Anda di halaman 1dari 25

IDENTIFIKASI MINYAK LEMAK DENGAN METODE KLT DAN

PEMERIKSAAN MKNYAK ATSIRI SECARA KROMATOGRAFI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum


1. Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat melakukan
pemeriksaan minyak atsiri dengan metode kromatografi lapis tipis dan mampu
mengidentifikasi komponen yang terdapat dalam minyak atsiri yang diperiksa.
2. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pemeriksaan uji kualitatif minyak lemak
dengan metode kromatografi lapis tipis, terutama untuk minyak lemak yang sering
digunakan dalam sediaan farmasi.

1.2 Latar Belakang Masalah


Tekhnik analisa sederhana ini digunakan bangsa Roma dahulu untuk menguji zat
warna. Sekitar 100 tahun lalu, ahli kimia Jerman Runge, Schoebien dan Goppelsroedn
membuat kemajuan teknik ini sehingga lebih reprodusibel dan kuantitatif. Kromatografi lapis
tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan Schraiber pada tahun 1938. Juga
dikembangkan oleh Egon Stahl dengan menghamparkan penyerap pada lempeng gelas,
sehingga merupakan lapis tipis. KLT merupakan kromatografi serapan tetapi dapat juga
merupakan kromatografi partisi karena bahan penyerap telah dilapisi air dari udara. Sistem
ini segera populer karena memberi banyak keuntungan.

A. Keuntungan KLT dibanding dengan kromatografi lain :


1. KLT memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam hal memilih fase gerak.
2. Berbagai macam teknik untuk optimasi pemisahan seperti pengembangan 2 dimensi,
pengembangan bertingkat, dan pembaceman penyerap dapat dilakukan pada KLT.
3. Proses Kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan kapan saja.
4. Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi.
5. KLT dibandingkan dengan kromatografi kolom serapan, keduanya mempunyai sistem
fisika yang bersamaan.
6. KLT dibandingkan dengan kromatografi partisi kertas, keduanya mempunyai kesamaan
dalam teknik eksperimennya.
7. Kromatografi kolom merupakan proses yang lambat, yang membutuhkan penyerap relatif
dalam jumlah yang besar demikian pada cuplikan yang digunakan sedangkan dalam KLT
hanya menbutuhkan penyerap dan cuplikan dalam jumlah sedikit dan noda-noda yang
terpisahkan dilokalisir pada plat seperti pada lembaran kertas.
8. Bila dibandingkan dengan kromatografi kertas, metode KLT mempunyai keuntungan yang
utama, yaitu membutuhkan waktu yang lebih cepat dan diperoleh hasil pemisahan yang lebih
baik.
9. Penyerapan pada KLT mempunyai kapasitas yang lebih besar bila dibandingkan dengan
kertas.
10. Sekarang pemisahan dengan KLT telah digunakan dalam kebanyakan lapangan-lapangan
organik dan beberapa dalam kimia anorganik.

B. Penyerap-Penyerap
Dua sifat terpenting dari penyerap adalah besar partikel dan homogenitasnya, karena adhesi
terhadap penyokong sangat tergantung pada mereka. Besar partikel yang biasa digunakan
adalah1 - 25 mikron.
Penyerap-Penyerap dalam KLT
Zat padat Digunakan untuk memisahkan
Silika Asam-asam amino, alkaloid, gula, asam-asam lemak, lipida, minyak esensial, anion
dan kation organik, sterol, terpenoid
Alumina Alkaloid, zat warna, fenol, steroid, vitamin-vitamin, karoten, asam-asam amino
Kieselguhr Gula, oligosakarioa, asam-asam dibasa asam-asam lemak, trigliserida, asam-asam
amino, steroid
Bubuk selulose Asam-asam amino, alkaloid, nukleotida
Pati Asam-asam amino.
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi
senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga
merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun
cuplikannya.
KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti
lipida lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga
dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari
kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala
kecil.
Pelarut yang dipilih untuk pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang
dianalisis. Bahan lapisan tipis seperti silika gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan
pereaksi pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat.
Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi senyawa.
Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa standar.
Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal
dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh karena itu bilangan
Rf selalu lebih kecil dari 1,0
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada KLT lebih baik dikerjakan
dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi-reaksi warna. Sebagian besar teori kromatografi
kolom juga dapat diterapkan pada KLT. Konsep lempeng teori lebih sukar
digambarkan disini, tetapi jelaslah bahwa pemisahan itu dilakukan oleh keseimbangan
berturutan cuplika dalam dua fase, satu diantaranya bergerak terhadap yang lainnya.
Terjadi proses penyebaran molekul cuplikan karena proses nonideal.
Tetapi lazimnya untuk identifikasi menggunakan harga Rf meskipun harga-harga Rf
dalam KLT kurang tepat bila dibandingkan pada kertas.
Derajat retensi pada klomatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai faktor retensi Rf:
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf =
Jarak yang ditempuh pelarut

Definisi koefisien distribusi K adalah

K = CS
CM

CS : kadar senyawa terlarut dalam fase diam


CM : kadar senyawa terlarut dalam fase gerak

Ada hubungan sederhana antara harga K dan Rf. Jarak tempuh rata-rata molekul terlarut
berbanding langsung dengan kecepatan air pelarut dikalikan dengan fraksi waktu senyawa
terlarut terdapat dalam fase gerak. Kemudian dapat dinyatakan sebagai jumlah molekul
dalam setiap fase atau sebagai disrtibusi senyawa terlarut dalam dua fase:

jumlah mol senyawa terlarut dalam fase gerak


Rf =
Mol total senyawa terlarut dalam dua fase

= CM AM
CMAM + CSAS

Dimana AM dan AS adalah luas penampang melintang dua fase itu ( tegak lurus
lempeng). Penjabaran lebih lanjut persamaan diatas, diperoleh:

Rf = AM = AM
AM + ASCS/CM AM + KAS

Hargaharga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan harga-harga


standard. Perlu diperhatikan bahwa harga-harga Rf yang diperoleh hanya berlaku untuk
campuran tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan, meskipun demikian daftar
dari harga-harga Rf untuk berbagai campuran dari pelarut dan penyerap dapat diperoleh.
Pengukuran yang sering dipakai lainnya adalah menggunakan pengertian RX atau RSTD
yang didefinisikan sebagai berikut:
RSTD = Jarak yang digerakkan oleh senyawa tak diketahui

Faktor-faktor yang mempengaruhi gerak noda dalam KLT yang juga mempengaruhi
harga Rf:
1. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.
2. Sifat dari penyerap dan derajat aktivitasnya. Biasanya aktifitas dicapai dengan pemanasan
dalam oven, hal ini akan mengeringkan molekul-molekul air yang menempati pusat-pusat
serapan dari penyerap. Perbedaan penyerap akan memberikan perbedaan yang besar terhadap
harga-harga Rf meskipun menggunakan fase bergerak dan solute yang sama, tetapi hasil akan
dapat diulang dengan hasil yang sama, hanya akan diperoleh jika menggunakan penyerap
yang sama juga ukuran partikel tetap dan jika pengikat (kalau ada) dicampur hingga
homogen.
3. Tebal dan keratan dari lapisan penyerap. Meskipun dalam praktiknya tebal lapisan tidak
dapat dilihat pengaruhnya, tetapi perlu diusahakan tebal lapisan yang rata. Ketidakrataan
akan menyebabkan aliran pelarut menjadi tidak rata pula dalam daerah yang kecil dari plat.
4. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase gerak. Kemurnian dari pelarut yang digunakan
sebagai fase gerak dalam KLT adalah sangat penting dan bila campuran pelarut digunakan
maka perbandingan yang dipakai harus betul-betul diperhatikan.
5. Derajat kejenuhan dari uap dalam bajana pengembang yang digunakan.
6. Teknik percobaan. Arah dalam mana pelarut bergerak diatas plat. (Metode aliran penaikan
yang hanya diperhatikan, karena cara ini yang paling umum meskipun teknik aliran
penurunan dan mendatar juga digunakan).
7. Jumlah cuplikan yang digunakan. Penetesan culikan dalam jumlah yang berlebihan
memberikan tendensi penyebaran noda-noda dengan kemungkonan terbentuknya ekor dan
efek tak keseimbangan lainnya hingga akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan pada harga-
harga Rf.
8. Suhu. Pemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan pada suhu tetap, hal ini terutama untuk
mencegah perubahan-perubahan dalam komposisi pelarut yang disebabkan oleh penguapan
atau perubahan-perubahan fase.
9. Keseimbangan. Ternyata bahwa keseimbangannya dalam lapisan tipis lebih penting dalam
kromatografi kertas, hingga perlu mengusahakan atmosfer dalam bejana tidak jenuh dengan
uap pelarut, bila digunakan pelarut campuran, makan akan terjadi pengembangan dengan
permukaan pelarut yang terbentuk cekung dan fase bergerak lebih cepat pada bagian tepi-tepi
daripada dibagian tengah. Keadaan ini harus dicegah.

2.2 KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI TANAMAN


1. Klasifikasi dan morfologi tanaman jagun
Dalam taksonomi atau sistematika tumbuh-tumbuhan, jagung dapat dikalasifikasikan ke
dalam :

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Divisi atau fillum : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae (Tumbuhan dengan biji berkeping satu)

Ordo / bangsa : Poales

Famili atau suku : Poaceae

Genus atau marga : Zea

Spesies / jenis : Zea mays L.

Morfologi Tanaman Jagung

Morfologi Akar Tanaman Jagung

Sistem perakaran pada tanaman jagung adalah akar serabut dengan kedalaman hingga 8
meter, namun sebagian besar berada pada kedalaman sekitar 2 meter.

Tanaman jagung yang sudah dewasa akan tumbuh akar adventif dari buku-buku batang
tanaman jagung bagian bawah yang dapat membantu tanaman jagung menjadi tegak.

Batang Tanaman Jagung

Tanaman jagung memiliki batang yang tegak, mudah terlihat dan beruas-ruas. Ruas
terbungkus oleh pelepah daun yang muncul dari buku. Tanaman jagung memiliki batang
yang tidak mengandung banyak lignin.
2. Klasifikasi dan morfologi tanaman kayu putih

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Classis : Dicotyledonae

Ordo : Myrtales

Familia : Myrtaceae

Genus : Melaleuca

Spesies : Melaleuca leucadendronL.

Tanaman ini oleh orang Indonesia, dikenal sebagai tumbuhan kayu putih, Gelam (Sunda,
Jawa), ghelam (Madura), inggolom (Batak); Gelam, kayu gelang, kayu putih (Melayu), bru
galang,; Waru gelang (Sulawesi), nggielak, ngelak (Roti), ; lren, sakelan (Piru), irano
(Amahai), ai kelane (Hila),; irono (Haruku), ilano (Nusa Laut Saparuna), elan (Buru).; Bai
qian ceng (China). Dimana ekstrak daunnya bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
minyak kayu putih yang berkashiat untuk obat masuk angin, dll

Morfologi

Tanaman kayu putih yang tingginya bisa mencapai 10 meter ini memiliki ciri-ciri morfologi
sebagai berikut:

1. Batang berkayu, bulat, kulit mudah mengelupas, bercabang, warna kuning kecoklatan.
pohon kayu putih mempunyai tinggi berkisar antara 10-20 m, kulit batangnya
berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan kulit yang terkelupas
tidak beraturan.
2. Daun tunggal, bentuk lanset, ujung dan pangkal runcing,pada bagian tepi rata,
permukaan berbulu,pertulangan sejajar, warna hijau. Daunnya agak tebal seperti kulit,
bertangkai pendek, letak berseling. Helaian daun berbentuk jorong atau lanset, dengan
panjang 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata dan
tulang daun hampir sejajar. Permukaan daun berambut, warna hijau kelabu sampai
hijau kecoklatan.
3. Bunga majamuk, bentuk bulir, panjang 7-8 cm, mahkota 5 helai, warna putih, bunga
berbentuk seperti lonceng, kepala putik berwarna putih kekuningan, keluar di ujung
percabangan
4. Buah berbentuk kotak, beruang 3, tiap ruang terdapat banyak biji, panjang 2,5-3 mm,
lebar 3-4 mm, warnanya coklat muda sampai coklat tua.

ANATOMI

Kulit pohon terdalam terdiri dari floem sekunder, yang hanya bertahan selama setahun. Tipe
meristem lateral kedua, disebut kambium gabus, berkembang pada beberapa sel dari floem
dan dari sel gabus. Sel gabus menekan floem tingkat kedua ke luar batang, dimana akhirnya
mereka rusak, terkoyak, dan mengelupas. Semua jaringan terluar dari kambium gabus
menegakkan kulit terluar, termasuk floem dan sel gabus. Gabus berkembang selama tahun
pertama pada beberapa pohon, menjadi biji atau batang. Pada bagian terluar batang, periderm
atau epidermis, harus membesar dan tumbuh untuk menyesuaikan dengan ukuran diameter
batang. Kambium gabus memproduksi tipe sel tunggal, sel gabus. Dinding sel tipis. Kulit
pohon yang halus mempunyai banyak pori, disebut lentisel, yang berfungsi sebagai tempat
pertukaran udara.

Susunan daun isolateral. Epidermis atas dan bawah terdiri dari 1 lapis sel pipih, pada
penampang tangensial berbentuk polygonal, dinding samping lurus, kutikula agak tebal.
Stomata tipe anomositik, terdapat pada kedua epidermis. Rambut penutup berbentuk kerucut
ramping, terdiri dari 1 sel berdinding tebal. Jaringan palisade terdiri dari 2 lapis sel, terdapat
pada kedua sisi daun, mengandung hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Jaringan
bungakarang terdapat di antara jaringan palisade, terdiri dari 4-5 lapis sel. Pada mesofil
terdapat kelenjar minyak lisigen berisi minyak atsiri berwarna kekuningan. Pada tulang daun
terdapat berkas pembuluh bikolateral, di sekitarnya terdapat serabut sklerenkim dan serabut
harblur berisi harblur kalsium oksalat berbentuk prisma, serabut sklerenkim berlignin.
KANDUNGAN KIMIA

Daunnya mengandung minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50%-65%, Alfa-terpineol, Alfa-
pineria, carvacrol, valeraldehida, benzaldehida, limoncna, dan melaleucin. Sedangkan
buahnya mengandung tannin. Kulit pohon tanaman ini mengandung lignin dan melaleucin.
Melaleuca cajuputi berkhasiat sebagai analgesik, diaforetik, desinfektan, ekspektoran, dan
antispasmodic.

3. Klasifikasi dan morfologi tanaman cengkeh


Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Myrtales
Suku : Myrtaceae
Marga : Syzygium
Jenis : Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry

Morfologi
Daun
Daun cengkeh tidak termasuk daun lengkap karena memiliki tangkai daun
(petiolus),helaian daun (lamina), namun tidak memiliki upih/pelepah daun
(vagina). aunnya berbentuk lonjong dan berbunga pada bagian ujungnya. Termasuk
daun majemuk karena dalam satu ibu tangkai ada lebih dari satu daun.

Batang
Batangdari pohon cengkeh biasanya memiliki panjang 10-15 m. Batang berbentuk
bulat (teres), permukaan batangnya kasar biasanya memiliki cabang-cabang yang
dipenuhi banyak ranting atau dapat dikatakan lebat rantingnya. Arah tumbuh
batangnya tegak lurus (erectus) dan cara percabangan dari rantingnya dapat dikatakan
monopodial karena masih dapat dibedakan antara batang pokok dan cabangnya. Lalu
arah tumbuh cabangnya adalah condong ke atas (patens). Selain itu pohon cengkeh
dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun. Tangkainya kira-kira1-2,5 cm.
Akar
Sistem akarnya tunggang, akar ini merupakan akar pokok (berasal dari akar
lembaga)yang kemudian bercabang-cabang. Bentuk akar tunggangnya termasuk
berbentuk tombak (fusiformis) pada akar tumbuh cabang yang kecil-kecil. Akar kuat
sehingga bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Akarnya biasanya
mampu masuk cukup dalam ke tanah.
Perakaran pohon cengkeh relatif kurang berkembang,tetapi bagian yang dekat
permukaan tanah banyak tumbuh bulu akar.Bulu akar tersebut berguna untuk
menghisap makanan

Biji
Pohon cengkeh mampu menghasilkan biji setelah penanaman 5 tahun. Bijinya terdiri
dari kulit (spedodermis), tali pusar (funiculus), dan inti biji (nukleus seminis).
Walaupun dalam jangka 20 tahun masih dapat menghasilkan biji, biji ini dapat
dikatakan sudah tidak menguntungkan. Hal ini dikarenakan kualitasnya telah menurun
dan tidak dapat digunakan lagi untuk industri, misal rokok.

Bunga
Bunga cengkeh muncul pada ujung ranting daun (flos terminalis) dengan tangkai
pendek dan bertandan (bunga bertangkai nyata duduk pada ibu tangkai bunga). Bunga
cengkeh termasuk bunga majemuk yang berbatas karena ujung ibu tangkainya selalu
ditutup bunga. Bunga terdiri dari tangkai (pedicellus), ibu tangkai (pedunculus), dan
dasar bunga (repectaculum). Bunga cengkeh adalah bunga tunggal (unisexualis) jadi
masih dapat dibedakan menjadi bunga jantan (flos masculus) dan betina (flos
femineus). Dasar bunganya (repectaculum) menjadi pendukung benang sari dan putik
(andoginofor).

Buah
Cengkeh memiliki tangkai buah yang pada masa awal berwarna hijau dan saat sudah
mekar berwarna merah. Buahnya termasuk buah semu karena ada bagian bunga yang
ikut ambil bagian dalam pembentukan buah.

Buah cengkeh memiliki tangkai buah yang pada masa awal berwarna hijau dan saat
sudah mekar berwarna merah. Buahnya secara umum tersusun atas bagian-bagian
secara umum pada kulit buah antara lain epikarpium, mesokarpium, dan
endokarpium. Selain itu ada septum dan ovarium.

4. Klasifikasi dan morfologi tanaman kacang tanah

Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan


Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub Divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup
Klas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae L.; Arachis tuberosa Benth.; Arachis guaramitica,
Chod & Hassl.; Arachis idiagoi Hochne.; Arachis angustifolia (Chod & Hassl) Killip.;
Arachis villosa Benth.; Arachis prostrata Benth.; Arachis helodes Mart.; Arachis
marganata Garden.; Arachis namby quarae Hochne.; Arachis villoticarpa Hochne.;
dan Arachis glabrata Benth.

Jika mencermati binomial pada tingkatan spesies, kacang tanah tak hanya terdiri dari
satu jenis melainkan beragam jenis. Namun yang paling umum kita jumpai di pasaran adalah
kacang tanah dengan nama ilmiah Arachis hypogeae L.
Klasifikasi Varian Kacang Tanah
Jika didasarkan pada sistem budidaya (khususnya di Indonesia), maka klasifikasi kacang
tanah adalah sebagai berikut:

1. Pertama, kacang tanah tipe tegak. Jenis kacang tanah yang satu ini tumbuh secara
lurus dan cenderung sedikit miring ke atas. Buah kacang tanah ini terletak pada ruas-
ruasnya yang dekat pada rumpun. Pada umumnya berukuran pendek atau genjah dan
tingkat kematangan buahnya serempak.
2. Kedua, jenis kcang tanah yang tumbh menjalar. Tanaman jenis ini tumbuh menjalar
ke arah samping. Batang utamanya memiliki ukuran yang cendrung panjang.
Sementara itu buahnya terdapat pada ruas-ruas yang letaknya berdekatan dengan
tanah. Pada umumnya jenis tanaman kacang tanah yang ini memiliki umur yang
panjang.
5. Klasifikasi dan morfologi tanaman kemiri

Kingdom :Plantae
Divisi :Spermatophyta
Subdivisi :Angiospermae
Klas :Dicotyledoneae
Bangsa :Euphorbiales
Suku :Euphorbiaceae
Marga : Aleurites
Jenis : Aleurites moluccana (L.) Willd.

Morfologi Tanaman

Pohon, tinggi 25-30 m. Batang tegak, berkayu, permukaan banyak lentisel,


percabangan simpodial, cokelat. Daun tunggal, berseling, lonjong, tepi rata, bergelombang,
ujung runcing, pangkal tumpul, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, bawah halus,
panjang 18-25 cm, lebar 7-11 cm, tangkai silindris, hijau. Bunga majemuk, bentuk malai,
berkelamin dua, di ujung cabang, putih. Buah bulat telur, beruas-ruas, masih muda hijau
setelah tua cokelat, berkeriput. Biji bulat, berkulit keras, beralur, diameter 3,5 cm,
berdaging, berminyak, putih kecokelatan. Akar tunggang, cokelat.

Habitat dan Penyebaran


Merupakan tanaman asli Indonesia, terdapat juga di Asia Tenggara, Polinesia, Asia Selatan,
dan Brazil.

Kandungan Kimia
Daging biji, daun dan akar Aleurites moluccana mengandung saponin, flavonoida dan
polifenol, di samping itu daging bijinya mengandung minyak lemak. Pada korteksnya
mengandung tanin.

Khasiat
Daging bijinya bersifat laksatif. Di Ambon korteksnya digunakan sebagai anti tumor (Harini,
2000), di Jawa digunakan sebagai obat diare, sariawan dan desentri, di Sumatera daunnya
digunakan untuk obat sakit kepala dan gonnorhea. Minyak kemiri dibuktikan berkhasiat
sebagai obat penumbuh rambut.
Penelitian Antikanker

Bagian tanaman yang telah terbukti sebagai antikanker secara etnofitomedis adalah
korteksnya yang utamanya mengandung tanin, yang mempunyai aktifitas sebagai
imunostimulan, yakni dengan meningkatkan sekresi Tumor Necrosis Factor (TNF) dan
sebagai agen antiproliferatif yang juga menginduksi apoptosis.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


- Alat : 1. Pipa kapiler
2. Pipet tetes
3. Bejana kromatografi
4. Alat semprot untuk deteksi
5. Lampu uv 254 dan 366
6. fase diam: silika gel Gf 254
7. fase gerak: heksan: etil asetat (9:4)
8.beker glass
9.gelas
10. kaca

- Bahan : 1. Minyak kelapa


2. Minyak jagung
3. Oleum menthae pip
4. Minyak zaitun
5. Kacang tanah
6. Kemiri
7. Etil asetat
8. Heksan
9. CHCl2
10. Minyak cengkeh
11. Minyak kayu putih
3.2 Cara Kerja minyak atsiri dan minyak lemak secara kromatografi

1.
Bejana kromatografi

Jenuhkan dengan larutan fase gerak menggunakan sehelai


Kertas saring

hasil

2. Larutan minyak atsiri 1%

Buat larutan dalam foluena

hasil

3.
Pembanding tinol 0,1%

Buat laruutan dalam folvena

hasil
4.
Larutan sampel dan pembanding

-totolkan sebanya 5 ml pada fase diam silika gel 254


Denangan menggunakan pipa kapiler

-buat totolan sekecil mungkin dengan jarak minimal 1


cm

hasil

5.
Fase diam silika gel

-Masukkan dalam bejana kromatografi yang telah di jenuhkan dengan


fase gerak

-Tunggu fase gerak yang terjadi

hasil
6. Cara pembuatan larutan cuplikan

Penyaringan bahan nabati

-kocok biji yng dilunturkan dengan 1 ml kloroform selama 6 menit


-Minyak lemak/lemak dibuat larutan 1% dalam kloroform

hasil

7.
cuplikan

-Di totolkan pada lempeng silika gel


-5 ml untuk cuplikan bahan
-1 ml untuk cuplikan minyak lemak

hasil
8.
Larutan pembanding

-Di totolkan sebanyak 1 ml


-Sebagai larutan pembanding bisa digunakkan larutan asam
stearat, asam palmitat/asam oleat dalam kloroform

hasil

9.
Lakukan klt dengan metode menaik, satu arah dengan jarak
rambut 14 cm

10.
Lempeng silika gel

-dielusi, keringkan suhu 105c (5 menit)


-dielusi pereaksi penampak bercak
-amati dibawah sinar tampak dan sinar uv

Hasil

11.
Hitung harga hRf dan hRx
-Gambarlah kromatografi yang di dapat pada kertas gambar

hasil

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan identifikasi minyak atsiri secara kromatografi

1.Oleum caryophilli
No. PERLAKUAN HASIL
1. 9,6 ml larutan en.heksan + 0,4 ml etil Dalam waktu 1 jam larutan dapat jenuh
asetat dengan tanda kertas saring basah
2. 1 totol oleum caryophilli di tengah-tengah Lempeng klt diteliti dibawah sinar uv
batas bawah 254 timbul warna ungu
3. Lempeng klt di celupkan ke dalam larutan Dalam waktu 27 menit lempeng klt
jenuh, diamati dibawah sinar uv 254 terjadi fase gerak pada larutan jenuh,
terdapat warna ungu dan ada bercak
bulat

Jumlah bercak = 3,3


Jumlah gerak = 8
Rf= 3,3 / 8 = 0,41
hRf= 041 100% = 40%

2.Oleum menthae piperitae


No. PERLAKUAN HASIL
1. 9,6 ml larutan N.heksan dan 0,4 ml larutan Dalam waktu 1 jam larutan dapat jenuh,
atil asetat dijenuhkan artinya larutan sudah aktif
2. 2 totol minyak menthae pada lempeng klt Dicek pada sinar uv 254 berwarna ungu
3. Lempeng klt dielusi pada bejana Pada waktu 24 menit lempeng klt basah
kromatografi/larutan yang sudah diaktifkan merambat sampai batas atas
sebelumnya
.
Rf1= 2, 4/8 = 0,3
Rf2= 3,6/8 = 0,45
hRf = 0,3 100% =30%
hRf = 0,45 100% = 45%

3. Oleum cajuputi
No. PERLAKUAN HASIL
1. 9,6 ml larutan N. Heksan 0,4 ml Dalam waktu 1 jam larutan dapat jenuh
et.asetat denagan tanda kertas saring basah
2. 1 totol oleum cajuputi ditengah-tengah Lempeng klt diteliti di bawah sinar uv 254
lempeng klt timbul warna ungu
3. Lempeng klt dimasukkan kegelas yang Dalam waktu 24 menit, lempeng klt terjadi
berisi larutan jenuh tadi fase gerak pada larytan jenuh

Rf = 2/8 = 0,25
HRf = 0,25 100% = 25%

4.2 pemeriksaan minyak lemak dengan metode klt

No. SAMPEL Rf HRf


1. Minyak kelapa 0,18 18%
2. Kacang tanah 0 0
3. Minyak kemiri + CHCl2 0 0

Rf = 1,5/8 = 0,1875= 0,18


HRf = 0,18 100% = 18%

Kandungan utama minyak kelapa: asam laurat


Kandungan lain : asam kaproat, dan asam kaprilat jandungan-kandungan tersebut memiliki
sifat anti mikroba, anti oksodan, anti jamur, anti bakteri,dan bersifat penenang.

4.3. Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas tentang identifikasi minyak atsiri dan minyk lemak
dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis dimana kromatografi lapis tipis
merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan
memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran.
Prinsip kerjanya adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah
berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini
biasanya menggunakan dua fase yang digunakan yaitu fase gerak dan fase diam dimana fase
diam itu pada umumnya menggunakan silika gel, silika gel mempunyai mempunyai ukuran
10-40. Ukuran ini terutama dipengaruhi oleh ukuran porinya yang bervariasi dari 20-50.
Silika gel berpori 80-150 dinamakan berpori besar. Luas permukaan silika gel bervariasi dari
300-1000m2/g. Silika gel sangan higroskopis. Pada kelembapan relatif 45-75% dapat
mengikat air 7-20%. Masalah aktivitasi silika gel tidak begitu mempengaruhi kebanyakan
jenis pemisahan, tetapi deaktivitas silika gel merupakan hal yang perlu dipertimbangkan.
Beberapa prosedur kromatografi terutama pemisahan yang menggunakan larutan
pengembang anhidrat, mensyaratkan adanya kontrol kandungan air dalam silika. Kandungan
air yang ideal adalah antara 11-12% b/b. Derajat deaktivitasi ditentukan oleh kelembapan
relatif kamar dimana pemisahan dilakukan dan lempeng silika geldisimpan.
Dan pada fase gerak Sebaiknya menggunakan campuran pelarut organik yang
mempunyai polaritas serendah mungkin karena mengurangi serapan dari setiap komponen
dari campuran pelarut. Jika komonen-komponen yang mempunyai sifat polar yang tinggi
(terutama air) dalam campuran cukup akan merubah sistem menjadi sistem partisi. Campuran
yang baik memberikan fase-fase bergerak yang mempunyai kekuatan bergerak sedang, tetapi
sebaiknya dicegah sejauh mungkin mencampur lebih dari dua komponrn terutama karena
campuran yang lebih kompleks cepat mengalami perubahan fase terhadap perubahan suhu.
Kemurnian dari pelarut adalah lebih penting dalam KLT daripada bentuk-bentuk
kromatografi lain, karena disini digunakan sejumlah materi yang sedikit. Sistem yang paling
sederhana adalah dengan menggunakan campuran 2 pelarut organik karena daya elusi
campuran kedua pelarut ini dapat dengan mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan
dapat terjadi secara optimal. Berikut ini adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan
mengoptimalkan fase gerak:
1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik
yang sensitif.
2. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf solut terletak antara
0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika gel, polaritas fase
gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yang berarti juga menentukan nilai Rf.
Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar
seperti metil benzen akan meningkatkan harga RF secara signifikan.
4. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuaran pelarut sebagai fase
geraknya seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu. Penambahan
sedikit asam etanoat atau amonia masing-masing akan meningkatkan elusi solut-solut yang
bersifat basa dan asam.
Dan pada dua fase tersebut harus di lakukan penyinaran dengan menggunakan sinar uv 254
dan 366 pada penyinaran 254 agar lempeng berflouresensi sedangkan sampel akan tampak
berwarna gelap. Penampakan pada noda tersebut pada sinar uv 254 adalah karena adanya
daya interaksi antara sinar uv dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada lempeng.
Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen
tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih
tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi. Dan pada sinar UV
366 noda akan berfluoresensi dan lempeng akan berwarna gelap. Penampakkan noda pada
sinar UV 366 adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus krofomor
yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Fluoresensi cahata yang tampak
merupakan emisi cahaya yang dipancarka oleh komponen tersebut ketika elektron yang
tereksitasi dari tingkat energi dasar je tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke
keadaan semula sambil melepaskan energi. Sehingga noda yang tampak pada sinar UV 366
terlihat terang karena silika gel yang digunakkan tidak berfluoresensi pada sinar UV 366
tersebut.
Dan perbandingan antara etil asetat dengan heksan yaitu 96:4 dimana etil asetat
didapatkan hasil 9,6 sedangkan N.heksan 0,4 karena larutan yang di campurkan harus
didapatkan 10 ml.
Hasil dari praktikum ini untuk identifikasi minyak atsiri hasil nya adalah untuk oleum
caryophilli pada perlakuan yang pertama 9,6 ml larutan N,heksan ditambahkan dengan 0,4
etil asetat hasil nya adalah dalam waktu 1 jam larutan tersebut bisa jenuh ditandai dengan
tanda kertas saring menjadi basah. Dan pada perlakuan yang kedua yaitu 1 totol oleum
caryophilli din tengah-tengah batas bawah hasilnya adalah lempeng KLT di teliti dibawah
sinar UV dengan menggunakan sinar UV 254 hasil nya timbul warna ungu, dan pada
perlakuan yang ketiga adalah lempeng KLT dicelupkan ke dalam larutan jenuh hasilnya
dalam waktu 27 menit lempeng KLT terjadi fase gerak pada larutan jenuh dan setelah diamati
dibawah sinat UV 254 terdapat warna ungu dan bercak bulat. Jarak bercak pada lempeng
KLT yaitu 3,3 cm dan jaraj gerak nya 8 cm.

4.4. Kesimpulan
1. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari
komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair)
dan fase gerak (cair atau gas).
2. KLT merupakan salah satu metode isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap
(adsorpsi) dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan
bergerak mengikuti kepolaran eluen,
3. Keuntungan KLT yaitu ketepatan penentuan kadar baik karena komponen yang akan
ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak. Kerugiannya memerlukan waktu untuk
menentuan sistem eluen yang cocok.
4. Prinsip KLT yaitu pemisahan komponen-komponen berdasarkan perbedaan adsorpsi atau
partisi oleh fase diam dibawah gerakan pelarut pengembang.
5. Pembuatan lapis tipis KLT dimulai dari penyerap dituangkan diatas permukaan plat yang
kondisi bentuknya baik, biasanya digunakan plat kaca / aluminium. Ukuran yang digunakan
tergantung pada jenis dari pemisahan yang akan dilakukan dan jenis dari bejana
kromatografi.
6. Kromatogram adalah output visual yang diperoleh dari hasil pemisahan.
7. Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan
diameter partikel antara 10-30 m. Fasa gerak/eluent yang berperan penting pada proses elusi
bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa diam (adsorbent).
8. Kerja dengan KLT dimulai dari penyiapan plat, eluen dan sampel, penotolan, elusi, dan
deteksi bercak/noda.
9. Cara mendeteksi bercak ada 2 yaitu menggunakan UV dan campuran zat kimia tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai