Anda di halaman 1dari 15

Artikel

Perpindahan Panas Konveksi Bebas

MATA KULIAH

PERPINDAHAN PANAS

Disusun oleh :

Danang Dwi Chafiyana (160513609612)

Denny Afrikhudin (160513609607)

Evan Arya A. (160513609685)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS TEKNIK, JURUSAN TEKNIK MESIN

PRODI S1 PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

NOVEMBER 2017
Teori Dasar Perpindahan Panas

Perpindahan panas merupakan suatu proses dimana apabila terdaat dua buah sistem
yang mempunyai temperatur berbeda, maka akan terjadi perpindahan energi dalam bentuk
panas dari sistem yang bertemperatur lebih tinggi ke sistem yang yang bertemeperatur lebih
rendah. Proses dimana terjadi transport energi tersebut tidak dapat diamati langsung, tetapi
pengaruhnya dapat diamati dan diukur.

Perpindahan panas dengan formulasi formulasinya mencoba menerangkan


bagaimana energi berpindah dari suatu sistem lainnya, juga dapat digunakan untuk
memperkirakan laju perpindahan panas pada kondisu tertentu. Proses perpindahan panas
dibedakan menjadi tiga cara, yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Secara umum disini akan
membahas tentang perpindahan panas konveksi

Perpindahan Panas Konveksi

Konveksi merupakan proses perpindahan energi panas melalui pergerakan molekul


molekul fluida (cair atau gas) akibat adanya perbedaan temperatur. Perpindahan panas
konveksi terdiri dari dua mekanisme yaitu konduksi partikel yang disebabkan oleh gerakan
random dari partikel fluida dan angkutan massa akibat gerakan fluida. Jika benda padat
mempunyai temperatur yang lebih tinggi dari temperatur fluida, maka mula mula panas
akan mengalir secara konduksi dari padat ke partikel partikel fluida di dekat dinding
sehingga energi dalam fluida akan meningkat dan terangkut oelh gerakan fluida. Bila partikel
partikel fluida terpanaskan itu mencapai daerah yang temperaturnya daerah yang
temperaturnya lebih rendah, maka panas akan berpindah lagi secara konduksi dari fluida yang
lebih panas ke fluida yang lebih dingin. Disini bisa dilihat bahwa proses perpindahan panas
tidak terlepas dari gerakan aliran fluida di sekitar permukaan.

Besarnya konveksi bergantung pada : luas permukanan benda yang beringgungan


dengan fluida (A), perbedaan suhu antara permukaan benda dengan fluida (T), dan koefisien
konveksi (h). Koefisien konveksi sendiri tergantung pada : viskositas fluida, kecepatan fluida,
perbedaan temperatur antara permukaan dan fluida, rapat massa fluida. Persamaan
perpindahan panas secara konveksi ialah :

q = h.A.T
Jika fluida dengan kecepatan V dan temperatur T mengalir diatas permukaan dengan luas
As. Permukaan tersebut dianggap mempunyai temperatur yang seragam, Ts jika Ts T,
konveksi panas akan terjadi dengan besarnya perubahan panas adalah :

Atau

q = ( Ts - T)

Jika didefinisikan koefisien konveksi untuk seluruh permukaan adalah h maka rata rata total
transfer panas dapat diekspresiakn dalam bentuk

q = hAs(Ts - T)

Manfaat Pepindahan Kalor Konveksi


1) Sistem pendingin pada lemari es
Pada lemari es, mesin pendinginnya ditempatkan di bagian atas. Mesin pendingin itu
berfungsi mendinginkan udara di sekitarnya. Karena udara yang dingin massa jenisnya besar,
udara itu turun dan digantikan oleh udara hangat yang naik dari bagian bawah. Demikian hal
itu berlangsung secara terus-menerus. Peredaran (sirkulasi) udara itu membawa kalor (energi
panas) dari semua makanan yang ada dalam lemari. ltulah sebabnya, makanan yang ada
dalam lemari es menjadi dingin.
2) Sistem pendingin pada radiator mobil
Pada sistem pendingin mesin mobil (radiator), air di paksa mengalir melalui pipa-pipa
dengan batuan pompa air (water pump). Panas mesin yang tidak di kehendaki dibawa oleh
sirkulasi air tersebut menuju radiator. Di dalam radiator, air di dinginkan dengan bantuan
udara. Air yang telah mendingin ini kemudian di pompa untuk mengulang kembali proses
transfer panas dari mesin mobil ke radiator. Jadi, dalam hal ini terjadi konveksi paksa. Ingat
bahwa proses konveksi melibatkan fluida (dalam kasus ini di wakili oleh air) sebagai
penghantar panas.
Air yang di gunakan dalam radiator lama-lama akan berkurang akibat penguapan dan
akhirnya akan habis. Oleh karena itu, radiator perlu di isi air kembali untuk memastikan
lancarnya proses pendinginan mesin selama mobil berjalan.
Dalam proses konveksi dikenal ada dua macam cara panas berpindah yaitu konveksi
yang alamiah (natural convection) atau konveksi bebas dan konveksi yang dipaksakan
(forced convection). Diartikel secara khusus akan menjelaskan tentang Konveksi alamiah
atau konveksi bebas.

Penjelasan Konveksi Alamiah/ bebas (natural convection)

Proses perpindahan panas dengan cara konveksi alamiah adalah proses perpindahan
panas yang terjadi bila molekul molekul flluida bergerak akibat terjadinya perbedaan
densitas (kerapatanya). Perbedaan desitas fluida ini ditimbulkan oleh perbedaan temmperatur
fluida pada dua tempat yang berbeda. Sebuah contoh yang lazim ialah konveksi alamiah dari
dinding atau dari pipa yang suhunya konstan dan dikelilingi oleh udara luar yang beda
suhunya dengan suhu dinding atau pipa itu sebesar T.

konvesi ini juga mengalir secara alamiah (natural convection), terjadi karena fluida mengalir
secara alamiah/ tidak dipompa/ tidak dihembus. Fluida dapat mengalir secara alamiah karena
danya perubahan sifat fisis (tertama rapat massanya) dan pengaruh dari gaya apung
(bouyancy force). Hukum Newton untuk konveksi :

Q = h.A(Tw -T)

Dengan (Tw > T)

Aplikasi Konveksi Bebas

Sisitem ventilasi rumah

Prinsio kerja : udara panas yang berada di dalam rumah bergerak ke atas dan keluar melalui
ventilasi. Tempatnya kemudian digantikan oleh udara dingin yang masuk melalui ventilasi.
Arus konveksi udara inilah yang menyebabkan suhu udara di dalam rumah tersa lebih sejuk
dan nyaman.

Terjadinya angin darat dan angin laut


Pada siang hari, suhu udara di darat lebih tinggi daripada di laut. Hal itu karena kalor
jenis tanah (daratan) lebih kecil daripada air laut. Dengan kata lain, daratan lebih cepat panas
daripada lautan. Oleh karena itu, terjadilah aliran udara (angin) dari laut ke darat yang disebut
angin laut. Aliran udara itu berlangsung dengan cara udara di atas daratan naik kemudian
tempatnya diisi oleh udara dingin yang berasal dari laut. Sebaliknya, pada malam hari suhu
udara di permukaan laut lebih tinggi daripada suhu udara di darat. Hal itu terjadi karena air
laut lebih lama menahan panas daripada daratan. Keadaan inilah yang menyebabkan
terjadinya aliran udara (angin) dari darat ke laut yang disebut angin darat.
Contoh lainnya :

Aliran udara yang melintas radiator panas dan aliran air yang dipanaskan dalam panci serta
aliran udara yang mendinginkan telur, seperti Gambar di Bawah ini.
Ketika kita memanaskan air menggunakan kompor, kalor mengalir dari nyala api
(suhu lebih tinggi) menuju dasar wadah (suhu lebih rendah). Karena mendapat tambahan
kalor, maka suhu dasar wadah meningkat. Ingat, yang bersentuhan dengan nyala api adalah
bagian luar dasar wadah. Karena terdapat perbedaan suhu, maka kalor mengalir dari bagian
luar dasar wadah (yang bersentuhan dengan nyala api) menuju bagian dalam dasar wdadah
(yang bersentuhan dengan air). Suhu bagian dalam dasar wadah pun meningkat. Karena air
yang berada di permukaan wadah memiliki suhu yang lebih kecil, maka kalor mengalir dari
dasar wadah ( suhu lebih tinggi) menuju air (suhu lebih rendah). Perlu diketahui bahwa
perpindahan kalor pada wadah terjadi secara konduksi.

Perpindahan kalor dari dasar wadah menuju air yang berada di permukaannya juga
terjadi secara konduksi. Adanya tambahan kalor membuat air yang menempel dengan dasar
wadah mengalami peningkatan suhu. Akibatnya air tersfebut memuai. Ketoika memuai,
volume air bertambah . Karena volume air bertambah maka massa jenis air berkurang. Ingat,
persamaan massa jenis atau kerapatan (massa jenis = massa / volume). Massa air yang
memuai tidak berubah, yang berubah hanya volumenya saja. Karena volume air bertambah,
maka massa jenisnya berkurang. Berkurangnya massa jenis air menyebabkan air bergerak ke
atas (mengapung). Mirip seperti gabus atau kayu kering bisa terapung karena massa jenisnya
lebih kecil dari massa jenis air. Karena bergerak ke atas maka posisi air tadi digantikan oleh
molekul air yang berada di sebelah atas. Demikian seterusnya sampai semua air yang berada
dalam wadah menerima kalor. Tetapi airf yang memiliki suhu yang tinggi tidak langsung
meluncur tegak lurus ke atas tetapi berputar seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas.
Hal ini disebabkan karena molekul air yang berada tepat diatasnya memiliki massa jenis yang
lebih besar.

Perpindahan kalor pada proses pemanasan air yang merupakn salah satu contoh perpindahan
kalor secara konveksi.

Catatan : Pada contoh di atas, proses perpindahan kalor dengan cara konveksi hanya terjadi
didalam air. Perpindahan kalor dari dasar wadah menuju air terjadi secara konduksi. Jika
nyala api bersentuhan dengan wadah, maka kalor mengalir dari nyala api (suhu lebih tinggi)
menuju wadah ( suhu lebih rendah) dengan cara konduksi. Sebaliknya, jika nyala api tidak
bersentuhan dengan wadah maka kalor mengalir dari nyala api menuju wadah dengan cara
radiasi. Jika nyala api cukup besar makam kalor tidak hanya mengalir dari nyala apoi menuju
dasar wadah tetapi juga menuju dinding wadah. Perpindahan kalor bisa terjadi dengan cara
konduksi (apabila nyala api bersentuhan dengan dinding wadah) atau perpindahan kalor bisa
terjadi dengan cara radiasi ( apabila nyala api tidak bersentuhan dengan dinding wadah)

RUMUS dan Penjelasannya

Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (h) pada Konveksi Bebas

Q h.A.(Tw T )

- Aliran fluida pada perpindahan panas konveksi bebas terjadi secara alami karena gaya
apung, sehingga hampir selalu berada pada kecepatan rendah ( 1 m/s)

- Secara umum, koefisien perpindahan panas konveksi bebas bernilai lebih kecil
dibandingkan koefisien perpindahan panas konveksi paksaan.

- Nilai h pada perpindahan panas konveksi bebas dipengaruhi oleh sifat fisis fluida dan
bentuk geometri benda

- Penyelesaian umum pada persamaan perpindahan panas konveksi memunculkan suatu


parameter berupa bilangan tak berdimensi yang disebut dengan bilangan Grashof ( Gr)

( )
=

dengan,

g : percepatan gravitasi, m/ 2

: koefisien ekspansi volum (1/Tf), 1/K

+
=

V : vikskositas kinematik, 2 /

Tw : Suhu permukaan benda, K

T : Suhu fluida pada jarak tak hingaga dari benda, K

L : Panjang karakteristik, m

Selain bilangan Grashof ( Gr), koefisien perpindahan panas pada konveksi bebas juga
dipengaruhi oleh bilangan Prandtl
.
= ==


= = viskositas kinematis


= = difusitas termal
.

Catatan : Sifat disis fluida dievaluasi pada suhu lapisan film (Tf) dengan

+
=

Koefisien perpindahan panas konveksi bebas rata-rata untuk berbagai situasi dapat didekati
dengan persamaan empiris sebagai berikut:


= = C(GrPr) =

dengan

k : konduktivitas termal fluida

L : panjang karakteristik

Ra : bilangan Rayleigh =GrPr

Nilai C dan n tergantung pada geometri benda dan daerah aliran yang dikarakterisasikan
dalam bilangan Rayleigh.

Beberapa persamaan empiris untuk kasus-kasus perpindahan panas konveksi bebas pada
berbagai geometri benda terangkum dalam tabel 9-1 (Cengel, 2003). Bentuk geometri yang
ditinjau meliputi:

1. Plat tegak (vertical plate)

2. Plat datar (horizontal plate)

3. Plat yang dimiringkan (inclined plate)

4. Silinder

5. Bola
1. Plat Tegak ( vertical plate )

Panajang karakteristik : L

Kisaran Ra Nu

1
Ts 104 109 Nu = 0,59RaL 6

1
109 1013 Nu = 0,1 RaL 3

Atau dapat juga digunakan Nu untuk seluruh kisaran

2. Plat datar ( horizontal plate )

Kisaran Ra Nu Kisaran Ra Nu
1 1
104 107 Nu = 0,54 RaL 4 105 1011 Nu = 0,27 RaL 4
1
107 1011 Nu =0,15 RaL 3
3. Plat yang dimiringkan (inclined plate )

Panjang karakteristik : L

Untuk kasus ini persamaan yang digunakan sama dengan kasus 2b


dengan modifikasi yaitu g (pada bilangan Grashof) diganti g cos
untuk kisaran Ra < 109

4.. Silinder tegak (vertical cylinder )


Panjang karakteristik : L

Silinder tegak dapat disamakn dengan plta tegak ketika





5. Silinder horisontal (horisontal cylinder)

Panjang karakteristik : D
Untuk Ra 1012
6. Bola
Panjang karakeristik : D
Untuk Ra 1011
Pr 0,7
Soal - soal
1. Suatu panci pemanas air terbuat dari bahan tertentu mempunyai luas permukaan yang
bersentuhan dengan air 200 2 . Jika suhu bahan tersebut 95C dan suhu air 85C dan
menghasilkan jumlah kalor yang dipindahkan secara konveksi per sekonnya 0,8 J/s maka
hitunglah besar nilai koefesien konveksi bahan tersebut .
Penyelesaian
Diketahui :
A = 200 cm2 = 0,02 m2
T = 95C - 85C = 10C + 273 = 283K
Q/t = 0,8 J/s = 0,8 W

Ditanyakan : h ...?

Jawab :
Q/t = h.A.T
0,8 J/s = h.0,02 2 .283K
0,02 . 283
h= = 7,075 W/2
0,8

2. Diketahui flux kalor sebesar 700 W/2 menimpa permukaan plat vertikal dengan tinggi
plat 3 m dan lebar 2 m. Jika radiasi diabaikan dan udara lingkungan bertemperatur 35C,
hitung temperatur rata-rata plat keluar!
Penyelesaian
Coba-coba 1 dengan asumsi harga koefisien perpindahan panas alamiah sebesar 10 W/m2 C,
maka:
qw 700
T = = 70
h 10
70
Tf = + 35 = 70
2

Pada Tf = 70C diperoleh sifat sifat termodinamika udara :


k = 0,0295 W/mC
Pr = 0,698
v = 2,005 x 105 m2 /s
= 1/Tf = 2,92 x 103 K 1
Dengan tinggi plat (x) = 3 m menggunakan persamaan :
gqwx 4 9,8 x 2,66 x 103 x 700 x 34
Gr = 2
= 2 = 1,368 x 1014
kv 0,0295 x (2,005 10 5)

Persamaan empirik untuk konveksi alamiah pada plat vertikal dengan Gr x Pr = 1,368 x
1014 x 0,698 = 9,55 x 1013 memilih persamaan yang sesuai
h (x ) 1
Nu = = 0,17(GrPr) 4
k
1
= 0,17 (9,55 x 1013 ) 4 = 531,43
h = 531,43(k)/x = 531,43 x 0,0295/3 = 5,226 W/m2
Bukti: asumsi h = 10 > 5,226
Coba 2:
qw 700
T = 5,226 = 133,94 = Tw Tb = Tw 35 , Tw = 133,94 + 35 = 168,94 Tf =
h

[168,94 + 35]/2 = 101,97


Pada Tf = 101,97C diperoleh sifat-sifat termodinamik:
k = 0,0318 W/mC
Pr = 0,693
v = 2,33 x 105 m2 /s
= 1/Tf = 2,66 x 103 K 1
Dengan tinggi plat (x) = 3 m menggunakan persamaan :
gqwx 4 9,8 x 2,66 x 103 x 700 x 34
Gr = = 2 = 8,567 x 1013
kv 2 0,0318 x (2,33 x 10 5)

Persamaan empirik untuk konveksi alamiah pada plat vertikal dengan Gr x Pr = 8,567 x
1013 x 0,693 = 5,94 x 1013 memilih persamaan yang sesuai
h (x ) 1
Nu = = 0,17(GrPr) 4
k
1
= 0,17 (5,94 x 1013 ) 4 = 471,94
h = 472,256 (k)/x = 471,94 x 0,031 8/3 = 5,002 W/m2
Bukti: asumsi h = 5,226 5,002 ( asumsi mendekati benar )
700
Jadi T =5,002 = 139,94 maka temepratur plat = ( 139,94 + 35 )C = 174,94C

3. Sebuah silinder horizontal dengan diameter 3 cm dengan temperatur dinding 25C dan dibenamkan
didalam raksa pada temperature -5C, hitung koefiisien perpindahan panasnya!
Penyelesaian

Pada Tf = [25 + (-5)]/2 = 10C


Dari table sifat sifat termodinamik raksa diperoleh:
k : 8,4 W/mC
: 1,618 x 103 /.
: 13603 kg/3
v : 0,119 x 106 2 /
Pr : 0,02865
: 1/283 =3,5335 x 103
Menghitung bilangan Grashof :
()3
= 2
9,8 0,0035 [25(5)]0,033
= (0,119 106 )2

= 1,96 x 109
Dari persamaan :
1
Nu = 0,53 (GrP 2 ) 4

1
= 0,53(1,96 109 0,0272 ) 4 = 18,32

h = 18,32 x k/d = 18,32 x 8,4/0,03 = 5129,6 W/2