Anda di halaman 1dari 46

BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta Ririn Purba


Nama Wahana RSUD Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
Topik Trauma tumpul nasal
Tanggal (Kasus) 1 Desember 2017
Nama Pasien Tn. Yohanis Missa No RM 023957
Tanggal Presentasi Nama Pendamping dr. Adryani Ottu
dr. Dodik Pudjo
Tempat Presentasi
Obyektif Presentasi
Deskripsi Laki-laki, 26 tahun
Tujuan Menentukan diagnosis dan melakukan tatalaksana awal dari Trauma
tumpul nasal
Bahan Bahasan Kasus
Cara Membahas Presentasi dan Diskusi
Data Pasien Nama: Tn. Yohanis Nomor Registrasi: 023957
Missa
Nama Klinik: IGD Terdaftar Sejak: 1
RSUD SOE Desember 2017
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kedua lubang hidung setelah di pukul
oleh seseorang dengan tangan. Awalnya setelah di pukul keluar darah aktif namun saat di
IGD darah sudah berhenti. Pasien mengaku setelah di pukul mengalami sakit kepala. Mual
dan muntah di sangkal.
2. Riwayat Pengobatan
Pasien tidak minum obat apapun untuk keluhan yang sekarang.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Riwayat Hipertensi, Diabetes, Asma, penyakit ginjal, TBC, kejang, kanker disangkal
pasien. Riwayat sakit serupa (-), Riwayat alergi obat dan makanan (-), Riwayat masuk rumah
sakit (-)
4. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga sakit serupa (-),Riwayat alergi obat dan makanan (-)
5. Riwayat Sosial
Merokok : Pasien tidak merokok
Alkohol : Pasien mengonsumsi alkohol hanya pada acara adat.
6. Riwayat Operasi dan Transfusi
Pasien menyangkal pernah melakukan operasi dan transfusi darah.
7. Lain lain

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: tampak sakit ringan
Kesadaran: compos mentis, GCS E4V5M6
Tekanan darah : 120/70 mmHg, Nadi: 80x/ menit, RR: 20x/ menit,Suhu: 37 oC
Kepala: normocephali, konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-,pupil isokor 3 mm/3 mm,
refleks cahaya +/+
Telinga, Hidung, Tenggorokan : sekret (-/-), tenggorokan dalam batas normal.
Leher: kelenjar getah bening tidak teraba, kaku kuduk (-)
Jantung: S1 dan S2 reguler, gallop -, murmur
Paru: simetris, retraksi intercosta -, sonor/sonor, vesicular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen: datar, bising usus +, nyeri tekan dan nyeri ketok pada regio suprapubik, cva-/-.
Ekstremitas: akral hangat, CRT < 2 detik

Status Lokalis
Regio nasal:
Pemeriksaan Hidung

Hidung

Kanan Kiri

Bentuk Hidung Luar Normal Normal


Deformitas Tidak ada Tidak ada

Nyeri tekan :
*Dahi Tidak ada Tidak ada
*Pipi Tidak ada Tidak ada
Laserasi: Tidak ada Tidak ada

Krepitasi Tidak ada Tidak ada

Rhinoskopi Anterior Kanan Kiri

Vestibulum Tenang Tenang

Cavum Nasi Lapang Lapang

Mukosa Hiperemis (-), bekuan Hiperemis (-), bekuan darah


darah (+) (+)
Konka Inferior Eutrofi, hiperemis (-) Eutrofi, hiperemis (-)

Konka Media Eutrofi, hiperemis (-) Eutrofi, hiperemis (-)

Konka Superior Tidak Terlihat Tidak Terlihat

Meatus Nasi Normal Normal

Sekret Tidak ada Tidak ada

Septum Deviasi Tidak ada Tidak ada

Massa Tidak ada Tidak ada


Kelainan Lain Tidak ada Tidak ada

Pemeriksaan Penunjang : -

Tatalaksana
Medikamentosa:
Paracetamol 3x500 mg
Non Medikamentosa:
1. Wound toilet
Daftar Pustaka
1. Bailey BJ, et al. Nasal Trauma : Head & Neck Surgery-Otolaryngology Vol 1. 2006.
2. Probst R, Grevers G, et al. Nose,Paranasal Sinus, and Face : Basic Otolaryngology. A Step
By Step Learning Guide. Thieme. 2006. P1-27.
3. Munir M, Widiarni D, Trimatani. Trauma Muka. Dalam : Telinga Hidung Tenggorok Kepala
& Leher (edisi 7). Jakarta : FKUI; 2012. p100.
4. Chegar BE, Tatum SA, NASAL FRACTURES. Cummings: Otolaryngology: Head & Neck
Surgery, 4th ed.Elsiever. 2007.
5. Lalwani, AK. Nasal Trauma : Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology-Head &
Neck Surgery. Access Medicine;2007. p1-12 .
6. Gaia,RB, Machado MR,et al. Epidemiological Study of Nasal trauma in a Otorhinology
Clinic, in The South Zone of The City of Sao Paulo. Brazil:Faculdade de Medicina de santo
Amaro;2008. p1-6 .
7. Higuera S, Lee E, Cole P, et al. Nasal Trauma and the Deviated Nose. Availaible in
www.PRSJournal.com. 2006. p1-12.
8. Miller K, Chang A. Acute inhalation injury. Emergy Medical Clinic Of North America.
University of CaliforniaIrvine Medical Center, Department of Emergency Medicine. 2003.
9. Daniel M, Raghavan U. Relation between epistaxis, external nasal deformity, and septal
deviation following nasal trauma. p1-5. Available in www.bmj.com. 2005.
10. Vuyk,H.D, Ziljker,T. Nasal Septal Perforations. Otolaringology Vol 4. p1-12.
11. Cashman, Farrell, M. Shandilya. Nasal Birth Trauma: A Review of Appropriate Treatment.
International Journal of Otolaryngology Volume 2010. 2010. p1-5.
12. Musleh A, Abdelazeem HM, Ethmoid mucocele and post traumatic nasal deformity.
American Journal of Reseacrh Communication. Saudi Arabia. 2013. p1-10. 27.
13. Executive Committee of the American Society of Plastic Surgeons. Nasal Surgery. ASPS
Recommended Insurance Coverage Criteria for Third-Party Payers. American Society of
Plastic Surgery. 2006.p1-2.
14. Schlosser Rodney, Epistaxis. Department of Otolaryngology Head and Neck Surgery,
Medical University The New England Journal of Medicine. 2009. p1-6.
15. Michael PO, Lipinsky Lindsay, The Treatment of Nasal Fractures A Changing Paradigm.
American Medical Association.. 2009. P1-7.
16. Akdoan zgr Et Al. Analysis Of Simple Nasal Bone Fracture And The Effect Of It On
Olfactory Dysfunction. 2008. p1-3.
17. Nawaiseh S, Al-Khtoum N. Endoscopic septoplasty: Retrospective analysis of 60 cases. J Pak
Med Assoc.2010; 60:796-8.
18. Jain L, Jain M, Chouhan AN, Harswardhan R. Convensional septoplasty verses endoscopic
septoplasty: A Comperative Study. Peoples Journal of Scientific Research. 2011; 4(2): p.24-
8.
19. Budiman B, Asyari A, Pengukuran Sumbatan Hidung pada Deviasi Septum Nasi. Jurnal
Kesehatan Andalas. 2011. p1-6.
20. Apuranto Hariadi. Luka Akibat Benda Tumpul. Diunduh dari
www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen//LUKA%20TUMPUL.pdf.
21. Traumatologi Forensik. Diunduh dari http://www.freewebs.com/traumatologie2/index.htm.
22. Amir Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. 1995. Medan : Percetakan
Ramadhan. Hal 72-90.
Hasil Pembelajaran
1. Menentukan diagnosis trauma tumpul nasal
2. Tatalaksana trauma tumpul nasal
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

Subyektif
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kedua lubang hidung setelah di pukul oleh
seseorang dengan tangan. Awalnya setelah di pukul keluar darah aktif namun saat di IGD darah
sudah berhenti. Pasien mengaku setelah di pukul mengalami sakit kepala. Mual dan muntah di
sangkal.
Obyekif
Hasil pemeriksaan fisik dan observasi yang dilakukan selama di IGD RSUD Soe mendukung
diagnosis trauma tumpul nasal.
Pada kasus ini, diagnosis ditegakan berdasarkan:

Pemeriksaan Hidung

Hidung

Kanan Kiri

Bentuk Hidung Luar Normal Normal

Deformitas Tidak ada Tidak ada

Nyeri tekan :
*Dahi Tidak ada Tidak ada
*Pipi Tidak ada Tidak ada
Laserasi: Tidak ada Tidak ada

Krepitasi Tidak ada Tidak ada


Rhinoskopi Anterior Kanan Kiri

Vestibulum Tenang Tenang

Cavum Nasi Lapang Lapang

Mukosa Hiperemis (-), bekuan Hiperemis (-), bekuan darah


darah (+) (+)
Konka Inferior Eutrofi, hiperemis (-) Eutrofi, hiperemis (-)

Konka Media Eutrofi, hiperemis (-) Eutrofi, hiperemis (-)

Konka Superior Tidak Terlihat Tidak Terlihat

Meatus Nasi Normal Normal

Sekret Tidak ada Tidak ada

Septum Deviasi Tidak ada Tidak ada

Massa Tidak ada Tidak ada

Kelainan Lain Tidak ada Tidak ada

Assessment (Penalaran)
Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang sering dijumpai dalam kasus forensik.
Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka, perdarahan, skar atau hambatan dalam fungsi
organ. Agen penyebab trauma dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain akibat
kekuatan mekanik, aksi suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli.
Dalam prakteknya seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis
penyebab, sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang
menyebabkan trauma. Pengertian trauma (injury) dari aspek medikolegal sering berbeda dengan
pengertian medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya
diskontinuitas dari jaringan. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang
alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Trauma hidung dapat
mengenai hidung, jaringan subcutis, mukosa yang meliputi cavum nasi, kerangka tulang dan
tulang rawan yang membentuk hidung itu sendiri. Trauma pada hidung terdiri atas:
1. Trauma soft tissue: trauma kulit, jaringan subcutis dan mukosa yang meliputi cavum nasi,
dapat berupa contusio jaringan atau tanpa hematoma, laserasi, echymosis, abrasi, vulnus,
corpus allienum yang tertinggal di tempat trauma atau hilangnya bagian-bagian hidung
tersebut.
2. Trauma tulang: trauma pada tulang dapat berupa 1) Fraktur (kominutif yang banyak
mengenai pada orang tua, fraktur terbuka/tertutup), 2) Dislokasi (banyak terjadi pada anak),
dapat mengenai semua sendi rangka hidung / septum, 3) Kombinasi fraktur-dislokasi.

Pada pasien hanya di temukan epistaksis, tidak terdapat hematoma, krepitasi tulang ataupun
laserasi dan septum deviasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan menurut teori dan fakta
pemeriksaan yang didapatkan epistaksis yang dialami pasien karena trauma soft tissue nasal.

Plan
Diagnosis :Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang
Penanganan : wound toilet dan pemberian paracetamol 3x500 mg

Pendidikan :Melakukan edukasi terhadap pasien dan keluarga mengenai penyakit yang diderita
pasien dan penatalaksanaannya.
TINJAUAN PUSTAKA TRAUMA TUMPUL NASAL

TRAUMA NASAL

A. PENDAHULUAN

Trauma merupakan penyebab kematian dan kecacatan terbanyak di Amerika pada usia <
40 tahun, lebih dari 150.000 kecelakaan menyebabkan kematian setiap tahunnya, dan lebih dari
500.000 trauma menyebabkan kecacatan permanen. Dengan meningginya kecelakaan lalu lintas
atau traffic accident, ditambah dengan sifat khusus dari hidung yang merupakan bagian tubuh
yang paling menonjol serta tak ada bagian tubuh yang lain melindunginya, maka dalam setiap
kecelakaan lalu lintas dengan trauma capitis, kemungkinan besar disertai dengan trauma nasi.
Atau dapat dikatakan trauma nasi sering bersamaan dengan trauma muka (maxillofacial
trauma).1,2,4
Tulang hidung merupakan salah satu bagian tubuh yang memiliki insiden fraktur
tersering ketiga setelah klavikula dan pergelangan tangan..Cedera di dalam hidung biasanya
terjadi ketika benda asing masuk ke dalam hidung atau ketika seseorang memakai obat-obatan
melalui hidung. Cedera di luar hidung biasanya berhubungan dengan aktifitas olahraga,
kekerasan, penyiksaan atau kecelakaan. 1,2
Tulang hidung adalah tulang wajah yang paling sering patah karena tulang tersebut
adalah tulang dengan posisi paling depan pada wajah. Meskipun tidak mengancam jiwa, patah
tulang hidung dapat menyebabkan kelainan bentuk baik secara estetik dan fungsional. Patah
tulang hidung juga dapat merusak selaput yang melapisi jalan nafas melalui hidung,
menyebabkan terbentuknya jaringan parut sehingga menyumbat jalan nafas dan merusak indera
penciuman seseorang. 1
Penanganan dan pengobatan Trauma Hidung dapat berbeda tergantung pada kondisi
pasien dan penyakit yang dideritanya. Pilihan pengobatan adalah pembedahan hidung.
Pencegahan trauma hidung berupa menghindari faktor risiko yang memungkinkan terjadinya
trauma hidung.1,5

B. ANATOMI HIDUNG

Hidung merupakan bagian penting pembentuk wajah, fungsinya sebagai jalan napas, alat
pengatur kondisi udara (air condition), penyaring & pembersih udara2, indera penghidu,
resonansi suara, membantu proses berbicara, dan refleksi nasal. Hidung juga merupakan tempat
bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata. 3

Gambar 1: Facial Skeleton2


Hidung terdiri atashidungluardanhidungbagiandalam.Struktur hidung luar dibedakan
atas tiga bagianyaitu :
1. Kubah tulang. Letaknya paling atas dan bagian hidung yang tidak dapat digerakkan.
2. Kubah kartilago (tulang rawan). Letaknya dibawah kubah tulang dan bagian hidung
yangsedikit dapat digerakkan.
3. Lobulus hidung. Letaknya paling bawah dan bagian hidung yang paling mudah digerakkan.
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh
kulit,jaringan kulit,dan beberapa otot keci yang berfungsi untuk melebarkan dan menyempitkan
lubang hidung. Tulang keras terdiri dari tulang hidung (os nasal), processus frontalis os maxilla,
processus nasalis os frontal. Sedangkan tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan
yang terletak di bagian bawah hidung yaitu sepasang kartilago nasalis latelaris superior,
sepasang kartilago nasalis latelaris inferior (kartilago ala mayor), tepi anterior kartilago
septum.2,4
Gambar 2: External nasal skeleton tampak A: Frontal . B: Oblique 1
Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke

bawah : 1) pangkalhidung(bridge), 2)batanghidung(dorsumnasi),3)puncakhidung(hip),


4) alanasi,5)kolumela,dan6)lubanghidung(naresanterior).

Gambar 3: Struktur Nasal ekstenal2


Struktur Hidung bagian dalam terdiri atas:
1. Septumnasi
Septum membagi kavum nasi menjadidua ruang kanan dan kiri. Bagian posterior
dibentuk oleh lamina perpendikularisosetmoid,bagiananterioroleh kartilago septum
(kuadrilateral), premaksila dan kolumela membranosa; bagian posterior dan inferior oleh os
vomer, kristamaksila, Krista palatine serta krista sfenoid.
2. Kavumnasi, terdiridari:
Dasar hidung, dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus
horizontalospalatum.
Ataphidung, terdiri dari kartilago lateralissuperior dan inferior, os nasal, prosesus
frontalisos maksila, korpus osetmoid,dankorpusossphenoid.Sebagian
besarataphidungdibentukoleh lamina kribrosa yang dilalui oleh filament-filamen
n.olfaktorius yang berasal dari permukaanbawah bulbus olfaktorius berjalan menuju
bagianteratasseptumnasidanpermukaankranialkonkasuperior.
DindingLateral, dibentuk oleh permukaandalam prosesus frontalisos maksila, os
lakrimalis, konka superior dan konkamediayang merupakanbagiandarios
etmoid,konkainferior,laminaperpendikularisosplatinumdanlamina pterigoideus medial.
Konka, Celah antara konka inferior dengan dasar hidungdisebutmeatusinferior,
celahantara konka media dan inferior disebut meatus media, dan di sebelah atas konka
media disebut meatussuperior.Kadang-kadang didapatkan konka
keempat(konkasuprema)yang teratas. Konka suprema, konka superior, dan konka media
berasal dari massa lateralis osetmoid, sedangkan konka inferior merupakan tulang
tersendiri yang melekatpadamaksilabagiansuperiordanpalatum.

Gambar 4: Struktur Nasal Internal


Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan
nasofaring,berbentukovaldanterdapatdisebelahkanandankiriseptum.Tiap nares posterior
bagian bawahnya dibentuk olehlaminahorisontalispalatum,bagian dalamoleh
osvomer,bagianatasolehprosesusvaginalisossfenoiddanbagian luar oleh lamina
pterigoideus.2

Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari arteri ethmoidalis anterior dan
posterior sebagai cabang dari arteri oftalmika dari a.karotis interna. Bagian bawah rongga
hidung mendapat pendarahan dari arteri maxilaris interna. Bagian depan hidung mendapat
pendarahan dari cabang-cabang arterifasialis. Pada bagian depan septumterdapat
anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoidanterior, a.labialis superior,dan
a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area).Pleksus Kiesselbach
letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber
epistaksis (pendarahan hidung) terutama pada anak.2

Gambar 5: Vaskularisasi cavum nasi


Vena hidung memiliki nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya.Vena di vestibulumdan struktur luarhidung bermuara ke v.oftalmika yang
berhubungan dengan sinuskavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga
merupakan faktor predisposisiuntukmudahnyapenyebaran infeksihinggakeintrakranial.
Bagian depan dan atas ronggahidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis
anterior, yangmerupakan cabang dari n.nasosiliaris,yang berasal dari n.oftalmikus (N.V).
Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan
sensorisdarin.maksilamelaluiganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain
memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor
atauotonomuntukmukosahidung.Ganglioninimenerimaserabut-serabutsensoris dari
n.maksila (N.V-2), serabut parasimpatisdari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-
serabut simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang
dan sedikit di atasujung posteriorkonka media.Nervus olfaktorius.Saraf ini turun dari lamina
kribrosa dari permukaan bawah bulbusolfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel
reseptor penghidu pada mukosaolfaktoriusdidaerahsepertigaatashidung.2

Gambar 6: Innervasihidung bagian lateral

Efek persarafan parasimpatis pada cavum nasi yaitu sekresi mukus dan vasodilatasi. Dalam
rongga hidung, terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi sel-sel pembau. Setiap sel
pembau memiliki rambut-rambut halus (silia olfaktoria) di ujungnya dan selaput lender
meliputinya untuk melembabkan rongga hidung.

C. FISIOLOGI HIDUNG
Berdasarkan teori struktural, teori evolusioner dan teori fungsional, fungsi fisiologi
hidung dan sinus paranasalis adalah:3,4
1. Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal. Pada
inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan
kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan
atau arkus. Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Pada musim
panas, udara hampir jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan udara inspirasi
oleh palut lendir, sebaliknya pada musim dingin.Suhu udara yang melalui hidung diatur 37
derajat selsius. Fungsi pengatur suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah
dibawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus,
bakteri dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh ; rambut pada
vestibulum nasi, silia, palut lendir.Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan
partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan
dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Faktor lain ialah enzim yang dapat menghancurkan
beberapa jenis bakteri, yang disebut lysozyme.
2. Fungsi penghidu karena adanya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung
stimulus penghidu. Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila
menarik napas dengan kuat.
3. Fungsi hidung untuk membantu indra pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang
berasal dari berbagai macam bahan, seperti perbedaan rasa manis strawberi, jeruk, pisang
atau coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam jawa.
4. Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah
hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang. Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas
suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi
berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia). Hidung membantu
pembentukan konsonan nasal (m,n,ng)
5. Fungsi statik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan
pelindung panas.
6. Refleks nasal, mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran
cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks
bersin dan nafas berhenti, dan rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur,
lambung dan pankreas.

D. DEFINISI1,5

Trauma Hidung didefinisikan sebagai cedera pada hidung atau struktur terkait yang
dapat mengakibatkan pendarahan, sebuah cacat fisik, penurunan kemampuan untuk bernapas
normal karena obstruksi, atau terjadi gangguan penciuman.cedera mungkin baik internal
maupun eksternal.
E. EPIDEMIOLOGI
Pada penelitian yang dilakukan di Brazil menyatakan bahwa berdasarkan umur,
kelompok usia 11-40 tahun sering mengalami trauma nasal. Berdasarkan jenis kelamin, baik
pria maupun wanita tidak ada perbedaan statistik pada trauma hidung, namun insiden pada usia
remaja laki-laki dua kali lebih sering mengalami trauma hidung dibandingkan pada perempuan.6

F. KLASIFIKASI1

Trauma hidung dapat mengenai hidung, jaringan subcutis, mukosa yang meliputi cavum
nasi, kerangka tulang dan tulang rawan yang membentuk hidung itu sendiri.Trauma pada
hidung terdiri atas:
3. Trauma soft tissue: trauma kulit, jaringan subcutis dan mukosa yang meliputi cavum nasi,
dapat berupa contusio jaringan atau tanpa hematoma, laserasi, echymosis, abrasi, vulnus,
corpus allienum yang tertinggal di tempat trauma atau hilangnya bagian-bagian hidung
tersebut.
4. Trauma tulang: trauma pada tulang dapat berupa 1) Fraktur (kominutif yang banyak
mengenai pada orang tua, fraktur terbuka/tertutup), 2) Dislokasi (banyak terjadi pada anak),
dapat mengenai semua sendi rangka hidung / septum, 3) Kombinasi fraktur-dislokasi.1

Trauma kerangka tulang dan tulang rawan dapat dibagi atas:


1. Fraktura os nasalis
2. Trauma naso-orbital
Trauma berdasarkan hubungan dengan dunia luar , dibagi atas:
1. trauma terbuka
2. trauma tertutup
Menurut arah traumanya dapat dibagi pula atas:5
1. Trauma lateral
2. Trauma frontal
Gambar 7: Klasifikasi trauma berdasarkan arahnya

Terdapat 4 tipe fraktur hidung berdasarkan arah trauma:


1. Tipe I : Depresi tulang hidung unilateral. Disebabkan trauma dari arah lateral dengan
kekuatan yang ringan dan sedang
2. Tipe II : Fraktur multipel dari piramid hidung akibat trauma tumpul arah Frontolateral.
Terjadi fraktur pada os nasal dan lamina perpendikularis dengan fragmen eksternal dislokasi ke
lateral
3. Tipe III : Fraktur bilateral dan depresi atau dislokasi os nasal karena trauma langsung
dari arah frontal. Fraktur lamina perpendikularis dan kartilago dapat terjadi karena depresi yang
hebat.
4. Tipe IV : Kompresi dan fraktur septum disebabkan trauma arah kaudal kranial15
Gambar 8: Fraktur Nasal (A)Unilateral, (B) Bilateral, (C) Open Book, (D) Comminuted, (E) Posterior inferior
impaction, (F) Medial canthal ligament

G. PATOMEKANISME1,2,4,5,8
Hidung merupakan bagian penting pembentuk wajah dan merupakan struktur yang
prominen dari wajah. Oleh karena struktur tersebut, hidung mudah terkena trauma. Trauma
hidung dapat disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecerobohan dalam melakukan pekerjaan
rumah tangga dan perkelahian serta kecelakaan olah raga, trauma pada hidung juga bisa berupa
trauma akibat inhalasi. Trauma hidung dapat merupakan trauma sendiri ataupun bagian trauma
wajah lainnya dan dapat mengenai kulit, jaringan subkutis, kerangka tulang, septum atau os
maksila.1,2,5,8
Trauma hidung bisa terjadi secara internal maupun eksternal. Trauma internal pada
hidung biasanya terjadi ketika sebuah benda asing (termasuk jari) dimasukkan didalam hidung
atau ketika seseorang mengonsumsi obat-obatan penyalahgunaan (inhalants atau kokain)
melalui hidung. Trauma eksternal hidung biasanya disebabkan kekerasan atau trauma tumpul
yang dapat berhubungan dengan olahraga, tindakan pidana (pemukulan), kekerasan yang
dilakukan orangtua terhadap anak, kecelakaan mobil atau sepeda. Jenis trauma ini dapat
mengakibatkan fraktur hidung.4,5

Kerusakan yang dapat terjadi pada trauma hidung bervariasi tergantung dari beberapa
faktor yaitu: 1,5
1. Usia
usia pasien yang sangat berpengaruh pada fleksibilitas jaringan dalam meredam energi
dari pukulan.
2. Besar kekuatan trauma/ besarnya gaya yang mengenai
Tenaga sebesar 25 75 pons per meter persegi cukup untuk membuat fraktur nasal.
3. Arah pukulan dimana akan menentukan bagian nasal yang rusak.
Trauma dari arah lateral berbeda dengan trauma dari arah frontal

Gambar 9 Menunjukkan adanya peningkatan derajat kerusakan karena peningkatan kekuatan trauma
berdasar pola trauma dari: A. arah frontal, B. arah lateral
a. Trauma lateral
Trauma dari arah lateral paling sering terjadi dan bervariasi beratnya mulai dari fraktur
sederhana ipsilateral (simple-fracture) sampai kerusakan lengkap (complete-fracture) dari
tulang nasal disertai trauma jaringan lunak intranasal dan ekstranasal.

b. Trauma frontal
Trauma dari arah depan energi rendah biasanya memecahkan septum lebih dahulu
sebelum menyebabkan trauma piramid nasal. Pada trauma dengan energi yang lebih besar
menyebabkan pemisahan nyata dari tulang nasal yang merupakan bagian dari fraktur
nasoorbital ethmoid kompleks5
4. Kondisi dari obyek yang menyebabkan trauma nasal
Pola trauma tulang berupa fragmen-fragmen tulangyang tidak kominutif, penyebab
tersering karena pukulan tangan saat perkelahian, trauma olahraga, jatuh tersandung, atau
kecelakaan kendaraan kecepatan rendah.
Pada trauma ini sejumlah energi yang besar diabsorbsi oleh kerangka nasal dan wajah,
menyebabkan putusnya fragmen tulang, rusaknya jaringan lunak regio nasal dan rusaknya
kerangka orbital wajah. Penyebabnya biasanya pukulan keras tongkat atau pipa, jatuh dari
ketinggian, kecelakaan olahraga dengan proyektil (bola) yang bergerak cepat, atau
kecelakaan kendaraan kecepatan tinggi.

H. DIAGNOSIS1,5,7
A. Anamnesis
Jumlah terjadinya cedera secara detail akan memudahkan untuk mengetahui tipe dan
tingkat keparahan yang terjadi. Pada kasus kecelakaan kendaraan , informasi yang bisa kita
dapatkan yaitu kecepatan mengendara, benturan secara langsung. Pada anak-anak yang
duduk di bangku depan akan berisiko pada trauma di kepala dan di servikal. Selain itu yang
harus dievaluasi adalah adanya perubahan fungsi pada pernapasan, dan apakah ada
perdarahan dengan rasa manis atau asin ( untuk megetahui kebocoran cairan serebrospinal).
Anosmia persisten atau hiposmia akan terjadi setidaknya 5% pada individu yang menderita
trauma kepala dengan atau tanpa trauma hidung.
Anamnesis mengenai riwayat pasien termasuk riwayat trauma pada hidung,
deformitas sebelumnya pada hidung, riwayat operasi, dispneu, alergi, dan adanya riwayat
sinusitis. Orang yang melakukan rinoplasty sebelumnya akan lebih mudah mengalami
fraktur hidung. Diagnosis fraktur tulang hidung biasanya berdasarkan adanya riwayat
trauma hidung dan gejala klinis. Epistaksis mungkin dapat terjadi ataupun tidak sama sekali,
bisa disertai rhinorrhea, obstruksi jalan napas, atau deformitas.
B. Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan intranasal dilakukan dalam rangka mencari sebuah defek berupa
hematoma yang dapat mengakibatkan konsekuensi yang serius seperti matinya jaraingan
kartilago yang mengalami defek. Pemeriksaan fisik pada hidung dilakukan untuk
menentukan ada tidaknya nyeri, mobilitas, kestabilan, dan krepitasi.
C. Pemeriksaan penunjang (Radiography)
Biasanya pemakaian sinar X belum diperlukan, namun pada keadaan fraktur yang
lebih hebat misal yang melibatkan beberapa tulang sebuah computed tomography(CT scan)
mungkin diperlukan. Sseorang dokter harus mencari klinis cedera terkait seperti ekimosis
periorbital, mata berair, atau diplopia (penglihatan ganda) yang menunjukkan adanya cedera
orbital. Selain itu, fraktur gigi-geligi dan kebocoran cairan serebrospinal harus dicari.
Kebocoran cairan serebrospinal mengindikasikan adanya sebuah cedera yang lebih parah
dan memungkinkan terjadinya fraktur tulang etmoid.

I. PENATALAKSANAAN 1,5,13,15
Pilihan penatalaksanaan bisa dengan reduksi tertutup atau reduksi terbuka pada fraktur
piramida eksternal atau septum. Kesempatan terbaik untuk keberhasilan terapi adalah pada saat
3 jam pertama setelah cedera.
Indikasi untuk reduksi tertutup adalah fraktur unilateral atau bilateral dari tulang hidung
dan fraktur nasal septal kompleks dengan septum. Sedangkan pada reduksi terbuka umumnya
baik untuk fraktur luas dengan diskolasi tulang hidung dan septum, deviasi piramida hidung,
fraktur disertai dislokasi pada septum bagian caudal, fraktur septum terbuka, dan deformitas
persisten setelah reduksi tertutup. Indikasi lain untuk reduksi terbuka termasuk hematoma
septum, pengurangan tulang yang tidak memadai karena deformitas septum, cacat gabungan
septum dan kartilago alar, fraktur pengungsi dari tulang belakang hidung anterior, dan riwayat
operasi intranasal baru-baru ini.
J. PROGNOSIS1,5,8

Fraktur tulang hidung tanpa malposisi memiliki prognosis yang sangat baik, biasanya
penyembuhan tanpa cacat kosmetik atau fungsional. Pada fraktur dengan malposisi, bahkan
setelah dilakukan reduksi tertutup, sering meninggalkan kelainan kosmetik dan deviasi septum,
dan mengharuskan dilakukannya rinoplasti dan/atau septoplasti.
Prognosis untuk trauma jaringan lunak hidung tergantung pada penyebab dan sejauh
mana luka yang terjadi. Seperti cedera robek yang disebabkan oleh gigitan memakan waktu
lebih lama untuk sembuh daripada luka yang sederhana, dan mungkin memerlukan bedah
plastik di kemudian hari untuk mengembalikan penampilan hidung. Kerusakan jaringan lapisan
hidung yang disebabkan oleh paparan iritasi asap atau tembakau dalam lingkungan biasanya
reversibel setelah pasien dijauhkan atau menghindar dari kontak dengan zat yang merusak.

K. KOMPLIKASI5,9,10,12
a. Kosmetik
Kelainan fisik secara eksternal merupakan hasil dari trauma hidung yang termasuk
diantaranya pembengkokan bagian belakang, deviasi sisi lateral pada bagian dorsum dan
ujung, serta ujung hidung yang miring. Kelainan septum kompleks (dan obstruksi) juga bisa
mengakibatkan pembengkokan tulang, perubahan kompleks pada hidung, defleksi angular
pada septum. Secara internal, bisa ditemukan laserasi disertai obstruksi jaringan
b. Disfungsi penciuman
Trauma kepala dapat menyebabkan fraktur hidung, fraktur yang lebih dari 2 mingu
menyebakan deformitas, dan anosmia post traumatic.16
c. Epistaksis dan kebocoran cairan serebrospinal
Permulaan edema dan epistaksis pada trauma hidung biasanya tanpa intervensi bisa
ditangani. Meskupun, epistaksis persisten pada trauma nasal memerlukan tamponade.
Dengan kebocoran cairan serebrospinal, kerusakan akan terjadi secara signigikan lebih berat.
Terapi yang dilakukan biasanya melakukan observasi tertutup, bone grafting. 9,14
d. Septal hematom dan Saddle nose deformity
Septal hematom merupakan hasil dari perdarahan, jarang terjadi secara bilateral, di dalam
subperikondrial pada septum. Jika tanpa kendali, fibrosis pada septal kartikalago akan terjadi,
diikuti dengan nekrosis dan perforasi selama 3-4 hari. Penanganannya sangat penting dan
dilakukan pembuatan insisi secara horizontal pada dasar septal.Deformitas pada hidung bisa
terjadi akibat trauma lahir.11
e. Perforasi septal
Perforasi septal dapat disebabkan oleh trauma iatrogenic, trauma selama septoplasty,
trauma akibat kateterisasi, pengobatan yang tidak adekuat akibat abses septal.10
TRAUMATOLOGI

Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang sering dijumpai dalam kasus forensik. Hasil
dari trauma atau kecelakaan adalah luka, perdarahan, skar atau hambatan dalam fungsi organ.

Agen penyebab trauma dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain akibat kekuatan
mekanik, aksi suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli.

Dalam prakteknya seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab,
sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma. Dan
dalam pembahasan makalah ini akan dipaparkan mengenai trauma yang diakibatkan oleh benda
tumpul.

Dasar Dasar Traumatologi

Definisi

Pengertian trauma (injury) dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.
Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari jaringan.
Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artiya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu
kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecelderaan. Aplikasinya
dalam pelayanan Kedokteran Forensik adalah untuk membuat terang suatu tindak kekerasan yang
terjadi pada seseoang.

Trauma Mekanik dan Trauma Tumpul

Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai bentuk, alami atau dibuat
manusia. Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti kampak, pisau, panah, martil dan lain-lain.
Bila ditelusuri, benda-benda ini telah ada sejak zaman pra sejarah dalam usaha manusia
mempertahankan hidup sampai dengan pembuatan senjata-senjata masa kini seperti senjata api, bom
dan senjata penghancur lainnya. Akibat pada tubuh dapat dibedakan dari penyebabnya.

Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain adalah batu, besi, sepatu, tinju, lantai,
jalan dan lain-lain. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah :
Tidak bermata tajam
Konsistensi keras / kenyal
Permukaan halus / kasar

Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang mengenai atau melukai
orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau alat yang tidak
bergerak. Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan, walaupun terkadang
sulit dipastikan.

Luka karena kererasan tumpul dapat berebentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar, luka
lecet, luka robek, patah tulang atau luka tekan.

Luka Akibat Trauma Tumpul

Variasi mekanisme terjadinya trauma tumpul adalah:

1. Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam.


2. Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam.

Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat perbedaan
hasil pada kedua mekanisme itu. Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan
kerusakan yang disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka
yakni:

1. Abrasi
2. Laserasi
3. Kontusi/ruptur
4. Fraktur
5. Kompresi
6. Perdarahan

a. Abrasi

Abrasi per definisi adalah pengelupasan kulit. Dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja
yang terkena, lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis)atau lebih dalam lagi sampai ke jaringan
lunak bawah kulit. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat
terkena sehingga terjadi perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan
luka. Dua tanda yang dapat digunakan. Tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis
bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan
ketidakteraturan benda yang mengenainya.

Pola dari abrasi sendiri dapat menentukan bentuk dari benda yang mengenainya. Waktu terjadinya
luka sendiri sulit dinilai dengan mata telanjang. Perkiraan kasar usia luka dapat ditentukan secara
mikroskopik. Kategori yang digunakan untuk menentukan usia luka adalah saat ini (beberapa jam
sebelum), baru terjadi (beberapa jam sebelum sampai beberapa hari), beberapa hari lau, lebih dari
benerapa hari. Efek lanjut dari abrasi sangat jarang terjadi. Infeksi dapat terjadi pada abrasi yang
luas.

b. Kontusio Superfisial.

Kata lazim yang digunakan adalah memar, terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu yang
singkat. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan
perdarahan pada jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya. Pada orang dengan kulit berwarna
memar sulit dilihat sehingga lebih mudah terlihat dari nyeri tekan yang ditimbulkannya.

Perubahan warna pada memar berhubungan dengan waktu lamanya luka, namun waktu tersebut
bervariasi tergantung jenis luka dan individu yang terkena. Tidak ada standart pasti untuk
menentukan lamanya luka dari warna yang terlihat secara pemeriksaan fisik.

Pada mayat waktu antara terjadinya luka memar, kematian dan pemeriksaan menentukan juga
karekteristik memar yang timbul. Semakin lama waktu antara kematian dan pemeriksaan luka akan
semakin membuat luka memar menjadi gelap.

Pemeriksaan mikroskopik adalah sarana yang dapat digunakan untuk menentukan waktu terjadinya
luka sebelum kematian. Namun sulit menentukan secara pasti karena hal tersebut pun bergantung
pada keahlian pemeriksa.

Efek samping yang terjadi pada luka memar antara lain terjadinya penurunan darah dalam sirkulasi
yang disebabkan memar yang luas dan masif sehingga dapat menyebabkan syok, penurunan
kesadaran, bahkan kematian. Yang kedua adalah terjadinya agregasi darah di bawah kulit yang akan
mengganggu aliran balik vena pada organ yang terkena sehingga dapat menyebabkan ganggren dan
kematian jaringan. Yang ketiga, memar dapat menjadi tempat media berkembang biak kuman.
Kematian jaringan dengan kekurangan atau ketiadaaan aliran darah sirkulasi menyebabkan saturasi
oksigen menjadi rendah sehingga kuman anaerob dapat hidup, kuman tersering adalah golongan
clostridium yang dapat memproduksi gas gangren.

Efek lanjut lain dapat timbul pada tekanan mendadak dan luas pada jaringan subkutan. Tekanan yang
mendadak menyebabkan pecahnya sel sel lemak, cairan lemak kemudian memasuki peredaran
darah pada luka dan bergerak beserta aliran darah dapat menyebabkan emboli lemak pulmoner atau
emboli pada organ lain termasuk otak. Pada mayat dengan kulit yang gelap sehingga memar sulit
dinilai sayatan pada kulit untuk mengetahui resapan darah pada jaringan subkutan dapat dilakukan
dan dilegalkan.

c. Kontusio pada organ dan jaringan dalam.

Semua organ dapat terjadi kontusio. Kontusio pada tiap organ memiliki karakteristik yang berbeda.
Pada organ vital seperti jantung dan otak jika terjadi kontusio dapat menyebabkan kelainan fungsi
dan bahkan kematian.

Kontusio pada otak, dengan perdarahan pada otak, dapat menyebabkan terjadi peradangan dengan
akumulasi bertahap produk asam yang dapat menyebabkan reaksi peradangan bertambah hebat.
Peradangan ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran, koma dan kematian. Kontusio dan
perangan yang kecil pada otak dapat menyebabkan gangguan fungsi organ lain yang luas dan
kematian jika terkena pada bagian vital yang mengontrol pernapasan dan peredaran darah.

Jantung juga sangat rentan jika terjadi kontusio. Kontusio ringan dan sempit pada daeran yang
bertanggungjawab pada inisiasi dan hantaran impuls dapat menyebabkan gannguan pada irama
jantung atau henti jantung. Kontusio luas yang mengenai kerja otot jantung dapat menghambat
pengosongan jantung dan menyebabkan gagal jantung.

Kontusio pada organ lain dapat menyebabkan ruptur organ yang menyebabkan perdarahan pada
rongga tubuh.

d. Laserasi

Suatu pukulan yang mengenai bagian kecil area kulit dapat menyebabkan kontusio dari jaringan
subkutan, seperti pinggiran balok kayu, ujung dari pipa, permukaan benda tersebut cukup lancip
untuk menyebabkan sobekan pada kulit yang menyebabkan laserasi. Laserasi disebabkan oleh benda
yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah
kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan
kasar, disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda
tersebut yang mengalami indentasi.

Pada beberapa kasus, robeknya kulit atau membran mukosa dan jaringan dibawahnya tidak sempurna
dan terdapat jembatan jaringan. Jembatan jaringan, tepi luka yang ireguler, kasar dan luka lecet
membedakan laserasi dengan luka oleh benda tajam seperti pisau. Tepi dari laserasi dapat
menunjukkan arah terjadinya kekerasan. Tepi yang paling rusak dan tepi laserasi yang landai
menunjukkan arah awal kekerasan. Sisi laserasi yang terdapat memar juga menunjukkan arah awal
kekerasan.

Bentuk dari laserasi dapat menggambarkan bahan dari benda penyebab kekerasan tersebut. Karena
daya kekenyalan jaringan regangan jaringan yang berlebihan terjadi sebelum robeknya jaringan
terjadi. Sehingga pukulan yang terjadi karena palu tidak harus berbentuk permukaan palu atau
laserasi yang berbentuk semisirkuler. Sering terjadi sobekan dari ujung laserasi yang sudutnya
berbeda dengan laserasi itu sendiri yang disebut dengan swallow tails. Beberapa benda dapat
menghasilkan pola laserasi yang mirip.

Seiring waktu, terjadi perubahan terhadap gambaran laserasi tersebut, perubahan tersebut tampak
pada lecet dan memarnya. Perubahan awal yaitu pembekuan dari darah, yang berada pada dasar
laserasi dan penyebarannya ke sekitar kulit atau membran mukosa. Bekuan darah yang bercampur
dengan bekuan dari cairan jaringan bergabung membentuk eskar atau krusta. Jaringan parut pertama
kali tumbuh pada dasar laserasi, yang secara bertahap mengisi saluran luka. Kemudian, epitel mulai
tumbuh ke bawah di atas jaringan skar dan penyembuhan selesai. Skar tersebut tidak mengandung
apendises meliputi kelenjar keringat, rambut dan struktur lain.

Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan tidak seperti luka atau memar.
Pembagiannya adalah sangat segera segera, beberapa hari, dan lebih dari beberapa hari. Laserasi
yang terjadi setelah mati dapat dibedakan ddengan yang terjadi saat korban hidup yaitu tidak adanya
perdarahan.

Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa adanya robekan arteri
dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan terjadi terus menerus. Laserasi yang multipel
yang mengenai jaringan kutis dan sub kutis dapat menyebabkan perdarahan yang hebat sehingga
menyebabkan sampai dengan kematian. Adanya diskontinuitas kulit atau membran mukosa dapat
menyebabkan kuman yang berasal dari permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk
ke dalam jaringan. Port d entree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya penyembuhan luka yang
sempurna. Bila luka terjadi dekat persendian maka akan terasa nyeri, khususnya pada saat sendi
tersebut di gerakkan ke arah laserasi tersebut sehingga dapat menyebabkan disfungsi dari sendi
tersebut. Benturan yang terjadi pada jaringan bawah kulit yang memiliki jaringan lemak dapat
menyebabkan emboli lemak pada paru atau sirkulasi sistemik. Laserasi juga dapat terjadi pada organ
akibat dari tekanan yang kuat dari suatu pukulan seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa.

Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang komplit yang dapat terjadi dalam
jangka waktu lama setelah trauma yang dapat menyebabkan perdarahan hebat.

e. Kombinasi dari luka lecet, memar dan laserasi.

Luka leceet, memar dan laserasi dapat terjadi bersamaan. Benda yang sama dapat menyebabkan
memar pada pukulan pertama, laserasi pada pukulan selanjutnya dan lecet pada pukulan selanjutnya.
Tetapi ketiga jenis luka tersebut dapat terjadi bersamaan pada satu pukulan.

f. Fraktur

Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Istilah fraktur pada bedah hanya memiliki sedikit makna
pada ilmu forensik. Pada bedah, fraktur dibagi menjadi fraktur sederhana dan komplit atau terbuka.

Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi beberapa faktor seperti
komposisi tulang tersebut. Anak-anak tulangnya masih lunak, sehingga apabila terjadi trauma
khususnya pada tulang tengkorak dapat menyebabkan kerusakan otak yang hebat tanpa
menyebabkan fraktur tulang tengkorak. Wanita usia tua sering kali telah mengalami osteoporosis,
dimana dapat terjadi fraktur pada trauma yang ringan.

Pada kasus dimana tidak terlihat adanya deformitas maka untuk mengetahui ada tidaknya fraktur
dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan sinar X, mulai dari fluoroskopi, foto polos. Xero
radiografi merupakan teknik lain dalam mendiagnosa adanya fraktur.

Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Bentuk dari fraktur dapat menggambarkan
benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang tengkorak), arah kekerasan. Fraktur yang terjadi pada
tulang yang sedang mengalami penyembuhan berbeda dengan fraktur biasanya. Jangka waktu
penyembuhan tulang berbeda-beda setiap orang. Dari penampang makros dapat dibedakan menjadi
fraktur yang baru, sedang dalam penyembuhan, sebagian telah sembuh, dan telah sembuh sempurna.
Secara radiologis dapat dibedakan berdasarkan akumulasi kalsium pada kalus. Mikroskopis dapat
dibedakan daerah yang fraktur dan daerah penyembuhan. Penggabungan dari metode diatas
menjadikan akurasi yang cukup tinggi. Daerah fraktur yang sudah sembuh tidaklah dapat menjadi
seperti tulang aslinya.

Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Bila perdarahan sub periosteum terjadi
dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi organ tersebut. Apabila terjadi robekan
pembuluh darah kecil dapat menyebabkan darah terbendung disekitar jaringan lunak yang
menyebabkan pembengkakan dan aliran darah balik dapat berkurang. Apabila terjadi robekan pada
arteri yang besar terjadi kehilangan darah yang banyak dan dapat menyebabkan pasien shok sampai
meninggal. Shok yang terjadi pada pasien fraktur tidaklah selalu sebanding dengan fraktur yang
dialaminya.

Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain. Gejala pada emboli lemak di
sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya fraktur dan dapat menyebabkan kematian. Gejala
pada emboli lemak di paru berupa distres pernafasan dapat terjadi 14-16 jam setelah terjadinya
fraktur yang juga dapat menyebabkan kematian. Emboli sumsum tulan atau lemak merupakan tanda
antemortem dari sebuah fraktur.

Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur depresi tidaklah begitu berat
kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang dapat membuat hematom ekstra dural, sehingga
diperlukan depresi tulang secepatnya. Apabila ujung tulang mengenai otak dapat merusak otak
tersebut, sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran, kejang, koma hingga kematian.

7. Kompresi

Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal maupun sistemik
yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat tidak terjadi pertukaran udara.

8. Perdarahan

Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio, laserasi, fraktur, dan kompresi. Kehilangan 1/10
volume darah tidak menyebabkan gangguan yang bermakna. Kehilangan volume darah dapat
menyebabkan pingsan meskipun dalam kondisi berbaring. Kehilangan volume darah dan
mendadak dapat menyebabkan syok yang berakhir pada kematian. Kecepatan perdarahan yang
terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh darah yang terpotong dan jenis perlukaan yang
mengakibatkan terjadinya perdarahan. Pada arteri besar yang terpotong, akan terjadi perdarahan
banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri.Apabila luka pada arteri besar berupa sayatan, seperti
luka yang disebabkan oleh pisau, perdarahan akan berlangsung lambat dan mungkin intermiten. Luka
pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan mengakibatkan luka yang sulit untuk
dihentikan oleh mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh darah sendiri. Hal ini sesuai
dengan prinsip yang telah diketahui, yaitu perdarahan yang berasal dari arteri lebih berisiko
dibandingkan perdarahan yang berasal dari vena.

Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat apabila terjadi perlukaan pada
arteri. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan perdarahan yang lama. Kondisi
ini terdapat pada orang-orang dengan penyakit hemofili dan gangguan pembekuan darah, serta
orang-orang yang mendapat terapi antikoagulan. Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki
mekanisme pembekuan darah yang normal, sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko.
Investigasi terhadap kematian yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan pemeriksaan lengkap
seluruh tubuh untuk mencari penyakit atau kondisi lain yang turut berperan dalam menciptakan atau
memperberat situasi perdarahan.

Klasifikasi Trauma Tumpul Berdasarkan Jaringan atau Organ yang Terkena

Klasifikasi luka akibat benda tumpul meurut jaringan atau organ yang terkena adalah sebagai berikut
:

1. Kulit

1. Luka Lecet
2. Luka Memar
3. Luka Robek

2. Kepala

1. Tengkorak
2. Jaringan Otak

3. Leher dan Tulang Belakang


4. Dada

1. Tulang
2. Organ dalam dada

5. Perut

1. Organ Parenchym
2. Organ berongga

6. Anggota Gerak

Kekerasan benda tumpul pada kulit dan jaringan bawah kulit

A. Luka Lecet (Abrasion)

Adalah luka akibat kekerasan benda yang memiliki permukaan yang kasar sehingga sebagian atau
seluruh lapisan epidermis hilang..

Contohnya :

Benda kasar : terseret di jalan aspal


Tali tampar : gantung diri
Benda runcing : duri, kuku
Meninggalkan bekas : ban mobil

Ciri luka lecet :

1. Sebagian/seluruh epitel hilang


2. Permukaan tertutup exudasi yang akan mengering (krusta)
3. Timbul reaksi radang (Sel PMN)
4. Biasanya pada penyembuhan tidak meninggalkan jaringan parut

Memperkirakan umur luka lecet:

Hari ke 1 3 : warna coklat kemerahan


Hari ke 4 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan lebih suram
Hari ke 7 14 : pembentukan epidermis baru
Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap

Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem

ANTE MORTEM POST MORTEM


1. Coklat kemerahan 1. Kekuningan
2. Terdapat sisa sisa-sisa epitel 2. Epidermis terpisah sempurna dari
dermis
1. Tanda intravital (+)
3. Tanda intravital (-)
2. Sembarang tempat
4. Pada daerah yang ada penonjolan
tulang

B. Luka Memar (Contusion)

Adalah kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah
meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak perlu rusak, menjadi bengkak, berwarna merah kebiruan.

Memperkirakan umur luka memar :

Hari ke 1 : terjadi pembengkakan warna merah kebiruan


Hari ke 2 3 : warna biru kehitaman
Hari ke 4 6 : biru kehijauancoklat
> 1 minggu-4 minggu : menghilang / sembuh

Perbedaan Luka Memar dan Lebam mayat

Luka Memar Lebam mayat


1. Di sembarang tempat 1. Bagian tubuh yang terendah
2. Pembengkakan (+) 2. Pembengkakan (-)
3. Tanda Intravital (+) 3. Tanda Intravital (-)
4. Ditekan tidak menghilang 4. Ditekan Menghilang
5. Diiris : tidak menghilang 5. Diiris : dibersihkan dengan kapas
menjadi bersih

C. Luka Robek, Retak, Koyak (Laceration)


Adalah kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit yang mudah terjadi pada kulit yang
ada tulang di bawahnya dan biasanya pada penyembuhan meninggalkan jaringan parut

Kekerasan Benda Tumpul Pada Kepala

1. Kulit

L. Lecet
L. Memar
L. Robek

2. Tengkorak

Fraktur Basis Cranii


Fraktur Calvaria

3. Otak

Contusio Cerebri
Laceratio Cerebri
Oedema Cerebri
Commotio Cerebri

4. Selaput Otak

Epidural Haemorrhage
Sub dural Haemorrhage
Sub arachnoid Haemorrhage

Fraktur Calvaria

Sifat Atap Tengkorak :

Terdiri dari tulang melengkung dan tebalnya kurang lebih sama


Ada bagian-bagian yang lemah, yaitu : Sutura, Os temporalis

Bentuk Fraktur :
1. Fracture Linear
2. Fracture Compositum
3. Fracture Berbentuk (depressed Fracture )
4. Ring Fracture

Fraktur Basis Cranii

Gejala :

Keluar darah dari hidung, mulut, telinga


Brill Haematoma

Sifat Basis Cranii :

Posisi kurang lebih mendatar


Terdiri dari tulang-tulang yang tebalnya tidak sama
Tulangnya tipis dan mudah patah
Berlubang-lubang

Contusio Cerebri

Hampir seluruh kontusio otak superfisial, hanya mengenai daerah abu-abu. Beberapa dapat lebih
dalam, mengenai daerah putih otak. Kontusio pada bagian superfisial atau daerah abu-abu sangat
penting dalam ilmu forensik. Rupturnya pembuluh darah dengan terhambatnya aliran darah menuju
otak menyebabkan adanya pembengkakan dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lingkaran
kekerasan dapat terbentuk apabila kontusio yang terbentuk cukup besar, edema otak dapat
menghambat sirkulasi darah yang menyebabkan kematian otak, koma, dan kematian total. Poin
kedua terpenting dalam hal medikolegal adalah penyembuhan kontusio tersebut yang dapat
menyebabkan jaringan parut yang akan menyebabkan adanya fokus epilepsi.

Yang harus dipertimbangan adalah lokasi kontusio tipe superfisial yang berhubungan dengan arah
kekerasan yang terjadi. Hal ini bermakna jika pola luka ditemukan dalam pemeriksaan kepala dan
komponen yang terkena pada trauma sepeti pada kulit kepala, kranium, dan otak.

Ketika bagian kepala terkena benda yang keras dan berat seperti palu atau botol bir, hasilnya dapat
berupa, kurang lebihnya, yaitu abrasi, kontusio, dan laserasi dari kulit kepala. Kranium dapat patah
atau tidak. Jika jaringan dibawahnya terkena, hal ini disebut coup. Hal ini terjadi saat kepala relatif
tidak bergerak.

Kita juga harus mempertimbangkan situasi lainnya dimana kepala yang bergerak mengenai benda
yang padat dan diam. Pada keadaan ini kerusakan pada kulit kepala dan pada kranium dapat serupa
dengan apa yang ditemukan pada benda yang bergerak-kepala yang diam. Namun, kontusio yang
terjadi, bukan pada tempat trauma melainkan pada sisi yang berlawanan. Hal ini disebut kontusio
contra-coup.

Pemeriksaan kepala penting untuk mengetahui pola trauma. Karena foto dari semua komponen
trauma kepala dari berbagai tipe kadang tidak tepat sesuai dengan demontrasi yang ada., diagram
dapat menjelaskan hubungan trauma yang terjadi.

Kadang-kadang dapat terjadi hal yang membingungkan, dapat saja kepala yang diam dan terkena
benda yang bergerak pada akhirnya akan jatuh atau mengenai benda keras lainnya, sehingga
gambaran yang ada akan tercampur, membingungkan, yang tidak memerlukan penjelasan mendetail.

Tipe lain kontusio adalah penetrasi yang lebih dalam, biasanya mengenai daerah putih atau abu-abu,
diliputi oleh lapisan normal otak, dengan perdarahan kecil atau besar. Perdarahan kecil dinamakan
ball hemorrhages sesuai dengan bentuknya yang bulat. Hal tersebut dapat serupa dengan
perdarahan fokal yang disebabkan hipertensi. Perdarahan yang lebih besar dan dalam biasanya
berbentuk ireguler dan hampir serupa dengan perdarahan apopletik atau stroke. Anamnesis yang
cukup mengenai keadaan saat kematian, ada atau tiadanya tanda trauma kepala, serta adanya
penyakit penyerta dapat membedakan trauma dengan kasus lain yang menyebabkan perdarahan.

Perdarahan intraserebral tipe apopletik tidak berhubungan dengan trauma biasanya melibatkan
daerah dengan perdarahan yang dalam. Tempat predileksinya adalah ganglia basal, pons, dan
serebelum. Perdahan tersebut berhubungan dengan malformasi arteri vena. Biasanya mengenai
orang yang lebih muda dan tidak mempunyai riwayat hipertensi.

Edema paru tipe neurogenik biasanya menyertai trauma kepala. Manifestasi eksternal yang dapat
ditemui adalah foam cone busa berwarna putih atau merah muda pada mulut dan hidung. Hal
tersebut dapat ditemui pada kematian akibat tenggelam, overdosis, penyakit jantung yang didahului
dekompensasio kordis. Keberadaan gelembung tidak membuktikan adanya trauma kepala.

Laceratio Cerebri (Robek Otak)


Merupakan kerusakan jaringan otak (white and grey mater) disertai robeknya Arachnoid.

Ada 2 macam :

1. Direct Laceration (Coup)


2. Countre Coup Laceration

Bagian yang mengalami kekerasan langsung dengan benda tumpul adalah Coup sedangkan yang
berlawanan adalah Counter-Coup. Counter-Coup terjadi bila ada Oscilasi (getaran) otak yang
membentur duramater dan ini terjadi bila kepala dalam keadaan bergerak atau bebas bergerak.

Mekanisme Terjadinya Countre-Coup :

Pada trauma tumpul kepala terdapat Acelerasi dan Decelerasi.

Pada waktu Acelerasi terjadi gerakan tengkorak ke arah impact dan gerakan otak berlawanan dengan
arah impact

Pada waktu Decelerasi kepala bergerak tiba-tiba membentur benda tumpul. sedang otak bergerak ke
arah berlawanan dgn bagian kepala yang mengalami kekerasan tadi, sehingga otak membentur
bagian berlawanan dgn bagian kepala yang mengalami kekerasan langsung.

Oedema Cerebri

Tanda-tandanya :

Permukaan gyri menjadi lebih rata


Sulci menjadi lebih dangkal
Otak bertambah berat
Ventrikel-ventrikel mengecil
Karena adanya kompresi maka terjadi bekas cetakan Foramen Magnum pada Cerebellum
bagian bawah
Mikroskopis terdapat timbunan cairan intra cellular, peri cellular, dan peri vascular

Commotio Cerebri (Gegar Otak)


Merupakan gangguan fungsi otak akibat trauma kepala, tanpa dapat ditentukan kelainan anatomisnya
pada otak. Gegar otak merupakan pengertian klinis dengan gejala :

1. Pingsan : sebentar s/d 15 menit


2. Muntah
3. Amnesia
4. Pusing kepala
5. Tidak ada kelainan neurologi

Cedera Kepala pada Penutup Otak

Jaringan otak dilindungi oleh 3 lapisan jaringan. Lapisan paling luar disebut duramater, atau sering
dikenal sebagai dura. Lapisan ini tebal dan lebih dekat berhubungan dengan tengkorak kepala
dibandingakan otak. Antara tengkorak dan dura terdapat ruang yang disebut ruang epidural atau
ekstradural. Ruang ini penting dalam bidang forensik.

Lapisan yang melekat langsung ke otak disebut piamater. Lapisan ini sangat rapuh, melekat pada
otak dan meluas masuk ke dalam sulkus-sulkus otak. Lapisan ini tidak terlalu penting dalam bidang
forensik.

Lapisan berikutnya yang terletak antara dura mater dan pia mater disebut arakhnoid. Ruang yang
dibentuk antara lapisan dura mater dan arakhnoid ini disebut ruang subdural. Kedalaman ruang ini
bervariasi di beberapa tempat. Perlu diingat, cairan otak terdapat pada ruang subarakhnoid, bukan di
ruang subdural.

Perdarahan kepala dapat terjadi pada ketiga ruang yaitu ruang epidural, subdural atau ruang
subarakhnoid, atau pada otak itu sendiri.

Perdarahan Epidural (Hematoma)

Merupakan perdarahan di atas selaput tebal otak

Penyebabnya : Fraktura tengkorak yang merobek P.Darah di luar duramater.

a. Meningica Media (tersering)


a. Meningica anterior
a. Meningica posterior (jarang)
Sinus Lateralis (jarang)

Darah merembes di antara tulang dan duramater dan membeku. Timbul gejala kompresi otak. Jumlah
yang mematikan kurang lebih 125 gram. Ada : PERIODE LATENT. Pada anak anak-anak/bayi :
jarang dapat terjadi Epidural Haemorrhage.

Perdarahan jenis ini berhubungan erat dengan fraktur pada tulang tengkorak. Apabila fraktur
mengenai jalinan pembuluh darah kecil yang dekat dengan bagian dalam tengkorak, umumnya arteri
meningea media, dapat menyebabkan arteri terkoyak dan terjadi perdarahan yang cepat. Kumpulan
darah akhirnya mendorong lapisan dura menjauh dari tengkorak dan ruang epidural menjadi lebih
luas. Akibat dari lapisan dura yang terdorong ke dalam, otak mendapatkan kompresi atau tekanan
yang akhirnya menimbulkan gejala-gejala seperti nyeri kepala, penurunan kesadaran bertahap mulai
dari letargi, stupor dan akhirnya koma. Kematian akan terjadi bila tidak dilakukan terapi dekompresi
segera. Waktu antara timbulnya cedera kepala sampai munculnya gejala-gejala yang diakibatkan
perdarahan epidural disebut sebagai lucid interval

Perdarahan Subdural (Hematoma)

Merupakan perdarahan di bawah selaput tebal otak.

Mekanisme terjadinya :

1. Laceratio jaringan otak dam arachnoid


2. Pecahnya pembuluh.darah di permukaan
3. Perlukaan kembali dari lacerasi lama
4. Fraktura daerah parietal dan temporal yang merobek duramater dan meningica media
5. Jumlah perdarahan yang mematikan 60 gram

Perdarahan ini timbul apabila terjadi bridging vein yang pecah dan darah berkumpul di ruang
subdural. Perdarahan ini juga dapat menyebabkan kompresi pada otak yang terletak di bawahnya.
Karena perdarahan yang timbul berlangsung perlahan, maka lucid interval juga lebih lama
dibandingkan perdarahan epidural, berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jumlah
perdarahan pada ruang ini berkisar dibawah 120 cc, sehingga tidak menyebabkan perdarahan
subdural yang fatal.
Tidak semua perdarahan epidural atau subdural bersifat letal. Pada beberapa kasus, perdarahan tidak
berlanjut mencapai ukuran yang dapat menyebabkan kompresi pada otak, sehingga hanya
menimbulkan gejala-gejala yang ringan. Pada beberapa kasus yang lain, memerlukan tindakan
operatif segera untuk dekompresi otak.

Penyembuhan pada perdarahan subdural dimulai dengan terjadinya pembekuan pada perdarahan.
Pembentukan skar dimulai dari sisi dura dan secara bertahap meluas ke seluruh permukaan bekuan.
Pada waktu yang bersamaan, darah mengalami degradasi. Hasil akhir dari penyembuhan tersebut
adalah terbentuknya jaringan skar yang lunak dan tipis yang menempel pada dura. Sering kali,
pembuluh dara besar menetap pada skar, sehingga membuat skar tersebut rentan terhadap perlukaan
berikutnya yang dapat menimbulkan perdarahan kembali. Waktu yang diperlukan untuk
penyembuhan pada perdarahan subdural ini bervariasi antar individu, tergantung pada kemampuan
reparasi tubuh setiap individu sendiri.

Hampir semua kasus perdarahan subdural berhubungan dengan trauma, meskipun dapat tidak
berhubungan dengan trauma. Perdarahan ini dapat terjadi pada orang-orang dengan gangguan
mekanisme pembekuan darah atau pada pecandu alcohol kronik, meskipun tidak menyebabkan
perdarahan yang besar dan berbahaya. Pada kasus-kasus perdarahan subdural akibat trauma, dapat
timbul persarahan kecil yang tidak berisiko apabila terjadi pada orang normal. Akan tetapi, pada
orang-orang yang memiliki gangguan pada mekanisme pembekuan darah, dapat bersifat fatal.

Adakalanya juga perdarahan subdural terjadi akibat perluasan dari perdarahan di tempat lain. Salah
satu contohnya adalah perdarahan intraserebral yang keluar dari substansi otak melewati pia mater,
kemudian masuk dan menembus lapisan arakhnoid dan mencapai ruang subdural.

Perdarahan Subarakhnoid

Merupakan perdarahan di bawah selaput laba-laba otak.

Dapat diakibatkan karena :

1. Trauma
2. Penyakit/spontan seperti pecahnya aneurysma circulus willisi

Penyebab perdarahan subarakhnoid yang tersering ada 5, dan terbagi menjadi 2 kelompok besar,
yaitu yang disebabkan trauma dan yang tidak berhubungan dengan trauma. Penyebabnya antara lain:
1. Nontraumatik:
1. Ruptur aneurisma pada arteri yang memperdarahi otak
2. Perdarahan intraserebral akibat stroke yang memasuki subarakhnoid
2. Traumatik:
1. Trauma langsung pada daerah fokal otak yang akhirnya menyebabkan perdarahan
subarakhnoid
2. Trauma pada wajah atau leher dengan fraktur pada tulang servikal yang menyebabkan
robeknya arteri vertebralis
3. Robeknya salah satu arteri berdinding tipis pada dasar otak yang diakibatkan gerakan
hiperekstensi yang tiba-tiba dari kepala.

Arteri yang lemah dan membengkak seperti pada aneurisma, sangat rapuh dindingnya dibandingkan
arteri yang normal. Akibatnya, trauma yang ringan pun dapat menyebabkan ruptur pada aneurisma
yang mengakibatkan banjirnya ruang subarakhnoid dengan darah dan akhirnya menimbulkan
disfungsi yang serius atau bahkan kematian.

Yang menjadi teka-teki pada bagian forensik adalah, apakah trauma yang menyebabkan ruptur pada
aneurisma yang sudah ada, atau seseorang mengalami nyeri kepala lebih dahulu akibat mulai
pecahnya aneurisma yang menyebabkan gangguan tingkah laku berupa perilaku mudah berkelahi
yang berujung pada trauma. Contoh yang lain, apakah seseorang yang jatuh dari ketinggian tertentu
menyebabkan ruptur aneurisma, atau seseorang tersebut mengalami ruptur aneurisma terlebih dahulu
yang menyebabkan perdarahan subarakhnoid dan akhirnya kehilangan kesadaran dan terjatuh. Pada
beberapa kasus, investigasi yang teliti disertai dengan otopsi yang cermat dapat memecahkan teka-
teki tersebut.

Perdarahan subarakhnoid ringan yang terlokalisir dihasilkan dari tekanan terhadap kepala yang
disertai goncangan pada otak dan penutupnya yang ada di dalam tengkorak. Tekanan dan goncangan
ini menyebabkan robeknya pembuluh-pembuluh darah kecil pada lapisan subarakhnoid, dan
umumnya bukan merupakan perdarahan yang berat. Apabila tidak ditemukan faktor pemberat lain
seperti kemampuan pembekuan darah yang buruk, perdarahan ini dapat menceritakan atau
mengungkapkan tekanan trauma yang terjadi pada kepala.

Jarang sekali, tamparan pada pada sisi samping kepala dan leher dapat mengakibatkan fraktur pada
prosesus lateralis salah satu tulang cervical superior. Karena arteri vertebralis melewati bagian atas
prosesus lateralis dari vertebra di daerah leher, maka fraktur pada daerah tersebut dapat
menyebabkan robeknya arteri yang menimbulkan perdarahan masif yang biasanya menembus sampai
lapisan subarakhnoid pada bagian atas tulang belakang dan akhirnya terjadi penggenangan pada
ruang subarakhnoid oleh darah. Aliran darah ke atas meningkat dan perdarahan meluas sampai ke
dasar otak dan sisi lateral hemisfer serebri. Pada beberapa kasus, kondisi ini sulit dibedakan dengan
perdarahan nontraumatikyang mungkin disebabkan oleh ruptur aneurisma.

Tipe perdarahan subarakhnoid traumatic yang akan dibicarakan kali ini merupakan tipe perdarahan
yang massif. Perdarahan ini melibatkan dasar otak dan meluas hingga ke sisi lateral otak sehingga
serupa dengan perdarahan yang berhubungan dengan aneurisma pada arteri besar yang terdapat di
dasar otak. Akan tetapi, pada pemeriksaan yang cermat dan teliti, tidak ditemukan adanya aneurisma,
sedangkan arteri vertebralis tetap intak. Penyebab terjadinya perdarahan diduga akibat pecahnya
pembuluh darah berdinding tipis pada bagian bawah otak, serta tidak terdapat aneurisma. Terdapat 2
bukti, meskipun tidak selalu ada, yang bisa mendukung dugaan apakah kejadian ini murni dimulai
oleh trauma terlebih dahulu. Bukti pertama yaitu adanya riwayat gerakan hiperekstensi tiba-tiba pada
daerah kepala dan leher, yang nantinya dapat menyebabkan kolaps dan bahkan kematian.

Kekerasan Benda Tumpul Pada Leher

Berakibat :

Patah tulang leher


Robek P. darah, otot, oesophagus, trachea/larynx
Kerusakan syaraf

Kekerasan Benda Tumpul Pada Dada

Berakibat :

Patah os costae, sternum, scapula, clavicula


Robek organ jantung, paru, pericardium

Kekerasan Benda Tumpul Pada Perut

Berakibat :

Patah os pubis, os sacrum, symphysiolysis, Luxatio sendi sacro iliaca


Robek organ hepar, lien, ginjal. Pankreas, adrenal, lambung, usus, kandung seni
Kekerasan Benda Tumpul Pada Vertebra

Dapat berakibat :

Fraktura, dislokasi os vertebrae

Dapat karena :

1. Trauma langsung
2. Tidak langsung karena tarikan / tekukan

Kekerasan benda Tumpul Pada Anggota Gerak

Berakibat :

Patah tulang, dislokasi sendi


Robek otot, P.darah, kerusakan saraf

Pola Trauma Tumpul

Terdapat beberapa pola trauma akibat kekerasan tumpul yang dapat dikenali, yang mengarah kepada
kepentingan medikolegal. Contohnya :

1. Luka terbuka tepi tidak rata pada kulit akibat terkena kaca spion pada saat terjadi kecelakaan,
Ketika terjadi benturan, kaca spion tersebut akan menjadi fragmen-fagmen kecil. Luka yang
terjadi dapat berupa abrasi, kontusio, dan laserasi yang berbentuk segiempat atau sudut.
2. Pejalan kaki yang ditabrak kendaraan bermotor biasanya mendapatkan fraktur tulang panjang
kaki. Hal ini disebut bumper fractures. Adanya fraktur tersebut yang disertai luka lainnya
pada tubuh yang ditemukan di pinggir jalan, memperlihatkan bahwa korban adalah pejalan
kaki yang ditabrak oleh kendaraan bermotor dan dapat diketahui tinggi bempernya. Karena
hampir seluruh kendaraan bermotor nose dive ketika mengerem mendadak, pengukuran
ketinggian bemper dan tinggi fraktur dari telapak kaki, dapat mengindikasikan usaha
pengendara kendaraan bermotor untuk mengerem pada saat kecelakaan terjadi.
3. Penderita serangan jantung yang terjatuh dapat diketahui dengan adanya pola luka pada dan
di bawah area hat band dan biasanya terbatas pada satu sisi wajah. Dengan adanya pola
tersebut mengindikasikan jatuh sebagai penyebab, bukan karena dipukul.
4. Pukulan pada daerah mulut dapat lebih terlihat dari dalam. Pukulan yang kepalan tangan,
luka tumpul yang terjadi dapat tidak begitu terlihat dari luar, namun menimbulkan edem
jaringan pada bagian dalam, tepat di depan gigi geligi. Frenum pada bibir atas kadang rusak,
terutama bila korban adalah bayi yang sering mendapat pukulan pada kepala

Pola trauma banyak macamnya dan dapat bercerita pada pemeriksa medikolegal. Kadangkala sukar
dikenali, bukan karena korban tidak diperiksa, namun karena pemeriksa cenderung memeriksa area
per area, dan gagal mengenali polanya. Foto korban dari depan maupun belakang cukup berguna
untuk menetukan pola trauma. Persiapan diagram tubuh yang memperlihatkan grafik lokasi dan
penyebab trauma adalah latihan yang yang baik untuk mengungkapkan pola trauma.
DAFTAR PUSTAKA

23. Bailey BJ, et al. Nasal Trauma : Head & Neck Surgery-Otolaryngology Vol 1. 2006.
24. Probst R, Grevers G, et al. Nose,Paranasal Sinus, and Face : Basic Otolaryngology. A Step
By Step Learning Guide. Thieme. 2006. P1-27.
25. Munir M, Widiarni D, Trimatani. Trauma Muka. Dalam : Telinga Hidung Tenggorok
Kepala & Leher (edisi 7). Jakarta : FKUI; 2012. p100.
26. Chegar BE, Tatum SA, NASAL FRACTURES. Cummings: Otolaryngology: Head & Neck
Surgery, 4th ed.Elsiever. 2007.
27. Lalwani, AK. Nasal Trauma : Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology-Head &
Neck Surgery. Access Medicine;2007. p1-12 .
28. Gaia,RB, Machado MR,et al. Epidemiological Study of Nasal trauma in a Otorhinology
Clinic, in The South Zone of The City of Sao Paulo. Brazil:Faculdade de Medicina de santo
Amaro;2008. p1-6 .
29. Higuera S, Lee E, Cole P, et al. Nasal Trauma and the Deviated Nose. Availaible in
www.PRSJournal.com. 2006. p1-12.
30. Miller K, Chang A. Acute inhalation injury. Emergy Medical Clinic Of North America.
University of CaliforniaIrvine Medical Center, Department of Emergency Medicine. 2003.
31. Daniel M, Raghavan U. Relation between epistaxis, external nasal deformity, and septal
deviation following nasal trauma. p1-5. Available in www.bmj.com. 2005.
32. Vuyk,H.D, Ziljker,T. Nasal Septal Perforations. Otolaringology Vol 4. p1-12.
33. Cashman, Farrell, M. Shandilya. Nasal Birth Trauma: A Review of Appropriate Treatment.
International Journal of Otolaryngology Volume 2010. 2010. p1-5.
34. Musleh A, Abdelazeem HM, Ethmoid mucocele and post traumatic nasal deformity.
American Journal of Reseacrh Communication. Saudi Arabia. 2013. p1-10. 27.
35. Executive Committee of the American Society of Plastic Surgeons. Nasal Surgery. ASPS
Recommended Insurance Coverage Criteria for Third-Party Payers. American Society of
Plastic Surgery. 2006.p1-2.
36. Schlosser Rodney, Epistaxis. Department of Otolaryngology Head and Neck Surgery,
Medical University The New England Journal of Medicine. 2009. p1-6.
37. Michael PO, Lipinsky Lindsay, The Treatment of Nasal Fractures A Changing Paradigm.
American Medical Association.. 2009. P1-7.
38. Akdoan zgr Et Al. Analysis Of Simple Nasal Bone Fracture And The Effect Of It On
Olfactory Dysfunction. 2008. p1-3.
39. Nawaiseh S, Al-Khtoum N. Endoscopic septoplasty: Retrospective analysis of 60 cases. J
Pak Med Assoc.2010; 60:796-8.
40. Jain L, Jain M, Chouhan AN, Harswardhan R. Convensional septoplasty verses endoscopic
septoplasty: A Comperative Study. Peoples Journal of Scientific Research. 2011; 4(2):
p.24-8.
41. Budiman B, Asyari A, Pengukuran Sumbatan Hidung pada Deviasi Septum Nasi. Jurnal
Kesehatan Andalas. 2011. p1-6.
42. Apuranto Hariadi. Luka Akibat Benda Tumpul. Diunduh dari
www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen//LUKA%20TUMPUL.pdf.
43. Traumatologi Forensik. Diunduh dari http://www.freewebs.com/traumatologie2/index.htm.
44. Amir Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. 1995. Medan : Percetakan
Ramadhan. Hal 72-90.