Anda di halaman 1dari 75

APLIKASI TEORI IDA JEAN ORLANDO

DALAM ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT


Oleh Purwo Suwignyo : RSHS Bandung

A. Latar Belakang Masalah

Keperawatan sebagai bagian integral pelayanan kesehatan merupakan suatu


bentuk pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu keperawatan. Pada
perkembangannya ilmu keperawatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain,
mengingat ilmu keperawatan merupakan ilmu terapan yang selalu berubah
mengikuti perkembangan zaman.
Demikian juga dengan pelayanan keperawatan di Indonesia, kedepan diharapkan
harus mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional
sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat serta teknologi bidang kesehatan
yang senantiasa berkembang. Pelaksanaan asuhan keperawatan di sebagian besar
rumah sakit Indonesia umumnya telah menerapkan pendekatan ilmiah melalui
proses keperawatan.
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sebagai salah satu rumah sakit pendidikan
di Indonesia, dari hasil pengamatan penulis selama melaksanakan bimbingan
praktek klinik keperawatan, telah melaksanakan asuhan keperawatan yang
kembangkan dengan mengacu pada pedoman standar praktek pelaksanaan asuhan
keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. dimana standar praktik tersebut
mengacu pada tahapan dalam proses keperawatan yang terdiri dari 5 standar :
Pengkajian, Diagnosis keperawatan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi.
(PPNI, 2000 hlm 57). Pelaksanaan asuhan keperawatan tersebut merupakan
aplikasi unsur dan konsep dari beberapa teori dan model keperawatan yang di
adopsi, digabung, dikembangkan serta dilaksanakan. Kemungkinan diantaranya
teori dan model yang mewarnai asuhan keperawatan yaitu teori yang
dikemukakan oleh Ida Jean Orlando yang dikenal dengan teori proses
keperawatan atau disiplin proses keperawatan.
Dalam teorinya Orlando mengemukanan tentang beberapa konsep utama,
diantaranya adalah konsep disiplin proses keperawatan ( nursing process
discipline) yang juga dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses

i
keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada
pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang
disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan.
(Tomey, 2006: 434)
Orlando juga menggambarkan mengenai disiplin nursing proses sebagai
interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang
terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien,
reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan,
mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan
tindakan yang tepat (George, 1995 ;162)
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mencoba membuat uraian mengenai
lebih jauh mengenai Aplikasi Teori Keperawatan Ida Jean Orlando
Nursing Procces Theory Dalam Asuhan dan Pelayanan Keperawatan Di
Rumah Sakit.

i
A. Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan Orlando
Ida Jean Orlando Pelletier lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New Jersey. Ia
telah aktif berkarir sebagai pelaksana , pendidik, peneliti dan konsultan dalam
bidang keperawatan. Pada awal karirnya ia bekerja sebagai staf keperawatan
diberbagai bidang seperti obstetri, perawatan penyakit dalam dan bedah, serta di
ruang emergenci. Ia juga telah menjabat sebagai suvervisor dan menjabat sebagai
asisten dua direktur keperawatan. Ia diterima di Diploma Keperawatan di New
York tahun 1947, medapat gelar Bachelor of Nursing pada tahun 1951 dari
Universitas di Brooklyn New York, Pada tahun 1954 menerima MA di mental
health consultation dari Universitas Colombia. Buku pertamanya yang
dipublikasikan pada tahun 1961dan diprint ulang pada tahun 1990 yaitu
hubungan dinamis perawat-pasien : fungsi, prinsip dan proses. Ia juga menjabat
sebagai pimpinan graduate program dalam kesehatan mental dan psikiatri nursing
di Yale. Orlando juga aktif dibebagai organisasi seperti pada Massachusetts
Nurses Associations dan di Harvard Community Health Plan. Ia juga sebagai
dosen dan konsultan pada berbagai institusi keperawatan.
Asumsi Orlando terhadap metaparadigma keperawatan hampir seluruhnya
terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya
asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993) medapatkan dari
tulisan Orlando mengenai empat area yang ditekuninya :

1. Perawat
Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang
didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional
yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat
segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan
pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses
keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien, reaksi
perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien
2. Manusia
Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-
kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya
membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak
i
dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat
profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong
dirinya dalam memenuhi kebutuhannya.
3. Sehat
Orlando tidak medefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari
ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera
berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam
memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.
4. Lingkungan
Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang
terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan keduanya
mempersepsikan, berfikit, dan merasakan dan bertindak dalam situasi yang
bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan
therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi perilaku
pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.

B. Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan


Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien
dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi.
Dan sebagai orang pertama yang mengidentifikasi dan menekankan elemen-
elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis penting dari partisipasi pasien
dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama halnya
dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses ini
untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, orlando
menyebutnya sebagai nursing procces discipline. Itu merupakan alat yang
dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi
perawat profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegaraan,
disiplin proses keperawatan serta kemajuan
1. Tanggung jawab perawat
Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan
untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa
aman ketika dalam medapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat
i
harus mengetahui kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat
harus mengetahui benar peran profesionalnya, aktivitas perawat profesional
yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab
guna mencapai tujuan dalam membantu pasien. Ada beberapa aktivitas
spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat
dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih
terfokus pada aktivitas-aktivitas yang benar-benar menjadi kewenangannya.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan
pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi
segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi
individu pasien , berfikir dan merasakan.
4. Disiplin proses keperawatan
Menurut George (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan
sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap,
apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku
pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus
dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta
untuk melakukan tidakan yang tepat.
5. Kemajuan / peningkatan
Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.
C. Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan
dalam nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses
keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada
pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang
disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan.
(Tomey, 2006 hlm 434). Disiplin proses keperawatan didasarkan pada proses
bagaimana seseorang bertindak. Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan
antara perawat dan pasien adalah untuk membantu pemenuhan kebutuhan

i
pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan
kebutuhan sebagai hasil yang diharapkan.
1. Perilaku Pasien
Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien .
seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat
dianggap sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti
pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando
menekankan hal ini pada prinsip pertamanya dengan diketahuinya perilaku
pasien , atau tidak diketahuinya yang seharusnya ada hal tersebut menunjukan
pasien membutuhkan suatu batuan.
Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku
ini dapat dijadikan faktor kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan
pasien. Perilaku verbal yang menunjukan perlunya pertolongan seperti
keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan
perilaku nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum,
berjalan, menghindar kontak mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh
perilaku pasien dapat menjadi indikasi perlunya bantuan tetapi jika hal itu
tidak dikomunikasikan dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-
pasien. Tidak efektifnya perilaku pasien merupakan indikasi dalam
memelihara hubungan perawat-pasien, ketidakakuratan dalam
mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat, atau reaksi
negatif pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak
efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat
harus dirancang untuk menyelesaikan perilaku seperti halnya memenuhi
kebutuhan yang emergenci
2. Reaksi Perawat
Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini tertidiri dari 3
bagian yaitu pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu
perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai
suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat
berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian
Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir
simultan. Oleh karena itu perawat harus relajar mengidentifikasi setiap bagian
i
dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi yang
menentukan mengana ia berespon demikian. Perawat harus dapat
menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien.
Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi
reaksinya dengan pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan
penggunaan dalam hal berbagi beberapa observasi dilakukan dan
dieksporasi dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi
kebutuhannya atau mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada
waktu itu.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan
perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu ;
a. Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang
dikatakannya dan mengatakan perilaku nonverbalnya epada pasien
b. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa
yang akan diekspresikannya
c. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk
perbaikan atau klarifikasi.
3. Tindakan Perawat
Setelah mevalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku pasien,
perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan keperawatan,
Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat
dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan
profesional perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk
membantu memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk
tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan
mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui
tindakan atau kata-katanya.
Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan
tindakan terencana. Hanya tindakan terencana yang memenuhi fungsi
profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan bila kebutuhan
pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis.
Dibawah ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:

i
a. tindakan merupakan hasil dari indetifikasi kebutuhan pasien dengan
memvalidasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien.
b. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk
memenuhi kebituhan pasien.
c. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara
lengkap
d. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan
kebutuhan pasien ketika melakukan tindakan.
Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh
tindakan otomatis tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan
perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi
reaksi perawat
4. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam
menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak
adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivias
termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai
tujuan pemenuhan kebutuhan pasien.
Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan
suatu perilaku pasien yang membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi
terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan.
Perawat membagi aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa
tindakan verbal dan nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan
mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, dan perawat mengunjungi
pasien untuk memvalidasi reaksinya. Membagi reaksinya oleh perawat
membantu pasien untuk menggunakan proses yang sama agar lebih efektif
perlu komunikasinya. Selajutnya tidakan yang sesuai untuk menyelesaikan
kebutuhan adalah saling menguntungkan anatar pasien dan perawat. Setelah
perawat bertindak , perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya
berhasil interaksi. Secara keseluruhan interaksi , perawat meyakinkan bahwa
perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan
reaksinya terhadap pasien.

i
APLIKASI TEORI PROSES KEPERAWATAN ORLANDO
DALAM ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT

Praktisi keperawatan dalam melaksanakan fungsinya perlu menerapkan teori atau


model yang sesuai dengan situasi tertentu. Pada kondisi awal, kombinasi dari
beberapa teori atau model dapat dipertimbangkan, tetapi jika dipergunakan secara
konsisten dapat dilakukan analisa atau evaluasi terhadap efektivitasnya. Dengan
menggunakan berbagai teori dan model keperawatan, maka fokus dan konsekwensi
praktek keperawatan dapat berbeda .
Dibawah ini merupakan gambaran aplikasi disiplin proses keperawatan Orlando pada
penderita SKA STEMI 1 jam setelah mendapat serangan.
A. Gambaran Kasus
Tn X usia 45 tahun satu jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh
nyeri dada sebelah kiri menjalar ke leher, rahang, lengan serta ke punggung sebelah
kiri. Nyeri dirasakan seperti tertekan benda berat. Nyeri menetap walaupun telah
diistirahatkan. Nyeri dirasakan terus menerus lebih dari 30 menit. Kemudian oleh
keluaga dibawa ke UGD RSHS.
Klien sebelumnya belum pernah dirawat atau sakit berat tetapi memiliki
kebiasaan kurang olah raga, riwayat merokok berat 2 bungkus per hari, klien adalah
seorang kepala keluarga dan bekerja sebagai seorang meneger di salah satu
perusahaan.
Hasil pemeriksaan fisik : kesadaran kompos mentis, tekanan darah 140/90
mmHg, Nadi 98 kali/pemit, respirasi 30 kali/menit. Tampak gelisah, banyak keluar
keringat. Hasil pemeriksaan EKG menunjukan adanya ST elevasi. Hasil
Laboratorium terdapat enzim troponin T positip dan CKMB meningkat. Oleh dokter
klien didiagnosa sindroma koroner akut dengan ST elevasi Miocard infark.

B. Peaksanaan Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori Proses Keperawatan


Orlando.

i
Pada kasus Tn X tersebut diatas maka perawat harus segera bereaksi terhadap
perilaku pasien baik secara perbal maupun non verbal, melakukan validasi,
membagi bereaksi terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir
dan merasakan. Perawat membantu pasien untuk mengurangi ketidaknyamanan
baik fisik maupun psikologis, ketidakmampuan pasien dalam menolong dirinya,
serta mengevaluasi tindakan perawatan yang sudah dilakukannya. Semua itu
dapat diterapkan melalui pendakaan disiplin proses keperawatan Orlando sebagai
berikut :
1. Fase Reaksi Perawat.
Menutut George (1995) bahwa reaksi perawat dimana terjadi berbagi reaksi
perawat dan perilaku pasien dalam disiplin proses keperawatan teori Orlando
identik dengan fase pengkajian pada proses keperawatan.
Pengkajian difokuskan terhadap data-data yang relatif menunjukan kondisi
yang emergenci dan membahayakan bagi kehidupan pasien, data yang perlu
dikaji pada kasus diatas selain nyeri dada yang khas terhadap adanya
gangguan sirkulasi koroner, juga perlu dikaji lebih jauh adalah bagaimana
kharakteristik nyeri dada meliputi apa yang menjadi faktor pencetusnya,
bagaimana kualitasnya, lokasinya, derajat dan waktunya. Disamping itu
dapatkan juga data adakah kesulitan bernafas, rasa sakit kepala, mual dan
muntah yang mungkin dapat menyertai keluhan nyeri dada.
Perawat perlu mengkaji perilaku pasien non verbal yang menunjukan bahwa
pasien memerlukan pertolongan segera seperti : tanda-tanda vital, pada kasus
didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 98 kali/menit, respirasi 30
kali/menit. Tampak gelisah, banyak keluar keringat. Perlu juga dikaji
bagaimana kondisi akral apakah hangat atau dingin, CRT, kekuatan denyut
nadi, Selanjutnya perawat perlu mengetahui data-data lain seperti catatan
dari tim kesehatan lain, hasil laboratorium dan pemeriksaan diagnostik. Pada
kasus didapatkan : EKG ST elevasi, diagnosa medis SKA STEMI. Troponin
T positif, CKMB meningkat.
2. Fase Nursing Action
Fase perencanaan pada proses keperawatan, sesuai dengan fase nursing action
pada disiplin proses keperawatan mencakup sharing reaction (analisa data),
diagnosa keperawatan, perencanaan dan tindakan keperawatan atau
i
implementasi . Tujuannya adalah selalu mengurangi akan kebutuhan pasien
terhadap bantuan serta berhubngan dengan peningkatan perilaku pasien.
Setelah mendapatkan data-data yang menunjukan perilaku pasien, menurut
Orlando perawat perlu melakukan sharing reaction yang identik dengan
analisa data, sehingga dapat ditentukan diagnosa keperawatan.
a. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan difokuskan terhadap masalah ketidak mampuan
pasien untuk memenuhi kebutuhannya sehingga perlu pertolongan
perawat. Dari data yang didapatkan pada kasus Tn X ditemukan masalah :
1) Ketidakmampuan pasien menolong dirinya dalam memelihara perfusi
jaringan otot jantung (berhubungan dengan penurunan aliran darah
sekunder terhadap obstruksi.)
2) Ketidakmampuan pasien menolong dirinya dalam mengatasi rasa
nyeri (berhubungan dengan adanya iskemik)
3) Ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas fisik
(berhubungan dengan ketidaksimbangan suplai dan kebutuhan akan
oksigen)
b. Rencana Keperawatan
Setelah masalah keperawatan pasien ditentukan disusun rencana
keperawatan, fokus perencanaan pada pasien Tn X yaitu Rencana Tn X
sendiri, dengan merumuskan tujuan yang saling menguntungkan baik
pasien maupun perawat sehingga terjadi peningkatan perilaku Tn X
kearah yang lebih baik. Adapun tujuannya yang diharapkan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada Tn X yaitu mampu menolong
dirinya memelihara perfusi otot jantung secara adekuat, pasien mampu
menolong dirinya untuk mengatasi rasa nyeri, serta mampu melakukan
pemenuhan aktivitas tanpa harus memberatkan kerja jantung.
c. Implementasi
Fokus implementasi adalah efektifas tindakan untuk menanggulangi yang
sifatnya mendesak, terdiri dari tindakan-tindakan otomatis seperti
melaksanakan tindakan pengobatan atas instruksi medis dan dan tindakan
terencana terencana yang dianggap sebagai peran perawat profesional

i
sesungguhnya.. Adapun implementasi keperawatan yang perlu dilakukan
pada Tn X yaitu :
1). Membantu pasien dalam menolong dirinya untuk memelihara perfusi
jaringan otot jantung

a.) Tindakan Otomatis:


(1). Berikan therapi nitrogliserin sesuai program therapi
(2) Berikan therapi aspirin sesuai program therapi
(3). Persiapkan klien untuk therapi trombolitik sesuai program
(4). Persiapkan pasien untuk pelaksanaan PTCA sesuai program
terapi.
(5) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
b) Tindakan terencana
(1) Istirahatkan pasien bed rest sampai kondisi akut teratasi dan
keadaan stabil.
(2) Observasi tanda-tanda vital setiap 30 menit atau sesui
(3) Observasi tanda-tanda adanya penurunan kardiak output.
(4). Lakukan pemeriksaan EKG secara rutin
2). Membantu pasien untuk menolong dirinya menolong dirinya dalam
mengatasi rasa nyeri.
a). Tindakan otomatis
(1) Memberikan obat anti nyeri : morfin sesuai dengan program
therapi.
(2) Berikan Oksigen melalui nasal canul 4 liter / menit sesuai
program therapi
(3) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
b). Tindakan terencana ;
(1) Istirahatkan pasien : Bed rest sampai dengan kondisi klien
stabil.
(2) Posisikan pasien semi fowler
(3) Observasi tanda-tanda vital setiap 30 menit atau sesuai
kebutuhan

i
(4) Observasi perkembangan nyeri : kharakreistik, kwalitas dan
kwantitasnya
(5) Lakukan tindakan relaksasi dengan menarik nafas dalam dan
keluarkan nafas secara perlahan.
3). Membantu pasien untuk menolong dirinya dalam pemenuhan aktivitas
sehari-hari
a) Tindakan otomatis
(1) Hindari pasien untuk melakukan mengedan ketika defekasi
(2) Observasi tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah
melakukan aktivitas.
b). Tindakan terencana
(1) Observasi tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah
melakukan aktivitas.
(2) Bantu pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari ;
nutrisi, personal hygiene, eliminasi.
(3) Lakukan mobilisasi fisik setelah kondisi stabil

3 Evaluasi
Evaluasi, pada fase tindakan proses disiplin merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan. Tindakan- tindakan yang terencana , setelah tidakan lengkap
dilaksanakan, perawat harus mengevaluasi keberhasilannya.Evaluasi asuhan
keperawatan pada tuan X difokuskan terhadap perubahan perilaku terhadap
kemampuan menolong dirinya untuk mengatasi ketidakmampuannya.
Evaluasi dilakukan setelah tindakan keperawatan dilaksankan. Adapun hasil
yang diharapkan adalah:
a. Perfusi jaringan pada otot jantung meningkat atau adekuat, ditandai
dengan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi dan pernafasan dalam batas
normal, hasil pemeriksaan EKG normal. Nyeri dada tidak ada.
b. Rasa nyaman terpenuhi: nyeri berkurang atau tidak ada, ditandai dengan :
pasien mengatkan nyeri berkurang atau tidak ada, pasien relak.
Tandatanda vital dalam batas normal,
c Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari : tidak ada keluhan nyeri
dada, sesak nafas atau palpitasi saat melakukan aktivitas, tekanan darah,
i
nadi, respirasi dalam batas normal sebelum, selama dan setelah
melakukan. Aktivitas. Pasien ammpu melakukan aktivitas sendiri dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari : makan, personal higiene dan
eliminasi.

Dengan melihat aplikasi disiplin proses keperawatan pada kasus Tn X yang


mengalami gangguan sistem kardiovaskular berhubungan dengan sindroma akut
koroner non ST elevasi, penulis mencoba untuk membahas pelaksanaan aplikasi teori
tersebut dengan membandingkan dengan proses keperawatan
Pada kedua proses tersebut, pada bagian tertentu secara keseluruhan sama. Misalnya
keduanya merupakan hubungan interpersonal dan membutuhkan interaksi antara
pasien dan perawat. Pasien sebagai input dalam keseluruhan proses. Kedua proses
menggambarkan pasien sebagai total person. Tidak selalu tentang penyakit atau
bagian tubuh. Kedua proses juga menggunakan metode tindakan keperawatan dan
mengevaluasi tindakan tersebut.
Fase pengkajian pada proses keperawatan sesuai dengan berbagi pada
reaksi perawat dengan perilaku pasien dalan disiplin proses keperawatan orlando.
Perilaku pasien mengawali pengkajian. Perilaku yang dikaji adalah perilaku verbal
yang dikatakan oleh pasien yaitu riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan
utama, bagaimana keluhan itu dirasakan, bagaimana sifat dan kwalitas keluhan
tersebut. Apa faktor pencetusnya. Dan faktor resiko terhadap terjadinya gangguan
kesehatan. Sedangkan perilaku non verbal yang perlu diketahui oleh perawat adalah
tanda-tanda dari gangguan fungsi tubuh sebagai respon pasien terhadap tidak
terpenuhinya kebutuhan yang membutuhkan pertolongan perawat, seperti perubahan
tanda-tanda vital, keluar keringat yang berlebihan, ketidaknormalan fungsi tubuh
seperti yang ditunjukan oleh hasil pemeriksaan penunjang EKG, pemeriksaan enzim
roponin dan lain sebagainya.
Berbagi pada reaksi perawat dalam disiplin nursing proses adalah
komponen yang sama dengan analisis pada proses keperawatan. Walaupun reaksi
perawat adalah otomatis. Hal ini sedikit berbeda dengan analisa data pada proses
keperawatan dimana seorang perawat untuk mampu melakukan analisa data perlu
menggunakan dasar teori keperawatan dan menggunakan prinsip dari pengetahuan

i
fisik dan perilaku dan itu harus benar-benar menjadi dasar dalam menganalisa
berbagai tanda dan gejala yang dirasakan atau ditemukan pada pasien.
Fase perencanaan pada proses keperawatan, sesuai dengan fase nursing
action pada disiplin proses keperawatan. Tujuannya adalah selalu mengurangi akan
kebutuhan pasien terhadap bantuan. Tujuannnya berhubungan dengan peningkatan
perilaku pasien. Tujuan yang dirumuskan pada teori Orlanda menurut penulis masih
terlalu umum yaitu fokuskan pada perubahan perilaku dalam menolong untuk
memenuhi kebutuhan dirinya sehingga kemungkinan keberhasilannya sulit untuk
diukur terutama terhadap masalah yang hanya diketahui oleh perawat tetapi tidak
disadari oleh pasien. Seperti pada contoh kasus Tn X yaitu masalah penurunan
perfusi jaringan pada otot jantung.
Implementasi meliputi seleksi akhir dan pelaksanaan dari tindakan
keperawatan dan ini juga merupakan bagian dari fase tindakan keperawatan pada
proses disiplin Orlando. Kedua proses memerintahkan bahwa tindakan harus sesuai
bagi pasien sebagai individu yang unik. Pada Teori orlando tindakan keperawatan
ada dua macam yaitu tindakan otomatis yang sifatnya segera dan terencana.
Keduanya tidakan tersebut lebih diarahkan terhadap penanggulangan masalah
kperawatan yang bersifat segera dan mengacam kehidupan pasien dan kurang
memperhatikan tindakan-tindakan yang bersifat promotif atau preventif yang
sebenarnya tidakan preventif seperti : pencegahan serangan ulang dan menghindari
faktor resiko adalah penting bagi pasien yang menderita penyakit jantung seperti
yang dialami Tn. X.
Evaluasi, pada fase tindakan proses disiplin merupakan hal yang tidak
dapat dipisahkan. Tindakan- tindakan yang terencana , setelah tidakan lengkap
dilaksanakan, perawat harus mengevaluasi keberhasilannya. Evaluasi pada teori
Orlando sudah cukup baik, yang mana evaluasi selalu dilakukan setelah setiap
tindakan keperawatan dilakukan secara lengkap.

i
KESIMPULAN
Proses keperawatan dan proses disiplin Orlando keduanya
menggambarkan rangkaian tahapan. Setiap tahapan sama-sama tidak terpisah.
Pada proses disiplin Orlando hampir secara berkesinambungan saling
mempengaruhi dimana perilaku pasien menjadi tujuan reaksi perawat,
mengarahkan perilaku perawat, mengarahkan reaksi pasien. Kedua proses
tersebut merupakan proses dinamis dan responsif terhadap perubahan kondisi
pasien.
Proses keperawatan dan proses disipin Orlando mempunyai banyak
persamaan. Proses keperawatan panjang dan lebih formal dan fasenya lebih
mendetail dibandingkan proses disiplin Orlando. Dan membutuhkan perawat
untuk menggunakan pengetahuan dan prinsip keilmuan dan teori keperawatan.
Orlando hanya membutuhkan bahwa perawat harus mengikuti prinsip-prinsip
yang ia tetapkan.

i
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M. E. (2002). Nursing care plane: Guidelines for planning &


documenting patient care, 3rd edition, FA. Davis.
George. (1995). Nursing Theories (The Base for Profesional Nursing Practice),
Fourth Edition. USA : Appleton & Lange.
Hidayat AA. (2004). Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik.
Jakarta : Salemba
PPNI (2000) Standar Praktik Keperawatan. Jakarta : PPNI.
Tomey Ann Marriner, Alligood M.R.(2006). Nursing Theorists and Their work. 6
Ed. USA : Mosby Inc.
http://www.sandiego.edu/acamics/nursing/theory/Orlando

ASUHAN KEPERAWATAN komunitas

OLEH : RISKI MARISAH (201101040)


SEMESTER : V (b)

i
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MAJAPAHIT MOJOKERTO
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengetahuan tentang proses pengembangan empiris teori/model konseptual
merupakan dasar untuk memahami disiplin ilmu keperawatan, sehingga perawat
menyadari kebutuhan akan teori-teori keperawatan untuk membimbing penelitian
dan praktek professional keperawatan. Salah satu teori keperawatan yang
memberikan pengaruh di dalam pelayanan keperawatan adalah Nursing Process
Theory yang diperkenalkan oleh Ida Jean Orlando.
Ida Jean Orlando, lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New Jersey. Ia
memiliki karir sebagai pelaksana, pendidik, peneliti, dan konsultan di keperawatan.
Dia mengawali karirnya sebagai staf perawat di ruangan Obstetri, penyakit dalam,
dan ruang bedah, serta ruang emergency. Dia juga memegang posisi supervisor dan
asisten dua direktur keperawatan. Dia diterima di Diploma Keperawatan Fakultas
Kesehatan di New York tahun 1947 dan BSN di Public Health Nursing St. Johns
University Brooklyn tahun 1951. Pada tahun 1954, dia menerima gelar MA dari
Konsultasi Kesehatan Jiwa Columbia University, New York. Dia lalu pergi ke Yale
University sebagai Assosiate Peneliti dan investigator prinsip pada proyek
pembelajaran integrasi konsep kesehatan mental kedalam basic nursing curriculum.
Hal ini dijadikan dasar publikasi buku pertamanya yang berjudul The Dynamic
Nurse-Patient Relationship : Function, Process and Principles tahun 1961.
Pada tahun 1962, Orlando menikah dengan Robert Pelletier dan pindah ke
Massachusetts. Dia menjadi konsultan perawatan klinis untuk rumah sakit psikiatrik
McLean Hospital. Pada saat di McLean Hospital, dia melakukan penelitian, yang
akhirnya penelitian dijadikan dasar publikasi buku keduanya (1972), dengan judul
The Dicipline and Teaching of Nursing Process. Sejak tahun 1972, Orlando
i
bekerjasama secara berkesinambungan dengan sekolah keperawatan di Boston
University, dia mengajar teori keperawatan dan melakukan supervisi terhadap
lulusan di area klinik.
Sepanjang karirnya, Orlando juga aktif di beberapa organisasi, diantaranya
Assosiasi Perawat Massachusetts dan Harvard Community Health plan. Dia juga
mengajar dan menawarkan whorkshop serta sebagai konsultan di beberapa agensi.

1.2 Perumusan Masalah


Perumusan masalah dalam makalah ini adalah menganalisis teori Proses
Keperawatan Orlando yang berfokus pada asumsi theorist terhadap konsep-konsep
sentral disiplin ilmu keperawatan

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep utama Nursing Process Theory Of Orlando.
2. Menjelaskan tentang disilpin proses keperawatan menurut Orlando
3. Menjelaskan asumsi utama Nursing Process Theory Of Orlando terhadap
empat konsep sentral disiplin ilmu keperawatan meliputi: keperawatan,
manusia, kesehatan dan lingkungan
4. Mengidentifikasi perbedaan proses keperawatan dengan disiplin proses
keperawatan Orlando
5. Menganalisis Nursing Process Theory Of Orlando menggunakan proses
keperawatan sebagai pendekatan aplikatif dalam asuhan keperawatan.

1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
perawat tentang Nursing Process Theory Of Orlando sehingga dapat diterapkan pada
asuhan keperawatan.

i
BAB II
TEORI KEPERAWATAN KOMUNITAS MENURUT I.J ORLANDO

2.1 Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan Orlando


Menurut Orlando, keperawatan bersifat unik dan independent karena
berhubungan langsung dengan kebutuhan pasien yang harus dibantu, nyata atau
potensial serta pada situasi langsung. Teori Orlando berfokus pada pasien sebagai
individu, artinya masing masing orang berada pada situasi yang berbeda. Orlando
mendefinisikan kebutuhan sebagai permintaan/kebutuhan pasien dimana bila
disuplai, dikurangi, atau menurunkan distress secara langsung atau bahkan
meningkatkan perasaan tercukupi/wellbeing.
Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara
pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling
mempengaruhi. Perawat sebagai orang pertama yang mengidentifikasi dan
menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan serta hal-hal kritis penting dari
partisipasi pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien
sama halnya dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses
ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, orlando
menyebutnya sebagai nursing procces discipline. Hal ini merupakan alat yang
dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.

i
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu
fungsi perawat profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau
kesegeraan, disiplin proses keperawatan serta kemajuan.

1. Tanggung jawab perawat


Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan
untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman
ketika dalam mendapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat harus
mengetahui kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat harus
mengetahui benar peran profesionalnya, aktivitas perawat profesional yaitu
tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna
mencapai tujuan dalam membantu pasien. Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin
yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat dilakukan oleh perawat,
sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus pada aktivitas-aktivitas yang
benar-benar menjadi kewenangannya.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan
pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi
segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu
pasien , berfikir dan merasakan.
4. Disiplin proses keperawatan
Menurut George (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan
sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa
yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien,
reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan,
mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan
tidakan yang tepat.

5. Kemajuan / peningkatan
Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.
i
2.2 Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan Orlando
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan dalam
nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses
keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada
pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang
disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan. Disiplin
proses keperawatan didasarkan pada proses bagaimana seseorang bertindak.
Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan pasien adalah untuk
membantu pemenuhan kebutuhan pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan
indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai hasil yang diharapkan.
1. Perilaku Pasien
Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien .
seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap
sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti pada pasien
tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan hal ini pada
prinsip pertamanya Dengan diketahuinya perilaku pasien , atau tidak diketahuinya
yang seharusnya ada hal tersebut menunjukkan pasien membutuhkan suatu bantuan.
Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku
ini dapat dijadikan faktor kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien.
Perilaku verbal yang menunjukkan perlunya pertolongan seperti keluhan,
permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku
nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan,
menghindar kontak mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien
dapat menjadi indikasi perlunya bantuan tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan
dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien. Tidak efektifnya
perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-pasien,
ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat,
atau reaksi negatif pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak
efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat harus
dirancang untuk menyelesaikan perilaku seperti halnya memenuhi kebutuhan yang
emergenci
2. Reaksi Perawat
i
Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini terdiri dari 3 bagian
yaitu pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir
secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai suatu yang dirasakan.
Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat berfikir bahwa pasien mengalami
nyeri kemudian memberikan perhatian
Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir
simultan. Oleh karena itu perawat harus belajar mengidentifikasi setiap bagian dari
reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi yang menentukan
mengapa ia berespon demikian. Perawat harus dapat menggunakan reaksinya untuk
tujuan membantu pasien.
Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi
reaksinya dengan pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan
penggunaan dalam hal berbagi beberapa observasi dilakukan dan dieksplorasi
dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau
mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan
perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu :
A. Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang dikatakannya dan
mengatakan perilaku nonverbalnya kepada pasien
B. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa yang akan
diekspresikannya
C. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau
klarifikasi.
3. Tindakan Perawat
Setelah memvalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku
pasien, perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan keperawatan,
Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat dengan
atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan profesional perawatan.
Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi
kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu
perawat harus mengawali dengan mengekplorasi untuk memastikan bagaimana
mempengaruhi pasien melalui tindakan atau kata-katanya.

i
Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan
tindakan terencana. Hanya tindakan terencana yang memenuhi fungsi profesional
perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan bila kebutuhan pasien yang
mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah ini
merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:
1. Tindakan merupakan hasil dari indentifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi
reaksi perawat terhadap perilaku pasien.
2. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi
kebituhan pasien.
3. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap
4. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien
ketika melakukan tindakan.
Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh
tindakan otomatis tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan
perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi reaksi
perawat
4. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam
menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya
perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivitas termasuk
profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai tujuan pemenuhan
kebutuhan pasien.
Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan suatu
perilaku pasien yang membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap
perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membagi
aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan
nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi reaksi
sebagai dirinya sendiri, dan perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi
reaksinya. Membagi reaksinya oleh perawat membantu pasien untuk menggunakan
proses yang sama agar lebih efektif perlu komunikasinya. Selajutnya tindakan yang
sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling menguntungkan antar pasien
dan perawat. Setelah perawat bertindak, perawat segera katakan kepada pasien jika
tindakannya berhasil interaksi. Secara keseluruhan interaksi , perawat meyakinkan
i
bahwa perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan
reaksinya terhadap pasien.

2.3 Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan Orlando


Asumsi Orlando terhadap metaparadigma keperawatan hampir seluruhnya
terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya
asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993) mendapatkan dari
tulisan Orlando mengenai empat area yang ditekuninya :
1. Keperawatan
Keperawatan adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang
didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu
membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu
merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan
membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan
mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien, reaksi perawat dan tindakan
perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien. Asumsi lain Orlando adalah bahwa
perawat harus menurunkan ketidaknyamanan baik fisik maupun mental pasien serta
tidak boleh menyebabkan pasien distress.
2. Manusia
Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-
kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya
membutuhkan bantuan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat
memenuhinya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus
berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menemukan sendiri kebutuhan
mereka untuk dibantu. Dia juga menyatakan bahwa masing masing pasien unik dan
perawat profesional dapat mengenali perilaku yang sama pada pasien yang berbeda
dimana tiap pasien memberikan tanda perbedaan kebutuhan.

3. Sehat
Orlando tidak mendefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas
dari ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera

i
berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi
kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.
4. Lingkungan
Orlando juga tidak mendefinisikan lingkungan. Dia berasumsi bahwa
lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan pasien
berinteraksi, dan antara perawat-pasien mempersepsikan, berfikir, merasakan dan
bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress
terhadap lingkungan therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu
mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.
2.4 Perbandingan Disiplin Proses Keperawatan Orlando dengan Proses Keperawatan
Sebenarnya pada umumnya kedua proses tersebut memiliki karakteristik yang
sama, sebagai contoh keduanya bersifat interpersonal dan membutuhkan interaksi
antara pasien dan perawat. Kedua proses tersebut juga melihat pasien sebagai total
person/individu secara keseluruhan, termasuk proses penyakit atau bagian bagian
tubuh. Orlando tidak menggunakan istilah holistic namun dia mendeskripsikannya
dengan menggunakan pendekatan holistik.
Ada beberapa perbedaan antara disiplin proses keperawatan Orlando dengan
proses keperawatan, antara lain :
A. Assesment
1. Tahap pengkajian pada proses keperawatan sesuai dengan reaksi perawat terhadap
perilaku pasien pada disiplin proses Orlando. Perilaku pasien merupakan inisiasi
untuk melakukan pengkajian
2. Pengumpulan data menurut Orlando hanya meliputi informasi yang relevan untuk
mengidentifikasi kebutuhan pasien yang perlu dibantu
3. Orlando mendefinisikan observasi sebagai beberapa informasi yang menyangkut
pasien dimana perawat memperolehnya ketika dia melakukan pekerjannya
4. Reaksi perawat dari disiplin proses Orlando merupakan beberapa komponen untuk
menganalisa proses keperawatan
5. Produk dari analisis terhadap proses keperawatan disebut sebagai diagnosa
keperawatan. Eksplorasi reaksi perawat dengan pasien dari disiplin proses Orlando
mengarahkan pada proses identifikasi kebutuhan perawat untuk membantu pasien
6. Orlando sepakat dengan interaksi antara perawat pasien secara langsung ; hanya
satu kebutuhan pada satu waktu
i
B. Planning
1. Tahap planning/perencanaan pada proses keperawatan meliputi penulisan tujuan dan
sasaran serta memutuskan tindakan keperawatan yang sesuai
2. Tujuan perencanaan Orlando selalu berusaha untuk mengurangi atau menurunkan
kebutuhan pasien untuk minta bantuan : sasaran berkaitan dengan usaha peningkatan
perilaku pasien
3. Pada Proses keperawatan, partisipasi terjadi paling banyak pada penyusunan tujuan,
sedangkan proses disiplin Orlando melihat pasien sebagai partisipan aktif untuk
menentukan tindakan keperawatan yang aktual
C. Implementation
1) Implementasi meliputi seleksi akhir dan melaksanakan rencana tindakan. Merupakan
tahap reaksi perawat dari disiplin proses Orlando
2) Proses keperawatan mengharapkan perawat untuk mempertimbangkan semua
dampak yang mungkin terjadi atas tindakan terhadap pasien, sedangkan disiplin
proses Orlando hanya berkaitan dengan efektifitas suatu tindakan untuk mengurangi
kebutuhan pertolongan secara langsung
D. Evaluation
Evaluasi pada kedua proses berdasar pada kriteria objective. Pada proses
keperawatan, evaluasi menanyakan apakah ditemukan perubahan tingkah laku secara
objective, namun pada disiplin proses Orlando perawat mengobservasi perilaku
pasien untuk melihat apakah pasien tersebut butuh untuk dibantu
Kegagalan didalam mengevaluasi dapat menyebabkan tindakan yang inefektif
seperti kegagalan dalam menemukan kebutuhan pasien dan meningkatkan biaya serta
bahan perawatan

i
BAB III
PEMBAHASAN

A. Teori Keperawatan Hildegard E.Peplau

1. Riwayat Hildegard E.Peplau


Hildegard peplau( Hilda) di lahirkan di reading pennisylvia merupakan
keluarga imigran dari jerman. Dia merupakan anak kedua dari 6 bersaudara.
Ayahnya seorang pekerja keras sedangkan ibunya sangat perfeklsionis. Orangtuanya
bernama gustav dan otilie peplau. Meskipun dalam keluarga tidak pernah
mendiskusikan tentang pendidikan tinggi, Hilda mempunyai motivasi dan visi yang
kuat untuk merubah wanita dari berpikiran tradisional menjadi yang lebih modern.
Dia menggiginkan kehidupan yang lebih baik dan mengenalkan keperawatan sebagai
karier wanita di masa datang.
Peplau memulai karir keperawatan pada tahun 1931 sebagai lulusan dari
sekolah perawat Pottstown, PA school. Beliau kemudian bekerja sebagai staff nurse
di Pennsylvania dan New York city.Di Bennington college vermant ia mendapat
gelar bachelor degree jurusan psikologi interpersonal pada tahun 1943.
Peplau mendapatkan gelar master dan doctor dari universitas kolumbia
jurusan ilmu pengajaran.Dia juga mendapatkan sertifikat psikoanalisis di wiliam
Alanson white institute new York. Awal tahun 1950 mulai mengajar kelas
pertamanya pada psikiatri keperawatan di fakultas ilmu pendidikan.DR Peplau
menjadi pengajar di fakultas keperawatan university Rutgers dari 1954
1974.Peplau juga bekerja sebagai konsultan pada WHO, US air force, US general
surgeon. Setelah pensiun dari Universitas Rutgers ia bekerja sebagai professor
kunjungan di universitas Leuven Belgium tahun 1975 dan 1976.

2. Teori Peplau
Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh peplau
menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang
menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral

i
yaitu klien, perawat, masalah kecemasan yang terjadi akibat sakit (sumber kesulitan),
dan proses interpersonal.
a. Klien
Klien adalah sistem yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia,
fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi
kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman.
b. Perawat
Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan
pasien yang bersifat pertisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi
tujuan.
Peran Prawat:
Mitra kerja,.
Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru.
Sebagai mitra kerja, hubungan P-K merupakan hubungan yang memerlukan kerja
sama yang harmonis atas dasar kemitraan sehngga perlu dibina rasa saling percaya,
saling mengasihi dan menghargai antara perawat dan klien.
Nara sumber (resources person)
memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah
yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area permasalahan yang memerlukan
bantuan. Perawat mampu memberikan informasi yang akurat, jelas dan rasional
kepada klien dalam suasana bersahabat dan akrab.
Pendidik (teacher)
merupakan kombinasi dari semua peran yang lain. Perawat harus berupaya
memberikan pendidikan , pelatihan, dan bimbingan pada klien/keluarga terutama
dalam mengatasi masalah kesehatan.
Kepemimpinan (Leadership)
mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu
untuk berperan. Perawat harus mampu memimpin klien/keluarga untuk memecahkan
masalah kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi.
Pengasuh pengganti (surrogate)
membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat
mengatasi konflik interpersonal. Perawat merupakan individu yang dipercaya klien

i
untuk berperan sebagai orang tua, tokoh masyarakat atau rohaniawan guna untuk
membantu memenuhi kebutuhannya.
Konselor (consellor)
meningkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan
yang kreatif, instruktif dan produktif. Perawat harus dapat memberikan bimbingan
terhadap masalah klien sehingga pemecahan masalah akan mudah dilakukan.
c. Sumber Kesulitan/Masalah
Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman
interpersonal yang lalu dengan yang sekarang. Ansietas terjadi apabila komunikasi
dengan orang lain mengancam keamanan psikologik (sakit jiwa) dan biologi
individu. Dalam model peplau ansietas merupakan konsep yang berperan penting
karena berkaitan langsung dengan kondisi sakit. Dalam keadaan sakit biasannya
tingkat ansietas meningkat. Oleh karena itu perawat pada saat ini harus mengkaji
tingkat ansietas klien. Berkurangnya ansietas menunjukkan bahwa kondisi klien
semakin membaik.

d. Hubungan Interpersonal
Dalam ilmu komunikasi, proses interpersonal didefinisikan sebagai proses
interaksi secara simultan dengan orang lain dan saling pengaruh-mempengaruhi satu
dengan yang lainnya, biasanya dengan tujuan untuk membina suatu hubungan.
Hubungan interpersonal yang merupakan faktor utama model keperawatan
menurut Peplau mempunyai asumsi terhadap 4 konsep utama yaitu:
Manusia atau individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan
caranya sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Tiap
individu merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide
yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal.
Masyarakat/lingkungan budaya dan adat istiadat merupakan faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam menghadapi kehidupan.
Kesehatan didefinisikan sebagai perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan
yang berkesinambungan kearah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.
Keperawatan dipandang sebagai proses interpersonal yang bermakna. Proses
interpersonal merupakan materina force dan alat edukatif yang baik bagi perawat

i
maupun klien. Pengetahuan diri dalam konteks interaksi interpersonal merupakan hal
yang penting untuk memahami klien dan mencapai resolusi masalah.

Proses interpersonal yang dimaksud antara perawat dengan klien ini memiliki
empat tahap diantaranya:
Tahap orientasi, lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan
bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara
efektif dalam pemberian askep pada klien. Pada tahap ini perawat dan klien
melakukan kontrak awal untuk membangun kepercayaan dan terjadi proses
pengumpulan data.
Fase identifikasi, Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilku pasien dan
memberikan asuhan keperawatan. Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa
:
1) Partisipasi mandiri dalam hubungannya dengan perawat.
2) Individu mandiri terpisah dari perwat.
3) Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat.
4) Pada tahap identifikasi ini peran perawat apakah sudah melakukan atau bertindak
sebagai fasilitator yang memfasilitasi ekspresi perasaan klien serta melaksanakan
asuhan keperawatan.
Fase eksplorasi, memungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai
hubungan sesuai pandangan/persepsi terhadap situasi. Fase ini merupakan inti
hubungan dalam proses interpersonal. Dalam fase ini perawat membantu klien dalam
memberikan gambaran kondisi klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.
Fase resolusi, dimana perawat berusaha untuk secara perlahan kepada klien untuk
membebaskan diri dari ketergantungan kepada tenaga kesehatan dan menggunakan
kemampuan yang dimilikinya agar mampu menjalankan secara sendiri. Pada model
Peplau ini dapat dilihat adanya tindakan keperawatan yang diarahkan kepada
hubungan interpersonal atau psikoterapi. Secara bertahap pasien melepaskan diri dari
perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kearah realisasi potensi.

Pada awalnya, Peplau mengembangkan teorinya sebagai bentuk


keprihatinannya terhadap praktik keperawatan Custodial Care, sehingga sebagai
i
perawat jiwa, melalui tulisannya ia kemudian mempublikasikan teorinya mengenai
hubungan interpersonal dalam keperawatan. Dimana dalam memberikan asuhan
keperawatan ditekankan pada perawatan yang bersifat terapeutik.
Aplikasi yang dapat kita lihat secara nyata yaitu pada saat klien mencari
bantuan, pertama perawat mendiskusikan masalah dan menjelaskan jenis pelayanan
yang tersedia. Dengan berkembangnya hubungan antara perawat dan klien bersama-
sama mendefinisikan masalah dan kemungkinan penyelesaian masalahnya. Dari
hubungan ini klien mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan pelayanan yang
tersedia untuk memenuhi kebutuhannya dan perawat membantu klien dalam hal
menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan masalah kesehatannya. Artinya
seorang perawat berusaha mendorong kemandirian pasien.

3. Tujuan Teori Peplau


Untuk melatih dan mendidik pasien / klien beserta keluarganya dan
membantu pasien untuk mencapai kematangan kepribadian.

4. Kelebihan dan Kekurangan Teori Peplau


Kelebihan :
a) Dapat meningkatkan kejiwaan pasien untuk lebih baik.
b) Dapat menurunkan kecemasan klien dalam teori keperawatan.
c) Dapat memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik.
d) Dapat medorong pasien untuk lebih mandiri.
Kekurangan :
Hanya berfokus pada kejiwaan pasien dalam penyembuhannya

B. Teori Keperawatan Ida Jean Orlando

1. Riwayat Ida Jean Orlando


Ida Jean Orlando dilahirkan pada 12 Agustus 1926, lulusan Diploma pada
Medical College New York tahun 1947, memperoleh Gelar B.S pada Perawatan
Kesehatan Publik, di Universitas St. John;s Brooklyn tahun 1951, dan kemudian
memperoleh gelas M.A bidang konseling kesehatan mental pada Universitas
Columbia New York tahun 1954. Setelah menyelesaikan pendidikan terakhirnya,
i
Orlando kemudian bekerja di Sekoilah Keperawatan New Haven Conneticut, selama
8 tahuan, pada tahun 1958, ia menjadi asosiasi peneliti dan investigator untuk proyek
negara mengenai Konsep kesehatan Mental pada Kurikulum Dasar.
Proyek ini memfokuskan pada mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi
integritas prinsip kesehatan mental untuk kurikulum dasar pendidikan keperawatan.
Setelah 3 tahun ia melakukan pencatatan hasil penelitian dan ia menghabiskan waktu
selama 4 tahun untuk menganalisa data yang diperolehnya pada penelitian tersebut,
kemudian ia melaporkan penemuannya tersebut pada buku pertamanya yang
diluncurkan pada tahun 1958 berjudul The Dynamic nurse-patient relationship:
Function, process and principle of Professional Nursing Practice. Namun buku ini
baru dipublikasikan pada tahun 1961. buku inilah yang memformulasikan Teori
Dasar Keperawatan Orlando., dan dicetak kedalam lima bahasa yaitu : Bahasa
Jepang, Hebrew, Prancis, Portugis dan Belanda. Pada tahun 1962 sampai dengan
tahun 1972 Orlando bekerja sebagai Konsultan bidang Keprawatan Klinik di Rumah
sakit Mc Lean Belmont.
Dan ia memberikan laporan hasil kerjanya selama 10 tahun dirumah sakit
tersebut melalui buku keduanya yang berjudul : The Discipline anda Teaching of
Nursing Process : An Evaluative Study. Orlando memberikan beberapa kontribusi
penting dalam teori dan [raktek keperawatan. Konsep mengenai proses keperawatan
yang ia berikan meliputi beberapa kriteria antara lain:
Memberikan konsep hubungan yang digambarkan secara sistematik mengenai
fenomena bidang keperawatan.
Mengspesifikasi hubungan antar konsep keperawatan
Menjelaskan apa yang terjadi selama proses keperawatan dan mengapa hal itu terjadi.
Mengdeskipsikan bagaimana fenomena keperawatan dapat dikontrol.
Menjelaskan bagaimana mengontrol guna memprediksikan hasil dari proses
keperawatan.
2. Asumsi Pokok Teori Orlando
Hampir keseluruhan dari teori Orlando digambarkan secara implicit.
Schmieding (1993) memberikan beberapa asumsi dari hasil tulisan Orlando
mengenai empat bidang dan elebotasi mengenai pandangan Orlando mengenai:
a. Asusmsi mengenai Keperawatan
Keperawatan merupakan profesi yang berbeda dengan disiplin ilmu lain.
i
Keperawatan professional mempunyai fungsi dan dan menghasilkan produk yang
berbeda (hasil).
Terdapat perbedaan antara sekadar membaringkan dengan tindakan keperawatan
yang professional.
b. Asumsi mengenai Pasien
Kebutuhan pasien akan pertolongan merupakan suatu hal yang unik.
Pasien memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhannya akan
pertolongan
Ketika pasien tidak memperoleh kebutuhannya maka ia akan mengalami kemunduran.
Tingkah laku dari seorang pasien merupakan suatu hal yang memberikan makna.
Pasien mampu dan bersedia berkomunikasi secara verbal (atau tidak verbal)
c. Asumsi mengenai Perawat
Reaksi seorang perawat terhadap pasiennya merupakan suatu hal yang unik.
Perawat seharusnya tidak menambah tekanan pada seorang pasien
Pemikiran dari seorang perawat merupakan alat utama dalam menolong seorang
pasien.
Perawat menggunakan respon yang spontan dalam menjalankan tanggungjawab
keperawatannya
Praktek keperawatan seorang perawat dikembangkan berdasarkan gambaran dari
diri mereka masing-masing.

d. Asumsi mengenai situasi yang terjadi antara Pasien dan Perawat


Situasi hubungan antar perawat dan pasien merupakan suatu hal yang dinamis
Hal-hal yang terjadi dalam interaksi antara asien dan perawat merupakan bahan
utama dalam mengembangkan pengetahuan seorang perawat.

4. Pokok Utama Dari Teori Orlando


Teori Orlando menggambarkan mengenai fungsi dari keperawatan secara
professional sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan pasien akan pertolongan.
Fungsi ini akan terpenuhi ketika seorang perawat dapat mencari tahu dan
menemukan apa saja kebutuhan yang diperlukan dari seorang pasien. Teori Orlando
difokuskan pada bagaimana menciptakan kemajuan pada tindakan dari seorang

i
pasien. Kemajuan dari seorang pasien dapat dilihat dari tingkah laku dan tindakan
yang dapat diamati oleh seorang perawat. Persepsi seorang perawat terhadap tingkah
laku dari pasiennya dapat menghasilkan suatu pemikiran yang dapat mempengaruhi
perawat untuk mengembangkan kjemampuannya.
Orlando mengidentifikasi dan mendefiniskan beberapa elemen dari reaksi
langsung seorang perawat sebagai berikut:
o Persepsi, simulasi fisik dari tiap orang berdasarkan hasil dari panca inderanya.
o Pemikiran spontan mengenai persepsi yang berasal dari pemikiran seorang individu
o Stimulasi perasaan dari hasil pemikiran dimana dapat mengerakkan seseorang dari
hasil persepsi, pemikiran dan perasaanya.

5. Penerapan Dalam Dunia Keperawatan


Praktek Kesehatan Teori Orlando telah berhasil digunakan di rumah sakit
umum dan rumah sakit jiwa. Seperti pengakuan yang gambarkan pada Pusat
Kesehatan Mental dan bagian klinik psikiatrik di Rumah Sakit umum di beberapa
negara. Teori Orlando juga diterapkan di praktek keperawatan milik pribadi Dunia
Pendidikan Teori proses keperawatan Orlando merupakan kerangka konseptual yang
dapat dikembangkan dan dipraktekkan secara langsung. Pelatihan dari penerapan
teori Orlando sangat berguna bagi perawat untuk mengontrol proses keperawatanya
dan meningkatkan perkembangan dari reaksi seorang pasien. Penelitian Teori
Orlando secara terus menerus menjadi dasar dari beberapa penelitian dibidang
keperawatan dan diaplikasikan pada beberapa pengaturan prtoses penelitian.
Beberapa peneliti yang mengembang teori Orlando diantaranya : Dracup dan Breu
(1978), Pienschke (1973), Thibau dabn Reidy (1977) Schmiedhing (1988), Sheafor
(1991), Ronte Reid (1992) dan banyak lagi peneliti lain. G. Pengembang Teori
Orlando Disiplin Ilmu Proses keperawatan membutuhkan bagian yang integral pada
murid dari sekolah keperawatan sehingga dapat diimplementasikan pada beberapa
keadaan kondisi pada saat praktek keperawatan. Banyak dari pengguna Teori
Keperawatan Orlando mengembangkannya dengan beberapa riset diantaranya Beuer
dan McBrides (2002) yang mengembangkanya pada proses perawatan dalam aspek
penyakit bipolar.

i
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori Keperawatan Peplau berfokus pada bagaimana Hubungan Interpersonal antar
perawat dan pasien, mulai dari tahap orientasi, identifikasi, eksplorasi dan terakhir
tahap resolusi.
Sedangkan Orlando berfokus pada :
o Tanggung jawab perawat
o Mengenal perilaku pasien
o Reaksi segera
o Disiplin proses keperawatan
o Kemajuan / peningkatan

B. Saran
Untuk menjadi perawat yang profesional kita harus tahu tentang sejarah
perkembangan keperawatan, karena dengan mengetahui model konsep teori
keperawatan kita dapat mengetahui sampai dimana perkembangan keperawatan pada
masa dahulu dan dimana letak kekurangan dan kelebihan keperawatan pada masa
dahulu sehingga kita bisa memperbaiki kekurangan tersebut hingga menjadi lebih
baik.

teory Ida Jean Orlando


Ida Jean Orlando Palletier (1926) telah memiliki karir bervariasi sebagai
praktisi, pendidik, peneliti, dan konsultan dalam keperawatan. Selama bagian awal
karirnya ia bekerja sebagai perawat staf di bidang-bidang seperti obstetri, obat-

i
obatan dan operasi, dan ruang darurat. Dia juga memegang posisi pengawasan dan
gelar asisten direktur kedua perawat. Dia menerima diploma keperawatan dari New
York Medical College, bunga kelima jalan rumah sakit sekolah keperawatan tahun
1947 dan gelar BS dalam Perawatan Kesehatan Masyarakat dari St John universitas
di Brooklyn, New York pada 1951. Pada tahun 1954, ia menerima MA dalam
konsultasi kesehatan mental dari Columbia University, New York. Dia kemudian
pergi ke Yale University di mana ia menjadi penyidik penelitian asosiasi dan utama
pada sebuah proyek integrasi mempelajari konsep kesehatan mental ke dalam
kurikulum dasar. Hal ini menyebabkan publikasi buku pertamanya, Hubungan
Perawat-Pasien Dinamis: Fungsi, Proses, dan Prinsip, pada tahun 1961. Dia juga
menjabat sebagai direktur program pascasarjana di bidang kesehatan mental dan
kejiwaan keperawatan di Yale.
Pada tahun 1962, Orlando pindah ke Massachusetts. Dia menjadi seorang konsultan
perawatan klinis ke rumah sakit jiwa, McLean Hospital, dan di sebuah rumah sakit
veteran. Dan di sebuah rumah sakit veteran. Di Rumah Sakit McLean, ia melakukan
penelitian yang mengarah ke publikasi di 1972 buku kedua, Disiplin dan Pengajaran
Para Proses Keperawatan.
Sejak tahun 1972, Orlando telah dikaitkan sebentar-sebentar dengan Boston
University School of Nursing, mengajar teori keperawatan dan mengawasi
mahasiswa pascasarjana di bidang klinis. Dewan New England Pendidikan Tinggi
telah mempekerjakan dia sebagai konsultan proyek di Proyek Kesehatan Mental
mereka untuk Fakultas Associate Degree. Posisinya paling baru adalah sebagai
seorang pendidik perawat di Rumah Sakit Metropolitan State di Waltham,
Massachusetts.
Sepanjang karirnya, Orlando telah aktif dalam berbagai organisasi termasuk
Massachusetts Nurses Association dan Masyarakat Rencana Kesehatan Harvard. Dia
juga kuliah dan menawarkan workshop dan konsultasi untuk berbagai lembaga.
Ida Jean Orlando Pelletier adalah kontributor yang signifikan untuk mengembangkan
tubuh pengetahuan keperawatan. Dia menjelaskan proses keperawatan berdasarkan
interaksi pada waktu tertentu antara pasien dan perawat. Dua buku ini gagasannya.
Awal nya bekerja. Hubungan Perawat-Pasien Dinamis: Fungsi. Proses dan Prinsip
diterbitkan pada tahun 1961. Disiplin dan membuktikan rasa langsungnya kecukupan
atau Kesejahteraan. Dalam banyak kasus, orang dapat memenuhi kebutuhan mereka
sendiri, melakukannya, dan tidak memerlukan bantuan dari perawat profesional.
Ketika mereka tidak dapat melakukannya, atau tidak memahami dengan jelas
kebutuhan ini, perlu bantuan hadir. Fungsi perawat adalah untuk benar
mengidentifikasi dan menghilangkan kebutuhan akan bantuan.
Kedekatan dari situasi keperawatan adalah sebuah konsep penting dalam teori
Orlando. Setiap perilaku pasien harus dinilai untuk menentukan apakah itu
mengungkapkan perlunya bantuan. Selain itu, perilaku identik dengan pasien yang
sama dapat mengindikasikan kebutuhan yang berbeda. Tindakan menyusui juga
harus dirancang secara khusus untuk pertemuan langsung. Perencanaan jangka
panjang belum bagian dalam teori Orlando kecuali karena berkaitan dengan
menyediakan cakupan staf yang memadai untuk pengaturan pekerjaan. Dengan
demikian, proses Orlando adalah dinamis. Di daerah ini, teorinya adalah konsisten
dengan prinsip-prinsip Martha Roger dinamika rumah.
Proses keperawatan Orlando benar-benar interaktif. Ini menggambarkan, langkah
demi langkah, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam pertemuan tertentu.
Sebuah perilaku pasien menyebabkan proses untuk memulai. Proses ini melibatkan
i
reaksi perawat untuk perilaku dan tindakan perawat konsekuen. Perawat saham
reaksinya dengan pasien untuk mengidentifikasi kebutuhan bantuan dan tindakan
yang tepat. Orlando prinsip dimaksudkan untuk memandu perawat pada berbagai
tahap interaksi. Dia menekankan pentingnya interaksi ketika ia menulis, "Belajar
bagaimana memahami apa yang terjadi antara dirinya dan pasien adalah inti utama
dari praktek perawat dan terdiri dari kerangka dasar bagi bantuan yang ia berikan
kepada pasien."
Proses aktual interaksi perawat-pasien adalah sama dengan setiap interaksi antara
dua orang. Ketika perawat menggunakan proses ini dalam merawat pasien, Orlando
menyebutnya Ini adalah alat yang digunakan perawat untuk memenuhi fungsi
mereka kepada pasien "proses keperawatan.". Dalam upaya untuk memperluas
teorinya untuk mencakup semua kegiatan keperawatan. Orlando memperluas
penggunaan proses di luar hubungan perawat-pasien individu dalam bukunya The
Pengajaran Disiplin dan Proses Keperawatan. Ia menerapkan proses untuk kontak
antara cara, ia mengacu pada proses sebagai "direktif atau proses pekerjaan
pengawasan dalam keperawatan."
Jika proses keperawatan adalah sama dengan proses interaktif antara dua individu,
bagaimana bisa menyebut dirinya keperawatan profesi? Kuncinya adalah disiplin
dalam penggunaan proses. Orlando memberikan tiga kriteria untuk mengevaluasi
disiplin ini. Kriteria ini membedakan sebuah "tanggapan pribadi otomatis" dari
sebuah Hanya yang terakhir mengarah pada asuhan keperawatan yang efektif, yaitu,
relief arti pasien tidak berdaya "respon profesional disiplin.". Belajar untuk
menggunakan disiplin proses membutuhkan pelatihan. Hal ini membenarkan
perlunya pendidikan khusus dalam keperawatan. Proses keperawatan Orlando dan
kriteria untuk penggunaan disiplin yang menyediakan konten untuk bagian berikut.

Proses keperawatan orlando


Proses keperawatan Orlando didasarkan pada "proses di mana setiap tindakan
individu". Tujuan dari proses ketika digunakan antara perawat dan pasien adalah
memenuhi kebutuhan pasien untuk membantu. Perbaikan dalam perilaku pasien yang
idencates resulotion kebutuhan adalah hasil tujuannya adalah juga digunakan dengan
orang lain yang bekerja dalam pengaturan ajob.. Ini Tujuannya di sini adalah untuk
memahami bagaimana resposibilities profesional dan pekerjaan masing-masing
mempengaruhi yang lain. ini memungkinkan perawat untuk secara efektif memenuhi
setiap fuction profesionalnya untuk pasien dalam pengaturan origanizational.
Perilaku Pasien
proses keperawatan diatur dalam gerakan oleh perilaku pasien semua perilaku pasien,
tidak peduli betapa tidak berartinya, harus dianggap sebagai ungkapan kebutuhan
bantuan sampai maknanya kepada pasien tertentu dalam situasi yang mendesak
dipahami.. Orlando menekankan hal ini pada prinsipnya pertama: "Perilaku
menyajikan pasien, terlepas dari dari dalam yang muncul, mungkin merupakan suatu
permohonan untuk membantu".
Ketika pasien mengalami suatu kebutuhan bahwa ia tidak bisa menyelesaikan, rasa
tidak berdaya terjadi. Perilaku pasien mencerminkan tekanan ini. Dalam Hubungan
Perawat-Pasien Dinamis, Orlando menjelaskan beberapa kategori distres pasien. Ini
adalah "keterbatasan fisik. . . merugikan reaksi terhadap pengaturan dan. . .
pengalaman yang mencegah pasien dari berkomunikasi kebutuhannya. Perasaan
tidak berdaya karena keterbatasan fisik dapat mengakibatkan dari pembangunan
i
tidak lengkap, cacat sementara atau permanen, atau pembatasan lingkungan, nyata
atau dibayangkan. . Reaksi yang merugikan pada pengaturan, di sisi lain, biasanya
hasil dari pemahaman yang salah atau tidak memadai tentang pengalaman di sana.
Pasien mungkin menjadi tertekan dari reaksi negatif untuk setiap aspek pengaturan
meskipun niat membantu atau terapi Sering kebutuhan untuk membantu juga
mungkin timbul dari berkomunikasi ketidakmampuan pasien secara efektif.. Hal ini
mungkin disebabkan faktor-faktor seperti ambivalensi ketergantungan tentang yang
dibawa oleh penyakit, malu berhubungan dengan kebutuhan, kurangnya kepercayaan
pada perawat, dan ketidakmampuan untuk menyatakan kebutuhan tepat.
Perilaku pasien dapat verbal atau nonverbal inkonsistensi antara kedua jenis
perilaku ini mungkin menjadi faktor yang memberitahu perawat bahwa kebutuhan
pasien bantuan. Perilaku verbal meliputi menggunakan semua pasien bahasa..
Mungkin mengambil dari dari "keluhan ... permintaan ... pertanyaan ... penolakan ...
.. Komentar atau pernyataan. Perilaku nonverbal meliputi manifestasi fisiologis
seperti denyut jantung, keringat, edema, dan buang air kecil: dan aktivitas motorik
seperti tersenyum, berjalan, dan menghindari aye kontak. Perilaku pasien nonverbal
juga mungkin vokal. Ini termasuk tindakan seperti menangis, tertawa, berteriak, dan
mendesah
Meskipun semua perilaku pasien mungkin menunjukkan kebutuhan untuk
membantu, perilaku tidak mungkin efektif mengkomunikasikan kebutuhan itu.
Ketika perilaku tidak berkomunikasi kebutuhan, masalah adalah hubungan perawat-
pasien dapat timbul perilaku pasien yang tidak efektif "mencegah perawat dari
melaksanakan. Nya kekhawatiran untuk perawatan pasien atau bentuk
mempertahankan hubungan yang memuaskan kepada pasien. perilaku pasien yang
tidak efektif juga dapat menunjukkan kesulitan dalam pembentukan awal dari
hubungan perawat-pasien, identifikasi akurat dari reaksi pasien untuk tindakan
keperawatan otomatis. Resolusi perilaku pasien yang tidak efektif yang tinggi
prioritas sebagai perilaku biasanya menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu jika
perlu bantuan itu mengungkapkan masih belum terselesaikan.

PERAWAT REAKSI
Perilaku pasien merangsang reaksi perawat, yang menandai awal dari proses
keperawatan. Reaksi ini terdiri dari tiga bagian yang berurutan.
pertama, perawat merasakan perilaku melalui rasa nya, kedua persepsi mengarah ke
pikiran menghasilkan perasaan otomatis Sebagai contoh, perawat melihat senyum
pasien,. mengira dia bahagia, dan merasa baik. reaksi ini membentuk dasar untuk
menentukan tindakan keperawatan Namun, perawat harus terlebih dahulu berbagi
reaksinya dengan pasien untuk memastikan bahwa ia telah benar mengidentifikasi
kebutuhan untuk bantuan dan tindakan keperawatan yang tepat mengatasinya..
Orlando menawarkan prinsip untuk memandu perawat dalam reaksinya terhadap
perilaku pasien, "perawat itu tidak berasumsi bahwa setiap aspek reaksinya kepada
pasien benar, membantu, atau sesuai sampai ia memeriksa validitas dalam eksplorasi
dengan pasien.
Persepsi, pikiran, dan perasaan terjadi secara otomatis dan hampir bersamaan,
Oleh karena itu perawat harus belajar untuk mengidentifikasi setiap bagian dari
reaksinya ini membantu dia untuk menganalisis reaksi untuk menentukan mengapa ia
bereaksi seperti yang dia lakukan.. Tujuannya menjadi logis daripada intuitif,
perawat dapat menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien
i
Disiplin dalam proses keperawatan mengatur bagaimana perawat saham
reaksinya dengan pasien Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan kegunaan
dari berbagi ini.:
Setiap pengamatan bersama dan dieksplorasi dengan pasien segera bermanfaat
dalam memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau mencari tahu bahwa dia tidak
membutuhkan pada waktu itu.
Dia memberikan tiga kriteria berikut untuk memastikan bahwa eksplorasi perawat
reaksinya dengan pasien berhasil
1.What perawat mengatakan kepada individu dalam kontak harus sesuai (konsisten
dengan) salah satu atau semua atau item yang terkandung dalam reaksi langsung. dan
apa yang tidak nonverbal perawat harus secara verbal diungkapkan dan ekspresi
harus cocok dengan satu atau semua item yang terkandung dalam reaksi langsung
2.Aktifitas perawat jelas harus harus berkomunikasi dengan individu bahwa item
yang diungkapkan milik sendiri
3. Perawat harus bertanya individu tentang item yang diungkapkan dalam rangka
untuk mendapatkan koreksi atau verifikasi dari individu yang sama.
Aspek yang dibagi dengan cara yang dijelaskan dalam peraturan menurut itu. Dari
stanpoint praktis, mungkin lebih cepat untuk berbagi persepsi dari pikiran atau
perasaan "Anda meringis" mengandung asumsi kurang dari. "Anda sakit?", Dengan
cara Thia pasien dapat lebih mudah mengungkapkan kebutuhannya untuk bantuan
tanpa harus mengoreksi kesalahpahaman perawat.
Perasaan dapat dan harus berbagi bahkan ketika mereka negatif. Tindakan nonverbal
perawat usully akan menunjukkan perasaannya jika mereka dinyatakan non verbal.
Jadi, perilaku perawat verbal dan nonverbal akan menjadi tidak konsisten. Berbagi
yang tepat dari perasaan secara efektif dapat membantu pasien penolakan obat Anda.
Bisakah Anda menjelaskan kepada saya mengapa penolakan Anda Anda
menjelaskan kepada saya mengapa Anda memiliki penolakan obat dengan
kemarahan. Jika dia mengatakan, "saya marah dengan penolakan Anda obat Anda.
Bisakah Anda menjelaskan kepada saya mengapa Anda harus menolak? "Ia
mengundang pasien untuk menjelaskan kebutuhan untuk bantuan yang menyatakan
penolakannya. Ekspresinya memenuhi tiga kriteria, dan kebutuhan pasien untuk
membantu dapat diidentifikasi dan diselesaikan.
Contoh ini menunjukkan pentingnya perawat berbagi reaksinya sebagai fakta tentang
dirinya sendiri. Dia menyatakan, "saya marah," daripada, "Anda membuat saya
marah 'ini identifikasi yang jelas.. Ini alsoencourages pasien untuk berbagi reaksinya
dengan cara asimilar.
Identifikasi yang memadai dari aspek trhee reaksi perawat membantu untuk
menyelesaikan perasaan asing yang dapat mengganggu perawatan pasien. Perawat
mungkin menemukan bahwa perasaannya berasal dari keyakinan pribadinya tentang
bagaimana orang harus bertindak atau dari tekanan dalam pengaturan organisasi. Jika
mereka tidak diselesaikan, perilaku perawat verbal dan nonverbal lagi akan menjadi
tidak konsisten. Proses yang sama harus digunakan dengan perawat atau profesional
orther dalam pengaturan pekerjaan untuk menyelesaikan setiap konflik yang
mengganggu dengan perawat yang profesional fulling fucntion dia untuk pasien.
Orlando menggunakan tiga kriteria nya dalam studi yang dijelaskan dalam disiplin
dan pengajaran proses keperawatan dan menemukan bahwa menggunakan proses
disiplin secara positif berhubungan dengan peningkatan perilaku pasien. Penelitian
ini juga menunjukkan hubungan positif antara penggunaan perawat proses dan
penggunaannya oleh pasien. sehingga penggunaan proses saja dapat membantu
i
pasien berkomunikasi kebutuhannya dengan lebih efektif.
Orlando menawarkan diagram menggambarkan terbuka reaksi perawat versus
menjaga rahasia reaksi (lihat figs.10-1 dan 10-2). Tindakan perawat itu dari reaksi
menjadi perilaku merangsang reaksi kepada pasien te. Hanya keterbukaan dalam
berbagi reaksi menjamin

bahwa kebutuhan pasien akan effrctively diselesaikan. Berbagi ini, dengan cara yang
dilarang, membedakan praktik keperawatan profesional dari tanggapan pribadi
otomatis.

Tindakan perawat
Setelah perawat telah divalidasi atau dikoreksi reaksinya terhadap perilaku pasien
melalui eksplorasi dengan dia, dia bisa menyelesaikan proses keperawatan dengan
tindakan perawat. Orlando termasuk "hanya apa yang dia (perawat) mengatakan atau
melakukan dengan atau untuk kepentingan pasien" sebagai tindakan keperawatan
profesional. Perawat harus yakin bahwa tindakannya tepat untuk memenuhi
kebutuhan pasien untuk membantu. Prinsip Orlando membimbing negara
keperawatan tindakan, "inisiat perawat aprocess eksplorasi untuk memastikan
bagaimana pasien adalah dipengaruhi oleh apa yang dia katakan atau lakukan.
Perawat dapat bertindak dengan dua cara: otomatis atau deliberatif. Hanya dengan
cara kedua memenuhi fungsi profesionalnya. Tindakan otomatis adalah "mereka
diputuskan untuk alasan lain selain kebutuhan yang mendesak pasien," di mana
tindakan sebagai deliberatif memastikan dan memenuhi kebutuhan ini. Ada
perbedaan antara tujuan tindakan benar-benar melayani dan niatnya untuk membantu
pasien.
Sebagai contoh, perawat mengelola pil tidur karena perintah dokter itu.
Melaksanakan perintah dokter adalah tujuan dari tindakan. Namun, perawat belum
menentukan bahwa pasien mengalami gangguan tidur atau pil adalah cara yang
paling tepat untuk membantu dia tidur. Dengan demikian tindakan ini otomatis,
bukan deliberatif, dan pasien perlu bantuan tidak mungkin dipenuhi.
Daftar berikut mengidentifikasi kriteria untuk tindakan deliberatif:
1. Tindakan Permusyawaratan hasil dari identifikasi yang benar kebutuhan pasien
dengan validasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien.
2. Perawat mengeksplorasi makna tindakan kepada pasien dan relevansinya untuk
memenuhi kebutuhannya.
3. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan segera setelah menyelesaikan itu.
4. Perawat bebas dari rangsangan yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien
ketika ia bertindak.
Otomatis tindakan gagal untuk memenuhi satu atau lebih kriteria ini. Otomatis
tindakan yang paling mungkin dilakukan oleh perawat terutama yang bersangkutan
dengan melaksanakan perintah dokter, rutinitas perawatan pasien, atau prinsip-
prinsip umum untuk melindungi kesehatan atau oleh perawat yang tidak memvalidasi
reaksi mereka terhadap perilaku pasien.
Profesional Fungsi
Perawat sering bekerja dalam organisasi dengan profesional lainnya, dan tunduk
pada otoritas organisasi yang mempekerjakan mereka. Hal ini tak terelakkan, karena
itu, bahwa pada waktu akan timbul konflik antara tindakan yang tepat untuk profesi
perawat dan yang dibutuhkan oleh pekerjaan. Tindakan non-profesional dapat

i
mencegah perawat dari menjalankan fungsi profesionalnya, dan ini dapat
menyebabkan perawatan pasien yang tidak memadai. Sebuah fungsi didefinisikan
dengan baik profesi dapat membantu untuk mencegah dan menyelesaikan konflik ini.
Perawat tidak seharusnya menerima posisi yang tidak memungkinkan mereka untuk
memenuhi kebutuhan pasien mereka untuk membantu. Jika konflik tidak muncul,
perawat harus menyajikan data yang menunjukkan bahwa menyusui tidak mampu
memenuhi fungsi profesional. Orlando percaya bahwa majikan tidak mungkin untuk
terus memerlukan kegiatan pekerjaan yang mengganggu fungsi yang didefinisikan
dengan baik sebuah profesi. Untuk lembaga untuk melakukannya "akan benar-benar
meninggalkan seluruh titik memiliki meminta jasa profesi yang di instansi atau
lembaga.
Perawat harus selalu sadar bahwa "aktivitas mereka adalah profesional hanya ketika
ia sengaja mencapai tujuan membantu pasien. Beberapa kegiatan otomatis mungkin
diperlukan untuk menjalankan sebuah institusi. Ini harus, bagaimanapun, dijaga agar
tetap minimum dan harus dilakukan, sebanyak mungkin, oleh personil dukungan.
Perawat harus menghadiri untuk membantu pasien mengatasi konflik antara rutinitas
dan kebutuhan mereka untuk membantu.
Dalam institusi perawatan paling akut hari ini, potensi permintaan keterampilan
keperawatan dan penilaian melebihi ketersediaan tersebut. Akibatnya, sistem
pemberian perawatan keperawatan sedang dievaluasi dan direvisi untuk
memungkinkan perawat untuk berlatih dalam situasi atau daerah di mana dia yang
paling dibutuhkan. Beberapa situasi ini telah secara khusus diidentifikasi oleh komite
akreditasi keperawatan profesional dan, melalui masukan mereka, tercermin dalam
standar akreditasi dari komisi bersama tentang akreditasi untuk organisasi perawatan
kesehatan. Ini adalah: (1) ketika pasien mengaku, penilaian keperawatan profesional
diperlukan untuk mengidentifikasi pasien perlu bantuan, (2) ketika pasien memiliki
kebutuhan akan pendidikan biasa disebut pendidikan pasien dan; (3) saat pasien
sedang dipersiapkan untuk debit.

Dalam setiap situasi ini, penggunaan teori Orlando akan memandu perawat dalam
pertemuan secepatnya pasien perlu. Pada saat ini, perawat di fasilitas perawatan akut
sedang menatap untuk menggunakan keterampilan profesional mereka dan
pengetahuan untuk mengenali dan mengatasi pasien perlu bantuan. Beberapa
pengakuan dari kontribusi keperawatan mungkin berhubungan dengan tekanan
situasional yang timbul dari sistem penggantian pembayaran prospektif
mempengaruhi institusi perawatan kesehatan saat ini. Di bawah sistem ini,
penekanan ditempatkan pada pasien dirawat dan diberhentikan dalam jumlah yang
telah ditetapkan hari. Perawatan dapat memanfaatkan situasi ini dan
menggunakannya untuk kepentingan pasien dan profesi terbaik. Teori Orlando,
sementara sederhana di alam, memberikan arah dan fokus untuk mengidentifikasi
dan memahami pasien perlu.
Dengan demikian, proses keperawatan diatur dalam gerakan oleh perilaku pasien
yang mungkin menunjukkan perlunya bantuan. Perawat bereaksi terhadap perilaku
ini dengan persepsi, pikiran, dan perasaan. Dia saham aspek reaksinya dengan
pasien, memastikan bahwa tindakannya verbal dan nonverbal yang konsisten dengan
reaksinya, bahwa dia mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, dan bahwa ia
mengundang pasien untuk mengomentari validitas reaksinya. Reaksi benar bersama
oleh perawat membantu pasien untuk menggunakan proses yang sama untuk lebih
efektif mengkomunikasikan kebutuhannya. Selanjutnya, tindakan yang sesuai untuk
i
menyelesaikan kebutuhan adalah saling diputuskan oleh pasien dan perawat. Setelah
perawat bertindak, ia segera bertanya pasien jika tindakan tersebut telah efektif.
Sepanjang interaksi, perawat memastikan bahwa ia bebas dari setiap rangsangan
asing yang mengganggu dengan reaksi ke pasien.

Orlando Teori dan Konsep Empat Mayor


Orlando termasuk bahan khusus untuk tiga dari empat konsep utama:, kesehatan
manusia, dan keperawatan. Konsep keempat, masyarakat, tidak termasuk dalam
teorinya.
Dia menggunakan konsep manusia sebagai ia menekankan individualitas dan sifat
dinamis dari hubungan perawat-pasien.
Sementara kesehatan tidak ditentukan. Hal ini tersirat. Dalam karya awalnya,
Orlando terfokus pada penyakit. Kemudian, dia menunjukkan bahwa penawaran
keperawatan dengan individu setiap kali ada kebutuhan untuk bantuan. Jadi, rasa
tidak berdaya menggantikan konsep kesehatan sebagai inisiator dari kebutuhan untuk
menyusui.
Orlando mengabaikan sebagian besar masyarakat. Dia hanya berurusan dengan
interaksi antara perawat dan pasien dalam situasi segera dan berbicara kepada
pentingnya individualitas. Dia membuat beberapa upaya untuk membahas sistem
keperawatan secara keseluruhan dalam pengaturan kelembagaan. Namun, dia tidak
membahas bagaimana pasien dipengaruhi oleh masyarakat di mana dia tinggal tidak
apakah dia menggunakan masyarakat sebagai fokus tindakan keperawatan.
Keperawatan adalah, tentu saja, fokus pekerjaan Orlando. Dia berbicara tentang
keperawatan sebagai unik dan independen dalam keprihatinan untuk kebutuhan
individu untuk membantu dalam situasi mendesak. Upaya untuk memenuhi
kebutuhan individu untuk membantu dilaksanakan dalam situasi interaktif dan
dengan cara disiplin yang memerlukan pelatihan yang tepat.

PERBANDINGAN PROSES ORIANDO DAN PROSES


KEPERAWATAN
Proses keperawatan Orlando dapat dibandingkan dengan proses keperawatan yang
dijelaskan dalam bab 2. Gambar l0-3 membantu untuk memandu perbandingan ini.
keseluruhan karakteristik tertentu serupa pada kedua proses. Sebagai contoh, kedua.
yang antarpribadi di alam dan membutuhkan interaksi antara pasien dan perawat ..
Pasien diminta untuk input seluruh proses.
Kedua proses juga melihat pasien sebagai orang total. Dia bukan hanya sekedar
Penyakit proses atau bagian tubuh. Orlando tidak menggunakan istilah holistik, tapi
dia
efektif menggambarkan pendekatan holistik. Kedua proses juga digunakan sebagai
metode untuk memberikan asuhan keperawatan dan sebagai sarana untuk
mengevaluasi perawatan. Akhirnya,. Keduanya proses intelektual yang disengaja
Penilaian fase t proses keperawatan sesuai dengan berbagai
reaksi perawat dengan perilaku pasien dalam proses Orlando.
Para perilaku pasien memulai penilaian. Pengumpulan data meliputi
hanya relevan untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantu informasi.
sebuah
berkelanjutan basis data yang tidak berguna untuk situasi mendesak pasien. yang

i
reaksi perawat, tetapi mungkin dipengaruhi oleh masa lalunya agak
pengalaman dengan pasien.
Orlando membahas pengumpulan data dalam buku pertamanya, Hubungan Perawat
Pasien Dinamis. Dia mendefinisikan observasi sebagai informasi apapun yang
berkaitan
pada pasien yang memperoleh perawat saat dia bertugas.
Data langsung yang terdiri dari "setiap persepsi, pikiran, atau perasaan perawat
memiliki dari pengalaman sendiri dari perilaku pasien pada setiap atau beberapa saat
dalam waktu. Data tidak langsung berasal dari sumber-sumber lain dari pasien,
seperti catatan, anggota tim kesehatan lainnya, atau orang lain yang signifikan
pasien.
kedua jenis data yang memerlukan eksplorasi dengan pasien untuk menentukan
relevansi mereka dengan situasi tertentu. perilaku pasien baik secara verbal dan
nonverbal yang penting. konsistensi atau inkonsistensi adalah sepotong data dalam
dirinya sendiri. ini agak sesuai dengan data subyektif dan obyektif dalam proses
keperawatan.
Berbagi reaksi perawat dalam Proses Orlando memiliki komponen serupa dengan
analisis pada proses keperawatan. Walaupun reaksi perawat adalah otomatis,
kesadarannya itu dan bagaimana dia saham itu adalah kegiatan intelektual yang
disengaja. Berbagi Orlando reaksi, bagaimanapun, adalah sebuah proses eksplorasi
dengan pasien. Proses keperawatan, di sisi lain, membuat penggunaan dasar teoritis
dan prinsip-prinsip keperawatan dari ilmu-ilmu fisik dan perilaku.
Produk dari analisis dalam proses keperawatan adalah diagnosis keperawatan.
Eksplorasi reaksi perawat dengan pasien dalam proses Orlando menyebabkan
identifikasi kebutuhannya untuk bantuan. Pernyataan diagnosis keperawatan adalah
suatu proses yang lebih formal daripada kebutuhan. Banyak diagnosis keperawatan
mungkin dibuat. diberikan peringkat prioritas, dan diselesaikan dari waktu ke waktu.
Sejak kesepakatan Orlando dengan segera perawat-pasien interaksi, hanya satu perlu
ditangani dengan pada suatu waktu. Upaya saat ini untuk mengembangkan
taksonomi dari diagnosis keperawatan tidak pantas dalam teori Orlando sejak setiap
pertemuan pasien berbeda. Menggunakan teori Orlando, menyusui mungkin
mengembangkan kategori bidang seperti menyebabkan kebutuhan pasien untuk
membantu. Ini, tentu saja, harus diubah agar sesuai dengan situasi pasien tertentu.
Fase perencanaan dari proses keperawatan melibatkan menulis tujuan dan sasaran
dan memutuskan terhadap tindakan keperawatan yang sesuai. Hal ini sesuai dengan
fase tindakan perawat proses Orlando. Setiap jenis tujuan melampaui situasi
mendesak tidak mungkin dalam
Proses Orlando. Tujuannya selalu lega kebutuhan pasien untuk membantu; tujuan
berkaitan dengan peningkatan perilaku pasien. Mandat proses keperawatan tindakan
lebih formal menulis dan memberikan prioritas kepada tujuan dan sasaran.
Kedua proses ini membutuhkan. pasien partisipasi dalam menentukan tindakan yang
tepat. Dalam proses keperawatan ini kebanyakan terjadi pada penetapan tujuan.
Proses Orlando melihat pasien sebagai peserta aktif dalam menentukan tindakan
perawat yang sebenarnya. Proses keperawatan, di sisi lain, reties lebih berat pada
prinsip-prinsip ilmiah dan teori-teori keperawatan dalam menentukan bagaimana
perawat akan bertindak.
Pelaksanaan melibatkan seleksi akhir dan pelaksanaan dari tindakan yang
direncanakan. Ini juga panci dari fase tindakan perawat proses Orlando. Kedua
proses mandat bahwa tindakan yang sesuai untuk pasien sebagai individu yang unik.
i
Proses keperawatan mengharapkan perawat untuk mempertimbangkan semua
kemungkinan efek dari tindakan terhadap pasien. Proses Orlando hanya berkaitan
dengan efektivitas tindakan dalam memecahkan kebutuhan yang mendesak untuk
bantuan.
Evaluasi melekat pada fase tindakan Orlando proses nya. Untuk tindakan yang
deliberatif, perawat harus mengevaluasi efektivitas ketika selesai. Kegagalan untuk
melakukan hal ini dapat menghasilkan serangkaian tindakan yang tidak efektif
dengan kegagalan untuk memenuhi kebutuhan pasien dan peningkatan biaya
perawatan dan bahan.
Evaluasi di kedua proses ini didasarkan pada kriteria objektif. Dalam proses
keperawatan, evaluasi bertanya apakah tujuan perilaku dinyatakan terpenuhi. Dalam
proses Orlando, perawat mengamati perilaku pasien untuk melihat apakah pasien
telah dibantu. Dengan demikian, kedua proses mengevaluasi dalam hal hasil
perawatan.
. Kedua proses keperawatan dan proses Orlando digambarkan sebagai serangkaian
langkah berurutan. Langkah-langkah tidak benar-benar terjadi discretely dan dalam
rangka dalam proses baik. Sebagai informasi baru telah tersedia, langkah-langkah
awal dapat diulang. Dengan demikian, data penilaian baru dapat mengubah diagnosis
keperawatan atau rencana. Proses Orlando hampir merupakan pertukaran yang terus
menerus di mana perilaku pasien mengarah ke reaksi perawat, yang mengarah ke
perilaku perawat, yang mengarah ke reaksi pasien (lihat Gbr. L0-2 dan l0-3). Jadi,
kedua Proses yang dinamis dan responsif terhadap perubahan dalam situasi pasien.
Perawatan digunakan saat ini proses dan proses Orlando memiliki banyak kesamaan.
Mereka melakukan. Namun, memiliki perbedaan penting. Proses keperawatan adalah
jauh lebih dan memiliki fase lebih rinci dari Orlando. Hal ini membutuhkan perawat
untuk membawa pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmiah dan teori keperawatan
untuk memandu perilakunya.
Orlando hanya menuntut bahwa perawat mengikuti prinsip-prinsip dia menetapkan
untuk memandu perawatan. Perencanaan jangka panjang adalah bagian dari Proses
keperawatan tetapi tidak relevan dengan proses Orlando. Meskipun kedua proses
panggilan untuk keterlibatan pasien dalam proses perawatan, itu Orlando menuntut
partisipasi ini lebih komprehensif.
ORLANDO pekerjaan dan karakteristik dari teori
Dapat bekerja Orlando disebut teori keperawatan seperti yang dijelaskan dalam Bab
I. dalam arti sebuah "visi" dari apa keperawatan adalah, pekerjaannya tentu
memenuhi syarat. apakah dia menggabungkan konsep-konsep untuk tujuan
menurunkan hipotesis tentang praktek. eksplorasi untuk melihat apakah pekerjaan
Orlando memenuhi semua karakteristik dasar teori membantu untuk menjawab
pertanyaan ini.
Sebelum ini dilakukan, komentar pada penggunaan Orlando prinsip istilah
yang sesuai.
Sebelum ini dilakukan, komentar pada penggunaan Orlando prinsip istilah yang
tepat. Prinsip-prinsip, seperti juga hukum, benar-benar diprediksi. Mereka yang
paling berguna dalam ilmu murni. Manusia terlalu individualistis dapat diramalkan,
terutama dalam kaitannya dengan perilaku mereka. Orlando prinsip memberi tahu
perawat bagaimana harus bertindak. Mereka memperkirakan hanya dalam pengertian
umum bahwa jika perawat menggunakan prinsip-prinsip, perilaku pasien akan
membaik. Dengan demikian, panduan untuk praktek akan menjadi istilah yang lebih
tepat untuk mereka daripada prinsip-prinsip.
i
l. Teori dapat saling konsep sedemikian rupa untuk menciptakan cara berbeda dalam
memandang suatu fenomena tertentu. Keperawatan adalah fokus pekerjaan Orlando.
Teorinya views keperawatan sebagai berinteraksi dengan individu dalam situasi yang
mendesak untuk meredakan rasa tidak berdaya. Dia berhubungan konsep ke dalam
suatu keseluruhan yang baru dan bermakna.
2. Teori harus logis di alam. Pekerjaan Orlando tidak memberikan proses yang wajar
dan berurutan untuk menyusui. Perilaku pasien memulai reaksi perawat. Eksplorasi
ini reaksi dengan pasien mengarah ke identifikasi kebutuhan dan tindakan untuk
mengatasi kebutuhan itu. Perawat harus bereaksi secara hati-hati ditentukan untuk
memastikan dia bertemu tujuannya membantu pasien. Dia harus mengevaluasi
tindakannya untuk memastikan efektivitasnya. Jadi Orlando menyediakan logis
daripada sebuah pendekatan intuitif untuk berlatih.
3. Teori harus relatif sederhana namun digeneralisasikan. Meskipun teori Orlando
sederhana di alam itu tidak menggeneralisasi baik untuk semua praktik keperawatan.
Teori ini tetap sederhana dengan berputar di sekitar interaksi perawat-pasien, unit
dasar keperawatan. Hal ini juga membuat teori digeneralisasikan. Unit dasar ini
berlaku terlepas dari setting perawatan atau jenis perawatan pasien menerima.
4. Teori dapat menjadi basis untuk hipotesis yang dapat diuji. Orlando tidak berasal
dari teori hipotesa dan menguji mereka. Meskipun studi awal nya observasional, dia
menguji ide-idenya dalam berbagai situasi keperawatan. Dalam studi kedua, dia
mengembangkan kriteria untuk reaksi perawat yang cukup spesifik untuk
pengembangan dan pengujian hipotesis statistik.
5. Teori berkontribusi dan membantu dalam meningkatkan tubuh secara umum
pengetahuan dalam disiplin melalui penelitian dilaksanakan untuk memvalidasi
mereka. Dalam pengujian teorinya Orlando ditambahkan ke tubuh secara umum
pengetahuan keperawatan. Dia dapat menguji efektivitas disiplin Proses di kontak
perawat dengan pasien, staf, dan pekerja ia mengawasi. Temuannya menunjukkan
hubungan positif antara penggunaan disiplin proses dan hasil membantu kontak. Dia
juga memberikan dukungan untuk gagasan bahwa proses dapat diajarkan dalam
jangka waktu tertentu. Meskipun hipotesis-anaknya perlu tes ulang, mereka
menyediakan dasar untuk perawat lain untuk mengembangkan teori-teori baru. Teori
keperawatan lainnya, seperti Orem dan Rogers, menunjukkan konsistensi dengan,
jika tidak pengaruh, aspek pekerjaan Orlando.
6. Teori dapat dimanfaatkan oleh praktisi untuk membimbing dan meningkatkan
praktek mereka. Orlando telah cukup berhasil dalam mengembangkan sebuah teori
berguna untuk praktek. Perawat dapat dengan mudah menggunakan prinsip-prinsip
dan proses disiplin dalam interaksi mereka dengan pasien dan rekan sekerja.
Menggunakan perawat teorinya yakin bahwa mereka tidak akan memberikan
perawatan dengan cara yang tidak pantas bagi seorang individu pasien. Teori
Orlando lebih mudah diterapkan pada praktek daripada beberapa teori keperawatan
lain. Sebagai contoh, dua puluh satu masalah keperawatan Abdellah yang
meminjamkan diri lebih mudah ke pendidikan daripada pengaturan praktek. Jika
teori Orlando lebih sadar diterapkan oleh perawat pada semua tingkatan, kolegialitas
dalam profesi ini akan berkembang pada kecepatan yang lebih cepat. Perbedaan
profesional dan pendekatan alternatif dapat dibagi dan diselesaikan secara
konstruktif. Beberapa institusi yang berusaha untuk mengubah sistem keperawatan
mereka pengiriman ke model yang lebih profesional, yaitu, sistem manajemen kasus.
Ketika seperti sistem pengiriman yang digunakan, ada kurang perlu untuk
memanggil otoritas hirarkhis untuk menyelesaikan perbedaan dan menegakkan
i
kepatuhan terhadap kebijakan kelembagaan dan praktek. Saat ini, dalam perawatan
kesehatan, banyak energi, waktu, dan sumber daya keuangan yang dihabiskan pada
personil rumah sakit pendidikan, termasuk perawat, untuk berkomunikasi dengan
pasien, pengunjung, dan satu sama lain. Tujuan dari banyak dari program ini adalah
untuk mengajarkan orang untuk mendengarkan kebutuhan diungkapkan dan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Program-program ini mencakup esensi dari teori
Orlando. Namun, teori Orlando tidak membimbing semua aspek praktik
keperawatan. Daerah untuk studi lebih lanjut mencakup perencanaan jangka panjang,
berurusan dengan keluarga dan komunitas, dan merawat pasien yang tidak menyadari
bahwa kesehatan mereka terancam.
7. Teori harus konsisten dengan teori divalidasi lainnya, hukum, dan prinsip-prinsip
tetapi akan meninggalkan pertanyaan tak terjawab terbuka yang perlu diselidiki.
Teori Orlando tidak bertentangan dengan teori-teori divalidasi lain jika dipandang
dalam arti agak terbatas dari interaksi perawat-pasien. itu adalah yang paling
konsisten dengan teori interaksi, namun berhubungan dengan teori sistem dengan
kesulitan. Orlando tidak membahas sistem praktek keperawatan. Ini mencakup baik
interaksi perawat-pasien dan hubungan perawat di antara mereka sendiri dan dengan
orang lain dalam lingkungan kerja yang terorganisir.
Dia tidak melihat namun pasien dalam kaitannya dengan subsistem dan suprasistem.
Untuk alasan ini, teori Orlando tidak berhubungan baik dengan teori keluarga.
Keluarga hanya disebutkan sebagai sumber data langsung. Dengan demikian,
pekerjaan Orlando mengandung banyak karakteristik dari sebuah teori. Meskipun
niatnya, bagaimanapun, tidak provld9 sebuah teori komprehensif untuk memandu
praktik keperawatan. Meskipun demikian, defisit ini tidak meniadakan kegunaannya
dalam membimbing perawat-pasien interaksi. Juga tidak menyangkal nilai sebagai
stimulus-untuk perawat lain untuk membawa pengembangan teori lebih lanjut.

KELEBIHAN DAN PEMBATASAN


Teori Orlando telah banyak untuk menawarkan kepada keperawatan. Kekuatan
utama dari karyanya
adalah kegunaannya dalam praktik keperawatan. Ini panduan perawat melalui
interaksi mereka dengan pasien. Penggunaan teorinya hampir menjamin bahwa
pasien akan diperlakukan sebagai individu dan bahwa mereka akan
memiliki masukan aktif dan konstan ke perawatan mereka sendiri. Fokus perawat
harus tetap pada pasien bukan pada tuntutan lingkungan kerja.
Perawat dapat menjaga Orlando dalam pikiran sambil menerapkan proses
keperawatan saat ini. Penggunaan teorinya mencegah di-akurat diagnosis atau
rencana tidak efektif. karena perawat harus
terus mengeksplorasi reaksinya dengan pasien. Tidak perawat, berikut prinsip-prinsip
Orlando,
bisa gagal untuk mengevaluasi perawatan yang telah diberikan.
Lain kekuatan Orlando adalah pernyataannya kemerdekaan keperawatan sebagai
profesi dan keyakinannya bahwa kemerdekaan ini harus didasarkan pada kerangka
teoritis suara Dia mendasarkan keyakinan ini pada definisi nya fungsi keperawatan.
Dia percaya bahwa fungsi ini jelas akan membantu perawat dalam membangun
kemandirian dan dalam penataan lingkungan kerja sehingga perawat efektif dapat
memenuhi kebutuhan pasien mereka untuk membantu. Fungsi dari "mencari tahu dan
memenuhi kebutuhan mendesak pasien untuk membantu" cukup luas untuk
mencakup perawat yang berpraktik di semua pengaturan dan di semua daerah khusus
i
Hal ini memungkinkan perawat untuk berevolusi dari waktu ke waktu dengan
menghindari kaku daftar kegiatan keperawatan..
Orlando panduan perawat untuk mengevaluasi perawatan nya dalam hal obyektif
diamati
hasil pasien. Ini bukan struktur pengaturan atau jumlah perawat yang bertugas
yang menentukan perawatan yang efektif. Orlando telah menemukan hubungan
positif antara penggunaan
proses dan hasil yang menguntungkan dari perilaku pasien. Dalam merencanakan
untuk menerapkan standar
untuk praktik keperawatan, Asosiasi Perawat Amerika 'telah menggambarkan hasil
pasien sebagai "
indikator utama kualitas perawatan pasien. Sifat langsung dan interaktif nya
proses, bagaimanapun, melakukan evaluasi proses memakan waktu.
Seperti disinggung sebelumnya, input profesi keperawatan ke dalam standar
akreditasi bagi organisasi perawatan kesehatan telah menempatkan penekanan besar
pada evaluasi intervensi dalam hal hasil pasien.
Penggunaan konsisten dari teori Orlando oleh perawat bisa membuat evaluasi fungsi
kurang memakan waktu dan lebih disengaja, yang hasilnya akan didokumentasikan
dalam grafik pasien. Dokumentasi seperti kebutuhan pasien, intervensi yang
direncanakan, dan evaluasi intervensi akan memberikan data untuk analisis yang
akan berkontribusi pada tubuh secara umum pengetahuan dalam bidang keperawatan.
Orlando pengujian teori di pengaturan praktik meminjamkan dukungan lebih lanjut
untuk kegunaannya. Studi pertama, diterbitkan dalam Hubungan Perawat-Pasien
Dinamis, memberikan dasar untuk pekerjaan di masa depan. Untuk studi kedua,
dijelaskan dalam The Pengajaran Disiplin dan Proses Keperawatan, dia
mengembangkan kriteria tertentu setuju untuk pengujian statistik. Perawatan dapat
mengejar pekerjaan dengan pengujian ulang Orlando dan mengembangkan lebih
lanjut pekerjaannya.
Meskipun ide-ide Orlando mengandung banyak karakteristik dari sebuah teori, ada
keterbatasan. Latar belakang kesehatan mentalnya mungkin bertanggung jawab atas
sifat yang sangat interaktif teorinya. Meskipun ini sifat interaktif adalah salah satu
kekuatan teori, itu juga menyediakan keterbatasan dalam gagasannya. Perawat
kesepakatan luas dengan pemantauan dan mengendalikan proses fisiologis pasien
untuk mencegah penyakit dan memulihkan kesehatan. Orlando jarang menyebutkan
hal ini aspek peran perawat. Sifat yang sangat interaktif dari teori Orlando membuat
sulit untuk mencakup perawatan yang sangat teknis dan fisik yang perawat berikan
dalam pengaturan tertentu seperti unit perawatan intensif. Teorinya, bagaimanapun,
mencegah perawat dari pasien melupakan itu usahanya untuk memenuhi aspek teknis
dari pekerjaannya.
Teori Orlando juga dibatasi oleh fokus pada interaksi dengan individu, sedangkan
pasien harus dipandang sebagai anggota keluarga dan dalam masyarakat. Seringkali
sangat penting untuk berurusan dengan keluarga secara keseluruhan untuk membantu
pasien. Orlando tidak berurusan dengan daerah-daerah.
Perawatan jangka panjang dan perencanaan tidak berlaku untuk fokus Orlando pada
situasi mendesak. Dia hanya pandangan perencanaan jangka panjang yang terkait
dengan staf yang memadai dalam sebuah institusi. Orlando sendiri mengakui
masalah ini. Dalam Hubungan Perawat-Pasien Dinamis ia berspekulasi bahwa
"pengalaman berulang telah membantu diragukan puncaknya selama periode waktu
dalam derajat yang lebih besar perbaikan," Dia juga mengidentifikasi efek kumulatif
i
dari keperawatan sebagai area untuk studi lebih lanjut.
Dalam Pengajaran Disiplin dan Proses Keperawatan, Orlando mencoba untuk
mendefinisikan sistem keperawatan keseluruhan. Dia menggambarkan ini sebagai
"secara teratur, berinteraksi bagian dari pelayanan keperawatan." Upaya ini bagian
dari teorinya untuk memasukkan hubungan perawat dengan perawat lain dan dengan
anggota dari berbagai profesi dalam pengaturan pekerjaan. Teorinya perjuangan
dengan otoritas yang berasal dari fungsi profesi dan bahwa komitmen lembaga
mempekerjakan kepada publik. Proses yang sama yang ditawarkan untuk berurusan
dengan orang lain untuk bekerja dengan individu pasien. Ini bagian dari proses nya
agak membingungkan. Hal ini tampaknya lebih dari sebuah deskripsi administrasi
pelayanan keperawatan dari teori praktik keperawatan.
Ketika seorang perawat-manajer berurusan dengan staf, teori Orlando menyediakan
kerangka kerja untuk interaksi yang mengarah ke hasil positif. Sebagai eksekutif
perawat mendengarkan kebutuhan staf, dia harus memutuskan apakah tindakan
disengaja diperlukan; tindakan tersebut dapat mengambil dari kebijakan atau
perubahan prosedur, variasi staf, atau perubahan kebijakan institusional. Eksekutif
perawat mungkin perlu untuk mempengaruhi departemen lain, kelompok, atau
tingkat dalam organisasi untuk efek intervensi positif dengan staf. Pada tingkat
administrasi, teori Orlando digunakan, tetapi rentang waktu untuk menyelesaikan
semua komponen bervariasi tergantung pada situasi. Sebuah organisasi yang secara
konsisten dan metodis menggunakan teori Orlando positif dapat merespon semua
masalah yang perlu dihadapi. Dalam lingkungan seperti itu, kebutuhan dapat
dipenuhi dan penekanan ditempatkan pada saat ini bukan masa lalu atau cara itu
selalu dilakukan. Dengan demikian, organisasi mampu mempertahankan keunggulan
kompetitif.
Orlando dapat dianggap sebagai teori keperawatan yang membuat kontribusi yang
signifikan untuk kemajuan praktik keperawatan. Dia membantu perawat untuk fokus
pada pasien bukan pada penyakit atau tuntutan institusional. Perawat tegas dipandang
sebagai hamba pasien, bukan dokter. Perawat harus mendasarkan praktek mereka
pada pemikiran logis bukan pada intuisi. Proses keperawatan Orlando terus menjadi
berguna untuk perawat dalam interaksi mereka dengan pasien.

i
MODEL KONSEP KEPERAWATAN MENURUT :
1. FAYE GLENN ABDELLAH
2. IDA JEAN ORLANDO

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Di era globalisasi, pengetahuan tentang keperawatan sangat penting.
Terutama meliputi pemberian asuhan keperawatan bagi pasien untuk
memenuhi kebutuhan fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual baik
individu maupun keluarga. Ketika menggunakan pendekatan ini, perawat
memerlukan pengetahuan dan ketrampilan dalam hubungan interpersonal,
psikologi, pertumbuhan, dan perkembangan manusia, komunikasi dan
sosiologi, juga pengetahuan tentang ilmu-ilmu dasar dan ketrampilan
keperawatan tertentu. Perawat adalah pemberi jalan dalam menyelesaikan
masalah dan juga sebagai pembuat keputusan.
Keperawatan sebagai bagian integral pelayanan kesehatan merupakan
suatu bentuk pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu
keperawatan. Pada perkembangannya ilmu keperawatan selalu mengikuti
perkembangan ilmu lain, mengingat ilmu keperawatan merupakan ilmu
terapan yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Demikian juga
dengan pelayanan keperawatan di Indonesia, kedepan diharapkan harus
mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional sesuai
dengan tuntutan kebutuhan masyarakat serta teknologi bidang kesehatan
yang senantiasa berkembang
Salah satu grand theory keperawatan adalah teori keperawatan yang
dikembangkan oleh Faye Glenn Abdellah (1960). Teori ini meliputi
pemberian asuhan keperawatan bagi seluruh manusia untuk memenuhi
kebutuhan fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual baik klien maupun
keluarga. Ketika menggunakan pendekatan ini, perawat memerlukan
i
pengetahuan dan ketrampilan dalam hubungan interpersonal, psikologi,
pertumbuhan, dan perkembangan manusia,komunikasi dan sosiologi, juga
pengetahuan tentang ilmu-ilmu dasar dan ketrampilan keperawatan tertentu.
Dalam teorinya, Abdellah (1960) ,mengidentifikasikan kebutuhan klien
secara spesifik yang sering di kenal sebagai 21 masalah keperawatan
Abdellah. Disinilah peran perawat dalam membuat keputusan sebagai jalan
menyelesaikan masalah klien.
Teori kedua yang akan dibahas dalam makalah ini adalah teori yang
dikemukakan oleh Ida Jean Orlando yang dikenal dengan teori proses
keperawatan atau disiplin proses keperawatan. Dalam teorinya Orlando
mengemukanan tentang beberapa konsep utama, diantaranya adalah konsep
disiplin proses keperawatan ( nursing process discipline) yang juga dikenal
dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses
keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya
segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang disampaikan kepada
perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan. Orlando juga
menggambarkan mengenai disiplin nursing proses sebagai interaksi total
(totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara
perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi
perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan,
mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk
melakukan tindakan yang tepat.
Sehubungan dengan uraian tersebut diatas pada makalah ini, penulis
akan menganalisa aplikasi salah satu model / teori keperawatan pada asuhan
keperawatan di rumah sakit. Dalam tulisan ini penulis akan menganalisa
aplikasi model/teori keperawatan dari Faye Glenn Abdellah dan Ida Jean
Orlando.

1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu menganalisis penerapan konsep model teori keperawatan
Faye Glenn Abdellah dan Ida Jean Orlando
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
i
a. Mahasiswa mampu memahami konsep model Faye Glenn Abdellah dan Ida
Jean Orlando.
b. Mahasiswa mampu melakukan analisa model konsep Faye Glenn Abdellah
dan Ida Jean Orlando dalam penerapannya di asuhan keperawatan.

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana model keperawatan menurut Faye Glenn Abdellah dan
penerapannya?
2. Bagaimana model keperawatan menurut Ida jean Orlando dan
penerapannya?

BAB 2
PEMBAHASAN

A. MODEL KONSEP KEPERAWATAN MENURUT FAYE GLENN


ABDELLAH
2.1 PERSPEKTIF HISTORI TOKOH KEPERAWATAN FAYE GLENN
ABDELLAH
Faye Glenn Abdellah lahir pada tanggal 13 Maret 1919, di New York City.
Pada tahun 1942, Abdellah memperoleh ijazah keperawatan dan Magna Cum
Laude dari Fitkin Memorial Hospital School of Nursing New Jersey (sekarang
Ann Mei School of Nursing). Ia menerima gelar B.S. pada tahun 1945, gelar
M.A pada 1947 dan Ed.D., dari Techers College, di Columbia University pada
tahun 1955.Dengan pendidikan lanjutannya, Abdellah bisa memilih untuk
menjadi dokter. Namun, seperti ia menjelaskan dalam dirinya dalam
wawancara Perawat, "Aku tidak pernah ingin menjadi MD karena aku bisa
melakukan semua yang ingin saya lakukan di keperawatan, yang
merupakan profesi yang peduli."(Tomey&Alligood, 2006).
Dr. Abdellah melayani selama 40 tahun di U.S. Public Health Service
(USPHS).Pada tahun 1981 ia menjabat deputi ahli bedah umum. Abdellah
i
juga menjabat sebagai Kepala keperawatan U.S. Public Health Service
(USPHS) dan Department of Health and Human Services, Washington, DC..
Tahun 1993, beliau menjabat Dekan di Newly Formed Graduate School of
Nursing, Uniformed Services University of Health Sciences.Abdellah
menerbitkan lebih dari 140 publikasi ilmiah terkait keperawatan, pendidikan
untuk praktisi lanjutan keperawatan, administrasi kesehatan, dan riset
keperawatan. Beberapa diantaranya diterjemahkan dalam enam bahasa
(George, 2008) Beliau mendapat 6 gelar Doktor kehormatan dari berbagai
institusi. Beberapa diantaranya adalah Case Western Reserve, Rutgers,
University of Akron, Catholic University of America, Eastern University, and
Monmouth College. Gelar kehormatan ini didapatkan oleh beliau dari
pengabdiannya di riset keperawatan, pengembangan pelatihan pertama
perawat peneliti, ahli dalam kebijakan kesehatan, dan kontribusinya dalam
pengembangan kesehatan negara. (George, 2008).
Kiprah Abdellah dalam dunia Internasional meliputi anggota delegasi
USSR, Yugoslavia, Perancis, dan RRC; Koordinator Proyek Riset Kedokteran
dan Kesehatan Argentina; Konsultan Program pengembangan anak cacat dan
lansia di Portugis; Riset keperawatan dan Perawatan Jangka Panjang di Tel
Aviv University; Asosiasi Keperawatan Jepang dalam Riset dan Pendidikan
Keperawatan; Riset, Pendidikan Keperawatan, dan Home care Nursing di
Australia dan New Zealand; dan sebagai konsultan Riset WHO (George,
2008).
Abdellah menyadari supaya ilmu keperawatan meraih status professional
penuh dengan otonomi, maka basis pengetahuan yang kuat menjadi sangat
penting. Keperawatan juga perlu beralih dari pengendalian pengobatan
(control of medicine) dan menuju filosofi perawatan yang lengkap yang
berpusat pada pasien. Abdellah dan rekan-rekannya menyusun konsep 21
masalah keperawatan (nursing problems) untuk mendidik dan mengevaluasi
para siswa. Tipologi 21 nursing problems, pertama muncul di dalam buku
Patient-centered Approaches to Nursing edisi tahun 1960 dan berdampak
pada hasil yang luas (far reaching) untuk profesi tersebut. Tahun 1960,
Abdellah berkeinginan untuk mempromosikan keperawatan komprehensif
yang berpusat pada klien. Abdellah menggambarkan keperawatan sebagai
i
layanan pada individu, keluarga dan masyarakat. Mengakui pengaruh
Henderson, maka diperluas menjadi 21 masalah keperawatan yang ia percaya
akan berfungsi sebagai dasar pengetahuan untuk pengembangan teori
keperawatan.

2.2 TEORI KEPERAWATAN MENURUT FAYE GLENN ABDELLAH


George (2008) menjelaskan, Dr. Abdellah mendefinisikan keperawatan
sebagai pelayanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Pelayanan ini
sebagai pelayanan komprehensif, yang meliputi:
1. Menyadari masalah keperawatan pasien.
2. Menentukan tindakan yang tepat untuk merawat pasien sesuai prinsip-
prinsip keperawatan yang relevan.
3. Memberikan perawatan yang berkelanjutan kepada individu dengan tingkat
ketergantungan total.
4. Memberikan perawatan yang berlanjutan untuk menghilangkan nyeri dan
ketidaknyamanan dan memberikan rasa keamanan kepada individu.
5. Mengatur rencana perawatan menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan
dasar pasien.
6. Membantu individu untuk menyadari kebutuhan kesehatan dirinya dan
mengarahkan dalam mencapai kesehatanfisik dan psikis.
7. Mengarahkan petugas keperawatan dan keluarga untuk membantu pasien
memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri sesuai dengan keterbatasannya.
8. Membantu individu untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan dan
masalah psikisnya.
9. Bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya dalam merencanakan peningkata
derjat kesehatan yang optimal pada tingkat lokal, daerah, nasional dan
internasional.
10. Melakukan evaluasi dan penelitian yang berkelanjutan untuk meningkatkan
keahlian dalam tindakan keperawatan dan untuk mengembangkan tindakan
keperawatan yang baru, untuk memenuhi semua kebutuhan kesehatan
masyarakat.
*) Pada tahun 1973, point ke-3 Memberikan perawatan yang berkelanjutan
kepada individu dengan tingkat ketergantungan total. Dihilangkan.
i
A. Konsep teori Abdellah dikenal sebagai 21 Tipologi masalah keperawatan,
yaitu:
1. Mempertahankan kebersihan dan kenyamanan fisik yang baik.
2. Mempertahankan aktivitas, latihan fisik, dan tidur yang optimal.
3. Mencegah terjadinya kecelakaan, cedera, atau trauma lain dan mencegah
meluasnya infeksi.
4. Mempertahankan mekanika tubuh yang baik serta mencegah dan
memperbaiki deformitas.
5. Memfasilitasi masukkan oksigen keseluruh sel tubuh.
6. Mempertahankan nutrisi untuk seluruh sel tubuh.
7. Mempertahankan eliminasi.
8. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
9. Mengenali respon-respon fisiologis tubuh terhadap kondisi penyakit
patologis, fisiologis, dan kompensasi.
10. Mempertahankan mekanisme dan fungsi regulasi.
11. Mempertahankan fungsi sensorik.
12. Mengidentifikasi dan menerima ekspresi, perasaan, dan reaksi positif dan
negatif.
13. Mengidentifikasi dan menerima adanya hubungan timbale balik antara
emosi dan penyakit organic.
14. Mempertahankan komunikasi verbal dan non verbal.
15. Memfasilitasi perkembangan hubungan interpersonal yang produktif.
16. Memfasilitasi pencapaian tujuan spiritual personal yang progresif.
17. Menghasilkandan / atau mempertahankan lingkungan yang terapeutik.
18. Memfasilitasi kesadaranakan diri sendiri sebagai individu yang memiliki
kebutuhan fisik, emosi, dan perkembangan yang berbeda.
19. Menerima tujuan optimal yang dapat dicapai sehubungan dengan
keterbatasan fisik dan emosional.
20. Menggunakan sumber-sumber di komunitas sebagai sumber bantuan dalam
mengatasi masalah yang muncul akibat daripenyakit.

i
21. Memahami peran dari masalah sosial sebagai faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam munculnya suatu penyakit. (Tomey and Alligood,
2006)

B. Paradigma Keperawatan Berdasar Teori Abdellah


Tomey and Alligood (2006) membahas asumsi utama teori Abdellah sebagai
berikut:
1. Keperawatan
Keperawatan adalah profesi pelayanan untuk membantu individu atau
memberikan informasi untuk memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan
atau memulihkan kemandirian atau mengurangi kecacatan dengan
menggunakan strategi keperawatan yang merupakan suatu cara berdasarkan
pola pemecahan masalah.
2. Individu
Individu merupakan seseorang yang mempunyai kebutuhan dasar fisik,
emosi, dan sosial. Kemandirian dan kesadaran diri individu untuk memenuhi
kebutuhannya merupakan fokus dari teori Abdellah.
3. Kesehatan
Pada pendekatan keperawatan berpusat pada pasien, kesehatan merupakan
keadaan dimana terpenuhinya semua kebutuhan dasar dan tidak adanya
kecacatan.
4. Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini merupakan membuat atau menyediakan
lingkungan terapeutik. Yang termasuk lingkungan adalah rumah dan
komunitas dimana pasien berasal.

2.3 PENERAPAN MODEL TEORI GLENN FAYE ABDELLAH DALAM


DUNIA KEPERAWATAN
Adapun penerapan teori keperawatan Abdellah, yaitu: Pelayanan
Keperawatan Teori 21 tipologi masalah keperawatan Abdellah membantu
perawat untuk melakukan proses keperawatan secara sistematik. Ini
membantu perawat dalam memahami alasan tindakan yang dilakukan.
Perawat menggunakan teori ini sebagai dasar melakukan pengkajian,
i
membuat diagnosa keperawatan, dan rencana keperawatan sebagai cara
untuk mengatasi masalah pasien berdasar keperawatan yang berpusat pada
pasien (Tomey and Alligood, 2006).

Penerapan teori Abdellah dalam praktek keperawatan sangat dikaitkan


dengan pengaruh yang kuat dengan pendekatan berpusat pada pasien yang
berfokus pada pemecahan masalah pasien. Proses pemecahan masalah
Abdellah meliputi identifikasi masalah, memilih data yang relevan,
merumuskan hipotesis melalui pengumpulan data, dan merevisi hipotesis
berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari data paralel langkah-langkah
dari proses keperawatan penilaian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi (Abdellah dan Levine, 1986; George, 2008).
Pada akhirnya, teori Abdellah membantu perawat berlatih mengatur
administrasi proses keperawatan, strategi keperawatan dan menyediakan
basis ilmiah untuk membuat keputusan. Sebagai doktor yang aktif terlibat
pada keperawatan dan perawatan kesehatan internasional, Abdellah
memberikan kepercayaan untuk penggunaan model dan menganjurkan
menerapkan pengetahuan baru untuk meningkatkan pelayanan keperawatan.
Pendidikan Keperawatan Teori dan konsep Abdellah dikembangkan di tahun
1950 dan merupakan rekor klinis yang komprehensif untuk mahasiswa
keperawatan, dengan menyediakan struktur kurikulum pendidikan
keperawatan. Pendekatan berpusat pada pasien merupakan dasar yang
digunakan pada saat itu untuk model keperawatan.
Teori Abdellah merupakan teori yang paling berpengaruh dibanding teori
lainnya. Teori ini digunakan untuk merubah pola pengajaran berbasis medik
ke pendekatan berpusat apada pasien untuk pendidikan keperawatan (Tomey
and alligood, 2006) Riset Keperawatan Teori 21 tipologi masalah
keperawatan Abdellah merupakan teori yang berbasis riset. Hal ini menjadi
sangat memungkinkan untuk dilanjutkan dengan riset lainnya. Abdellah
sangat percaya bahwa gagasan penelitian keperawatan akan menjadi faktor
kunci dalam membantu perawatan muncul sebagai profesi yang benar.
Penelitian ekstensif dilakukan tentang kebutuhan pasien dan masalahnya

i
telah menjadi landasan untuk pengembangan dari apa yang sekarang dikenal
sebagai diagnosis keperawatan.
Teori Abdellah melahirkan penelitian keperawatan dalam
mengembangkan model keperawatan untuk merencaranakn pola staff
keperawatan di klinik. Pola staff ini yaitu unit perawatan intensif, unit
perawatan intermediate, unit perawatan jangka panjang, unit perawatan
mandiri dan unit perawatan home care. Dengan mengelompokkan pasien
seuai kesamaan kebutuhan, selain dengan kesamaan diagnosa
keperawatannya, pelayanan keperawatan akan dapat memenuhi kebutuhan
pasien dengan baik (Tomey and Alligood, 2006)

B. MODEL KONSEP KEPERAWATAN MENURUT IDA JEAN


ORLANDO
2.4 PERSPEKTIF HISTORI TOKOH KEPERAWATAN IDA JEAN
ORLANDO
Ida Jean Orlando Pelletier lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New
Jersey. Ia telah aktif berkarir sebagai pelaksana , pendidik, peneliti dan
konsultan dalam bidang keperawatan. Pada awal karirnya ia bekerja sebagai
staf keperawatan diberbagai bidang seperti obstetri, perawatan penyakit
dalam dan bedah, serta di ruang emergenci. Ia juga telah menjabat sebagai
suvervisor dan menjabat sebagai asisten dua direktur keperawatan. Ia
diterima di Diploma Keperawatan di New York tahun 1947, medapat gelar
Bachelor of Nursing pada tahun 1951 dari Universitas di Brooklyn New York,
Pada tahun 1954 menerima MA di mental health consultation dari
Universitas Colombia.
Dia lalu pergi ke Yale University sebagai Assosiate Peneliti dan
investigator prinsip pada proyek pembelajaran integrasi konsep kesehatan
mental kedalam basic nursing curriculum. Hal ini dijadikan dasar publikasi
buku pertamanya yang berjudul The Dynamic Nurse-Patient Relationship :
Function, Process and Principles tahun 1961. Pada tahun 1962, Orlando
menikah dengan Robert Pelletier dan pindah ke Massachusetts. Dia menjadi
konsultan perawatan klinis untuk rumah sakit psikiatrik McLean Hospital.
Pada saat di McLean Hospital, dia melakukan penelitian, yang akhirnya
i
penelitian dijadikan dasar publikasi buku keduanya (1972), dengan judul
The Dicipline and Teaching of Nursing Process. Sejak tahun 1972, Orlando
bekerjasama secara berkesinambungan dengan sekolah keperawatan di
Boston University, dia mengajar teori keperawatan dan melakukan supervisi
terhadap lulusan di area klinik. Sepanjang karirnya, Orlando juga aktif di
beberapa organisasi, diantaranya Assosiasi Perawat Massachusetts dan
Harvard Community Health plan. Dia juga mengajar dan menawarkan
whorkshop serta sebagai konsultan di beberapa agensi.
2.5 KONSEP KEPERAWATAN IDA JEAN ORLANDO
Asumsi Orlando terhadap metaparadigma keperawatan hampir seluruhnya
terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan
pendahulunya asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993)
mendapatkan dari tulisan Orlando mengenai empat area yang ditekuninya :
1. Perawat
Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang
didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional
yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat
segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui
kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang
disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku
pasien, reaksi perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk
kebaikan pasien
2. Manusia
Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-
kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya
membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak
dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat
profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong
dirinya dalam memenuhi kebutuhannya.
3. Sehat
Orlando tidak medefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas
dari ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera

i
berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam
memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.
4. Lingkungan
Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang
terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan keduanya
mempersepsikan, berfikir, dan merasakan dan bertindak dalam situasi yang
bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan
therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi
perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.

A. Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan


Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik
antara pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan
saling mempengaruhi. Dan sebagai orang pertama yang mengidentifikasi dan
menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis
penting dari partisipasi pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual
interaksi perawat-pasien sama halnya dengan interaksi antara dua orang .
Ketika perawat menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan
reaksinya dalam merawat pasien, orlando menyebutnya sebagai nursing
procces discipline. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk
melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama
yaitu fungsi perawat profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal
atau kesegaraan, disiplin proses keperawatan serta kemajuan.
1. Tanggung jawab perawat
Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan
untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa
aman ketika dalam medapatkan pengobatan atau dalam pemantauan.
Perawat harus mengetahui kebutuhan pasien untuk membantu
memenuhinya. Perawat harus mengetahui benar peran profesionalnya,
aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara
bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu
pasien. Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas
i
profesional perawat yang dapat dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini
dikurangi agar perawat lebih terfokus pada aktivitas-aktivitas yang benar-
benar menjadi kewenangannya.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan
pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi
segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi
individu pasien , berfikir dan merasakan.

4. Disiplin proses keperawatan


Menurut George (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan
sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap,
apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu,
perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang
harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya
serta untuk melakukan tidakan yang tepat.
5. Kemajuan / peningkatan
Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan
produktif.

B. Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan


Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan
dalam nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau
proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi
perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi
permasalahan klien yang disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk
validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006 hlm 434). Disiplin proses
keperawatan didasarkan pada proses bagaimana seseorang bertindak.
Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan
pasien adalah untuk membantu pemenuhan kebutuhan pasien. Peningkatan
i
perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai hasil
yang diharapkan.
1. Perilaku Pasien Disiplin
Proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien . Seluruh
perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap
sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti pada
pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan
hal ini pada prinsip pertamanya dengan diketahuinya perilaku pasien , atau
tidak diketahuinya yang seharusnya ada hal tersebut menunjukan pasien
membutuhkan suatu batuan. Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal.
Inkonsistensi antara dua perilaku ini dapat dijadikan faktor kesiapan perawat
dalam memenuhi kebutuhan pasien. Perilaku verbal yang menunjukan
perlunya pertolongan seperti keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan
dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku nonverbal misalnya heart rate,
edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan, menghindar kontak mata dan
lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien dapat menjadi indikasi
perlunya bantuan tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan dapat
menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien. Tidak efektifnya
perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-
pasien, ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang
diperlukan perawat, atau reaksi negatif pasien terhadap tindakan perawat.
Penyelesaian masalah tidak efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan.
Reaksi dan tindakan perawat harus dirancang untuk menyelesaikan perilaku
seperti halnya memenuhi kebutuhan yang emergenci
2. Reaksi Perawat
Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini tertidiri dari 3
bagian yaitu pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu
perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai
suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat
berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian
Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir
simultan. Oleh karena itu perawat harus relajar mengidentifikasi setiap
bagian dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi
i
yang menentukan mengana ia berespon demikian. Perawat harus dapat
menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien. Displin proses
keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi reaksinya dengan
pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan penggunaan dalam
hal berbagi beberapa observasi dilakukan dan dieksporasi dengan pasien
adalah penting untuk memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau
mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan
perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu ;
a. Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang dikatakannya
dan mengatakan perilaku nonverbalnya epada pasien
b. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa
yang akan diekspresikannya
c. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk
perbaikan atau klarifikasi.
3. Tindakan Perawat
Setelah mevalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku
pasien, perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan
keperawatan, Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan
oleh perawat dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu
tidakan profesional perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang
sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi
petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan
mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui
tindakan atau kata-katanya. Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu :
tindakan otomatis dan tindakan terencana. Hanya tindakan terencana yang
memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis
dilakukan bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan
pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah ini merupakan kriteria
tindakan keperawatan yang direncanakan:
a. Tindakan merupakan hasil dari indetifikasi kebutuhan pasien dengan
memvalidasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien.

i
b. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk
memenuhi kebituhan pasien.
c. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara
lengkap
d. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan
pasien ketika melakukan tindakan. Tindakan otomatis tidak akan memenuhi
kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis tindakan rutinitas,
melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara
umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi reaksi perawat
4. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam
menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak
adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa
aktivitas termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk
mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan pasien. Disiplin proses keperawatan
adalah serangkaian tindakan dengan suatu perilaku pasien yang
membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku pasien
dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membagi aspek
reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan
nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi
reaksi sebagai dirinya sendiri, dan perawat mengunjungi pasien untuk
memvalidasi reaksinya. Membagi reaksinya oleh perawat membantu pasien
untuk menggunakan proses yang sama agar lebih efektif perlu
komunikasinya. Selajutnya tidakan yang sesuai untuk menyelesaikan
kebutuhan adalah saling menguntungkan anatar pasien dan perawat. Setelah
perawat bertindak , perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya
berhasil interaksi. Secara keseluruhan interaksi, perawat meyakinkan bahwa
perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan
reaksinya terhadap pasien.

2.6 PENERAPAN MODEL KEPERAWATAN IDA JEAN ORLANDO


Perbandingan Disiplin Proses Keperawatan Orlando dengan Proses
Keperawatan Sebenarnya pada umumnya kedua proses tersebut memiliki
i
karakteristik yang sama, sebagai contoh keduanya bersifat interpersonal dan
membutuhkan interaksi antara pasien dan perawat. Kedua proses tersebut
juga melihat pasien sebagai total person/individu secara keseluruhan,
termasuk proses penyakit atau bagian bagian tubuh. Orlando tidak
menggunakan istilah holistic namun dia mendeskripsikannya dengan
menggunakan pendekatan holistik.
Ada beberapa perbedaan antara disiplin proses keperawatan Orlando
dengan proses keperawatan, antara lain :
A. Assesment
1. Tahap pengkajian pada proses keperawatan sesuai dengan reaksi perawat
terhadap perilaku pasien pada disiplin proses Orlando. Perilaku pasien
merupakan inisiasi untuk melakukan pengkajian
2. Pengumpulan data menurut Orlando hanya meliputi informasi yang relevan
untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien yang perlu dibantu
3. Orlando mendefinisikan observasi sebagai beberapa informasi yang
menyangkut pasien dimana perawat memperolehnya ketika dia melakukan
pekerjannya
4. Reaksi perawat dari disiplin proses Orlando merupakan beberapa komponen
untuk menganalisa proses keperawatan
5. Produk dari analisis terhadap proses keperawatan disebut sebagai diagnosa
keperawatan. Eksplorasi reaksi perawat dengan pasien dari disiplin proses
Orlando mengarahkan pada proses identifikasi kebutuhan perawat untuk
membantu pasien
6. Orlando sepakat dengan interaksi antara perawat pasien secara langsung ;
hanya satu kebutuhan pada satu waktu
B. Planning
1. Tahap planning/perencanaan pada proses keperawatan meliputi penulisan
tujuan dan sasaran serta memutuskan tindakan keperawatan yang sesuai
2. Tujuan perencanaan Orlando selalu berusaha untuk mengurangi atau
menurunkan kebutuhan pasien untuk minta bantuan : sasaran berkaitan
dengan usaha peningkatan perilaku pasien

i
3. Pada Proses keperawatan, partisipasi terjadi paling banyak pada penyusunan
tujuan, sedangkan proses disiplin Orlando melihat pasien sebagai partisipan
aktif untuk menentukan tindakan keperawatan yang aktual
C. Implementation
1. Implementasi meliputi seleksi akhir dan melaksanakan rencana tindakan.
Merupakan tahap reaksi perawat dari disiplin proses Orlando
2. Proses keperawatan mengharapkan perawat untuk mempertimbangkan
semua dampak yang mungkin terjadi atas tindakan terhadap pasien,
sedangkan disiplin proses Orlando hanya berkaitan dengan efektifitas suatu
tindakan untuk mengurangi kebutuhan pertolongan secara langsung
D. Evaluation
Evaluasi pada kedua proses berdasar pada kriteria objective. Pada
proses keperawatan, evaluasi menanyakan apakah ditemukan perubahan
tingkah laku secara objective, namun pada disiplin proses Orlando perawat
mengobservasi perilaku pasien untuk melihat apakah pasien tersebut butuh
untuk dibantu Kegagalan didalam mengevaluasi dapat menyebabkan
tindakan yang inefektif seperti kegagalan dalam menemukan kebutuhan
pasien dan meningkatkan biaya serta bahan perawatan

i
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk
memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di
dalamnya. Model konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi
organisasi dimana perawat mendapatkan informasi agar mereka peka
terhadap apa yang terjadi pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu
saat juga dan tahu apa yang harus perawat kerjakan. Teori keperawatan
digunakan sebagai dasar dalam menyusun suatu model konsep dalam
keperawatan,dan model konsep keperawatan digunakan dalam menentukan
model praktek keperawatan.

3.2 SARAN
Dalam penyusunan makalah sebaiknya mahasiswa menggunakan
minimal tiga literatur untuk menghasilkan makalah yang isinya lengkap dan

i
sebaiknya perlu ditambahkan lagi buku-buku kesehatan lainnya yang belum
tersedia di perpustakaan untuk menunjang penyelesaian tugas mahasiswa.
Diposkan oleh maria sandry di 20.18

DEFINISI :

Model : gambr Deskriftif dr sebuah praktik yg bermutu yg mewakili sesuatu yang


nyata.

Ada tiga komponen dasar dari praktek :

1. Keyakinan dan nilai yang mendasari sebuah model.


2. Tujuan praktek. memberian pelayanan sesuai kebutuhan klien
3. Pengetahuan dan ketrampilan.-ut mengembangkan upaya tercapai tujuan

Macam macam Model Konseptual (MK) keperawatan antara lain :

1. MK Florence Nightingale`s ( 1859)Environmental Model.


2. MK H.E Peplau ( 1952 )Interpersonal Relation in Nursing Model
3. MK Virginia Hederson ( 1966)Need Based Model
4. MK I.J Orlando ( 1972)The Dynamic Nurse-Patient Relationship .
5. MK Madeleine Leinenger ( 1978)Cultural Care Theory
6. Mk Jean Watson ( 1979) Theory of Nursing
7. MK Nola Pender ( 1982)Health Promotion Model
8. MK Martha Rogers ( 1970)The Science of Unitary Human Beings
9. MK Dorothea Orem ( 1971)Self Care Model
10. 10 MK Imogene M. King`s (1971) Model Sistem
11. 11 .MK Betty Neuman ( 1972 )Health Care System Model
12. 12 .MK Sr. Callista Roy ( 1976)Adaptation Model or Nursing
13. 13. MK Dorothy Johnson (1968)Model Sistem Tingkah Laku

Diantara model-model yang paling besar aplikasinya pada perawatan kesehatan


masyarakat adalah : Model Orem, King, Roy, Neuman,Roger dan Jonhson

MODEL KONSEPTUAL DOROTHEA

OREM ( SELF CARE MODEL)

Model perawatan diri sendiri / self care tdr dr aktivitas dimana seorang individu
melakukan sesuatu utk dirinya dlm mempertahankan hidup, kesehatan dan
kesejahteraan.

Kebutuhan dasar menurut

i
Orem :

1. Pemeliharaan dengan cukup pengambilan udara, 2 air, 3 Makanan

1. Pemeliharaan proses eliminasi


2. Pemeliharaan dengan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
3. ____sda______ antara kesendirian dengan interaksi sosial
4. Pencegahan resiko pd kehidupan mns dan keadaan sehat manusia
5. Perkembangan dlm klp sosial sesuai dgn potensi, pengtahuan dan keinginan

Jika permintaan Pelayanan diri lebih besar dibandingkan dengan fasilitas pelayanan
diri, maka akan timbul deficit pelayanan diri

Ada tiga macam kebutuhan self care :

1. Universalself care utk kebut. Fisiologis dan psikososial.


2. Developmental self care utk pemenuhan kebut. Perkembangannya
3. Health Deviationself care yg dibutuhkan saat individu mengalami
penyimpangan dari keadaan sehat

Kategori bantuan self care adalah :

1. Wholly CompensatoryBantuan scr keseluruhan bagi klien .


2. Partially CompensatoryBantuan sebagian yg dibutuhkan klien
3. Supportive Educative-Dukungan pendidian kesehatan.

MODEL KONSEPTUAL IMOGENE M. KING ( SYSTEM MODEL)

o Komunitas mrp suatu sistem yg terdiri dari sub sistem keluarga dan supra
sistemnya adalah sistem sosial yang lebih luas .

o Klg sebagai sub sistem komunitas mrp sistem terbuka dimana tjd hub. Timbal
balik antara klg dgn komunitas, yg sekaligus sebagai umpan balik.

o KingKerangka kerja konseptualnya terdiri dari tiga Sub Sistem :

i
1. Sistem Personal Tdr atas konsep mengenai persepsi dirinya, pertumbuhan
& Perkembangan, body image, jarak dan waktu.

2. Sistem InterpersonalMengenai interaksi mns, masy., transaksi, peran


dan stress.

3. Sistem Sosial -Organisasi, otoritas, kekuatan, status & pembuatan


keputusan

o Tujuan akhir perawatan (King`1981) manusia berinteraksi dgn lingk. Yg


mengantarkan pd suatu eadaan sehat bagi individu yg memiliki kemampuan ut
berfungsi didlm peran-peran sosial

MODEL KONSEPTUAL CALLISTA

ROY (ADAPTATION MODEL )

Adl Bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatan dgn cara


mempertahankan perilaku adaptif dan mengubah perilaku mal adaptif.

Empat cara mengefektifkan adaptasi adalah (1) kebutuhan fisiologis, (2) konsep
diri, (3) fungsi peran dan (4) saling ketergantungan .

Proses keperawatan tdr dr : pengkajian tingkat pertama, dan kedua, identifikasi


masalah, diagnosa keperawatan, menyusun prioritas, menetapkan tujuan,
intervensi dan evaluasi.(Roy, 1984)

Pengkajian tingkat pertama : tingkah laku klien pd tiap tiap cara adaptif
diobservasi dan diuraikan

Pengkajian tingkat kedua : perawat mengidentifikasi faktor faktor fokal,


kontekstual dan residual yang mempengaruhi tingah laku klien

Rangsangan Fokal menimbulkan situasi seperti stress, perlukaan atau kesakitan


yang mengenai individu

Rangsangan Kontekstual faktor lain yang ada seperti pergaulan keluarga atau
lingkungan keluarga.

Rangsangan Residual faktor yg mempengaruhi yg berasal dari latar belakang


klien ;kepercayaan, sikap, pengalaman dan pembawaan .

Kekuatan dari model ini adalah :

1. Kebanyakan dari terminologi sudah dikenal


2. Proses perawatan serupa dgn standart dr pengkajian s.d. evaluasi
3. fokusnya pada tingkah laku yang adaptaif
4. Ditekankan pada pengkajian thd kebutuhan psikososial
i
5. Sudah diterapkan dalam praktik, pendidikan dan riset.

Kekurangan dari model ini adalah :

1. Jenis adaptasi yang tumpang tindih ( konsep diri,fungsi peran saling


ketergantungan)

2. Penentuan tingkah laku adaptif dan mal adaptif sangat ditentukan oleh sistem
nilai yang ada.

MODEL KONSEPTUAL BETTY NEUMAN (HEALTH CARE SISTEM


MODEL )

NUEMAN memberikan penekanan pada penurunan stress dgn cara memperkuat


garis pertahanan diri yang bersifat fleksibel; normal dan resisten

Sehat adl Suatu keseimbangan bio-psiko-sosio kultural dan spritual pada tiga
garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten

Askep ditujukan untuk mempertahanan keseimbangan tersebut dengan fokus pada


empat intervensi yaitu : Intervensi yang bersifat promosi, prevensi, kuratif dan
rehabilitatif.

MODEL KONSEPTUAL IMOGENE M. KING ( SYSTEM MODEL)

o Komunitas mrp suatu sistem yg terdiri dari sub sistem keluarga dan supra
sistemnya adalah sistem sosial yang lebih luas .

o Klg sebagai sub sistem komunitas mrp sistem terbuka dimana tjd hub. Timbal
balik antara klg dgn komunitas, yg sekaligus sebagai umpan balik.

o KingKerangka kerja konseptualnya terdiri dari tiga Sub Sistem :

1. Sistem Personal Tdr atas konsep mengenai persepsi dirinya, pertumbuhan


& Perkembangan, body image, jarak dan waktu.

2. Sistem InterpersonalMengenai interaksi mns, masy., transaksi, peran


dan stress.

3. Sistem Sosial -Organisasi, otoritas, kekuatan, status & pembuatan


keputusan

o Tujuan akhir perawatan (King`1981) manusia berinteraksi dgn lingk. Yg


mengantarkan pd suatu eadaan sehat bagi individu yg memiliki kemampuan ut
berfungsi didlm peran-peran sosial

MODEL KONSEPTUAL CALLISTA

i
ROY (ADAPTATION MODEL )

Adl Bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatan dgn cara


mempertahankan perilaku adaptif dan mengubah perilaku mal adaptif.

Empat cara mengefektifkan adaptasi adalah (1) kebutuhan fisiologis, (2) konsep
diri, (3) fungsi peran dan (4) saling ketergantungan .

Proses keperawatan tdr dr : pengkajian tingkat pertama, dan kedua, identifikasi


masalah, diagnosa keperawatan, menyusun prioritas, menetapkan tujuan,
intervensi dan evaluasi.(Roy, 1984)

Pengkajian tingkat pertama : tingkah laku klien pd tiap tiap cara adaptif
diobservasi dan diuraikan

Pengkajian tingkat kedua : perawat mengidentifikasi faktor faktor fokal,


kontekstual dan residual yang mempengaruhi tingah laku klien

Rangsangan Fokal menimbulkan situasi seperti stress, perlukaan atau kesakitan


yang mengenai individu

Rangsangan Kontekstual faktor lain yang ada seperti pergaulan keluarga atau
lingkungan keluarga.

Rangsangan Residual faktor yg mempengaruhi yg berasal dari latar belakang


klien ;kepercayaan, sikap, pengalaman dan pembawaan .

Kekuatan dari model ini adalah :

1. Kebanyakan dari terminologi sudah dikenal

2. Proses perawatan serupa dgn standart dari pengkajian s.d. evaluasi

3. Fokusnya pada tingkah laku yang adaptif

4. Ditekankan pada pengkajian thd kebutuhan psikososial

5. Sudah diterapkan dalam praktik, pendidikan dan riset.

Kekurangan dari model ini adalah :

1. Jenis adaptasi yang tumpang tindih ( konsep diri, fungsi peran saling
ketergantungan)

2. Penentuan tingkah laku adaptif dan mal adaptif sangat ditentukan oleh sistem
nilai yg ada.

MODEL KONSEPTUAL BETTY NEUMAN (HEALTH CARE SISTEM )


i
NUEMAN memberikan penekanan pada penurunan stress dgn cara memperkuat
garis pertahanan diri yang bersifat fleksibel; normal dan resisten

Sehat adl Suatu keseimbangan bio-psiko-sosio kultural dan spritual pada tiga
garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten

Askep ditujukan untuk mempertahanan keseimbangan tersebut dengan fokus pada


empat intervensi yaitu : Intervensi yang bersifat promosi, prevensi, kuratif dan
rehabilitatif.

MODEL KONSEPTUAL MARTHA ROGERS (MANUSIA SBG


UNIT/KESATUAN MODEL )

Mns mrp satu kesatuan yg utuh yg memiliki sifat dan karakter yang berbeda.

Mns selalu berinteraksi dgn lingk. Yg saling memepengaruhi dan dipengaruhi, yg


berbeda antara individu satu dgn yg lain.

Proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yg tdr dr Integritas


/ mns dgn lingk mrp satu kesatuan , Resonansi / mns dgn lingk seirama yg
bervariasi, Helicy / interaksi mns dgn lingk akan tyerjadi perubahan baik scr
perlahan maupun cepat.

Pengkajian keluarga meliputi kategori : sub sistem individu, pola interaksi,


karakteristik unik dari keseluruhan dan kesesuaian antar lingkungan.

Kekuatan model ini adalah

1. Penekanan pada konteks total dr jagat raya

2. Penekanan pd efek lingk thd kesh. Seseorang

MODEL DOROTHY JONHSON (MODEL TINGKAH LAKU )

Seseorang dpt dipandang sbg sebuah sistem tingkah laku seperti tubuh manusia
dipandang sbg sebuah sistem biologis

Sistem tingkah laku tdr dr tujuh subsistem ;

(1) Pencapaian, mrp tingkat pencapaian prestasi melalui ketrampilan yang


kreatif

(2) Perhubungan(afiliasi), pencapaian hubungan dengan lingk yang adekuat

(3) Penyerangan(agresi), Koping terhadap ancaman di lingkungan

(4) Ketergantungan, sistem perilaku dlm medap[atkan bantuan, kedamaian,


keamanan serta kepercayaan
i
(5) Eliminasi,pengeluaran sampah yg tdk berguna scr biologis

(6) Ingesti, sumber dlm memelihara integritas serta mencapai kesenangan


pencapaian pengakuan lingk.

(7) Seksualitas, pemenuhan kebt. Dicintai dan mencintai

Tujuan tindk kepertUtk memperbaiki, mempertahankan, atau mencapai


keseimbangan dan stabilitas sistem tingkah laku pd tingkatan setinggi mungkin
pada individu.

Variabel yg perlu diidentifikasi dari ketidakadekuatan tingkah laku a.l:

1. Insuffisiensi ( ketidakcukupan)-menandakan sub sistem tidak berFX

2. DisCrepancy ( Ketidaksesuaian) TL tdk mencapai tu7an yg ditetapkan

3. InCompatibilitas (ketidakcocokan)TL dari dua subsistem terjadi konflik

4. Dominance ( kekuasaan)TL pd subsistem digunakan lebih banyak dari


sub sistem yg lain.

Empat cara intervensi keperawatan agar TL adekuat :

1. Membatasi atau memberi batasan TL

2. Mempertahankan atau melindungi dari stressor negatif

3. Menghambat atau menekan respons yd tdk efektif

4. Memudahkan atau memberi pemeliharaan dan rangsangan

Untuk mendapatkan materi diatas silahkan klik Disini

i
http://www.slideshare.net/SandeepKumar1089/fundamentals-of-nursing-eighth-
edition-patricia-a-potter-perry-49319481

Anda mungkin juga menyukai