Anda di halaman 1dari 4

PASAL 24 UU NO 44/2009

Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi rujukan,
Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas
&kemampuan pelayanan Rumah Sakit
Klasifikasi Rumah Sakit Umum sebagaiman dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
Rumah Sakit Umum kelas A
Rumah Sakit Umum kelas B
Rumah Sakit Umum kelas C
Rumah Sakit Umum kelas D
Klasifikasi Rumah Sakit Khusus sebagaiman dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
Rumah Sakit Khusus kelas A
Rumah Sakit Khusus kelas B
Rumah Sakit Khusus kelas C

Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
www.hukumonline.com
3 / 48
13. Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah
kesehatan/penyakit.
14. Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan
yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit,
pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga
seoptimal mungkin.
15. Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai
anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai
dengan kemampuannya.

UUD Kesehatan 36 2009

a. Perhatian nama Obat, rupa dan ucapan mirip (Look alike sound alike medication
names)
Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM) yang membingungkan staf
pelaksana adalah salah satu sebab yang paling sering menimbulkan kesalahan obat
(Medication Error) dengan puluhan ribu obatyang saat ini diproduksi, potensi
terjadinya kesalahan akibat bingung terhadap nama, merk atau kemasan solusi
NORUM ditekankan pada penggunaan protocol untuk pengurangan resiko dan
memastikan terbacanya resep, label atau penggunaan perintah yang dicetak
terlebih dulu maupun pembuatan resep secara elektronik.
b. Memastikan identifikasi pasien
Kegagalan yang luas dan terus menerus untuk mengidentifikasi pasien seara benar
sering mengarah pada kesalahan pengobatan, transfuse maupun pemeriksaan,
pelaksanaan prosedur yang keliru orang, penyerahan bayi kepada yang bukan
keluarganya dan sebagainya. Rekomendasi ditekankan pada metode untuk
verifikasi terhadap identitas pasien, termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini,
standarisasi dalam metodeidentifikasi di semua rumah sakit dalam suatu system
pelayanan kesehatan, dan partisipasi pasien dalam dalam konfirmasi ini serta
penggunaan protocol untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang
sama.
c. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
Kesenjangan yang terjadi saat serah terima/pengoperan pasien antara unit-unit
pelayanan, dan di dalam serta antar tim pelayanan bisa menimbulkanterputusnya
kesinambungan layanan, pengobatan yang tidak tepat, dan potensial dapat
mengakibatkan cidera terhadap pasien. Rekomendasi ditujukan untuk
memperbaiki pola serah terima pasien termasuk penggunaan protokol untuk
mengkomunikasikan informasi yang bersifat kritis, memberikan kesempatan bagi
para praktisi untuk bertanya dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada saat
serah terima dan melibatkan para pasien dan keluarga dalam proses serah terima.
d. Kepastian tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
Penyimbangan pada hal seharusnya sepenuhnya dapat dicegah.Kasus-kasus
dengan pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedaan sisi tubuh yang salah
sebagian besar akibat miskomunikasi dan tidak adanya informasi atau
informasinya tidak benar. Factor yang paling banyak kontribusinya terhadap
kesalahan-kesalaha seperti ini adalahtidak ada atau kurangnya proses pra bedah
yan terstandarisasi. Rekomendasinya adalah untuk mencegah jenis-jenis
kekeliruan yang tergantung pada pelaksanaan proses verifikasi pra pembedahan,
pemberian tanda pada posisi yang akan dibedah oleh petugas yang akan
melaksanakan prosedur dan adanya tim yang terlibat dalam pelaksanaan prosedur.
Konsolidasi sesaat sebelum memulai prosedur ntuk mengknfirmasikan identitas
pasien, prosedur dan sisi yang akan dibedah.
e. Pengendalian Cairan elektrolit pekat
Beberapa obat-obatan vaksin dan media kontras memiliki profil resiko yang
berbahaya, khususnya cairan elektrolit pekat yang digunakan untuk injeksi.
Rekomendasinya adalah membuat standarisasi dari dosis, unit ukuran dan istilah
serta pecegahan atas campur aduk/kebingungan tentang cairan elektrolit pekat
yang spesifik yang dapat ditempel di papan informasi di nurse station sehingga
dapat dilihat dengan jelas oleh petugas.
f. Akurasi ketepatan pemberian Obat pada pengalihan pelayanan Kesalahan
medikasi terjadi paling sering pada saat transisi/pengalihan. Rekonsiliasi
(penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses yang didesain untuk
mencegah salah Obat (medication error) pada titik-titik transisi pasien.
Rekomendasinya adalah menciptakan suatu daftar yang paling lengkap dan akurat
dan seluruh medikasi yang sedang diterima pasien juga disebut sebagai home
medication list sebagai perbandingan dengan daftar saat admisi, penyerahan obat
pada saat pemulangan serta menuliskan perintahmedikasi dan
mengkomunikasikan daftar tersebut kepada petugas layanan yang berikutnya
dimana pasien akan dipindahkan atau dilepaskan.
g. Pencegahan salah kateter dan salah sambung selang
Selang kateter dan spuit yang digunakan harus didesain sedemikian rupa agar
mencegah kemungkinan terjadinya KTD yang dapat menyebabkan cidera atas
pasien melalui penyambungan spuit dan selang yang salah, serta memberikan
medikasi atau cairan melalui jalur yang salah.Rekomendasinya adalah
menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detai/rinci bila sedang
mengerjakan pemberian medikasi serta pemberian makan (misalnya selang yang
benar), dan bilamana menyambung alat-alat kepada pasien (misalnya
menggunakan sambungan dan selang yang benar).
h. Penggunaan alat injeksi sekali pakai
Salah satu keprihatinan global terbesar adalah penyebaran HIV, HBV dan HCV
yang disebabkan oleh pemakaian ulang (reuse) dari jarum suntik.Rekomendasinya
adalah perlunya melarang pemakaian ulang jarum di fasilitas pelayanan
kesehatan, pelatihan periodik para petugas di lembaga-lembaga layanan kesehatan
khususnya tentang prinsip-prinsip pengendalian infeksi, edukasi terhadap pasien
dan keluarga mereka mengenai penularan infeksi melalui darah dan penggunan
jarum sekali pakai yang aman.
i. Meningkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nasokomial
Penelitian menunjukkan bahwa pada setiap saat lebih dari 1,4 juta orang di
seluruh dunia menderita infeksi yang diperoleh di berbagai rumah sakit.
Kebersihan tangan yang efektif adalah ukuran preventif yang primer untuk
menghindarkan masalah ini.Jurnal Kedokteran Inggris pada November 2007,
membuktikan bahwa cuci tangan dengan sabun dapat mengurangi angka penderita
diare hingga 50%. Penelitian lain yang dipublikasikan oleh Cochrane Library
Journal edisi Oktober 2007 menemukan bahwa mencuci tangan dengan air dan
sabun adalah cara sederhana dan efektif untuk menahan infeksi saluran pernafasan
atas dari virus flu sehari-hari atau virus pandemic yang mematikan (Fuad, 2007
dalam Maryam, 2009). Rekomendasinya adalah mendorong implementasi
penggunaan cairan alcohol based hand rubs pada titik-titik pelayanan, tersedianya
sumber air pada semua kran, pendidikan staf mengenai teknik kebersihan tangan
yang benar, meningkatkan penggunaan tangan bersih di tepat kerja dan
pengukuran kepatuhan penerapan kebersihan tangan melaui pemantauan observasi
dan teknik-teknik yang lain.