Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

MATERI dan ENERGI

Tentang

GAS ALAM

Oleh

Kelompok 2:

Desrianti Sahida 15175050/ 2015


Fuja Novitra 15175015/ 2015
Loly Triana 15175054/ 2015
Muslim. M 15175025/ 2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kenaikan harga minyak mentah, net oil importer, kenaikan harga BBM
dan pembengkakan subsidi merupakan pemberitaan yang hangat dibahas di media
massa kita akhir-akhir ini. Pembahasan ini menunjukkan bahwa minyak bumi
memang masih menjadi idola sebagai sumber penyedia energi terbesar di negeri
ini. Tingginya konsumsi masyarakat akan BBM, tidak mampu diimbangi oleh
produksi dan ketersediaan cadangan minyak bumi yang ada di perut bumi negara
kita. Sebagai dampak dari konsumsi BBM tersebut adalah tingginya tingkat
pencemaran lingkungan melalui emisi yang dihasilkan, seperti CO2, NOx, SOx,
dll. Hal ini terkait langsung dengan isu dunia mengenai pemanasan global sebagai
akibat dari efek rumah kaca. Sebagai bangsa yang dianugerahi oleh beragam
sumber daya alam (SDA), sudah saatnya bagi bangsa ini untuk mulai melirik
SDA lain, seperti gas alam, untuk diolah sehingga dapat mengurangi porsi
minyak bumi, baik sebagai sumber energi maupun bahan baku industri lainnya.
Untuk itu, diversifikasi dan penguasaan teknologi merupakan yang faktor penting
disamping kesadaran akan kelestarian lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan gas alam atau gas bumi
semakin meningkat seiring semakin luasnya penggunaan gas alam sumber energi
ini baik untuk industri maupun untuk rumah tangga dan sebagai bahan baku
industri terutama untuk industri pupuk. Konsumsi gas alam sebagai energi final
adalah ketiga terbesar setelah BBM dan batubara, lebih tinggi dari listrik dan
LPG. Prosentasi (share) konsumsi gas alam mencapai 13,7 persen pada tahun
2008. (Sumber : Statistika BPMigas,2008)
Beberapa masalah terkait industri gas alam selain produksi adalah pasokan
untuk kebutuhan dalam negeri yang terbatas. Akibat terbatasnya pasokan gas
maka kelangsungan pengembangan industri pupuk sempat terganggu karena
belum adanya jaminan pasokan gas. Pembentukan harga yang tidak sepenuhnya
memakai prinsip pasar di dalam negeri membuat sebagian produksi dijual ke pasar

2
luar negeri. Kondisi ini membuat kepastian pasokan untuk industri kebutuhan
dalam negeri belum stabil.
Pemerintah mencoba mengatasi hal ini dengan kebijakan Domestic Market
Obligation (DMO) dan memprioritaskan alokasi gas dari lapangan baru yakni
Lapangan Donggi Senoro untuk kebutuhan domestik.
Dengan semakin besarnya desakan di dalam negeri untuk bisa
memanfaakan semaksimal mungkin gas alam untuk kebutuhan dalam negeri maka
berbagai kebijakan baru telah dikeluarkan mengenai pemanfaatan gas alam.
Beberapa regulasi baru pada sektor ini yang diperkirakan akan mempengaruhi
bisnis gas alam di Indonesia khususnya menyangkut transmisi gas alam
diantaranya pemindahan titik serah gas alam ke Singapura dari plant gate di
Singapura ke well head di Indonesia yang mempengaruhi proses perhitungan
biaya dan harga jual gas alam tersebut.

B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang dibahas dalam makalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan gas alam atau gas bumi?
2. Bagaimana proses terbentuknya gas bumi?
3. Komponen apa saja yang menyusun gas bumi tersebut?
4. Bagaimana proses penyimpanan dan transportasi gas bumi?
5. Apa manfaat gas bumi?
6. Teknologi apa sajakah yang telah dikembangkan terhadap potensi dari gas
bumi?
7. Bagaimana perkembangan pemanfaatan gas bumi di Indonesia?

C. Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari gas bumi atau gas alam itu
sendiri.
2. Untuk mengetahui komponen-komponen yang menyusun gas bumi.
3. Untuk mengetahui proses terbentuknya gas bumi tersebut.
4. Untuk mengetahui proses penyimpanan dan transportasi gas bumi.

3
5. Untuk mengetahui manfat dari gas bumi.
6. Untuk mengetahui dan memahami teknologi dan inovasi yang telah
dikembangkan terhadap potensi dari gas bumi.
7. Untuk mengetahui perkembangan gas bumi di Indonesia.

D. Manfaat
Manfaat disusunnya makalah ini adalah
1. Dapat memberikan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama
di bidang pengembangan potensi dari gas bumi.
2. Diharapkan gas bumi dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Gas Bumi


Gas bumi mengandung berbagai macam gas, tapi kandungan terbanyak
adalah gas metana (CH4). Sesuai dengan namanya, gas bumi merupakan sumber
daya alam yang diperoleh secara alami dari bumi (bawah tanah) dan bukan
merupakan suatu produk kimiawi tertentu. Saat gas bumi diekstraksi dari sumur
gas atau bersamaan dengan minyak bumi, gas tersebut masih mengandung
campuran dari berbagai macam gas dan cairan (yang beberapa diantaranya bukan
komoditas energi). Hanya setelah diproses barulah gas ini menjadi salah satu
diantara gas campuran alami yang dipasarkan. Pada tahap ini gas bumi masih
merupakan campuran dari gasgas berbeda tetapi kandungan gas metana
mendominasi sebagian besar gas bumi tersebut (biasanya lebih dari 85%).
Gas bumi yang diproduksi bersamaan dengan minyak bumi disebut gas
asosiasi (associated gas), sedangkan yang diproduksi dari sumur gas yang tidak
terikat dengan minyak disebut gas non-asosiasi (non-associated gas). Saat
menggali batubara dari dalam tambang di bawah tanah, sejumlah gas dapat
terlepas dari tempat terbentuknya batubara tersebut. Gas ini disebut dengan gas
tambang (colliery gas) atau gas rawa (colliery methane). Gas ini harus
dikeluarkan dari tambang untuk alasan keamanan. Jika gas tersebut dikumpulkan
untuk kemudian digunakan sebagai bahan bakar, kuantitasnya harus dicatat
sebagai bagian produksi gas yang akan dipasarkan.
Istilah gas basah dan gas kering sering juga dipakai. Bila suatu gas
mengandung sejumlah butana dan hidrokarbon lain yang lebih berat (cairan gas
bumi NGL), maka gas tersebut disebut gas basah. Gas bumi yang diproduksi
terasosiasi dengan minyak, atau gas asosiasi, biasanya merupakan gas basah. Gas
kering terutama mengandung metana dengan sedikit kandungan etana, propana,
dan lainlain. Gas non-asosiasi, yaitu yang diproduksi dari sumur gas bukan
terasosiasi dengan minyak, biasanya merupakan gas kering. Untuk memfasilitasi
transportasi jarak jauh, gas bumi dapat diubah ke bentuk cairan dengan cara
mengurangi temperaturnya menjadi 160 derajat Celcius dalam tekanan atmosfir.

5
Saat gas dicairkan, hasilnya dikenal dengan LNG (gas alam cair). Pencairan gas
(gas liquefaction) hanya mengubah bentuk fisik gas bumi dari gas menjadi cairan,
kandungan utamanya tetap metana. Itulah salah satu alasan mengapa gas tersebut
harus tercakup dalam Kuesioner Gas Bumi.
Pasokan dan permintaan terhadap gas bumi terusmenerus meningkat. Saat
ini pangsa gas bumi lebih besar dari 21% total pasokan energi primer global,
sedangkan pada tahun 1973, pangsanya hanya 16,2%.
Gas bumi dapat diukur dalam beberapa satuan yang berbeda: menurut
kandungan energi (kalor) atau menurut volume. Di dalam setiap ukuran berikut
ini, beberapa satuan digunakan dalam industri gas bumi:
1. Untuk mengukur energi, satuan yang dapat digunakan adalah joule, kalori
kWh, Btu (satuan panas Inggris), atau therms (panas).
2. Untuk mengukur volume, satuan yang paling sering digunakan adalah meter
kubik (m3) atau kaki kubik (cubic feet).
Apabila pengukuran gas bumi menggunakan satuan volume, penting
diketahui pada temperatur dan tekanan berapakah gas tersebut diukur. Hal tersebut
diperlukan, karena sifat gas sangat compressible (termampatkan), sehingga
volume gas hanya akan ada artinya pada temperatur dan tekanan tertentu yang
telah disepakati. Ada dua macam kondisi dimana gas dapat diukur:
1. Kondisi normal: diukur pada temperatur 0 derajat Celcius dan tekanan 760
mmHg.
2. Kondisi standar: diukur pada temperatur 15 derajat Celcius dan tekanan 760
mmHg.
Metode yang paling umum digunakan dalam mengukur dan menghitung gas
adalahdengan satuan volume (Mm3). Akan tetapi, harga gas bumi seringkali
ditentukan atas dasar nilai kalor per volume, karena gas dibeli berdasarkan
kandungan panasnya.
Nilai kalor dari gas bumi adalah jumlah panas yang dilepaskan pada saat gas
bumi mengalami pembakaran sempurna pada kondisi tertentu, misalnya kcal/m3,
atau megajoule (MJ/m3). Nilai yang dihasilkan dapat dinyatakan sebagai nilai
kalor brutoataupun neto. Perbedaan antara nilai kalor bruto dengan neto
merupakan panas laten (tidak terlihat) dari penguapan uap air yang dihasilkan

6
pada saat pembakaran bahan bakar. Untuk gas bumi, nilai kalor neto rata-rata 10%
lebih rendah dari nilai brutonya.
Dari uraian yang telah di jelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa gas alam
atau gas bumi merupakan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui, seperti
minyak dan batubara, yang terbentuk dari tumbuhan, binatang, dan
mikroorganisme yang hidup jutaan tahun silam, yang tertimbun di lapisan tanah di
bawah laut.

B. Proses Terbentuknya Gas Bumi

Gambar 1. Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam


Pada gambar 1 di atas, terlihat bahwa tumbuhan dan hewan jutaan tahun
silam tertimbun di dalam tanah. Dengan adanya tekanan dan temperatur yang
sangat tinggi di dalam bumi dalam waktu yang lama, menyebabkan ikatan karbon
pada timbunan organik tersebut terlepas. Semakin dalam deposit tertimbun di
perut bumi, semakin tinggi temperaturnya. Pada temperatur yang tidak terlalu
tinggi, biasanya terdapat minyak bumi yang lebih banyak dibandingkan gas alam.
Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi temperatur, gas alam yang dihasilkan akan
lebih banyak dibandingkan minyak bumi. Gas alam ini dapat terbentuk secara
biogenik dan thermogenik. Gas biogenik mirip dengan biogas yg dibuat oleh
manusia, sedangkan alam membuat gas bio ini di rawa-rawa, sehingga sering
disebut juga gas rawa. Sedangkan gas yang terbentuk akibat tekanan dan
panasbumi disebut gas thermogenik. Gas thermogenik ini terbentuknya mirip
dengan minyak bumi.

7
1. Biogenic Gas
Pada tempat yang sangat dangkal gas dapat terbentuk karena proses
biologi, aktifitas bakteri. Proses awal pembentukan gas biogenic ini sering
terjadi di rawa, namun juga terbentuk secara massal sehingga membentuk
konsentrasi biogas alam yang cukup besar. Gas ini dapat ditambang seperti
mengambil gas alam biasa. Namun komponen utamanya methana. Sering
disebut Gas Metan.Intinya, gas biogenik ini merupakan hasil metabolisme
dari bakteri. Sehingga tidak akan terbentuk pada suhu tinggi.

Gambar 2. Susunan Gas Alam


2. Thermogenic Gas
Pada gas yang terbentuk secara thermogenik, gas ini terbentuk
bersamaan dengan terbentuknya minyak. Semakin dalam batuan yang banyak
mengandung senyawa organik ini menghasilkan minyak, dan apabila suhunya
semakin tinggi akhirnya terbentuk gas.Lihat grafik diatas, oil peak (puncak
keluarnya minyak) berada diatas gas peak (puncak dihasilkannya gas),
Dengan demikian gas seringkali terbentuk dan terdapat pada tempat yang
sangat dalam dan tekanan tinggi.

8
C. Jenis-Jenis terdapatnya Gas Alam
Gambar dibawah ini merupakan sketsa ringkas bagaimana gas-gas itu
berada.

Gambar 3. Macam-Macam Tempat Gas Alam Berada


1. Gas Konvensional
Keterdapatan gas alam yang selama ini sudah dikenal secara
konvensional sering berasosiasi dengan minyak bumi. Gas ini akan
berada pada batuan berpori. Gas ini akan mengisi pori-pori batupasir. Sama
seperti terdapatnya minyak bumi yang berada pada sela-sela butiran (pori-
pori) batuuan reservoir yang berupa batupasir ataupun batugamping.
Karena terbentuknya pada suhu tinggi, maka gas konvensional ini
berada ditempat yang sangat dalam dan tentusaja memiliki tekanan tinggi.
Masih ingat kan, kalau kita menyelam lebih dalam maka kita juga akan
semakin mengalami tekanan. Demikian juga dengan pembentukan gas
thermogenik ini. Karena gas ini terkumpul pada batuan berpori, maka lebih
mudah mengeluarkan gas ini. Sehingga walaupun sering dijumpai bersama-
sama dengan minyak bumi, gas konvensional lebih mudah diproduksi.
2. Gas Serpih (Shale Gas)
Pada batuan yang banyak mengandung material organik penghasil
minyak dan gas ini pada kedalaman yang sangat tinggi menghasilkan gas.
Namun kadangkala karena tekanan sekitar batuan ini cukup besar (karena
sangat dalam), gas yang berada dalam serpih ini tidak mampu keluar dari
sarangnya. Gas ini terjebak dalam serpih, tentusaja serpih tidak memiliki
pori-pori sebesar batupasir. Bahkan gas-gas ini terjebak dalam retakan-
9
retakan yang berada pada serpih-serpih ini. Namun karena dalam serpih ini
juga seringkali tidak ada airnya, maka gas yang terjebak ini dapat keluar
apabila dilubangi. Yang dilubangi dengan membuat sumur khusus. Sumur ini
terutama sumur yang memotong batuan ini. Semakin panjang sumur ini
memotong batuan serpih, semakin banyak kemungkinan gas akan dapat
keluar dari sela-sela serpih, maupun dari sela-sela retakannya.
Karena sering terdapat pada posisi yang sangat dalam gas ini memiliki
tekanan tinggi. Tentusaja semakin dalam suhunya semakin tinggi. Itulah
sebabnya gas serpih ini tergolong gas non-konvensional. Memerlukan teknik
dan teknologi khusus dalam memproduksikannya.
3. Tight Sand Gas (Gas pada pasir berporositas rendah)
Gas serta minyak mengalir ke atas melalui batuan yang memiliki
kemampuan mengalirkan sangat baik, salah satunya batupasir. Ada kalanya
batupasir ini sudah terkubur pada kedalaman yang sangat dalam, sehingga
tertekan oleh beban batuan diatasnya yang menyebabkan pori-porinya sangat
kecil. Karena porositasnya rendah, gas yang melewatinya tidak mampu
teralirkan lagi. Seolah-olah gas itu terjebak dalam batupasir ini.
Mirip seperti pada gas serpih diatas, Tight Gas sand ini terdapat pada
kedalaman yang menyebabkan tekanan serta suhu tinggi. Sehingga untuk
memproduksikannya tidak dapat secara konvesional. Perlu teknik dan
tenologi khusus. Gas pada batupasir yang berporositas rendah ini termasuk
gas non-konvensional.

D. Komponen-Komponen Penyusun pada Gas Bumi


Natural gas atau gas alam merupakan komponen yang vital dalam hal suplai
energi, dikarenakan karakteristiknya yang bersih, aman, dan paling efisien
dibandingkan dengan sumber energi yang lain. Karakterisik lain dari gas alam
pada keadaan murni antara lain tidak berwarna, tidak berbentuk, dan tidak berbau.
Selain itu, tidak seperti bahan bakar fosil lainnya, gas alam mampu menghasilkan
pembakaran yang bersih dan hampir tidak menghasilkan emisi buangan yang
dapat merusak lingkungan.

10
Gas alam merupakan suatu campuran yang mudah terbakar yang tersusun
atas gas-gas hidrokarbon, yang terutama terdiri dari metana. Gas alam juga dapat
mengandung etana, propana, butana, pentana, dan juga gas-gas yang mengandung
sulfur. Komposisi pada gas alam dapat bervariasi. Pada tabel di bawah ini
digambarkan secara umum komposisi pada gas alam murni sebelum dilakukan
pengolahan.

Sumber :BPH Migas.


Tabel 1. Komponen-Komponen Penyusun Gas Alam
Campuran organosulfur dan hidrogen sulfida adalah kontaminan (pengotor)
utama dari gas yang harus dipisahkan . Gas dengan jumlah pengotor sulfur yang
signifikan dinamakan sour gas dan sering disebut juga sebagai "acid gas (gas
asam)". Gas alam yang telah diproses dan akan dijual bersifat tidak berasa dan
tidak berbau. Akan tetapi, sebelum gas tersebut didistribusikan ke pengguna akhir,
biasanya gas tersebut diberi bau dengan menambahkan thiol, agar dapat terdeteksi
bila terjadi kebocoran gas. Gas alam yang telah diproses itu sendiri sebenarnya
tidak berbahaya, akan tetapi gas alam tanpa proses dapat menyebabkan
tercekiknya pernapasan karena ia dapat mengurangi kandungan oksigen di udara
pada level yang dapat membahayakan.
Gas alam dapat berbahaya karena sifatnya yang sangat mudah terbakar dan
menimbulkan ledakan. Gas alam lebih ringan dari udara, sehingga cenderung
mudah tersebar di atmosfer. Akan tetapi bila ia berada dalam ruang tertutup,
seperti dalam rumah, konsentrasi gas dapat mencapai titik campuran yang mudah
meledak, yang jika tersulut api, dapat menyebabkan ledakan yang dapat
menghancurkan bangunan. Kandungan metana yang berbahaya di udara adalah
antara 5% hingga 15%. Ledakan untuk gas alam terkompresi di kendaraan,

11
umumnya tidak mengkhawatirkan karena sifatnya yang lebih ringan, dan
konsentrasi yang di luar rentang 5 - 15% yang dapat menimbulkan ledakan.

E. Proses Penyimpanan dan Transportasi Gas Alam/Bumi


Sistem transportasi gas alam pada dasarnya meliputi:
1. Transportasi melalui pipa salur.
2. Transportasi dalam bentuk Liquefield Natural Gas (LNG) dengan kapal
tanker LNG untuk pengangkutan jarak jauh.
3. Transportasi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG), baik di daratan
dengan road tanker maupun dengan kapal tanker CNG di laut, untuk jarak
dekat dan menengah (antar pulau).
Untuk metode penyimpanan gas alam, dilakukan dengan Natural Gas
Underground Storage, yakni suatu ruangan raksasa di bawah tanah. Terdapat 3
tipe penyimpanan gas alam di bawah tanah, yaitu depleted fields, aquifers, dan
salt caverns.
Depleted fields merupakan tipe yang paling banyak digunakan karena
berupa formasi geologis bawah tanah yang sudah tersedia secara alami, sehingga
hanya perlu dikembangkan saja. Dibandingkan dengan tipe yang lain, tipe ini
merupakan tipe yang paling murah, mudah dikembangkan, mudah dioperasikan,
dan mudah dipelihara.
Tipe aquifers berupa rongga-rongga bawah tanah, tersusun dari batuan yang
permeable, yang bertindak sebagai penyimpanan air alami. Pada situasi tertentu,
formasi ini dapat direkondisikan dan digunakan sebagai fasilitas penyimpanan gas
alam. Fasilitas penyimpanan dengan tipe ini adalah yang paling mahal dan paling
jarang digunakan dibandingkan dengan tipe yang lain disebabkan oleh beberapa
alasan, diantaranya harus dilakukan berbagai macam tes untuk memastikan
karakteristik geologis dari formasi batuan . Kemudian, harus dibangun semua
infrastruktur terkait dengan pengembangan fasilitas penyimpanan ini, dengan
biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, tipe ini biasanya hanya digunakan
apabila tidak terdapat depleted reservoirs.

12
Tipe salt caverns terbentuk akibat adanya deposit garam di bawah tanah.
Ada dua bentuk deposit garam di bawah tanah, yaitu salt domes dan salt beds.
Walaupun biaya pengembangan untuk tipe ini cukup mahal, tapi tipe ini
merupakan tipe yang memiliki tingkat deliverability paling tinggi dan juga dapat
diisi kembali lebih cepat dibanding tipe yang yang lain.
Di Indonesia, Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Hilir Migas) telah
menyusun Master Plan Sistem Jaringan Induk Transmisi Gas Nasional Terpadu.
Dalam waktu yang tidak lama lagi sistem jaringan pipa gas alam akan
membentang sambung menyambung dari Nang roe Aceh Darussalam-Sumatera
Utara-Sumatera Tengah-Sumatera Selatan-Jawa-Sulawesi dan Kalimantan. Saat
ini jaringan pipa gas di Indonesia dimiliki oleh PERTAMINA dan PGN dan masih
terlokalisir terpisah-pisah pada daerah-daerah tertentu, misalnya di Sumatera
Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur dan
Kalimantan Timur.
Carrier LNG dapat digunakan untuk mentransportasi gas alam cair
(liquefied natural gas, LNG) menyebrangi samudra, sedangkan truk tangki dapat
membawa gasa alam cair atau gas alam terkompresi (compressed natural gas,
CNG) dalam jarak dekat. Mereka dapat mentransportasi gas alam secara langsung
ke pengguna-akhir atau ke titik distribusi, seperti jalur pipa untuk transportasi
lebih lanjut. Hal ini masih membutuhkan biaya yang besar untuk fasilitas
tambahan untuk pencairan gas atau kompresi di titik produksi, dan penggasan atau
dekompresi di titik pengguna-akhir atau ke jalur pipa.

F. Pemanfaatan Energi Gas Bumi

Gambar 4. Sektor-Sektor Penggunaan Gas Bumi

13
Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa gas alam dapat
dimanfaatkan di berbagai sektor. Selain berdasarkan sektor-sektor seperti
dijelaskan di atas, secara garis besar pemanfaatan gas alam dibagi atas 3
kelompok, yaitu:
1. Gas alam sebagai bahan bakar, antara lain sebagai bahan bakar pembangkit
listrik, bahan bakar industri, bahan bakar kendaraan bermotor, dsb.
2. Gas alam sebagai bahan baku, antara lain bahan baku plastik, bahan baku
pabrik pupuk, petrokimia, metanol, dsb.
3. Gas alam sebagai komoditas energi untuk ekspor, yakni LNG.
Khusus untuk pembangkitan energi listrik, penggunaan gas alam makin
populer, karena mampu menghasilkan pembakaran yang bersih dan juga harganya
tidak terlalu mahal. Berbeda dengan batubara yang merupakan bahan bakar yang
paling murah, namun juga merupakan yang paling kotor dan menghasilkan level
polusi yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya. Di bawah ini terdapat grafik
yang menggambarkan peningkatan yang diharapkan dari penggunaan gas alam di
sektor pembangkit listrik.

Gambar 5. Grafik Penggunaan Bahan Bakar di Sektor


Pembangkit Listrik 1980-2030 (Billion Kilowatt Hours)

1. Metana
Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas
dengan rumus kimia CH4. Metana murni tidak berbau, tapi jika digunakan
untuk keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit bau belerang untuk
mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi. Komponen utama gas alam
adalah metana yang merupakan sumber utama bahan bakar utama.
Pembakaran satu molekul metana dengan oksigen akan melepaskan satu

14
molekul CO2 (karbondioksida) dan dua molekul H2O (air), sebagaimana
ditunjukkan pada persamaan reaksi berikut :
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
2. Propana
Propana adalah senyawa alkana dengan tiga atom karbon (C3H8) yang
berwujud gas dalam keadaan normal, tapi dapat dikompresi menjadi cairan
yang mudah dipindahkan dalam senyawa yang tidak mahal. Senyawa ini
diturunkan dari produk petroleum lain pada minyak bumi dan gas alam.
Propana umumnya digunakan sebagai bahan bakar mesin, pemanggang dan
lain sebagainya. Dijual sebagai bahan bakar, propana dikenal juga sebagai
LPG (Liquified Petrolium gas) yang dapat berupa campuran dengan sejumlah
kecil propana. (Wikipedia, Propana).
3. Etana
Etana merupakan sebuah senyawa dengan rumus kimia C2H6. Senyawa
ini merupakan alkana dengan dua atom karbon, dan merupakan hidrokarbon
alifatik. Dalam tempratur dan tekanan standar, etana merupakan gas yang
tidak berwarna dan tidak berbau. Dalam industri etana dihasilkan dengan cara
mengisolasi gas alam, dan sebagai hasil samping dari penyulingan minyak.
Etana dengan nama lain yaitu etilhidrida yang memiliki rumus molekul C2H6
dan mempunyai titik didih -88.6 C.
4. Karbondioksida (CO2)
Senyawa karbondioksida, atau CO2, adalah gas atmosfir yang terdiri
dari satu atom karbon dan dua atom oksigen. Karbondioksida adalah hasil
dari pembakaran senyawa organik dengan jumlah oksigen yang cukup. Juga
dihasilkan oleh berbagai mikroorganisme dalam fermentasi dan dihembuskan
oleh hewan. Tumbuhan menyerap karbondioksida selama fotosintesis,
memakai baik karbon maupun oksigen untuk membuat karbohidrat. Hadir di
Atmosfer Bumi dengan konsentrasi rendah dan bertindak sebagai gas rumah
kaca, yang merupakan bagian utama dari siklus karbon. (Wikipedia,
Karbondioksida).

15
5. Hidrokarbon
Komponen utama gas alam, yaitu sumber daya yang sekarang memasok
sebagian besar energi untuk kebutuhan kita yang merupakan hidrokarbon,
yang hanya mengandung karbon dan hidrogen. Ada tiga golongan
hidrokarbon berdasarkan jenis ikatan karbon-karbonnya. Hidrokarbon jenuh
hanya mengandung ikatan tunggal karbon-karbon dan hidrokarbon tak jenuh
yang mengandung ikatan majemuk karbon-karbon, baik ikatan rangkap,
ikatan rangkap tiga, atau keduanya. Sedangkan hidrokarbon aromatik ialah
golongan khusus senyawa siklik yang stukturnya terkait dengan benzene.
Pada gas alam hidrokarbon dipisahkan berdasarkan titik didihnya, dan
kemudian berdasarkan massa molekulnya. Campuran gas dapat dipisahkan
lebih lanjut dengan pelarutnya kembali etana, propana, dan butana dalam
pelarut seperti heksana. Campuran yang kaya metana yang tersisa kemudian
digunakan untuk sintesis kimia.

G. Teknologi dan Inovasi yang diterapkan terhadap Potensi dari Gas Alam
Selama 30 tahun terakhir ini, industri minyak dan gas alam telah menjadi
salah satu dari industri yang menerapkan teknologi canggih. Hal ini diawali
dengan keinginan dari industri untuk meningkatkan produksinya, sehingga
menghasilkan inovasi-inovasi teknologi. Diantara inovasi-inovasi tersebut, yaitu:
Kemajuan teknologi di sektor eksplorasi dan produksi. Teknologi ini
membuat proses eksplorasi dan produksi dari gas alam menjadi lebih efisien,
aman, dan ramah lingkungan. Inovasi teknologi tersebut antara lain:
1. Liquefied Natural Gas (LNG)
LNG ini didapatkan dengan cara mendinginkan gas alam pada
temperatur -260oF, tekanan normal. Pada temperatur tersebut, gas alam akan
berubah menjadi cair dan volumenya berkurang sampai 600 kali. LNG ini
lebih mudah disimpan dan lebih mudah pula untuk ditransportasikan,
sehingga biayanya pun menjadi lebih ekonomis. Selain itu, dengan proses
liquifikasi ini LNG dapat menghilangkan O2, CO2, S, dan H2O sehingga LNG
yang dihasilkan hampir pure metana.

16
2. Natural Gas Fuel Cell
Fuel cells biasanya menggunakan hidrogen sebagai bahan bakarnya.
Namun, hidrogen tidak terdapat di alam, sehingga harus dibuat. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara mereaksikan antara steam (H2O) dan gas alam (CH4),
seperti terlihat di bawah ini.

Teknologi ini merupakan teknologi baru yang sangat menarik dan


menjanjikan untuk pembangkitan listrik yang efisien dan bersih. Fuel cells
memiliki kemampuan untuk menghasilkan listrik tanpa reaksi pembakaran,
melainkan menggunakan reaksi elektrokimia. Beberapa keuntungan dari
teknologi ini antara lain:
a. Clean electricity
b. Dependability
c. Distributed generation
d. Efisien

3. Teknologi Gas-To-Liquid (GTL)


Perkembangan teknologi GTL di dunia saat ini telah mencapai tahap
komersial. Beberapa pemegang paten seperti Sasol Ltd., Shell, ExxonMobil,
Rentech Inc., Syntroleum Corp., JNOC, dll, telah berhasil mengoperasikan
kilang-kilang GTL di berbagai penjuru dunia seperti Nigeria, Mesir,
Argentina, Qatar, Iran, Malaysia, dan Australia. Produk yang dihasilkan dari
teknologi GTL ini meliputi: naphtha, middle distillates, dan lilin (waxes),
namun dapat juga di arahkan ke produk dimetil eter (DME), dan metanol.
Dari beberapa produk GTL tersebut, middle distillates (diesel dan bahan
bakar jet) dapat mengganti langsung diesel berbasis minyak bumi yang
digunakan selama ini dalam mesin diesel (compression ignition engines).
Produk samping yang dihasilkan berupa hidrokarbon ringan (tail gas) masih
dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga (power generation),
sedangkan hidrogen dapat diolah lanjut menjadi pupuk/urea atau

17
dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam merancang kilang GTL
terintegrasi (lihat Gambar 1).
Dengan teknologi GTL, cadangan gas sebesar 1 TCF (Trillion Cubic
Feet) dapat menghasilkan produk GTL berupa bahan bakar sintetis (diesel
dan naphtha) sebesar 10,000 barrel/hari selama 30 tahun, dengan asumsi laju
alir umpan gas alam sebesar 100 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per
Day). Data terakhir BP Statistics mencatat jumlah cadangan gas Indonesia
tahun 2002 sebesar 92.5 TCF; dengan demikian kita dapat menghitung sendiri
berapa barrel/hari diesel dan naphtha yang dapat diproduksi guna mengurangi
impor BBM (solar) yang selama ini dilakukan.

Gambar 6.Tahap-Tahap Proses dari Teknologi GTL


Tahapan proses dari teknologi GTL ini adalah: tahap pemurnian gas
(gas purification), proses pembuatan gas sintesis (synthesis gas process),
proses Fischer-Tropsch (Fischer-Tropsch process), dan tahap peningkatan
kualitas produk (product upgrading).
a. Tahapan Pemurnian Gas (Gas Purification); Pada tahap ini, gas alam
yang keluar dari sumur dibersihkan dari senyawa-senyawa yang dapat
mengganggu jalannya proses selanjutnya. Senyawa-senyawa tersebut
diantaranya : H2S, CO2, H2O, dll. Teknologi komersial yang dapat
digunakan diantaranya proses absorpsi menggunakan pelarut tertentu,
misalnya : MEA (monoetanolamin), DEA (dietanolamin), dan TEG
(trietilen glikol).
18
b. Tahapan Pembuatan Gas Sintesis (Synthesis Gas Process); Pada
tahapan ini, gas alam yang telah dibersihkan, direaksikan sehingga
menghasilkan gas sintesis. Gas sintesis atau SynGas adalah istilah yang
diberikan kepada campuran gas karbonmonoksida (CO) dengan hidrogen
(H2) yang digunakan untuk mensintesis berbagai macam zat seperti
metanol dan ammonia. Proses pembuatan gas sintesis yang telah komersial
adalah: proses steam reforming, oksidasi parsial, dan CO2 reforming.
c. Tahapan Reaksi Fischer-Tropsch (Fischer-Tropsch Process); Reaksi
Fischer-Tropsch (FT) merupakan tahapan reaksi yang paling penting
dalam teknologi GTL. Pada tahap reaksi FT ini, gas sintesis dikonversi
menjadi hidrokarbon rantai panjang. Jenis katalis, jenis reaktor, rasio
H2/CO, dan kondisi operasi merupakan faktor yang menentukan jenis
produk yang dihasilkan.
Reaksi FT keseluruhan secara umum :
(1): nCO + mH2 -> C1 C40- (alkana) + H2O
(2): nCO + mH2 -> C1 C40- (alkena) + n CO2
Keterangan: harga n dan m sangat bergantung pada metode pembuatan
gas sintesis dan jenis bahan baku yang digunakan, misalnya: rasio H2/CO
gas bumi = 1.8-2.3, batubara = 0.6-0.8.
Jenis katalis yang banyak digunakan adalah katalis berbasis kobalt (Co)
dan besi (Fe). Jenis reaktor FT yang digunakan misalnya terdiri dari
reaktor slurry, fixed bed, dan fluidized. Reaktor-reaktor tersebut
dioperasikan pada rentang suhu antara 149C-371C dengan tekanan
antara 0.7-41 bar.
d. Tahapan Peningkatan Kualitas Produk (Product Upgrading); Tahap
ini merupakan tahap untuk mendapatkan produk sesuai jenis dan
spesifikasi yang diinginkan. Proses yang digunakan merupakan proses
yang telah digunakan secara komersial pada kilang-kilang minyak
umumnya, seperti: proses catalytic reforming, fluid catalytic cracking,
isomerisasi, alkilasi, dll.

19
H. Proses Produksi Gas Bumi

Gambar 7. Diagram Alir Sederhana untuk Produksi Gas Bumi


Dapat dilihat dengan jelas pada Gambar 7 bahwa tidak selalu mudah untuk
memberikan batasan statistik antara berbagai aliran; mana yang harus
diikutsertakan dalam laporan dan mana yang tidak. Akan tetapi, untuk keperluan
Kuesioner Gas Bumi, apa yang dilaporkan sebagai produksi lokal sebaiknya
merupakan produk siap dipasarkan (marketed production), yang dihitung setelah
proses pemurnian dan ekstraksi seluruh NGL dan sulfur.
Tetapi, tetap perlu untuk diingat bahwa:
1. Gas asosiasi yang diproduksi dari ekstraksi minyak bumi harus dilaporkan
dalam Kuesioner Gas Bumi.
2. Gas terbuang, terbakar, atau diinjeksi balik sebaiknya tidak ikut dilaporkan.
Akan tetapi, angka untuk gas terbuang dan terbakar dibutuhkan oleh
institusiinstitusi pemerhati lingkungan untuk memperkirakan jumlah emisi
fugitive dari kegiatan produksi minyak dan gas bumi. Untuk alasan inilah
mengapa angka tersebut tetap harus dilaporkan tetapi pada bagian tersendiri.
20
3. Kuantitas gas yang dipakai di dalam industri gas bumi (biasanya dalam
bentuk tidak dapat dipasarkan) pada berbagai macam proses pemisahan dan
pengelolaan lain harus dilaporkan pada data produksi.

I. Perkembangan dan Pemanfaatan Gas Bumi di Indonesia


Pemanfaatan gas alam di Indonesia dimulai pada tahun 1960-an dimana
produksi gas alam dari ladang gas alam PT Stanvac Indonesia di Pendopo,
Sumatera Selatan dikirim melalui pipa gas ke pabrik pupuk Pusri IA, PT Pupuk
Sriwidjaja di Palembang. Perkembangan pemanfaatan gas alam di Indonesia
meningkat pesat sejak tahun 1974, dimana PERTAMINA mulai memasok gas
alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di Prabumulih, Sumatera Selatan ke
pabrik pupuk Pusri II, Pusri III dan Pusri IV di Palembang. Karena sudah terlalu
tua dan tidak efisien, pada tahun 1993 Pusri IA ditutup,dan digantikan oleh Pusri
IB yang dibangun oleh putera-puteri bangsa Indonesia sendiri. Pada masa itu Pusri
IB merupakan pabrik pupuk paling modern di kawasan Asia, karena
menggunakan teknologi tinggi. Di Jawa Barat, pada waktu yang bersamaan, 1974,
PERTAMINA juga memasok gas alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di
lepas pantai (off shore) laut Jawa dan kawasan Cirebon untuk pabrik pupuk dan
industri menengah dan berat di kawasan Jawa Barat dan Cilegon Banten. Pipa gas
alam yang membentang dari kawasan Cirebon menuju Cilegon, Banten memasok
gas alam antara lain ke pabrik semen, pabrik pupuk, pabrik keramik, pabrik baja
dan pembangkit listrik tenaga gas dan uap. Selain untuk kebutuhan dalam negeri,
gas alam di Indonesia juga di ekspor dalam bentuk LNG (Liquefied Natural Gas).

Gambar 8. Cekungan Sedimen Indonesia 21


Ini adalah peta tematik cekungan batuan yang ada di Indonesia. Daerah yang
berwarna merah adalah cekungan yang sudah berproduksi, warna biru adalah
cekungan yang sudah dieksplorasi namun belum berproduksi, warna hijau adalah
cekungan yang sudah diadakan pengeboran namun belum ditemukan hidrokarbon,
dan yang warna kuning adalah daerah yang belum dieksplorasi.
Indonesia saat ini memiliki cadangan gas bumi sebesar 187.09 TSCF status
1 Januari 2006 (P1 = 93.95 TSCF dan P2 = 93.14 TSCF) dengan laju produksi
sebesar 8.2 MMSCFD. Dengan kondisi saat ini cadangan gas Indonesia
mencukupi untuk 62 tahun. Persoalan yang ada adalah letak cadangan yang
tersebar di daerah-daerah yang masih belum memiliki infrastruktur untuk
menyalurkan gas tersebut kepada konsumen.
Sedangkan gambaran umum pasokan-kebutuhan gas di Indonesia 2007-
2015 bisa dilihat pada Gambar dibawah ini :

Gambar 9. Peta Neraca Gas Indonesia 2007-2015.

Dengan gambaran tersebut di atas, permasalahan gas alam nasional secara


umum antara lain :
1. Adanya penurunan produksi gas bumi yang ada.
2. Belum tersedianya infrastruktur gas bumi secara menyeluruh dan terpadu.

22
3. Adanya gap antara daya beli pasar dalam negeri dengan harga gas.
4. Adanya peningkatan permintaan gas bumi dalam negeri yang cukup
signifikan.
Untuk gas bumi ini memang sebagian besar diproduksi untuk keperntingan
ekspor, seperti PT Badak di Bontang yang memproduksi LNG untuk diekspor ke
Jepang. Selain itu juga untuk pembangkit listrik, bahan baku petrokimia, dan
untuk kebutuhan konsumen lain seperti industri dan rumah tangga. Nah,
perusahaan yang melayani distribusi gas alam untuk kepentingan komersial,
industri dan rumah tangga adalah PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang kini
sudah beroperasi di tiga SBU, yaitu Sumatera bagian Utara (Medan), Jawa Bagian
Barat (Jakarta) dan Jawa Bagian Timur (Surabaya). PGN juga telah membangun
jalur transmisi gas dari Sumatera Selatan ke Jawa Barat (SSWJ).
Salah satu daerah penghasil gas alam terbesar di Indonesia adalah Nanggre
Aceh Darussalam. Sumber gas alam yang terdapat di daerah Kota Lhokseumawe
dikelola oleh PT Arun NGL Company. Gas alam telah diproduksikan sejak tahun
1979 dan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Selain itu di Krueng Geukuh,
Nanggre Aceh Barh (kabupaten Aceh Utara) juga terdapat PT Pupuk Iskandar
Muda pabrik pupuk urea, dengan bahan baku dari gas alam.

Tabel 1.2 Produksi Gas Bumi


Tahun 2004-2011
23
Tabel 1.3 Ekspor Gas Tahun
2004-2011

Tabel 1.4 Produksi dan Impor


LPG Tahun 2004 - 2010

24
BAB III
KESIMPULAN

1. Gas alam sering juga disebut sebagai gas Bumi atau gas rawa, adalah bahan
bakar fosil berbentuk gas. Ia dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas
Bumi dan juga tambang batu bara.
2. Komponen utama dalam gas alam adalah metana (CH4), yang merupakan
molekul hidrokarbon rantai terpendek dan teringan. Gas alam juga
mengandung molekul-molekul hidrokarbon yang lebih berat seperti etana
(C2H6), propana (C3H8) dan butana (C4H10), selain juga gas-gas yang
mengandung sulfur (belerang). Nitrogen, helium, karbon dioksida (CO2),
hidrogen sulfida (H2S), dan air dapat juga terkandung di dalam gas alam.
Merkuri dapat juga terkandung dalam jumlah kecil. Komposisi gas alam
bervariasi sesuai dengan sumber ladang gasnya.
3. Pembakaran satu meter kubik gas alam komersial menghasilkan 38 MJ (10.6
kWh).
4. Secara garis besar pemanfaatan gas alam dibagi atas 3 kelompok yaitu :
a. Gas alam sebagai bahan bakar, antara lain sebagai bahan bakar
Pembangkit Listrik Tenaga Gas/Uap, bahan bakar industri ringan,
menengah dan berat, bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV), dan
sebagainya.
b. Gas alam sebagai bahan baku, antara lain bahan baku pabrik pupuk,
petrokimia, metanol, bahan baku plastik, pengawet makanan, hujan
buatan, industri besi tuang, pengelasan dan bahan pemadam api ringan.
c. Gas alam sebagai komoditas energi untuk ekspor, yakni Liquefied Natural
Gas (LNG).

25
DAFTAR PUSTAKA

Erlinawati. 2012. Modul Energi Konvensional dan Non Konvensional. POLSRI;


Palembang.
Kurniawan, Alex. www.alex.kurniawan20.COMPRESSED NATURAL
GAS/CNG.blogspot.com; diakses pada 21 November 2015.
Mandil, Claude. 2005. Manual Statistik Energi. International Energy Agency
(IEA), Paris.
Sabretooht. 2008. http.//eyesbeam.wordpress.com/tag/gas-alam: diakses pada 21
November 2015.
Vicky. 2010. http.//Rovicky.wordpress.com/2010/07/22/sumberdaya-gas-alam-1/:
diakses pada 21 November 2015.
Wikipedia. 2015. http.//www.wikipedia.com/gas alam; diakses pada 21 November
2015.

26