Anda di halaman 1dari 3

Agita Zafi Rahmasari

F0314006 / C

Kasus: Perilaku Bullying terhadap Mahasiswa Asrama Universitas

Kasus ini terjadi pada asrama Universitas A yang merupakan salah satu
universitas swasta di Kota Bandung. Berdasarkan sumber dari Biro Administrasi tahun
2006 asrama Universitas A merupakan asrama yang dibangun oleh Universitas A yang
berlokasi di Kota Bandung, Jawa Barat. Menurut data statistik yang dikeluarkan Biro
Kemahasiswaan Universitas A, bahwa terdapat data berkisar antara satu sampai dua
kasus bullying di asrama setiap semester, dengan jumlah pelaku bullying berkisar dari
satu sampai delapan orang. Tindakan hukuman yang diberikan kepada pelaku berbentuk
skorsing selama dua semester. Bila dibiarkan berlangsung terus menerus, efek tindakan
bullying bagi kedua belah pihak baik bagi korban maupun pelaku akan mengganggu
proses pembelajaran.

Bullying dilakukan ketika mahasiswa sedang menjalani orientasi pengenalan


kampus bahkan juga dilakukan di asrama tempat tinggal mereka. Pada Universitas A,
bullying terjadi bukan hanya di asrama tetapi juga di lingkungan kampus terutama di
tempat-tempat yang bebas dari pengawasan dosen maupun Kepala asrama. Pelaku
bullying bebas melakukan tindakannya ketika orang-orang yang dianggap memiliki
kewenangan di kampus sedang tidak mengawasi mereka. Tempat-tempat yang biasanya
digunakan untuk melakukan bullying adalah kamar mandi, kamar kosong, bahkan
kamar hunian korban ketika penghuni lainnya tidak ada di tempat. Beberapa wujud
bullying yang pernah terjadi di asrama universitas A adalah berupa intimidasi,
pemalakan, pemukul-an, ucapan-ucapan kotor dan melecehkan. Hal yang cukup tragis
ditemukan pada kasus ini adalah adanya bentuk bullying yang lebih ekstrim dari sekadar
intimidasi. Bentuk bullying tersebut adalah pemaksaan pada korban untuk menenggak
minuman keras, pelaku menelanjangi korban lalu korban tersebut dipaksa untuk mandi
di tengah malam.

Meskipun para mahasiswa tinggal di asrama yang cukup dengan aturan dan
rutinitas beribadah, tetapi masih terdapat perilaku bullying yang sangat merugikan bagi
penghuninya. Kendati telah menerapkan banyak kebijakan di lingkungan kampus dan
asrama, tindakan melanggar etika dan tata tertib di kampus Universitas A masih tetap
dilakukan oleh mahasiswa. Berdasarkan hasil observasi, masih terdapat mahasiswa yang
kurang menegakkan sikap hormat kepada sesama mahasiswa. Terdengar ucapan-ucapan
kasar yang terlontar dari mulut mereka. Hal tersebut dapat memicu terjadinya
kesalahpahaman yang berakibat pada perselisihan.

Sumber: Jurnal psikologi Perilaku Bullying pada Mahasiswa Berasrama oleh


Mangadar Simbolon

Pembahasan dan Analisis Kepribadian

Bullying merupakan suatu tindakan agresif yang dilakukan oleh seorang atau
lebih untuk menindas dan menyakiti orang lain yang dianggap lebih lemah. Tindakan
bullying ini dapat berupa kekerasan fisik, verbal maupun psikologis. Contoh bullying
fisik antara lain menampar, menimpuk, menjegal, memalak dll. Sedangkan contoh
bullying verbal antara lain memaki, menjuluki, menghina, meneriaki, mempermalukan
di hadapan umum, menuduh dll. Jenis bullying yang paling berbahaya adalah bullying
mental atau psikologis, contohnya adalah memandang sinis, memandang penuh
ancaman, mendiamkan, mengucilkan, meneror melalui pesan dll. Tindakan ini dapat
memberikan dampak traumatis yang mendalam bagi korban sehingga sangat perlu
untuk diberantas. Menurut kasus ini, faktor-faktor yang memicu terjadinya tindakan
bullying dapat dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
yaitu karakteristik kepribadian seseorang, pengalaman masa lalu dan perilaku keluarga
sedangkan faktor eksternal dapat berasal dari lingkungan dan budaya. Namun faktor
eksternal tersebut dapat pula membentuk kepribadian seseorang untuk menjadi seorang
pembully.

Kepribadian seseorang sebagai salah satu faktor yang menimbulkan tindakan


bullying sendiri dapat dipengaruhi oleh lingkungan, genetika dan situasi. Dalam kasus
ini, bullying terjadi bukan hanya di asrama tetapi juga di lingkungan kampus terutama
di tempat-tempat yang bebas dari pengawasan dosen maupun Kepala asrama sehingga
faktor lingkungan dinilai sangat mempengaruhi terjadinya tindakan tersebut. Terutama
di lingkungan kampus A ini masih kental sekali dengan nilai senioritas yang membuat
adik tingkat mau tidak mau takut kepada seniornya. Lingkungan pertemanan dan
komunitas perkumpulan juga dinilai dapat mempengaruhi kepribadian kita. Teman
adalah orang terdekat kita terutama ketika merantau dan berada jauh dari keluarga. Oleh
karena itu, pergaulan dengan teman dan kelompok tertentu dapat mempengaruhi
kepribadian kita. Apabila kita salah dalam menjalin pertemanan, maka tindakan-
tindakan yang tidak patut dilakukan seperti bullying ini dapat saja terjadi pada diri kita.

Faktor genetika dapat menurun dari orang tua kepada anak, yaitu mulai dari
fisik, ekspresi wajah, sifat, tingkat energi, dan faktor biologis lainnya. Faktor keturunan
atau genetika ini juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang untuk menjadi
pembully atau justru korban bullying. Sikap orangtua yang memanjakan anaknya tidak
membentuk kepribadian yang matang bagi si anak. Selain itu, sifat orang tua yang
pemarah dapat juga menurun pada sang anak karena setiap hari sang anak terbiasa
dengan situasi tersebut. Tekanan dari orang tua juga memberikan dampak buruk bagi
sang anak sehingga sang anak cenderung melampiaskan tekanan tersebut pada orang
lain. Begitu pula sebaliknya, apabila orang tua memiliki sifat yang lembut dan
penyayang maka sang anak cenderung memiliki sifat yang hampir sama.

Setelah mengkaji faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, maka diharapkan


dapat dilakukan upaya pencegahan adanya tindakan bullying ini. Pihak asrama dan
kampus berperan penting dalam upaya perncegahan kasus ini. Kebijakan yang dibuat
antara lain membuat seperangkat peraturan tentang pencegahan, penghentian serta
intervensi bagi korban maupun pelaku. Kebijakan yang telah dirancang di Universitas A
antara lain peningkatan pemahaman agama, menghidupkan ajaran agama, serta
menegakkan nilai-nilai keluhuran. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk
mengutarakan pendapatnya melalui angket yang dibagikan. Agar kebijakan tersebut
efektif, diharapkan adanya pengawasan oleh pihak kampus dan asrama agar munculnya
tindakan bullying dapat diatasi. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain di
luar kegiatan akademik dapat digunakan sebagai sarana mempererat hubungan antar
mahasiswa sehingga tidak terjadi gap sesama mahasiswa. Selain itu, orang tua dan
keluarga berperan penting untuk mencegah tindakan tersebut. Para orang tua hendaknya
merangkul dan membimbing anaknya agar dapat sang anak memiliki kepribadian yang
tidak menyimpang dan merugikan orang lain.