Anda di halaman 1dari 36

FISIOLOGI NYERI

Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri
yang dimaksud adalah nocireseptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki
sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada
visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan
respon akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa zat kimiawi
seperti histamin, bradikinin, prostaglandin, dan macam-macam asam yang dilepas apabila
terdapat kerusakan pada jaringan akibat kekurangan oksigenisasi. Stimulasi yang lain dapat
berupa termal, listrik, atau mekanis.

Selanjutnya stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut ditransmisikan berupa impuls-
impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut yang bermyelin rapat atau
serabut atau serabut A (delta) dan serabut lambat (serabut c). Impuls-impuls yang ditansmisikan
oleh serabut delta A mempunyai sifat inhibitor yang ditransmisikan ke serabut c. Serabut-serabut
aferen masuk ke spinal melalui akar dorsal(dorsal root) serta sinaps pada dorsal horn. Dorsal
horn terdiri atas beberapa lapisan atau laminae yang saling bertautan. Diantara lapisan dua dan
tiga terbentuk substansia gelatinosa yang merupakan saluran utama impuls. Kemudian, impuls
nyeri menyeberangi sumsum tulang belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal
asendens yang paling utama, yaitu jalur spinothalamic tract (STT) atau jalur spinothalamus dan
spinoreticular tract (SRT) yang membawa informasi tentang sifat dan lokasi nyeri. Dari proses
transmisi terdapat dua jalur mekanisme terjadinya nyeri, yaitu jalur opiate dan nonopiate. Jalur
opiate ditandai oleh pertemuan reseptor pada otak yang terdiri atas jalur spinal desendens dari
thalamus yang melalui otak tengah dan medulla ke tanduk dorsal dari sumsum tulang belakang
yang berkonduksi dengan nocireseptor impuls supresif. System supresif lebih mengaktifkan
stimulasi nocireseptor yang ditransmisikan oleh serabut A. jalur nonopiate merupakan jalur
desendens yang tidak memberikan respon terhadap naloxone yang kurang banyak diketahui
mekanismenya.
v Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
1. Arti Nyeri
Arti nyeri bagi seseorang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti merupakan arti
yang negatif, seperti membahayakan, merusak dan lain-lain. Keadaan ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin,latar balakang sosial budaya, lingkungan, dan
pengalaman.
2. Persepsi nyeri
Persepsi nyeri merupakan penilaian yang sangat subjektif tempatnya pada korteks. Persepsi ini
dipengaruhi oleh faktor yang dapat memicu stimulasi nocireseptor.
3. Toleransi nyeri
Toleransi nyeri ini erat hubungannya dengan intensitas nyeri yang dapat mempengaruhi
kemampuan seseorang menahan nyeri. Faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan toleransi
nyeri antara lain alkohol, obat-obatan, hipnotis, gesekan atau garukan, pengalihan perhatian,
kepercayaan yang kuat, dan sebagainya. Sedangkan faktor yang menurunkan toleransi antara lain
kelelahan, rasa marah, bosan, cemas, nyeri yang tidak kunjung hilang, sakit, dan lain-lain.
4.Reaksi terhadap nyeri
Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respon seseorang terhadap nyeri, seperti ketakutan,
gelisah, cemas, menangis, dan menjerit. Semua ini merupakan bentuk respon nyeri yang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti arti nyeri, tingkat persepsi nyeri, pengalaman masa
lalu, nilai budaya, harapan sosial, kesehatan fisik dan mental, rasa takut, cemas, usia, dan lain-
lain. (http://raychan31.blogspot.com)
http://gurupenjaskesrek.blogspot.com/2011/10/fisiologi-nyeri.html

Makalah Kebutuhan Dasar Rasa Aman dan Nyaman


(Nyeri)
Jumat, 22 November 2013 07.01 Diposkan oleh adhe febriana
Label: KDM

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas Rahmatnya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang membahas tentangKebutuhan Dasar Manusia Rasa Aman
dan Nyaman (Nyeri).

Terima kasih kami ucapkan kepada para pengajar atas bimbingan dan pendidikan yang diberikan
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Makalah ini merupakan hasil diskusi
kelompok kami dengan materi eliminasi. Pembahasan di dalamnya kami dapatkan dari kuliah, browsing
internet, diskusi anggota, dll.

Dengan pemahaman berdasarkan pokok bahasan masalah kebutuhan dasar eliminasi


pada manusia. Kami sadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaannya. yang dapat kami
sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami yang sedang menempuh
pendidikan dan dapat dijadikan pelajaran bagi temanteman dan kami khususnya.

Banyumas, 19 November 2013


Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar .......................................................................................................1

Daftar isi ............................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................................3

B. Tujuan Penulisan ...............................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengerti dan Fisiologi Nyeri .................................................................... 4

B.Makna dan Persepsi Nyeri .................................................................................7

C.Toleransi dan Reaksi Nyeri ................................................................................8

D. Jenis dan bentuk Nyeri ...................................................................................... 9

E. Faktor yang mempengaruhi nyeri .................................................................... 12

F. Mengukur Intensitas Nyeri .............................................................................. 13

G. Asuhan Keperawatan ........................................................................... 14

H. Diagnosa Keperawatan ........................................................................... 16

I. Implementasi ......................................................................................... 17

J. Management Nyeri ................................................................................... 20

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ......................................................................................................26

B. Saran ................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Belakangan ini, kehidupan sehari-hari kita sering merasakan nyeri yang membuat ketidak nyamanan
dalam hidup kita,sebagian dari individu merasa tidak kwatir terhadap nyeri,dan sebgian individu merasa
cemas,takut terhadap nyeri itu.banyak diantara individu yang tidak bisa menyelesaikan masalah ketidak
nyamanan ini,untuk itu saya membuat makalah ini, untuk memberi petunjuk bagi pembaca dalam
menyelesaikan masalah ketidak nyamanan yaitu nyeri.

1.2 TUJUAN

Makalah ini betujuan untuk menerangkan, membuktikan, menjelaskan, serta menerapkan konsep dasar
nyeri dalam menyelesaikan masalah ketidak nyamanan.

1.3 MANFAAT

Menambah wawasan tentang konsep dasar nyeri dan menerapkan dalam kehidupan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN

Muenurut LONG,1996 ,Nyeri adalah perasaan yang tidk nyaman,sngt subjektif ,dan hanya orng yang
mengalami yang dapt mengungkapkan dan menjelaskanya perasaan tersebut. Menurut PRIHARJO,1992,
perasaan tidak nyaman baik ringan maupun berat

2.2 FISIOLOGI NYERI

Bagaiman nyeri merambat dan di persepsikan oleh individu masih belum sepenuhnya di mengerti.akan
tetapi, bisa tidaknya nyeri diraskan dan hingga derajat mana nyeri tersebut mengganggu di pengaruhi
oleh interaksi antaras sistem algesia,transmisi saraf serta insiterpretasi

stimulus.

Nosisepsi

Reseptor yang bertugas merambat sensasi nyeri disebut nosiseptor, nosiseptor merupakan ujung-ujung
saraf perifer yang bebas.reseptor nyeri tersebut dapat di rangsang oleh stimulus mekanisme, suhu, atau
kimawi, sedangkan proses fisiologi terkait nyeri di sebut nosisepsi.

Prose tersebut Terdiri atas 4 fase:

Transduksi adanya rangsangan yang membahayakan(bhn kimia, suhu, listrik) memicu


pelepasan mediator biokimia yang mensensitisasi nosiseptor

Transmisi, fase ini terdiri dari 3 bagian:

Pada bagian pertama: nyeri merambat dari Seraput saraf perifer ke medula spinalis.serabut nosiseptor
yang terlibat adalah serabut C, yang mentransmisikan nyeri tumpuldan menyakitkan .dan serabut A-
delta yang mentransmisikan nyeri tajam.
Bagian ke dua:transmisi nyeri dari Medula spinalis ke otak dan talamus melalui spinotalamic tract (stt)
yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi dari stimulus ke stimulus.

Bagian ke tiga:sinyal dari stimulus tadi di teruskan ke korteks sensor motorik,tempat nyeri di
persepsikan.

Persepsi,pada fase ini kita mulai menyadari adanya nyeri ,sehingga munculnya berbagi prilaku
kognitif untuk mengurangi komponen sensorik,dan afektif nyeri

Modulasi(sistem desenden) pada fase ini neuron di batang otak mengirim sinyal-sinyal ke
medula spinalis ,dan melepaskan subtansi (opioid,serotonin, )yang akan menghambat impuls aseden
yang membahayakan di bagian medula spinalis

Teori gate kontrol

Banyak teori yang menjelaskan fisiologi nyeri ,namun yang paling sederhana adalah teori gate
control(Melzeck dan well)

Teori ini menjelaskan bahwa subtansi gelatinosa pada medula spinalis bekerja layaknya pintu gerbang
yang memungkinkan atau menghalangi masuknya implus nyeri ke otak.

Berikut Teori Transmisi Nyeri

JENIS TEORI RESPON FISIOLOGI

Resepror nyeri tertentu akan menyalaurkan implus sraf nyeri


PEMISAHAAN(SPEcifity) ke otak,proses ini tdk memperhitungkan aspek fisiologi
persepsi dan respon nyeri

Nyeri terjadi karena efek gabungan dari intensitas


Pola(pattem) stimulus,dan jumlah implus pada ujung dorsal medula
spinalis,ini tdk termasuk aspek fisiologi

Teori gate control Nyeri terjadi karena efek gabungan dari intensitas
stimulus,dan jumlah implus pada ujung dorsal medula
spinalis,ini tdk termasuk aspek fisiologi
Stimulus yang mengenal nosiseptor memulai transmisi implus
saraf.inhibisi implus nyeri menjadi efektif oleh adanya :
Transmisi dan inhibisi
1)implus menuju serabut besar yang membelok implus pada
searbut serabut lambat 2)sistem supresif oplat endogen

2.3 MAKNA NYERI

Berbahaya atau merusak

Menunjukan adanya komplikasi (infeksi)

Memerlukan penyembuhan

Menyebabkan ketidak mampuan

Merupakan hukuman akibat dosa

Merupakan sesuatu yang harus di tolerensi

2.4 PERSEPSI NYERI

Persepsi nyeri, tepatnya pada area korteks (fungsi evaluatif kognitif)muncul akibat stimulus menuju
saraf spinnotalamikus dan talamiko kortikalis.

Bersifat:

Objektif

Sangat kompleks

Persepsi nyeri bisa berkurang atau hilang pada periode stes berat atau emosi

Contoh: penderita luka bakar derajat III tidak akan merasa nyeri walaupun cederanya sangat hebat.

2.4 TOLERANSI NYERI

Toleransi terhadap nyeri terkait dengan intensitas nyeri yang membuat seseorang mampu menahan
rasa nyeri seblum minta pertolongan.

Toleransi yang tinggiindividu mampu menahan nyeri yang berat sebelum mencari pertolongan
2.6 REAKSI NYERI

Setiap orang memberikan reaksi yang berbeda terhadap nyeri, diantaranya:

F Takut

F Gelisa

F Optimis

F Menangis

F Mengerang

F Menjerit

F Mondar mandir

F Mengepal tangan,dll

Faktor reaksi nyeri

Makna nyeri bagi individu

Tingkat persepsi nyeri

Pengalaman masa lalu

Nilai budaya

Harapan sosial

Kesehatan fisik dan mental

Sikap orang tua

Lokasi nyeri

Perassan takut

usia

2.7 JENIS DAN BENTUK NYERI

Jenis nyeri

Nyeri perifer, nyeri ini ada tiga jenis:

o Nyeri supersial, rasa nyeri yang muncul akibat ranagsangan pada kulit dan mukosa.
o Nyeri viseral, yakni nyeri yang muncul akibat stimulasi pada reseptor nyeri pad abdomen, kranium,
dan toraks.

o Nyeri alih, yakni nyeri yang dirasakan pada daerah yang jauh dari jaringan penyebab nyeri.

o Nyeri sentral, yakni nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medula spinalis, batang otak, dan
talamus.

o Nyeri psikogenik, nyeri yang tidak di ketahui penyebab fisiknya, nyeri ini timbul akibat pikiran si
penderita sendiri.

Bentuk nyeri

Nyeri akut

Berlangsung tdk lebih dari 6 bulan

Gejalanya mendadak

Penyebab dan lokasi nyeri sudah di ketahui

Ditandai dengan penegangan otot dan kecemasan

Nyeri kronis

Berlangsung lebih dari 6 bulan

Sumber nyeri bisa di ketahui/tidak

Hilng tmbul

Tidak dapat di sembuh

Pengindraan nyeri lebih mendalam

Sulit menunjukan lokasi

Dampaknya:

Mudah tersinggung

Kurang perhatian.

Sering putus asa

Perbedaan nyeri akut dan kronis

Karateristik Nyeri akut Nyeri kronis


Pengalaman Suatu kejadian, jika klien baru
Suatu situasi, status eksistensi nyeri.
mngalami episode nyeri

Sebab eksternal atau penyakit Sumber nyeri tidak diketahui; klien


Sumber sukar menentukan sumber nyeri
yang berasal dari dalam
karena penginderaan nyeri yang
sudah lebih dalam

Bisa mendadak atau bertahap,


Serangan Mendadak
tersembunyi

Beberapa bulan hingga beberapa


Durasi Transien(sampai 6 bulan tahun

Daerah yang nyeri dan yang tidak,


Daerah nyeri umumnya diketahui
intensitasnya menjadi sukar di
dengan pasti. Klien yang
evaluasi. Klien yang mengalami nyeri
mengalami nyeri ini sering kali
ini kerap merasa tidak aman karena
Pernyataan merasa takut dan khawatir dan
mereka tidak tahu apa yang mereka
nyeri berharap nyeri dapat segera
rasakan. Dari hari ke hari klien
teratasi. Nyeri ini dapat hilang
mengeluh mengalami keletihan,
setelah area yang mengalami
insomnia, anokresia, depresi, putus
gangguan kembali pulih.
asa, dan sulit mengontrol emosi

Pola respon khas,dengan gejala Bervariasi,kdng hllng,kdng bertmbah


Gejala krinis
yang lebih jelas parah

Biasanya melaporkan kekeurngn


Perjalanan Berlngsung terus
gejala setelah beberapa waktu

2.8 FAKTOR NYERI


Etni dan nilai budaya

Latar belakang etnik dan budaya merupakan faktor yang memengaruhi reaksi terhadap nyeri dan
ekspresi nyeri.

Cntoh: individu dari buday tertentu cenderung mengukapkap nyeri yang mereka rasakan,sedngkan
budaya lain lebih memilih untuk menahan, mereka tidak ingin merepotkan orang lain.

Tahap perkembangan

Anak-anak cendrung kurang mampu mengungkapkan nyeri yang mereka rasakan, dibandingkan dengan
orang dewasa, dan lansia lebih tinggi karena penyakit yang di derita.

Lingkungan dan individu pendukung

Lingkungan yang bising, tingkat kebisingan yang tinggi, pencahayaan dan aktivitas yang tinggi, serta
dukungan dari orang terdekat.

Contoh: individu yang sendiri, tanpa keluarga atau teman-teman akan cenderung merasakan nyeri yang
lebih berarti.

Pengalaman nyeri sebelumnya

Pengalaman masa lalu memengaruhi kepekaan terhadap nyeri.individu yang pernah merasakan atau
melihat penderit nyeri merasa terancam dengan nyeri yang akan terjadi.

Ansietas dan stres

Ansietas sering kali menyertai peristiwa nyeri yang terjadi.ancaman yang tidak jelas asalnya dan ketidak
mampuan mengontrol nyeri atau peristiwa sekililingnya dpat mempeberat persepsi nyeri.

2.9 MENGUKUR INTENSITAS NYERI

Hayword (1975) Alat mengukur nyeri painometer. Intensitas nyeri sifatnya subjektif dipengaruhi oleh:

Tingkat kesadaran

Konsentrasi

Jumlah distrasi

Tingkat aktivitas

Harapan keluarga

Skala nyeri Hayward


skala Keterangan

0 Tidak nyeri

1-3 Nyeri ringan

4-6 Nyeri sedang

7-9 Sangat nyeri,msh bisa di kontrol

10 Sngt nyeri tidak bisa di kontrol

McGill(Mcgillscale)

Mengukur nyeri dengan menggunakan 5 angka:

0 = tidak nyeri

1 = nyeri ringan

2 = nyeri sedang

3 = nyeri berat

4 = nyeri sngt berat

5 = nyeri hebat

3.1 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI NYERI

Pengkajian

Pengkajian nyeri yang akurat sangat penting, untuk itu perawata perlu mengkaji semua faktor yang
memengaruhi nyeri:

Fisiologi

Psikologi

Perilaku

Emosinal

sosiokltural

Pengkajian nyeri terdiri dua komponen utama:


1. Riwayat nyeri untuk mendapatkan data dari klien

2. Observasi langsung pada respon perilaku fisiologi klien

Tujuan pengkajianuntuk mendapatkan pemahaman objektif terhadap pengalaman subjektif

Mnmonik pengkajian nyeri

P Provoking/pemicu yang menimbulkan nyeri

Q Qualiti /kualitas nyeri (TUMPUL/TAJAM)

R Regio/daerah = perajalanan

S Severity/keganasan = intensitas

T Tme/waktu = serangan, lama, kekerapan, sebab

Riwayat nyeri

Lokasi : Menentukan lokasi nyeri yang spesifik

Intensitas nyeri : Menggunakan skala intensitas

Kualitas nyeri : Rasa yang di tmbulkan

Pola : waktu, durasi, kekambuhan interval nyeri

Faktor presipitasi : Aktivitas tertentu dapat memicu munculnya nyeri

Gejala yang menyertai : Mual, muntah, pusing, diare

Pengaruh pda aktivitas sehari-hari : Tidur, nafsumakan, konsentrsi, pekerjaaan, hubgn


pernikahan, aktivitas di rumah, emosional

Sumber koping : Pengaruh agama atau budaya

Respon efektif : Takut, lelah, depresi.

3.2 OBSERVASI RESPON PRILAKU & FISIOLOGI


Respon nonverbal yang bisa dijadikan indikator nyer :

Ekspresi wajah:

Menutup mata rapat-rapat

Menggigit bibir bawah

Respons vokalis

Erangan

Manangi

Berteriak

Gerakan tubuh

Menendang-nendang

Mebolak balikan tubuh

Respon fisiologi

Nyeri akut:

Peningkatan tekanan darah,nadi,pernapasan

Diaforesis

Dilatasi pupil

Jika nyeri belangsung lama,saraf simpatik telah beradaptasi,respon fisiologi tersebut mungkin
akan bekurang atau bahkan tdak ada

3.3 PENETAPAN DIAGNOSA

Menurut NANDA(2003), diagnosa keperawatan untuk klien yang mengalami nyeri atau ketidak
nyamanan adalah:

F Nyeri akut

F Nyeri kronis

Saat menulis pernyataan diagnoesa ,perawat harus menyebuttkan lokasinya(nyeri pegelangan kaki
kanan)

3.4 PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI


Tujuan asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami ketidaknyaman atau nyeri
bervariasi,bergantung pada diagnosis dan batasan karakteristiknya.

Nyeri akut

Trauma pada perineum slm persalinan atau kelahiran

Trauma jaringan dan refleks spasme otot

Inflamasi (saraf, sendi, tenton, otot)

Efek kanker

Kram abdomen,diare,muntah

Inflamasi dan spasme otot polos

Trauma jaringan dan spsme otot refleks

Demam

Respons alergi

Iritan kimia

Kriteria hasil individu akan menyampaikan kepuasan setelah tindakan peredam nyeri yang diberikan.

Intervensi umum

kaji faktor yang menurunkan toleransi nyeri (ketidak percayaan orang lain, kurang pengetahuan,
keletihan, kehidupan yang menonton)

kurangi atau hilangkan faktor yang dapat meningkatkan nyeri

F Ketidak percayaan orang lain

o sampaikan penerimaan anda atas respons klien terhadap nyeri

o akui nyeri yang klien rasakan

o jelaskan pada klien bahwa bahwa anda mengkaji nyeri karena ingin memahami nyeri yang klien
rasakan dengan baik (bukan untuk memastikan bahwa nyeri benar-benar terjadi)

o jelaskan tentang konsep nyeri sebagai pengalaman yang bersifat pribadi

o diskusikan alasan mengapa klien dapat mengalami peningkatan atau penurunan nyeri

o Kurang pengetahuan
dorong kelurga untuk memberikan perhatian ,juga pada saat nyeri sedanag tidak terjadi

jelaskan mengenai mengenai penyebab nyeri kepada klien,jika penyebabnya diketahui

jelaskan lamanya nyeri akan berlangsung,jika dsiketahui secara pasti,

jelaskan tentang pemeriksaan diagnosa dan prosedur yang akan dilakukan secara rinci

o Keletihan

Tentuka penyebab keletihan

Jelaskan bahwa nyeri dpat mendukung terjadinya stres

Beri kesempatan klien untuk istirahat pada siang hari

Konsultasi dengan dokter untuk meningkatkan dosis obat

o Kehidupan yang mononton

Diskusikan bersama klien dan keluarga mengenai manfaat terapieutik dari metode distraksi

Jelaskan bahwa distraksi biasanya akan meningkatkan intensitas nyeri

Variasika lingkungan

Ajarka beberapa metode distraksi

Kolaborasi bersama klien untuk menentukan metoda mana yang digunakan untuk mengurangi
intensitas nyeri

Pertimbangkan kemauan klien,hal yang disukai,kontraindikasi,dll

Jelaskanberbagai metode pereda nyer

Diskusikan metoda nyeri yang akan di pakai

Beri pereda nyeri yang optimal

o Kaji respons pasien terhadap obat-obat pereda nyeri

o Kurangi atau hilangi efek smping narkotika umum

o Bantu keluarga merespons positif terhadap pengalaman nyeri

o Kaji pengetahuan keluarga dan respons terhadap nyeri

Beri klien kesempatan untuk mendiskusikan ketakutan, kemarahan, dll


Libatkan keluarga dalam prosedur untuk menurunkan nyeri

Berika informasi kepada klien setelah nyeri hilang

Dorrong klien untuk mendiskusikan nyeri yang dialami

Beri pujian untk kesabarn pasien

Lakukan penyuluhan kesehatan sesuai indikasi

Rasional

Jika klien harus meyakinkan tenaga kesehatan bahwa dia merasa nyeri, kecemasan akan
semakin meningkat dan persepsi nyeri

Klien yang mendapatkan penjelasan tentang sensasi sesungguhnya yang akan ia rasakan
sebelum menjalani prosedur yang menyakitkan

Penelitian membuktikan bahwa otak manusia akan menyekresikan endorfin yang


menghilangkan rasa nyeri

Penggunaan metode pereda nyeri noninvansin

Individu dewasa dan anak-anak yang mengalami nyeri merasa tubuh dan kehidupanya
kehilangan konrol

Tidur yang tdk cukup dapt menurunkan individu untk menolerin nyeri

Penataan nyeri seharusnya dilakukan secara agresif dan individual

Intervensi nonfarmakologi menjadi pendekatan tindakan utama untuk nyeri

3.5 MANAJEMEN NYERI TERDIRI DARI :

1. Farmakologis (kolaborasi)-------penggunaan analgetik


Mengganggu penerimaan/stimuli nyeri dan interpretasinya dengan menekan fungsi talamus & kortek
serebri.

2. Pengelolaan non farmalogi

a. Teknik masase

Tidakan keperawatan dengan cara masase,dilakukan pada daerah superfesial atau otot, tulang.

Hanya untuk membantu mengurangi rangsangan nyeri akibat terganggunya sirkulasi.


Tujuan

Meningkatkan sirkulasi pada daerah yang dimasase

Meningkatkan relaksasi

Alat dan bahan:

Minyak untuk massase

handuk

Prosedur kerja

1) Jelaskan prosedur yang akan dilakuakn

2) Cuci tangan

3) Lakukan mesase pada daerah yang dirasakan nyeri slma 5-10 menit

4) Lakukan dengan telapak tngan dan jari dengan tekanan halus

gerakan tangan selang seling (tekanan pendek, cepat, bergantian tangan) pinggang

o Teknik remasan( menguap otot bahu)bahu

o Gerakan menggesek dengan ibu jari dan memutarpunggung dan pinggang

o Teknik eflurasi dengan kedua tanganpunggung dan pinggang

o Teknik petrisasi, menekan punggung secara horizontal

o Tknik tekanan menyikat dengan menggunakan ujung jari daerah pinggang

b. Kompres panas basah

Tindakan ini dapat dilakukan pada pasien yang mengalani nyeri,resiko terjadi infeksi luka,dan kerusakan
fisik

TUJUAN

Memperbaiki sirkulasi

Mengilangkan edema

Meningkatkan drainasrpus

Mengurangi rasa nyeri


Kompres basah pada luka terbuka

1) Gunkan srung tangan

2) Bsahi kasa steril dengan larutan pada magkuk kecil lalu peras

3) Letakan perassan kasa pada daerah luka

4) Tutup basa basah denga kering

5) Tutup dengn balutan atau displester

6) Cuci tngan

7) Catat keadaan luka.drainase.warna,integritas,dan respon pasien

Kompres panas basah dengan buli-buli

1) Buli-buli diisi air/larutan hangang buli-buli 1/3-2/3 bagian

2) Di bungkus dengan kantong buli-buliah

3) Letakan pada deerah luka

4) Catt

5) Cuci tngan

Kompres menggunakan elektrikal pad

1) Periksa tegangan listrik

2) Pasang stop kontak

3) Atur panas

4) Letakan electrical pad pada bagian yang akan di kompres

5) Catt

6) Cuci tngan

c. Kompres dingin basah

Tidakan untuk memberikan rasa dingin dengan menggunkan lap atau kain yang di celupkan ke
dalam air dingin,dilakukan pada paha

Tujuan
Menurunkan suhu tubuh pada penderita nyeri

Alat dan bahan

Baskom berisi air dingin

Pengalas

Kain

Termometer

Cara kerja

Jelaskan prosedur pda pasien

Cuci tngan

Ukur suhu tubuh

o Pasang pengalas di bawah tempat yang akan di kompres

o Basahi kain dengan air dingin

o Letakan kainyang telah di basahi pada daerah aksila,dahi,atau lipatan paha

o Cuci tngn

d. Rendam

Digunakan cairn hangat yang dapat dilakukan pada daerah tangan, kaki, glutea, pada seluruh tubuh yng
mengalmi gngguan integritas, sirkulasi, ketegangan otot, dan luka kotor.

Tujuan

Mengendor oto,tendon,dan ligamen

Menghilngkan nyeri dan peradangan

Mempercept penyembuhab jaringan

Memperbaiki sirkulasi

Membersihkan luka kotor

e. Sentuhan terapeutik
Teori ini mengatakan bahwa individu yang sehat mempunyai keseimbangan energi antara tubuh dengan
lingku;ngan luar. Orang sakit berarti ada ketidakseimbangan energi, dengan memberikan sentuhan pada
klien, diharapkan ada transfer energi dari perawat ke klien.

f. Akupresur
Pemberian penekanan pada pusat-pusat nyeri.

g. Guided imagery

Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tindakan ini memerlukan
suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien mengalami kegelisahan,
tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri
akut.

h. Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang. Distraksi visual (melihat
TV atau pertandingan bola), distraksi audio (mendengar musik), distraksi sentuhan (massase, memegang
mainan), distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur)

i. Anticipatory guidence

Memodifikasi secara langsung cemas yang berhubungan dengan nyeri. Contoh tindakan: sebelum klien
menjalani prosedur pembedahan, perawat memberikan penjelasan/informasi pada klien tentang
pembedahan, dengan begitu klien sudah punya gambaran dan akan lebih siap menghadapi nyeri.

j. Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.

k. Biofeedback
Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon nyeri fisiologis
dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi
ketegangan otot dan migren, dengan cara memasang elektroda pada pelipis.

l. Stimulasi kutaneus

Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah cara ini bisa melepaskan
endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa dilakukan dengan massase, mandi air hangat,
kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical
nerve stimulation). TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang
dihantarkan melalui elektroda luar.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Nyeri merupakan suatu gejala yang bersifat ojektif. Hanya orang yang merasakan yang bisa
mengungkapkan. Kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi rasa yang tidak nyaman atau nyeri ini,
perawat perlu memperhatiakn, mengkaji konsep dasar nyeri pada klien yangmengalami gngguan
keamaman.
Saran

Semoga dengan memahami konsep dasar nyeri ini. Kita bisa menerapkan dan membagi ilmu dalam
menyelesaikan masalah gengguan tidak nyaman ini dalan kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Elvi,2012.Makalah Konsep Dasar


Nyeri.http:///C:/Users/WIN7/Downloads/makalah%20konsep%20dasar%20nyeri%20_%20elvimonasa
ri.htm. (Diakses pada tanggal 19 November 2012).

AliSadikin,2010.Asuhan
Keperawatan.http:///C:/Users/WIN7/Downloads/Teknik%20Relaksasi%20dan%20Distraksi%20Asuha
n%20Keperawatan%20_%20Ali%20Sadikin%20Skep.,Ns.htm. (Diakses pada tanggal 20 November
2013)

http://dedeol.blogspot.com/2013/11/makalah-kebutuhan-dasar-rasa-aman-dan.html
Konsep Nyeri
Posted by Muhammad DaryadiSaturday, December 24, 20110 comments

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan perawatan kesehatan.
Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat
mengganggu dan menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang
dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu lainnya berbeda
dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan
keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori
keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan
keperawatan. Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa kenyamanan adalah
suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.

2. Masalah

Dalam membuat makalah ini penulis mempunyai masalah yaitu :

Apa yang dimaksud dengan nyeri?

Apa yang menjadi penyebab nyeri?

Bagaimana fisiologi nyeri?

Bagaimana klasifikasi nyeri?

Bagaimana respon nyeri ?

Bagaimana intensitas nyeri?

Bagaimana pengkajian nyeri?

3. Tujuan

a. Tujuan umum
Tujuan umum pembuatan makalah ini yaitu agar Mahasiswa mampu mengetahui tentang konsep
dasar nyeri pada anak.

b. Tujuan khusus

Tujuan khusus pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut:

Untuk mengetahui pengertian nyeri

Untuk mengetahui penyebab nyeri

Untuk mengetahui psikologi nyeri pada anak.

Untuk mengetahui klasifikasi nyeri.

Untuk mengetahui respon nyeri.

Untuk mengetahui intensitas nyeri.

Untuk mengetahui pengkajian nyeri pada anak.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Definisi Nyeri

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena
perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang
tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Berikut adalah
pendapat beberapa ahli mengenai pengertian nyeri:
International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak
menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

Mc. Coffery (1979) mendefinisikan, nyeri sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang yang
keberadaannya diketahui hanya jika orang tersebut pernah mengalaminya.

Wolf Weifsel Feurst (1974), mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik
dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan.

Arthur C. Curton (1983), nyeri merupakan suatu mekanisme produksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan
sedang dirusak dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeri.

Scrumum mengartikan nyeri sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya
rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis
dan emosional.

2. Penyebab Nyeri

1. Trauma:

a. Mekanik, Rasa nyeri timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan. misalnya akibat
benturan, gesekan, luka dan lain-lain.

b. Thermis, Nyeri timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas dan dingin. misal
karena api dan air.

c. Khemis, Timbul karena kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau basa kuat.

d. Elektrik, Timbul karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang
menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar.

2. Peradangan, Nyeri terjadi karena kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau
terjepit oleh pembengkakan. Misalnya : abses

3. Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah

4. Gangguan pada jaringan tubuh, misalnya karena edema akibat terjadinya penekanan pada reseptor
nyeri.

5. Tumor, dapat juga menekan pada reseptor nyeri.

6. Iskemi pada jaringan, misalnya terjadi blokade pada arteri koronaria yang menstimulasi reseptor nyeri
akibat tertumpuknya asam laktat.

7. Spasme otot, dapat menstimulasi mekanik.

3. Fisiologi nyeri
Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri yang
dimaksud adalah nociceptor. Merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki sedikit atau
bahkan tidak memiliki miyelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada viscera persendian,
dinding arteri, hati, dan kandung empadu. Reseptor nyeri dapat memberikan respon akibat adanya
stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa zat kimia seperti histamine, bradikinin,
prostaglandin, dan macam-macam asam yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan akibat
kekurangan oksigenasi. Stimulasi yang lain dapat berupa termal, listrik atau mekanis.

Selanjutnya stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut ditransmisikan berupa impuls-impuls
nyeri kesumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut yang bermyelin rapat atau serabut A (delta) dan
serabut lamban (serabut C). impuls-impuls yang ditransmisikan oleh serabut delta A mempunyai sifat
inhibitor yang ditransmisikan ke serabut C. serabut-serabut afferent masuk ke spinal melalui akar dorsal
(dorsal root) serta sinaps pada dorsal horn. Dorsal horn terdiri atas beberapa lapisan atau laminae yang
saling bertautan. Diantara lapisan dua dan tiga terbentuk substansia gelatinosa yang merupakan saluran
utama impuls. Kemudian, impuls nyeri menyebrangi sumsum tulang belakang pada interneuron dan
bersambung kejalur spinal asendens yang paling utama, yaitu jalur spinothalamic tract (STT) ata jalur
spinothalamus dan spinoreticular tract (SRT) yang membawa informasi tentang sifta dan lokasi nyeri.
Dari proses transmisi terdapat dua jalur mekanisme nyeri yaitu jalu opiate dan jalur nonopiate. Jalur
opiate ditandai oleh pertemuan reseptor pada otak yang terdiri atas jalur spinal desendens dari
thalamus yang melalui otak tengah dan medulla ketanduk dorsal dari sumsum tulang belakang yang
berkonduksi dengan nociceptor impuls supresif. Serotonin merupakan neurotransmitter dalam impuls
supresif. System supresif lebih mengaktifkan stimulasi nociceptor yang ditransmisikan oleh serabut A.
jalur nonopiate merupakan jalur desendens yang tidak memberikan respon terhadap naloxone yang
kurang banyak ddiketahui mekanismenya(Barbara C. Long, 1989).

4. KLASIFIKASI NYERI

1. Menurut tempatnya:

a. Periferal Pain

Superfisial Pain (Nyeri Permukaan)

Deep Pain (Nyeri Dalam)

Reffered Pain (Nyeri Alihan), nyeri yang dirasakan pada area yang bukan merupakan sumber nyerinya.

b. Central Pain, Terjadi karena perangsangan pada susunan saraf pusat, spinal cord, batang otak dan lain-
lain.

c. Psychogenic Pain, Nyeri dirasakan tanpa penyebab organik, tetapi akibat dari trauma psikologis.

d. Phantom Pain, Phantom Pain merupakan perasaan pada bagian tubuh yang sudah tak ada
lagi. contohnya pada amputasi, Phantom pain timbul akibat dari stimulasi dendrit yang berat
dibandingkan dengan stimulasi reseptor biasanya. Oleh karena itu, orang tersebut akan merasa nyeri
pada area yang telah diangkat.
e. Radiating Pain, Nyeri yang dirasakan pada sumbernya yang meluas ke jaringan sekitar.

f. nyeri somatis dan nyeri viseral

kedua nyeri ini umumnya bersumber dari kulit dan jaringan di bawah kulit (superfisial) pada otot dan
tulang.

Perbedaan nyeri somatis dan nyeri viseral

Karakteristik Nyeri somatis Nyeri viseral

Superfisial Dalam

Kualitas Tajam, menusuk, Tajam, tumpul, nyeri Tajam, tumpul, nyeri


membakar terus terus, kejang

Tidak Tidak Ya
Menjalar

Stimulasi
Torehan, abrasi terlalu Torehan, panas, iskemia Distensi, iskemia,
panas dan dingin pergeseran tempat spasmus, iritasi
kimiawi (tidak ada
torehan)

Tidak Ya Ya

Reaksi otonom Tidak Ya Ya

Refleks kontraksi otot

2. Menurut Sifatnya:

a. Insidentil : timbul sewaktu-waktu dan kemudian menghilang.

b. Steady : nyeri timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama.

c. Paroxysmal : nyeri dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali dan biasanya menetap 10 15 menit,
lalu menghilang dan kemudian timbul kembali.
d. Intractable Pain : nyeri yang resisten dengan diobati atau dikurangi. Contoh pada arthritis, pemberian
analgetik narkotik merupakan kontraindikasi akibat dari lamanya penyakit yang dapat mengakibatkan
kecanduan.

3. Menurut Berat Ringannya :

a. Nyeri ringan : dalam intensitas rendah

b. Nyeri sedang : menimbulkan suatu reaksi fisiologis dan psikologis

c. Nyeri Berat : dalam intensitas tinggi

4. Menurut Waktu Serangan nyeri:

1. Nyeri Akut

Nyeri akut biasanya berlangsung singkat, misalnya nyeri pada fraktur. Klien yang mengalami nyeri
akut baisanya menunjukkan gejala-gejala antara lain : perspirasi meningkat, Denyut jantung dan
Tekanan darah meningkat, dan pallor

2. Nyeri Kronis

Nyeri kronis berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan klien sering sulit
mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan.

Perbedaan karakteristik nyeri akut dan kronik:

Karakteristik Nyeri akut Nyeri kronik

Pengalaman satu kejadian Satu situasi, status eksistensi

Tidak diketahui atau


pengobatan yang terlalu lama
Sumber sebab eksternal atau
penyakit dari dalam Bisa mendadak, berkembang
dan terselubung

Lamanyna sampai hitungan


mendadak bulan, > 6bln
Serangan
Daerah nyeri sulit dibedakan
intensitasnya, sehingga sulit
dievaluasi (perubahan
Lamanya dalam hitungan perasaan)
Waktu menit
Pola respon yang bervariasi
Daerah nyeri tidak dengan sedikit gejala
Pernyataan nyeri diketahui dengan pasti (adaptasi)

Berlangsung terus, dapat


bervariasi
Pola respon yang khas
dengan gejala yang lebih Penderitaan meningkat setelah
Gejala-gejala klinis jelas beberapa saat

Terbatas
Pola

Biasanya berkurang
setelah beberapa saat
Perjalanan

5. Respon nyeri

a. Respon Psikologis

respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri
bagi klien. Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan,
persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya.

b. Respon fisiologis terhadap nyeri

Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)

1) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate

2) Peningkatan heart rate

3) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP

4) Peningkatan nilai gula darah

5) Diaphoresis

6) Peningkatan kekuatan otot

7) Dilatasi pupil

8) Penurunan motilitas GI

Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)

1) Muka pucat

2) Otot mengeras

3) Penurunan HR dan BP

4) Nafas cepat dan irreguler


5) Nausea dan vomitus

6) Kelelahan dan keletihan

Respon tingkah laku terhadap nyeri

1) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)

2) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)

3) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan

4) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial,
Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri) Individu yang mengalami nyeri
dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama
beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu
letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat
tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap
nyeri.

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:

a) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima), Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling
penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang
belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini
sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

b) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa), Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu
bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap
nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi
tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi
terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat
toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi
terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan
tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin
tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan
gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola
perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit
mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak
mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu
klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
c) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti), Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang
atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis,
sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri
berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat
berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan
nyeri berulang.

6. Faktor yang mempengaruhi respon nyeri

a) Usia

Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada
orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada
lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal
alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri
diperiksakan.

b) Jenis kelamin

Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri,
justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh
mengeluh nyeri).

c) Kultur

Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti
suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka
melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.

d) Makna nyeri

Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana
mengatasinya.

e) Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri.
Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan
upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery
merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.

f) Ansietas

Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.

g) Pengalaman masa lalu


Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul,
maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung
pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

h) Pola koping

Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang
maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.

i) Support keluarga dan sosial

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk
memperoleh dukungan dan perlindungan.

7. Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu,
pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas
yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda.
Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon
fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat
memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Menurut Smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :

skala intensitas nyeri

Keterangan :

0 :Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi

dengan baik.

4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,


menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah
dengan baik.

7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat

mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi

10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi

berkomunikasi, memukul

8. PENGKAJIAN NYERI

pengkajian pada masalah nyeri yang dapat dilakukan adalah adanya riwayat nyeri, keluhan nyeri
seperti lokasi nyeri, intensitas nyeri, kualitas dan waktu serangan.

Pengkajian dapat dilakukan dengan metode PQRST:


P(pemacu) yaitu faktor ynag mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri
Q(quality) dari nyeri, seperti apakah rasa tajam, tumpul atau tersayat.
R(region) yaitu daerah perjalanan nyeri
S(severity) adalah keparahan atau intensitas nyeri.
T(time) adalah lama atau waktu serangan atau frekuensi nyeri.

a. RIWAYAT KESEHATAN

Ada 4 kriteria yang harus di penuhi :

mudah mengerti dan digunakan

memerlukan sedikit upaya pada pihak pasien

mudah dinilai

sensitif terhadap perubahan kecil dalam identitas nyeri

b. PEMERIKSAAN FISIK

Informasi yg harus dikaji :

Intensitas nyeri

Karakteristik nyeri

Faktor-faktor yang meredakan nyeri

Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari

Kekhawatiran individu tentang nyeri


Respon fisiologik dan prilaku terhadap nyeri :

Indikator perilaku terhadap nyeri Mencakup pernyataan verbal, prilaku vokal, ekspresi wajah, gerakan
tubuh, kontrak fisik dg orang lain atau perubahan respon terhadap lingkungan.

Faktor yang mempengaruhi :

1. Pengalaman masa lalu

2. Ansietas & nyeri

3. Budaya & nyeri

4. Usia & nyeri

5. Efek plasebo

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Nyeri merupakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang bersifat sangat subyektif,
karena perasaan nyeri berbeda-beda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya
orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.

Nyeri dapat dikaji dengan menggunakan metode PQRST. P(pemacu) yaitu faktor ynag
mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri. Q(quality) dari nyeri, seperti apakah rasa tajam, tumpul atau
tersayat. R(region) yaitu daerah perjalanan nyeri. S(severity) adalah keparahan atau intensitas
nyeri. T(time) adalah lama atau waktu serangan atau frekuensi nyeri.

2. Saran

Evaluasi terhadap masalah nyeri dilakukan dengan menilai kemampuan dalam merespon
rangsangan nyeri, diantaranya hilangnya perasaan nyeri, menurunnya intensitas nyeri, adanya respons
fisiologis yang baik, dan pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa keluhan nyeri.
- See more at: http://nsyadi.blogspot.com/2011/12/konsep-nyeri.html#sthash.A9wRGumc.dpu

http://nsyadi.blogspot.com/2011/12/konsep-nyeri.html