan kontras. (3)

Pemeriksaan renogram berguna untuk menentukan faal kedua ginjal secara terpisah
pada batu ginjal bilateral atau bila kedua ureter tersumbat total. Cara ini dipakai untuk
memastikan ginjal yang masih mempunyai sisa faal yang cukup sebagai dasar untuk
melakukan tindak bedah pada ginjal yang sakit. (3)

Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan non-invasif yang dapat melihat


semua jenis batu. Selain itu dapat ditentukan ruang dan lumen saluran kemih.
Pemeriksaan ini juga dipakai untuk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk
mencegah tertinggalnya batu.(3)

2.10 Diagnosis Banding


Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut misalnya
distensi usus dan pionefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai terjadi kolik

28
ureter maupun ginjal, khususnya bagian kanan, perlu diperimbangkan kemungkinan kolik
saluran cerna, kandung empedu atau appendicitis akut. Pada perempuan perlu
dipertimbangkan kemungkinan adneksitis. (3)
Bila ditemukan hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi
jika ditemukan hematuria tanpa nyeri. Batu yang bertahun-tahun juga dapat menyebabkan
terjadinya keganasan yang umumnya karsinoma epidermoid akibat rangsangan dan
inflamasi.
Pada batu ginjal dengan hidronefrosis, perlu dipertimbangkan kemungkinan tumor
ginjal mulai dari jenis ginjal polikistik hingga tumor Grawitz. Pada batu ureter, terutama
batu radiolusen apalagi jika disertai dengan hematuria tanpa kolik, perlu dipertimbangkan
tumor ureter.
Dugaan batu kandung kemih juga perlu dibandingkan dengan kemungkinan tumor
kandung kemih, terutama bila batu terdapat dari jenis radiolusen. Batu prostat pada
umumnya tidak sulit untuk didiagnosis karena gambaran radiologiknya khas. Akan tetapi
pada pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan adanya keganasan terutama bila
terdapat batu yang cukup banyak sehingga teraba seperti karsinoma prostat. (3)

2.11 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan
batu saja tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling
sedikit disertai dengan terapi pencegahan. Bila batu tidak mengakibatkan gangguan
fungsi ginjal, batu tersebut tidak perlu diangkat, apalagi misalnya batu ureter, karena
diharapkan batu dapat keluar sendiri. Indikasi pengeluaran batu saluran kemih yaitu jika
terdapat obstruksi saluran kemih, infeksi, nyeri yang menetap atau berulang-ulang, serta
batu metabolic yang tumbuh cepat.(3)
a) Terapi Medis dan Simptomatik
Terapi medis batu saluran kemih berusaha mengeluarkan batu atau melarutkan
batu. Pengobatan simptomatik bertujuan untuk mengurangi nyeri kolik dengan
simpatolitik. Untuk batu ureter, diharapkan dapat keluar dengan sendirinya
dengan memberikan minum berlebihan disertai diuretic. Dengan produksi air
kemih yang berlebihan diharapkan dapat mendorong dan mengeluarkan batu.(3)
b) Pelarutan

29
Jenis batu yang dapat dilarutkan adalah batu dari jenis asam urat. Batu asam
urat akan terjadi pada keadaan pH air kemih yang asam sehingga dengan
pemberian bikarbonat natrikus, diharapkan batu asam urat dapat dilarutkan. Dapat
pula dibantu dengan pemberian Alupurinol.
Batu struvit tidak dapat dilarutkan namun dapat dicegah pembesarannya jika
diberikan pengobatan dengan pengasaman kemih dan pemberian antiurease. Bila
terdapat kuman, harus dibasmi. Akan tetapi infeksi pada urolitiasis sukar dibasmi
karena kuman berada di dalam batu yang tidak dapat dicapai oleh antibiotic.
Solution G merupakan obat yang dapat diberikan ke batu di kandung kemih
tetapi biasanya penatalaksanaannya sulit. Dapat juga dipakai obat hemiasidrin
untuk batu ginjal dengan cara irigasi tetapi hasilnya kurang memuaskan kecuali
untuk batu sisa pascabedah yang dapat diberikan melalui nefrostomi yang
terpasang. Kemungkinan penyulit dengan pengobatan seperti ini adalah
intoksikasi atau infeksi yang lebih berat. (3)
c) Litotripsi
Litotripsi atau pemecahan batu dapat dilakukan dengan bantuan endoskopi.
Untuk batu kandung kemih, batu dapat dipecahkan dengan menggunakan
litotriptor secara mekanis melalui sistoskop atau dengan menggunakan gelombang
elektrohidrolik atau ultrasonic.
Untuk batu ureter, digunakan ureteroskop dan batu dapat dihancurkan
menggunakan gelombang elektrohidrolik, ultrasonic atau sinar laser. Untuk batu
ginjal dalap dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk membawa
transduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi
perkutan. (3)
Dapat pula dipakai gelombang kejut di luar tubuh yang sering disebut ESWL
(Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang tidak menimbulkan perlukaan pada
tubuh sama sekali. Gelombang kejut dialirkan melalui air ke tubuh dan dipusatkan
di batu yang akan dipecahkan. Batu akan hancur dan keluar bersama air kemih.
Terapi ini dapat dilakukan pada setiap batu, tetapi bila terdapat kelainan saluran
kemih, misalnya stenosis yang akan menghalangi keluarnya batu yang telah
dipecahkan, tindakan ini tidak akan bermanfaat. Batu dapat dipastikan letaknya
dengan bantuan sinar rontgen atau ultrasonografi yang terdapat pada setiap jenis
alat ESWL. Kekurangan tindakan ini adalah tidak dapat dipastikannya ukuran
batu pasca tindakan serta batu membutuhkan waktu untuk keluar melalui saluran
30
kemih. Pasca tindakan juga perlu diawasi dari segi kemungkinan terjadinya
infeksi atau kerusakan jaringan yang dapat mengakibatkan gejala sisa.
d) Pembedahan
Terapi bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor, alat ESWL atau bila
cara non bedah tidak berhasil. Pada batu ginjal, perlu dilakukan pembedahan
melalui nefrolitotomi bila terdapat hidrokaliks. Batu pelvis perlu dibedah bila
menyebabkan hidronefrosis, infeksi atau menyebabkan nyeri yang hebat. Pada
umumnya, batu pelvis yang berbentuk seperti tanduk rusa menyebabkan
kerusakan ginjal. Operasi untuk batu pielum yang sederhana disebut pielolitotomi
sedang, sedangkan untuk yang berbentuk seperti tanduk rusa disebut pielolitotomi
yang diperluas. (3)
Bila batu ureter menimbulkan gangguan dan komplikasi pada ginjal, nyeri
yang tidak tertahankan serta penanganan medis tidak berhasil, dapat dilakukan
tindakan ureterolitotomi. Batu kandung kemih selalu menyebabkan gangguan
miksi yang hebat sehingga perlu dikeluarkan. Litotriptor hanya dapat
memecahkan batu berukuran <3cm. batu yang berukuran lebih besar dari itu dapat
ditangani dengan ESWL atau sistolitotomi melalui sayatan Pfannenstiel.
Batu uretra yang berukuran <1cm dapat keluar sendiri atau dengan bantuan
pemasangan kateter uretra selama 3 hari ; batu akan terbawa ke luar dengan aliran
kemih yang pertama. Batu uretra dapat dikeluarkan melalui tindakan uretratomi
eksterna. Komplikasi yang dapat terjadi pasca tindakan adalah striktur uretra. Batu
prostat pada umumnya tidak membutuhkan tindakan bedah.

2.12 Komplikasi

31
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi, infeksi saluran
kemih serta iritasi berkepanjangan pada urotelium yang dapat menyebabkan tumbuhnya
keganasan yang sering berupa karsinoma epidermoid. Manifestasi obstruksi pada saluran
kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain, sedangkan saluran
kemih bagian atas dapat menimbulkan hidroureter atau hidronefrosis kemudian berlanjut
dengan atau tanpa pionefrosis yang beraakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena.
Bila terjadi pada kedua ginjal, akan timbul uremia karena gagal ginjal total. Hal yang
sama dapat juga terjadi akibat batu kandung kemih, lebih-lebih jika batu tersebut
membesar sehingga juga mengganggu aliran kemih dari kedua orifisium ureter. Khusus
pada batu uretra dapat terjadi diverticulum uretra. Bila obstruksi berlangsung lama, dapat
terjadi ekstravasasi kemih dan terbentuklah fistula yang terletak proksimal dari batu
ureter. (3)

2.13 Pencegahan
Untuk mencegah pembentukan Kristal fosfat ammonium magnesium, semua batu
harus dihilangkan karena kuman B. proteus bukan saja berada di dalam kemih tetapi juga
terdapat di dalam batu yang tidak pernah dapat dicapai dengan antibiotik. Selain itu,

32
rekonstruksi anatomi saluran kemih amat penting karena infeksi rekuren antara lain
disebabkan oleh aliran air kemih yang tidak sempurna. (3)
Kristalisasi asam urat sangat bergantung pada pH kemih. Bila pH kemih diatas 6,2,
tidak akan terbentuk kristal asam urat. Pencegahan pengeluaran asam urat ke dalam
saluran kemih dapat dicegah dengan pengaturan diet dan diberi pengobatan.
Ekskresi oksalat di dalam saluran kemih dapat dicegah dengan pengaturan diet,
walaupun oksalat sebagian besar bersumber dari metabolism endogen. Bahan makanan
yang paling banyak mengandung oksalat adalah bayam, teh, kopi dan coklat. Untuk
mengurangi ekskresi kalsium pada kemih dapat dicegah sesuai dengan penyebabnya.
Pada hiperparatiroidisme dibutuhkan koreksi, sedangkan pada gangguan absorpsi selain
mengurangi diet yang mengandung kalsium, juga dapat diberikan bahan yang mencegah
absorpsi kalsium dari usus.(3)

DAFTAR PUSTAKA

1. Snell, Richard S. 2012. Clinical Anatomy 9th edition. Lippincot Williams & Wilkins.

33
2. Sheerwood, Lauralee. 2010. Human Physiology : From Cells to Systems 7th edition.
Canada : Cengage Learning.
3. De Jong, Wim. 2004. Buku Ajar ilmu Bedah. Jakarta : EGC
4. Rifki Muslim. 2004.Pengaruh Hidroklorotiazid dan Natrium Bikarbonat terhadap
Risiko Kambuhan Batu Kalsium Oksalat Saluran Kemih Bagian atas. Disertasi.
5. Sjabani, Mohammad. 2009. Batu Saluran Kemih dalam Buku Ajar ilmu penyakit
Dalam Jilid II. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
6. Manuputty, David. 2010. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
7. Hall PM. 2009. Kidney stones: formation, treatment, and prevention. Journal
Cleveland Clinic.
8. Purnomo, B. B. 2007. Dasar-dasar Urologi. Malang : Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
9. Taher A. 2007.Guidelines Penatalaksanaan Penyakit Batu Saluran Kemih. Jakarta :
Ikatan Ahli Urologi Indonesia.
10. Pearle MS, Lotan Y. 2007.Urinary Lithiasis and Endourology. In: Wein AJ, Kavoussi
LR, Novick AC, Partin AW, Peters CA, editors. Campbell-Walsh Urology. 9th ed.
Philadelphia: WB Saunders Company

34