Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN GINEKOLOGI

PADA PASIEN Ny. P DENGAN MISSED ABORTION DI RUANG MELATI 1


RSUP dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

DisusunOleh
Arif Ferdiyanto
170300389

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU-ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
2017/2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan dapat
hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena
jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus,
maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500
gram atau kurang dari 20 minggu. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus
spontan. Abortus buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan.
Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Diperkirakan
frekuensi abortus spontan berkisar 10-15%.
Missed abortion merupakan salah satu bagian dari abortus spontan. Missed abortion
yaitu keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-20, tetapi tertanam di dalam rahim
selama beberapa minggu (8 minggu atau lebih) setelah janin mati (tidak dikeluarkan).
Penyebab dari missed abortion belum diketahui secara pasti namun diduga salah satunya
karena ada pengaruh dari hormone progesteron. Progesteron merupakan suatu hormon yang
diproduksi di dalam ovarium, disekresikan oleh korpus luteum. Hormon ini adalah hormon
utama selama kehamilan yang digunakan untuk implantasi. Kekurangan progesterone dapat
sangat berpengaruh pada seseorang, antara lain terganggunya siklus menstruasi, tidak
terjadinya ovulasi; meningkatnya stress dan rasa tidak nyaman selama kehamilan, terutama
pada trimester I; keringnya mukosa vagina; meningkatkan risiko keguguran. Peyebab dari
kekurangan progesterone sendiri antara lain adalah stress, diet, kontrasepsi, dan lingkungan.
Untuk memantau kemajuan kehamilan dan memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin diperlukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal care [ANC]) yang rutin
dilakukan. Jadwal kunjungan ANC sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan yaitu satu
kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu), satu kali pada trimester ke dua (antara
minggu 14-28), dan dua kali pada trimester ke tiga (antara minggu 28-36 minggu dan
sesudah minggu ke 36). Pelayanan standar pada ANC adalah 7T, a) (Timbang) berat badan,
b) Ukur (Tekanan) darah, c) Ukur (Tinggi) fundus uteri, d) Pemberian imunisasi (Tetanus
Toxoid), e) Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan, f) Tes terhadap
penyakit menular sexual, g) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

2
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. ABORTUS
1. DEFINISI
Pengguguran kandungan atau aborsi atau abortus menurut:
a. Medis : abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin
mampu bertahan hidup pada usia kehamilan sebelum 20 minggu didasarkan pada
tanggal hari pertama haid normal terakhir atau berat janin kurang dari 500 gram (
Obstetri Williams, 2006).
b. Kamus Besar Bahasa Indonesia : terjadi keguguran janin, melakukan abortus
(dengan sengaja karena tidak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu).
c. Keguguran adalah pegeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan (Rustam Muchtar, 1998).
d. Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang
dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram
waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat
badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari
20 minggu (Sarwono, 2005).
2. ETIOLOGI
Penyebab abortus dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu:
a. Faktor janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, dan ini terjadi pada
50%-60% kasus keguguran.
b. Faktor ibu:
1. Kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid, kencing manis.
2. Faktor kekebalan (imunologi), misalnya pada penyakit lupus, Anti
phospholipid syndrome.
3. Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak jerman,
toksoplasma , herpes, klamidia.
4. Kelemahan otot leher rahim
3
5. Kelainan bentuk rahim.
c. Faktor Ayah: kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan
abortus.
Selain 3 faktor di atas, faktor penyebab lain dari kehamilan abortus adalah:
a. Faktor genetic.
Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik. Paling sering ditemukannya
kromosom trisomi dengan trisomi 16.
b. Faktor anatomi
Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 %
wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
1. Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta).
Duktus mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester kedua.
2. Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah
endometrium.
3. Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterin (synechia), leimioma, dan
endometriosis.
c. Faktor endokrin:
1. Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 % kasus.
2. Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak
cukupnya produksi progesteron).
3. Hipotiroidisme, hipoprolakt inemia, diabetes dan sindrom polikistik ovarium
merupakan faktor kontribusi pada keguguran.

d. Faktor infeksi
Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma, Rubella,
Cytomegalovirus) dan malaria.
e. Faktor imunologi
Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan pembekuan darah dibelakang
ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya aliran darah
dari ari-ari tersebut.
f. Penyakit-penyakit kronis yang melemahkan

4
Pada awal kehamilan, penyakit-penyakit kronis yang melemahkan keadaan ibu,
misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis jarang menyebabkan abortus;
sebaliknya pasien penyakit tersebut sering meninggal dunia tanpa melahirkan.
g. Faktor Nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling besar menjadi
predisposisi abortus. Meskipun demikian, belum ditemukan bukti yang
menyatakan bahwa defisisensi salah satu/ semua nutrien dalam makanan
merupakan suatu penyebab abortus yang penting.
h. Obat-obat rekreasional dan toksin lingkungan.
Peranan penggunaan obat-obatan rekreasional tertentu yang dianggap teratogenik
harus dicari dari anamnesa seperti tembakau dan alkohol, yang berperan karena
jika ada mungkin hal ini merupakan salah satu yang berperan.
i. Faktor psikologis.
Dibukt ikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang dengan keadaan
mental akan tetapi belum dapat dijelaskan sebabnya. Yang peka terhadap
terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang secara emosional dan sangat
penting dalam menyelamatkan kehamilan. Usaha-usaha dokter untuk mendapat
kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu kepadanya, sangat
membantu.

3. PATOGENESIS
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian
embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta
yang terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya
kontraksi uterus dan mengawali proses abortus. Pada kehamilan kurang dari 8
minggu, embrio rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua
dan villi chorialis cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di canalis servicalis. Perdarahan
pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi. Pada kehamilan 8 14
minggu, mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan pecahnya selaput ketuban
lebih dulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih
tertinggal dalam cavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis
servikalis atau masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis ini sering
5
menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. Pada kehamilan minggu ke 14
22, Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa
saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga
menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam yang
banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol.
Dari penjelasan di atas jelas bahwa abortus ditandai dengan adanya perdarahan
uterus dan nyeri dengan intensitas beragam (Prawirohardjo, 2002).

4. KLASIFIKASI
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
Menurut terjadinya dibedakan atas:
a. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja
atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis, semata-mata
disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
b. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja tanpa
indikasi medis, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi:
1. Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita
sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa
ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2
sampai 3 tim dokter ahli.
2. Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan tindakan
yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya
dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.
Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut :
1. Abortus Iminens merupakan tingkat permulaan dan ancaman terjadinya
abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan
hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
2. Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam ditandai dengan
serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil
konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran.
3. Abortus Inkompletus adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri dan masih ada yang tertinggal.
6
4. Abortus Kompletus adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram.
5. Missed Abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah
meninggal dalam kehamilan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil
konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturut-turut.
7. Abortus Infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia.
8. Abortus Terapeutik adalah abortus dengan induksi medis

B. MISSED ABORTION
1. DEFINISI
Missed abortion (Abortus tertunda) yaitu keadaan dimana janin telah mati sebelum
minggu ke-20, tetapi tertanam di dalam rahim selama beberapa minggu (8 minggu
atau lebih) setelah janin mati (Fadlun, 2012). Saat terjadi kematian janin kadang
kadang ada perdarahan per vaginam sedikit sehingga menimbulkan gambaran abortus
iminens. Selanjutnya rahim tidak membesar bahkan mengecil karena absorpsi air
ketuban dan maserasi janin. Perdarahan dengan kehamilan muda disertai dengan
hasil konsepsi telah mati hingga 8 minggu lebih, dengan gejala dijumpai amenore,
perdarahan sedikit yang berulang pada permulaanya serta selama observasi fundus
tidak bertambah tinggi malahan tambah rendah, kalau tadinya ada gejala kehamilan
belakang menghilang diiringi dengan reaksi yang menjadi negative pada 2 3
minggu sesudah fetus mati, servik masih tertutup dan ada darah sedikit, sekali-kali
pasien merasa perutnya kosong.

2. ETIOLOGI
a. Tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone progesterone
b. Pemakaian hormone progesterone pada abortus iminens mungkin juga dapat
menyebabkan missed abortion
c. Penurunanan kadar fibrinogen dalam darah sudah mulai turun
d. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada
kehamilan sebelum usia 8 minggu
7
e. Kelainan pada plasenta karena hipertensi menahun
f. Faktor maternal seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan
g. Kelainan traktus genitalia seperti incompetensi servix (untuk abortus pada tri
smester kedua), miomam uteri, dan kelainan bawaan uterus

3. FAKTOR PREDISPOSISI
Sama dengan etiologi abortus secara umum yaitu:
a. Kelaianan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada
kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah
1. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
2. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
3. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau alkohol.
b. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi
menahun.
c. Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan
toksoplasmosis
d. Kelainan traktus genetalia seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada
trimester
e. kedua) retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.

4. PATOFISIOLOGI
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian
embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta
yang terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi
uterus dan mengawali proses abortus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio
rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis
cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil konsepsi masih
tertahan dalam cavum uteri
atau di canalis servicalis. Perdarahan pervaginam terjadi saat proses pengeluaran
hasil konsepsi.
Pada kehamilan 8 14 minggu, mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan
pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat
namun plasenta masih tertinggal dalam cavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada
8
dalam kanalis servikalis atau masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis ini
sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. Pada kehamilan minggu
ke 14 22, Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta
beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus
sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam
yang banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih
menonjol. Dari penjelasan diatas jelas bahwa abortus ditandai dengan adanya
perdarahan uterus dan nyeri dengan intensitas beragam (Prawirohardjo, 2002).
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya
kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang
jelas (blighted ovum), mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion), yaitu
retensi hasil konsepsi 4-8 minggu setelah kematian janin. Pertumbuhan uterus
berhenti kemudian tegresi. Denyut jantung janin tidak berdenyut pada auskulatasi
ketika diperkirakan berdasarkan tanggal. Tidak terasa ada gerakan janin lagi. Apabila
mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi
oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola krueta. Bentuk ini menjadi
mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi
organisasi, sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola
tuberose, dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma
antara amnion dan korion.
Pada janin yang telah mati dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi
yaitu janin mengering dan karena cairan amnion menjadi berkurang akibat diserap, ia
menjadi agak gepeng (fetus kompresus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis
seperti kertas perkamen (fetus papiaesus). Kemungkinan lain janin mati yang tidak
segera dikeluarkan ialah terjadinya maserasi, yaitu kulit terkelupas, tengkorang
menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna
kemerah-merahan.

5. MANIFESTASI KLINIS
Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apapun kecuali
merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan. Bila kehamilan
di atas 14 minggu sampai 20 minggu penderita justru merasakan rahimnya semakin
mengecil dengan tanda tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang
9
(payudara mengecil kembali). Kadangkala missed abortion juga diawali dengan
abortus iminens yang kemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin terhenti.
Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit (Mochtar, 1998).
Pada pemeriksaan tes urin kehamilan biasanya negative setelah 2-3 minggu dari
terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada pemeriksaan USG akan didapatkan uterus
yang mengecil, kantong gestasi yang mengecil, dan bentuknya tidak beraturan
disertai gambaran fetus yang tidak ada tanda tanda kehidupan. Bila missed abortion
berlangsung lebih dari 4 minggu harus diperhatikan kemungkinan terjadinya
gangguan pembekuan darah oleh karena hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa
koagulasi sebelum tindakan evakuasi dan kuretase.

6. KOMPLIKASI
Pada retensi janin mati yang sudah lama terutama pada kehamilan yang telah
mencapai trimester kedua plasenta dapat melekat erat pada dinding uterus sehingga
sangat sulit untuk dilakukan kuretase, dan juga terjadi gangguan pembekuan darah.
Akan terjadi perdarahan gusi, hidung atau dari tempat terjadinya trauma. Gangguan
pembekuan tersebut disebabkan oleh koagulopati konsumtif dan terjadi
hipofibrionogenemia sehingga pemerksaan studi koagulasi perlu dilakukan pada
missed abortion.
7. DIAGNOSIS
Pemeriksaan diagnostic pada missed abortion adalah :
a. Hitung darah lengkap : dapat berupa peningkatan sel darah putih, punurunan Hb
dan hematokrit
b. Titer Gonadotropin Kronik manusia (HCL) menurun pada kehamilan ektopik,
meningkat pada molahidatidosa
c. Kadar estrogen dan progesterone menurun pada aborsi spontan
d. Ultra Sonografi memastikan adanya janin

8. PENATALAKSANAAN
Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan keluarganya secara
baik karena risiko tindakan operasi dan kuretase ini dapat menimbulkan komplikasi
perdarahan atau tidak bersihnya evakuasi/kuretase dalam sekali tindakan. Faktor
mental penderita perlu diperhatikan, karena penderita umumnya merasa gelisah
10
setelah tahu kehamilannya tidak tumbuh atau mati. Pada umur kehamilan kurang dari
12 minggu tindakan evakuasi dapat dilakukan secara langsung dengan melalukan
dilatasi dan kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila umur kehamilan di atas
12 minggu atau kurang dari 20 minggu dengan keadaan serviks uterus yang masih
kaku dianjurkan untuk melakukan induksi terlebih dahulu untuk mengeluarkan janin
atau mematangkan kanalis servikalis. Beberapa cara dapat dilakukan antara lain
dengan pemberian infuse intravena cairan oksitosin dimulai dari dosis 10 unit dalam
500 cc dekstrose 5% tetesan 20 tetes permenit dan dapat diulangi sampai total
oksitosin 50 unit dengan tetesan dipertahankan untuk mencegah terjadinya retensi
cairan tubuh. Jika tidak berhasil, penderita diistirahatkan satu hari dan kemudian
induksi diulangi biasanya maksimal 3 kali. Setelah janin atau jaringan konsepsi
berhasil keluar dengan induksi ini dilanjutkan dengan tindakan kuretase sebersih
mungkin. Pada decade belakangan ini banyak tulisan yang telah menggunakan
prostaglandin atau sintetisnya untuk melakukan induksi pada missed abortion. Salah
satu cara yang banyak disebutkan adalah dengan pemberian misoprostol secara
sublingual sebanyak 400mg yang dapat diulangi 2 kali dengan jarak enam jam.
Dengan obat ini akan terjadi pengeluaran hasil konsepsi atau terjadi pembukaan
ostium serviks sehingga tindakan evakuasi dan kuretase dapat dikerjakan untuk
mengosongkan kavum uteri. Kemungkinan penyulit pada tindakan missed abortion
ini lebih besar mengingat jaringan plasenta yang menempel pada dinding uterus
biasanya sudah lebih kuat. Apabila terdapat hipofibrinogenemia perlu disiapkan
transfusi darah segar atau fibrinogen. Pasca tindakan kalau perlu dilakukan
pemberian infuse intravena cairan oksitosin dan pemberian antibiotika.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi
klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- ,
lamanya perkawinan dan alamat
b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang pervaginam berulang
c. Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
11
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit
atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid,
pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
d. Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien,
jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
e. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami
oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit
endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
f. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit
menular yang terdapat dalam keluarga.
g. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji
kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
h. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien
mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
i. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluahn yang menyertainya.
j. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral,
obat digitalis dan jenis obat lainnya.
k. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi
(BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat
sakit.
l. Pemeriksaan fisik, meliputi :
Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada
penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap
drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh,
pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan
seterusnya
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
12
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan
tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi
janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang
abnormal
Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan
tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada
dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan
ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada
kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau
tidak
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop
dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar :
mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)
m. Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien
setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.
n. Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.
Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi
dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang
digunakan.Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan
keagamaan yang biasa dilakukan.

13
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
2. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
3. Cemas s.d kurang pengetahuan
No. Diagnosa kep NOC NIC

1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor TTV


berhubungan keperawatan selama 3x 24 2. Kaji tingkat nyeri
kerusakan jam di harapkan nyeri 3. Posisikan pasien
jaringan berkurang pa dengan dengan nyaman
intrauteri kriteriahasil: 4. Ajarkan tentang
Indikator awal akhir teknik non
Mengenali farmakologi :
kapan relaksasi nafas
terjadinya nyeri dalam
Menggambarka 5. Kolaborasi
n faktor dengan dokter
penyebab dalam pemberian
Menggunakan analgetik
tindakan
pengurangan
nyeri tanpa
analgesik
Menggunakan
analgesik yang
di
rekomendasika
n
Melaporkan
nyeri
berkurang
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tanda-tanda
berhubungan keperawatan selama 3 x 24 jam infeksi
dengan diharapkan infeksi dapat di 2. Lakukan tindakan

14
perdarahan kontrol dengan kriteria hasil: pencegahan
indikator awal akhir 3. Pastikan tekhnik
kemerahan perawatan yang tepat
nyeri 4. Dorong intake nutrisi
Cairan berbau yang tepat
busuk 5. Ajarkan cuci tangan
dengan tepat
3. . Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan
Kecemasan asuhan keperawatan selama 3x pendekatan yang
keluarga 24 jam diharapkan masalah tenang dan
pasien kecemasan dapat teratasi dengan meyakinkan
berhubungan kriteria hasil : 2. Pahami situasi
dengan Indikator awal akhir yang terjadi
kurang Perasaan 3. Berikan objek
pengetahuan gelisah yang membuat
Serangan panik nyaman
Wajah tegang 4. Kuatkan prilaku
Meremas- yang baik secara
remas tangan tepat
5. Nyatakan dengan
jelas harapan
terhadap pasien
6. Dengarkan klien

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap III LC, Wenstrom KD.
Uterine Leiomyomas. In : Williams Obstetrics. 22nd edition. Mc Graw-Hill. New York :
2005.
2. Bagian obstetric dan ginekologi FK UNPAD. Abortus dlam: Obstetric patologi.
Bandung. p: 7-17
3. Medical mini notes. Abortus dalam obstetric. 2014. p: 61-3
4. Manuaba, IBG. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : EGC.2007.

16