Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

KELUARGA BERENCANA (KB) IMPLANT

I. DEFINISI
Implan adalah kontrasepsi jangka panjang bersifat reversibel berisi hanya progestin
saja (progestin-only) yang melepaskan sejumlah kecil progestin secara terus-
menerus ke dalam aliran darah. (9)
Kontrasepsi implan yang beredar di Indonesia antara lain Norplant, Jadena, dan
Implanon.
1. Norplant terdiri dari enam batang silastik yang berisi levonorgestrel masing-
masing 36 mg. Masa kerjanya 5 tahun.
2. Jadena terdiri dari dua batang yang masing-masing mengandung 75 mg
levonorgestrel. Masa kerjanya 5 tahun.
3. Implanon adalah implan tunggal berisi etonogestrel 68 mg dibungkus dalam
sebuah membran etilen vinil asetat. Masa kerjanya 3 tahun. (7,10)

II. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


a. Indikasi.
Kontrasepsi implan merupakan pilihan yang baik untuk wanita pada usia reproduksi
yang aktif secara seksual dan menginginkan kontrasepsi jangka panjang yang
kontinu. Implan dipertimbangkan pada wanita yang: (5,11)
1. Ingin menunda kehamilan selanjutnya dalam 2 sampai 3 tahun.
2. Menginginkan metode kontrasepsi jangka panjang dengan efikasi yang tinggi.
3. Mengalami efek samping terkait esterogen serius atau minor dengan
kontrasepsi esterogen-progestin.
4. Mengalami kesulitan mengingat untuk mengkonsumsi pil setiap hari, memiliki
kontraindikasi atau kesulitan dengan penggunaan AKDR, atau menginginkan
metode kontrasepsi yang tidak terkait dengan koitus.
5. Tidak ingin hamil lagi, tetapi belum siap untuk melakukan sterilisasi
permanen.
6. Memiliki riwayat anemia dengan perdarahan menstrual yang berat.
7. Cenderung untuk menyusui selama setahun atau dua tahun.
8. Memiliki penyakit kronis, yang kesehatannya dapat terancam dengan
kehamilan.

b. Kontraindikasi
Penggunaan implan merupakan kontraindikasi absolut pada wanita dengan:(6,11)
1. Kehamilan atau disangka hamil
2. Penyakit tromboflebitis atau tromboemboli
3. Perdarahan genital yang belum terdiagnosis.
Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan perubahan pola perdarahan.
Apabila terdapat perdarahan genital yang belum terdiagnosis harus diterapi terlebih
dahulu sebelum pemasangan implan.
4. Penyakit hati akut.

1
5. Tumor hati yang jinak atau ganas.
Kontrasepsi hormonal dimetabolisme di hati sehingga gangguan fungsi hati pada
wanita dengan penyakit hati akut maupun gangguan hati berupa tumor jinak atau
ganas akan menyebabkan hormon yang digunakan tidak dapat dimetabolisme
dengan baik.
6. Kanker payudara yang dicurigai atau telah diketahui.
Kanker payudara terkait dengan hormon reproduksi wanita sehingga penderita
kanker payudara, baik yang dicurigai maupun yang telah diketahui, sebaiknya tidak
menggunakan kontrasepsi hormonal.
Penggunaan implan merupakan kontraindikasi relatif pada wanita dengan:(6,11)
1. Perokok berat (lebih 15 batang per hari) pada wanita berusia lebih 35 tahun
2. Riwayat kehamilan ektopik
3. Diabetes mellitus
4. Hiperkolesterolemia
5. Hipertensi
6. Riwayat penyakit jantung. Contohnya : infark miokard, penyakit arteri
koroner, tromboembolik, dan pasien dengan katup jantung artifisial
7. Penyakit kandung kemih
8. Penyakit kronis ( immunocompromised)

Implan tidak dikontraindikasikan pada situasi berikut, tetapi metode lain mungkin
lebih disarankan: (11)
1. Acne berat.
2. Sakit kepala berat.
3. Depresi berat.
4. Penggunaan secara bersama-sama obat-obat yang menginduksi enzim hati
mikrosomal, di antaranya Carbamazepine, Felbamate, Nevirapine, Phenobarbital,
Phenytoin, Rifampicin, Griseofulvin, Troglitazone. Obat-obat ini tidak
direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko kehamilan akibat turunnya
kadar progestin dalam darah.

III. EFEKTIFITAS
Kontrasepsi implan memberikan kontrol kehamilan yang sangat efektif. Studi
tentang Norplant pada 11 negara, dengan 12.133 akseptor wanita sebagai subjek,
angka kehamilan adalah 0,2 kehamilan dari 100 wanita per tahun penggunaan.
Salah satu kehamilan yang terjadi selama evaluasi ini adalah pada saat insersi
implan. Jika insersi selama fase luteal ini dikecualikan dari analisis ini maka angka
kehamilannya menjadi 0,01 kehamilan dari 100 wanita per tahun. Pada remaja,
implan Norplant memberikan poteksi yang lebih baik dalam menghadapi
kehamilan yang tidak diharapkan, dibandingkan dengan kontrasepsi oral, dan
faktor yang penting adalah angka keberlanjutan dengan Norplant. Efikasi
kontrasepsi dapat terjaga sampai 7 tahun penggunaan. (11)
Tidak ada pembatasan berat badan untuk akseptor Norplant, tetapi wanita
yang gemuk (lebih dari 70 kg) dapat mengalami angka kehamilan yang sedikit

2
lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang lebih kurus. Namun, pada beberapa
tahun terakhir angka kehamilan pada wanita gemuk yang menggunakan Norplant
lebih rendah daripada mereka yang menggunakan kontrasepsi oral. Perbedaan
angka kehamilan berdasarkan berat badan mungkin disebabkan oleh efek dilusional
akibat ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kadar serum
levonorgestrel yang rendah dan berkelanjutan tersebut. Wanita yang gemuk
sebaiknya tidak mengandalkan Norplant pada batasan 5 tahun tersebut. Pada
wanita yang lebih langsing, durasi efikasi Norplant dapat lebih panjang dari 5
tahun. Pada beberpa percobaan lanjutan, tidak didapatkan kehamilan sampai pada
tahun ketujuh penggunaan. (11)
Efikasi kontrasepsi Implanon melebihi Norplant dan sterilisasi. Jarang sekali
terjadi kehamilan, menghasilkan Pearl Index sekitar 0,01 kehamilan dari 100
wanita per tahun penggunaan. Pada lebih dari 70.000 siklus, tidak ada kehamilan
yang dilaporkan akibat inhibisi total ovulasi sampai ovulasi diobservasi pada 6
bulan terakhir pada periode 3 tahun. Tidak ada data tersedia terkait pengaruh berat
badan pada efikasi Implanon. (11)

IV. CARA KERJA


Dengan penggunaan implan LNG, kehamilan dicegah melalui mekanisme
kombinasi sebagai berikut. Mekanisme primernya adalah: (6)
1. Memproduksi mukus serviks yang tebal yang mencegah penetrasi
sperma.
2. Menghambat ovulasi, pada kurang lebih 50% siklus menstruasi.
Mekanisme sekunder, yang dapat mendukung kerja dari mekanisme primer
tersebut antara lain: (6)
1. Mengurangi produksi progesteron alami oleh ovarium selama fase luteal
bahkan pada siklus-siklus ketika ovulasi terjadi.
2. Menekan pertumbuhan endometrium (hypoplasia).
Kadar pelepasan kontrasepsi implan ditentukan oleh area permukaan total dan
densitas implan yang mengandung progestin. Progestin berdifusi dari dalam implan
menuju ke jaringan sekitarnya melalui sistem sirkulasi dan didistribusikan secara
sistemik, mencegah kadar inisiasi yang tinggi pada sirkulasi seperti pada steroid
oral atau injeksi. Dalam 24 jam setelah insersi Norplant, konsentrasi levonorgestrel
dalam plasma menjadi sekitar 0,4 sampai 0,5 ng/mL. Cukup tinggi untuk
mencegah konsepsi. Namun, sebuah studi tentang perubahan mukus serviks
mengindikasikan bahwa sebuah metode backup harus digunakan 3 hari setelah
insersi. (11)
Kapsul Norplant melepaskan sekitar 86 mcg levonorgestrel per 24 jam selama 12
bulan pertama. Kadar ini berkurang secara bertahap menjadi 50 mcg per hari pada
9 bulan berikutnya, dan menjadi 30 mcg per hari pada sisa waktu berikutnya.
Hormon sejumlah 86 mcg yang dilepaskan oleh implan selama beberapa bulan
pertama akan tersebut sama dengan penggunaan kontrasepsi progestin-only minipil

3
levonorgestrel oral harian, dan 25 sampai 50 % dosis tersebut didapatkan melalui
kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah. (11)
Berat badan mempengaruhi kadar levonorgestrel yang bersirkulasi. Semakin tinggi
berat badan seseorang, semakin rendah kadar levonorgestrelnya. Pengurangan
terbesar terjadi pada wanita dengan berat badan lebih dari 70 kg, tetapi bahkan
pada wanita gemuk, tingkat pelepasannya cukup tinggi untuk mencegah kehamilan,
paling tidak sama reliabilitasnya dengan kontrasepsi oral. Konsentrasi plasma rata-
rata di bawah 0,2 ng/mL dihubungkan dengan peningkatan angka kehamilan.
Setelah 6 bulan penggunaan kadarnya adalah sekitar 0,35 ng/mL, pada 2,5 tahun
kadarnya menjadi 0,25 sampai 0,35 ng/mL. Sampai pada penggunaan tahun ke-8,
kadar reratanya tetap di atas 0,25 ng/mL. (11)
Kadar levonorgestrel dapat pula dipengaruhi oleh kadar sirkulasi sex hormone-
binding globulin (SHBG). Levonorgestrel memiliki afinitas yang tinggi terhadap
SHBG. Pada minggu setelah insersi Norplant, kadar SHBG berkurang secara cepat
kemudian kembali menjadi kira-kira setengah dari kadar 1 tahun sebelum insersi.
Kadar SHBG ini tidak seragam dan dapat diperhitungkan pada beberapa variasi
individu dalam hal konsentrasi levonorgerstrel plasma. (11)
Mekanisme konsepsi yang dicegah oleh Norplant hanya dapat dijelaskan sebagian.
Terdapat 3 mode aksi yang mungkin, yang sama dengan yang diatribusikan pada
efek kontrasepsi pada mini pil progestin-only.(8,11)
1. Kadar konstan levonorgestrel memiliki efek berkepanjangan terhadap
mukosa serviks. Mukus menjadi tebal dan jumlahnya berkurang, membentuk
pelindung dari penetrasi sperma.
2. Levonorgestrel menekan hipotalamus dan pituitari, serta lonjakan hormon
LH yang dibutuhkan untuk ovulasi. Sebagaimana yang ditentukan oleh kadar
progesteron pada banyak akseptor selama beberapa tahun, kira-kira sepertiga dari
keseluruhan siklus adalah ovulatori. Selama 2 tahun pertama penggunaan, hanya
sekitar 10 % wanita ovulatori, tetapi dalam penggunaan lebih dari 5 tahun terdapat
lebih dari 50 persen. Pada siklus-siklus yang ovulatori tersebut, terdapat insidensi
insufisiensi luteal yang tinggi.
3. Levonorgestrel menekan maturasi siklik akibat estradiol pada endometrium
dan selanjutnya menyebabkan atrofi. Perubahan tersebut dapat mencegah
implantasi pada saat terjadi fertilisasi. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan
bahwa fertilisasi dapat dideteksi pada akseptor Norplant.
Implanon mencegah ovulasi selama periode 3 tahun, dengan perhitungan semua
efek kontrasepsi. Namun, perkembangan folikuler dapat terjadi, menghindarkan
masalah klinis signifikan hipoesterogenemia, dan pada 6 bulan terakhir pada
periode 3 tahun, terkadang terdapat ovulasi. Sementara dengan Norplant efek
progestasional diproduksi pada mukus servikal dan endometrium. Angka
kegagalan yang besar tidak didapatkan pada individu yang gemuk. (11)

V. PENGGUNAAN
Insersi dan pencabutan implan memerlukan prosedur bedah minor di bawah
pengaruh anestetik lokal. Implan idealnya diinsersikan pada hari

4
pertama sampai kelima pada siklus menstruasi normal. Ada pula yang mengatakan
diinsersikan pada hari ke 5 sampai ke 7 setelah menstruasi dimulai untuk
mencegah terjadinya ovulasi. Apabila amenore, hal yang harus dipastikan adalah
bahwa calon akseptor tidak sedang hamil. (10,12)
Pemasangan:
Persiapan alat non-steril: (6)
1. Meja periksa
2. Penyanggah tangan
3. Sabun untuk mencuci tangan
4. Pulpen atau marker
5. Template
6. Implan dalam kemasan
7. Cairan antiseptik
8. Anestetik lokal
Alat steril: (6)
1. Doek steril
2. Tiga buah mangkuk steril (untuk cairan antiseptik, kapas alkohol, dan batang
implan)
3. Handschoen steril
4. Spuit 5 atau 10 cc dengan needle 22G
5. Trokar
6. Scalpel dengan blade
7. Forsep jaringan
8. Plester
9. Kain kasa
10. Epinefrin untuk keadaan emergensi (syok anafilaktik)
Prosedur Pemasangan: (6)
1. Pastikan pasien membersihkan lengan yang akan dipasangi implan dengan air
dan sabun, dan pastikan tidak ada sisa sabun.
2. Posisikan pasien di meja dalam posisi nyaman dengan lengan tersanggah
lurus atau bengkok.
3. Pasang kain bersih dan kering di bawah lengan pasien.
4. Tentukan daerah optimal untuk insersi yaitu sekitar 8 cm di atas lipatan siku.
Gunakan template untuk membuat pola dan tandai daerah yang akan di pasangi
batang implan serta perkiraan ujung atas kedua implan tersebut di kulit dengan
spidol (marker).
5. Siapkan tempat peralatan dan buka kotak instrumen steril atau DTT tanpa
menyentuh instrumen tersebut.
6. Bukalah kemasan steril yang berisi 2 batang implan dan jatuhkan batang
implan tersebut ke dalam wadah mangkuk steril atau DTT.
7. Cuci tangan dengan sabun dan air, kemudian keringkan.
8. Kenakan sarung tangan steril atau DTT pada kedua tangan.
9. Susun alat sehingga mudah untuk diambil.

5
10. Berikan cairan antiseptik pada daerah yang akan diinsisi dengan menggunakan
kasa yang dijepit dengan forsep. Usapkan mulai dari daerah yang akan diinsisi dan
gerakkan meluas secara sirkuler hingga 8 hingga 13 cm. Setelah itu biarkan
mengering sekitar 1 sampai 2 menit. Ingat untuk tidak menyentuh daerah yang
belum didekontaminasi.
11. Jika tersedia, pasangkan doek steril dengan lubang di tengahnya pada daerah
yang akan diinsersikan. Lubang tersebut harus cukup besar untuk menampilkan
seluruh daerah dimana batang implan akan diinsersikan.
12. Setelah memastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap anestetik lokal, isilah
spoit dengan 2 cc anestetik lokal (tanpa epinefrin).
13. Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada daerah insisi. Injeksikan sejumlah
kecil anestetik lokal pada daerah tersebut sampai menggembung. Kemudian tanpa
mencabut jarum, masukkan sekitar 5 cm lagi ke arah pertengahan daerah antara
yang akan dipasangi implan.
14. Arahkan skalpel sekitar 45 dan buatlah insisi kecil dangkal berukuran sekitar
2 mm untuk sekedar menembus kulit. Jangan membuat insisi yang lebar atau
dalam. Jika trokar yang akan digunakan masih baru, tidak perlu dilakukan insisi.
15. Masukkan trokar dengan ujung bevel menghadap ke atas. Terdapat tiga tanda
pada trokar, tanda yang berada di tengah tidak digunakan untuk insersi implan.
Tanda yang paling dekat dengan hub menandakan seberapa jauh trokar harus
dimasukkan ke bawah kulit sebelum implan dimasukkan. Tanda yang paling dekat
dengan ujung trokar menandakan seberapa jauh trokar bisa ditarik ketika akan
memasukkan implan pada lokasi berikutnya.
16. Insersikan trokar dan plunger-nya ke bawah kulit melalui lubang insisi yang
telah dibuat sebelumnya dengan ujung bevel menghadap ke atas. Masukkan trokar
ke dalam, hentikan segera setelah ujungnya masuk ke dalam kulit (2-3 mm dari
ujung bevel). Jangan pernah memaksa trokar masuk. Jika terdapat tahanan, arahkan
pada sudut lain.
17. Untuk menjaga batang implan tetap pada bidang superfisial, tahan trokar ke
atas ketika mendorong trokar di bawah kulit. Dengan perlahan dorong trokar dan
plunger-nya menuju tanda yang telah dibuat pada kulit. Trokar tersebut harus
cukup dangkal sehingga terlihat menonjol dan bisa diraba di bawah kulit.
18. Ketika trokar sudah sampai pada tanda yang paling dekat dengan hub,
lepaskan plunger dari trokar.
19. Masukkan batang implan pertama melalui trokar. Gunakan tangan atau forsep
untuk memasukkan implan, sementara tangan yang satu lagi tetap memegang
trokar.
20. Gunakan plunger untuk mendorong implan masuk dengan perlahan sampai
terasa tahanan.
21. Tahan plunger pada posisinya, kemudian tarik trokar sampai pada tanda yang
paling dekat dengan bevel tadi sampai pada bekas insisi (trokar tidak keluar dari
kulit).
22. Pastikan batang implan pertama telah bebas dari ujung trokar dengan meraba
ujung implan setelah trokar ditarik ke arah plunger.

6
23. Tanpa mencabut trokar dari kulit, arahkan trokar masuk ke arah satu lagi untuk
pemasangan batang implan berikutnya.
24. Palpasi ujung batang implan yang mengarah ke bahu untuk memastikan
implan terpasang dengan benar.
25. Untuk meminimalkan risiko ekspulsi spontan dari batang implan, palpasi
daerah insisi untuk memastikan ujung implan berjarak sekitar 5 mm dari tempat
insisi. Ujung-ujung batang implan yang berdekatan sebaiknya berjarak sekitar 2-3
mm.
26. Dengan hati-hati tarik trokar dan tekan bekas insisi dengan kasa sekitar satu
menit untuk menghentikan perdarahan. Lepaskan doek, dan bersihkan daerah
sekitar lokasi insersi dengan kapas cairan DTT atau alkohol.

Langkah pemasangan Implanon: (13)


1. Pemasangan Implanon harus dalam kondisi aseptik oleh petugas kesehatan
yang familiar dengan prosedurnya.
2. Insersi Implanon adalah dengan menggunakan aplikator khusus. Penggunaan
aplikator ini berbeda dengan pemasangan klasik. Penarikan dari aplikator yang
dibongkar dan komponen-komponen lainnya tertera sepertti di bawah ini.
3. Prosedur yang digunakan untuk insersi Implanon adalah kebalikan dari
memberi injeksi. Ketika memasukkan Implanon, obturatornya harus tetap terfiksasi
ketika kanula ditarik dari kulit.
4. Persilakan pasien untuk berbaring telentang dengan tangan yang tidak
dominan terbentang dan siku dibengkokkan.
5. Untuk meminimalkan risiko kerusakan vaskular atau neural, Implanon harus
diinsersikan di sebelah medial lengan yang tidak dominan.
6. Implanon harus dimasukkan secara subdermal, tepat dibawah kulit. Jika
Implanon dimasukkan terlalu dalam, dapat menyebabkan terjadinya kerusakan
vaskular atau neural. Juga akan mempersulit dalam melokalisasi dan melepasnya
kemudian.
7. Tandai daerah insersi.
8. Bersihkan daerah tersebut dengan antiseptik.
9. Anestesi dengan anestetik semprot atau dengan 2 cc lidokain 1% yang
dimasukkan sepanjang kanal insersi.
10. Buka kemasan Implanon.
11. Sebelum membuka pelindung jarum, pastikan keberadaan batang implan yang
terlihat seperti benda putih di dalam ujung jarum. Jika implan tidak terlihat, ketuk
ujung atas pelindung jarum pada permukaan yang rata agar implannya turun ke
ujung jarum. Begitu pula sebaliknya jika implan keluar terlalu jauh dari ujung
jarum, ketukkan pelindung jarum agar implan berada pada ujung jarum. Setelah
itu, pelingung jarum dapat dilepaskan.
12. Implan dapat jatuh sewaktu-waktu dari aplikatornya, karenanya posisikan
aplikator dengan posisi menghadap ke atas sampai pada waktu akan melakukan
insersi.
13. Regangkan kulit di sekitar daerah insersi dengan jempol dan telunjuk.

7
14. Masukkan ujung jarum dengan sudut sekitar 20.
15. Lepaskan regangan kulit.
16. Turunkan aplikator sampai pada posisi hampir horisontal.
17. Ketika aplikator tersebut tampak mengangkat kulit, dorong jarum sampai pada
panjang maksimalnya. Jangan gunakan tenaga yang berlebihan. Jarum tersebut
harus sejajar di bawah kulit untuk memastikan Implanon diinsersi tepat dibawah
kulit.
18. Biarkan aplikator berada sejejar dengan kulit. Jika implan ditempatkan terlalu
dalam, dapat menyebabkan parestesi dan migrasi implan sehingga pencabutan
implan akan menjadi lebih sulit.

19. Patahkan segel aplikator.


20. Putar obturator 90
21. Fiksasi obturator dengan satu tangan arah sejajar dengan lengan, sementara
tangan yang lainnya dengan pelan menarik kanula (jarum) lepas dari lengan.
Jangan menekan obturator.
22. Pastikan implan sudah tidak ada di ujung jarum. Setelah retraksi kanula, ujung
bergelombang dari obturator akan terlihat.
23. Selalu pastikan keberadaan implan dengan palpasi dan biarkan pasien meraba
implan yang sudah diinsersi tersebut.

Setelah melahirkan, implan dapat diinsersikan sebelum 21 hari postpartum. Jika


diinsersikan lebih dari 21 hari postpartum, akseptor implan disarankan untuk
menggunakan kondom atau tidak berhubungan selama 7 hari. (10)
Pada kasus keguguran medis, implan dapat diinsersikan mulai dari saat operasi
sampai hari ke-5 pasca operasi. Jika diinsersikan lebih dari hari ke-5 pasca operasi
keguguran, akseptor implan disarankan untuk menggunakan kondom atau tidak
berhubungan selama 7 hari. (10)

Pencabutan implan: (14)


1. Lokalisasi implan dengan palpasi, jika mungkin tandai posisinya dengan
marker. Jika tidak bisa teraba, lakukan lokalisasi dengan USG atau X-Ray jaringan
lunak.
2. Injeksikan sejumlah kecil anestetik di bawah kulit tepat di bawah ujung
implan yang saling berdekatan. Jika diinjeksikan di atas implan, dapat
menyebabkan pencabutan menjadi lebih sulit.
3. Buatlah insisi kecil ukuran 4 mm dengan scalpel di dekat ujung implan.
4. Tekan implan dengan perlahan ke arah lubang insisi.
5. Ketika ujung implan tampak keluar dari lubang insisi, jepit dengan forsep
mosquito.
6. Gunakan scalpel untuk membuka jaringan lunak yang menyelubungi implan
secara hati-hati.
7. Jepit ujung implan dengan klem lain.

8
8. Lepaskan mosquito.
9. Tarik implan perlahan.

10. Setelah itu, lakukan pada implan lain yang akan dicabut.
11. Segera setelah pencabutan, implan baru dapat langsung diinsersikan melalui
lubang insisi yang sama dengan arah yang sama atau berlawanan.

VI. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN


a. Keuntungan
Implan adalah metode kontrasepsi yang aman, sangat efektif, dan
berkelanjutan yang membutuhkan hanya sedikit usaha dan tidak seperti kontrasepsi
injeksi jangka panjang, implan dapat mengembalikan kesuburan secara cepat. Oleh
karena merupakan metode progestin-only, implan dapat digunakan oleh wanita
yang memiliki kontraindikasi dengan kontrasepsi yang mengandung esterogen.
Pelepasan berkelanjutan progestin dosis rendah menghindarkan dosis inisiasi yang
tinggi oleh lonjakan hormonal yang tinggi akibat injeksi yang berhubungan dengan
kontrasepsi oral. Implan merupakan pilihan yang sangat baik untuk wanita
menyusui dan dapat diinsersikan segera setelah melahirkan. Tidak ada efek
terhadap kualitas atau kuantitas ASI, dan bayi dapat tumbuh normal. Keuntungan
lain metode implan adalah memungkinkan seorang wanita mengatur kehamilan
secara tepat kerena pengembalian fertilitas adalah tepat waktu setelah pencabutan,
berbeda dengan pengembalian fertilistas 6 sampai 18 bulan pada penggunaan
injeksi Depo-Povera. (11)
Pada wanita menyusui, gemuk, dengan diabetes gestasional utama,
minipil progestin-only secara oral berhubungan dengan peningkatan risiko 3 kali
lipat diabetes mellitus non-insulin dependen. Telah diketahui bahwa meskipun hal
ini dapat terjadi pada semua wanita yang menderita diabetes gestasional atau pada
semua metode kontrasepsi progestin-only, cara pemberian yang bijaksana tentang
metode lain harus disarankan untuk kelompok wanita tertentu. (11)
Satu dari keuntungan mayor metode pelepasan berkelanjutan adalah efikasi
yang tinggi, hampir sama dengan efektifitas teoritis. Pada pasangan yang mana
tidak mungkin melakukan aborsi elektif dalam hal kehamilan yang tidak
direncanakan, tingkat efikasi yang tinggi merupakan hal sangat penting. Tidak ada
pil yang lupa diminum, kondom yang bocor, diafragma yang hilang, atau salah
suntik. Untuk wanita pada risiko tinggi komplikasi medis sehingga mereka tidak
boleh hamil, implan yang pelepasan berkelanjutan ini hadir dengan keuntungan
keamanan yang signifikan. Akseptor impan harus diyakinkan bahwa penggunaan
implan tidak berhubungan dengan perubahan metabolisme karbohidrat maupun
lemak, koagulasi, fungsi hati atau ginjal, atau kadar immunoglobulin. Oleh karena
banyak wanita yang menginginkan implan dapat saja mengalami pengalaman
negatif dengan kontrasepsi lain, merupkan hal yang penting untuk menjelaskan
perbedaan antara metode ini dan metode sebelumnya. (11)
b. Kerugian

9
Terdapat beberapa kerugian yang berhubungan dengan penggunaan sistem
implan. Implan dapat menyebabkan disrupsi pada pola haid, khususnya pada tahun
pertama penggunaan, dan beberapa wanita tidak dapat menerima perubahan pola
haid tersebut. Esterogen endogen biasanya normal, dan tidak seperti kontrasepsi
oral esterogen-progestin, progestin tidak secara reguler menyebabkan endometrial
sloughing. Akibatnya, endometrium runtuh pada interval yang tidak dapat
diprediksi. (11)
Implan harus diinsersi dan dicabut pada dengan prosedur pembedahan oleh
petugas yang terlatih. Wanita itu sendiri tidak dapat memulai atau menghentikan
metode ini tanpa bantuan klinisi. Kejadian pencabutan yang rumit adalah sekitar
5% untuk Norplant dan lebih rendah lagi pada Implanon. Kejadian ini dapat
diminimalisasi dengan pelatihan yang baik dan insersi yang hati-hati. Implan dapat
terlihat di bawah kulit. Tanda ini mungkin tidak dapat diterima oleh beberapa
pasangan. (11)
Implan tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual
seperti herpes, HPV, HIV, gonore, atau klamidia. Meskipun penggunanya biasanya
jarang menggunakan kontrasepsi tambahan karena tingginya efikasi metode ini,
akseptor yang memiliki resiko untuk mendapatkan penyakit menular seksual harus
menggunakan kondom sebagai metode tambahan untuk proteksi terhadap
infeksi penyakit menular seksual. (11)
Oleh karena insersi dan pencabutan implan memerlukan prosedur bedah
minor, biaya inisiasi maupun penghentian lebih tinggi jika dibandingkan dengan
metode kontrasepsi oral atau metode barrier. Biaya implan ditambah biaya jasa
untuk insersi dapat terlihat tinggi bagi pasien kecuali jika pasien membandingkan
dengan total biaya metode kontrasepsi lainnya selama 5 tahun. Terlepas dari pada
itu, penggunaan jangka pendek implan lebih mahal jika dibandingkan dengan
metode reversibel jangka pendek lainnya, dan kebanyakan wanita mungkin tidak
mengharapkan penggunaan metode jangka panjang dalam durasi penuh. (11)

VII. EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI


Kebanyakan akseptor implan mengalami gangguan pola haid, termasuk haid
memanjang atau tidak teratur atau spotting atau amenore. Komplikasi lainnya yang
didapatkan adalah pertambahan berat badan, sakit kepala, jerawat, kista ovarium,
hiperpigmentasi pada lokasi pemasangan implan, dan perubahan mood.(5,15)
1. Perdarahan
Perubahan pola perdarahan sering terjadi pada wanita yang menggunakan
kontrasepsi implan. Sebuah studi retrospektif menunjukkan bahwa 25% wanita
tidak melanjutkan penggunaan implan setelah satu tahun pemakaian, dan 62% di
antara alasan berhentinya adalah karena alasan perubahan pola perdarahan. Namun,
perubahan pola perdarahan ini biasanya hanya terjadi pada tahun pertama
pemakaian implan. (10)
2. Perubahan berat badan
Sebuah studi retrospektif menunjukkan bahwa beberapa wanita mengalami
peningkatan berat badan selama menggunakan implan. Peningkatan berat badan

10
kumulatif dalam 3 tahun penggunaan adalah 2,8% sampai 12,7%. Perubahan berat
badan yang fluktuatif selama usia reproduktif memang umum terjadi, tetapi tidak
ada bukti untuk mendukung hubungan antara penggunaan implan dan perubahan
berat badan. (10)
3. Perubahan mood
Studi non-komparatif telah menunjukkan perubahan mood pada sekitar 10%
sampai 11% wanita selama penggunaan implan 3 tahun. Namun, perubahan mood
dalam arti postif maupun negatif tidak didefinisikan. (10)
4. Kehilangan libido
Dilaporkan pada kurang dari 6% akseptor implan progesteron. (10)
5. Jerawat
Dilaporkan bahwa jerawat terjadi atau memberat pada 13% wanita yang
menggunakan implan. (10)
6. Sakit kepala
Sebanyak 1% sampai 4% wanita akseptor implan mengeluhkan sakit
kepala selama 3 tahun follow uppenggunaan implan. Namun, sakit kepala
merupakan keluhan yang sangat umum sehingga sangat sulit untuk menentukan
bagaimana hubungan antara sakit kepala ini dengan penggunaan implan. (10)
Efek samping tersebut kebanyakan terjadi akibat pelepasan progestin
oleh implan. Namun, hal ini tidak terjadi sesering pada penggunaan pil. (5)
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain adalah tromboemboli vena,
penurunan densitas tulang, serta kanker payudara. Namun, komplikasi tersebut
sangat jarang terjadi dan belum cukup bukti untuk menjadikan implan sebagai
faktor risiko untuk penyakit-penyakit komplikasi tersebut. (10)
Menurut Saifuddin (2010, p.MK58-59) efek samping dari implan:
1) Perdarahan bercak/spotting
Sering ditemukan pada tahun pertama
Pengobatan:
a) Bila tidak ada masalah dan klien tidak hamil, tidak diperlukan tindakan apapun.
b) Bila pasien merasa terganggu dapat diberikan pil kombinasi satu siklus atau
ibuprofen 3x 800 mg selama 5 hari.
2) Ekspulsi
Cabut kapsul yang ekspulsi, periksa apakah kapsul yang lain masih di tempat, dan
apakah terdapat tanda-tanda infeksi daerah insersi. Bila tidak ada infeksi dan
kapsul lain masih berada pada tempatnya, pasang kapsul baru 1 buah pada tempat
insersi yang berbeda. Bila infeksi, cabut yang ada dan pasang kapsul baru pada
lengan yang lain atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi lain
3) Infeksi pada daerah insersi
a) Bila terdapat infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan sabun dan air, atau
antiseptik, berikan antibiotik selama 7 hari, implan jangan dilepas
b) Bila tidak membaik cabut implan dan pasang yang baru, pada sisi lengan yang
lain atau metode kontrasepsi yang lain
c) Bila ditemukan abses, bersihkan dengan antiseptik danaliran pus keluar, cabut
implan lakukan perawatan luka dan berikan antibiotik oral 7 hari.

11
4) Berat badan naik/turun
Perubahan berat badan 1-2 kg adalah normal. Apabilaperubahan berat badan
ini tidak dapat diterima, bantu klienmencari metode lain.
5) Amenorea
a) Bila tidak hamil, tidak memerlukan penanganan khusus, cukup konseling saja
b) Bila klien tidak dapat menerima, angkat implan dan ganti kontrasepsi lain
c) Bila terjadi kehamilan cabut implan.
6) Jerawat
a) Gejala : timbul jerawat yang berlebihan pada wajah
b) Penyebab : karena faktor progesteronnya, terutama nortestosteron menyebabkan
peningkatan kadar lemak
c) Pengobatan:
(1) Bila tidak mengganggu cukup dengan menjaga kebersihan wajah
(2) Bila ada infeksi dapat diberi tetrasiklin 3-4 X 1 kapsul 250 mg selama tujuh
hari
(3) Bila jerawat menetap dan bertambah banyak sehingga tidak dapat ditolerir oleh
klien cabut implan dan ganti cara kontrasepsi non hormonal.

Waktu pemasangan Implan


a. Sewaktu haid berlangsung
b. Setiap saat asal diyakini klien tidak hamil
c. Bila menyusui : 6 minggu-6 bulan pasca salin
d. Saat ganti cara dari metode yang lain
e. Pasca keguguran

VIII. Konsep dasar Asuhan Keperawatan Pada Akseptor KB Dengan


Pemasangan Implan

Manajemen keperawatan adalah proses pemecahan masalah yang


digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian
tahapan logis yang pengambilan keputusan berfokus pada klien (Salmah, 2002 :
157).
Tujuannya agar perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang
adekuat, komprehensif dan berstandar dengan memperhatikan riwayat ibu selama
ini, kebutuhan dan respon ibu serta mengidentifikasi penyakit-penyakit yang ada
dan mengantisipasinya.
Langkah-langkah asuhan keperawatan adalah sebagai berikut:
1. PENGUMPULAN DATA
Adalah data yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan klien/ keluarga
dan tim kesehatan berupa keluhan-keluhan tentang masalah kesehatan (manajemen
kebidanan, pusdiklat, 1996 : 7)

12
Tanggal dan Jam Pengkajian:
No. Register:Untuk memudahkan dalam mencari riwayat kesehatan, kehamilan,
atau persalinan yang sebelumnya
1.1 Data Subjektif
1.1.1 Identitas (klien dan suami)
- Nama yang jelas dan lengkap, bila perlu ditanyakan nama panggilan sehari-
hari.
Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi ibu dan membantu menciptakan
hubungan baik (rapport).
- Umur
Pertimbangan dalam menentukan jenis kontrasepsi
- Agama
Hal ini untuk memberikan asuhan yang berkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan
klien sesuai dengan agama.

- Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan sehingga mempermudah dalam pemberian
informasi.
- Pekerjaan
Untuk mengetahui pengaruh aktifitas terhadap kesehatan klien.
- Alasan kunjungan, digunakan untuk mengetahui tujuan kunjungan klien
(datang pertama kalinya, rutin, atau karena ada keluhan)
1.1.2 Keluhan utama
Keluhan yang dapat terjadi pada ibu dengan akseptor implant antara lain: nyeri
kepala, peningkatan atau penurunan berat badan, nyeri payudara, mual, pusing,
kegelisahan.
1.1.3 Riwayat KB
KB apa saja yang sudah digunakan. Kapan dan dimana dilakukan pemasangan
implant.
1.1.4 Riwayat menstruasi
Menstruasi terakhir, siklus, lamanya, banyaknya, sifat darah, dismenorhea, fluor
albus.
1.1.5 Riwayat Obstetri
Jumlah anak, umur kehamilan, jenis persalinan, penolong persalinan, jenis
kelamin, berat badan lahir, umur anak.
1.1.6 Riwayat kesehatan klien(apakah klien menderita penyakit jantung,
hepatitis, DM, TBC , epilepsi)
1.1.7 Riwayat kesehatan keluarga klien(apakah keluarga klien menderita
penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, DM, asma, TBC ,epilepsi )
1.1.8 Riwayat psiko sosial budaya
Sikap pasangan terhadap KB (setuju/tidak)
1.2 Data Obyektif
Data ini diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi, pemeriksaan darah dalam dan pemeriksaan laboratorium.

13
1.2.1 Pemeriksaan Umum
Keadaan umum: baik, cukup, kurang.
Kesadaran : composmentis
TD : <180/110 mmHg
Suhu : normalnya 36 oC 37 oC
Nadi : normalnya 60 100 kali/menit. (reguler/ ireguler)
RR : normalnya 16 24 kali/menit.
BB : untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kontrasepsi yang
digunakan dengan BB klien

1.2.2 Pemeriksaan Fisik


1.2.2.1 Wajah : tidak pucat
1.2.2.2 Mata : conjungtiva : merah muda; Sklera : putih
1.2.2.3 Leher : tidak ada bendungan vena jugularis, tidak
ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
1.2.2.4 Dada : tidak ada benjolan pada payudara atau riwayat kanker payudara
1.2.2.5 Abdomen : tidak ada hepatosplenomegali, tidak ada massa,
tidak ada nyeri tidak ada tanda tanda kehamilan,
1.2.2.6 Genetalia : tampak bersih, tidak ada kelenjar bartholini.
1.2.2.7 Ekstrimitas: tidak oedema.

2. Interpretasi Data Dasar


Diagnosa aktual : Ny. Papah akseptor KB dengan pencabutan dan
pemasangnan implan
Masalah :
Masalah dapat juga menyertai diagnosa yaitu sesuai dengan keluhan ibu, karena
selama menggunakan alat kontrasepsi belum tentu tidak ada masalah. Dan masalah
yang menyertai belum tentu dapat diartikan sebagai ketidaknormalan. Beberapa
masalah yang dapat terjadi selama pemakaian kontrasepsi misalnya berhubungan
dengan ketidaknyaman. Contohnya adalah nyeri payudara, pusing, berat badan
naik , mual dll
Kebutuhan : Kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas
data-data yang telah dikumpulkan.
3. Mengidentifikasi Diagnosa atauMasalahPotensial
Identifikasi diagnosa atau masalah potencial dibuat setelah mengidentifikasi
diagnosa atau masalahkebidanan. Langkah ini membutuhkan antisipasi dan bila
mungkin dilakukan pencegahan.
4. Identifikasi Kebutuhan Segera
Pada tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera, baik tindakan
konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan kondisi klien.
5. Menyusun Rencana Asuhan
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya. Informasi
atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh

14
kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan dapat efektif karena sebagian
dari asuhan akan dilaksanakan oleh klien. Rencana asuhan adalah sebagai berikut:
5.1 Beritahu hasil pemeriksaan yang dilakukan pada ibu.
R/ untuk memberikan informasi kepada ibu tentang kondisinya saat ini.
5.2 Siapkan peralatan untuk pencabutan implan
R/ untuk memudahkan prosedur sebelum pencabutan.
5.3 Atur posisi ibu yang nyaman untuk dilakukan pencabutan.
R/ agar ibu memperoleh posisi yang nyaman dan memudahkan proses
pencabutan.
5.4 Lakukan pencabutan implan.
R/ pencabutan dilakukan karena masa kerja implan sudah habis.
5.5 Lakukan pemasanga implant kembali
R/akseptor cocok dengan penggunaan kontrasepsi implan
5.6 Berikan konseling pasca pencabutan dan pemasangnan yaitu luka tidak
boleh terkena air selama 3 hari.
R/ agar luka insisi sembuh dengan baik
5.7 Anjurkan klien untuk datang kembali sewaktu-waktu jika ada keluhan
R/ agar keluhan dapat segera ditangani dengan baik
5.7 Lakukan dekontaminasi peralatan
R/ sebagai prosedur pencegahan infeksi
6. Penatalaksanaan
6.1 Memberitahu hasil pemeriksaan yang dilakukan pada ibu.
6.2 Menyiapkan peralatan untuk pencabutan dan pemasangnan implan
6.3 Mengatur posisi ibu yang nyaman untuk dilakukan pencabutan.
6.4 Melakukan pencabutan implan.
6.5 Melakukan pemasangan implan
6.6 Memberikan konseling pasca pencabutan yaitu luka tidak boleh terkena air
selama 3 hari.
6.7 Menganjurkan klien untuk datang kembali sewaktu-waktu jika ada keluhan

6.8 Melakukan dekontaminasi peralatan

7. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif dalam
pelaksanaannya. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk SOAP.
S : Ibu mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan
O : Ibu melakukan instruksi yang diberikan oleh bidan.
Implan sudah dicabut dan dipasangkan kembali.
A : Pencabutan dan pemasangan implan sudah dilakukan dengan baik
P : menganjurkan ibu untuk datang sewaktu-waktu jika ada keluhan.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. HTA Indonesia. KB pada Periode Menyusui Hasil Kajian HTA tahun 2009.
Dirjen Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010.

2. BKKBN. Adult and Maternal Mortality. In: Indonesia Demographic and Health
Survey 2012. 2013: 212-5

3. World Health Organization. Maternal Mortalitity. 2012. [online] [cited: March


2nd, 2014] Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs348/en#

4. Pernoll ML. Contraception. In: Benson and Pernolls Handbook of Obstetrics and
Gynecology, 10th Ed. New York: Medical Publishing Division. 2001: 727-41.

5. Albar E. Kontrasepsi. In: Wiknjosastro H, editor. Ilmu Kandungan. Jakarta:


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007: 534-72.

6. Bayer Schering Farma. Jadelle Training Manual of Family Planning. 2008:


[online] [cited: January 28th, 2014] Available from:
http://www.k4health.org/toolkits/implans/jadelle-training-manual-family-planning

7. Meirik O, Fraser IS, dArcangues C. Implantable contraceptives for


women. Human Reproduction Update. 2003; 9(1):49-59.

8. Darney PD. Everything you need to know about the contraceptive implants. Obg
Management. Sept 2006: 50-63.

9. Jacobstein R, Stanley H. Contraceptive implants: providing better choice to


meet growing family planning demand. Global Health: Science and
Practice. 2013; 1(1). 11-17.

10. Clinical Effectiveness Unit. Progestogen-Only Implants. Faculty of Sexual &


Reproductive Healthcare. 2008.

11. Speroff L, Fritz MA, editors. Long-Acting Methods of Contraception. In: Clinical
Gynecologic Endocrinology and Infertility, 7th Ed. Lippincott Williams and
Wilkins. 2005: 950-61.

12. DelConte A. Contraception. In: Curtis MG, Overholt S, Hopkins MP,


editors. Glass Office Gynecology, 6th Ed. Lippincott Williams and Wilkins. 2006:
347-61.

16

Anda mungkin juga menyukai