Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS DAMPAK PEMASANGAN PEMBANGKITAN TERDISTRIBUSI

ATAU PLTB YANG MENGGUNAKAN WIND TURBINE DFIG PADA


JARINGAN TEGANGAN MENENGAH

Muh Ichsan Anugrah


D41114511

ABSTRAK

Dalam penelitian ini akan diamati dampak dari pemasangan pembangkit listrik tenaga
angin ( bayu ) pada jaringan jala jala yang merupakan bus yang tak terhingga.Pembangkit
listrik tenaga angin mengkonversi energi gerak dari angin menjadi energi listrik. Pembangkit ini
termasuk pembangit jenis terbarukan. Pengamatan dilakukan pada dampak perubahan daya aktif
sistem jala jala yang memiliki beban harian yang berubah ubah. Adapun jenis generator yang
digunakan pada pembangkit adalah generator induksi yaitu Doubly-fed Induction Generator (
DFIG ). Generator induksi digunakan pada pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) karena
dengan kecepatan rotor generator yang berubah ubah. Sehingga dengan generator induksi
kecepatan angin yang berubah ubah tetap dapat dimanfaatkan seefisien mungkin untuk
membangkitkan energi listrik. Prinsip kerja dari PLTB sendiri adalah dengan membangkitkan
listrik akibat putaran bilah turbin yang memutar generator. Listrik yang dibangkitkan
disearahkan dengan menggunakan penyearah. Lalu listrik yang telah disearahkan ( listrik searah
) disimpan dalam baterai. Agar dapat listrik dapat dimanfaatkan pada sistem jala jala, listrik
searah dari baterai diinversikan menjadi listrik bolak balik melalui inverter.Hasil simulasi dan
eksperimen akan digunakan sebagai validasi hasil penelitian dan hasil yang diinginkan.

Latar Belakang

Dengan semakin berkembangnya kebutuhan listrik di seluruh dunia, dan semakin


terbatasnya sumber energi, maka energi terbarukan menjadi solusi atas permasalahan yang
terjadi. Sumber sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan
energi listrik adalah air, sinar matahari, panas bumi, dan angin. Pada prinsipnya sumber sumber
energi terbarukan tersebut dikonversi menjadi energi listrik.

Faktor yang menjadi pertimbangan untuk menggunakan energi terbarukan untuk

memecahkan masalah meningkatnya kebutuhan listrik dan terbatasnya sumber energi, adalah
energi terbarukan merupakan sumber energi yang tidak akan pernah habis. Selain itu pembangkit
pembangkit listrik bersumber energi terbarukan biasanya memiliki dampak terhadap
lingkungan yang rendah. Bahkan memberikan dampak yang sangat kecil pada lingkungan (pada
PLTB karbon dioksida yang dihasilkan untuk membangkitkan listrik sebesar 1/100 kali jumlah
karbon dioksida yang digunakan PLTU untuk membangkitkan listrik).

Angin adalah salah satu sumber energi terbarukan yang terdapat pada alam secara tak
terbatas jumlahnya. Pada awalnya angin banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Sejarahnya sumber energi angin sudah banya digunakan di masa lalu, seperti sebagai penggerak
perahu, pemanfaatan angin dengan kincir angin guna penggilingan gandum dan biji bijian,
memotong kayu di pabrik kayu, dan memompa air.

Pada tahun 2015, kapasitas energi angin yang dapat dikonversi adalah 120.8 GW, sedangkan
kapasitas yang baru di-install mencapai 27 GW. Total energi yang dikonversi dari energi angin
pada akhir tahun 2015 adalah 260 TWh, dengan penghematan pada 158 ton CO2[3]. Di Cina,
pemanfaatan energi angin telah mencapai 12.2 GW. Pembangunan PLTB berkapasitas total 6.3
GW dilakukan pada tahun 2015. Pada tahun yang sama, instalasi PLTB baru berkapasitas total
8.9 GW dilakukan di Eropa, sehingga kapasitas total pembangkit listrik tenaga angin di Eropa
mencapai 66 GW [4]. Pada tahun 2018 nanti pengoprasian PLTB Sidrap dengan daya 70 MW,
sehingga PLTB sidrap ini menjadi pembangkit tenaga angina pertama di Sulawesi Selatan

Secara umum efisiensi penggunaan energi adalah 59.3%, dan efisiensi generator angin rata rata
adalah 48%. Selain efisiensi, penggunaan energi dengan sumber energi terbarukan, semakin
banyaknya generator angin yang termasuk generator jenis DG ( Distributed Generator ) terutama
pada jaringan distribusi pada lokasi lokasi dimana pusat beban berada, PLTB akan
meningkatkan keamanan dan stabilitas grid [3], juga mengurangi rugi rugi dan meningkatkan
faktor beban ( load factor ) sistem transmisi dan distribusi. Namun, pemasangan DG-wind (
PLTB ) pada sistem juga memberi efek samping yang negatif, yaitu profil tegangan mungkin
terganggu kualitasnya, akibat voltage spikes yang tidak diinginkan, sehingga terjadi undervoltage
pada bus bus tertentu pada sistem [1]. Pada penelitian ini, akan diamati pengaruh Pembangkit
Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pada sistem distribusi 20 kv di kota Sengkang, yang telah
dirancang untuk bekerja menjadi jaringan smartgrid. Hasil yang diharapkan adalah dapat
diamatinya profil tegangan, daya aktif, dan daya reaktif dari sistem, dan solusi solusi yang
dapat digunakan untuk meminimalisir efek samping dari pemasangan DG pada sistem distribusi.
Selain itu pada penelitian kali ini juga akan dianalisa letak lokasi DG Wind yang menyebabkan
kualitas profil tegangan dan daya aktif , daya reaktif serta keadaan sistem yang paling optimal.

Smartgrid pada sistem distribusi


Dengan semakin berkembangnya jumlah dan variasi dari beban (yang diprediksikan
jumlahnya bertambah 50% pada abad ke 21), regulasi yang bertambah, kapasitas transmisi yang
terbatas, dan kesadaran lingkungan semakin meningkatkan dorongan agar meningkatakan
pembangkitan energi dari sumber energi terbarukan. Pembangkit konvensional harus berlokasi
dekat dengan sumber energinya pada saat ini, maka energi yang dibangkitkan dari pembangkit
harus ditransmisikan melalui saluran transmisi.]. Pada smartgrid rugi rugi ini dapat dikurangi
karena smartgrid merupakan jaringan yang memiliki pembangkit yang terdistribusi pada pusat
pusat beban dari sistem (Distributed Generatrion DG). Pada sebuah sistem tenaga listrik
smartgrid sejumlah microgrid beroperasi sebagai bagian dari grid tenaga listrik yang saling
terhubung (biasanya pada level sistem distribusi). Pada microgrid yang memiliki pusat kontrol
pada masing masing microgrid-nya terdapat pembangkit pembangkit listrik yang terdistribusi
(Distributed Generation) yang terletak pada lokasi lokasi yang mengoptimasi kerja jaringan.
Distributed generation sendiri merupakan pembangkit berskala kecil yang memanfaatkan energi
terbarukan seperti sel surya dari matahari (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), fuel cells,
combined heat and power ( CHP ) dan angin (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu)[1]. Pada
smartgrid perlu dilakukan sensing, pengukuran, komunikasi terintegrasi, smart meters, dan
penetrasi dari energi yang ramah lingkungan agar kinerja jaringan optimal. Adapaun pengukuran
tegangan dan kualitas tegangan listrik dilakukan hingga hourly basis, bahkan sampai basis
permenit agar jaringan tetap bekerja optimal. Berdasarkan data yang terdapat pada jaringan,
dapat juga diperkirakan perkembangan sistem dan kontrol pada smartgrid kedepannya yang
perlu dilakukan agar tetap optimal kerja dari jaringan.
Dengan kontrol yang dilakukan yaitu penyimpanan energi listrik saat permintaan tidak
pada puncak, dan pemanfaatan energi yang disimpan tersebut saat beban puncak, diharapkan
perbaikan performa sistem tenaga listrik terjadi pada smartgrid. Selain itu rugi rugi transmisi
daya yang sangat jauh dapat dikurangi dengan DG yang berada dekat dengan beban. Agar desain
dan operasi sistem tenaga smartgrid yang efisien, investasi infrastruktur yang substansial perlu
dilakukan dalam bentuk sistem komunikasi, jaringan cyber, sensor, dan smart meters harus
dipasang untuk mengurangi beban puncak saat harga dari energi elektrik paling tinggi. Jaringan
tenaga ini memperkenalkan sensing, monitoring, dan kontrol sistem yang menyediakan harga
dari energi kapanpun melalui real-time pricing kepada users. Bahkan dengan sistem kontrol
yang dikembangkan dari smart metering, users dapat merespon kinerja pemakaian energi
terhadap real-time pricing. Selain itu jaringan ini aman terhadap blackout dari jaringan tenaga
listrik terinterkoneksi[1].

Dimasa yang akan datang, diharapkan pada smartgrid, terdapat sistem cyber-controlled.

Gambar 1 : Gambar Cyber-Controlled Smart Grid


Komunikasi dua arah adalah karakteristik kunci dari sistem energi smart power grid.
Dengan terdapatnya komunikasi dua arah tersebut, memungkinkan users untuk mengatur waktu
dari pemakaian energi untuk kegiatan yang tidak penting berdasarkan harga energi secara real
time yang diekspektasikan. Untuk melakukan pegaturan dan sinkronisasi pada smartgrid,
diperlukan sistem komputer yang merupakan Energy Management System (EMS) / kontrol
pusat energi. Adapun pada sistem SCADA (The Supervisory Control and Data Acquisition)
terdapat pada EMS. Selain SCADA pada EMS juga terdapat fungsi aplikasi yang digunakan
untuk mengoperasikan dan mengkontrol jaringan tenaga listrik[1].

Fungsi dari SCADA sendiri adalah :

1. Mengumpulkan informasi tentang jaringan tenaga listrik.

2. Mengirim data melalui sistem komunikasi jaringan tenaga listrik menuju control center.

3. Menampilkan data di control center untuk menentukan operasi pada jaringan tenaga listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu

Berdasarkan data IEA Clean Coal Center, jumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) didunia
mencapai 2300 unit (7000 unit individu), nilai ini menunjukkan konsumsi energi fosil dalam
pemenuhan energi listrik sangat besar saat ini[1]. Untuk di sengkang sendri terdapat beberapa
pembangkit tenaga uap dan diesel seperti PLTD suppa Adapun dampak dari penggunaan PLTU
ini memberi dampak yang buruk terhadap lingkungan, yaitu pemanasan global (global warming).
Selain itu jumlah energi fossil yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik sumbernya
terbatas. Maka suatu saat jika kita tetap memanfaatkan energi fossil guna membangkitkan energi
listrik, maka kita akan kehabisan energi listrik.
Gambar 2 : Gambar Pembangkit Listrik Tenaga Bayu yang Terdapat di Lautan[5]

Untuk mengurangi dampak buruk akibat energi fosil ini dan menghadapi perkembangan
kelistrikan dimasa yang akan datang, banyak negara yang mengembangkan berbagai macam
pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan. Salah satunya adalah pembangkit listrik
tenaga bayu (PLTB). PLTB merupakan pembangkit listrik yang mengubah energi kinetik angin
menjadi energi listrik. Energi kinetik angin memutar turbin angin / kincir angin, lalu dengan
poros yang sama dengan rotor generator, maka energi listrik dibangkitkan dari generator listrik.

PLTB merupakan pembangkit listrik bersumber energi terbarukan yang berkembang


secara cepat dibanding pembangkit listrik bersumber lainnya. Perkembangan turbin dan
desainkonverter daya meningkatkan penurunan biaya pembangkitan listrik, dimana pada tahun
1980 biaya pembangkitan dengan menggunakan PLTB adalah 37 cents/kWh, pada tahun 2008
sudah turun menjadi 4 cents/kWh. Pada tahun 2008 di dunia, sudah dibangkitkan energi listrik
dengan sumber energi angin sebesar 331600 juta kWh, yang merupakan 1.6% dari total energi
listrik[1].
Komponen Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Bayu adalah :

Gambar 3 : Gambar Komponen Komponen Turbin Angin

1. Blades : 1atau 3 blade dihubungkan pada hub dari shaft (rotor) dari generator. Berbahan
epoxy atau gelas fiber komposit yang bermassa jenis tinggi. Angin menghasilkan gaya
yang tegak lurus pada blade dan menghasilkan gaya angkat pada blade yang
mengakibatkan rotor berputar. Blade di desain untuk meminimasi drag forces dan
meningkatkan gaya angkat untuk meningkatkan daya keluaran turbin pada kecepatan
yang bervariasi.

2. Rotor : Rotor mentransfer daya mekanik 5angin menjadi gerak pada generator sehingga
dapat menghasilkan 5energi listrik. Pisau dan shaft yang terhubung disebut rotor pada
PLTB.

3. Pitch control : Menggunakan motor elektrik atau mekanisme hidraulik. Memiliki fungsi
untuk memaksimalkan daya yang ditangkap dari turbin atau menjaga kecepatan rotasi
rotor pada kecepatan angin yang tinggi atau rendah.

4. Brake : Berfungsi untuk menjaga kecepatan putar rotor generator tetap pada titik aman
terutama pada 5angin yang besar. Titik aman tersebut diatur agar berada pada titik
dimana generator akan menghasilkan 5energi listrik yang dibangkitkan maksimal.
Adapun bila kecepetan 5angin terlalu kencang, dapat berpotensi menyebabkan kerusakan
pada generator. Dampak dari kerusakan akibat putaran berlebih antara lain overheat,
rotor breakdown, kawat pada generator putus karena tidak dapat menahan arus yang
besar. Selain itu brake juga berguna untuk menghentikan rotor saat terjadi maintenance.

5. Low-speed shaft :Didesain untuk mentransfer daya mekanik pada rotor pada
kecepatan 30 60 rpm menuju gearbox.

6. Gear box : Digunakan untuk mengkopel shaft berkecepatan tinggi dan berkecepatan
rendah, dan meningkatkan kecepatan rotasi menjadi 1200-1600 rpm yang cocok untuk
menghasilkan listrik. Gearbox adalah bagian mahal (dan berat) dari turbin 5angin. Maka
diperlukan perawatan yang lebih dan perancangan desain yang baik selain untuk
pemakaian yang awet juga untuk meningkatkan performa dari PLTB.

7. Generator : Berfungsi mengkonversi 5energi putar menjadi energi listrik. Adapun jenis
generator yang digunakan pada PLTB adlah generator induksi dan generator sinkron
dengan exciter elektrik atau dengan menggunakan magnet permanen sebagai pengganti
exciter.Dengan menggunakan generator induksi, pembangkitan listrik dapat dilakukan
pada kecepatan 5angin yang bervariasi, maupun pada sistem dengan kecepatan rotor yang
tetap. Pada generator sinkron tegangan dan frekuensi keluaran generator dapat diatur
dengan mudah dengan cara mengatur arus medan dari generator. Namun biayanya mahal
karena membutuhkan arus penguat dan sistem kontrol yang rumit. Adapun jenis
generator induksi yang sedang dikembangkan untuk PLTB adalah PMSM (Permanent
Magnet Synvhronous Machiner).

8. Controller : Berfungsi untuk meregulasi dan mengkontrol operasi mekanik dan elektrik
dari turbin.

9. Anemometer : Mengukur kecepatan 5angin dan mengirim hasil pengukuran pada


kontroler.
10. Wind vane / Weather vane : Instrumen yang menunjukkan arah dari 5angin dan
dikirimkan ke kontroler untuk diubah menjadi command ditujukan kepada yaw drive
untuk mengarahkan turbin pada orientasi arah yang tepat agar daya yang dibangkitkan
optimal.

11. Nacelle : Berada di atas menara dan terlindungi terhadap perubahan cuaca.
Merupakan lokasi dimana gear box, shafts, generator, kontroler, dan rotor brakes.

12. High-Speed shaft : Mengkopel secara mekanis gear box dan rotor dari
generator listrik.

13. Yaw drive : Mengarahkan nacelle dan rotor menggunakan yaw motor atau
mekanisme hidrolis.

14. Yaw motor : Berfungsi untuk menggerakkan nacelle beserta komponen yang
terdapat di dalamnya.

15. Tower : Menara terbuat dari baja tabung, beton atau kisi baja. Dengan ketinggian
bertambah, maka kecepatan 5aangin akan meningkat. Agar lebih banyak 5energi angin
yang dikonversi menjadi 5energi elektrik, maka turbin angin dan nacelle harus
dipertahankan pada suatu ketinggian tertentu. Merupakan fungsi dari tower untuk
mempertahankan turbin 5angin dan nacelle pada ketinggian
tertentu. Berdasarkan jenisnya, tower dibedakan menjadi 3 jenis :
Gambar 4 : Gambar Turbin Angin Berdasarkan Jenisnya. Dari Kiri : Guyed, Lattice, dan Mono-
Structure[5]

Setiap jenis tower memiliki karakteristik masing masing dalam hal biaya, perawatan, dan
efisiensinya ataupun dari segi kesulitan pembuatannya.

Wind direction : arah alir dari 6angin

Penyimpan 6energi (baterai) : Ketersediaan 6energi angin sepanjang hari terbatas, maka
ketersediaan listrik juga terbatas. Maka digunakan alat penyimpanan 6energi yang berfungsi
untuk melakukan back-up 6 energi listrik. Sehingga ketika demand meningkat atau kecepatan
6angin menurun, pemenuhan demand energi listrik dapat dipenuhi oleh 6 energi listrik yang telah
disimpan. Adapun energi listrik disimpan saat terjadi kelebihan daya pada PLTB yaitu pada saat
turbin 6angin berputar kencang atau saat demand 6 energi listrik berkurang.

Secara umum jenis sistem PLTB berdasarkan kecepatannya dibagi atas :

1. Kecepatan konstan

Keuntungan dari sistem ini adalah murah, sederhana, dan sistemnya kokoh (robust). Sistem
beroperasi pada kecepatan putar turbin yang konstan dan menghasilkan daya maksimum pada
satu nilai kecepatan angin. Generator yang digunakan pada sistem ini adalah generator asinkron
bertipe Squirrel Cage Induction Generator pada sisitem ini terdapat slip ring, brush,dan three
stage gearbox, yang meningkatkan massa dan biaya sistem, juga rugi

rugi elektrik danmekanik[3]. Skematik dari sistem ini digambarkan melalui gambar berikut :
Gambar 5 : Gambar Sistem PLTB Kecepatan Konstan (Fixed-Speed) [5]

Sistem PLTB didesain menggunakan sistem kecepatan berubah, sehingga saat kecepatan angin
berubah, energi angin tetap dapat dimanfaatkan secara optimal. Pulsating torque pada sistem ini
dapat dihilangkan[3]. Pada sistem PLTB kecepatan berubah terbagi atas :

a. Konsep Kecepatan Berubah dengan Gearbox

Sistem jenis ini dikenal juga sebagai DFIG (Doubly-fed Induction Generator). Gear box 3 stage
digunakan untuk menghubungkan turbin angin kecepatan rendah kepada belitan rotor generator
induksi berkecepatan tinggi untuk mencapai perubahan kecepatan pembangkitan. Rotor
terhubung pada konverter, dan stator terhubung pada grid secara langsung.

Kelebihan DFIG adalah kontrol daya aktif dan reaktif yang fleksibel, kapasitas konverter daya
kecil, lebih dulu muncul pada pasar tenaga angin, dan lengkap untuk mendukung tenaga
konverter berskala besar. Kekurangan DFIG adalah butuh konverter PWM frekuensi 4 kuadran,
butuh gearbox dan transmisi kecepatan tinggi sehingga menambah biaya, dan efisiensi rendah
juga menambah perawatan sistem. Secara umum penangkapan tenaga angin maksimal tidak
dapat dicapai pada range kecepatan yang lebar. DFIG juga membutuhkan sistem pendinginan
sehingga maintenance bertambah dan kecepatan cut-in 6 angin lebih besar dibanding dengan
PMSG[3]. Skema dari sistem ini adalah :

Gambar 6 : Gambar Sistem PLTB Kecepatan Berubah (Variable-Speed) dengan Gear Box[5]
Konsep Kecepatan Berubah dengan Direct-Drive

: Rotor dari EESG bertipe salien dan berkecepatan rendah, dan butuh eksitasi oleh tegangan
DC. Untuk mempertahankan konverter dan frekuensi tegangan saat generator berotasi pada range
kecepatan yang lebar digunakan konverter. Karena tidak menggunakan permanent magnet ( PM )
biaya berkurang sangat besar, dan generator jenis ini dan pada lingkungan yang keras EESG
memiliki performa yang lebih baik. Skema dari PLTB yang menggunakan EESG adalah :

Gambar 7 : Gambar Sistem PLTB Kecepatan Berubah (Variable-Speed) dengan Direct-Drive


yaitu EESG[5]

Permanent Magnet Synchronous Generator ( PMSG )

Eksitasi DC pada rotor diganti dengan PM, adapun PMSG mulai menarik perhatian pasar karena
PM yang semakin murah dan baik performanya. Untuk suatu rating daya yang sama tipe axial
flux slotted PMSG memiliki volume lebih kecil ( kerapatan daya lebih tinggi ). Kelebihan PMSG
karena tidak ada gearbox dan transmisi kecepatan tinggi, akibatnya efisiensi transmisi
meningkat, dan biaya berkurang. Efisiensi tinggi karena 7energi angin maksimum yang didapat
terdapat pada range kecepatan angkin yang lebar. Selain itu teknologi kontrol yang lebih mudah,
pengembangan yang mudah dan perawatan yang lebih sedikit. Bila dibandingkan, DFIG dengan
multistage gearbox memiliki nilai energi per biaya yang paling tinggi, karena
konfigurasinya yang simpel dan konverterdengan rating daya yang lebih kecil. PMSG dimasa
yang akan datang akan menarik perhatian karena harga PM yang makin murah dan performa
yang meningkat[3]. Skema dari PLTB yang menggunakan PMSG adalah :

Gambar 8 : Gambar Sistem PLTB Kecepatan Berubah (Variable-Speed) dengan Direct-Drive


yaitu PMSG[5]

SIMULASI

Pada tugas akhir ini penelitian dilakukan pada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pada
jaringan distribusi 20kV, yang rencananya merupakan jaringan distribusi pulau Lombok. PLTB
sendiri di Indonesia yang sudah terhubung pada jala jala (on grid) terdapat pada . Adapun
jaringan yang didesain merupakan jaringan yang bersifat smartgrid. Dengan sifat dan
karakteristik PLTB (yang merupakan Distributed Generation), pembangkit dengan sumber
energi terbarukan ini sesuai dengan operasi dari smartgrid.

Adapun jenis sistem PLTB yang digunakan pada tugas akhir ini adalah sistem kecepatan berubah
jenis DFIG yang merupakan Doubly Fed Variable Speed Constant Frequency (VSCF) Induction
Generator. Pada sistem tenaga listrik yang didesain akan dipasang PLTB pada letak dan
kapasitas yang sesuai agar sistem berkerja secara optimal.

Adapun pada proposal saat ini, tidak semua pengerjaan dapat diselesaikan. Progress
pengerjaan tugas akhir saat ini adalah melakukan simulasi pada komponen komponen yang
akan digunakan pada sistem tenaga listrik yang diteliti menggunakan tools software bidang
engineering yang ada.

Simulasi dilakukan pada karakteristik daya aktif terhadap kecepatan generator induksi dengan
menggunakan tools MATLAB versi 7.8.0.347 (R2009a). Simulasi DFIG yang membangkitkan
listrik dan di step up tegangan yang dihasilkan dengan menggunakan trafo menjadi 20kV
dilakukan dengan tools DIgSILENT PowerFactory 14.0.520.1. Hasil simulasi yang diamati
adalah karakteristik dari DFIG pada tegangan 20 kV serta load flow 5 detik pertama pada skema
jaringan yang disusun.

Hasil percobaan yang didapat adalah :

Karakteristik Daya Aktif Terhadap Kecepatan Generator Induksi :

Adapun hasil simulasi yang dilakukan sesuai dengan persamaan yang disimulasikan pada
generator induksi adalah :

Gambar 9 : Gambar Hasil Simulasi Script Matlab Kurva Karakteristik Generator Induksi
Gambar 10 : Gambar Hasil Simulasi Script Matlab Kurva Karakteristik Generator Induksi dengan
Frekuensi 50 Hz

Gambar 11 : Gambar Hasil Simulasi Script Matlab Kurva Karakteristik Generator Induksi dengan
Mengubah Parameter Generator Induksi
REFERENSI

[1] Keyhani, Ali. Smart Power Grid Renewable Energy Systems. Canada : Wiley, 2011.

[2] Study on Modeling Simulation and Identification Wind Generator Based on DIgSILENT.
Sheng, Jie Zeng Chao and Yuan Zeng Wenjia Chu. Guangdong, China : IEEE, 2012.

[3] Review of the Wind Energy Generating System. E., Cheng K. W., et al., et al. Hongkong :
s.n., 2009.

[4]

http://www.ene.ttu.ee/elektriajamid/teadus/ar tiklid/Comp_OF_models/Image613.gif. [Online]


[Cited: December 10, 2013.]

[5] Rizkina, Uci and Andayani, Trya. http://gang-listrik.blogspot.com/2013/06/post-13-


pembangkit-listrik-tenaga.html. [Online] [Cited: December 11, 2013.]

[6]

http://ariestarlight.blogspot.com/2013/03/mot or-induksi-sebagai-generator.html. [Online]


[Cited: December 15, 2013.]