Anda di halaman 1dari 4

PERTEMPURAN TRAGIS DUA BERSAUDARA

Martoloyo-Martopuro adalah sebuah kisah perjuangan yang tragis. Kedua saudara

seperguan ini sama-sama mempertahankan idealismenya, hingga keduanya tewas

dalam pertempuran yang dahsyat.

Martoloyo adalah Adipati Tegal sedang Martopuro Adipati Jepara.

Pemberontakan yang dilakukan Trunojoyo di berbagai wilayah terhadap Kerajaan

Mataram mengalami kekalahan.

Darah tertumpah di segala medan peperangan. Trunojoyo seperti serigala lapar, dia

membalas dendam atas kematian ayah tercintanya yang terbunuh oleh kekejian

Mataram.

Karena terdesak oleh sepak terjang Trunojoyo, Amangkurat II sang Adipati Anom

meminta bantuan Belanda. Padahal, sejak zaman Sultan Agung, bekerja sama dengan

Belanda merupakan tindakan haram. Namun, pada masa itu, pemerintahan

Amangkurat II justru berpeluk hangat dengan penjajah.

Tindakan tersebut tentu saja membuat marah senopati-senopati andalan Mataram.

Salah satunya Adipati Tegal Martoloyo. Dia marah dan jijik melihat tingkah laku

Belanda yang tidak punya tata krama. Martoloyo ikut muak melihat atasannya

bersahabat dan bekerja sama dengan kompeni. Puncak kemarahannya ditunjukkan

dengan meninggalkan jabatan Adipati Tegal dan memilih menjadi rakyat

biasa.
Setelah meninggalkan jabatan sebagai Adipati Tegal, Martoloyo pun menggugat

Mataram. Amangkurat II yang merasa terhina oleh ulah Martoloyo, dengan kekuatan

dan kekuasaannya mengutus Martopuro untuk membawa Martoloyo, baik hidup

ataupun mati. Akhirnya, peperangan yang tidak terelakkan pun terjadi. Martoloyo

dan Martopuro saling serang dengan keris dan senjata masing-masing.

Bertemu sahabat dan juga saudara seperguruan membuat mereka pada awalnya ragu.

Namun, dengan ego dan idealisme masing-masing, tak pelak pedang dan keris saling

beradu.

Martopuro : Berhentilah! Berhentilah membuat Amangkurat II marah! Jangan lagi

kau singgung-singgung tentang Belanda. Kau akan aman bersamaku.

Martoloyo : Kau bilang aman. Tapi apa? Kau mau aku jadi pengkhianat tanah air

sendiri? Dengan bergantung pada Belanda? Jangan kau samakan aku

denganmu!

Martopuro : Jangan begitu. Kita saudara, dan sudah seharusnya kita bersama.

Martoloyo : Tak perlu lagi kau ungkit hal itu. Dengan kau membelanya, membela

Belanda, maka tali persaudaraan kita ikut terputus.


Pertempuran semakin memanas di mana masing-masing mereka saling berperang

sendiri, tanpa bantuan prajurit kerajaan maupun pendukungnya. Keris dan pedang

saling beradu memamerkan suara khasnya. Crang!!

Setelah beberapa lamanya, saat keduanya sudah tersengal-sengal, Martopuro masih

berusaha membujuk Martoloyo.

Martopuro : Tolonglah. Ikutlah bersamaku. Aku akan membawamu jauh dari

kerajaan. Akan kupastikan kau aman bersamaku.

Martoloyo : Aku berjuang demi tanah airku. Jangan lagi kau sebut dirimu saudara

jika kau tetap bersama mereka.

Martopuro : Baiklah. Akan kulakukan dengan caraku.

Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Pedang masih beradu dengan ketangkasan

khas masing-masing si pembawa pedang. Setelah sekian lamanya pertempuran, darah

mengucur dari masing-masing tubuh pembawa pedang. Akhirnya, perang pun

berhenti ketika kedua bersaudara itu tumbang bersamaan di detik-detik terakhir

mereka mengalungkan pedang mereka ke leher musuh mereka masing-masing.

Terakhir, pedang dan keris Martoloyo dilayangkan ke dada Martopuro, begitu juga
dengan pedang Martopuro yang dihunuskan ke dada Martoloyo. Kematian tragis

terjadi begitu saja menimpa kedua bersaudara itu.