Anda di halaman 1dari 14

BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta Ririn Purba


Nama Wahana RSUD Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
Topik Appendicitis
Tanggal (Kasus) 26 Agustus 2017
Nama Pasien An. Sipa No RM 020732
Tanggal Presentasi Nama dr. Adryani Ottu
Pendamping dr. Dodik Pudjo
Tempat Presentasi
Obyektif Presentasi
Deskripsi Anak Perempuan, 8 tahun
Tujuan Menentukan diagnosis dan melakukan tatalaksana dari Campak
Bahan Bahasan Kasus
Cara Membahas Presentasi dan Diskusi
Data Pasien Nama: An.Sipa Nomor 019920
Registrasi:
Nama Klinik: IGD RSUD SoE Terdaftar Sejak:
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Pasien datang ke IGD dengan keluhan demam yang hilang timbul sejak 1 minggu yang
lalu. Demam dirasakan sama sepanjang hari dan setiap hari. Tidak ada hari bebas demam.
Pasien minum obat Panadol dan demam turun hanya 4-5 jam, kemudian demam akan muncul
kembali. Pasien tidak mengalami kejang saat demam muncul.
5 hari sebelum MRS, keluhan demam disertai kedua mata memerah, gatal, dan berair.
Nyeri mata disangkal, bengkak pada mata disangkal, penglihatan kabur disangkal. Pasien juga
mengeluhkan pilek dan batuk yang tidak berdahak. Pilek dan batuk dirasakan semakin
memberat hingga MRS. Pasien tidak mengonsumsi obat tambahan. Pasien juga mengeluhkan
nyeri kepala yang hilang timbul. Nyeri kepala dirasakan seperti tertikam dan tidak memberat.
Nyeri sendi disangkal. Pasien mulai lemas dan nafsu makan berkurang.
2 hari sebelum MRS, mulai muncul bintik-bintik kemerahan pada wajah yang mulai
bertambah banyak dan menyebar ke dada, perut, dan tangan. Bintik merah tidak dirasakan
gatal dan tidak nyeri. Pasien semakin sulit makan karena adanya nyeri menelan. Mual dan
muntah disangkal.
2. Riwayat Pengobatan
Pasien minum panadol untuk keluhan yang sekarang.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Anak pertama. Lahir normal, menangis kuat, usia kehamilan 9 bulan, ditolong oleh dukun.
Riwayat sakit serupa (-)
Riwayat alergi obat dan makanan (-)
Riwayat masuk rumah sakit (-)
Riwayat operasi (-)
Riwayat Transfusi darah (-)
Riwayat lingkungan sekitar dengan keluhan yang serupa disangkal.
4. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga sakit serupa (-),Riwayat alergi obat dan makanan (-)
5. Riwayat Penyakit yang pernah diderita
- Faringitis : (-) Enteritis : (-)
- Bronkitis : (-) Disentri basiler : (-)
- Pneumonia : (-) Disentri amuba : (-)
- Morbili : (-) Thypus : (-)
- Pertusis : (-) Cacing : (-)
- Difteri : (-) Operasi : (-)
- Varicella : (-) Gegar Otak : (-)
- Malaria : (-) Fraktur : (-)
- Polio : (-) Reaksi Obat : (-)
6. Riwayat Imunisasi
Tidak diketahui
7. Riwayat Nutrisi
- ASI : sejak lahir 6 bulan, frekuensi saat ini 7-8 x/hari.
- Bubur susu : sejak usia 6 bulan 8 bulan. Frekuensi 2x/hari.
- Makanan dewasa : sejak 8 bulan sekarang. Frekuensi 3 x/hari.
8. Riwayat Tumbuh Kembang : Tidak ingat
Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda Vital
Keadaan umum: lemah
Berat Badan : 20 kg, Tinggi Badan : 127 cm
Kesadaran: compos mentis, GCS E4V5M6
Nadi: 100x/ menit, teratur. RR: 24x/ menit, Suhu: 38.6oC, SpO2 : 99%
2. Pemeriksaan Umum
Kepala: normocephal, konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-, sianosis -, sesak -, air mata
(+/+), pupil isokor 3 mm/3 mm, refleks cahaya +/+
Hidung : napas cuping hidung (-), sekret (+)
Mulut : mukosa basah (+), sianosis (-)
Leher: kelenjar getah bening tidak teraba, kaku kuduk (-)
Thorax : Simetris, Retraksi (-)
Jantung: S1 dan S2 reguler, gallop -, murmur
Paru: ves +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen: datar, supel, organomegali -, bising usus + normoperistaltik, turgor kulit kembali
normal, hepar dan lien tidak teraba.
Ekstremitas: edema -/-, akral hangat, CRT < 2 detik.
Kulit : lesi makulopapular, warna kemerahan pada seluruh tubuh, tidak menghilang dengan
penekanan. Gatal -, nyeri -.
Status antopometri :
Weight for Age : 80%
Height for Age : 97%
Weight for Height : 80% (Gizi Baik)
Berat Badan Ideal = 25 kg

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : tanggal 25 Agustus 2017
Hb : 13.6 gr/dL
Eritrosit : 5.03 jt/mm3
Leukosit :4.300 /ul
Segmen : 73 %
Limfosit : 23%
Monosit : 4%
Trombosit : 191.000/ul
DDR/Malaria : -/negative

Diagnosis : Morbili

Tatalaksana
Konsultasi ke Dokter Spesialis Anak atas instruksi beliau:
Medikamentosa:
IVFD D5NS 1000 cc/hari
Antrain 200 mg jika T>38.5C (IV)
Paracetamol 4 x 250 mg (po)
Ambroxol 3 x 15 mg (po)
Vitamin A 1 x 200.000 IU (po)
Apyalis 1 x I C (po)
Salep mata gentamycin
Non Medikamentosa:
Pasien dirawat di ruang isolasi.
Pasien dan keluarga diberi edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien dan
penatalaksanaannya serta pencegahannya.
Daftar Pustaka
1. Alan R. Tumbelaka. 2002. Pendekatan Diagnostik Penyakit Eksantema Akut dalam: Sumarmo S.
Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I.
Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal. 113
2. Cherry J.D. 2004. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan (eds) Textbook of Pediatrics
Infectious Disease. 5th edition. Vol 3. Philadelphia. Saunders. p.2283 2298
3. Phillips C.S. 1983. Measles. In: Behrman R.E., Vaughan V.C. (eds) Nelson Textbook of Pediatrics.
12th edition. Japan. Igaku-Shoin/Saunders. p.743
4. Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh, dkk. (ed) Buku Imunisasi di
Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal. 105
5. Soegeng Soegijanto. 2002. Campak. dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal. 125
6. T.H. Rampengan, I.R. Laurentz. 1997. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal. 90
Hasil Pembelajaran
1. Menentukan diagnosis campak
2. Tatalaksanacampak
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
Subyektif
Pasien datang ke IGD dengan keluhan demam yang hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu.
Demam dirasakan sama sepanjang hari dan setiap hari. Tidak ada hari bebas demam. Pasien
minum obat Panadol dan demam turun hanya 4-5 jam, kemudian demam akan muncul kembali.
Pasien tidak mengalami kejang saat demam muncul. 5 hari sebelum MRS, keluhan demam
disertai kedua mata memerah, gatal, dan berair. Pasien juga mengeluhkan pilek dan batuk yang
tidak berdahak. Pilek dan batuk dirasakan semakin memberat hingga MRS. Pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala yang hilang timbul. Nyeri kepala dirasakan seperti tertikam dan tidak
memberat. Pasien mulai lemas dan nafsu makan berkurang. 2 hari sebelum MRS, mulai muncul
bintik-bintik kemerahan pada wajah yang mulai bertambah banyak dan menyebar ke dada, perut,
dan tangan. Pasien semakin sulit makan karena adanya nyeri menelan. Mual dan muntah
disangkal.
Obyekif
Hasil pemeriksaan fisik dan observasi yang dilakukan selama di ruang Melati RSUD Soe
mendukung diagnosisCampak.
Pada kasus ini, diagnosis ditegakan berdasarkan:
Anamnesa didapatkan keluhan demam, mata merah dan berair, nyeri kepala, pilek, batuk,
dan muncul bintik-bintik kemerahan yang mulai dari daerah wajah dan menyebar ke
bawah.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan:
Suhu 38.6C, Hidung terdapat sekret bening. Kulit : lesi makulopapular, warna
kemerahan
pada seluruh tubuh, tidak menghilang dengan penekanan. Gatal -, nyeri -.
Assessment (Penalaran)
Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan memiliki gejala yang khas antara
lain konjungtivitis, coryza, batuk, dan adanya ruam kemerahan yang menyebar secara sentripetal.
Gejala lain yang dapat dialami juga adalah demam, nyeri kepala, nyeri sendi, nafsu makan
berkurang.Dalam kasus ini, pasien mengeluhkan demam sejak 1 minggu yang lalu dan diikuti
dengan munculnya keluhan mata merah, gatal dan berair, pilek, batuk. Hingga 2 hari SMRS,
muncul bintik-bintik kemerahan pada tubuh yang dimulai dari wajah dan menyebar secara
sentripetal.Dari riwayat penyakitnya kita dapat menyimpulkan pasien mengalami campak.
Plan
Diagnosis : Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik
Penanganan :memberikan terapi yang bersifat suportif. Pemberian cairan intravena sesuai
kebutuhan cairan pasien, antipiretik secara rutin, salep mata untuk mencegah infeksi pada mata,
penekan reflex batuk, dan vitamin A untuk membantu replikasi sel saluran pernapasan.
Pendidikan :Melakukan edukasi terhadap keluarga Pasien mengenai penyakit yang diderita
pasien dan penatalaksanaannya serta pencegahannya. Menjelaskan keluarga pasien harus dirawat
di ruang isolasi untuk mencegah penyebaran..
Konsultasi :Konsultasi dengan dokter spesialis Anak

IVFD D5NS 1000 cc/hari


Antrain 200 mg jika T>38.5C (IV)
Paracetamol 4 x 250 mg (po)
Ambroxol 3 x 15 mg (po)
Vitamin A 1 x 200.000 IU (po)
Apyalis 1 x I C (po)
Salep mata gentamycin
TINJAUAN PUSAKA CAMPAK
Definisi, Etiologi
Campak atau morbili adalah suatu infeksi virus akut yang memiliki 3 stadium yaitu
Stadium inkubasi yang berkisar antara 10 sampai 12 hari setelah pajanan pertama terhadap
virus dan dapat disertai gejala minimal maupun tidak bergejala, Stadium prodromal yang
menunjukkan gejala demam, konjungtivitis, pilek, dan batuk yang meningkat serta
ditemukannya enantem pada mukosa (bercak Koplik), dan Stadium erupsi yang ditandai
dengan keluarnya ruam makulopapular yang didahului dengan meningkatnya suhu badan.
Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih tinggi sekitar
3000-4000 per tahun demikian pula frekuensi terjadinya kejadian luar biasa tampak
meningkat dari 23 kali per tahun menjadi 174. Namun case fatality rate telah dapat
diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%. Umur terbanyak menderita campak adalah 12 tahun.
Transmisi campak terjadi melalui udara, kontak langsung maupun melalui droplet dari
penderita saat gejala yang ada minimal bahkan tidak bergejala. Penderita masih dapat
menularkan penyakitnya mulai hari ke-7 setelah terpajan hingga 5 hari setelah ruam muncul.
Biasanya seseorang akan mendapat kekebalan seumur hidup bila telah sekali terinfeksi oleh
campak.
Etiologi virus campak merupakan virus RNA famili paramyxoviridae dengan genus
Morbili virus. Sampai saat ini hanya diketahui 1 tipe antigenik yang mirip dengan virus
Parainfluenza dan Mumps. Virus bisa ditemukan pada sekret nasofaring, darah dan urin
paling tidak selama masa prodromal hingga beberapa saat setelah ruam muncul. Virus
campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi apabila berada di luar tubuh
manusia. Pada temperatur kamar selama 3-5 hari virus kehilangan 60% sifat infektifitasnya.
Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam pengawetan
beku, minimal 4 minggu dalam temperatur 35C, beberapa hari pada suhu 0C, dan tidak
aktif pada pH rendah.
Patogenesis
Patogenesis Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit
virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Lokasi utama infeksi
virus campak adalah epitel saluran nafas nasofaring. Infeksi virus pertama pada saluran nafas
sangat minimal. Kejadian yang lebih penting adalah penyebaran pertama virus campak ke
jaringan limfatik regional yang menyebabkan terjadinya viremia primer. Setelah viremia
primer, terjadi multiplikasi ekstensif dari virus campak yang terjadi pada jaringan limfatik
regional maupun jaringan limfatik yang lebih jauh. Multiplikasi virus campak juga terjadi di
lokasi pertama infeksi. Selama lima hingga tujuh hari infeksi terjadi viremia sekunder yang
ekstensif dan menyebabkan terjadinya infeksi campak secara umum. Kulit, konjungtiva, dan
saluran nafas adalah tempat yang jelas terkena infeksi, tetapi organ lainnya dapat terinfeksi
pula. Dari hari ke-11 hingga 14 infeksi, kandungan virus dalam darah, saluran nafas, dan
organ lain mencapai puncaknya dan kemudian jumlahnya menurun secara cepat dalam waktu
2 hingga 3 hari. Selama infeksi virus campak akan bereplikasi di dalam sel endotel, sel epitel,
monosit, dan makrofag. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan
memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis
media, dan lainnya. Dalam keadaan tertentu, adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat
terjadi pada kasus campak.
Manifestasi klinis
Campak memiliki 3 stadium antara lain :
1. Stadium inkubasi
Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari). Walaupun pada
masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif, penderita tidak
menampakkan gejala sakit.
2. Stadium prodromal
Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium prodromal yang
berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari gejala klinik khas berupa batuk,
pilek dan konjungtivitis, juga demam. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat menjadi
petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. Garis melintang kemerahan yang terdapat
pada konjungtuva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium prodromal. Garis
tersebut akan menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang Koplik
spot yang merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada hari ke-10. Koplik
spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar butiran pasir dengan areola tipis berwarna
kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik. Tersering ditemukan pada mukosa bukal di
depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada bagian lain dari rongga mulut
seperti palatum, juga di bagian tengah bibir bawah dan karunkula lakrimalis. Muncul 1 2
hari sebelum timbulnya ruam dan menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18 jam
kemudian. Pada akhir masa prodromal, dinding posterior faring biasanya menjadi
hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan.
3. Stadium erupsi
Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu pada saat
stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak gejala gangguan pernafasan dan saat suhu
berkisar 39,5C. Ruam pertama kali muncul sebagai makula yang tidak terlalu tampak
jelas di lateral atas leher, belakang telinga, dan garis batas rambut. Kemudian ruam
menjadi makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah, leher, lengan atas dan dada
bagian atas pada 24 jam pertama. Kemudian ruam akan menjalar ke punggung, abdomen,
seluruh tangan, paha dan terakhir kaki, yaitu sekitar hari ke-2 atau 3 munculnya ruam.
Saat ruam muncul di kaki, ruam pada wajah akan menghilang diikuti oleh bagian tubuh
lainnya sesuai dengan urutan munculnya. Saat awal ruam muncul akan tampak berwarna
kemerahan yang akan tampak memutih dengan penekanan. Saat ruam mulai menghilang
akan tampak berwarna kecokelatan yang tidak memudar bila ditekan. Seiring dengan masa
penyembuhan maka muncul deskuamasi kecokelatan pada area konfluensi. Beratnya
penyakit berbanding lurus dengan gambaran ruam yang muncul.
Pada infeksi campak yang berat, ruam dapat muncul hingga menutupi seluruh bagian
kulit, termasuk telapak tangan dan kaki. Wajah penderita juga menjadi bengkak sehingga
sulit dikenali.
Diagnosis
Diagnosis campak biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan
laboratorium jarang dilakukan. Pada stadium prodromal dapat ditemukan sel raksasa berinti
banyak dari apusan mukosa hidung. Serum antibodi dari virus campak dapat dilihat dengan
pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI), complement fixation (CF), neutralization,
immune precipitation, hemolysin inhibition, ELISA, serologi IgM-IgG, dan fluorescent
antibody (FA). Pemeriksaan HI dilakukan dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut
pada masa prodromal dan serum sekunder pada 7 10 hari setelah pengambilan sampel serum
akut. Hasil dikatakan positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih. Serum
IgM merupakan tes yang berguna pada saat munculnya ruam. Serum IgM akan menurun
dalam waktu sekitar 9 minggu, sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup.
Pada pemeriksaan darah tepi, jumlah sel darah putih cenderung menurun. Pungsi lumbal
dilakukan bila terdapat penyulit encephalitis dan didapatkan peningkatan protein, peningkatan
ringan jumlah limfosit sedangkan kadar glukosa normal.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding morbili diantaranya :
1. Roseola infantum.
Pada Roseola infantum, ruam muncul saat demam telah menghilang.
2. Rubella.
Ruam berwarna merah muda dan timbul lebih cepat dari campak. Gejala yang timbul tidak
seberat campak.
3. Alergi obat.
Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum ruam muncul dan biasanya tidak
disertai gejala prodromal.
4. Demam skarlatina.
Ruam bersifat papular, difus terutama di abdomen. Tanda patognomonik berupa lidah
berwarna merah stroberi serta tonsilitis eksudativa atau membranosa.
Campak yang termodifikasi
Penyakit campak yang termodifikasi muncul pada orang yang hanya memiliki
setengah daya tahan terhadap campak. Hal tersebut dapat diakibatkan riwayat penggunaan
serum globulin maupun pada anak usia kurang dari 9 bulan karena masih terdapatnya antibodi
campak transplasental dari ibu. Ditandai dengan gejala penyakit yang lebih ringan. Stadium
prodromal akan menjadi lebih pendek. Batuk, pilek dan demam lebih ringan. Bercak Koplik
lebih sedikit dan kurang jelas, namun dapat juga tidak muncul sama sekali. Ruam yang
muncul sama dengan infeksi campak klasik, tetapi tidak bersifat konfluens. Pada beberapa
orang, infeksi campak yang termodifikasi ini dapat tidak memberikan gejala apapun.
Campak atipikal
Didefinisikan sebagai sindroma klinik yang muncul pada orang yang sebelumnya telah
kebal akibat terpajan pada infeksi campak alamiah. Biasanya muncul pada orang yang telah
mendapat vaksin dari virus campak yang dimatikan Masa inkubasi dari campak atipikal sama
seperti pada campak yang tipikal yaitu sekitar 7 hingga 14 hari. Stadium prodromal ditandai
dengan demam tinggi yang mendadak (39,5C sampai 40,6C) dan biasanya sakit kepala. Bisa
juga didapatkan gejala nyeri perut, mialgia, batuk non-produktif, muntah, nyeri dada dan rasa
lemah. Bercak Koplik jarang ditemui. Dua atau tiga hari setelah onset penyakit muncullah
ruam yang dimulai dari distal ekstremitas dan menyebar ke arah kepala. Ruam sedikit
berwarna kekuningan, terlihat jelas pada pergelangan tangan dan kaki serta terdapat juga pada
telapak tangan dan kaki. Ruam dapat berbentuk vesikel dan terasa gatal. Pada campak atipikal
dapat muncul efusi pleura, sesak nafas, hepatosplenomegali, hiperestesia, rasa lemah maupun
paresthesia. Diagnosis dari campak atipikal dapat ditegakkan melalui tes serologis. Bila
sampel serum awal diambil sebelum atau pada saat onset ruam, CF dan titer HI biasanya
kurang dari 1:5. Pada hari ke-10 infeksi kedua titer akan meningkat mencapai 1:1280 atau
lebih. Pada campak yang tipikal, di hari ke-10 infeksi titer jarang melebihi 1:160.
Penyulit
Campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak berumur lebih kecil.
Kebanyakan penyulit campak terjadi bila ada infeksi sekunder oleh bakteri. Beberapa penyulit
campak adalah :
a. Bronkopneumonia merupakan salah satu penyulit tersering pada infeksi campak. Dapat
disebabkan oleh invasi langsung virus campak maupun infeksi sekunder oleh bakteri
(Pneumococcus, Streptococcus, Staphylococcus, dan Haemophyllus influenza). Ditandai
dengan adanya ronki basah halus, batuk, dan meningkatnya frekuensi nafas. Pada saat suhu
menurun, gejala pneumonia karena virus campak akan menghilang kecuali batuk yang
masih akan bertahan selama beberapa lama. Bila gejala tidak berkurang, perlu dicurigai
adanya infeksi sekunder oleh bakteri yang menginvasi mukosa saluran nafas yang telah
dirusak oleh virus campak. Penanganan dengan antibiotik diperlukan agar tidak muncul
akibat yang fatal.
b. Encephalitis merupakan komplikasi neurologis tidak jarang terjadi pada infeksi campak.
Gejala encephalitis biasanya timbul pada stadium erupsi dan dalam 8 hari setelah onset
penyakit. Biasanya gejala komplikasi neurologis dari infeksi campak akan timbul pada
stadium prodromal. Tanda dari encephalitis yang dapat muncul adalah : kejang, letargi,
koma, nyeri kepala, kelainan frekuensi nafas, twitching dan disorientasi. Dugaan penyebab
timbulnya komplikasi ini antara lain adalah adanya proses autoimun maupun akibat virus
campak tersebut.
c. Subacute Slcerosing Panencephalitis (SSPE) merupakan suatu proses degenerasi susunan
syaraf pusat dengan karakteristik gejala terjadinya deteriorisasi tingkah laku dan intelektual
yang diikuti kejang. Merupakan penyulit campak onset lambat yang rata-rata baru muncul
7 tahun setelah infeksi campak pertama kali. Insidensi pada anak laki-laki 3x lebih sering
dibandingkan dengan anak perempuan. Terjadi pada 1/25.000 kasus dan menyebabkan
kerusakan otak progresif dan fatal. Anak yang belum mendapat vaksinansi memiliki risiko
10x lebih tinggi untuk terkena SSPE dibandingkan dengan anak yang telah mendapat
vaksinasi.
d. Konjungtivitis terjadi pada hampir semua kasus campak. Dapat terjadi infeksi sekunder
oleh bakteri yang dapat menimbulkan hipopion, pan oftalmitis dan pada akhirnya dapat
menyebabkan kebutaan.
e. Otitis Media biasanya terjadi hiperemi pada fase prodromal dan stadium erupsi.
f. Diare dapat terjadi akibat invasi virus campak ke mukosa saluran cerna sehingga
mengganggu fungsi normalnya maupun sebagai akibat menurunnya daya tahan penderita
campak
g. Laringotrakheitis sering muncul dan kadang dapat sangat berat sehingga dibutuhkan
tindakan trakeotomi.
h. Jantung (Miokarditis dan pericarditis) dapat menjadi penyulit campak. Walaupun jantung
seringkali terpengaruh efek dari infeksi campak, jarang terlihat gejala kliniknya.
i. Black measles merupakan bentuk berat dan sering berakibat fatal dari infeksi campak yang
ditandai dengan ruam kulit konfluen yang bersifat hemoragik. Penderita menunjukkan
gejala encephalitis atau encephalopati dan pneumonia. Terjadi perdarahan ekstensif dari
mulut, hidung dan usus. Dapat pula terjadi koagulasi intravaskuler diseminata.
Imunitas
Struktur antigenik Imunoglobulin kelas IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak.
Kemudian IgM menghilang dengan cepat (kurang dari 9 minggu setelah infeksi) sedangkan
IgG tinggal tak terbatas dan jumlahnya dapat diukur. IgM menunjukkan baru terkena infeksi
atau baru mendapat vaksinasi. IgG menandakan pernah terkena infeksi. IgA sekretori dapat
dideteksi dari sekret nasal dan hanya dapat dihasilkan oleh vaksinasi campak hidup yang
dilemahkan, sedangkan vaksinasi campak dari virus yang dimatikan tidak akan menghasilkan
IgA sekretori. Imunitas transplasental Bayi menerima kekebalan transplasental dari ibu yang
pernah terkena campak. Antibodi akan terbentuk lengkap saat bayi berusia 4 6 bulan dan
kadarnya akan menurun dalam jangka waktu yang bervariasi. Level antibodi maternal tidak
dapat terdeteksi pada bayi usia 9 bulan, namun antibodi tersebut masih tetap ada. Janin dalam
kandungan ibu yang sedang menderita campak tidak akan mendapat kekebalan maternal dan
justru akan tertular baik selama kehamilan maupun sesudah kelahiran.
Imunisasi campak terdiri dari Imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif dapat berasal
dari virus hidup yang dilemahkan maupun virus yang dimatikan. Vaksin dari virus yang
dilemahkan akan memberi proteksi dalam jangka waktu yang lama dan protektif meskipun
antibodi yang terbentuk hanya 20% dari antibodi yang terbentuk karena infeksi alamiah.
Pemberian secara sub kutan dengan dosis 0,5ml. Vaksin tersebut sensitif terhadap cahaya dan
panas, juga harus disimpan pada suhu 4C, sehingga harus digunakan secepatnya bila telah
dikeluarkan dari lemari pendingin. Vaksin dari virus yang dimatikan tidak dianjurkan dan saat
ini tidak digunakan lagi. Respon antibodi yang terbentuk buruk, tidak tahan lama dan tidak
dapat merangsang pengeluaran IgA sekretori. Indikasi kontra pemberian imunisasi campak
berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi
imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin
atau bahan-bahan berasal dari darah. Imunisasi pasif digunakan untuk pencegahan dan
meringankan morbili. Dosis serum dewasa 0,25 ml/kgBB yang diberikan maksimal 5 hari
setelah terinfeksi, tetapi semakin cepat semakin baik. Bila diberikan pada hari ke 9 atau 10
hanya akan sedikit mengurangi gejala dan demam dapat muncul meskipun tidak terlalu berat.
Penatalaksanaan
Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat, pemberian cairan
yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder, anti konvulsi
apabila terjadi kejang, antipiretik bila demam, dan vitamin A 100.000 Unit untuk anak usia 6
bulan hingga 1 tahun dan 200.000 Unit untuk anak usia >1 tahun. Vitamin A diberikan untuk
membantu pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak, menurunkan morbiditas campak juga
berguna untuk meningkatkan titer IgG dan jumlah limfosit total. Indikasi rawat inap bila
hiperpireksia (suhu >39,5C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit.
Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul.
Pencegahan
Pencegahan terutama dengan melakukan imunisasi campak. Imunisasi Campak di
Indonesia termasuk Imunisasi dasar yang wajib diberikan terhadap anak usia 9 bulan dengan
ulangan saat anak berusia 6 tahun dan termasuk ke dalam program pengembangan imunisasi
(PPI). Imunisasi campak dapat pula diberikan bersama Mumps dan Rubela (MMR) pada
usia12-15 bulan. Anak yang telah mendapat MMR tidak perlu mendapat imunisasi campak
ulangan pada usia 6 tahun. Pencegahan dengan cara isolasi penderita kurang bermakna karena
transmisi telah terjadi sebelum penyakit disadari dan didiagnosis sebagai campak.
Prognosis
Campak merupakan penyakit self limiting sehingga bila tanpa disertai dengan penyulit
maka prognosisnya baik.
Kesimpulan
Morbili merupakan penyakit yang sering menyerang anak-anak dikarenakan imunitas
dan penyebaran yang mudah melalui udara. Gejala yang muncul antara lain demam, ruam
pada kulit, batuk, pilek, kemerahan pada mata. Dengan penanganan yang tepat, campak dapat
disembuhkan dan tidak berakibat pada kematian. Campak dapat dicegah dengan melakukan
imunisasi terhadap bayi dan anak.