Anda di halaman 1dari 6

A.

KONSEP GANGGUAN KBUTUHAN DASAR


1. Definisi
Secara umum nyeri adalah suatu rasa tidak nyaman, baik ringan
maupun berat. Nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak
menyenangkan akibat terjadinya kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial (Hidayat, 2007). Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi
yang tidak menyenangkan dan meningkatkan akibat adanya kerusakan
jaringan yang aktual atau potensial (Wilkinson, 2009).
Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri
tersebut dan terjadi kapan saja serta seseorang mengatakan bahwa ia merasa
nyeri (Mubarak, 2015). Nyeri merupakan pengalaman sensori dan
emosional yang tidak menyenangkan sebagai akibat dari kerusakan jaringan
yang aktual dan potensial, yang menyakitkan tubuh serta diungkapkan oleh
individu yang mengalaminya. Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau
kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan-bahan yang menstimulus
reseptor nyeri seperti serotonin, histamine, ion kalium, bradikinin,
prostaglandin dan substansi P yang akan mengakibatkan respon nyeri
(Kozier, 2009). Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa nyeri adalah suatu pengalaman sensori yang tidak menyenangkan
dan menyakitkan bagi 9 tubuh sebagai respon karena adanya kerusakan atau
trauma jaringan maupun gejolak psikologis yang diungkapkan secara
subjektif oleh individu yang mengalaminya.
2. Fisiologi
Saat terjadinya stimulus yang menimbulkan kerusakan jaringan
hingga pengalaman emosional dan psikologis yang menyebabkan nyeri,
terdapat rangkaian peristiwa elektrik dan kimiawi yang kompleks, yang
transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi. Transduksi adalah proses
dimana stimulus noksius diubah menjadi aktivitas elektrik pada ujung saraf
sensorik (reseptor) terkait. Proses berikutnya, yaitu transmisi, dalam proses
ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf sensorik perifer yang
meneruskan impuls ke medulla spinalis, kemudian jaringan saraf yang
meneruskan impuls yang menuju ke atas (asendens), dari medulla spinalis
ke batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik antara
thalamus dan cortex. Proses ketiga adalah medulasi yaitu aktivitas saraf
yang bertujuan mengontrol transmisi nyeri. Suatu senyawa tertentu telah
diteruskan di sistem saraf pusat yang secara selektif menghambat transmisi
nyeri di medulla spinalis. Senyawa ini diaktifkan jika terjadi relaksasi atau
obat analgetika seperti morfin. Proses terakhir adalah persepsi, proses
impuls nyeri yang ditransmisikan hingga menimbulkan perasaan subyektif
dari nyeri sama sekali belum jelas. Bahkan struktur otak yang menimbulkan
persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat disayangkan karena nyeri secara
mendasar merupakan pengalaman subyektif yang dialami seseorang
sehingga sangat sulit untuk memahaminya (Kozier, 2009).
Nyeri diawali sebagai pesan yang diterima oleh saraf-saraf perifer. Zat
kimia (substansi P, bradikinin, prostaglandin) dilepaskan, kemudian
menstimulasi saraf perifer, membantu mengantarkan pesan nyeri dari
daerah yang terluka ke otak. Sinyal nyeri dari daerah yang terluka berjalan
sebagai impuls elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal spinal
cord (daerah pada spinal yang menerima sinyal dari seluruh tubuh). Pesan
kemudian dihantarkan ke thalamus, pusat sensori di otak dimana sensasi
seperti panas, dingin, nyeri, dan sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan
lalu dihantarkan ke cortex, dimana intensitas dan lokasi nyeri
dipersepsikan. Penyembuhan nyeri dimulai sebagai tanda dari otak
kemudian turun ke spinal cord. Di bagian dorsal, zat kimia seperti
endorphin dilepaskan untuk mengurangi nyeri di daerah yang terluka
(Potter dan Perry, 2009).
Di dalam spinal cord, ada gerbang yang dapat terbuka atau tertutup.
Saat gerbang terbuka, impuls nyeri lewat dan dikirim ke otak. Gerbang juga
bisa ditutup. Stimulus saraf sensori dengan cara menggaruk atau mengelus
secara lembut di dekat daerah nyeri dapat menutup gerbang sehingga
mencegah transmisi impuls nyeri. Impuls dari pusat juga dapat menutup
gerbang, misalnya motivasi dari individu yang bersemangat ingin sembuh
dapat mengurangi dampak atau beratnya nyeri yang dirasakan (Potter dan
Perry, 2009).
Table 1.1 klasifikasi stimulus nyeri berdasarkan penyebab
Stimulus nyeri
Zat kimia Iskemia (misalnya
angina dan infark usus)
Trauma jaringan
Inflamasi, mediator
inflamasi, seperti
histamine dan
prostaglandin
Spasme (kolik uretra,
batu ginjal)
Kompresi (misalnya
mekanik atau tumor,
sindrom lorong karpal,
atau sindrom
kompartemen)
Kekuatan atau kontraksi
otot yang ekstrem
(misalnya setelah
fraktur)
Kontak dengan panas
atau cuaca dingin yang
ekstrem

Sumber : LeMone, Priscilla. 2016. Buku ajar keperawatan medical bedah, ed.
5, vol. 1 Jakarta : buku kedokteran EGC.

Nyeri juga dapat terjadi akibat elektrik yang menimbulkan kekejangan otot dan
luka bakar, peradangan, gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh
darah, gangguan pada jaringan tubuh (misalnya edema), tumor, iskemik pada
jaringan, dan spasme otot (Mubarak, 2015).
3. Faktor yang mempengruhi nyeri
Beberapa faktor yang dapat mempenaruhi nyeri, yaitu:
a. Usia
Usia mempengaruhi persepsi dan ekspresi individu terhadap nyeri.
Bagaimanapun, tidak ada bukti bahwa nosisepsi diubah oleh usia.
Ketika dibandingkan dengan dewasa muda, transmisi stimulus nyeri
lebih tergantung pada serat C pada lansia dibandingkan serat A.
akibatnya, transmisi stimulus nyeri lebih rendah dan nyeri lebih sering
dijelaskan sebagai rasa terbakar, nyeri tumpul, atau sakit (LeMone,
dkk., 2016).
b. Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin telah diidentifikasi dalam studi epidemiologis
dari pasien dengan nyeri dan dalam uji klinis nyeri. Telah dilaporkan
bahwa wanita memiliki ambang nyeri yang berbeda dan toleransi nyeri
dibandingkan laki-laki. Beberapa studi menunjukkan bahwa pasien
wanita melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari rasa sakit, menerima
lebih analgesic, dan kurang cenderung memiliki resolusi rasa sakit
mereka. Studi klinis dan hewan menunjukkan bahwa wanita mengalami
ambang batas nyeri yang lebih rendah dan mengalami intenitas nyeri
lebih tinggi dibandingkan pria. Positron emission tomography (PET)
menunjukkan aktivitas yang lebih besar dari bagian otak berkaitan
dengan emosi pada wanita yang mengalami stimulus nyeri
dibandingkan pria. Respon fisiologis ini umumnya terlihat berubah,
termasuk hormone sex dan aktivasi reseptor opioid pada otak. Kadar
estrogen yang berfluktuasi berkaitan dengan sikluas menstruasi yang
mempengaruhi intensitas nyeri yang dirasakan. Sirkuit yang
memfasilitasi respons nyeri berbeda antara pria dan wanita. Terutama
sistem modulatori nyeri opiod. Karna perbedaan ini, wanita dan pria
dapat merespons secara berbeda terhadap analgesic opioid seperti
morfin (Wartonah, 2006).
c. Pengaruh sosial budaya
Setiap respon individu terhadap nyeri sangat dipengaruhi oleh keluarga,
komunitas, dan budaya. Pengaruh sosial budaya mempengaruhi
perilaku nyeri, ekpresi nyeri, standar yang tidak tepat. Pada umumnya,
respons budaya terhadap nyeri dibagi menjadi 2 kategori yaitu toleransi
dan sensitive. Sebagai contoh, individu dari budaya tertentu cenderung
ekpresi dalam mengungkapkan nyeri, sedangkan individu dari budaya
lain justru lebih memilih menahan perasaaan mereka dan tidak ingin
merepotkan orang lain (Mubarak, 2015). Contoh lainnya, jika budaya
pasien mengajakkan individu harus menoleransi nyeri dengan sabar,
pasien mungkin terlihat diam dan menolak (atau tidak meminta) obat
nyeri. Standar budaya juga mengajarkan individu mengenai sebarapa
besar nyeri harus ditoleransi, jenis nyeri apa yang harus dilaporkan,
kepada siapa harus melaporkan nyeri, apa jenis terapi yang harus dicari
(LeMone, dkk., 2016).
d. Psikologis
Intensitas nyeri yang dirasakan dan ditunjukkan di pengaruhi oleh
variable psikologis, seperti perhatian, harapan dan sugesti. Sensasi nyeri
dapat dihambat oleh konsentrasi yang sering (misalnya aktivitas
olahraga) atau kemungkinan memburuk karena ansietas atau ketakutan.
Nyeri sering memburuk ketika terjadi berhubungan dengan penyakit
lain atau ketidaknyamanan fisik seperti mual dan muntah. Tidak ada
atau adanya dukungan orang lain atau pemberi asuhan yang benar-benar
peduli tentang penatalaksanaan nyeri juga dapat mengubah status
emosional dan persepsi nyeri. Pasien yang berespon positif terhadap zat
inaktif, ditunjukkan melalui studi observasi dan studi MRI otak
(LeMone, dkk., 2016).
e. Lingkungan dan individu pendukung
Lingkungan yang asing, tingkat kebisingan yang tinggi, pencahayaan,
dan aktifitas yang tinggi dilingkungan tersebut dapat memperberat
nyeri. Selain itu, dukungan dari keluarga dan orang terdekat menjadi
salah satu faktor penting yang mempengaruhi persepsi nyeri individu.
Sebagai contoh, individu yang sendirian, tanpa keluarga atau teman-
teman yang mendukungnya, cenderung merasakan nyeri yang lebih
berat dibandingkan mereka yang didapat dukungan dari keluarga dan
orang-orang terdekat (Mubarak, 2015).
f. Pengalaman nyeri sebelumnya
Pengalaman masa lalu juga berpengaruh terhadap persepsi nyeri
individu dan kepekaannya terhadap nyeri. Individu yang pernah
mengalami nyeri atau menyaksikkan penderitaan orang terdekatnya saat
mengalami nyeri cenderung merasa terancam dengan peristiwa nyeri
yang akan terjadi dibandingkkan individu lain yang belum pernh
mengalaminya. Selain itu, keberhasilan atau kegagalan metode
penanganan nyeri sebelumnya juga berpengaruh terhadap harapan
individu terhadap penanganan nyeri saat ini (Mubarak, 2015).
g. Ansietas dan stress
Ansietas seringkali menyertai peristiwa nyeri yang terjadi. Ancaman
yang tidak jelas asalnya dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau
peristiwa di sekelilingnya dapat memperberat persepsi nyeri.
Sebaliknya, individu yang percaya bahwa mereka mampu mengontrol
nyeri yang mereka rasakan akan mengalami penurunan rasa takut dan
kecemasan yang akan menurunan persepsi nyeri mereka (Mubarak,
2015).
h. Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri berbeda-beda apabila nyeri
tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman, dan
tantangan. Makna nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara
seseorang beradaptasi terhadap nyeri (Mubarak, 2015).
i. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan
dengan nyeri yang meningkat sedangkan upaya pengalihan (distraksi)
dihubungkan dengan respons nyeri yang menurun (Mubarak, 2015)
j. Keletihan
Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan
menurunan kemampuan koping sehingga meningkatkan persepsi nyeri
(Mubarak, 2015).
k. Gaya koping
Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri
mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka
dan hasil akhir suatu peristiwa seperti nyeri. Sebaliknya, individu yang
memiliki lokus kendali eksterna mempersepsikan faktor lain di dalam
lingkungan mereka seperti perawat sebagai individu yang bertanggung
jawab terhadap hasil akhir suatu peristiwa (Mubarak, 2015).
l. Dukungan keluarga dan sosial
Kehadiran orang-orang terdekat klien dan bagimana sikap mereka
terhadap klien mempengaruhi respons nyeri. Klien dengan nyeri
memerlukan dukungan, bantuan, dan perlindungan walaupun nyeri
tetap dirasakan kehadiran orang yang dicintai akan meminimalkan
kesepian dan ketakutan (Mubarak, 2015).
4. Klasifikasi nyeri
Nyeri diklasifikasikan dalam beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
a. Nyeri perifer (peripheral pain)
1) Superfisial : Rangsangan secara kimiawi, fisik, pada kulit, mukosa,
biasanya terasa nyeri tajam-tajam didaerah rangsangan.
2) Deep : Bila di daerah viceral, sendi, pleura, peritonium terangsang
akan timbul rasa nyeri dalam. Umumnya nyeri dalam banyak
berhubungan dengan refered pain, keringat, kejang otot didaerah
yang berjauhan dari asal nyerinya.
3) Reffered pain : Rasa nyeri didaerah jauh dari tempat yang
terangsang, biasanya terlibat pada nyeri dalam, yang dirasakan atau
menyebarkan nyeri ke arah superficial, kadang-kadang di samping
rasa nyeri terjadi kejang pada otot-otot atau kelainan susunan saraf
otonom seperti gangguan vaskuler, berkeringat yang luar biasa.
Penyebaran nyeri yang timbul bisa berupa: hiperalgesia,
hiperasthesia dan allodynia, yang mana perjalanan nyeri ini dapat
berasal dari sistem somatis maupun sistem otonom.
b. Nyeri sentral (central pain)
Nyeri sentral adalah nyeri yang dirasakan akibat adanya rangsangan
dari sistem-sistem saraf pusat.
c. Nyeri psikologik (psycologic pain)
Penyebab nyeri tidak dapat diketemukan, atau tidak diketemukan
kelainan organik tapi si penderita mengeluh nyeri hebat, umumnya
keluhan berupa sakir kepala, sakit perut dan lain-lain (Kozier, 2009).