Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum

ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI LARUTAN TEMBAGA

SAIFULLAH ABDUL RASYID

H041171319

LABORATORIUM KIMIA DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1

ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI LARUTAN TEMBAGA

Disusun Oleh
SAIFULLAH ABDUL RASYID
H041 17 1319

Laporan ini telah diperiksa oleh

Asisten

SALMIYAH
H31114032
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di alam semesta ini sangat banyak ditemukan unsur-unsur. Ada yang

bersifat logam, semilogam dan nonlogam.Dan letaknya pun juga berbeda-beda.

Ada yang di tanah, udara, air, dan lain-lain. Seorang analis perlu untuk

mengetahui banyak konsentrasi unsur-unsur logam tersebut. Pentingnya bagi

seorang analis adalah untuk menambah ilmu pengetahuan dan untuk menganalisis

suatu penyakit, bahkan juga berguna untuk menciptakan suatu produk yang

berguna bagi masyarakat luas. Namun, proses analisis tersebut tidaklah mudah,

karena membutuhkan keahlian tertentu (Keenan, 1984).

Salah satu proses yang dilakukan terkait dengan pekerjaan dan riset dalam

bidangkimia adalah pengukuran analitik. Salahh satu metodenya yaitu metode

UV-Vis yang merupakan salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan

unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Oxtoby, 2001).

Kalibrasi dari sebuah spektrofotometer UV dilakukan untuk ptimalisasi

kinerja spektrofotometri. Dalam hal ini, kalibrasi normal dengan metode adopsi

Ringbom-ayre yang digunakan untuk mengkonfirmasi presisi sehingga hasilnya

sesuai dengan kurva kalibrasi normal (Petruci, 1987).

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan praktikum ini untuk

mempelajari suatu pengukuran analitik yang berdasarkan pada panjang

gelombang yang diserap oleh suatu sampel dan untuk menerapkan prinsip-prnsip

dalam menggunakan metode spektrofotometri dan melakukan pengukuran dengan

menggunakan spektrofometer UVVis.


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi

terhadap kepekatan larutan CuSO4, pengaruh konsentrasi terhadap nilai

absorbansi, dan pengaruh konsentrasi terhadap panjang gelombang.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah:

1. Menentukan panjang gelombang maksimum serapan larutan CuSO4.

2. Membuat kurva kalibrasi larutan CuSO4.

3. Menentukan konsentrasi tembaga dalam sampel larutan menggunakan

spektrofotometer.

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini adalah mengencerkan CuSO4 dengan akuades.

Ada empat sampel larutan CuSO4, yaitu larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,2,

0,4, 0,6, dan 0,8 M. Dari keempat larutan ini kemudian dibandingkan

kepekatannya satu sama lain. Kemudian tiap larutan dimasukkan ke dalam

spektrofotometer, untuk diukur nilai absorbansi dan panjang gelombang

maksimumnya. Dalam hal ini, digunakan akuades sebagai larutan blanko atau

referens.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spektrrofotometri UV-VIS

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik

yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380

nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen

spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang

cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis

lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan dengan analisis

kualitatif (Keenan, 1984).

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang

digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan

kualitatif yang didasarkan pada interaksi yang terjadi antara materi dengan

cahaya. Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut

spektrofotometer yang berfungsi untuk mengukur konsentrasi suatu larutan.

Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah,

sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan

adalah elektron valensi. Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu yang

disebut juga sebagai radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang sering

kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah cahaya matahari. Dalam interaksi

materi dengan cahaya yang memancar atau radiasi elektromagnetik, radiasi

elektromagnetik kemungkinanan dihamburkan, diabsorbsi atau dihamburkan

sehingga dikenal adanya spektroskopi hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun


spektroskopi emisi (Oxtoby, 2001).

Pengertian spektroskopi dan spektrofotometri pada dasarnya sama yaitu

didasarkan pada interaksi antara materi dengan radiasi elektromagnetik. Namun

pengertian spektrofotometri lebih spesifik atau pengertiannya lebih sempit karena

ditujukan pada interaksi antara materi dengan cahaya (baik yang dilihat maupun

tidak terlihat). Sedangkan pengertian spektroskopi lebih luas misalnya cahaya

maupun medan magnet termasuk gelombang elektromagnetik (Mukti, 2012).

Umumnya spektroskopi dengan sinar ultraviolet (UV) dan sinar tampak

(Vis) dibahas bersama karena sering kedua pengukuran dilakukan pada waktu

yang sama. Karena spektroskopi UV-Vis berkaitan dengan proses berenergi tinggi

yakni transisi elektron dalam molekul, informasi yang didapat cenderung untuk

molekul keseluruhan bukan bagian-bagian molekulnya. Metoda ini sangat sensitif

dan dengan demikian sangat cocok untuk tujuan analisis (Takeuchi, 2006).

2.2 Larutan CuSO4

Penetapan kadar tembaga dengan metode spektrofotometri ultraviolet-

visibel didasarkan pada efek katalitik dari Cu dalam reaksi redoks antara biru

metilen dan asam askorbat, dimanaabsorbansinya dimonitor pada panjang

gelombang 666 nm. Kurva kalibrasi dengan rentangkonsentrasi antara 0,5-1,3

ppm dengan kondisi optimum mempunyai nilai regresi linear -0,9739,limit deteksi

0,385 ppm dan recovery 100%. Panjang gelombang maksimum diukur pada

rentang 400-700 nm (Ratnawulan, 2013).

Umumnya produk multivitamin dan mineral yang sering kita jumpai

dalam kehidupan sehari-hari mengandung berbagai jenis vitamin dan mineral

dalam satu macam produk. Sebagian besar produk multivitamin dan mineral
mengandung vitamin dengan jumlah lebih besar dibanding mineral. Kadar mineral

yang relatif kecil dan terdapat dalam matrik yang komplek menjadikan penentuan

kadar mineral menjadi sulit karena adanya gangguan dari senyawa lain, sehingga

proses jaminan kualitas dalam hal ini penetapan kadar dan keseragaman kadar

sulit dilaksanakan (Kucuk, 2011).

Penetapan mineral dengan kadar relatif kecil dan terdapat dalam matrik

komplek memerlukan metode yang spesifik dan sensitif. Metode penetapan kadar

mineral yang spesifik dan sensitif salah satunya adalah menggunakan

spektrofotometri serapan atom, karena untuk satu logam digunakan lampu logam

tertentu sebagai sumber cahaya. Tetapi sebelumnya harus dilakukan persiapan

apalagi bentuk sediaan adalah tablet salut gula. Penetapan kadar tembaga

memakai metode spektrofotometri UV Vis berdasarkan pada reaksi redoks antara

biru metilen dan asam askorbat yang dikatalisis oleh temabaga (II) (Syukri, 1999).

Cu mempunyai bilangan oksidasi +l dan +2, akan tetapi yang jumlahnya

melimpah adalah adalah Cu dengan bilangan oksidasi +2 atau Cu (II), karena Cu

(I) di air mengalami disproporsionasi membentuk sebagai senyawa yang tidak

larut. Kadar Cu maksimum yang diperbolehkan adalah 0,05 - 1.5 ppm. Keracunan

sestemik dapat meluas terhadap kerusakan serabut-serabut darah (kapiler),

kerusakan ginjal, saraf sentral, dan diikuti pula dengan depresi. Apabila keracunan

dalam jumlah kecil dan terus-menerus dapat menimbulkan penyakit pigmentary

cirhosis hati (hati mengeras). Logam Cu merupakan salah satu logam berat yang

bersifat toksik terhadap organisme air dan manusia pada batas konsentrasi

tertentu. Menurut Dirjen POM No. 03725/VII/89 tentang ambang batas cemaran

Cu pada biota laut khususnya ikan yaitu 2,0 mg/kg (Keenan, 1984).
BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan CuSO4

dengan konsentrasi 0,2 M, larutan CuSO4 yang belum diketehaui konsentrasinya.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan ialah sebuah spektrofotometri UV-Vis, lima

buah labu ukur 50 mL, satu buah pipet ukur 50 mL, satu buah labu erlenmeyer

100 mL, dan satu buah pipet hisap.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan CuSO4

Disediakan larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,2 M dan akuades sebagai

blanko atau referens. Dimasukkan larutan CuSO4 ke dalam kuvet 1 dan akuades

ke dalam kuvet 2 dengan volume masing-masing 1ml sel kuvet. Dimasukkan

kuvet yang berisi akuades ke dalam tempat sel alat, atur hingga serapan (A)

menunjukkan nol. Diganti blanko dengan kuvet yang berisi larutan CuSO4, diukur

serapannya pada panjang gelombang awal 400 nm. Dilakukan tahap sebelumnya

untuk pengukuran absorbansi larutan pada deretan panjang gelombang 400 700

nm. Dibuat grafik hubungan panjang gelombang dengan absorbansi.

3.3.2 Pembuatan Kurva Kalibrasi

Dibuat deretan larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,2, 0,4, 0,6, dan 0,8 M.
Jika serapan larutan tersebut terlampau tinggi, dibuat larutan yang lebih encer,
atau jika serapan larutan terlampau rendah, dibuat larutan baru yang sedikit lebih
pekat. Diukur serapan masing-masing deretan larutan tersebut pada panjang
gelombang maksimum. Digunakan akuades sebagai blanko atau referens. Dibuat
kurva yang menghubungkan antara konsentrasi larutan CuSO4 dengan absorbansi
terukur setelah pengukuran selesai.

3.3.3 Penentuan Konsentrasi Larutan CuSO4

Diminta larutan CuSO4 yang belum diketahui konsentrasinya oleh

praktikan kepada asisten. Masukkan larutan tersebut ke dalam kuvet, lalu ukur

serapannya pada panjang gelombang maksimum. Diatur serapan blanko atau

referens hingga menunjukkan angka nol sebelum pengukuran sampel.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Pengukuran Absorbansi Larutan CuSO4

Tabel 1. Absorbansi Larutan CuSO4

NO Konsentrasi CuSO4 Absorbansi


1. 0,04 M 0,393

2. 0,06 M 0,602

3. 0,08 M 0,864

4. 0,1 M 1.027

4.1.2 Reaksi

CuSO4 + H2O H2SO4+ CuO

4.1.3 Grafik

Grafik konsentrasi Terhadap Absorbansi


1.2

0.8
Absorbansi

0.6
y = 10,57x - 0,031
0.4 R = 1

0.2

0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
Konsentrasi (M)
4.2 Pembahasan

Percobaan analisi spektrofotometer larutan tembaga meliputi penetuan

panjang gelombang maksimum larutan tembaga, pembuatan kurva kalibrasi

larutan tembaga dan penetuan konsentrasi larutan tembaga. Langkah-langkah

utama dalam analisa dengan sinar UV-Vis adalah sebagai berikut: Pembentukan

molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis, harus dilakukan jika senyawa yang

dianalisa tidak melakukan penyerapan didaerah UV-Vis, senyawa harus diubah

menjadi bentuk lain yang dapat melakukan penyerapan pada daerah yang

dimaksud. Misalnya mengubah menjadi berwarna atau tidak berwarna, pemilihan

panjang gelombang agar diperoleh panjang gelombang maksimum, pembuatan

kurva kalibrasi. Untuk keperluan ini dibuat sejumlah larutan standar dengan

berbagai konsentrasi, absorban larutan standar ini diukur kemudian dibuat grafik

A versus C. Hukum Lambert Beer terpenuhi, jika grafik berbentuk garis lurus

yang melalui titik nol. Pengukuran sampel dilakukan pada kondisi yang sama

seperti pada larutan standar.

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang

digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan

kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan

yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang

dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi

dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron

valensi.

Hasil percobaan diperoleh data yakni panjang gelombang maksimum

larutan tembaga adalah 470 nm. Pada kurva kalibrasi terlihat bahwa semakin

tinggi konsentrasi maka semakin besar nilai absorbansi dan berdasarkan nilai

absorbansi maka konsentrasi larutan tembaga yang dianalisis adalah 0,08 M.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

panjang gelombang di atur pada nilai ynag tepat, bergubungan dengan

panjang gelombang maksimum dalam spektrum serapan. Hubungan kuantitatif

dengan konsentrasi komponen yang terlarut dikenal dengan persamaan Beer-

Lambert. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban

suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran

menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan

spektrofotometri.

5.2 Saran

Laboratorium sebaiknya mengganti alat yang sudah tidak berfungsi

sebagaimana mestinya, agar pada saat praktikum, praktikan dapat

melaksanakannya dengan baik dan memperoleh data pratikum dengan benar.

Laboratorium sebaiknya menambah alat-alat lab, seperti labu ukur, pipet

tetes, gelas piala, dll. agar praktikan tidak kelabakan saat melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Keenan, C.W.,1984, Kimia untuk Universitas, Jakarta, Erlangga.

Kucuk, 2011, The Knowlodge Level Competences of Science Preservice Teachers


in Spechtrophotometry and Vitamin C, and Their Views Intended to The
Usage of Spechtrophotometry, Scientific Journals, 1(1) 92-108.
Oxtoby, D.W., 2001,Kimia Modern, Erlangga, Jakarta.

Petruci, R.H. dan Suminar, 1987,Kimia Dasar Prinsip dan Terapan


Modern,Jakarta, Erlangga.
Ratnawulan dkk., 2013, Analisis Nilai Absorbansi dalam. Penentuan Kadar
Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman ObatAnalisis Nilai
Absorbansi dalam Penentuan Kadar Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun
Tanaman Obat. Padang. Pillar Of Physics, 2(1): 76-83.

Syukri, S., 1999, Kimia Dasar 1, Bandung, ITB.


Takeuchi, Y., 2006, Pengantar Kimia, Diterjemahkan oleh Ismunandar, Iwanami
Publishing Company, Jakarta.
Lampiran

BAGAN KERJA

A. Pengenceran Larutan CuSO4

CuSO4

- Dimasukkan ke dalam labu ukur dengan konsentrasi yang

berbeda, yaitu 0,04 M, 0,06 M, 0,08 M, dan 0,1 M sebanyak

10 mL, 15 mL , 20 mL, dan 25 mL.

- Ditambahkan larutan Aquades sampai tanda batas.

- Dihimpitkan dan dihomogenkan.

- Diamati perubahan yang terjadi.

Hasil

B. Pembuatan Kurva Kalibrasi

CuSO4
- Dibuat deret larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,04 M, 0,06

M, 0,08 M, dan 0,1 M.

- Diukur serapan masing-masing larutan dengan panjang

gelombang maksimum yang telah ditentukan yaitu 750 nm.

Digunakan aquades sebagai blangko.

- Dibuat Kurva yang menghubungkan antara konsentrasi

larutan CuSO4 dengan absorbansi yang telah diukur.

Hasil
C. Penentuan Konsentrasi Larutan CuSO4

CuSO4

- Dinyalakan spektrofotometri UV-Vis hingga cahaya

indikator berwarna hijau

- Diletakkan sampel pada sampel compertement yang telah

dipreparasi dan telah dimasukkan ke dalam kuvet.

- Menetralkan spekrofotometer.

- Dibaca dan dicatat hasil pengukuran data absorbansi.

Hasil
PERHITUNGAN

A. Penentukan Konsentrasi Larutan CuSO4 Hasil Pengenceran


M1 V1 = M2 V2

1. Untuk CuSO4 dengan volume 10 ml

0,2 10 = M2 50
M2 = 2/50 = 0,04 M
2. Untuk CuSO4 dengan volume 15 ml

0,2 15 = M2 50
M2 = 3/50 = 0,06 M
3. Untuk CuSO4 dengan volume 20 ml

0,2 20 = M2 50
M2 = 4/50 = 0,08 M
4. Untuk CuSO4 dengan volume 25 ml

0,2 25 = M2 50
M2 = 5/50 = 0,1 M

B. Menentukan Nilai Absorban

( .)( )( )
= 2
( )( )2

3(0,15454)(0,2)(2,022)
= 3(0,0152)(0,2)2

0,46320,4044
= 0,04560,04

0,05922
= 0,0056

= 10,57

= 0,674 10,57

= +

1 = 0,0313525 + (10,57)(0,04)
1 = 0,392

2 = 0,0313525 + (10,57)(0,06)

2 = 0,603

3 = 0,0313525 + (10,57)(0,10)

3 = 1,026

y = 10,57x - 0,031

( Absorbansi larutan tembaga yang belum diketahui konsentrasinya (y) = 0.817).


0,817+0,031
= 10,57

x = 0,08 M.

Jadi, Konsentrasi larutan CuSO4 adalah 0,08 M.


DOKUMENTASI HASIL PERCOBAAN