Anda di halaman 1dari 20

UNIVERSITAS TADULAKO

FAKULTAS TEKNIK
Nama : Nia Ramadanti
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
NIM : F 121 16 006
LEMBAR LAPORAN PRAKTIKUM
Acara 3 : Porifera

V D S

KET :
1. Test 5. Holdpast
2. Osculum 6. Epidermis
3. Spongosol
4. Ostia

NO. SAMPEL :3
FILUM : PORIFERA
KELAS : CALCAREA
ORDO : LEUCOSOLENIDA
FAMILI : LELAPIIDAE
GENUS : Raphidonema
SPESIES : Raphidonema sp.
PROSES PEMFOSILAN : Petrifikasi (Permineralisasi)
BENTUK FOSIL : Conical
KOMPOSISI KIMIA : Kalsium karbonat (CaCO3)
UMUR : Kapur-eosen (100-44 juta tahun yang lalu)
L. PENGENDAPAN : Laut dangkal
KETERANGAN :
Filum ini merupakan organisme dari spesies Raphidonema sp., genus Raphidonema, famili
LELAPIIDAE, ordo LEUCOSOLENIDA, kelas CALCAREA, filum PORIFERA dan kingdom ANIMALIA.
Proses pemfosilan dari fosil ini yaitu Petrifikasi karena pada saat setelah organisme ini
mati material-material sedimen akan mengalami transportasi, penumpukan dan pengendapan
pada daerah cekungan yang stabil, di daerah ini yang membuat material terakumulasi, semakin
lama material ini akan menumpuk dan mengalami tekanan secara terus menerus dan
mengakibatkan material terkompaksi akibatnya pori-pori akan mengecil. Kemudian material
sedimen yang halus akan masuk melalui pori-porinya. Setelah itu organisme beserta material
sedimennya akan mengalami litifikasi (pembatuan) sehingga organisme tersebut akan menjadi
fosil. Kemudian proses yang dialami berikutnya Permineralisasi yaitu proses pengawetan yang
terjadi di dalam rongga organisme akan terisi oleh mineral-mineral yang terendapkan.
Penyebab fosil lingkungan laut dangkal ini naik ke permukaan karena dipengaruhi oleh
adanya tenaga endogen berupa gaya tektonik lempeng sehingga fosil akan naik permukaan.
Setelah naik ke permukaan akan terjadi gaya eksogen berupa angin, air, dan es sehingga fosil ini
dapat ditemukan di atas permukaan.
Bentuk dari fosil ini ialah conical yaitu berbentuk seperti kerucut. Bagian dari tubuh fosil
ini yang masih bisa dilihat dari fosil ini ialah test, osculum, spongosol, ostia, holdpast dan
epidermis. Komposisi kimia dari fosil ini ialah Kalsium karbonat (CaCO3). Umur dari fosil ini
diperkirakan pada zaman Kapur-eosen (100-44 juta tahun yang lalu). Pada lingkungannya yaitu
Laut dangkal.
Kegunaan dari fosil ini yaitu untuk merekonstruksi lingkungan purba dan umur suatu
lapisan batuan (stratigrafi), karena berdasarkan letak fosil kita dapat mengetahui rentang umur
tertentu, untuk mengetahui iklim purba, untuk mengetahui lingkungan pengendapan, dan agar
dapat mengetahui aktivitas tektonik yang telah berlangsung.

PRAKTIKAN ASISTEN
DAFTAR PUSTAKA

https://en.wikipedia.org/wiki/Raphidonema_(sponge)

http://www.algaebase.org/search/genus/detail/?genus_id=43513

https://utex.org/products/utex-sno-0058

https://artikelbermutu.com/2014/04/filum-porifera-karang-ciri-ciri-dan.html

https://dosenbiologi.com/hewan/klasifikasi-filum-porifera
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
Nama : Nia Ramadanti
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
NIM : F 121 16 006
LEMBAR LAPORAN PRAKTIKUM
Acara 3 : Porifera

V D S

KET :
1. Test 5. Epidermis
2. Osculum
3. Spongosol
4. Ostia

NO. SAMPEL :4
FILUM : PORIFERA
KELAS : CALCAREA
ORDO : LITHONIDA
FAMILI : MINCHINELLIDAE
GENUS : Porosphaera
SPESIES : Porosphaera globularis
PROSES PEMFOSILAN : Petrifikasi (Permineralisasi)
BENTUK FOSIL : Globular
KOMPOSISI KIMIA : Kalsium karbonat (CaCO3)
UMUR : Kapur atas (100-65 juta tahun yang lalu)
L. PENGENDAPAN : Laut dangkal
KETERANGAN :
Filum ini merupakan organisme dari spesies Porosphaera globularis, genus Porosphaera,
famili MINCHINELLIDAE, ordo LITHONIDA, kelas CALCAREA, filum PORIFERA dan kingdom
ANIMALIA.
Proses pemfosilan dari fosil ini yaitu setelah organisme ini mati material-materialnya
akan mengalami transportasi, kemudian akan mengalami penumpukan dan pengendapan akibat
tekanan dari material sedimennya melalui pori-porinya yang akan mengecil dan digantikan oleh
material sedimen yang halus. Setelah itu organisme beserta material sedimennya akan
mengalami litifikasi (pembatuan) sehingga organisme tersebut akan menjadi fosil. Kemudian
proses yang dialami berikutnya Permineralisasi yaitu proses pengawetan yang terjadi di dalam
rongga organismenya akan terisi oleh mineral-mineral yang terendapkan.
Bentuk dari fosil ini ialah Globular seperti bola yang memiliki lubang ditengahnya. Bagian
dari tubuh fosil ini yang masih bisa dilihat dari fosil ini ialah test, osculum, spongosol, ostia dan
epidermis. Komposisi kimia dari fosil ini ialah Kalsium karbonat (CaCO3). Umur dari fosil ini
diperkirakan pada kala Kapur atas (100-65 juta tahun yang lalu). Pada lingkungannya yaitu
Laut dangkal.
Kegunaan dari fosil ini yaitu untuk merekonstruksi lingkungan purba dan umur suatu
lapisan batuan (stratigrafi), karena berdasarkan letak fosil kita dapat mengetahui rentang umur
tertentu, untuk mengetahui iklim purba, untuk mengetahui lingkungan pengendapan, dan agar
dapat mengetahui aktivitas tektonik yang telah berlangsung.

PRAKTIKAN ASISTEN
DAFTAR PUSTAKA

https://dokumen.tips/documents/filum-porifera.html

http://www.cretaceous.de/Porosphaera.html

http://www.fffotos.de/index.php/kreidezeit/kreide-diverse/1590-porosphaera-globularis

http://www.softilmu.com/2015/06/Pengertian-Ciri-Struktur-Tubuh-Klasifikasi-Porifera-
Adalah.html

http://www.artikelsiana.com/2015/04/pengertian-porifera-ciri-ciri-reproduksi-klasifikasi.html
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
Nama : Nia Ramadanti
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
NIM : F 121 16 006
LEMBAR LAPORAN PRAKTIKUM
Acara 3 : Porifera

V D S

KET :
1. Test 5. Epidermis
2. Osculum 6. Holdpast
3. Spongosol
4. Ostia

NO. SAMPEL :2
FILUM : PORIFERA
KELAS : DEMOSPONGIAE
ORDO : SPIROSCLEROPHORIDA
FAMILI : AZORICIDAE
GENUS : Stachyspongia
SPESIES : Stachyspongia tuberculosa
PROSES PEMFOSILAN : Petrifikasi (Permineralisasi)
BENTUK FOSIL : Branching
KOMPOSISI KIMIA : Kalsium karbonat (CaCO3)
UMUR : Kapur atas (100-65 juta tahun yang lalu)
L. PENGENDAPAN : Laut dangkal
KETERANGAN :
Filum ini merupakan organisme dari spesies Stachyspongia tuberculosa, genus
Stachyspongia, famili AZORICIDAE, ordo SPIROSCLEROPHORIDA, kelas DEMOSPONGIAE, filum
PORIFERA dan kingdom ANIMALIA.
Proses pemfosilan dari fosil ini yaitu Petrifikasi karena pada saat setelah organisme ini
mati material-material sedimen akan mengalami transportasi, penumpukan dan pengendapan
pada daerah cekungan yang stabil, di daerah ini yang membuat material terakumulasi, semakin
lama material ini akan menumpuk dan mengalami tekanan secara terus menerus dan
mengakibatkan material terkompaksi akibatnya pori-pori akan mengecil. Kemudian material
sedimen yang halus akan masuk melalui pori-porinya. Setelah itu organisme beserta material
sedimennya akan mengalami litifikasi (pembatuan) sehingga organisme tersebut akan menjadi
fosil. Kemudian proses yang dialami berikutnya Permineralisasi yaitu proses pengawetan yang
terjadi di dalam rongga organisme akan terisi oleh mineral-mineral yang terendapkan.
Bentuk dari fosil ini ialah Branching yaitu memiliki beberapa cabang. Bagian dari tubuh
fosil ini yang masih bisa dilihat dari fosil ini ialah test, osculum, spongosol, ostia, holdpast dan
epidermis. Komposisi kimia dari fosil ini ialah Kalsium karbonat (CaCO3). Umur dari fosil ini
diperkirakan pada zaman Kapur atas (100-65 juta tahun yang lalu). Pada lingkungannya yaitu
Laut dangkal.
Kegunaan dari fosil ini yaitu untuk merekonstruksi lingkungan purba dan umur suatu
lapisan batuan (stratigrafi), karena berdasarkan letak fosil kita dapat mengetahui rentang umur
tertentu, untuk mengetahui iklim purba, untuk mengetahui lingkungan pengendapan, dan agar
dapat mengetahui aktivitas tektonik yang telah berlangsung.

PRAKTIKAN ASISTEN
DAFTAR PUSTAKA

https://english.fossiel.net/id_system/fossil_id_search.php?zoek=47-0666

http://www.artikelsiana.com/2015/04/pengertian-porifera-ciri-ciri-reproduksi-klasifikasi.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Spongilla

http://www.softilmu.com/2015/06/Pengertian-Ciri-Struktur-Tubuh-Klasifikasi-Porifera-
Adalah.html

http://www.artikelsiana.com/2015/04/pengertian-porifera-ciri-ciri-reproduksi-klasifikasi.html
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
Nama : Nia Ramadanti
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
NIM : F 121 16 006
LEMBAR LAPORAN PRAKTIKUM
Acara 3 : Porifera

V D S

KET :
1. Test 5. Holdpast
2. Osculum 6. Epidermis
3. Spongosol
4. Ostia

NO. SAMPEL :1
FILUM : PORIFERA
KELAS : HEXACTINELLIDA
ORDO : LYCHNISKIDA
FAMILI : VENTRICULITIDAE
GENUS : Napaeana
SPESIES : Napaeana striata
PROSES PEMFOSILAN : Petrifikasi (Permineralisasi)
BENTUK FOSIL : Branching
KOMPOSISI KIMIA : CaCO3 (kalsium karbonat)
UMUR : Kapur bawah (141-100 juta tahun yang lalu)
L. PENGENDAPAN : Laut dangkal
KETERANGAN :
Filum ini merupakan organisme dari spesies Napaeana striata, genus Napaeana, famili
VENTRICULITIDAE, ordo LYCHNISKIDA, kelas HEXACTINELLIDA, filum PORIFERA dan kingdom
ANIMALIA.
Proses pemfosilan dari fosil ini yaitu Petrifikasi karena pada saat setelah organisme ini
mati material-material sedimen akan mengalami transportasi, penumpukan dan pengendapan
pada daerah cekungan yang stabil, di daerah ini yang membuat material terakumulasi, semakin
lama material ini akan menumpuk dan mengalami tekanan secara terus menerus dan
mengakibatkan material terkompaksi akibatnya pori-pori akan mengecil. Kemudian material
sedimen yang halus akan masuk melalui pori-porinya. Setelah itu organisme beserta material
sedimennya akan mengalami litifikasi (pembatuan) sehingga organisme tersebut akan menjadi
fosil. Kemudian proses yang dialami berikutnya Permineralisasi yaitu proses pengawetan yang
terjadi di dalam rongga organisme akan terisi oleh mineral-mineral yang terendapkan.
Bentuk dari fosil ini ialah Branching yaitu memiliki banyak cabang. Bagian dari tubuh
fosil ini yang masih bisa dilihat dari fosil ini ialah test, osculum, spongosol, ostia, holdpast dan
epidermis. Komposisi kimia dari fosil ini ialah Kalsium karbonat (CaCO3). Umur dari fosil ini
diperkirakan pada zaman Kapur bawah (141-100 juta tahun yang lalu). Pada lingkungannya
yaitu Laut dangkal.
Kegunaan dari fosil ini yaitu untuk merekonstruksi lingkungan purba dan umur suatu
lapisan batuan (stratigrafi), karena berdasarkan letak fosil kita dapat mengetahui rentang umur
tertentu, untuk mengetahui iklim purba, untuk mengetahui lingkungan pengendapan, dan agar
dapat mengetahui aktivitas tektonik yang telah berlangsung.

PRAKTIKAN ASISTEN
DAFTAR PUSTAKA

http://fossilworks.org/?a=taxonInfo&taxon_no=189373

http://www.thefossilforum.com/index.php?/gallery/image/29775-napaeana-striata/

http://www.cretaceous.de/Napaea.html

http://www.ammonit.ru/foto/36774.htm

http://www.softilmu.com/2015/06/Pengertian-Ciri-Struktur-Tubuh-Klasifikasi-Porifera-
Adalah.html

http://www.artikelsiana.com/2015/04/pengertian-porifera-ciri-ciri-reproduksi-klasifikasi.html
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK
Nama : Nia Ramadanti
GEOLOGI
NIM : F 121 16 006
LEMBAR LAPORAN
PRAKTIKUM
Acara 3 : Porifera

V D S

KET :
1. Test 5. Holdpast
2. Osculum 6. Epidermis
3. Spongosol
4. Ostia

NO. SAMPEL :5
FILUM : PORIFERA
KELAS : DEMOSPONGIAE
ORDO : TETRALITHISTIDA
FAMILI : PHYMARAPHINIIDAE
GENUS : Phymaraphinia
SPESIES : Phymaraphinia sp.
PROSES PEMFOSILAN : Petrifikasi (Permineralisasi)
BENTUK FOSIL : Branching
KOMPOSISI KIMIA : CaCO3 (kalsium karbonat)
UMUR : Kapur atas (100-65 juta tahun yang lalu)
L. PENGENDAPAN : Laut dangkal
KETERANGAN :
Filum ini merupakan organisme dari spesies Phymaraphinia sp., genus Phymaraphinia,
famili PHYMARAPHINIIDAE, ordo TETRALITHISTIDA, kelas DEMOSPONGIAE, filum PORIFERA dan
kingdom ANIMALIA.
Proses pemfosilan dari fosil ini yaitu Petrifikasi karena pada saat setelah organisme ini mati
material-material sedimen akan mengalami transportasi, penumpukan dan pengendapan pada
daerah cekungan yang stabil, di daerah ini yang membuat material terakumulasi, semakin lama
material ini akan menumpuk dan mengalami tekanan secara terus menerus dan mengakibatkan
material terkompaksi akibatnya pori-pori akan mengecil. Kemudian material sedimen yang halus
akan masuk melalui pori-porinya. Setelah itu organisme beserta material sedimennya akan
mengalami litifikasi (pembatuan) sehingga organisme tersebut akan menjadi fosil. Kemudian
proses yang dialami berikutnya Permineralisasi yaitu proses pengawetan yang terjadi di dalam
rongga organisme akan terisi oleh mineral-mineral yang terendapkan.
Bentuk dari fosil ini ialah Branching yaitu memiliki banyak cabang. Bagian dari tubuh fosil
ini yang masih bisa dilihat dari fosil ini ialah test, osculum, spongosol, ostia, holdpast dan
epidermis. Komposisi kimia dari fosil ini ialah Kalsium karbonat (CaCO3). Umur dari fosil ini
diperkirakan pada zaman Kapur atas (100-65 juta tahun yang lalu). Pada lingkungannya yaitu
Laut dangkal.
Kegunaan dari fosil ini yaitu untuk merekonstruksi lingkungan purba dan umur suatu
lapisan batuan (stratigrafi), karena berdasarkan letak fosil kita dapat mengetahui rentang umur
tertentu, untuk mengetahui iklim purba, untuk mengetahui lingkungan pengendapan, dan agar
dapat mengetahui aktivitas tektonik yang telah berlangsung.

PRAKTIKAN ASISTEN
DAFTAR PUSTAKA

https://english.fossiel.net/id_system/fossil_id_search.php?zoek=Phymaraphinia%20sp.&s
oortenlijsttijdperk=1004&soortenlijstepoch=0&soortenlijstetage=0&soortenlijstformatie=

http://www.artikelsiana.com/2015/04/pengertian-porifera-ciri-ciri-reproduksi-
klasifikasi.html

https://artikelbermutu.com/2014/04/filum-porifera-karang-ciri-ciri-dan.html

https://dosenbiologi.com/hewan/klasifikasi-filum-porifera
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK Nama : Nia Ramadanti
GEOLOGI NIM : F 121 16 006
LEMBAR LAPORAN PRAKTIKUM
Acara 3 : Porifera

TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian filum Porifera
Porifera merupakan filum dari kingdom animalia yang juga sering disebut Hewan Spons.
Porifera adalah kelompok hewan multiseluler (tersusun atas banyak sel) yang paling sederhana.
Kata Porifera berasal dari 2 kata, yaitu porus yang artinya rongga, dan ferre yang artinya
mempunyai, sehingga secara bahasa porifera berarti hewan yang memiliki rongga. Namun
demikian, Filum ini sulit dikenali sebagai hewan karena tidak memiliki kepala, badan, dan
anggota tubuh lainnya. Karenanya banyak pula yang mengelompokkannya ke dalam kingdom
tumbuhan. Porifera juga sering disebut Kingdom Parazoa, para berarti di samping dan zoa
berarti hewan, pengelompokkan tersebut terjadi karena porifera disebut belum memiliki bentuk
hewan sepenuhnya, dan belum memiliki jaringan sejati. Ukuran tubuh hewan ini bermacam-
macam, mulai dari yang hanya sebutir beras hingga yang tingginya mencapai 2 meter. Porifera
umumnya hidup berkoloni dan melekat pada dasar perairan yang tidak terlalu dalam.

2. Reproduksi Porifera
Porifera berkembang biak secara aseksual dan seksual. Berikut penjelasan reproduksi
porifera secara seksual dan aseksual...
Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual dengan pembentukan tunas (budding). Tunas yang dihasilkan kemudian
memisahkan diri dari induknya dan hidup sebagai individu baru, atau tetap menempel pada
induknya sehingga menambah jumlah bagian-bagian dari kelompok Porifera
Reproduksi Seksual
Reproduksi seksual berlangsung dengan persatuan antara sel telur dan spermatozoid, yang akan
menghasilkan zigot, selanjutnya berkembang menjadi larva yang berflagel. Larva tersebut dapat
berenang dan keluar melalui oskulum. Bila menemukan tempat yang seksual, larva akan
menempel kemudian tumbuh menjadi porifera baru.
3. Tipe tubuh Porifera
Berdasarkan sistem saluran air yang terdapat pada Porifera, hewan ini dibedakan atas
tiga tipe tubuh, yaitu tipa Ascon, tipe Sycon, dan tipe Rhagon.
1. Ascon
Tipe ascon merupakan tipe Porifera yang mempunyai sistem saluran air sederhana. Air
masuk melalui pori yang pendek, lurus ke spongocoel (rongga tubuh) lalu keluar melalui
oskulum. Contoh ; Leucoslenia.
2. Sycon
Tipe Sycon merupakan Porifera yang mempunyai dua tipe saluran air, tetapi hanya
radialnya yang mempunyai koanosit. Air masuk melalui pori-ke saluran radial yang
berdinding koanosit-spongocoel-keluar melalui oskulum. Contoh : Scypha
3. Rhagon
Tipe Rhagon merupakan Porifera yang bertipe saluran air yang kompleks atau rumit.
Porifera memiliki lapisan mesoglea yang tebal dengan sistem saluran air yang bercabang-
cabang. Koanosit dibatasi rongga bersilia berbentuk bulat. Air masuk melalui pori-
saluran radial yang bercabang-cabang-keluar melalui oskulum. Misalnya : Euspongia dan
Spongila.

4. Klasifikasi Porifera
1. Kelas Calcareae (Calcispongiae)
Kelas Calcareae merupakan porifera yang memiliki kerangka tubuh (spikula) dari
kalsium karbonat. Calcareae biasanya hidup di laut dangkal. Tubuhnya kebanyakan
berwarna pucat dengan tinggi kurang lebih 10 cm dan biasanya berbentuk seperti vas
bunga. Secara bahasa Calcaspongiae disusun oleh dua kata dari bahasa latin, yaitu Calca
yang artinya kapur, dan spongiae yang artinya porifera. Contoh Kelas ini adalah
Leucosolenia
2. Kelas Hexatinellidae
Kelas Hexatinellidae merupakan porifera yang memiliki kerangka tubuh (spikula)
dari silika atau yang lebih dikenal dengan pasir atau kuarsa. Umumnya hewan ini hidup
di laut dalam. Contohnya adalah Regadrela.
3. Kelas Demospongiae
Kelas Demospongiae merupakan kelompok porifera yang kerangka tubuhya
tersusun oleh serabut spons. Umumnya hidup di laut dalam maupun dangkal, namun
adapula yang hidup di air tawar. Demospongiae merupakan satu-satunya kelas porifera
yang anggotanya ada yang hidup di air tawar. Demospongiae merupakan kelas terbesar
porifera, 90% dari seluruh porifera merupakan kelas ini. Struktur Tubuh semua
Demospongiae merupakan tipe Leukon (Rhagon). Ukuran tubuhnya mencapai lebih dari
1 m, dan warnanya cerah. Contoh hewan yang termasuk kelas ini adalah hipposongia.

5. Ciri-ciri Porifera
Dari penjelasan diatas, maka porifera memiliki ciri khas tertentu, yaitu :
Porifera merupakan hewan multiseluler yang belum memiliki jaringan sejati
Porifera memiliki pori pada seluruh tubuhnya yang berfungsi sebagai tempat masuknya
air yang mengandung makanan dan oksigen
Porifera memiliki saluran air dan rongga tubuh sebagai pusat terjadinya sistem organ
Kerangka tubuhnya disusun oleh serabut-serabut halus dari zat kapur
Tubuhnya memiliki dua lapisan (dipoblastik), yaitu lapisan luar (Ektoderm) dan lapisan
dalam (Endoderm)
Porifera belum memiliki sl saraf namun mampu bereaksi terhadap perubahan lingkungan
Hidup berkoloni dan pada perairan yang tidak terlalu dalam

6. Sistem Organ Porifera


Sistem pernapasan
Porifera bernapas dengan memasukkan air melalui pori-pori ke dalam tubuhnya,
kemudian setelah air sampai ke songosol (rongga tubuh), akan terjadi pertukaran
oksigen dengan karbondioksida dalam tubuh. Proses pertukaran udara ini dilakukan oleh
sel koanosit.
Sistem Reproduksi
Porifera dapat bereproduksi secara seksual maupun aseksual. Secara seksual porifera
akan membentuk ovum dan sperma yang dilakukan oleh sel koanosit, kemudian terjadi
fertilisasi, karena bersifat hermafrodit (memiliki 2 kelamin) setiap individu dapat
mengeluarkan sperma maupun ovum, dan pertemuan sperma dan ovum terjadi di
mesofil yang kemudian akan tumbuh menjadi larva dan dilepaskan ke perairan.
Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas dan gemula dari
sekumpulan sel yang akan tumbuh menjadi individu baru.
Sistem Pencernaan
Pencernaan pada porifera juga dilakukan oleh sel koanosit. Ketika air telah masuk ke
rongga tubuh (spongosol) maka sel koanosit akan menyerap makanan dari air, lalu
makanan tersebut dicerna dan didistribusikan ke sel lain oleh sel amoebosit. Umumnya
porifera memkanan plankton.
Sistem Persarafan
Porifera tidak mempunyai sel saraf, namun ia mampu bereaksi terhadap perubahan
lingkungan dan sentuhan pada beberapa area tertentu. Fungsi ini dilakukan oleh sel lain
dalam tubuhnya.