Anda di halaman 1dari 14

Latifah Oktaviai Hidayat

1502015244
5B Akuntansi

Contoh Wajar Tanpa Pengecualian

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.

Opini
Menurut opini kami, laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan PT Unilever Indonesia Tbk tanggal 31 Desember 2016, serta
kinerja keuangan dan arus kasnya untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Contoh Wajar Dengan Pengecualian (Pemilihan Kebijakan Akuntansi yang Tidak
Tepat)

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.
Dasar opini dengan pengecualian
Seperti dijelaskan dalam Catatan 2i atas laporan keuangan, perusahaan tidak menyusutkan
asset tetap dalam laporan keuangannya. Hal tersebut, menurut opini kami, tidak sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Beban penyusutan untuk tahun yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2016, berjumlah Rp 30,500,000, berdasarkan penyusutan dengan garis
lurus, dengan penyusutan tahunan 5% untuk gedung dan 20% untuk peralatan.
Karena itu, asset tetap harus dikurangi dengan akumulasi penyusutan sebesar Rp 31,500,000,
dan kerugian dalam tahun berjalan dan akumulasi defisit, masing-masing, harus bertamah
sebesar Rp 12,250,000.
Opini wajar dengan kualifikasi
Menurut opini kami, kecuali untuk dampak yang diakibatkan oleh hal yang dijelaskan dalam
alinea Dasar Opini dengan Pengecualian, laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, posisi kuangan PT Unilever Indonesia Tbk pada tanggal 31 Desember
2016, dan hasil usahanya dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Contoh Wajar Dengan Pengecualian (Kurangnya Pengungkapan Mengenai Instrumen
Keuangan)

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.
Dasar opini dengan pengecualian
Pada tanggal 15 Januari 2016, Perusahaan menerbitkan obligasi sebesar Rp 40,500,000 untuk
pendanaan perluasan pabrik. Ketentuan dalam perjanjian obligasi membatasi pembayaran
dividen tunai sesudah 31 Desember 2016. Menurut opini kami, pengungkapan itu diharuskan
menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Opini wajar dengan kualifikasi
Menurut opini kami, kecuali untuk dampak yang diakibatkan oleh hal yang dijelaskan dalam
alinea Dasar Opini dengan Pengecualian, posisi keuangan PT Unilever Indonesia Tbk pada
tanggal 31 Desember 2016, dan hasil usahanya dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada
tanggal tersebut, sesuai Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Contoh Tidak Wajar (Laporan Anak Perusahaan Tidak Dikonsolidasikan)

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.
Dasar opini tidak wajar
Seperti dijelaskan dalam Catatan 36 atas laporan keuangan, perusahaan tidak
mengkonsolidasikan laporan keuangan PT XYZ Company yang diakuisisinya dalam tahun
selama 2015, karena perusahaan belum dapat memastikan nilai wajar yang bersifat material
dari asset dan liabilitas anak perusahaan pada tanggal akuisisi. Investasi ini dicatat dengan cost
basis. Menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, laporan anak perusahaan harus
dikonsolidasi, karena dikendlikan perusahaan. Jika seandainya PT XYZ Company
dikonsolidasi, banyak unsur laporan kauangan terlampir yang dipengaruhi secara material.
Dampak tidak dilakukannya konsolidasi belum dapat ditentukan.
Opini tidak wajar
Menurut opini kami, kecuali untuk dampak yang signifikan dari hal yang dijelaskan dalam
alinea Dasar Opini Tidak Wajar, laporan keuangan konsolidasi tidak menyajikan secara wajar
kondisi keuangan PT Unilever Indonesia Tbk dan anak-anak perusahaannya pada tanggal 31
Desember 2016, dan hasil usahanya dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut, sesuai Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Contoh Tidak Wajar (Pengungkapan yang Tidak Cukup Mengenai Ketidakpastian yang
Material)

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.
Dasar opini tidak wajar
Perjanjian pinjaman yang ditandatangani perusahaan telah berakhir dan jumlah utang harus
dibayar pada tanggal 31 Desember 2016. Perusahaan tidak berhasil menegosiasi ulang
perjanjian tersebut atau memperoleh sumber pendanaan lain dan mempertimbangkan untuk
mendaftarkan kepailitan di pengadilan. Peristiwa ini mengindikasikan ketidakpastian yang
material yang menimbulkan keraguan yang signifikan terhadap kemampuan perusahaan untuk
beroperasi sebagai usaha berkelanjutan (going concern), dan karena itu perusahaan tidak akan
dapat merealisasi asetnya dan menyelesaikan kewajibannya seperti dalam keadaan usaha yang
normal. Laporan keuangan (dan catatan atas laporan keuangan) tidak mengungkapkan fakta
ini.
Opini tidak wajar
Menurut opini kami, karena tidak disampaikannya informasi yang dijelaskan dalam alinea
Dasar Opini Tidak Wajar, laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar kondisi keuangan
PT Unilever Indonesia Tbk pada tanggal 31 Desember 2016, dan hasil usahanya dan arus kas
untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai Standar Akuntansi Keuangan di
Indonesia.
Contoh Wajar Dengan Pengecualian (Pembatasan Lingkup, Tidak Dapat Mengamati
Penghitungan Persediaan)

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.
Dasar opini dengan pengecualian
Kami tidak mengamati penghitungan fisik persediaan, karena sebelum tanggal perhitungan
persediaan kami belum ditunjuk sebagai auditor. Kami juga tidak dapat mengetahui kuantitass
persediaan pada tanggal neraca dengan menggunakan prosedur audit lainnya. Oleh karena itu,
kami tidak dapat menentukan apakah diperlukan penyesuaian dalam persediaan, dan angka-
angka di dalam laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.
Opini wajar dengan kualifikasi
Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak yang diakibatkan oleh hal yang dijelaskan
dalam alinea Dasar Opini dengan Pengecualian, posisi keuangan PT Unilever Indonesia Tbk
pada tanggal 31 Desember 2016, dan hasil usahanya dan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, sesuai Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
Contoh Tidak Memberi Pendapat (Pembatasan Lingkup, Manajemen Membatasi
Lingkup Pekerjaan Audit)

Lapran Auditor Independen


No.: L. 16 0564 17/III.17.001
Para Pemegang Saham,
Komisaris dan Direksi
PT Unilever Indonesia Tbk:
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk terlampir, yang terdiri dari
laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2016, serta laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir
pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi
penjelasan lainnya.
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar lapran keuangan trsebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang
dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan.
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut
berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian
material.
Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-
angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang
relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan
opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup
pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk
menyediakan suatu basis bagi opini audit kami.
Dasar tidak memberikan opini
Kami tidak dapat mengamati perhitungan fisik persediaan dan tidak meminta konfirmasi
piutang dagang karena pembatasan atas lingkup pekerjaan kami oleh perusahaan. Kami tidak
dapat menentukan kuantitas persediaan dan jumlah piutang dagang pada tanggal 31 Desember
2016, yang disajikan dalam neraca, masing-masing dengan jumlah Rp 2,843,580 dan Rp
5,766,529.
Oleh karena itu, kami tidak dapat menentukan apakah diperlukan penyesuaian dalam
persediaan dan piutang dagang, dan unsur-unsur lain dalam laporan laba-rugi, laporan
perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.
Tidak memberikan opini
Karena signifikannya hal yang dijelaskan dalam alinea Dasar Tidak Memberikan Pendapat,
kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tegas sebagai dasar pemberian opini
audit. Oleh karenanya, kami tidak memberikan opini atas laporan keuangan.