Anda di halaman 1dari 91

Analisis Gencle

Aplikasi Gender Analysis Pathway (GAP)

: ....

Analisis Gender
dalam
Pembangunan Kesehatan

Aplikasi Gender Analysis Pathway (GAP)


dan
Berbagi Pengalaman

DOKUME.NTASi & ARSIP


BAPPENAS
Acc. No. :_ G./2.<?..6/.::.':::.:
Clai.,s : /J7t... .
Checked : :i. .l .. ..f.. . ..
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
bekerjasama dengan
Development Planning Assistance (DPA) Project II -
Canadian International Development Agency (CIDA)

Jakarta, November 2002


KATA PENGANTAR

Penyusunan laporan ini merupakan dokumentasi pengalaman empat sektor


pembangunan yaitu kesehatan, kesejahteraan sosial, keluarga berencana, dan
lingkungan hidup ketika menerapkan analisis gender dengan teknik Gender Analysis
Pathway (GAP) dalam merancang kegiatan program pembangunan yang sensitif
gender. Pelaksanaan kegiatan diselenggarakan melalui serangkaian diskusi dan
workshop yang penyelenggaraannya merupakan kerjasama antara Bappenas
(Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan) dan
CJDA (melalui Proyek Development Planning Assistance ll-DPA //).

Perlu diketahui bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang
telah dilaksanakan di 5 (lima) sektor pembangunan lainnya pada tahun anggaran
2001, yaitu koperasi dan usaha kecil menengah, ketenagakerjaan, hukum, pendidikan.
dan pertanian. Pada tahun 200 I, kegiatan semacam ini merupakan kerjasama antara
Bappenas (melalui Direktorat Kependudukan, Kemasyarakatan, dan Pemberdayaan
Perempuan) dengan CIDA (melalui Women's Support Project Phase 11-WSP I[).
Dengan demikian sampai saat ini, paling tidak, ada 9 (sembilan) sektor pembangunan
yang telah berupaya untuk melaksanakan pengarusutamaan gender dalam
perencanaan kegiatan pembangunan mereka.

Berbagai upaya pembangunan nasional yang diarahkan untuk meningkatkan


kualitas manusia, baik perempuan maupun laki-Iaki, ternyata belum memberikan
manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Hal ini tidak saja berarti bahwa
hak-hak perempuan untuk memperoleh manfaat secara optimal dari pembangunan
belum terpenuhi, tetapi juga karena masih belum termanfaatkannya kapasitas
perempuan, sebagai sumber daya manusia, secara optimal. Disamping itu, rendahnya
kualitas perempuan juga dapat mempengaruhi kualitas generasi penerusnya,
mengingat bahwa mereka mempunyai fungsi reproduksi dan sangat berperan dalam
mengembangkan sumber daya manusia masa depan.

Sementara itu, kesetaraan dan keadilan gender belum sepenuhnya dapat


diwujudkan di segala bidang karena masih kuatnya pengaruh nilai sosial budya yang
patriarki, yang menempatkan laki-laki dan perempuan pada kedudukan dan peran
yang berbeda dan tidak setara. Di lain pihak, pada saat ini masih banyak kebijakan,
program, proyek, dan kegiatan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun di
tingkat daerah (propinsi dan kabupaten/kota) yang belum peka gender, yaitu belum
mempertimbangkan perbedaan pengalaman, aspirasi, dan kepentingan antara
perempuan dan laki-laki, serta belum menetapkan kesetaraan dan keadilan gender
sebagai sasaran akhir dari pembangunan.

Harapan kami, kiranya upaya pengarusutamaan gender melalui aplikasi GAP


dapat berkesinambungan secara pasti, sehingga upaya di 9 (sembilan) sektor
pembangunan akan bermanfaat bagi perencanaan di lingkungan sektor yang
bersangkutan.
Aplikasi GAP dalam perencanaan pembangunan di 4 (empat) sektor tersebut
tidak mungkin dapat terlaksana tanpa kerjasarna yang baik dengan berbagai pihak
seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Lingkungan Hidup,
Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional, Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Pengendalian Sumber Daya Alam
dan Lingkungan Hidup - Bappenas, Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat -
Bappenas, Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pernberdayaan
Perernpuan - Bappenas, serta peran aktif para fasilitator yaitu, DR. Yulfita Rahardjo
dan Dr. Nardho Gunawan, MPH. Untuk itu, atas dukungan semua pihak terkait, kami
ucapkan terima kasih.

Disadari bahwa masih banyak kekurangan dalam laporan ini. Oleh karena itu,
saran, kritik, koreksi, dan masukan dari semua pihak guna penyempurnaan laporan ini
akan senantiasa kami harapkan.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Pernurah dan Maha Penyayang, atas
perkenan Nya telah tersusun buku "Analisis Gender Pernbangunan Kesehatan: Aplikasi
Gender Analysis Pathways (GAP) dan Berbagi Pengalarnan".

Tujuan penyusunan buku ini untuk mendokumentasikan proses melakukan analisis gender
dalam program pembangunan kesehatan. Dalarn buku ini juga tersusun rencana tindak dan
usulan kegiatan yang responsif gender dalarn Repeta 2003 bagi program kesehatan prioritas.
Diharapkan buku ini dapat digunakan sebagai pedornan untuk melaksanakan kegiatan
program kesehatan tersebut pada tahun 2003.

Buku ini dapat menjadi salah satu langkah ke depan untuk menuju kesetaraan dan keadilan
gender, serta lebih meningkatkan peran aktif perempuan sebagai rnitra sejajar dengan laki
laki dalam berbagai bidang dan program, khususnya dalam pembangunan kesehatan.

Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan dan
perhatian yang telah diberikan dalam penyusunan analisis gender pembangunan kesehatan.
Secara khusus penghargaan dan terirna kasih tersebut karni sampaikan kepada Bappenas -
melalui Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan -
yang telah rnemilih Departemen Kesehatan sebagai salah satu institusi yang melakukan
analisis gender, dan kepada CIDA melalui Proyek Development Planning Assistance (DPA)
II, serta fasilitator Dr. Nardho Gunawan, MPH. Demikian pula, kepada Kernenterian
Pemberdayaan Perempuan yang telah memberikan dukungan sepenuhnya atas kegiatan ini.

Kami sadari, masih banyak kekurangan dalarn penulisan buku ini. Oleh karena itu, saran,
kritik, dan masukan untuk penyempurnaan buku ini sangat diharapkan, sehingga mudah
mudahan buku ini bennanfaat bagi kita semua. Sernoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa
memberikan kekuatan, perlindungan dan petunjuk Nya kepada kita semua. Amien.

Jakarta, Nopember 2002


TIM TEKNIS PENYUSUN
ANALISIS GENDER
DALAM PEMBANGUNAN KESEHATAN

Penanggung jawab:
I. Dr. H. Setiawan Soeparan, MPH, Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Departemen
Kesehatan
2. Dr. Sri Hermiyanti, MSc, Direktur Kesehatan Keluarga, Departemen Kesehatan
3. DR. Yohandarwati, MA, Direktur Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan
Pemberdayaan Perempuan, Bappenas
4. Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH, Direktur Kesehaian dan Gizi Masyarakat,
Bappenas

Anggota:
I. Dr. Loesje Maria Sompie, MSc
2. Dr. Lukman Hendro Laksmono, MBA
3. Dr. Yudhi Prayudha ID, MPH
4. Ir. Herwanti Bahar, MSc
5. Dr. Asjikin Iman Hidayat D, MHA
6. Dr. Lukas C.Hermawan, M.Kes
7. Dr. Atmarita, MPH, Ph.D
8. Ria Sukarno, SKM, MCN
9. Dr. Trisnawati
10. Mariyani, SKM
11. Drs. Makmunarrasyid, SKM, M.Kes
12. Munziarti, SKM
13. Th. Ispyatin, B.Sc
14. Dr. F.Jeanne Ukloseja
15. Linawaty, SKM, MM
16. Nurul Aini, SKM, MM
17. Dra. Lesmana
18. Yety Intarti
19. Victoria lndrawati, SKM
20. Dasmi Nurdin, SKM
21. Dyah Yuniar Setiawati, SKM, MPS
22. Dr. Prastowo, MPH
23. Ferynawati, SKM, MDR
24. Endang Sri Widyaningsih, SKM, M.Kes
25. Mahyati, SKM, M.Kes
26. Risyanto, SKM
27. Rini H

Fasilitator:
Dr. Nardho Gunawan, MPH
TIM TEKNIS PENYUSUN
ANAL/SIS GENDER DAI..AM PEMBANGUNAN KESEHATAN

Koordinator:
Lenny N. Rosalin, SE, MSc. - Bappenas

Narasumber:
I. Dra. Nina Sardjunani, MA - Bappenas
2. Prof. Linda Miranda, PhD
3. Staf Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan -
Bappenas
4. Staf Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat - Bappenas
5. Staf Kantor Deputi Menteri Bidang Kesetaraan Gender (Deputi II) - Kementerian
Pemberdayaan Perempuan
6. Staf Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat - Badan Pusat Statistik

2
DAFTARISI

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang l
B. Tujuan Penulisan I
C. Ruang Lingkup Penulisan 2
D. Isu Pokok 2
E. Sistematika . 3
BAB II KONTEKS 5
BAB III PROSES 9
BAB IV ANALISIS GENDER 13
A. Umum 13

!. PROGRAM LfNGKUNGAN SEHAT, PERILAKU SEHAT DAN


PEMBERDA Y AAN MASYARAKAT .. 14
a. Sub Program Lingkungan Sehat, Penyehatan Air dan Sanitasi 14

2. PROGRAM UPAYA KESEHATAN l8


a. Sub Program Penurunan Angka Kematian !bu melalui Making Pregnancy
Safer (MPS) 18
b. Sub Program Pemberantasan Tuberkulosis Paru 22
c. Sub Program Pemberantasan Malaria 24
d. Sub Program Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual
(PMS) 27

3. PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKA T.. 29

4. PROGRAM KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN PEMBANGUNAN


KESEHA TAN 40
a. Sub Program Sistem lnfonnasi Kesehatan 40
b. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan .41
B. Rencana Tindak Program Kesehatan yang Responsif Gender dalam REPETA
2003 dan Usulan Kegiatan 42

I. PROGRAM LINGKUNGAN SEHAT, PERILAKU SEHAT DAN


PEMBERDA YAAN MASYARAKAT 42
a. Sub Program Lingkungan Sehat, Penyehatan Air dan Sanitasi 42

2. PROGRAM UPAYA KESEHATAN 43


a. Sub Program Penurunan Angka Kematian !bu melalui Making Pregnancy
Safer (MPS).......................... .. 43
b. Sub Program Pemberantasan Tuberkulosis Paru 44
c. Sub Program Pemberantasan Malaria 44
DAFTAR /SI

d. Sub Program Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual


(PMS) 44

3. PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASY ARA KAT 45

4. PROGRAM KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN 45


a. Sub Program Sistem Informasi Kesehatan 45
b. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 46
BAB V PENUTUP 47

DAFTAR SINGKATAN

LAMPIRAN
Lampiran 1: Matriks Analisis Gender Pembangunan Kesehatan
Lampiran 2: Matriks Rencana Aksi Program Kesehatan yang Responsif Gender dalam
REPET A 2003 dan Usulan Kegiatan
Lampiran 3: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Tim Pengarusutamaan Gender
(PUG) Departemen Keseharan

ii
BABI
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemerintah dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 menetapkan bahwa kesehatan


adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Sejalan dengan pengertian tersebut dan sebagai bagian
integral dari pembangunan nasional, rnaka tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia
Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar dapat terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Dalam rangka mencapai tujuan dimaksud, maka penyelenggaraan pembangunan kesehatan


mempunyai 6 (enam) program pokok UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Propenas 2000 -
2004, yaitu: (I) program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat,
(2) program Upaya Kesehatari, (3) program Perbaikan Gizi Masyarakat, (4) program Sumber
Daya Kesehatan, (5) program Obat, Makanan dan Bahan Berbahaya, (6) program Kebijakan
dan Manajemen Pembangunan Kesehatan.

Program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna, walaupun masih dijumpai berbagai
masalah dan hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan. Salah
satu keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional yang dapat dirasakan adalah sernakin
meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir.

Masalah utama yang dihadapi dalam bidang kesehatan adalah keterbatasan mutu dan
jangkauan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi penduduk miskin. Untuk itu
pembangunan di bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan jangkauan
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi penduduk miskin. Upaya pelayanan
kesehatan dasar antara lain meliputi pencegahan dan pemberantasan penyakit menular,
perbaikan gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, penyediaan obat generik esensial, promosi
kesehatan serta peningkatan higiene dan sanitasi dasar. Masih tingginya angka kematian ibu
maternal mengharuskan kita untuk memberikan perhatian khusus -terhadap pelayanan
kesehatan ibu dan anak dan ha! ini berkaitan dengan keberadaan bidan di setiap pelosok
Indonesia.

Masih besamya berbagai rnasalah kesehatan antara lain tingginya angka kematian ibu (AKI),
juga disebabkan karena adanya kesenjangan gender dalam pembangunan kesehatan. Untuk
mengetahui besamya kesenjangan dalam kebijakan, program, kegiatan dan dampak program
kesehatan untuk penduduk laki-laki dan perempuan, perlu dilakukan analisis gender.

B. Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mendokumentasikan proses melakukan analisis gender dalam
program pembangunan kesehatan dan berbagi pengalaman dalam proses analisis tersebut.
PENDAHULUAN

Analisis gender mencakup kegiatan identifikasi dan analisis berbagai kesenjangan gender
dalam program kesehatan, serta identifikasi langkah-langkah yang direkomendasikan untuk
mengurangi/menghilangkan kesenjangan gender, sehingga pembangunan kesehatan dapat
dilaksanakan secara lebih berdayaguna dan berhasilguna. Selain itu pengalaman dalam
analisis gender untuk program terpilih ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk
program dan unit lain yang akan mengerjakan ha! yang serupa.

C. Ruang Lingkup Penulisan

Analisis gender dalam pembangunan kesehatan dalam penulisan ini mencakup 4 (empat)
program yang responsif gender dari 6 (enam) program pokok Propenas 2000-2004 (UU
25/2000), yaitu:

1. Program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat


a. Sub Program Lingkungan Sehat, Penyehatan Air dan Sanitasi

2. Program Upaya Kesehatan


a. Sub Program Penurunan Angka Kematian lbu (AKI) melalui Making
Pregnancy Safer (MPS)
b. Sub Program Pemberantasan Tuberkulosis Paru
c. Sub Program Pemberantasan Malaria
d. Sub Program Penanggulangan HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus!
Acquired Immunodeficiency Syndromes) dan Penyakit Menular Seksual (PMS)

3. Program Perbaikan Gizi Masyarakat

4. Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan


a. Sub Program Sistem Informasi Kesehatan
b. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

D. lsuPokok

I. Upaya mengatasi kesenjangan antara penduduk laki-laki dan perempuan sejak awal
Pelita III te!ah dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan dengan program P2W - PK
(Peningkatan Peranan Wanita dalam Pembangunan kesehatan).

2. Dengan telah dikeluarkannya Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender


dalam Pembangunan Nasional, maka dalam pembangunan kesehatan perlu
dimasukkan perspektif gender untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan
yang ada. Inpres ini selain memberikan pendekatan baru dalam mengatasi
kesenjangan, juga akan mendorong pengembangan pendekatan sebelumnya
(pendekatan WID - "Women in Development" menjadi GAD - "Gender and
J?evelopment").

2
PENDAHULUAN

3. Analisis gender, sebagai bagian dari upaya pengarusutamaan gender adalah ha! yang
baru, sehingga sering masih menimbulkan pemahaman dan persepsi yang berbeda
antar para penentu kebijakan dan pelaksana program kesehatan.

4. Secara formal, di Jingkungan Departemen Kesehatan belum ada pengaturan lebih


lanjut tentang pengarusutamaan gender. Focal point yang ditetapkan adalah
Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat (PSM) untuk menangani proyek P2W-PK
(sejak pertengahan tahun delapan puluhan sampai akhir tahun sembilan puluhan).
Kemudian setelah reorganisasifocal point dilimpahkan ke Direktorat Bina Kesehatan
Keluarga (Kesga), yang mempunyai program kesehatan khusus untuk ibu/perempuan.

5. Mulai Repeta 2003 beberapa program kesehatan telah ditetapkan oleh Bappenas untuk
dikembangkan menjadi responsif gender. Ketetapan ini kemudian telah disepakati
oleh Depa.rtemen Keseha.ta.n, dengan focal point Biro Perencana.a.n dan Anggaran,
diba.ntu oleh para penanggung jawab program yang terpilih.

6. Kelancaran pelaksanaan otonomi daerah dan kebijakan desentralisasi perlu didukung


dengan komunikasi dan mekanisme hubungan kerja Pusat - Daerah yang saling
mendukung pelaksanaa.n tugas, termasuk yang berkaitan dengan isu gender da.n
kesehatan.

E. Sistematika

Penyajian tulisan ini dibuat dengan sistematika sebagai berikut:


Bab I Bab Penda.huluan
II Bab III Konteks
Bab IV Proses
Bab V Analisis Gender
Lampi ran Penutup

3
BAB II
KONTEKS

Untuk memadukan konsep gender dengan program pembangunan kesehatan, ada baiknya
untuk melihat kembali beberapa konsensus global dalam bidang kesehatan yang secara
langsung maupun tidak langsung terkait dengan konsep pengarusutamaan gender. Pada tahun
1948, Organisasi Kesehatan Sedunia (World Health Organisation/WHO) rnenyepakari antara
lain bahwa derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah suatu hak yang fundamental bagi
setiap orang tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin, politik yang dianut dan tingkat
sosial ekonominya. Kemudian pada tahun 1980, WHO juga rnendeklarasikan Health for All
2000 yang isinya rnenghimbau kepada semua anggota WHO, supaya melakukan langkah
dalarn pembangunan kesehatan sehingga derajat kesehatan setiap orang meningkat. Di
Indonesia, pengernbangan komitmen global ini dilaksanakan rnelalui misalnya dengan Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) tahun 1982 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang
Kesehatan (RPJPK). Selanjutnya saat memasuki abad XX! Indonesia telah menetapkan
"Indonesia Sehat 2010" sebagai visi pembangunan kesehatan.

Secara khusus untuk mengatasi ketertinggalan kaum perernpuan telah disepakati berbagai
macam komitmen antara lain Konperensi Sedunia tentang Hak Asasi Manusia di Vienna
tahun 1993 yang mengemukakan bahwa hak perempuan merupakan bagian dari hak asasi
manusia yang bersifat uni versa!. Karena kesehatan merupakan salah satu hak asasi bagi setiap
insan manusia, maka perempuan pun berhak untuk memperoleh derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya sebagai hak asasinya. Hal ini dimantapkan lagi pada Konperensi
Intemasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (!CPD) tahun 1994 di Kairo yang
meletakkan dasar bagi rekomendasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan hak
reproduksi perempuan dan laki-laki. Komitmen global lain yang mengaitkan kesehatan
dengan isu gender adalah Konperensi Perempuan Sedunia IV tahun 1995 di Beijing, yang
menyebutkan bahwa "Perempuan dan Kesehatan" sebagai satu dari 12 bidang kritis yang
dikernukakan dalam rencana aksi ini. Sebagai negara yang ikut menjadi peserta dan
menandatangani deklarasi, maka sudah seharusnya Indonesia rnelaksanakan komitmen
komitmen ini dengan sebaik-baiknya. Komitmen pcnting lain yang disepakati Indonesia
dalam bidang kesehatan adalah upaya global pemberantasan AIDS, tuberkulosis dan malaria
(Global ATM) dan untuk melaksanakan upaya tersebut Indonesia merupakan salah satu
negara yang mendapat bantuan dana global.

Masalah gender dalam bidang kesehatan tidak semata-mata hanya menjadi tanggung jawab
sektor kesehatan, karena masalah ini terkait dengan sektor-sektor lainnya, seperti sosial
ekonomi, budaya, politik, pendidikan, pertanian dan sebagainya. Sehingga masalah gender,
yang berupa ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender, dalam sektor kesehatan terkait pula
dengan masalah-masalah di luar sektor kesehatan. Menurut WHO, masalah ketidakadilan
dan ketidaksetaraan gender dalam sektor kesehatan dapat dijumpai pada banyak kebijakan
dan program pembangunan kesehatan. Namun, ha! ini oleh banyak penentu kebijakan,
perencana program dan penyedia pelayanan (health provider) tidak dianggap/dikenali sebagai
masalah yang serius. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender ini dijumpai dalam beberapa
bentuk gender inequality, yaitu perbedaan akses pada pelayanan kesehatan antara penduduk
laki-laki dan perempuan, perbedaan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
penduduk laki-laki dan perempuan, dan bias gender dalam riset medis.

5
KONTEKS

Dalam perspektif gender, beberapa masalah pokok kesehatan yang mendapat prioritas dalam
penanganannya, seperti Angka Kematian Ibu (AKI) yang tinggi, pemberantasan tuberkulosis
paru, malaria, HIV/AIDS, masalah gizi masyarakat dan masalah lingkungan yang tidak sehat
sangat terkait dengan isu gender. Hal penting inilah yang belum mendapat perhatian dan
pemahaman yang mendalam dan konsisten dari para pembuat kebijakan kesehatan.
Rendahnya status kesehatan perempuan dibandingkan dengan laki-laki, sebagai akibat faktor
sosial budaya, misalnya, telah berdampak pada tingginya angka kematian ibu dan besarnya
berbagai masalah kesehatan perempuan lainnya. Untuk mengatasi permasalahan ini
diperlukan berbagai upaya yang memperhatikan isu gender dan dilaksanakan bersama oleh
berbagai sektor terkait, misalnya sektor yang menangani budaya, ekonomi, dan pendidikan.

Selama ini kebijakan dan program pembangunan kesehatan pada umumnya sudah
dilaksanakan untuk seluruh penduduk, dengan tidak membedakan sasaran laki-laki dan
perempuan, kecuali program yang dirancang khusus untuk laki-laki atau perempuan.
Ternyata dengan kebijakan dan program yang bersifat "netral gender atau buta gender" ini,
sering dijumpai adanya kesenjangan dalam pelaksanaan serta dampak yang terjadi pada
penduduk laki-Iaki dan perempuan.

Beberapa contoh, antara lain:

1. Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)


Selama ini urusan kehamilan dan melahirkan dianggap hanya urusan perempuan,
sementara kedudukan perempuan pada umumnya masih rendah dibandingkan laki
laki, sehingga perempuan sulit memutuskan apa yang menjadi kebuthan dan haknya.

2. Program Lingkungan Sehat, Penyehatan Air dan Sanitasi


Perempuan lebih banyak menerima beban kerja untuk kesehatan lingkungan dan
sanitasi di rumah tangga, sementara sosialisasi program lingkungan sehat, penyehatan
air dan sanitasi lebih banyak ditujukan pada laki-laki,

3. Program Pemberantasan Penyakit Malaria


Kejadian penyakit malaria lebih banyak pada laki-laki, tetapi dampaknya jauh lebih
berbahaya pada perempuan, khususnya saat hamil, karena dapat berakibat buruk pada
janin/bayi (dapat mengakibatkan keguguran, lahir mati, lahir prematur dan lahir
dengan berat badan lahir rendah/BBLR), maupun pada ibu (malaria serebral, anemia),
serta resiko kematian pada perempuan meningkat 2-10 kali dibandingkan laki-laki.

4. Program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru


Penderita tuberkulosis pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan karena lebih
banyak berobat dan tercatat di tempat pelayanan kesehatan, sedangkan penderita
perempuan jarang/tidak pergi berobat ke tempat pelayanan kesehatan, sehingga
kurang/tidak terekam; sementara potensi penularan oleh penderita perempuan pada
anggota keluarga yang lain jauh lebih besar dan tentunya berdampak lebih besar
terhadap kesembuhannya.

6
KONTEKS

5. Program Penanggulangan HIV/AIDS


Laki-Iaki pada umumnya tidak dianggap sebagai sumber penularan HIV/AIDS,
sedangkan perempuan baik-baik sering dianggap tidak akan tertular HIV/AIDS.

6. Program Perbaikan Gizi Masyarakat


Penyediaan makanan yang bergizi lebih diutamakan kepada bapak dan anak laki-laki
daripada ibu dan anak perempuan.

Berdasarkan berbagai komitmen internasional dan nasional, tentang keadilan dan kesetaraan
gender, serta eliminasi kesenjangan gender, maka kini saat yang tepat untuk memulai dalam
memecahkan dan mengambil keputusan untuk peningkatan status/derajat kesehatan laki-Iaki
dan perempuan, dengan memadukan pendekatan gender. Hal ini berlaku juga tidak hanya
dalam pembangunan kesehatan, tapi juga di semua bidang pembangunan, sehingga dapat
dilaksanakan apa yang disebut dengan pembangunan yang berkeadilan dan kesetaraan
gender.

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999 - 2004 mengamanatkan bahwa untuk
meningkatkan peran dan kedudukan perempuan perlu dikembangkan suatu kebijakan
nasional yang diemban oleh suatu Iembaga yang marnpu mewujudkan dan meningkatkan
kesetaraan dan keadilan gender, serta meningkatkan kemandirian dan kemampuan organisasi
perempuan. Untuk itu dikembangkan kebijakan dan strategi nasional yang menjadi salah satu
prioritas pembangunan, sebagaimana tersusun dalam Propenas 2000-2004. Setiap penentu
kebijakan dan pelaksana program pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan dan evaluasi diharapkan dapat menerapkan pengarusutamaan gender (PUG)
dengan memasukkan wawasan gender sesuai bidang tugas dan fungsi kewenangan masing
masing. Untuk dapat menerapkan pengarusutamaan gender di sektor kesehatan dengan baik,
maka para penentu kebijakan dan pelaksana program perlu meningkatkan kapasitasnya agar
mampu mengembangkan prograrnlproyeklkegiatan yang telah tercantum dalam UU 25/2000
(Propenas 2000-2004), Renstra 2001-2004 dan Repeta 2003 menjadi responsif gender.

lnstruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam


Pembangunan Nasional menyatakan bahwa seluruh departemen maupun lembaga pemerintah
non-departemcn di pemerintah pusat, propinsi, maupun kabupaten/kota harus melakukan
pengarusutamaan gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pada
kebijakan dan program pembangunan. Pengarusutamaan gender merupakan strategi untuk
mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang
memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan Jaki-laki
ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari keseluruhan kebijakan dan
program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Dengan melaksanakan PUG
diharapkan kesenjangan gender dan permasalahan gender yang ada dapat diatasi ataupun
dipersempit jurang perbedaannya.

Tujuan utama pengarusutamaan gender adalah tercapainya kesetaraan dan keadilan gender
yang dapat dilaksanakan antara lain melalui pemberdayaan perempuan dalam seluruh bidang
pembangunan dengan melibatkan institusi pemerintah dan organisasi masyarakat, dan
menumbuhkan kesadaran kesetaraan bagi kaum laki-laki. Harus diakui bahwa sampai saat ini

7
KONTEKS

situasi dan kondisi di Indonesia masih menempatkan perempuan pada posisi "warga kelas
dua". Hal ini dapat diketahui baik melalui data yang kuantitatif dan data kualitatif, serta fakta
kehidupan sehari-hari, sehingga ketidakadilan dan kesetaraan gender akan sangat mudah
dijumpai dalam semua aspek kehidupan sehari-hari. Namun untuk memastikan bahwa hal
tersebut adalah benar-benar merupakan suatu isu gender, maka diperlukan suatu analisis
terhadap situasi tersebut berdasarkan ukuran-ukuran yang sesuai dengan kaidah gender.

Dalam mengatasi ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender diperlukan upaya khusus untuk
mengetahui adanya ketimpangan gender. Hal ini dapat diketahui antara Jain dengan
melakukan analisis gender sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi adanya
ketimpangan/kesenjangan gender. Analisis gender ini dilakukan pada awal setiap kegiatan
yang akan dilakukan dan hal ini merupakan rangkaian dari upaya pengarusutamaan gender.

Di Departernen Kesehatan upaya dalam peningkatan kesehatan perempuan diawali oleh


Proyek Peningkatan Peranan Wanita dalam Pembangunan Kesehatan (Proyek PZWPK) pada
pertengahan tahun 80an. Pada akhir tahun 1999, dari kegiatan proyek tersebut telah
dihasilkan buku Pengarusutamaan Gender dalam Bidang Kesehatan, Dalam buku
pedoman ini baru disebutkan bahwa upaya PUG harus mengikutsertakan analisis gender pada
setiap langkah awal suatu program. Selain itu disebutkan pula bahwa untuk dapat melakukan
analisis gender diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik yang dapat dipelajari
sendiri atau didapat dalam suatu pelatihan khusus tentang PUG.

Dalam melakukan analisis gender ini, Pemerintah RI melalui Bappenas (Direktorat


Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan) dan Kementerian
Pemberdayaan Perempuan, serta dengan bantuan CIDA telah mengembangkan metode
analisis yang disebut Gender Analysis Pathway (GAP). Metode ini menelaah apakah suatu
kebijakan, program, atau kegiatan sudah responsif gender dilihat dari data pembuka wawasan
yang ada, apakah terdapat kesenjangan gender dilihat dari aspek akses, partisipasi, kontrol
dan manfaat suatu program, dan akhirnya menentukan rencana aksi untuk mengurangi atau
menghilangkan kesenjangan gender serta menetapkan indikator untuk mengukur
keberhasilannya. Gender Analysis Pathway (GAP) juga telah diperkenalkan di dalam buku
tersebut di atas. Metode analisis gender lain yang mulai dikembangkan oleh WHO, dengan
daerah uji coba untuk penerapannya di Propinsi Riau di Indonesia (tidak dibahas dalam
tulisan ini)

8
BAB III
PROSES

Sesuai dengan Inpres No. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam
Pembangunan Nasional, maka penanggungjawab pengarusutamaan gender dalam
pembangunan kesehatan adalah Menteri Kesehatan, namun dalam pelaksanaannya dilakukan
oleh masing-masing program/sub program dari masing-masing direktorat. Sehubungan
dengan program kesehatan dalam Repeta 2003 yang responsif gender, maka kegiatan tersebut
dikoordinasikan oleh Biro Perencanaan dan Anggaran Departemen Kesehatan.

Secara historis, komitmen Departemen Kesehatan RI tentang peningkatan peranan wanita


dalarn program pembangunan kesehatan sebenarnya sudah lama dirintis melalui Proyek
Peningkatan Peranan Wanita dalam Pembangunan Kesehatan (Proyek P2WPK). Proyek ini
pada awalnya dilaksanakan o\eh Direktorat Peran Serta Masyarakat (PSM) pada Direktorat
Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat sejak tahun 1988 sampai 1998. Kemudian
dengan adanya reorganisasi Departemen Kesehatan pada tahun 1999, focal point tersebut
dilimpahkan kepada Direktorat Kesehatan Keluarga. Namun, kegiatan proyek tersebut baru
memasuki tahap persiapan (tahun I) Pengarusutamaan Gender bidang Kesehatan (PUG-BK)
yaitu berupa sosialisasi PUG-BK, pemilihan program prioritas dan uji coba melakukan
analisis pada program prioritas.

Secara organisasi, di lingkungan Departemen Kesehatan belum ada struktur khusus yang
menangani pengarusutamaan gender. Selama ini kegiatan dilaksanakan dan dikoordinir oleh
Sub-direktorat Kesehatan Usia Subur pada Direktorat Kesehatan Keluarga. Selanjutnya
dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program
Pembangunan Nasional 2000 - 2004, dan terbitnya lnpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang
Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, serta dikeluarkannya kebijakan
Bappenas tentang Repeta 2003 yang responsif gender, maka beberapa program pembangunan
kesehatan prioritas diarahkan untuk menjadi responsif gender. Pengaturan pelaksanaan
pengarusutamaan gender bidang kesehatan tersebut sedang dimantapkan dalam bentuk suatu
Tim Pengarusutamaan Gender Program Pembangunan Kesehatan, termasuk mekanisme
kerjanya melalui suatu Surat Keputusan Menteri Kesehatan.

Dengan telah diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


HK.00.SJ.SK.I.! 712, tanggal 13 September 2002 tentang Tim Pengarusutamaan Gender
Departemen Kesehatan, maka kegiatan pengarusutamaan gender di sektor kesehatan dapat
dilaksanakan dengan lebih baik yang dikaitkan dengan Rencana Pembangunan Tahunan
(Repeta) 2003 sesuai dengan arahan dan kebijakan Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas). Kegiatan ini telah dirintis sejak awal tahun 2002 bersama-sama dengan
Bappenas dan didukung oleh CIDA. Dalam perkembangannya, Biro Perencanaan dan
Anggaran Departernen Kesehatan diberi mandat untuk melakukan koordinasi
pengarusutamaan gender di lingkungan Departemen Kesehatan.

Kegiatan pengarusutamaan gender bidang kesehatan (PUG-BK) ini dilaksanakan mulai tahun
2003 dengan beberapa program kesehatan prioritas terpilih yang dijadikan responsif gender.

9
PROSES

Seperti telah diketahui, pengetahuan dan pemahaman tentang pengarusutamaan gender di


lingkungan Departemen Kesehatan masih terbatas kepada individu-individu yang telah
berkecimpung dan mengikuti kegiatan ataupun pelatihan tentang Pengarusutamaan gender,
baik yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan maupun dari instansi di luar Departemen
Kesehatan, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Pada awal tahun 2002, Bappenas
dengan dukungan CfDA menerapkan analisis gender di 4 (empat) sektor pembangunan, yaitu
Lingkungan Hidup, Kesejahteraan Sosial, Kesehatan dan Keluarga Berencana. Dari ke-4
(empat) sektor pembangunan ini dipilih beberapa program prioritas masing-masing sektor
untuk dijadikan program yang responsif gender.

Dasar pemilihan program/subprogram kesehatan yang dijadikan responsif gender tersebut


antara lain adalah karena merupakan program unggulan, baik program pembangunan jangka
panjang atau jangka menengah serta karena program/subprogram tersebut rnempunyai
komitmen internasional (global commitment), seperti misalnya Commitment Global Fund for
AIDS, Tuberculosa dan Malaria (Global Fund ATM), Making Pregnancy Safer (MPS) untuk
penurunan angka kematian ibu. Program/Sub Program yang telah dirancang responsif gender
sejak awal, mulai dari penjajagan kebutuhan (needs assesment) fasilitator lapangan
(Community Fasilitator Team), pelaksanaan maupun pemeliharaan pasca proyek
(sustainability) adalah sub program Lingkungan Sehat melalui Proyek Penyediaan Air Bersih
bagi masyarakat miskin (Water Supply for Low Income Community - WSLIC II) bantuan
pinjaman Bank Dunia/CIDA di Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan.

Kegiatan yang telah dilakukan untuk penyusunan Repeta 2003 yang responsif gender melalui
proses Gender Analysis Pathway (GAP) di lingkungan Departemen Kesehatan, sekaligus
merupakan pengembangan dari berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan sebelumnya
(antara lain Proyek P2WPK dan rintisan PUG bidang kesehatan) dapat dikemukakan sebagai
berikut:

!. Seminar tentang Pengarusutamaan Gender bidang Kesehatan di Depkes dengan


pembicara utama Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.

2. Audiensi dengan Sekretaris Jenderal dan Direktur Jenderal Bina Kesmas Departemen
Kesehatan tentang rencana pelaksanaan analisis gender program kesehatan,
khususnya untuk Repeta 2003, sesuai kebijakan Bappenas.

3. Pembentukan Tim Teknis Penyusun Analisis Gender/Repeta 2003 dengan melibatkan


semua unit penanggung jawab program terpilih, Bappenas, Kementerian
Pemberdayaan Perernpuan dan Badan Pusat Statistik.

4. Pelatihan singkat untuk staf perencana tentang "Analisis Gender dan Repeta 2003"
oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan Pusat Pendidikan
dan Pelatihan (Pusdiklat) Departemen Kesehatan dengan tujuan memberikan dasar
dasar pengetahuan tentang gender dan analisis gender, menyamakan persepsi dan
menggunakan bahan Repeta 2003 sebagai bahan latihan (exercise).

IO
PROSES

5. Lokakarya I tentang Penerapan Gender Analysis Pathway (GAP) dalam Program


Pembangunan Repeta 2003 yang dikoordinasikan oleh Bappenas dan diikuti oleh
semua anggota Tim Gender dari 4 sektor, serta para fasilitator dan nara sumber.

6. Pertemuan-pertemuan teknis program yang di-"gender"-kan dalam pembangunan


kesehatan, dihadiri anggota Tim Gender.

7. Lokakarya II (kelanjutan lokakarya I) tentang hasil analisis gender dengan metode


GAP, khusus untuk program pembangunan kesehatan terpilih

8. Diserninasi hasil analisis di lingkungan Departemen Kesehatan dipimpin oleh


Sekretaris Jenderal untuk memantapkan komitmen.

9. Dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: HK.OO.SJ.SK.I.1712


tentang Tim Pengarusutamaan Gender (PUG) Depkes pada bulan September 2002
yang memperkuat komitmen Departemen Kesehatan dalam pengarusutamaan gender.

Dalam pertemuan-pertemuan teknis pada awalnya sesuai kebijakan Bappenas hanya


membahas dan menganalisis 3 (tiga) program kesehatan dalam Propenas, yaitu: 1) Program
Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat, 2) Program Upaya
Kesehatan, dan 3) Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Namun kemudian, dari hasil
pembahasan muncul pendapat bahwa data dan penelitian tentang gender sangat diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan pengarusutamaan gender di sektor kesehatan. Oleh karena itu
akhimya disepakati untuk mengembangkan analisis gender pada Program Kebijakan dan
Manajemen Pembangunan Kesehatan, sehingga menjadi 4 (empat) program kesehatan yang
responsif gender.

Unit kerja di lingkungan Departemen Kesehatan yang telah dilibatkan dalam penyusunan
program pembangunan kesehatan yang responsif gender (Repeta 2003) antara lain:

1. Eselon I program terkait (Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal PPM & PL, Direktur
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan).

2. Eselon II program terkait (Sekretariat Jenderal, Ditjen PPM & PL, Ditjen Bina
Kesehatan Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) termasuk
Biro Perencanaan dan Anggaran serta Biro Hukmas.

3. Pusat-pusat di lingkungan Departemen Kesehatan (Pusat Data dan


Informasi/Pusdatin, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan/Pusdiknakes, Pusat
Pendidikan dan Latihan Kesehatan/Pusdiklatkes, Pusat Kajian Pembangunan
Kesehatan, Pusat Kesehatan Kerja).

4. Para Kepala Sub Direktorat/Kepala Bagian pemegang program/sub program terpilih


(Ditjen Bina Kesmas, Ditjen PPM & PL).

5. Para Kepala Bagian Program dan Informasi masing-masing Unit Utama terpilih.

JI
PROSES

6. Para Kepala Bagian Tata Usaha masing-masing Pusat/Unit Pelaksana Teknis program
terpilih.

7. Para Kepala Sub Bagian/Kepala Seksi dan Petugas yang ditunjuk oleh Unit teknis/Sub
Program terpilih.

Pengalaman yang mendukung dalam proses Pengarusutamaan gender (PUG) di Departemen


Kesehatan antara lain:

l. Antusiasme yang positif para petugas pelaksana yang ditunjuk di tingkat program/sub
program.

2. Program dan sub program yang tertuang dalam Repeta 2003 telah mulai responsif
gender.

3. Sumber Daya Manusia/petugas pelaksana yang dilibatkan, telah diikutsertakan dalam


pelatihan dan workshop tentang pengarusutamaan gender.

4. Strategi yang telah dilakukan adalah melalui mekanisme yang disesuaikan dengan
tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing unit, dan telah dikoordinasikan oleh
Biro Perencanaan dan Anggaran Departemen Kesehatan.

Yang dirasakan masih menjadi hambatan dalam proses PUG antara lain:

l. Data yang tersedia belum terpilah menurut jenis kelamin sehingga menyulitkan
dalam proses analisis gender program kesehatan.

2. Akurasi data yang kurang lengkap.

3. Kompetensi individu belum sepenuhnya didukung oleh lingkungan manajemen


Departemen Kesehatan.

4. Pengarusutamaan gender belum terintegrasi pada sistem yang ada.

5. Mekanisme dan pelaksanaan sangat tergantung kepada kesiapan daerah.

Kesulitan dalam melernbagakan analisis gender antara lain karena banyak pengambil
keputusan masih menganggap bahwa pengarusutamaan gender tidak ada kaitannya dengan
visi dan misi sektor kesehatan. Padahal sebenarnya dengan pengarusutamaan gender, visi
dan misi sektor kesehatan sangat mungkin dapat dilaksanakan serta dicapai secara lebih
efektif dan efisien.

12
BAB IV
ANALISIS GENDER

A. Um urn

Pembangunan kesehatan nasional yang akan dilaksanakan selama periode 2001 - 2004
adalah mencapai sebagian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan untuk mengisi visi
Indonesia Sehat 20 I 0. Arah kebijakan pembangunan kesehatan sesuai dengan Garis-garis
Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 - 2004 dan Undang-undang Nomor 25 tahun 2000
tentang PROPENAS 2000 - 2004 yaitu:

I. Meningkatkan mutu sumber daya manusia, lingkungan yang saling mendukung


dengan pendekatan paradigma sehat yang memberikan prioritas pada upaya
peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, rehabilitasi sejak
pernbuahan dalam kandungan sampai usia lanjut.

2. Meningkatkan, memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan melalui


pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan, sarana prasarana dalam
bidang medis termasuk ketersediaan obat yang dapat dijangkau oleh masyarakat.

Komitmen Indonesia tentang kesetaraan dan keadilan gender dalam Garis-garis Besar Haluan
Negara (GBHN) 1999 telah dijabarkan dalam Program Pembangunan Nasional lima tahun
(Propenas 2000-2004) dan ditetapkan sebagai Undang-undang No. 25 tahun 2000. Undang
undang No. 25/2000 tentang Propenas 2000 - 2004 tersebut mengamanatkan tentang
pentingnya pelaksanaan strategi pengarusutamaan gender dijabarkan dalam pembangunan.
Amanat tersebut selanjutnya dituangkan ke dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000
tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.

Pada tahun 2000 terdapat 19 (sembilan belas) program pembangunan yang responsif gender,
dan pada tahun 2002 terdapat 32 (tiga puluh dua) program pembangunan yang responsif
gender yang tercakup dalam 9 (sembilan) bidang pembangunan termasuk bidang sosial
budaya. Dalam bidang sosial budaya 9 (sembilan) program yang responsif gender termasuk
sektor kesehatan yaitu 4 (empat) program. Untuk tahun 2003 Departemen Kesehatan telah
mencoba menyusun/mengkaji 4 (empat) program dan 7 (tujuh) sub program pembangunan
kesehatan yang responsif gender.

Proses kerja masing-masing unit terkait di lingkungan Departemen Kesehatan sesuai dengan
tugas pokok dan fungsinya. Usulan matriks analisis gender dikutip secara bervarisasi
berdasarkan kebijakan dan tujuan sebagaimana tercantum dalam program/sub program yang
tercantum dalam Propenas 2000 - 2004, atau berdasarkan rencana stratcgis (renstra) masing
masing program/sub program, mengacu kepada komitmen Intemasional (WHO), bahkan ada
pula yang disesuaikan dengan tujuan jangka pendek (proyek/bagian proyek yang
bersangkutan).

Data pembuka wawasan diarnbil dari berbagai referensi yang telah tersedia (data sekunder),
baik secara empiris kualitatif, ataupun kuantitatif baik Iokal maupun intemasional: Analisis
kesenjangan gender dikembangkan melalui akses, partisipasi, kontrol dan manfaat.

13
ANALISIS GENDER

Sedangkan isu gender dipilih menurut peran baku (stereotip), sub ordinasi, marjinalisasi,
pembebanan, bahkan sampai kepada kekerasan terhadap perempuan. Kemudian untuk
kepentingan Repeta 2003 hasil analisis tersebut dikembangkan menjadi rencana aksi serta
indikator-indikator Repeta 2003.

Hasil analisis gender program pembangunan kesehatan untuk program dan sub program
prioritas terpilih adalah sebagai berikut.

1. PROGRAM LINGKUNGAN SEHAT, PERILAKU SEHAT DAN


PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.

a. Sub Program Lingkungan Sehat, Penyehatan Air dan Sanitasi

1) Kebijakan Program
Mewujudkan mutu lingkungan hidup yang sehat yang mendukung tumbuh kembang
anak dan remaja, memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup sehat, dan memungkinkan
interaksi sosial, serta melindungi masyarakat dari ancaman bahaya yang berasal dari
lingkungan sehingga tercapai derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
yang optimal.

2) Data Pembuka Wawasan


a) Jumlah penduduk perempuan yang tidak/belum pernah sekolah 2 kali lipat
dibanding penduduk laki-laki (13,32% berbanding 5,96%), sehingga
berpengaruh dalam pemeliharaan perumahan dan lingkungannya.
b) Jumlah keluarga dengan pendapatan < Rp 100.000 sekitar 60,28%, sehingga
berpengaruh pada daya beli untuk pemenuhan/perbaikan rumah dan
lingkungan yang sehat.
c) Jumlah perempuan yang bekerja mengurus rumah tangga (39,55%) lebih
banyak dibanding laki-laki (0,97%), menyebabkan perempuan mempunyai
resiko lebih tinggi terkena dampak rumah yang tidak sehat, antara lain dapur.
d) Rumah tangga yang menggunakan bahan bakar minyak tanah memberikan
resiko 3,8 kali lebih besar pada anak bawah lima tahun (balita) untuk
mendapatkan ISPA karena ibunya menggendong anaknya saat memasak,
dibandingkan dengan pemakai gas elpiji (penelitian di Jakarta tahun 1993).
e) Jumlah angkatan kerja perempuan di sektor pertanian (44,47%), industri
(14,01 %), dan perdagangan (22,90%) dibandingkan dengan laki-laki di sektor
pertanian (41,69%), industri (11,27%) dan perdagangan (15,37%), mempunyai
resiko lebih besar pada kondisi kesehatan dan kesehatan reproduksi.
f) Jumlah perempuan yang bekerja di sektor informal (69,9 %) lebih tinggi
dibandingkan dengan laki-laki (60,4 %).
g) Jumlah tenaga kesehatan laki-Iaki di bidang kesehatan lingkungan di semua
jenjang administrasi (60-80%) lebih banyak dibandingkan dengan perempuan,
namun diperkirakan kurang memahami permasalahan perempuan dalam
kaitannya dengan lingkungan (beban kerja yang cukup banyak, cukup lama
dan cukup berat).
h) Jumlah keluarga yang rnenggunakan air bersih di perkotaan dan perdesaan
78% (2002).

14
ANAUSIS GENDER

i) Jumlah keluarga yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan


65% (2002).
j) Jumlah sekolah yang memenuhi syarat sehat 54,5% (2002).
k) Jumlah air bersih yang memenuhi syarat kualitas bakteriologis 66% (2002).
l) Profil kegiatan perempuan di desa yang sulit sumber air menunjukkan beban
kerja sangat berat.
m) Perempuan perdesaan bekerja lebih lama dan lebih banyak (studi oleh
Pujiwati).

3) Kesenjangan Gender
a) Akses:
(I) Akses laki-laki pada penyuluhan/informasi tentang penyehatan
lingkungan dan air bersih serta untuk mendapatkan perlindungan
kesehatan, lebih banyak daripada perempuan, karena laki-laki hampir
selalu dapat menghadiri pertemuan dan menyaksikan media
elektronika di tempat umum.
(2) Pendidikan formal perempuan yang rendah mengakibatkan akses yang
kurang terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam
mewujudkan kondisi rumah serta lingkungan yang sehat.
(3) Perempuan dan laki-laki kurang mendapat akses pada fasilitas
kesehatan lingkungan yang memadai.
(4) Tenaga kesehatan perempuan dan Jaki-laki di semua jenjang
administrasi kurang mendapat akses terhadap program penyehatan
lingkungan

b) Partisipasi:
(1) Peran domestik dan peran ekonomi perempuan cenderung semakin
tinggi dalam penyehatan rumah serta lingkungannya, namun upaya
perlindungan kesehatan secara umum dan kesehatan reproduksi masih
kurang.
(2) Perempuan masih kurang dilibatkan dalam menentukan kebijakan baik
dalam peran domestik maupun ekonomi, antara lain dalam
musyawarah desa untuk perencanaan air bersih.
(3) Partisipasi laki-laki dalam penyuluhan kesehatan lingkungan masih
kurang.

c) Kontrol:
(I) Pengambilan keputusan di tingkat keluarga dalam urusan memperbaiki
rumah dan lingkungannya, termasuk air bersih masih didominasi laki
laki.
(2) Posisi perernpuan untuk mendapatkan hak perlindungan kesehatan
secara umum maupun kesehatan reproduksi masih lemah.
(3) Perempuan kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk
perencanaan program kesehatan lingkungan di semua jenjang
administrasi.
(4) Petugas kesehatan lingkungan 60-80% laki-laki, yang kurang
memahami jumlah dan beban kerja perempuan

15
ANAL/SIS GENDER

d) Manfaat:
(!) Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari penyuluhan/informasi
tentang penyehatan lingkungan dan air bersih.
(2) Tersedianya air bersih sangat memberikan manfaat pada keluarga,
khususnya perempuan, karena beban kerja perempuan menjadi sangat
berkurang.
(3) Perempuan belum merasakan manfaat perlindungan kesehatan dan
kesehatan reproduksi untuk meningkatkan produktivitas kerja.

4) Isu Gender
a) Stereotip: Urusan air, sanitasi dan kebersihan rumah di rumah tangga adalah
pekerjaan domestik identik pekerjaan perempuan. Perempuan lebih lama
berada/berperan di rumah, sehingga lebih mudah mendapatkan resiko oleh
dampak lingkungan rumah yang kurang sehat.
b) Subordinasi: Perempuan kurang diikutsertakan dalam musyawarah desa untuk
merencanakan pembangunan lingkungan sehat termasuk air bersih dan
sanitasi.
c) Marjinalisasi: Rendahnya pendidikan perempuan di desa dan kurangnya akses
terhadap penyuluhan lingkungan sehat termasuk air bersih serta sanitasi
d) Pernbebanan:
(1) Beban kerja perempuan dalam mengangkut air dari sumbernya ke
rumah di daerah sulit air sangat berat maupun pemeliharaan rumah dan
lingkungannya, akibatnya akan mengganggu kesehatan, gizi, istirahat
serta reproduksi perempuan. Maka dengan adanya air bersih di dekat
rumah sangat mengurangi beban perempuan.
(2) Peran perempuan dalam meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat
sangat besar di keluarga serta masyarakat, namun tidak diimbangi
dengan tingkat pendidikan yang memadai dan akses pada penyuluhan
kesehatan lingkungan yang cukup.
(3) Peran perempuan di sektor produksi pertanian, industri dan
perdagangan cenderung meningkat, namun belum ada perlindungan
dan hak cuti yang memadai untuk kesehatan serta kesehatan
reproduksi.
(4) Peran perempuan di sektor informal lebih besar daripada laki-laki,
namun tidak mendapat kemudahan untuk mendapatkan fasilitas
perlindungan, keamanan, keselamatan dan kesehatan (K3) sehingga
berakibat menjadi kelompok resiko tinggi.
(5) Pandangan stereotip di kalangan tenaga kesehatan laki-laki pada
umumnya kurang menyadari kemampuan perempuan atau kegiatan
perempuan dalam peran domestik dan peran produksi.

5) Rencana Aksi
a) Penyululian Iangsung yang dihadiri oleh perempuan dan Iaki-laki tentang:
(I) Perlindungan perempuan dari resiko penularan penyakit yang berbasis
lingkungan.
(2) Peraturan perundang-undangan tentang lingkungan sehat.
(3) Hasil kajian yang berkaitan dengan lingkungan sehat.

16
ANAL/SIS GENDER

(4) Pengamanan limbah rumah tangga.


(5) Pengolahan makanan minuman yang higienis.
(6) Lisolisasi, kaporisasi, dan abatisasi.
(7) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat termasuk di
sekolah serta daerah pengungsi
b) Kajian/survei ten tang:
(1) Pengetahuan, Sikap, Perilaku (PSP) perempuan dan laki-laki tentang
PHBS terhadap lingkungan sehat termasuk air bersih serta sanitasi.
(2) Mutu lingkungan sehat yang responsif gender di perumahan
dan permukiman, tempat-ternpat umum (hotel, pasar, terminal, sarana
transportasi, sekolah, industri logam berat terhadap pekerja
laki-laki), industri pestisida.
(3) Mutu udara terhadap petugas perempuan dan laki-Iaki di jalan raya.
(4) Peran perempuan dalam proteksi diri dari gangguan vektor penyakit.
(5) Dampak radiasi pada pekerja perempuan di industri elektronik
c) Advokasi kepada para pengambil keputusan di semua jenjang administrasi
dalam perencanaan program lingkungan sehat yang responsif gender.
d) Peningkatan kerjasama/kemitraan/pemberdayaan dan pengembangan dengan
berbagai pihak terrnasuk lintas program, lintas sektor, perguruan tinggi,
asosiasi, tokoh masyarakat, LSM, organisasi keagamaan, organisasi
perempuan dalam bidang penyehatan perumahan serta lingkungan yang
responsif gender.
e) Peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan pera\atan yang digunakan
untuk menunjang kegiatan lingkungan sehat termasuk penyehatan air serta
sanitasi yang responsif gender.
f) Fasilitasi aliansi profesi dalam meningkatkan mutu anggotanya untuk
pelayanan masyarakat yang responsif gender di bidang lingkungan sehat
termasuk penyehatan air dan sanitasi.
g) Pengembangan stimulan dan percontohan lingkungan sehat di daerah kumuh,
sekolah, serta tempat-ternpat umum termasuk rumah di pengungsian.
h) Lokakarya!Workshop tentang perlindungan perempuan terhadap resiko
penularan penyakit berbasis lingkungan.
i) Pengembangan media dan materi penyuluhan lingkungan sehat dengan
mempertimbangkan perempuan.
j) Pembinaan penyelenggaraan Klinik Sanitasi dengan mempertimbangkan
perempuan.
k) Pengembangan jejanng surveilans kesehatan lingkungan dengan
memperhatikan data perempuan maupun laki-laki di seluruh kabupaten/kota.
I) Pengembangan dan pembinaan tenaga kesehatan lingkungan melalui berbagai
pendidikan serta pelatihan di setiap jenjang administrasi.

6) lndikator
a) Jumlah keluarga yang menghuni rumah sehat yang responsif gender
meningkat menjadi 60%.
b) Jumlah tempat-ternpat umum dan pengelolaan makanan yang memenuhi
persyaratan kesehatan yang responsif gender mencapai 74%.

17
ANAL/SIS GENDER

c) Jumlah Kabupaten/Kota sehat (kawasan) yang responsif gender mencapai


38%.
d) Jumlah sekolah yang memenuhi persyaratan kesehatan yang responsif gender
mencapai 56%.
e) Tersusunnya paket informasi kesehatan lingkungan yang responsif gender.
f) Terlaksananya penyuluhan kesehatan lingkungan di perumahan dan
permukiman, ternpat-tempat umum, sekolah serta lingkungan kerja.
g) Tersusunnya jaringan kerja yang melibatkan stakeholder, Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dan Asosiasi dalam program kesehatan lingkungan serta
air bersih.
h) Tersusunnya pedoman manajemen pengelolaan program penyehatan
lingkungan yang responsif gender.
i) Jumlah pelatih perempuan dan Jaki-laki bidang lingkungan sehat yang
responsif gender meningkat, di tingkat pusat serta propinsi.
j) Tersusunnya pedoman yang responsif gender tentang perlindungan pekerja
perempuan dan laki-laki dari dampak lingkungan.
k) Tersusunnya pedoman yang responsif gender tentang peran murid dan guru di
sekolah.
I) Tersusunnya pedoman yang responsif gender untuk individu, keluarga,
masyarakat tentang kualitas air bersih, makanan minuman, pengolahan
sampah, dan kebersihan di sekolah serta daerah pengungsian.
m) Tersedianya data PHBS tentang lingkungan sehat yang responsif gender.
n) Jumlah LSM dalam bidang kesehatan lingkungan, penyehatan air dan sanitasi
yang responsif gender, meningkat.
o) Jumlah SOM yang responsif gender dan peralatan yang digunakan untuk
menunjang kegiatan, meningkat.
p) Jumlah tenaga pada profesi Jain yang memahami lingkungan sehat yang
responsif gender termasuk penyehatan air dan sanitasi, meningkat.

2. PROGRAM UPAYA K.ESEHATAN

a. Sub Program Penurunan Angka Kematian lbu melalui Making Pregnancy Safer
(MPS)

I) Kebijakan Sub Program


Menurunkan angka kematian ibu (AKI) dengan mendekatkan pelayanan kesehatan
maternal yang berkualitas dan cost-effective kepada sasaran, sehingga pada akhir
tahun 2004 diharapkan:
a) Cakupan pelayanan antenatal, meningkat (90%)
b) Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, meningkat (75%)
c) Cakupan pelayanan postnatal meningkat (90%)
d) Cakupan penanganan komplikasi pada ibu dan bayi baru lahir meningkat
(80%)
e) Akses wanita usia subur (WUS) pada pencegahan kehamilan yang tidak
diinginkan mencapai I 00%
f) Akses WUS pada penanganan komplikasi aborsi mencapai 100%

}8
ANALISIS GENDER

g) Pelayanan keluarga berencana (KB) pasca ibu bersalin untuk pasangan suami
isteri mencapai 100%

2) Data Pembuka Wawasan


Angka kematian ibu sangat tinggi, yaitu 334 per 100.000 kelahiran hidup,
menunjukkan bahwa dalarn satu tahun terjadi kematian ibu sebanyak 18.000 orang
(sama dengan jumlah korban pesawat jumbo jet jatuh setiap minggu dengan seluruh
penumpangnya ibu hamil meninggal). Tingginya angka kematian ibu disebabkan
antara lain karena:
a) Jumlah persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih, masih
rendah (hanya 66%), dengan perincian (n = 67.947):
(l) Umur < 20 tahun sebanyak 42%
(2) Umur > 35 tahun sebanyak 54 %
(3) Umur 20-35 tahun sebanyak 62%
(4) !bu hamil yang miskin sebanyak 50%
b) Jumlah persalinan yang ditangani di rumah, masih tinggi (sekitar 60- 70%).
c) Jumlah kasus komplikasi obstetri dan neonatal yang ditangani, masih rendah
(kurang dari 30%).
d) Jumlah kunjungan antenatal yang berkualitas, masih rendah (75%).
e) Jumlah pasangan yang tidak ingin punya anak dan tidak menggunakan
alat/obat kontrasepsi masih tinggi (unmet need 9%, SDKl 1997).
f) Jumlah kehamilan pada ibu-ibu dengan kondisi "4 Terlalu" (terlalu tua, terlalu
rnuda, terlalu banyak anak, terlalu dekat jarak kehamilan) masih tinggi yaitu
65% (SDKI l 997).
g) Partisipasi laki-laki dalam ber KB rendah, masih kurang 1 %.
h) Jumlah WUS yang menderita TB cukup banyak (sekitar 50%).
i) Jumlah perempuan menderita malaria cukup banyak (sekitar 52,2 %)

3) Kesenjangan Gender
a) Akses
(l) Pasangan Usia Subur (PUS) terutama perempuan yang tidak
menginginkan anak, tidak mendapatkan pelayanan KB yang memadai
(unmet need 9%, SDKI 97).
(2) Jumlah ibu harnil yang belum memanfaatkan tenaga kesehatan untuk
menolong persalinannya masih besar (akses persalinan oleh tenaga
kesehatan rendah).
(3) Akses informasi yang akurat untuk keluarga, terutama laki-laki, masih
kurang, antara lain tentang:
(a) metode kontrasepsi
(b) penyakit yang mengancam ibu hamil
(c) tanda bahaya saat kehamilan, persalinan dan nifas
(d) hak perempuan untuk mengendalikan kesehatan reproduksinya.

b) Partisipasi
(I) Suami, keluarga dan masyarakat masih banyak yang kurang peduli
pada kesehatan ibu (stereotip).
(2) Suami menganggap bahwa urusan KB adalah urusan istri.

19
ANAL/SIS GENDER

(3) Kurang mampunya isteri meneruskan informasi kesehatan kepada


suami (marginal).
(4) Di tingkat keluarga, laki-Iaki banyak yang belum mempunyai wawasan
yang benar tentang kebutuhan perempuan sesuai dengan tahapan siklus
reproduksi termasuk pencegahan IMS, HIV/AIDS dan Hepatitis C.

c) Kontrol
(!) Pengambil keputusan di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota
masih belum mempertimbangkan isu gender dalam penyusunan
kebijakan serta program.
(2) Lemahnya wewenang perempuan dalam pengambilan keputusan yang
terkait dengan kesehatannya (marginal).
(3) Rendahnya kesadaran/kepedulian tentang kesehatan dan keselamatan
ibu serta bayi baru lahir.

d) Manfaat
(1) Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari pelayanan kesehatan
yang telah tersedia.
(2) Perempuan tidak dapat mernanfaatkan hak-hak reproduksinya.

4) Isu Gender
a) Para penanggung jawab program di lapangan belum terpapar rencana strategis
MPS yang sensitif gender.
b) Masih terdapat ketidaksetaraan gender di tingkat individu dan keluarga:
(1) Kehamilan merupakan urusan perempuan.
(2) Rendahnya peran suami dalam mendukung isteri untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan ibu.
(3) Rendahnya pengetahuan ibu tentang tanda bahaya saat kehamilan,
persalinan dan nifos.
(4) Rendahnya peran ibu dalam mengambil keputusan bagi kesehatan dan
keselamatan dirinya (pemilihan metode kontrasepsi, jumlah persalinan
oleh dukun masih tinggi).
(5) Masalah kesehatan perempuan masih dianggap kurang penting.
c) Peserta KB sebagian besar adalah perempuan.
d) Laki-laki menganggap KB urusan perempuan.

5) Rencana Aksi
a) Advokasi dan sosialisasi strategi MPS yang responsif gender di tingkat pusat
sampai dengan daerah dan pemberdayaan penanggung jawab program, untuk
membangun dan memantapkan komitmen pelaksanaan MPS yang responsif
gender di Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota.
b) Penyuluhan di berbagai tingkatan tentang peran ibu, keluarga dan suami dalam
menunjang kesehatan ibu:
(1) Pemberian informasi/KIP/konseling tentang tanda bahaya obstetri
diberikan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, PUS/Pasutri/
keluarga di tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Desa, Kecamatan,
Kabupaten/Kota).

20
ANAL/SIS GENDER

(2) Pendataan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan perempuan


yang responsif gender (dari sisi supply dan demand) di berbagai tingkat
administrasi.
(3) Penyempurnaan protokol pelayanan yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan dan nifas dalam memenuhi hak reproduksi perempuan
termasuk melibatkan keluarga/suami dan masyarakat yang belum
mempunyai wawasan yang benar tentang kesehatan perempuan
termasuk pencegahan Hepatitis C, pencegahan dan pengobatan
IMS/HIV-AIDS, TB, Malaria pada sasaran kesehatan ibu yang
terintegrasi dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA).
(4) Pemberian infonnasi tentang hak-hak ibu untuk ber-KB, hamil,
bersalin, nifas dalam pengambilan keputusan bagi kesehatan dan
keselamatan diri di tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Desa,
Kecamatan, Kabupaten/Kota).
c) Pemberian informasi yang tepat pada keluarga terutama laki-laki melalui
materi tentang:
(1) Seluruh metoda kontrasepsi baik untuk laki-laki maupun perempuan
sesuai dengan kondisi kesehatan dan usia.
(2) Kehamilan dan persalinan yang aman dan tidak aman.

6) lndikator
a) Terlaksananya sosialisasi rencana strategis MPS yang responsif gender bagi
pengelola dan penanggung jawab program KIA di Pusat serta Daerah.
b) Tersedianya alokasi dana untuk pelaksanaan MPS yang responsif gender di
propinsi dan kabupaten/kota.
c) Jumlah ibu, keluarga/suami yang peduli terhadap kesehatan ibu (Kl, K4, Pn,
Kn yang didampingi suami), meningkat.
d) Tersedianya data kesehatan perempuan yang terpilah menurut jenis kelamin,
disamping usia, lokasi, suku dan agama.
e) Tersedianya data tenaga pelayanan kesehatan yang terpilah menurut jenis
kelamin.
f) Data peran serta masyarakat melalui lintas sektor (partisipasi laki-laki dalam
mobilisasi masyarakat, ambulan desa, tabulin, donor darah melalui Gerakan
Sayang Ibu/GSI atau penelitian):
(]) Tersusunnya protokol ANC dan PNC yang disempumakan.
(2) Semua ibu hamil yang sakit malaria dan datang ke sarana pelayanan
mendapat pengobatan.
(3) Semua ibu hamil di daerah endemis malaria mendapat pengobatan
prophilaksis.
(4) Semua ibu hamil/melahirkan/nifas penderita TB yang datang ke
saranan pelayanan mendapat pengobatan paket OAT (oleh P2M).
(5) Terinformasikannya hak-hak ibu untuk ber-KB, menentukan kapan
hamil, bersalin dan nifas oleh tenaga kesehatan, melalui peningkatan:
(a) cakupan peserta KB aktif menjadi 65%.
(b) cakupan antenatal menjadi 85% dan postnatal menjadi 65%.
(c) cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih menjadi 72%.

21
ANAL/SIS GENDER

g) Tersedianya materi dan KIE pelayanan medis KB pada keluarga terutama Jaki
laki.

b. Sub Program Pemberantasan Tuberkulosis Paru

1) Kebijakan Sub Program


Menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit tuberkolusis terutama dengan
strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse}, yang terdiri dari
komponen:
a) Komitmen politis.
b) Diagnosis dengan pemeriksaan dahak langsung (mikroskopis).
c) Penyediaan OAT (Obat Anti Tuberkolusis) bagi setiap penderita TB.
d) Pengawas minum obat.
e) Pencatatan dan pelaporan untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi
program.

2) Data Pembuka Wawasan


a) Jumlah kasus TB di Indonesia adalah terbanyak ketiga di dunia, setelah India
dan Cina. Hampir separoh penduduk Indonesia terinfeksi dengan kuman TB.
Setiap tahun muncul 583.000 kasus baru TB dengan 262.000 kasus menular
(BTA positif). Perkiraan Prevalensi TB pertahun 715.000 dan jumlah
kematian akibat TB per tahun sekitar 140.000 orang (WHO-l 999).
b) Jumlah penemuan kasus baru TB (CDR) masih sekitar 25% dengan proporsi
laki-laki 57 dan perempuan 43.
c) Perempuan usia reproduksi lebih rentan terhadap TB dan lebih
memungkinkan terjangkit oleh penyakit TB dibandingkan dengan laki-laki
dari kelompok usia yang sarna (WHO).
d) Jumlah kematian perempuan akibat TB Jebih banyak daripada kematian akibat
gangguan maternal (WHO). Hal ini disebabkan aruara lain karena TB
menyebabkan gangguan pada persalinan, khususnya partus lama sehingga
meningkatkan probabilitas kematian ibu.
e) Probabilitas penularan TB oleh !bu yang sakit TB kepada anaknya sangat
besar.
f) Jumlah ibu hamil, ibu menyusui yang penderita TB dan tidak mendapatkan
pengobatan (misopportunityi masih cukup besar, antara lain karena petugas,
terutama bidan, tidak mau memberi OAT pada ibu hamil dan ibu menyusui
karena efek samping OAT. Padahal semua jenis OAT aman kecuali
streptomisin yang tidak boleh diberikan pada ibu hamil. Streptomisin bersifat
permanen autotoxic dan dapat menembus barier placenta. Dari sisi pengguna
jasa, ibu hamil dan ibu menyusui cenderung hanya datang ke klinik KIA serta
tidak ke unit pengobatan apabila ada keluhan.

22
ANAL/SIS GENDER

3) Kesenjangan Gender
a) Akses
( l) Akses perempuan terhadap pelayanan kesehatan kurang karena
keputusan untuk memanfaatkan pelayanan ada di tangan
suami/keluarga.
(2) Misopportunity ibu hamil dan ibu menyusui yang menderita TB untuk
mendapat pengobatan TB di unit KIA, karena kurangnya akses
terhadap informasi, khususnya mengenai kesehatan,

b) Partisipasi
(l) Suami/keluarga/masyarakat kurang peduli terhadap kesehatan ibu/
perempuan.
(2) Partisipasi perempuan kurang karena kurang mampu dalam menyerap
dan meneruskan informasi kesehatan kepada suami.

c) Kontrol
Ibu/perempuan tidak mempunyai cukup wewenang untuk memilih pelayanan
atau menggunakan uang bagi kesehatannya sendiri, dan sangat tergantung
pada suarni/Iaki-laki.

d) Manfaat
Pelayanan untuk penderita TB kurang/tidak dimanfaatkan secara optimal oleh
perempuan, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

4) lsu Gender
a) Penderita TB biasanya dikucilkan dalam masyarakat. Di beberapa daerah
penderita laki-laki biasanya akan dirawat oleh keluarga atau sanak saudara,
tetapi penderita perernpuan dikucilkan oleh keluarga.
b) Rendahnya kedudukan perempuan dalam keluarga mengakibatkan kurangnya
gizi, beban yang lebih berat dalam mengurus rumah tangga dan istirahat yang
kurang menyebabkan lemahnya kondisi tubuh serta bertambah beratnya
penyakit TB yang diderita.
c) Ibu yang menderita TB akan meningkatkan resiko penularan yang lebih besar
terhadap anggota keluarga yang lain terutama anak.

5) Rencana Aksi
a) Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penderita TB:
(!) Penyusunan KIE untuk paket penyuluhan pada ibu hamil/menyusui
untuk ibu, bapak dan keluarga serta masyarakat umum dengan
perhatian khusus pada ibu hamil/rnenyusui.
(2) Pengkajian untuk mendapatkan data alasan perempuan penderita TB
tidak segera mencari pertolongan pengobatan.
b) Peningkatan peran bidan sebagai petugas kesehatan dengan cara:
(!) Penyusunan pedoman pengobatan TB bagi bidan.
(2) Penyusunan Modul pelatihan TB bagi Bidan.
(3) Pelatihan program TB bagi bidan.
(4) Penyusunan materi program TB untuk kurikulum sekolah bidan.

23
ANAL/SIS GENDER

c) Penggalangan kemitraan dengan sektor lain:


(I) Advokasi dan diseminasi dengan pihak penjara, sektor swasta yang
mempekerjakan buruh perempuan serta laki-laki.
(2) Penguatan jejaring kemitraan dengan stakeholder
(3) Pelaksanaan skrining di penjara dan tempat yang padat kerja tenaga
wanita (garmen, pabrik dan sebagainya) bekerjasama dengan pihak
terkait.
d) Peningkatan manajemen sistem pelayanan kesehatan dalam mendukung
penanggulangan TB:
(1) Penyediaan buku-buku pedoman dan modul pelatihan serta paket
penyuluhan.
(2) Peningkatan perencanaan berdasarkan data yang akurat.
(3) Supervisi, monitoring dan evaluasi.

6) Indikator
a) Tersedianya paket penyuluhan yang responsif gender untuk ibu, suami dan
keluarga serta masyarakat.
b) Tersedianyajumlah (%) dan alasan perempuan penderita TB yang tidak segera
mencari pertolongan serta pengobatan.
c) Tersusunnya buku pedoman pengobatan TB untuk bidan di klinik KIA.
d) Tersedianya buku modul pelatihan TB untuk bidan.
e) Jumlah bidan praktek yang terlatih TB, meningkat.
f) Masuknya materi program TB ke dalam kurikulum sekolah kebidanan
g) Tersusunnya Plan of Action (POA) terpadu.
h) Tersedianya pelayanan pengobatan TB bagi tahanan, dan pekerja pabrik serta
tidak terdapatnya stigma penderita TB di kalangan pabrik.
i) Tersedianya buku pedoman dan modul pelatihan serta paket penyuluhan.
j) Jumlah (%) laporan data program dan kinerja program meningkat.
k) Tersusunnya evidence base plan.
I) CDR meningkat menjadi 50%.
m) Angka penemuan kasus TB baru pada perempuan meningkat secara
proporsional.

c. Sub Program Pemberantasan Malaria

I) Kebijakan Sub Program


Menurunkan angka kesakitan malaria dari 60 menjadi 37,5 per 1000 penduduk,
dengan strategi Gebrak Malaria yang diselenggarakan melalui:
a) Advokasi.
b) Pengembangan dukungan sosial (lintas program, lintas sektor, LSM dan swasta).
c) Pemberdayaan institusi.
d) Pemberdayaan masyarakat

2) Data Pembuka Wawasan


a) Jumlah penduduk yang tinggal di daerah endemis malaria cukup besar (sekitar
35%).

24
ANAL!SIS GENDER

b) Akibat penyakit malaria pada ibu dirasakan lebih berat dibandingkan pada
kelompok penduduk lainnya.
c) Ibu hamil rentan terhadap malaria.
d) Resiko terjadinya komplikasi/malaria berat pada ibu hamil lebih tinggi
dibandingkan dengan perempuan tidak hamil (10 kali lebih berat).
e) Jumlah kematian karena malaria berat lebih banyak terjadi pada ibu hamil
(sekitar 50%), dibandingkan pada perempuan tidak hamil (hanya 20%).
f) Proporsi angka kesakitan penyakit malaria pada perempuan lebih besar
(52,2%) dibandingkan pada laki-laki (hasil Muss Fever Survey di 8 desa di 6
Puskesmas di Kabupaten Banyumas pada bulan Nopember - Desember 2001).

3) Kesenjangan Gender
a) Akses
Akses perempuan terhadap pelayanan kesehatan masih rendah dibandingkan
dengan laki-Iaki.

b) Partisipasi
(1) Penyuluhan masih didominasi oleh laki-laki.
(2) Perawatan kesehatan di keluarga dan masyarakat menjadi tanggung
jawab perempuan.
(3) Kepedulian laki-laki/rnasyarakat terhadap kesehatan perempuan/ibu
hamil sangat kurang.

c) Kontrol
(!) Keputusan penggunaan keuangan ada di tangan laki-Iaki.
(2) Keputusan untuk mendapat pelayanan kesehatan ada di tangan laki
laki.

d) Manfaat
Manfaat pelayanan kesehatan dan informasi sangat kurang dirasakan oleh
perempuan.

4) lsu Gender
a) Kesadaran tentang peran/dampak penyakit malaria antara perempuan dan laki
laki masih rendah.
b) Daerah endemis malaria pada umumnya berada di daerah terpencil dengan
keadaan sosial ekonomi yang rendah sehingga akses terhadap pelayanan
kesehatan sangat sulit, terutama untuk perempuan.
c) Pembakuan peran laki-laki di luar rumah dan pendidikan laki-laki yang lebih
tinggi daripada perempuan membuat perempuan tidak mempunyai kesempatan
untuk mendapatkan informasi tentang malaria dalam kaitannya dengan
lingkungan di luar rumah; peran perempuan adalah mengurus rumah tangga
(gizi, kesehatan, kebersihan, dan lain-lain).
d) Akibat masalah ekonomi kesehatan perempuan dikesampingkan.
e) Hak dalam keputusan penggunaan uang untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan ada di tangan Iaki-Iaki sehingga perempuan sukar/tidak
mendapatkan pelayanan kesehatan.

25
ANAL/SIS GENDER

f) Pembakuan peran perempuan di rumah dan laki-Iaki sebagai pencari nafkah


menempatkan laki-laki lebih diutamakan dalam pelayanan kesehatan.

5) Rencana Aksi
a) Pengumpulan data yang dipilah menurut jenis kelamin dan golongan umur
melalui laporan rutin serta menganalisanya.
b) Survei cepat/studi/penelitian untuk mengetahui perilaku masyarakat
(perbedaan antara perempuan dan laki-Iaki) terhadap program malaria dan
dampaknya.
c) Advokasi kepada pengambil keputusan!stakeholders di semua jenjang dalam
upaya penanggulangan malaria, tentang adanya kesenjangan antara perempuan
dan laki-laki dalam pelayanan kesehatan serta peran/dampak terhadap program
malaria.
d) Sosialisasi kepada provider/pelaksana program tentang adanya perbedaan
peran antara perempuan dan laki-laki dalam program malaria.
e) Pembentukan Pos Obat Desa (POD) guna mendekatkan jangkauan pelayanan
pada masyarakat, khususnya perempuan.
f) Penggunaan repellent atau baju Jengan panjang pada laki-laki yang bekerja di
luar rumah pada malam hari.
g) Peningkatan gizi ibu hamil.
(!) Komunikasi, infonnasi dan edukasi (KIE): Penyuluhan kesehatan
kepada perempuan dan laki-laki tentang dasar-dasar pengetahuan
malaria, pengobatan, bahayanya, rujukan, serta pencegahannya.
(2) Pemberdayaan masyarakat guna menumbuhkembangkan seluruh
potensi, baik laki-laki maupun perempuan guna mendukung program
malaria, dengan sasaran: Tokoh Masyakat (TOMA), TOGA, kader
dasa wisma.
(3) Pembentukan forum komunikasi termasuk organisasi perempuan
(PKK, Fatayat NU dan lain-lain).
(4) Pemberian penghargaan untuk perempuan dan laki-laki, kader, TOMA,
TOGA.
(5) Penyediaan kit/media penyuluhan (leaflet, poster, buku kader, TV spot,
radio spot).
h) Pemberian prophilaksis kepada ibu hamil, pekerja musiman dan kelompok
menetap (tentara dan lain-lain).
i) Pencegahan individu dengan menggunakan kelambu terutama perempuan/ibu
hamil dan balita, pemakaian obat nyamuk, repellent dan lain-lain.
j) Pencegahan massal dengan manajemen lingkungan dimana laki-laki lebih
berperan daripada perempuan.

6) Indikator
a) Tersedianya data dasar/sektoral yang terpilah menurut jenis kelamin dan
golongan umur.
b) Tersedianya data kesenjangan antara perempuan dan laki-Iaki terhadap
dampak serta perilaku masyarakat dalam program malaria.
c) Tercapainya komitmen pimpinan sebagai pengambil keputusan di semua
jenjang administrasi dalam mencapai kesetaraan gender pada program malaria.

26
ANAL/SIS GENDER

d) Tersusunnya pedoman yang responsif gender tentang:


(I) Peranprovider/pelaksana program kesehatan dalam program malaria.
(2) Dasar-dasar penanganan malaria.
(3) Peranserta masyarakat dalam program malaria.
(4) Peran laki-laki dalam pencegahan masalah/pengelolaan lingkungan
yang berwawasan kesehatan dan gender.
e) Jumlah POD yang dibentuk.
f) Jumlah penggunaan repellent atau baju lengan panjang pada laki-laki yang
bekerja di luar rumah pada malam hari
g) Persentase ibu/perempuan dengan status gizi yang meningkat.
h) Terbentuknya forum komunikasi pemberantasan malaria yang responsif
gender.
i) Tersedianya sistem penghargaan.
j) Tersedianya kit/media penyuluhan.
k) Jumlah ibu hamil, pekerja musiman perempuan dan laki-laki yang mendapat
prophilaksis meningkat.
l) Jumlah penggunaan kelambu meningkat.

d. Sub Program Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual (PMS)

1) Kebijakan Sub Program


Menanggulangi penyakit HIV/AIDS melalui upaya pencegahan dan pelayanan
sehingga tidak menjadi masalah kesehatan, dengan kebijakan:
a) Meningkatkan kerjasama lintas program, lintas sektor, internasional, dan peran
serta masyarakat.
b) Meningkatkan desentralisasi dengan pendekatan pelayanan kesehatan dasar.
c) Pencegahan sebagai fokus utama, diintegrasikan dengan perawatan, dukungan
dan pengobatan.
d) Memperkuat aspek manajemen dan aspek hukum serta perundangan yang
berkaitan dengan upaya penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS),
HIV/AIDS termasuk aspek perlindungan kerahasiaan dan aspek pencegahan
diskriminasi/stigmatisasi penderita IMS, HIV/AIDS.
e) Mengintegrasikan kegiatan penanggulangan IMS, HIV/AIDS dengan penyakit
lainnya, antara Jain Tuberkulosis.

2) Data Pembuka Wawasan


a) Prakiraan ahli epidemiologi, jumlah penduduk Indonesia saat ini (tahun 2001)
yang hidup dengan HIV/AIDS diperkirakan sekitar 80.000 - 120.000 orang.
Ini berarti bahwa dalam waktu 10 tahun mendatang (2010) kemungkinan akan
ditemukan sekitar 100.000 orang penduduk sakit dan meninggal karena AIDS
serta sekitar satu juta orang penduduk mengidap HIV, apabila tidak dilakukan
aksi penanggulangan yang intensif.
b) Jumlah kasus HIV terus meningkat menjadi 1904 orang dan kasus AIDS
menjadi 670 orang (kumulatif sampai dengan Desember 2001). Jumlah kasus
laki-laki jauh lebih ban yak daripada perempuan (70,9% berbanding 29, 1 %).

27
ANAL/SIS GENDER

c) Epidemi HIV/AIDS telah bergerak dari tingkat rendah (< 1%) ke arah tingkat
tinggi, terkonsentrasi pada kelompok Wanita Penjaja Seks (WPS) lebih dari
5% (Sorong, Riau, Merauke), dimana prevalensi HIV pada WPS bervariasi
antar wilayah, antara lain: Papua O - 26,5%; Riau O - 8%; Jawa Barat O - 5,5%,
juga kelompok pengguna Napza suntik (Jakarta, Jawa Barat dan Bali).
d) Jumlah penggunaan kondom sangat rendah (10%) meskipun pengetahuan
tentang pencegahan IMS-HIV tinggi (survei perilaku beresiko tinggi pada
buruh pelabuhan, sopir truk dan WPS).
e) Jumlah ibu hamil terinfeksi HIV di DK! 2,86% (studi); di Riau 0,35% dan
Papua 0,25% (survei ibu hamil).
t) Prevalensi HIV di Jakarta adalah 39 kasus dari 247 pengguna Napza suntik
(hasil sero survei pada pasien); di RSKO 47,95% remaja yang datang berobat
sudah terinfeksi HIV; resiko penularan HIV pada pengguna Napza suntik laki
laki jauh lebih besar daripada perempuan (131 berbanding 9 kasus HIV+).
g) Jumlah kasus akibat penularan melalui jarum suntik tidak steril dan
penggunaan secara bergantian meningkat tajam, pada tahun 1996 (2.5%)
kemudian pada tahun 2001 (19.7%), kenaikan tersebut menjadi 9 - 10 kali
lipat: 2,5% pada tahun 1999 dan 19,7% pada tahun 2001.

3) Kesenjangan Gender
a) Akses
(1) Para pelaksana program di lapangan belum peka gender.
(2) Survei dan surveilans umumnya dilakukan pada kelompok berperilaku
resiko tinggi pada perempuan serta laki-laki.
(3) Kurangnya akses informasi pada masyarakat, terutama laki-Iaki
tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS dengan penggunaan
kondom.
(4) Perempuan tidak dapat menolak atau mengambil keputusan untuk
melindungi diri atau orang lain.

b) Partisipasi
(1) Kurangnya partisipasi laki-laki dalam penggunaan kondom untuk
pencegahan HIV karena kurangnya wawasan yang benar tentang HIV
dan pencegahannya.
(2) Peran laki-laki masih kurang dalam upaya pencegahan HIV, sehingga
ada kemungkinan berakibat penularan kepada pasangannya dan
selanjutnya kepada anak yang akan dilahirkan.
(3) Ada anggapan atau kecenderungan bahwa perempuan adalah penyebab
penularan HIV/AIDS (resiko tinggi), melalui WPS.

c) Kontrol
(1) Perempuan tidak mempunyai kemampuan/hak untuk mencegah
penularan IMS - HIV.
(2) Perempuan tidak ikut dalam pengambilan keputusan tentang
pencegahan IMS - HIV.
(3) Dampak dari penggunaan napza terjadi pada pasangan seksual atau
teman kelompok napza suntik.

28
ANALISJS GENDER

d) Manfaat
Penyediaan kondom ada, tetapi jarang atau tidak bermanfaat/digunakan.

4) Isu Gender
a) Laki-Iaki tidak dianggap dapat menularkan IMS - HIV.
b) Perempuan baik-baik sering dianggap tidak akan tertular IMS - HIV
(diskriminasi).
c) Ibu rumah tangga belum terdeteksi HIV.
d) Laki-laki dan perempuan yang berperilaku resiko tinggi sangat rendah
kemauan dan tanggung jawabnya untuk mencegah penyebaran IMS-HIV.

5) Rencana Aksi
a) Survei/surveilans: Surveilans di masing-masing daerah pada laki-Iaki dan
perempuan untuk mencarijalan ke[uar pencegahan serta penularan HIV/AIDS.
b) Pencegahan penularan melalui:
(1) Pelatihan universal precaution untuk tenaga kesehatan, laki-laki dan
perempuan.
(2) KIE (pendidikan) untuk masyarakat, laki-Iaki dan perempuan, terutama
usia produktif.
(3) Pelatihan pendekatan sindrom IMS untuk tenaga kesehatan laki-laki
dan perempuan.

6) lndikator
a) Persentase peran serta perempuan dan laki-laki untuk menggunakan kondom
dalam upaya pencegahan penularan HIV/AIDS (90%).
b) Tersusunnya pedoman bagi petugas kesehatan laki-laki dan perempuan
tentang perlindungan diri sendiri maupun terhadap pasien laki-laki serta
perempuan.
c) Persentase pengguna Napza laki-laki dan perempuan yang memahami tentang
pencegahan penularan HIV melalui jarum suntik (80% ).
d) Persentase (sekitar 65%) laki-laki dan perempuan yang berperilaku resiko
tinggi, yang memahami untuk datang serta konseling pre- dan post-test HIV
(VCT = voluntary counseling and testing).
e) Persentase perempuan dan laki-Iaki yang memahami HIV termasuk cara
pencegahannya.
f) Tersedianya materi KIE tentang HIV/AIDS

3. PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

I) Kebijakan Program
Penyusunan kebijakan program kesehatan yang telah dilakukan pada umumnya
bersifat netral gender dengan asumsi penanggulangan masalah kesehatan harus
berdampak sama baik untuk perempuan maupun laki-laki. Program kesehatan perlu
dilakukan secara adekuat sesuai dengan permasalahan yang dihadapi berdasarkan
spesifik gender. Dengan demikian data yang dikumpulkan harus dipisahkan antara
laki-laki dan perempuan, menurut kelompok umur, dan tingkat sosial ekonomi.

29
ANAL/SIS GENDER

Dukungan yang bersifat peningkatan kualitas dan kuantitas kesehatan harus


didokumentasikan untuk memantau kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan
gender.

Program Perbaikan Gizi Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan intelektualitas dan


produktivitas SOM melalui:
a) Peningkatan kemandirian keluarga dalam upaya perbaikan status gizi.
b) Peningkatan pelayanan gizi untuk mencapai keadaan gizi yang baik dengan
menurunkan prevalensi gizi kurang dan gizi lebih.
c) Peningkatan penganekaragaman konsumsi pangan bermutu untuk
memantapkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.

2) Data Pembuka Wawasan


Mengingat timbulnya masalah kesehatan disebabkan karena berbagai macam faktor,
model berikut ini bisa digunakan untuk menentukan data pembuka wawasan sebagai
landasan penentuan kebijakan program kesehatan (lihat Gambar I). Pada model
tersebut dijelaskan bahwa status kesehatan penduduk berkaitan dengan seimbang atau
tidaknya asupan gizi sehari-hari. Jika asupan gizi tidak seimbang, secara kumulatif
dapat berpengaruh pada keadaan kesehatan. Selanjutnya asupan gizi berkaitan juga
dengan cukup tidaknya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga serta merata atau
tidaknya distribusi makanan di dalam rumah tangga yang bersangkutan. Asupan
makanan yang secara kumulatif tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat
menurunkan daya tahan tubuh dan rentan terhadap penyakit. Faktor yang erat
kaitannya dengan perubahan status kesehatan dan gizi penduduk adalah kuantitas dan
kualitas pelayanan kesehatan, perilaku, tingkat pendidikan, pendapatan, sosial,
budaya, ekonomi dan politik.

GAMBAR 1
Model Determinan Status Kesehatan Penduduk

KESEHATAN

Pelayanan kesehatan, kecukupan pangan, gaya hidup, prilaku

Pendidikan, pendapatan, ketidakseimbangan

POLITIK, EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA

30
ANAL/SIS GENDER

Selanjutnya dari determinan status kesehatan tersebut dikaji setiap faktornya


berdasarkan gender, sehingga terlihat faktor penyebab yang mana yang berdampak
pada ketidakseimbangan gender. Berikut ini beberapa informasi berkaitan dengan
determinan status kesehatan dengan mengkaji antara laki-laki dan perempuan.

a) Pendidikan

Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup
sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau
masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku
dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam ha\ kesehatan. Se!ain itu sudah banyak
penelitian yang mengemukakan tentang pentingnya kelompok perempuan untuk
mencapai jenjang pendidikan yang tinggi. Hal ini merupakan kunci sukses untuk
mengatasi masalah kurang gizi mulai dari janin. Tercapainya jenjang tertinggi
pendidikan untuk perernpuan ini pada akhirnya juga akan berpengaruh pada
pengurangan kemiskinan.

Tingkat pendidikan di Indonesia jika dilihat dari proporsi rnasuk sekolah per
kelompok umur dan jenis kelamin terlihat proporsi anak usia sekolah menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun. Penduduk usia 7 - 12 tahun yang masuk sekolah
adalah 83,5% pada tahun 1978 meningkat menjadi 91,5% pada tahun 1987 dan
menjadi 93,9% pada tahun 1997. Untuk tingkat SLTP, penduduk usia 13 - 15 tahun
yang masuk sekolah pada tahun yang sama telah mencapai 72,4%. Kesenjangan
proporsi masuk sekolah laki-laki di atas 10 tahun adalah 6% dan perempuan 14%.

b) Status gizi

Rendahnya tingkat pendidikan penduduk, terutama lebih rendahnya pendidikan


perempuan dibanding laki-laki, terlihat dari status gizi penduduk yang masih tinggi.

Pada Gambar 2 ditunjukkan masalah gizi kurang mulai meningkat dua kali lipat
setelah anak mencapai usia 4 bulan, dan semakin parah atau meningkat tiga kali lipat
pada anak berusia di atas 6 bulan. Hal ini erat kaitannya dengan pernberian ASI yang
tidak diberikan secara eksklusif sarnpai dengan usia 6 bulan, pemberian Makanan
Pendamping ASI yang juga tidak memadai semenjak anak minimal berusia 4 bulan.
Pola makan yang tidak memenuhi gizi seimbang pada anak ini terus berpengaruh pada
usia berikutnya sampai dengan 5 tahun. Pada umumnya anak laki-laki kondisinya
lebih buruk dari pada anak perempuan. Jika ibu mempunyai tingkat pendidikan yang
lebih memadai, asumsinya ibu akan mengetahui bahwa kecukupan makan untuk anak
laki-laki akan lebih besar dari anak perempuan. Meningkatnya prevalensi gizi kurang
setelah usia 6 bulan, juga berhubungan erat dengan tingkat pengetahuan ibu tentang
pentingnya ASI dan Makanan Pendamping AS! yang memadai.

3/
ANAL/SIS GENDER

GAMBAR2
Prevalensi Gizi Kurang Menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, dan Kota - Desa
(Pemantauan Status Gizi 1999)

, ::: 1 - - r- - - - c - ]

j15o 1-
JOO
i
Q_

0-3 4-6 7-11 12-17 18-23 24-35 36-47 48-59


Kelompok Umur (bulan)

lL-l<ota OL-Desa P-Kota

Sumber: Direktorat Gizi Masyarakat, 2000.

Keadaan gizi yang tidak baik pada usia balita berdampak pada gangguan
pertumbuhan, anak akan cenderung lebih pendek jika dibandingkan dengan rujukan.
Pada Gambar 3 ditunjukkan prevalensi anak pendek menurut jenis kelamin anak usia
6 - 9 tahun perubahannya dari tahun 1994 ke tahun 1999. Survei dilakukan pada
seluruh wilayah Indonesia dengan mengukur tinggi badan anak baru masuk sekolah.
Masih sekitar 40% anak dikategorikan pendek, laki-laki lebih parah dari anak
perempuan. Selain itu di antaranya masih dijumpai sekitar 9 - 10% anak yang
dikategorikan sangat pendek.

Masalah gizi kurang atau lebih akan berkelanjutan pada usia produktif, ha! ini sangat
erat kaitannya dengan ketidakseimbangan konsumsi gizi mulai dari lahir sampai usia
berikutnya. Pada Susenas dikumpulkan data status gizi pada Wanita Usia Subur
(WUS) yang pada prinsipnya untuk melihat faktor resiko perempuan melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah.

32
ANAL/SIS GENDER

GAMBAR3
Prevalensi Anak Pendek Usia 6 - 9 Tahun 1994 dan 1999

50

40

30
% anak pendek
20

10
0
1994 1999
DL.aki-laki 43.1 40.0
DPerempuan 36.3 32.5

Ada dua sisi yang dapat dilihat dari data yang dikurnpulkan, yaitu WUS dengan
ukuran Lingkar Lengan Atas/LILA < 23.5 cm dengan asumsi kurus (kurang energi
kronis) dan gizi kronis, dan LILA > 27 cm yang menunjukkan resiko kegemukan.
Gambar 4 dan 5 ini menunjukkan kedua resiko tersebut.

GAMBAR4
Persen LILA< 23.S cm Wanita Usia Subur: 1999-2001

50% - ------------ --------- -

45% - - - - - ------ ------ --- -

40% -

5 35%

v
ll1 30%
25% -
20%
15%

10%
5%
15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49
Kelompok Umur

Sumber: Susenas 1999, 2000, 2001

33
ANAL/SIS GENDER

GAMBARS
Persen LILA>27 cm Wanita Usia Subur: 1999-2000

45.00%

..
40.00%

,'
35.00%

30.00%
!. ,......, .. . ... .
:'.5 25.00% ,... ..
... .
. ...,.,
20.00/c

t"e 15.00%

10.00%

5.00%
.........' --1999

0.00% +------------------
14 18 22 26 30 34 38 42 46 50

Umur (tahun)

Sumber: Susenas 1999, 2000

WUS dengan resiko Kurang Energi Kronis (KEK) terlihat sangat tinggi pada usia
muda 15 - 19 tahun, dan prevalensinya menurun pada usia 20 - 24 tahun dan
seterusnya sampai dengan usia 30 - 34 tahun. Dan prevalensinya hampir sama untuk
kelompok usia berikutnya (> 34 tahun). Prevalensi LILA< 23.5 cm sampai mencapai
> 35% pada WUS usia 15 - 19 tahun perlu ditingkatkan status gizinya, agar tidak
terjadi kelahiran bayi dengan BBLR.

Informasi lain dari status gizi penduduk pada usia dewasa adalah berdasarkan pada
Index Masa Tubuh/IMT (Body Mass Index/BMI). Kriterianya adalahjika BMI < 18.5
diklasifikasikan kurus, dan BMI > 25 diklasifikasikan gemuk. Gambar 6 merupakan
hasil dari kajian keadaan gizi penduduk usia dewasa di seluruh ibu kota provinsi di
Indonesia. Survei dilakukan pada tahun 1996/1997. Jurnlah sampel yang dikumpulkan
adalah 40.000 usia 18 tahun ke atas pada laki-laki dan perempuan. Dari hasil kajian
ini menunjukkan dua masalah gizi pada usia dewasa. Prevalensi kurus (BMI < 18.5)
pada umumnya tinggi pada usia muda, yaitu 25% baik pada laki-laki maupun
perempuan usia 18 - 24 tahun, dan prevalensi gemuk (BMI > 25) tinggi sampai
mencapai 30% pada perempuan > 35 tahun, dan mencapai > 20% pada laki-laki > 40
tahun.

34
ANAL/SIS GENDER

GAMBAR 6
Prevalensi Kurus dan Gemuk Menurut Jenis Kelamin, Penduduk Perkotaan Indonesia
1996/1997

40.0
-<>--BM! <18.5 Laki-lakl

35.0

30.0
--BMI <18.5 Perempuan
-"l!J BMI >25 l.aki-lakl
-
25.0

20.0

15.0

10.0

5.0

0.0 +------------------,--------
18-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49
Umur (tahun)

Sumber: Direktorat Gizi Masyarakat, 1998

Infonnasi tersebut di atas berkaitan erat dengan asupan gizi yang seimbang.
Rendahnya pengetahuan wanita terhadap pentingnya gizi seimbang berdampak pada
dua isu: gizi kurang dan gizi lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.

Data gender sebagai data pembuka wawasan yang terkait dengan gizi antara lain:

(!) Jumlah penduduk yang tidak tamat SD, terutama perempuan, masih
cukup banyak, berpengaruh pada kemandirian untuk sadar gizi; hal ini
karena pendidikan masih diprioritaskan pada laki-laki, sementara
tanggungjawab perbaikan gizi di keluarga tertumpu pada perempuan.
(2) Jumlah keluarga dengan tingkat pendapatan rendah masih banyak,
sangat berpengaruh pada daya beli untuk mencukupi kebutuhan gizi
keluarga:
(a) Sebagian besar pendapatan diperoleh oleh laki-laki.
(b) Pekerjaan perempuan tidak dikategorikan sebagai pekerjaan
yang mempunyai nilai ekonomi.
(3) Peran pengasuhan anak masih didominasi oleh perempuan: Pola
pengasuhan anak oleh kedua orang tua (ibu dan bapak) mempunyai
dampak positif terhadap keadaan gizi keluarga, walaupun

35
ANAL/SIS GENDER

perempuan/ibu mempunyai peran yang lebih besar daripada laki-laki/


suami.
(4) Sosial budaya nilai keluarga menganggap laki-laki sebagai kepala
keluarga adalah orang yang perlu didahulukan dalam pembagian
makanan di keluarga, sementara perempuan dan anak merupakan
prioritas berikutnya (penelitian/survey).
(5) Data masalah gizi di masyarakat masih menunjukkan angka yang
relatif lebih tinggi (baik untuk laki-laki maupun perempuan), seperti: (a)
354 kecamatan merupakan daerah gondok endemik berat (TGR
> 30%).
(b) 50% dari total balita mengalami masalah kurang vitamin A
(serum retinal< 20 mcg/100 ml).
(c) Prevalensi zat gizi mikro lainnya (zinc pada bayi 6 - 39% dan
Ibu hamil 70%).
(d) Kecenderungan meningkatnya gizi lebih pada penduduk
perkotaan, perempuan cenderung lebih tinggi.

Walaupun angka prevalensi:


(a) Gizi kurang dan buruk pada laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan untuk semua kelompok umur (balita sampai lansia),
dan
(b) Anemia usia 15 tahun ke atas menunjukkan bahwa laki-laki
lebih tinggi daripada perempuan, tetapi karena secara fisiologis
perempuan masih tergolong lebih rentan, baik terhadap
penyakit maupun lingkungan, maka prioritas penanganan
masalah gizi masih tetap pada perempuan.

(6) Tenaga pelayanan gizi masyarakat sebagian besar adalah perempuan,


berupa: tenaga pelaksana gizi, kader gizi masyarakat, Tim penggerak
PKK (sebagian besar perempuan).
(7) Pemanfaatan/kunjungan posyandu oleh masyarakat sebagian besar
adalah oleh perempuan.
(8) Konsumsi gizi di rumah tangga masih mengalami defisit:
(a) Jumlah rumah tangga dengan defisit energi sebanyak 45 - 52%.
(b) Jumlah rumah tangga dengan defisit protein sebanyak 25 -
35%.
(c) Jumlah rumah tangga yang mengkonsumsi garam ber yodium
sebanyak 60 - 65%.
(d) Rata-rata intake vitamin BI per kapita hanya 50% dari
kecukupan.
(e) Rata-rata intake kalsium per kapita hanya 30% dari kecukupan.
(f) Rata-rata intake zat besi per kapita hanya 70 % dari kecukupan.
(g) Rata-rata intake vitamin C per kapita hanya 60 % dari
kecukupan.

36
ANAL/SIS GENDER

Keadaan tersebut disebabkan antara lain karena:


(a) Kemiskinan yang menyebabkan makanan hanya sebagai cara
bertahan untuk hidup dan tidak memprioritaskan kualitas.
(b) Peran perempuan/isteri dituntut sangat tinggi dalam cara
menentukan asupan gizi keluarga, sementara keputusan dalam
rumah tangga sangat tergantung pada kepala rumah tangga
(laki-Jaki/ suami).

(9) Pengetahuan yang rendah:


(a) Bagi kaum perempuan karena rendahnya akses terhadap
pendidikan.
(b) Bagi kaum laki-laki karena rendahnya akses terhadap
penyuluhan gizi di masyarakat.
(I 0) Perencanaan dan penyediaan makanan di rumah tangga sepenuhnya
dilakukan oleh perempuan.

3) Kesenjangan Gender
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan pendidikan merupakan akar masalah
terjadinya kesenjangan gender. Rendahnya pendidikan akan berdampak pada berbagai
masalah kesehatan dan gizi. Lebih rendahnya pendidikan perempuan dari laki-laki
akan mengurangi kesempatan perempuan dalam mendapat penghasilan, berpengaruh
pada pola asuh, dan tingginya ketergantungan pada laki-laki atau rendahnya
kemandirian perempuan untuk mengambil keputusan.

a) Akses
(I) Pendidikan masih diprioritaskan pada laki-laki, sementara akses
infonnasi tentang gizi/penyuluhan gizi masih diprioritaskan pada
perempuan.
(2) Informasi tentang gizi dan pola pengasuhan anak tidak mudah
diperoleh untuk Jaki-laki, sehingga pengetahuan serta tanggungjawab
gizi keluarga tidak seimbang antara perempuan dan Jaki-laki.
(3) Kesempatan kerja laki-Jaki lebih tinggi daripada perempuan, sehingga
pendapatan keluarga sangat tergantung pada Jaki-laki.
(4) Akses dan pelayanan gizi masih memprioritaskan perempuan.
(5) Laki-laki kurang memperoleh akses terhadap informasi perencanaan
makanan di rumah tangga.

b) Partisipasi
(1) Laki-laki kurang peduli/kurang berperan aktif dalam:
(a) Ketersediaan/pengadaan pangan di rumah tangga.
(b) Pola pengasuhan anak dalam keluarga.
(2) Partisipasi perempuan masih Jebih dominan daripada laki-laki, baik
dalam ha! tenaga (tenaga gizi, kader, PKK), maupun pemanfaatan
pelayanan gizi (misalnya Posyandu).

37
ANALISIS GENDER

c) Kontrol
(!) Keputusan ketersediaan/pengadaan pangan di rumah tangga sangat
tergantung pada laki-laki, sementara peran domestik rumah tangga
didominasi oleh perempuan, sehingga sering terjadi
ketidakseimbangan dalam mencapai kemandirian perbaikan gizi
keluarga.
(2) Pelayanan/intervensi gizi lebih dikondisikan pada percmpuan/ ibu dan
balitanya.
(3) Perencanaan dan penyediaan makanan di rumah tangga sebagian besar
oleh perempuan, yang seharusnya dilakukan bersama-sama (laki-laki
dan perempuan) agar ada keseimbangan tentang pentingnya
penganekaragaman konsumsi di rumah tangga.

d) Manfaat
(1) Kemandirian perbaikan gizi keluarga sulit tercapai, jika:
(a) Tingkat pendidikan perempuan masih rendah.
(b) Pola pengasuhan anak sepenuhnya dilakukan oleh perempuan.
(c) Laki-laki masih kurang merasakan manfaat program perbaikan
gizi keluarga.
(2) Laki-laki kurang terpapar dengan manfaat dari kegiatan pelayanan gizi.
(3) Beban perempuan dalam penganekaragaman makanan di keluarga
menjadi ringan jika ada partisipasi laki-Iaki (kepala rumah tangga).

4) Isu Gender
Selain dampak dari rendahnya tingkat pendidikan, banyak ha! lain yang belum
terungkap (belum memiliki data/informasi) tentang kesenjangan gender. Antara lain
tekanan budaya yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan gender, mengingat
budaya dan variasi di Indonesia sangat lebar antar kabupaten. Masalah kekerasan
kaum perempuan yang berakibat pada tingginya angka kesakitan dan kematian. Masih
belum diketahui apakah tingginya angka kematian ibu ada pengaruhnya dari tidak
bisanya ibu menolak untuk tidak menambah jumlah anak yang dilahirkan.

Masalah lain tentang tidak seimbangnya perlakuan atau akses perempuan tentang
pelayanan kesehatan:
a) Peran laki-laki dalam kemandirian perbaikan gizi keluarga lebih rendah
dibanding perempuan.
b) Rendahnya tingkat pendidikan perempuan.
c) Kurangnya kesempatan perempuan dalam mendapatkan penghasilan.
d) Laki-Iaki belum secara serius menjadi target intervensi gizi.
e) Akses pelayanan gizi selalu lebih mernpriorituskan perempuan daripada laki
laki.
f) Laki-laki tidak/kurang berkontribusi dalam perencanaan dan penyediaan
makanan dalam keluarga.

5) Rencana Aksi
a) Peningkatan penyuluhan gizi masyarakat, baik pada laki-laki maupun
perempuan.

38
ANAL/SIS GENDER

b) Penanggulangan gizi kurang:


(I) penanggulangan gizi kurang dan pengurangan kejadian gizi buruk,
terutama balita dan usia sekolah anak perempuan dan laki-laki.
(2) penanggulangan KEK pada WUS termasuk ibu hamil dan ibu nifas.
c) Penanggulangan GAKY melalui penyediaan dan pemberian kapsul yodium
bagi WUS dan anak SD di seluruh kecamatan endemik.
d) Penanggulangan AGB melalui penyediaan dan pemberian sirup, tablet besi
untuk seluruh kelompok umur perempuan serta laki-laki, dengan perhatian
khusus pada ibu hamil.
e) Penanggulangan KV A melalui penyediaan dan pemberian vitamin A bagi ibu
nifas, bayi (6 - l l bulan) serta balita.
f) Penanggulangan kurang gizi mikro lainnya (calcium, zink dan sebagainya)
antara lain melalui kegiatan uji coba pengembangan fortifikasi dan keamanan
pangan
g) Peningkatan penggunaan ASl eksklusif, antara lain melalui program RS
Sayang Bayi dan Jaringan Peduli ASL
h) Peningkatan kualitas MP-ASI lokal.
i) Pengembangan dan penyebarluasan pedoman umum gizi seimbang (PUGS)
melalui berbagai penyuluhan serta pengembangan PUGS.
j) Penanggulangan gizi lebih pada orang dewasa dan anak perempuan serta laki
laki.
k) Pemantapan pelaksanaan SKPG di seluruh wilayah Kabupaten/Kota.
I) Pemantapan UPGK melalui cakupan peserta laki-laki dan perempuan di Pojok
Gizi (POZI) serta Posyandu.
m) Pengembangan dan pembinaan tenaga gizi melalui berbagai pendidikan serta
pelatihan.
n) Penelitian dan pcngembangan gizi dengan data terpilah menurutjenis kelamin.
o) Perbaikan gizi di institusi (sekolah, RS, perusahaan dan sebagainya).
p) Perbaikan gizi darurat.

6) lndikator
a) Jumlah keluarga mandiri sadar gizi meningkat.
b) Membaiknya keadaan gizi:
(1) Prevalensi gizi kurang pada balita menurun menjadi 22%.
(2) Prevalensi BBLR menurun menjadi 11 %.
(3) Prevalensi BB terhadap TB kurang dari normal pada anak sekolah
menurun menjadi 30%.
(4) Prevalensi KEK pada WUS menurun menjadi 20%.
c) Prevalensi TOR pada anak sekolah menurun menjadi 6,5% dan jumlah rumah
tangga yang mengkonsumsi garam yodium secara adekuat (> 30 ppm)
meningkat menjadi 70%.
d) Cakupan pemberian sirup dan tablei besi meningkat serta prevalensi AGB
pada ibu hamil menurun menjadi 45%.
e) Cakupan kapsul Vitamin A pada balita perempuan dan laki-Iaki meningkat
serta prevalensi KVA pada balita dan ibu hamil menurun.

39
ANAUSIS GENDER

f) Terlaksananya uji coba pengembangan fortifikasi dalarn rangka


penanggulangan gizi mikro.
g) Cakupan pemberian AS! eksklusif (0 - 4 bulan) meningkat.
h) Cakupan pemberian MP-ASI pada bayi mulai usia 4 bulan, meningkat.
i) Terlaksananya penyebarluasan PUGS.
j) Tersedianya data gizi lebih pada orang dewasa dengan pengukuran !MT
menjadi maksimum 15% dan tingkat prevalensi gizi lebih pada balita menjadi
3%.
k) Semua Kabupaten/Kota telah melakukan dan memanfaatkan SKPG.
I) Terlaksananya Pondok Gizi (POZI) di seluruh Puskesmas.
m) Meningkatnya jumJah tenaga gizi yang terlatih.
n) Tersedianya data gizi yang terpilah menurut jenis kelamin.
o) Meningkatnya jumlah institusi yang menyelenggarakan pelayanan gizi sesuai
standar dan regulasi.
p) Terlaksananya perbaikan gizi darurat

4. PROGRAM KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN PEMBANGUNAN


KESEHATAN

a. Sub Program Sistem Informasi Kesehatan

I) Kebijakan Sub Program


Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dikembangkan terutama untuk mendukung
manajemen kesehatan. Dalam rangka desentralisasi, upaya pencapaian visi Indonesia
Sehat ditentukan oleh upaya pencapaian Kecamatan Sehat, Kabupaten/Kota Sehat dan
Propinsi Sehat. Dalam rangka perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
upaya-upaya pencapaian kecamatan sehat dan kabupaten sehat perlu dikembangkan
Sistem Informasi Kesehatan Daerah sebagai bagian dari Sistem Informasi Kesehatan
Nasional (SIKN).

2) Data Pembuka Wawasan


a) Data yang bersumber dari data rutin program kesehatan yang rneliputi data
lingkungan sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu untuk
mencapai Indonesia Sehat 2010, tidak terpilah berdasarkan jenis kelamin,
sehingga tidak memungkinkan untuk dianalisa dari aspek gender.
b) Data yang bersumber dari Profil Kesehatan Propinsi, Profil Kesehatan
Kabupaten/Kota dan pengembangan data dasar indikator kesehatan terpilih
tidak terpilah berdasarkan jenis kelarnin, sehingga tidak dapat menunjukkan
ada tidaknya kesenjangan antara laki-laki serta perernpuan.

3) Kesenjangan Gender
Pada urnurnnya laki-laki mendapat akses lebih baik tentang kebijakan informasi
daripada perempuan. Data yang dikumpulkan pada umurnnya belum terpilah menurut
jenis kelamin. Data yang sudah terpilah laki-laki dan perempuan untuk jangka pendek
didapat dari pokja-pokja seperti Pokja Gerdunas TB, Gebrak Malaria atau HIV/AIDS.

40
ANAL/SIS GENDER

4) Isu Gender
a) Para penanggungjawab program belum terpapar dengan isu gender sehingga
menjadi halangan dalam pengelolaan data dan inforrnasi dalam sernua tingkat
administrasi.
b) Pada tingkat Puskesmas yang merupakan ujung tornbak pengurnpulan data
sebenarnya data yang dikumpulkan sudah berdasarkan jenis kelamin. Namun
pada saat dikompilasi di tingkat kabupaten data tersebut disatukan dan tidak
terpilah menurut jenis kelamin, sehingga pada waktu dikirim ke propinsi data
sudah tidak terpilah antara laki-laki dan perempuan.

5) Rencana Aksi
a) Sosialisasi pengarusutarnaan gender pada semua tingkat administrasi
pengelola data, sehingga data yang dikumpulkan sudah merupakan data yang
terpilah menurut jenis kelamin.
b) Revisi pedornan penyusunan profil kesehatan propinsi dan kabupaten yang
telah ada. Pemilahan data pada tabel-tabel tertentu berdasarkan jenis kelarnin,
indi.kator periiaku sehat, lingkungan sehat dan pelayanan kesehatan yang
bermutu serta terjangkau.

6) Indikator
a) Tersusunnya pedoman pengelolaan data yang terpilah berdasarkan jenis
kelamin sebagai acuan bagi para pengelola data di semua tingkat administrasi.
b) Tersusunnya revisi pedoman penyusunan profil kesehatan propinsi dan
kabupaten/kota menjadi terpilah berdasarkan jenis kelarnin.
(I) Indikator Derajat Kesehatan
Umur Harapan Hidup
Angka Kernatian !bu
Angka Kematian Bayi.
(2) Indikator Lingkungan Sehat
Persentase Jurnlah Rumah Sehat
Persentase Cakupan Air Bersih
(3) Indikator Perilaku Sehat
Persentase Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(4) Indikator Pelayanan Kesehatan yang Bermutu dan Terjangkau
Rasio RS
Rasio Puskesmas

b. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

1) Kebijakan Sub Program


Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dilakukan, dan dikoordinasi oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) yang terkait dengan
program termasuk yang terkait dengan gender, walaupun pada pelaksanaannya dapat
dilakukan oleh instansi lain. Pelaksanaan penelitian tersebut sebaiknya mengacu pada

41
ANAL/SIS GENDER

Prioritas dan Agenda Nasional Penelitian Kesehatan, bukan merupakan Prioritas dan
Agenda Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan semata.

2) Data Pembuka Wawasan


Penelitian dan pengembangan kesehatan yang dilakukan secara umum sudah terkait
dengan gender, namun belum secara spesifik gender, untuk itu perlu dilakukan
analisis lebih dalam agar isu gender lebih jelas.

3) Kesenjangan Gender
Penelitian dan pengembangan kesehatan yang terkait dengan program dan gender
telah banyak dilakukan antara lingkungan sehat serta upaya kesehatan.

4) Isu Gender
Para pelaksana penelitian dan pengembangan kesehatan belum secara jelas terpapar
dengan isu gender, narnun selama ini gender sudah merupakan subyek dan obyek
penelitian.

5) Rencana Aksi
Peningkatan jumlah penelitian dan pengembangan kesehatan, kajian tentang gender
serta memperluas area penelitian

6) lndikator
a) Jumlah tenaga peneliti tentang program-program yang responsif gender
meningkat.
b) Jumlah penelitian tentang program-program yang responsif gender meningkat.

Rencana kegiatan program pembangunan kesehatan yang responsif gender untuk tahun 2003
mengacu pada rencana tindak dalam Repeta 2003 bidang kesehatan.

B. Rencana Tindak Program Kesehatan yang Responsif Gender dalam REPETA


2003 dan Usulan Kegiatan
1. PROGRAM LINGKUNGAN SEHAT, PERILAKU SEHAT DAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

a. Sub Program Lingkungan Sehat, Penyehatan Air dan Sanitasi

I) Rencana Tindak
Meningkatkan pengetahuan para provider dalam analisis gender dalam
penanganan masalah kekerasan terhadap perempuan dengan melibatkan
peranserta masyarakat.
Meningkatkan promosi hygiene dan sanitasi di tingkat individu, keluarga dan
masyarakat.

2) Usulan Kegiatan
a) Penyusunan format data yang terpilah menurut jenis kelamin.

42
ANAL!STS GENDER

b) Pertemuan/lokakarya perlindungan perempuan terhadap penyakit berbasis


lingkungan.
c) Pelatihan/peningkatan penggunaan peralatan kesehatan lingkungan.
d) Pertemuan/lokakarya pemberdayaan perempuan dalam penyediaan dan
pemeliharaan sumber air bersih.
e) Sosialisasi dan bimbingan teknis.

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Program dan lnformasi Ditjen PPM&PL.
b) Kepala Sub Direktorat Hygiene Sarana dan Bangunan Umum.
c) Kepala Sub Direktorat Penyehatan Hygiene dan Sanitasi Ditjen PPM dan PL.
d) Kepala Sub Direktorat Surveilans Ditjen PPM & PL.
e) Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen PPM & PL.
f) Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi Ditjen PPM & PL.
g) Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Kesehatan.
h) Kepala Pusat Promosi Kesehatan

2. PROGRAM UPAYA KESEHATAN

a. Sub Program Penurunan Angka Kematian lbu melalui Making Pregnancy Safer
(MPS)

1) Rencana Tindak
Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan dasar, dengan prioritas
kegiatan:
a) Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas,
b) Pelayanan Kesehatan Keluarga termasuk peran suami dan isteri dalam
pemeliharaan kesehatan keluarga.

2) Usulan Kegiatan
a) Lokakarya untuk menyusun format data yang terpilah menurut jenis kelamin,
disamping umur, lokasi, suku dan agama.
b) Pertemuan/lokakarya untuk menyempurnakan protokol pelayanan KIA yang
responsif gender.
c) Pelatihan/keterampilan teknis medis dan manajemen termasuk KIP Konselimg
serta pelatihan analisis gender dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA).
d) Supervisi dan bimbingan teknis termasuk pemberian informasi perencanaan,
pelaksanaan monitoring pelayanan KIA yang responsif gender.

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Program dan Informasi Ditjen Bina Kesmas
b) Kepala Sub Direktorat Maternal dan Perinatal Ditjen Bina Kesmas
c) Kasubdit Usia Subur Ditjen Bina Kesmas
d) Kepala Bagian Program dan Informasi Ditjen PPM & PL
e) Direktur Kesehatan Keluarga Ditjen Bina Kesmas
f) Kepala Pusat Data dan Informasi

43
ANAL/SIS GENDER

b. Sub Program Pemberantasan Tuberkulosis Paru

I) Rencana Tindak
Meningkatkan kualitas dan akses inforrnasi kesehatan antara lain yang terpilah
berdasarkan jenis kelamin.

2) Usulan Kegiatan
a) Penyusunan format data penyakit yang terpilah menurutjenis kelamin.
b) Pertemuan/Lokakarya untuk penyempurnaan petunjuk teknis pemberantasan
Tuberkulosis Paru.
c) Sosialisasi dan bimbingan teknis

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Program dan Informasi Ditjen PPM & Pl,
b) Kepala Sub Direktorat Pemberantasan Penyakit (P2) Tuberkulosis Ditjen PPM
&PL
c) Kepala Sub Direktorat Surveilans Ditjen PPM & PL
d) Direktur Pernberanrasan Penyakit Menular Langsung Ditjen PPM&PL

c. Sub Program Pemberantasan Malaria

1) Rencana Tindak
Meningkatkan kualitas dan akses informasi kesehatan antara lain yang terpilah
berdasarkan jenis kelamin.

2) Usulan kegiatan
a) Studi pengetahuan, sikap dan perilaku (KAP) berdasarkan gender terhadap
program malaria.
b) Pembentukan POD-PKK.
c) Penyediaan Kit Penyuluhan.
d) Penyuluhan terhadap sasaran.
e) Pencegahan individu dan massal terhadap gigitan nyamuk.

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Program clan Informasi Ditjen PPM & PL
b) Kepala Sub Direktorat Pemberantasan Penyakit Malaria Ditjen PPM & PL
c) Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PPM & PL

d. Sub Program Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual (PMS)

1) Rencana Tindak
Meningkatkan kualitas dan akses informasi kesehatan antara lain yang terpilah
berdasarkan jenis kelamin.

44
ANALISIS GENDER

2) Usulan Kegiatan
a) Penyusunan format data penyakit yang terpilah dari data yang ada menurut
jenis kelamin.
b) Pelatihan TOT universal precaution bagi petugas kesehatan.
c) TOT konseling HIV/AIDS yang responsif gender bagi petugas kesehatan.
d) TOT surveilans HIV/AIDS bagi petugas kesehatan.
e) Pelatihan PMS berdasarkan pendekatan sindrome.

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Program dan Informasi Ditjen PPM & PL
b) Kepala Sub Direktorat AIDS dan PMS, Ditjen PPM & PL
c) Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Langsung, Ditjen PPM & PL

3. PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

1) Rencana Tindak
Meningkatkan penyuluhan Gizi Masyarakat melalui kampanye di media massa.

2) Usulan Kegiatan
Peningkatan penyuluhan gizi masyarakat baik pada laki-laki maupun perempuan:
a) Isi penyuluhan hendaknya tidak ditujukan pada perempuan saja akan tetapi
juga pada laki-laki, contoh pesan: perbandingan kebutuhan makan sesuai
golongan umur, jenis kelamin dan lain-lain. Penjelasan akibat kurang gizi
secara spesifik baik pada laki-laki maupun perempuan.
b) Tempat penyuluhan tidak selalu di tempat perempuan berkumpul bila perlu
dilakukan khusus berkumpul seperti rapat desa dan lain-lain. .
c) Waktu penyuluhan sebaiknya disesuaikan dengan jam istirahat dan selesai
bekerja

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Program dan Informasi Ditjen Bina Kesmas
b) Kepala Sub Direktorat Gizi Ditjen Bina Kesmas.
c) Direktur Gizi Masyarakat Ditjen Bina Kesmas

4. PROGRAM KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN

a. Sub Program Sistem lnformasi Kesehatan

1) Rencana Tindak
Mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) antara lain mengintegrasikan
SIK yang ada, pengumpulan data/informasi terkoordinasi, fasilitasi pengembangan
SIK daerah, pengembangan pelayanan data dan informasi yang terpilah menurut jenis
kelamin, pengembangan teknologi dan sumberdaya informasi serta sistem kesehatan
nasional (SKN).

45
ANALISIS GENDER

2) Usulan Kegiatan
a) Identifikasi kebutuhan informasi dan penetapan indikator yang merupakan
data terpilah pada setiap tingkat administrasi.
b) Penetapan kebutuhan data dan pencatatan serta pelaporan berupa data terpilah
pada setiap tingkat administrasi.
c) Sosialisasi isu gender pada setiap tingkat administrasi terutama pada tingkat
pengelola data dan pengembangannya pada setiap pencatatan serta pelaporan.
d) Pembuatan database berdasarkan data terpilah menurut jenis kelamin pada
tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan pelayanan kesehatan seperti
Rumah Sakit serta Puskesmas.

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Data dan lnformasi
b) Kepala Pusat Data dan Informasi
c) Pengelola program terkait di masing-masing Direktorat Jenderal

b, Sub Program Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

1) Rencana Tindak
Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan antara lain mencakup
kegiatan penelitian diantaranya penelitian tentang gender dan kesehatan.

2) Usulan Kegiatan
Pelaksanaan dan koordinasi penelitian dan pengembangan kesehatan yang responsif
gender sesuai kemampuan yang tersedia.

3) Penanggungjawab
a) Kepala Bagian Jaringan Informasi Iptek dan Promosi Penelitian Badan
Litbangkes.
b) Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan
Litbangkes).
c) Para Kepala Pusat di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan (Badan Litbangkes).
d) Pengelola program terkait di masing-masing Direktorat Jenderal.

46
BAB V
PENUTUP

Sebagai isu baru pemahaman yang benar tentang analisis maupun pengarusutamaan gender
masih perlu dimantapkan. Persepsi para stakeholder tentang gender tersebut masih beragam
dari sifatnya yang hanya terbatas kepada upaya pemberdayaan perempuan, maupun persepsi
gender yang mengarah pada kesetaraan gender. Dernikian pula halnya masukan isu gender
dalam program pembangunan kesehatan masih merupakan ha! yang baru. Padahal, apabila
dicermati, analisis dan pengarusutamaan gender akan memberikan daya ungkit yang besar
untuk mencapai keberhasilan program pembangunan kesehatan. Hal ini sangat dimungkinkan
karena setiap rencana aksi maupun kegiatan operasional akan lebih difokuskan kepada
kelompok sasaran yang tepat, secara epidemiologis hasilnya akan lebih bermakna.

Oleh sebab itu, di lingkungan internal Departemen Kesehatan perlu terus dilakukan upaya
upaya untuk memperluas advokasi dan asistensi secara berjenjang kepada setiap provider
kesehatan, sehingga secara bertahap dapat direplikasikan lebih luas ke dalam program dan
sub program lain. Untuk keperluan tersebut, perlu diupayakan peningkatan kemampuan para
provider kesehatan untuk dapat lebih meyakinkan setiap stakeholder tentang perlunya
pengarusutamaan gender dalam pembangunan kesehatan.

Upaya tersebut akan lebih mudah dikerjakan dengan mengeksplorasi data yang terkait dengan
gender, antara lain dengan meningkatkan akurasi data yang terpilah menurut jenis kelamin,
serta dengan meningkatkan akses data melalui jalur pelaporan yang telah ada. Akurasi data
sangat diperlukan dalam rnelakukan analisis kesenjangan gender, dan menetapkan isu gender,
sehingga rencana aksi dapat dilakukan secara tepat.

Untuk keberhasilan upaya pengarusutamaan gender diperlukan pula pemantapan komitrnen


yang terkait dengan kebijakan program kesehatan, sehingga kepedulian gender akan
senantiasa terintegrasikan dengan rencana aksi program pembangunan dalam rencana
pembangunan tahunan (Repeta), dan mereplikasikan keberhasilan yang dicapai pada unit
kerja serta program kesehatan yang lain.

Mengingat keterbatasan sumberdaya manusia yang mempunyai pengetahuan dalam analisis


dan pengarusutamaan gender, maka perlu dilakukan upaya yang lebih menyeluruh baik
secara kuantitas maupun secara kualitas dalam pelatihan gender, baik yang dilakukan melalui
perbaikan kurikulum pendidikan formal, maupun melalui on-the-job training.

Disamping itu, penyebarluasan pengarusutamaan gender harus pula didukung dengan


penyebarluasan informasi maupun dokumentasi tentang gender melalui media cetak,
elektronik dan lain sebagainya.

47
DAFTAR SINGKATAN
AIDS Acquired Immunodeficiency Syndrome
AGB Anemia Gizi Besi
AKI Angka Kematian Ibu
ANC Antenatal Care (Perawatan Pra-kelahiran)
AS! Air Susu !bu
BAPPENAS Sadan Perencanaan Pembangunan Nasional
BMI Body Mass Index (Indeks Massa Tubuh)
BBLR Berat Badan Lahir Rendah
CIDA Canadian International Development Agency (Badan Pembangunan
lnternasional Kanada)
Ditjen Bina Kcsmas Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat
Ditjen PPM-PL Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Penyehatan
Lingkungan
DPA Development Planning Assistance project (Proyek Bantuan
Perencanaan Pembangunan)
DOTS Directly Observed Treatment Shortcourse
GAD Gender and Development (Gender dan Pembangunan)
GAP Gender Analysis Pathway (Alur Kerja Analisis Gender)
GAKY Gangguan Akibat Kurang Yodium
GBHN Garis-garis Besar Haluan Negara
GS! Gerakan Sayang !bu
HIV Human Immunodeficiency Virus
IMS Infeksi Menular Seksual
!MT lndeks Massa Tubuh
KB Keluarga Berencana
KIA Kesehatan !bu dan Anak
KEK Kurang Energi Kronis
Kesga Direktorat Bina Kesehatan Keluarga
KIE Komunikasi, Informasi dan Edukasi
KIP Komunikasi Informasi dan Pengetahuan
K3 Keamanan Keselamatan dan Kesehatan
KVA Kekurangan Vitamin A
DAFTAR SINGKATAN

LILA Lingkar Lengan Alas


LINS EK Lintas Sektor
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
MPS Making Pregnancy Safer (Menjadikan kehamilan lebih selamat)
MP-AS! Makanan Pendamping Air Susu !bu
NAPZA Narkotika, Psiktropika dan Zat Adiktif
OAT Obat Anti Tuberkulosis
Pasutri Pasangan Suami Isteri
PELITA Pembangunan Lima Tahun
PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PKK Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
PMS Penyakit Menular Seksual
PNC Postnatal Care (Perawatan Pasca Kelahiran)
POD Pos Obat Desa
POZI Pondok Gizi
PRO PENAS Program Pembangunan Nasional
PSM Peran serta Masyarakat
PSP PUG Pengetahuan, Sikap, Perilaku
PUG-BK Pengarusutamaan Gender
PUGS Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan
PUS Pedornan Umum Gizi Seimbang
PUSKESMAS Pasangan Usia Subur
P2WPK Pusat Kesehatan Masyarakat
RENSTRA Peningkatan Peranan Wanita dalam Pembangunan Kesehatan
REPETA Rencana Strategis
RPJPK Rencana Pembangunan Tahunan
RSKO Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan
SD Rumah Sakit Ketergantungan Obat
SOM Sekolah Dasar
SIK Sumber Daya Manusia
SIKN Sistem Informasi Kesehatan
SKN Sistem Informasi Kesehatan Nasional
Sistem Kesehatan Nasional

ii
DAFTAR SINGKATAN

SKPG Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi


TGR Total Goiter Rate (Angka Kesakitan Gondok Total)
TOGA Tokoh Agama
TOMA Tokoh Masyarakat
UPGK Perbaikan Gizi Keluarga
VCT Voluntary Counseling and Testing (Penyuluhan dan Pengujian
Sukarela)
WID Women in Development (Wanita dalam Pembangunan)
WHO World Health. Organization (Organisasi Kesehatan Dunia)
WSLIC Water Supply for Low Income Community (Proyek penyediaan air
bersih bagi masyarakat miskin)
WSP Women Support Project
wus Wanita Usia Subur

iii
LAMPIRAN I MATRIKS
ANALISIS GENDER
PEMBANGUNAN KESEHATAN
z
<

-If
l<i

::: -.:.;.;.,
:-.;.:\:;;;;
::r:
[al
..:,{,'.

"faa'l
z ..:
<
z;::, i!!l
e iiii
z
<
;,l
:::; li ...
[al

!i
c... ;.l

,;

i:,:
[al
A
zfaal
J::::;;
<
>
v,
z::::,:
(.')
z
f:!l
f:!l
,.,l
; <<>
-e -e
z< m,
"'
rii

:;

; ."'
z
2l
...
:::;
:i!
"' ]
;:,
,:
-..e,

.
c2
"'
,.:
v,

:.;
I

:ii
"z-e'
v,

.c


;" :,'
z

,: -e
e
;jj

:;
c
=
.
c


0 ";::;1'!'
.., ci
:j cc
-e1 ' "'
.:.: =
0
"='="
"'
Q
l lE
0
ii!) a.
(.!)
E
E

;::,
a
"'g_ 8.
l!l
i!
"g
- ,..;
iat :.5:;;
c

.g
c

Cl
..; .,;


5 .!:!
cccE C'3 c -""
1-g
<
-ti r; 5 . -" c C'.I Q. 0
a..

E l
i
z 1: (';! 0 :;2 Cll,2_8!! .s '[ ] :g
0. c
s'-EEEo re Es s e . . 11$ .J:):.::

;(.z!)...:..,:
UJ o,..; !l

EE..:.: Cll;-9
-6 gg
i gf:9 "'.
!S
E 'a
i g a E j:
] ] -" :a g 2 "O ...

6 Q.

'

E :t:
G>
H
fH
= e.oii

"" Ero
ss
Cllc:i 8,'-'
ae
<Q
g:i]

g_fi-6


c::
P-i[i 0

gi (.!) c;l
:g ]ji g ) t-g 1i .:.: e
a --g
"'

fflfg 't .8 & i:


- .
'a E
:
E [!

z "'
,-; ..; c.- N
c-,
E:; .s"' 0.... -

;
""'

E
e=


< :
Q
z

- ;;!
"
="
... P- I
"' <
" ! 1 "'

= = g
s2 -="" =" :;,t :e

e-, Q.
=

" c
gj'j st; b mi--
z =
]!
8
H
i
; ,...; = :-9
.g <";le.:::.
<

i2 .
;::, .:] ;.g : ,:;,o
]a! ;:;, '..i.' .g -o e - !. 8. g

[:: ::;: i.-B: g_


-=
r-,
- "' 5.;e 8. . "g .!
Oo:, ;:i
-
sE
= .ll ]
0
f ]gfl ::3 'oh

i 11$::: 2::!

-
c
[!
5 2 mi -.5
"
... !2 -'g-2 U ; a
""' ""'"' !. E "' -
c c -,...;

a: g;:::;, " 8
.0

"'
'..::IV
=. d -8 2 ... = .8 !:

0. &::.8 si:::.
= -.E_g
0
..; &PIG& U E USE ua'l < 8."
,; .,;

$&2A:a ...; N ..;


vi 'C
"
1!' .'l
-,:;.,.
" 2 : -c
' .g
"f2
Ee
- .. V"}

,.Q,
g, g. ..-:..
\0 jj

z .a= E a
a a E
Ii:! o""

; .g
-a .g:;
! .r.
,,,,-

---
'<ii tffe [
gf E 3 .g
f]
0.. .. :::5 2

;;l -l .a...-:..

i .['
i:lc 8.3fr (!,.) .i::: r-,
&.E-!t
< .,.
Q "ll t .S i i .9',CQ
'a
- ] ]j
e s' E ! ;95
. "'.0 -
.,; cc
'"' '
,

-
cc
it 2 f-<


"'
0
f-<
-"
c


0
0."

i'2
i i E .

8 g
Q
-e"n
f a..s [
8.-o .>( -

{ 8
c
- ii.
!:!
c
E-;-
i -f !
g
;;; 5j
'[2.-;9 i . m
*
-e
g !
'iij",.!,( Ollf--,
..,,
z
,:

E]
-e
u .e;i
=-oc:
c
1
;>,-o @

z i:: Q. .>(

"' t1 { 'as B
&:! - 8.
..,;

a "
'O

"- - E
8. 0.

]] "
ell

"
i:: Q.1-!:'.'.!,
!] -E
2

0"' .8
till

1n
i:::-o..:.::
g. @
-c
a g_
&:;
i -g ] ]
c,J O[J,.),,C
2
. .s-
P- 8- Ji il
.0 -0 c,J "O

...; ...; "'


..,;

c-i
co
-

-
"'
Q. I
]11 =
= 0 oo:f
"
i
:g ]] . e .. .a 5 2:
"
,::,

i ] ..c:

:a
bn E :J?
.,d: "'
gpi
z -" "O -
&Cl)
'"' @;;g
::,
c = ;>
e- [i
i E
[ :E
1 a E
c
gg I
E""'

a= "E
* ..8 - .a-
.s .g:,:
::I

2 :i:82
i; j.].&

...: ,..; .;
- "'
z
<
"" '
z
<..., ,:;z": ,'
o
;z "'

""
.:

1a zs
Vl

E6 <
.
Vl

-c;
o ..: S:
"O
Vl
rir
Q
,::, ::;;
s
ii:
- =:'.
!;
=
g,
-;; .: d

ec
c "
i:: E
O c:
"
:'.
.g-a &i
.,;
;;;o a
E,:

c
] ig. i "O
- cc () @ (/) _: a ]

Vl z
i E c ..:..: O.."O g,:::z = s .c <:IS>

SEl- ..:.:::.:: c:::

<il , tn 2 ] x
]] is.
i [:
: "i...:
i -
rl r ti ]:g ]5iif!!j
Oo,
e -

"'::1
s ;] E.g ,u c <:IS 0 -c V)

.g
- QI)

" '" "


.e -[! i ,g R.i E .8 g.: s
,: .,
:iCl'l:g ir.
8.
-g
.6 ! 5 5; u E ee oti
5 =-=

" :.a &


.s E .g & & * &&
Vl
;> 8 .5 ii :E E _g &:r: g_.g

Il]!
.,; s [i] ...: ,..; .; vi
"'
c
a
u
;:;
.1J co
e
ll

i
1H
0,:
0
....

f

fl a '3
i.a i
.g
:':!


-e ,;;2 e
-e
z 8-.""
o
;:;
< cco
z .

"' -a -
0,:

ll
! I
:':!
0,:

"':z
Q

:,
ra
:'.2
- 0

EE&
a =-c
s ] g
o-

l! i'i
i]
i;g
&t]
_;

.'a
2 "'1i oo';i
ee 5 .
"':, !XI c -e

[; ;;;;

iH11
V}C.0;"'
_;

.o E

-"' i"'- :g"' .g


];
a-=
a.
:
g I
& o.oo.Q'2
E
<";

&! [.g
_;

- [
- E
.sE
! 1
:;; :a .5 ij ;
z
;:;
! g_
g ;i
:,:
"'

Cl l

el
< -gJ-i
z 0... -"O
z

;:,
e
z-e - .
:-1i
:
::"'.
.
"'
g
E
:::l r:
5
Ol;I e "C

1;i
c
j e_g
::.
e il
cu
e "'
0. ::,
o.Qr ;:


. ...,
""
!]il
<
z

<
::. ,:

_;
z-e
"z' E

0

i2 .s e <"; f
2;' i:l
< i 8.
::i
"'
,":"
.Is !!
Cll
[
::. e .2 -; -
,2
. ! E!j
o
0
'E!5]
"..';aii
0
Cll
en
,::
-e
<
z
-e
u
z
z
"
<

:i::

C F]

:,.:
z
< "
;::, ""
z
(.!)
z ";,'
e
< :a
;
I'.


0
0z z-e
'z-'<>:
:s .,
z
el '-'
<
cii
"'
:a .:
:,.:
c2
E-<

LAMPIRAN2
MATRIKS RENCANA TINDAK
PROGRAM KESEHATAN YANG RESPONSIF GENDER
DALAM REPETA 2003 DAN USULAN KEGIATAN
c
c:
E I
;",
c
:":cs.' c: ,8
.s,,c:".a,: .sE
"'
;.:
::> cii

. .
.,, "'
;.:"e =cc
E
E
2a.

. "
"' " .g
.. .Q

0..0.. ",';
=
.;
LAMPIRAN3
SURAT KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI
TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG)
DEPARTEMEN KESEHATAN
,'Y,7
DEPARTEMEN KESEHATAN INDONESIA
SEHAT
2010
REPUBLIK INDONESIA

Jalan H.R. Rasuna Said Blok XS Kapling No. 4-9


Jakarta 12950 Telp. 5201590 (Hunting)

KEPUTUSAN MENTER! KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR :HK.OO.SJ.SK.1.1712
TENTANG
TIM PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG) DEPKES
MENTER! KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang a. bahwa sesuai dengan GBHN 1999, Program Pembangunan
Nasional (Propenas) dan Repeta 2003, dalam rangka
rnewujudl<an kesetaraan dan keadilan gender (KKG) perlu
dikembangkan kebijakan nasional yang responsif gender,
b. bahwa untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender,
seluruh lembaga di pemerintah pusat, propinsi maupun
Kabupaten/Kota harus melakukan pengarusutamaan gender
dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
pada kebijakan dan program pembangunan,
c. bahwa untuk dapat melaksanakan pengarusutamaan gender
di lingkungan Departemen Kesehtan perlu dibentuk Tim
yang melibatkan pejabat dari berbagai unit terkait yang
tergabung daiam satu Tim Kerja,
d. bahwa sehubungan huruf a, b dan c cii alas perlu ditetapkan
susunan keanggotaan Tim melalui Keputusan Menteri
Kesehatan,

Mengingat a. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.


b. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan
Dae rah,
c. Undang-undang Nomor 25 tahun 2000 tentang Program
Pembangunan Nasional (PROPENAS),
d. lnstruksi Presiden (lnpres). Nomor 9 tahun 2000 tentang
Pengarusutamaan Gender {PUG) dalam Pembangunan
Nasional,
e. Keputusan Presiden Republil<. Indonesia Nomor 102 tahun
2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan,
Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen,
f. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1277/Menkes/SK.2001 tentang Susunan Organisasi
Oepartemen Kesehatan,
MEMUTUSKAN
Menetapkan
Pertama Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang
Tim Pengarusutamaan Gender (PUG) Depkes,
Kedua Susunan keanggotaan Tim PUG sebagaimana dimaksud
dalam diktum pertama tercantum dalam lampiran Keputusan
ini,
Ketiga Tugas Tim adalah :
a. Menyusun Program Kesehatan yang responsif gender
b. Melakukan Analisis Gender
c. Menyusun Policy Outlook and Plan (POP)
Keempat Pembiayaan kegiatan dibebankan pada Anggaran Belanja
Negara Departemer. Kesehatan dan bantuan yang tidak
mengikat,
Kelima Keputusan ini mulai berfaku pada tanggal ditetapkan dengan
catatan akan ditinjau kembali dan disesuaikan seperfunya
apabila terdapat kekeliruan.

Ditetapkan di : Jakarta
Paqa Tanggal : 1 3,September 2002

.: / ,{i.NT-ERI KESEHATAN
,: ;
' ' f'
Sekja,ris Jenderal
': ! l :{ ?::; .,/{'
.,:;,\ """>- ;:',< ---------
\'.\>>v" Dr. dj,i Argadiredja, MPH
t,_;-,;;-;;;;-;:'N.1P.
140057678

TEMBUSAN, disampaikan kepada Yth.


1. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
2. Direktur Kependudukan, Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perernpuan Bappenas,
Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : HK.OO.SJ.SK.1.1712
Tanggal : 13 SEPTEMBER 2002

SUSUNAN KEANGGOTAAN
TThf PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG) DEPKES

TThf PENGARAH:
Penanggung Jawab Dr. Achmad Sujudi
Ketua Prof. DR. Dr. Azrul Azwar, MPH
Sekretaris Dr. Sri Hermiyanti, MSc
Anggota

1. Dr. Dadi S. Argadiredja, MPH


2. Drg. Kuswartini M. Suhel
3. Prof. DR. Dr. Umar Fahrni, MPH
4. Prof. DR. Dr. H.M. Ahmad Djojosugito, MHA. Fies
5. Drs. Holid Djahari, Apt., MM
6. Dr. Sri Astuti Soedarso Suparmanto, MSc.PH
7. Dr. lrhamsyah Ratu Bagus, SKM
8. DR. Dr. Anhari Achadi, MPH
9. Ors. Richard Panjaitan, Apt. SKM
10. Dr. I. Nyoman Kandun, MPH
11. Dr. Dini Koeswandewi Sriwrespati Latief, MSc
12. Dr. Muharso, SKM

TThf PELAKSANA :

Ketua Dr. Sri Hermiyanti, MSc


Wakil Ketua Dr. H. Setiawan Soeparan, MPH
Sekretaris Dr. Loesje Maria Sompie, MSc
Anggota
1. Dr. Rachmi Untoro, MPH
2. Dr, Erna Tresnaningsih, MOH, Ph.D
3. Dr. Yusmansyah Idris, Sp.KJ
4. Bambang Hartono, SKM, MSc
5. Dr. Deddy Ruswendi, MPH
6. Drs. Dachroni, MPH
7. Dr. H. Haikin Rachrnat, MSc
8. Dr. Thomas Suroso, MPH
9. Dr. H. Wan Alkadri, MSc
10. DR. R. Hening Darpito, SKM, Dipl.SE
11. Dr. Agus Suwandono, MPH, Dr.PH, APU
12. Dr. H. Yusharmen, D Com H, MSc
13. Dr. Yudhi Prayudha ID, MPH
14. Ir. Herwanti Bahar, MSc
15. Dr. Asjikin Iman Hidayat, MHA
16. Dr. Lukman Hendro Laksmono, MBA
17. Dr. Edi Suranto. MPH
18. Ir. Sunarko, MSc
19. Dr. Atmarita, MPH, Ph.D
19. Ria Sukarno, SKM, MCN
20. Dr. Rusmini Dai, MPH
21. Or. Syaiful Yazan, MSc
22. Or. Ferdinan Laihat, MPHM
23. Ir. Budi
24. Sucipto, MSc
25. Endang Sri Widyaningsih, SKM, MKes
26. Dasmi Nurdin, SKM
27. Dyah Yuniar S, SKM, MPS
28. Dr. Lukas C.Hermawan, M.Kes
29. Ferynawati, SKM
30. Dr. Trisnawati
31. Mariyani, SKM
32. Ors. Makmunarrasyid
33. Dr. Jeane Uktolseja
34. Munziarti, SKM
35. Th. lspriyatin, B.Sc
36. Linawaty, SKM, MM
37. Nurul Aini, SKM, MM
Sekretariat
1. Kuning Setiadi, SKM, MKes
2. Risyanto, SKM
3. Widiakustanto, S.Kom
4. Ir. Dody lzwardi

Nara Sumber Dr. Nardho Gunawan, MPH