Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rumah Sehat

1. Definisi Rumah Sehat

Menurut World Health Organitation (WHO), rumah adalah struktur fisik

atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk

kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik demi kesehatan

keluarga dan individu.1

Menurut Blaang (1996), rumah merupakan kebutuhan pokok untuk

kelangsungan hidup dan kesejahteraan sosialnya, setiap orang membutuhkan

perumahan yang sehat dan layak huni. Di lain pihak, rumah merupakan dambaan

setiap keluarga, artinya setiap keluarga mampu meraihnya sesuai dengan apa yang

diinginkannya.2,3

Rumah sehat merupakan rumah yang dapat memberikan rasa aman dan

nyaman bagi penghuninya, sehingga mereka dapat hidup dan beraktifitas secara

optimal. Beberapa ciri rumah sehat antara lain:4

lantai tidak tembus air dan bersih


memiliki jendela dan lubang udara
halaman bersih dan rapi
memiliki sarana air bersih, jamban, saluran limbah, tempat sampah, dsb.

Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan

sehat apabila:5

1
Memenuhi kebutuhan fisik dasar, seperti temperatur yang lebih rendah

dari udara di luar rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang

nyaman, dan jauh dari kebisingan.


Memenuhi kebutuhan kejiwaan.
Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular, yaitu

memiliki penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah dan saluran

pembuangan air limbah yang baik.


Melindungi penghuninya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan

bahaya kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh, tangga yang tidak

curam, bahaya kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan, bahkan

dari ancaman kecelakaan lalu lintas.

Rumah sehat merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 dan

target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Target rumah sehat

yang harus dicapai dalam Indonesia Sehat 2010 telah ditentukan sebesar 80%.

Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2007, persentase rumah sehat

Indonesia pada tahun 2007 adalah 50,79%. Jumlah ini masih dibawah target yang

ditetapkan untuk dicapai pada tahun 2007, yaitu 75%.6,7

2. Prinsip Rumah Sehat

Menurut Depkes RI (2002), suatu rumah dikatakan sehat apabila :7

a. Memenuhi kebutuhan fisik antara lain pencahayaan, ventilasi dan

ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.


b. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang terjaga,

komunikasi yang sehat antar anggota dan penghuni rumah.


c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni

rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah

rumah tangga, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar

2
matahari pagi, terlindunginya makanan dan minuman dari

pencemaran, disamping pencahayaan dan ventilasi yang memadai.


d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang

timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain struktur

rumah yang tidak roboh, tangga yang tidak curam, rumah yang tidak

mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh

tergelincir.

Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah

sebagaimana tercantum dalam Permenkes Nomor 892/Menkes/SK/VII/1999

tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.7

Menurut Depkes RI (2002), indikator rumah yang dinilai adalah

komponen rumah yang terdiri dari : langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar

tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, dapur dan pencahayaan

dan aspek perilaku penghuni. Aspek perilaku penghuni tersebut adalah

pembukaan jendela kamar tidur, pembukaan jendela ruang keluarga, pembersihan

rumah dan halaman. Komponen yang harus dimiliki oleh rumah sehat adalah:7

a. Pondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar,

memberi kestabilan bangunan.


b. Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari

pekarangan dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah

panggung dapat terbuat dari papan atau anyaman bambu.


c. Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi dan

masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas lantai.

3
d. Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk menyangga atap,

menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar,

serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya;


e. Langit-langit untuk menahan panas sinar matahari, minimum 2,4 m dari

lantai, bisa dari bahan papan, anyaman bambu, tripleks atau gypsum.
f. Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar matahari serta

melindungi masuknya debu, angin dan air hujan.

Adapun aspek konstruksi atau komponen rumah yang memenuhi syarat

rumah sehat adalah : 5,8

1. Langitlangit dan dinding rumah

Adapun persyaratan untuk langit-langit dan dinding rumah yang baik

adalah sebagai berikut:

Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh..
Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai.
Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan rapat air sekurang-

kurangnya 15 cm dibawah permukaan tanah sampai 20 cm di atas lantai

bangunan, agar air tanah tidak dapat meresap naik keatas, sehingga

dinding terhindar dari basah dan lembab dan tidak berlumut.

2. Lantai

Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban diatasnya. Bahan untuk

lantai yang biasanya digunakan adalah ubin, kayu plesteran, atau bambu dengan

syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur waktu diinjak, permukaan lantai harus

rata dan mudah dibersihkan. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan lantai

adalah:

4
Sekurang-kurangnya 60 cm di atas tanah dan ruang bawah tanah harus ada

aliran tanah yang baik.


Lantai harus disusun dengan rapi dan rapat satu sama lain, sehingga tidak

ada lubang-lubang ataupun lekukan dimana debu bisa berkumpul. Lebih

baik jika lantai seperti ini dilapisi dengan perlak yang juga berfungsi

sebagai penahan kelembaban pada rumah.


Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air dan rayap

3. Tata ruang

Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai dengan

fungsinya. Penataan ruang dalam rumah harus disesuaikan dengan persyaratan

kesehatan rumah, misalnya pemisahan kamar tidur, dapur dan ruangan lainnya,

jumlah kamar tidur yang cukup untuk seluruh anggota keluarga, jendela yang

dibuka pada siang hari agar cahaya matahari dapat masuk dan udara dapat

bersirkulasi sehingga akan memperkecil resiko penularan penyakit infeksi.

Adapun syarat-syarat pembagian ruangan yang baik adalah sebagai berikut :

Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur kepala keluarga

(suami istri) dengan kamar tidur anak-anak, baik laki-laki maupun

perempuan, terutama anak-anak yang sudah dewasa.


Memilih tata ruangan yang baik, agar memudahkan komunikasi dan

hubungan antara ruangan di dalam rumah dan juga menjamin kebebasan

dan kerahasiaan pribadi masing-masing terpenuhi.


Tersedianya jumlah kamar yang cukup dengan luas lantai sekurang-

kurangnya 6 m2 agar dapat memenuhi kebutuhan penghuninya.


Luas dapur minimal 14 m2 dan lebar minimal 1,5 m 2. Di dapur harus

tersedia alat-alat pengolahan makanan, alat-alat masak, tempat cuci

5
peralatan dan air bersih, serta harus tersedia tempat penyimpanan bahan

makanan.
Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari dindingnya

terdapat ventilasi berhubungan dengan udara luar. Bila tidak harus

dilengkapi dengan ventilasi mekanis untuk mengeluarkan udara dari kamar

mandi dan jamban tersebut, sehingga tidak mengotori ruangan lain.


Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh digunakan lebih

dari 7 orang.

4. Ventilasi

Ventilasi harus diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat

merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau

kurang ventilasi. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam ruangan udara yang

bersih dan segar melalaui jendela atau lubang angin di dinding. Pada rumah

sekurang-kurangnya terdapat satu jendela/lubang yang langsung berhubungan

dengan udara bebas, jumlah luas jendela/lubang itu harus sekurang-kurangnya

sama 1/10 dari luas lantai ruangan, dan setengah dari jumlah luas jendela/lubang

itu harus dapat dibuka. Jendela/lubang udara itu harus meluas kearah atas sampai

setinggi minimal 1,95 di atas permukaan lantai. Untuk daerah pengunungan yang

berhawa dingin dan banyak angin, maka luas jendela/lubang angin dapat

dikurangi sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah pantai

laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah, maka jumlah luas bersih

jendela/ lubang udara harus diperbesar hingga mencapai 1/5 dari luas lantai. Jika

ventilasi alamiah kurang memenuhi syarat, maka dapat menggunakan peralatan

tambahan seperti kipas angin (ventilating, fan atau exhauster), atau AC

6
5. Pencahayaan

Pencahayaan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan

(lampu rumah) dan cahaya alamiah (sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan

melalui jendela, celah-celah atau bagian ruangan yang terbuka. Sinar sebaiknya

tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok yang tinggi).

Penerangan minimum untuk malam hari dalam ruangan, terutama untuk ruang

baca dan ruang kerja adalah 10 watt lampu TL, atau 40 watt dengan lampu pijar.

Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan yang

berkaitan rumah sehat adalah sebagai berikut :

1. Sarana Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang

kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak

(Permenkes No.416/MENKES/Per/IX/1990). Sarana air bersih adalah semua

sarana yang dipakai sebagai sumber air bagi penghuni rumah untuk digunakan

bagi penghuni rumah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Yang perlu

diperhatikan antara lain:

Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septik tank,

tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter.


Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat kedap air

dengan dilengkapi bibir sumur.


Penampungan air hujan, sumur artesis atau terminal air atau

perpipaan/kran terjaga kebersihannya dan dipelihara rutin.

Syarat air bersih adalah harus memenuhi syarat fisik, kimia maupun

bakteriologis. Syarat fisik air bersih yaitu air yang tidak berwarna, tidak berbau,

7
jernih dengan suhu sebaiknya dibawah suhu udara sehingga menimbulkan rasa

nyaman, Sedangkan untuk syarat kimia air bersih, antara lain tidak mengandung

zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan seperti zat-zat organik lebih tinggi dari

jumlah yang telah ditentukan. Syarat bakteriologis untuk air bersih yaitu air tidak

boleh mengandung mikroorganisme. Penyakit-penyakit yang sering menular

dengan perantaran air adalah penyakit yang tergolong dalam golongan water

borne diseases antara lain: Cholera, Thypus abdominalis, Dysentrian bacillaris,

Hepatitis A infectiosa, dan sebagainya.

2. Jamban (pembuangan tinja)

Syarat pembuangan tinja (jamban) yang baik, antara lain:

Tinja tidak mencemari permukaan tanah.


Tinja tidak mencemari air permukaan maupun air tanah.
Tinja tidak boleh dibuang langsung ke sungai, danau, dan laut.
Jarak jamban >10 meter dari sumur dan bila membuat lubang jamban

jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air.


Jamban tidak dijamah oleh lalat. Tempat pembuangan harus tertutup rapat

agar lalat tidak bisa menghinggapinya. Oleh karena itu jamban yang sehat
dapat dibuat dengan menggunakan leher angsa atau dilengkapi dengan

tutup.
Jamban tidak menimbulkan sarang nyamuk
Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

3. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Air limbah adalah air yang tidak bersih mengandung berbagai zat yang

bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan lazimnya karena

hasil perbuatan manusia. Sumber air limbah yang lazim biasanya berasal dari

rumah tangga (air, dari kamar mandi, dapur), limbah perusahaan (hotel, restoran)

dan limbah industri.

8
4. Sampah

Agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka perlu

pengaturan pembuangannya, seperti penyimpanan sampah yaitu tempat

penyimpanan sementara sebelum sampah tersebut dikumpulkan untuk diangkut

serta dibuang (dimusnahkan). Untuk tempat sampah tiap-tiap rumah isinya cukup

1 meter kubik. Tempat sampah janganlah ditempatkan di dalam rumah atau pojok

dapur, karena dapat menjadi sarang tikus. Syarat tempat sampah yang baik, yaitu :

Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah

bocor dan kedap air.


Tempat sampah harus mempunyai tutup yang rapat, tetapi mudah dibuka

dan dikosongkan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemilikan Rumah Sehat

a. Tingkat Pendidikan

Cumming mengemukakan bahwa pendidikan sebagai suatu proses atau

kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan suatu individu atau

masyarakat. Tingkat pendidikan yang baik sangat menentukan daya nalar

seseorang yang lebih baik, sehingga memungkinkan menyerap informasi-

informasi juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau

setiap masalah yang dihadapi. Koentjoroningrat (1997), mengatakan pendidikan

adalah kemahiran menyerap pengetahuan atau meningkatkan sesuai dengan

pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap

sesorang terhadap pengetahuan seseorang yang diserapnya, semakin tinggi tingkat

pendidikan semakin mudah untuk dapat menyerap pengetahuan. Menurut

Dictionary of Education (1984), pendidikan adalah proses dimana seseorang

9
mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya di dalam

lingkungan masyarakat.9,10,11

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Bungsu Riana (2008), bahwa

terdapat hubungan siginifikan antara pendidikan dengan kepemilikan rumah sehat,

artinya semakin tinggi pendidikan seseorang maka kemungkinan untuk

mempunyai rumah yang sehat akan semakin besar. Hal ini dapat dikarenakan

seseorang yang mempunyai pendidikan baik akan mempunyai keinginan untuk

memiliki rumah sehat, dan lebih mengetahui komponen-komponen apa saja yang

harus dipenuhi suatu rumah sehat.12

Hal ini juga sejalan dengan penelitian Lubis (2002), bahwa tingkat

pendidikan menunjukkan hubungan bermakna terhadap kepemilikan rumah sehat.

Bila pendidikan rendah maka pengetahuan cara hidup sehat belum dipahami

dengan baik. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang yang

lebih baik, sehingga memungkinkan menyerap informasi-informasi juga dapat

berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau setiap masalah yang

dihadapi dalam membentuk rumah yang sehat. Bila dikaitkan dengan pendapat

Maslow yang dikutip oleh Natoatmodjo (2003), bahwa semakin tinggi pendidikan

seseorang, maka kebutuhan akan kenyamanan semakin besar, sehingga

mempunyai usaha-usaha yang mengarah pada kepemilikan rumah sehat.

Pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami

pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan

seseorang maka semakin baik pula tingkat pengetahuannya.13

b. Jenis Pekerjaan

10
Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan atau pencaharian yang dijadikan

pokok penghidupan seseorang yang dilakukan untuk mendapatkan hasil.11 Hasil

penelitian yang dilakukan Bungsu Riana (2010) menunjukkan bahwa ada

hubungan signifikan antara pekerjaan dengan kepemilikan rumah sehat. Hal ini

menunjukkan bahwa seseorang yang telah bekerja mempunyai kesempatan yang

besar untuk memiliki rumah sehat. Rasa ingin memiliki rumah sehat tersebut

berkaitan dengan ada tidaknya penghasilan yang tetap, artinya orang yang sudah

bekerja biasanya mempunyai sejumlah pengahasilan setiap hari atau setiap

bulan.12

c. Tingkat Pendapatan

Pendapatan adalah tingkat penghasilan penduduk, semakin tinggi

penghasilan semakin tinggi pula persentase pengeluaran yang dibelanjakan untuk

barang, makanan, juga semakin tinggi penghasilan keluarga semakin baik pula

status gizi masyarakat . Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota

keluarga untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik di berbagai bidang,

misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan karir dan sebagainya.

Demikian pula sebaliknya jika pendapatan lemah maka akan terjadi hambatan

dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan ekonomi atau

penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan

keluarga.11

Penelitian Bungsu Riana dan Lubis yang menunjukkan bahwa pendapatan

keluarga mempunyai hubungan signifikan dengan kepemilikan rumah sehat. Hal

ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin

11
besar kemungkinan memiliki suatu rumah sehat. Masyarakat Indonesia pada

umum mempunyai harapan dan keinginan untuk memiliki rumah tempat hidup

dan berkeluarga. Hal ini sangat relevan dengan jumlah penghasilan yang

diperolehnya setiap hari atau setiap bulan. Hasil penelitian ini sejalan dengan

Panudju (1999), bahwa salah salah satu faktor yang mempengaruhi kepemilikan

rumah sehat adalah faktor pendapatan. Masyarakat berpenghasilan rendah tidak

mampu memenuhi persyaratan mendapatkan perumahan yang layak.13,15

d. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan hal ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga.

Margono dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah

kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi. Notoatmodjo (2003),

berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap obyek

melalui indra yang dimilikinya dan dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan

persepsi terhadap obyek.11

Pengetahuan merupakan salah satu indikator yang memungkinkan

seseorang untuk mempunyai rumah yang layak dan sehat. Pengetahuan juga

merupakan salah satu domain penting terhadap perilaku seseorang. Menurut

Rogers, dalam Notoatmodjo (2003), perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan

lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Semakin

12
tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin tahu tentang pentingnya

kepemilikan rumah sehat untuk menunjang kehidupan dan kesehatan keluarga.12,13

B. ISPA

1. Definisi ISPA

ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang

benar adalah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut,

meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah

ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang

dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai

gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti: sinus, ruang telinga

tengah dan selaput paru.1

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai

berikut:

Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada

kedalam (chest indrawing).

a. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

b. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa

disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas

cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan

pneumonia

ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan

yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran

pernapasannya.

13
2. Etiologi

Etiologi ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus dan ricketsia.

Bakteri penyebab ISPA antara lain dari genus Streptococcus, Staphylococcus,

Pneumococcus, Hemophyllus, Bordetella dan Corynebacterium. Virus penyebab

ISPA antara lain golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus,

Mycoplasma, Herpesvirus, dan lain-lain.2

3. Gejala klinis

Pada sistem respiratorik adalah tachypnea, napas tak teratur (apnea),

retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, sianosis, suara napas

lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.2



Pada sistem cardial adalah tachycardia, bradycardiam, hypertensi,

hypotensi dan cardiac arrest.



Pada sistem cerebral adalah gelisah, mudah terangsang, sakit kepala,

bingung, papil bendung, kejang dan coma.



Pada hal umum adalah letih dan berkeringat banyak
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA

Kejadian ISPA menurut teori HL Blum, dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor, yaitu 3:

Kepadatan penduduk

Ukuran/luas rumah harus sesuai dengan jumlah orang yang tinggal di

dalamnya. Rumah yang terlalu padat (over-crowded) menyebabkan

berkurangnya konsumsi O2 dan secara proporsional meningkatkan

risiko terinfeksi penyakit, khususnya pada air-borne disease seperti

penyakit infeksi saluran pernapasan atas. Karena selain tidak nyaman

dan tidak sehat juga memudahkan penularan penyakit melalui contact

person apabila ada salah satu anggota keluarga menderita air-borne

14
disease seperrti ISPA. Luas bangunan yang optimum adalah apabila

dapat menyediakan 10 m2 untuk tiap anggota keluarga.4 Sedangkan

untuk luas kamar tidur 3-5 m2/orang.4,5



Lingkungan

Kesehatan lingkungan (Sanitasi) adalah usaha kesehatan masyarakat

yang menitikberatkan pengawasan terhadap berbagai faktor

lingkungan yang mempengaruhi atau mungkin mempengaruhi derajat

kesehatan manusia. Jadi lebih mengutamakan usaha pencegahan

terhadap berbagai faktor lingkungan sehingga munculnya penyakit

dapat dihindari.6

Peranan faktor lingkungan dalam hubungannya dengan timbulnya

suatu penyakit dibedakan menjadi.6

a. sebagai faktor predisposisi

b. sebagai penyebab penyakit secara langsung

c. sebagai medium transmisi penyakit

d. sebagai faktor yang mempengaruhi perjalanan suatu penyakit.

Rumah yang memenuhi syarat kesehatan merupakan salah satu usaha

untuk memperbaiki kesehatan. Menurut Winslow, rumah yang sehat yaitu

rumah sebagai berikut.4,5,7

- Memenuhi kebutuhan fisiologis

- Memenuhi kebutuhan psikologis

- Dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan

- Dapat menghindarkan terjadinya penyakit

1. Lingkungan fisik

15
Rumah dengan sanitasi yang baik akan mencegah perkembangan vektor

dan/atau kuman penyakit. Beberapa aspek sanitasi rumah yang sehat antara lain:

a. Letak rumah tidak pada tempat yang lembab dan tanahnya mudah kering

b. Konstruksi rumah harus memiliki :

1). Ventilasi (ventilation).

Tujuannya agar udara segar dapat masuk dan udara kotor dapat keluar. Selain

itu juga untuk menjaga kelembaban di dalam rumah agar tetap optimal dan

berfungsi sebagai tempat masuknya sinar matahari sebagai penerangan di

dalam rumah pada siang hari. Ventilasi dapat berupa pemasangan jendela dan

lubang-lubang angin. Tiga sistem ventilasi yang dapat dipakai adalah sistem

ventilasi balik, sistem ventiasi silang (cross ventilation) dan sistem ventilasi

langsung (direct ventilation). Ventilasi rumah yang sehat 10-20% dari luas

lantai dan kadar CO2 dalam udara ruangan maksimal 15% dengan kelembaban

sekitar 40-60% (untuk daerah tropis termasuk Indonesia). 4,5,7,8 Risiko terkena

ISPA dapat dikurangi dengan meningkatkan ventilasi ruangan.

2). Pencahayaan (lighting).

Pencahayaan bisa didapat dari sinar matahari (natural lighting) dengan

pemasangan jendela, pintu kaca, dinding kaca dan genting kaca. Selain untuk

penerangan di dalam rumah, sinar matahari yang mengandung sinar UV

(ultraviolet lighting) mempunyai efek bakterisidal terhadap kuman penyakit.

Untuk memperoleh cahaya yang cukup pada siang hari diperlukan luas jendela

kaca minimal 20% luas lantai. Jika peletakan jendela kurang leluasa dapat

dipasang genting kaca.

16
3). Jenis lantai

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lubis (1985), jenis lantai setengah

plester dan tanah akan banyak mempengaruhi kelemembaban rumah. Dan hasil

pengukuran kelembaban yang dilakukan oleh Harijanto (1997) menunjukkan

adanya hubungan yang bermakna antara kejadian pneumonia bayi yang

bertempat tinggal di rumah yang berkelembaban memenuhi syarat (kurang

60%) dan tidak memenuhi syarat (60%). Berdasarkan Keputusan Menteri

Kesehatan RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan

Perumahan, lantai rumah harus kedap air dan mudah dibersihkan. Seperti

diketahui bahwa lantai yang tidak rapat air dan tidak didukung dengan ventilasi

yang baik dapat menimbulkan peningkatan kelembaban dan kepengapan yang

akan memudahkan penularan penyakit (Dinkes RI, 2001:12)

4). Lubang asap dapur

Pembakaran yang terjadi didapur rumah merupakan aktivitas manusia yang

menjadi sumber pengotoran atau pencemaran udara. Pengaruh terhadap

kesehatan akan tampak apabila kadar zat pengotor meningkat sedemikian rupa

sehingga timbul penyakit. Pengaruh zat kimia ini pertama-tama akan

ditemukan pada sistem penafasan dan kulit serta selaput lendir, selanjutnya

apabila zat pencemar dapat memasuki peredaran darah, maka efek sistemik tak

dapat dihidari (Juli Soemirat, 2000:55)

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor

829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, dapur

yang sehat harus memiliki lubang asap dapur menjadi penting artinya karena

17
asap dapat mempunyai dampak terhadap kesehatan manusia terutama penghuni

di dalam rumah atau masyarakat pada umumnya (Dinkes Prov, Jateng 2005:3).

Lubang asap dapur yang tidak memenuhi persyaratan menyebabkan:

a. Gangguan terhadap pernapasan dan mungkin dapat merusak alat-alat

pernapasan

b. Lingkungan rumah menjadi kotor

c. Gangguan terhadap penglihatan/mata menjadi perih

Dapur tanpa lubang asap relatif akan menimbulkan banyak polusi asap ke

dalam rumah yang dapurnya menyatu dengan rumah dan kondisi ini akan

berpengaruh terhadap kejadian pneumonia balita, sepertu hasil penelitian

Lubis (1990) yang membuktikan adanya hubungan terhadap kejadian ISPA

di rumah yang banyak mendapatkan polusi asap dapur dan tidak.

2. Perilaku

Perilaku sehat (Higienitas) adalah usaha kesehatan masyarakat yang

mempelajari pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, usaha

mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan kesehatan tersebut,

serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin

pemeliharaan kesehatan. Termasuk upaya melindungi memelihara dan

mempertinggi derajat kesehatan manusia (perseorangan/masyarakat). 6 Tujuan dari

higienitas adalah membuat atau mengusahakan individu/perorangan dapat

berperilaku hidup sehat untuk mempertahankan kesehatan yang optimum.7

18
Higienitas penderita sangat mempengaruhi penyebaran dan penularan ISPA.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga higienitas orang yang dekat dengan

penderita seperti menutup mulut ketika batuk atau bersin. Kebiasaan yang dapat

mengurangi bahkan mencegah kejadian ISPA antara lain membuka jendela pada

pagi hari, membersihkan rumah dan pekarangan secara rutin, tidak memasak

dengan kayu bakar, membuang sampah pada tempatnya. Selain itu kebiasaan

merokok orang yang dekat dengan penderita harus ditinggalkan karena asap rokok

bersifat toksik dan dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh.9

Perilaku Anggota Keluarga Yang Merokok

Polusi udara oleh CO terjadi selama merokok. Asap rokok mengandung

CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm selama dihisap. Konsentrasi

tersebut terencerkan menjadi 400-500 ppm. Konsentrasi CO yang tinggi

didalam asap rokok yang terisap mengakibatkan kadar COHb didalam

darah menungkat. Selain berbahaya terhadap orang yang merokok, adanya

asap rokok yang mengandung CO juga berbahaya bagi orang yang berada

disekitarnya karena asapnya dapat terisap (Srikandi Fardiaz, 1992:101).

Semakin banyak jumlah rokok yang dihisap oleh keluarga semakin besar

memberikan resiko terhadap kejadian ISPA, khususnya apabila merokok

dilakukan oleh ibu bayi (Dinkes RI, 2001:12)

Perilaku Memasak dengan Kayu Bakar

Aktivitas manusia berperan dalam penyebaran partikel udara yang

berbentuk partikel-partikel kecil padatan dan droplet cairan, misalnya

dalam bentuk asap dari proses pembakaran di dapur, terutama dari batu

19
arang. Partikel dari pembakaran di dapur biasanya berukuran diameter di

antara 1-10 mikron. Polutan partikel masuk ke dalam tubuh manusia

terutama melalui sistem pernafasan, oleh karena itu pengaruh yang

merugikan langsung terutama terjadi pada sistem pernafasan (Srikandi

Fardiaz, 1992:137-138).

Jenis bahan bakar yang digunakan untuk memasak jelas akan

mempengaruhi polusi asap dapur ke dalam rumah yang dapurnya menyatu

dengan rumah dan jenis bahan bakar minyak relative lebih kecil resiko

menimbulkan asap daripada kayu bakar.

20