Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi

sebagai tempat tinggal yang digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan

makhluk hidup lainnya serta mengembangkan kehidupan keluarga. Oleh karena

itu, keberadaan rumah yang sehat, aman, serasi dan teratur sangat diperlukan agar

fungsi dan kebutuhan rumah dapat terpenuhi dengan baik.

Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat

kesehatan, dari aspek fisik yaitu atap, lantai dan dinding rumah serta dilengkapi

fasilitas kesehatan lingkungan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat,

sarana air yang bersih, tempat pembuangan sampah yang bersih, sarana

pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, dan kepadatan hunian rumah

yang sesuai.

Berdasarkan data survei mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro pada tanggal 11 April 2013 di Dusun Sidosari dan Dusun Tepungsari,

Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang Jawa Tengah,

didapatkan 52 rumah sehat dari total rumah sebanyak 160 rumah Hal ini

menunjukkan bahwa kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo masih cukup

rendah.

Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo.

1
B. PERUMUSAN MASALAH

1. Apakah tingkat pendidikan berhubungan dengan kepemilikan rumah

sehat di Desa Pringombo pada periode April 2013?

2. Apakah jenis pekerjaan berhubungan dengan kepemilikan rumah sehat

di Desa Pringombo pada periode April 2013?

3. Apakah tingkat pendapatan berhubungan dengan kepemilikan rumah

sehat di Desa Pringombo pada periode April 2013?

4. Apakah tingkat pengetahuan rumah sehat berhubungan dengan

kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo pada periode April 2013?

5. Apakah strata perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) berhubungan

dengan kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo pada periode April

2013?

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang

mempengaruhi kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo pada periode

April 2013.

2
2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis hubungan tingkat pendidikan dengan kepemilikan

rumah sehat di Desa Pringombo pada periode April 2013.

b. Menganalisis hubungan jenis pekerjaan dengan kepemilikan rumah

sehat di Desa Pringombo pada periode April 2013.

c. Menganalisis hubungan tingkat pendapatan dengan kepemilikan

rumah sehat di Desa Pringombo pada periode April 2013.

d. Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan rumah sehat dengan

kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo pada periode April

2013.

e. Menganalisis hubungan strata perilaku hidup bersih dan sehat

(PHBS) dengan kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo pada

April 2013.

D. MANFAAT

Dengan diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi kepemilikan rumah

sehat, diharapkan dapat membantu menyukseskan program MDGs 2015, yaitu

dengan:

1. Menetapkan metode dan materi penyuluhan yang tepat kepada masyarakat

agar sedapat mungkin mewujudkan kepemilikan rumah sehat.

2. Sebagai acuan yang dapat digunakan untuk penelitan-penelitian

selanjutnya yang lebih komprehensif.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DASAR TEORI

1. Definisi Rumah Sehat

Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat

berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta

keadaan sosialnya baik demi kesehatan keluarga dan individu.1

Menurut Blaang (1996), rumah merupakan kebutuhan pokok untuk

kelangsungan hidup dan kesejahteraan sosialnya, setiap orang membutuhkan

perumahan yang sehat dan layak huni. Di lain pihak, rumah merupakan dambaan

setiap keluarga, artinya setiap keluarga mampu meraihnya sesuai dengan apa yang

diinginkannya.2,3

Rumah sehat merupakan rumah yang dapat memberikan rasa aman dan

nyaman bagi penghuninya, sehingga mereka dapat hidup dan beraktifitas secara

optimal. Beberapa ciri rumah sehat antara lain:4

lantai tidak tembus air dan bersih

memiliki jendela dan lubang udara

halaman bersih dan rapi

memiliki sarana air bersih, jamban, saluran limbah, tempat sampah, dsb.

4
Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan

sehat apabila:5

Memenuhi kebutuhan fisik dasar, seperti temperatur yang lebih rendah

dari udara di luar rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang

nyaman, dan jauh dari kebisingan.

Memenuhi kebutuhan kejiwaan.

Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular, yaitu

memiliki penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah dan saluran

pembuangan air limbah yang baik.

Melindungi penghuninya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan

bahaya kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh, tangga yang tidak

curam, bahaya kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan, bahkan

dari ancaman kecelakaan lalu lintas.

Rumah sehat merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 dan

target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Target rumah sehat

yang harus dicapai dalam Indonesia Sehat 2010 telah ditentukan sebesar 80%.

Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2007, persentase rumah sehat

Indonesia pada tahun 2007 adalah 50,79%. Jumlah ini masih dibawah target yang

ditetapkan untuk dicapai pada tahun 2007, yaitu 75%.6,7

5
2. Prinsip Rumah Sehat

Menurut Depkes RI (2002), suatu rumah dikatakan sehat apabila :7

a. Memenuhi kebutuhan fisik antara lain pencahayaan, ventilasi dan

ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.

b. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang terjaga,

komunikasi yang sehat antar anggota dan penghuni rumah.

c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni

rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah

rumah tangga, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar

matahari pagi, terlindunginya makanan dan minuman dari

pencemaran, disamping pencahayaan dan ventilasi yang memadai.

d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang

timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain struktur

rumah yang tidak roboh, tangga yang tidak curam, rumah yang tidak

mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh

tergelincir.

Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah

sebagaimana tercantum dalam Permenkes Nomor 892/Menkes/SK/VII/1999

tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.7

Menurut Depkes RI (2002), indikator rumah yang dinilai adalah komponen

rumah yang terdiri dari : langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela

ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, dapur dan pencahayaan dan aspek

perilaku penghuni. Aspek perilaku penghuni tersebut adalah pembukaan jendela

6
kamar tidur, pembukaan jendela ruang keluarga, pembersihan rumah dan

halaman. Komponen yang harus dimiliki oleh rumah sehat adalah:7

a. Pondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar,

memberi kestabilan bangunan.

b. Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari

pekarangan dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah

panggung dapat terbuat dari papan atau anyaman bambu.

c. Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi dan

masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas lantai.

d. Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk menyangga atap,

menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar,

serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya;

e. Langit-langit untuk menahan panas sinar matahari, minimum 2,4 m dari

lantai, bisa dari bahan papan, anyaman bambu, tripleks atau gypsum.

f. Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar matahari serta

melindungi masuknya debu, angin dan air hujan.

Adapun aspek konstruksi atau komponen rumah yang memenuhi syarat

rumah sehat adalah : 5,8

1. Langitlangit dan dinding rumah

Adapun persyaratan untuk langit-langit dan dinding rumah yang baik

adalah sebagai berikut:

Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh..

Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai.

7
Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan rapat air sekurang-

kurangnya 15 cm dibawah permukaan tanah sampai 20 cm di atas lantai

bangunan, agar air tanah tidak dapat meresap naik keatas, sehingga

dinding terhindar dari basah dan lembab dan tidak berlumut.

2. Lantai

Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban diatasnya. Bahan untuk

lantai yang biasanya digunakan adalah ubin, kayu plesteran, atau bambu dengan

syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur waktu diinjak, permukaan lantai harus

rata dan mudah dibersihkan. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan lantai

adalah:

Sekurang-kurangnya 60 cm di atas tanah dan ruang bawah tanah harus ada

aliran tanah yang baik.

Lantai harus disusun dengan rapi dan rapat satu sama lain, sehingga tidak

ada lubang-lubang ataupun lekukan dimana debu bisa berkumpul. Lebih

baik jika lantai seperti ini dilapisi dengan perlak yang juga berfungsi

sebagai penahan kelembaban pada rumah.

Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air dan rayap

3. Tata ruang

Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai dengan

fungsinya. Penataan ruang dalam rumah harus disesuaikan dengan persyaratan

kesehatan rumah, misalnya pemisahan kamar tidur, dapur dan ruangan lainnya,

8
jumlah kamar tidur yang cukup untuk seluruh anggota keluarga, jendela yang

dibuka pada siang hari agar cahaya matahari dapat masuk dan udara dapat

bersirkulasi sehingga akan memperkecil resiko penularan penyakit infeksi.

Adapun syarat-syarat pembagian ruangan yang baik adalah sebagai berikut :

Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur kepala keluarga

(suami istri) dengan kamar tidur anak-anak, baik laki-laki maupun

perempuan, terutama anak-anak yang sudah dewasa.

Memilih tata ruangan yang baik, agar memudahkan komunikasi dan

hubungan antara ruangan di dalam rumah dan juga menjamin kebebasan

dan kerahasiaan pribadi masing-masing terpenuhi.

Tersedianya jumlah kamar yang cukup dengan luas lantai sekurang-

kurangnya 6 m2 agar dapat memenuhi kebutuhan penghuninya.

Luas dapur minimal 14 m2 dan lebar minimal 1,5 m2. Di dapur harus

tersedia alat-alat pengolahan makanan, alat-alat masak, tempat cuci

peralatan dan air bersih, serta harus tersedia tempat penyimpanan bahan

makanan.

Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari dindingnya

terdapat ventilasi berhubungan dengan udara luar. Bila tidak harus

dilengkapi dengan ventilasi mekanis untuk mengeluarkan udara dari kamar

mandi dan jamban tersebut, sehingga tidak mengotori ruangan lain.

Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh digunakan lebih

dari 7 orang.

9
4. Ventilasi

Ventilasi harus diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat

merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau

kurang ventilasi. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam ruangan udara yang

bersih dan segar melalaui jendela atau lubang angin di dinding. Pada rumah

sekurang-kurangnya terdapat satu jendela/lubang yang langsung berhubungan

dengan udara bebas, jumlah luas jendela/lubang itu harus sekurang-kurangnya

sama 1/10 dari luas lantai ruangan, dan setengah dari jumlah luas jendela/lubang

itu harus dapat dibuka. Jendela/lubang udara itu harus meluas kearah atas sampai

setinggi minimal 1,95 di atas permukaan lantai. Untuk daerah pengunungan yang

berhawa dingin dan banyak angin, maka luas jendela/lubang angin dapat

dikurangi sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah pantai

laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah, maka jumlah luas bersih

jendela/ lubang udara harus diperbesar hingga mencapai 1/5 dari luas lantai. Jika

ventilasi alamiah kurang memenuhi syarat, maka dapat menggunakan peralatan

tambahan seperti kipas angin (ventilating, fan atau exhauster), atau AC

5. Pencahayaan

Pencahayaan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan (lampu

rumah) dan cahaya alamiah (sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan melalui

jendela, celah-celah atau bagian ruangan yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak

terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok yang tinggi). Penerangan

10
minimum untuk malam hari dalam ruangan, terutama untuk ruang baca dan ruang

kerja adalah 10 watt lampu TL, atau 40 watt dengan lampu pijar.

Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan yang

berkaitan rumah sehat adalah sebagai berikut :

1. Sarana Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang

kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak

(Permenkes No.416/MENKES/Per/IX/1990). Sarana air bersih adalah semua

sarana yang dipakai sebagai sumber air bagi penghuni rumah untuk digunakan

bagi penghuni rumah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Yang perlu

diperhatikan antara lain:

Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septik tank,

tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter.

Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat kedap air

dengan dilengkapi bibir sumur.

Penampungan air hujan, sumur artesis atau terminal air atau

perpipaan/kran terjaga kebersihannya dan dipelihara rutin.

Syarat air bersih adalah harus memenuhi syarat fisik, kimia maupun

bakteriologis. Syarat fisik air bersih yaitu air yang tidak berwarna, tidak berbau,

jernih dengan suhu sebaiknya dibawah suhu udara sehingga menimbulkan rasa

nyaman, Sedangkan untuk syarat kimia air bersih, antara lain tidak mengandung

zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan seperti zat-zat organik lebih tinggi dari

jumlah yang telah ditentukan. Syarat bakteriologis untuk air bersih yaitu air tidak

11
boleh mengandung mikroorganisme. Penyakit-penyakit yang sering menular

dengan perantaran air adalah penyakit yang tergolong dalam golongan water

borne diseases antara lain: Cholera, Thypus abdominalis, Dysentrian bacillaris,

Hepatitis A infectiosa, dan sebagainya.

2. Jamban (pembuangan tinja)

Syarat pembuangan tinja (jamban) yang baik, antara lain:

Tinja tidak mencemari permukaan tanah.

Tinja tidak mencemari air permukaan maupun air tanah.

Tinja tidak boleh dibuang langsung ke sungai, danau, dan laut.

Jarak jamban >10 meter dari sumur dan bila membuat lubang jamban

jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air.

Jamban tidak dijamah oleh lalat. Tempat pembuangan harus tertutup rapat

agar lalat tidak bisa menghinggapinya. Oleh karena itu jamban yang sehat

dapat dibuat dengan menggunakan leher angsa atau dilengkapi dengan

tutup.

Jamban tidak menimbulkan sarang nyamuk

Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

12
3. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Air limbah adalah air yang tidak bersih mengandung berbagai zat yang

bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan lazimnya karena

hasil perbuatan manusia. Sumber air limbah yang lazim biasanya berasal dari

rumah tangga (air, dari kamar mandi, dapur), limbah perusahaan (hotel, restoran)

dan limbah industri.

4. Sampah

Agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka perlu

pengaturan pembuangannya, seperti penyimpanan sampah yaitu tempat

penyimpanan sementara sebelum sampah tersebut dikumpulkan untuk diangkut

serta dibuang (dimusnahkan). Untuk tempat sampah tiap-tiap rumah isinya cukup

1 meter kubik. Tempat sampah janganlah ditempatkan di dalam rumah atau pojok

dapur, karena dapat menjadi sarang tikus. Syarat tempat sampah yang baik, yaitu :

Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah

bocor dan kedap air.

Tempat sampah harus mempunyai tutup yang rapat, tetapi mudah dibuka

dan dikosongkan.

13
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemilikan Rumah Sehat

a. Tingkat Pendidikan

Cumming mengemukakan bahwa pendidikan sebagai suatu proses atau

kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan suatu individu atau

masyarakat. Tingkat pendidikan yang baik sangat menentukan daya nalar

seseorang yang lebih baik, sehingga memungkinkan menyerap informasi-

informasi juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau

setiap masalah yang dihadapi. Koentjoroningrat (1997), mengatakan pendidikan

adalah kemahiran menyerap pengetahuan atau meningkatkan sesuai dengan

pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap

sesorang terhadap pengetahuan seseorang yang diserapnya, semakin tinggi tingkat

pendidikan semakin mudah untuk dapat menyerap pengetahuan. Menurut

Dictionary of Education (1984), pendidikan adalah proses dimana seseorang

mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya di dalam

lingkungan masyarakat.9,10,11

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Bungsu Riana (2008), bahwa

terdapat hubungan siginifikan antara pendidikan dengan kepemilikan rumah sehat,

artinya semakin tinggi pendidikan seseorang maka kemungkinan untuk

mempunyai rumah yang sehat akan semakin besar. Hal ini dapat dikarenakan

seseorang yang mempunyai pendidikan baik akan mempunyai keinginan untuk

memiliki rumah sehat, dan lebih mengetahui komponen-komponen apa saja yang

harus dipenuhi suatu rumah sehat.12

14
Hal ini juga sejalan dengan penelitian Lubis (2002), bahwa tingkat

pendidikan menunjukkan hubungan bermakna terhadap kepemilikan rumah sehat.

Bila pendidikan rendah maka pengetahuan cara hidup sehat belum dipahami

dengan baik. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang yang

lebih baik, sehingga memungkinkan menyerap informasi-informasi juga dapat

berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau setiap masalah yang

dihadapi dalam membentuk rumah yang sehat. Bila dikaitkan dengan pendapat

Maslow yang dikutip oleh Natoatmodjo (2003), bahwa semakin tinggi pendidikan

seseorang, maka kebutuhan akan kenyamanan semakin besar, sehingga

mempunyai usaha-usaha yang mengarah pada kepemilikan rumah sehat.

Pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami

pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan

seseorang maka semakin baik pula tingkat pengetahuannya.13

b. Jenis Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan atau pencaharian yang dijadikan

pokok penghidupan seseorang yang dilakukan untuk mendapatkan hasil.11 Hasil

penelitian yang dilakukan Bungsu Riana (2010) menunjukkan bahwa ada

hubungan signifikan antara pekerjaan dengan kepemilikan rumah sehat. Hal ini

menunjukkan bahwa seseorang yang telah bekerja mempunyai kesempatan yang

besar untuk memiliki rumah sehat. Rasa ingin memiliki rumah sehat tersebut

berkaitan dengan ada tidaknya penghasilan yang tetap, artinya orang yang sudah

15
bekerja biasanya mempunyai sejumlah pengahasilan setiap hari atau setiap

bulan.12

c. Tingkat Pendapatan

Pendapatan adalah tingkat penghasilan penduduk, semakin tinggi

penghasilan semakin tinggi pula persentase pengeluaran yang dibelanjakan untuk

barang, makanan, juga semakin tinggi penghasilan keluarga semakin baik pula

status gizi masyarakat . Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota

keluarga untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik di berbagai bidang,

misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan karir dan sebagainya.

Demikian pula sebaliknya jika pendapatan lemah maka akan terjadi hambatan

dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan ekonomi atau

penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan

keluarga.11

Penelitian Bungsu Riana dan Lubis yang menunjukkan bahwa pendapatan

keluarga mempunyai hubungan signifikan dengan kepemilikan rumah sehat. Hal

ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin

besar kemungkinan memiliki suatu rumah sehat. Masyarakat Indonesia pada

umum mempunyai harapan dan keinginan untuk memiliki rumah tempat hidup

dan berkeluarga. Hal ini sangat relevan dengan jumlah penghasilan yang

diperolehnya setiap hari atau setiap bulan. Hasil penelitian ini sejalan dengan

Panudju (1999), bahwa salah salah satu faktor yang mempengaruhi kepemilikan

16
rumah sehat adalah faktor pendapatan. Masyarakat berpenghasilan rendah tidak

mampu memenuhi persyaratan mendapatkan perumahan yang layak.13,15

d. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan hal ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga.

Margono dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah

kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi. Notoatmodjo (2003),

berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap obyek

melalui indra yang dimilikinya dan dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan

persepsi terhadap obyek.11

Pengetahuan merupakan salah satu indikator yang memungkinkan

seseorang untuk mempunyai rumah yang layak dan sehat. Pengetahuan juga

merupakan salah satu domain penting terhadap perilaku seseorang. Menurut

Rogers, dalam Notoatmodjo (2003), perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan

lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Semakin

tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin tahu tentang pentingnya

kepemilikan rumah sehat untuk menunjang kehidupan dan kesehatan keluarga.12,13

17
BAB III
LANDASAN TEORI, KERANGKA TEORI, KERANGKA
KONSEP, HIPOTESIS

A. LANDASAN TEORI

Dari tinjauan pustaka diatas diperoleh landasan teori sebagai berikut :

1. Jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan berpengaruh

terhadap terciptanya rumah sehat pada masyarakat karena dengan

pekerjaan, pendidikan, dan pendapatan yang lebih baik akan

mendorong seseorang untuk mengupayakan pembangunan rumah

sehat.

2. Tingkat pengetahuan yang baik tentang rumah sehat akan

mempengaruhi perilaku seseorang untuk menciptakan status rumah

sehat yang lebih baik.

3. Seseorang yang memiliki strata perilaku hidup bersih dan sehat

(PHBS) yang baik, maka lebih terdorong untuk memiliki rumah sehat

karena mereka sudah mengetahui dampak positif dari kepemilikan

rumah sehat terhadap derajat kesehatan

18
B. KERANGKA TEORI

Jenis
Pekerjaan Tingkat
pengetahuan
rumah sehat
Tingkat
pendidikan
Jenis tempat
Rumah Sehat pembuangan
sampah
Tingkat
pendapatan
Jenis tempat
pembuangan air
Strata PHBS limbah

C. KERANGKA KONSEP

Pengetahuan Tingkat
Rumah Sehat pendapatan

Rumah Sehat

19
D. HIPOTESIS

1. Terdapat hubungan tingkat pengetahuan rumah sehat dengan

kepemilikan rumah sehat pada penduduk di Desa Pringombo pada

periode April 2013.

2. Terdapat hubungan tingkat pendapatan dengan kepemilikan rumah

sehat pada penduduk di Desa Pringombo pada peride April 2013.

20
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITAN

Tempat penelitian adalah Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran,

Kabupaten Magelang. Waktu penelitan adalah pada bulan 12 April 2013 17

April 2013.

C. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah unmatched case control atau kasus kelola tak

berpasangan.

D. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

Populasi Target

Populasi penelitian adalah seluruh warga Desa Pringombo.

Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau adalah kepala keluarga yang memiliki rumah katagori

sehat dan rumah kategeori belum sehat.

Sampel Penelitian

Populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian

21
Kriteria Inklusi

Setiap kepala keluarga dengan kondisi rumah katagori rumah tidak sehat,

sebagai kasus.

Setiap kepala keluarga dengan kondisi rumah katagori rumah sehat,

sebagai kontrol.

Kriteria Eksklusi

Tidak ada.

E. CARA PENGAMBILAN SAMPEL

Pengambilan sampel penelitian adalah dengan metode simple random

sampling.

F. BESAR SAMPEL

Besar sampel penelitian dihitung menggunakan software Epi info versi 6

for windows. input yang ditentukan adalah power penelitian, interval kepercayaan

(CI), dan paparan faktor risiko pada kelompok kontrol.

Peneliti, berdasarkan survey kesehatan awal, memperkirakan bahwa faktor

risiko yang paling berperan dalam mendukung status rumah tidak sehat adalah

pengeteahuan mengenai rumah sehat. Proporsi pengetahuan rumah sehat yanng

kurang cukup pada kepala keluarga yang memiliki rumah sehat adalah 19.23 %.

Power penelitian yang digunakan adalah 70%.Odds ratio yang digunakan 3.0.

Interval kepercayaan yang digunakan adalah 90%.

22
Angka angka diatas menghasilkan sampel penelitian sebesar 48 kepala

keluarga. Survey awal menemukan 52 kepala keluarga memiliki rumah sehat, dan

106 kepala keluarga memiliki rumah tidak sehat. Peneliti mengambil 52 rumah

tidak sehat sebagai kasus dan 52 rumah sehat sebagai kontrol.

G. VARIABEL PENELITIAN

Meliputi : Tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat

pengetahun rumah sehat, strata PHBS, dan kepemilikan rumah sehat.

H. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

Tabel 4.1 Definisi operasional variabel

No Variabel Kategori Skala

1. Tingkat pendapatan: < UMR Nominal


Pendapatan kepala keluarga tiap bulannya UMR
terhadap upah minimum regional (UMR)
Kabupaten Magelang; yaitu : Rp 942000,00

2. Jenis ekerjaan : Petani Nominal


Pekerjaan kepala keluarga Pedagang / swasta
PNS
Lain - lain
Tidak bekerja

3. Tingkat pendidikan : Tidak / belum sekolah Nominal


Pendidikan terakhir tertinggi dalam masing - Tidak tamat SD
masing kepala keluarga Tamat SD
Tampat SMP
Tamapt SMA
Tamat PT / Akademi

23
Tabel 4.1 Definisi operasional variabel

No Variabel Kategori Skala

4. Tingkat Pengetahuan Rumah sehat : Kurang Nominal


Nilai pengetahuan rumah sehat berdasarkan Cukup
jawaban wawancara Baik

5. Strata PHBS : Sehat Pratama Nominal


Tingkatan PHBS berdasarkan nilai pada saat Sehat Madya
wawancara Sehat Utama
Sehat Paripurna

6. Kepemilikan Rumah Sehat Belum sehat Nominal


Kondisi rumah sesuai standar rumah sehat Sehat

I. CARA PENGUMPULAN DATA

Data dikumpulkan dari hasil survey kesehatan awal dan dari wawancara.

J. INSTRUMEN PENELITIAN

Hasil tabulasi survey kesehatan tanggal 11 April 2013. Kuesioner

pengetahuan rumah sehat (terlampir).

K. JENIS DATA

Data sekunder, yaitu tabulasi survei awal kesehatan tanggal 11 April 2013,

sedangkan data primer diperoleh melalui kunjungan rumah dan wawancara

kuesioner.

24
L. ALUR PENELITIAN

Mendata responden dari hasil survey

kesehatan awal pada tanggal 11 April 2013

Menentukan kasus dan mencarikan kontrol

Melakukan kunjungan rumah dan Melakukan kunjungan rumah dan

wawancara pada kelompok kasus wawancara pada kelompok Kontrol

Menganalisis data variabel variabel pada kelompok kasus dan kontrol

Hasil Penelitian

M. ANALISIS DATA

Data dikumpulkan kemudian ditabulasi menggunakan perangkat lunak

komputer, ditampilkan dalam bentuk grafik, kemudian dilakukan deskripsi.

Analisis hubungan tiap variabel terhadap kejadian diare dengan Chi square.

Kekuatan hubngan tiap variabel dilihat dari Odds Ratio. Apabila tidak memenuhi

syarat Chi square, dapat dilakukan uji Fisher dan atau teknik penggabungan sel.

Analisis kekuatan hubungan antar variabel terhadap kejadian diare dilakukan

dengan regresi logistik.

25
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik sampel yang diteliti

Telah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

kepemilikan rumah sehat di Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten

Magelang pada 104 kepala keluarga. Karakteristik sampel penelitian disajikan

menurut variabel sebagai berikut:

1. Jenis pekerjaan

Tabel 5.1 Jenis Pekerjaan

No. Jenis Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

1. Petani 82 78,8

2. Pedagang 2 1,9

3 Swasta 18 17,3

4. Tidak bekerja 2 1,9

Total 104 100

Jenis Pekerjaan
Petani Pedagang Swasta Tidak Bekerja
2%
17%

2%

79%

26
Dari tabel dan diagram diatas didapatkan bahwa sebagian besar sampel

bekerja sebagai petani (78,8%), diikuti oleh pekerja swasta (17,3%), pedagang

(1,9%), dan tidak bekerja (1,9%).

2. Tingkat pendidikan

Tabel 5.2 Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

1. Tidak pernah sekolah 4 3,8

2. Tidak tamat SD/ sederajat 4 3,8

3 Tamat SD/ sederajat 66 63,5

4. Tamat SLTP/ sederajat 18 17,3

5. Tamat SLTA/ sederajat 8 7,7

6. Tamat perguruan tinggi 4 3,8

Total 104 100

70

60
Tidak Pernah Sekolah
50
Tidak tamat SD/ Sederajat
40

Tamat SD/ sederajat


30

Tamat SLTP/ sederajat


20

Tamat SLTA/ sederajat


10

0
Tamat Perguruan Tinggi

27
Dari tabel dan diagram diatas didapatkan bahwa sebagian besar responden

berpendidikan tamatan SD (63,5%), hanya sebagian kecil saja yang pernah

mengenyam pendidikan perguruan tinggi (3,8%).

3. Strata PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat )

Tabel 5.3 Strata PHBS

No. Strata PHBS Frekuensi Persentase (%)

1. Sehat pratama 7 6.7

2. Sehat madya 36 34.6

3 Sehat utama 59 56.7

4. Sehat paripurna 2 1.9

Total 104 100.0

Strata PHBS
Strata PHBS

56.7

34.6

6.7
1.9

Sehat Pratama Sehat Madya Sehat Utama Sehat Paripurna

28
Strata perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS) adalah kriteria yang

digunakan untuk menggambarkan perilaku hidup sehat dari setiap individu.

Klasifikasi PHBS, yaitu: sehat pratama, sehat madya, sehat utama, sehat

paripurna. Dari hasil survey didapatkan sebagian besar responden tergolong sehat

utama (56,7%) dan hanya sedikit yang tergolong sehat paripurna (1,9%).

4. Tingkat pendapatan

Tabel 5.4 Tingkat Pendapatan

No. Tingkat Pendapatan Frekuensi Persentase (%)

1. < UMR 16 15,4

2. UMR 88 84,6

Total 104 100.0

Tingkat Pendapatan
15.4

<UMR
>=UMR

84.6

Menurut Disnakerduktrans, UMR di Kabupaten Magelang berjumlah

Rp.942.000,00, sedangkan sebagian besar penduduk Desa Pringombo bermata

pencaharian sebagai petani yang memiliki rata-rata pendapatan sekitar

Rp.300.000,00 per bulan, yang berarti dibawah UMR Kab. Magelang. Hanya

29
sebagian kecil yang memiliki pendapatan diatas UMR, yaitu sebanyak 15,4% dari

responden.

5. Tingkat pengetahuan rumah sehat

Tabel 5.5 Tingkat Pengetahuan Rumah Sehat

No. Tingkat Pengetahuan Rumah Sehat Frekuensi Persentase (%)

1. Kurang 10 9,6

2. Cukup 21 20,2

3 Baik 73 70,2

Total 104 100.0

Tingkat Pengetahuan Rumah Sehat


80
70.2
70

60

50

40

30
20.2
20
9.6
10

0
Kurang Cukup Baik

30
Tingkat pengetahuan rumah sehat diukur per kepala kelarga melalui

kuesioner, lalu dinilai dan digolongkan menjadi tiga: kurang, cukup, dan baik.

Sebagian besar penduduk Desa Pringombo memiliki pengetahuan yang baik

tentang rumah sehat (70,2%), sebagian lain memiliki pengetahuan cukup

(20,2%) dan pengetahuan kurang (9,6%).

6. Kepemilikan rumah sehat

Kepemilikan Rumah Sehat

Sehat
50 Belum Sehat

50

Tabel 5.6 Status Rumah Sehat

No. Status Rumah Sehat Frekuensi Persentase (%)

1. Sehat 52 50

2. Belum sehat 52 50

Total 104 100

31
Penggolongan rumah sehat berdasarkan beberapa kriteria, lalu dinilai dan

digolongkan menjadi sehat dan belum sehat. Sebagian besar rumah penduduk di

Desa Pringombo termasuk rumah belum sehat (50%), sebagian lain termasuk

rumah sehat (50%).

B. Hasil analisis variabel

Analisis hubungan dan kekuatan hubungan setiap variabel terhadap status

rumah sehat dapat dilihat pada tabel dibawah. Sampel subketagori pada beberapa

variabel memiliki proporsi yang tidak seimbang/ timpang (variabel jenis

pekerjaan, tingkat pendidikan, strata PHBS, dan tingkat pengetahuan rumah

sehat). Proses penggabungan sel dilakukan sebagai alternative untuk dapat

dilakukan analisis bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji chi square; Apabila

tidak memenuhi syarat dilakukan uji Fisher.

32
Tabel 5.7: Hasil analisis bivariat kepemilikan rumah sehat dengan variabel lainnya
Kepemilikan Rumah CI 95%
Sehat (n) Upper
No. Variabel P OR
Belum Sehat Sehat Lower
(106 ) (52 )
1. Pekerjaan
Petani 44 38 0.150 2.026 0.767 5.351
Selain petani a 8 14
2. Pendidikan
Tak sekolah Tamat SD b 42 32 0.030 2.625 1.081 6.337
SMP PT c 10 20
3. Pendapatan
< UMR 49 39 0.007 5.444 1.449 20.462
UMR 3 13
4. Strata PHBS
Sehat pratama-madya 27 16 0.029 2.430 1.090 5.417
Sehat Utama-paripurna 25 36
5. Pengetahuan rumah sehat
Kurang Cukup 21 10 0.018 2.845 1.175 6.891
Baik 31 42
a
Swasta, Pedagang, Ibu Rumah Tangga, Pelajar, PNS
b
Tidak Sekolah, belum sekolah, tidak tamat SD, tamat SD
c
Tamat SMP, Tamat SMA, PT / Akademi

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji chi square didapatkan

nilai p < 0,05 pada semua variabel kecuali pekerjaan. Kekuatan hubungan masing

masing variabel dapat dilihat dari Odds Ratio (OR) yaitu pendapatan (OR =

5,444), pengetahuan rumah sehat (OR = 2,845), pendidikan (OR = 2,625), dan

strata PHBS (OR = 2,430).

33
Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui variabel mana yang

memiliki pengaruh paling besar. Variabel yang memenuhi syarat analisis

multivariate regresi logistik yaitu variabel dengan nilai p < 0.25; diantaranya

variabel pendapatan dan pengetahuan rumah sehat.

Tabel 5.8 : Analisis multivariat variabel faktor yang mempengaruhi kepemilikan rumah
sehat

No. Variabel OR [Exp(B)] CI 90%

1. Pendapatan 4,719 1.530 14,555

2. Pengetahuan rumah sehat 2,484 1,160 5,320

Tabel diatas menunjukkan variabel yang paling berpengaruh pada

kepemilikan rumah sehat adalah pendapatan (OR = 4,719) diikuti variabel

pengetahuan rumah sehat (OR = 2,484).

34
35
BAB VI

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Pembahasan hasil penelitian didasarkan pada hasil uji statistik, data dari

wawancara berdasarkan kuesioner dan tinjauan pustaka. Pembahasan dilakukan

untuk menemukan alasan-alasan yang mendukung hasil penelitian. Pada hasil

analisis di atas, kepemilikan rumah sehat memiliki hubungan yang bermakna

dengan pekerjaan sebagai petani, tingkat pendidikan tak tamat sekolah tamat

SD, pendapatan dibawah UMR, strata PHBS sehat pratama madya, pengetahuan

rumah sehat kurang cukup.

1. Pekerjaan petani

Dengan nilai kemaknaan p=0,150, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan

sebagai petani tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan bagi status

rumah tidak sehat.

2. Pendidikan tak sekolah tamat SD

Dengan nilai kemaknaan p=0,030, dapat disimpulkan bahwa dalam

penelitian ini tingkat pendidikan yang tidak pernah sekolah tamat SD 2.625x

lebih berpeluang menyebabkan rendahnya kepemilikan rumah sehat dibanding

dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Tingkat pendidikan yang rendah

menyebabkan pengetahuan warga mengenai rumah sehat kurang. Hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya, bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara tingkat pendidikan dengan kepemilikan rumah sehat, dimana

semakin tinggi pendidikan seseorang maka kemungkinan memiliki rumah sehat

36
akan semakin besar. Hal ini dapat dikarenakan seseorang yang mempunyai

pendidikan baik akan mempunyai keinginan untuk memiliki rumah sehat karena

pada prinsipnya pendidikan adalah pintu masuk seseorang untuk mengambil suatu

keputusan, termasuk untuk memiliki suatu rumah sehat. Pendidikan juga

menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan

yang mereka peroleh. Pada umumnya, semakin tinggi pendidikan seseorang maka

semakin baik pula pengetahuan. Demikian pula sebaliknya, bila seseorang

memiliki pendidikan rendah maka pengetahuan cara hidup sehat belum dipahami

dengan baik.12,13

3. Pendapatan kurang dari UMR

Dengan nilai kemaknaan p=0,007, dapat disimpulkan bahwa dalam

penelitian ini bahwa tingkat pendapatan yang kurang dari UMR 5.444x lebih

besar berhubungan dengan status rumah yang belum sehat. Hal ini dikarenakan

pendapatan yang kurang dari UMR menyebabkan kemampuan warga untuk

membangun rumah yang sesuai dengan standar rumah sehat menurun. Hal ini

sesuai dengan penelitian yang dilakukan Bungsu Riana dan Lubis yang

menyatakan bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin besar

kemungkinan memiliki suatu rumah sehat.12,13 Hasil penelitian ini sejalan dengan

Panudju (1999), bahwa salah salah satu faktor yang mempengaruhi kepemilikan

rumah sehat adalah faktor pendapatan. Masyarakat yang berpenghasilan rendah

tidak mampu memenuhi persyaratan mendapatkan perumahan yang layak dan

sehat.14

37
Keadaan ekonomi atau penghasilan memegang peranan penting dalam

meningkatkan status kesehatan keluarga. Tingkat pendapatan yang baik

memungkinkan anggota keluarga untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik

di berbagai bidang, termasuk bidang kesehatan. Demikian pula sebaliknya jika

pendapatan lemah maka akan terjadinya hambatan dalam pemenuhan kebutuhan-

kebutuhan tersebut.11

4. Strata perilaku hidup bersih sehat pratama - madya

Dengan nilai kemaknaan p=0,029, dapat disimpulkan bahwa dalam

penelitian ini strata perilaku hidup bersih sehat pratama madya 2.430x

berpengaruh terhadap status rumah sehat yang buruk. Status PHBS pratama

madya berpengaruh terhadap gaya hidup bersih masyarakat yang kurang.

Seseorang yang memiliki kesadaran yang baik untuk hidup sehat, maka lebih

terdorong untuk memiliki rumah sehat karena mereka sudah mengetahui dampak

positif dari kepemilikan rumah sehat terhadap derajat kesehatan.

5. Pengetahuan rumah sehat kurang - cukup

Dengan nilai kemaknaan p=0,018, dapat disimpulkan bahwa dalam

penelitian ini pengetahuan rumah sehat kurang cukup 2.845x lebih besar

menyebabkan status rumah belum sehat. Hal ini disebabkan karena pengetahuan

akan mempengaruhi perilaku seseorang untuk mengupayakan membangun rumah

yang sehat. Pengetahuan merupakan salah satu indikator yang memungkinkan

seseorang untuk mempunyai rumah yang layak dan sehat. Pengetahuan juga

merupakan salah satu domain penting terhadap perilaku seseorang. Menurut

Rogers, dalam Notoatmodjo (2003), perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan

38
lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Semakin

tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin tahu tentang pentingnya

kepemilikan rumah sehat untuk menunjang kehidupan dan kesehatan keluarga,

sebagaimana penelitian-penelitian terdahulu.12,13

Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya pada

penelitian ini ditemukan rumah tidak sehat sebagai kasus 106 dan rumah sehat

sebagai control 52. Kekurangan control pada penelitian ini menyebabkan

peneliti cenderung menyesuaikan jumlah kasus yang akan diteliti dengan

control. Sehingga pada saat penghitungan sampel penelitian power dan interval

kepercayaan memiliki nilai yang berkurang.

39
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

1. Kepemilikan rumah sehat dengan jenis pekerjaan tidak memiliki hubungan

yang bermakna.

Nilai p = 0.150 ; OR = 2.026; CI = 0.767 5.351.

2. Kepemilikan rumah sehat dengan tingkat pendidikan memiliki hubungan

bermakna.

Nilai p = 0.03 ; OR = 2.625; CI = 1.081 6.337.

Pendidikantak sekolah tamat SD cenderung memiliki rumah tidak sehat

2.625 kali daripada pendidikan SMP PT.

3. Kepemilikan rumah sehat dengan tingkat pendapatan memiliki hubungan

bermakna.

Nilai p = 0.007 ; OR = 5.444; CI = 1.449 20.462.

Tingkat pendapatan < UMR cenderung memiliki rumah tidak sehat 5.444

kali daripada tingkat pendapatan UMR.

4. Kepemilikan rumah sehat dengan strata PHBS memilki hubungan

bermakna.

Nilai p =0.029 ; OR = 2.430; CI = 1.090 5.417.

Responden dengan strata PHBS pratama - madya cenderung memiliki

rumah tidak sehat 2.430 kali daripada strata PHBS utama paripurna.

40
5. Kepemilikan rumah sehat dengan tingkat pengetahuan rumah sehat

memilki hubungan bermakna.

Nilai p = 0.018; OR = 2.845; CI =1.175 6.891.

Kepala keluarga dengan pengetahuan rumah sehat katagori kurang

cukup cenderung memiliki rumah tidak sehat 2.845 kali dibandingkan

dengan katagori pengetahuan rumah sehat yang baik.

6. Variabel yang paling kuat berkontribusi terhadap kepemilikan rumah sehat

adalah tingkat pendapatan (OR = 4.719;CI 90% = 1.530 15.555)

kemudian tingkat pengetahuan rumah sehat (OR = 2.484; CI 90% = 1.160

5.320). Tingkat pendapatan yang kurang menyebabkan kemampuan

warga untuk membangun rumah yang sesuai dengan standar rumah sehat

dengan didukung oleh pengetahuan rumah sehat yang kurang.

B. SARAN

1. Perlu dilakukan penyeluhuan mengenai rumah sehat, perilaku hidup bersih

sehat (PHBS)

2. Perlu diadakan gerakan untuk membentuk kesadaran dan perilaku

masyarakat dalam rangka menciptakan rumah sehat, diantaranya gerakan

membuka dan menutup jendela, kebiasaan cuci tangan yang sehat, dan

merokok diluar rumah.

41
DAFTAR PUSTAKA

1. Sanropie. D. 1989. Pengawas Penyehatan Lingkungan. Depkes RI. Jakarta.

2. Blaang. C.D. 1996. Perumahan dan Pemukiman Sebagai Kebutuhan

Pokok. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

3. Komisi WHO. Mengenai kesehatan dan lingkungan. 2002. Available

fromhttp://www.p2kp.orang/warta/files/kmp.sfgrd.rumahsehat1.jpg.

4. Pamsimas. Perilaku hidup bersih dan sehat dan penyakit berbasis

lingkungan. 2011. Available from:

http//:www.pamsimas.org%2Findex.php%3Foption%3Dcom_phocadow

nload%26viewDcategory%26id%3D48%3Apedum-strategiclts%26dow

nload.

5. Azwar. A. 1990. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber

Widya. Jakarta

6. Depkes RI. 2008. http://docs,google.com/viewer?a:v&q:cache:cqu

.moif.Bkl:repository.usu.ac.id/bitstrem/123456789.

7. Depkes RI. 2002. Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat. Ditjen PPM

dan PL. Jakarta.

8. Entjang. Indan. 1993. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung.

9. Azwar. S. 2007. Sikap Manusia. Teori dan Pengukurannya. Pustaka

Pelajar. Jakarta.

10. Koentjoroningrat, 1997. Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia,

Jakarta

42
11. Notoatmodjo Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku kesehatan. Rineka

Cipta. Jakarta.

12. Riana, Bungsu. 2008. Pengaruh karakteristik individu, pengetahuan,

sikap dan peran petugas terhadap kepemilikan rumah sehat di kecamatan

peureulak timur Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008. Medan: Universitas

Sumatera Utara.

13. Lubis. Pandapotan. 2002. Hubungan Pendidikan dan Perumahan Sehat.

Pusdiknakes. Jakarta.

14. Panudju. B. 1999. Pengadaan Rumah Kota dengan Peran Serta

Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Alumni. Bandung.

43
LAMPIRAN

Hasil Output SPSS Rumah Sehat

Frequencies

Statistics

pengetahuan
_rumah_seh
Pekerjaan Pendidikan at strata_phbs status_rumah pendapatan
N Valid 104 104 104 104 104 104
Missing 0 0 0 0 0 0

Frequency Table
Pekerjaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Petani 82 78.8 78.8 78.8
Pedagang 2 1.9 1.9 80.8
Swasta 18 17.3 17.3 98.1
Tidak bekerja 2 1.9 1.9 100.0
Total 104 100.0 100.0

Pendidikan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak pernah sekolah 4 3.8 3.8 3.8
tidak tamat SD/ sederajat 4 3.8 3.8 7.7
Tamat SD/sederajat 66 63.5 63.5 71.2
Tamat SLTP/sederajat 18 17.3 17.3 88.5
Tamat SLTA/akademi 8 7.7 7.7 96.2
Tamat perguruan tinggi 4 3.8 3.8 100.0
Total 104 100.0 100.0

44
pengetahuan_rumah_sehat

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang 10 9.6 9.6 9.6
Cukup 21 20.2 20.2 29.8
Baik 73 70.2 70.2 100.0
Total 104 100.0 100.0

strata_phbs

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Sehat pratama 7 6.7 6.7 6.7
Sehat madya 36 34.6 34.6 41.3
Sehat utama 59 56.7 56.7 98.1
sehat paripurna 2 1.9 1.9 100.0
Total 104 100.0 100.0

status_rumah

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Sehat 52 50.0 50.0 50.0
Belum sehat 52 50.0 50.0 100.0
Total 104 100.0 100.0

pendapatan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid >= UMR 16 15.4 15.4 15.4
< UMR 88 84.6 84.6 100.0
Total 104 100.0 100.0

45
Crosstabs

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
petani v swasta *
status_rumah 104 100.0% 0 .0% 104 100.0%
SD v smp-akad *
status_rumah 104 100.0% 0 .0% 104 100.0%
madya v utama *
status_rumah 104 100.0% 0 .0% 104 100.0%
pengetauan rumah
T * status_rumah 104 100.0% 0 .0% 104 100.0%
pendapatan *
status_rumah 104 100.0% 0 .0% 104 100.0%

petani v swasta * status_rumah


Crosstab

status_rumah Total
Sehat Belum sehat Sehat
petani v Swasta dll. Count 14 8 22
swasta Expected Count 11.0 11.0 22.0
Petani Count 38 44 82
Expected Count 41.0 41.0 82.0
Total Count 52 52 104
Expected Count 52.0 52.0 104.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 2.075(b) 1 .150
Continuity
1.441 1 .230
Correction(a)
Likelihood Ratio 2.097 1 .148
Fisher's Exact Test .230 .115
Linear-by-Linear
Association 2.055 1 .152
N of Valid Cases 104
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11.00.

46
Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for petani v
swasta (Swasta dll. / 2.026 .767 5.351
Petani)
For cohort
status_rumah = Sehat 1.373 .927 2.033
For cohort
status_rumah = Belum .678 .376 1.220
sehat
N of Valid Cases 104

SD v smp-akad * status_rumah
Crosstab

status_rumah Total
Sehat Belum sehat Sehat
SD v smp-akad Pendidikan SMP - PT Count 20 10 30
Expected Count 15.0 15.0 30.0
Tidak sekolah - SD Count 32 42 74
Expected Count 37.0 37.0 74.0
Total Count 52 52 104
Expected Count 52.0 52.0 104.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 4.685(b) 1 .030
Continuity
3.795 1 .051
Correction(a)
Likelihood Ratio 4.753 1 .029
Fisher's Exact Test .050 .025
Linear-by-Linear
Association 4.640 1 .031
N of Valid Cases 104
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.00.

47
Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for SD v
smp-akad (Pendidikan
SMP - PT / Tidak 2.625 1.081 6.377
sekolah - SD)
For cohort
status_rumah = Sehat 1.542 1.072 2.218
For cohort
status_rumah = Belum .587 .341 1.012
sehat
N of Valid Cases 104

madya v utama * status_rumah


Crosstab

status_rumah Total
Sehat Belum sehat Sehat
madya v Utama - Paripurna Count 36 25 61
utama Expected Count 30.5 30.5 61.0
Pratama - Madya Count 16 27 43
Expected Count 21.5 21.5 43.0
Total Count 52 52 104
Expected Count 52.0 52.0 104.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 4.798(b) 1 .029
Continuity
3.965 1 .046
Correction(a)
Likelihood Ratio 4.840 1 .028
Fisher's Exact Test .046 .023
Linear-by-Linear
Association 4.751 1 .029
N of Valid Cases 104
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21.50.

48
Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for madya v
utama (Utama -
Paripurna / Pratama - 2.430 1.090 5.417
Madya)
For cohort
status_rumah = Sehat 1.586 1.020 2.465
For cohort
status_rumah = Belum .653 .447 .953
sehat
N of Valid Cases 104

pengetauan rumah T * status_rumah


Crosstab

status_rumah Total
Sehat Belum sehat Sehat
pengetauan baik Count 42 31 73
rumah T Expected Count 36.5 36.5 73.0
kurang - cukup Count 10 21 31
Expected Count 15.5 15.5 31.0
Total Count 52 52 104
Expected Count 52.0 52.0 104.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 5.561(b) 1 .018
Continuity
4.596 1 .032
Correction(a)
Likelihood Ratio 5.653 1 .017
Fisher's Exact Test .031 .016
Linear-by-Linear
Association 5.507 1 .019
N of Valid Cases 104
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.50.

49
Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for
pengetauan rumah T 2.845 1.175 6.891
(baik / kurang - cukup)
For cohort
status_rumah = Sehat 1.784 1.032 3.082
For cohort
status_rumah = Belum .627 .437 .899
sehat
N of Valid Cases 104

pendapatan * status_rumah
Crosstab

status_rumah Total
Sehat Belum sehat Sehat
pendapatan >= UMR Count 13 3 16
Expected Count 8.0 8.0 16.0
< UMR Count 39 49 88
Expected Count 44.0 44.0 88.0
Total Count 52 52 104
Expected Count 52.0 52.0 104.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 7.386(b) 1 .007
Continuity
5.983 1 .014
Correction(a)
Likelihood Ratio 7.877 1 .005
Fisher's Exact Test .013 .006
Linear-by-Linear
Association 7.315 1 .007
N of Valid Cases 104
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.00.

50
Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for
pendapatan (>= UMR / 5.444 1.449 20.462
< UMR)
For cohort
status_rumah = Sehat 1.833 1.315 2.555
For cohort
status_rumah = Belum .337 .119 .950
sehat
N of Valid Cases 104

Logistic Regression

Case Processing Summary

Unweighted Cases(a) N Percent


Selected Cases Included in Analysis 104 100.0
Missing Cases 0 .0
Total 104 100.0
Unselected Cases 0 .0
Total 104 100.0
a If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding

Original Value Internal Value


Belum sehat 0
Sehat 1

51
Categorical Variables Codings

Parameter
Frequency coding

(1) (1)
pendapatan >= UMR 16 1.000
< UMR 88 .000
SD v smp-akad Pendidikan SMP - PT 30 1.000
Tidak sekolah - SD 74 .000
madya v utama Utama - Paripurna 61 1.000
Pratama - Madya 43 .000
pengetauan baik 73 1.000
rumah T kurang - cukup 31 .000
petani v swasta Swasta dll. 22 1.000
Petani 82 .000

Block 0: Beginning Block


Classification Table(a,b)

Predicted
Percentage
rumah sehat reg Correct
Observed Belum sehat Sehat Belum sehat
Step 0 rumah sehat reg Belum sehat 0 52 .0
Sehat 0 52 100.0
Overall Percentage 50.0
a Constant is included in the model.
b The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)


Lower Upper Lower Upper Lower Upper
Step 0 Constant .000 .196 .000 1 1.000 1.000

Variables not in the Equation

Score df Sig.
Step 0 Variables pekerjaan_T(1) 2.075 1 .150
pendidikan_T(1) 4.685 1 .030
phbs_T(1) 4.798 1 .029
pengRS_T(1) 5.561 1 .018
pendapatan(1) 7.386 1 .007
Overall Statistics 13.767 5 .017

52
Block 1: Method = Backward Stepwise (Likelihood Ratio)
Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square df Sig.
Step 1 Step 14.757 5 .011
Block 14.757 5 .011
Model 14.757 5 .011
Step Step -.053 1 .817
2(a) Block 14.704 4 .005
Model 14.704 4 .005
Step Step -.504 1 .478
3(a) Block 14.200 3 .003
Model 14.200 3 .003
Step Step -2.305 1 .129
4(a) Block 11.895 2 .003
Model 11.895 2 .003
a A negative Chi-squares value indicates that the Chi-squares value has decreased from the
previous step.

Model Summary

-2 Log Cox & Snell Nagelkerke R


Step likelihood R Square Square
1 129.417(a) .132 .176
2 129.471(a) .132 .176
3 129.975(a) .128 .170
4 132.280(a) .108 .144
a Estimation terminated at iteration number 4 because parameter estimates changed by less than
.001.

Hosmer and Lemeshow Test

Step Chi-square df Sig.


1 3.321 7 .854
2 1.108 6 .981
3 .845 4 .932
4 .103 1 .749

53
Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test

rumah sehat reg = rumah sehat reg =


Belum sehat Sehat Total

Observed Expected Observed Expected Observed


Step 1 1 13 13.001 4 3.999 17
2 7 5.736 2 3.264 9
3 7 7.438 5 4.562 12
4 4 5.503 6 4.497 10
5 1 1.008 1 .992 2
6 10 11.367 15 13.633 25
7 5 3.921 5 6.079 10
8 4 2.789 6 7.211 10
9 1 1.237 8 7.763 9
Step 2 1 14 13.734 4 4.266 18
2 7 6.193 3 3.807 10
3 7 8.037 6 4.963 13
4 4 4.744 5 4.256 9
5 13 13.050 16 15.950 29
6 4 3.551 6 6.449 10
7 2 1.617 5 5.383 7
8 1 1.074 7 6.926 8
Step 3 1 14 13.646 4 4.354 18
2 7 6.809 4 4.191 11
3 11 12.361 10 8.639 21
4 17 16.184 21 21.816 38
5 2 1.538 4 4.462 6
6 1 1.462 9 8.538 10
Step 4 1 21 20.336 8 8.664 29
2 28 28.664 31 30.336 59
3 3 3.000 13 13.000 16

54
Classification Table(a)

Predicted
Percentage
rumah sehat reg Correct
Observed Belum sehat Sehat Belum sehat
Step 1 rumah sehat reg Belum sehat 32 20 61.5
Sehat 18 34 65.4
Overall Percentage 63.5
Step 2 rumah sehat reg Belum sehat 32 20 61.5
Sehat 18 34 65.4
Overall Percentage 63.5
Step 3 rumah sehat reg Belum sehat 32 20 61.5
Sehat 18 34 65.4
Overall Percentage 63.5
Step 4 rumah sehat reg Belum sehat 21 31 40.4
Sehat 8 44 84.6
Overall Percentage 62.5
a The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B) 90.0% C.I.for EXP(B)


Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper
Step pekerjaan_T(1)
.131 .567 .053 1 .817 1.140 .449 2.898
1(a)
pendidikan_T(1) .342 .545 .394 1 .530 1.408 .575 3.448
phbs_T(1) .671 .440 2.325 1 .127 1.955 .949 4.030
pengRS_T(1) .690 .496 1.938 1 .164 1.994 .882 4.506
pendapatan(1) 1.268 .736 2.971 1 .085 3.554 1.060 11.916
Constant -1.179 .456 6.681 1 .010 .308
Step pendidikan_T(1)
.374 .527 .503 1 .478 1.453 .611 3.459
2(a)
phbs_T(1) .683 .437 2.444 1 .118 1.979 .965 4.059
pengRS_T(1) .687 .496 1.919 1 .166 1.988 .879 4.495
pendapatan(1) 1.289 .730 3.121 1 .077 3.630 1.093 12.057
Constant -1.169 .454 6.636 1 .010 .311
Step phbs_T(1)
.657 .434 2.292 1 .130 1.929 .945 3.938
3(a)
pengRS_T(1) .784 .476 2.711 1 .100 2.190 1.001 4.793
pendapatan(1) 1.466 .687 4.553 1 .033 4.333 1.399 13.419
Constant -1.142 .450 6.445 1 .011 .319
Step pengRS_T(1)
.910 .463 3.860 1 .049 2.484 1.160 5.320
4(a)
pendapatan(1) 1.552 .685 5.134 1 .023 4.719 1.530 14.555
Constant -.853 .394 4.679 1 .031 .426
a Variable(s) entered on step 1: pekerjaan_T, pendidikan_T, phbs_T, pengRS_T, pendapatan.

55
Model if Term Removed

Change in -
Model Log 2 Log Sig. of the
Variable Likelihood Likelihood df Change
Step 1 pekerjaan_T -64.735 .053 1 .817
pendidikan_T -64.906 .395 1 .529
phbs_T -65.880 2.342 1 .126
pengRS_T -65.691 1.965 1 .161
pendapatan -66.375 3.333 1 .068
Step 2 pendidikan_T -64.987 .504 1 .478
phbs_T -65.967 2.463 1 .117
pengRS_T -65.708 1.946 1 .163
pendapatan -66.499 3.527 1 .060
Step 3 phbs_T -66.140 2.305 1 .129
pengRS_T -66.375 2.774 1 .096
pendapatan -67.719 5.462 1 .019
Step 4 pengRS_T -68.149 4.018 1 .045
pendapatan -69.261 6.242 1 .012

Variables not in the Equation

Score df Sig.
Step Variables pekerjaan_T(1) .054 1 .817
2(a) Overall Statistics .054 1 .817
Step Variables pekerjaan_T(1) .162 1 .687
3(b) pendidikan_T(1) .506 1 .477
Overall Statistics
.560 2 .756

Step Variables pekerjaan_T(1) .295 1 .587


4(c) pendidikan_T(1) .347 1 .556
phbs_T(1) 2.319 1 .128
Overall Statistics 2.880 3 .410
a Variable(s) removed on step 2: pekerjaan_T.
b Variable(s) removed on step 3: pendidikan_T.
c Variable(s) removed on step 4: phbs_T.

56