Anda di halaman 1dari 12

Konsep Sistem dalam keperawatan

Kata sistem menjadi sangat populer dengan munculnya pendekatan sistem yang digunakan
dalam berbagai bidang ilmu. Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling
berhubungan dan bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Kata sistem berasal dari
bahasa latin (syst dan ema) dan bahasa yunani (sust dan ema) adalah suatu kesatuan yang terdiri
dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi,
materi, atau energi. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan suatu set kesatuan yang
berinteraksi, ketika suatu model metematika sering kali dapat dibuat.

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam
suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak. Misalnya, negara yang merupakan suatu
kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang salaing berhubungan
sehingga membentuk suatu negara dengan rakyat sebagai penggeraknya. Kata sistem sering
digunakan baik dalam percakapan sehari-hari, forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini
digunakan untuk banyak hal dan berbagai bidang, sehingga memiliki makna yang beragam.[1]

Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan alat yang memiliki
hubungan di antara mereka. Sistem secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan
dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi
untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dengan demikian, keperawatan dapat diartiakan sebagai
suatu keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan
fungsional dalam upaya mencapai tujuan akhir.

B. Komponen sistem dalam keperawatan

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu tujuan, masukan, proses, keluaran,
batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai
elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem[2] :

1. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang
menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak
terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.
2. Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya
menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara
fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah,
sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).

3. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi
keluaran yang berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa
berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik
kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas
pembedahan pasien.

4. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa
suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.

5. Batas

Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem
(lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem.
Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan
pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi oleh pembelian pelanggan, gerakan
pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau
dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham
ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbasatan dana.

Secara khusus, komponen dalam sistem keperawatan meliputi:

1. Manusia

Manusia adalah makhluk bio-psikososial yang utuh dan unik yang mempunyai kebutuhan bio-
psiko-sosio-spiritual. Manusia dipandang secara menyeluruh dan holistik mempunyai siklus
kehidupan meliputi tumbuh kembang, memberi keturunan, memiliki kemampuan untuk
mengatasi perubahan dengan menggunakan berbagai mekanisme yang dibawa sejak lahir
maupun yang didapat bersifat biologis, psikologis dan sosial.

Manusia selalu mencoba memenuhi kebutuhannya melalui serangkaian peristiwa yang mencakup
belajar, menggali, serta menggunakan sumber-sumber yang diperlukan berdasarkan potensi dan
keterbatasannya.

2. Lingkungan

Manusia selalu hidup dalam suatu lingkungan tertentu, lingkungan meliputi lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. Lingkungan merupakan tempat dimana manusia berada, yang selalu
mempengaruhi dan dipengaruhi manusia sepanjang hidupnya.

Setiap lingkungan mempunyai karakteristik tersendiri dan memberikan dampak yang berbeda
pada setiap manusia, dalam menanggapi dampak lingkungan ini, manusia selalu berespon untuk
mengadakan adaptasi agar keseimbangan dirinya tetap terjaga. Adaptasi dapat bersifat positif,
dapat pula negatif (apabila manusia beradaptasi secara negatif pada pengaruh lingkungan maka
akan menimbulkan masalah.

Lingkungan disini adalah semua keadaan diluar sistem tetapi dapat mempengaruhi kesehatan,
lingkungan ini dapat berupa kondisi sosial budaya, lingkungan geografis yang ada di masyarakat
yang berada di luar institusi kesehatan.

3. Kesehatan

Sehat merupakan suatu persepsi yang sangat individual, beberapa definisi tentang sehat adalah :

a. WHO (1947) : Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, sosial dan tidak
hanya bebas dari penyakit atau cacat.

b. Parson (1972) : Sehat adalah kemampuan individu secara optimal untuk eran dan tugasnya
secara efektif.

c. Dubois (1978) : Sehat adalah suatu proses yang kreatif individu secara aktif dan terus menerus
beradaptasi dengan lingkungannya.

Kesehatan adalah suatu proses yang dinamis, terus menerus berubah sebagai interaksi antara
individu dengan perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal.

4. Keperawatan

Tindakan keperawatan berdasarkan pada kebutuhan manusia, keperawatan dilaksanakan secara


universal terjadi pada semua tingkat manusia. Tingkah laku dalam keperawatan meliputi rasa
simpati, empati, menghargai orang lain, tenggang rasa. Keperawatan menghargai kepercayaan
dan nilai-nilai yang dianut manusia. Keperawatan membantu klien mengenal dirinya, sebagai
makhluk yang memiliki kebutuhan yang unik.

Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan keperawatan adalah
salah satu bentuk pelayanan profesional sebagai integral dari pelayanan kesehatan berbentuk
pelayanan biologis, psikologi sosial, dan spiritual secara komprehensif diajukan kepada individu,
keluarga dan masyarakat sehat maupun sakit, mencakup siklus hidup manusia.

C.Penerapan sistem dalam penggunaan proses keperawatan

Penerapan sistem dalam penggunaan proses keperawatan meliputi beberapa tahapan, yaitu[3] :

1. Tahap pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan manganalisanya


sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan seorang pasien.

Tujuan pengkajian adalah untuk memberikan suatu gambaran yang terus mengenai kesehatan
pasien, yang memungkinkan tim perawat merencanakan asuhan keperawatan kepada pasien
secara perorangan[4].

a. Pengumpulan data

Pengumpulan data dimulai dilakukan sejak klien masuk rumah sakit, selama klien dirawat secara
terus-menerus serta pengkajian dapat dilakukan ulang untuk menambah dan melengkapi data
yang telah ada. Berdasarkan sumber data, data pengkajian dibedakan atas data primer dan data
sekunder :

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari klien bagaimanapun kondisi klien.

Data sekunder adalah data yang diperoleh selain dari pasien seperti dari perawat, dokter, ahli
gizi, ahli fisiotheraphy, keluarga atau kerabat klien, catatan keperawatan serta hasil pemeriksaan
penunjang lainnya.

Secara umum ada beberapa cara pengumpulan data yaitu :

Wawancara yaitu melalui komunikasi untuk mendapatkan respon dari pasien dengan tatap
muka.

Observasi yaitu dengan mengadakan pengamatan secara visual atau secara langsung kepada
pasien.
Konsultasi yaitu dengan melakukan konsultasi kepada yang ahli spesialis bagian yang
mengalami gangguan.

Melalui pemeriksaan seperti inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk),


auskultasi serta pemeriksaan fisik lainnya, seperti pengukuran EKG.

b. Pengelompokan data

Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya data-data terkumpul dikelompokkan, data
dapat dibagi atas data dasar dan data khusus.

Data dasar terdiri dari data fisiologis / biologi, data psikologis, data social, data spiritual dan
data tentang tumbuhkembang klien.

Data khusus adalah data yang bersipat khusus. Misalnya laporan intake dan output cairan
selama operasi, hasil pemeriksaan hematology, pemeriksaan roentgen dan sebagainya.

Selain data diatas, berdasarkan cara pengumpulan data dibagi atas data objektif dan data
subjektif.

Data objektif adalah data yang diperoleh perawat berdasarkan hasil pemeriksaan atau observasi
secara langsung.

Data subjektif adalah data yang diperoleh berdasarkan keluhan atau perkataan klien atau
keluarganya.

c. Analisa Data dan Perumusan Diagnosa Keperawatan

Tahapan terakhir dari pengkajian adalah analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan.
Proses keperawatan analisa adalah menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep teori,
prinsip asuhan keperawatan yang relevan dengan kondisi pasien. Analisa data dilakukan melalui
pengesahan data, pengelompokkan data, membandingkan data, menentukan ketimpangan /
kesenjangan serta membuat kesimpulan tentang kesenjangan masalah yang ada.

2. Tahap Diagnosa

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status / masalah kesehatan aktual /
potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi :

a. Adanya masalah aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah / penyakit.

b. Faktor-faktor berkontraksi / penyebab adanya masalah.

c. Kemampuan klien mencegah / menghilangkan masalah.


Diagnosa keperawatan berorientasi kepada kebutuhan dasar manusia, berdasarkan pada
kebutuhan dasar menurut Abraham Maslow, memperlihatkan respon individu / klien terhadap
penyakit dan kondisi yang dialaminya.

3. Tahap Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan intervensi


keperawatan dan aktifitas keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi,
menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien.

Tahap perencanaan keperawatan adalah :

a. Proses penentuan prioritas

Proses ini dimulai dengan membuat prioritas diagnosa keperawatan, urutan prioritas diagnosa
keperawatan menunjukkan masalah tersebut menjadi prioritas untuk dilakukan intervensi
keperawatan. Meskipun demikian tidak berarti bahwa satu diagnosa harus dipecahkan dahulu
secara total baru mengerjakan diagnosa berikutnya. Biasanya beberapa diagnosa keperawatan
dapat diatasi secara bersamaan.

b. Penetapan sasaran dan tujuan

Pada proses ini dilakukan setelah penetapan urutan prioritas diagnosa keperawatan. Sasaran
adalah hasil yang diharapkan dalam mengurangi atau mengatasi masalah sesuai dengan diagnosa
keperawatan. Sedangkan tujuan menggambarkan penampilan, hasil atau perilaku klien yang
berhubungan dengan sasaran. Perencanaan tujuan bermanfaat dalam merancang,
mengimplementasikan dan mengevaluasi asuhan keperawatan kepada klien.

c. Penentuan kriteria evaluasi

Kriteria adalah standar yang dipakai untuk mengevaluasi penampialan klien. Misalnya klien
dapat menyebutkan empat komplikasi diabetes millitus. Kriteria diperlukan apabiala tujuan
belum spesifik dan tidak dapat diukur.

d. Rencana intervensi

Adalah bagian akhir dari perencanaan dimana perawat memutuskan srategi dan intervensi
keperawatan yang akan dilakukan. Strategi dan tindakan yang dilakukan diarahkan langsung
pada etiologi atau faktor pendukung dari diagnosa keperawatan.

4. Tahap implementasi

Implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Hal-hal
yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi dilaksanakan sesuai
dengan rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan, keterampilan interpersonal, intelektual,
dan tekhnikal. Intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat.
Keamanan fisik dan psikologi dilindungi dan didokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan
pelaporan.

Ada tiga fase implementasi keperawatan yaitu :

a. Fase persiapan, meliputi pengetahuan tentang rencana, validasi rencana, pengetahuan dan
keterampilan mengimplementasikan rencana, persiapan klien dan lingkungan.

b. Fase operasional, merupakan puncak implementasi dengan berorientasi pada tujuan (


intervensi independent, dependen dan interdependen).

c. Fase terminasi, merupakan terminasi perawat dengan klien setelah implementasi dilakukan.

5. Tahap evaluasi

Hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan, dan kualitas data, teratasi atau tidaknya
masalah klien, serta pencapaian tujuan serta ketetapan intervensi keperawatan. Akhirnya,
penggunaan proses keperawatan secara tepat pada praktek keperawatan akan memberi
keuntungan pada klien dan perawat. Kualitas asuhan keperawatan diharapkan dapat ditingkatkan.
Perawat dapat mendemonstrasikan tangguang jawab dan tangguang gugatnya yang merupakan
salah satu ciri profesi dan yang amat penting adalah menjamin efisiensi dan efektifitas asuhan
keperawatan yang diberikan kepada klien.

6. Tahap dokumentasi

Dokumentasi proses keperawatan merupakan metode pencatatan proses keperawatan yang tepat
untuk pengambilan keputusan yang sistematis. Dokumentasi proses keperawatan mencakup
pengkajian, dokumentasi masalah, perencanaan, tindakan.

D. Hubungan sistem dengan subsistem dan supra sistem

Dalam sistem terdapat input (masukan), proses, output (hasil/keluaran), dan umpan balik.
Pendekatan sistem merupakan satu cara yang memandang keperawatan secara menyeluruh dan
sistematik, tidak parsial atau fragmentis. Keperawatan sebagai suatu sistem merupakan satu
kesatuan yang utuh dengan bagian-bagiannya yang berinteraksi satu sama lain. Keperawatan
dapat diartikan sebagai keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang
mempunyai hubungan fungsional dalam usaha mencapai tujuan akhir.[5]

Keperawatan dapat digambarkan sebagai kesatuan subsistem dan membentuk satu sistem yang
utuh. Sitem pendidikan ini memperoleh input dari suprasistem (masyarakat atau lingkungan) dan
memberikan output bagi suprasistem tersebut. Subsistem yang membentuk sistem keperawatan
adalah tujuan, klien, manajemen, struktur dan jadwal waktu, asuhan keperawatan, tenaga perawat
dan tim kesehatan lain, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian, serta biaya perawatan.

Interaksi fungsional antarsubsistem keperawatan disebut sebagai proses keperawatan. proses


keperawatan dapat terjadi dimana saja, tidak terbatas lingkungan rumah sakit dan pusat
kesehatan lainnya. Melalui proses keperawatan diperoleh hasil (output) keperawatan. hasil
keperawatan adalah asuhan keperawatan yang sudah diberikan kepada klien berdasarkan tujuan
keperawatan yang telah ditetapkan. Tujuan keperawatan masing-masing tingkatan perawatan
ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan bermuara pada tujuan kesehatan nasional.

Beberapa penerapan sistem keperawatan :

Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Keperawatan

Dalam memberikan asuhan keperawatan yang potensial kepada klien. Asuhan Keperawatan
saling berhubungan dengan tim pelayanan kesehatan lainnya seperti dokter, radiologi,
klien/pasien, IPTEK, tim rumah tangga di RS, gizi, laboratorium, dan sistem pendukung lainnya.

Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Keperawatan

Penerapan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan keperawatan juga saling berhubungan


dengan pelayanan lainnya seperti IPTEK, AIPNI, PPNI, Penyelenggara pendidikan keperawatan,
kebutuhan masyarakat, kebijakan pendidikan nasional keperawatan, dan profesi lain.

Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pengembangan Profesi Keperawatan

Penerapan sistem ini berhubungan dengan masyarakat, kebijakan nasional, PPNI, faktor lain,
AIPNI, IPTEK, institusi pendidikan keperawatan. Dengan bekerjasama bersama peleyanan-
pelayanan lainnya sehingga pengembangan profesi keperawatan dapat berjalan dengan lancar.

Penerapan Sistem Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Secara Umum

Pelayanan kesehatan dalam penerapannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
pendidikan dan manajemen, kebutuhan pelayanan kesehatan, konsep kesehatan, tujuan
pembangunan kesehatan, IPTEK, dan berbagai profesi kesehatan.

E. Pengaruh pada Pelayanan Kesehatan ditinjau dari persfektif Sistem

Internal

a. Bagi profesi dengan pendekatan sistem dan proses keperawatan, perawat dapat
mempertanggung jawabkan tugasnya sesuai dengan standar. Jadi akhirnya dapat meningkatkan
kualitas pelayanan dan profesi Keperawatan secara keseluruhan.

b. Bagi Perawat akan meningkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan kecintaan pada
profesi.
c. Kemampuan memanfaatkan hasil/keluaran dari pendidikan

d. Kemampuan dalam pengadaan dan pengembangan sumber daya pendidikan.

Eksternal

a. Bagi Klien dapat memfasilitasi keterlibatan klien dan keluarga dalam perawatan disetiap
tahapan proses keperawatan.

b. Tekanan dan Tuntutan kebutuhan Masyarakat

c. Perkembangan global Keperawatan Profesional

F. Pelayanan Kesehatan Sebagai Suatu Bagian Integral Dari Pelayanan Kesehatan

Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari suatu pelayanan kesehatan yang meliputi
pelayanan dasar dan pelayanan rujukan. Sebagai bagian dari pelayanan kesehatan, maka
pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh tenaga perawat dalam pelayanannya memiliki tugas,
diantaranya memberikan asuhan keperawatan keluarga, komunitas dalam pelayanan kesehatan
dasar dan akan memberikan asuhan keperawatan secara umum pada pelayanan rujukan.[6]

Sebagaimana contoh pelayanan keperawatan dalam tingkat dasar yang dilakukan dilingkup
puskesmas dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga dan komunitas yang berorientasi
pada tugas keluarga dalam kesehatan diantaranya mengenai masalah kesehatan secara dini.
Mengambil keputusan dalam kesehatan, menanggulangi keadaan darurat bila terjadi kecelakaan
atau penyakit yang sifatnya mendadak, memberikan pelayanan keperawatan dasar pada anggota
keluarga yang sakit serta memodifikasi lingkungan untuk menunjang peningkatan status
kesehatan serta memanfaatkan pelayanan kesehatan.

Demikian juga pada lingkup pelayanan rujukan, tugas perawat adalah memberikan asuhan
keperawatan pada ruang atau lingkup rujukannya seperti pada anak, maka perawat akan
memberikan asuhan keperawatan pada anak melalui pendekatan proses perawatan anak untuk
lingkup keperawatan jiwa, perawatan akan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien
dengan gangguan jiwa pada kasus medik dan bedah perawat akan memberikan asuhan
keperawatan pada kasus medik dan bedah, pada kasus obstretic dan gynecology perawat akan
memberikan asuhan keperawatan pada maternitas dengan tingkat kasus tertentu, pada kasus
gawat darurat perawat akan memberikan asuhan keperawatan pada keadaan gawat dan darurat
dan lain-lain tinggi keperawatan.

Produktivitas Keperawatan naik secara signifikan dengan reformasi kesehatan tahun 1990
yang mengurangi biaya keperawatan input tetapi dampak pada keselamatan pasien dan perawat
negatif. Pendekatan saat ini untuk meningkatkan produktivitas keperawatan termasuk "bangsal
produktif" dan rekonfigurasi tim menyusui juga menggambar pada inovasi manufaktur. Muncul
pemikiran menganggap produktivitas dalam konteks lingkungan kerja dan peran profesional
berubah, dan mengusulkan reconceptualising perawat sebagai aset intelektual organisasi
kesehatan pengetahuan intensif. [7]

G. Pembaharuan Pendidikan Keperawatan Sebagai pelayanan kesehatan

Perkembangan pelayanan sebagai pelayanan profesional didukung oleh ilmu pengetahuan dan
teknologi yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang terarah dan terencana.

Di Indonesia, keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan merupakan
suatu lompatan yang jauh kedepan. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan bersama pada
lokakarya nasional keperawatan pada bulan januari 1983 yang menerima keperawatan sebagai
pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan
profesi (profesional education).

Tenaga keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat
memberikan kontribusi essensial dalam keberhasilan pembangunan kesehatan.untuk itu tenaga
keperawatan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu
berperan aktif dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pelayanan keperwatan
profesional.

Pengembangan pelayanan keperawatan profesional tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan


profesional keperawatan[8], pendidikan keperawatn bukan lagi merupakan pendidikan
vokasional atau kejuruan akan tetapi bertujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang
menguasai ilmu keperawatan yang siap dan mampu melaksanakan pelayanan atau asuhan
keperawatan profesional kepada masyarakat jenjang pendidikan keperawatan bahkan telah
mencapai tingkat doktoral. Keyakinan inilah yang merupakan faktor pengerak perkembangan
pendidikan keperawatan di indonesia pada jenjang pendidikan tinggi, yang sebenarnya telah
dimulai sejak 1962 yaitu dengan dibukanya akademi keperawatan yang pertama di jakarta.
Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan, dalam
lokakarya keperawatan tahun 1983, telah dirumuskan dan disusun dasar- dasar pengembangan
pendidikan tinggi keperawatan. Sebagai realisasinya di susun kurikulum program pendidikan D3
keperawatan, dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum pendidikan sarjana (SI)
keperawatan. Pendidikan tinggi keperawatan di harapkan menghasilkan tenaga keperawatan
profesional yang mampu mengadakan membaharuan dan memperbaiki mutu pelayanan atau
asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan, keperawatan
sebagai suatu profesi , dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab pengembangan harus
mampu mandiri.
Agar melaksanakan perannya dengan baik, perawat harus menguasai bidang pendidikan, karena
dengan mempelajari ilmu pendidikan seorang mahasiswa prodi keperawatan diharapkan dapat
memberi dan menerima informasi yang akan dibutuhkan dalam menghadapi pasien ( orang lain)
sehingga mampu mengarahkan pada pencapaian kompetensi profesional.

Adapun fungsi pendidikan keperawatan sebagai media pengabdian bagi masyarakat yang
mencakup :

1. Pelayanan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk, sifat dan jenjang pelayanan kepada
masyarakat, serta membangun model pelayanan/asuhan keperawatan.

2. Pendidikan dan bimbingan masyarakat dengan cara membina kemampuan masyarakat


mengatasi masalah keperawatan yang dihadapi.

3. Mengarahkan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir dan melaksanakan


pelayanan/asuhan keperawatan professional.

4. Memberi konsultasi dalam keperawatan kepada berbagai pihak yang memerlukan.

Dimana dalam implementasinya di lapangan, pendidikan keperawatan sangat berperan penting


dalammembina sikap, pandangan dan kemampuan professional, lulusannya. Diharapkan perawat
mampu bersikap dan berpandangan professional, berwawasan keperawatan yang luas, serta
mempunyai pengetahuan ilmiah keperawatan yang memadai, dan menguasai keterampilan
professional secara baik dan benar (Husin, 1966). Dan juga Pendidikan kepe rawatan
menghasilkan perawat yang bersikap professional mencakup keterampilan intelektual,
interpersonal, dan tekhnikal, mampu mempertanggungjawabkan secara legal, keputusan dan
tindakan yang dilakukan sesuai dengan standar dan kode etik profesi, serta dapat menjadi contoh
peran bagi perawat lain.[9]

Dalam dunia pendidikan dikenal sejumlah usaha untuk menguraikan tujuan yang sangat umum.
Dalam dunia keperawatan, menurut NLN (The National League for Nursing), tujuan pendidikan
bagi keperawatan yaitu, antara lain :

1. Menjadi pemain kunci dalam inisiatif untuk membangun keragaman dalam tenaga
kerjapendidik perawat.

2. Promosikan penyusunan tenaga kerja keperawatan yang memberikan kontribusi


untukkualitas kesehatan dan keselamatan.

3. Diakui sebagai pemimpin dalam memajukan keunggulan dan inovasi dalam


pendidikankeperawatan.

4. Menjadi sumber utama data untuk undang-undang, peraturan, atau keputusan tentang
pendidikan keperawatan dan tenaga kerja pendidik perawat, dan yang menginformasikanpraktek
mengajar di semua jenis program pendidikan keperawatan untuk populasi siswa yang beragam.
5. Menjadi pemain kunci dalam menciptakan komunitas pendidik perawat dari seluruh dunia
untuk isu-isu dan pengaruh yang terkait dengan keunggulan dalam pendidikankeperawatan.

Adapun menurut steve glenn pendidikan bagi keperawatan untuk mempersiapkansiswa untuk
menjadi perawat profesional yang berdedikasi dan kompeten. Perawat ini akan memiliki
kemampuan untuk mengelola pelayanan kesehatan yang efektif untuk penduduk yang beragam,
termasuk masyarakat miskin dan kurang terlayani.