Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sistem penghantaran obat transdermal atau transdermal drug dilevery system (TDDS)
merupakan cara pengantaran obat secara topikal dalam bentuk patch atau semisolid yang dapat
memberikan efek sistemik yang terkontrol. Penghantaran obat secara transdermal meiliki banyak
keuntungan dibandingkan dengan metode penghantaran obat konvensional seperti pemberian
secara oral. Penghantaran transdermal memberikan pelepasan obat yang terkontrol, menghindari
metabolisme hepatik, menghindari pengaruh pencernaan kemudahan penghentian pemakaian,
dan durasi penghantaran obat yang lama. Mekanisme penghantaran obat secara transdermal
adalah menghantarkan molekul obat melewati lapisan stratum corneum dalam kulit dengan
berdifusi melalui lapisan lipid kuli.

Sediaan patch ada dua tipe yaitu patch tipe membran dan patch tipe matriks. Efektifitas suatu
sediaan farmasi ditentukan oleh jumlah obat yang terlepas dari pembawa dan selanjutnya
terpenetrasi. Jumlah obat yang terlepas dari sediaan patch tipe membran ditentukan oleh
reservoir dan polimer yang berfungsi sebagai membran pengontrol pelepasan. Sedangkan
sediaan tipe matriks ditentukan oleh komposisi matriks pembentuknya.

Ibuprofen merupakan obat non- steroidal anti inflammatory drug (NSAID) turunan asam
propionate yang menghambat enzim siklooksigenase-1 (COX-1) dan enzim siklooksigenase-2
(COX-2) biasanya digunakan dengan rute peroral dalam pengobatan penyakit rematik, efek
samping ibuprofen dalam penggunaan dengan rute peroral yaitu gangguan gastrointestinal, mual,
muntah,erosi lambung, dan sakit kepala. Efek samping tersebut bisa dihindari dengan cara
pemberian ibuprofen dengan rute transdermal menjadi cara alternative untuk memberikan efek
sistematik secara terkontrol.

1
Rumusan Masalah

1. Bagaimana merancang formulasi sediaan transdermal patch ibuprofen ?


2. Bagaimana cara pembuatan sediaan transdermal patch ibuprofen ?
3. Bagaiman uji evaluasi sediaan transdermal patch ibuprofen dan analisis data dari hasil
yang diperoleh ?

Tujuan

1. Untuk membuat formulasi sediaan transdermal patch ibuprofen.


2. Untuk mengetahui cara pembuatan sediaan transdermal patch ibuprofen.
3. Untuk melakukan uji evaluasi sediaan transdermal patch ibuprofen dan analisis data
dari hasil yang diperoleh.

Manfaat

Dari makalah ini dapat diperoleh informasi mengenai formulasi sediaan transdermal patch
atenolol, cara pembuatan sediaan transdermal patch atenolol dan uji evaluasi sediaan transdermal
patch atenolol serta analisis data dari hasil yang diperoleh.

2
BAB II

Definisi Patch

Patch transdermal merupakan sediaan farmasi yang fleksibel dalam persiapannya dari
berbagai ukuran yang mengandung satu atau lebih zat aktif. Patch diterapkan pada kulit
agar dapat memberikan zat aktif ke sistemik setelah melewati penghalang kulit. Patch
transdermal biasanya terdiri dari lapisan luar yang mendukung persiapan yang berisi
substansi aktif.
Sistem penghantar obat secara transdermal

Patch transdermal juga dikenal dengan namapatch kulit yang digunakan untuk
memberikan sejumlah dosis melalui kulit dan langsung masuk ke dalam aliran darah.
Keuntungan rute pengiriman obat transdermal dibandingkan yang lain seperti oral,
topical, dan lainnya adalah bahwa obat transdermal dapat mengendalikan pelepasan obat
untuk pasien. Bahan obat yang dapat dihantarkan melalui rute transdermal yaitu :
A. Sifat kelarutan obat rendah dalam air : obat yang lebih larut lemak akan lebih mudah
melewati stratum korneum.
B. Memilik Log P 1-3: obat yang bersifat terlalu hidrofil ataupun terlalu lipofil akan
sulit untuk mencapai sirkulasi sistematik.
C.Bobot molekulnya kurang dari 500 Dalton : bobot molekul obat yang lebih dari 500
Dalton akan sulit menembus stratum korneum.

Keuntungan sistem pemberian obat dengan patch transdermal yaitu :


1. Meningkatkan kepatuhan pasien karena mengurangi frekuensi pemakaian.
2. Menjaga biovailabilitas obat dalam plasma selama pemaikain dibandingkan
pemberian peroral.
3. Menghindari first-pass effect pada pemberian peroral.
4. Untuk pasien yang tidak dapat menelan obat dapat menggunakan alternatif patch.
5. Pemakaian mudah dihentikan bila terjadi efek toksik.

3
Kerugiaan sistem pemberian obat dengan patch transdermal yaitu :
1. Jenis obat yang digunakan terbatas (bobot molekul kurang dari 500 Dalton).
2. Sistem transdermal tidak cocok untuk obat yang dapat mengiritasi kulit.
3. Tidak semua bagian tubuh dapat dijadikan tempat apilkasi obat seperti pada
telapak kaki.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Absorpsi Perkutan

Di antara faktor-faktor yang berperan dalam absorpsi perkutan dari obat adalah sifat dari obat itu
sendiri, sifat dari pembawa, kondisi dari kulit dan adanya uap air. Walaupun sukar untuk diambil
kesimpulan umum, yang dapat diberlakukan pada kemungkinan yang dihasilkan oleh kombinasi
obat, pembawa dan kondisi kulit, tetapi konsensus temuan hasil penelitian mungkin dapat
disimpulkan sebagai berikut :

1. Obat yang dicampurkan dalam pembawa tertentu harus bersatu pada permukaan kulit dalam
konsentrasi yang cukup.

2. Konsentrasi obat umumnya merupakan faktor yang penting, jumlah obat yang diabsorpsi
secara perkutan perunit luas permukaan setiap periode waktu, bertambah sebanding dengan
bertambahnya konsentrasi obat dalam suatu pembawa.

3. Semakin banyak obat diserap dengan cara absorpsi perkutan apabila bahan obat dipakai pada
permukaan yang lebih luas.

4. Bahan obat harus mempunyai suatu daya tarik fisiologi yang lebih besar pada kulit daripada
terhadap pembawa, supaya obat dapat meninggalkan pembawa menuju kulit.

5. Beberapa derajat kelarutan bahan obat baik dalam minyak dan air dipandang penting untuk
efektivitas absorpsi perkutan. Pentingnya kelarutan obat dalam air ditunjukkan oleh adanya
konsentrasi pada daerah absorpsi dan koefisien partisi sangat mempengaruhi jumlah yang
dipindahkan melalui tempat absorpsi. Zat terlarut dengan bobot molekul dibawah 800 sampai
100 dengan kelarutan yang sesuai dalam minyak mineral dan air (> 1 mg/mL) dapat meresap ke
dalam kulit.

4
6. Absorpsi obat nampaknya ditingkatkan dari pembawa yang dapat dengan mudah menyebar di
permukaan kulit, sesudah dicampur dengan cairan berlemak, dan membawa obat untuk
berhubungan dengan jaringan sel untuk absorpsi.

7. Pembawa yang meningkatkan jumlah uap air yang ditahan kulit umumnya cenderung baik
bagi absorpsi pelarut obat. Pembawa yang bersifat lemak bekerja sebagai penghalang uap air
sehingga keringat tidak dapat menembus kulit, dan tertahan pada kulit sehingga umumnya
menghasilkan hidrasi dari kulit di bwah pembawa.

8. Hidrasi dari kulit merupakan fakta yang paling penting dalam absorpsi perkutan. Hidrasi
stratum corneum tampaknya meningkatkan derajat lintasan dari semua obat yang mempenetrasi
kulit. Peningkatan absorpsi mungkin disebabkan melunaknya jaringan dan akibat pengaruh
bunga karang dengan penambahan ukuran pori-pori yang memungkinkan arus bahan lebih
besar, besar dan kecil dapat melaluinya.

9. Hidrasi kulit bukan saja dipengaruhi oleh jenis pembawa (misalnya bersifat lemak) tetapi juga
oleh ada tidaknya pembungkus dan sejenisnya ketika pemakaian obat. Pada umumnya,
pemakaian pembungkus yang tidak menutup seperti pembawa yang bercampur dengan air, akan
mempengaruhi efek pelembap dari kulit melalui penghalang penguapan keringat dan oleh karena
itu mempengaruhi absorpsi. Pembungkus yang menutup lebih efektif dari pada anyaman jarang
dari pembungkus yang tidak menutup.

10. Pada umumnya, menggosokkan atau mengoleskan waktu pemakaian pada kulit akan
meningkatkan jumlah obat yang diabsorpsi dan semakin lama mengoleskan dengan digosok-
gosok, semakin banyak pula obat diabsorpsi.

11. Absorpsi perkutan nampaknya lebih besar apabila obat dipakai pada kulit dengan lapisan
tanduk yang tipis daripada yang tebal. Jadi, tempat pemakaian mungkin bersangkut-paut dengan
derajat absorpsi, dengan absorpsi dari kulit yang ada penebalannya, atau tempat yang tebal
seperti telapak tangan dan kaki secara komparatif lebih lambat.

12. Pada umumnya, semakin lama waktu pemakaian obat menempel pada kulit, semakin banyak
kemungkinan absorpsi. Bagaimana pun juga perubahan dalam hidrasi kulit sewaktu pemakaian
atau penjenuhan kulit oleh obat, akan menghambat tambahan absorpsi.

5
Ketentuan umum ini dalam hal absorpsi perkutan dipakai pada kulit yang sehat, luka pada kulit
atau dalam keadaan dimensi yang berbeda-beda maka akan terjadi perbedaan dalam absorpsi
obat. Jelas sekali kulit yang telah dipotong secara dirusak atau pecah, akan memungkinkan obat
dan bahan asing lainnya mendapat jalan langsung ke jaringan subkutan.

Sistem Pemberian ObatTransdermal

Sistem pemberian obat transdermal cenderung untuk mendukung lalu-lintas bahan obat dari
permukaan kulit melalui bermacam-macam lapisan ke dalam sirkulasi sistemik. Secara fisik
sistem ini merupakan potongan kecil yang canggih, yang akan dijelaskan kemudian pada bagian
ini. Ada dua tipe dasar pada sistem penyampaian obat secara transdermal :

(1) yang dapat mengatur laju obat untuk diberikan pada kulit, dan

(2) yang dapat memungkinkan kulit untuk mengatur absorpsi obat.

Tipe kedua ini berguna untuk obat-obat yang daya cakupan konsentrasi plasmanya luas terhadap
efektivitas obat ini, tapi tidak menjadi racun. Untuk obat-obat ini bentuk sediaan transdermal
dapat dikembangkan ke dalam berbagai ukuran dan konsentrasi obat, dengan cara penambahan
dosis dan kadar obat dalam darah melalui penambahan ukuran pemakaian transdermal sehingga
tercapai efek yang diinginkan. Bagaimanapun juga untuk kebanyakan obat-obat perlu diadakan
pengawasan lebih dekat terhadap jumlah obat yang disampaikan dan absorpsi perkutan.

Dalam hal tersebut sistem penyampaian obat telah dikembangkan ke tingkat yang dapat
mengatur jumlah obat yang disampaikan ke kulit untuk absorpsi berikutnya. Sistem penyampaian
obat transdermal yang efektif semacam ini akan menyampaikan sejumlah obat yang seragam ke
dalam kulit pada periode waktu tertentu. Jumlah obat yang disampaikan dalam periode waktu
tertentu ditetapkan lebih sedikit daripada yang dapat diabsorpsi oleh kulit dengan tipe yang
berbeda-beda, dan dengan demikian maka sistem penyampaian obat yang mengatur masuknya
jumlah obat ke dalam saluran dan bukan pada kulit.

6
Yang termasuk di antara rancangan utama dan tujuan utama pengaturan jumlah dari
sistem penyampaian obat secara transdermal adalah sebagai berikut :

1. Memberikan bahan obat pada laju yang terkendali ke dalam kulit utuh pasien untuk diabsorpsi
ke dalam sirkulasi sistemik.

2. Sistem harus memiliki ciri-ciri fisika dan kimia yang tepat agar memungkinkan bahan obat
mudah terlepas dan membantu partisipasinya dari sistem pemberian ke dalam stratum corneum.
3. Sistem harus menutup kulit untuk menjamin arus searah dari bahan obat.

4. Sistem transdermal harus mempunyai kelebihan terapeutik daripada bentuk sediaan dan sistem
pemberian lainnya.

5. Daya rekat sistem, pembawa dan zat aktif harus tidak mengiritasi kulit pasien.

6. Serpihan harus melekat pada kulit pasien dan ukuran serta penampilan maupunpenempatannya
pada tubuh harus tidak menghalangi penggunaan obat.

7. Sistem harus tidak memungkinkan pengembangbiakan bakteri kulit di dalam keadaan tertutup.

Patch transdermal merupakan sistem pembawa yang mengandung lapisan adesif dan
memberikan penghantaran senyawa obat pada sirkulasi sistemik dengan pelepasan terkontrol.
Lapisan adesif mampu memberikan kontak patch yang kuat pada lapisan kulit sehingga
memastikan penghantaran senyawa aktif dengan baik. Pada umumnya, patch transdermal
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok utama berdasarkan metode pembuatannya,yaitu: a) Tipe
membran (reservoir), b) Tipe matriks dan, c) tipe adesif. Pada formulasi awal, senyawa aktif
terdispersi di dalam bagian adesif (perekat) dan senyawa obat tersebut dilepaskan dengan laju
terkontrol melalui membran. Namun saat ini, senyawa obat didispersikan pada matriks polimer,
dimana matriks ini tidak mengandung bahan adesif, namun terdapat lapisan adesif yang
ditambahkan tersendiri.

1. Tipe Membran (reservoir) Pada sistem ini, senyawa aktif berada dalam suatu penampung
sebagai cairan. Molekul senyawa aktif akan ditempatkan dalam bagian penyimpan, seperti
suspensi dalam cairan viskos atau terlarut dalam pelarutnya. Tipe ini dilengkapi dengan
membran yang terbentuk dari polimer dengan struktur yang berbeda, dimana lapisan

7
membran ini akan memisahkan tempat penampung senyawa aktif dan lapisan adesif.
Lapisan membran dapat berpori atau tidak berpori dan menghasilkan laju pelepasan senyawa
aktif terkontrol oleh ketebalan dan lapisan adesifnya
2. Tipe Matriks Pada tipe matriks ini senyawa aktif akan terdispersi homogen dalam mariks
polimer yang dapat bersifat hidrofob atau lipofil. Lapisan terluar dari formulasi tipe matriks
dilindungi oleh lapisan penyangga (Backing layer). Sistem penghantaran ini akan membuat
sediaan patch tertahan pada kulit dengan garis polimer adesif. Formulasi matriks dapat
disiapkan dengan mendispersikan senyawa aktif pada polimer adesif yang sensitif terhadapt
adanya tekanan langsung dan terlindungi oleh lapisan penyangga yang bersifat impermeabel.
Formulasi tipe matriks akan melepaskan senyawa aktif dari matriks semis-solid tidak
dikontrol oleh lapisan membran apapun, pelepasan pada sistem ini tergantung pada luas area
permukaan patch yang diaplikasikan pada kulit
3. Tipe adesif Pada tipe adesif, penampung senyawa aktif disiapkan dengan mendispersikan
senyawa aktif dalam polimer adesif yang disangga oleh lapisan penyanga impermeabel.
Dibawah lapisan penampung senyawa aktif terdapat membran adesif yang mengontrol laju
pelepasan senyawa aktif. Pada tipe sistem transdermal ini, laju pelepasan senyawa aktif akan
dikontrol oleh matriks tempet senyawa aktif terdispersi dan membran adesif. Meskipun pada
tipe ini hanya diformulasikan untuk satu lapisan senyawa aktif saja, tipe ini juga dapat
diformulasikan dalam banyak lapisan

Pada umumnya formulasi sediaan patch transdermal terdiri dari:

1. Senyawa aktif
Senyawa aktif merupakan faktor penting bagaimanan sediaan transdermal
diformulasikan dengan pertimbangan karakteristik fisika kimianya. Senyawa
aktif harus memiliki bobot molekul yang rendah (-500 Dalton), nilai kelarutan
log P (1-3,5). Dan juga senyawa aktif merupakan senyawa yang dapat
menimbulak efek terapeutikSecara sistematik dengan dosis efektifitas terendah
(<20 mg).

8
2. Matriks
Dalam formulasi tipe matriks sediaan trasndermal, senyawa aktif akan terdispersi
atau terlarut dalam matriksnya. Matriks berupa struktur polimer yang dapat
mengontrol laju pelepasan senyawa aktif. Contoh senyawa yang dapat berfungsi
sebagai matriks diantaranya bahan alami (Chitosan, Sodium aglinate); Sintesis
(PVA, Polyvinyl Pyrolidon); dan semisintetik (Derivat selulosa).

3. Reservoir
Pada sediaan patch transdermal, senyawa aktif akan berada dalam tempat
penampung sebgai cairan dalam pelarut tertentu atau solid yang terdispersi

4. Membran Semipermeabel
Membran semipermeabel ditempatkan pada tempat penampung senyawa aktif
(tipe reservoir) dan tipe multi-layer adsesif. Ethylene-vinyl asetat, silikon,
highdensity polyethylene, polyester elastomers banyak digunakan dalam sediaan
transmembran sebagai membran semipermeabel.

5. Lapisan penyangga (Backing Layer)


Bagian ini berfungsi untuk melindungi sediaan dari pengaruh lingkungan selama
oemakaian dan memastikan integritas sistem sediaan dalam masa penyimpanan.
Material impermeabel banyak digunakan untuk tujuan ini. Lapisan penyangga
harus memiliki sifat inert dan tidak berinteraksi dengan senyawa aktif atau bahan
formulasi lainya.

6. Release Liner
Bagian ini merupakan pelindung formulasi sediaan dari pengaruh luar yang mana
harus dilepaskan ketika sediaan diaplikasikan pada kulit. Idealnya, bagian ini
harus dengan mudah dilepaskan dari alpisan adesif dang tidak menimbulkan
kerusakan struktur adesif.

9
7. Pelerut, penetration enganchers:
Beberapa pelarut dapat digunakan untuk medispersikan atau melarutkan polimer
dan perekat atau senyawa aktif yang digunakan dalam sediaan transdermal.

8. Plasticizers
Dalam sediaan patch transdermal, plasticizer digunakan untuk meningkatkan
daya lekuk polimer sehingga fleksibilitas sediaan akan meningkat pula.

IBUPROFEN

Ibuprofen merupakan obat golongan anti inflamasi non steroid (AINS) derivat asam propionat
yang digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis. Ibuprofen dibuat dalam bentuk sediaan
transdermal patch untuk menghindari efek samping iritasi gastrointestinal dan first pass effect di
hati pada penggunaan peroral. Polimer dalam sediaan patch berfungsi untuk mengontrol
pelepasan obat dari basisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi polimer
hidroksipropil metilselulosa (HPMC) K4M dan carbopol 934 terhadap moisture content (MC),
fluks pelepasan, dan untuk mengetahui formula optimumnya. Sediaan patch ibuprofen dibuat
dalam tiga formula berdasarkan rancangan formula simplex lattice design dengan perbandingan
polimer HPMC K4M : carbopol 934 yaitu 1 : 0, 0.5 : 0.5, dan 0 : 1. Software design expert
digunakan untuk mengetahui formula optimum dari kedua polimer yang digunakan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa formula dengan polimer HPMC K4M : carbopol 934 (0.5 : 0.5)
memiliki nilai MC dan nilai fluks pelepasan paling bagus. Formula optimum yang dihasilkan
adalah formula dengan komposisi HPMC K4M : carbopol 934 dengan perbandingan 0.5 : 0.5.

Pendahuluan

Ibuprofen merupakan non-steroidal antiinflammatory drug (NSAID) turunan asam propionat


yang menghambat enzim siklooksigenase-1 (COX-1) dan enzim siklooksigenase-2 (COX-2)
biasanya digunakan dengan rute peroral dalam pengobatan berbagai macam penyakit rematik,
Efek samping ibuprofen dalam penggunaan dengan rute peroral yaitu gangguan gastrointestinal,
mual, muntah, erosi lambung, dan sakit kepala. Efek samping tersebut dapat dihindari dengan
cara pemberian ibuprofen dengan rute lain, misalnya rute transdermal.

10
Pembuatan Patch Ibuprofen

Sediaan patch dibuat dengan cara melarutkan 100 mg ibuprofen dalam campuran propilen glikol,
TEA, PEG 400, dan etanol, dilarutkan. Selanjutnya larutan ibuprofen dimasukkan dalam beaker
glass berisi campuran polimer EC N-22, HPMC K4M, dan carbopol 934 kemudian diaduk
hingga larut. Larutan polimer dan obat yang sudah tercampur dituang ke dalam cetakan yang
dilapisi vaselin dan backing kemudian selanjutnya dikeringkan suhu 50 C sampai kering.

Evaluasi Sediaan Patch Ibuprofen

Evaluasi sediaan patch meliputi uji organoleptis, uji ketebalan patch, uji bobot, uji ketahanan
lipat, pH permukaan, kadar obat dalam sediaan serta penentuan nilai MC dan fluks pelepasan.
Uji organoleptis dilakukan secara visual meliputi bau, bentuk, warna, dan kondisi permukaan
patch yang dihasilakan.

Uji ketebalan patch dilakukan untuk mengetahui ketebalan pada setiap sediaan patch yang telah
dibuat. Ketebalan patch diukur pada 5 titik berbeda dengan menggunakan jangka sorong
dihasilkan.

Uji bobot dilakukan untuk mengetahui bobot sediaan patch. Sediaan patch diambil sebanyak 5
buah. Masing-masing sediaan ditimbang dan dilihat variasi bobotnya, bobot patch yang
diharapkan sebesar 500 mg.

Pengujian ketahanan lipat dilakukan untuk membandingkan efisiensi dari plasticizer dan
kekuatan patch dengan perbedaan jumlah polimer penyusun. Pengujian dilakukan dengan cara
melipat patch pada satu titik yang sama berulang kali sampai rusak.

Pengujian kadar ibuprofen dilakukan untuk mengetahui kadar patch ibuprofen seragam di setiap
formulanya dan memenuhi kriteria. Patch yang telah disiapkan diukur serapannya pada panjang
gelombang maksimum ibuprofen yaitu 264 nm. Hasil absorbansi yang didapatkan kemudian
dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier. Persyaratan rentang antara 97 103% dan
standar kriteria CV yang memenuhi yaitu kurang dari 2,7% .

Penentuan nilai MC dilakukan dengan menggunakan alat moisture analyzer yang diatur pada
suhu 100 C. Syarat MC yang dikehendaki yaitu memiliki nilai paling minimum (<10%).

11
Nilai fluks pelepasan patch in-vitro dilakukan dengan menggunakan alat uji disolusi tipe dayung
(paddle) yang dilengkapi dengan sel difusi. Media yang digunakan yaitu larutan dapar fosfat
salin pH 7,4 0,05 sebanyak 500 ml dengan suhu 37 0,5C. Cakram yang sudah berisi patch
dimasukkan dalam alat uji disolusi dan diatur kecepatan putar paddle sebesar 50 rpm. Sampel
diambil dari kompartemen reseptor sebanyak 5,0 ml pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 90, 120,
180, 240, 300, dan 360. Setiap pengambilan sampel ditambahkan dapar fosfat salin pH 7,4
0,05 yang baru sebanyak 5,0 ml.

Serapan diamati menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 264 nm.
Blanko yang digunakan yaitu larutan dapar fosfat salin pH 7,4 0,05. Nilai fluks diketahui
dengan membuat kurva hubungan antara Q (jumlah obat yang tertranspor persatuan luas) dan t
hingga diperoleh suatu persamaan regresi linier y = bx + a. Slope dari persamaan yang diperoleh
merupakan fluks pelepasan yang menunjukkan banyaknya obat yang terlepas tiap satuan luas
pada waktu tertentu. Rentang nilai fluks yang dikehendaki yaitu 150 250 g/cm/menit. Hasil
penentuan nilai fluks pelepasan dan MC kemudian dilakukan analisis dengan mengggunakan
software design expert trial versi 9.03 untuk menentukan formula optimumnya. Formula
optimum diperoleh dengan menggabungkan countour plot antara kedua respon, sehingga akan
diperoleh titik perpotongan pada superimposed contour plot. Titik perpotongan yang diperoleh
merupakan formula optimum yang memiliki nilai fluks pelepasan paling besar dan nilai MC
paling minimum.

Hasil penentuan nilai fluks pelepasan dan MC kemudian dilakukan analisis dengan
mengggunakan software design expert trial versi 9.03 untuk menentukan formula optimumnya.
Formula optimum diperoleh dengan menggabungkan countour plot antara kedua respon,
sehingga akan diperoleh titik perpotongan pada superimposed contour plot. Titik perpotongan
yang diperoleh merupakan formula optimum yang memiliki nilai fluks pelepasan paling besar
dan nilai MC paling minimum.

Hasil Penelitian

Hasil evaluasi sediaan patch ibuprofen meliputi pengamatan organoleptis, uji MC, dan uji fluks
pelepasan Pengamatan Organoleptis Hasil pengujian organoleptis patch ibuprofen menunjukkan
bahwa ketiga formula memiliki bentuk, warna, dan bau yang sama, tetapi terdapat perbedaan

12
pada kondisi permukaannya. Pada F1 dan F2 memiliki kondisi permukaan yang kering, halus
dan tidak retak sedangkan F3 memiliki kondisi permukaan yang kurang kering, halus dan tidak
retak.

13
14
15
16
17
PEMBAHASAN

Hasil pengujian organoleptis patch dari ketiga formula menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
kondisi permukaan pada patch F3. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan pada F3
menggunakan polimer carbopol 934 dalam jumlah yang paling besar.Carbopol 934 merupakan
polimer hidrofilik yang bersifat higroskopis. Sifat higroskopis ini yang dapat mengikat uap air di
lingkungan selama proses pembuatan dan penyimpanan patch, sehingga akan meningkatkan
kelembaban dari patch itu sendir.

Hasil pengujian MC menunjukkan bahwa F1<F2<F3.F3 menggunakan polimer carbopol 934,


sedangkan F1 menggunakan polimer HPMC K4M. carbopol 934 memiliki kemampuan untuk
meningkatkan MC yang lebih besar dibandingkan HPMC K4M merupakan polimer hidrofilik,
tetapi sifat higroskopisitas carbopal 934 lebih besar dari pada HPMC K4M, sehungga
kemampuan carbopal 934 untuk menyerap kelembaban lingkungan lebih besar dari pada HPMC
K4M.

Hasil pengujian fluks pelepasan pada F3 memiliki rata-rata fluks pelepasan paling besar.Hal ini
dikarenakan pada F3 menggunakan polimer carbopol 934 dalam jumlah banyak.Carbopol 934
merupakan polimer hidrofilik yang dapat mengembang (swellable) apabila berada dalam pelarut
yang sesuai. Polimer yang dapat mengembang (swellable) lebih meningkatkan tortuositas dan
difusi bahan aktif, ketika kontakdengan medium disolusi maka akan terbentuk pori-pori sehingga
akan membantu pelepasan obat dalam sediaan.

Analisis dengan menggunakan software design expert trial versi 9.03 hanya diperoleh satu
solution yang merupakan titik optimum. Titik optimum ditunjukkan dengan adanya perpotongan
pada titik dengan jumlah HPMC K4M 0,057% dan jumlah carbopol 934 3,943% dengan nilai
MC sebesar 7,753% dan nilai fluks pelepasan sebesar 239,755 g/cm /menit . Nilai fluks
pelepasan yang didapatkan merupakan nilai paling maksimum.Hal ini dikarenakan semakin
tinggi nilai fluks maka obat yang terlepaskan dari basis semakin banyak. Nilai MC yang
didapatkan merupakan nilai paling minimum. Hal ini dikarenakan semakin kecil nilai MC maka
kandungan air dalam patch semakin sedikit, sehingga berpengaruh pada stabilitas patch dan tidak
mudah terkontaminasi mikroorganisme.

18
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa formula optimum
merupakan formula dengan jumlah HPMC K4M 0,057% dan carbopol 934 3,943% yang setara
dengan jumlah HPMC K4M : carbopol 934 (0.5 : 0.5). Hal ini dikarenakan komposisi HPMC
K4M 0,057% dan carbopol 934 3,943% dalam formula patch menunjukkan hasil yang paling
optimum terhadap nilai MC dan fluks pelepasan. Beberapa saran pada penelitian ini yaitu perlu
dilakukan optimasi suhu pengeringan dan validasi dalam metode pembuatan patch serta perlu
dilakukan uji stabilitas untuk mengetahui stabilitas patch.

19
KESIMPULAN

20
DAFTAR ISI

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. UI Press.
Jakarta Delgado-Charro, M.B. & Guy, R.H., 2001.
Depkes RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Williams, A., 2003. Transdermal and Topical Drug Delivery: From Theory to Clinical
Practice. Pharmaceutical Press, 169-194, ISBN 0-85369-489-3.
E-Jurnal pustaka Kesehatan,vol.4(No 2) mei 2016,.Optimasi Hidroksipropil Metilselulosa dan
Carbopol terhadap Moisture Content dan Laju Pelepasan Patch Ibuprofen In Vitro
(Optimization of Hydroxypropyl Methylcellulose and Carbopol for Moisture Content and
Release Rate of Ibuprofen Patch In Vitro) Kristine Dwi Puspitasari, Dwi Nurahmanto, Lidya
Ameliana Fakultas Farmasi Universitas Jember

21