Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan medikal bedah 2
Dosen pengampu : Gipta Galih W., S.Kp., M.Kep., Sp.KMB

Disusun oleh kelompok 13


Anggota kelompok :
1. Baiq lia Suhayati (010115A022)
2. Krisna wardani (010115A065)
3. Kurnia Altiwi (010115A066)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO UNGARAN
2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, karena
berkat rahmat Nya laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini dapat terselesaikan
sesuai dengan yang diharapkan.

Dalam laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini akan dibahas tentang
Benigna Prostat Hiperplasia , guna untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa dan
pembaca lainya.

Selama proses pembuatan laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini,


tentunya penulis mendapatkan bimbingan serta saran, untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Gipta Galih W., S.Kp., M.Kep., Sp.KMB . selaku dosen mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2, sera kepada semua pihak yang telah memberikan
saran dalam penyusun laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini.

Penulis berharap dengan adanya laporan pendahuluan ini maupun memberikan


manfaat dan pengetahuan lebih bagi pihak maupun yang membacanya. Seperti kata
pepatah tak ada gading yang tak retak. Sama hal nya dengan laporan pendahuluan
sederhana ini yang masih banyak kekurangan. Untuk itu guna memperbaikinya, sangat
dibutuhkan kritik dan aran generasi mendatang yang lebih baik.

Ungaran, 20 Maret 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hiperplasia prostat jinak adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa
majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral
sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang
tersisa. ( Price, 2005 )
Hiperplasia prostat benigna adalah perbesaran atau hipertrofi prostat, kelenjar
prostat membesar, memanjang kearah depan kedalam kandung kemih dan
menyumbat aliran keluar urine dapat mengakibatkan hidronefrosis dan hidroureter. (
Brunner & Suddarth, 2000 )
Hiperplasia prostat benigna adalah pembesaran prostat yang mengenai uretra,
menyebabkan gejala urinaria dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari
bulu-buli. ( Nursalam, 2006 )
Hiperplasia prostat benigna adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretra
mengalami hiperplasia sedangkan jaringan prostat asli terdesak ke perifer menjadi
kapsul bedah.
Dari beberapa definisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa hiperplasia
prostat benigna adalah perbesaran atau hipertrofi prostat, kelenjar prostat membesar,
memanjang kearah depan kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar
urine sehingga menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan
aliran urinarius.
B. TUJUAN
Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai benigna prostat
hiperplasia dan dapat membantu mahasiswa mendapatkan gambaran secara nyata
dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada benigna prostat hiperplasia.

C. MANFAAT
Dengan dibuatnya laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan
mengenai benigna prostat hiperplasia ini diharapkan mahasiswa dan siapapun
yang membacanya dapat mengetahui dan meminimalisir terjadinya benigna
prostat hiperplasia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Hiperplasia prostat beningna (benign prostatic hyperplasia, BPH) adalah
pembesaran atau hipertrofi, kelenjar prostat. Kelenjar prostat membesar, meluas
ke atas menuju kandung kemih dan menghambat aliran keluar urine.berkemih
yang tidak lampias dan retensi urine yang memicu stasis urine dapat menyebabkan
hidronefrosis, hidroureter, dan infeksi saluran kemih, penyebab gangguan ini
tidak dipahami dengan baik, tetapi bukti menunjukkan adanya pengaruh
hormonal. BPH sering terjadi pada pria berusia lebih dari 40 tahun.(Brunner &
Suddarth, 2014)
Hiperplasia prostat jinak adalah pertumbuhan nodul-nodul
fibroadenomatosa majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai bagian
periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar
normal yang tersisa (Price, 2005)
B. ETIOLOGI
Menurut Alam tahun 2004 penyebab pembesaran kelenjar prostat belum
diketahui secara pasti, tetapi hingga saat ini dianggap berhubungan dengan proses
penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron.
Para ahli berpendapat bahwa dihidrotosteron yang memacu pertumbuhan prostat
seperti yang terjadi pada masa purbetas adalah penyebab terjadinya pembesaran
kelenjar prostat.
Hal ini yang dikaitkan dengan gangguan ini adalah stres kronis, pola
makan tinggi lemak, tidak aktif olahraga dan seksual. Selain itu testis
menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang secara keseluruhan dinamakan
androgen. Testosteron sebagian besar dikonvrensikan oleh enzim 5-alfa reduktase
menjadi dihidrotesteron yang lebih aktif secara fisiologis di jaringan sasaran
sebagai pengatur fungsi ereksi.
Tugas lain dari testosteron adalah pemicu libido, pertumbuhan otot dan
mengatur deposit kalsium di tulang. Penurunan kadar testosteron telah diketahui
sebagai penyebab dari penurunan libida, masa otot, melemahnya otot pada organ
seksual dan kesulitan ereksi. Selain itu ladar testosteron yang rendah juga dapat
menyebabkan masalah lain yang tidak segera terlihat, yaitu pembesaran kelenjar
prostat.
Dalam keadaan stres, tubuh memproduksi lebih banyak steroid stres
(kartisol) yang dapat menggeser produksi DHEA (dehidroepianandosteron).
DHEA berfungsi mempertahankan kadar hormon seks normal, termasuk
testosteron. Stres kronis menyebabkan penuaan dini dan penurunan fungsi testis
pria. Kolesterol tinggi juga dapat menganggu keseimbangan hormonal dan
menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
Faktor lain adalah nikotin dan konitin (produk pemecah nikotin) yang
meningkatkan aktivitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan
penurunan kadar testosteron. Begitu pula toksin lingkungan ( atau zat kimia yang
banyak digunakan sebagai pestisida, deterjen atau limbah pabrik) dapat merusak
fungsi reproduksi pria.
C. PATOFISIOLOGI
Menurut Purnomo 2011 pembesaran prostat menyebabkan penyempitan
lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan
peningkatan tekanan intravesikal. Untuk mengeluarkan urine, buli-buli harus
berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus
ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan
struktur pada bulu-buli tersebut, oleh pasien disarankan sebagai keluhkan pada
saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang
dahulu dikenal dengan gejala prostatismus.
Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian bulibuli
tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini
dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks
vesiko ureter. Keadaan keadaan ini jIka berlangsung terus akan mengakibatkan
hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.
Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya
disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior, tetapi
juga disebabkan oleh tonus otot polos yang pada stroma prostat, kapsul prostat,
dan otot polos pada leher buli-buli. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis
yang berasal dari nervus pudendus.
Menurut Mansjoer tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secaraperlahan-
lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan.
Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli
dan daerah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan merenggang
sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase
kompensasi.
Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio
urin yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran
kemih atas.
D. PATHWAY

Faktor usia Trauma berulang Perubahan hormonal

Perubahan mikroskopik Hiperplasia jaringan peyangga


pada prostat
Stroma dan grandurel pada prostat

Pembesaran prostat

Lobus yang hipertropi menyumbat


kolom vesikal atau uretra prostatik

Retensi urin atau pengosongan urin inkomplit

Retensi urin pada leher buli-buli prostat

Timbul sakulasi atau divertikel

Lama kelamaan otot detrusor menjadi


lelah dan mengalami dekompensasi

Tidak mampu berkontraksi

Terjadi dilatasi ureter Disgfungsi saluran kemih atas


Retensi urin

Disuria Sering berkemih,


Keinginan miksi
mendesak
Nyeri akut

Inkontinensia
urinarius
fungsional

- Kalau berkemih harus menunggu lama


- Kencing terputus-putus
Gangguan eliminasi urine - Berkemih pada malam hari
- Merasa tidak puas setelah berkemih
- Urin terus menetes setelah berkemih
- Kurangnya pancaran urin
E. MANIFESTASI KLINIS
a) Prostat besar, seperti karet, dan tidak lunak (nontender). Prostatisme
(kompleks gejala obstruktif dan iritatif) terlihat.
b) Keraguan dalam memulai berkemih, peningkatan frekuensi berkemih,
nokturia urgensi, mengejan.
c) Penurunan volume dan kekuatan aliran urine, gangguan aliran urine, urine
menetes.
d) Sensasi berkemih yang tidak lampias, retensi urine akut (lebih dari 60mL),
dan UTI berulang.
e) Keletihan, anoreksia, mual dan muntah, serta ketidaknyamanan pada panggul
juga dilaporkan terjadi, dan pada akhirnya terjadi azotemia dan gagal gijal
akibat retensi urine kronis dan volume residu yang besar.
F. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Medis
Rencana terapi tergantung pada penyebab, tingkat keparahan obstruksi dan
kondisi pasien. Terapi meliputi :
Segera melakukan kateterisasi jika pasien tidak dapat berkemih (
konsultasikan dengan alih urologi jika kateter biasa tidak dapat
dimasukkan). Kistostomi suprapubik terkadang diperlukan.
Menunggu dengan penuh waspada untuk perkembangan penyakit.
b. Penatalaksanaan Farmakologi
Penyakit alfa-adrenergik (misalnya: alfuzosin, terazosin), yang
merelaksasi otot polos leher kandung kemih dan prostat, dan penyekat
5 alfa reduktase.
Manipulasi hormonal dengan agens antiandrogen mengurangi ukuran
prostat dan mencegah pengubahan testosteron menjadi
dehidrotestosteron (DHT).
Penggunaan agens fitoterapiutik dan suplemen diet lain (serenoa
repens dan pygeum africanum) tidak direkomendasikan, meskipun
biasa digunakan.
c. Penatalaksanaan Bedah
Gunakan terapi invasif
Reseksi bedah
G. KOMPLIKASI
1. Retensi urine akut dan involusi kontraksi kandung kemih
2. Refluks kandung kemih, hidroureter dan hidronefrosis
3. Gross hematuria dan urinary tract infection (UTI)
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopik urine penting untuk melihat
adanya sel leukosit, dan infeksi. Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah
merupakan informasi dasar dari fungsi ginjal dam fungsi metabolik. Pemeriksaan
prostase spesific antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya
biopsy atau sebagai deteksi dini keganasan.
2. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen, pielografi
intravena, USG dan sistoskopi. Tujuan pemeriksaan pencitraan ini adalah untuk
memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume
residu urine. Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius,
pembesaran ginjal dan buli-buli. Dari pielografi intravena dapat dilihat supresi
komplit dari fungsi renal,hidroneofrosis dan hidroureter.
3. Pemeriksaan uroflowmetri dan colok dubur
a. Uroflowmetri
Untuk mengetahui derajat obstruksi, yaitu dengan mengukur pancaran
urine pada waktu miksi. Kecepatan aliran urine dipengaruhi oleh kekuatan
kontraksi detrusor, tekanan intra buli-buli, dan tahanan uretra.
b. Colok dubur
Pada perabaan colok dubur, harus diperhatikan konsistensi prostat
(biasanya kenyal), adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas
teraba (Mansjoer, 2000, hal 332)
I. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN BPH
1. Pengkajian
a. Identitas
Identitas klien, meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, suku, No. RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian,
diagnosa medis.
Identitas penanggung jawab, meliputi : Nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien, alamat,
b. Riwayat penyakit
Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri saat BAK. Nyeri seperti tertusuk- tusuk,
skala nyeri 6, nyeri terasa terus-menerus.
Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan 1 minggu yang lalu mengeluh nyeri pada saat
BAK.
c. Pola fungsional
Pola aktivitas latihan
Sebelum sakit : Klien mengatakan mampu melakukan aktivitas secara
mandiri seperti : makan, minum, mandi, berpakaian, toileting.
Selama sakit : Klien mengatakan aktivitas dibantu oleh keluarga dari
makan, minum, mandi, toileting, berpakaian, mobilitas, ROM.
2. Pemeriksaan fisik
a. TTV : Meliputi TD, RR, Nadi, Suhu.
b. Abdomen
I : Tampak warna kemerahan, tidak ada edema
P : Suara timpany
P : Tidak terdapat nyeri tekan
A : Pristaltik 10x/menit
c. Genetalia
Genetalia bersih
3. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Eliminasi Urine
2. Retensi Urine
3. Inkontinensia Urinaria Fungsional
4. Nyeri Akut
No Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi Keperawatan

1. (00016) gangguan eliminasi Setelah dilakukan tindakan Manajemen pengobatan (2380)


urine asuhan keperawatan selama 3 x Definisi : fasilitasi penggunaan
Definisi : disfungsi eliminasi 24 jam, diharapkan klien dapat:
urine dan efektifitas resep yang aman
1. Eliminasi urin (0503)
Batasan karakteristik : serta penggunaan obat bebas
Definisi : pengumpulan dan
Disuria Intervensi :
Inkontinensia pembuangan urin
(050301) pola eliminasi - Tentukan obat apa yang
Dorongan berkemih
diperlukan, dan dikelola
Retensi urine diitingkatkan dari skala 1 ke
Faktor yang berhubungan : skala 5 menurut resesp dan atau
Obstruksi anatomik (050307) intake cairan protokol
diitingkatkan dari skala 3 ke - Diskusikan masalah
skala 5 keuangan yang berkaitan
(050313) mengosongkan dengan regimen obat
kantong kemih sepenuhnya - Tentukan kemampuan
diitingkatkan dari skala 1 ke
pasien untuk mengobati diri
skala 5
sendiri dengan cara yang
(050311) keinginan
tepat
mendesak untuk berkemih
diitingkatkan dari skala 2 ke - Monitor efektifitas cara
skala 5 pemberian obat yang sesuai
1. Keparahan gejala (2103) - Monitor efek samping obat
Definisi : keparahan respon - Monitorinteraksi obat non
fisik, emosi , dan sosial yang terapeutikkaji ulang
tidak diharapkan pasien/atau keluarga secara
Kriteria hasil : berkala mengenai jenis dan
(210301) intensitas gejala jumlah obat yang
ditingkatkan dari skala 4 ke
dikonsumsi
skala 2
- Pertimbangankan
(210304) terkait
ketidaknyamanan pengetahuan pasien
ditingkatkan dari skala 4 ke mengenai obat-obatan
skala 1 - Pantau kepatuhan mengenai
(210307) terkait kecemasan regimen obat
ditingkatkan dari skala 4 ke
skala 2
(210308) gangguan
penampilan pasien
ditingkatkan dari skala 3 ke
skala 1
2. Penuaan fisik (0113)
Definisi : perubahan
fisiologis normal yang terjadi
dalam proses penuaan yang
dialami
Kriteria hasil :
(011319) status kognitif
ditingkatkan dari skala 3 ke
skala 1
(011322) tonus otot kandung
kemih ditingkatkan dari skala
4 ke skala 1
(011323) resistensi terhadap
infeksi ditingkatkan dari
skala 5 ke skala 1
2. . (00023) Retensi urine Setelah dilakukan asuhan Perawatan retensi urin (0620)
Definisi : pengosongan keperawatan selama 3 x 24 jam
Definisi : meminimalkan rasa
kandung kemih tidak tuntas pasien menunjukan dapat :
Batasan karakteristik : takut, cemas, merasa dalam
3. Status kenyamanan: fisik
Sensasi kandung kemih bahaya atau ketidaknyamanan
(2010)
penuh terhadap sumber yang tidak
Berkemih sedikit Definisi : kenyamanan fisik
diketahui.
Sering berkemih yang berkaitan dengan sensasi
Faktor yang berhubungan : tubuh dan meknisme Intervensi:
Sumbatan saluran homeostatis - Lakukan pengkajian
perkemihan Kriteria hasil : komprehentif sistem
(201004) posisi yang nyaman perkemihan fokus terhadap
ditingkatkan dari skala 3 ke inkontinensia
skala 5 - Berikan privasi dalam
(201008) intake cairan melakukan eliminasi
ditingkatkan dari skala 2 ke
- Stimulasi refleks kandung
skala 5
kemih dengan membasuhi
(201021) inkontinensia urin
abdomen dengan air dingin,
diitingkatkan dari skala 2 ke
skala 4 memberikan sentuhan paha
bagian dalam atau air yang
mengalir
- Berikan waktu yang cukup
untuk pengosongan
kandung kemih (10 menit)
- Anjurkan pasien/keluarga
untuk mencatat urin output,
sesuai kebutuhan
- Anjurkan cara untuk
menghindari konstipasi atau
impaksi feses
- Monitor intake dan output
3. (00020) Inkontinensia Setelah dilakukan tindakan Perawatan inkontinensia urine
urinaria fungsional asuhan keperawatan selama 3 x (0610)
Definisi : ketidakmampuan 24 jam, diharapkan klien dapat:
individu, yang biasanya Definisi : membantu pasien
1. Kontinensia urin (0500)
kontinen, untuk mencapai memulihkan inkontinensianya
toilet tepat waktu untuk Definisi : mengendalikan
dan mempertahankan integritas
berkemih yang mengalami eliminasi urin dari kandung
kemih kulit perineum
Pengeluaran urine yatidak
sengajang Kriteria hasil : intervensi :
Batasan karakteristik : (050202) menjaga pola - Identifikasi faktor apa saja
Sensasi ingin berkemih berkemih yang teratur penyebab inkontinensia
mengosomgkan kandung diitingkatkan dari skala 2 ke pada pasien
kemih tuntas
skala 5 - Jaga privasi pasien saat
Faktor yang berhubungan :
(050218) menjaga berkemih
Gangguan fungsi kognisi
penghalang lingkungan yang - Monitor eliminasi urin
bebas untuk eliminasi sendiri
meliputi : frekuensi,
diitingkatkan dari skala 1 ke
konsistensi., bau, volume,
skala 4
dan warna urin
(050209) mengosongkan
kantong kemih sepenuhnya - Bantu pasien untuk
diitingkatkan dari skala 2 ke memilih diapers atau
skala 5 poopok kain yang sesuai
2. Perawatan diri: eliminasi dengan penanganan
(0310) sementara selama terapi
Definisi : tindakan sesorang pengobatan sedang
untuk ke toilet secara mandiri dilakukan
dengan atau tanpa bantuan - Diskusikan bersama pasien
alat
mengenai prosedur
Kriteria hasil :
tindakan target yang
(031001) merespon saat
kandung kemih penuh diharapkan
dengan tepat waktu Latihan otot pelvis (0560)
diitingkatkan dari skala 1 ke Definisi : memperkuat dan
skala 5 melatih otot levator ani dan otot
(031006) mengosongkan levattor ani dan otot-otot
kandung kemih diitingkatkan urogenital secara sadar,
dari skala 2 ke skala 5 kontraksi berulang untuk
3. Kognisi (0900) mengurangi stres, urgensi
Definisi : kemampuan untuk berkemih atau berbagai tipe
melakssakan proses mental
inkontinensia urin
yang kompleks
Intervensi :
Kriteria hasil :
- Kaji kemampuan urgensi
(009014) komunikasi jelas
sesuai usia diitingkatkan dari berkemih pasien
skala 3 ke skala 5 - Instruksikan pasien untuk
(009013) pemahaman tentang menahan otot-otot sekitar
makna situasi diitingkatkan uretra dan anus, kemudian
dari skala 3 ke skala 4 relaksasi, seolah-olah inigin
(009010) menimbang menahan buang air kecil
alternatif ketika membuat atau buang air besar.
keputusan diitingkatkan dari - Instruksikan pasien unutuk
skala 4 ke skala 5
melakukan latihan
pengencangan otot, dengan
melakukan 300kontraksi
setiap hari, menahan
kontraksi selama 10 detik,
dan relaksasi selama 10
menit diantara sesi
kontraksi, sesuai dengan
protokol
- Berikan umpan balik positif
selama lattihan diakukan
4. (00132) Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 2. Manajemen Nyeri (1400)
Definisi : pengalaman asuhan keperawatan selama 3 x Definisi : pengurangan atau
24 jam, diharapkan klien dapat:
sensori dan emosional tidak reduksi nyeri sampai tingkat
1. Kontrol nyeri(1605)
kenyamanan yang dapat
menyenangkan yang muncul
Definisi : tindakan pribadi diterima oleh pasien
akibat kerusakan jaringan untuk mengontrol nyeri Intervensi:
aktual atau potensial atau Kriteria hasil : - lakukan pengkajian nyeri
yang digambarkan sebagai (160502) mengenali kapan komprehensif yang meliputi
nyeri terjadi ditingkatkan dari
kerusakan (international lokasi, karakteristik,
skala 2 ke skala 5
Association for the Study of onset/durasi, frekuensi,
(160505) menggunakan
analgestik yang kualitas, intensitas atau
Pain); awitan yang tiba-tiba
direkomendasikan beratnya nyeri, dan faktor
pencetus
atau lambat dari intensitas ditingkatkan dari skala 1 ke - Observasi adanya petunjuk
ringan hingga berat dengan skala 4 non verbal mengenai
(160511) melaporkan nyeri
akhir yang dapat diantisipasi ketidaknyamanan, terutama
yang terkontrol ditingkatkan
kepada mereka yang tidak
atau diprediksi. dari skala 3 ke skala 5
dapat berkomunikasi secara
Batasan karakteristik :
2. Kontrol gejala (1680) efektif
Ekspresi wajah nyeri
Keluhan tentang intensitas Definisi : tindakan seseorang - Gunakan strategi
menggunakan standar untuk mengurangi perubahan komunkasi terapeutik untuk
skala nyeri fungsi fisik dan emosi yang mengetahui pengalaman
Mengekspresikan perilaku dirasakan. nyeri dan sampaikan
Faktor yang berhubungan : penerimaan pasien terhadap
Kriteria hasil :
Agens cedera biologis (168002) memantau lama
nyeri
- Gali pengetahuan dan
bertahannya gejala
ditingkatkan dari skala 2 ke kepercayaan pasien
skala 5 terhadap nyeri
(168003) memantau - Pertimbangkan pengaruh
keparahan gejala budaya terhadap respon
ditingkatkan dari skala 3 ke nyeri
skala 5 - Tentukan akibat dari
(168004) memantau frekuensi pengalaman nyeri terhadap
gejala ditingkatkan dari skala kualitas hidup pasien
1 ke skala 5
- Gali bersama pasien faktor-
faktor yang dapat
3. Tingkat nyeri (2102)
menurunkan atau
Definisi : keparahan nyeri
yang diamati atau dilaporkan. memperberat nyeri
Kriteria hasil : - Evaluasi bersama tim
(210206) ekspresi nyeri wajah kesehatan lainnya tentang
ditingkatkan dari skala 2 ke keefektifan dari tindakan
skala 5 mengontrol nyeri yang telah
(212019) focus menyempit digunakan sebelumnya
dari skala 1 ke skala 4
(212009) ketegangan otot 3. Pemberian Analgesik
ditingkatkan dari skala 2 ke
(2210)
skala 3
Definisi : penggunaan agen
farmakologi untuk menguran
gi atau menghilangkan nyeri
Intervensi:
- Tentukan lokasi nyeri,
karakteristik, kualitas,dan
keparahan sebelum
pengobatan
- Cek perintah pengobatan
meliputi obat, dosis, dan
frekuensi obat analgesik
yang diresepkan
- Cek adanya riwayat alergi
obat
- Evaluasi kemampuan pasien
untuk berperan serta dalam
pemilihan analgesik, rute,
dan dosis dan keterlibatan
pasien, sesuai kebutuhan
- Pilih analgetik secara tepat
/kombinasi lebih dari satu
analgetik jika telah
diresepkan
- Tentukan pilihan analgetik
(narkotik, non narkotik,
NSAID) berdasarkan tipe
dan keparahan nyeri
- Monitor tanda-tanda vital,
sebelum dan sesudah
pemberian analgetik
- Monitor reaksi obat dan
efeksamping obat
- Dokumentasikan respon
dari analgetik dan efek-efek
yang tidak diinginkan
- Lakukan tindakan-tindakan
untuk menurunkan efek
analgetik (konstipasi/iritasi
lambung)
3. Manajemen lingkungan :
kenyamanan
Definisi : memanipulasi
lingkungan pasien untuk
mendapatkan kenyaman yang
optimal
Intervensi :
- Tentukan tujuan pasien dan
keluarga dalam mengelola
lingkungan dan
kenyamanan yang optimal
- Pilihlah ruangan dengan
lingkungan yang tepat
- Cepat bertindak jika
terdapat panggilan bel, yang
harus selalu dalam jangkuan
- Tentukan hal-hal yang
menyebabkan
ketidaknyamanan seperti
pakaian lembab
- Sediakan tempat tidur yang
nyaman dan bersih
- Tentukan temperatur
ruangan yang paling
nyaman
- Sediakan lingkungan yang
tenang
- Perhatikan hygiene pasien
untuk menjaga kenyamanan
- Atur posisi pasien yang
membuat nyaman.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hiperplasia prostat jinak (benign prostatic hyperplasia) adalah
pembesaran kelenjar periurethral yang mendesak jaringan prostat keperifer
dan menjadi simpai bedah (pseudokapsul). BPH merupakan kelainan kedua
tersering yang dijumpai pada lebih dari 50% pria berusia diatas 60 tahun.
Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya tidaklah tepat karena kelenjar
prostat tidaklah membesar atau hipertropi prostat, tetapi kelenjar-kelenjar
periuretralah yang mengalami hiperplasian (sel-selnya bertambah banyak.
Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak menjadi gepeng dan disebut
kapsul surgical.

B. SARAN
Sebagai Mahasiswa keperawatan, sudah sepatutnya kita mengetahui dan
menguasai tentang segala macam gangguan kesehatan dalam tubuh. Kita juga
harus mengetahui penyebab, tanda dan gejala, sampai pengobatan dan
penanganannya agar kita mampu melakukan pelayanan secara profesional dan
tidak merugikan masyarakat. Semoga laporan pendahuluan ini bermanfaat
dalam menambah pengetahuan kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI
Smeltzer, Susan C. 2014. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Ed.12.
Jakarta : EGC.
DiGiulio, Mary, Donna Jackson, Jim Keogh. 2007. Keperawatan Medikal Bedah :
DeMYSTiFieD. Yogyakarta : Rapha Publishing
Herdman, T.Heather, Shigemi Kamitsuru. 2015. Diagnosa Keperawatan: Definisi &
Klasifikasi 2015-2017, ed.10. Jakarta : EGC
Bulechek, Gloria M. , dkk. 2013. Nursing Interventions Classification . Kidlington
Oxford : ELSEVIER
Moorhead, Sue, dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification . Kidlington Oxford :
ELSEVIER