Anda di halaman 1dari 29

UNIVERSITAS INDONESIA

SINTESIS, KARAKTERISASI, DAN STUDI KINETIK SWELLING PADA


HIDROGEL SUPERABSORBEN YANG TERBUAT DARI NaAlg-g-poly(AA-co-Aam)
DAN ABU SEKAM PADI

MAKALAH REVIEW JURNAL

Diajukan sebagai sebagai Salah Satu Penilaian Tugas Mata Kuliah Kimia Fisik
Terapan Tahun Ajaran 2017/2018

Ahmad Fauzan 1506721522


Nuur Indah Wulan Sari 1406557094
Puti Rahmi Arief 1406557200

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM STUDI KIMIA
DEPOK
NOVEMBER 2017
ABSTRAK

Asam amino alginate-g-poly (akrilat asam-ko-akrilamida) / abu sekam padi (NaAlg-gP


(AA-co-AAm) / RHA) disintesis oleh kopolimerisasi radikal bebas alginat (NaAlg) asam
akrilat (AA), akrilamida (AAm), dan RHA dalam larutan. Spektrum FTIR mengungkapkan
bahwa monomer dicangkokkan ke rantai NaAlg, dan nanokomposit terbentuk dengan sukses.
Penggabungan RHA ke dalam matriks hidrogel membentuk saluran saling terikat berantai
dengan jaringan hidrogel. Nanokomposit superabsorbent menunjukkan kapasitas swelling
ekuilibrium yang lebih besar (1070 g / g) dibandingkan dengan hidrogel saja (830 g / g). Selain
itu, mekanisme penyerapan air dari semua hidrogel adalah jenis difusi non-ficki. Pengukuran
reologi memastikan peran RHA yang efektif dalam meningkatkan kekuatan gel nanokomposit
superabsorben. Pengaruh berbagai faktor, seperti perbedaan beban (0,3, 0,6, 0,9 psi), pH
larutan, larutan garam, dan suhu pada perilaku swelling hidrogel juga diukur. Nanokomposit
Superabsorbent menunjukkan reversibilitas swelling tergantung pH dan kemampuan retensi air
yang tinggi, sehingga menghemat bahan hemat air untuk aplikasi pertanian dan hortikultura.

Kata kunci : Nanokomposit Superabsorbent, Natrium Alginate, Kinetika Swelling, Abu Sekam
Padi, Retensi Air

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan. Tugas ini sebagai salah satu penilaian tugas mata kuliah Kimia Fisik
Terapan tahun ajaran 2017/2018 yaitu suatu review jurnal yang berjudul Superabsorbent
hydrogel made of NaAlg-g-poly(AA-co-AAm) and rice husk ash : Synthesis,
characterization, and swelling kinetic studies. Ditambah dengan beberapa tinjauan
kepustakaan dalam memahami beberapa hal yang tidak dapat dijelaskan secara mendetail di
dalam jurnal.
Bersama ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi, baik langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan tugas ini. Terutama
kepada Ibu Helmiyati selaku dosen mata kuliah Kimia Fisik Terapan ini. Kekurangan adalah
suatu keniscayaan manusia. Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa karya tulis ini memiliki
banyak kekurangan, baik dalam isi maupun sistematikanya. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini.
Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada pembaca dari hasil makalah ini.
Karena itu penulis mengharapkan semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat,
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Depok, 18 November 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

ABSTRAK............................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 3
2.1 Hidrogel Superabsorben...... ..................................................................... 3
2.2 Sodium Alginat ....................................................................................... 3
2.3 Studi Kinetic Swelling ............................................................................. 3
2.4 Abu Sekam Padi ...................................................................................... 4
2.5 Retensi Air .............................................................................................. 4
BAB 3. METODE PENELITIAN.................................................................... 6
3.1 Alat dan Bahan ......................................................................................... 6
3.2 Sintesis Nanosilika ................................................................................... 6
3.3 Sintesisi Superabsorban Nanokomposit .................................................. 6
3.4 Karakterisasi ............................................................................................. 6
3.5 Pengkajian sifat ........................................................................................ 6
3.5.1 Pengukuran Kinetik Swelling......................................................... 7
3.5.2 Pengukuran daya serap air dalam berbagai berat ........................... 7
3.5.3 Analisa Reologi .............................................................................. 7
3.5.4 Kinetika Deswelling dalam Larutan Garam ................................... 8
3.5.5 Pengaruh pH pada Aktivitas Swelling ........................................... 8
3.5.6 Evaluasi Kemampuan Reswelling ................................................. 8
3.5.7 Perilaku Retensi Air ....................................................................... 9
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 10
4.1 Mekanisme Sintesis Superabsorban............................................................ 10
4.2 Analisis Spektra FTIR .............................................................................. 10
4.3 Analisis Termogravimetri ....................................................................... 11
4.4 Analisis Morfologi ................................................................................... 13
4.5 Studi Kinetik Swelling ............................................................................. 14
4.6 Aktivitas Sweling pada berbagai tekanan ................................................ 17
4.7 Analisa Reologi ....................................................................................... 18
4.8 Pengaruh pH pada aktivitas Swelling ....................................................... 19
4.9 Studi Kinetik Deswelling dalam larutan Garam....................................... 20
4.10 Studi Kemampuan Reswelling ............................................................... 22
4.11 Studi Retensi Air pada Suhu Konstan .................................................... 23
BAB 5. PENUTUP............................................................................................ 24
5.1 Kesimpulan..................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hidrogel superabsorben (SHs) adalah jaringan crosslinked polimer tiga dimensi yang
tidak larut dalam air yang dapat menyerap dan mempertahankan sejumlah besar larutan
berair atau cairan biologis dalam strukturnya sendiri bahkan pada tekanan tertentu (Bao,
Ma, & Li, 2011; Tally & Atassi, 2015). Kapasitas swelling (swelling) dan penyimpanan air
yang baik serta biodegradabilitas SH yang diinginkan membuat mereka dapat diterapkan
di berbagai bidang seperti pertanian (Curcio & Picci, 2008), produk kebersihan
(Kosemund, Schlatter, Ochsenhirt, Krause, Marsman & Erasala, 2009 ), sistem pengolahan
limbah (Merino, Martn, Kostarelos, Prato & Vzquez, 2015), teknik pengeringan (Kas
gz, Durmus & Kas gz, 2008), teknik jaringan (Wang, Strand, Du & Vrum, 2010) .
Terutama, SHs disintesis oleh reaksi silang dari polimer berbasis sintetis atau alami.
Tingginya biaya produksi serta dampak lingkungan yang serius dari hidrogel berbasis
sintetis telah menyebabkan pemanfaatannya yang luas menjadi sangat terbatas (Rodrigues
et al., 2012; Wang & Wang, 2010). Sebaliknya, polimer alam telah mendapat perhatian
besar sebagai kandidat untuk menghasilkan superabsorben karena kandungannya seperti
kelimpahan, biodegradabilitas, dan toksisitas (Roy, Saha, Kitano & Saha, 2012). Sodium
alginat (NaAlg), polisakarida alami yang tidak beracun yang berasal dari ganggang coklat,
terdiri dari unit asam-d-mannuronat berikatan (1-4) -dan-asam guluronik dengan berbagai
proporsi yang dapat diatur ke dalam urutan yang berbeda di tulang punggung polimer
(Pereira, Carvalho, Vaz, Gil, Mendes & Brtolo, 2013). Sifat unik NaAlg seperti non
toxicity, biocompatibility, biodegradability, dan biaya yang relatif rendah menjadikannya
bahan yang paling menarik dalam aplikasi farmasi, biomedis, dan pertanian (Is klan, Kurs
un & Inal, 2010).
Terlepas dari kelebihan ini, hidrogel berbasis alginat memiliki kekuatan mekanis yang
buruk. Kopolimerisasi graft monomer vinil hidrofilik seperti asam akrilat (AA) dan
akrilamida (AAm) ke rantai alginat adalah salah satu metode yang paling menjanjikan
untuk memperbaiki sifat mekanik jaringan hidrogel berbasis alginat (Pourjavadi, Amini-
Fazl & Hosseinzadeh, 2005; Yadav, Mishra, Pasir & Behari, 2011). Selain itu,
penggabungan nanofill anorganik dengan biaya rendah menjadi matriks hidrogel adalah
strategi lain, yang tidak hanya dapat mengurangi biaya produksi akhir tetapi juga dapat
memperbaiki sifat mekanik, termal, dan penghalang, serta karakteristik swelling dan
adsorpsi dari hidrogel murni. Fitur baru atau peningkatan nanocomposites superabsorbent
ini terutama disebabkan oleh interaksi antar muka yang kuat antara nanofillers dan matriks
polimerik (Hubbe, Rojas, Lucia & Sain, 2013; Zhou, Fu, Zhang & Zhan, 2013).
Silika (SiO2) adalah bahan baku dasar yang digunakan secara luas dalam aplikasi
teknologi sebagai agen thixotropic, isolator termal, dan pengisi polimer (Liou, 2004).
Dibandingkan dengan pendekatan konvensional untuk produksi silika, insinerasi sekam
padi (RH), produk sampingan berasosiasi agroindustri, adalah jalur yang lebih mudah dan
hemat biaya yang menghasilkan nanopartikel silika dengan kemurnian tinggi dan luas

1
permukaan yang tinggi (Chandrasekhar, Pramada & Praveen, 2005). Penggabungan
nanopartikel silika menjadi matriks hidrogel dapat meningkatkan kapasitas swelling SH,
yang merupakan faktor penting untuk eksploitasi dalam aplikasi pertanian dan
hortikultura. Selain itu, efek hidrofilisitas dari nanopartikel silika yang diperkenalkan
dapat memperbaiki kemampuan retensi air dari komposit hidrogel. Selain itu, interaksi
ikatan hidrogen di antara kelompok fungsional kelompok hidrogel dan hidroksil dari
nanopartikel silika dapat membangun ikatan silang fisik tambahan di dalam jaringan
hidrogel, mendorong peningkatan kekuatan mekanis sampel hidrogel (Cndido et al.,
2013; Olad, Gharekhani, Mirmohseni, & Bybordi , 2017). Selain itu, silika, mikronutrien
penting pada tanaman, dapat dengan mudah diserap oleh roottip tanaman setelah degradasi
hidrogel di media tanah. Ini sangat mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman karena
kekurangannya menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi lainnya. Silika juga secara efektif
memperbaiki ereksi daun dan tangkai pada tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman
terhadap hama, penyakit, dan pembekuan, dan mengurangi kerugian transpirasi pada
tanaman (Suriyaprabha et al., 2012; Yuvakkumar, Elango, Rajendran, Kannan & Prabu,
2011 ). Karakteristik bagus ini memungkinkan nanopartikel silika digunakan sebagai
pengisi dalam berbagai matriks hidrogel. Jean de dan rekan kerja (Cndido et al., 2012),
komposit hidrogel yang disintesis berdasarkan abu sekam poli (akrilamida-ko-akrilat) /
beras. Mereka menunjukkan bahwa komposit hidrogel memiliki perilaku sensitif garam
dan pH. Selain itu, komposit hidrogel memiliki kehilangan kapasitas swelling yang lebih
rendah selama siklus swelling / pengeringan dibandingkan dengan hidrogel yang apik.
Pengaruh berbagai sampel sekam padi (RHA), diperoleh pada kondisi suhu yang berbeda,
pada perilaku swelling komposit hidrogel juga dipelajari pada pekerjaan lain (Cndido et
al., 2013).

1.2 Perumusan Masalah


1. Bagaimana mekanisme sintesis nanocomposite superabsorbent terjadi?
2. Seperti apa hasil analisis FTIR, Thermogravimetri, dan morfologi dari nanocomposite
superabsorbent?
3. Bagaimana pengaruh pH terhadap perilaku swelling dari nanocomposite
superabsorbent?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan nanocomposum
superabsorbent NaAlg-graft-poli (AA-co-AAm) / RHA (SH / RHA) dan mengevaluasi
kemungkinan penggunaannya dalam aplikasi pertanian dan hortikultura. Untuk
mengurangi biaya produksi dan juga untuk memperbaiki atau bahkan membuat properti
baru di hidrogel yang disintesis, RHA, sumber silika yang hemat biaya, diadopsi sebagai
pengisi. Efek dari penggabungan nanopartikel silika ke dalam jaringan hidrogel pada
kapasitas penyerapan air, swelling kinetik, daya serap air di bawah beban (AUL), kekuatan
mekanik, dan kemampuan bertahan, serta perilaku retensi air pada suhu konstan dievaluasi.
Selain itu, pembalikan swelling tergantung pH dan desakan kinetik dalam larutan garam
berbeda diselidiki.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hidrogel Superabsorben

Hidrogel superabsorben (HSA) adalah suatu istilah yang mencakup jenis polimer yang
mempunyai kemampuan mengabsorbsi air ratusan kali berat keringnya. Setiap jenis polimer ini
mempunyai cara yang berbeda dalam mencapai karakteristik superabsorben. Namun demikian,
HSA sangat efektif dalam mengabsorbsi air. HSA pada hakikatnya adalah polimer berikatan
silang yang mempunyai kemampuan mengabsorbsi air beberapa ratus kali berat keringnya, dan
tidak larut dalam air karena adanya struktur ikatan silang tiga dimensi pada jaringan polimernya.
Bentuknya mirip air karena polimer tersebut hampir seluruh bagiannya mengandung air. Karena
sifat yang unik tersebut, hidrogel ini mempunyai potensi aplikasi yang luas sebagai wadah
penyimpan air di daerah pertanian yang kering, salju buatan , sumber air cadangan pada tanaman
holtikultura , penyerap zat warna , pemekatan senyawa menguap , eliminasi air tubuh , absorpsi
bakteri dan jamur pada pembalut luka , dan imobilisasi urea untuk pupuk buatan .
Salah satu bahan baku yang dapat dipakai untuk pembuatan HSA adalah akrilamida (AAm).
Akrilamida merupakan bahan baku paling populer untuk pembuatan polimer poliakrilamida
(PAAm), sebagai media penunjang dalam elektroforesis dan matriks penyimpan air (soil
conditioner) pada daerah kering. Sesuai dengan kemajuan di bidang penelitian dan teknologi,
maka pada beberapa tahun belakangan ini penelitian yang berkaitan dengan polimer PAAm
sedang dikembangkan secara intensif.

2.2 Natrium Alginat

Natrium alginat merupakan suatu polisakarida yang diekstraksi dari ganggang coklat
menggunakan larutan basa encer. Natrium alginat mempunyai gugus karboksilat yang
dapat terion menjadi bermuatan negatif. Secara fisik natrium alginat berupa serbuk
berwarna putih kekuningan hingga coklat, tidak berbau dan tidak berasa.
Natrium alginat merupakan garam natrium dari asam alginat, polimer glukuronan
linier yang terdiri dari asam -(1-4)-D manosiluronat dan residu asam -(1-4)-L-
gulosiluronat. Natrium alginat larut dalam air membentuk koloid kental dan tidak larut
dalam medium dengan pH kurang dari 3, etanol, dan pelarut organik lainnya. Larutan
natrium alginat stabil pada pH 4 sampai 10. Viskositasnya dapat bervariasi, tergantung
pada konsentrasi, pH, temperatur, atau adanya ion logam. Viskositas larutan akan
menurun pada pH larutan diatas 10. Derajat disosiasi untuk monomer asam mannuronat
dan guluronat adalah sekitar 3,38 dan 3,65.
Natirium alginat tidak larut dalam air, karena itu yang digunakan dalam industri
adalah dalam bentuk garam natrium dan garam kalium. Salah satu sifat dari natrium
alginat adalah mempunyai kemampuan membentuk gel dengan penambahan larutan
garam-garam kalsium seperti kalsium glukonat, kalsium tartrat dan kalsium sitrat.
Pembentukan gel ini disebabkan oleh terjadinya kelat antara rantai L-guluronat dengan
ion kalsium (Thom, dkk., 1980).

3
Gambar 1. Struktur Natrium Alginat

2.3 Laju pengembang (Swelling) Superabsorben

Kinetika dan proses absorpsi merupakan faktor yang penting yang perlu diketahui
untuk aplikasi hidogel. Menurut Fatima (2001), proses penyebab terjadinya
pengembangan pada polimer yaitu : (1) Difusi molekul air ke dalam struktur polimer ;
(2) Relaksasi atau perenggangan rantai polimer yang terhidrasi dengan ekspansi struktur
polimer dalam air disekitarnya.
Hidrogel, sebuah jaringan polimer tiga dimensi tidak akan benar benar terlarut, tetapi
dapat menyerap sejumlah besar pelarut yang sesuai. Pda penelitian sebelumnya (Erizal,
& Redja, I Wayan. 2010) menyatakan bahwa teori kesetimbangan swelling merupakan
studi teoritis dari suatu jaringan hidrogel yang dapat digunakan untuk menentukan
struktur dan konfigurasi dari rantai serta menganalisis kinetika suatu hidrogel. Jika
polimer hidrogen mengembang (swelling) dalam mediumnya, ini menunjukan bahwa
hidrogel mampu mengadsorb medium cairnya tanpa larut didalamnya. Peningkatan
entropi menyertai fenomena swelling karena volume polimer bertambah dengan
banyaknya molekul medium cair yang teradsorb didalam struktur jaringannya. Pada
proses swelling, kemampuan mengembangnya akan meningkat dengan menurunnya
kemampuan pelarutan. (Gooch, Jan W.2002). kesetimbangan berat rasio swelling dapat
digunakan untuk menggambarkan derajat swelling dan dapat diukur dengan teknik
gravimetri (Berg, et al.2010). Hidrogel direndam dalam air destilasi hingga mencapai
keadaan kesetimbangan. Lalu diambil dan setelah sisa air dihilangkan, kemudian
ditimbang. Pengukuran persen ratio swelling dapat ditentukan dengan rumus berikut :

Dimana Ws = berat swollen hidrogel, dan Wd= berat kering dari hidrogel

2.4 Abu Sekam Padi (Rice Husk Ash)

Sekam padi adalah kulit yang membungkus butiran beras, dimana kulit padi akan
terpisah dan menjadi limbah atau buangan. Jika sekam padi dibakar akan menghasilkan
abu sekam padi. Abu ini dikenal sebagai Rice Husk Ash (RHA) yang memiliki kandungan
silika reaktif sekitar 85%- 90%. Dalam setiap 1000 kg padi yang digiling akan dihasilkan

4
220 kg (22%) kulit sekam. Jika kulit sekam itu dibakar pada tungku pembakar, akan
dihasilkan sekitar 55 kg (25%) RHA. Sekitar 20% dari berat padi adalah sekam padi, dan
bervariasi dari 13 sampai 29% dari komposisi sekam adalah abu sekam yang selalu
dihasilkan setiap kali sekam dibakar. Nilai paling umum kandungan silika (SiO2) dalam abu
sekam padi adalah 94 96% dan apabila nilainya 6 mendekati atau dibawah 90 %
kemungkinan disebabkan oleh sampel sekam yang telah terkontaminasi oleh zat lain yang
kandungan silikanya rendah. Abu sekam padi apabila dibakar secara terkontrol pada suhu
tinggi sekitar (500 600 oC) akan menghasilkan abu silika yang dapat dimanfaatkan untuk
berbagai proses kimia (Prasetyoko, 2001).

Temp Orgin 400 600 700 1000


Bahan (%) (%) (%) (%) (%)
SiO2 88.01 88.05 88.67 92.15 95.48
MgO 1.17 1.13 0.84 0.51 0.59
SO3 1.12 0.83 0.81 0.79 0.09
CaO 2.56 2.02 1.73 1.60 1.16
K2O 5.26 6.48 6.41 3.94 1.28
Na2O 0.79 0.76 1.09 0.99 0.73
TiO2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Fe2O3 0.29 0.74 0.46 0.00 0.43

Tabel 1. Komposisi kimia dari abu sekam padi pada perlakuan temperatur yang berbeda
Sumber : HWANG, C.L., (2002)
2.5 Retensi Air
Retensi berarti penyimpanan atau daya tampung. Retensi air pada hidrogel
merupakan sejumlah air yang terkandung atau ditahan (retained) dalam satu unit
massa/volume hidrogel. Kecepatan dari penyerapan air pada suatu bahan ditentukan oleh
materi penyusun bahan dan juga luas permukaan dari bahan tersebut, semakin luas
permukaan dari bahan maka akan semakin cepat proses penyerapan air oleh bahan.
Materi penyusun dari bahan juga menentukan proses penyerapan air karena berkaitan
dengan rongga yang terdapat pada bahan sehingga dapat menampung air yang terserap.
Kemampuan suatu bahan dalam menyimpan dan menyerap air juga dipengaruhi oleh
adanya kemampuan mengembang dan mengkerutnya bahan sehingga air dapat terserap
masuk ke dalam bahanm (Islami dan Utomo, 1995). Kapasitas penyimpanan air (KPA)
adalah jumlah kapasitas air yang dapat disimpan oleh suatu bahan. Keadaan ini dapat
dicapai jika bahan diberi air sampai terjadi kelebihan air, setelah kelebihan air dibuang.
Jadi pada keadaan ini semua rongga terisi. Keadaan air pada bahan dapat terjadi karena
adanya berbagai macam gaya yang bekerja untuk mempertahankan air tetap di dalam
pori. Gaya gaya yang bekerja untuk menahan air tetap di dalam pori berasal dari absorbsi
molekul air oleh padatan bahan, gaya tarik menarik antar molekul air, adanya larutan
garam dan gaya kapiler (Islami dan Utomo, 1995).

5
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.Bahan
Sodium alginate (NaAlg), Acrylamide (AAm), asam akrilat (AA), N, N'-methylene
bisacrylamide (MBA), ammonium persulfate (APS), natrium klorida, kalsium klorida, dan
heksahidrat klorida besi. Etanol dan Sekam Padi di peroleh dari Iran. Semua reaktan yang
memiliki nilai analitis dan air suling digunakan selama bekerja

3.2.Persiapan Nanosilika
Mula - mula sekam padi dicuci dan dibilas secara menyeluruh dengan air suling untuk
menghilangkan tanah dan debu yang menempel. Setelah itu, untuk menghilangkan kotoran
logam, dilakukan proses pencucian dengan kondisi asam, pertama dengan merefluks dalam
larutan HCl 3% (v / v), dan kemudian merefluks pada larutan berair H2SO4 10% (v / v)
dengan perbandingan 50 g sekam padi / L diaduk dalam labu bulat bulat pada suhu 100 C
selama 2 jam. Setelah itu, dilakukan pencucian sekam padi dengan disaring, dicuci dengan
air suling beberapa kali, dan dikeringkan dalam oven vakum pada suhu 100 C selama 24
jam. Akhirnya, sekam padi kering dibakar dalam tungku pada suhu 900 C selama 5 jam
untuk mencapai abu putih, yang mengandung nanopartikel silika.

3.3.Sintesis Nanokomposit Superabsorben (SH/RHA)


Sejumlah bubuk NaAlg yang telah ditentukan sebelumnya (1 g) secara bertahap
dilarutkan dalam 30 mL air suling dalam labu erlenmeyer 250 mL yang dilengkapi dengan
pengaduk mekanis, kondensor refluks, termometer, dan saluran nitrogen. Kemudian,
sejumlah tertentu dari abu sekam padi (15% massa NaAlg) dituangkan ke dalam larutan
getah NaAlg dalam pengadukan terus menerus. Larutan yang disiapkan dipanaskan sampai
60 C, dan setelah dibersihkan dengan nitrogen untuk menghilangkan oksigen terlarut,
jumlah ammonuim persulphate (APS) yang tepat (5% massa NaAlg) dimasukkan ke dalam
larutan untuk menghasilkan radikal alginat.
Sepuluh menit kemudian, larutan campuran 70% dinetralkan AA (7 mL), AAm (2 g),
dan MBA (0,048% massa monomer) dimasukkan ke dalam labu tetes demi tetes. Setelah
itu, suhu dinaikkan sampai 70 C dan dijaga pada kondisi ini selama 3 jam untuk
menyelesaikan polimerisasi. Produk yang diperoleh dicuci dengan etanol untuk
menghilangkan spesies yang tidak bereaksi, dan kemudian gel yang diekstraksi dikeringkan
dalam oven vakum pada suhu 70 C selama 24 jam. Gel yang dikeringkan digiling dan
diayak melalui saringan untuk percobaan lebih lanjut. Sebagai perbandingan, sampel
hidrogel kontrol (NaAlg-g-poly (AA-co-AAm (SH)), tanpa menambahkan abu sekam padi
, juga dipersiapkan serupa dengan metode yang dijelaskan di atas.

3.4.Karakterisasi
Karakterisasi Struktur kimia nanokomposit NaAlg, RHA, SH, dan SH / RHA di
karakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer FTIR dengan pelet KBr pada panjang
gelombang 400-4000 cm-1. Untuk mengevaluasi stabilitas termal hidrogel yang disiapkan,

6
analisis termogravimetri (TGA) pada kisaran suhu 25-750 C dengan pemanasan 10 C /
menit di bawah tekanan atmosfir nitrogen.
Morfologi permukaan nanokomposit RHA, SH, dan SH/RHA diselidiki melalui
Scanning Electron Microscopy (SEM) yang digabungkan dengan Energy Dispersive X-ray
analyzer (EDX). Studi lebih lanjut mengenai morfologi nanokomposit SH/RHA dilakukan
melalui Transmission Electron Microscopy (TEM).

3.5.Pengujian Sifat
3.5.1. Pengukuran Kinetika Swelling
Untuk mempelajari Kinetika Swelling dari hidrogel, berat kering sampel hidrogel
sebelum di timbang (Wd) di rendam dalam air suling 100 mL dan dibiarkan pada suhu
kamar. Pada interval waktu tertentu, hasil swelling dari hidrogel diambil dari larutan,
dan setelah disaring dan dikeringkan, beratnya ditimbang secara akurat (Wt). Proses
pengukuran ini dilanjutkan sampai sampel swelling hidrogel mencapai berat konstan
(berat kesetimbangan Swelling (Wei)). Kapasitas Swelling (Qt) dan kapasitas
kesetimbangan swelling (Qeq) dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

3.5.2. Pengukuran Daya Serap Air di bawah Kapasitas (AUL)


Kapasitas penyerapan air sampel hidrogel dalam larutan 0,9 wt% NaCl dalam kapasitas
yang berbeda diukur sebagai berikut. Pertama, saringan gelas sintered berpori
ditempatkan dalam cawan petri, dan kemudian sampel hidrogel kering tertimbang (0,1
g, yang di saring dengan saringan 40 -80 mesh) dimasukkan secara acak ke kain kawat
(100 mesh) yang terletak di pelat filter kaca sintering permukaan. Kemudian, silinder
kaca ditempatkan pada kain kawat sehingga bisa mengelilingi partikel hidrogel. Setelah
itu, kapasitas padat silinder dilewatkan melalui silinder kaca dan diletakkan pada
partikel hidrogel kering untuk menghasilkan kapasitas yang berbeda (0,3,0,6, dan 0,9
psi). Setelah itu larutan encer 0,9 wt% NaCl dicuci ke dalam cawan petri sampai tingkat
larutan mencapai tinggi pelat saringan gelas sinter. Untuk menghindari adanya
penguapan permukaan yang memungkinkan perubahan konsentrasi larutan garam,
cawan petri dan bagian lainnya ditutupi dengan benar. Pada interval waktu tertentu,
sampel hidrogel yang ditimbang secara akurat, dan kemudian AUL ditentukan
menggunakan metode serupa seperti yang dijelaskan sebelumnya.

3.5.3. Analisis Reologi


Sifat reologi dari sampel hidrogel SH dan SH / RHA diselidiki dengan menggunakan
Rheometer Anton Paar pada suhu 25 C yang dilengkapi dengan geometri piring pelat
(diameter pelat 25 mm dan celah 1 mm). Uji tegangan sweep pertama dilakukan pada
sampel hidrogel pada frekuensi konstan = 10 Hz yang mana untuk menentukan
daerah viskoelastis linier (LVE), dimana modulus penyimpanan (G ') dan modulus
kehilangan (G ") bebas dari amplitudo tegangan. Kemudian, uji sweep frekuensi

7
dilakukan pada tegangan konstan (=R,5) untuk mempelajari perilaku viskoelastik
sampel hidrogel di wilayah LVE pada rentang frekuensi sudut yang lebar (0,1-100 Hz).

3.5.4. Kinetika Deswelling Dalam Larutan Garam


Untuk mempelajari kinetika deswelling sampel hidrogel, jumlah sampel hidrogel kering
yang telah ditentukan pertama kali direndam dalam air suling, dan memungkinkan
untuk mencapai kapasitas kesetimbangan swelling itu sendiri. Setelah itu, sampel
hidrogel yang telah di swelling dikeluarkan dari larutan, dan setelah menghilangkan air
di permukaan berlebih dengan kertas saring, lalu direndam dalam larutan garam 0,1 M
dari NaCl, CaCl2, dan FeCl3. Pada interval waktu tertentu, sampel hidrogel dipisahkan
dari larutan garam dengan kertas saring, dan kemudian ditimbang untuk menentukan
kapasitas swelling sesuai metode yang telah dijelaskan sebelumnya.

3.5.5 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Swelling


Untuk mengetahui aktivitas swelling sampel hidrogel pada berbagai media dengan pH
yang berbeda berkisar antara 2 sampai 12 disiapkan dengan mengencerkan larutan
NaOH (0,1 M) dan HCl (0,1 M). Kapasitas swelling ekuilibrium dari sampel hidrogel
pada masing masing nilai dihitung dengan metode yang sudah dilakukan sebelumnya
(persamaan pada 2.5.1). Selain itu reversibilitas swelling hidrogel yang bergantung
pada pH dievaluasi pada larutan dasar (pH = 8 ) dan asam (pH = 2) dan dibiarkan
mengembang pada suhu kamar. Hidrogel yang mengembang diambil dari larutan dasar
pada interval waktu yang berbeda dan setelah itu, air berlebih yang terdapat di
permukaan diseka dengan kertas saring, beratnya ditimbang untuk menentukan
kapasitas swelling. Percobaan ini dilanjutkan sampai sampel hidrogel mengembang
mencapai kapasitas swelling ekuilibrium. Setelah itu, sampel hidogel yang
mengembang diseimbangkan dengan memindahkan ke larutan asam (pH = 2).
Pengukuran kapasitas swelling sama dengan prosedur yang dilakukan pada larutan
dasar. Siklus swelling/deswelling (pengembangan pada larutan dasar dan deswelling
dalam larutan asam) dilakukan selama tiga kali dimana interval waktu antara dua siklus
berturut-turut adalah 30 menit.

3.5.6. Evaluasi Kemampuan Reswelling


Kemampuan sampel hidrogel bertahan diperiksa melalui pengukuran kapasitas
swelling ekuilibrium sampel hidrogel selama siklus reswelling/ pengeringan berurutan.
Untuk tujuan ini, sampel hidrogel kering ditimbang, lalu direndam dalam air berlebih
dan dibiarkan mengembang sampai mencapai kapasitas swelling equilibrium.
Kemudian, sampel hidrogel yang mengembang diambil dari larutan dan ditimbang, lalu
dikeringkan sampai berat konstan dalam oven vakum pada suhu 80 C. Sampel
hidrogel kering direndam lagi dalam air suling untuk menentukan kapasitas swelling
nya. Siklus reswelling/pengeringan ini dilanjutkan sampai lima kali, dan akhirnya
kehilangan kapasitas swelling ekuilibrium diukur untuk setiap sampel hidrogel.

8
3.5.7. Perilaku Retensi Air
Untuk mengetahui perilaku retensi air sampel hidrogel pada suhu konstan, hidrogel
yang mengembang ditimbang berat sebelumnya (Weq), lalu diseimbangkan dalam air
suling ditempatkan dalam oven vakum pada suhu 80 C. Hidrogel yang mengembang
ditimbang setiap 1 jam (Wt), dan kemudian persentase penyimpanan air (WR%)
dihitung dengan menggunakan Persamaan. (3).
Wt Wd
%WR = WeqWd
Dimana Wd adalah berat kering sampel hidrogel sebelum pembengkakan.

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Sintesis mekanisme superabsorbent nanocomposite


Kopolimerisasi graft monomer AA dan AAm ke tulang punggung rantai alginat
dilakukan dengan teknik polimerisasi radikal bebas dalam media berair yang mengandung
inisiator (APS), agen pengikat silang (crosslinking agent / MBA), dan pengisi (RHA)
(Skema 1). Pertama, radikal anion sulfat yang dihasilkan oleh disosiasi termal molekul
APS, atom hidrogen abstrak dari kelompok fungsional rantai NaAlg membentuk radikal
alkoksi. Radikal makro ini bertindak sebagai pusat donor radikal bebas ke monomer
terdekat, yang menghasilkan proses inisiasi awal. Seiring rantai yang yang di tambahkan
tumbuh, radikal bebas pada kopolimer graft dapat digabungkan bersama (self crosslinking)
atau dengan kelompok vinil akhir molekul MBA, yang menyebabkan pembentukan
struktur berikatan silang. Pada saat yang sama, RHA yang mungkin bertindak sebagai agen
pengikat silang fisik membangun jaringan hidrogel akhir

Gambar 2. Reaksi sintesis nonokomposit superabsorben

4.2.Analisis spektra FTIR

Spektrum FTIR NaAlg, RHA, SH, dan SH / RHA telah digambarkan pada Gambar 3
Spektrum FTIR NaAlg memili puncak adsorpsi pada 892 cm-1 dan 943 cm-1 , yang mana
menyebabkan adanya strecthing vibrasi dan ikatan gugus Na-O. Puncak pada 1031 cm-1
dan 1095 cm-1 berperan untuk vibrasi strecthing dari gugus (-C-OH) dari struktur
polisakarida NaAlg. Juga, puncak adsopsi 1651 cm-1 dan 1415 cm-1 sesuai simetri dan
asimetri strecthing vibrasi dari gugus karboksilat (COO-). Selain itu, puncak luas yang
diamati pada 3314 cm-1 disebabkan oleh mode strecthing vibrasi yang merupakan gugus
hidroksi (O-H). Sepeti ditunjukan pada spektrum FTIR RHA, puncaknya muncul pada 469
cm-1 , 802 cm-1 , dan 1101 cm-1 menyebabkan adanya simetris dan asimetris stretching
vibrasi yang mana merupakan dari ikatan Si-O-Si. Selain itu, pada 1651 cm-1 dan 3619 cm-
1
dianggap berasal dari strecthing vibrasi O-H dari gugus silanol.

10
Untuk SH dan SH / RHA, puncak adsorpsi yang
muncul masing-masing pada 1649 cm-1 dan 1672
cm-1 yang menyebabkan strecthing vibrasi yang
mana merupakan karboksamida dan ikatan vibrasi
N-H dalam gugus amida. Selain itu, mode asimetri
stretching anion karboksilat pada spektrum FTIR
SH dan SH / RHA masing-masing 1545 cm-1 dan
1556 cm-1 , sedangkan pada stretching simetri
ditemukan pada 1461 cm-1 , 1417 cm-1 , dan 1458
cm-1 , dan 1390 cm-1 . Selain itu, mode stretching
vibrasi kelompok C N pada spektrum FTIR SH dan
SH / RHA masing-masing diamati pada 1358 cm-1
dan 1328 cm-1 . Disisi lain, adsorpsi yang disentuh
dari kelompok O H dan N H diidentifikasi oleh
puncak yang luas dan intens antara 3400 cm-1 dan
3600 cm-1

Gambar 3. Spektrum FTIR NaAlg,


SH, SH / RHA, RHA

4.3. Analisis termogravimetri


Pada gambar di bawah ini menunjukan bahwa kurva TGA dan diferensial TGA (DTG)
pada sampel nanokomposit hidrogel SH dan SH / RHA (masing-masing dengan 15 wt%
RHA). Seperti dapat dilihat dari Gambar 4 (a) dan (b) , Kedua sampel hidrogel menunjukkan
proses dekomposisi empat tahap.

11
Gambar 4 . (a) kurva TGA dan diferensial TGA (DTG) pada sampel nanokomposit
hidrogel SH dan (b) SH / RHA.

Tahap pertama antara suhu 50 C dan 110 C disertai dengan sedikit penurunan berat
terkait penguapan sampel air. Selanjutnya , hilangnya hidroksil pada cincin sakarida dan
pemecahan ikatan C-O-C dalam rantai NaAlg dilakukan pada kisaran temperatur 110-
248C, yang diidentifikasi sebagai tahap degradasi kedua. Tingkat dekomposisi maksimum
pada tahap degradasi pertama dan kedua untuk SH dan SH / RHA terjadi pada masing-
masing 90 C, 239C, dan 98C dan 243C Hasil ini menyiratkan bahwa SH / RHA
memiliki stabilitas termal yang lebih besar dan kemampuan mempertahankan kelembaban
yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampel hidrogel yang murni. Penurunan berat
masing-masing SH dan SH / RHA pada rentang suhu 333-402C dan 340-412C disebabkan
oleh dekomposisi termal gugus karboksil dan amida dari kopolimer, yang dikaitkan dengan
emisi amonia dan gas lainnya.
Suhu degradasi maksimum (Tmax) untuk sampel SH dan SH / RHA masing-masing
adalah 440C dan 448C. Penurunan berat terbesar pada suhu ini dapat dikaitkan dengan
pembentukan anhidrida oleh asosiasi dua kelompok karboksilat di rantai polimer dan
penghilangan molekul air, kerusakan rantai kopolimer, dan penghancuran struktur jaringan
crosslinked. Sampel SH / RHA menunjukkan penurunan berat yang lebih rendah dalam
kisaran suhu 30-742C dibandingkan dengan sampel SH. Juga, yield yang di dapat pada
SHL SH / RHA pada 742C masing-masing sekitar 40,54% dan 49,52%. Hasil ini
menunjukkan bahwa penggabungan RHA ke dalam matriks hidrogel dapat secara signifikan
memperbaiki stabilitas termal sampel hidrogel. Temuan ini sangat sesuai dengan hasil yang
diperoleh peneliti lain.
Menurut penelitian (Huang, Lu & Xiao, 2007). yang berjudul Thermal and mechanical
properties of cationic guar gum/poly(acrylic acid) hydrogel membranes kami
membandingkan dengan penelitian lainnya yang menggunakan CGG dimana hasil
penelitiannya ditunjukkan oleh gambar 7

Kurva TGA dari semua sampel ditunjukkan pada Gambar 7, CGG murni menunjukkan
proses degradasi satu langkah dalam kisaran 250-300 C, yang ditandai dengan penurunan

12
berat sekitar 50,6% wt. Ini mungkin disebabkan oleh hilangnya kelompok hidroksil CGG
sebagai molekul air dan disintegrasi rantai makromolekul CGG sedangkan tingkat
dekomposisi maksimum pada tahap degradasi pertama dan kedua untuk SH dan SH / RHA
terjadi pada masing-masing 90 C, 239C, dan 98C dan 243C dengan begitu SH / RHA
memiliki stabilitas termal yang lebih besar dan kemampuan mempertahankan kelembaban
yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampel hidrogel yang murni. PAA murni
menunjukkan mekanisme dua langkah untuk degradasi termal. Langkah pertama yang
dimulai pada 230 C sesuai dengan pemecahan ikatan kimia pada kelompok-kelompok sisi
dengan pembentukan struktur siklik

4.4. Analisis Morfologi


Analisis morfologi yang digunakan pada penelitian kali ini menggunakan TEM dan FE-
SEM. Hal di tunjukan oleh gambar di bawah ini. Gambar 2 (a) dan (b) menunjukan gambar
SEM dari RHA. Pada gambar 2 (a) tersebut menunjukkan bahwa distribusi partikel silika
hampir homogen dengan dimensi lebih rendah dari 100 nm sedangkan (b) dapat
disimpulkan bahwa RHA memiliki lebih banyak pori pori ( seperti di tunjuk oleh panah)
yang di sitribusikan dari dalam abu. Oleh karena itu, silika yang di peroleh adalah material
yang sangat berpori dengan luas permukaan yang besar. Gambar SEM dari SH di tunjukkan
oleh gambar 2 (c) dan (d) yang mana permukaannya relatif lebih halus dengan porositas
yang renda, hal ini di sebabkan karena adanya penurunan kapastas air. Menurut gambar
SEM dari SH/RHA atau yang terlihat di gambar 2 (e) dan (f), terlihat bahwa dengan adanya
RHA matriks polimer hidrogel mempresentasikan struktur mirip bola dengan dimensi yang
lebih rendah dari 100 nm.

Selain itu, pada Gambar 2 (g), SH / RHA memiliki struktur interlaced dengan porositas
tinggi, yang dihasilkan dari efek fisik crosslinking RHA yang tergabung. Struktur berpori
yang tidak beraturan pada permukaan SH / RHA (Gambar 2 (g)) disebabkan dengan
distribusi nanopartikel silika yang tidak homogen dalam jaringan hidrogel, yang dapat
dilihat dengan jelas dari analisis pemetaan elemen SH / RHA seperti yang di tunjukkan oleh
gambar 2 (h), sedangkan Gambar 2 (i), nanopartikel silika muncul sebagai daerah buram,
yang dikelilingi oleh pori-pori jaringan hidrogel yang tidak beraturan. Gambar 2 (j)

13
menunjukkan daerah interkoneksi yang tembus cahaya dalam jaringan hidrogel, yang
menyiratkan struktur berpori bertingkat tiga dari superabsorbent nanocomposite SH/RHA.

4.5 Studi Kinetik Swelling

Gambar 3. Kurva kinetik swelling dari SH dan SH/RHA pada proses pendidihan dengan air (a),
plot t/W terhadap t (b), plots of Ln (Wt/W) terhadap Ln (t) (c), plot of Wt/W terhadap t (d)

Gambar 3 (e) plot dari Ln (1 Wt/W) terhadap t pada SH dan SH/RHA sampel hidrogen

Untuk mengetahui pengaruh RHA terhadap kapasitas swelling dan kinetika swelling
hidrogel yang disintesis, pengukuran kinetik swelling dilakukan pada air suling sebagai
media swelling. Seperti ditunjukkan pada Gambar 3 (a) untuk sampel SH dan SH / RHA,
kinetika swelling mengikuti tren yang sama. Kapasitas swelling dari kedua sampel hidrogel
meningkat dengan cepat selama periode awal setelah perendaman, dan kemudian proses
swelling yang lebih lambat terjadi sampai kapasitas swelling ekuilibrium tercapai. Dari
Gambar 3 (a) dapat dilihat bahwa, difusi molekul air ke jaringan hidrogel SH / RHA pada
periode awal terjadi dengan laju yang lebih cepat dari pada SH. Hal ini dapat dikaitkan
dengan struktur berpori SH / RHA, yang meningkatkan area permukaan kontak, dan dengan

14
demikian menginduksi tingkat swelling yang lebih tinggi. Selanjutnya, kanal berpori tiga
dimensi yang saling terkait dalam jaringan SH / RHA menghambat penetrasi molekul air ke
dalam jaringan hidrogel, memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas
swelling ekuilibrium, dan oleh karena itu mengurangi tingkat penyerapan air dibandingkan
dengan sampel SH. Peristiwa ini dapat dilihat dari kurva kinetik, dimana SH / RHA
membutuhkan waktu lebih lama (9470 menit) untuk mencapai kapasitas swelling
ekuilibrium sendiri, sementara kapasitas penyerapan air ekuilibrium SH dicapai dalam
waktu 2930 menit. Kapasitas swelling ekuilibrium dari sampel SH adalah 830 gg-1,
sementara sampel SH / RHA menunjukkan kapasitas penyerapan air yang lebih tinggi 1070
gg-1 pada keadaan ekuilibrium. Hal ini disebabkan oleh gaya repulsif elektrostatik yang
lebih tinggi antara kelompok karboksilat matriks hidrogel dan muatan permukaan negatif
nanopartikel SiO2, yang menghasilkan jaringan hidrogel yang diperluas dan kapasitas
swelling yang lebih besar (Cndido et al., 2013). Kapasitas swelling ekuilibrium
nanokomposit SH / RHA superabsorbent yang dikembangkan dalam penelitian ini lebih
besar daripada komposit hidrogel alginat lainnya yang dilaporkan dalam literatur (Hua &
Wang, 2009; Rashidzadeh et al., 2014; Wang & Wang, 2010).

Untuk mengevaluasi kinetika swelling sampel hidrogel yang disintesis, data swelling
eksperimental dinilai dengan model kinetika pseudo kedua berikut ini (Persamaan (4))
t/W = A + Bt
A = 1 / ks W2
B = 1 / W
Dimana W (g.g-1) adalah kapasitas swelling pada waktu t (min); Parameter A (g min g-1)
mengaitkan tingkat swelling awal [(dW / dt) 0] dari hidrogel ; ks (g.g-1min-1) adalah
kecepatan konstan ; W (g.g-1) adalah kapasitas penyerapan air ekuilibrium (Rashidzadeh,
Olad & Reyhanitabar, 2015). Plot t / W terhadap t (Gambar 3 (b)) memberikan garis lurus
dengan koefisien korelasi linier yang bagus, yang menunjukkan bahwa kinetika swelling
sampel hidrogel memiliki ketepatan yang lebih baik terhadap model pseudo kedua. W dan
k ditentukan melalui kemiringan dan titik titik dari garis lurus diplot masing-masing, dan
dikumpulkan pada Tabel 2. Menurut hasilnya, kapasitas swelling ekuilibrium (W) untuk
SH dan SH / RHA diperoleh sebagai 833,3 (gg-1) dan 1111.11 (gg-1), yang mendekati nilai
eksperimen tersebut. Selain itu, konstanta laju swelling SH lebih tinggi dari pada SH / RHA.
Hal ini disebabkan oleh struktur berpori tiga dimensi yang saling terkait sampel SH / RHA,
yang menghambat difusi larutan berair ke dalam jaringan hidrogel, memperpanjang waktu
untuk mencapai kapasitas swelling ekuilibrium, dan akibatnya mengurangi laju swelling.
Untuk menentukan mekanisme difusi air dari sampel hidrogel, data swelling yang diperoleh
dari 60% pertama dari serapan air fraksional dilengkapi dengan persamaan berikut
(Karadag, zm, & Saraydin, 2005):
Wt/W = ktn

15
Dimana Wt dan W saling berhubungan untuk kapasitas penyeraan air (swelling) pada
waktu t (min) dan pada ekuilibrium, masing-masing. K adalah konstanta proporsionalitas,
dan n menentukan mekanisme difusi molekul air. Untuk sistem hidrogel yang mudah
terbakar, bila n < 0,5, mekanisme difusi adalah jenis difusi fickian. Untuk tipe non fickian
(anomali difusi), n adalah antara 0,5 dan 1,0, dan untuk mekanisme difusi kasus-II (transport
terkontrol relaksasi) n adalah 1.0. Juga, untuk difusi supercase II, n lebih besar dari 1,0 (Kas
gz & Durmus, 2008). Plot Ln (Wt / W) terhadap Ln (t) untuk sampel SH dan dan SH /
RHA (Gambar 3 (c)) memberikan garis lurus bahwa nilai n dan k dapat dihitung dari
kemiringan dan intersepnya, masing-masing. Nilai n dan k untuk kedua sampel hidrogel
telah diberikan pada Tabel 2. Seperti ditunjukkan pada Tabel 2, nilai n untuk sampel SH
dan SH / RHA masing-masing adalah 0,785 dan 0,842. Oleh karena itu, mekanisme
pengangkutan air pada kedua sampel hidrogel adalah tipe difusi non fickian.
Untuk lebih mengkarakterisasi perilaku hidrogel pada air suling, koefisien difusi pada
fase gel sampel hidrogel ditentukan dengan metode perkiraan waktu singkat. Metode ini
digunakan untuk 60% dari kapasitas swelling ekuilibrium. Koefisien difusi sampel SH dan
SH / RHA dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Wt/W = 4 (Dt/r2)1/2 (Dt/r2 ) /3 (Dt/r2)3/2
Dimana D adalah koefisien difusi (cm2.min-1), t adalah waktu perendaman (min), dan r
adalah radius (cm) sampel hidrogel. Dengan membandingkan Pers. (7) dengan Pers. (8) dan
dengan asumsi n = 0,5, maka dapat disimpulkan bahwa (Singh & Singhal, 2012):
k = 4 (D/r2) 1/2
Wt/W = 4 (Dt/r2) 1/2
Wt / W terhadap t 1/2 diplot untuk sampel hidrogel (Gambar 3 (d)), dan nilai D ditentukan
dari kemiringan garis, dan tercantum pada Tabel 2. Dapat dilihat bahwa difusi nilai koefisien
(D) untuk SH (0,476 10-7cm2.min-1) lebih besar dari pada SH / RHA (0,379 10-
7cm2.min-1), yang mengindikasikan tingkat difusi molekul air yang lebih cepat pada sampel
SH. Tingkat difusi air yang lebih rendah pada sampel SH / RHA disebabkan oleh saluran
saling terkait antara tiga dimensi dalam jaringannya yang dibuat oleh RHA yang tergabung.
Struktur ini menghalangi penetrasi molekul air ke dalam jaringan hidrogel, memperpanjang
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas swelling ekuilibrium, dan dengan
demikian mengurangi air tingkat difusi.
Konstanta laju penyerapan air hidrogel merupakan parameter penting lainnya yang
menentukan karakteristik diffusionalnya, dan dapat dihitung dari persamaan penyerapan air
berikut (model keruntuhan orde pertama yang mengembang):
Wt = W (1 ekwt)
Dimana t adalah waktu penyerapan (min), kw (min-1) adalah konstanta laju penyerapan air,
dan Wt dan W merupakan kapasitas penyerapan air pada kapasitas penyerapan air waktu
t dan ekuilibrium masing-masing (Karadag, Saraydin, & Gven, 2004) . Plot -Ln (1 - Wt /
W) terhadap t untuk sampel hidrogel telah ditunjukkan pada Gambar 3 (e). Nilai kw
dihitung dari kemiringan plot, dan disajikan pada Tabel 2. Hasilnya menunjukkan bahwa
konstanta laju serapan air SH (0,0025 min-1) lebih tinggi dari pada SH / RHA (0,0017 min-
1) . Hasil ini sesuai kesepakatan dengan sampel yang sebelumnya diperoleh untuk sampel

16
SH dan SH / RHA dengan model kinetik pseudo kedua. Namun demikian, garis lurus diplot
pada model pseudo kedua menunjukan kinetika swelling yang memiliki koefisien korelasi
linier yang baik dibandingkan dengan garis tersebut pada urutan pertama. Oleh karena itu,
kinetika swelling dari kedua sampel hidrogel dapat dibenarkan juga oleh model kinetika
pseudo kedua yang mengalami swelling.
4.6 Aktivitas Sweling pada berbagai tekanan

Gambar. 4. Water absorbency under load (AUL) pada SH (a) dan SH/RHA (b) terhadap fungsi
waktu pada 0.9 wt% larutan NaCl pada perbedaan tekanan (0.3 psi, 0.6 psi, and 0.9psi), dependensi
regangan dari modulus penyimpanan (G ') dan modulus kehilangan (G ") pada frekuensi sudut
konstan ( = 10 Hz) (c), dan ketergantungan frekuensi modulus penyimpanan (G') dan modulus
kehilangan (G) pada regangan konstan (0,5%) untuk sampel SH dan SH / RHA (d)

Kemampuan menyerap air (swelling) dari sampel hidrogel pada berbagai tekanan
merupakan karakteristik penting, yang sangat mempengaruhi potensi aplikasinya dalam
media tanah. Untuk menentukan kapasitas penyerapan air sampel hidrogel pada berbagai
tekanan, kinetika swelling SH dan SH / RHA dinilai dalam larutan berair NaCl (0,9 wt%)
sebagai media swelling pada tekanan yang berbeda (0,3, 0,6, dan 0,9 psi) (Gbr. 4 (a) dan
(b)). Seperti ditunjukkan pada Gambar 4 (a) dan (b), kapasitas swelling dari kedua sampel
hidrogel meningkat dengan cepat pada awal masa pengujian, dan secara terus menerus
nilainya meningkat secara bertahap sampai kapasitas swelling ekuilibrium tercapai. Dalam
kasus SH (Gambar 4 (a)), nilai maksimum AUL dicapai dalam waktu 145 menit untuk setiap
tekanan, dan nilai ini tetap tidak berubah dengan memperpanjang waktu kontak. Sebaliknya,
SH / RHA (Gambar 4 (b)) mencapai nilai maksimum AUL setelah 265 menit pada semua
tekanan, menunjukkan tingkat swelling yang lebih lambat dibandingkan dengan SH.
Menurut Gambar 4 (a) dan (b), kapasitas swelling ekuilibrium SH dan SH / RHA pada
tekanan 0,3, 0,6, dan 0,9 psi adalah 50,14, 42,21, 35,89 gg-1, dan 101,1,88,1, dan 80,8 gg-1,
masing-masing. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai AUL untuk SH / RHA lebih besar dari
pada SH pada semua tekanan. Hal ini disebabkan oleh peran efektif RHA yang tergabung
dalam SH / RHA, yang membuat gaya repulsif elektrostatik yang kuat dengan gugus
17
hidrogel karboksilat, berkembang jaringan hidrogel, dan dengan demikian meningkatkan
kapasitas. Selain itu, dapat diamati bahwa nilai AUL menurun seiring dengan meningkatnya
jumlah tekanan yang diterapkan. Peristiwa ini konsisten dengan fakta bahwa tekanan
terapan yang lebih tinggi menginduksi penipisan lebih besar dari air yang diserap, dan
kapasitas swelling yang lebih rendah.
4.7. Studi reologi
Untuk membuat ukuran komparatif kekuatan gel sampel SH dan SH / RHA serta
mengevaluasi sifat gelnya, analisis reologi dilakukan dengan mencatat respons mekanis
sampel hidrogel dalam rentang frekuensi sudut 0,1-100 Hz. Sampel hidrogel mula mula di
uji regangan pada frekuensi konstan ( = 10 Hz) untuk menentukan daerah LVE dimana G
(modulus penyimpanan) dan G (modulus kehilangan) tidak bergantung pada regangan
yang diterapkan (Gambar 4 (c)). Menurut Gambar 4 (c), di bawah 0,5% deformasi, G dan
G nilai tidak bergantung pada regangan yang diterapkan, yang mengindikasikan daerah
LVE. Dengan demikian, amplitudo regangan ditentukan sebagai 0,5%. G dan G sampel
SH dan SH / RHA sebagai fungsi frekuensi osilasi antara 0,1 dan 100 Hz telah digambarkan
pada Gambar 4 (d). Seperti ditunjukkan pada Gambar 4 (d), keduanya G dan G nilai
sampel hidrogel menunjukkan kecenderungan yang hampir meningkat dalam keseluruhan
rentang frekuensi. Namun, G nilai sampel hidrogel menunjukkan daerah dataran tinggi
pada rentang frekuensi 0,63-25,1 Hz, menyiratkan karakteristik frekuensi independen dari
modulus penyimpanan hidrogel yang disintesis. Menurut hasilnya, dalam sistem hidrogel
sekarang, G nilai jauh lebih besar dari pada G di semua rentang frekuensi. Hal ini
menunjukkan bahwa respon elastis hidrogel secara signifikan lebih kuat daripada respons
kental sampel hidrogel. Oleh karena itu, sampel hidrogel yang disintesis memiliki struktur
jaringan tiga dimensi yang stabil dengan kekakuan mekanis yang baik. Apalagi G nilai SH
/ RHA lebih tinggi daripada SH sepanjang rentang frekuensi, yang menunjukkan jaringan
hidrogel paling tegap SH / RHA. Selain itu, G nilai sampel SH menunjukkan kehilangan
42,66% pada frekuensi akhir 100 Hz dibandingkan dengan nilainya pada 0,1 Hz.
Sebaliknya, SH / RHA menunjukkan kehilangan yang lebih tinggi yaitu 52,44% pada G
sendiri. nilai sebagai frekuensi diubah dari 0,1 menjadi 100 Hz. Temuan ini menunjukkan
bahwa SH / RHA memiliki kekuatan gel lebih tinggi dibandingkan dengan sampel hidrogel
yang rapi (SH). Ada kemungkinan fenomena ini dapat dikaitkan dengan titik silang fisik
tambahan di dalam SH / RHA yang dibuat oleh RHA yang tergabung. Keterikatan silang
fisik ini menahan rantai polimerik erat-erat, dan dengan demikian membangun jaringan
hidrogel yang kuat dengan kekuatan gel yang lebih tinggi.
4.8 Pengaruh pH pada aktivitas Swelling
Gambar 5 (a) menggambarkan perilaku swelling nanokomposit nanokompak SH dan SH
/ RHA dalam larutan berair dengan nilai pH yang berbeda. Seperti ditunjukkan pada Gambar
5 (a), kapasitas swelling kedua hidrogel meningkat secara drastis karena nilai pH meningkat
dari 2 sampai 5 sampai hampir konstan pada kisaran pH 5-7. Dalam melanjutkan, kapasitas
penyerapan air menurun sangat dengan peningkatan nilai pH lebih lanjut sampai 12.
Perubahan ini terbukti pada kemampuan swelling terhadap berbagai nilai pH dapat
dibenarkan sebagai berikut. Dalam media asam (pH <5), gugus karboksilat (-COO-) dalam
matriks hidrogel diubah menjadi gugus asam karboksilat (-COOH). Pada kondisi ini,
interaksi ikatan hidrogen di antara gugus asam karboksilat diperkuat. Interaksi yang kuat ini

18
bertindak sebagai titik pengikat silang tambahan (crosslinkages fisik) menginduksi
peningkatan kepadatan silang fisik sampel hidrogel. Dengan demikian, jaringan hidrogel
cenderung menyusut dan swelling kapasitas menurun. Pada pH yang lebih tinggi (5 <pH
<9), karena penurunan efek H +, interaksi ikatan hidrogen rusak. Selain itu, disosiasi gugus
asam karboksilat (-COOH -COO- + H +) menyebabkan penguatan anion-anion muntah
di antara kelompok karboksilat, yang pada gilirannya membuat swelling hidrogel lebih
lanjut (El-Hamshary, 2007). Namun, kehilangan kapasitas swelling pada larutan yang
sangat mendasar (pH> 9) disebabkan oleh efek perisai ion Na + pada anion karboksilat,
yang mencegah anion anion-repulsi efektif di antara kelompok karboksilat. Oleh karena itu,
sampel hidrogel mengalami perisai akibat efek penyusutan dan kapasitas swelling menurun
(Spagnol et al., 2012).

Visibilitas swelling tergantung pH dari sampel hidrogel SH dan SH / RHA juga diuji
dalam larutan berair dengan pH 2 dan 8 (Gambar 5 (b)). Seperti yang dapat dilihat dari
Gambar 5 (b), pada pH = 8, karena gaya repulsif elektrostatik di antara anion karboksilat,
kapasitas swelling hidrogel meningkat dengan cepat. Tren peningkatan kapasitas swelling
selama proses swelling pada nilai pH ini didefinisikan sebagai pengaktifan. Sebaliknya,
pada pH = 2, karena protonasi gugus karboksilat, kapasitas swelling kedua hidrogel
menurun, tajam. Tren penurunan kapasitas swelling sampel hidrogel juga diidentifikasi
dengan istilah switch off. Setelah tiga siklus swelling / deswelling, kapasitas swelling
ekuilibrium maksimum sampel SH / RHA menunjukkan penurunan yang lebih rendah
dibandingkan sampel SH. Hal ini menunjukkan bahwa nanokomposit nanokompak SH /
RHA memiliki sifat reversibel swelling tergantung pH yang sangat baik. Perilaku swelling
/ desahan yang reversibel dan reversibel (On-Off switching) ini pada berbagai nilai pH
merupakan implikasi dari sistem sensitif pH yang lebih baik, yang lebih menguntungkan
untuk aplikasi pengiriman obat yang terkontrol. Hasil dari penelitian ini sangat sesuai
dengan hasil yang diperoleh dari peneliti lain.

Menurut penelitian (El-Hamshary, 2007) yang berjudul Synthesis and water sorption
studies of pH sensitive poly(acrylamide-co-itaconic acid) hydrogels kami membandingkan
penelitian lainnya yang juga menggunakan sampel SH / RHA di mana hasil penelitiannya
dapat dilihat pada gambar 5 (a) dan 5 (b)

19
Fig. 8a. Swelling curves as a function of pH for different Ita concentrations.
8b. Swelling curves as a function of pH for different crosslink ratio.
Perilaku swelling hidrogel diselidiki pada kisaran pH 2-9. Polimer dengan sejumlah besar
gugus yang dapat diionisasi dikenal sebagai polielektrolit. Tolakan elektrostatik antara
muatan tetap tetangga dari drive polyelectrolytes untuk swelling. Kelompok asam liontin
pada polielektrolisis mengalami ionisasi seperti gugus monoasida asam pada pH tinggi.
Sampel hidrogel dengan mudah membengkak pada ukuran yang bergantung pada derajat
ionisasi dan jumlah gugus karboksilat ItA. Bila hidrogel dibiarkan membengkak di media
pH rendah 2,0, gugus -COOH yang ada di dalam jaringan tetap hampir tidak berion,
sehingga memberikan perilaku tipe non-polielektrolit ke hidrogel.

Selain itu, ada interaksi ikatan-H antara kelompok karboksilat asam itakonat dan gugus
amida akrilamida. Interaksi ikatan-H ini menghasilkan pembentukan struktur kompak atau
ketat yang tidak memungkinkan banyak pergerakan rantai polimer dalam jaringan hidrogel,
yang menyebabkan swelling hidrogel minimum. Telah diamati pada penelitian sebelumnya
bahwa jaringan yang mengandung asam karboksilat menunjukkan perilaku swelling
responsif pH dan bahwa gugus asam karboksilat menjadi terionisasi pada nilai pH yang
lebih tinggi daripada pKa polimer. Karena pH medium swelling berada di atas pKa gel, yaitu
sekitar empat pada hidrogel ini, ionisasi gugus asam karboksilat gel terjadi. Itu
menghasilkan jaringan polimer yang lebih hidrofilik dan berkontribusi terhadap penyerapan
air yang lebih tinggi saat pH meningkat. Efek pH pada swelling ditunjukkan pada Gambar
5. Peningkatan swelling dengan pH meningkat dan tingkat swelling meningkat dengan
meningkatnya jumlah ItA (Gambar 8a). Kepadatan silang yang meningkat membatasi
swelling hidrogel (Gambar 8b).

4.9 Studi Kinetik Deswelling dalam larutan Garam


Kinetika deswelling dari sampel SH dan SH / RHA bengkak dalam larutan berair
0,1 M dari NaCl, CaCl2, dan FeCl3 telah ditunjukkan pada Gambar 5 (c) dan (d) masing-
masing. Seperti ditunjukkan pada Gambar 5 (c) dan (d), kapasitas swelling sampel hidrogel
yang membengkak berkurang dengan cepat saat dipindahkan ke larutan garam. Selain itu,
jelas bahwa tingkat hidrogel bengkak dalam larutan garam sesuai dengan urutan FeCl3>
CaCl2> NaCl. Kecenderungan yang diamati dikaitkan dengan kemampuan kompleksasi
larutan kationik multivalen. Di sisi lain, titik silang ionik dalam jaringan hidrogel, dihasilkan
oleh kompleksasi karboksilat dan karboksamida dengan kation multivalen, menyebabkan
peningkatan kepadatan silang hidrogel. Oleh karena itu, jaringan hidrogel menyusut dan
kapasitas swelling berkurang. Selain itu, biaya kation yang lebih tinggi menginduksi tingkat
keterikatan silang yang lebih besar dalam jaringan hulu dan juga menghasilkan laju
hidrolikel bengkak yang lebih cepat (Shi, Wang & Wang, 2011). Menurut kinetika sampel
SH dan SH / RHA yang tertinggal, dapat diamati bahwa SH / RHA memiliki tingkat
deswelling yang lebih lambat dan ketahanan air ekuilibrium yang lebih tinggi pada semua
larutan garam. Retensi air ekuilibrium SH dan SH / RHA dalam larutan berair 0,1 Na NaCl,
CaCl2, dan FeCl3 masing-masing sekitar 10,29%, 3,49%, 0,568%, dan 25,21%, 10,14%,
dan 1,95%. Struktur SH / RHA yang sangat berpori dengan saluran saling terkait mencegah
penggunaan cepat molekul air, menghambat penyusutan jaringan hidrogel cepat, dan dengan
20
demikian meningkatkan ketahanannya yang terdesak dalam larutan garam. Selanjutnya,
interaksi ikatan-ikatan kuat-kuat antara kelompok silanol RHA dan molekul air yang diserap
di jaringan hidrogel SH / RHA tidak hanya meningkatkan kapasitas pengambilan airnya
tetapi juga menekan molekul air agar tidak mudah melepaskan (Cndido et al., 2013).
Akibatnya, nanocomposite nanosifil SH / RHA dengan sifat deswelling yang sangat baik
dalam larutan garam dapat digunakan sebagai sistem irigasi yang efisien dalam aplikasi
pertanian dan hortikultura. Hasil dari penelitian ini sangat sesuai dengan hasil yang
diperoleh dari peneliti lain.

Menurut penelitian (Shi, Wang & Wang, 2011) yang berjudul Synthesis and swelling
properties of pH-sensitive semi-IPN superabsorbent hydrogels based on sodium alginate-g-
poly(sodium acrylate) and polyvinylpyrrolidone kami membandingkan penelitian lainnya
yang juga menggunakan sampel SH / RHA dan larutan garam NaCl, CaCl2, FeCl3 di mana
hasil penelitiannya ditunjukkan pada gambar 7

Fig. 7 (a) Kurva swelling kinetik hidrogel semi-IPN dalam larutan garam 5 mmol / L dengan
berbagai valensi; (b) kurva swelling kinetik NaAlg-g-PNaA / PVP (15 wt.%) pada larutan CTAB 2, 5
dan 10 mmol / L

21
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7 (a), penyerapan air semi-IPN SAH dalam
larutan CaCl2 dan AlCl3 meningkat dengan memperpanjang waktu kontak, mencapai
penyerapan maksimum dan kemudian menurun dengan waktu kontak lebih lama sampai
swelling hampir hilang; Namun, tidak ada perilaku serupa yang dapat diamati pada larutan
NaCl. Efek swelling tergantung waktu yang menarik dapat dikaitkan dengan alasan berikut.
Dalam larutan garam multi valensi, Ca2 + dan Al3 + dapat kompleks dengan kelompok COO
hidrofilik untuk membentuk ikatan silang tambahan (Hua & Wang, 2009; Pourjavadi, Amini-
Fazl, & Hosseinzadeh, 2005), sehingga tingkat ikatan silang jaringan SAH meningkat. dengan
memperpanjang waktu kontak. Akibatnya, jaringan SAH yang membengkak berangsur-angsur
roboh dan air yang diserap awalnya terjepit dari jaringan di bawah tindakan ini.

4.10 Studi Kemampuan Reswelling

Salah satu karakteristik hidrogel yang paling penting adalah kemampuan bertahan,
yang mempengaruhi reusabilitasnya di media tanah. Kapasitas swelling ekuilibrium sampel SH
dan SH / RHA pada setiap siklus swelling / pengeringan berturut-turut telah ditunjukkan pada
Gambar 6 (a). Kapasitas swelling ekuilibrium SH adalah 806 g.g-1 dan 321,5 g.g-1 pada siklus
ke-1 dan ke-5, masing-masing, menunjukkan bahwa kehilangan kapasitas swelling sebesar
60,11%. Sementara, pada kasus SH / RHA, kapasitas swelling ekuilibrium menurun dari 1052
g.g-1 menjadi 756.36 g.g-1 setelah lima siklus swelling / pengeringan berurutan, menunjukkan
bahwa kehilangan kapasitas swelling sebesar 28,1%. Hasil ini bisa dibenarkan sebagai berikut.
Tekanan besar dalam jaringan SH yang diberikan oleh molekul air yang diserap menyebabkan
pecahnya bagian rantai polimer. Oleh karena itu, struktur rongga di jaringan hidrogel ambruk
secara bertahap, sehingga mengurangi kemampuan swelling. Dalam kasus SH / RHA, kerangka
kerja tiga dimensi dalam jaringan hidrogel, yang diciptakan oleh efek ikatan silang fisik RHA,
memungkinkannya menahan tekanan tinggi molekul air yang diserap. Dengan demikian, SH /
RHA menunjukkan kehilangan kapasitas swelling yang lebih rendah selama siklus swelling /
pengeringan dibandingkan dengan sampel hidrogel yang apik. Akibatnya, penggunaan
nanocomposite hidrogel ini di dalam tanah dapat mengurangi frekuensi irigasi, memperbaiki
ketahanan terhadap tanaman kekeringan, dan juga dapat memperpanjang masa pemanfaatan
hidrogel.

22
4.11 Studi Retensi Air pada Suhu Konstan

Fig. 6 (b) water retention behavior of hydrogel samplesunder constant temperature (80C) .

Perilaku retensi air sampel SH dan SH / RHA dipelajari dengan memeriksa kemampuan
swelling nya pada suhu konstan (80C), secara berkala (Gambar 6 (b)). Seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 6 (b), SH kehilangan airnya sendiri lebih cepat daripada SH /
RHA sehingga air yang diserapnya diuapkan sepenuhnya setelah 6 jam, sementara kapasitas
retensi air SH / RHA mencapai 25% pada interval waktu tersebut. . Hal ini dapat dikaitkan
dengan interaksi ikatan-H yang kuat antara molekul air dan kelompok silanol RHA di SH /
RHA, yang tingkat penguapan dari air yang diserap, dan dengan demikian memperbaiki
kemampuan retensi air. Akibatnya, penggabungan RHA ke dalam matriks hidrogel tidak
hanya dapat meningkatkan kapasitas penyerapan air tetapi juga dapat memperbaiki
kemampuan retensi air nanokomposit superabsorben.

23
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Superadsorbent nanokomposit NaAlg-graft-poly (AA-co-AAm) / RHA berhasil
di sintesis dengan menggunakan APS sebagai inisiator, MBA sebagai crosslinker,
dan RHA sebagai pengisi anorganik. Dari hasil yang di dapat menggunakan FTIR
memastikan adanya bahan dasar akrilat ke rantai alginat dan juga terdapat
penggabungan RHA yang berhasil mejadi matriks hidrogel, sedangkan pada
penggunakan TGA menunjukan bahwa adanya perbaikan pada stabilitas
superadsorbent nanokomposit, dan pada morfologi nya di gunakan SEM yang mana
hidroge yang di dapat sangat berpori. Nanokomposit superabsorbent menunjukkan
kapasitas swelling kesetimbangan yang lebih tinggi (1070 g.g-1) dibandingkan
dengan hidrogel yang murnii (830 g.g-1).
Pengukuran kapasitas swelling dibawah tekanan menunjukkan bahwa SH / RHA
memiliki kapasitas penyerapan air yang lebih baik dibandingkan dengan SH pada
semua tekanan yang diberikan. Pengukuran rasiologis menunjukkan bahwa kedua
sampel hidrogel memiliki struktur jaringan yang saling terkait dengan integritas
mekanik yang baik .Selain itu, SH / RHA menunjukkan kekuatan gel yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sampel hidrogel yang murni. Karakteristik yang baik ini
mengindikasikan bahwa nanokomposit superabsorben yang dikembangkan dapat
digunakan sebagai kandidat yang paling sesuai untuk pengelolaan air dalam aplikasi
pertanian dan hortikultura, terutama di daerah gersang dan gurun. Sistem
pengelolaan air yang efektif juga meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman.

24
DAFTAR PUSTAKA

Gharekhani, Olad Ali, et. Al. 2017. Superabsorbent hydrogel made of NaAlg-g-poly(AA-co-AAm)
and rice husk ash: Synthesis, characterization, and swelling kinetic studies. Iran : Elsevier

Huang, Lu & Xiao. 2007 . Thermal and mechanical properties of cationic guar gum/poly(acrylic
acid) hydrogel membranes. China : Elsevier

El-Hamshary, 2007. Synthesis and water sorption studies of pH sensitive poly(acrylamide-co-


itaconic acid) hydrogels. Tanta Univercity : Elsevier

Shi, Wang & Wang. 2011. Synthesis and swelling properties of pH-sensitive semi-IPN
superabsorbent hydrogels based on sodium alginate-g-poly(sodium acrylate) and
polyvinylpyrrolidone . China : Elsevier

iv