Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transformator merupakan suatu alat listrik yang termasuk ke dalam klasifikasi
mesin listrik statis yang berfungsi menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi
ke tegangan rendah dan sebaliknya. Atau dapat juga diartikan mengubah tegangan arus
bolak-balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain melalui suatu gandengan magnet dan
berdasarkan prinsip-prinsip induksi-elektromagnet. Transformator terdiri atas sebuah inti,
yang terbuat dari besi berlapis dan dua buah kumparan, yaitu kumparan primer dan
kumparan sekunder.
Transformator Arus Adalah trafo yang digunakan untuk mengambil input data
masukan berupa besaran arus dengan cara perbandingan belitan pada belitan primer atau
sekunder. Trafo ini biasa digunakan untuk pengukuran tak langsung beban arus yang
mengalir ke pelanggan kemudian membatasinya. Selain itu bisa juga besaran arusnya
diambil sebagai input data masukan peralatan pengaman jaringan.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini penulis membatasi tentang Jenis-Jenis Transformator,
Konstruksi Transformator, Prinsip Kerja Transformator, Penyebab Gangguan Trafo, serta
Transformator Arus dan tidak membahas mengenai perhitungan dalam trafo arus baik itu
perhitungan burden dan perhitungan dalam pengujian trafo arus.

1.3 Tujuan
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami tentang
Transformator beserta jenis-jenisnya dan prinsip kerjanya. Serta dapat memahami
transformator arus beserta pengertian transformator arus serta fungsi, jenis-jenisnya.

1
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Mesin Listrik


Mesin listrik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesin listrik statis dan mesin
listrik dinamis. Mesin listrik statis adalah transformator, alat untuk mentransfer energi
listrik dari sisi primer ke sekunder dengan perubahan tegangan pada frekuensi yang sama.
Mesin listrik dinamis terdiri atas motor listrik dan generator. Motor listrik merupakan alat
untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik putaran. Generator merupakan
alat untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Anatomi keseluruhan mesin
listrik tampak pada Gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Peta jenis-jenis mesin listrik

2.2 Teori Transformator


Transformator merupakan suatu alat listrik yang termasuk ke dalam klasifikasi
mesin listrik static yang berfungsi menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi
ke tegangan rendah dan sebaliknya. Atau dapat juga diartikan mengubah tegangan arus
2
bolak-balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain melalui suatu gandengan magnet dan
berdasarkan prinsip-prinsip induksi-elektromagnet. Transformator terdiri atas sebuah inti,
yang terbuat dari besi berlapis dan dua buah kumparan, yaitu kumparan primer dan

kumparan sekunder.
Gambar 2.2 Bagan Transformator

Transformator digunakan secara luas, baik dalam bidang tenaga listrik maupun
elektronika. Penggunaan transformator dalam sistem tenaga listrik memungkinkan
terpilihnya tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan, misalnya
kebutuhan akan tegangan tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh.
Dasar teori dari transformator adalah apabila ada arus listrik bolak-balik yang
mengalir mengelilingi suatu inti besi maka inti besi itu akan berubah menjadi magnet dan
apabila magnet tersebut dikelilingi oleh suatu belitan maka pada kedua ujung belitan
tersebut akan terjadi beda tegangan mengelilingi magnet, sehingga akan timbul Gaya
Gerak Listrik (GGL).
Transformator yang dipakai pada jaringan tenaga listrik merupakan transformator
tenaga. Disamping itu ada jenis jenis transformator lain yang banyak dipergunakan, dan
yang pada umumnya merupakan transformator yang jauh lebih kecil. Misalnya
transformator yang dipakai di rumah tangga untuk menyesuaikan tegangan dari lemari es
dengan tegangan yang berasal dari jaringan listrik umum. Atau transformator yang lebih
kecil, yang dipakai pada lampu TL. Atau, lebih kecil lagi, transformator transformator
mini yang dipergunakan pada berbagai alat elektronik, seperti pesawat penerima radio,
televisi, dan lain sebagainya

3
2.3 Jenis - Jenis Transformator

2.3.1 Jenis Jenis Transformator Berdasarkan Level Tegangan


Trafo yang diklasifikasikan berdasarkan level tegangan ini merupakan trafo yang
paling umum dan sering kita gunakan. Pengklasfikasian ini pada dasarnya
tergantung pada rasio jumlah gulungan di kumparan Primer dengan jumlah
kumparan Sekundernya. Jenis Trafo berdasarkan Level tegangan ini diantaranya
adalah Trafo Step Up dan Trafo Step Down.

2.3.1.1 Trafo Step Up


Seperti namanya, Trafo Step Up adalah Trafo yang berfungsi untuk
menaikan taraf atau level tegangan AC dari rendah ke taraf yang lebih tinggi.
Tegangan Sekunder sebagai tegangan Output yang lebih tinggi dapat
ditingkatkan dengan cara memperbanyak jumlah lilitan di kumparan

sekundernya daripada jumlah lilitan di kumparan primernya. Pada pembangkit


listrik, Trafo jenis ini digunakan sebagai penghubung trafo generator ke grid.

2.3.1.2 Trafo Step Down


Trafo Step Down adalah Trafo yang digunakan untuk menurunkan taraf
level tegangan AC dari taraf yang tinggi ke taraf yang lebih rendah. Pada Trafo
Step Down ini, Rasio jumlah lilitan pada kumparan primer lebih banyak jika
dibandingkan dengan jumlah lilitan pada kumparan sekundernya. Di jaringan
Distribusi, transformator atau trafo step down ini biasanya digunakan untuk
mengubah tegangan grid yang tinggi menjadi tegangan rendah yang bisa
digunakan untuk peralatan rumah tangga. Sedangkan di rumah tangga, kita
sering menggunakannya untuk menurunkan taraf tegangan listrik yang berasal

4
dari PLN (220V) menjadi taraf tegangan yang sesuai dengan peralatan elektronik
kita.

2.3.2 Jenis-jenis Transformator berdasarkan Penggunaannya


Ada beberapa jenis trafo yang dikenal dan digunakan secara luas di masyarakat,
diantaranya adalah :

2.3.2.1 Trafo Daya


Adalah trafo yang biasa digunakan di GI baik itu GI baik itu GI Pembangkit
dan GI Distribusi dimana trafo tersebut memiliki kapasitas daya yang besar. Di
GI Pembangkit, trafo digunakan untuk menaikkan tegangan ke tegangan
transmisi/tinggi (150/500kV). Sedangkan di GI Distribusi, trafo digunakan
untuk menurunkan tegangan transmisi ke tegangan primer/menengah
(11,6/20kV).

Gambar 2.3.1 Trafo Daya


5
2.3.2.2 Trafo Distribusi
Adalah trafo yang digunakan untuk menurunkan tegangan menengah
(11,6/20kV) menjadi tegangan rendah (220/380V). Trafo ini tersebar luas di
lingkungan masyarakat dan mudah mengenalinya karena biasa dicantol di tiang.
Oleh karena itu, biasa juga disebut dengan gardu cantol. Dalam tulisan ini,
penulis hanya membahas tentang trafo ini saja.

Gambar 2.3.2 Trafo Distribusi 3 fasa

2.3.2.3 Trafo Tegangan ( Potensial Trafo )


Adalah trafo yang digunakan untuk mengambil input data masukan berupa
besaran tegangan dengan cara perbandingan belitan pada belitan primer atau
sekunder. Trafo ini biasa digunakan untuk pengukuran tak langsung beban yang
mengalir ke pelanggan kemudian membatasinya. Selain itu bisa juga besaran
tegangannya diambil sebagai input data masukan peralatan pengaman jaringan.

6
Gambar 2.3.3 Trafo Tegangan

2.3.2.4 Trafo Arus ( Current Trafo )


Adalah trafo yang digunakan untuk mengambil input data masukan berupa
besaran arus dengan cara perbandingan belitan pada belitan primer atau
sekunder. Trafo ini biasa digunakan untuk pengukuran tak langsung beban arus
yang mengalir ke pelanggan kemudian membatasinya. Selain itu bisa juga
besaran arusnya diambil sebagai input data masukan peralatan pengaman
jaringan.

Gambar 2.3.4 Trafo Arus

7
2.3.3 Jenis fasa Tegangan Transformator
Sebagaimana diketahui, bahwa fasa tegangan listrik yang umum digunakan adalah
tegangan satu fasa dan tegangan tiga fasa.

Berdasarkan ini dikenal 2 jenis transformator :


a. Transformator satu fasa, bila transformator digunakan untuk
memindahkan tenaga listrik satu fasa.
b. Transformator tiga fasa, bila transformator digunakan untuk
memindahkan tenaga listrik tiga fasa.

2.4 Konstruksi Transformator


Secara umum dapat dibedakan dua jenis transformator menurut konstruksinya,
yaitu:

2.4.1 Tipe Inti


Pada tipe inti terdapat dua kaki, dan masing-masing kaki dibelit oleh satu
kumparan.

Gambar 2.4.1 Konstruksi Transformator Tipe Inti

2.4.2 Tipe Cangkang


Pada tipe cangkang mempunyai tiga buah kaki, dan hanya kaki yang tengah-
tengah dibelit oleh kedua kumparan. Kedua kumparan dalam tipe cangkang
ini tidak tergabung secara elektrik, melainkan saling tergabung secara
magnetik melalui inti. Bagian datar dari inti dinamakan pemikul.

8
Gambar 2.4.2 Konstruksi Transformator Tipe Cangkang

2.5 Prinsip Kerja Transformator

Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah dan menyalurkan
energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian ke rangkaian listrik yang
lain melalui suatu gandengan megnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.
Transformator di gunakan secara luas baik dalam bidang tenaga listrik maupun
elektronika. Penggunaan transformator dalam sistem tenaga memungkinkan terpilihnya
tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan misalnya, kebutuhan
akan tegangan tinggi dalam pengiriman daya jarak jauh.

Transformator terdiri atas dua buah kumparan ( primer dan sekunder ) yang
bersifat induktif. Kedua kumparan ini terpisah secara elektrik namun berhubungan
secara magnetis melalui jalur yang memiliki reluktansi ( reluctance ) rendah. Apabila
kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik maka fluks
bolak-balik akan muncul di dalam inti yang dilaminasi, karena kumparan tersebut
membentuk jaringan tertutup maka mengalirlah arus primer. Akibat adanya fluks di
kumparan primer maka di kumparan primer terjadi induksi sendiri ( self induction )
dan terjadi pula induksi di kumparan sekunder karena pengaruh induksi dari kumparan
primer atau disebut sebagai induksi bersama ( mutual induction ) yang menyebabkan
timbulnya fluks magnet di kumparan sekunder, maka mengalirlah arus sekunder jika
rangkaian sekunder di bebani, sehingga energi listrik dapat ditransfer keseluruhan
(secara magnetisasi ).

d
e = (-) N (volt)......( 2.1 )
dt
9
Dimana :

e = gaya gerak listrik ( ggl ) [ volt ]

N = jumlah lilitan

d
= perubahan fluks magnet
dt

Perlu diingat bahwa hanya tegangan listrik arus bolak-balik yang dapat
ditransformasikan oleh transformator, sedangkan dalam bidang elektronika,
transformator digunakan sebagai gandengan impedansi antara sumber dan beban untuk
menghambat arus searah sambil tetap melakukan arus bolak-balik antara rangkaian.
Tujuan utama menggunakan inti pada transformator adalah untuk
mengurangi reluktansi ( tahanan magnetis ) dari rangkaian magnetis ( common
magnetic circuit )
2.5.1 Keadaan Transformator Tanpa Beban

Bila kumparan primer suatu transformator dihubungkan dengan sumber


tegangan V1 yang sinusoidal, akan mengalirkan arus primer I0 yang juga
sinusoid dan dengan menganggap belitan N1 reaktif murni. I0 akan tertinggal 900
dari V1. Arus primer I0 menimbulkan fluks ( ) yang sefasa dan juga berbentuk
sinusoid

= max sin t ........................................................... (2.2)

Fluks yang sinusoid ini akan menghasilkan tegangan. Induksi 1 ( Hukum Faraday
)
d
e1 = -N1
dt

d max sin t
e1 = -N1
dt

e1 = - N1 max cost (volt)................................................(2.3)

10
Dimana :

e1 = Gaya gerak listrik induksi

N1 = Jumlah belitan di sisi primer

= Kecepatan sudut putar

= Fluks magnet

Harga efektif :

- N 1 max
E1 =
2

- N1 2f max
E1 =
2

E1 = 4, 44 N1 f max (volt)....................................................(2.4)

Dimana :

E1 = Gaya geraqk listrik induksi (efektif)

N1 = Jumlah belitan di sisi primer

f = Frekuensi

= Fluks magnet

Bila rugi tahanan dan adanya fluksi adanya fluksi bocor di abaikan akan terdapat

hubungan

E1 V1 N1
= = = a ....................................................... (2.5)
E 2 V2 N 2

11
Dimana :

E1 = GGL induksi di sisi primer (volt)

E2 = GGL induksi di sisi sekunder (volt)

V1 = Tegangan terminal di sisi primer (volt)

V2 = Tegangan terminal di sisi sekunder (volt)

N1 = Jumlah belitan di sisi primer

N2 = Jumlah belitan di sisi sekunder

a = Faktor transformasi

2.5.2 Keadaan Berbeban

Apabila kumparan sekunder di hubungkan dengan beban ZL, I2 mengalir pada


kumparan sekunder, dimana I2 = V2 / ZL dengan 2 = faktor kerja beban

I1 I2

Gambar 2.5 Transformator dalam keadaan berbeban.

Arus beban I2 ini akan menimbulkan gaya gerak magnet ( ggm ) N2 I2 yang
cenderung menentang fluks ( ) bersama yang telah ada akibat arus pemagnetan
Im.
12
I2' I0 I2

Gambar 2.5.1 Pergerakan Fluks Didalam Inti Transformator

Agar fluks bersama itu tidak berubah nilainya, pada kumparan primer harus
mengalir arus I2, yang menentang fluks yang dibangkitkan oleh arus beban I2,
hingga keseluruhan arus yang mengalir pada kumparan primer menjadi :

I1 = I0 + I2' (ampere)..............................................................(2.6)

2.6 Penyebab Gangguan Trafo

2.6.1 Tegangan Lebih Akibat Petir


Gangguan ini terjadi akibat sambaran petir yang mengenai kawat phasa, sehingga
menimbulkan gelombang berjalan yang merambat melalui kawat phasa tersebut
dan menimbulkan gangguan pada trafo. Hal ini dapat terjadi karena arrester yang
terpasang tidak berfungsi dengan baik, akibat kerusakan peralatan/pentanahan
yang tidak ada. Pada kondisi normal, arrester akan mengalirkan arus bertegangan
lebih yang muncul akibat sambaran petir ke tanah. Tetapi apabila terjadi
kerusakan pada arrester, arus petir tersebut tidak akan dialirkan ke tanah oleh
arrester sehingga mengalir ke trafo. Jika tegangan lebih tersebut lebih besar dari
kemampuan isolasi trafo, maka tegangan lebih tersebut akan merusak lilitan trafo
dan mengakibatkan hubungan singkat antar lilitan.

13
2.6.2 Overload dan Beban Tidak Seimbang
Overload terjadi karena beban yang terpasang pada trafo melebihi kapasitas
maksimum yang dapat dipikul trafo dimana arus beban melebihi arus beban penuh
(full load) dari trafo.
Overload akan menyebabkan trafo menjadi panas dan kawat tidak sanggup lagi
menahan beban, sehingga timbul panas yang menyebabkan naiknya suhu lilitan
tersebut. Kenaikan ini menyebabkan rusaknya isolasi lilitan pada kumparan trafo.

2.6.3 Loss Contact Pada Terminal Bushing


Gangguan ini terjadi pada bushing trafo yang disebabkan terdapat kelonggaran
pada hubungan kawat phasa (kabel schoen) dengan terminal bushing. Hal ini
mengakibatkan tidak stabilnya aliran listrik yang diterima oleh trafo distribusi dan
dapat juga menimbulkan panas yang dapat menyebabkan kerusakan belitan trafo.

2.6.4 Isolator Bocor/Bushing Pecah


Gangguan akibat isolator bocor/bushing pecah dapat disebabkan oleh :

2.6.4.1 Flash Over


Flash Over dapat terjadi apabila muncul tegangan lebih pada jaringan
distribusi seperti pada saat terjadi sambaran petir/surja hubung. Bila besar surja
tegangan yang timbul menyamai atau melebihi ketahanan impuls isolator, maka
kemungkinan akan terjadi flash over pada bushing. Pada system 20 KV, ketahanan
impuls isolator adalah 160 kV. Flash over menyebabkan loncatan busur api antara
konduktor dengan bodi trafo sehingga mengakibatkan hubungan singkat phasa ke
tanah.

2.6.4.2 Bushing Kotor


Kotoran pada permukaan bushing dapat menyebabkan terbentuknya lapisan
penghantar di permukaan bushing. Kotoran ini dapat mengakibatkan jalannya arus
melalui permukaan bushing sehingga mencapai body trafo. Umumnya kotoran ini
tidak menjadi penghantar sampai endapan kotoran tersebut basah karena
hujan/embun.

14
2.6.5 Kegagalan Isolasi Minyak Trafo/Packing Bocor
Kegagalan isolasi minyak trafo dapat terjadi akibat penurunan kualitas minyak
trafo sehingga kekuatan dielektrisnya menurun. Hal ini disebabkan oleh :
1. Packing bocor, sehingga air masuk dan volume minyak trafo berkurang.
2. Karena umur minyak trafo sudah tua.

15
BAB III
TRANSFORMATOR ARUS

3.1 Pengertian Trafo Arus


Trafo Arus (Current Transformator) yaitu peralatan yang digunakan untuk
melakukan pengukuran besaran arus pada intalasi tenaga listrik disisi primer (TET, TT
dan TM) yang berskala besar dengan melakukan transformasi dari besaran arus yang
besar menjadi besaran arus yang kecil secara akurat dan teliti untuk keperluan
pengukuran dan proteksi.

Prinsip kerja trafo arus adalah sebagai berikut:

N1 N2
P2
P1
S1
I1 I2
S2

Gambar 3.1 Rangkaian pada Trafo Arus

Untuk trafo yang dihubung singkat : I1 N1 I 2 N 2

Untuk trafo pada kondisi tidak berbeban:

E1 N1

E2 N 2

Dimana :

N1
a ,
N2

I1 I 2 sehingga N1 N 2 ,

N1 jumlah lilitan primer, dan

16
N 2 jumlah lilitan sekunder.

Rangkaian Ekivalen

I1Z1 I2Z2

U1 I0 E2 I2 I2Zb = U2

Gambar 3.1.1 Rangkaian Ekivalen

Tegangan induksi pada sisi sekunder adalah :

E2 4,44 B A f N 2 Volt

Tegangan jepit rangkaian sekunder adalah:

E2 I 2 Z 2 Z b Volt

Z b Z kawat Z inst Volt

Dalam aplikasinya harus dipenuhi U1 U 2

Dimana: B kerapatan fluksi (tesla)

A luas penampang (m)

f frekuensi (Hz)

N2 jumlah lilitan sekunder

U1 tegangan sisi primer

U2 tegangan sisi sekunder

Zb impedansi/tahanan beban trafo arus

17
Z kawat impedansi/tahanan kawat dari terminasi CT ke instrumen

Z inst impedansi/tahanan internal instrumen, misalnya relai proteksi


atau peralatan meter.

Diagram Fasor Arus dan Tegangan pada Trafo Arus (CT)

U1 I1 Z1

I2 Z2
E
U2 IO I1

I2

IO

Im

Gambar 3.1.2 Diagram Fasor Arus dan Tegangan pada Trafo Arus

3.2 Fungsi Trafo Arus


Fungsi dari trafo arus adalah:
Mengkonversi besaran arus pada sistem tenaga listrik dari besaran primer
menjadi besaran sekunder untuk keperluan pengukuran sistem metering dan
proteksi
Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, sebagai pengamanan
terhadap manusia atau operator yang melakukan pengukuran.
Standarisasi besaran sekunder, untuk arus nominal 1 Amp dan 5 Amp

Secara fungsi trafo arus dibedakan menjadi dua yaitu:

3.2.1 Trafo arus pengukuran


o Trafo arus pengukuran untuk metering memiliki ketelitian tinggi pada
daerah kerja (daerah pengenalnya) 5% - 120% arus nominalnya tergantung

18
dari kelasnya dan tingkat kejenuhan yang relatif rendah dibandingkan trafo
arus untuk proteksi.
o Penggunaan trafo arus pengukuran untuk Amperemeter, Watt-meter,
VARh-meter, dan cos meter.

3.2.2 Trafo arus proteksi


Trafo arus untuk proteksi, memiliki ketelitian tinggi pada saat terjadi
gangguan dimana arus yang mengalir beberapa kali dari arus pengenalnya
dan tingkat kejenuhan cukup tinggi.
Penggunaan trafo arus proteksi untuk relai arus lebih (OCR dan GFR), relai
beban lebih, relai diferensial, relai daya dan relai jarak.
Perbedaan mendasar trafo arus pengukuran dan proteksi adalah pada titik
saturasinya seperti pada kurva saturasi dibawah (Gambar 3.2).
V
proteksi

pengukuran

Gambar 3.2 Kurva kejenuhan CT untuk Pengukuran dan Proteksi

Trafo arus untuk pengukuran dirancang supaya lebih cepat jenuh


dibandingkan trafo arus proteksi sehingga konstruksinya mempunyai luas
penampang inti yang lebih kecil (Gambar 3.2.1).

19
CT Pengukuran CT Proteksi
A2
A1

Gambar 3.2.1 Luas Penampang Inti Trafo Arus

3.3 Jenis Trafo Arus

3.3.1 Jenis trafo arus menurut tipe kontruksi dan pasangannya:

3.3.1.1 Tipe Konstruksi


Tipe cincin (ring / window type) Gbr. 1a dan 1b.
Tipe cor-coran cast resin (mounded cast resin type) Gbr. 2.
Tipe tangki minyak (oil tank type) Gbr. 3.
Tipe trafo arus bushing

3.3.1.2 Tipe Pasangan

Pasangan dalam (indoor)


Pasangan luar (outdoor)

3.3.2 Jenis trafo arus berdasarkan konstruksi belitan primer:

o Sisi primer batang (bar primary) dan

20
Gambar 1.6. Bar Primary

o Sisi tipe lilitan (wound primary).

Gambar 1.7 Wound Primary

3.3.3. Jenis trafo arus berdasarkan konstruksi jenis inti :

3.3.3.1 Trafo arus dengan inti besi


Trafo arus dengan inti besi adalah trafo arus yang umum digunakan,
pada arus yang kecil (jauh dibawah nilai nominal) terdapat
kecenderungan kesalahan dan pada arus yang besar (beberapa kali
nilai nominal) trafo arus akan mengalami saturasi.

21
3.3.3.2 Trafo arus tanpa inti besi
Trafo arus tanpa inti besi tidak memiliki saturasi dan rugi histerisis,
transformasi dari besaran primer ke besaran sekunder adalah linier di
seluruh jangkauan pengukuran, contohnya adalah koil rogowski (coil
rogowski)

3.3.4 Jenis trafo arus berdasarkan jenis isolasi


Berdasarkan jenis isolasinya, trafo arus dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

3.3.4.1 Trafo arus kering


Trafo arus kering biasanya digunakan pada tegangan rendah,
umumnya digunakan pada pasangan dalam ruangan (indoor).

3.3.4.2 Trafo arus Cast Resin


Trafo arus ini biasanya digunakan pada tegangan menengah,
umumnya digunakan pada pasangan dalam ruangan (indoor),
misalnya trafo arus tipe cincin yang digunakan pada kubikel
penyulang 20 kV.

3.3.4.3. Trafo arus isolasi minyak


Trafo arus isolasi minyak banyak digunakan pada pengukuran
arus tegangan tinggi, umumnya digunakan pada pasangan di luar
ruangan (outdoor) misalkan trafo arus tipe bushing yang
digunakan pada pengukuran arus penghantar tegangan 70 kV dan
150 kV.

3.3.4.4 Trafo arus isolasi SF6 / Compound


Trafo arus ini banyak digunakan pada pengukuran arus tegangan
tinggi, umumnya digunakan pada pasangan di luar ruangan
(outdoor) misalkan trafo arus tipe top-core.

22
3.3.5 Jenis trafo arus berdasarkan pemasangan
Berdasarkan lokasi pemasangannya, trafo arus dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
3.3.5.1 Trafo arus pemasangan luar ruangan (outdoor)
Trafo arus pemasangan luar ruangan memiliki konstruksi fisik
yang kokoh, isolasi yang baik, biasanya menggunakan isolasi
minyak untuk rangkaian elektrik internal dan bahan
keramik/porcelain untuk isolator ekternal.

Gambar 3.3.5 Trafo Arus Pemasangan Luar Ruangan

3.3.5.2 Trafo arus pemasangan dalam ruangan (indoor)


Trafo arus pemasangan dalam ruangan biasanya memiliki ukuran
yang lebih kecil dari pada trafo arus pemasangan luar ruangan,
menggunakan isolator dari bahan resin.

Gambar 3.3.5 Trafo Arus Pemasangan Dalam Ruangan

3.3.6 Jenis Trafo arus berdasarkan jumlah inti pada sekunder

23
3.3.6.1 Trafo arus dengan inti tunggal
Contoh: 150 300 / 5 A, 200 400 / 5 A, atau 300 600 / 1 A.

3.3.6.2 Trafo arus dengan inti banyak


Trafo arus dengan inti banyak dirancang untuk berbagai
keperluan yang mempunyai sifat pengunaan yang berbeda dan
untuk menghemat tempat.

Contoh:

Trafo arus 2 (dua) inti 150 300 / 5 5 A (Gambar XX).

Penandaan primer: P1-P2

Penandaan sekunder inti ke-1: 1S1-1S2 (untuk pengukuran)

Penandaan sekunder inti ke-2: 2S1-2S2 (untuk relai arus lebih)

P1 P2

300/5 A

300/5 A

1S1 1S2 2S1 2S2

Gambar 3.3.6.1 Trafo Arus dengan 2 Inti

Trafo arus 4 (empat) inti 800 1600 / 5 5 5 5 A (Gambar


3.3.6.2).

Penandaan primer: P1-P2

Penandaan sekunder inti ke-1: 1S1-1S2 (untuk pengukuran)

24
Penandaan sekunder inti ke-2: 2S1-2S2 (untuk relai arus lebih)

Penandaan sekunder inti ke-3: 3S1-3S2 (untuk relai jarak)

Penandaan sekunder inti ke-4: 4S1-4S2 (untuk proteksi rel)

Trafo arus 4 (empat) inti 800 1600 / 5 5 5 5 A

P1 P2

300/5 A

300/5 A

300/5 A
300/5 A

1S1 1S2 2S1 2S2 3S1 3S2 4S1 4S2

Gambar 3.3.6.2: Trafo Arus dengan 4 Inti

3.3.7 Jenis trafo arus berdasarkan pengenal


Trafo arus memiliki dua pengenal, yaitu pengenal primer dan sekunder.

Pengenal primer
Pengenal Primer yang biasanya dipakai adalah 150, 200, 300, 400, 600,
800, 900, 1000, 1200, 1600, 1800, 2000, 2500, 3000 dan 3600.

Pengenal sekunder
Pengenal Sekunder yang biasa dipakai adalah 1 dan 5 A.

Berdasarkan pengenalnya, trafo arus dapat dibagi menjadi:

3.3.7.1 Trafo arus dengan dua pengenal primer


o Primer seri
Contoh: CT 800 1600 / 1 A
Untuk hubungan primer seri, maka didapat rasio CT
25
800 / 1 A, lihat Gambar 3.3.7.a. berikut :

P1 P2 P1 P2

S1 S2 S1 S2

Gambar 3.3.7 a Gambar 3.3.7 b


Primer Paralel Primer Seri

CT rasio 1600 / 1 A CT rasio 800 / 1 A

o Primer paralel
Contoh: CT dengan rasio 800 1600 / 1 A
Untuk hubungan primer paralel, maka didapat rasio CT
1600 / 1 A, lihat Gambar 3.3.7.b.

3.3.7.2 Trafo arus multi rasio/sekunder tap


Trafo arus multi rasio memiliki rasio tap yang merupakan
kelipatan dari tap yang terkecil, umumnya trafo arus memiliki dua
rasio tap, namun ada juga yang memiliki lebih dari dua tap (lihat
Gambar 3.3.7.2 ).
Contoh:
Trafo arus dengan dua tap: 300 600 / 5 A
Pada Gambar 13.a., S1-S2 = 300 / 5 A, S1-S3 = 600 / 5 A.
Trafo arus dengan tiga tap: 150 300 600 / 5 A
Pada Gambar 13.b., S1-S2 = 150 / 5 A, S1-S3 = 300 / 5 A, S1-S4 =
600 / 5 A.

26
P1 P2 P1 P2

S1 S2 S3 S1 S2 S3 S4

Gambar 3.3.7.2 b
Gambar 3.3.7.2 a
CT Sekunder 3 Tap
CT Sekunder 2 Tap

3.4 Komponen Trafo Arus

3.4.1 Tipe cincin (ring / window type) dan Tipe cor-coran cast resin
(mounded cast resin type)

Gambar 3.4.1 CT tipe cincin

Gambar 3.4.1 Komponen CT tipe


27
cincin
Keterangan :
Terminal utama (primary terminal)
Terminal sekunder (secondary terminal).
Kumparan sekunder (secondary winding).

CT tipe cincin dan cor-coran cast resin biasanya digunakan pada


kubikel penyulang (tegangan 20 kV dan pemasangan indoor). Jenis
isolasi pada CT cincin adalah Cast Resin

3.4.2 Tipe Tangki

Gambar 3.4.2 Komponen CT tipe tangki

Komponen Trafo arus tipe tangki :


1. Bagian atas Trafo arus (transformator head).
2. Peredam perlawanan pemuaian minyak (oil resistant expansion
bellows).
3. Terminal utama (primary terminal).
4. Penjepit (clamps).

28
5. Inti kumparan dengan belitan berisolasi utama (core and coil
assembly with primary winding and main insulation).
6. Inti dengan kumparan sekunder (core with secondary windings).
7. Tangki (tank).
8. Tempat terminal (terminal box).
9. Plat untuk pentanahan (earthing plate).

Jenis isolasi pada trafo arus tipe tangki adalah minyak. Trafo arus isolasi
minyak banyak digunakan pada pengukuran arus tegangan tinggi,
umumnya digunakan pada pasangan di luar ruangan (outdoor) misalkan
trafo arus tipe bushing yang digunakan pada pengukuran arus penghantar
tegangan 70 kV, 150 kV dan 500 kV.

29
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Trafo arus yang digunakan untuk mengambil input data masukan berupa besaran
arus dengan cara perbandingan belitan pada belitan primer atau sekunder.
2. Sebuah trafo arus dikatakan bagus dan baik jika memiliki kekuatan isolasi yang kuat
dan baik untuk menahan arus yang besar.
3. Gangguan terjadi akibat sambaran petir yang mengenai kawat phasa, dapat
menimbulkan gelombang berjalan yang merambat melalui kawat phasa tersebut dan
menimbulkan gangguan pada trafo

4.2 Saran
1. Untuk menjaga keandalan system maka pada pemeliharaan Transformator Arus
(CT) harus dilakukan secara rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

30
DAFTAR PUSTAKA

[1] Agus F. Suyatno, Teknik Listrik Motor & generator Arus Bolak Balik, 1984
[2] Bakhtiar hasan, system proteksi system tenaga listrik, kuliah teknik elektro IKIP
bandung, 1989.
[3] Tim Pelatihan Operator Gardu Induk, 2002, Pengantar Teknik Tenaga Listrik, PT PLN
(Persero).
[4] Joko Prakoso, Isna (2010). Laporan Kerja Praktek Transformator Arus dan
Pemeliharaannya pada Gardu Induk 150 kV Srondol PT. PLN (PERSERO) P3B JB Region
Jawa Tengah dan DIY UPT Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro

31