Anda di halaman 1dari 9

Earning Management During Import Relief Investigations

Jennifer J. Jones
Journal of Accounting Research Vol. 29 No. 2 Autumn 1991

Studi ini menguji apakah perusahaan yang menguntungkan dari pembebasan


impor mencoba untuk menurunkan laba melalui manajamen laba selama investigasi
oleh United States International Trade Commission (ITC). Pembebasan impor
adalah transfer kemakmuran dari kelompok yang kalah (konsumer) ke kelompok
yang berfokus pada kemenangan (semua pihak lain yang dikontrak dari produsen
domestik penerima pembebasan impor). Penulis berpendapat bahwa konsumen
tidak mengawasi manajemen laba secara efektif sebagai pihak yang kalah yang
telah diuji pada studi lainnya karena kerugian dari setiap konsumen kecil, dan
kepentingan mereka lebih beragam, dibandingkan dari pihak yang dikontrak yang
diuji dalam studi ini.
Studi ini mendokumentasikan penggunaan angka akuntansi dalam program
pemerintahan sebagai basis transfer kemakmuran. Sebuah estimasi dari komponen
acak dari total akrual digunakan sebagai perhitungan dari manajemen laba
dibandingkan dengan komponen acak dari akrual tunggal. Model ekpektasi khusus
perusahaan dikembangkan untuk memperkirakan akrual normal. Model ekpektasi
mengendalikan pengaruh dari kondisi ekonomi pada tingkat akrual. Penulis
melakukan analisis cross-sectional untuk menguji apakah perkiraan diskresi akrual
cenderung menjadi penurunan laba selama periode investigasi kebebasan impor.
Penelitian ini mengambil sampel dibatasi pada investigasi kebebasan impor
yang dibutuhkan ITC untuk membuat sebuah penilaian kerugian. Sampel terdiri dari
5 jenis industri, yaitu automobiles dengan 4 perusahaan, carbon steel 5 perusahaan,
stainless and alloy tool steel 2 dan 4 perusahaan, copper 8 perusahaan, dan
footweaar 8 perusahaan. Lima sektor diinvestigasi dengan pertimbangan general
clause escape privision dan sisanya dengan pertimbangan antidumping and
cuntervailing duty. Data dari laporan tahunan perusahaan digunakan untuk
membangun proxy manajemen laba perusahaan.
Kesimpulan dari penelitian empiris ini mendukung hipotesis manajemen laba
yang menunjukkan bahwa manajer menghasilkan penurunan laba arual selama
investigasi kebebasan impor. Diskresi akrual lebih menurunkan laba sepanjang
tahun investigasi ITC selesai (tahun ke-0) dibandingkan yang diharapkan. Disamping
itu untuk menyediakan bukti bahwa manajer mengelola laba selama investigasi
kebebasan impor, hasil studi ini mungkin memberikan bukti yang berguna untuk
regulator pada ITC. ITC mungkin diuntungkan dengan mengambil kedalam bukti
akun yang disediakan dimana manajer terlihat membuat penurunan laba selama
periode investigasi kebebasan impor. Tentu saja ITC bergantung pada beberapa
faktor dalam membuat keputusan yang menciderai mereka yang mungkin
mengurangi masalah dari ketergantungan pada angka laba yang dilaporkan.
Detecting Earnings Management
Patricia M. Dechow, Richard G. Sloan, & Amy P. Sweeney
The Accounting Review Vol. 70 No. 2 April 1995: 193-225

Penelitian ini dilakukan oleh si penulis karena tidak ada terdapatnya bukti
bawaan pada kinerja relatif dari alternatif model penelitian manajemen laba dengan
menggunakan diskresi akrual untuk mendeteksi manajemen laba tersebut. Penulis
mengevaluasi kinerja relatif dari model yang bersaing dengan dibandingkan dengan
spesifikasi dan kekuatan yang secara umum digunakan dalam pengujian statistik.
Spesifikasi dari pengujian statistik ini telah dievaluasi dengan menguji frekuensi
dengan yang mana menghasilkan error tipe I. Penelitian ini berfokus pada sampel
dengan kinerja keuangan ekstrim karena investigasi rangsangan pada penelitian
sebelumnya seringkali berhubungan dengan kinerja keuangan.
Kekuatan pengujian statistik telah dievaluasi dengan menguji frekuensi yang
mana menghasilkan error tipe II. Error tipe II ini dihasilkan melalui dua cara. Pertama
mereka menghitung frekuensi penolakan atas firm-year sampel dimana mereka
memiliki tambahan secara artifisial menambahkan perbaikkan dan mengetahui
jumlah dari akrual untuk tiap-tiap firm year. Simulasi ini sama dengan yang telah
ditunjukkan oleh Brown dan Warner (1980, 1985) dalam mengevaluasi model
alternatif untuk mendeteksi kinerja harga saham yang abnormal. Cara kedua adalah
adalah mengambil sampel yang berisi perusahaan yang telah ditargetkan oleh SEC
yang diduga telah melebihkan laba tahunan. Validitas eksternal dari hasil ini berakhir
pada asumsi bahwa SEC secara tepat telah mengidentifikasi firm-years yang mana
telah mengelola labanya.
Dalam pengukuran diskresi akrual, penulis menggunakan beberapa model
yang telah digunakan pada beberapa penelitian sebelumnya. Pertama
menggunakan model Healy (1985), dimana Healy menguji manajemen laba dengan
membandingkan rata-rata total akrual dengan variabel penyekat manajemen laba.
Model kedua adalah yang digunakan DeAngelo (1986), dimana DeAngelo menguji
manajemen laba dengan menghitung perbedaan pertama total akrual, dan dengan
mengasumsikan bahwa perbedaan pertama tersebut mempunyai ekspektasi
terhadap nilai nol dibawah hipotesis yang batal dari tidak adanya manajemen laba.
Model ketiga adalah Jones (1991), dimana dia mengajukan model yang merilekskan
asumsi bahwa nondiskresi akrual adalah konstan. Modelnya mencoba untuk
mengendalikan efek dari perubahan dalam kondisi ekonomi perusahaan pada
nondiskresi akrual. Model yang keempat penulis memodifikasi model Jones tersebut.
Modifikasi dirancang untuk mengeliminasi kecendrungan dugaan dari model Jones
untuk mengukur diskresi akrual dengan error ketika discresi mencoba melebihkan
laba. Model terakhir adalah model industri yang digunakan Dechow dan Sloan
(1991).
Dalam penelitian ini, penulis merancang penelitian empiris dengan menguji
manajemen laba menggunakan empat kriteria sampel dari firm-years sebagai event-
years:
a. Sampel dipilih secara acak untuk 1.000 firm-years.
b. Sampel dari 1.000 firm-years yang dipilih secara acak dari firm-years yang
berpengalaman ekstrim dalam kinerja keuangan.
c. Sampel dari 1.000 perusahaan yang dipilih secara acak dimana perbaikan
dan pengetahuan jumlah dari manipulasi akrual telah secara artifisial
diperkenalkan.
d. Sampel dari 32 perusahaan yang menjadi subjek untuk aksi penguatan SEC
untuk melebihkan dugaan laba tahunan dalam 56 firm-years.
Setelah dilakukan pengujian dengan berbagai model diatas, makan penulis
menyimpulkan bahwa model Jones yang dimodifikasi menyediakan pengujian yang
paling kuat dalam manajemen laba. Terdapat tiga implikasi dari penellitian ini.
Pertama, sekalipin model digunakan untuk mendeteksi manajemen laba, kekuatan
pengujian secara relatif rendah untuk manajemen laba dari besarab masuk akal
secara ekonomi. Sehingga diharapkan penelitian masa depan dapat menghasilkan
ketetapan yang lebih baik dan pengujian yang lebih kuat yang akan meningkatkan
kemampuan dalam mendeteksi manajemen laba. Kedua, jika variabel partisi
manajemen laba terkait dengan kinerja perusahaan, pengujian manajemen laba
berpotensi misspecified untuk semua model yang dipertimbangkan. Dalam hal ini
ada dua saran. Pertama peneliti dapat mengevaluasi ruang lingkup kesalahtetapan
dan menghitung pertimbangan kualitatif dari seberapa besar hal itu mempengaruhi
kesimpulan statistik. Kedua peneliti dapat mencoba untuk secara langsung
mengendalikan kinerja yang terkait kesalahtetapan. Implikasi yang terakhir adalan
penting untuk mempertimbangkan hubungan antara konteks dimana manajemen
laba dihipotesiskan dan modek nondiskresi akrual yang dipekerjakan, karena model
nondiskresi akrual mungkin tanpa sengaja memasukkan komponen dari diskresi
akrual.
Earning Management Through Real Activities Manipulation
Sugata Roychowdurry
Journal of Accounting and Economic 42 (2006) 335-370

Penulis melatarbelakangi penelitian ini karena terdapat beberap bukti


bahwasanya manajemen melakukan manajemen laba melalui kegiatan nyata
perusahaan. Manipulasi aktifitas nyata ini mempengaruhi aliran kas dan dalam
beberapa kasus, akrual. Maka paper ini berkontribusi sebagai literatur manajemen
laba denga menampilkan bukit pada pengelolaan aktifitas operasional, dimana
memiliki sedkit perhatian yang diterima.
Tujuan pertama paper ini adalah untuk mengembangkan metode empiris
untuk mendeteksi manipulasi aktifitas nyata, dengan menguji CFO, biaya produksi,
dan beban diskresi. Kemudian penulis menggunakan pengukuran tersebut untuk
mendeteksi manipulasi aktifitas nyata sekitar pintu laba nol.
Dalam pengujian utama paper ini, suspect firm-years adalah firm-years yang
melaporkan laba tahunan kecil. Dua hipotesis utama berdasarkan bentuk tersebut
adalah
H1A setelah mengendalikan tingkat penjualan, suspect firm-years memperlihatkan
: setidaknya salah satu dari hal berikut: rendahnya arus kas operasi yang tidak
biasa atau rendahnya bebas diskresi yang tidak biasa.
H2A setelah mengendalikan tingkat penjualan, suspect firm-years menampilkan
: tingginya biaya produksi yang tidak biasa
Kemudian dalam variasi cross sectional dalam manipulasi aktifitas nyata, meliputi hal
sebagai berikut: keanggotaan industri; insentif untuk laba nol, termasuk kehadiran
hutang, kesempatan bertumbuh, dan kreditor jangka pendek; fleksibilitas manajemen
laba; dan kepemilikan institusional. Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberap
hipotesis, yaitu
H3A: Dalam kondisi ceteris paribus, suspect firm-years dalam industri manufaktur
menampilkan biaya produksi abnormal yang lebih tinggi dibandingkan
suspect firm-years lainnya.
H4A: Dalam kondisi ceteris paribus, suspect firm-years dengan hutang yang besar
menampilkan biaya produksi abnormal yang lebih tinggi, dan biaya diskresi
abnormal yang lebih rendah dibandingkan suspect firm-years lainnya.
H5A: Dalam kondisi ceteris paribus, suspect firm-years dengan market-to-book
tinggi menampilkan biaya produksi abnormal yang lebih tinggi dan biaya
diskresi abnormal yang lebih rendah dibandingkan suspect firm-years
lainnya.
H6A: Dalam kondisi ceteris paribus, suspect firm-years dengan kewajiban lancar
tinggi sebagai persentase dari total aset menampilkan biaya produksi
abnormal yang lebih tinggi, dan beban diskresi yang lebih rendah
dibandingkan suspect firm-years lainnya.
H7A: Dalam kondisi ceteris paribus, suspect firm-years dengan tingkat perseduaan
dan piutang dagang tinggi sebagai persentase dari total aset menampilkan
biaya produksi abnormal yang lebih tinggi dibandingkan suspect firm-years
lainnya.
H8A: Dalam kondisi ceteris paribus, suspect firm years dengan kepemilikan
institusional tinggi menampilkan biaya produksi abnormal yang lebih rendah
dan beban diskresi abnormal yang lebih tinggi dibandingkan suspect firm-
years lainnya.
Sejumlah penelitian menggunakan distribusi frekuensi tahun perusahaan
untuk menyatakan bahwa eksekutif mengelola laba untuk menghindari melaporkan
kerugian dan perkiraan yang hilang. Makalah saya memberikan bukti tambahan
bahwa perusahaan melaporkan laba positif kecil dan perkiraan perkiraan positif kecil
mengelola pendapatan melalui aktivitas nyata. Hasilnya menunjukkan bahwa
menggambar kesimpulan pada manajemen laba dengan hanya menganalisis akrual
mungkin tidak tepat. Makalah ini juga memunculkan beberapa pertanyaan untuk
penelitian selanjutnya. Salah satu isu penting adalah bagaimana para manajer
memilih antara manipulasi aktivitas nyata versus manipulasi akrual bila mereka
memiliki fleksibilitas untuk terlibat dalam keduanya. Bidang lain untuk penelitian lebih
lanjut adalah waktu manipulasi aktivitas nyata. Meskipun harus terjadi sepanjang
tahun, intensitasnya harus meningkat menjelang akhir tahun, karena para manajer
menghasilkan ekspektasi pendapatan pra-pengelolaan yang lebih dapat diandalkan
untuk tahun ini.
Selanjutnya, akan menarik untuk menyelidiki apakah perusahaan yang terlibat
dalam manipulasi aktivitas nyata biasanya terlibat dalam praktik semacam itu.
Misalnya, apakah perusahaan yang mempercepat waktu penjualan di tahun yang
buruk melalui diskon harga memiliki insentif untuk melakukan hal yang sama di
tahun berikutnya? Isu terkait adalah apakah pasar saham memahami implikasi
aktual dan nyata dari manipulasi aktivitas nyata. Penelitian mengenai isu-isu ini
harus mengarah pada pemahaman yang lebih lengkap tentang pentingnya
memenuhi target pendapatan, tingkat pengelolaan laba melalui kegiatan nyata, dan
efek jangka panjang dari manipulasi aktivitas nyata.

Pertanyaan:
1. Apakah maksud dari beban diskresi yang banyak terdapat didalam tiga artikel
diatas? Apa contonhya dan kaitannya dengan manajemen laba?
2. Bagaimana Roychowdury memastikan bahwa setiap pengujian yang dia
lakukan dalam cross sectional benar-benar berada dalam kondisi ceteris
paribus sehingga hasil penelitian benar-benar bisa menjawab hipotesis?
3. Apabila dikaitkan dengan kejadian nyata, apakah hasil penelitian ini dapat
membantu dalam menurunkan praktik manajemen laba secara nyata? Atau
hanyalah sebuah teori yang sulit dipraktikan?