Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KAITAN ANTARA PIAGAM MADINAH DENGAN PRINSIP

DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA

Politik Islam pada masa Nabi Muhammad ada dua masa yaitu periode Makkah
(610-622 M) dan periode Madinah (622 632 M). Periode kedua sebenarnya sebagai
periode kelanjutan dari periode pertama. Perbedaannya, pada masa di Makkah Nabi
tidak punya kekuasaan politik untuk menyokong kenabiannya, sedangkan ketika di
Madinah ia merupakan kepala politik agamanya, meskipun ia tidak pernah menyatakan
dirinya sbagai seorang penguasa atau sebagai kepala pemerintahan.

Negara dalam Islam adalah sebagai alat untuk keperluan agama. Kata negara
(daulat) menurut hampir semua pakar politik Islam menyatakan tidak terdapat dalam
al-Quran. Sehingga wajar jika Quran juga tidak secara detail memberikan sesuatu
pola teori kenegaraan. Sebab pada prinsipnya Quran memang bukan sesuatu kitab
ilmu politik. Suatu institusi sosio-politik dan organisasi manusia selalu berubah dari
waktu ke waktu. Oleh karena itu, tujuan terpenting al-Quran adalah agar nilai-nilai
dan perintah-perintah etiknya dijunjung tinggi dan bersifat mengikat atas kegiatan-
kegiatan sosio-politik umat manusia. Munculnya Piagam Madinah berangkat dari
keberadaan masyarakat Madinah yang tumbuh adat istiadatnya, sehingga dokumen
yang muncul pada abad ke-7 M yang memberikan ide-ide revolusioner. Revolusioner
karena penduduk Madinah dengan pendatang (muhajirin) dari Makkah dikategorikan
sebagai umat yang satu (ummatan wahidah). Gagasan satu umat di tengah sistem
kesukuan adalah sebagai terobosan yang spektakuler. Bahkan isi dari Piagam ini
menunjukkan bahwa konstitusi kesukuan telah batal demi hukum. Kehebatan piagam
ini bukan saja pada zamannya, tetapi pada saat inipun piagam ini masih tetap relevan
nilai-nilainya. Sebab piagam tersebut mempunyai tujuan strategis bagi terciptanya
sesuatu keserasian politik dengan mengembangkan toleransi sosio-religius dan budaya
seluas-luasnya
Piagam Madinah merupakan suatu nama yang diatributkan pada perjanjian
tertulis yang disepakati antara Rasullullah SAW sebagai pemimpin besar umat Islam,
yang saat itu baru saja tiba di Madinah, dengan para petinggi kaum Yahudi yang
merupakan penduduk mayoritas disana disamping berbagai macam aliran aqidah lain
yang minoritas. Kurang lebih, demikianlah Piagam Madinah kala itu, sebuah perjanjian
yang memiliki arti dan peranan besar bagi kelangsungan hidup Umat Islam yang baru
akan memulai babak baru fase perjuangan mereka. Perjanjian tersebut diantaranya
mengatur bagaimana seharusnya sebuah komunitas yang satu dalam suatu wadah.
Diantara perbedaan yang sangat kentara yaitu dalam hal aqidah atau keyakinan, sesuatu
yang sampai sekarang ini oleh sebagian kalangan masih dianggap sebagai akar
berbagai permasalahan sosial yang terjadi di pelosok dunia, Piagam Madinah adalah
sebuah loncatan besar pemikiran modern yang dibuat oleh Nabi Muhammad sebagai
perwakilan dunia timur di saat bangsa barat berkutat dalam abad kegelapan yang
berkepanjangan.

Piagam Madinah ini secara argumentatif telah dapat dianggap sebagai konstitusi
atau undang-undang dasar tertulis pertama di dunia dengan berbagai kelebihan
diantaranya sebagai naskah tertulis pertama yang mengakomodasi prinsip demokrasi
dan hak dasar manusia atau HAM. Terdapat 47 pasal di dalam Piagam Madinah, dan
bila disimpulkan terdapat dua hal pokok yaitu, semua pemeluk Islam, meskipun berasal
dari berbagai suku adalah tetap merupakan satu komunitas danHubungan antara
sesama komunitas Islam dan antara semua anggota komunitas didasarkan pada prinsip-
prinsip: bertetangga yang baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama,
membela mereka yang teraniaya, saling menasihati dan menghormati kebebasan
beragama. Pada dasarnya Piagam Madinah memiliki keterkaitan dengan Prinsip
Demokrasi.

Pada dasarnya Demokrasi berarti kekuasaan rakyat atau suatu bentuk


pemerintahan dengan rakyat sebagai pemegang kedaulatannya. Melalui konteks
budaya demokrasi, nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi panutan dapat
diterapkan dalam praktik kehidupan demokratis yang tidak hanya dalam pengertian
politik saja, tetapi juga dalam berbagai bidang kehidupan. Demokrasi sendiri
merupakan bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan
oleh pemerintah negara tersebut. Nilai-nilai yang terdapat pada prinsip demokrasi pada
masa itu di Madinah yaitu nilai-nilai kebebasan, persamaan dan keadilan. Karena
disebabkan porsi kebebasan individual yang sedemikian besar menjadikan konsep
demokrasi hilang dari praktek pemerintahan masa itu. Nilai-nilai demokrasi yang
terkandung dalam Piagam Madinah terdiri dari nilai musyawarah (1 pasal), nilai
keadilan (11 pasal), persamaan (2 pasal), kebebasan (1 pasal), persatuan (5 pasal),
hukum (2 pasal), kerjasama (4 pasal), jaminan keamanan (3 pasal), hak dan kewajiban
(3 pasal), perdamaian (2 pasal), dan menentang kezaliman (2 pasal) yang jelas terkait
dalam prinsip demokrasi. Kontribusi dari Piagam Madinah terhadap pengembangan
nilai-nilai demokrasi dapat di lihat pada bidang kehidupan termasuk di bidang hak asasi
manusia.

Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap
manusia sebagi anugerah tuhan yang maha esa.kesadaran akan hak asasi manusia
didasaarkan pada pengakuan bahwa semua manusia sebagai makhluk tuhan memilki
drajat dan martabat yang sama,maka setiap manusia memiliki hak dasar yang disebut
hak asai manusia.jadi kesadaran akan adanya hak asai manusia tumbuh dari pengakuan
manusia sendiri bahwa mereka adalah sama dan sederajat. Ada ketertkaitan antara
Piagam Madinah dan Hak Asasi Manusia yang terdapat pada Pasal 2 sampai dengan
pasal 10 berikut isi Pasal tersebut:

Pasal 2, Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap mempunyai hak asli mereka,saling
tanggung-menanggung, membayar dan menerima wang tebusan darah (diyat)kerana
suatu pembunuhan, dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman.
Pasal 3:1. Banu Awf (dari Yathrib) tetap mempunyai hak asli mereka, tanggung
menanggung wang tebusan darah (diyat). 2. Dan setiap keluarga dari mereka
membayar bersama akan wang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang
beriman. Pasal 4:1. Banu Saidah (dari Yathrib) tetap atas hak asli mereka, tanggung
menanggung wang tebusan mereka. 2. Dan setiap keluarga dari mereka membayar
bersama akan wang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman. Pasal
5:1. Banul-Harts (dari suku Yathrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, saling
tanggung-menanggung untuk membayar wang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di
kalangan orang-orang beriman. Pasal 6:1. Banu Jusyam (dari suku Yathrib) tetap
berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar wang tebusan
darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan
dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 7:1. Banu Najjar
(dari suku Yathrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung
membayar wang tebusan darah (diyat) dengan secara baik dan adil. 2. Setiap keluarga
(thaifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang
beriman. Pasal 8:1. Banu Amrin (dari suku Yathrib) tetap berpegang atas hak-hak asli
mereka, tanggung-menanggung membayar wang tebusan darah (diyat) di antara
mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan
adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 9:1. Banu An-Nabiet (dari suku Yathrib)
tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar wang
tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar
tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 10:1.
Banu Aws (dari suku Yathrib) berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-
menanggung membayar wang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap
keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan
orang-orang beriman. Pada pasal-pasal tersebut jelas mencoba menegaskan kembali
hak-hak yang dimiliki manusia sebagai manusia yang bebas dalam menentukan sebuah
sikap prinsip maupun pilihan selama tidak bertentangan dengan perikemanusiaan.
Pada dasarnya dalam kehidupan masyarakat Madinah pada saat itu, yang sangat plural,
multikultural, heterogen, dibutuhkan sistem sosial masyarakat yang bergerak dinamis
dan humanis. Piagam Madinah adalah solusi tepat untuk kebutuhan tersebut, Piagam
Madinah yang penuh dengan muatan nilai-nilai etika moral yang masih relevan dengan
era modern sekarng ini. Piagam Madinah didalamnya juga mengandung prinsip-prinsip
demokrasi dan hak-hak dasar masyarakat didalamnya yang mengatur kehidupan
berbangsa dan bernegara, dan berdasarkan Piagam Madinah itulah mereka mempunyai
kebebasan iman, sosial budaya, tetapi dengan kewajiban bersama-sama menjaga dan
mempertahankan kota Madinah dari serangan pihak luar.

Anda mungkin juga menyukai