Anda di halaman 1dari 88

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DI

DESA PRINGOMBO, KECAMATAN TEMPURAN, KABUPATEN


MAGELANG

Diajukan guna melengkapi tugas Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Oleh :

KELOMPOK CO-ASS FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

PERIODE 1-20 APRIL 2013

BALAI PELATIHAN KESEHATAN

SALAMAN MAGELANG

2013
i
TIM PENYUSUN

R. VASTHU BROTO 22010112210006 DIKA GITA PRATAMA 22010112210012

FARMAN S. 22010112210007 DIMAS ADITYA 22010112210013

DEWI RAHMAWATI 22010112210010 GABRIELA A. 22010112210022

DEWI NOVITASARI 22010112210011 GITA SORAYA D. 22010112210026

ERIKA KUSUMAWARDANI 22010112210016 LAURENTIA Y. S. 22010112210029

ARDI FAUZI 22010112210008 LEONARDO C. 22010112210028

FIKRI ALIM M. 22010112210009 MUH. FATHAH 22010112210033

FARAH MAULIDA 22010112210018 RIZKI AMELIA N. 22010112210046

S. FELICITA S. 22010112210019 RIZKY YANUARI 22010112210047

FRANSISKA S. 22010112210021 RIZKA NUGRAHENI 22010112210048

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan penelitian ini telah diseminarkan pada tanggal 19 April 2013 dan telah direvisi sesuai
dengan saran-saran yang diberikan oleh pembimbing untuk kegiatan akhir praktek kerja lapangan
di Balai Pelatihan Kesehatan Salaman, Magelang, Jawa Tengah.

Salaman, 19 April 2013

Disahkan oleh:

Master of Training,

Edy Sukiarto, SKM, M.Si.

Mengetahui,
Kepala Bapelkes Salaman

H. Taufik Hidayat, SKM, M.Kes

iii
KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rahmat dan kurnia-
Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian analitik tentang Faktor-
faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare di Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran,
Kecamatan Magelang Periode 11 Maret 11 April 2013. Penyusun mengucapkan banyak terima
kasih kepada:

1. H. Taufik Hidayat, SKM, M.Kes, selaku Kepala Bapelkes Semarang yang telah mengizinkan
kami mengikuti pelatihan di Bapelkes Salaman.
2. Edy Sukiarto, SKM, M.Si, dr. Nine Luthansa, Dra. Nila Arianingsih, Apt, MQIH, selaku
Master of Training yang telah membimbing dan membina kami dalam kegiatan kami.
3. Para Widya Iswara yang telah membimbing kami selama berada di Bapelkes Salaman.
4. Kepala Desa Pringombo beserta perangkat desa yang telah mengizinkan kami melakukan
kegiatan di Desa Pringombo.
5. Keluarga Bapak Sukendro dan Bapak Sukandar yang telah menyediakan sarana dan fasilitas
selama kami di desa.
6. Segenap pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan penelitian dan intervensi kami.
Kami menyadari hasil penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
kami mengharapkan saran agar laporan kami ini lebih mendekati hasil yang optimal. Kami
berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

Magelang, 19 April 2013

Penyusun

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


TIM PENYUSUN ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... iii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vi
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................................... 3
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................................. 3
1.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................................. 4
1.4 Manfaat ....................................................................................................... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .. 6
2.1 Dasar Teori . 6
2.1.1 Definisi Diare . 7
2.1.2 Etiologi Diare . 7
2.1.3 Jenis Diare .. 9
2.1.4 Gejala Diare . 9
2.1.5 Patofisiologi Diare . 10
2.1.6 Faktor yang berhubungan dengan diare . 11
BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS .. 20
Landasan Teori . 20
Kerangka Teori .. 21
Kerangka Konsep .. 22
Hipotesis . 23
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 24
v
Ruang Lingkup Penelitian 24
Tempat dan Waktu Penelitian .. 24
Jenis Penelitian . 24
Populasi dan Sampel .. 24
Variabel Penelitian 27
Definisi Operasional Variabel 27
Cara Pengumpulan Data 29
Alur Penelitian .. 30
Analisis Data .. 30
BAB V HASIL PENELITIAN .. 31
Karakteristik Sampel . 31
Hasil Analisis 44
BAB VI PEMBAHASAN . 47
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN . 49
Kesimpulan 49
Saran . 50

vi
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Diare merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah mortalitas dan morbiditas

penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia.1 Setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 1

milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kematian akibat diare. Diare terutama dijumpai pada

negara berkembang dengan kepadatan penduduk yang tinggi dimana terdapat banyak faktor yang

menjadi penyebab penyebaran diare, yaitu faktor sosialdemografi, faktor lingkungan dan faktor

perilaku.2 Oleh karena tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama

pada bayi dan balita di Indonesia, diare menjadi salah satu penyakit yang mendapatkan prioritas

program pemberantasan. Kematian pada penderita diare adalah akibat dehidrasi yang

menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja. Jumlah kejadian diare di Jawa Tengah

tahun 2007 yaitu sebanyak 625.022 penderita dengan IR 1,93% dengan jumlah kasus diare pada

balita sebanyak 269.483 penderita.3

Berdasarkan data survey mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada

tanggal 11 April 2013 di Dusun Sidosari dan Dusun Tepungsari, Desa Pringombo, Kecamatan

Tempuran, Kabupaten Magelang Jawa Tengah, didapatkan 27 jiwa yang menderita diare dari 129

jiwa yang sakit dalam 1 bulan terakhir. Angka kejadian diare ini menduduki urutan pertama dari

penyakit-penyakit yang ditemukan dalam 1 bulan terakhir di kedua dusun ini. Hal ini

menunjukkan bahwa angka kejadian diare masih cukup tinggi dan bisa menyerang semua

kelompok usia.

1
Kejadian diare dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor sosialdemografi misalnya

tingkat pendidikan, usia ibu dan jenis pekerjaan, faktor lingkungan misalnya sumber air minum,

jenis tempat pembuangan tinja serta faktor perilaku, misalnya pemberian ASI ekslusif, pemberian

botol susu, kebiasaan cuci tangan, kebiasaan membuang tinja, menggunakan air minum tercemar

dan penggunaan jamban.4 Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Wulandari 2009

yang menyatakan adanya hubungan bermakna antara kejadian diare dengan kondisi lingkungan

yang meliputi sumber air minum (p=0,001), jenis tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare

pada balita di Desa Belimbing (p=0,01). Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk

mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare di desa Pringombo.

B. PERUMUSAN MASALAH

1. Apakah tingkat pendidikan berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo periode 11

Maret 2013 11 April 2013?


2. Apakah jenis pekerjaan berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo periode 11

Maret 2013 11 April 2013?


3. Apakah pendapatan berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo periode 11 Maret

2013 11 April 2013?


4. Apakah mencuci tangan sebelum makan berhubungan dengan kejadian diare di Desa

Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013?


5. Apakah pembuangan air limbah berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013?


6. Apakah tempat pembuangan sampah berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013?


7. Apakah tingkat pengetahuan diare berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013?


2
8. Apakah perilaku hidup bersih dan sehat berhubungan dengan kejadian diare di Desa

Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013?


9. Apakah rumah sehat berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo periode 11 Maret

2013 11 April 2013?


10. Apakah mencuci tangan setelah BAB berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013?


11. Apakah rumah bebas lalat berhubungan dengan kejadian diare di Desa Pringombo periode 11

Maret 2013 11 April 2013?

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian

diare di Desa Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013

2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian diare di Desa

Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013


b. Menganalisis hubungan antara jenis pekerjaan dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013


c. Menganalisis hubungan antara pendapatan dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013


d. Menganalisis hubungan antara mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian diare di

Desa Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013


e. Menganalisis hubungan antara pembuangan air limbah dengan kejadian diare di Desa

Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013

3
f. Menganalisis hubungan antara tempat pembuangan sampah berhubungan dengan kejadian

diare di Desa Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013


g. Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan diare dengan kejadian diare di Desa

Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013


h. Menganalisis hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare di

Desa Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013


i. Menganalisis hubungan antara rumah sehat dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013


j. Menganalisis hubungan antara mencuci tangan setelah BAB dengan kejadian diare di Desa

Pringombo periode 11 Maret 2013 11 April 2013


k. Menganalisis hubungan antara rumah bebas lalat dengan kejadian diare di Desa Pringombo

periode 11 Maret 2013 11 April 2013

D. MANFAAT

Dengan diketahuinya faktor-faktor risiko terjadinya diare, diharapkan dapat membantu

program pemberantasan Diare, yaitu dalam :

1. Menentukan cara yang tepat dalam melakukan tindakan pencegahan dan pemberantasan

diare.

2. Menetapkan metode dan materi penyuluhan yang tepat kepada masyarakat agar sedapat

mungkin mengurangi faktor risiko terjadinya diare.

3. Sebagai acuan yang dapat digunakan untuk penelitan-penelitian selanjutnya yang lebih

komprehensif.

4
5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Dasar Teori

1. Definisi Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair

(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24

jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari.

Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Semua kelompok usia

diserang oleh diare, baik balita, anak-anak dan orang dewasa. Tetapi penyakit diare berat dengan

kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita. Diare adalah penyebab utama

kesakitan dan kematian pada anak dengan perkiraan 1,3 milyar dan 3,2 kematian tiap tahun pada

balita. Di Indonesia penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang mendapatkan prioritas

program pemberantasan karena tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian

terutama pada bayi dan balita. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai

akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja.1,2,3

2. Etiologi Diare

Diare disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:4,5

a. Faktor infeksi

6
Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi

1) Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Champylobacter, Yersinia,

Aeromonas dan sebagainya.


2) Infeksi virus : Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan sebagainya2.
3) Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), Protozoa

(E.histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (C.albicans).

b. Faktor Malabsorbsi

a. Malabsorbsi KH : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa), monosakarida

(intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi

kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Gejalanya

berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di daerah perut.
b. Malabsorbsi lemak.
Malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida.

Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap

diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat

muncul karena lemak tidak terserap dengan baik.


c. Malabsorbsi protein

c. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan. Makanan yang

terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak-anak balita

d. Faktor psikologis : rasa takut, cemas. Jarang terjadi pada anak balita, umumnya terjadi pada

anak yang lebih besar.

Etiologi diare menurut Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR RSU dr. Soetomo

berdasar klasifikasi diare salah satu diantaranya karena ada faktor penderita :

- Usia kurang dari 3 bulan


7
- Gizi buruk

- Depresi sistem immunologic

- Enzim-enzim yang berkurang

dan beberapa faktor-faktor lain :

- Kejadian diare akut yang terdahulu merupakan resiko terjadinya diare kronik

- Penanganan yang tidak efektif menambah resiko terjadinya diare kronik.

8
3. Jenis diare

Menurut Depkes RI (2000), berdasarkan jenisnya diare dibagi empat yaitu:6

a. Diare Akut
Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7

hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama

kematian bagi penderita diare.


b. Disentri
Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah

anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan terjadinnya

komplikasi pada mukosa.


c. Diare persisten
Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus.

Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.
d. Diare dengan masalah lain
Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai

dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

4. Gejala diare

Gejala-gejala diare adalah sebagai berikut :7

Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badann meninggi,
Tinja bayi encer, berlendir atau berdarah,
Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu,
Lecet pada anus,
Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang,
Muntah sebelum dan sesudah diare,
Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), dan
Dehidrasi (kekurangan cairan).

Dehidarsi dibagi menjadi tiga macam, yaitu dehidrasi ringan, dehidrasi sedang dan

dehidarsi berat. Disebut dehidrasi ringan jika cairan tubuh yang hilang 5%. Jika

cairan yang hilang lebih dari 10% disebut dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat,

9
volume darah berkurang, denyut nadi dan jantung bertambah cepat tetapi melemah,

tekanan darah merendah, penderita lemah, kesadaran menurun dan penderita sangat

pucat.

5. Patofisiologi diare

Diare timbul karena adanya:8

a. Agent yang menyebabkan diare

Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui

makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja

penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan

meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-

6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak

pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan

sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau

menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.

b. Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare (host)

Faktor pada pejamu yang dapat meningkatkan insiden, beberapa penyakit dan

lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2

tahun, kurang gizi, imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare

lebih banyak terjadi pada golongan balita.

c. Faktor lingkungan dan perilaku


Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua

faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini
10
akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat

karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula,

yaitu melalui makanan dan minuman, dapat menimbulkan kejadian diare.

6. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Diare

1) Faktor Sosiodemografi

Demografi meliputi memperhatikan berbagai karakteristik individu maupun

kelompok yang terdiri dari karakteristik sosial dan demografi, karakteristik pendidikan dan

karakteristik ekonomi. Karakteristik sosial dan demografi meliputi: jenis kelamin, umur,

status perkawinan, dan agama. Karakteristik pendidikan meliputi: tingkat pendidikan.

Karakteristik ekonomi meliputi jenis pekerjaan, status ekonomi dan pendapatan. Faktor

sosiodemografi meliputi tingkat pendidikan ibu, jenis pekerjaan ibu, dan umur ibu.9,10

Tingkat pendidikan
Jenjang pendidikan memegang peranan cukup penting dalam kesehatan

masyarakat. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu

mengenai pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah

terjangkitnya penyakit menular, diantaranya diare. Dengan sulitnya mereka menerima

penyuluhan,menyebabkan mereka tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit.11

Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi lebih berorientasi pada

tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki

status kesehatan yang lebih baik. Pada perempuan, semakin tinggi tingkat pendidikan,

semakin rendah angkakematian bayi dan kematian ibu.12


Jenis pekerjaan

11
Karakteristik pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan, status

sosial, pendidikan, status sosial ekonomi, risiko cedera atau masalah kesehatan dalam

suatu kelompok populasi. Pekerjaan juga merupakan suatu determinan risiko dan

determinan terpapar yang khusus dalam bidang pekerjaan tertentu serta merupakan

prediktor status kesehatan dan kondisi tempat suatu populasi bekerja.12


Umur ibu
Sifat manusia yang dapat membawa perbedaan pada hasil suatu penelitian atau

yang dapat membantu memastikan hubungan sebab akibat dalam hal hubungan

penyakit, kondisi cidera, penyakit kronis, dan penyakit lain yang dapat menyengsarakan

manusia, umur merupakan karakter yang memiliki pengaruh paling besar. Umur

mempunyai lebih banyak efek pengganggu daripada yang dimiliki karakter tunggal lain.

Umur merupakan salah satu variabel terkuat yang dipakai untuk memprediksi perbedaan

dalam hal penyakit, kondisi, dan peristiwa kesehatan, dan karena saling

diperbandingkan maka kekuatan variabel umur menjadi mudah dilihat. Umur adalah

variabel yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi.

Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan

menunjukkan hubungan dengan umur.12,13


2) Faktor lingkungan
Sumber air minum

Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh manusia sebagian

besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55- 60% berat badan terdiri dari air,

untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air

sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di

negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter

12
per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah

kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air harus

mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi

manusia.13

Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah

pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare

ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke

dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-

jari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar.6

Menurut Depkes RI (2000), hal - hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan

air bersih adalah :6

a. Mengambil air dari sumber air yang bersih.


b. Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta

menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.


c. Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang, anak-anak,

dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum dengan sumber pengotoran

seperti septictank , tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10

meter.
d. Mengunakan air yang direbus.
e. Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.
Jenis tempat pembuangan tinja

Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan.

Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran

penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Menurut

13
Notoatmodjo (2003), syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan

adalah: 13

a. Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya,


b. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya,
c. Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya,
d. Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur

atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya,


e. Tidak menimbulkan bau,
f. Pembuatannya murah, dan
g. Mudah digunakan dan dipelihara.

Adapun macam-macam tempat pembuangan tinja, antara lain:14

1. Jamban cemplung (Pit latrine)

Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan. Jamban ini dibuat

dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80 s.d. 120 cm sedalam

2,5 sampai 8 meter. Jamban cemplung tidak boleh terlalu dalam, karena akan mengotori

air tanah dibawahnya. Jarak dari sumber minum sekurang-kurangnya 15 meter.

2. Jamban air (Water latrine)

Jamban ini terdiri dari bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai

tempat pembuangan tinja. Proses pembusukkanya sama seperti pembusukan tinja dalam

air kali.

3. Jamban leher angsa (Angsa latrine)

Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini

sebagai sumbat sehingga bau busuk dari kakus tidak tercium. Bila dipakai, tinjanya

tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk

masuk ke tempat penampungannya.

14
4. Jamban bor (Bored hole latrine)

Tipe ini sama dengan jamban cemplung hanya ukurannyalebih kecil karena

untuk pemakaian yang tidak lama, misalnya untuk perkampungan sementara.

Kerugiannya bila air permukaan banyak mudah terjadi pengotoran tanah permukaan

(meluap).

5. Jamban keranjang (Bucket latrine)

Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di tempat

lain, misalnya untuk penderita yang tak dapat meninggalkan tempat tidur. Sistem

jamban keranjang biasanya menarik lalat dalam jumlah besar, tidak di lokasi

jambannya, tetapi di sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. Penggunaan jenis

jamban ini biasanya menimbulkan bau.

6. Jamban parit (Trench latrine)

Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30 - 40 cm untuk tempat defekasi. Tanah

galiannya dipakai untuk menimbunnya. Penggunaan jamban parit sering mengakibatkan

pelanggaran standar dasar sanitasi, terutama yang berhubungan dengan pencegahan

pencemaran tanah, pemberantasan lalat, dan pencegahan pencapaian tinja oleh hewan.

7. Jamban empang / gantung (Overhung latrine)

Jamban ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam, selokan, kali,

rawa dan sebagainya. Kerugiannya mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit

yang terdapat didalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat

menimbulkan wabah.

8. Jamban kimia (Chemical toilet)

15
Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga

dihancurkan sekalian didesinfeksi. Biasanya dipergunakan dalam kendaraan umum

misalnya dalam pesawat udara, dapat pula digunakan dalam rumah.

Tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi akan

meningkatkan risiko terjadinya diare berdarah pada anak balita sebesar dua kali lipat

dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai kebiasaan membuang tinjanya yang

memenuhi syarat sanitasi.15 Menurut hasil penelitian Irianto (1996), anak balita yang

berasal dari keluarga yang menggunakan jamban yang dilengkapi dengan tangki septik,

prevalensi diare 7,4% terjadi di kota dan 7,2% di desa. Sedangkan keluarga yang

menggunakan kakus tanpa tangki septik 12,1% diare terjadi di kota dan 8,9% di desa.

Kejadian diare tertinggi terdapat pada keluarga yang mempergunakan sungai sebagai

tempat pembuangan tinja, yaitu 17% di kota dan 12,7% di desa.16

3) Faktor perilaku

Menurut Depkes RI (2005), faktor perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran

kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare adalah sebagai berikut :

Pemberian ASI Eksklusif

ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Tidak memberikan ASI

Eksklusif secara penuh selama 4 sampai 6 bulan. Pada bayi yang tidak diberi ASI risiko

untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan

menderita dehidrasi berat juga lebih besar. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI

secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada

pemberian ASI yang disertai dengan susu formula.

16
Penggunaan botol susu

Penggunaan botol susu memudahkan pencemaran oleh kuman karena botol susu

susah dibersihkan. Penggunaan botol untuk susu formula, biasanya menyebabkan risiko

tinggi terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk.

Kebiasaan cuci tangan

Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam

penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama

sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyuapi makan anak

dan sesudah makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare.

Kebiasaan membuang tinja

Membuang tinja (termasuk tinja bayi) harus dilakukan secara bersih dan benar.

Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya, padahal sesungguhnya

mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Tinja bayi dapat pula menularkan

penyakit pada anak-anak dan orang tuanya.

Menggunakan air minum yang tercemar

Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan dirumah.

Pencemaran dirumah dapat terjadi kalau tempat peyimpanan tidak tertutup atau tangan

yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. Untuk

mengurangi risiko terhadap diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan

melindungi air tersebut dari kontaminasi.

Penggunaan jamban

17
Penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penularan risiko

terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban sebaiknya membuat

jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban. Bila tidak mempunyai jamban,

jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat buang air besar hendaknya jauh dari rumah,

jalan setapak, tempat anak-anak bermain dan harus berjarak kurang lebih 10 meter dari

sumber air, serta hindari buang air besar tanpa alas kaki.

18
BAB III

KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS

A. Landasan Teori
Dari tinjauan pustaka diatas diperoleh landasan teori sebagai berikut :
1. Perilaku tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah BAB dapat

menyebabkan kejadian diare meningkat karena penyebaran bakteri menjadi lebih

mudah dan cepat.


2. Lingkungan yang tidak mendukung terselenggaranya pembangunan kebersihan antara

lain saluran pembuangan limbah yang tidak sesuai standar, tidak adanya tempat

pembuangan sampah, rumah yang tidak bebas lalat, dan sumber air minum yang

tercemar ikut memberikan andil yang besar pada penyebaran penyakit diare di

masyarakat.
3. Jenis pekerjaan, tingkat pendidikan yang rendah, dan tingkat pendapatan yang rendah

memberi pengaruh pada tiap individu ataupun keluarga di masyarakat dalam

pencegahan dan pengobatan diare yang tidak adekuat, sehingga penyakit diare susah

untuk ditanggulangi.
4. Pengetahuan tentang rumah sehat dan diare pada tiap individu mempengaruhi dalam

pemahaman tentang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk penyakit diare.

B. Kerangka Teori Diare

19
Jenis pekerjaan
Kepemilikan
Saluran
pembuangan air Tingkat
limbah pendapatan dan
pendidikan
Kepemilikan
tempat
pembuangan Jenis jamban
sampah yang dimiliki

Kondisi rumah
bebas lalat Diare
Pengetahuan
tentang rumah
Perilaku cuci sehat
tangan dengan
sabun dan
sebelum makan
setelah BAB
Jenis pekerjaan
Pengetahuan
Kepemilikan diare
Saluran
Jenis sumber air
pembuangan
bersih air Tingkat
limbah pendapatan dan
Strata PHBS
pendidikan
Kepemilikan
tempat
pembuangan Pengetahuan
sampah tentang rumah
sehat
C. Kerangka Konsep Diare
Kondisi rumah
bebas lalat Diare

Pengetahuan
Perilaku cuci diare
tangan dengan
sabun dan 20
sebelum makan Strata PHBS
setelah BAB
D. Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara perilaku tidak mencuci tangan dengan sabun setelah BAB

dengan kejadian diare pada penduduk di desa Pringombo

21
2. Terdapat hubungan antara perilaku tidak cuci tangan dengan sabun sebelum makan

dengan kejadian diare pada penduduk di desa Pringombo


3. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan pendapatan terhadap kejadian diare

di Desa Pringombo
4. Terdapat hubungan antara kepemilikan SPAL dengan kejadian diare pada penduduk

Desa Pringombo
5. Terdapat hubungan antara kepemilikan tempat pembuangan sampah dengan kejadian

diare pada penduduk Desa Pringombo


6. Terdapat hubungan antara pengetahuan rumah sehat dengan kejadian diare pada

penduduk Desa Pringombo


7. Terdapat hubungan antara penegtahuan tentang diare dengan kejadian diare pada

penduduk Desa Pringombo


8. Terdapat hubungan antara rumah yang tidak bebas lalat dengan kejadian diare pada

penduduk di desa Pringombo


9. Terdapat hubungan antara strata PHBS dengan kejadian diare pada penduduk Desa

Pringombo

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat

22
4.2. Tempat dan Waktu Penelitan

Tempat penelitian adalah Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.

Waktu penelitan adalah pada bulan 12 April 2013 17 April 2013

4.3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah unmatched case control atau kasus kelola tak berpasangan.

4.4. Populasi dan Sampel

4.4.1. Populasi Penelitian

4.4.1.1. Populasi Target

Populasi penelitian adalah seluruh warga Desa Pringombo.

4.4.1.2. Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau adalah kepala keluarga yang anggota keluarganya memiliki dan tidak

memiliki riwayat diare dalam 1 bulan terakhir.

4.4.2. Sampel Penelitian

23
Sampel penelitian terdiri atas kasus dan kontrol. Kasus yaitu setiap kepala keluarga yang

anggota keluarganya memiliki riwayat diare dalam 1 bulan terakhir. Kontrol adalah kepala

keluarga yang tidak memiliki riwayat diare dalam 1 bulan terakhir.

4.4.2.1. Kriteria Inklusi

Kepala keluarga yang anggota keluarganya memiliki riwayat diare dalam 1 bulan

terakhir; untuk kelompok kasus


Kepala keluarga yang anggota keluarganya tidak memiliki riwayat diare dalam 1 bulan

terakhir; untuk kontrol

4.4.2.2. Kriteria Eksklusi

Tidak ada

4.4.2.3. Cara Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel penelitian adalah dengan metode consecutive sampling.

4.4.2.4. Besar Sampel

Besar sampel yang diambil adalah berdasarkan rumus

n = jumlah sampel minimal kelompok kasus dan kontrol

24
Z1 - /2 = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan tingkat
kemaknaan (untuk = 0.05 adalah 1.96)
Z1 - = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan kuasa
(power) sebesar diinginkan (untuk =0.10 adalah 1.28)
p0 = proporsi paparan pada kelompok kontrol atau tidak sakit
p1 = proporsi paparan pada kelompok kasus (sakit)
qo = 1 p0 dan q1 = 1 p1

Survey kesehatan awal di Desa Pringombo tanggal 11 April 2013 menunjukkan 27 kepala

keluarga dengan kasus diare. Peneliti memperkirakan faktor yang memiliki hubungan terkuat

dengan kejadian diare adalah perilaku cuci tangan sebelum makan.

Proporsi responden yang tidak cuci tangan pada seluruh kepala keluarga dengan kasus diare

(p1) adalah 0.423. Proporsi responden yang tidak cuci tangan pada kepala keluarga tanpa kasus

diare sebagai kontrol (p0) adalah 0.055. Nilai CI 95 % memiliki nilai Z1 - /2 sebesar 1.96, nilai

power 90% memiliki nilai Z1 sebesar 1.28.

Berdasarkan angka tersebut dan rumus diatas, didapatkan sampel minimal 23 kepala

keluarga dengan kasus diare. Peneliti mengambil 27 responden sebagai kasus dan 54 responden

sebagai kontrol (dua kali kasus) untuk meningkatkan power penelitian.

4.5. Variabel Penelitian

Meliputi : Pendapatan, Pekerjaan, Pendidian, Pengetahun rumah sehat, Pengtahuan diare,

Strata PHBS, Cuci tangan dengan sabun sebelum makan, Cuci tangan dengan sabun

25
setelah BAB, SPAL (saluran pembuangan air limbah), tempat pembuangan sampah, dan

bebas lalat

4.6. Definisi Operasional Variabel

Tabel 4.1 Definisi operasional variabel

No Variabel Kategori Skala

1. Pendapatan: < UMR Nominal

Pendapatan kepala keluarga tiap bulannya terhadap UMR


upah minimum regional (UMR) Kabupaten
Magelang; yaitu : Rp 942.000,00

2. Pekerjaan : Petani Nominal

Pekerjaan kepala keluarga Pedagang / swasta

PNS

Lain - lain

Tidak bekerja

3. Pendidikan : Tidak / belum sekolah Nominal

Pendidikan terakhir tertinggi dalam masing - masing Tidak tamat SD


kepala keluarga
Tamat SD

Tampat SMP

Tamapt SMA

Tamat PT / Akademi

4. Kurang Nominal
Pengetahuan Rumah sehat :
Cukup
Nilai pengetahuan rumah sehat berdasarkan jawaban
wawancara Baik

26
5. Pengetahuan Diare : Kurang Nominal

Nilai pengetahuan diare berdasarkan jawaban Cukup


wawancara
Baik

6. Strata PHBS : Sehat Pratama Nominal

Tingkatan PHBS berdasarkan nilai pada saat Sehat Madya


wawancara
Sehat Utama

Sehat Paripurna

7. Cuci tangan dengan sabun sebelum makan Tidak Nominal

Ya

8. Cuci tangan dengan sabun setelah BAB Tidak Nominal

Ya

9. SPAL Tidak Nominal

Ada tidaknya saluran pembuangan air limbah Ya

10. Tempat pembuangan sampah Tidak Nominal

Ya

11. Bebas lalat: Tidak Nominal

Kondisi ada / tidaknya (bebas) lalat Ya

12 Diare Ya Nominal

Kondisi ada tidaknya anggota keluarga yang diare Tidak


dalam 1 bulan terakhir, tiap kepala keluarga

4.7. Cara Pengumpulan Data

27
Data dikumpulkan dari hasil survey kesehatan awal dan dari wawancara

4.7.1. Bahan

Kepala keluarga dengan riwayat kasus diare dalam 1 bulan terakhir


Kepala keluarga tanpa riwayat kasus diare dalam 1 bulan terakhir

4.7.2. Instrumen Penelitian

Hasil tabulasi survey kesehatan tanggal 11 April 2013

Kuesioner pengetahuan rumah sehat (terlampir)

Kuesioner pengetahuan diare (terlampir)

4.7.3. Jenis Data

Data sekunder, yaitu hasil tabulasi pada survey awal kesehatan tanggal 11 April 2013
Data primer, yaitu kunjungan rumah dan wawancara kuesioner.

4.8. Alur Penelitian

Mendata responden dari hasil survey

kesehatan awal pada tanggal 11 April 2013

Menentukan kasus dan mencarikan kontrol

Melakukan kunjungan rumah dan Melakukan kunjungan rumah dan

wawancara pada kelompok kasus wawancara pada kelompok Kontrol


28
Menganalisis data variabel variabel pada kelompok

kasus dan kontrol

Hasil Penelitian

4.9.Analisis Data

Data dikumpulkankemudian ditabulasi menggunakan perangkat lunak komputer,

ditampilkan dalam bentuk grafik, kemudian dilakukan deskripsi.

Analisis hubungan tiap variabel terhadap kejadian diare dengan Chi square. Kekuatan

hubngan tiap variabel dilihat dari Odds Ratio. Apabila tidak memenuhi syarat Chi square,

dapat dilakukan uji Fisher dan atau teknik penggabungan sel.

Analisis kekuatan hubungan antar variabel terhadap kejadian diare dilakukan dengan

regresi logistik.

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Sampel yang Diteliti

29
Telah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi status rumah sehat

di Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang pada 158 kepala keluarga.

Karakteristik sampel penelitian disajikan menurut variabel sebagai berikut:


1. Jenis pekerjaan

Tabel 5.1 Jenis Pekerjaan


No. Jenis Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
1. Petani 68 84
2. Pedagang 2 2,5
3 Swasta 10 12,3
4. Tidak bekerja 1 1,2
Total 81 100

Dari tabel dan

diagram diatas

didapatkan bahwa sebagian besar sampel bekerja sebagai petani (84 %), diikuti oleh pekerja

swasta (12,3%), pedagang (2.5 %), dan tidak bekerja (1.2 %).

2. Tingkat pendidikan

Tabel 5.2 Tingkat Pendidikan


No. Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
1. Tidak pernah sekolah 2 2,5
2 Tamat SD/ sederajat 59 72,8
3. Tamat SLTP/ sederajat 14 17,3
4. Tamat SLTA/ sederajat 3 3,7
5. Tamat perguruan tinggi 3 3,7
Total 81 100

30
Dari tabel dan diagram diatas didapatkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan

tamatan SD (72,8%), hanya sebagian kecil saja yang pernah mengenyam pendidikan

perguruan tinggi (3.7 %).

3. Tingkat pengetahuan diare

Tabel 5.3 Tingkat Pengetahuan Diare


No. Tingkat Pengetahuan Diare Frekuensi Persentase (%)
1. Kurang 10 12,3
2. Cukup 36 44,4
3 Baik 35 43,2
Total 81 100

Tingkat pengetahuan tentang diare diukur per kepala kelarga melalui kuesioner, lalu

dinilai dan digolongkan menjadi tiga: kurang, cukup, dan baik. Sebagian penduduk Desa

31
Pringombo memiliki cukup pengetahuan tentang diare (44,4%), sebagian lain memiliki

pengetahuan yang baik (43,2%) dan pengetahuan kurang (12,3%).


4. Strata PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat )

Tabel 5.4 Strata PHBS


No. Strata PHBS Frekuensi Persentase (%)
1. Sehat pratama 5 6,2
2. Sehat madya 33 40.7
3 Sehat utama 43 53,1
4. Sehat paripurna 0 0
Total 81 100

Strata PHBS (Perilaku Hidup Sehat dan Bersih) adalah kriteria yang digunakan untuk

menggambarkan perilaku hidup sehat dari setiap individu. Klasifikasi PHBS, yaitu: Sehat

pratama, sehat madya, sehat utama, sehat paripurna. Dari hasil survey didapatkan sebagian

besar responden tergolong sehat utama (56,3%) dan hanya sedikit yang tergolong sehat

paripurna (1,3%).

5. Tingkat pendapatan

Tabel 5.5 Tingkat Pendapatan


No. Tingkat Pendapatan Frekuensi Persentase (%)
1. < UMR 73 90,1
2. UMR 8 9,9
32
Total 81 100

Menurut Disnakerduktrans, UMR di Kabupaten Magelang berjumlah Rp. 942.000.

Sedangkan sebagian besar penduduk Desa Pringombo bermatapencaharian sebagai petani

yang memiliki rata-rata pendapatan sekitar Rp. 300.000 per bulan, yang berarti dibawah UMR

Kab. Magelang. Hanya sebagian kecil yang memiliki pendapatan diatas UMR, yaitu sebanyak

9.9% dari responden.

6. Tingkat pengetahuan rumah sehat

Tabel 5.6 Tingkat Pengetahuan Rumah Sehat


No. Tingkat Pengetahuan Rumah Sehat Frekuensi Persentase (%)
1. Kurang 6 7,4
2. Cukup 20 24,7
3 Baik 55 67,9
Total 81 100

33
Tingkat pengetahuan rumah sehat diukur per kepala kelarga melalui kuesioner, lalu

dinilai dan digolongkan menjadi tiga: kurang, cukup, dan baik. Sebagian besar penduduk

Desa Pringombo memiliki pengetahuan yang baik tentang rumah sehat (67,9%), sebagian lain

memiliki pengetahuan cukup (24,7%) dan pengetahuan kurang (7,4%).

7. Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan

Tabel 5.7 Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan


No. Perilaku Cuci Tangan Frekuensi Persentase (%)
1. Ya 62 76,5
2. Tidak 19 23,5
Total 81 100

34
Sebagian besar penduduk Desa Pringombo selalu mencuci tangan sebelum makan dengan

sabun (76,5%) dan 23,5% yang tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.

8. Perilaku memakai sabun setelah BAB

Tabel 5.8 Perilaku memakai sabun setelah BAB


No. Perilaku Memakai Sabun Setelah BAB Frekuensi Persentase (%)
1. Ya 67 82,7
2. Tidak 14 17,3
Total 81 100.0

35
Sebagian besar penduduk Desa Pringombo selalu mencuci tangan setelah buang air besar

dengan sabun (82,7%) dan hanya 17,3% yang tidak mencuci tangan dengan sabun setelah

buang air besar.

9. Rumah bebas lalat

Tabel 5.9 Rumah Bebas Lalat


No. Rumah Bebas Lalat Frekuensi Persentase (%)
1. Ya 39 48,1
2. Tidak 42 51,9
Total 81 100

Sebagian besar rumah penduduk Desa Pringombo tidak bebas lalat (51.9%) dan sebagian
lain bebas lalat (48.1%).

10. Tempat Pembuangan Sampah

36
Tabel 5.10 Tempat Pembuangan Sampah
No. Tempat Pembuangan Sampah Frekuensi Persentase (%)
1. Ada MS 35 43,2
2. Ada TMS 37 45,7
3. Tidak ada 9 11,1
Total 81 100

Tempat pembuangan sampah dikatakan memenuhi syarat jika ada tempat/lubang

sampah, dibakar/ditimbun secara teratur sehingga tidak menjadi sarang nyamuk, lalat, dan

tikus. Sedangkan dikatakan tidak memenuhi syarat jika tidak memenuhi syarat diatas.

Sebagian penduduk Desa Pringombo telah memiliki tempat pembuangan sampah yang

memenuhi syarat (43,2%), namun sebagian lain tidak memiliki tempat pembuangan sampah

yang tidak memenuhi syarat (45,7%) dan 11,1% tidak memiliki tempat pembuangan sampah.

11. Tempat Pembuangan Air Limbah

Tabel 5.11 Tempat Pembuangan Air Limbah


No. Tempat Pembuangan Air Limbah Frekuensi Persentase (%)
1. Ada MS 28 34,6
2. Ada TMS 46 56,8
3. Tidak ada 7 8,6
Total 81 100

37
Tempat pembuangan air limbah dikatakan memenuhi syarat jika ada tempat

penampungan air limbah yang tertutup sehingga tidak ada genangan air limbah di halaman.

Sebagian penduduk Desa Pringombo belum memiliki tempat pembuangan air limbah yang

memenuhi syarat (34,6%), namun sebagian lain memiliki tempat pembuangan air limbah

yang memenuhi syarat (56,8%) dan 8,6% tidak memiliki tempat pembuangan air limbah.

12. Status Rumah

Tabel 5.12 Status Rumah


No. Status Rumah Frekuensi Persentase (%)
1. Sehat 22 27,2
2. Belum Sehat 59 72,8
Total 81 100

38
Sebagian besar rumah penduduk di Desa Pringombo termasuk rumah belum sehat

(72,8%), sebagian lain termasuk rumah sehat (27,2%).

13. Tingkat kejadian diare

Tabel 5.13 Tingkat Kejadian Diare


No. Tingkat Kejadian Diare Frekuensi Persentase (%)
1. Ya 27 33,3
2. Tidak 54 66,7
Total 81 100

39
Tingkat kejadian diare di Desa Pringombo diukur sejak 1 bulan yang lalu. Terdapat 27

kasus diare yang ditemukan dari hasil survey dari 81 kepala keluarga. Sebagian 54 kepala

keluarga lainnya tidak memiliki kasus/ riwayat diare.

B. Hasil Analisis

Tabel 5.14: Analisis bivariat hubungan kejadian deiare dengan variable lain
Diare Tidak diare CI (95%)
VARIABEL p OR
(n = 27) (n = 54) Upper lower
Pendapatana
< UMR 24 49 1,000 0,816 0,180 3,704
UMR 3 5
Pekerjaana
Petani 24 44 0,528 1,818 0,456 7,247
x
Selain Petani 3 10
Pendidikan
Tidak sekolah Tamat SD y 23 38 0,145 2,421 0,721 8,134
SMP PT z 4 16
Pengetahuan Rumah Sehat
Kurang Cukup 11 15 0,194 1,907 0,716 5,079
Baik 15 39
Pengetahuan Diare 0,508 1,379 0,531 3,581
40
Kurang Cukup 16 29
Baik 10 25
Strata PHBS
Pratama Madya 21 17 <0,001* 7,618 2,603 22,292
Utama Paripurna 6 37
Cuci tangan dengan sabun sebelum makan
Tidak 15 2 <0,001* 3,.455 7,070 177,804
Ya 11 52
a
Cuci tangan dengan sabun setelah BAB
Tidak 11 3 <0,001* 12,467 3,073 50,575
Ya 15 51
SPALa
Tidak ada 4 3 0,145 3,091 0,638 14,980
Ada 22 51
Tempat Pembuangan Sampaha
Tidak ada 4 5 0,462 1,782 0,436 7,282
Ada 22 49
Bebas Lalat
Tidak 17 24 0,079 2,361 0,895 6,229
Ya 9 30
x
Swasta, Pedagang, Ibu Rumah Tangga, Pelajar, PNS
y
Tidak Sekolah, belum sekolah, tidak tamat SD, tamat SD
z
Tamat SMP, Tamat SMA, PT / Akademi
a
Analisis data menggunakan Fisher Exact Test
*
nilai p < 0.05, terdapat hubungan yang bermakna

Analisis hubungan dan kekuatan hubungan setiap variabel terhadap kejadian diare dapat

dilihat pada tabel dibawah. Sampel sub katagori pada beberapa variabel memiliki proporsi yang

tidak seimbang / timpang (variabel pekerjaan, pendidikan, dan pengetahuan rumah sehat,

pengetahuan diare strata PHBS, kepemilikan SPAL dan tempat pembuangan sampah). Proses

penggabungan sel dilakukan sebagai alternatif untuk bias dilakukan analisis bivariat. Analisis

bivariate menggunakan uji chi square; Apabila tidak memenuhi syarat dilakukan uji Fisher.

Tabel diatas menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara terjadinya diare dengan

beberapa variabel; diantaranya strata PHBS, perilaku cuci tangan dengan sabun sebelum makan,

dan cuci tangan dengan sabun setelah BAB; dengan nilai kemaknaan semua p < 0.001.

41
Analisis multivariate dilakukan untuk mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh

paling besar. Variabel yang memenuhi syarat analisis multivariate regresi logistic yaitu variabel

dengan nilai p < 0.25; diantaranya variabel pendidikan, pengetahuan tentang rumah sehat, strata

PHBS, cuci tangan dengan sabun sebelum makan, cuci tangan dengan sabun setelah BAB,

kepemilikan SPAL, dan kondisi bebas lalat.

Tabel 5.15 : Analisis multivariat variabel factor yang mempengaruhi kejadian diare
No. Variabel OR [Exp(B)] CI 95%
1. Cuci tangan dengan sabun sebelum
224,760 11,323 4461,313
makan
2. Strata PHBS 19,429 2,170 173,938
3. Cuci tangan dengan sabun setelah BAB 16,968 1,520 189,425
4. Kondisi rumah bebas lalat 7,840 0,825 74,520

Tabel diatas menunjukkan variabel yang paling berpengaruh pada kejadian diare adalah

cuci tangan dengan sabun sebelum makan (OR = 224.760), strata PHBS (OR = 19.429), dan cuci

tangan dengan sabun setelah BAB (OR 16.968). kondisi bebas / tidak nya lalat tidak memiliki

hubungan yang bemakna secara statistic karena interval kepercayaan mencakup angka 1 (CI 0.825

74.520).

42
43
BAB VI

PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

diare pada penduduk Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Magelang. Berdasarkan tabel 5.2

diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa Pringombo berpendidikan rendah yaitu sebesar

73,4%. Kategori berpendidikan rendah yaitu tidak pernah sekolah sampai tamat SD. Pendidikan

merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi pikiran seseorang. Menurut Notoatmodjo,

tingkat pendidikan dapat meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan. Pendidikan akan

memberikan pengetahuan sehingga terjadi peningkatan perubahan perilaku yang positif. Menurut

Widyastuti, orang yang memiliki tingkat pengetahuan lebih tinggi berorientasi pada tindakan

preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang

lebih baik. Namun pada hasil pengujian pada penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan

tingkat pendidikan pada kejadian diare dengan nilai p = 0,145. Hasil ini sejalan dengan penelitian

Sander yang meneliti faktor sosiobudaya pada kejadian diare di Kecamatan Sidoarjo. Hal tersebut

memberi arti bahwa tingkat pendidikan belum menjamin dimilikinya pengetahuan diare dan

pencegahannya.17,18

Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pendapatan

dibawah UMR yaitu sebesar 86,1%. Menurut Valman apabila tingkat pendapatan baik, maka

fasilitas kesehatan khususnya didalam rumah akan terjamin. Namun pada penelitian ini

pendapatan tidak memiliki hubungan yang bermakna p = 1,00. Hal tersebut memberi arti bahwa

tingkat pendapatan belum menjamin dimilikinya pengetahuan diare dan pencegahannya.1


44
Pada penelitian ini didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara strata PHBS dengan

kejadian diare. Wujud dari PHBS itu sendiri mencakup pemeliharaan kesehatan kulit, kaki, dan

tangan, yang juga merupakan salah satu variabel dari penelitian ini, yaitu perilaku mencuci tangan

sebelum makan dan setelah buang air besar. Cara untuk membersihkan kulit, tangan, dan kaki

yaitu mencucinya dengan sabun secara teratur. Dalam penelitian ini, baik variabel mencuci tangan

sebelum makan dan setelah makan setelah BAB dengan sabun memiliki hubungan yang

bermakna, dengan nilai p < 0,05. Hal ini sejalan teori yang dikemukakan oleh Suriadi yang

menyebutkan bahwa keadaan kesehatan yang tidak baik mempengaruhi terhadap terjadinya

penyakit diare dibandingkan dalam kesehatan yang lebih baik. Perilaku cuci tangan dengan sabun

dianggap cukup sederhana tetapi tidak selalu mudah dilakukan, terutama pada keluarga yang

belum terbiasa.18

Pada penelitian ini didapatkan beberapa keterbatasan penelitian, yaitu:

a. Pada penelitian ini kualitas fisik sumber air bersih dan air minum tidak diteliti,

sumber air bersih dan air minum yang tidak memenuhi syarat fisik berdasarkan

kesehatan dapat menyebabkan diare

b. Subyektifitas responden pada saat wawancara tidak sesuai dengan perilaku

responden yang sebenarnya sehingga menimbulkan bias penelitian

45
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini, yaitu:

a. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian diare di Desa Pringombo,

Kecamatan Tempuran, Magelang.

b. Tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kejadian diare di Desa Pringombo,

Kecamatan Tempuran, Magelang.

c. Tidak ada hubungan antara pendapatan dengan kejadian diare di Desa Pringombo,

Kecamatan Tempuran, Magelang.

d. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan rumah sehat dengan kejadian diare di

Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Magelang.

e. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan diare dengan kejadian diare di Desa

Pringombo, Kecamatan Tempuran, Magelang.

f. Tidak ada hubungan antara kepemilikan SPAL dengan kejadian diare di Desa Pringombo,

Kecamatan Tempuran, Magelang.

g. Tidak ada hubungan antara kepemilikan tempat pembuangan sampah dengan kejadian

diare di Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran, Magelang.

h. Tidak ada hubungan antara kondisi rumah yang bebas lalat dengan kejadian diare di Desa

Pringombo, Kecamatan Tempuran, Magelang.

46
i. Terdapat hubungan antara perilaku cuci tangan sebelum makan dan setelah buang air

besar dengan sabun dengan kejadian diare di Desa Pringombo, Kecamatan Tempuran,

Magelang.

j. Terdapat hubungan antara strata PHBS dengan kejadian diare di Desa Pringombo,

Kecamatan Tempuran, Magelang.

2. Saran yang diusulkan penulis, yaitu

a. Bagi instansi terkait, hendaknya petugas kesehatan melakukan penyuluhan untuk

memotivasi masyarakat dalam penggalakan perilaku cuci tangan sebelum makan dan setela

BAB dengan sabun secara baik dan benar.

b. Bagi masyarakat, hendaknya lebih meningkatkan perilaku hidup sehat dan bersih, terutama

melakukan tindakan pebcegahan terjadinya diare seperti mencuci tangan sebelum makan

dan setelah BAB.

c. Bagi peneliti lain, dapat ditindaklanjuti factor-faktor lain misalnya keadaan fisik air minum

dan air bersih dan status gizi penderita. Dapat juga menambah jumlah sampel yang lebih

banyak dan menggunakan metode penelitian yang berbeda.

47
TINJAUAN PUSTAKA

1. Mansyah, Bacgtiar.Faktor yang berhubungan dengan kejadian diare Balita Sigayam

Puskesmas Wonotunggal Batang. 2005.

2. Mansjoer A et al (editor). Diare Akut. Dalam buku Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1,

Edisi III. Media Aesculapius. FKUI. Jakarta. 2001; hal : 470-476.

3. Marto S., Subijanto., Reza Gunadi R., Alpha Farda Aniyah., 2008. Diare. Dalam buku

Pedoman Diagnosis dan Terapi BAG/SMF Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 1, Edisi III.

RSUD Dokter Soetomo. Surabaya; hal : 2-14

4. Purwidiana, Anjar .Hubungan Faktor Lingkungan dan Sosiodemografi dengan

kejadian diare pada Balita Desa Blimbing Kec.Sambirejo Sragen.2009.

5. Behrman, Kliegman, Arvin. A.S Wahab editors. Gastroenteritis. Dalam buku Ilmu

kesehatan Anak Nelson. Vol 2, Edisi 15. Jakarta; kedokteran EGC. 1996. Hal 889-893

6. Depkes, RI. 2000. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta : Ditjen

PPM dan PL.

7. Widjaja, 2002. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita . Jakarta : Kawan Pustaka.

8. Depkes RI. 2005. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare . Jakarta : Ditjen PPM dan

PL

9. Lembaga Demografi FE UI. 2000. Dasar-Dasar Demografi . Jakarta : Lembaga

Penerbit FE UI

10. Mantra, I. B., 2000. Demografi Umum. Jakarta : Pustaka Pelajar.

11. Sander, M. A., 2005. Hubungan Faktor Sosio Budaya dengan Kejadian Diare di Desa

48
Candinegoro Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. Jurnal Medika. Vol 2. No.2. Juli-

Desember 2005 : 163-193.

12. Widyastuti, P., (ed). 2005. Epidemiologi Suatu Pengantar , edisi 2. Jakarta : EGC.

13. Notoatmodjo, S., 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat . Jakarta : Rineka Cipta.

14. Entjang, I., 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat , cetakan ke XIII. Bandung : PT. Citra

Aditya Bakti.

15. Wibowo, T., Soenarto, S., dan Pramono, D., 2004. Faktor-Faktor Risiko Kejadian

Diare Berdarah pada Balita di Kabupaten Sleman. Jurnal Berita Kedokteran

Masyarakat. Vol. 20. No.1. maret 2004 : 41-48

16. Irianto, J., Soesanto. S., Supraptini, Inswiasri, Irianti, S., dan Anwar, A., 1996. Faktor-

Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Anak Balita (Analisis Lanjut Data

SDKI 1994). Buletin Penelitian Kesehatan. Vol 24 (2 dan 3) 1996 : 77-96.

17. Widyastuti, P., (ed). 2005. Epidemiologi Suatu Pengantar , edisi 2. Jakarta : EGC

18. Notoatmodjo, S., 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat . Jakarta : Rineka Cipta

49
DIARE / TIDAK DIARE

KUESIONER PENGETAHUAN DIARE

Nama Kepala Keluarga :


Usia :
Pekerjaan :
Pendidikan :

Tabel a. Kuesioner Diare


No Pernyataan Benar Salah
1. Diare adalah buang air besar yang lebih dari 3 kali dengan 1 0
tinja berbentuk setengah cairan (setengah padat)
2. Diare adalah penyakit yang tidak berbahaya 0 1
3. Tidak mencuci tangan dapat menyebabkan diare 1 0
4. Diare disebabkan oleh kuman 1 0
5. Diare dapat menyebabkan kematian 1 0
6. Diare tidak dapat menyebabkan kekurangan cairan 0 1
7. Diare tidak dapat menular 0 1
8. BAB sembarangan tidak dapat menularkan diare 0 1
9. Bayi yang diare tidak boleh diberi ASI 0 1
10. Diare dapat membuat anak menjadi pintar 0 1

Total Score (jumlahkan angka yang dilingkari)


Kriteria Pengetahuan :

- < 6 = Kurang
- 6-7 = Cukup
- > 7 = Baik

KUESIONER PENGETAHUAN RUMAH SEHAT

Nama Kepala Keluarga :


Usia :
Pekerjaan :
1
Pendidikan :

Tabel 1 : Kuesioner Rumah Sehat


No Pernyataan Benar Salah
1. Jamban cemplung lebih baik dari pada jamban leher angsa 0 1
2. Rumah sehat adalah rumah yang mempunyai sumber air bersih 1 0
untuk minum, masak, mandi, dan cuci
3. Pembuangan air limbah ke selokan lebih baik dari pada lewat 0 1
SPAL
4. Jendela rumah tidak harus rutin dibuka 0 1
5. Dapur tidak harus mempuyai lubang asap 0 1
6. Pembuangan sampah yang baik adalah dibakar atau dipupuk 1 0
7. Ruang tidur yang baik adalah ruang yang terang, tidak lembab, 1 0
dan ada ventilasi
8. Kandang harus terpisah dari rumah dan dibersihkan setiap hari 1 0
9. Rumah dan pekarangan dibersihkan seminggu sekali 0 1
10. Rumah yang sehat adalah rumah yang bebas jentik, bebas tikus, 1 0
dan bebas lalat.
Total Score (jumlahkan angka yang dilingkari)
Kriteria Pengetahuan :

- < 6 = Kurang
- 6-7 = Cukup
- > 7 = Baik

2
Frequency Table
Diare

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid ya 27 33.3 33.3 33.3
tidak 54 66.7 66.7 100.0
Total 81 100.0 100.0

Pekerjaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Petani 68 84.0 84.0 84.0
Pedagang 2 2.5 2.5 86.4
Swasta 10 12.3 12.3 98.8
Tidak bekerja 1 1.2 1.2 100.0
Total 81 100.0 100.0

Pendidikan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tidak pernah sekolah 2 2.5 2.5 2.5
Tamat SD/sederajat 59 72.8 72.8 75.3
Tamat SLTP/sederajat 14 17.3 17.3 92.6
Tamat SLTA/akademi 3 3.7 3.7 96.3
Tamat perguruan tinggi 3 3.7 3.7 100.0
Total 81 100.0 100.0

1
pengetahuan_diare

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang 10 12.3 12.3 12.3
Cukup 37 45.7 45.7 58.0
Baik 34 42.0 42.0 100.0
Total 81 100.0 100.0

pengetahuan_rumah_sehat

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang 6 7.4 7.4 7.4
Cukup 20 24.7 24.7 32.1
Baik 55 67.9 67.9 100.0
Total 81 100.0 100.0

strata_phbs

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Sehat pratama 5 6.2 6.2 6.2
Sehat madya 33 40.7 40.7 46.9
Sehat utama 43 53.1 53.1 100.0
Total 81 100.0 100.0

cuci_tangan

2
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ya 62 76.5 76.5 76.5
Tidak 19 23.5 23.5 100.0
Total 81 100.0 100.0

sabun_bab

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ya 67 82.7 82.7 82.7
Tidak 14 17.3 17.3 100.0
Total 81 100.0 100.0

pembuangan_sampah

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ada MS 35 43.2 43.2 43.2
Ada TMS 37 45.7 45.7 88.9
Tidak ada 9 11.1 11.1 100.0
Total 81 100.0 100.0

pembuangan_air_limbah

3
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Ada MS 28 34.6 34.6 34.6
Ada TMS 46 56.8 56.8 91.4
Tidak ada 7 8.6 8.6 100.0
Total 81 100.0 100.0

status_rumah

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Sehat 22 27.2 27.2 27.2
Belum sehat 59 72.8 72.8 100.0
Total 81 100.0 100.0

pendapatan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid < UMR 73 90.1 90.1 90.1
>= UMR 8 9.9 9.9 100.0
Total 81 100.0 100.0

Crosstabs
4
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
pendapatan * Diare 81 100.0% 0 .0% 81 100.0%
petani v swasta * Diare 81 100.0% 0 .0% 81 100.0%
SD v smp-akad * Diare 81 100.0% 0 .0% 81 100.0%
madya v utama * Diare 81 100.0% 0 .0% 81 100.0%
limbah T * Diare 80 98.8% 1 1.2% 81 100.0%
rs T * Diare 80 98.8% 1 1.2% 81 100.0%
Pengetahuan diare T *
Diare 80 98.8% 1 1.2% 81 100.0%
sampah T * Diare 80 98.8% 1 1.2% 81 100.0%
cuci tangan reg * Diare 80 98.8% 1 1.2% 81 100.0%
bab reg * Diare 80 98.8% 1 1.2% 81 100.0%
lalatbukanbebaslalat *
Diare 81 100.0% 0 .0% 81 100.0%

pendapatan * Diare

5
Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
pendapatan < UMR Count 24 49 73
Expected Count 24.3 48.7 73.0
>= UMR Count 3 5 8
Expected Count 2.7 5.3 8.0
Total Count 27 54 81
Expected Count 27.0 54.0 81.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square .069(b) 1 .792
Continuity
.000 1 1.000
Correction(a)
Likelihood Ratio .068 1 .794
Fisher's Exact Test 1.000 .537
Linear-by-Linear
Association .068 1 .794
N of Valid Cases 81
a Computed only for a 2x2 table
b 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.67.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval


6
Lower Upper Lower
Odds Ratio for
pendapatan (< UMR / >= .816 .180 3.704
UMR)
For cohort Diare = ya .877 .338 2.273
For cohort Diare = tidak 1.074 .613 1.881
N of Valid Cases 81

petani v swasta * Diare


Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
petani v Petani Count 24 44 68
swasta Expected Count 22.7 45.3 68.0
Swasta dll. Count 3 10 13
Expected Count 4.3 8.7 13.0
Total Count 27 54 81
Expected Count 27.0 54.0 81.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
7
Pearson Chi-Square .733(b) 1 .392
Continuity
.286 1 .593
Correction(a)
Likelihood Ratio .772 1 .380
Fisher's Exact Test .528 .304
Linear-by-Linear
Association .724 1 .395
N of Valid Cases 81
a Computed only for a 2x2 table
b 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.33.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for petani v
swasta (Petani / Swasta 1.818 .456 7.247
dll.)
For cohort Diare = ya 1.529 .539 4.342
For cohort Diare = tidak .841 .595 1.188
N of Valid Cases 81

SD v smp-akad * Diare
Crosstab

8
Diare Total
ya tidak ya
SD v smp-akad Tidak sekolah - SD Count 23 38 61
Expected Count 20.3 40.7 61.0
Pendidikan SMP - PT Count 4 16 20
Expected Count 6.7 13.3 20.0
Total Count 27 54 81
Expected Count 27.0 54.0 81.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 2.125(b) 1 .145
Continuity
1.403 1 .236
Correction(a)
Likelihood Ratio 2.262 1 .133
Fisher's Exact Test .179 .117
Linear-by-Linear
Association 2.098 1 .147
N of Valid Cases 81
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.67.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


9
Odds Ratio for SD v
smp-akad (Tidak
sekolah - SD / 2.421 .721 8.134
Pendidikan SMP - PT)
For cohort Diare = ya 1.885 .741 4.797
For cohort Diare = tidak .779 .581 1.044
N of Valid Cases 81

madya v utama * Diare


Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
madya v Pratama - Madya Count 21 17 38
utama Expected Count 12.7 25.3 38.0
Utama - Paripurna Count 6 37 43
Expected Count 14.3 28.7 43.0
Total Count 27 54 81
Expected Count 27.0 54.0 81.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 15.491(b) 1 .000
Continuity 13.688 1 .000

10
Correction(a)
Likelihood Ratio 16.104 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
Association 15.300 1 .000
N of Valid Cases 81
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.67.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for madya v
utama (Pratama - Madya / 7.618 2.603 22.292
Utama - Paripurna)
For cohort Diare = ya 3.961 1.788 8.774
For cohort Diare = tidak .520 .358 .755
N of Valid Cases 81

limbah T * Diare
Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
11
limbah T Tak Ada SPAL Count 4 3 7
Expected Count 2.3 4.7 7.0
ada SPAL Count 22 51 73
Expected Count 23.7 49.3 73.0
Total Count 26 54 80
Expected Count 26.0 54.0 80.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 2.124(b) 1 .145
Continuity
1.071 1 .301
Correction(a)
Likelihood Ratio 1.977 1 .160
Fisher's Exact Test .206 .150
Linear-by-Linear
Association 2.097 1 .148
N of Valid Cases 80
a Computed only for a 2x2 table
b 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.28.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower

12
Odds Ratio for limbah T
(Tak Ada SPAL / ada 3.091 .638 14.980
SPAL)
For cohort Diare = ya 1.896 .913 3.936
For cohort Diare = tidak .613 .257 1.462
N of Valid Cases 80

rs T * Diare
Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
rs T Kurang - cukup Count 11 15 26
Expected Count 8.5 17.6 26.0
Baik Count 15 39 54
Expected Count 17.6 36.5 54.0
Total Count 26 54 80
Expected Count 26.0 54.0 80.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 1.689(b) 1 .194

13
Continuity
1.092 1 .296
Correction(a)
Likelihood Ratio 1.656 1 .198
Fisher's Exact Test .212 .148
Linear-by-Linear
Association 1.668 1 .197
N of Valid Cases 80
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.45.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for rs T
(Kurang - cukup / Baik) 1.907 .716 5.079
For cohort Diare = ya 1.523 .818 2.836
For cohort Diare = tidak .799 .553 1.155
N of Valid Cases 80

Pengetahuan diare T * Diare


Crosstab

Diare Total

14
ya tidak ya
Pengetahuan Kurang - cukup Count 16 29 45
diare T Expected Count 14.6 30.4 45.0
Baik Count 10 25 35
Expected Count 11.4 23.6 35.0
Total Count 26 54 80
Expected Count 26.0 54.0 80.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square .438(b) 1 .508
Continuity
.177 1 .674
Correction(a)
Likelihood Ratio .440 1 .507
Fisher's Exact Test .632 .338
Linear-by-Linear
Association .432 1 .511
N of Valid Cases 80
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11.38.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower

15
Odds Ratio for
Pengetahuan diare T 1.379 .531 3.581
(Kurang - cukup / Baik)
For cohort Diare = ya 1.244 .646 2.396
For cohort Diare = tidak .902 .667 1.220
N of Valid Cases 80

sampah T * Diare
Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
sampah T tdak ada Count 4 5 9
Expected Count 2.9 6.1 9.0
ada/TM Count 22 49 71
Expected Count 23.1 47.9 71.0
Total Count 26 54 80
Expected Count 26.0 54.0 80.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square .660(b) 1 .417

16
Continuity
.189 1 .664
Correction(a)
Likelihood Ratio .631 1 .427
Fisher's Exact Test .462 .323
Linear-by-Linear
Association .651 1 .420
N of Valid Cases 80
a Computed only for a 2x2 table
b 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.93.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for sampah T
(tdak ada / ada/TM) 1.782 .436 7.282
For cohort Diare = ya 1.434 .639 3.220
For cohort Diare = tidak .805 .440 1.474
N of Valid Cases 80

cuci tangan reg * Diare


Crosstab

Diare Total

17
ya tidak ya
cuci tangan Tidak Count 15 2 17
reg Expected Count 5.5 11.5 17.0
Ya Count 11 52 63
Expected Count 20.5 42.5 63.0
Total Count 26 54 80
Expected Count 26.0 54.0 80.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 30.568(b) 1 .000
Continuity
27.427 1 .000
Correction(a)
Likelihood Ratio 30.226 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
Association 30.186 1 .000
N of Valid Cases 80
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.53.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower

18
Odds Ratio for cuci
tangan reg (Tidak / Ya) 35.455 7.070 177.804
For cohort Diare = ya 5.053 2.874 8.885
For cohort Diare = tidak .143 .039 .527
N of Valid Cases 80

bab reg * Diare


Crosstab

Diare Total
ya tidak ya
bab Tidak Count 11 3 14
reg Expected Count 4.6 9.5 14.0
Ya Count 15 51 66
Expected Count 21.5 44.6 66.0
Total Count 26 54 80
Expected Count 26.0 54.0 80.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 16.419(b) 1 .000

19
Continuity
13.972 1 .000
Correction(a)
Likelihood Ratio 15.598 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
Association 16.214 1 .000
N of Valid Cases 80
a Computed only for a 2x2 table
b 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.55.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower


Odds Ratio for bab reg
(Tidak / Ya) 12.467 3.073 50.575
For cohort Diare = ya 3.457 2.051 5.828
For cohort Diare = tidak .277 .101 .763
N of Valid Cases 80

lalatbukanbebaslalat * Diare
Crosstab

Diare Total

20
ya tidak ya
lalatbukanbebaslalat ADA Count 18 24 42
Expected Count 14.0 28.0 42.0
tidak Count 9 30 39
Expected Count 13.0 26.0 39.0
Total Count 27 54 81
Expected Count 27.0 54.0 81.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 3.560(b) 1 .059
Continuity
2.726 1 .099
Correction(a)
Likelihood Ratio 3.615 1 .057
Fisher's Exact Test .065 .049
Linear-by-Linear
Association 3.516 1 .061
N of Valid Cases 81
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.00.

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper Lower

21
Odds Ratio for
lalatbukanbebaslalat 2.500 .954 6.552
(ADA / tidak)
For cohort Diare = ya 1.857 .949 3.633
For cohort Diare = tidak .743 .543 1.016
N of Valid Cases 81

Logistic Regression
Case Processing Summary

Unweighted Cases(a) N Percent


Selected Cases Included in Analysis 80 98.8
Missing Cases 1 1.2
Total 81 100.0
Unselected Cases 0 .0
Total 81 100.0
a If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding

Original Value Internal Value


tidak diare 0
diare 1

Categorical Variables Codings

Parameter
Frequency coding

(1) (1)

22
limbah T Tak Ada SPAL
7 1.000
ada SPAL
73 .000
rs T Kurang - cukup
26 1.000
Baik
54 .000
madya v utama Pratama - Madya
38 1.000
Utama - Paripurna
42 .000
cuci tangan reg Tidak
17 1.000
Ya
63 .000
bab reg Tidak
14 1.000
Ya
66 .000
lalatbukanbebaslalat ADA
41 1.000
tidak
39 .000
SD v smp-akad Tidak sekolah - SD
60 1.000
Pendidikan SMP - PT
20 .000

Block 0: Beginning Block


Classification Table(a,b)

Predicted
Percentage
diarereg Correct

Observed tidak diare diare tidak diare


Step 0 diarereg tidak diare 54 0 100.0
diare 26 0 .0

23
Overall Percentage 67.5
a Constant is included in the model.
b The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)


Lower Upper Lower Upper Lower Upper
Step 0 Constant -.731 .239 9.375 1 .002 .481

Variables not in the Equation

Score df Sig.
Step 0 Variables pendidikan_T(1) 1.899 1 .168
Peng_rs_T(1) 1.689 1 .194
phbs_T(1) 17.096 1 .000
cuci_tangan_reg_t(1) 30.568 1 .000
bab_reg_T(1) 16.419 1 .000
lalaTRbarut(1) 3.080 1 .079
limbah_T(1) 2.124 1 .145
Overall Statistics 47.272 7 .000

24
Block 1: Method = Backward Stepwise (Likelihood Ratio)
Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square df Sig.
Step 1 Step 61.596 7 .000
Block 61.596 7 .000
Model 61.596 7 .000
Step Step -.121 1 .728
2(a) Block 61.475 6 .000
Model 61.475 6 .000
Step Step -.446 1 .504
3(a) Block 61.029 5 .000
Model 61.029 5 .000
Step Step -1.133 1 .287
4(a) Block 59.896 4 .000
Model 59.896 4 .000
a A negative Chi-squares value indicates that the Chi-squares value has decreased from the previous step.

Model Summary

-2 Log Cox & Snell Nagelkerke R


Step likelihood R Square Square
1 39.297(a) .537 .749
2 39.418(a) .536 .748
3 39.864(a) .534 .745
4 40.997(b) .527 .735
a Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Final solution cannot be found.
b Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than .001.

25
Hosmer and Lemeshow Test

Step Chi-square df Sig.


1 1.291 8 .996
2 1.087 7 .993
3 1.477 6 .961
4 1.680 6 .947

Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test

diarereg = tidak diare diarereg = diare Total


Observed Expected Observed Expected Observed
Step 1 1 6 5.986 0 .014 6
2 7 6.967 0 .033 7
3 7 6.954 0 .046 7
4 11 10.731 0 .269 11
5 8 8.329 1 .671 9
6 5 5.413 2 1.587 7
7 6 6.343 4 3.657 10
8 4 3.124 4 4.876 8
9 0 .152 8 7.848 8
10 0 .000 7 7.000 7
Step 2 1 6 5.987 0 .013 6
2 14 13.929 0 .071 14
3 4 3.932 0 .068 4
4 9 8.705 0 .295 9
5 8 8.157 1 .843 9
6 5 5.581 3 2.419 8
7 7 7.156 5 4.844 12
8 1 .553 7 7.447 8

26
9 0 .000 10 10.000 10
Step 3 1 1 1.000 0 .000 1
2 19 18.885 0 .115 19
3 13 12.578 0 .422 13
4 8 8.175 1 .825 9
5 4 4.538 3 2.462 7
6 8 8.363 5 4.637 13
7 1 .462 8 8.538 9
8 0 .000 9 9.000 9
Step 4 1 20 19.922 0 .078 20
2 13 12.611 0 .389 13
3 8 8.360 1 .640 9
4 2 2.625 2 1.375 4
5 8 8.125 5 4.875 13
6 3 2.201 6 6.799 9
7 0 .139 6 5.861 6
8 0 .018 6 5.982 6

27
Classification Table(a)

Predicted
Percentage
diarereg Correct

Observed tidak diare diare tidak diare


Step 1 diarereg tidak diare 53 1 98.1
diare 9 17 65.4
Overall Percentage 87.5
Step 2 diarereg tidak diare 53 1 98.1
diare 9 17 65.4
Overall Percentage 87.5
Step 3 diarereg tidak diare 53 1 98.1
diare 9 17 65.4
Overall Percentage 87.5
Step 4 diarereg tidak diare 53 1 98.1
diare 9 17 65.4
Overall Percentage 87.5
a The cut value is .500

28
Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B) 95.0% C.I.for EXP(B)


Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper
Step pendidikan_T(1) -.333 .954 .122 1 .727 .717 .110 4.648
1(a) Peng_rs_T(1) -.591 1.068 .306 1 .580 .554 .068 4.495
phbs_T(1) 3.050 1.251 5.943 1 .015 21.108 1.818 245.057
cuci_tangan_reg_t(1) 12747675
23.269 9933.733 .000 1 .998 .000 .
559.757
bab_reg_T(1) 2.921 1.270 5.294 1 .021 18.563 1.542 223.540
lalaTRbarut(1) 1.831 1.215 2.273 1 .132 6.241 .577 67.472
limbah_T(1) -18.494 9933.733 .000 1 .999 .000 .000 .
Constant -5.029 1.608 9.780 1 .002 .007
Step Peng_rs_T(1) -.678 1.041 .424 1 .515 .508 .066 3.908
2(a) phbs_T(1) 3.064 1.251 5.999 1 .014 21.410 1.844 248.556
cuci_tangan_reg_t(1) 119080779
23.200 9974.639 .000 1 .998 .000 .
35.515
bab_reg_T(1) 2.852 1.252 5.192 1 .023 17.327 1.490 201.453
lalaTRbarut(1) 1.891 1.203 2.469 1 .116 6.623 .626 70.030
limbah_T(1) -18.511 9974.639 .000 1 .999 .000 .000 .
Constant -5.275 1.471 12.865 1 .000 .005
Step phbs_T(1) 2.805 1.142 6.029 1 .014 16.519 1.761 154.948
3(a) cuci_tangan_reg_t(1) 88454519
22.903 10205.166 .000 1 .998 .000 .
74.856
bab_reg_T(1) 2.779 1.249 4.948 1 .026 16.095 1.391 186.193
lalaTRbarut(1) 1.703 1.165 2.140 1 .144 5.493 .560 53.833
limbah_T(1) -18.411 10205.166 .000 1 .999 .000 .000 .
Constant -5.098 1.395 13.346 1 .000 .006
Step phbs_T(1) 2.967 1.118 7.037 1 .008 19.429 2.170 173.938
4(a) cuci_tangan_reg_t(1) 5.415 1.525 12.615 1 .000 224.760 11.323 4461.313
bab_reg_T(1) 2.831 1.231 5.290 1 .021 16.968 1.520 189.425
lalaTRbarut(1) 2.059 1.149 3.212 1 .073 7.840 .825 74.520
Constant -5.537 1.470 14.196 1 .000 .004
a Variable(s) entered on step 1: pendidikan_T, Peng_rs_T, phbs_T, cuci_tangan_reg_t, bab_reg_T, lalaTRbarut, limbah_T.

29
Model if Term Removed

Change in
Model Log -2 Log Sig. of the
Variable Likelihood Likelihood df Change
Step 1 pendidikan_T -19.709 .121 1 .728
Peng_rs_T -19.808 .318 1 .573
phbs_T -24.552 9.807 1 .002
cuci_tangan_reg_t -31.840 24.384 1 .000
bab_reg_T -23.232 7.168 1 .007
lalaTRbarut -21.060 2.823 1 .093
limbah_T -20.261 1.226 1 .268
Step 2 Peng_rs_T -19.932 .446 1 .504
phbs_T -24.679 9.940 1 .002
cuci_tangan_reg_t -31.970 24.522 1 .000
bab_reg_T -23.249 7.079 1 .008
lalaTRbarut -21.274 3.130 1 .077
limbah_T -20.326 1.234 1 .267
Step 3 phbs_T -24.744 9.623 1 .002
cuci_tangan_reg_t -31.970 24.076 1 .000
bab_reg_T -23.303 6.742 1 .009
lalaTRbarut -21.292 2.719 1 .099
limbah_T -20.499 1.133 1 .287
Step 4 phbs_T -26.450 11.903 1 .001
cuci_tangan_reg_t -34.887 28.777 1 .000
bab_reg_T -24.262 7.528 1 .006
lalaTRbarut -22.708 4.420 1 .036

30
Variables not in the Equation

Score df Sig.
Step Variables pendidikan_T(1) .123 1 .726
2(a) Overall Statistics .123 1 .726
Step Variables pendidikan_T(1) .254 1 .615
3(b) Peng_rs_T(1) .429 1 .512
Overall Statistics
.554 2 .758

Step Variables pendidikan_T(1) .244 1 .621


4(c) Peng_rs_T(1) .337 1 .562
limbah_T(1) .753 1 .385
Overall Statistics 1.293 3 .731
a Variable(s) removed on step 2: pendidikan_T.
b Variable(s) removed on step 3: Peng_rs_T.
c Variable(s) removed on step 4: limbah_T.

31