Anda di halaman 1dari 2

Setelah rezim Soekarno runtuh ditahun 1966, banyak seniman Lekra yang ditahan,

dibunuh, dan melarikan diri. Sedangkan seniman lain yang berafiliasi ke partai politik, sepertri
LKN dan Lesbumi, diakhir Tahun 1960-an mulai pasif. Akibatnya di Surabaya yang dominan
adalah seniman non PKI dan non afiliasi ke partai politik. Para seniman independen yang
tergabung dalam gerakan Manikebu (Manifestasi Kebudayaan) mendominasi perkembangan
seni rupa di Surabaya. Kelompok Manikebu itu adalah M Daryono, Rudi Isbandi, Amang
Rahman, Krishna Mustadjab, dan sebagainya. Sebagian dari merekalah yang kemudian
mendirikan AKSERA Tahun 1974.
Ditahun 1970-an mulai semarak perkembangan seni rupa di Surabaya. Sebab ada
beberapa lembaga yang berpengaruh terhadap perkembangan seni rupa Surabaya saat
itu. Pertama, pengaruh Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Kedua, pengaruh lembaga
kesenian seperti Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dan Bengkel Muda Surabaya (BMS).
Aksera sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan seniman dan kesenian Surabaya.
Aksera melahirkan pelukis seperti Nuzurlis Koto, Hardi, Dwijo Sukatmo, Makhfoed, Thalib
Prasodjo, Hardjono W.S, Suud, Poerono Sambowo, Hasan Busro, Agus Kemas, Nunung W.S,
Hari Matrais, Abraham, Akuat Pribadi, Serudi Sera, Bambang Haryadjie (Bambang Telo),
Arifin Hidayat, Yahya Ramsech, Sugeng, dan pematung Soesiyar. Mereka mengembangkan
kebebasan berpikir dan berkreasi sesuai dengan masukan dari guru-guru mereka seperti
Muhamad Daryono, OH Supono, Amang Rahman, dan sebagainya. Generasi pelukis Tahun
1970-an sebenarnya sangat beragam, meskipun pengaruh AKSERA sangat besar sekali.
Mereka berkembang secara otodidak, dari Yogyakarta, dan sebagainya. Secara global generasi
pelukis Tahun 1970-an adalah sebagai berikut (selengkapnya lihat: Direktori Seni Rupa di
atas). Abraham (realisme dan surialisme), Agus Kemas (hijrah ke Sumenep), Akuat Pribadi
(ekspresionisme), Arifin Hidayat (realisme, dekoratif, dan eskpresionisme. Ahli taman),
Bambang Haryadjie (ekspresionisme dan dekoratif), Dwijo Sukatmo (abstrak dan kemudian
impresionisme, banyak tema-tema filsafat kehidupan), Hardi (realis-ekspresionisme, hijrah ke
Jakarta), Hardjono W.S (pematung dan pelukis realisme dan ekspresionisme. Dia juga penyair
dan sutradara teater anak-anak), Hari Matrais (lebih banyak ke teater), Hasan Busro (hijrah ke
Jakarta), Liem Keng (sketsa yang bernuansa ekspresionis, dengan warna hitam putih dan media
tinta yang kuat sekali), M. Thalib Prasodjo (realisme dan banyak menggambar sketsa hitam
putih), Makhfoed (surealisme dengan tema dominan alam kehidupan ala Miro), Nunung W.S
(realisme dan ekspresionisme, hijrah ke Jakarta, Yogyakarta), Nuzurlis Koto (abstrak),
Poerono Sambowo (realisme dan abstrak), Saiman Dullah (naturalisme), Serudi Sera (pointilis
dan surialisme), Soesiyar (banyak karya patung, patung bertema kehidupan, tetapi disajikan
secara surialisme), Subur Dullah (naturalisme), Sugeng (gaya optik), Suud Endisuseli (banyak
melukis dengan media tinta dengan warna hitam putih. Lukisannya banyak dominan garis
fraktal dan pointilis), Wahjudi D. Soetomo (realisme dan terakhir abstrak, ahli taman), Yahya
Ramsech (realisme dan kaligrafi). Di samping itu Aksera menyelenggarakan Sekolah Minggu
Aksera (SMA). SMA ini melahirkan seniman seperti Wadjie MS dan Sukarno. Bengkel Muda
Surabaya pun menyelenggarakan sekolah minggu seni lukis sehingga banyak seniman muda
yang lahir dari aktivitas BMS ini. Tokoh yang lahir dari BMS adalah Bawong SN, Amir Kiah,
dan Winarto.
Ditahun 1980-an dunia seni rupa Surabaya mulai diramaikan oleh pengaruh pendidikan
seni rupa Fakultas Keguruan Bahasa dan Seni (FKBS) IKIP Surabaya (UNESA). Akibatnya
sejak tahun 1980-an itulah berkembang pelukis dan lukisan yang sangat beragam. Banyak
seniman yang mendapat pengaruh UNESA, lulusan ASRI Yogyakarta, otodidak, STKW, dan
sebagainya. Tidak heran kalau generasi seni rupa Surabaya sejak Tahun 1980-an semakin
beragam.