Anda di halaman 1dari 15

Jun

17

EPILEPSI TIPE BANGKITAN UMUM


SEKUNDER

I. PENDAHULUAN

Epilepsi berasal dari perkataan Yunani yang berarti "serangan" atau penyakit yang timbul
secara tiba-tiba. Dalam masyarakat terdapat banyak anggapan tentang epilepsi. Ada yang
mengatakan karena kutukan Tuhan atau karena tangan yang berdosa (Mesopotamia), penyakit
karena gangguan roh jahat, kemasukan setan atau karena kesurupan. Lebih dari separuh
penderita epilepsi mempunyai dasar gangguan pada masa bayi atau anak, seperti trauma lahir,
asfiksia, kejang-kejang, gangguan biokimia darah, radang selaput dan jaringan otak dan lain-lain.
1

Walaupun penyakit ini telah dikenal lama dalam masyarakat,terbukti dengan adanya
bahasa-bahasa daerah untuk penyakit ini, tetapi pengertian akan penyakit ini masih kurang
bahkan salah sehingga penderita digolongkan dalam penyakit gila, kutukan, atau turunan
sehingga penderita tidak diobati bahkan disembunyikan. Akibatnya banyak yang menderita
epilepsi yang tak terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tidak tepat sehingga menimbulkan
dampak klinik dan psikososial yang merugikan baik bagi penderita maupun keluarganya.2

II. DEFINISI
Epilepsi adalah suatu kelainan di otak yang ditandai adanya bangkitan epileptik yang
berulang (lebih dari satu episode). International League Against Epilepsy (ILAE) dan
International Bureau for Epilepsy (IBE) pada tahun 2005 merumuskan definisi epilepsi yaitu
suatu kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi yang dapat mencetuskan
bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif, psikologis dan adanya konsekuensi sosial
yang diakibatkannya. Definisi ini membutuhkan sedikitnya satu riwayat bangkitan epilepsi
sebelumnya. Sedangkan bangkitan epileptik didefinisikan sebagai tanda dan/atau gejala yang
timbul sepintas (transien) akibat aktivitas neuron yang berlebihan atau sinkron yang terjadi di
otak. Dengan demikian, terdapat beberapa elemen penting dari definisi epilepsi yang baru
dirumuskan oleh ILAE dan IBE yaitu:
Riwayat sedikitnya satu bangkitan epileptik sebelumnya
Perubahan di otak yang meningkatkan kecenderungan terjadinya bangkitan selanjutnya
Berhubungan dengan gangguan pada faktor neurobiologis, kognitif, psikologis, dan
konsekuensi sosial yang ditimbulkan.3
Epilepsi tipe bangkitan umum sekunder adalah tipe bangkitan yang berkembang dari
bangkitan yang pada awalnya bersifat parsial,baik sederhana atau kompleks dan dalam waktu
singkat menjadi bersifat umum.4

III. EPIDEMIOLOGI
Terdapat perbedaan epidemiologi dari berbagai negara. Epilepsi dijumpai pada semua ras
di dunia dengan insidens dan prevalensi yang hampir sama, walaupun beberapa peneliti
menemukan angka yang lebih tinggi di negara berkembang. Insiden epilepsi di negara maju
ditemukan sekitar 50/100,000 sementara di negara berkembang mencapai 100/100,000. 3
Penderita laki-laki lebih banyak daripada wanita.Awitan dapat dimulai pada semua umur.
Pendataan secara global ditemukan 3.5 juta kasus baru per tahun diantaranya 40% adalah anak-
anak dan dewasa sekitar 40% serta 20% lainnya ditemukan pada usia lanjut. 2

IV. ETIOLOGI
Ditinjau dari penyebab, epilepsi dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
1. Epilepsi primer atau epilepsi idiopatik yang hingga kini tidak ditemukan penyebabnya.
2. Epilepsi sekunder yaitu yang penyebabnya diketahui.
Pada epilepsi primer tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak. Diduga terdapat
kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel saraf pada area jaringan otak
yang abnormal.5
Epilepsi sekunder berarti bahwa gejala yang timbul ialah sekunder, atau akibat dari
adanya kelainan pada jaringan otak. Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan kejang sekunder
antara lain : cedera kepala, gangguan metabolisme dan nutrisi, ensefalitis,anoksi,gangguan
sirkulasi dan neoplasma.6
Penyebab epilepsi antara lain :
1. kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti ibu menelan obat-obat
tertentu yang dapat merusak otak janin, menglami infeksi, minum alcohol, atau mengalami
cidera.
2. kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang mengalir ke otak
(hipoksia), kerusakan karena tindakan.
3. cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak
4. tumor otak merupakan penyebab epilepsi yang tidak umum terutama pada anak-anak.
5. penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak
6. radang atau infeksi pada otak dan selaput otak
7. penyakit keturunan seperti fenilketonuria (FKU), sclerosis tuberose dan neurofibromatosis dapat
menyebabkan kejang-kejang yang berulang.
8. kecenderungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena ambang rangsang
serangan yang lebih rendah dari normal diturunkan pada anak.
9. kurang tidur dan terlalu lelah. Kurang tidur dapat mengganggu aktivitas dari sel-sel otak
sehingga dapat mencetuskan serangan.5

V. PATOFISIOLOGI
Otak ialah rangkaian berjuta-juta neron yang berhubungan satu dengan yang lain melalui
sinaps. Tiap neuron yang aktif melepaskan muatan listriknya. Fenomena ini elektrik ini adalah
wajar. Manifestasi biologiknya berupa gerakan otot atau suatu modalitas sensorik, tergantung
dari neuron kortikal mana yang melepaskan muatan listriknya. Bila neuron di daerah
somatosensorik yang melepaskan muatannya, timbullah perasaan propriotif atau proprioseptif.
Demikian pula akan timbul perasaan pancaindera apabila neuron daerah korteks yang
melepaskan muatan listriknya. Dalam keadaan fisiologik neuron melepaskan muatan listriknya
karena potensial membrannya direndahkan oleh potensial postsinaptik yang tiba pada dendrit.
Potensial membran neuron bergantung pada permeabilitas selektif membran neuron, yakni
membran sel mudah dilalui oleh ion K dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali
oleh ion Ca, Na dan Cl, sehingga di dalam sel terdapat konsentrasi tinggi ion K dan konsentrasi
rendah ion Ca, Na, dan Cl, sedangkan keadaan sebaliknya terdapat di ruang ekstraseluler.
Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah yang menimbulkan potensial membran. Potensial aksi itu
disalurkan melalui akson yang bersinaps dengan dendrit neuron lain. Ujung terminal neuron-
neuron berhubungan dengan dendrit-dendrit dan badan-badan neuron yang lain, membentuk
sinaps dan merubah polarisasi membran neuron berikutnya. Dalam sinaps terdapat zat yang
dinamakan neurotransmiter.7
Dasar serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada
sinaps. Ada dua jenis neurotransmitter, yakni neurotransmitter eksitasi yang memudahkan
depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmitter inhibisi (inhibitif terhadap penyaluran
aktivitas listrik saraf dalam sinaps) yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih
stabil dan tidak mudah melepaskan listrik. Di antara neurotransmitter-neurotransmitter eksitasi
dapat disebut glutamate, aspartat, norepinefrin dan asetilkolin sedangkan neurotransmitter
inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric acid (GABA) dan glisin. Jika hasil pengaruh
kedua jenis lepas muatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsang. Dalam keadaan
istirahat, membran neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada dalam keadaan
polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membran neuron dan seluruh sel akan
melepas muatan listrik.8

Oleh berbagai faktor, diantaranya keadaan patologik, dapat merubah atau mengganggu
fungsi membran neuron sehingga membran mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan
ekstra ke intra seluler. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membran dan lepas
muatan listrik berlebihan, tidak teratur dan terkendali. Lepas muatan listrik demikian oleh
sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan epilepsi. Suatu sifat khas
serangan epilepsi ialah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi.
Diduga inhibisi ini adalah pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Selain itu juga
sistem-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron tidak terus-
menerus berlepas muatan memegang peranan. Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu
serangan epilepsi terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang penting
untuk fungsi otak.8
Pada keadaan patologik, gaya yang bersifat mekanik atau toksik dapat menurunkan
potensial membran neuron, sehingga neuron melepaskan muatan listriknya. Beberapa
penyelidikan mengungkapkan bahwa neurotransmitter acetylcholine merupakan zat yang
merendahkan potensial membran postsinaptik. Jika jumlah zat tersebut telah cukup tertimbun
pada permukaan otak, maka pelepasan muatan oleh neuron-neuron kortikal dipermudah. Pada
jejas otak terdapat lebih banyak acetylcholine daripada otak yang sehat. Pada tumor serebri atau
adanya sikatris setempat pada permukaan otak sebagai gejala sisa dari meningitis, ensefalitis,
kontusio serebri atau trauma, dapat terjadi penimbunan setempat dari acetylcholine, sehingga
pada tempat tersebut akan terjadi pelepasan muatan listrik neuron-neuron. Penimbunan
acetylcholine setempat harus mencapai suatu konsentrasi tertentu untuk dapat merendahkan
potensial membran sehingga dapat memicu lepasnya muatan listrik. Oleh karena itulah fenomena
lepas muatan listrik epileptik terjadi secara berkala.1
Kejang fokal dapat berubah menjadi jenis kejang lain melalui beberapa tingkatan, hal ini
menunjukan adanya penyebaran lepasan listrik ke berbagai bagian otak.8
Jika kejang bersifat generalisata, lepas muatan listrik yang berlebihan akan menyebar ke
bagian otak secara luas. Penyebaran yang mencapai 2/3 bagian otak akan mengakibatkan
penurunan kesadaran. Pada serangan parsial yang berlanjut menjadi serangan umum sekunder
seringkali serangan umum tidak bersifat umum dari mulanya, tetapi berkembang dari serangan
yang pada awalnya bersifat parsial. Serangan parsial ini mungkin sederhana atau kompleks dan
dalam waktu singkat menjadi bersifat umum. Pada kasus demikian ini, serangan parsial mungkin
dialami sebagai suatu aura (peringatan).4

VI. KLASIFIKASI
Epilepsi dapat diklasifikasikan menurut klasifikasi bangkitan epilepsy dan klassifikasi sindroma
epilepsy.3
Klasifikasi Internasional Bangkitan Epilepsi menurut International League Against
Epilepsy (ILAE) 1981:
I . Bangkitan Parsial
A. Bangkitan parsial sederhana (tanpa gangguan kesadaran)
1. Dengan gejala motorik
2. Dengan gejala sensorik
3. Dengan gejala otonomik
4. Dengan gejala psikik
B. Bangkitan parsial kompleks (dengan gangguan kesadaran)
1. Awalnya parsial sederhana, kemudian diikuti gangguan kesadaran
a. Bangkitan parsial sederhana, diikuti gangguan kesadaran
b. Dengan automatisme
2. Dengan gangguan kesadaran sejak awal bangkitan
a. Dengan gangguan kesadaran saja
b. Dengan automatisme
C. Bangkitan umum sekunder (tonik-klonik, tonik atau klonik)
1. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi bangkitan umum
2. Bangkitan parsial kompleks berkembang menjadi bangkitan umum
3. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi parsial kompleks, dan berkembang menjadi
bangkitan umum
II. Bangkitan umum (konvulsi atau non-konvulsi)
A. Bangkitan lena
B. Bangkitan mioklonik
C. Bangkitan tonik
D. Bangkitan atonik
E. Bangkitan klonik
F. Bangkitan tonik-klonik
III. Bangkitan epileptik yang tidak tergolongkan
Klasifikasi Epilepsi berdasarkan Sindroma menurut ILAE 1989 :
I. Localization-related (focal, partial) epilepsies
A. Idiopatik
Benign childhood epilepsy with centrotemporal spikes
Childhood epilepsy with occipital paroxysm

B. Symptomatic
Subklasifikasi dalam kelompok ini ditentukan berdasarkan lokasi anatomi yang diperkirakan
berdasarkan riwayat klinis,tipe kejang predominan, EEG interiktal dan iktal, gambaran
neuroimejing
Kejang parsial sederhana, kompleks atau kejang umum sekunder berasal dari lobus frontal,
parietal, temporal, oksipital, fokus multipel atau fokus tidak diketahui
Localization related tetapi tidak pasti simtomatik atau idiopatik
II. Epilepsi Umum
A. Idiopatik
Benign neonatal familial convulsions, benign neonatal convulsions
Benign myoclonic epilepsy in infancy
Childhood absence epilepsy
Juvenile absence epilepsy
Juvenile myoclonic epilepsy (impulsive petit mal)
Epilepsy with grand mal seizures upon awakening
Other generalized idiopathic epilepsies
B. Epilepsi Umum Kriptogenik atau Simtomatik
Wests syndrome (infantile spasms)
Lennox gastaut syndrome
Epilepsy with myoclonic astatic seizures
Epilepsy with myoclonic absences
C. Simtomatik
Etiologi non spesifik
Early myoclonic encephalopathy
Specific disease states presenting with seizures

VII. GEJALA KLINIS


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya,epilepsi tipe bangkitan umum sekunder
merupakan tipe yang serangannya berkembang dari serangan yang awalnya bersifat parsial baik
sederhana maupun kompleks yang kemudian menjadi serangan yang bersifat umum. Bangkitan
parsial dapat dimulai sebagai bangkitan parsial sederhana, kemudian dapat disusul dengan
bangkitan umum sekunder, atau bangkitan parsial sederhana berubah menjadi bangkitan parsial
kompleks dulu disusul oleh bangkitan umum.Bangkitan umum biasanya bersifat tonik-klonik.2,4
- Kejang parsial simplek
Dimulai dengan muatan listrik di bagian otak tertentu dan muatan ini tetap terbatas di daerah
tersebut. Penderita mengalami sensasi, gerakan atau kelainan psikis yang abnormal, tergantung
kepada daerah otak yang terkena. Jika terjadi di bagian otak yang mengendalikan gerakan otot
lengan kanan, maka lengan kanan akan bergoyang dan mengalami sentakan; jika terjadi pada
lobus temporalis anterior sebelah dalam, maka penderita akan mencium bau yang sangat
menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan. Pada penderita yang mengalami kelainan psikis
bisa mengalami deja vu (merasa pernah mengalami keadaan sekarang dimasa yang lalu).9
- Kejang parsial (psikomotor) kompleks
dimulai dengan hilangnya kontak penderita dengan lingkungan sekitarnya selama 1-2 menit.
Penderita menjadi goyah, menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara yang aneh dan
tanpa tujuan, mengeluarkan suara-suara yang tak berarti, tidak mampu memahami apa yang
orang lain katakan dan menolak bantuan.
Kebingungan berlangsung selama beberapa menit, dan diikuti dengan penyembuhan total.1

- Kejang tonik klonik (epilepsy grand mal).


Biasanya dimulai dengan kelainan muatan listrik pada daerah otak yang terbatas. Muatan listrik
ini segera menyebar ke daerah otak lainnya dan menyebabkan seluruh daerah mengalami
kelainan fungsi.
Terjadi kehilangan kesadaran disusul dengan gejala motorik secara bilateral, dapat berupa
ekstensi tonik beberapa menit disusul gerakan klonik yang sinkron dari otot-otot tersebut. Segera
sesudah kejang berhenti pasien tertidur. 10

VIII. DIAGNOSIS
Anamnesis
Tahap pertama mengevaluasi penderita dengan kemungkinan epilepsy adalah menetapkan
apakah penderita menderita kejang atau tidak. Sering penderita datang dalam keadaan tidak
sadar,sehingga gambaran bangkitan sebagian besar berdasarkan pada anamnesis. Ini sering
bergantung pada kepandaian pemeriksa untuk menentukan pola bangkitan dan kepandaian saksi
mata dalam melukiskan bangkitan. Untuk penentuan penyebab dari kejang, dokter harus
menentukan apakah ada anamnesa family dengan epilepsy, trauma kepala, kejang demam,
infeksi telinga tengah atau sinus atau gejala dari keganasan. 2,11
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adanya tanda-tanda dari gangguan yang
berhubungan dengan epilepsi, termasuk tanda-tanda trauma kepala, infeksi dari telinga atau sinus
ataupun keganasan.11
Pemeriksaan Penunjang
EEG (elektroensefalogram) merupakan pemeriksaan yang mengukur aktivitas listrik di dalam
otak.
ditempelkan pada kulit kepala untuk mengukur impuls listrik di dalam otak. Setelah
terdiagnosis, biasanya dilakukan pemeriksaan lainnya untuk menentukan penyebab yang biasa
diobati.9
Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk:
- mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
- menilai fungsi hati dan ginjal
- menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya infeksi).
EKG (elektrokardiogram)
EKG dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan irama jantung sebagai akibat dari tidak
adekuatnya aliran darah ke otak, yang bisa menyebabkan seseorang mengalami pingsan.
CT scan dan MRI
CT scan dan MRI dilakukan untuk menilai adanya tumor atau kanker otak, stroke, jaringan parut
dan kerusakan karena cedera kepala.
Kadang dilakukan pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak.1

NGOBATAN
Pada epilepsi umum sekunder, obat-obat yang menjadi lini pertama pengobatan adalah
karbamazepin dan fenitoin. Gabapentin, lamotrigine, fenobarbital, primidone, tiagabine,
topiramate, dan asam valproat digunakan sebagai pengobatan lini kedua. Terapi dimulai dengan
obat anti epilepsi garis pertama. Bila plasma konsentrasi obat di ambang atas tingkat terapeutis
namun penderita masih kejang dan AED tak ada efek samping, maka dosis harus ditingkatkan.
Bila perlu diberikan gabungan dari 2 atau lebih AED, bila tak mempan diberikan AED tingkat
kedua sebagai add on.11
Fenitoin (PHT)
Fenitoin dapat mengurangi masuknya Na ke dalam neuron yang terangsang dan mengurangi
amplitudo dan kenaikan maksimal dari aksi potensial saluran Na peka voltase fenitoin dapat
merintangi masuknya Ca ke dalam neuron pada pelepasan neurotransmitter.11
Karbamazepin (CBZ)
Karbamazepin dapat menghambat saluran Na . Karbamazepin dapat memperpanjang inaktivasi
saluran Na .juga menghambat masuknya Ca ke dalam membran sinaptik.11
Fenobarbital (PB)
Fenobarbital adalah obat yang digunakan secara luas sebagai hipnotik, sedatif dan anastetik.
Fenobarbital bekerja memperkuat hambatan GABAergik dengan cara mengikat ke sisi kompleks
saluran reseptor Cl- pada GABAA. Pada tingkat selular, fenobarbital memperpanjang potensial
penghambat postsinaptik, bukan penambahan amplitudonya. Fenobarbital menambah waktu
buka jalur Cl- dan menambah lamanya letupan saluran Cl- yang dipacu oleh GABA. Seperti
fwnitoin dan karbamazepin, fenobarbital dapat memblokade aksi potensial yang diatur oleh Na .
Fenobarbital mengurangi pelepasan transmitter dari terminal saraf dengan cara memblokade
saluran Ca peka voltase.11
Asam valproat (VPA)
VPA menambah aktivitas GABA di otak dengan cara menghambat GABA-transaminase dan
suksinik semialdehide dehidrogenase, enzim pertama dan kedua pada jalur degradasi, dan
aldehide reduktase.
VPA bekerja pada saluran Na peka voltase, dan menghambat letupan frekuensi tinggi dari
neuron.
VPA memblokade rangsangan frekuensi rendah 3Hz dari neuron thalamus.11
Gabapentin (GBP)
Cara kerja: mengikat pada reseptor spesifik di otak, menghambat saluran Na peka voltase, dapat
menambah pelepasan GABA.11
Lamotrigin (LTG)
Cara kerja: Menghambat saluran Na peka voltase.11
Topiramate (TPM)
Cara kerja: Menghambat saluran Na , menambah kerja hambat dari GABA.11
Tiagabine (TGB)
Cara kerja: menghambat kerja GABA dengan cara memblokir uptake-nya.11
Selain pemilihan dan penggunaan optimal dari AED, harus diingat akan efek jangka
panjang dari terapi farmakologik. Karbamazepin, fenobarbital, fenitoin, primidone, dan asam
valproat dapat menyebabkan osteopenia, osteomalasia, dan fraktur. Fenobarbital dan primidone
dapat menyebabkan gangguan jaringan ikat, mis frozen shoulder da kontraktur Dupuytren.
Fenitoin dapat menyebabkan neuropati perifer. Asam valproat dapat menyebabkan polikistik
ovari dan hiperandrogenisme.
Berikut ini beberapa contoh obat anti epilepsi yang menggangu fungsi kognitif:
Fenobarbital : gangguan memori jangka pendek; Fenitoin, Karbamasepin : gangguan atensi dan
memori; asam valporat : gangguan psikomotor. 11
X. PROGNOSIS
Prognosis epilepsi bergantung pada beberapa hal, di antaranya jenis epilepsi faktor penyebab,
saat pengobatan dimulai, dan ketaatan minum obat. Pada umumnya prognosis epilepsi cukup
menggembirakan. Pada 50-70% penderita epilepsi serangan dapat dicegah dengan obat-obat,
sedangkan sekitar 50 % pada suatu waktu akan dapat berhenti minum obat. Serangan epilepsi
primer, baik yang bersifat kejang umum maupun serangan lena atau melamun atau absence
mempunyai prognosis terbaik. Sebaliknya epilepsi yang serangan pertamanya mulai pada usia 3
tahun atau yang disertai kelainan neurologik dan atau retardasi mental mempunyai prognosis
relatif jelek.10

Diposting 17th June 2012 oleh Yodika Sinaga


0

Tambahkan komentar

teknologi_pendidikan_online

Beranda
Kumpulan Turbo Pascal
Internetan dan Browsing memakai Proxy
Jun
17

Farmakokinetik

Absorpsi

Obat dapat masuk ke dalam aliran darah dengan dua macam cara, yaitu cara langsung
(intravaskuler = iv), misalnya disuntikkan intravena dan cara tidak langsung (ekstravaskuler =
ev), misalnya melalui mulut (peroral) atau disuntikkan intramuskular. Pada cara tidak langsung
obat mengalami peristiwa absorspi terlebih dahulu, yaitu perpindahan obat dari tempat
pemberian (aplikasi) ke dalam aliran darah (sirkulasi sistemik).

Di dalam darah, kebanyakan obat mengalami pengikatan secara reveribel dengan komponen-
komponen darah terutama albumin. Dengan demikian di dalam darah obat terdapat dalam dua
bentuk, yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat.

Jun
17

EPILEPSI TIPE BANGKITAN UMUM SEKUNDER

I. PENDAHULUAN

Epilepsi berasal dari perkataan Yunani yang berarti "serangan" atau penyakit yang timbul secara
tiba-tiba. Dalam masyarakat terdapat banyak anggapan tentang epilepsi. Ada yang mengatakan
karena kutukan Tuhan atau karena tangan yang berdosa (Mesopotamia), penyakit karena
gangguan roh jahat, kemasukan setan atau karena kesurupan.

Jun
17

GAMBARAN PERTOLONGAN PERSALINAN YANG DITOLONG OLEH


TENAGA KESEHATAN NON-MEDIS DI PUSKESMAS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan merupakan kejadian fisiologis yang prosesnya dapat berjalan dengan aman jika
penolong persalinan dapat memantau persalinan untuk mendeteksi dini terjadinya komplikasi
Pertolongan persalinan oleh dukun menurut WHO relatif masih tinggi yaitu sekitar 70% sampai
80% (Manuaba, 1998). Di Indonesia pertolongan persalinan yang ditolong oleh dukun bayi
sebesar 40%(Djaja,2003).

Jun
17

makalah teknologi pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dua dekade terakhir ini memberikan
dampak yang sangat signifikan pada setiap lini kehidupan. Setiap saat kita tidak terlepas dari
teknologi. Bisnis, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan serta sendi-sendi kehidupan lainnya
kini sudah terjamah olehnya. Penyebaran informasi yang sangat cepat mengharuskan setiap
orang mampu mengikuti perkembangan yang terjadi, meski tak harus larut ke dalamnya.

Jun
12

teknologi_pendidikan_online: pengantar sistem informasi

teknologi_pendidikan_online: pengantar sistem informasi

Jun
12

PKL TEP

Jun
12

pengantar sistem informasi

BAB I
PENGANTAR SISTEM INFORMASI

Sejarah sistem informasi

Dalam kurun waktu setengah abad sejak computer digital untuk tujuan umum pertama kali di
pasang di sebuah organisasi bisnis, piranti keras telah mengalami berlipat-lipat kali kenaikan
kecepatan dan kapasitas yang juga di sertai dengan pengurangan ukuran secara dramatis.

Jun
12

Penyang

PENYANG

Penyang yaitu jimat berupa taring, rambut, gigi-gigi, minyak dalam botol kecil, kerang hingga
rahang binatang yang sudah dipotong.

Pada zaman dahulu digunakan untuk berperang, penyang ini juga dipercayai mempunyai
kekuatan mistis yang dapat membuat orang yang memakainya menjadi kuat dan tidak mudah
mati dalam peperangan.

Dec
9

Teknologi Pendidikan

Dec
9

Turbo Pascal Luas Persegi Panjang

Program Menghitung_Luas_Persegi_Panjang;

usesWindos,Wincrt;

var

L, P, T :real;

ch:char;
Begin

Clrscr;

writeln ('program ini di buatoleh :');

writeln ('NAMA : YODIKA SINAGA');

writeln ('NIM : AFD 109 020');

writeln ('MenghitungLuasPersegiPanjang');

writeln ('masukannilai P : ');

readln (P);

writeln ('masukannilai T : ');

readln (T);

L:=P*T;

writeln ('Luaspersegipanjangyaitu = ',L:10:0,'cm2');

readln;

end.

Memuat
Tema Tampilan Dinamis. Diberdayakan oleh Blogger.