Anda di halaman 1dari 31

PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

PERHITUNGAN PERKERASAN LENTUR


( FLEXIBLE PAVEMENT )

Data data lalu lintas harian rata rata ( LHR ).

Mobil penumpang = 2400 kenderaan / hari 2 arah.


Bus umum = 240 kenderaan / hari 2 arah.
Truk 2 As = 24 kenderaan / hari 2 arah.
Truk 3 As = 12 kenderaan / hari 2 arah.
Truk 5 As =6 kenderaan / hari 2 arah +
= 2682 kenderaan / hari 2 arah.

Pertumbuhan lalu lintas ( i ) = 5 %.


Umur rencana ( UR ) = 10 tahun.
CBR subgrade = 6 %.
Lebar jalan = 7,50 meter.

Berdasarkan Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya


( PPTPLJR ), bahwa lebar perkerasan ( L) untuk jumlah lajur ( n ) adalah 2 jalur yaitu
antara 5,50 m 7,50 m < 8,25 m, seperti terlihat pada tabel :

Tabel 20. Jumlah Lajur Berdasarkan Lebar Perkerasan.

Lebar perkerasan ( L ) Jumlah Lajur ( n )

L < 5,50 m 1 jalur


5,50 m L < 8,25 m 2 jalur
8,25 m L < 11,25 m 3 jalur
11,25 m L < 15,00 m 4 jalur
15,00 m L < 18,75 m 5 jalur
18,75 m L < 22,00 m 6 jalur
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 7).

a. Menghitung angka ekivalen ( E ).


Rumus yang digunakan untuk mencari angka ekivalen ( E ) :
4
P
E sumbu tunggal = P : beban sumbu kenderaan ( kg dan ton ).
8160
4
P
E sumbu ganda = 0,086 SG.
8160
4
P
E sumbu Triple = 0,0053 STriple.
8160

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 119


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Dalam perencanaan ini Angka Ekivalen ( E ) yang digunakan adalah :

Mobil penumpang / 2 ton : ( 1 ton + 1 ton ) = 0,0002 + 0,0002 = 0,0004.


Bus umum / 8 ton : ( 3 ton + 5 ton ) = 0,0183 + 0,1410 = 0,1593.
Truk 2 As / 13 ton : ( 5 ton + 8 ton ) = 0,1410 + 0,9238 = 1,0648.
Truk 3 As / 20 ton : ( 6 ton + 7 ton + 7 ton ) = 0,2923 + 0,7452 = 1,0375.
Truk 5 As / 30 ton : ( 6 + 7 + 7 + 5 + 5 ) = 1,0375 + 2 (0,1410) = 1,3195.

1. Mobil Penumpang ( 2 ton ).

1 ton
1 ton
4
P
E Mobil Penumpang = P : beban sumbu kenderaan ( kg dan ton ).
8160
4 4
1000 1000
= + = 0,0002 + 0,0002 = 0,0004.
8160 8160

2. Bis Umum ( 8 ton ).

5 ton 3 ton
4
P
E Bus Umum = P : beban sumbu kenderaan ( kg dan ton ).
8160
4 4
3000 5000
= + = 0,0183 + 0,1410 = 0,1593.
8160 8160

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 120


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

3. Truk 2 As ( 13 ton ).

8 ton 5 ton

4 4 4
P 5000 8000
E Truk 2 As = = + = 0,1410 + 0,9238 = 1,0648.
8160 8160 8160

4. Truk 3 As ( 20 ton ).

7 ton 7 ton
6 ton
14 ton

4 4 4 4
P P 6000 14000
E Truk 3 As = + 0,086 = + 0,086
8160 8160 8160 8160
= 0,2923 + 0,7452 = 1,0375.

5. Truk 5 As ( 30 ton ).

FedEx FedEx
Freight Freight

5 ton 5 ton 7 ton 7 ton 6 ton

14 ton
4 4
P P
E Truk 5 As = + 0,086
8160 8160
4 4 4
6000 14000 5000
= + 0,086 +2
8160 8160 8160
= 1,0375 + ( 2 0,1410 ) = 1,3195.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 121


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

b. Material Lapisan Perkerasan Jalan.

Material lapisan perkerasan jalan seperti terlihat pada tabel di bawah, direncanakan
lapisan perkerasan sebagai berikut :

Surface course = AC / Laston ( MS 744 ) koefisien kekuatan relatif a1 = 0,40.


Base course = Batu pecah kelas A (CBR 100 %) dengan koefisien kekuatan relative
a2 = 0,14.
Sub base course = Sirtu kelas A ( CBR 70 % ) dengan koefisien kekuatan relative
a3 = 0,13.
Tabel 21. Koefisien Kekuatan Relatif ( a ).
Koefisien Kekuatan
Kekuatan Bahan
Relatif Jenis Bahan
a1 a2 a3 MS ( kg ) Kt (kg/cm) CBR ( % )
0,40 744
0,35 590
Laston
0,35 454
0,30 340
0,35 744
0,31 590
Lasbutag
0,28 454
0,26 340
0,30 340 HRA (Hot Rolled Asphalt)
0,26 340 Aspal macadam
0,25 Lapen ( mekanis )
0,20 Lapen ( manual )
0,28 590
Laston atas (ATB)
0,26 454
(Asphalt Treated Base)
0,24 340
0,23 Lapen ( mekanis )
0,19 Lapen ( manual )
0,15 22
Stab. Tanah dengan semen
0,13 18
0,15 22
Stab. Tanah dengan kapur
0,13 18
0,14 100 Batu pecah ( kelas A )
0,13 80 Batu pecah ( kelas B )
0,12 60 Batu pecah ( kelas C )
0,13 70 Sirtu / pitrun ( kelas A )
0,12 50 Sirtu / pitrun ( kelas B )
0,11 30 Sirtu / pitrun ( kelas C )
0,10 20 Tanah / lempung kepasiran
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 12).
Catatan : Kuat tekan stabilitas tanah dengan semen diperiksa pada hari ke 7. Kuat tekan
stabilitas tanah dengan kapur diperiksa pada hari ke 21.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 122


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Dari tabel di bawah di peroleh koefisien distribusi kenderaan ( C ) untuk kenderaan


ringan dan berat yang lewat pada 2 arah adalah sebagai berikut :

Koefisien distribusi Kendaraan Ringan ( Ckr ) = 0,50.


Koefisien distribusi Kendaraan Berat ( Ckb ) = 0,50.

Tabel 22. Koefisien Distribusi Kendaraan ( C ).


Kenderaan Ringan * ) Kenderaan Berat ** )
Jumlah Lajur
1 arah 2 arah 1 arah 2 arah
1 jalur 1,000 1,000 1,000 1,000
2 jalur 0,600 0,500 0,700 0,500
3 jalur 0,400 0,400 0,500 0,475
4 jalur 0,300 0,450
5 jalur 0,200 0,425
6 jalur 0,100 0,400
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 7).
Catatan :
*) berat total < 5 ton, misalnya mobil penumpang, pick up, mobil hantaran.
**) berat total > 5 ton, misalnya, bus, truk, traktor, semi trailler, trailler.

2682 2400
% Kendaraan Berat = x 100 % = 10,51 %.
2682

Tabel 23. Faktor Region ( FR ).

Kelandaian I Kelandaian II Kelandaian III


(<6%) ( 6 10 % ) ( > 10 % )

% kendaraan berat % kendaraan berat % kendaraan berat

30 % > 30 % 30 % > 30 % 30 % > 30 %

Iklim I < 900 mm/th 0,5 1,0 1,5 1,0 1,5 2,0 1,5 2,0 2,5

Iklim II > 900 mm/th 1,5 2,0 2,5 2,0 2,5 3,0 2,5 3,0 3,5
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 10).

Catatan : pada bagian bagian jalan tertentu, seprti persimpangan, pemberhentian atau
tikungan tajam ( jari jari 30 m ) FR ditambah dengan 0,5. Pada daerah rawa
rawa FR ditambah dengan 1,0.

Kelandaian I yaitu ( < 6 % ).

% Kendaraan berat = 10,51 % 30 %.

Curah hujan perkiraan dengan iklim II 900 mm / tahun.

Maka didapat besarnya nilai FR antara 1,5.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 123


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Dari grafik di bawah, korelasi antara DDT dengan CBR, dengan CBR 6 % maka didapat

besarnya harga DDT adalah 5,00 kg/cm2.

5,00 kg/cm2

Gambar 44. Korelasi Antara Nilai CBR dan DDT.


Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 9).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 124


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

c. Menghitung LHR.
Dalam perencanaan ini, pertumbuhan lalu lintas ( i ) = 5 % pertahun dan umur rencana
perkerasan ( UR ) = 10 tahun, untuk menghitung LHR dengan memakai rumus :

LHR ( 1 + i )UR

Mobil penumpang = 2400 ( 1 + 5 % )10 = 3909,347 kenderaan.


Bus umum = 240 ( 1 + 5 % )10 = 390,935 kenderaan.
Truk 2 As = 24 ( 1 + 5 % )10 = 39,093 kenderaan.
Truk 3 As = 12 ( 1 + 5 % )10 = 19,547 kenderaan.
Truk 5 As = 6 ( 1 + 5 % )10 = 9,773 kenderaan +
LHR = 4368,695 kenderaan.

d. Menghitung LEP ( Lintas Ekivalen Permukaan ).

LEP = LHR C E

Mobil penumpang = 2400 0,50 0,0004 = 0,48.


Bus umum = 240 0,50 0,1593 = 19,11.
Truk 2 As = 24 0,50 1,0648 = 12,78.
Truk 3 As = 12 0,50 1,0375 = 6,22.
Truk 5 As =6 0,50 1,3195 = 3,96. +
LEP = 42,55.

e. Menghitung LEA ( Lintas Ekivalen Akhir ).


Dengan umur rencana perkerasan ( UR ) = 10 tahun, maka LHR10 adalah sebagai
berikut :

LEA = LHR10 ( 1 + i )n C E

Mobil penumpang = 3909,347 0,50 0,0004 = 0,78.


Bus umum = 390,935 0,50 0,1593 = 31,13.
Truk 2 As = 39,093 0,50 1,0648 = 20,81.
Truk 3 As = 19,547 0,50 1,0375 = 10,14.
Truk 5 As = 9,773 0,50 1,3195 = 6,45. +
LEA10 = 69,31.

f. Menghitung LET (Lintas Ekivalen Tengah)


LET10 = ( LEP + LEA15 ) = ( 42,55 + 69,31 )
= 55,93

g. Menghitung LER ( Lintas Ekivalen Rencana ).


UR 10
LER10 = LET10 = 55,93 = 55,93.
10 10

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 125


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

h. Mencari ITP ( Indeks Tebal Perkerasan ).

LER10 = 55,93.
DDT ( daya dukung tanah ) = 5,00 kg/cm2 (Gambar 44).
Faktor regional ( FR ) = 1,5 (Tabel 23).
Klasifikasi jalan Arteri dengan IPt = 2,0 dan Ipo = 3,5 3,9 (Tabel 25).
Diperoleh harga ITP = 6,25. (Gambar 45).

6,25
1,5

5,00 kg/cm2 55,93 5,85

Gambar 45. Nomogram 4.


Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 18).

i. Menetukan Indeks Permukaan ( IP ).

Indeks Permukaan ini menyatakan nilai daripada kerataan / kehalusan serta


kekokohan permukaan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalu-lintas yang
lewat.
Adapun beberapa nilai IP beserta artinya adalah seperti yang tersebut di bawah ini :
IP = 1,0 : adalah menyatakan permukaan jalan dalam keadaan rusak berat sehingga
sangat mengganggu lalu lintas kendaraan.
IP = 1,5: adalah tingkat pelayanan terendah yang masih mungkin (jalan tidak
terputus).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 126


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

IP = 2,0: adalah tingkat pelayanan rendah bagi jalan yang masih mantap.
IP = 2,5: adalah menyatakan permukaan jalan yang masih cukup stabil dan baik.

Dalam menentukan indeks permukaan (IP) pada akhir umur rencana, perlu
dipertimbangkan faktor faktor klasifikasi fungsional jalan dan jumlah lintas ekivalen
rencana ( LER ), menurut daftar di bawah ini :

Tabel 24. Indeks Permukaan Pada Akhir Umur Rencana ( IP ).

LER = Lintas Klasifikasi Jalan


Ekivalen Rencana *) Lokal Kolektor Arteri Tol
< 10 1,0 1,5 1,5 1,5 2,0
10 100 1,5 1,5 2,0 2,0
100 1000 1,5 2,0 2,0 2,0 2,5
> 1000 2,0 2,5 2,5 2,5
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 10).
Catatan :
*) LER dalam satuan angka ekivalen 8,16 ton beban sumbu tunggal.

Klasifikasi jalan Arteri dengan IP = 2,0.

j. Menetukan Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana ( IPo ).


Dalam menentukan indeks permukaan pada awal umur rencana (IPo) perlu
diperhatikan jenis lapis permukaan jalan (kerataan / kehalusan serta kekokohan) pada
awal umur rencana, menurut tabel di bawah ini:

Tabel 25. Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana ( IPo ).


Roughness *)
Jenis Permukaan IPo
( mm/km )
4,0 1000
LASTON
3,9 3,5 > 1000
3,9 3,5 2000
LASBUTAG
3,4 3,0 > 2000
3,9 3,5 2000
HRA
3,4 3,0 > 2000
BURDA 3,9 3,5 < 2000
BURTU 3,4 3,0 < 2000
LAPEN 3,4 3,0 3000
2,9 2,5 > 3000
LATASBUM 2,9 2,5
BURAS 2,9 2,5
LATASIR 2,9 2,5
JALAN TANAH 2,4
JALAN KERIKIL 2,4
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 11).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 127


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

*) Alat pengukur roughness yang dipakai adalah roughometer NAASRA, yang


dipasang pada kendaraan standar Datsun 1500 station wagon, dengan kecepatan
kendaraan 32 km per jam.

Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana ( IPo ) = 3,5 3,9 dengan jenis
permukaan LASTON (AC).

k. Menentukan Tebal Perkerasan.


Dalam menentukan tebal perkerasan, ada beberapa batas batas minimum tebal
lapisan perkerasan yaitu sebagai berikut :

1. Tebal lapisan permukaan (Surface course).

ITP Tebal Minimum ( cm ) Bahan


< 3,00 5 Lapis pelindung: (Buras/Burtu/Burda)
3,00 6,70 5 Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag, Laston
6,71 7,49 7,5 Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag, Laston
7,50 9,99 7,5 Lasbutag, Laston
10,00 10 Laston
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 13).

2. Tebal lapisan pondasi (Base course).

ITP Tebal Minimum ( cm ) Bahan


Batu pecah, stabilitas tanah dengan semen, stabilitas
< 3,00 15
tanah dengan kapur
Batu pecah, stabilitas tanah dengan semen, stabilitas
20
tanah dengan kapur.
3,00 7,49
10 Laston Atas (ATB) (Asphalt Treated Base).

Batu pecah, stabilitas tanah dengan semen, stabilitas


20
tanah dengan kapur, pondasi macadam.
7,90 9,99
15 Laston Atas (ATB) (Asphalt Treated Base) .
Batu pecah, stabilitas tanah dengan semen, stabilitas
10 12,14 20 tanah dengan kapur, pondasi macadam, Lapen,
Laston Atas.
Batu pecah, stabilitas tanah dengan semen, stabilitas
12,25 25 tanah dengan kapur, pondasi macadam, Lapen,
Laston Atas.
Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 13).

3. Lapisan pondasi bawah (Sub base course).


Untuk setiap nilai ITP bila digunakan pondasi bawah, tebal minimum adalah 10 cm.
(Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (hal. 13).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 128


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Dari beberapa batas batas minimum tebal lapisan perkerasan di atas dapat
diperoleh tebal setiap perkerasan seperti berikut :

Untuk Surface course dengan ITP = 6,25 yang berada diantara 3,00 6,70 diperoleh
D1 min = 5,0 cm dengan lapisan LASTON (AC).
Untuk Base course dengan ITP = 6,25 yang berada diantara 3,00 7,49 diperoleh
D2 min = 20 cm dengan lapisan batu pecah.
Untuk Sub base corse D3 min = 10 cm untuk semua ITP

ITP = a1 D1 + a2 D2 + a3 D3

= ( 0,40 5,0 cm ) + ( 0,14 20 cm ) + ( 0,13 D3 )

6,25 = 2,00 cm + 2,80 cm + 0,13 D3.

6,25 4,80
D3 = = 11,15 cm 11 cm.
0,13

Direncanakan susunan lapisan perkerasan sebagai berikut :

a. Surface course atau Lapis permukaan ( LASTON MS 744 ) = 5 cm.


b. Base course atau Lapis pondasi ( Batu pecah kelas A) (CBR 100 % ) = 20 cm.
c. Sub base course atau Lapis pondasi bawah ( Sirtu kelas A) (CBR 70 % ) = 11 cm.
d. Subgrade ( Tanah dasar ) CBR 6 %.

D1 Laston Ms 744 5 cm

D2 Batu Pecah (kelas A) CBR 100 % 20 cm

D3 Sirtu ( kelas A ) 70 % 11 cm

Subgrade CBR 6 %

Gambar 46. Susunan lapisan perkerasan dengan metode Flexible Pavement.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 129


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

PERHITUNGAN PERKERASAN KAKU


( RIGID PAVEMENT )

Data data lalu lintas harian rata rata ( LHR ).


Mobil penumpang = 2400 kenderaan / hari 2 arah Sumbu.
Bus umum = 240 kenderaan / hari 2 arah 480 Sumbu.
Truk 2 As = 24 kenderaan / hari 2 arah 48 Sumbu.
Truk 3 As = 12 kenderaan / hari 2 arah 24 Sumbu.
Truk 5 As =6 kenderaan / hari 2 arah 24 Sumbu +
LHR = 2682 kenderaan / hari 2 arah 576 Sumbu.

Pertumbuhan lalu lintas ( i ) = 5 %.


Umur rencana ( UR ) = 10 tahun.
Fungsi jalan = Arteri kelas I ( 2 jalur 2 arah).
CBR subgrade = 6 %.

Material untuk rigid pavement ( perkerasan kaku ) :


Surface course : Mutu beton = K300 = bk = 300 kg/cm2.
Mutu Baja = U36 = leleh = 360 Mpa = 3600 kg/cm2.
Base course.
Subbase course.

Faktor pertumbuhan lalu lintas ( R ) dat di ketahui dengan menggunakan rumus :


( 1 i )n 1
R = dimana : i : Pertumbuhan lalu lintas / tahun ( 5 % ).
n ( 1 i )
n : Umur rencana ( 10 tahun ).
(1 5 % ) 1
10
=
n (1 5 % )

( 1 0,05 )10 1
= = 12,89.
n (1 0,05 )
Mutu beton dinyatakan dalam kuat tarik lentur ( MR ) pada umur 28 hari.
bk 300
MR = 9 = 9 = 36,27 kg/cm2.
11 11

Dengan CBR 6 % diperoleh harga K = 4,20 kg/cm3. (grafik hubungan antara CBR tanah
dengan k).

LHR = kenderaan niaga = JKNH = 240 + 24 + 12 + 6 = 282 kenderaan.


JSKNH = 576 sumbu.

Sehingga diperoleh Jumlah Kenderaan Niaga ( JKN ) adalah sebagai berikut :


JKN = 365 JKNH R
= 365 282 12,89 = 1326745 kenderaan.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 130


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Jumlah Sumbu Kenderaan Niaga ( JSKN ) selama umur rencana adalah sebagai berikut :
JSKN = 365 JSKNH R C
= 365 576 12,89 = 2709948 sumbu.

C = 0,5 ( 2 lajur 2 arah ) Tabel 26.

Tabel 26. Koefisien Distribusi Kendaraan ( C ).

Koefisien distribusi
Lebar perkerasan (Lp) Jumlah lajur (ni)
1 Arah 2 Arah

Lp < 5,50 m 1 lajur 1 1

5,50 m < Lp < 8,25 m 2 lajur 0,70 0,50

8,25 m < Lp < 11,25 m 3 lajur 0,50 0,475

11,25 m < Lp < 15,00 m 4 lajur 0,45

15,00 m < Lp < 18,75 m 5 lajur 0,425

18,75 m < Lp < 22,00 m 6 lajur 0,40


Sumber : Perencanaan perkerasan jalan beton semen (hal. 10).

Tabel 27. Faktor Keamanan ( FK ).

Fungsi Jalan Faktor Keamanan ( FK )


Jalan Tol 1,2
Jalan Arteri 1,1
Jalan Kolektor / Lokal 1,0

Faktor Keamanan ( FK ) = 1,1 ( Fungsi Jalan Arteri )

1. Analisa lalu lintas.

Tabel 28. Perhitungan jumlah sumbu berdasarkan jenis dan bebannya.


Jumlah
Jumlah Jumlah
Konfigurasi Beban Sumbu
Kend. Sumbu STRT STRG STdRG
Jenis Sumbu (ton) Kend.
(bh) (bh)
Kenderaan (bh)
RD RB RGD RGB BS JS BS JS BS JS

M. Penumpang 1 1 2400

B. Umum 3 5 240 2 480 3 240 5 240

Truk 2 As 5 8 24 2 48 5 24 8 24

Truk 3 As 6 14 12 2 24 6 12 14 12

6 14 5 5 6 4 24 6 6 5 6 14 6
Truk 5 As
5 6

Jumlah Total 576 282 276 18


Keterangan :
RD = Roda depan. RGB = Roda ganda belakang.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 131


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

RB = Roda belakang. STRT = Sumbu tunggal roda tunggal.


BS = Beban sumbu. RGD = Roda ganda depan.
STRG = Sumbu tunggal roda ganda. STdRG = Sumbu tandem roda ganda.

2. Kombinasi persentase konfigurasi / beban sumbu dan jumlah repetisi selama umur
rencana.
Tabel 29. Perhitungan repetisi sumbu rencana.
Beban
Konfigurasi Jumlah Repetisi selama
Sumbu % Konfigurasi Sumbu Repetisi
Sumbu Umur Rencana
(Ton)
STRT 3 240/576 100 = 41,67 % 41,67 % 2709948 0,5 564572,49
STRG 5 240/576 100 = 41,67 % 41,67 % 2709948 0,5 564572,49
STRT 5 24/576 100 = 4,17 % 4,17 % 2709948 0,5 56457,25
STRG 8 24/576 100 = 4,17 % 4,17 % 2709948 0,5 56457,25
STRT 6 12/576 100 = 2,08 % 2,08 % 2709948 0,5 28228,62
STdRG 14 12/576 100 = 2,08 % 2,08 % 2709948 0,5 28228,62
STRT 6 6/576 100 = 1,04 % 1,04 % 2709948 0,5 14114,31
STRG 5 6/576 100 = 1,04 % 1,04 % 2709948 0,5 14114,31
STRG 5 6/576 100 = 1,04 % 1,04 % 2709948 0,5 14114,31
STdRG 14 6/576 100 = 1,04 % 1,04 % 2709948 0,5 14114,31
Jumlah Total 1354973,98

3. Perencanaan Tebal Perkerasan Kaku .


a. Dicoba dengan h = 160 mm 16 cm ; MR = 36,27 kg/cm2.
Catatan : untuk perbandingan tegangan 0,50 diabaikan.

Tabel 30. Analisa Fatigue.


Beban Jumlah
Beban Jumlah Persentase Jumlah Tegangan Perban
Konfigurasi Sumbu Perbandingan repetisi
Sumbu Kend. Konfugurasi Repetisi Yang dingan
Sumbu Rencana Tegangan yg di
(ton) (bh) Sumbu (%) Beban Terjadi Fatigue
(ton) ijinkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 10

2 Fk JSKN Nomogram (6 ) / (9)


Data Data Data Data 7 / MR Tabel
(Fk = 1,1) (5) C B. Sumbu 100%

STRT 3 3,3 240 41,67 564572,49


STRG 5 5,5 240 41,67 564572,49
STRT 5 5,5 24 4,17 56457,25 21,70 0,60 32000 1,76

STRG 8 8.8 24 4,17 56457,25 24,00 0,66 6000 9,41

STRT 6 6,6 12 2,08 28228,62 24,80 0,68 3500 8,07

STdRG 14 15,4 12 2,08 28228,62 23,00 0,63 14000 2,02

STRT 6 6,6 6 1,04 14114,31 24,80 0,68 3500 4,03

STRG 10 11,0 6 1,04 14114,31 28,90 0,80 120 117,62


STdRG 14 15,4 6 1,04 14114,31 23,00 0,63 14000 1,01

Jumlah Total ( ) 170,20 4,69 73120 143,92 %

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 132


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Kesimpulan :
Maka dengan Tebal pelat 160 mm 16 cm tidak aman untuk digunakan, maka perlu dicoba
lagi, karena total fatigue = 143,92 % > 100 %.

b. Dicoba dengan h = 170 mm 17 cm ; MR = 36,27 kg/cm2.


Catatan : untuk perbandingan tegangan 0,50 diabaikan.

Tabel 31. Analisa Fatigue.


Beban Jumlah
Beban Jumlah Persentase Jumlah Tegangan Perban
Konfigurasi Sumbu Perbandingan repetisi
Sumbu Kend. Konfugurasi Repetisi Yang dingan
Sumbu Rencana Tegangan yg di
(ton) (bh) Sumbu (%) Beban Terjadi Fatigue
(ton) ijinkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 10
2 Fk
JSKN (5) Nomogram (6 ) / (9)
Data Data (Fk = Data Data 7/MR Tabel
C B. Sumbu 100%
1,1)
STRT 3 3,3 240 41,67 564572,49
STRG 5 5,5 240 41,67 564572,49
STRT 5 5,5 24 4,17 56457,25 19,90 0,55 130000 0,43

STRG 8 8.8 24 4,17 56457,25 22,00 0,61 24000 2,35

STRT 6 6,6 12 2,08 28228,62 22,70 0,63 14000 2,02

STdRG 14 15,4 12 2,08 28228,62 21,40 0,59 42000 0,67

STRT 6 6,6 6 1,04 14114,31 22,70 0,63 14000 1,01

STRG 10 11,0 6 1,04 14114,31 26,70 0,74 650 21,71

STdRG 14 15,4 6 1,04 14114,31 21,40 0,59 42000 0,34

Jumlah Total ( ) 156,80 4,32 266650 28,53 %

Kesimpulan :
Maka dengan Tebal pelat 170 mm 17 cm cukup aman untuk digunakan, maka tidak perlu
dicoba lagi, karena total fatigue = 28,53 % < 100 %.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 133


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 134


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 135


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Tabel 31. Perbandingan Tegangan dan Jumlah Pengulangan Beban Yang Diijinkan.

Jumlah Jumlah
Perbandingan Perbandingan
Pengulangan Yang Pengulangan Yang
Tegangan * Tegangan
Diijinkan Diijinkan
0.51+ 400000 0.69 2500
0.52 300000 0.70 2000
0.53 240000 0.71 1500
0.54 180000 0.72 1100
0.55 130000 0.73 850
0.56 100000 0.74 650
0.57 75000 0.75 490
0.58 57000 0.76 360
0.59 42000 0.77 270
0.60 32000 0.78 210
0.61 24000 0.79 160
0.62 18000 0.80 120
0.63 14000 0.81 90
0.64 11000 0.82 70
0.65 8000 0.83 50
0.66 6000 0.84 40
0.67 4500 0.85 30
0.68 3500
Catatan :
* Tegangan akibat beban dibagi dengan Modulus of Parptura, untuk perbandingan
tegangan sama dengan atau lebih kecil 0,50 diabaikan.
+ Jumlah pengulangan beban adalah tidak terhingga.

Plat Beton 17 cm

Sirtu ( kelas A ) 70 % t=?

Subgrade CBR 7 %

Gambar 47. Rencana lapisan perkerasan kaku.

4. Menentukan Tebal lapisan pondasi.


Dengan CBR subgrade 6 %, diperoleh k gabungan sebesar 4,25 kg/cm3 (grafik antara
nilai CBR dengan k), lapisan pondasi digunakan Sirtu dengan F = 1,2 ( seperti terlihat
pada tabel 29 ).
Koefisien E = 8000 20000 Psi ( seperti terlihat pada tabel 32 ).
Bila k = 17 kg/cm3 tanah dasar baik / bagus.
k = 8 kg/cm3 tanah dasar sedang.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 136


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

k = 3 kg/cm3 tanah dasar jelek.


Maka untuk k = 4,25 kg/cm3 masih termasuk tanah jelek.
Jumlah repitisi sumbu = 1354973,98 = 1,3 x 106 dan CBR tanah 6 %, maka berdasarkan
gambar 49, diperoleh tebal lapisan pondasi bawah = 100 mm = 10 cm.

Plat Beton 17 cm

Sirtu ( kelas A ) 70 % 10 cm

Subgrade CBR 7 %

Gambar 48. Susunan Lapisan Perkerasan Kaku ( Rigid Pavement ).

Tabel 32. Koefisien Gesek Pelat Beton dan Lapis Di bawahnya ( F ).


Jenis Pondasi KoefisienGesek
Burtu, Lapen dan konst.sejenis 2.2
Aspal beton, Lataston 1.8
Stabilisasi kapur 1.8
Stabilisasi aspal 1.8
Stabilisasi semen 1.8
Koral 1.5
Batu pecah 1.5
Sirtu 1.2
Tanah 0.9

Tabel 33. Perkiraan Nilai Modulus Elastisitas Lapis Pondasi ( E ).


Modulus elastisitas
Jenis bahan
Gpa Psi Kg/cm2
Granular ( sirtu ) 0.055 0.138 8000 20000 565 1410
Lapis pondasi distabilisasi semen 3.5 -6.9 50000 1000000 35210 70420
Tanah distabilisasi semen 2.8 -6.2 40000 900000 28170 63380
Lapis pondasi diperbaiki aspal 2.4 -6.9 350000 1 000000 24650 70420
Lapis pondasi diperbaiki aspal emulsi 0.28 -2.1 40000 300000 2815 21125

1,3 x 106

Gambar 49. Tebal pondasi bawah minimum untuk perkerasan kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 137


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

5. Perhitungan Tulangan

a. Beton bersambung tanpa tulangan (BBTT).

Ukuran plat beton sebagai berikut :


Tebal plat (h) = 17 cm = 0,17 m.
Lebar plat ( B ) = 2 x 3,75 m = 7,50 m.
Panjang plat beton ( L ) = 5 m.
Sambungan susut dipasang setiap jarak 5 m.
Ruji digunakan dengan diameter 28 mm (polos) (tabel 34) , panjang 45 cm, dan
jarak 30 cm. (pada sambungan melintang).
Batang pengikat digunakan digunakan 20 mm (diprofilkan), panjang 85 cm,
dan jarak 80 cm. (pada sambungan memanjang).

Tabel 34. Diameter ruji.


No Tebal pelat beton, h (mm) Diameter ruji (mm)

1 125 < h 140 20


2 140 < h 160 24
3 160 < h 190 28
4 190 < h 220 33
5 220 < h 250 36

3,75 m 3,75 m D = 17 cm

Ruji (Dowel) 28 300 Sambungan Melintang


Ruji (Dowel) 28 300

Batang Pengikat
(Tie Bar) 20 - 800

5,00 m Lajur 1 Lajur 2 Batang Pengikat


(Tie Bar) 20 800
Sambungan Memanjang

Ruji (Dowel) 28 300


D = 17 cm

Batang Pengikat
(Tie Bar) 20 800

Gambar 50. Tata Letak Sambungan Beton Bersambung Tanpa Tulangan (BBTT) Pada
Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 138


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Ruji (Dowel) Polos 28 300


Bahan Penutup 6 - 10 mm (diminyaki / dicat)

max 20 mm 0,25 D
0,5 D
D = 17 cm d
0,5 Ld 0,5 Ld 0,5 D

Catatan :
d = diameter ruji
Ld = panjang ruji
D = tebal plat beton

Gambar 51. Sambungan Susut Melintang Beton Bersambung Tanpa Tulangan (BBTT) Pada
Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

Ruji (Dowel) Polos 28 300


Bahan Penutup 6 - 10 mm (diminyaki / dicat)

0,25 D
0,5 D
D = 17 cm d
50 mm 0,5 D
25 mm

Bahan Pegisi / filler

Catatan :
d = diameter ruji
Ld = panjang ruji
D = tebal plat beton

Gambar 52. Sambungan Muai Dengan Ruji Beton Bersambung Tanpa Tulangan (BBTT)
Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

Batang Pengikat (ulir) 20 800


Bahan Penutup

0,25 D
12 mm
D = 17 cm d D/3
12 mm

50 mm

0,5 Lt 0,5 Lt
Catatan :
d = diameter batang pengikat
Lt = panjang batang pengikat
D = tebal plat beton

Gambar 53. Sambungan Pelaksanaan Memanjang Dengan Lidah Alur Dan Batang Pengikat
Beton Bersambung Tanpa Tulangan (BBTT) Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 139


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

b. Beton bersambung dengan tulangan (BBDT).

Ukuran plat beton sebagai berikut :


Tebal plat (h) = 17 cm = 0,17 m.
Lebar plat ( B ) = 2 x 3,75 m = 7,50 m.
Panjang plat beton ( L ) = 15 m.
Sambungan susut dipasang setiap 15 m dengan ruji (polos) berdiameter 20 dengan
panjang 35 cm , dan Jarak 30 cm (pada sambungan melintang).
Batang pengikat digunakan digunakan 20 mm (diprofilkan), panjang 85 cm, dan
jarak 80 cm. (pada sambungan memanjang).

Tulangan Memanjang.

1200 F L h
As =
fs
Dimana :
F = 1,2 (koefisien gesek pelat beton dan lapis di bawahnya) (tabel 32).
fs = 3600 kg/cm2 (tegangan tarik Baja U36 yang diijinkan).
Maka ,
1200 1,2 15 0,17
As = = 1,02 cm2 / m'.
3600
As min = 0,1 % luas penampang plat.
= 0,001 17 cm 100 cm = 1,70 cm2 / m'.

Karena As min > As, Maka As yang dipakai adalah 1,70 cm2 / m'.
A = As = 1,70 cm2 170 mm2.

Direncanakan :
Diameter tulangan = 8 mm
Jarak = 225 mm
As 1 tulangan = d2 = ( 8 )2 = 50,265 mm2.
As terpakai = ( 1000 mm / 225 mm) 50,265 mm2.
= 223 mm2 > 170 mm2. (OK)
Maka tulangan yang digunakan adalah 8 225 mm = 223 mm2.

Tulangan Melintang.

1200 F L h
As =
Fs
Dimana :
F = 1,2 (koefisien gesek pelat beton dan lapis di bawahnya) (tabel 32).
fs = 3600 kg/cm2 (tegangan tarik Baja U36 yang diijinkan).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 140


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

1200 1,2 15 0,17


As = = 1,02 cm2 / m'.
3600
As min = 0,1 % luas penampang plat.
= 0,001 17 cm 100 cm = 1,70 cm2 / m'.

As min > As, Maka As yang dipakai adalah 1,70 cm2 / m'.

A = As = 1,70 cm2 170 mm2.

Direncanakan :
Diameter tulangan = 8 mm
Jarak = 225 mm
As 1 tulangan = d2 = ( 8 )2 = 50,265 mm2.
As terpakai = ( 1000 mm / 225 mm) 50,265 mm2.
= 223 mm2 > 170 mm2. (OK)
Maka tulangan yang digunakan adalah 8 225 mm = 223 mm2.

3,75 m 3,75 m D = 17 cm

Ruji (Dowel) 28 300


Sambungan Melintang
Ruji (Dowel) 28 300

Tulangan Memanjang dan


Melintang 8 225

15,00 m Batang Pengikat


(Tie Bar) 20 800
Sambungan Memanjang

Batang Pengikat
(Tie Bar) 20 - 800

Ruji (Dowel) 28 300

Lajur 1 Lajur 2

Ruji (Dowel) 28 300


D = 17 cm

Batang Pengikat
(Tie Bar) 20 800

Gambar 54. Tata Letak Sambungan Beton Bersambung Dengan Tulangan (BBDT) Pada
Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 141


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

7,5 cm Tebal selimut beton

7,5 cm 8 - 225

8 - 225

Tulangan Melintang
8 - 225

8 - 225

Tulangan Memanjang
8 - 225

8 - 225

15 m

8 - 225

8 - 225

8 - 225

12 - 100

7,50 m

Gambar 55. Rencana Penulangan Melintang dan Memanjang Beton Bersambung Dengan
Tulangan (BBDT) Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 142


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Ruji (Dowel) Polos 20 300


(diminyaki / dicat)
Bahan Penutup 6 - 10 mm

Tulangan Memanjang 8 225 max 20 mm 0,25 D Tulangan Memanjang 8 225


0,5 D
D = 17 cm d
Tulangan Melintang 8 225 0,5 D

0,5 Ld 0,5 Ld
Tulangan Melintang 8 225
Catatan :
d = diameter ruji
Ld = panjang ruji
D = tebal plat beton

Gambar 56. Sambungan Susut Melintang Beton Bersambung Denagn Tulangan (BBDT)
Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

Ruji (Dowel) Polos 20 300


Bahan Penutup 6 - 10 mm (diminyaki / dicat)

Tulangan Memanjang 8 225 0,25 D


0,5 D
D = 17 cm
Tulangan Melintang 8 225 0,5 D

Bahan Pegisi / filler 50 mm 25 mm


Spacer Bar U ( 8 ) Tulangan Melintang 8 225
0,5 Ld 0,5 Ld

Catatan :
d = diameter ruji
Ld = panjang ruji
D = tebal plat beton

Gambar 57. Sambungan Muai Dengan Ruji Beton Bersambung Dengan Tulangan (BBDT)
Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).
Batang Pengikat (ulir) 20 800
Bahan Penutup

Tulangan Memanjang 8 225 0,25 D Tulangan Memanjang 8 225

d D = 17 cm
Tulangan Melintang 8 225

Tulangan Melintang 8 225


50 mm
Spacer Bar U ( 8 )
0,5 Lt 0,5 Lt
Catatan :
d = diameter batang pengikat
Lt = panjang batang pengikat
D = tebal plat beton

Gambar 58. Rencana Pelaksanaan Memanjang Dengan Lidah Alur Dan Batang Pengikat
Beton Bersambung Dengan Tulangan (BBDT) Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 143


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

c. Perkerasan Beton menerus dengan tulangan.


Data data yang diketahui :
Tebal plat ( h ) = 17 cm.
Di dapat MR = 36,27 kg/cm2.
Mutu beton = K300 bk = 300 kg/cm2.
Mutu Baja = U36 leleh = 3600 kg/cm2 = 360 MPa.
Lebar Plat Beton ( B ) = 7,50 m.
Panjang Plat Beton ( L ) = 15 m.
Sambungan permukaan dipasang tiap 1,30 m dan menggunakan ruji berdiameter
20 dengan panjang 35 cm, dan jarak 30 cm.

Tulangan Memanjang.

100 ft
Ps = (1,3 0,2 F )
fy n ft
Dimana :
Ps = Persentase tulangan memanjang yang di butuhkan terhadap beton.
F = 1,2 (koefisien gesek pelat beton dan lapis di bawahnya) (tabel 32).
fy = 3600 kg/cm2 (tegangan tarik Baja U36 yang diijinkan).
ft = Kuat tekan beton = 0,4 0,5 MR.
Diambil 0,5 MR = 0,5 36,27 kg/cm2 = 18,136 kg/cm2.
n = Es / Ec = Angka ekivalen antara Baja dan Beton.

Tabel 31. Angka ekivalen antara Baja dan Beton (n).

bk ( kg/cm2 ) n = Es / Ec

115 140 15
145 170 12
175 225 10
235 285 8
290 6

K 300 bk = 300 kg/cm2 dari tabel di atas diperoleh, n = 6.

(100 ) (18,136)
Ps = 1.3 ( 0,2 x 1,2 ) = 0,551 %.
(3600 ) ( 6 ) (18,136)

As = Ps Penampang plat

= 0,551 % 100 cm 17 cm = 9,36 cm2.

As min = 0,65 % 100 cm 17 cm = 11,05 cm2.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 144


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

As min > As, Maka As yang dipakai adalah As min = 11,05 cm2 / m'.

A = As = 11,05 cm2 1105 mm2.

Direncanakan :
Diameter tulangan = 16 mm
Jarak = 150 m
As 1 tulangan = d2 = ( 6 )2 = 201,062 mm2.
As terpakai = ( 1000 mm / 150 mm) 201,062 mm2.
= 1340 mm2 > 1105 mm2. (OK)
Maka tulangan yang digunakan adalah 16 150 mm = 1340 mm2.

Tulangan Melintang.

1200 F L H
As = H = T.
Fs
Baja U36 dengan Fs = 3600 kg/cm2.
1200 1,2 15 0,17
As = = 1,02 cm2 / m'.
3600
As min = 0,1 % luas penampang plat.
= 0,001 17 cm 100 cm = 1,70 cm2 / m'.

As min > As, Maka As yang dipakai adalah 1,70 cm2 / m'.

A = As = 1,70 cm2 170 mm2.

Direncanakan :
Diameter tulangan = 8 mm
Jarak = 225 mm
As 1 tulangan = d2 = ( 8 )2 = 50,265 mm2.
As terpakai = ( 1000 mm / 225 mm) 50,265 mm2.
= 223 mm2 > 170 mm2. (OK)
Maka tulangan yang digunakan adalah 8 225 mm = 223 mm2.

Kontrol Terhadap Jarak Teoritis Antar Retakan ( Lcr ).


ft 2
Lcr =
n P 2 U fb (S Ec ft)

Tulangan memanjang 16 150 mm = 13,40 cm2.

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 145


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Dimana :

n = 6 (Angka ekivalen antara Baja dan Beton) ( tabel 31).

As Tulangan Memanjang 13,40 cm 2


P = = = 0,00788.
As Penampang Plat 100 cm 17 cm
4 4
U = d = tulangan memanjang U = = 2,50
d 1,6
K 300 bk = 300 kg/cm2

2,16 2,16
fb = bk = 300 = 23,383 kg/cm2.
d 1,6
S = 400 10-6
Ec = 16600 bk = 16600 300 = 287520,434 kg/cm2.

Maka ,
18,136 2
Lcr =
6 (0,00788) 2 (2,50)( 23,383)( 400 10 6 287520,434 18,136)
= 155,718 cm

Kesimpulan :

Lcr = 155,718 cm < Lcr maks = 250 cm. (OK)


D = 17 cm

Lajur 1

Tulangan Memanjang dan


Melintang 8 225 Lajur 2

15,00 m Batang Pengikat


(Tie Bar) 20 800
Sambungan Memanjang

Batang Pengikat
(Tie Bar) 20 - 800

Batang Pengikat
(Tie Bar) 20 800
D = 17 cm

Gambar 59. Tata Letak Sambungan Beton MenerusDengan Tulangan (BMDT) Pada
Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 146


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

7,5 cm Tebal selimut beton

7,5 cm 8 - 225

8 - 225

8 - 225

Tulangan Melintang
8 - 225

Tulangan Memanjang
16 - 150

16 - 150

15 m

8 - 225

8 - 225

8 - 225

12 - 225

7,50 m
Gambar 60. Rencana Penulangan Melintang dan Memanjang Beton Menerus Dengan
Tulangan (BMDT) Pada Perkerasan Kaku ( Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 147


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Batang Pengikat (ulir) 20 800


Bahan Penutup

Tulangan Memanjang 8 225 0,25 D Tulangan Memanjang 8 225

d D = 17 cm
Tulangan Melintang 8 225

Tulangan Melintang 8 225


50 mm
Spacer Bar U ( 8 )
0,5 Lt 0,5 Lt
Catatan :
d = diameter batang pengikat
Lt = panjang batang pengikat
D = tebal plat beton

Gambar 61. Rencana Pelaksanaan Memanjang Dengan Lidah Alur Dan Batang Pengikat
Beton Menerus Dengan Tulangan (BMDT) Pada Perkerasan Kaku (Rigid Pavament ).

7,50 m

350 mm

Tulangan Melintang 8 - 225

Tulangan Memanjang 16 - 150

350 mm

350 mm

7,50 m

Gambar 62. Rencana Penulangan Pada Tikungan Pada Perkerasan Kaku (Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 148


PERANCANGAN BANGUNAN SIPIL JALAN

Tumpang Tindih

15 m

7,50 m

Gambar 63. Rencana Penulangan Tumpang Tindih Pada Perkerasan Kaku (Rigid Pavament ).

HALIM SAPUTRA DAULAY (10 101 024) 149