Anda di halaman 1dari 74

BUPATI LOMBOK TIMUR

PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR


NOMOR 1 TAHUN 2013

TENTANG

KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH


KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 15 ayat (1) dan ayat
(2), Pasal 17 ayat (6), Pasal 21, Pasal 24 ayat (3), Pasal 25 ayat (7),
Pasal 27 ayat (3), dan Pasal 28 ayat (4) Peraturan Daerah
Kabupaten Lombok Timur Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, perlu menetapkan
Peraturan Bupati tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan
Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;

Mengingat : 1. Pasal 18 Ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah
Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa
Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 1655 );
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981
Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3029);
4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan
Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1997 Nomor 54, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3091) sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan
Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4048);
5. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4189);
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);
7. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5049);
8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata
Cara Penyitaan dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat
Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4049);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4593);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata
Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5161);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis
Pajak Daerah yang dipungut berdasarkan Penetapan Kepala
Daerah atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 153, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5179);
14. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 2 Tahun
2008 tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi
Kewenangan Pemerintahan Kabupaten Lombok Timur
(Lembaran Daerah Kabupaten Lombok Timur Tahun 2008
Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Lombok
Timur Nomor 1);
15. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 7 Tahun
2009 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah di
Kabupaten Lombok Timur (Lembaran Daerah Kabupaten
Lombok Timur Tahun 2009 Nomor 7, Tambahan Lembaran
Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 4);
16. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 12 Tahun
2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan (Lembaran Daerah Kabupaten Lombok Timur
Tahun 2012 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Lombok Timur Nomor 11).

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 12
TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
PERDESAAN DAN PERKOTAAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kabupaten Lombok Timur.
2. Bupati adalah Bupati Lombok Timur.
3. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset yang
selanjutnya disebut Dinas adalah Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten Lombok Timur
atau Dinas yang tugas pokok dan fungsinya di bidang
pendapatan dan pengelolaan keuangan Daerah.
4. Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset
yang selanjutnya disebut Kepala Dinas adalah Kepala Dinas
Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Kabupaten
Lombok Timur atau Kepala Dinas pada Dinas yang tugas
pokok dan fungsinya di bidang pendapatan dan pengelolaan
keuangan Daerah.
5. Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah
kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
peraturan perundang-undangan, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
6. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah
pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai,
dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan,
kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
7. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau Badan, meliputi
pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang
mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
daerah.
8. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan
Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang selanjutnya
disingkat SPPT PBB adalah surat yang digunakan untuk
memberitahukan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan yang terutang kepada Wajib Pajak.
9. Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD,
adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah
dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan
dengan cara lain ke kas umum daerah melalui tempat
pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
10. Utang Pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk
sanksi administratif berupa bunga, denda atau kenaikan yang
tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-udangan
perpajakan.
11. Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat
SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar
pencairan dana yang diterbitkan oleh Bendahara Umum
Daerah berdasarkan Surat Perintah Membayar.
12. Tempat Pembayaran adalah tempat yang ditetapkan Bupati
sebagai tempat pembayaran untuk menerima pembayaran Pajak
Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.
13. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah
yang ditentukan oleh Bupati untuk menampung seluruh
penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh
pengeluaran daerah.
14. Bank Persepsi adalah bank umum yang ditunjuk oleh Bupati
untuk menerima dan menatausahakan setoran penerimaan
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.
15. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan
mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang
dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan
suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan/atau tujuan
lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah.
16. Pemeriksa Pajak adalah Pegawai Negeri Sipil pemerintah
Kabupaten Lombok Timur atau Tenaga Ahli yang ditunjuk oleh
Bupati yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab
untuk melaksanakan pemeriksaan pajak.
17. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan
secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi
keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan
dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan
barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan
keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap
Tahun Pajak berakhir.
18. Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (Closing Conference)
adalah pembahasan yang dilakukan antara Pemeriksa Pajak
dan Wajib Pajak atas temuan selama pemeriksaan, dan hasil
bahasan temuan tersebut baik yang disetujui maupun yang
tidak disetujui dituangkan dalam Berita Acara Hasil
Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak dan
Wajib Pajak.
19. Kertas Kerja Pemeriksaan adalah catatan secara rinci dan jelas
yang diselenggarakan oleh Pemeriksa Pajak mengenai
prosedur pemeriksaan yang ditempuh, pengujian yang
dilakukan, bukti dan keterangan yang dikumpulkan dan
kesimpulan yang diambil sehubungan dengan pelaksanaan
pemeriksaan.
20. Bukti permulaan adalah keadaan dan/atau bukti-bukti, baik
berupa keterangan, tulisan, perbuatan, atau benda-benda
yang dapat memberikan petunjuk bahwa suatu tindak pidana
sedang atau telah terjadi yang dilakukan oleh Wajib Pajak
yang dapat menimbulkan kerugian pada Negara/Daerah.
21. Pemeriksaan bukti permulaan adalah pemeriksaan pajak
untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan
telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.
22. Tim Pembahas adalah tim yang dibentuk oleh Kepala Dinas
Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
Kabupaten Lombok Timur, bertugas untuk membahas
perbedaan antara pendapat Wajib Pajak dengan Hasil
Pembahasan atas Tanggapan Wajib Pajak oleh Tim Pemeriksa
Pajak.
23. Surat Ketetapan Pajak Daerah Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan yang selanjutnya disingkat SKPD
PBB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
besarnya jumlah pokok pajak yang terutang.
24. Surat Tagihan Pajak Daerah Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan,yang selanjutnya disingkat STPD
PBB, adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau
sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.
25. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang
membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau
kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang
terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak
Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, Surat
Ketetapan Pajak Daerah Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan
dan Perkotaan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, Surat
Tagihan Pajak Daerah Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan
dan Perkotaan, Surat Keputusan Pembetulan, atau Surat
Keputusan Keberatan.
26. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya
disingkat SKPDLB, adalah surat ketetapan pajak yang
menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena
jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang
atau seharusnya tidak terutang.
27. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas
keberatan terhadap Surat Pemberitahuan Pajak Terutang,
Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah
Lebih Bayar, atau terhadap pemotongan atau pemungutan
oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.
BAB II
RUANG LINGKUP

Pasal 2

Ruang lingkup pengaturan dalam Peraturan Bupati ini yaitu:


a. tata cara pendataan dan pelaporan Objek Pajak;
b. Tata cara penerbitan SPPT, SKPD, SKPDN;
c. tata cara pengisian dan penyampaian SPOP, SPPT, SKPD,
SKPDN;
d. tata cara pembayaran, penyetoran, angsuran dan penundaan
pembayaran pajak;
e. tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan;
f. tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif
dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak;
g. tata cara pengembalian kelebihan pembayaran pajak;
h. tata cara penghapusan piutang Pajak yang sudah
kadaluwarsa; dan
i. tata cara pemeriksaan Pajak.

BAB III
TATA CARA P E N D A F T A R A N , PENDATAAN DAN PENILAIAN
OBJEK PAJAK DAN SUBJEK PAJAK

Bagian kesatu
Pendaftaran

Pasal 3

(1) Pendaftaran objek pajak PBB-P2 dilakukan oleh subjek Pajak


dengan cara mengisi Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP)
dan Lampiran Surat Pemberitahuan Objek Pajak (LSPOP).
(2) SPOP dan LSPOP diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta
ditandatangani dan disampaikan ke Dinas, selambat-
lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya
SPOP oleh Subjek Pajak atau kuasanya.
(3) Formulir SPOP disediakan dan dapat diperoleh di Dinas atau
ditempat-tempat lain yang ditunjuk.

Bagian kedua
Pendataan

Pasal 4

(1) Pendataan subjek dan objek PBB-P2 dilakukan oleh Dinas


dengan menggunakan formulir SPOP dan LSPOP, dengan
ketentuan :
a. setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPOP dan LSPOP;
b. SPOP dan LSPOP sebagaimana pada huruf a, harus diisi
dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh
Wajib Pajak atau kuasanya disertai dengan lampiran-
lampiran yang diperlukan dan disampaikan kepada Dinas;
c. sepanjang tidak ada perubahan data objek pajak, subjek
pajak maupun Wajib Pajak maka data SPOP dan LSPOP
dapat digunakan untuk penetapan PBB-P2 tahun
selanjutnya; dan
d. bentuk, isi formulir, dan petunjuk pengisian SPOP dan
LSPOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
sebagamana tercantum dalam lampiran I (satu) yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan
Bupati ini;
(2) Pendataan subjek dan objek PBB-P2 sebagaimana dimaksud
dalam ayat dapat dilakukan dengan alternatif :
a. penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP,
adalah pendataan yang hanya dilaksanakan pada wilayah
desa yang belum mempunyai peta, merupakan wilayah
terpencil dan mempunyai potensi PBB-P2 relatif kecil,
penyebaran SPOP dilakukan alternatif secara perseorangan
berdasarkan sket/ peta blok yang ada kepada wajib pajak
atau kuasanya atau secara kolektif melalui aparat desa
dengan terlebih dahulu membuat sket / peta blok;
b. identifikasi objek pajak, adalah pendataan yang
dilaksanakan pada wilayah desa, sudah mempunyai peta
yang dapat menentukan posisi relatif objek pajak dan
merupakan hasil pendataan secara lengkap tiga tahun
terakhir tetapi belum mempunyai data administrasi PBB-
P2;
c. verifikasi data objek pajak, adalah pendataan yang
dilakukan pada wilayah desa yang sudah mempunyai peta
dan data administrasi PBB-P2 secara lengkap dalam tiga
tahun terakhir; dan
d. pengukuran bidang objek pajak, adalah pendataan yang
dilakukan pada wilayah desa yang hanya mempunyai sket
peta desa dan atau peta tetapi tidak dapat digunakan
untuk menentukan posisi relatif objek pajak.

Pasal 5

(1) Setiap objek pajak diberi NOP.


(2) Struktur NOP terdiri dari 18 (delapan belas) digit, dengan
urutan :
a. digit ke-1 dan ke-2 merupakan kode propinsi;
b. digit ke-3 dan ke-4 merupakan kode kabupaten;
c. digit ke-5 sampai dengan digit ke-7 merupakan kode
kecamatan;
d. digit ke-8 sampai dengan digit ke-10 merupakan kode
kelurahan/ desa;
e. digit ke-11 sampai dengan digit ke-13 merupakan kode
nomor urut blok;
f. digit ke-14 sampai dengan digit ke-17 merupakan kode
urut objek pajak; dan
g. digit ke-18 merupakan kode tanda khusus;
(3) Pemberian NOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.

Pasal 6

(1) Pendataan terhadap mutasi utuh tidak menghilangkan NOP


induk.
(2) Pendataan terhadap mutasi pecah, masing-masing penerima
pecahan mendapatkan NOP baru, sisa tanah tetap
menggunakan NOP lama.
(3) Pendataan terhadap mutasi pecah tanpa ada sisa maka NOP
diberikan kepada salah satu penerima mutasi pecah.
(4) Terhadap NOP yang hilang diberikan NOP baru.

Pasal 7

Persyaratan dikeluarkannya NOP :


a. melampirkan copy bukti kepemlikan (sertifikat) dan atau
penguasaan atau pemanfaatan;
b. surat keterangan kepemilikan, warisan, hibah dan sejenisnya
dari desa/ kelurahan yang diketahui oleh Camat; dan
c. mengisi formulir SPOP dan LSPOP disertai tanda tangan Wajib
Pajak atau kuasanya.

Bagian ketiga
Penilaian

Pasal 8
(1) Penilaian adalah kegiatan Dinas terhadap Objek PBB-P2
untuk menetapkan NJOP.
(2) Kegiatan penilaian dapat dilaksanakan melalui :
a. Penilaian massal, dimana nilai jual objek bumi dihitung
berdasarkan nilai indikasi rata-rata yang terdapat pada
setiap Zona Nilai Tanah (ZNT) sedangkan NJOP Bangunan
dihitung berdasarkan Daftar Biaya Komponen Bangunan
(DBKB); dan/ atau
b. Penilaian individu diterapkan pada objek umum yang
bernilai tinggi atau objek pajak khusus.
(3) Objek Pajak yang dinilai dalam kegiatan penilaian terdiri atas:
a. Objek Pajak standar yaitu Objek Pajak dengan kriteria luas
tanah paling banyak 5.000 m2 (lima ribu meter persegi),
jumlah lantai bangunan paling banyak 3 dan luas
bangunan paling banyak 1.000 m2 (seribu meter
persegi);dan
b. Objek Pajak non standar adalah Objek Pajak dengan
kriteria luas tanah lebih dari 5.000 m2 (lima ribu meter
persegi), jumlah lantai bangunan lebih dari 3 dan luas
bangunan lebih dari 1.000 m2 (seribu meter persegi).
(4) Kegiatan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan dengan tiga pendekatan penilaian, meliputi :
a. pendekatan data pasar;
b. pendekatan biaya; dan/ atau
c. pendekatan kapitalisasi pendapatan.
(5) Penilaian dengan pendekatan data pasar dilakukan dengan
objek pajak lain yang sejenis yang nilai jualnya sudah
diketahui dengan melakukan beberapa penyesuaian.
(6) Penilaian dengan pendekatan biaya dilakukan untuk penilaian
bangunan dengan cara memperhitungkan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk membangun baru dikurangi dengan
penyusutan.
(7) Pendekatan kapitalisasi pendapatan dilakukan pada objek-
objek yang menghasilkan (komersil) dengan cara menghitung
atau memproyeksikan seluruh pendapatan atau sewa dalam
satu tahun terhadap objek pajak dikurangi dengan
kekosongan, biaya operasional, dan hak pengusaha.
(8) Pelaksanaan kegiatan teknis penilaian menjadi kewenangan
Kepala Dinas.
(9) Dalam melakukan kegiatan pendaftaran, pendataan, dan
penilaian Objek dan Subjek Pajak dalam rangka pembentukan
dan/atau pemeliharaan basis data, Dinas dapat bekerja sama
dengan Kantor Pertanahan, dan/atau instansi lain yang
terkait.
(10) Pendataan dan penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan
Bangunan dalam rangka pembentukan dan/atau
pemeliharaan basis data dapat dilakukan oleh pihak ketiga
yang memenuhi persyaratan teknis yang ditentukan dan
ditunjuk oleh Dinas.
BAB IV
TATA CARA PENERBITAN SPPT, SKPD, DAN SKPDN

Pasal 9

(1) SPPT diterbitkan pada setiap tahun pajak.


(2) Penerbitan SPPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didasarkan pada SPOP.
(3) SPOP disampaikan oleh wajib pajak kepada Bupati melalui
Kepala Dinas paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah
tanggal diterimanya SPOP oleh wajib pajak.
(4) Penerbitan SPPT dilakukan oleh Kepala Dinas.

Pasal 10

(1) Penerbitan SPPT dilakukan secara massal atau secara


individual.
(2) Penerbitan SPPT secara massal dilaksanakan pada awal
tahun pajak untuk semua objek pajak.
(3) Penerbitan SPPT secara individual dilakukan atas
permohonan wajib pajak.

Pasal 11

SPPT secara individual dapat berbentuk:


a. salinan SPPT;
b. SPPT Objek Pajak Baru;
c. SPPT Mutasi; atau
d. SPPT Pembetulan.

Pasal 12

SPPT bukan merupakan bukti kepemilikan hak atas tanah dan/


atau bangunan.

Pasal 13

Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, isi, dan petunjuk


pengisian SPPT diatur oleh Kepala Dinas.

Pasal 14

Salinan SPPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf


a diterbitkan apabila SPPT wajib pajak rusak atau hilang.

Pasal 15

(1) SPPT Objek Pajak Baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal


11 huruf b diterbitkan apabila dilakukan pendaftaran objek
pajak baru yang belum terdaftar pada administrasi Dinas.
(2) Kondisi Objek Pajak belum terdaftar pada administrasi
Dinas disebabkan karena:
a. adanya perubahan alam;
b. adanya perubahan peruntukan objek pajak yang menjadi
kewenangan Pemerintah Pusat; atau
c. adanya perubahan administrasi pemerintahan.

Pasal 16

SPPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) diterbitkan


sesuai dengan tahun perolehan hak.

Pasal 17

(1) SPPT mutasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf


c diterbitkan apabila terdapat perubahan data objek pajak
dan/atau subjek pajak.
(2) Perubahan data objek pajak disebabkan adanya
pemecahan dan/atau penggabungan objek pajak.
(3) Perubahan data subjek pajak disebabkan adanya peralihan
hak antara lain karena waris, jual beli, atau hibah.

Pasal 18

SPPT pembetulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf


d diterbitkan apabila terdapat kesalahan tulis, kesalahan
hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

Pasal 19

Kepala Dinas atas permohonan wajib pajak dapat menerbitkan


Surat Keterangan NJOP apabila SPPT dalam tahun pajak berjalan
belum diterbitkan.
Pasal 20

(1) Kepala Dinas atas permohonan wajib pajak dapat


membatalkan ketetapan SPPT sebagai akibat dari penerbitan
SPPT yang tidak benar.
(2) Penerbitan SPPT yang tidak benar sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) disebabkan antara lain:
a. SPPT ganda;
b. objek pajak tidak ada;
c. objek pajak/subjek pajak yang dinyatakan batal demi
hukum; dan/atau
d. penetapan sebagai wajib pajak atas suatu objek pajak
yang belum diketahui wajib pajaknya.
Pasal 21
(1) SPPT ditandatangani Kepala Dinas dalam bentuk:
a. tanda tangan basah;
b. cap tanda tangan; atau
c. cetakan tanda tangan.
(2) Penandatanganan SPPT yang diterbitkan secara massal
dilakukan dengan:
a. cap tanda tangan atau cetakan tanda tangan untuk
objek pajak dengan ketetapan pajak sampai dengan Rp.
2.000.000,00 (dua juta rupiah); dan
b. tanda tangan basah untuk objek pajak dengan ketetapan
pajak lebih dari Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah).
(3) Penandatanganan SPPT yang diterbitkan secara individual
dapat dilakukan dengan:
a. cap tanda tangan atau cetakan tanda tangan untuk
objek pajak dengan ketetapan pajak sampai dengan Rp.
500.000,00 (lima ratus ribu rupiah); dan
b. tanda tangan basah untuk objek pajak dengan ketetapan
pajak lebih dari Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).
Pasal 22
(1) SPPT yang diterbitkan disampaikan secara langsung kepada
Wajib Pajak atau dapat melalui petugas tingkat kecamatan,
desa/kelurahan, dusun/ lingkungan.
(2) Wajib pajak menandatangani tanda bukti penerimaan SPPT
dan mencantumkan tanggal diterimanya SPPT tersebut.
Pasal 23
(1) Tanggal jatuh tempo pembayaran pajak yang terutang
ditentukan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan
sejak diterimanya SPPT.
(2) Tanggal jatuh tempo pembayaran pajak yang terutang
dituangkan dalam SPPT.

BAB V
TATA CARA PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN
SPOP, SPPT, SKPD, DAN SKPDN

Pasal 24

Wajib pajak mengajukan permohonan penerbitan SPPT secara


individual, surat keterangan NJOP, dan pembatalan ketetapan
SPPT secara tertulis kepada Bupati melalui Kepala Dinas dengan
mengisi formulir yang telah disediakan.
Pasal 25

Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dilampiri


dengan persyaratan administrasi sebagai berikut:
a. penerbitan SPPT secara indiviual:
1. salinan SPPT:
a) fotokopi identitas pemohon;
b) surat kuasa bagi yang diberi kuasa;
c) Fotokopi SPPT tahun sebelumnya;
d) Surat keterangan SPPT rusak atau hilang dari
Kepala Desa setempat;
e) Bukti pembayaran PBB 5 (lima) tahun sebelumnya.

2. SPPT objek pajak baru:


a) fotokopi identitas pemohon;
b) surat kuasa bagi yang diberi kuasa;
c) SPOP yang telah diisi dengan benar, jelas,
lengkap dan ditandatangani oleh wajib pajak atau
kuasanya;
d) fotokopi bukti kepemilikan hak atas tanah;
e) denah lokasi objek pajak yang berbatasan langsung;
f) surat keterangan dari pihak yang berwenang mengenai
alasan/penyebab pendaftaran objek pajak baru;
g) surat pengantar dari Kepala Desa setempat.

3. SPPT mutasi objek/subjek pajak:


a) fotokopi identitas pemohon;
b) surat kuasa bagi yang diberi kuasa;
c) SPOP yang telah diisi dengan benar, jelas,
lengkap dan ditandatangani oleh wajib pajak atau
kuasanya;
d) fotokopi SPPT tahun pajak yang bersangkutan dan
bukti pelunasan pajak 5 (lima) tahun terakhir;
e) fotokopi bukti kepemilikan hak atas tanah;
f) fotokopi dokumen perolehan hak;
g) denah lokasi objek pajak yang berbatasan langsung;
h) SSPD BPHTB yang sudah divalidasi.

4. SPPT pembetulan:
a) fotokopi identitas pemohon;
b) surat kuasa bagi yang diberi kuasa;
c) SPOP yang telah diisi dengan benar, jelas,
lengkap dan ditandatangani oleh wajib pajak atau
kuasanya;
d) SPPT asli tahun pajak yang bersangkutan dan bukti
pelunasan pajak 5 (lima) tahun terakhir; dan
e) fotokopi bukti kepemilikan hak atas tanah.
b. surat keterangan NJOP:
1. fotokopi identitas pemohon;
2. surat kuasa bagi yang diberi kuasa;
3. fotokopi bukti kepemilikan hak atas tanah;
4. fotokopi SPPT tahun sebelumnya dan bukti pelunasan
pajak 5 (lima) tahun terakhir.

c. pembatalan ketetapan SPPT:


1. fotokopi identitas pemohon;
2. surat kuasa bagi yang diberi kuasa;
3. SPPT asli tahun yang bersangkutan;
4. surat pengantar dari Kepala Desa setempat.

Pasal 26

(1) Dinas melakukan pemeriksaan berkas permohonan paling


lama 5 (lima) hari kerja sejak tanggal diterimanya berkas
permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.

(2) Dinas dalam melaksanakan pemeriksaan berkas permohonan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan
peninjauan ke lokasi dan/atau meminta dokumen penunjang
selain yang dipersyaratkan.

(3) Hasil pemeriksaan sebagaimana dimaskud pada ayat (1)


digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan Kepala
Dinas untuk mengabulkan atau menolak permohonan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.

(4) Keputusan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada


ayat (3) diberikan:

a. paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal diterimanya


permohonan secara lengkap dan benar bagi permohonan
salinan SPPT dan surat keterangan NJOP;
b. paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya
permohonan secara lengkap dan benar bagi permohonan
pendaftaran objek pajak baru;
c. paling lama 5 (lima) hari kerja sejak tanggal diterimanya
permohonan secara lengkap dan benar bagi
permohonan mutasi objek pajak/subjek pajak, dan
pembetulan SPPT;
d. paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya
permohonan secara lengkap dan benar bagi permohonan
pembatalan SPPT.

(5) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada


ayat (4) telah terlampaui dan tidak ada suatu keputusan,
maka permohonan dianggap dikabulkan.
Pasal 27

(1) Dalam hal Keputusan Kepala Dinas mengabulkan


permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3)
digunakan sebagai dasar:
a. pembenahan/pemutakhiran basis data pajak pada Dinas;
b. penerbitan SPPT secara individual.
(2) Keputusan Kepala Dinas mengabulkan permohonan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (4) huruf a,
diwujudkan dalam bentuk penerbitan salinan SPPT atau
surat keterangan NJOP.
(3) Kepala Dinas mengabulkan permohonan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (4) huruf b, huruf c, dan
huruf d ditetapkan dengan keputusan Kepala Dinas.

Pasal 28
Kepala Dinas dapat menerbitkan SKPD dalam hal-hal sebagai
berikut:
a. SPOP tidak disampaikan wajib pajak dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari dan setelah wajib pajak ditegur secara
tertulis oleh Kepala Dinas; atau
b. berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata
jumlah pajak yang terutang lebih besar dari jumlah pajak
yang dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh wajib
pajak.
Pasal 29
(1) Penerbitan SKPD dalam hal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 huruf a dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari
setelah tanggal surat teguran diterima wajib pajak.
(2) Penerbitan SKPD dalam hal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 uruf b didasarkan laporan hasil pemeriksaan kantor
atau lapangan yang dilakukan oleh Dinas.

Pasal 30
Penandatanganan SKPD dilakukan oleh Kepala Dinas dengan
tanda tangan basah.
Pasal 31
SKPD disampaikan kepada wajib pajak secara langsung atau
dapat melalui petugas tingkat kecamatan, desa/kelurahan,
dusun/lingkungan.

Pasal 32
(1) Tanggal jatuh tempo pembayaran pajak yang terutang
ditentukan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan
sejak diterbitkan SKPD.
(2) Tanggal jatuh tempo pembayaran pajak yang terutang
dituangkan dalam SKPD.
BAB VI
TATA CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN ANGSURAN, DAN
PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK

Bagian Kesatu
Pembayaran

Pasal 33

Pajak yang terutang berdasarkan SPPT harus dilunasi paling lama


6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh wajib pajak.

Pasal 34

(1) Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran


pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari
libur nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat
dilakukan pada hari kerja berikutnya.
(2) Hari libur nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan
Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara
nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah, termasuk pula hari
libur dalam rangka penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah.

Pasal 35
Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
dapat dilakukan ke Kas Umum Daerah, melalui Petugas Pemungut,
Petugas Penerima Setoran (PPS) PBB Kecamatan, Bendahara
Penerimaan Dinas, Petugas Online Payment System (OPS), atau
tempat pembayaran lain yang ditunjuk dengan menggunakan
SPPT, SKPD dan STPD.

Pasal 36

(1) Wajib Pajak yang melakukan pembayaran melalui Petugas


Pemungut memperoleh Tanda Terima Sementara (TTS) dan
pembayaran diangap sah apabila Wajib Pajak telah menerima
SSPD sebagai pengganti TTS dari petugas pemungut.;
(2) SSPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) divalidasi/ dicap
oleh pejabat yang berwenang, aslinya disertai SPPT
dikembalikan ke Wajib Pajak yang bersangkutan.
(3) SSPD dibuat rangkap 4 (empat) yang terdiri dari :
a. lembar ke-1 diberikan kepada Wajib Pajak;
b. lembar ke-2 dan ke-3 diberikan kepada Kas Umum Daerah;
c. lembar ke-4 untuk petugas penerima setoran.
Bagian Kedua
Penyetoran

Pasal 37

(1) Petugas Pemungut dalam waktu 1 x 24 jam wajib menyetorkan


hasil pungutan PBB-P2 kepada Petugas Penerima Setoran
Kecamatan.
(2) Penyetoran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan oleh Petugas Penerima Setoran Kecamatan
dilakukan ke Kas Umum Daerah paling lama 7 (tujuh) hari
sejak diterima dari Petugas Pemungut maupun dari Wajib
Pajak dengan menggunakan Daftar Penerimaan Harian (DPH).
(3) Apabila waktu penyetoran bertepatan dengan hari libur, maka
penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya.
(4) Bank pemegang Kas Umum Daerah mencatat penerimaan
PBB-P2 dalam rekening penerimaan daerah.
(5) Bank pemegang Kas Umum Daerah melaporkan penerimaan
PBB-P2 kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas setiap hari
Senin pada minggu berikutnya setelah PPS Kecamatan
menyetor penerimaan PBB-P2 dengan melampiri SSPD lembar
ke-3.

Bagian Ketiga
Angsuran

Pasal 38
(1) Wajib Pajak dapat mengajukan Surat Permohonan Angsuran
Pembayaran secara tertulis untuk mengangsur pembayaran
pajak yang masih harus dibayar kepada Bupati melalui Kepala
Dinas.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus
diajukan paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah SPPT
diterima Wajib Pajak disertai alasan dan jumlah pembayaran
yang dimohon untuk diangsur.
(3) Apabila batas waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak
karena keadaan di luar kekuasaannya, permohonan Wajib
Pajak masih dapat dipertimbangkan oleh Kepala Dinas
sepanjang Wajib Pajak dapat membuktikan kebenaran
keadaan di luar kuasanya tersebut.
(4) Bentuk format surat permohonan angsuran pembayaran oleh
wajib pajak adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran
III dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Bupati ini.
Pasal 39

(1) Atas dasar Surat Permohonan Angsuran dari Wajib Pajak,


Kepala Dinas menugaskan Staf terkait untuk melakukan
penelitian sebagai bahan pertimbangan disetujui atau
tidaknya permohonan angsuran.
(2) Berdasarkan hasil pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Kepala Dinas atas nama Bupati menerbitkan Keputusan
berupa menerima seluruhnya, sebagian atau penolakan dalam
jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak berkas
permohonan diterima dengan lengkap.
(3) Terhadap utang pajak yang telah diterbitkan Keputusan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), tidak dapat
lagi diajukan permohonan untuk mengangsur pembayaran.
(4) Wajib Pajak yang masih punya tunggakan utang pajak tahun
sebelumnya, tidak dapat mengajukan angsuran pembayaran.
(5) Masa angsuran utang pajak tidak melebihi jangka waktu 12
(dua belas) bulan.
(6) Bentuk format Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) tercantum dalam Lampiran V dan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.

Bagian Keempat
Penundaan Pembayaran

Pasal 40

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan Surat Permohonan Penundaan


Pembayaran secara tertulis untuk menunda pembayaran
pajak yang masih harus dibayar kepada Bupati melalui Kepala
Dinas.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus


diajukan paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah SPPT
diterima Wajib Pajak dengan disertai alasan penundaan.

(3) Apabila batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak karena keadaan di luar
kekuasaannya, permohonan Wajib Pajak masih dapat
dipertimbangkan oleh Kepala Dinas sepanjang Wajib Pajak
dapat membuktikan kebenaran keadaan di luar kekuasaannya
tersebut.

(4) Bentuk format permohonan penundaan pembayaran oleh


wajib pajak adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran
IV dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Bupati ini.
Pasal 41
(1) Atas dasar Surat Permohonan Penundaan, Kepala Dinas
menugaskan Staf terkait untuk melakukan penelitian sebagai
bahan pertimbangan disetujui atau tidaknya permohonan
penundaan;
(2) Berdasarkan hasil pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Kepala Dinas menerbitkan Keputusan berupa
menerima atau penolakan dalam jangka waktu 14 (empat
belas) hari kerja sejak berkas permohonan diterima dengan
lengkap.
(3) Terhadap utang pajak yang telah diterbitkan Keputusan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tidak dapat lagi
diajukan permohonan untuk menunda pembayaran.
(4) Wajib Pajak yang masih punya tunggakan utang pajak tahun
sebelumnya, tidak dapat mengajukan penundaan
pembayaran.
(5) Masa penundaan utang pajak tidak melebihi jangka waktu 12
(dua belas) bulan.
(6) Bentuk format Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) tercantum dalam Lampiran VI dan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.

BAB VII
TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN

Pasal 42
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan kepada Bupati melalui
Kepala Dinas atas:
a. SPPT PBB;
b. SKPD PBB; dan
c. SKPDLB PBB.
Pasal 43
(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 42 jika:
a. wajib pajak berpendapat bahwa luas objek pajak bumi
dan/atau bangunan atau nilai jual objek pajak bumi
dan/atau bangunan tidak sebagaimana mestinya;
dan/atau
b. terdapat perbedaan penafsiran peraturan perundang-
undangan PBB.
(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
diajukan secara :
a. perorangan atau kolektif untuk SPPT PBB; atau
b. perorangan untuk SKPD PBB dan SKPDLB PBB.
Pasal 44
(1) Pengajuan keberatan SPPT PBB secara kolektif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) huruf a dilakukan untuk
setiap SPPT PBB yang bernilai sampai dengan Rp. 500.000,00
(lima ratus ribu rupiah) diajukan secara tertulis kepada Bupati
melalui Kepala Dinas dengan melampirkan persyaratan
sebagai berikut:
a. asli SPPT PBB, SKPD PBB, SKPDLB PBB yang diajukan
keberatan; dan
b. surat keterangan Lurah/ Kepala Desa setempat.
(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya
SPPT PBB, SKPD PBB, dan SKPDLB PBB, kecuali apabila
Wajib Pajak atau kuasanya dapat menunjukkan bahwa jangka
waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar
kekuasaannya.
(3) Surat Keberatan yang diajukan harus ditandatangani oleh
Wajib Pajak atau kuasa yang ditunjuk.
(4) Dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh Kuasa yang
ditunjuk Wajib Pajak, maka harus dilampiri dengan:
a. surat kuasa, untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB
yang terutang lebih dari Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu
rupiah);
b. surat kuasa, untuk Wajib Pajak Badan.

Pasal 45
(1) Pengajuan keberatan untuk SPPT PBB secara perorangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) huruf a
dilakukan untuk setiap SPPT PBB lebih dari Rp. 500.000,00
(lima ratus ribu rupiah).
(2) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diajukan secara tertulis kepada Bupati melalui Kepala Dinas
dengan melampirkan persyaratan sebagai berikut :

a. asli SPPT PBB yang diajukan keberatan;


b. penghitungan jumlah PBB yang terutang menurut Wajib
Pajak disertai dengan alasan yang mendukung pengajuan
keberatannya;
c. fotocopy identitas Wajib Pajak dan fotocopy identitas kuasa
Wajib Pajak dalam hal dikuasakan;
d. fotocopy bukti kepemilikan tanah dan sejenisnya;
e. fotocopy Izin Mendirikan Bangunan atau surat keterangan
dari Lurah/ Kepala Desa setempat; dan
f. fotocopy pembayaran rekening listrik bulan terakhir.
(3) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya
SPPT PBB, kecuali apabila Wajib Pajak melalui Lurah/ Kepala
Desa setempat dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu
tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
(4) Tanggal Penerimaan surat keberatan yang dijadikan dasar
untuk memproses surat keberatan adalah :
a. tanggal terima surat keberatan, dalam hal disampaikan
secara langsung oleh Wajib Pajak atau kuasanya kepada
Dinas; atau
b. tanggal tanda pengiriman surat keberatan, dalam hal
disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman surat.

Pasal 46
(1) Pengajuan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 atau Pasal 45,
dianggap bukan sebagai surat keberatan sehingga tidak dapat
dipertimbangkan.
(2) Dalam hal pengajuan keberatan tidak dapat dipertimbangkan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Wajib Pajak masih
dapat mengajukan keberatan kembali sepanjang memenuhi
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2)
atau Pasal 45 ayat (3).

Pasal 47
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar PBB
yang terutang dan pelaksanaan penagihannya.

Pasal 48
Keputusan atas pengajuan keberatan SPPT PBB, SKPD PBB, dan
SKPDLB PBB diberikan oleh :
a. Kepala Dinas, dalam hal jumlah PBB yang terutang bernilai
sampai dengan Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah); dan
b. Bupati, dalam hal jumlah PBB yang terutang lebih dari
Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 49
(1) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ditetapkan
berdasarkan hasil penelitian pada Dinas dan apabila
diperlukan, dapat dilanjutkan dengan penelitian di lapangan.
(2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
berdasarkan surat tugas dan hasilnya dituangkan dalam
laporan hasil penelitian.
(3) Dalam hal dilakukan penelitian di lapangan, Kepala Dinas
terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis mengenai
waktu pelaksanaan penelitian di lapangan kepada Wajib
Pajak.
(4) Dalam hal kewenangan memberikan keputusan berada pada
Kepala Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf
a, penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh Dinas.

Pasal 50

(1) Keputusan Kepala Dinas atas pengajuan keberatan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 48 huruf a disertai laporan hasil penelitian
keberatan diberikan paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal
diterimanya Surat Keberatan.
(2) Kepala Dinas meneruskan berkas pengajuan Keberatan
kepada Bupati a ta s pe nga ju an keb e rata n sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 48 huruf b dalam jangka waktu
paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak tanggal
diterimanya Surat Keberatan.

Pasal 51

(1) Bupati sesuai kewenangannya dalam jangka waktu paling


lama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal
diterimanya surat keberatan, harus memberikan keputusan
atas pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 48 huruf b.
(2) Keputusan Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau
menambah besarnya jumlah PBB yang terutang.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
telah terlampaui dan Keputusan belum diterbitkan, pengajuan
Keberatan dianggap dikabulkan dan diterbitkan Keputusan
sesuai dengan pengajuan Wajib Pajak dalam jangka waktu
paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak jangka waktu
dimaksud berakhir.
(4) Dalam hal Keputusan keberatan menyebabkan perubahan
data dalam SPPT PBB, SKPD PBB, dan SKPDLB PBB, Dinas
menerbitkan SPPT PBB, SKPD PBB, SKPDLB PBB baru
berdasarkan keputusan Keberatan tanpa mengubah saat jatuh
tempo pembayaran.
(5) SPPT PBB, SKPD PBB, SKPDLB PBB baru sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) tidak bisa diajukan Keberatan.

Pasal 52

Bentuk formulir yang digunakan dalam rangka pengajuan dan


penyelesaian keberatan PBB ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala
Dinas.
BAB VIII
TATA CARA PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN
SANKSI ADMINISTRATIF DAN PENGURANGAN ATAU
PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK

Pasal 53

(1) Bupati karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak


dapat mengurangi atau membatalkan SPPT PBB, SKPD PBB
atau STPD PBB.
(2) Pengurangan atau pembatalan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diberikan kepada Wajib Pajak dalam hal penerbitan
SPPT PBB, SKPD PBB atau STPD PBB memang tidak benar.
(3) Permohonan pembatalan SPPT PBB, SKPD PBB atau SPTD
PBB yang tidak benar sebagaimana dimaksud pada Ayat (2)
diajukan secara perseorangan, kecuali SPPT PBB dapat juga
diajukan secara kolektif.
(4) Permohonan pengurangan atau pembatalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memuat:
a. Surat permohonan pengurangan atau pembatalan;
b. Fotocopy identitas Wajib Pajak, atau kuasa Wajib Pajak
dalam hal dikuasakan;
c. nama dan alamat wajib pajak;
d. dokumen pendukung yang dapat menunjukkan bahwa
objek pajak tersebut termasuk objek pajak yang dapat
dibatalkan; dan
e. dokumen pendukung lainnya.

Pasal 54

Tanggal penerimaan surat permohonan pengurangan atau


pembatalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (3) adalah:
a. tanggal terima surat permohonan, dalam hal permohonan
disampaikan langsung oleh Wajib Pajk atau kuasanya kepada
petugas Tempat Pelayanan Terpadu atau petugas yang
ditunjuk;
b. tanggal tanda pengiriman surat permohonan, dalam hal
permohonan disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman
surat.

Pasal 55

Bentuk formulir pengurangan atau membatalkan SPPT PBB, SKPD


PBB atau STPD PBB ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala Dinas.
Pasal 56
Kepala Dinas atas nama Bupati berwenang memberikan Keputusan
atas permohonan pengurangan atau pembatalan SPPT PBB, SKPD
PBB, atau STPD PBB yang tidak benar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 53 ayat (1).
Pasal 57
(1) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ditetapkan
berdasarkan hasil penelitian di kantor, dan apabila diperlukan
dapat dilanjutkan dengan penelitian di lapangan;
(2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ) dilakukan
berdasarkan surat tugas dan hasilnya dituangkan dalam
laporan hasil penelitian;
(3) Dalam hal dilakukan penelitian di lapangan, pejabat serendah-
rendahnya setingkat eselon III terlebih dahulu
memberitahukan secara tertulis waktu pelaksanaan penelitian
di lapangan kepada Wajib Pajak.

Pasal 58
(1) Kepala Dinas dalam jangka waktu paling lama 6 (enam ) bulan
sejak tanggal penerimaan surat permohonan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 54, harus memberi keputusan atas
permohonan Wajib Pajak.
(2) Keputusan Kepala Dinas atas permohonan pengurangan atau
pembatalan SPPT PBB, SKPD PBB, atau STPD PBB yang tidak
benar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat berupa
mengabulkan sebagian atau seluruhnya, atau menolak
permohonan Wajib Pajak.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
telah terlampaui dan Kepala Dinas tidak memberi suatu
keputusan, permohonan yang diajukan oleh Wajib Pajak
dianggap dikabulkan dan Kepala Dinas harus menerbitkan
keputusan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak dalam
jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak
jangka waktu dimaksud berakhir.
(4) Atas permintaan tertulis dari Wajib Pajak, Kepala Dinas harus
memberikan keterangan secara tertulis mengenai hal-hal yang
menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian
atau seluruhnya permohonan Wajib Pajak sebagimana
dimaksud pada ayat (2).

Pasal 59
(1) Bupati karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak
dapat mengurangi atau menghapuskan Sanksi Administrai
yang tercantum dalam SKPD PBB atau STPD PBB.
(2) Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Wajib
Pajak dalam hal sanksi administrasi tersebut dikenakan
karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan
Wajib Pajak.
(3) Permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling
sedikit memuat:
a. surat permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi;
b. fotocopy identitas Wajib Pajak, atau kuasa Wajib Pajak
dalam hal dikuasakan;
c. nama dan alamat wajib pajak;
d. alasan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi; dan
e. dokumen pendukung lainnya yang dapat menunjukkan
bahwa pengenaan sanksi administrasi bukan karena
kesalahan Wajib Pajak.

Pasal 60

Tanggal penerimaan surat permohonan pengurangan atau


penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 59 ayat (3) adalah :
a. tanggal terima surat permohonan, dalam hal permohonan
disampaikan langsung oleh Wajib Pajk atau kuasanya kepada
petugas Tempat Pelayanan Terpadu atau petugas yang
ditunjuk;
b. tanggal tanda pengiriman surat permohonan, dalam hal
permohonan disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman
surat.

Pasal 61

Ketentuan mengenai bentuk formulir pengurangan atau


penghapusan sanksi administrasi PBB atas SKPD PBB atau STPD
PBB ditetapkan oleh Kepala Dinas.

Pasal 62

(1) Kepala Dinas atas nama Bupati dapat memberikan Keputusan


atas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2),
dalam hal besarnya sanksi administrasi paling banyak
Rp. 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).
(2) Bupati dapat memberikan Keputusan atas permohonan
pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2), dalam hal
besarnya sanksi administrasi lebih dari Rp. 75.000.000,00
(tujuh puluh lima juta rupiah).

Pasal 63

(1) Dalam hal kewenangan memberikan keputusan berada pada


Kepala Dinas sebagimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1),
Kepala Bidang Pajak dan Bagi Hasil meneruskan berkas
permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi yang tercantum dalam SKPD PBB atau STPD PBB
kepada Kepala Dinas dalam jangka waktu paling lama 10
(sepuluh) hari kerja sejak tanggal penerimaan surat
permohonan.
(2) Dalam hal kewenangan memberikan keputusan berada pada
Bupati sebagimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (2), Kepala
Dinas meneruskan berkas permohonan pengurangan atau
penghapusan sanksi administrasi yang tercantum dalam
SKPD PBB atau STPD PBB kepada Bupati dalam jangka waktu
paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak tanggal penerimaan
surat permohonan.

Pasal 64

(1) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ditetapkan


berdasarkan hasil penelitian di kantor, dan apabila diperlukan
dapat dilanjutkan dengan penelitian di lapangan.
(2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
berdasarkan surat tugas dan hasilnya dituangkan dalam
laporan hasil penelitian.
(3) Dalam hal dilakukan penelitian di lapangan, pejabat serendah-
rendahnya setingkat Eselon III terlebih dahulu
memberitahukan secara tertulis waktu pelaksanaan penelitian
di lapangan kepada Wajib Pajak.

Pasal 65

(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam ) bulan sejak
tanggal penerimaan surat permohonan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 60, harus memberi Keputusan
pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi.
(2) Keputusan Bupati atas permohonan pengurangan atau
penghapusan sanksi administrasi yang tercantum dalam
SKPD PBB atau STPD PBB sebagaimana dimaksud pada Ayat
(1), dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya,
atau menolak permohonan Wajib Pajak.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
telah terlampaui dan Bupati tidak memberikan suatu
Keputusan, permohonan yang diajukan oleh Wajib Pajak
dianggap dikabulkan dan Bupati harus menerbitkan
Keputusan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak dalam
jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak
jangka waktu dimaksud berakhir.
(4) Atas permintaan tertulis dari Wajib Pajak, Bupati harus
memberikan keterangan secara tertulis mengenai hal-hal yang
menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian
atau seluruhnya permohonan Wajib Pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (2).

BAB IX
TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN
PEMBAYARAN PAJAK

Pasal 66

Kelebihan pembayaran PBB terjadi apabila:


a. PBB yang dibayar ternyata lebih besar dari yang seharusnya
terutang; dan
b. dilakukan pembayaran PBB yang tidak seharusnya terutang.

Pasal 67

(1) Untuk memperoleh pengembalian kelebihan pembayaran PBB,


Wajib Pajak mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Bupati melalui Kepala Dinas dalam Bahasa Indonesia disertai
alasan yang jelas dengan mencantumkan besarnya
pengembalian yang dimohon.
(2) Tanda terima surat permohonan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) yang diberikan oleh Dinas atau Pejabat yang ditunjuk
untuk itu atau tanda pengiriman surat permohonan melalui
pos tercatat, menjadi tanda bukti penerimaan surat
permohonan.

Pasal 68

(1) Kelebihan pembayaran PBB diperhitungkan terlebih dahulu


dengan utang pajak.
(2) Atas dasar persetujuan Wajib Pajak yang berhak atas
kelebihan pembayaran PBB, kelebihan tersebut dapat
diperhitungkan dengan pajak yang akan terutang atau dengan
utang pajak atas nama Wajib Pajak lain.
(3) Perhitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilakukan dengan pemindahbukuan.
Pasal 69

(1) Berdasarkan hasil penelitian atau pemeriksaan terhadap surat


permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67, maka
dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak
diterimanya surat permohonan secara lengkap, Kepala Dinas
atas nama Bupati menerbitkan :
a. SKPDLB PBB, apabila jumlah PBB yang dibayar ternyata lebih
besar dari yang seharusnya terutang;
b. Surat Pemberitahuan, apabila jumlah PBB sama dengan
jumlah PBB yang seharusnya terutang;
c. SKPD PBB, apabila jumlah PBB yang dibayar ternyata kurang
dari jumlah PBB yang seharusnya terutang.
(2) Apabila setelah jangka waktu 12 (dua belas) bulan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Dinas atas nama
Bupati tidak memberikan Keputusan, m a k a dalam waktu
paling lama 1 (satu) bulan sejak berakhirnya jangka waktu
tersebut, Kepala Dinas atas nama Bupati menerbitkan
SKPDLB PBB.

Pasal 70

(1) Kelebihan pembayaran PBB yang masih tersisa dikembalikan


dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak
diterbitkannya S K P D L B PBB hasil pemeriksaan Dinas atas
nama Bupati.
(2) SKPDLB dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dengan peruntukan
sebagai berikut :
a. lembar ke-1 untuk Wajib Pajak yang bersangkutan;
b. lembar ke-2 untuk Bidang Perbendaharaan; dan
c. lembar ke-3 untuk Arsip.
(3) Kepala Dinas atas nama Bupati wajib menerbitkan SP2D
paling lama 5 (lima) hari kerja sejak SKPDLB diterima.
(4) Bentuk SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan
lebih lanjut oleh Kepala Dinas.
(5) Jika pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan setelah
lewat waktu 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga
sebesar 2% (dua persen) per bulan atas keterlambatan
pengembalian.

Pasal 71

(1) Bidang perbendaharaan setelah menerima lembar ke-2


SKPDLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2) huruf
b, selanjutnya membuat SP2D.
(2) SP2D dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dengan peruntukan
sebagai berikut :
a. lembar ke-1 untuk Kas Umum Daerah;
b. lembar ke-2 untuk bidang yang menerbitkan SKPDLB; dan
c. lembar ke-3 untuk Arsip.
(3) Kas Umum Daerah melakukan pengurangan penerimaan PBB
tahun berjalan untuk dikembalikan ke Wajib Pajak dengan
pemindahbukuan.

BAB X
TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK
YANG SUDAH KADALUWARSA

Pasal 72

(1) Hak untuk melakukan penagihan pajak kedaluwarsa setelah


melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat
terutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan
tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah.
(2) Kedaluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tertangguh apabila:
a. diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa; atau
b. ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung
maupun tidak langsung.
(3) Dalam hal diterbitkannya Surat Teguran dan Surat Paksa
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, kedaluwarsa
penagihan dihitung sejak tanggal penyampaian Surat Paksa.
(4) Pengakuan utang Pajak secara langsung sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah Wajib Pajak dengan
kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang pajak dan
belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah.
(5) Pengakuan utang secara tidak langsung sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan
permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan
permohonan keberatan oleh Wajib Pajak.

Pasal 73

(1) Bupati dapat menghapuskan Piutang Pajak Daerah


dikarenakan tidak bisa tertagih dan sudah kedaluwarsa.
(2) Penghapusan Piutang Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh Bupati berdasarkan permohonan
penghapusan piutang pajak oleh Kepala Dinas.
(3) Permohonan penghapusan piutang sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) paling sedikit memuat:
a. nama dan alamat wajib pajak;
b. jumlah piutang pajak;
c. tahun pajak;
d. alasan penghapusan piutang pajak .
(4) Piutang Pajak yang dapat dihapuskan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah:
a. SPPT PBB;
b. SKPD PBB;
c. STPD PBB;
d. Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan
dan Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak
yang harus dibayar bertambah; atau
e. Obyek pajak yang berdasarkan penelitian tidak termasuk
kriteria Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan.
(5) Piutang Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang menurut data
tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan yang tidak dapat atau
tidak mungkin ditagih lagi disebabkan karena:
a. wajib pajak dan/atau Penanggung Pajak tidak dapat
ditemukan atau meninggal dunia dengan tidak
meninggalkan harta warisan dan tidak mempunyai ahli
waris atau ahli waris tidak dapat ditemukan;
b. wajib pajak dan/atau Penanggung Pajak tidak mempunyai
harta kekayaan lagi;
c. tidak ditemukan alamat pemiliknya karena objek pajak
sudah tutup dan alih manajemen;
d. hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa; atau
e. wajib pajak tidak dapat ditagih lagi karena sebab lain,
seperti wajib pajak yang tidak dapat ditemukan lagi atau
dokumen-dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak
lengkap atau tidak dapat ditelusuri lagi disebabkan
keadaan yang tidak dapat dihindarkan seperti bencana
alam, kebakaran dan lain sebagainya; dan
f. sebab lain sesuai hasil penelitian.
(6) Piutang pajak Wajib Pajak Badan yang menurut data
tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan yang tidak dapat atau
tidak mungkin ditagih lagi disebabkan karena:
a. Wajib Pajak bubar, likuidasi atau pailit dan pengurus,
direksi, komisaris, pemegang saham, pemilik modal atau
pihak lain yang dibebani untuk melakukan pemberesan
atau likuidator atau kurator tidak dapat ditemukan;
b. Wajib Pajak dan/atau Penanggung Pajak tidak memiliki
harta kekayaan lagi;
c. penagihan pajak secara aktif telah dilaksanakan dengan
penyampaian Salinan Surat Paksa kepada pengurus,
direksi, likuidator, kurator, pengadilan negeri, pengadilan
niaga, baik secara langsung maupun dengan menempelkan
pada papan pengumuman atau media massa;
d. hak untuk melakukan penagihan pajak sudah
kedaluwarsa; atau
e. sebab lain sesuai hasil penelitian.

Pasal 74

Untuk memastikan keadaan Wajib Pajak atau piutang pajak


yang tidak dapat atau tidak mungkin ditagih lagi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 73, wajib dilakukan penelitian
setempat atau penelitian administrasi oleh Dinas yang
hasilnya dilaporkan dalam Laporan Hasil Penelitian.
(1) Laporan Hasil Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat(1)
harus menggambarkan keadaan Wajib Pajak atau piutang
pajak yang bersangkutan sebagai dasar untuk menentukan
besarnya piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi dan
diusulkan untuk dihapus.

Pasal 75

Piutang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 hanya dapat


diusulkan untuk dihapus setelah adanya Laporan Hasil Penelitian.

Pasal 76

(1) Dinas menyusun daftar usulan penghapusan piutang pajak


berdasarkan Laporan Hasil Penelitian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 75 setiap akhir tahun takwin.
(2) Daftar usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disampaikan kepada Kepala Dinas setiap awal tahun
berikutnya.
(3) Kepala Dinas menyampaikan daftar usulan yang telah diteliti
kepada Bupati.
Pasal 77
(1) Formulir yang dipergunakan untuk pelaksanaan usulan
penghapusan piutang pajak adalah daftar rekapitulasi piutang
pajak yang diperkirakan tidak dapat atau tidak mungkin lagi
untuk dilakukan penelitian setempat atau penelitian
administrasi tentang kedaluwarsa penagihan pajak.
(2) Buku yang dipergunakan untuk pelaksanaan usulan
penghapusan piutang pajak adalah buku register usulan
penghapusan piutang pajak.
(3) Bentuk formulir dan buku sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2), ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala Dinas.
Pasal 78
(1) Berdasarkan permohonan penghapusan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 73 ayat (5) dan ayat (6), dengan
persetujuan Bupati, Kepala Dinas menetapkan penghapusan
piutang pajak yang besarannya sampai dengan
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(2) Penghapusan piutang pajak Wajib Pajak Badan sebagaimana
dalam Pasal 73 ayat (6) yang besarannya lebih dari
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) ditetapkan oleh
Bupati.

BAB XI
TATA CARA PEMERIKSAAN PAJAK

Pasal 79

(1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji


kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dalam
rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan
perpajakan daerah.
(2) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dilaksanakan oleh Kepala Dinas.

Pasal 80

(1) Tujuan Pemeriksaan adalah untuk:


a. menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
dalam rangka memberikan kepastian hukum, keadilan,
dan pembinaan kepada Wajib Pajak; dan
b. tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
(2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dapat dilakukan dalam hal Wajib Pajak:
a. menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan
lebih bayar, termasuk yang telah diberikan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak;
b. menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan
rugi;
c. tidak menyampaikan atau menyampaikan Surat
Pemberitahuan Objek Pajak tetapi melampaui jangka
waktu yang telah ditetapkan dalam Surat Teguran;
d. melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran,
likuidasi, pembubaran, atau akan meninggalkan Indonesia
untuk selama-lamanya; atau
e. menyampaikan Surat Pemberitahuan yang memenuhi
kriteria seleksi berdasarkan hasil analisis risiko (risk based
selection) mengindikasikan adanya kewajiban perpajakan
Wajib Pajak yang tidak dipenuhi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.

(3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b


meliputi pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka:
a. Wajib Pajak mengajukan keberatan;
b. pengumpulan bahan guna penyusunan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto;
c. pencocokan data dan/atau alat keterangan;
d. penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;
e. pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;
f. penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang
jangka waktu kompensasi kerugian sehubungan dengan
pemberian fasilitas perpajakan; dan/atau
g. memenuhi permintaan informasi dari negara mitra
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda.

Pasal 81

(1) Ruang lingkup Pemeriksaan terdiri dari:


a. pemeriksaan lapangan yang dilakukan di tempat Wajib
Pajak;
b. pemeriksaan kantor yang dilakukan di Dinas.
(2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dapat dilaksanakan dengan Pemeriksaan Lengkap atau
Pemeriksaan Sederhana Lapangan.
(3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dapat dilaksanakan dengan Pemeriksaan Sederhana Kantor
atau Pemeriksaan dengan korespondensi.
(4) Apabila dalam pelaksanaan Pemeriksaan Kantor sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b ditemukan indikasi transaksi
yang mengandung unsur transfer pricing dan/atau transaksi
khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksi
keuangan, maka pelaksanaan Pemeriksaan Kantor diubah
menjadi Pemeriksaan Lapangan.

Pasal 82

(1) Pemeriksaan dengan kriteria sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 80 ayat (2) huruf a, dilakukan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor atau Pemeriksaan Lapangan.
(2) Pemeriksaan dengan kriteria sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 80 ayat (2) huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e
dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan.
(3) Dalam hal tertentu, Pemeriksaan dengan kriteria sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) huruf b, huruf c, huruf d,
dan huruf e, dapat dilakukan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor.

Pasal 83
(1) Pemeriksaan Kantor dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 3 (tiga) bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling
lama 6 (enam) bulan yang dihitung sejak tanggal Wajib Pajak
datang memenuhi surat panggilan dalam rangka Pemeriksaan
Kantor sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.
(2) Pemeriksaan Lapangan dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 4 (empat) bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling
lama 8 (delapan) bulan yang dihitung sejak tanggal Surat
Perintah Pemeriksaan sampai dengan tanggal Laporan Hasil
Pemeriksaan.
(3) Apabila dalam Pemeriksaan Lapangan ditemukan indikasi
transaksi yang terkait dengan transfer pricing dan/atau
transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa
transaksi keuangan yang memerlukan pengujian yang lebih
mendalam serta memerlukan waktu yang lebih lama,
Pemeriksaan Lapangan dilaksanakan dalam jangka waktu
paling lama 2 (dua) tahun.
(4) Dalam hal Pemeriksaan dilakukan berdasarkan kriteria
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) huruf a,
jangka waktu pemeriksaan harus memperhatikan jangka
waktu penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak.

Pasal 84
(1) Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 79 harus dilaksanakan sesuai dengan
standar pemeriksaan.
(2) Standar Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi standar umum, standar pelaksanaan Pemeriksaan,
dan standar pelaporan hasil Pemeriksaan.

Pasal 85
(1) Standar umum Pemeriksaan merupakan standar yang bersifat
pribadi dan berkaitan dengan persyaratan Pemeriksa Pajak
dan mutu pekerjaannya.
(2) Pemeriksaan dilaksanakan oleh Pemeriksa Pajak yang :
a. telah mendapat pendidikan dan pelatihan teknis yang
cukup serta memiliki keterampilan sebagai Pemeriksa
Pajak, dan menggunakan keterampilannya secara cermat
dan seksama;
b. jujur dan bersih dari tindakan-tindakan tercela serta
senantiasa mengutamakan kepentingan negara; dan
c. taat terhadap berbagai ketentuan peraturan perundang-
undangan, termasuk taat terhadap batasan waktu yang
ditetapkan.
(3) Dalam hal diperlukan, Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat dilaksanakan oleh tenaga ahli dari Dinas
yang ditunjuk oleh Bupati.

Pasal 86

Pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan harus dilakukan sesuai standar pelaksanaan
Pemeriksaan, yaitu :
a. pelaksanaan Pemeriksaan harus didahului dengan persiapan
yang baik, sesuai dengan tujuan Pemeriksaan, dan mendapat
pengawasan yang seksama;
b. luas Pemeriksaan (audit scope) ditentukan berdasarkan
petunjuk yang diperoleh yang harus dikembangkan melalui
pencocokan data, pengamatan, permintaan keterangan,
konfirmasi, teknik sampling, dan pengujian lainnya berkenaan
dengan Pemeriksaan;
c. temuan Pemeriksaan harus didasarkan pada bukti kompeten
yang cukup dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan;
d. pemeriksaan dilakukan oleh suatu tim Pemeriksa Pajak yang
terdiri dari seorang supervisor, seorang ketua tim serta
seorang atau lebih anggota tim;
e. tim Pemeriksa Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf d
dapat dibantu oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian
tertentu yang bukan merupakan Pemeriksa Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2), baik yang
berasal dari Dinas maupun yang berasal dari instansi di luar
Dinas yang telah ditunjuk oleh Bupati sebagai tenaga ahli
seperti penerjemah bahasa, ahli di bidang teknologi informasi,
dan pengacara;
f. apabila diperlukan, Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dapat dilakukan secara
bersama-sama dengan tim pemeriksa dari instansi lain;
g. pemeriksaan dapat dilaksanakan di kantor Dinas, tempat
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak, tempat
tinggal Wajib Pajak, atau ditempat lain yang dianggap perlu
oleh pemeriksa Pajak;
h. pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila
diperlukan dapat dilanjutkan di luar jam kerja;
i. pelaksanaan Pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk
Kertas Kerja Pemeriksaan;
j. laporan Hasil Pemeriksaan digunakan sebagai dasar
penerbitan surat ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan
Pajak.

Pasal 87

Kegiatan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan harus didokumentasikan dalam bentuk Kertas
Kerja Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 huruf i
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Kertas Kerja Pemeriksaan wajib disusun oleh Pemeriksa Pajak
dan berfungsi sebagai :
1) bukti bahwa Pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai
standar pelaksanaan Pemeriksaan;
2) bahan dalam melakukan Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan dengan Wajib Pajak mengenai temuan
Pemeriksaan;
3) dasar pembuatan Laporan Hasil Pemeriksaan;
4) sumber data atau informasi bagi penyelesaian keberatan
atau banding yang diajukan oleh Wajib Pajak; dan
5) referensi untuk Pemeriksaan berikutnya.
b. Kertas Kerja Pemeriksaan harus memberikan gambaran
mengenai:
1) prosedur Pemeriksaan yang dilaksanakan;
2) data, keterangan, dan/atau bukti yang diperoleh;
3) pengujian yang telah dilakukan; dan
4) simpulan dan hal-hal lain yang dianggap perlu yang
berkaitan dengan Pemeriksaan.

Pasal 88

Kegiatan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan harus dilaporkan dalam bentuk Laporan
Hasil Pemeriksaan yang disusun sesuai standar pelaporan hasil
Pemeriksaan yaitu :
a. laporan Hasil Pemeriksaan disusun secara ringkas dan jelas,
memuat ruang lingkup atau pos-pos yang diperiksa sesuai
dengan tujuan Pemeriksaan, memuat kesimpulan Pemeriksa
Pajak yang didukung temuan yang kuat tentang ada atau
tidak adanya penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan perpajakan dan memuat pula pengungkapan
informasi lain yang terkait dengan Pemeriksaan.
b. laporan Hasil Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan antara lain mengenai:
1) penugasan Pemeriksaan;
2) identitas Wajib Pajak;
3) pembukuan atau pencatatan Wajib Pajak;
4) pemenuhan kewajiban perpajakan;
5) data/informasi yang tersedia;
6) buku dan dokumen yang dipinjam;
7) materi yang diperiksa;
8) uraian hasil Pemeriksaan;
9) ikhtisar hasil Pemeriksaan;
10) penghitungan pajak terutang; dan
11) simpulan dan usul Pemeriksa Pajak.

Pasal 89

(1) Dalam hal Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan
Lapangan, Pemeriksa Pajak wajib :
a. menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tentang akan
dilakukan Pemeriksaan kepada Wajib Pajak;
b. memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan
Surat Perintah Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada
waktu melakukan Pemeriksaan;
c. menjelaskan alasan dan tujuan Pemeriksaan kepada Wajib
Pajak;
d. memperlihatkan Surat Tugas kepada Wajib Pajak apabila
susunan tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan;
e. menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan
kepada Wajib Pajak;
f. memberikan hak hadir kepada Wajib Pajak dalam rangka
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam batas waktu
yang telah ditentukan;
g. melakukan pembinaan kepada Wajib Pajak dalam
memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;
h. mengembalikan buku atau catatan, dokumen yang menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lainnya
yang dipinjam dari Wajib Pajak paling lama 7 (tujuh) hari
sejak tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan; dan
i. merahasiakan kepada pihak lain yang tidak berhak, segala
sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh
Wajib Pajak dalam rangka Pemeriksaan.
(2) Dalam hal Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor, Pemeriksa Pajak wajib :
a. memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan
Surat Perintah Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada
waktu Pemeriksaan;
b. menjelaskan alasan dan tujuan Pemeriksaan kepada Wajib
Pajak yang akan diperiksa;
c. memperlihatkan Surat Tugas kepada Wajib Pajak apabila
susunan tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan;
d. memberitahukan secara tertulis hasil Pemeriksaan kepada
Wajib Pajak;
e. melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan apabila
Wajib Pajak hadir dalam batas waktu yang telah
ditentukan;
f. memberi petunjuk kepada Wajib Pajak dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya agar pemenuhan kewajiban
perpajakan dalam tahun-tahun selanjutnya dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan;
g. mengembalikan buku atau catatan, dokumen yang menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lainnya
yang dipinjam dari Wajib Pajak paling lama 7 (tujuh) hari
sejak tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan;dan
h. merahasiakan kepada pihak lain yang tidak berhak segala
sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh
Wajib Pajak dalam rangka Pemeriksaan.

Pasal 90
(1) Dalam hal Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan
Lapangan, Pemeriksa Pajak berwenang:
a. melihat dan/atau meminjam buku atau catatan, dokumen
yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan
dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang
diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak,
atau objek yang terutang pajak;
b. mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara
elektronik;
c. memasuki dan memeriksa tempat atau ruang, barang
bergerak dan/atau tidak bergerak yang diduga atau patut
diduga digunakan untuk menyimpan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan, dokumen lain, uang dan/atau barang yang
dapat memberi petunjuk tentang penghasilan yang
diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak,
atau objek yang terutang pajak;
d. meminta kepada Wajib Pajak untuk memberi bantuan guna
kelancaran Pemeriksaan, antara lain berupa :
1) menyediakan tenaga dan/atau peralatan atas biaya
Wajib Pajak apabila dalam mengakses data yang
dikelola secara elektronik memerlukan peralatan
dan/atau keahlian khusus;
2) memberi kesempatan kepada Pemeriksa Pajak untuk
membuka barang bergerak dan/atau tidak
bergerak;dan/atau
3) menyediakan ruangan khusus tempat dilakukannya
Pemeriksaan Lapangan dalam hal jumlah buku,
catatan, dan dokumen sangat banyak sehingga sulit
untuk dibawa ke kantor Dinas.
e. melakukan penyegelan tempat atau ruang tertentu serta
barang bergerak dan/atau tidak bergerak;
f. meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari Wajib
Pajak;dan
g. meminta keterangan dan/atau bukti yang diperlukan dari
Pihak Ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib
Pajak yang diperiksa melalui Kepala Dinas.
(2) Dalam hal Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor, Pemeriksa Pajak berwenang:
a. memanggil Wajib Pajak untuk datang ke kantor Dinas
dengan menggunakan surat panggilan;
b. melihat dan/atau meminjam buku atau catatan, dokumen
yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan
dokumen lain termasuk data yang dikelola secara
elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan yang
diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak,
atau objek yang terutang pajak;
c. meminta kepada Wajib Pajak untuk memberi bantuan
guna kelancaran Pemeriksaan;
d. meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari Wajib
Pajak;
e. meminjam kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh
Akuntan Publik melalui Wajib Pajak;dan
f. meminta keterangan dan/atau bukti yang diperlukan dari
Pihak Ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib
Pajak yang diperiksa melalui Kepala Dinas.
Pasal 91

(1) Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan


pemenuhan kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan
Lapangan, Wajib Pajak berhak :
a. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan
Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah
Pemeriksaan;
b. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan
pemberitahuan secara tertulis sehubungan dengan
pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan;
c. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan
penjelasan tentang alasan dan tujuan Pemeriksaan;
d. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan
Surat Tugas apabila susunan Tim Pemeriksa Pajak
mengalami perubahan;
e. menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
f. menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam
jangka waktu yang telah ditentukan;
g. mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan
oleh Tim Pembahas, dalam hal terdapat perbedaan
pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak
dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan; dan
h. memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan
Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui pengisian
formulir kuesioner Pemeriksaan.
(2) Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor, Wajib Pajak berhak:
a. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan
Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah
Pemeriksaan;
b. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan
penjelasan tentang alasan dan tujuan Pemeriksaan;
c. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan
Surat Tugas apabila susunan Pemeriksa Pajak mengalami
pergantian;
d. menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
e. menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam
jangka waktu yang telah ditentukan;
f. mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan
oleh Tim Pembahas, dalam hal terdapat perbedaan
pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak
dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;dan
g. memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan
Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui pengisian
formulir Kuesioner Pemeriksaan.

Pasal 92

(1) Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan


pemenuhan kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan
Lapangan, Wajib Pajak wajib :
a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau
catatan, dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan, dan dokumen lain yang berhubungan dengan
penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan
bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak;
b. memberikan kesempatan untuk mengakses dan/atau
mengunduh data yang dikelola secara elektronik;
c. memberikan kesempatan untuk memasuki dan memeriksa
tempat atau ruang, barang bergerak dan/atau tidak
bergerak yang diduga atau patut diduga digunakan untuk
menyimpan buku atau catatan, dokumen yang menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan, dokumen lain, uang
dan/atau barang yang dapat memberi petunjuk tentang
penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan
bebas Wajib Pajak atau objek yang terutang pajak serta
meminjamkannya kepada Pemeriksa Pajak;
d. memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan, antara
lain berupa :
1) menyediakan tenaga dan/atau peralatan atas biaya
Wajib Pajak apabila dalam mengakses data yang
dikelola secara elektronik memerlukan peralatan
dan/atau keahlian khusus;
2) memberi kesempatan kepada Pemeriksa Pajak untuk
membuka barang bergerak dan/atau tidak bergerak;
dan/atau
3) menyediakan ruangan khusus tempat dilakukannya
Pemeriksaan Lapangan dalam hal jumlah buku,
catatan, dan dokumen sangat banyak sehingga sulit
untuk dibawa ke kantor Dinas.
e. menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat
Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;dan
f. memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis yang
diperlukan.
(2) Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor, Wajib Pajak wajib:
a. memenuhi panggilan untuk datang menghadiri
Pemeriksaan sesuai dengan waktu yang ditentukan;
b. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau
catatan, dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan, dan dokumen lain termasuk data yang dikelola
secara elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan
yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib
Pajak, atau objek yang terutang pajak;
c. memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan;
d. menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat
Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
e. meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh
Akuntan Publik; dan
f. memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis yang
diperlukan.
Pasal 93
Untuk keperluan pelaksanaan pemeriksaan menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan oleh Wajib Pajak, Pemeriksa
Pajak dapat meminjam dokumen yang diperlukan kepada Wajib
Pajak.
Pasal 94
(1) Dalam hal Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
81 dilaksanakan dengan Pemeriksaan Lapangan, maka :
a. buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain yang diperlukan
dan diperoleh/ditemukan pada saat pelaksanaan
pemeriksaan ditempat Wajib Pajak, dipinjam pada saat itu
juga dan Pemeriksa Pajak membuat bukti peminjaman.
b. dalam hal buku, catatan, dokumen, termasuk data yang
dikelola secara elektronik serta keterangan lain yang
diperlukan dan belum diperoleh/ditemukan pada saat
pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, Pemeriksa Pajak membuat surat permintaan
peminjaman.
c. buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain sebagaimana
dimaksud pada huruf b, wajib diserahkan kepada
Pemeriksa Pajak paling lama 1 (satu) bulan sejak surat
permintaan peminjaman buku, catatan, dan dokumen
disampaikan kepada Wajib Pajak.
(2) Dalam hal Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
81 dilaksanakan dengan Pemeriksaan Kantor, maka:
a. buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain yang diperlukan
oleh Pemeriksa Pajak, harus dicantumkan pada surat
panggilan.
b. buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain sebagaimana
dimaksud pada huruf a, wajib dipinjamkan pada saat
Wajib Pajak memenuhi panggilan dan Pemeriksa Pajak
membuat bukti peminjaman.
c. dalam hal buku, catatan, dokumen, termasuk data yang
dikelola secara elektronik serta keterangan lain yang
diperlukan belum dipinjamkan pada saat Wajib Pajak
memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada huruf
b, Pemeriksa Pajak membuat surat permintaan
peminjaman.
d. buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain sebagaimana
dimaksud pada huruf c, wajib diserahkan kepada
Pemeriksa Pajak paling lama 1 (satu) bulan sejak surat
panggilan sebagaimana dimaksud pada huruf a yang
memuat permintaan peminjaman diterima oleh Wajib
Pajak.

(3) Dalam hal buku, catatan, dokumen, termasuk data yang


dikelola secara elektronik serta keterangan lain belum
dipenuhi dan jangka waktu 1 (satu) bulan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c atau ayat (2) huruf d belum
terlampaui, Pemeriksa Pajak dapat menyampaikan peringatan
secara tertulis paling banyak 2 (dua) kali.

Pasal 95
(1) Setiap penyerahan buku, catatan, dokumen, termasuk data
yang dikelola secara elektronik serta keterangan lain dari
Wajib Pajak, Pemeriksa Pajak harus membuat bukti
peminjaman.

(2) Dalam hal buku, catatan, dan dokumen yang dipinjam berupa
fotocopy dan/atau data yang dikelola secara elektronik, Wajib
Pajak yang diperiksa harus membuat surat pernyataan bahwa
fotocopy dan/atau data yang dikelola secara elektronik yang
dipinjamkan kepada Pemeriksa Pajak adalah sesuai dengan
aslinya.
(3) Dalam hal jangka waktu 1 (satu) bulan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 94 ayat (1) huruf c atau ayat (2) huruf
d terlampaui dan surat permintaan peminjaman tidak
dipenuhi sebagian atau seluruhnya, Pemeriksa Pajak harus
membuat berita acara mengenai hal tersebut.

(4) Dalam hal buku, catatan, dokumen, termasuk data yang


dikelola secara elektronik serta keterangan lain perlu
dilindungi kerahasiannya, Wajib Pajak dapat mengajukan
permintaan agar pelaksanaan Pemeriksaan dapat dilakukan di
tempat Wajib Pajak dengan menyediakan ruangan khusus.

Pasal 96

(1) Dalam hal Pemeriksaan dilakukan terhadap Wajib Pajak orang


pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
dan Wajib Pajak tidak memenuhi sebagian atau seluruh
permintaan peminjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal
94 ayat (3) sehingga besarnya penghasilan kena pajak tidak
dapat dihitung, Pemeriksa Pajak dapat menghitung
penghasilan kena pajak secara jabatan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

(2) Dalam hal Pemeriksaan dilakukan terhadap Wajib Pajak


Badan, dan Wajib Pajak tidak memenuhi sebagian atau
seluruh permintaan peminjaman sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 94 ayat (3) sehingga besarnya penghasilan kena
pajak tidak dapat dihitung, Pemeriksa Pajak mengusulkan
Pemeriksaan Bukti Permulaan.

Pasal 97

(1) Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) Peraturan
Daerah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sehubungan dengan
pelaksanaan Pemeriksaan, Wajib Pajak harus menandatangani
surat pernyataan penolakan Pemeriksaan.

(2) Dalam hal Wajib Pajak menolak menandatangani surat


pernyataan penolakan Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Pemeriksa Pajak membuat berita acara
penolakan Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pemeriksa
Pajak.

(3) Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi panggilan Pemeriksa


Pajak dalam rangka Pemeriksaan Kantor, Pemeriksa Pajak
membuat berita acara tidak dipenuhinya panggilan
Pemeriksaan oleh Wajib Pajak.
(4) Apabila pada saat dilakukan Pemeriksaan Lapangan, Wajib
Pajak tidak ada di tempat, maka :

a. pemeriksaan tetap dapat dilaksanakan sepanjang ada


pihak yang dapat dan mempunyai kewenangan untuk
mewakili Wajib Pajak, terbatas untuk hal yang ada dalam
kewenangannya, dan selanjutnya pemeriksaan ditunda
untuk dilanjutkan pada kesempatan berikutnya;
b. guna keperluan pengamanan pemeriksaan, sebelum
dilakukan penundaan Pemeriksaan Lapangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a, Pemeriksa Pajak dapat melakukan
penyegelan;
c. apabila pada saat Pemeriksaan Lapangan dilanjutkan
setelah dilakukan penundaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, Wajib Pajak tetap tidak ada di tempat,
pemeriksaan tetap dilaksanakan dengan terlebih dahulu
meminta pegawai Wajib Pajak yang bersangkutan untuk
mewakili Wajib Pajak guna membantu kelancaran
Pemeriksaan;
d. dalam hal pegawai Wajib Pajak yang diminta mewakili
Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf c menolak
untuk membantu kelancaran Pemeriksaan, pegawai Wajib
Pajak tersebut harus menandatangani surat pernyataan
penolakan membantu kelancaran pemeriksaan;
e. dalam hal pegawai Wajib Pajak menolak untuk
menandatangani surat pernyataan penolakan membantu
kelancaran pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
huruf d, Pemeriksa Pajak membuat berita acara penolakan
membantu kelancaran pemeriksaan yang ditandatangani
oleh Pemeriksa Pajak.
(5) Surat pernyataan penolakan pemeriksaan, berita acara
penolakan Pemeriksaan, berita acara tidak dipenuhinya
panggilan Pemeriksaan, surat pernyataan penolakan
membantu kelancaran Pemeriksaan, dan berita acara
penolakan membantu kelancaran Pemeriksaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) huruf d dan
huruf e, dapat dijadikan dasar untuk penetapan pajak secara
jabatan atau diusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Pasal 98

Pemeriksa Pajak berwenang melakukan penyegelan dalam hal


Wajib Pajak :

a. tidak memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau


ruang tertentu serta barang bergerak dan/atau tidak bergerak;
dan/atau
b. tidak memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan yang
antara lain berupa tidak memberikan kesempatan untuk
mengakses data yang dikelola secara elektronik dan/atau
membuka barang bergerak dan/atau tidak bergerak.

Pasal 99

(1) Untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci, Pemeriksa


Pajak melalui Kepala Dinas dapat memanggil Wajib Pajak.

(2) Penjelasan Wajib Pajak yang diberikan kepada Pemeriksa


Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dituangkan dalam
berita acara pemberian keterangan Wajib Pajak.

Pasal 100

(1) Pemeriksa Pajak melalui Kepala Dinas, dapat meminta


keterangan dan/atau bukti yang berkaitan dengan
Pemeriksaan yang sedang dilakukan terhadap Wajib Pajak
kepada pihak ketiga secara tertulis.

(2) Pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus


memberikan keterangan paling lama 7 (tujuh) hari sejak
diterimanya surat permintaan keterangan atau bukti atau
surat izin dari pihak yang berwenang.

(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) tidak dipenuhi oleh pihak ketiga, Pemeriksa Pajak segera
menyampaikan Surat Peringatan pertama.

(4) Apabila Surat Peringatan pertama tidak dipenuhi oleh pihak


ketiga, Pemeriksa Pajak segera menyampaikan Surat
Peringatan kedua.

(5) Apabila Surat Peringatan kedua tidak juga dipenuhi oleh pihak
ketiga, Pemeriksa Pajak segera membuat berita acara tidak
dipenuhinya permintaan keterangan atau bukti dari pihak
ketiga.
Pasal 101

(1) Hasil Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan harus diberitahukan kepada Wajib
Pajak dengan memberikan hak kepada Wajib Pajak untuk
hadir dalam pembahasan akhir.
(2) Pemberitahuan hasil Pemeriksaan kepada Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan apabila
Pemeriksaan dilanjutkan dengan Pemeriksaan Bukti
Permulaan.
(3) Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) beserta lampirannya disampaikan oleh
Pemeriksa Pajak melalui Kurir, Faksimili, Pos, atau jasa
pengiriman lainnya.
(4) Wajib Pajak wajib memberikan tanggapan tertulis atas Surat
Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dan berhak hadir dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan paling lama :
a. 3 (tiga) hari kerja sejak Surat Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan diterima oleh Wajib Pajak untuk Pemeriksaan
Kantor; dan
b. 7 (tujuh) hari kerja sejak Surat Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan diterima oleh Wajib Pajak untuk Pemeriksaan
Lapangan.

Pasal 102

(1) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 101 ayat (4) Wajib Pajak menyampaikan surat tanggapan
hasil Pemeriksaan yang berisi tentang persetujuan atas
seluruh hasil Pemeriksaan dan hadir dalam Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak menggunakan
tanggapan tersebut sebagai dasar untuk membuat risalah
pembahasan dan berita acara Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan, yang ditandatangani oleh Tim Pemeriksa Pajak
dan Wajib Pajak.
(2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 101 ayat (4) Wajib Pajak menyampaikan surat tanggapan
hasil Pemeriksaan yang berisi tentang persetujuan atas
seluruh hasil Pemeriksaan namun tidak hadir dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
menggunakan surat tanggapan tersebut sebagai dasar untuk
membuat risalah pembahasan dan berita acara
ketidakhadiran Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan, yang ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak.
(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 101 ayat (4) Wajib Pajak menyampaikan surat tanggapan
hasil Pemeriksaan yang berisi tentang ketidaksetujuan atas
sebagian atau seluruh hasil Pemeriksaan dan hadir dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
menggunakan surat tanggapan tersebut sebagai dasar untuk
melakukan pembahasan akhir denganWajib Pajak dan hasil
pembahasannya dituangkan dalam risalah pembahasan dan
berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, yang
ditandatangani oleh Tim Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak.
(4) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 101 ayat (4) Wajib Pajak menyampaikan surat tanggapan
hasil Pemeriksaan yang berisi tentang ketidaksetujuan atas
sebagian atau seluruh hasil Pemeriksaan namun tidak hadir
dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
menggunakan surat tanggapan tersebut sebagai dasar untuk
membuat risalah pembahasan dan berita acara
ketidakhadiran Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan, yang ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak.
(5) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 101 ayat (4) Wajib Pajak tidak menyampaikan surat
tanggapan hasil Pemeriksaan dan tidak hadir dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
membuat berita acara ketidakhadiran Wajib Pajak dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, yang ditandatangani
oleh Pemeriksa Pajak.
(6) Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam Pembahasan Akhir
Hasil Pemeriksaan dan Pemeriksa Pajak telah membuat dan
menandatangani berita acara ketidakhadiran Wajib Pajak
dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), ayat (4), atau ayat (5), Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan dianggap telah dilaksanakan.
(7) Dalam hal Wajib Pajak menolak menandatangani berita acara
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) atau ayat (3), Pemeriksa Pajak membuat catatan
tentang penolakan tersebut dalam berita acara Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan.
(8) Dalam hal terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak
dengan Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan, Wajib Pajak dapat mengajukan permintaan agar
perbedaan tersebut dibahas lebih dahulu oleh Tim Pembahas.
(9) Hasil pembahasan oleh Tim Pembahas sebagaimana dimaksud
pada ayat (8) dituangkan dalam risalah Tim Pembahas yang
merupakan bagian dari Kertas Kerja Pemeriksaan.
(10) Jangka Waktu Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dengan
jenis Pemeriksaan Kantor harus diselesaikan paling lama 3
(tiga) minggu.
(11) Jangka Waktu Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dengan
jenis Pemeriksaan Lapangan harus diselesaikan paling lama 1
(satu) bulan.

Pasal 103

(1) Risalah pembahasan dan berita acara Pembahasan Akhir Hasil


Pemeriksaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Laporan Hasil Pemeriksaan.
(2) Pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak atau Surat
Tagihan Pajak dihitung sesuai dengan Pembahasan Akhir
Hasil Pemeriksaan, kecuali:
a. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan
akhir tetapi menyampaikan tanggapan tertulis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat (2) atau ayat
(4), pajak yang terutang dihitung berdasarkan hasil
Pemeriksaan yang telah diberitahukan kepada Wajib Pajak
dengan memperhatikan tanggapan tertulis dari Wajib
Pajak;
b. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan
akhir dan tidak menyampaikan tanggapan tertulis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat (5), pajak
yang terutang dihitung berdasarkan hasil Pemeriksaan
yang telah diberitahukan kepada Wajib Pajak.

Pasal 104

(1) Hasil Pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil


Pemeriksaan dilaksanakan tanpa:
a. Penyampaian Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
atau
b. Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, dapat dibatalkan
secara jabatan atau berdasarkan permohonan Wajib Pajak
oleh Bupati.
(2) Dalam hal dilakukan pembatalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), proses Pemeriksaan harus dilanjutkan dengan
melaksanakan prosedur penyampaian Surat Pemberitahuan
Hasil Pemeriksaan dan/atau Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan.
(3) Dalam hal pembatalan dilakukan karena Pemeriksaan
dilaksanakan tanpa penyampaian Surat Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan, berdasarkan surat keputusan pembatalan hasil
Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak melanjutkan Pemeriksaan
dengan memberitahukan hasil Pemeriksaan kepada Wajib
Pajak dan melakukan pembahasan akhir dengan prosedur
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 dan Pasal 102.

Pasal 105

(1) Meskipun telah dilakukan Pemeriksaan dan Bupati belum


menerbitkan surat ketetapan pajak, Wajib Pajak dengan
kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan
tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat
Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya dan Pemeriksaan tetap dilanjutkan.
(2) Pengungkapan dalam laporan tersendiri tentang
ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), hanya dapat dilakukan sebelum
Pemeriksa Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan.
(3) Pengungkapan dalam laporan tersendiri tentang
ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) oleh Pemeriksa Pajak diperlakukan
sebagai tambahan informasi atau data dan menjadi bahan
pertimbangan bagi Pemeriksa Pajak sebelum menyampaikan
Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan kepada Wajib Pajak.

Pasal 106
(1) Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dapat diusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan
apabila:
a. pada saat pelaksanaan Pemeriksaan ditemukan adanya
indikasi tindak pidana di bidang perpajakan;
b. pada saat Wajib Pajak Badan diperiksa memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (5);
atau
c. Wajib Pajak menolak untuk dilakukan Pemeriksaan, tidak
memenuhi panggilan Pemeriksaan Kantor, menolak
membantu kelancaran Pemeriksaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 97.
(2) Dalam hal Pemeriksaan yang dilakukan merupakan
Pemeriksaan Lapangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
83 ayat (2), usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan harus
memperhatikan jangka waktu penyelesaian permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
(3) Dalam hal usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disetujui, pelaksanaan Pemeriksaan
dihentikan dengan membuat Laporan Hasil Pemeriksaan
sumir, kecuali usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan terkait
dengan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak, penyelesaian Pemeriksaan ditangguhkan sampai
dengan:

a. pemeriksaan bukti permulaan diselesaikan dan tidak


dilanjutkan dengan penyidikan;
b. penyidikan dihentikan dan tidak dilakukan penuntutan;
c. diterimanya putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap yang menyatakan Wajib Pajak
bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum.

Pasal 107

(1) Pemeriksaan yang ditangguhkan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 106 ayat (3) dilanjutkan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, apabila:

a. pemeriksaan bukti permulaan tidak dilanjutkan dengan


penyidikan;

b. penyidikan dihentikan karena tidak dilakukan penuntutan

c. diterima putusan pengadilan yang telah mempunyai


kekuatan hukum tetap yang menyatakan Wajib Pajak
bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum.

(2) Dalam hal Pemeriksaan dilanjutkan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), jangka waktu Pemeriksaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan.

Pasal 108

(1) Pemeriksaan Ulang hanya dapat dilakukan berdasarkan


instruksi atau persetujuan Bupati.
(2) lnstruksi atau persetujuan Bupati untuk melaksanakan
Pemeriksaan Ulang dapat diberikan :
a. apabila terdapat data baru yang semula belum terungkap;
atau
b. berdasarkan pertimbangan Kepala Dinas.
(3) Penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan harus
didahului dengan Pemeriksaan Ulang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dalam hal sebelumnya terhadap kewajiban
perpajakan yang sama telah diterbitkan surat ketetapan pajak
berdasarkan hasil Pemeriksaan.
Pasal 109

(1) Ruang lingkup Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka


melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan dapat meliputi penentuan, pencocokan, atau
pengumpulan materi yang berkaitan dengan tujuan
Pemeriksaan.
(2) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
dilakukan dengan kriteria antara lain sebagai berikut:
a. pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan;
b. penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak;
c. pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha
Kena Pajak;
d. wajib Pajak mengajukan keberatan;
e. pengumpulan bahan guna penyusunan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto;
f. pencocokan data dan/atau alat keterangan;
g. penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;
h. penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak
Pertambahan Nilai;
i. pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;
j. penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang
jangka waktu kompensasi kerugian sehubungan dengan
pemberian fasilitas perpajakan; dan/atau
k. memenuhi permintaan informasi dari negara mitra
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda.

Pasal 110

(1) Pemeriksaan untuk tujuan lain dengan kriteria sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 109 dapat dilakukan dengan jenis
Pemeriksaan Kantor atau Pemeriksaan Lapangan.
(2) Jangka waktu Pemeriksaan Kantor terkait dengan
Pemeriksaan untuk tujuan lain adalah paling lama 7 (tujuh)
hari dan dapat diperpanjang menjadi paling lama 14 (empat
belas) hari yang dihitung sejak tanggal Wajib Pajak datang
memenuhi surat panggilan dalam rangka Pemeriksaan Kantor
sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.
(3) Jangka waktu Pemeriksaan Lapangan terkait dengan
Pemeriksaan untuk tujuan lain adalah paling lama 2 (dua)
bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling lama 4 (empat)
bulan yang dihitung sejak tanggal Surat Perintah Pemeriksaan
sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.
(4) Dalam hal Pemeriksaan untuk tujuan lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 109 ayat (2) huruf b dilakukan
berdasarkan permohonan Wajib Pajak, jangka waktu
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau ayat
(3) harus memperhatikan jangka waktu penyelesaian
permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.
(5) Dalam hal Pemeriksaan untuk tujuan lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 109 ayat (2) huruf c dilakukan
berdasarkan permohonan Pengusaha Kena Pajak, jangka
waktu Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau
ayat (3) harus memperhatikan jangka waktu penyelesaian
permohonan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

Pasal 111

(1) Pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilaksanakan sesuai


dengan standar Pemeriksaan.
(2) Standar Pemeriksaan untuk tujuan lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi standar umum, standar
pelaksanaan Pemeriksaan, dan standar pelaporan hasil
Pemeriksaan.

Pasal 112

Pemeriksa Pajak yang melaksanakan Pemeriksaan untuk tujuan


lain juga harus memenuhi standar umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 85 ayat (1) dan ayat (2).

Pasal 113

Pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilakukan


sesuai dengan standar pelaksanaan pemeriksaan, yaitu:
a. pelaksanaan Pemeriksaan harus didahului dengan persiapan
yang baik, sesuai dengan tujuan Pemeriksaan dan mendapat
pengawasan yang seksama;
b. luas Pemeriksaan disesuaikan dengan kriteria dilakukannya
Pemeriksaan untuk tujuan lain;
c. pemeriksaan dilakukan oleh tim Pemeriksa Pajak yang terdiri
dari seorang supervisor, seorang ketua tim, dan seorang atau
lebih anggota tim;
d. pemeriksaan dapat dilaksanakan di kantor Dinas, tempat
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak, tempat
tinggal Wajib Pajak, atau di tempat lain yang dianggap perlu
oleh Pemeriksa Pajak;
e. pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila
diperlukan dapat dilanjutkan di luar jam kerja;
f. pelakasanaan Pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk
Kertas Kerja Pemeriksaan; dan
g. laporan Hasil Pemeriksaan untuk tujuan lain digunakan
sebagai dasar penerbitan surat keputusan atau sebagai bahan
masukan untuk pembuatan keputusan.

Pasal 114

Kegiatan Pemeriksaan untuk tujuan lain harus didokumentasikan


dalam bentuk Kertas Kerja Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 86 huruf i dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
a. kertas kerja pemeriksaan wajib disusun oleh Pemeriksa Pajak
dan berfungsi sebagai:
1) bukti bahwa Pemeriksa Pajak telah melaksanakan
Pemeriksaan berdasarkan standar Pemeriksaan; dan
2) dasar pembuatan Laporan Hasil Pemeriksaan;
b. kertas kerja pemeriksaan harus memberikan gambaran
mengenai:
1) data, keterangan, dan/ atau bukti yang diperoleh;
2) prosedur Pemeriksaan yang dilaksanakan; dan
3) simpulan dan hal-hal lain yang dianggap perlu yang
berkaitan dengan Pemeriksaan.

Pasal 115

Kegiatan pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilaporkan dalam


bentuk Laporan Hasil Pemeriksaan yang disusun sesuai standar
pelaporan hasil Pemeriksaan, yaitu:
a. laporan hasil pemeriksaan disusun secara ringkas dan jelas,
memuat ruang lingkup atau pos-pos yang diperiksa sesuai
dengan tujuan Pemeriksaan, memuat simpulan Pemeriksa
Pajak dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang
terkait;
b. laporan hasil pemeriksaan untuk tujuan lain antara lain
mengenai:
1) penugasan pemeriksaan;
2) identitas wajib pajak;
3) dasar (tujuan) pemeriksaan;
4) buku dan dokumen yang dipinjam;
5) materi yang diperiksa;
6) uraian hasil pemeriksaan;
7) simpulan dan usul pemeriksa.
Pasal 116

(1) Dalam hal Pemeriksaan untuk tujuan lain dilaksanakan


dengan jenis Pemeriksaan Lapangan, Pemeriksa Pajak wajib:
a. memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan
Surat Perintah Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada
waktu Pemeriksaan;
b. memberitahukan secara tertulis tentang dilakukannya
Pemeriksaan untuk tujuan lain kepada Wajib Pajak;
c. menjelaskan alasan dan tujuan Pemeriksaan kepada Wajib
Pajak yang akan diperiksa;
d. menunjukkan Surat Tugas kepada Wajib Pajak apabila
susunan Tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan;
e. membuat Kertas Kerja Pemeriksaan sebagai dasar
penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan;
f. mengembalikan buku, catatan, dan dokumen pendukung
lainnya yang dipinjam dari Wajib Pajak paling lama 7
(tujuh) hari sejak tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan;
dan/atau
g. merahasiakan kepada pihak lain yang tidak berhak segala
sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh
Wajib Pajak dalam rangka Pemeriksaan.
(2) Dalam hal Pemeriksaan untuk tujuan lain dilaksanakan
dengan jenis Pemeriksaan Kantor, Pemeriksa Pajak wajib:
a. menyampaikan surat panggilan tentang dilakukannya
Pemeriksaan untuk tujuan lain kepada Wajib Pajak;
b. memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan
Surat Perintah Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada
waktu Pemeriksaan;
c. menjelaskan alasan dan tujuan Pemeriksaan kepada Wajib
Pajak yang akan diperiksa;
d. memperlihatkan Surat Tugas kepada Wajib Pajak apabila
terdapat perubahan susunan Tim Pemeriksa Pajak;
e. membuat Kertas Kerja Pemeriksaan sebagai dasar
penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan;
f. mengembalikan buku, catatan, dan dokumen pendukung
lainnya yang dipinjam dari Wajib Pajak paling lama 7
(tujuh) hari sejak tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan;
dan/atau
g. merahasiakan kepada pihak lain yang tidak berhak segala
sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh
Wajib Pajak dalam rangka Pemeriksaan.
Pasal 117

(1) Dalam hal Pemeriksaan untuk tujuan lain dilaksanakan


dengan jenis Pemeriksaan Lapangan, Pemeriksa Pajak
berwenang:

a. meminjam dan memeriksa buku atau catatan, dokumen


yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan
dokumen lain yang berhubungan dengan tujuan
Pemeriksaan;

b. mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara


elektronik;

c. memasuki dan memeriksa tempat atau ruang, barang


bergerak dan/atau tidak bergerak yang diduga atau patut
diduga digunakan untuk menyimpan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan, dokumen lain, dan/atau barang yang
berkaitan dengan tujuan Pemeriksaan;

d. meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari Wajib


Pajak; dan/atau

e. meminta keterangan dan/atau data yang diperIukan dari


pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib
Pajak yang diperiksa melalui Kepala Dinas.

(2) Dalam hal pemeriksaan untuk tujuan lain dilaksanakan


dengan jenis Pemeriksaan Kantor, Pemeriksa Pajak
berwenang:

a. meminjam dan memeriksa buku atau catatan, dokumen


yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan
dokumen lain termasuk data yang dikelola secara
elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan yang
diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak
atau objek yang terutang pajak;

b. meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari Wajib


Pajak; dan/atau

c. meminta keterangan dan/atau data yang diperlukan dari


pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib
Pajak yang diperiksa melalui Kepala Dinas.
Pasal 118

(1) Dalam pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan lain dengan


jenis Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak berhak:

a. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan


Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah
Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada waktu Pemeriksaan;

b. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan


pemberitahuan secara tertulis sehubungan dengan
pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan;

c. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan


penjelasan tentang alasan dan tujuan Pemeriksaan;

d. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan


Surat Tugas apabila terdapat perubahan susunan Tim
Pemeriksa Pajak; dan/atau

e. memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan


Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui pengisian
formulir Kuesioner Pemeriksaan.

(2) Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk tujuan lain dengan


jenis Pemeriksaan Kantor, Wajib Pajak berhak:

a. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperIihatkan


Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah
Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada waktu Pemeriksaan;

b. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan


penjelasan tentang alasan dan tujuan Pemeriksaan;

c. meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan


Surat Tugas apabila terdapat perubahan Susunan Tim
Pemeriksa Pajak; dan/atau

d. memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan


Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui pengisian
formulir Kuesioner Pemeriksaan.

Pasal 119

(1) Dalam pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan lain dengan


jenis Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak wajib :
a. memperlihatkan dan meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan
dan dokumen lain, yang berhubungan dengan tujuan
Pemeriksaan;
b. memberi kesempatan untuk mengakses dan/atau
mengunduh data yang dikelola secara elektronik;
c. memberi kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang
penyimpanan buku atau catatan, dokumen yang menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan, dokumen lain,
dan/atau barang, yang berkaitan dengan tujuan
Pemeriksaan serta meminjamkannya kepada Pemeriksa
Pajak; dan/atau
d. memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis serta
memberikan data dan/atau keterangan lain yang
diperlukan.

(2) Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk tujuan lain dengan


jenis Pemeriksaan Kantor, Wajib Pajak berkewajiban:
a. memperlihatkan dan meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan
dan dokumen lain, yang berhubungan dengan tujuan
Pemeriksaan; dan/atau
b. memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis serta
memberikan data dan/atau keterangan lain yang
diperlukan.

Pasal 120

(1) Buku, catatan, dan dokumen serta data, informasi dan


keterangan lain yang dipinjam harus disesuaikan dengan
tujuan dan kriteria Pemeriksaan untuk tujuan lain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109.

(2) Peminjaman buku, catatan, dan dokumen serta data,


informasi, dan keterangan lain harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 dan
Pasal 94.

Pasal 121

(1) Apabila dalam Pemeriksaan untuk tujuan lain Wajib Pajak


tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 119, Wajib Pajak harus menandatangani surat
pernyataan penolakan Pemeriksaan.

(2) Dalam hal terjadi penolakan untuk menandatangani surat


pernyataan penolakan Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Pemeriksa Pajak membuat berita acara
penolakan Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pemeriksa
Pajak.
Pasal 122

(1) Berdasarkan surat pernyataan penolakan Pemeriksaan atau


berita acara penolakan Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 121, permohonan Wajib Pajak tidak dapat
diproses atau dipertimbangkan dalam hal Pemeriksaan untuk
tujuan lain dilakukan dalam rangka:
a. penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;
b. penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak
Pertambahan Nilai;dan/atau
c. penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang
jangka waktu kompensasi kerugian; dan
d. sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan.
(2) Berdasarkan surat pernyataan penolakan Pemeriksaan atau
berita acara penolakan Pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 121, Wajib Pajak akan diberi Nomor Pokok Wajib
Pajak dan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara
jabatan dalam hal Pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan
dalam rangka:
a. pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan;
dan/atau
b. pengukuhan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan.
(3) Berdasarkan surat pernyataan penolakan Pemeriksaan atau
berita acara penolakan pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 121, permohonan Wajib Pajak tidak dikabulkan
dalam hal pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan dalam
rangka:
a. penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak; dan/atau
b. pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Wajib Pajak
Kena Pajak.
Pasal 123
(1) Dalam pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan lain,
Pemeriksa Pajak melalui Kepala Dinas juga dapat memanggil
Wajib Pajak untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci
atau meminta keterangan dan/atau bukti yang berkaitan
dengan Pemeriksaan kepada pihak ketiga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah diubah ketiga kali dengan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2007.
(2) Permintaan keterangan kepada Wajib Pajak atau kepada pihak
ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 87 dan Pasal 88.
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 124

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2014.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan


Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah
Kabupaten Lombok Timur.

Ditetapkan di Selong
pada tanggal 9 Januari 20132
Agustus 2012

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY

Diundangkan di Selong
pada tanggal 10 Januari 2013

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN LOMBOK TIMUR,

Ttd

USMAN MUHSAN

BERITA DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR TAHUN 2013 NOMOR 1


LAMPIRAN I
PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN

BENTUK, ISI FORMULIR, DAN PETUNJUK PENGISIAN SPOP DAN LSPOP

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK

DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET


BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY
LAMPIRAN II
PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN

STRUKTUR NOMOR OBJEK PAJAK (NOP)

Terdiri dari 18 (delapan belas) digit.

Digit ke-1 dan ke-2 : kode propinsi;


Digit ke-3 dan ke-4 : kode kabupaten;
Digit ke-5 sampai dengan digit ke-7 : kode kecamatan;
Digit ke-8 sampai dengan digit ke-10 : kode kelurahan/ desa;
Digit ke-11 sampai dengan digit ke-13 : kode nomor urut blok;
Digit ke-14 sampai dengan digit ke-17 : kode urut objek pajak; dan
Digit ke-18 : tanda khusus;

BAGAN STRUKTUR NOP

Kode Wilayah Administrasi Pemerintah

5 2 0 3 0 7 0 0 0 2 0 1 0 0 0 8 1 0
Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa/Kelurahan Nomor Urut Blok Nomor Urut Tanda
Objek Khusus

Contoh penulisan :

Kode propinsi : (52) Nusa Tenggara Barat


Kode kabupaten : (03) Lombok Timur
Kode kecamatan : (070) Selong
Kode kelurahan/ desa : (002) _ Pancor
Kode nomor urut blok : (010) Urutan Blok
Kode urut objek : (0081) _ Urutan Objek Pajak
Tanda khusus : (0) Objek Pajak yang sudah dilakukan pendataan
SISMIOP

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY
LAMPIRAN III
PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN

CONTOH SURAT PERMOHONAN ANGSURAN PEMBAYARAN PBB

Lampiran : 1 (satu) set


Hal : Permohonan Angsuran Pembayaran PBB

Yth. Bupati Lombok Timur


Cq. Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan
Dan Asset Kabupaten Lombok Timur.

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : ....................................................................................
NPWP : ....................................................................................
Alamat : ....................................................................................
....................................................................................
Desa/Kelurahan*) : ....................................................................................
Kecamatan : ....................................................................................
Kabupaten/Kota*) : ....................................................................................
Nomor Telepon : ....................................................................................

mengajukan permohonan angsuran pembayaran PBB sebesar .................... (.........kali angsuran) dari PBB
yang terutang, atas objek pajak:

NOP : ....................................................................................
Alamat : ....................................................................................
....................................................................................
Desa/Kelurahan*) : ....................................................................................
Kecamatan : ....................................................................................
Kabupaten/Kota*) : ....................................................................................

Alasan mengajukan permohonan:


1. ...................................................................................
2. ...................................................................................
3. st.

Bersama ini dilampirkan:


1. fotokopi SPPT/SKP/PBB*) Tahun Pajak ...................;
2. Surat Kuasa Khusus/surat kuasa*) dalam hal surat permohonan tidak ditandatangani Wajib Pajak;
3. dokumen pendukung:
a. ....................................................................................
b. ....................................................................................
c. dst.

Demikian disampaikan untuk dapat dipertimbangkan.

....................,.....................20..........
..
Wajib Pajak/Kuasa Wajib Pajak*)

(...................................................)

Keterangan :
*) coret yang tidak perlu

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY
LAMPIRAN IV
PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN

CONTOH SURAT PERMOHONAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PBB

Lampiran : 1 (satu) set


Hal : Permohonan Penundaan Pembayaran PBB

Yth. Bupati Lombok Timur


Cq. Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan
Dan Asset Kabupaten Lombok Timur.

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : ....................................................................................
NPWP : ....................................................................................
Alamat : ....................................................................................
....................................................................................
Desa/Kelurahan*) : ....................................................................................
Kecamatan : ....................................................................................
Kabupaten/Kota*) : ....................................................................................
Nomor Telepon : ....................................................................................

mengajukan permohonan Penundaan pembayaran PBB yang terutang, atas objek pajak:

NOP : ....................................................................................
Alamat : ....................................................................................
....................................................................................
Desa/Kelurahan*) : ....................................................................................
Kecamatan : ....................................................................................
Kabupaten/Kota*) : ....................................................................................

Alasan mengajukan permohonan:


1. ...................................................................................
2. ...................................................................................
3. st.

Demikian disampaikan untuk dapat dipertimbangkan.

....................,.....................20..........
..
Wajib Pajak/Kuasa Wajib Pajak*)

(...................................................)

Keterangan :
*) coret yang tidak perlu

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY
LAMPIRAN V
PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN

FORMAT KEPUTUSAN KEPALA DINAS TENTANG PENGANGSURAN PEMBAYARAN PBB

(KOP DINAS)
KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDAPATAN
PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET
KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR : ...........................(1)
TENTANG
PENGANGSURAN PEMBAYARAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

KEPALA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET


KABUPATEN LOMBOK TIMUR,

Menimbang : a. bahwa membaca surat permohonan pengangsuran pembayaran Utang


PBB yang diajukan atas nama Wajib Pajak/kuasa dari Wajib Pajak *),
......................(2) nomor .............................. (3) tanggal ................... (4)
atas SPPT/SKP PBB/STP PBB*) nomor .................... (5) Tahun Pajak
.......................... (6) besarnya Utang PBB sebesar Rp..................... (7)
(............... rupiah (8) (yang diterima KPP Pratama ...................................
(9) berdasarkan tanda terima nomor ................................. (10) tanggal
................................ (11);
b. bahwa sesuai surat permohonan pengangsuran pembayaran Utang PBB
yang diajukan atas nama Wajib Pajak/kuasa dari Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, telah dilakukan penelitian
sebagaimana dituangkan dalam Laporan Hasil Penelitian Permohonan
Pengangsuran Pembayaran Utang PBB nomor .................... (12) tanggal
..............(13);
c. bahwa bedasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Kepala Dinas tentang
Pengangsuran Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-


daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur;
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah
Yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah Atau Dibayar
Sendiri Oleh Wajib Pajak;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 2 Tahun 2008
tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan
Kabupaten Lombok Timur;
6. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 12 Tahun 2012
tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;
7. Peraturan Bupati Lombok Timur Nomor 1 Tahun 2013 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur
Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan
dan Perkotaan.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET


KABUPATEN LOMBOK TIMUR TENTANG PENGANGSURAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
KESATU : Menerima seluruhnya/Menerima sebagian/Menolak*) permohonan
pengangsuran pembayaran Utang PBB yang tercantum dalam SPPT/SKP
PBB/STP PBB*) nomor .................................. (14) Tahun Pajak
.............................. (15) :
a. Wajib Pajak
nama : ............................................................... (16)
NPWP : ................................................................(17)
alamat : ................................................................(18)
b. Objek Pajak
NOP : ............................................................... (19)
Utang PBB : ............................................................... (20)
Jatuh Tempo : ............................................................... (21)
Alamat : ............................................................... (22)
Desa/Kelurahan*) : ............................................................... (23)
Kecamatan : ............................................................... (24)
Kabupaten/Kota*) : ............................................................... (25)
KEDUA : Sesuai dengan diktum KESATU, kepada Wajib Pajak tersebut ditetapkan
untuk mengangsur pembayaran Utang PBB sebesar Rp .........................
(26) sebanyak ........... (27) kali.
KETIGA : Ketentuan penghitungan besarnya angsuran sebagaimana dimaksud pada
diktum KEDUA adalah sebagai berikut :
Angsuran ke Besarnya Jatuh Tempo Denda
Angsuran Pembayaran Administrasi
1 2 3 4
.......................(28 ....................(30 ....................(31 ......................(32
) ) ) )

Denda Administrasi sebagaimana tercantum pada kolom 4 ditagih dengan


menggunakan STP PBB.
KEEMPAT : Pembayaran angsuran sebagaimana dimaksud pada diktum KETIGA
dilakukan di ................ (32)
KELIMA : Keputusan Kepala Dinas ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di ................. (33)


pada tanggal .................. (34)
a.n. BUPATI LOMBOK TIMUR
Kepala Dinas,

...................................... (35)

Keterangan:
*) Coret yang tidak perlu
Petunjuk Pengisian Lampiran V

Angka 1 : diisi nomor keputusan Pengangsuran Pembayaran PBB;


Angka 2 : diisi nama Wajib Pajak atau kuasa Wajib pajak;
Angka 3 : diisi nomor surat permohonan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 4 : diisi tanggal surat permohonan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 5 : diisi Nomor Objek Pajak (NOP) atau nomor SKP PBB atau nomor STP PBB;
Angka 6 : diisi tahun SPPT atau SKP PBB atau STP PBB;
Angka 7 : diisi besarnya utang PBB yang tercantum dalam SPPT atau SKP PBB atau STP PBB;
Angka 8 : diisi besarnya utang PBB yang tercantum dalam SPPT atau SKP PBB atau STP PBB dengan
huruf;
Angka 9 : diisi nama KPP pratama yang menerima permohonan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 10 : diisi nomor tanda terima permohonan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 11 : diisi tanggal tanda terima permohonan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 12 : diisi nomor Laporan Hasil Penelitian Pengangsuran Pembayaran PBB;
Angka 13 : diisi tanggal Laporan Hasil Penelitian Pengangsuran Pembayaran PBB;
Angka 14 : diisi nomor SPPT atau SKP PBB atau STP PBB;
Angka 15 : diisi tahun penerbitan SPPT atau SKP PBB atau STP PBB;
Angka 16 : diisi nama Wajib Pajak;
Angka 17 : diisi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
Angka 18 : diisi alamat Wajib Pajak;
Angka 19 : diisi Nomor Objek Pajak (NOP);
Angka 20 : diisi utang PBB yang tercantum dalam SPPT, SKP PBB, atau STP PBB ditulis dengan angka;
Angka 21 : diisi tanggal jatuh tempo SPPT, SKP PBB, atau STP PBB;
Angka 22 : diisi alamat objek pajak;
Angka 23 : diisi nama Desa/Kelurahan letak objek pajak;
Angka 24 : diisi nama Kecamatan letak objek pajak;
Angka 25 : diisi nama Kabupaten letak objek pajak;
Angka 26 : diisi dengan jumlah utang PBB yang diangsur;
Angka 27 : diisi dengan jumlah masa angsuran;
Angka 28 : diisi nomor angsuran;
Angka 29 : diisi dengan besarnya angsuran;
Angka 30 : diisi dengan tanggal jatuh tempo pembayaran pengangsuran;
Angka 31 : diisi dengan besarnya denda administrasi sesuai dengan ketentuan Pasal 107 ayat (2) UU No
28 Tahun 2009 tentang PDRD;
Angka 32 : diisi dengan bank/pos persepsi tempat pembayaran angsuran;
Angka 33 : diisi kota tempat diterbitkannya surat keputusan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 34 : diisi tanggal diterbitkannya keputusan pengangsuran pembayaran PBB;
Angka 35 : diisi nama pejabat yang menerbitkan keputusan pengangsuran pembayaran PBB tanpa gelar.

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY
LAMPIRAN VI
PERATURAN BUPATI LOMBOK TIMUR
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN

FORMAT KEPUTUSAN KEPALA DINAS TENTANG PENUNDAAN PEMBAYARAN PBB

(KOP DINAS)
KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDAPATAN
PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET
KABUPATEN LOMBOK TIMUR
NOMOR : ...........................(1)
TENTANG
PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

KEPALA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET


KABUPATEN LOMBOK TIMUR,

Menimbang : a. bahwa membaca surat permohonan penundaan pembayaran Utang PBB


yang diajukan atas nama Wajib Pajak/kuasa dari Wajib Pajak*)
.................. (2) nomor ....................... (3) tanggal ............ (4) atas
SPPT/SKP PBB/STP PBB*) nomor ..................... (5) Tahun Pajak
..................... (6) besarnya Utang PBB sebesar Rp .................. (7)
(............................... rupiah (8)) yang diterima KPP Pratama
............................. (9) berdasarkan tanda terima nomor
......................................... (10) tanggal ...................... (11);
b. bahwa sesuai surat permohonan penundaan pembayaran Utang PBB
yang diajukan atas nama Wajib Pajak/kuasa dari Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, telah dilakukan penelitian
sebagaimana dituangkan dalam Laporan Hasil Penelitian Permohonan
Penundaan Pembayaran Utang PBB nomor ...................... (12) tanggal
................... (13);
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Kepala Dinas tentang
Persetujuan Penundaan Pembayaran Utang Pajak Bumi dan Bangunan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-


daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur;
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak
Daerah Yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah Atau
Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 2 Tahun 2008
tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan
Kabupaten Lombok Timur;
6. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor 12 Tahun 2012
tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;
7. Peraturan Bupati Lombok Timur Nomor 1 Tahun 2013 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur
Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan
dan Perkotaan.
MEMUTUSKAN :

Menentukan : KEPUTUSAN KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN


KEUANGAN DAN ASSET KABUPATEN LOMBOK TIMUR TENTANG
PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

KESATU : Menerima seluruhnya/Menerima sebagian/Menolak*) permohonan


penundaan pembayaran Utang PBB yang tercantum dalam SPPT/SKP
PBB/STP PBB*) nomor ........................... (14) Tahun Pajak .......................
(15) :
a. Wajib Pajak
nama : ............................................................... (16)
NPWP : ............................................................... (17)
alamat : ............................................................... (18)
b. Objek Pajak
NOP : ............................................................... (19)
Utang PBB : ............................................................... (20)
Jatuh Tempo : ............................................................... (21)
Alamat : ............................................................... (22)
Desa/Kelurahan*) : ............................................................... (23)
Kecamatan : ............................................................... (24)
Kabupaten/Kota*) : ............................................................... (25)

KEDUA : Sesuai dengan diktum KESATU, kepada Wajib Pajak tersebut ditetapkan
untuk menunda pembayaran Utang PBB sebesar Rp ............................. (26)
dengan ketentuan sebagai berikut :
1. ditunda sampai dengan tanggal ............................. (27); dan
2. dikenai sanksi administrasi berupa denda administrasi sebesar
Rp. .......................... (28) yang ditagih dengan STP PBB.
KETIGA : Pelunasan Utang PBB yang ditunda pembayarannya sebagaimana dimaksud
pada diktum KEDUA dilakukan di ........................................ (29)
KEEMPAT : Keputusan Kepala Dinas ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di ................. (30)


pada tanggal .................. (31)
a.n. BUPATI LOMBOK TIMUR
Kepala Dinas,

...................................... (32)

Keterangan:
*) Coret yang tidak perlu
Petunjuk Pengisian Lampiran VI

Angka 1 : diisi nomor Surat Keputusan Penundaan Pembayaran PBB;


Angka 2 : diisi nama Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak;
Angka 3 : diisi nomor surat permohonan penundaan pembayaran PBB;
Angka 4 : diisi tanggal surat permohonan penundaan pembayaran PBB;
Angka 5 : diisi Nomor Objek Pajak (NOP), nomor SKP PBB, atau nomor STP PBB;
Angka 6 : diisi tahun SPPT, SKP PBB, atau STP PBB;
Angka 7 : diisi besarnya utang PBB yang tercantum dalam SPPT, SKP PBB, atau STP PBB;
Angka 8 : diisi besarnya utang PBB yang tercantum dalam SPPT, SKP PBB, atau STP PBB dengan huruf;
Angka 9 : diisi nama KPP Pratama yang menerima permohonan penundaan pembayaran PBB;
Angka 10 : diisi nomor tanda terima permohonan penundaan pembayaran PBB;
Angka 11 : diisi tanggal tanda terima permohonan penundaan pembayaran PBB;
Angka 12 : diisi nomor Laporan Hasil Penelitian Penundaan Pembayaran PBB;
Angka 13 : diisi tanggal Laporan Hasil Penelitian Penundaan Pembayaran PBB;
Angka 14 : diisi nomor SPPT, SKP PBB, atau STP PBB;
Angka 15 : diisi tahun penerbitan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB;
Angka 16 : diisi nama Wajib Pajak;
Angka 17 : diisi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
Angka 18 : diisi alamat Wajib Pajak;
Angka 19 : diisi Nomor Objek Pajak (NOP);
Angka 20 : diisi utang PBB yang tercantum dalam SPPT, SKP PBB, atau STP PBB ditulis dengan angka;
Angka 21 : diisi tanggal jatuh tempo SPPT, SKP PBB, atau STP PBB;
Angka 22 : diisi alamat objek pajak;
Angka 23 : diisi nama Desa/Kelurahan letak objek pajak;
Angka 24 : diisi nama Kecamatan letak objek pajak;
Angka 25 : diisi nama Kabupaten/Kota letak objek pajak;
Angka 26 : diisi dengan jumlah utang PBB yang ditunda;
Angka 27 : diisi dengan tanggal jatuh tempo penundaan pembayaran PBB;
Angka 28 : diisi dengan besarnya denda administrasi sesuai dengan ketentuan Pasal 62 ayat (1) Perbup
Lotim No 1 Tahun 2013;
Angka 29 : diisi dengan bank/pos persepsi atau bank/pos tempat pembayaran yang digunakan untuk
pembayaran penundaan Utang PBB;
Angka 30 : diisi kota tempat diterbitkannya surat keputusan penundaan pembayaran PBB;
Angka 31 : diisi tanggal diterbitkannya surat keputusan penundaan pembayaran PBB;
Angka 32 : diisi nama pejabat yang menerbitkan surat keputusan penundaan pembayaran PBB tanpa
gelar.

BUPATI LOMBOK TIMUR,

Ttd

M. SUKIMAN AZMY