Anda di halaman 1dari 4

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
Ujian Tengah Semester
Semester Ganjil 2017

Mata Kuliah : Etika Bisnis


Dosen : Sany Dwita, SE, Ak, M.Si, P.hd, CA
Vanica Serly, S.Pd. SE. M.Si

Petunjuk:
1. Berdoalah terlebih dahulu agar ujian Saudara dapat berlangsung dengan baik dan
lancar
2. Ujian tengah semester ini merupakan ujian take home dikumpul pertemuan
berikutnya.
3. Jawaban ujian diketik di komputer.
4. Jawaban ujian yang terindikasi mirip akan digagalkan (baik ide maupun tulisan).
Kerjakan ujian secara mandiri (tidak kerja sama).
5. Carilah tambahan informasi mengenai kasus RAPP ini di internet ataupun buku.
Tambahan informasi akan membantu mahasiswa untuk memahami kasus ini lebih
komprehensif.
6. Cantumkan sumber informasi dalam tugas Saudara.

Soal Teori (jelaskan secara ringkas dan tepat): POINT 35


1. Mengapa harapan para pemangku kepentingan penting untuk reputasi perusahaan dan
profitabilitasnya?
2. Jelaskan masing-masing teori etika menurut para filsuf dan kelemahannya? Menurut
Saudara, manakah teori yang paling tepat dalam mengambil keputusan bisnis?
3. Mengapa direksi, eksekutif, dan akuntan harus memahami teori konsekuensialisme,
deontologi, dan etika kebajikan?
4. Berikan contoh perilaku yang mungkin tidak etis meskipun semua orang
melakukannya (dalam konteks bisnis)?
5. Apa peran budaya etika dan siapa yang bertanggung jawab untuk itu?
6. Apa kontribusi paling penting dari kode etik?
7. Menurut Saudara, apa yang mendorong individu melakukan tindakan tidak etis dalam
bisnis, berikan contoh?
8. Apa pengaruh tata kelola perusahaan terhadap budaya etika bisnis perusahaan?
Soal Kasus: POINT 65%

Tak Patuhi Aturan Gambut, Kementerian Lingkungan Beri Peringatan


RAPP

October 18, 2017 Zamzami, dan Lusia Arumingtyas

Sumber: https://www.mongabay.co.id/2017/10/18/tak-patuhi-aturan-gambut-kementerian-
lingkungan-beri-peringatan-rapp/

PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kini tidak lagi mempunyai legalitas sebagai acuan
operasional di konsesi gambut miliknya. Pada 6 Oktober 2017, Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengirimkan surat per 3 Oktober 2017, rencana kerja umum
(RKU) dan rencana kerja tahunan (RKT) pemanfaatan hasil hutan kayuhutan tanaman
industri telah berakhir. Sementara revisi RKU dan RKT agar disesuaikan aturan baru belum
juga dipenuhi perusahaan bubur kertas raksasa ini.

Dalam surat bernomor S.1254/MENLHK-SETJEN/ROUM/HPL.1/10/2017, KLHK juga


melarang RAPP menanam pohon akasia dan ekaliptus di konsesi gambut yang masuk areal
fungsi ekosistem lindung gambut. Surat ini adalah peringatan kedua.

Menurut Greenpeace, surat peringatan ini tindak lanjut perubahan aturan dalam perlindungan
gambut serta terbitnya Peraturan Menteri LHK Nomor 17/2017 tentang perubahan atas
Peraturan Menteri LHK Nomor 12/2015 tentang pembangunan hutan tanaman industri.
Kebijakan ini langsung berdampak pada RKU perusahaan HTI hingga perlu revisi.

Rusmadya Maharuddin, Jurukampanye Hutan Greenpeace, dalam Permen 17 itu dimandatkan


kepada perusahaan, bukan hanya APRIL juga APP mengajukan revisi RKU terbaru terhitung
30 hari setelah perusahaan menerima peta fungsi ekosistem gambut.

Kita gak tahu kapan APRIL menerima peta fungsi ekosistem gambut itu. Itulah yang
menjadi referensi buat perusahaan-perusahaan untuk mengajukan merevisi RKU mereka,
katanya kepada Mongabay.

Merujuk pada daftar perusahaan yang terpublikasi pada dashboard atau platform
keberlanjutan APRIL, perusahaan induk PT RAPP, setidaknya ada 12 perusahaan konsesi di
bawah pengelolaan sendiri. Sedangkan 45 perusahaan lain sebagai penyuplai. Hanya konsesi
di dalam kawasan gambut saja yang terdampak oleh aturan baru ini.

Rusmadya mengatakan, ketidaktaatan RAPP sebagaimana yang diperingatkan Menteri LHK


adalah bukti tambahan bahwa RAPP atau APRIL tak serius mengelola gambut. Padahal
dalam komitmen keberlanjutan (SMFP 2.0) yang diumumkan perusahaan Sukanto Tanoto ini
pada 2015 mencakup perlindungan gambut.

(Sikap Greenpeace) Kita merujuk pada 2016, ketika Greenpeace memutuskan keluar dari
SAC (Stakeholder Advisory Committee) itu salah satunya disebabkan karena mereka tidak
patuh untuk melindungi areal gambut seperti di areal pulang padang, kata Rusmadya.
Dalam Permen 17 disebutkan jika perusahaan tak mematuhi regulasi maka ada tiga
konsekuensi sanksi administrasi yakni paksaan, pembekuan dan pencabutan izin. Ini
tergantung pada konsistensi pemerintah dalam menegakkan regulasi, katanya.

Koordinator Jikalahari Woro Supartinah kepada Mongabay mengatakan, surat KLHK adalah
tindak lanjut dari evaluasi pemerintah dalam kasus kebakaran hutan hebat 2015. Kebakaran
hutan massif waktu itu juga ditemukan di konsesi-konsesi gambut milik RAPP.

Ini terkait kebakaran hutan 2015. Konsesi-konsesi mereka khan juga ada (titik api). Jadi
dengan adanya aturan-aturan baru, rencana kerja mereka juga harus disesuaikan karena ada
konsesi-konsesi gambut yang kini dijadikan kawasan lindung gambut, kata Woro.

Meski demikian, dari pemantauan Jikalahari sejak awal perusahaan beroperasi, maka daftar
pelanggaran RAPP sudah lengkap. Pemerintah, seharusnya meninjau ulang izin RAPP bukan
hanya memberikan peringatan.

Kita (memantau) tidak hanya 2015. Tidak hanya soal kebakaran hutan. Tidak hanya soal
pelanggaran kebakaran tapi juga indikasi korupsi dan konflik dengan masyarakat. Harusnya
izin mereka dievaluasi, dikurangi atau dicabut.

Mendapatkan surat peringatan itu, RAPP mengirimkan surat Nomor 100/RAPP-DIR/X/17


kepada seluruh pimpinan kontraktor, pemasok dan mitra bina perihal kegiatan operasional
HTI PT RAPP.

Agung Laksamana, Direktur Hubungan Korporasi APRIL Group mengonfirmasi terkait surat
peringatan kedua RAPP. Surat itu menjelaskan soal RKU tak sah sebagai acuan dalam
kegiatan operasional di lapangan.

Kami sedang mempelajari surat dari kementerian itu dan berharap dapat mencapai solusi
bersama yang komprehensif, katanya kepada Mongabay, pekan lalu.

Dia meyakini rencana operasional RAPP tak hanya melindungi lingkungan juga melindungi
hak-hak pekerja, termasuk masyarakat lokal yang disebutkan bergantung pada bisnis demi
kebutuhan ekonomi dan sosial.

Kami percaya, pemerintah dapat memberi kepastian iklim investasi di tengah meningkatnya
komperisi pasar global, di samping terus berupaya memberikan perlindungan bagi ribuan
pekerja.

Kendati demikian, terkait pelanggaran ini hingga kini Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan masih bungkam alias enggan memberikan keterangan

Soal Pertanyaan:
1. Uraikanlah latar belakang kasus ini dengan informasi tambahan yang Saudara
dapatkan?
2. Bahaslah kasus RAPP ini dalam perspektif etika lingkungan dan tata kelola
perusahaan? Apakah RAPP melanggar etika bisnis?
3. Bagaimana perspektif teori-teori etika mengenai kasus ini?
4. Jika saudara bekerja di RAPP dan menjabat posisi sebagai pengambil keputusan
(direksi), bagaimana sikap saudara? (gunakan beberapa teknik pengambilan
keputusan untuk memperoleh keputusan yang terbaik)
5. Jika saudara bekerja di RAPP sebagai akuntan keuangan, apa saran saudara terhadap
masalah ini?
6. Menurut Saudara, bagaima keputusan pemerintah terkait dengan masalah ini?

TERIMA KASIH