Anda di halaman 1dari 6

PERCOBAAN III

PENGARUH SUHU TERHADAP MEMBUKA DAN MENUTUPNYA


OPERKULUM IKAN GUFFY (Poecilia reticulata)

A. Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh suhu terhadap membuka dan
menutupnya operkulum ikan guffy (Poecilia reticulata).

B. Dasar Teori
Pemanasan global adalah suatu proses naiknya suhu permukaan bumi.
Pemanasan global yang terjadi saat ini telah membawa perubahan dalam
sistem kebumian atau dikenal dengan perubahan iklim. Pemanasan global
yang terjadi pada beberapa tahun terakhir ini sangat berdampak pada
lingkungan, ekosistem, biota baik yang ada di darat maupun yang ada di laut.
Pemanasan global juga sangat berdampak terhadap naiknya permukaan air
laut yang bisa menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau kecil dan
terjadinya kenaikan suhu air laut (Azwar, dkk, 2016 : 1).
Kenaikan suhu air laut yang disebabkan oleh pemanasan global ini sangat
berpengaruh terhadap kehidupan biota-biota serta ekosistem yang ada di laut.
Kisaran suhu normal pada perairan tropis khususnya Indonesia adalah 27-
32C. Suhu ini adalah kisaran suhu tropis yang mendekati ambang batas
penyebab kematian biota laut. Oleh karena itu peningkatan suhu yang kecil
saja dari suhu alami dapat menimbulkan kematian atau paling tidak gangguan
fisiologis biota laut tersebut (Azwar, dkk, 2016 : 2).
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan. Kenaikan suhu
air laut akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
Air memiliki beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu
dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Selanjutnya walaupun suhu
kurang mudah berubah di dalam air dari pada di udara, namun suhu
2

merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu makhluk akuatik sering
memiliki toleransi yang sempit (Azwar, dkk, 2016 : 2).
Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengaturan seluruh
proses kehidupan dan penyebaran organisme, dan proses metabolisme terjadi
hanya dalam kisaran tertentu. Di laut suhu berpengaruh secara langsung pada
laju proses fotosintesis dan proses fisiologi hewan (derajat metabolisme dan
siklus reproduksi) yang selanjutnya berpengaruh terhadap cara makan dan
pertumbuhannya (Azwar, dkk, 2016 : 2).
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti yang berarti tidak
menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau
menyesuaikan suhu lingkungan sekelilingnya. Sebagai hewan air, ikan
memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan
darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan
disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Secara keseluruhan ikan lebih toleran
terhadap perubahan suhu air, beberapa spesies mampu hidup pada suhu air
mencapai 29C, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat
dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya
terbatas (Azwar, dkk, 2016 : 2).
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan
mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Hal tersebut dapat diamati dari
perubahan pergerakan operculum ikan. Kisaran toleransi suhu antara spesies
ikan satu dengan spesies yang lain, misalnya pada ikan Salmonid suhu
terendah yang dapat menyebabkan kematian berada tepat di atas titik beku,
sedangkan suhu tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis ikan (Azwar,
dkk, 2016 : 2).
Suhu merupakan salah satu faktor fisika yang sangat penting di dalam air
karena bersama-sama dengan zat/unsur yang terkandung didalamnya akan
menentukan massa jenis air, densitas air, kejenuhan air, jumlah oksigen
terlarut di dalam air (Wardoyo, 2005). Suhu tinggi yang masih dapat
ditoleransi oleh ikan tidak selalu berakibat mematikan pada ikan tetapi dapat
menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya
3

stres yang menyebabkan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal.
Perubahan suhu sebesar 5 C di atas normal dapat menyebabkan stres pada
ikan bahkan kerusakan jaringan dan kematian (Aliza, dkk, 2013 : 1).
Respons ikan terhadap stres dapat dibagi atas tiga fase yaitu primer,
sekunder, dan tertier. Pada fase primer terjadi respon umum neuroendokrin
yang mengakibatkan dilepaskannya katekolamin dan kortisol dari kromafin
dan sel interrenal. Tingginya hormon katekolamin dan kortisol dalam
sirkulasi akan memicu respons sekunder yang melibatkan metabolisme
fisiologi. Kedua fase tersebut bersifat adaptif yaitu ikan mampu
menyesuaikan dirinya terhadap stresor dan mampu mempertahankan
homeostasis. Sebaliknya, respon tertier melibatkan perubahan sistemik yang
menyebabkan ikan tidak dapat beradaptasi terhadap stresor, bahkan
menyebabkan beberapa gangguan kesehatan seperti gangguan pertumbuhan,
perubahan tampilan, gangguan reproduksi, dan perubahan perilaku.
Perubahan perilaku ikan dapat berupa cepatnya gerakan operkulum, ikan
mengambil udara dipermukaan air, dan ikan menjadi tidak aktif (Aliza, dkk,
2013 : 2).
Beberapa respons stres dapat dideteksi melalui pemeriksaan patologi
anatomi dan histopatologi dari beberapa organ atau jaringan seperti insang,
hati, kulit, dan traktus urogenital. Insang terdiri dari lembar-lembar insang.
Setiap lembar insang terdiri dari sepasang filamen dan tiap filamen tersusun
atas lamella-lamella sebagai tempat pertukaran gas. Faktor yang
menyebabkan respon patologi ikan adalah jumlah oksigen di dalam air yang
rendah dan merangsang terjadinya iritan. Akibatnya akan berdampak pada
kerusakan sel-sel insang diantaranya udema, hiperplasia, dan fusi sel. ikan
sampai daerah bawah operkulum menggunakan gunting (sharp-blunt),
kemudian organ insang ditarik secara perlahan keluar dari rongga kepala.
Organ insang lalu difiksasi dalam larutan Davidson 10% selama 48 jam
kemudian dibuat preparat histologi dan diwarnai dengan pewarnaan
haematoksilin eosin (HE) (Aliza, dkk, 2013 : 2).
4

Pada dasarnya, termorepsi adalah proses mengenali suhu tinggi dan rendah
serta perubahan suhu lingkungan. Proses ini sangat penting bagi hewan,
mengingat perubahan suhu dapat berpengaruh buruk terhadap tubuh individu.
Peningkatan suhu secara ekstrem akan memengaruhi stuktur protein dan
enzim sehingga dapat berfungsi secara maksimal. Hal ini dapat menganggu
penyelenggaraan berbagai reaksi metabolik yang penting (Isnaeni, 2006 : 94).
Gerakan operkulum merupakan indikator laju respirasi ikan. Salinitas
merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan. Kadar garam tinggi akan
menyebabkan berkurangnya gas oksigen terlarut, akibatnya ikan akan
mempercepat gerakan operkulum untuk mendapatkan gas oksigen dengan
cepat sesuai kebutuhan respirasinya. Rendahnya jumlah oksigen dalam air
menyebabkan ikan atau hewan air harus memompa sejumlah besar air ke
permukaan alat respirasinya untuk mengambil oksigen. tidak hanya volume
besar yang dibutuhkan tetapi juga energi pemompaan juga semakin besar.
Salinitas air dalam akuarium yang tinggi tidak hanya mempengaruhi
kelarutan oksigen tetapi juga mepengaruhi laju metabolisme respirasi ikan
(Harahap, 2014 : 6).
5

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Gelas kimia 250 mL 3 buah
b. Gelas kimia 1000 mL 1 buah
c. Termometer 1 buah
d. Hot plate 1 buah
e. Stopwatch 3 buah
f. Spatula 1 buah
g. Kaca pembesar 3 buah
h. Baskom 1 buah
i. Wadah plastik kecil 2 buah
j. Label 3 buah
k. Lap kasar 1 buah
2. Bahan
a. Ikan guffy (Poecilia reticulata) 3 ekor
b. Air
c. Es batu

D. Prosedur Kerja
1. Tiga buah gelas kimia 250 mL disiapkan sebagai wadah perlakuan dan
dicari letak operkulum pada ikan guffy (Poecilia reticulata) sebelum
dimasukkan ke wadah perlakuan
2. Tiga buah gelas kimia tersebut merupakan media air yang disiapkan
dengan tiga perlakuan suhu berbeda yang telah diukur suhunya dengan
menggunakan termometer dan diberi tanda dengan menggunakan label
yang ditempelkan pada gelas kimia. Adapun perlakuan tersebut yakni :
a. T1 = Suhu dingin (<0C 0,5C) dibawah suhu kamar
b. T2 = Suhu kamar (25C 0,5C)
c. T3 = Suhu panas (40C 0,5C) di atas suhu kamar, air dipanaskan
dengan menggunakan Hot Plate pada gelas kimia yang berukuran
1000 mL
6

3. Tiga ekor ikan guffy (Poecilia reticulata) diambil dari wadah plastik, lalu
dimasukkan ikan guffy (Poecilia reticulata) tersebut ke dalam masing-
masing gelas kimia yang telah berisi media air dengan perlakuan suhu
yang berbeda
4. Satu persatu ikan guffy (Poecilia reticulata) yang telah dimasukkan ke
dalam gelas kimia dihitung jumlah membuka dan menutup bagian
operkulumnya, jika tidak jelas dapat digunakan kaca pembesar sebagai
alat bantu selama satu menit dengan menggunakan stopwatch sebagai
petunjuk waktu dan diulangi sebanyak tiga kali untuk masing-masing
ikan guffy (Poecilia reticulata)
5. Pada saat pengamatan berlangsung diusahakn suhu air hanya turun pada
kisaran 1C. Data jumlah membukan dan menutupnya operkulum
kemudian dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.