Anda di halaman 1dari 45

Hidrografi II

PEMERUMAN
Tata Laksana Pemeruman

Pendahuluan Perencanaan Non Teknis


Tujuan Pemeruman Perlengkapan
Profesi Terkait Logistik
Prosedur Pemeruman

Pelaksanaan
Perencanaan Teknis
Peta Rencana Survei Pra-Pelaksanaan
Perencanaan Titik Kontrol Pemeruman
Perencanaan Metode Penentuan Posisi
Pemilihan Echosounder Pengolahan Data
Perencanaan Lajur Perum
Pembuatan Lattice Chart Pengolahan Data di Lapangan
Estimasi Kecepatan Kapal dan Waktu Pelaksanaan
Pengolahan Data di Kantor
Penentuan Skala
Pemilihan Lokasi Stasiun Pasut
Pendahuluan (1)

Tujuan Pemeruman

Menentukan kedalaman dasar laut, yang disajikan dalam bentuk angka kedalaman,
kontur kedalaman (isobath), warna, atau model batimetrik 3D, terutama untuk
keperluan pembuatan Peta Navigasi Laut maupun sebagai informasi penunjang untuk
berbagai keperluan kerekayasaan, seperti :
Pemasangan pipa dan kabel dasar laut
Pembangunan anjungan pengeboran lepas pantai
Pengerukan alur pelayaran

Menentukan kedudukan garis air rendah untuk keperluan Penetapan Batas Laut
Negara Pantai dalam perspektif UNCLOS 1982 dan Penetapan Batas Laut Daerah
dalam perspektif UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah

Mendukung riset ilmiah kelautan


Pendahuluan (2)

Profesi Terkait

Geodesi
Oseanografi
Geologi dan Geofisika
Pendahuluan (3)

Prosedur Survei

Pelajari hal-hal yang diinginkan oleh pemakai


Penjabaran hal-hal tersebut menjadi sebuah spesifikasi teknis
Evaluasi terhadap tugas-tugas yang berkaitan dengan personil, peralatan yang
diperlukan, serta cara untuk melaksanakan pekerjaan tersebut
Pembuatan rencana kerja, alokasi prioritas dan sasaran, serta analisis biaya
Persiapan kantor
Persiapan lapangan
Pelaksanaan survei yang disertai dengan pengawasan yang baik
Perencanaan Pemeruman (1)

Tujuan
Memperlancar kegiatan operasional & mengoptimalkan penggunaan waktu dan biaya
Mempermudah proses pengolahan data & menghasilkan produk sesuai yang diinginkan

Sifat Perencanaan
Berdasarkan data yang benar dan mutakhir
Terperinci tetapi tidak kaku
Mengandung alternatif pilihan dengan memperhitungkan semua kendala yang ada
Sebelum pembuatan rencana survei, harus diawali dengan mempelajari spesifikasi teknis
secara teliti dan mendalam, agar diketahui :
Tujuan survei (kerekayasaan, penelitian, navigasi)
Daerah survei (kedalaman rata-rata, jarak dari pantai, stasiun navigasi yang ada)
Jenis survei dan peralatan yang digunakan
Hasil akhir (ketelitian, skala, bentuk laporan)
Data penunjang (hasil survei sebelumnya, data titik kontrol)
Penjadwalan waktu, dan lain-lain
Perencanaan Pemeruman (2)

Aspek-Aspek Perencanaan Umum

z Pemilihan Personil (Organisasi) :

Ketua Tim

Pengawas Kualitas Surveyor/Navigator Pengamat Bawah Air Awak Kapal

Teknisi Operator Teknisi


Perencanaan Pemeruman (3)

Aspek-Aspek Perencanaan Umum (lanjutan)

Pemilihan Kapal Survei, didasarkan atas :


Keadaan perairan daerah survei
Jenis survei
Jumlah personil yang terlibat
Peralatan yang akan dipasang (contoh : speedboat, digunakan untuk survei
dekat pantai, kapal besar, jika harus membawa Side Scan Sonar atau Sub-
bottom Profiler)

Mobilisasi dan Demobilisasi serta Logistik :


Mempertimbangkan faktor biaya dan waktu
Pada pelabuhan terdekat, dengan memperhatikan fasilitas yang tersedia
Logistik dipersiapkan dengan matang
Perlu informasi tentang kondisi sekitar daerah survei dan stasiun pengamat

Eka Djunarsjah, 2005


Perencanaan Pemeruman (4)

Persiapan Survei

Inventarisasi dan Pengadaan Titik Kontrol :


Menggunakan yang ada (diperiksa kebenaran/ketelitiannya)
Jika tidak, maka harus direncanakan pengadaan titik kontrol (letaknya - dengan
bantuan peta, agar memenuhi syarat geometris yang baik; metode pengukuran :
poligon, kemuka/kebelakang, satelit; peralatan; rencana operasional
pengukuran)

Pemasangan Stasiun Pengamat (Letak, Tinggi, Arah Antene, Peralatan lainnya)

Pembuatan Lattice Chart (gambar yang memuat jalur survei yang akan dijalani pada
sistem koordinat dan skala tertentu)
Gunanya untuk mengontrol kualitas navigasi selama pelaksanaan survei
Peta Rencana Survei

Informasi yang disajikan

Lokasi dan batas-batas daerah survei Batas Daerah Survei

Rencana sebaran titik-titik kerangka


horisontal
Pantai Kelan
Rencana bentuk lajur perum yang akan
digunakan
Rencana Titik Kontrol
Daerah-daerah bahaya yang perlu
diperhatikan

Rencana Lajur Perum Bahaya Karang


Perencanaan Titik Kontrol

Jumlah titik kontrol tergantung pada metode penentuan posisi yang digunakan

Sebaran titik kontrol tergantung pada bentuk daerah survei :


Sebelum survei perlu direncanakan dahulu lokasi-lokasi di sekitar daerah survei
dimana titik-titik kontrol akan dipasang
Pemilihan lokasi dilakukan dengan cara pra-analisis terhadap titik-titik perum
Analisis dapat dilakukan dengan menguji elips kesalahan dimana lokasi titik-titik
kontrol terbaik menghasilkan harga kesalahan pada titik-titik perum terkecil (Pra-
Analisis)
Perencanaan Metode Penentuan Posisi

Lokasi dan batas-batas daerah survei akan menentukan jenis peralatan yang harus
digunakan, baik dari segi kemampuan maupun ketelitian

Jarak Metode Jarak Metode

< 5 km Optis : 40 300 km Elektronis (Sedang) :


- Sextant - HiFix
- Teodolit - Toran
- Raydist
Elektronik : Elektronik (Rendah) :
- EDM - Loran

5 40 km Elektronik (Mikro) : Global Elektronik (Sangat Rendah) :


- Hydrodist - Omega
- Trisponder
Satelit :
- Radar
- GPS
Pemilihan Echosounder

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan :


kedalaman maksimum daerah yang
disurvei
sudut pancaran pulsa

Jenis Echosounder berdasarkan kemampuan


kedalaman yang dapat dicapai :
Echosounder laut dangkal
Echosounder laut dalam
Perencanaan Lajur Perum

Arah lajur perum sebaiknya tegak lurus kontur kedalaman


Apabila peta survei sebelumnya tidak ada, maka bentuk kontur kedalaman dapat
diwakili oleh bentuk garis pantai
Lajur Perum Utama :
dirancang agar pengukuran kedalaman dapat dilakukan secara teliti dan sistematis
bentuk-bentuk lajur yang umumnya digunakan : lajur perum sejajar, lajur perum radial,
lajur perum menyebar (divergen) atau memusat (konvergen), lajur perum konsentris, dan
lajur perum yang berupa lengkungan hiperbola ko-fokus
Lajur Perum Silang :
dirancang tegak lurus lajur perum utama
tujuannya untuk menyelidiki ada tidaknya kesalahan dalam pengukuran kedalaman
Lajur Perum Tambahan (Investigasi) :
dijalankan apabila terdapat kelainan-kelainan seperti adanya perubahan kedalaman yang
tiba-tiba, pusaran arus yang kuat, atau jika ada 'gap' antara dua lajur perum utama yang
bersebelahan
Pembuatan Lattice Chart

Suatu sarana bantu dalam pelaksanaan survei batimetrik


Dapat digunakan untuk pemantauan kemajuan dan evaluasi pekerjaan, seandainya
ada daerah yang harus diukur ulang atau jika harus dilakukan pengukuran tambahan
Pada dasarnya berisikan garis-garis posisi yang disesuaikan dengan metode
penentuan posisi titik-titik perum yang akan digunakan :
Garis yang menyatakan tempat kedudukan titik-titik yang membentuk sudut
konstan terhadap dua titik tetap (lingkaran eksentrik)
Garis yang menyatakan tempat kedudukan titik-titik yang memiliki jarak konstan
terhadap sebuah titik tetap (lingkaran konsentrik)
Garis yang menyatakan tempat kedudukan titik-titik yang memiliki selisih jarak
konstan terhadap dua titik tetap (garis hiperbolik)
Garis yang menyatakan tempat kedudukan titik-titik yang memiliki arah tetap
terhadap/dari sebuah titik tetap (garis lurus)

Eka Djunarsjah, 2005


Contoh Lattice Chart

Garis Lingkaran Konsentrik Garis Lurus


Estimasi Kecepatan Kapal

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kecepatan kapal :

Metode penentuan posisi


Kerapatan titik-titik perum
Keselamatan pelayaran
Kondisi laut pada saat survei
Estimasi Waktu Pelaksanaan

Faktor Pengaruh Estimasi Waktu (T)

Panjang keseluruhan lajur perum T = L / (WE . VK)


Bentuk lajur perum :
Garis lurus sejajar atau menyebar dimana :
Garis lingkaran L - panjang keseluruhan lajur
Garis hiperbolik perum
Metode dan peralatan yang digunakan : WE - waktu efektif per hari
Optik VK - kecepatan kapal
Elektronik
Gabungan Contoh :
Waktu efektif pemeruman per hari : L - 500 km
Kecepatan kapal
WE - 8 jam
Waktu manuver
VK - 5 knot = 5 x 1,853 km/jam
Waktu persiapan dan kalibrasi alat
Jarak pangkalan kapal Estimasi waktu (T) = 6,7 ~ 7 hari
Penentuan Skala

Umumnya ada dua macam skala, yaitu skala survei dan skala peta akhir

Penentuan skala survei tergantung pada ketelitian dan kerapatan titik perum yang
diinginkan, namun sebaiknya skala survei dibuat lebih besar dari skala peta yang akan
dibuat (misalnya, skala survei 2 x skala peta)

Skala peta biasanya dimuat dalam spesifikasi pekerjaan, karena itu kepada pemakai
harus dijelaskan juga sedikit pengetahuan dasar tentang pemeruman
Pemilihan Lokasi Stasiun Pasut

Bersamaan dengan pekerjaan pemeruman, pada daerah survei dilakukan juga


pengamatan pasut

Secara umum suatu lokasi stasiun pasut dapat mewakili sifat pasut daerah sekitar
lokasi stasiun dengan radius sekitar 5 mil laut (+ 9 km), sepanjang kondisi perairan
mendekati ideal, yaitu tidak banyak pulau-pulau dan teluk-teluk, jauh dari muara
sungai, serta kondisi meteorologi dan oseanografi yang relatif homogen

Kriteria dalam pemilihan lokasi stasiun pasut adalah :


berada dalam batas-batas daerah survei
mudah dilakukan pemasangan dan pengamatan, misalnya di dermaga
terlindung dari ombak/gelombang, tetapi berhubungan langsung dengan Eka Djunarsjah,
laut lepas
hendaknya berdekatan dengan titik kontrol vertikal, untuk memudahkan
pengikatan nol alat
Perlengkapan dan Logistik

Perlengkapan dan logistik sangat berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan


pemeruman, terutama apabila lokasi daerah survei cukup terpencil

Perlengkapan dan logistik yang harus dipersiapkan :


Perlengkapan pendukung : misalnya tenda/akomodasi, alat-alat pertukangan, alat
komunikasi, dan lain-lain
Eka Djunarsjah, 5
Perlengkapan kerja : misalnya alat tulis-menulis, formulir-formulir, kertas-kertas
gambar, dan lain-lain
Sarana transportasi
Logistik (bahan makanan), dan lain-lain
Pra-Pelaksanaan

Pengukuran Titik-titik Kontrol Horisontal :

Metode pengukuran titik-titik kontrol dipilih sedemikian rupa agar mudah


dilakukan, dan memberi hasil yang baik dan teliti

Metode juga harus disesuaikan dengan waktu dan peralatan yang tersedia

Metode yang umumnya digunakan : Statik GPS atau Poligon

Pengukuran Garis Pantai :

Dilakukan apabila daerah survei berbatasan dengan pantai atau terdapat pulau
di tengah daerah survei
Eka Djunarsjah,

Pengukuran garis pantai dapat dilakukan dengan cara ofset, tacimetri,


pemotretan udara, atau GPS
Teknik Pemeruman

Konvensional :
Tali Perum (Lead Line)
Tongkat Penduga (Sounding Pole)

Akustik :
Echosounder Single Beam
Echosounder Multi Beam

Remote Sensing : :
Airborn Bathymetry
Satellite Bathymetry
Echosounder Single Beam (1)

Prinsip Dasar :
Alat Pengukur Waktu dan Tampilan Hasil

t2 - t1

Transduser Pemancar Transduser Penerima

t2 t1
f, V

Kedalaman :

S = 1/2 V (t2 - t1)


Dasar Laut
Echosounder Single Beam (2)

z Komponen utama :

Sumber Daya (accu, batere, listrik), berfungsi untuk membangkitkan pulsa


energi listrik

Transduser Pemancar, berfungsi untuk mengubah pulsa energi listrik menjadi


energi akustik, kemudian memancarkannya ke dasar laut

Transduser Penerima, berfungsi untuk menerima pulsa gelombang akustik dari


dasar laut, kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik

Unit Perekam, berfungsi mengontrol pengiriman pulsa energi listrik serta


menyajikan data hasil pengukuran kedalaman dasar laut (kertas perum gema,
pita magnetik, angka/digital, atau monitor)
Echosounder Single Beam (3)

z Karakteristik Pulsa Gelombang Akustik :


Frekuensi, berkisar antara 1 - 300 kHz, yang dapat dibedakan menjadi tiga kategori,
yaitu :
9 rendah (< 15 kHz), untuk pengukuran laut dalam

9 menengah (15 - 50 kHz)

9 tinggi (> 50 kHz)

Bentuk dan Durasi Pulsa, mempengaruhi kemampuan pengukuran, dimana pulsa


dengan oskilasi yang tak teredam mampu mempertahankan energi listrik yang
dipancarkan ke Transduser Pemancar dengan durasi 0,001 - 0,4 detik, sehingga
mampu mengukur kedalaman hingga 9.000 meter

Sudut Pancaran Pulsa, mempengaruhi gelombang akustik yang diterima oleh


Transduser Penerima, dimana semakin kecil sudut pancaran pulsa (konsekuensinya
frekuensi makin besar), maka semakin besar kemungkinannya untuk menerima
gelombang pantulan yang berasal dari satu titik pada dasar laut
Echosounder Single Beam (4)

z Sumber-Sumber Kesalahan Pengukuran :


Peralatan :
9 internal alat
9 sarat transduser
9 settlement dan squat
9 penempatan transduser pemancar dan transduser penerima
9 sudut pancaran pulsa
Alam :
9 gelombang
9 variasi kecepatan rambat gelombang akustik
9 gelombang pantulan yang bukan dari dasar laut
Manusia :
Eka Djunarsjah,5
9 ceroboh/keliru
9 tidak terampil
Multibeam Echosounder (1)
Multibeam Echosounder (2)
Multi Transduser
Side Scan Sonar (1)

z Alat ini digunakan untuk mendeteksi dasar laut pada daerah yang tidak terukur oleh
Echosounder

z Prinsip dasar alat Side Scan Sonar (SSS) sama dengan Echosounder

z Hasilnya berupa citra pada kertas perekam (sonograf)

z Interpretasi terhadap citra dapat dilakukan secara kualitatif (untuk mendapatkan


sifat-sifat fisik dari material dan penentuan bentuk objek) berdasarkan derajat
kehitaman dari sonograf atau secara kuantitatif (posisi relatif antar objek yang
diperoleh) berdasarkan parameter-parameter :
posisi transduser Eka Djunarsjah,5

jarak miring transduser ke target


jarak miring target ke dasar laut
Side Scan Sonar (2)

z Jenis SSS, terdiri dari :

Transduser Tunggal
(diletakkan di salah satu
sisi kapal survei) : Full
Mounted SSS (sensitif
terhadap gerakan kapal)
Transduser Ganda
(diletakkan di dua sisi
kapal) : Towfish SSS
(tabung yang dihela,
sehingga kualitasnya
kurang)
Side Scan Sonar (3)

z Lebar lajur (L) survei dipengaruhi oleh :


Frekuensi (f) pulsa (jika f kecil, maka L besar)
Sudut Inklinasi () Transduser (jika besar, maka L besar)
Tinggi (h) Towfish (jika h tinggi, maka L besar)
Reflektivitas Target
Sudut Pancaran Pulsa (Beamwidth)

z Resolusi Citra (kemampuan membedakan suatu objek terhadap objel lainnya) :


Horisontal (terpisah pada arah lajur survei) :
9 Sudut dan rate pancaran pulsa horisontal
9 Kecepatan kapal
9 Reflektifitas target
9 Penyekalaan citra dalam arah horisontal

Vertikal (terpisah pada arah tegak lurus lajur survei) :


9 Panjang pulsa Eka Djunarsjah, 2
9 Reflektifitas target
9 Penyekalaan citra dalam arah tegak lurus lajur
Side Scan Sonar (4)
Side Scan Sonar (5)

z Sumber-sumber Kesalahan Pengukuran dengan Side Scan Sonar dapat diakibatkan oleh :

Peralatan, seperti :
 rotasi transduser (untuk SSS yang tidak ditempatkan pada kapal secara
permanen)
 perbedaan skala dalam arah lateral dan longitudinal dari kertas perekam

Alam, seperti :
 refraksi perambatan gelombang akustik
 topografi dasar laut yang tidak teratur
 arus laut Eka Djunars, 5

Personil, seperti :
 tidak terampil
 ceroboh/keliru
Pelaksanaan Pemeruman

Persiapan :
Pengamatan Pasut :
Pembuatan Lattice Chart
Pemasangan Stasiun Pasut
Perlengkapan
Pengamatan
Kalibrasi
Pengolahan Data Awal

Pengambilan Data : (Penentuan Sounding Datum)


Pengukuran Kedalaman

Penentuan Posisi Titik Fiks

Pengolahan Data Awal : Pengolahan Data Akhir :


Penentuan Koreksi Kedalaman Analisis Pasut

Pembuatan Lembar Lukis Lapangan Penentuan Chart Datum (CD)

Evaluasi Awal dan Revisi Reduksi Data ke CD

Pembuatan Lembar Lukis Teliti


Penyelidikan Bahaya Pelayaran Pengolahan Data Lainnya

Pembuatan Laporan Lapangan Pembuatan Laporan Akhir


Kegiatan Pemeruman (1)

Terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu pengamatan pasut dan pemeruman itu sendiri
yang harus dilakukan secara bersamaan, agar hasil pengamatan pasut dapat digunakan
untuk mengoreksi hasil pengukuran kedalaman

Pengamatan Pasut

Pemasangan palem pasut tersebut hendaknya memperhatikan hal berikut :


Skala nol palem harus terletak di bawah permukaan Air Rendah Terendah (Low
Water Spring) yang diperkirakan terjadi di daerah tersebut
Palem harus stabil dan benar-benar vertikal
Angka bacaan palem hendaknya diarahkan sedemikian rupa agar pembacaan dan
pengikatan palem dapat dilakukan dengan mudah
Pada daerah dimana tunggang air cukup besar, kadang-kadang perlu dipasang
lebih dari satu buah palem agar kedudukan muka air dapat tetap dibaca
Kegiatan Pemeruman (2)

Selain pengamatan pasut (pembacaan palem), juga dilakukan pengikatan titik nol
palem ke titik kontrol pantai terdekat

Rambu
Palem
Waterpas

Titik
Kontrol

Muka Laut Sesaat


Kegiatan Pemeruman (3)

Pengukuran Kedalaman dan Penentuan Posisi

Pengukuran kedalaman dan penentuan posisi titik-titik perum harus dilakukan secara
bersamaan, agar titik-titik yang diukur kedalamannya sekaligus merupakan titik-titik
yang ditentukan posisinya
Komunikasi antara pengukur kedalaman (di kapal) dan stasiun penentu posisi harus
dapat dilakukan dengan baik, terutama untuk penentuan posisi dengan cara optis
Sebelum pengukuran kedalaman dimulai, Echosounder hendaknya dipersiapkan :
Pemasangan transduser Pengaturan garis awal transmisi
Penentuan nilai koreksi sarat (draft) transduser Barcheck
Penentuan nilai koreksi settlement dan squat

Jika menggunakan alat penentu posisi elektronik (Electronic Positioning System), perlu
terlebih dahulu dilakukan kalibrasi (dilakukan di darat dengan cara membuat sebuah
basis yang diukur secara teliti, misalnya dengan alat EDM)
Kegiatan Pemeruman (4)

Jika dianggap perlu, kalibrasi EPS dapat juga dilakukan di laut, yang dilakukan secara
tidak langsung melalui pengukuran sudut pada metode penentuan titik cara kemuka
Data untuk penentuan posisi titik perum yang diambil tergantung pada metode
penentuan posisi yang digunakan, apabila penentuan posisi dilakukan dengan cara
optis data yang dicatat adalah data ukuran sudut, sedangkan jika menggunakan cara
elektronis data yang diperoleh adalah data ukuran jarak
Selama pemeruman dilakukan, besaran waktu pada saat kapal mengukur kedalaman
dan posisi (titik perum) juga dicatat yang akan digunakan untuk mereduksi
kedalaman terhadap bidang referensi pemeruman yang didapat dari analisis pasut
Apabila kedalaman maksimum di daerah survei cukup besar (> 40 m), perlu dilakukan
pengamatan sifat-sifat fisika dan kimia di daerah yang disurvei, untuk menentukan
Eka Djunarsjah, 2
cepat rambat gelombang suara dalam air laut yang dapat dilakukan secara langsung
(alat velocimeter), atau secara tidak langsung (pengukuran suhu dan salinitas)
Pengolahan Data (1)

Pengolahan data ada yang dilakukan di lapangan yang sifatnya sementara, dengan
tujuan hanya untuk memeriksa kalau-kalau ada kesalahan atau adanya daerah gap
(sehingga perlu dilakukan pengukuran tambahan ataupun pengulangan), dan
pengolahan data akhir yang dilakukan di kantor untuk menghasilkan laporan akhir

Pengolahan Data di Lapangan


Data Ukuran Kerangka Horisontal
Data Posisi Titik-Titik Perum
Hitungan Koreksi Kedalaman
Koreksi kedalaman dengan menggunakan hasil barcheck
Koreksi kedalaman dengan tabel Eka Djunarsjah, 5

Koreksi kedalaman dengan menghitung kecepatan gelombang bunyi


Reduksi Kedalaman
Pengolahan Data (2)

Pengolahan Data di Kantor


Penentuan Kedalaman Titik-titik Antara (Minuten)
Merupakan titik-titik yang terletak di antara dua titik perum
Penentuan kedalaman titik-titik minuten dilakukan terutama bila di antara dua
titik perum terdapat profil kedalaman yang ekstrim
Posisi titik-titik minuten diperoleh dengan cara interpolasi dari posisi kedua titik
perum dimana titik minuten berada
Pembuatan Lembar Lukis Teliti
Lembar lukis teliti adalah lembar akhir dimana dilakukan penggambaran hasil
survei dengan rapi dan teliti (data telah diverifikasi)
Pembuatan lembar lukis teliti menyangkut teknik-teknik kartografi, dan harus
Eka Djunarsjah,
memenuhi standar kartografi peta laut
Sesuai dengan kebutuhan, peta laut yang disajikan dapat berupa titik-titik
kedalaman saja atau titik-titik kedalaman ditambah garis kontur kedalaman
Pengolahan Data Kedalaman (1)

z Data Kedalaman Mentah


Bacaan Echogram
Bacaan Tali Perum atau Tongkat Penduga

z Penentuan Koreksi Kedalaman :


Koreksi Pytagoras
Koreksi Barcheck
Koreksi Sarat Transduser, Settlement, dan Squat
Koreksi Pasut

z Penyajian pada Peta Batimetrik :


Angka kedalaman
Pembuatan kontur kedalaman berdasarkan interpolasi terhadap posisi angka-

angka kedalaman
Pengolahan Data Kedalaman (2)

z Pengolahan Data Kedalaman untuk Tali Perum


atau Tongkat Penduga

Kedalaman laut diperoleh dari hubungan :

d = du - K

dimana : K
Chart Datum
d = kedalaman laut
du = kedalaman laut ukuran du
d
K = reduksi terhadap Chart Datum
Pengolahan Data Kedalaman (3)

z Pengolahan Data Kedalaman untuk Echosounder :


Kedalaman laut diperoleh dari hubungan :

d1 = du + KP
d2 = d1 + KB
d3 = d2 + KSSS
d = d3 + KCD
dimana :
d = kedalaman laut terhadap Chart Datum
du = kedalaman laut ukuran
d1 = kedalaman setelah diberi koreksi Pytagoras
d2 = kedalaman setelah diberi koreksi Pytagoras dan Barcheck Eka Djunarsjah,

d3 = kedalaman setelah diberi koreksi Pytagoras, Barcheck, serta Sarat,


Settlement, dan Squat

Beri Nilai