Anda di halaman 1dari 13

1

FORMULASI DAN UJI SEDIAAN MASKER ANTI JERAWAT KAYU


MANIS ( Cinnamomum burmanni(Nees &T. Nees ).

Andhika Dhiasmi1, Dr. Oom Komala, MS.2, Ella Noorlaela M.Si, Apt3.
1
Program Studi Farmasi, FMIPA UNPAK-UNPAK
2
Program studi Farmasi, FIMPA - UNPAK
ABSTRAK

Kayu manis banyak digunakan sebagai anti jerawat. Penelitian ini


bertujuan untuk Mengetahui pengaruh konsentrasi terhadap bakteri Staphylococus
aureus, Mengetahui pengaruh penyimpanan masker kayu manis, Mengetahui
kesukaan panelis terhadap sediaan masker ekstrak kayu manis (Cinnamomum
burmanii) Dan pembuatan sediaan masker ekstrak kayu manis dengan berbagai
konsentrasi formula 1 ekstrak kayu manis 0%, formula 2 dengan kosnentrasi 8%,
formula 3 dengan konsentrasi 10% kemudian 12% sebagai formula 4 , sebagai
kontrol positif yaitu tetrasiklin.
Pada pengujian stabililtas terlihat bahwa sediaan masker ekstrak kayu
manis dengan formula 2, 3, dan 4 stabil pada suhu Suhu Kamar (25oC-30oC) dan
Pada Suhu 40oC selama 8 minggu pH masker yang didapat berkisar antara 5,31-
6,89 yang masih merupakan rentang normal untuk pH sediaan. Sediaan masker
yang paling disukai yaitu formula 2 dan 3 dengan konsentrasi ekstrak kayu manis
8% dan 12 % sedangkan pada pengujian aktivitas bakteri sediaan masker ekstrak
kayu manis terhadap bakteri Staphylococcus aureus menunjukan bahwa pada
formula 4 dengan konsentrasi 12% paling efektif sebagai antibakteri dengan rata-
rata Lebar Diameter Hambat 16mm.

ABSTRACT
kayu Manis plants has many benefits one of which is as anti jerwat.
This study aims to create a mask of anti-acne formula with varying
concentrations of extracts kayu manis, the effectiveness of masks to S. aureus as
a cause of acne. Meniran extract mask making preparations to be made with
various concentrations of extracts kayu manis 0%, formula 2 with kosnentrasi
8%, formula 3 with a concentration of 10% and 12% as a formula 4, as a
positive control, namely tetracycline. The results showed the phytochemical test
meniran contain alkaloids and tannins, the stabililtas testing shows that stocks
with kayu manis extract mask formula 2, 3, and 4 stable at room temperature
(25 C-30 C) and 40 C. In the temperature during pH 8 weeks masks obtained
ranged from 5,31-6,89 which is still the normal range of pH for the preparation.
The preparation is the most preferred mask formula 2 with extract concentration
kayu manis 8% while the testing activity of bacterial extracts kayu manis mask
preparations against Staphylococus aureus showed that the formula 4 with a
concentration of 12% effective as an antibacterial with an average width of 16
mm Diameter Inhibitory.
2

PENDAHULUAN simplisia sebanyak 1kg dimasukan


Jerawat (acne) adalah kondisi kedalam bejana kemudian dituangi
abnormal kulit akibat gangguan dengan 1/2 bagian pelarut etanol
berlebihan produksi kelenjar minyak sebanyak 7,5 liter, ditutup dan
yang menyababkan penyumbatan didiamkan selama 3hari terlindung
saluran folikel rambut dan poripori dari cahaya sambil diaduk setiap 4
kulit. Daerah yang mudah terkena jam sekali selama 3 hari diserkai dan
jerawat ialah dimuka, dada, ampas diperas. Ampas ditambah sisa
punggung, dan tubuh lengan. pelarut etanol sebanyak 1/2 bagian
Salah satu tanaman yang yaitu sebanyak 2,5 liter. Bejana
sering digunakan untuk mengobati ditutup dan didiamkan ditempat
segala penyakit, khususnya untuk sejuk terlindung dari cahaya, sambil
jerawat seperti tanaman kayu manis diaduk setiap 4 jam sekali. Setelah 2
(Cinnamomum burmanni) belum hari diserkai ampas diperas,
banyak diketahui masyarakat, bahwa kemudian ampas diperas kemudian
tanaman kayu manis juga berfungsi endapan dicampurkan sehingga
sebagai antibakteri serta mengurangi diperoleh seluruh sari (DepKes RI,
atau menghambat timbulnya jerawat. 1986). Setelah itu ekstrak yang
diperoleh dievaporasi dengan
METODE PENELITIAN mengunakan rotary evaporator pada
Alat dan Bahan suhu 30oC-40oC hingga diperoleh
Bahan yang digunakan ekstrak semi kental kayu manis.
dalam penelitian ini adalah meniran Ekstrak semi kental kayu manis yang
(Cinnamomum burmanni), bakteri diperoleh dikeringkan menggunakan
Staphylococcus auerus, Amylum freeze dry dengan suhu 40oC 50oC
oryzae, gliseryn, seng oksida, sampai terbentuk serbuk.
metylparaben, parfum, etanol 96% Rendemen =
maltodekstrin dan tertrasiklin dan Bobot ekstrak x100%
corn stratch. Bobot simplisia
Alat yang digunakan pada
penelitian ini antara lain timbangan Analisis Karakteristik Serbuk
analitik , pengayak mesh 30, oven, Simplisia dan Ekstrak
grinder, gelas ukur, rotavapor, gelas Kadar air ditentukan dengan
piala, erlenmeyer, mortar dan menggunakan Moisture balance
stemper, pH meter dan peralatan dan kadar abu dengan metode
lainnya. Gravimetri (pemanasan).
Perhitungan kadar abu dihitung
Pembuatan Ekstrak Kering kayu dengan rumus:
manis (Cinnamomum burmanni) Kadar Abu(%) = Bobot abu x 100 %
dengan Pelarut Etanol 96% Berat sampel
Kemudian dilakukan juga penetapan
Pembuatan ekstrak dilakukan kadar air ditentukan dengan
dengan cara maserasi dengan menggunakan Moisture Balance.
perbandingan antara serbuk simplisia Ditimbang dengan seksama sebanyak
dan pelarut (etanol 96%) yaitu 1:10 ( 1 g serbuk kayu manis dalam alat
1 kg simplisia : 10 eter etanol 96%) Moisture Balance yang sudah aktif
3

kemudian ditunggu hingga persen penangas air, lalu diteteskan dengan


kadar air tertera pada alat. Pengujian larutan gelatin 1% dalam NaCl 10%,
dilakukan duplo. hasil positif ditandai dengan
terbentuknya endapan putih
Uji Fitokimia Ekstrak Kayu manis menunjukkan adanya tanin
(Cinnamomum burmanni) (Rajendra, 2011).
a. Alkaloid d. Saponin
Sebanyak 100 mg sampel Sebanyak 100 mg dimasukan
ditambahlan dengan HCl 10%, dan kedalam tabung lalu diencerkan
ammonia encer hingga pH 8, dengan air, kenudian dikocok kuat
kemudian disarikan dengan selama 10 menit. Keberadaan
kloroform. Sari kloroform diuapkan senyawa golongan saponin
sampai kering sisa dilarutkan dengan ditunjukan oleh terbentuknya busa
HCl dan larutan tersebut dibagi yang stabil selam 15 menit dan busa
dalam 4 tabung. Tabung pertama tetap stabil setelah penambahan 1
digunakan sebagai pembanding, tetes HCl 1% (encer) ( penentuan
tabung kedua ditambahkan pereaksi dilakukan duplo) (Djalil, 2006).
mayer terbentuk putih, dan tabung
ketiga ditambahkan pereaksi Pembuatan Masker
Dragendorf terbentuk endapan coklat a). Pembuatan basis masker
(penentuan dilakukan duplo) Dilakukan menggunakan metode
(Rajendra, 2011). percampuran gradual, yaitu dengan
cara mencampurkan basis masker
b. Flavonoid dengan bahan pengawet, dan bahan
Sebanyak 100mg sampel tambahan lain sedikit demi sedikit
ditambahkan 100ml air panas (Tono,1999). Mula-mula amylum
kemudian didihkan selama 5 menit, oryzae dibagi kedalam dua bagian
disaring sehingga diperoleh yang (dua wadah) untuk bagian yang
digunakan sebagai larutan percobaan. pertama digunakan sebagai
Ke dalam 5 ml larutan percobaan pencampur metilparaben. Untuk
ditambahkan serbuk magnesium dan bagian yang kedua digunakan
1 ml HCl pekat, selanjutnya sebagai pelarut parfum, kemudian
ditambahkan amilalkohol, campuran masukan kedua bagian tersebut
tersebut dikocok dengan kuat dan kedalam mortar, tambahkan ZnO,
dibiarkan hingga memisah. corn strach dan glyserin, aduk
Terbentuknya warna merah, kuning hingga merata sehingga menjadi
atau jingga dalam larutan basis masker.
amilalkohol menunjukan adanya b) Pencampuran bahan
golongan flavonoid (penentuan Setelah basis masker dibuat,
dilakukan duplo) (Djalil, 2006). masukan basis masker kedalam
mortar, campurkan bahan aktif dan
c. Tanin tambahan corn strach yang tersisa
0,5 g ekstrak yang diperiksa untuk mencapai berat yang sama,
dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu aduk hingga didapat sediaan
dilarutkan dengan sedikit akuades yang homogen.
kemudian dipanaskan di atas
4

Sterilisasi Alat dan Bahan pada posisi miring ( Sudut


kemiringan kurang lebih 15o)
Alat dan bahan yang digunakan
dalam penelitian ini disterilkan
Penyiapan Kertas Cakram
menurut cara yang sesuai yaitu :
Pembuatan kertas cakram dengan
Alat- alat gelas dan alat- alat lain
diameter 6 mm dibuat dari kertas
yang tahan pemanasan disterilkan
whatman no.40, direndam sediaan
dalam oven pada suhu 150oC
uji, kontrol negatif dan kontrol
selama 1 jam, kemudian alat- alat
positif.
bukan gelas yang tahan pemanasan
disterilkan pada saat akan a)Pembuatan Kertas Cakram
digunakan menggunakan alkohol Pada Sediaan Uji
70% kemudian diukur dengan api
sampai alkohol tidak tersisa lagi. Dimasukan 10 gram masker
Setelah itu media pembenihan, air kayu manis (Cinnamon burmanii)
suling, kertas cakram dikeringkan yang sudah homogen kemudian
dalam autoclaf pada suhu 120oC. dilarutkan dalam 10 ml aquadest
hingga homogen, dan larutan
Pengujian Antibakteri tersebut disaring, rendam kertas
Uji antibakteri menggunakan cakram pada sediaan tersebut
metode perforasi atau metode selama 24 jam pada suhu 37C,
cakram. Sampel untuk diuji kemudian dikeringkan selama 24
efektivitas antibakteri adalah ekstrak jam atau sampai kering.
sediaan masker yang masing-masing
3 seri konsentrasi yang mengandung b)Pembuatan Kertas Cakram
ekstrak kayu manis. Kontrol positif Pada Kontrol Negatif
yang digunakan adalah tertrasiklin
dengan konsentrasi 2%. kontrol Dimasukan kertas cakram
negatif yang digunakan setelah basis dalam basis yang diambil 10 gram
tanpa ekstrak kayu manis atau 0%. yang dilarutkan dalam 10 ml
aquadest, kemudian disaring,
Persiapan Media Agar rendam kertas cakram pada sediaan
Serbuk nutrient agar sebanyak 23 tersebut selama 24 jam pada suhu
gram dilarutkan dalam 1000 mL air 37C, kemudian dikeringkan
suling, kemudian dipanaskan sambil selama 24 jam atau sampai kering.
setiap kali digoyang goyang hingga c)Pembuatan Kertas Cakram
mendidih selama 1 2 menit sampai
Pada Kontrol Positif
terbentuk larutan sempurna. Larutan
disterilkan dalam autoklaf pada suhu Dimasukan sediaan basis
121oC selama 15 menit dengan masker 10 gram yang mengandung
tekanan 1 atm sebelum media Tetrasiklin 500 mg sebanyak 2%
digunakan, pembuatan agar miring dilarutkan dalam 10 ml aquadest,
untuk kultur stock dilakukan dengan dan disaring larutan tersebut,
cara menuangkan 5 mL media yang kemudian dimasukan kertas cakram
masih cair kedalam tabung reaksi dan direndam selama 24 jam pada
steril secara aseptis yang diletakkan suhu 37C, kemudian dikeringkan
5

pada oven selama 24 jam atau Evaluasi sediiaan masker


sampai kering. meliputi Uji Stabilitas dan
Hedonik
Pengujian Lebar Daerah Hambat Stabilitas didefinisikan
(LDH) sebagai kemampuan suatu produk
Pengujian efektifitas masker kayu obat atau kosmetik untuk bertahan
manis dilakukan untuk mengetahui dalam batas spesifikasi yang
besarnya daerah hambatan akibat ditetapkan sepanjang periode
maker kayu manis terhadap penyimpanan dan penggunaan
Staphylococus aureus dengan untuk menjamin identitas, kekuatan
metode difusi kertas cakram. kualitasan dan kemurnian produk
Pengujiannya dengan cara tersebut. dimana sifat dan
mencampur 0.2 ml inokulum bakteri karakteristiknya sama dengan yang
Staphylococus aureus dengan dimilikinya pada saat dibuat.
-6
konsentrasi 10 hasil pengenceran, (Djajadisastra, 2004). Selain itu
dan + 15 ml media Mueller Hinton dilakukan lagi dengan 2 parameter
dimasukan ke dalam cawan petri, yaitu :
kemudian digerakkan melingkar 1). Uji pH
untuk menyebarkan bakteri secara Pengukuran pH bertujuan
merata. setelah agar memadat, mengetahui PH yang terdapat pada
diatasnya diletakkan kertas cakram masker dengan menimbang masker
yang yang mengandung masker Kayu Manis 10 gram dan dilarutkan
kayu manis (Cinnamon burmani ). dalam 10 ml aquadest, dan
Konsentrasi yang digunakan yaitu : pengukuran pH dengan
0% (b/v) (kontrol negatif), 8% (b/v), menggunakan pHmeter digital,
10% (b/v), 12% (b/v) dan syarat pH standard untuk masker dan
Tetrasiklin 2% sebagai kontrol lulur adalah 4-8.
positif, kemudian diinkubasi selama 2)Uji organoleptik
24 jam pada suhu 37c. Pengujian Uji organoleptik pada masker
efektifitas ini dilakukan untuk diamati secara visual meliputi,
masing-masing perlakuan dengan 5 kehalusan, warna (perubahan zat
kali pengulangan. Setelah diinkubasi warna), bentuk (serbuk atau nampak
diamati dan diukur lebar daerah seperti granul), organoleptik (bau ).
hambat dari zona yang terbentuk Dilakukan dengan cara pengulasan
menggunakan penggaris, sehingga sediaan pada plat kaca dan diamati
diketahui lebar daerah hambat dari dengan teliti. Uji stabilitas ini
ekstrak kayu manis. Lebar daya dilakukan selama 8 minggu pada 2
hambat diukur mulai dari tepi daerah suhu atau temperatur yaitu suhu
hambat cakram sampai ke tepi kamar (25C- 30C) dan suhu
daerah hambat cakram sisi lain dipercepat (40C). Masker
melalui garis tengah cakram ditempatkan atau dikondisikan sesuai
kemudian dikurangi lebar kertas dengan 2 temperatur tersebut,
cakram dan hasilnya dibagi dua. kemudian diamati secara berkala dua
minggu sekali baik secara visual
(organoleptik dan homogenitas)
maupun secara kualitatif (pH).
6

Uji Hedonik / kesukaan 2. Uji fitokimia:Flavonoid, Alkaloid,


Uji kesukaan terhadap suatu Tanin dan saponin
sediaan merupakan atribut mutu yang 3. Uji stabilita masker : pH masker,
diuji dari kualitas sediaan yang kehalusan, warna, bentuk dan bau
dipengaruhi formulasi sediaan sediaan masker.
tersebut dalam hal ini berupa sediaan 4. Uji hedonik/kesukaaan
masker Kayu Manis yang diambil 5. Uji iritasi
10gr dan dilarutkan 10 ml aquadest
dan diaplikasikan oleh panelis Analisa Data
selama 10 menit. Dalam uji
Untuk mengetahui adanya perbedaan
kesukaan penilaian dilakukan dengan
data LDH dari serbuk masker
pengujian.
tanaman meniran (Phyllantus niruri
Pengujian ini menggunakan 4
L.) menggunakan Rancangan Acak
skala kesukaan : tidak suka (1).
Lengkap dengan 5 kali pengulangan.
Sangat tidak suka (2). Suka (3).
Model matematika yang digunakan
Sangat suka (4) dengan jumlah
yaitu: Yij = + i + ij
panelis sebanyak 20 orang.
Keterangan:
Yij : Respon pada perlakuan ke-I dan
Uji Iritasi
ulangan ke-j
Uji iritasi terhadap suatu sediaan : Rataan Umum
merupakan uji yang sangat penting i : Pengaruh perlakuan ke-i
dari kualitas sediaan masker setelah I : Galat pada perlakuan ke-I ulangan
diaplikasikan menimbulkan efek ke-j
atau iritasi terhadap kulit, dilakukan
dengan cara sediaan masker Kayu HASIL DAN PEMBAHASAN
Manis yang diambil 10gr dan Persiapan Bahan
dilarutkan 10 ml aquadest dan Bahan yang digunakan berupa
diaplikasikan oleh panelis selama tanaman kayu manis segar yang
10 menit. Dalam uji iritasi didapatkan dari Balitro dan telah
penilaian dilakukan dengan dideterminasi oleh Herbarium
pengujian. Pengujian ini Bogorisense, Bogor. Hasil
menggunakan 2 skala yaitu : (1) determinasi menerangkan bahwa
terjadi iritasi, (2) tidak terjadi bahan yang digunakan adalah
iritasi. tanaman kayu manis dengan nama
latin Cinnamomum burmanni dari
Parameter Penelitian suku lauraceae. Hasil determinasi
Parameter penelitian yang diamati dapat dilihat pada lampiran4.
adalah Serbuk sampel yang
1. Pengukuran Lebar Diameter digunakan ialah 1350g yang
Hambat (LDH) dan masker merupakan hasil pengeringan
ekstrak kayu manis (Cinnamomum 3000g tanaman kayu manis,
burmanii) terhadap bakteri jumlah serbuk yang diayak setelah
staphylococcus aerus pada diayak dengan mesh 40 ialah 950g
berbagai konsentrasi.
7

merupakn bagian dari komposisi


tanaman obat serta bahan pangan
selain air dan bahan organik.
Dari hasil penetapan kadar abu
yang dilakukan secara gravimetri
diperoleh hasil 9,25% untuk serbuk.
Gambar1. Kayu manis
(cinnamomum burmanii)
Hasil Uji Fitokimia
Penetapan Kadar Air dan Kadar
Berdasarkan hasil
Abu.
pengujian fitokimia tidak
Pengujian kadar air dilakukan pada
ditemukan adanya steroid hal ini
serbuk simplisia kayu manis yang
ditunjukan dengan hasil negatif
bertujuan untuk memberikan
bahwa tidak adanya warna merah.
batasan minimal atau rentang
Hasil pengujian alkaloid, flavonoid
tentang besarnya kandungan air
dan tanin hasilnya positif. Adanya
didalam bahan. Pada pengujian
alkaloid ditandai dengan adanya
kadar air simplisia ini digunakan
endapan coklat, senyawa alkaloid
alat yang bernama Moisture
yang terkandung dalam daun
Balance, dimana pengujian
meniran menandakan bahwa kayu
dilakukan sebanyak 2 kali
manis mempunyai potensi sebagai
pengulangan pada sampel simplisia
antibakteri .
kayu manis dengan jangka waktu
Pada hasil pengujian
masing masing selama 10 menit .
fitokimia ini kayu manis juga
Data mengenai kadar Air dapat
positif mengandung senyawa
dilihat pada Tabel 1.
flavonoid, adanya flavonoid
Tabel 1. Data Kadar Air ditandai dengan adanya hijau
Simplisia kehitaman, endapan kuning dan
terbentuknya warna jingga. Sejenis
kadar air serbuk flavonoid yang terbesar jumlahnya
Ulangan (%) dan juga lazim ditemukan pada
1 4,43 tumbuhan. Hasil pengujian tannin
2 4,45 menunjukan bahwa mempunyai
aktivitas sebagai antibakteri
rata-rata 4,44
ditandai dengan hasil yang positif
Dari hasil pengujian diatas dengan warna hijau kehitaman dan
diperoleh kadar air sebesar 4,44 % , terbentuknya endapan putih. hasil
menurut Depkes RI, 1985 kadar air pengujian saponin menunjukan
dalam simplisia yang digunakan hasil yang positif dengan adanya
dalam penelitian tidak lebih dari buih setelah pengocokan dan
10% dan pengujian kadar air ini penambahan HCl 1%.
simplisia tersebut memenuhi
persyaratan. Pembuatan Ekstrak
Ekstrak dibuat dengan metode
terkandung dalam suatu maserasi dimana 950g serbuk
simplisia. Senyawa anorganik sampel diekstraksi dengan 9,5 liter
adalah unsur mineral yang etanol 96%. Metode ekstraksi yang
8

digunakan ialah metode maserasi kosmetik , karena ph dari kosmetik


karena metode ini pengerjaannya yang dipakai dapat memperngaruhi
dan peralatan yang digunakan daya absorpsi kulit. Produk kosmetik
sederhana dan mudah didapat, memiliki ph yang sangat tinggi atau
relatif murah serta dapat sangat rendah yang meningkatkan
menghindari kerusakan komponen daya dan absorpsi kulit sehingga
senyawa yang tidak tahan terhadap menyebabkan kulit teriritasi.
panas.
Tabel 2 .Hasil pengamatan pH Masker Ekstrak
Kayu manis
Hasil penetapan rendemen
ekstrak. Uji pH
Rendemen ekstrak total Minggu
dihitung dengan membandingkan Ke- Suhu kamar (25oC- Oven suhu 40oC
ekstrak yang dihasilkan dengan 30oC)
berat simplisia 1000g. Dari proses F1 F2 F3 F1 F2 F3
maserasi diperoleh ekstrak
1 5,88 6,89 6,39 5,62 5,24 6,01
berwarna cokelat kemerahan pekat
aroma khas kayu manis kuat. Hasil 2 55,62 5,66 6,26 6,02 5,31 5,38
ekstrak kayu manis adalah 300g
dari 950g setelah maserasi dan 4 5,69 5,68 6,23 6,24 5,44 5,98
persentase rendemen sebesar 0.3%.
Penentuan rendemen ekstrak 6 5,82 6,04 5,86 5,89 5,72 5,58
bertujuan untuk mengetahui
8 5,35 6,07 5,95 5,56 5,82 5,50
perbandingan dari bobot simplisia
dari hasil ekstrak. Dari penentuan
rendemen ekstrak dapat diketahui Dari tabel diatas , sediaan
jumlah ekstrak dari simplisia pada masker ekstrak kayu manis
berat tertentu. memperlihatkan dari setiap formula
pada suhu yang berbeda (25-30C
Evaluasi Sediaan Masker dan 40C) berkisar antara 5,31-
Ekstrak Meniran 6,89. Hal ini masih memenuhi
1)Uji Stabilitas standar kosmetik yang baik.
Uji stabilitas ini dilakukan
dengan menyimpan setiap formula 2) Uji Organoleptik
sediaan dalam pot plastik dan
a) hasil pengamatan tekstur
tertutup rapat, penguji dilakukan
selama 8 minggu dan dilakukan pada Hasil pengamatan dari uji
suhu yang berbeda-beda, yaitu pada organoleptik berdasarkan bentuk
suhu 25oC-30oC dan pada suhu 40oC sediaan. Hasil pengamatan dari uji
(Stabilita dipercepat). Parameter organoleptik berdasarkan parameter
pengujian meliputi pH dan bentuk sediaan secara lengkap
organoleptik mulai dari ke-2 sampai dapat dilihat pada tabel 3.
minggu ke-8 dilakukandalam pot dan
tertutup rapat dengan jumlah 20gr.
1)Uji pH
pH merupakan salah satu parameter
penting dalam analisis produk
9

Tabel 3. Hasil Pengamatan Tekstur masker kayu relatif stabil. Formula 1 warna
manis
tekstur Bentuksedikit
( tekstur ) cokelat kemerahan karena
Minggu pemberian konsentrasi 8%, pada
Ke- Suhu kamar Oven suhu formula 2 warna agak cokelat
(25oC-30oC)
40oC kemerahan Karena pemberian
konsentrasi 10%, dan pada formula
F1 F2 F3 F1 F2 F3
3 warna cokelat kemerahan karena
2 ++ ++ ++ ++ ++ ++
pemberian konsentrasi 12%. Hasil
pengamatan dari uji organoleptik
4 ++ ++ ++ ++ ++ ++ berdasarkan parameter warna
secara lengkap dapat dilihat pada
6 ++ ++ ++ ++ ++ ++ tabel 5.
8 ++ ++ ++ ++ ++ ++ Tabel 3. Hasil Pengamatan Warna Masker Kayu
Manis
Warna
Keterangan : - : kasar
++ : halus Minggu
b)Hasil Pengamatan Aroma Ke- Suhu kamar (25oC- Oven suhu 40oC
o
hasil pengamatan dari uji 30 C)

organoleptik berdasarkan aroma F1 F3 F4 F2 F3 F4

sediaan.
2 ++ ++ ++ ++ ++ ++
Hasil pengamatan dari uji
organoleptik berdasarkan parameter 4 ++ ++ ++ ++ ++ ++
aroma secara lengkap dapat dilihat
pada tabel 4. 6 ++ ++ ++ ++ ++ ++

Tabel 4 Hasil Pengamatan Aroma Masker kayu 8 ++ ++ ++ ++ ++ ++


manis
Aroma
Keterangan : - : warna berubah
Minggu ++ : warna coklat kemerahan
o o
Ke- Suhu kamar (25 C- Oven suhu 40 C
30oC) Uji kesukaan berdasarkan
F3 F4 F2 F3 F4 parameter kesukaan aroma
F2
2 ++ ++ ++ ++ ++ ++ Uji kesukaan dengan parameter
berdasarkan aroma dengan cara
4 ++ ++ ++ ++ ++ ++ menganalisa pendapat terhadap 20
panelis terhadap aroma sediaan.
6 ++ ++ ++ ++ ++ ++ Ada 4 skala yang digunakan yaitu
sangat suka, suka, tidak suka,
8 ++ ++ ++ ++ ++ ++
sangat tidak suka dimana setiap
Keterangan : - : wangi parfum hilang penilaian yang diberikan oleh
++ : wangi parfum panelis melalui sebuah angket
c)Hasil Pengamatan Warna dicatat dan diamati kemudian
Hasil pengamatan organoleptik disimpulkan sejauh mana sediaan
berdasarkan warna sediaan pada yang dibuat dapat diterima oleh
suhu kamar (25oC-30oC) dan suhu para panelis.
40oC dari minggu ke-2 sampai
minggu ke-8 mempunyai nilai yang
10

disukai para panelis. Hal ini


20
Aroma disebabkan konsentrasi yang
digunakan tidak berpengaruh
PANELIS
15
10 sangat terhadap warna sediaan. .
5
0 suka
2 (8%) 3 4 suka Uji Kesukaan Berdasarkan
(10%) (12%) Parameter Kesukaan Terhadap
Formula
Tekstur
Gambar 2. Diagram uji
kesukaan dengan parameter Uji kesukaan berdasarkan
aroma parameter kesukaan terhadap
tekstur dengan cara menganalisa
Dari grafik diatas dapat kita lihat pendapat terhadap tekstur sediaan
bahwa aroma formula 2 dan dengan berbagai konsentrasi. Ada 4
formula 3 paling disukai oleh skala yang digunakan yaitu sangat
panelis. Hal ini dikarenakan aroma suka, suka, tidak suka, sangat tidak
aromaterapi kayu manis yang masih suka dimana penilaian diberikan
kuat dibandingkan formula 1. oleh panelis melalui sebuah angket
yang dicatat, diamati dan
Uji kesukaan berdasarkan disimpulkan.
parameter terhadap warna
dengan cara menganalisa pendapat Tekstur
terhadap 20 panelis terhadap warna 20
PANELIS

sediaan dengan berbagai 15


10 sangat
konsentrasi. Ada 4 skala yang 5
digunakan yaitu, sangat suka, suka, 0 suka
tidak suka dan sangat tidak suka 2 (8%) 3 4 suka
(10%) (12%)
dimana penilaian diberikan oleh
panelis melalui sebuah angket yang Formula
dicatat dan diamatikemudian
disimpulkan sejauh mana sediaan Gambar 4. Diagram uji kesukaan
yang dibuat dapat diterima oleh dengan parameter tekstur
para panelis. .
Dari diagram diatas dapat dilihat
bahwa tekstur formula 1 dan
Warna formula 3 kurang disukai oleh
20 panelis. Hal ini disebabkan karena
15
PANELIS

10 sangat suka tekstur formula 1 dan formula 3


5
0
suka
kurang homogen dibandingkan
2 (8%) 3 4 dengan formula 2.
(10%) (12%) tidak suka
Uji Iritasi
Gambar 3. Formula
Diagram uji kesukaan
dengan parameter warna Uji efek (iritasi) dengan cara
menganalisa pendapat terhadap
Dari diagram diatas dapat dilihat efek yang terjadi setelah sediaan
bahwa warna formula 1 kurang diaplikasikan kekulit dengan
11

berbagai konsentrasi. Ada 2 skala media pada Mualler Hinton yang


yang digunakan yaitu terjadi iritasi telah mengandung bakteri uji.
dan tidak terjadi iritasi. Kemudian diinkubasi pada suhu
37oC selama 24jam. Zona yang
terbentuk diukur dengan
Iritasi menggunakan penggaris.
20
15
10
5
0
2 (8%) 3 4 iritasi
(10%) (12%) tidak iritasi
Formula
Gambar 6. Lebar Diameter Hambat
Sediaan Masker Kayu Manis
Gambar 5. Diagram uji iritasi
Diagram diatas dapat dilihat bahwa Padagambar 6 memperlihatkan zona
pengujian formula 1, 2 dan 3 hambat masker ekstrak kayu manis
bersifat aman dan tidak yang dihasilkan pada berbagai
menimbulakn efek iritasi. Hal ini konsentrasi yang dibuat, control
disebabkan bahan sediaan tidak positif dan control negatif. Gambar
mengandung bahan yang tersebut menunjukan bahwa masker
berbahaya. ekstrak kayu manis dengan
konsentrasi 12% memiliki aktivitas
Pengujian Aktivitas Bakteri menghambat pertumbuhan bakteri
Pengujian aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dan pada
dilakukan dengan menggunakan konsentrasi 8% membentuk zona
metode difusi cakram, dimana hambat paling kecil, basis tanpa
dibuat deret konsentrasi masing- ekstrak kayu manis tidak membentuk
masing larutan ekstrak 8%, 10%, zona hambat, sedangkan zona
12%, kontrol positif tetrasiklin 1% hambat kontrol positif dengan
serta control negatif basis dan konsentrasi tetrasiklin 2 % memiliki
penggunaan air dalam penelitian ini zona hambat paling lebar.
dimaksudkan untuk menambah LDH(mm) sediaan masker kayu
kelarutan masing-masing sediaan manis.
dan melihat pengaruhnya terhadap Berdasarkan hasil penelitian,
bakteri Staphylococcus aureus. dapat dilihat nilai diameter zona
Dari hasil penelitian menunjukan hambat meningkat pada konsentrasi
bahwa basis sediaan pada masker 12%, semakin tinggi konsentrasi
tidak memiliki aktivitas antibakteri maka semakin besar efektivitasnya
terhadap Staphylococcus aureus. dalam menghambat pertumbuhan
Bakteri Staphylococcus bakteri. Pada tabel 11, menunjukan
aureus ditumbuhkan pada media bahwa sediaan masker dengan
padat Mualler Hinton dan diuji konsentrasi 12% memiliki lebar zona
terhadap masing-masing sediaan hambat paling efektif terhadap
masker ekstrak kayu manis, antibakteri dibandingkan dengan
tetrasiklin dan basis dengan cara sediaan masker lainnya. Lebar
meletakan kertas cakram diatas Diameter Hambat rata-rata 16mm.
12

namun masih sangat lebih rendah 1. Kayu manis dalam sediaan


dibandingkan dengan Tertasiklin. masker memiliki aktivitas
terhadap bakter staphylococus
Tabel Rata-rata Lebar Diameter Hambat (mm) aureus, semakin tinggi
sediaan masker ekstrak kayu manis
Rata-rata Lebar Diameter Tertrasikl Basis konsentrasi maka semakin
Hambat (mm) sediaan in tanpa besar aktivitasnya dalam
masker ekstrak kayu 1% (+) ekstra menghambat pertumbuhan
manis k bakteri.
kayu 2. Kayu manis dalam sediaan
manis masker stabil dalam
(-) penyimpanan 2 bulan, pH
(8% (10 (12 berkisar antara 5,31-6,89
) %) %) 24,7 (-) dinyatakan memenuhi standar
10, 11,1 16 kosmetik yang baik dengan
6 ambang batas normal berkisar
antara 4 - 8
Berdasarkan analisis ragam 3. Ada dua formula yang disukai
terhadap Staphylococcus aureus panelis adalah formula 2
memberikan hasil yang berbeda dengan konsentrasi 8% dan
sangat nyata (p<0,01). formula 3 dengan konsentrasi
12%.

rata-rata LDH 5.1 Saran


20
- Perlu pengujian lebih lanjut
mengenai uji formulasi sediaan
15 16
masker kayu manis dengan uji
10 10.6 11.1 serbuk yaitu uji patch test.
5
0
0% 5% 10% 15% DAFTAR PUSTAKA
Gambar 11. Grafik perbandingan antara Lebar
diameter hambat dan konsentrasi Depkes RI. 1985 .Formularium
Kosmetika Indonesia. DIRJEN
Berdasarkan grafik diatas dapat POM, Jakarta.
dilihat bahwa semakin tinggi
konsentrasi maka semakin tinggi Djalil et al. 2006. Penafsiran
pula lebar diameter hambat sediaan Fitokimia dan Uji Aktifitas
masker kayu manis dengan korelasi Antibakteri Ekstrak Air dan
perbandingan R2 = 0,818 dan Etanol Daun Maja ( Aegle
persamaan regresi y = 135x 0.933 marmelos cortex). Pharmacy
sehingga dapat didapat garis linear. 04 ISSN 1693-3591.
KESIMPULAN DAN SARAN
Harbone, J, B 1987. Metode
Fitokimia Penuntun Cara
13

Modern Menganalisis
Tumbuhan. Terjemahan
Padmawinata K, Soediro I,
Niksolihin S, Terbitan
Pertama. Institut Teknologi
Bandung, Bandung.

Rajendra, CE, Gopal S Magadum,


Mahabood Ali Nadof,
Yashoda S.V, Manjula M,
2011. Phytochemical Screening
of the Rhizome of kaempferia
Galanga. International Journal
of Pharmacognosy and
Phytocemical Research 2011 :
3(3) : 61-63.

Robinson, T. 1991. Kandungan


Organik Tumbuhan Tinggi.
Terjamahan Padmawinata,K.
Institut Teknologi Bandung.
Bandung.

Tano. Edi. 1999. Tekhnik Membuat


Kosmetik Dan Tips Kecantikan.
Penerbit Rineka Copta 65-66.
Jakarta.