Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PERANAN OLAHRAGA DALAM

PEMBANGUNAN KARAKTER

DISUSUN OLEH :

NUR AFIQ SYAM


NIM.1505105027
KELAS A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul Peranan Olahraga dalam Pembangunan
Karakter. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh mata kuliah
Sosiologi Olahraga yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan
makalah ini. Sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun sebagai tugas yang menjadi kesepakatan dalam kontrak
perkuliahan. Dengan demikian penulis berharap agar makalah ini dapat menambah
pengetahuan bagi para pembaca dalam memahami tentang peranan olahraga dalam
pembangunan karakter.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun,untuk kesempurnaan makalah di masa yang akan
datang. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Samarinda, 05 Desember 2017

Nur Afiq Syam

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. i

DAFTAR isi ............................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Hakekat Karakter ...................................................................................................... 3
B. Olahraga sebagai Pembangun Karakter ................................................................. 5
C. Strategi dalam Membangun Karakter..................................................................... 6
D. Sikap dan Fungsi Guru Olahraga dalam Membangun Karakter ....................... 15

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................................... 17
B. Saran ......................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................ 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pendidikan adalah investasi masa depan. Melalui pendidikan maka mental dan
karakter dapat terbangun. Hal tersebut seiring dengan pepatah dalam dunia olahraga,
Men Sana in Corpora Sanno yaitu didalam tubuh yang kuat akan terdapat jiwa yang
sehat pula. Falsafah tersebut menggambarkan bahwa dalam rangka peningkatan kualitas
hidup baik secara batiniah dan kualitas kerja jasmaniah, pencapaian sehat bugar sangat
dibutuhkan. Dalam situasi tersebut, olahraga merupakan media pendidikan yang
seharusnya dan selayaknya menjadi pilar keselarasan serta keseimbangan hidup sehat
dan harmonis. Melalui aktivitas olahraga kita banyak mendapatkan hal-hal yang positif.
Olahraga bukan sekedar kegiatan yang berorientasi kepada faktor fisik belaka, olahraga
juga dapat melatih sikap dan mental kita.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa
dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: (1)
karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) kemandirian dan tanggungjawab, (3)
kejujuran, amanah dan diplomatis, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka tolong-
menolong dan gotong royong serta kerjasama, (6) percaya diri dan pekerja keras,
(7) kepemimpinan dan keadilan, (9) baik dan rendah hati, (9) karakter toleransi,
kedamaian dan kesatuan (Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter)

Pembentukan karakter bangsa dapat dilakukan salah satunya melalui olahraga.


Dengan olahraga kita bisa kembangkan karakter bangsa, sportivitas sekaligus
merekatkan persatuan bangsa. Atas dasar tersebut, semua komponen bangsa harus
memberikan andil dalam memajukan olahraga nasional. Menurut Irwan Prayitno (2008),
secara normatif dan sebagaimana telah hampir dapat diterima oleh umumnya kita
sekalian, pembentukan karakter bangsa merupakan hal yang amat penting bagi generasi
muda dan bahkan menentukan nasib bangsa dimasa yang akan datang.

1
Olahraga berdasarkan UU SKN Pasal 17 menyebutkan olahraga memiliki
dimensi pendidikan, rekreasi dan prestasi, yang mengandung nilai personal sosial,
fisiologikal dan psikologikal. Aktivitas Jasmani dan Olahraga rekreasi yang berorientasi
pada penanaman nilai dapat menumbuhkan karakter-karakter yang diinginkan.
Pendidikan karakter merebak ke permukaan sebagai akibat merosotnya keadaan moral.

B. Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini akan mengambil beberapa pokok
permasalahan yang akan coba dipecahkan, yaitu :
1. Apa itu yang disebut dengan karakter?
2. Bagaimana olahraga sebagai pembangun karakter?
3. Bagaimana strategi dalam strategi dalam membangun karakter yang baik?
4. Bagaimana sikap guru olahraga dalam membangun karakter bagi siswa?

C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah tadi dapat diambil kesimpulkan bahwa tujuan dari
pembuatan dan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk dapat mengetahui hakekat dari karakter itu sendiri.
2. Untuk dapat mengetahui olahraga sebagai pembangun karakter yang baik.
3. Untuk dapat mengetahui strategi dalam membangun karakter dengan olahraga
yang baik, benar, dan sesuai.
4. Untuk dapat mengetahui sikap dan fungsi guru olahraga dalam membentuk
karakter anak didiknya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakekat Karakter
Karakter atau watak merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yang
bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan antara satu orang
dengan orang lainnya. Dalam bahasa Yunani, Charasein (karakter) berarti mengukir
corak yang tetap dan tidak terhapuskan. Sedangkan Barnadib (1988) mengartikan watak
dalam arti psikologis dan etis, yaitu menunjukkan sifat memiliki pendirian yang teguh,
baik, terpuji, dan dapat dipercaya. Berwatak berarti memiliki prinsip dalam arti moral.
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa
dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal menurut
Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter, yaitu:
1. karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya,
2. kemandirian dan tanggungjawab,
3. kejujuran, amanah dan diplomatis,
4. hormat dan santun,
5. dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong serta kerjasama,
6. percaya diri dan pekerja keras,
7. kepemimpinan dan keadilan,
8. baik dan rendah hati,
9. karakter toleransi, kedamaian dan kesatuan.

Pembangunan karakter adalah usaha paling penting yang pernah diberikan


kepada manusia. Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari sistem
pendidikan yang benar. Pembinaan watak merupakan tugas utama pendidikan,
menyusun harga diri yang kukuh-kuat, pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan
batas kemampuannya, mempunyai kehormatan diri. Undang Undang No. 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 mengamanatkan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,

3
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Ada beberapa karakter manusia menurut motivasinya:
1. Achievement Motivation
Manusia yang memiliki karakter dengan motivasi seperti ini selalu berusaha
untuk mendapat prestasi yang terbaik. Ciri-cirinya adalah mengurung diri di kamar
untuk selalu belajar serta kurang peka terhadap lingkungan.

2. Popularity Motivation
Manusia dengan karakter seperti ini selalu mengutamakan hubungan sosial,
rela meninggalkan kepentingan pribadinya untuk urusan pertemanan. Cirinya adalah
pada umumnya menghabiskan waktu berjam-jam demi membina hubungan sosial
yang baik.
3. Power Motivation
Manusia dengan karakter ini cenderung bersifat pemimpin, selalu ingin lebih
pandai, kuat, dan berkuasa.

Pembentukan karakter-karakter tesebut dipengaruhi oleh faktor genetik


dan lingkungan. Cattel menyebutkan bahwa sepertiga kepribadian manusia
dipengaruhi oleh faktor genetik, sedangkan dua pertiga sisanya dipengaruhi oleh
lingkungan. Lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan pada kepribadian
manusia. Anak dilahirkan melalui asal-usul genetik yang baik dan akan berinteraksi
dengan lingkungan saat tumbuh dan berkembang. Jika anak tersebut tumbuh dan
berkembang dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka potensi yang dimiliki
pun tidak akan berkembang dengan baik. Hal tesebut seiring dengan pendapat
E.Fromm bahwa karakter manusia dapat mengalami perubahan. Pernyataan tersebut
dibuat untuk menolak sebuah syair, Sesungguhnya pohon yang jelek, jelek pulalah
sifatnya, walau ia tumbuh di taman surga. Dengan demikian, watak atau karakter
dapat dibentuk melalui pendidikan yang didapatkan oleh manusia melalui
lingkungan dari luar dirinya.

4
B. Olahraga sebagai Pembangun Karakter
Olahraga berdasarkan UU SKN Pasal 17 menyebutkan olahraga memiliki
dimensi pendidikan, rekreasi dan prestasi, yang mengandung nilai personal sosial,
fisiologikal dan psikologikal. Aktivitas Jasmani dan Olahraga rekreasi yang berorientasi
pada penanaman nilai dapat menumbuhkan karakter-karakter yang diinginkan.

Olahraga adalah salah satu sarana untuk menuju hidup yang lebih sehat dan
berkualitas. UNESCO mendefinisikan olahraga sebagai setiap aktivitas fisik berupa
permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain, atau diri
sendiri. Menurut Cholik Mutohir (2002) olahraga adalah proses sistematik yang berupa
segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina
potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota
masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan kegiatan jasmani
yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam
rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan
Pancasila.

Karakter merupakan sebuah konsep moral tersusun dari sejumlah nilai-nilai


karakteristik yang membangun kepribadian seseorang. Karakter merupakan nilai-nilai
perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan
dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat
istiadat. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan
dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya.

Olahraga pada hakikatnya adalah miniatur kehidupan. Pernyataan ini


mengandung maksud bahwa esensi-esensi dasar dari kehidupan manusia dalam
keseharian dapat dijumpai pula dalam olahraga. Olahraga mengajarkan kedisiplinan,
jiwa sportif, tidak mudah menyerah, jiwa kompetitif yang tinggi, semangat bekerjasama,
mengerti akan aturan dan berani mengambil keputusan kepada seseorang.

United Nations (suatu organisasi non-pemerintah terakreditasi (LSM) di PBB)


(2003) juga menyatakan bahwa olahraga merupakan instrumen yang efektif untuk
mendidik kaum muda terutama dalam nilai-nilai. Menurut United Nations sejumlah nilai
yang ada dan dapat dipelajari melalui aktivitas olahraga meliputi: cooperation

5
(kerjasama), communication (komunikasi), respect for the rules (menghargai peraturan),
problem-solving (memecahkan masalah), understanding (pengertian), connection with
others(menjalin hubungan dengan orang lain), leadership (kepemimpinan), respect for
others (menghargai orang lain), value of effort (kerja keras), how to win (strategi untuk
menang) , how to lose (strategi jika kalah), how to manage competition (cara mengatur
pertandingan), fairplay (bermain jujur), sharing (berbagi), self-esteem (penghargaan
diri), trust (kepercayaan), honesty (kejujuran), self-respect (menghargai diri sendiri),
tolerance (toleransi), resilience (kegembiraan dan keuletan), team-work (kerjasama
sekelompok), discipline (disiplin) dan confident (percaya diri).

Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh aktivitasa


olahraga terhadap dimensi pribadi, seperti konsep diri, stress, penyimpangan perilaku
dan integrasi sosial. Hasil studi beberapa ahli menunjukkan bahwa:

1. Remaja yang aktif dalam olahraga, penyimpangan perilakunya lebih kecil


dibandingkan remaja yang tidak berpartisipasi dalam olahraga.
2. Remaja yang terlibat dalam aktivitas fisik lebih memiliki ketahanan dan
mampu mengatasi stressor dari lingkungannya.
3. Remaja pada umumnya membutuhkan dukungan sosial, tidak saja dari
kelompoknya melainkan juga dari kelompok dan institusi lainnya.
4. Remaja yang terlibat aktif dalam kegiatan olahraga menunjukkan tingkat
kepercayaan dirinya (self confidence) lebih tinggi daripada remaja yang tidak
aktif terlibat dalam kegiatan olahraga.

C. Strategi dalam Membangun Karakter

Untuk menumbuhkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam


rangka mencerdaskan kehidupan bangsa perlu menggunakan strategi sehingga terbentuk
karakter yang idealis. Menurut Anifral Hendri (2008), ada beberapa strategi dalam
pembentukan karakter, antara lain:

1. Keteladanan; Memiliki Integritas Tinggi serta Memiliki Kompetensi:


Pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional
2. Pembiasaan

6
3. Penanaman kedisiplinan
4. Menciptakan suasana yang konduksif
5. Integrasi dan internalisasi
6. Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam
pendidikan jasmani.
7. Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cintai damai, sikap sosial
dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis, dan agama.
8. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas-tugas ajar
dalam pendidikan jasmani.
9. Mengembangkan keterampilan untuk melakukan aktivitas jasmani dan
olahraga, serta memahami alasan-alasan yang melandasi gerak dan kinerja.
10. Menumbuhkan kecerdasan emosi dan penghargaan terhadap hak-hak asasi
orang lain melalui pengamalan fairplay dan sportivitas.
11. Menumbuhkan self-esteem sebagai landasan kepribadian melalui
pengembangan kesadaran terhadap kemampuan dan pengendalian gerak tubuh.
12. Mengembangkan keterampilan dan kebiasaan untuk melindungi keselamatan
diri sendiri dan keselamatan orang lain.
13. Menumbuhkan cara pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani dan
pola hidup sehat.
14. Menumbuhkan kebiasaan dan kemampuan untuk berpartisipasi aktif secara
teratur dalam aktivitas fisik dan memahami manfaat dari keterlibatannya.
15. Menumbuhkan kebiasaan untuk memanfaatkan dan mengisi waktu luang
dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.

Sedangkan menurut Stefan Sikone (2006), dalam melaksanakan pembentukan


karakter, generasi muda memiliki 3 peran penting yaitu:

1. Sebagai pembangun kembali karakter bangsa (charater builder).


Peran generasi muda adalah membangun kembali karakter positif bangsa.
Hal ini tentunya sangat berat, namun esensinya adalah adanya kemauan keras dan
komitmen dari generasi muda untuk menjunjung nilai-nilai moral diatas
kepentingan-kepentingan sesaat sekaligus upaya kolektif untuk
menginternalisasikannya.

7
2. Sebagai pemberdaya karakter (character enabler).
Generasi muda dituntut untuk mengambil peran sebagai pemberdaya
karakter. Bentuk praktisnya adalah kemauan dan hasrat yang kuat dari generasi
muda untuk menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif.

3. Sebagai perekayasa karakter (character engineer).


Peran yang terakhir ini menuntut generasi muda untuk terus melakukan
pembelajaran. Harus diakui bahwa pengembangan karakter positif bangsa
bagaimanaupun juga menuntut adanya modifikasi dan rekayasa yang tepat
disesuaikan dengan perkembangan jaman. Dalam hal ini peran generasi muda
sangat diharapkan oleh bangsa, karena ditangan merekalah proses pembelajaran
dapat berlangsung dalam kondisi yang paling produktif.

Salah satu metode pembentukan karakter adalah melalui pembelajaran atau


proses berlatih. Menurut (Selleck, 2003: 36), ada tujuh aksi krusial untuk membimbing
atlet menjadi olahragawan yang berkarakter baik. Tujuh aksi yang dimaksud meliputi
langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengetahui Bagaimana untuk Kalah


Seorang guru pendidikan jasmani atau pelatih harus menjelaskan pada
siswa atau atletnya, bahwa dalam sebuah pertandingan itu harus ada yang menang
dan ada yang kalah. Kekalahan bukan akhir segalanya sebab kekalahan dapat
digunakan sebagai bahan evaluasi, sekaligus sebagai parameter akan kemampuan
diri dan lawan yang dihadapi. Agar seorang atlet dapat memahami arti kekalahan,
yang dilakukan oleh guru atau pelatih adalah langkah-langkah sebagai berikut.
Diskusikan dengan siswa atau atlet Anda tentang apa yang akan mereka lakukan
jika mereka kalah. Jangan izinkan siswa/atlet Anda menyalahkan kekalahan karena
cedera karena teman satu tim atau karena guru/pelatih. Bantu siswa atau atlet Anda
mengenali konsekuensi atas kesalahan di lapangan. Diskusikan dengan siswa/atlet
tentang konsekuensi kesalahan di lapangan seperti pemberian penalti yang hanya
akan merugikan tim. Bantu siswa/atlet Anda mengendalikan stress dengan lebih
baik, terus berupaya dan terus meningkatkan pengendalian emosi, jangan hanya
bicara kemenangan. Dorong siswa/atlet Anda untuk memberikan pujian kepada

8
musuhnya. Mereka harus selalu ingat bahwa terkadang lawan dan pelatih mereka
menampilkan permainan/unjuk kerja lebih baik.

2. Memahami Perbedaan antara Kemenangan dan Kesuksesan


Sebagian pelatih percaya, jika Anda menjadi pemenang dalam olahraga,
Anda akan mencapai sukses, dan Anda tidak akan sukses, jika Anda tidak menang.
Sosiolog Marty Miller (dalam Selleck, 2003: 42) menyatakan bahwa kemenangan
dan kesuksesan tidak sama. Sukses adalah usaha, perasaan yang baik,
persahabatan, memberi kontribusi, menambah keterampilan dan memiliki
kegembiraan. Sementara kemenangan atau kegagalan dengan mudah dapat dilihat
melalui hasil pertandingan. Kenyataan menunjukkan bahwa kebanyakan pelatih
yang diinginkan adalah kemenangan. Dalam sebuah pertandingan pelatih sering
berkata, di sini kita hanya untuk satu alasan, yaitu untuk menang, dan jika kamu
hanya untuk bersenang-senang lebih baik kamu pulang saja. Jika ada atlet atau
anak baru selesai beranding, pertanyaan pelatih atau orang tua yang baik adalah
tidak menanyakan apakah tadi kamu menang, melainkan apakah kamu tadi merasa
senang dalam pertandingan, atau apa yang Anda pelajari dari pertandingan tadi?
Steffi Graf, salah satu pemain tenis terbaik dunia, mengatakan pencapaian atas
keberhasilannya itu tidak begitu penting baginya, yang terpenting adalah bermain
dengan baik, dan berbuat yang terbaik di setiap pertandingan.
Dengan demikian, yang dimaksud kemenangan adalah pencapaian hasil
dilihat dari siapa yang menang, sedangkan kesuksesan adalah pencapaian hasil
dilihat dari proses pendidikannya. Agar seorang atlet dapat memahami perbedaan
antara kemenangan dan kesuksesan, yang dilakukan oleh guru/pelatih adalah
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Ingatkan pada siswa/atlet Anda bahwa mereka harus berpartisipasi di
olahraga adalah untuk kesenangan berolah raga itu sendiri.
b) jika mereka tidak senang, guru/pelatih harus berbicara kepada mereka
untuk mencari tahu apakah itu hanya perasaan sementara (mungkin
karena performa yang buruk) atau masalah jangka panjang.
c) guru/pelatih harus selalu mendukung perasaan mereka dan biarkan
mereka tahu bahwa Anda akan mendukung apa pun keputusan tentang
karir olahraganya.

9
d) Ajari siswa/atlet Anda bahwa bekerja dan berusaha dengan jujur adalah
lebih baik dari kemenangan.
e) Bantulah siswa/atlet Anda bagaimana dapat meningkatkan keterampilan
dan sportif dalam setiap permainan.
f) Ingatkan pada siswa/atlet Anda bahwa orang yang paling sukses
melakukan pekerjaan adalah karena mereka mencintainya bukan karena
melihat bayaran yang besar.
g) Hindari memakai pencapaian dengan mengacu pada kakak seniornya
atau atlet lain yang lebih sukses sebagai standar kesuksesan.

3. Menghormati Orang Lain


Setiap orang yang terlibat dalam olahraga harus saling menghormati dan
menghargai. Menghormati dan menghargai orang lain merupakan bagian penting
dalam olahraga. Dalam olahraga ada wasit, ada atlet dan ada pelaih. Unsur-unsur
ini harus saling menghargai sesuai keputusan dan aturan yang ada. Agar seorang
atlet dapat menghormati orang lain, yang dilakukan oleh guru/pelatih adalah
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Hindari kebiasaan mengeluh atau menyalahkan orang lain sebab
kebiasaan ini menunjukkan ketidakmampuan menjalankan peran dan
tanggung jawabnya sebagai pemain.
b) Hindari tindakan selebrasi yang berlebihan ketika merayakan
kemenangan karena selebrasi yang berlebihan dapat dianggap
mengecilkan kemampuan lawan. Justru yang terpenting adalah
bagaimana menghampiri teman satu tim, karena tanpa teman mungkin
Anda tidak bisa melakukan hal itu.
c) Jangan membiarkan siswa/atlet Anda memakai nama ejekan, dan
jangan membiasakan berbicara kasar ketika berbicara pada orang lain.
Biasakan bicara pada siswa/atlet Anda tentang bagaimana cara yang
baik berkomunikasi dengan orang lain
d) Perlakukan pemain lain dengan rasa hormat. Jangan membiarkan
siswa/atlet Anda berkata tentang hal buruk kepada pelatih lawan,
official, atau pun pemainnya. Jika ada masalah, katakan langsung
kepada orangnya dan bicarakan kepadanya dengan baik-baik

10
e) Ingat bahwa siswa/atlet Anda punya hak untuk bermain dan jangan
sampai merasa malu atas komentar anda
f) Jika Anda benar-benar tidak bisa melewati pertandingan tanpa
mempermalukannya, pastikan Anda berada di jarak yang cukup jauh
sehingga komentar Anda tidak dapat didengar, jika tidak mampu
menahan lebih baik Anda meninggalkannya
g) Ajarkan pada siswa/atlet untuk membiasakan berterimakasih kepada
guru/pelatih. Ini adalah bagian dari mengajari siswa/atlet Anda tentang
mengenali dan menghargai apa yang orang lain lakukan terhadapnya.

4. Bekerja Sama dengan Orang Lain

Olahraga merupakan arena kompetisi. Dalam arena kompetisi umumnya


dianggap persaingan satu sama yang lain demi menjadi salah satu sebagai
pemenang atau yang kalah. Meski demikian, dalam olahraga banyak kesempatan
bagi individu untuk bekerja sama satu dengan yang lain. Salah satu yang paling
nyata adalah kerjasama satu tim untuk memenangkan pertandingan. Olahragawan
juga berkesempatan untuk bekerjasama dengan para pejabat, politisi, lawan main,
ataupun penonton.

Dalam meningkatkan kerjasama dengan orang lain dapat dilakukan dengan


cara-cara sebagai brikut. Pastikan siswa/atlet Anda tentang kerjasama seperti apa
yang Anda harapkan darinya. Beri mereka contoh yang jelas seperti Saya harap
kamu mendukung semua anggota tim bukan hanya teman dekatmu. Mulailah
dengan sistem reward atau pujian dengan memberikan hadiah karena tingkah laku
kerjasama mereka baik. Contohnya, jika Anda memunyai siswa/atlet pemain bola
basket, kamu dapat menghitung berapa banyak dia mengoper bola, dan ajaklah
pergi minum es krim bersama jika dia dapat mencapai angka besar, misalnya 50
operan bola. Libatkan pemain dalam menentukan misi umum, mengambil
keputusan dan diskusikan tujuan-tujun yang hendak dicapai dengan berkomunikasi
secara terbuka dan sering. Anjurkan membuat kelompok latihan dengan melibatkan
teman yang sulit dan tidak disukai meskipun ini pekerjaan yang sulit.

11
5. Tunjukkan Integritas

Integritas adalah seseorang yang jujur, memiliki prinsip yang kuat, dan
konsisten terhadap ketentuan yang ada meskipun terkadang berhadapan dengan
pilihan yang sulit, jauh dari tekanan dan godaan. Diceritakan oleh Seleck (2003:
119-122) ada pegolf amatir di AS yang bernama Howard tengah berlomba pada
kualifikasi kejuaaraan amatir. Dalam perlomban tersebut diatur bahwa setiap
pegolf hanya diperbolehkan menggunakan satu jenis bola. Ketika dia di lapangan
dan dia mengetahui bahwa bola yang ada di tasnya ada dua jenis bola, apa yang dia
lakukan? Orang berpikiran dia akan mengembalikan ke caddy-nya, ternyata dia
mendiskualifikasi dirinya sendiri. Bagi dia kemenangan tidak sepenting integritas
pribadinya.

Dalam mengembangkan integritas pada siswa atau atlet dapat dilakukan


dengan cara-cara sebagai berikut. Jangan tanamkan pada siswa atau atlet bahwa
kemenangan adalah segala-galanya. Tanamkan sikap sportif dan menghargai lawan
lebih penting daripada suatu pencapaian. Pentingkan kejujuran sebagai sebuah nilai
dalam keluargamu. Beriakan contoh dari kejujuran dan kebenaran. Jangan pernah
minta siswa/atlet Anda untuk berbohong. Biarkan siswa atau atlet
Anda melihatmu melakukan kejujuran. Lakukan kesalahan dan biarkan siswa atau
atlet Anda melihat bagaimana anda memperbaikinya. Dalam olahraga mudah
diketahui mana yang salah dan mana yang benar. Bantulah siswa atau atlet Anda
mengapresiasi dan menghargai peraturan pertandingan yang ada. Ingatkan siswa
atau atlet anda bahwa kemenengan diperoleh jika peraturan yang ada diikuti
dengan baik. Tekankan pada siswa/atlet Anda jangan berlaku kasar yang
cenderung mencelakai lawan karena dapat menimbulkan luka serius bagi lawan
atau bagi Ada sendiri.

6. Tunjukkan Rasa Percaya Diri

Atlet yang memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang baik percaya
bahwa dirinya akan mampu menampilkan kinerja olahraga seperti yang diharapkan
(Weinberg & Gould, 2007:324). Rasa percaya diri akan membawa seseorang
dapat:

12
a) Membangkitkan dan mengendalikan emos positif
b) Lebih mudah berkonsentrasi pada aktivitas yang dijalani,
c) Tidak mudah patah semangat atau frustasi dalam berupaya mencapai
cita-cita,
d) Cenderung mengembangkan berbagai strategi untuk memperoleh hasil
kerjanya dan berani mengambil resiko atas strategi yang dipilihnya.

Untuk mengembangkan rasa percaya diri pada siswa/atlet dapat dilakukan


dengan cara-cara sebagai berikut :

Sebisa mungkin biarkan siswa/atlet Anda menentukan keputusan


mereka sendiri,
Bantulah siswa/atlet Anda meningkatkan kompetensi olahraga mereka.
Habiskan waktu berlatih dengan mereka,
Dukung siswa/atlet Anda baik dalam sebuah tim atau tidak masuk tim,
Ekspresikan kepercayaan diri pada siswa/atlet Anda, berikan mereka
banyak feedback yang positif,
Ajari siswa/atlet Anda bagaimana menggambarkan sesuatu, yaitu
gambaraan tentang penampilan mereka sendiri dikala sukses dalam
situasi apa pun,
Setiap siwa/atlet diminta merasakan dan menghayati penampilan yang
terbaik sesuai kemampuan yang dimiliki. Agar perasaan berhasil ini
dapat dicapai seorang atlet sebaiknya mengembangkan harapan yang
tidak terlalu berlebihan dan mendekati realitas kemampuan yang
dimilikinya. Namun, harapan ini secara bertahap hendaklah
senantiasa semakin meningkat,
Berikan apresiasi atas apa yang dilakukan atlet secara wajar terutama
bila dapat memeragakan suatu keterampilan yang sesuai dengan
harapan, berikan kesempatan pada siswa/atlet belajar dengan model
yang diberikan lewat media audio visual,
Berikan persuasi verbal, yaitu pernyataan yang membesarkan hati atlet,
bisa berasal dari pelatih, pembina, orangtua, atau bahkan dari diri atlet
yang bersangkutan. Pada situasi demikian, guru/pelatih seyogyanya

13
menghindari tindakan mencela dan berusaha memberikan pernyatan
yang bernada positif.

7. Memberikan Kembali (Giving Back)

Memberikan kembali mempunyai maksud setelah olahragawan berhenti


sebagai atlet yang masih aktif hendaknya tetap melayani masyarakat. Olahragawan
yang sudah masuk usia pensiun terkadang menghilang dari pemberitaan dan
tergusur leh atlet yang lebih muda. Untuk menghindari kenyataan ini, dianjurkan
para mantan olahragawan bisa mendorong anak-anak di sekitarnya untuk
mengembangkan bakat mereka untuk mendukung kegiatan sekolah dan masyarakat.
Dalam mengembangkan sikap giving back pada siswa atau atlet dapat dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut :

a) Diskusikanlah dengan siswa/atlet Anda tentang pentingnya giving


back. Tanyakan pada mereka bagaimana mereka dapat berguna bagi
anggota keluarga yang lain, tetangga, orang-orang disekolah, teman
bermain dan kalangan olahraga lainnya dan masyarakat pada umumnya,
b) Diskusikan dengan siswa/atlet Anda tentang pentingnya kualitas
seluruh pengalaman olahraga daripada menang atau kalah,
c) Bantulah siswa/atlet Anda menentukan tujuan daripada kemenangan.
Memang kemenangan bisa menjadi sebuah tujuan, tetapi mereka harus
memeliki tujuan seperti kegembiraan atau berkerja untuk tim. Itulah
mengapa, mereka dapat berkata bahwa mereka tidak menang, tetapi
mencapai tujuan mereka.,
d) Dukung siswa/atlet Anda untuk give back kepada yang lainnya dengan
cara mengajari orang lain kemampuan berolahraga atau kemampuan
lainnya.

14
D. Sikap dan Fungsi Guru Olahraga dalam Membangun Karakter

Seorang Guru Olahraga atau guru Penjasorkes di sekolah mempunyai tugas


yang sangat berat yaitu mendidik siswa agar menjadi anak yang berbudi luhur, sekaligus
melatih gerak dasar olahraga untuk itu seorang guru olahraga harus mempunyai nilai-
nilai positif dalam kepribadian dan berkarakter yang baik.

Nilai-nilai positif dan karakter guru olahraga yang sesuai dengan tugas pokok
dan fungsi dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Disiplin
Guru olahraga harus memiliki kedisiplinan tinggi yang diterapkan pada
diri sendiri dan kepada siswanya, karena dalam belajar ilmu gerak latihan yang
teratur dan terprogram merupakan salah satu persyaratan agar pembelajaran dapat
berhasil sesuai yang diharapkan.
2. Semangat
Proses belajar mengajar yang diawali dengan rasa senang dan dalam
suasana yang menyenangkan akan menimbulkan motivasi dan semangat sehingga
guru maupun siswa mampu melakukan tahapan latihan tanpa merasa terbebani
dengan demikian gerakan-gerakan yang sulit dan rumit akan terasa lebih mudah
dipelajari.
3. Keberanian
Guru olahraga harus mampu memotivasi siswa untuk melakukan gerakan
dan teknik olahraga yang lebih kompleks dan membutuhkan keberanian untuk
melakukannya. contohnya teknik dan gerakan senam lantai, maupun teknik gerak
cabang renang.
4. Profesional
Guru olahraga memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangya, dan
dapat menempatkan diri pada situasi maupun kondisi yang dihadapi serta dapat
menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat.

15
5. Tanggung Jawab
Dalam pelaksanaan tugas seorang guru olahraga bertanggung jawab
kepada siswa agar siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan prestasi
secara optimal. Guru olahraga juga bertanggung jawab kepada Pemerintah, orang
tua siswa dan lingkungan dalam peningkatan mutu pendidikan.
6. Kejujuran
Guru olahraga harus memiliki kejujuran yang tinggi dan menanamkan
sikap fair play kepada siswa atau atlitnya. Salah satu hal yang dapat dilakukan
yaitu dengan mengakui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita baik
dalam latihan maupun dalam pelaksanaan pertandingan, karena hal ini dapat
memacu belajar agar mendapatkan hasil yang lebih baik.
7. Kebersamaan
Prestasi belajar maupun olahraga dapat tercapai apabila semua komponen
yang terkait saling mendukung, saling kerjasma satu dengan lainnya. contohnya
dalam permainan sepak bola unsur terpenting atau utama adalah kekompakan tim
dalam permainan bukan kemampuan individu semata.
8. Komitmen
Adanya suatu kesepakan yang kuat antara guru olahraga, siswa, maupun
pihak sekolah merupakan modal yang baik untuk meningkatkan proses dan hasil
belajar. Semua komponen yang terkait saling bahu membahu bekerja keras dan
bersinergi untk tercapainya tujuan yang diharapkan.
9. Keteladanan
Guru olahraga harus memberi contoh yang baik dalam segala hal yang
menyangkut sikap, perilaku, dan kepribadian kepada siswa, dan masyarakat
lainnya. Profesi guru sangat dihormati dilingkungan masyarakat untuk itu
Seorang guru wajib menjaga sikap dan kepribadian yang sesuai dengan tatanan
sosial yang berlaku dimasyarakat sekitar.
10. Kreatifitas
Kreatifitas dan inovasi selalu dikembangkan oleh guru olahraga dalam
menerapkan metode pembelajaran yang lebih baik dan effektif dari metode
sebelumnya. Penggunaan media dan alat peraga yang sesuai dan modern akan
meningkatkan minat belajar yang pada akhirnya tujuan pembelajaran akan
tercapai dengan baik.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Olahraga merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat
pembentukan karakter manusia. Olahraga dengan slogan sport for all, merupakan
langkah awal yang strategis menuju pembentukan karakter. Pembentukan karakter
selain dilandasi oleh budaya nasional juga diwarnai oleh budaya dan ciri khusus cabang
olahraga yang dilakukan.

Dengan berolahraga, banyak karakter positif yang dapat terbentuk pada


perilaku olahraga tersebut. Melalui olahraga, seseorang akan memiliki tanggungjawab,
rasa hormat dan memiliki kepedulian dengan sesama. Nilai-nilai ketekunan, kejujuran
dan keberanian juga dapat diperoleh dari aktivitas olahraga dan tentu masih banyak
lainnya. Selain itu merupakan langkah awal untuk memosisikan kembali olahraga dalam
pembentukan karakter.

B. Saran
Untuk menjadikan karakter anak muda bangsa Indonesia menjadi lebih baik,
maka salah satu alternatif langkah yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan
pendidikan olahraga dengan baik, dengan menanamkan nilai-nilai olahraga.

17
DAFTAR PUSTAKA

Kurdi. 2013. Peranan Olahraga Rekreasi dalam Pembentukan Karakter.


http://kurdisport.wordpress.com/2013/01/29/peranan-olahraga-rekreasi-dalam-membentuk-
karakter/ (diunduh 13 Oktober 2014)

Nadi, Sus. 2012. Nilai-nilai Positif dan Karakter Guru.


http://materipenjasorkes.blogspot.com/2012/08/nilai-nilai-positif-dan-karakter-guru.html
(diunduh 13 Oktober 2014)

Sugiarto, Wachid. 2012. Pengembangan Karakter Melalui Olahraga.


http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/01/pengembangan-karakter-melalui-olahraga-
498052.html (diunduh 13 Oktober 2014)

Sumaryanto. 2012. Pembentukan Karakter Melalui Olahraga.


http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-sumaryanto-mkes/9-pembentukan-
karakter-melalui-olahraga.pdf (diunduh 13 Oktober 2014)

Winami, Sri. 2011. Pengembangan Karakter dalam Olahraga dan Pendidikan Jasmani.
http://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/viewFile/1460/pdf (diunduh 13 Oktober 2014)

18