Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Pembimbing :

dr. Gunawan M Rachmat, SpOG

Disusun oleh :

Kheluwis Sutiady

406148098

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN


KEBIDANAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI
PERIODE 18 JANUARI 2015 26 MARET 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
REFERAT

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Pembimbing :

dr. Gunawan M Rachmat, SpOG

Disusun oleh :

Kheluwis Sutiady

406148098

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN


KEBIDANAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI
PERIODE 18 JANUARI 2015 26 MARET 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
LEMBAR PENGESAHAN

Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah satu syarat

menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Kandungan dan Kebidanan

RSUD Ciawi.

Nama : Kheluwis Sutiady

NIM : 406148098

Fakultas : Kedokteran Umum

Tingkat : Universitas Tarumanagara Jakarta

Bidang Pendidikan : Ilmu Kandungan dan Kebidanan

Judul : Hiperemesis Gravidarum

Pembimbing : dr. Gunawan M Rachmat, SpOG

Telah Diperiksa dan Disahkan


Tanggal.

Pembimbing

dr. Gunawan M Rachmat, Sp. OG

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis akhirnya dapat menyelesaikan referat
yang berjudul Hiperemesis Gravidarum ini dengan baik. Referat ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas kepaniteraan klinik ilmu kesehatan anak Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi.
Dalam penyusunan referat ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak
yang telah mendukung keberhasilan penyusunan karya tulis ilmiah ini. Ucapan terima kasih
penulis sampaikan kepada :

1. dr. Gunawan M Rachmat, Sp. OG selaku pembimbing dalam kepaniteraan klinik ilmu
kandungan dan kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi.
2. Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi, selaku rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa
kepaniteraan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
3. Seluruh staf RSUD Ciawi, terutama perawat serta bidan bangsal dan poli, serta ponek.
4. Orang tua, terutama ayah dan ibu yang selalu memberikan doa untuk penulis
5. Rekan rekan sejawat stase kebidanan dan kandungan, yang tidak henti-hentinya
memberikan dorongan moril.

Akhir kata, semoga referat ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu kesehatan
anak di masa yang akan datang.

Bogor, Maret 2016

Penulis

Kheluwis Sutiady

iii
DAFTAR ISI

BAB I ................................................................................................................................ 1

Pendahuluan .................................................................................................................... 1

BAB II .............................................................................................................................. 3

Tinjauan Pustaka ............................................................................................................ 3

2.1 Definisi ....................................................................................................................... 3

2.2 Klasifikasi .................................................................................................................. 3

2.3 Angka Kejadian ........................................................................................................ 4

2.4 Etiopatogenesis .......................................................................................................... 4

2.5 Diagnosis .................................................................................................................... 6

2.6 Gejala Klinik ............................................................................................................. 6

2.7 Risiko.......................................................................................................................... 7

2.8 Tatalaksana ............................................................................................................... 7

2.9 Komplikasi ................................................................................................................. 9

2.10 Pencegahan .............................................................................................................. 10

2.11 Diagnosis Banding................................................................................................... 10

2.12 Prognosis .................................................................................................................. 12

BAB III............................................................................................................................. 13

Kesimpulan ...................................................................................................................... 13

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Mual dan muntah, pening, perut kembung, dan badan terasa lemah dapat
terjadi hampir pada 50% kasus ibu hamil, dan terbanyak pada usia kehamilan 6-12
minggu dan dapat dijumpai sampai usia sekitar 16 minggu. Keluhan mual muntah
sering terjadi pada waktu pagi sehingga dikenal juga dengan morning sickness.
Juga terdapat keluhan ptialisme, hipersalivasi yaitu banyak meludah. Epulis
gravidarum, infeksi gingivitis dapat menyebabkan perdarahan gusi. 1,2

Mual dan muntah tampaknya disebabkan oleh kombinasi hormon estrogen


dan progesteron, walaupun hal ini tidak diketahui dengan pasti dan hormon
human chorionic gonadotropin juga berperan dalam menimbulkan mual dan
muntah. Gastroesophageal reflux terjadi kurag lebih 80% dalam kehamilan, dan
dapat disebabkan oleh kombinasi menurunnya tekanan sfingter esofageal bagian
bawah, meningkatnya tekanan intragastrik, menurunnya kompetensi sfingter pilori
dan kegagalan mengeluarkan asam lambung. Konstipasi disebabkan oleh efek
hormon progesteron yang dapat menyebabkan relaksasi otot polos dan
peningkatan waktu transit dari lambung dan usus dapat meningkatkan absrobsi
cairan. 1

Kelainan gastrointestinal tersebut bisa timbul pada saat kehamilan atau


oleh kelainan yang sebelumnya sudah ada dan akan bertambah berat sewaktu
hamil. Memahami adanya keluhan atau kondisi tersebut sangat bermanfaat untuk
dapat memberikan perawatan sebaik-baiknya. Perubahan-perubahan fisiologik
atau patologik umunya tidak berbahaya dan dapat ditangani dengan mudah
melalui penjelasan pada pasien serta pemberian obat-obat relatif ringan. 1

Keluhan peptic ulcer (ulkus peptikum) mungkin bisa berkurang selama


kehamilan karena pengeluaran asam lambung berkurang, proses pengosongan
lambung berkurang, karena adanya daya proteksi prostaglandin menurun. 1

Selama kehamilan keluhan hemoroid bisa terjadi karena adanya tekanan


pembuluh vena yang meninggi dan gejala konstipasi ang bertambah. Keluhan lain

1
yang juga dapat bertambah dalam kehamilan adalah kolelitiasis, pankreatitis,
kolestasis kehamilan, inflammatory bowel disease, dan acute fatty liver (AFL)
yang ditandai liver function test meningkat (SGOT>SGPT), PT>PTT, bilirubin
sedikit meninggi, AT III menurun banyak, amonia sedikit meninggi, dan
hiperglikemia.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Hiperemesis gravidarum didefinisikan secara beragam sebagai muntah


yang cukup parah untuk menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, alkalosis
akibat keluarnya asam hidroklorida, dan hipokalemia.2 Hiperemesis gravidarum
terjadi pada awal kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah
kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum
dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan menganggu
pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton dalam
urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielititis, dan sebagainya. 1
Mual dan muntah mempengaruhi hingga >50 % kehamilan. Kebanyakan
perempuan mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet,
dan simptom akan teratasi hingga akhir trimester pertama. Penyebab penyakit ini
masih belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan erat hubungannya dengan
endokrin, biokimiawi, dan psikologis. 1

2.2 Klasifikasi
Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu:
Tingkat I
Muntah yang terus-menerus, timbul intoleransi terhadap makanan
dan minuman, berat-badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama
keluar makanan, lendir dan cairan empedu, dan yang terakhir keluar darah.
Nadi meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan darah sistolik
menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, dan urin
sedikit tetapi masih normal.1
Tingkat II
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum
dimuntahkan, haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih dari 100 - 140
kali per menit, tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg, apatis, kulit

3
pucat, lidah kotor, kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam urin, dan berat
badan cepat menurun. 1
Tingkat III
Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang, yang mulai terjadi
adalah gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau
berhenti, tetapi dapat terjadi ikterus, sianosis, nistagmus, gangguan
jantung, bilirubin, dan proteinuria dalam urin. 1

2.3 Angka kejadian


Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai
pada kehamilan muda dan dikeluhkan oleh 50-70% wanita hamil dalam 16
minggu pertama. Kurang lebih 66% wanita hamil rimester pertama mengalami
mual dan 44% mengalami muntah.3
Insiden bervariasi seusai populasi,dan tampaknya terdapat predileksi etnis
atau familial. Dalam studi-studi berbasis populasi dari California dan Nova Scotia,
angka rawawt-inap untuk hiperemesis adalah 0,5 0,8%. Rawat inap lebih jarang
pada wanita dengan obesitas. Pada wanita yang dirawat inap karena hiperemesis
gravidarum pada kehamilan sebelumnya, hampir 20% memerlukan rawat inap
pada kehamilan selanjutnya.2

2.4 Etiopatogenesis
Etiologi dan patogenesis emesis dan hiperemesis gravidarum berkaitan
erat dengan etiologi dan pathogenesis mual dan muntah pada kehamilan.
Penyebab pasti mual dan muntah yang dirasakan ibu hamil belum diketahui, tetapi
terdapat beberapa teori yang mengajukan keterlibatan faktor-faktor biologis, sosial
dan psikologis. Faktor biologis yang paling berperan adalah perubahan kadar
hormon selama kehamilan. Menurut teori terbaru, peningkatan kadar Human
Chorionic Gonadotropin (hCG) akan menginduksi ovarium untuk memproduksi
estrogen, yang dapat merangsang mual dan muntah.
Perempuan dengan kehamilan ganda atau molahidatidosa yang diketahui
memiliki kadar hCG lebih tinggi daripada perempuan hamil lain mengalami
keluhan mual dan muntah yang lebih berat. Progesteron juga diduga

4
menyebabkan mual dan muntah dengan cara menghambat motilitas lambung dan
irama kontraksi otot-otot polos lambung. Penurunan kadar thyrotropin-stimulating
hormone (TSH) pada awal kehamilan juga berhubungan dengan hiperemesis
gravidarum meskipun mekanismenya belum jelas. Hiperemesis gravidarum
merefleksikan perubahan hormonal yang lebih drastis dibandingkan kehamilan
biasa. 2
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh
beberapa sebagai berikut:
1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola
hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa
dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang
peranan karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin
dibentuk berlebihan. Ditemukan peninggian yang bermakna dari kadar serum
korionik gonadotropin total maupun -subunit bebasnya pada ibu dengan
hiperemesis dibandingkan dengan yang hamil normal.2
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik
akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan
ini merupakan faktor organik. 2
3. Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut
sebagai salah satu faktor organik. 2
4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah
tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan persalinan,
takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik
mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar
terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.2
5. Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain. Gejala mual-
muntah dapat juga disebabkan oleh gangguan traktus digestivus seperti pada
penderita diabetes melitus (gastroparesis diabeticorum). Hal ini disebabkan
oleh gangguan motilitas usus pada penderita. 2
6. Helicobacter pilory juga merupakan faktor risiko terhadap hiperemis
gravidarum.6

5
7. Peningkatan daya penciuman dan daya perasa pada penderita hiperemis
gravidarum.7

2.5 Diagnosis

Amenore yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu.


Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun
pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma).
Fisik : dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun, pada
vaginal toucher uterus besar sesuai besarnya kehamilan, konsistensi lunak,
pada pemeriksaan inspekulo serviks berwarna biru (livide).
Pemeriksaan USG : untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan juga
untuk mengetahui kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun
kehamilan molahidatidosa.
Laboratorium : kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit, shift to the
left, benda keton, dan proteinuria.
Pada keluhan hiperemesis yang berat dan berulang perlu dipikirkan untuk
konsultasi psikologi. 1,2

2.6 Gejala Klinik

Gejala hiperemesis gravidarum yang khas meliputi:

Muntah hebat
Haus, mulut kering
Dehidrasi
Foetor ex ore (mulut berbau)
Berat badan turun
Keadaan umum menurun
Suhu bertambah
Ikterus
Gangguan serebral (kesadaran menurun, delirium)

6
Laboratorium: hipokalemia, asidosis. Dalam urine ditemukan protein,
aseton, urobilinogen, pertambahan porfirin, dan silinder positif. 3

Gejala penyakit biasanya dimulai setelah kehamilan memasuki minggu 5


6 minggu dan berangsur-angsur membaik sendiri sekitar minggu ke 12. 3

Pada bentuk ringan, pasien hanya mual atau muntah pada pagi hari saja,
sementara pada siang hari pasien sudah membaik. Oleh karena sebab itu,
penyakit ini disebut juga morning sickness. Keadaan ini tidak mempengaruhi
keadaan umum penderita.3

2.7 Risiko

Maternal
Akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan terjadinya
diplopia, palsi nervus ke-6, nistagmus, ataksia, dan kejang. Jika hal ini
tidak segera ditangani, akan terjadi psikosis Korsakoff (amnesia,
menurunnya kemampuan untuk beraktivitas), ataupun kematian. Oleh
karena itu, untuk hiperemesis tingkat III perlu dipertimbangkan terminasi
kehamilan.
Fetal
Penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR). 2

2.8 Tatalaksana

Untuk keluhan hiperemesis yang berat, pasien dianjurkan untuk dirawat di


rumah sakit dan membatasi pengunjung.
Stop makanan per oral 24 48 jam.
Infus glukosa 10% atau 5% : RL = 2 : 1, 40 tetes per menit. 1
Obat
o Vitamin B1, B2, dan B6 masing-masing 50 100 mg/hari/infus
o Vitamin B12 200 g/hari/infus, vitamin c 200 mg/hari/infus

7
o Fenobarbital 30 mg I.M 2-3 kali per hari atau klorpromazin 25 50
mg/hari I.M. atau kalau diperlukan diazepam 5 mg 2 3
kali/hari/I.M
o Antiemetik: prometazin (avopreg) 2 3 kali/hari/oral atau
proklorperazin (stemetil) 3 x 3 mg/hari/oral atau mediameter B6 3 x
1/hari/oral
o Antasida: asidrin 3 x 1 tablet/hari/oral atau milanta 3 x 1
tablet/hari/oral atau magnam 3 x 1 tablet/hari/oral
Diet sebaiknya meminta advis ahli gizi
Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan
hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan
bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang
mengandung zat gizi, kecuali vitamin C sehingga hanya diberikan
selama beberapa hari. 1
Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai
gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan
ini rendah dalam semua zat gizi, kecuali vitamin A dan D. 1
Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan
hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman
boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam
semua zat gizi, kecuali kalsium. 1
Rehidrasi dan suplemen vitamin
Pilihan cairan adalah normal salin (NaCl 0,9 %). Cairan dekstrose
tidak boleh diberikan karena tidak mengandung sodium yang cukup untuk
mengoreksi hiponatremia. Suplemen potasium boleh diberikan secara
intravena sebagai tambahan. Suplemen tiamin diberikan secara oral 50
atau 150 mg atau 100 mg dilarutkan ke dalam 100 cc NaCl. Urin output
juga harus dimonitor dan perlu dilakukan pemeriksaan dipstick untuk
mengetahui terjadinya ketonuria. 1

8
Antiemesis
Tidak dijumpai adanya teratogenitas dengan menggunakan dopamine
antagonis (metoklopramid, domperidon) fenotiazin (klorpromazin,
proklorperazin), antikolinergik (disiklomin) atau antihistamin H1-reseptor
antagonis (prometazin, siklizin). Namun, bila masih tetap tidak
memberikan respons, dapat juga digunakan kombinasi kortikosteroid
dengan reseptor antagonis 5-Hidrokstriptamin (5-HT3) (ondansetron,
sisaprid). 1

2.9 Komplikasi
Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang
berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat
mengalami syok. Dehidrasi yang berkepanjangan juga menghambat tumbuh
kembang janin. Oleh karena itu, pada pemeriksaan fisik harus dicari apakah
terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi nadi (>100
kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi subfebris, dan penurunan
kesadaran.1
Selanjutnya dalam pemeriksaan fisis lengkap dapat dicari tanda-tanda
dehidrasi, kulit tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan. Selain
dehidrasi, akibat lain muntah yang persisten adalah gangguan keseimbangan
elektrolit seperti penurunan kadar natrium, klor dan kalium, sehingga terjadi
keadaan alkalosis metabolik hipokloremik disertai hiponatremia dan hipokalemia.
Hiperemesis gravidarum yang berat juga dapat membuat pasien tidak dapat makan
atau minum sama sekali, sehingga cadangan karbohidrat dalam tubuh ibu akan
habis terpakai untuk pemenuhan kebutuhan energi jaringan. Akibatnya, lemak
akan dioksidasi. Namun, lemak tidak dapat dioksidasi dengan sempurna dan
terjadi penumpukan asam aseton-asetik, asam hidroksibutirik, dan aseton,
sehingga menyebabkan ketosis. Salah satu gejalanya adalah bau aseton (buah-
buahan) pada napas. Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan hiperemesis
gravidarum dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit,
hiponatremia dan hipokalemia, badan keton dalam darah dan proteinuria. 4

9
Robekan pada selaput jaringan esofagus dan lambung dapat terjadi bila
muntah terlalu sering. Pada umumnya robekan yang terjadi kecil dan ringan, dan
perdarahan yang muncul dapat berhenti sendiri. Tindakan operatif atau transfusi
darah biasanya tidak diperlukan. Perempuan hamil dengan hiperemesis
gravidarum dan kenaikan berat badan dalam kehamilan yang kurang (<7 kg)
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir
rendah, kecil untuk masa kehamilan, prematur, dan nilai APGAR lima menit
kurang dari tujuh.4

2.10 Pencegahan

Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan


dengan jalan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan
persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa
mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada
kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan
mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih
sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan
untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak
dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman disajikan dalam
keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin,
menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh
karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.5

2.11 Diagnosis Banding


Keluhan muntah yang berat dan persisten tidak selalu menandakan
hiperemesis gravidarum. Penyebab-penyebab lain seperti penyakit
gastrointestinal, pielonefritis dan penyakit metabolik perlu dieksklusi. Satu
indikator sederhana yang berguna adalah awitan mual dan muntah pada
hiperemesis gravidarum biasanya dimulai dalam delapan minggu setelah hari
pertama haid terakhir. Karena itu, awitan pada trimester kedua atau ketiga
menurunkan kemungkinan hiperemesis gravidarum. Demam, nyeri perut atau
sakit kepala juga bukan merupakan gejala khas hiperemesis gravidarum.

10
Pemeriksaan ultrasonografi perlu dilakukan untuk mendeteksi kehamilan ganda
atau mola hidatidosa.4
Diagnosis banding hiperemesis gravidarum antara lain ulkus peptikum,
kolestasis obstetrik, perlemakan hati akut, apendisitis akut, diare akut,
hipertiroidisme dan infeksi Helicobacter pylori. Ulkus peptikum pada ibu hamil
biasanya adalah penyakit ulkus peptikum kronik yang mengalami eksaserbasi
sehingga dalam anamnesis dapat ditemukan riwayat sebelumnya. Gejala khas
ulkus peptikum adalah nyeri epigastrium yang berkurang dengan makanan atau
antacid dan memberat dengan alkohol, kopi atau obat antiinflamasi nonsteroid
(OAINS). Nyeri tekan epigastrium, hematemesis dan melena dapat ditemukan
pada ulkus peptikum. 4
Pada kolestasis dapat ditemukan pruritus pada seluruh tubuh tanpa adanya
ruam. ikterus, warna urin gelap dan tinja berwarna pucat disertai peningkatan
kadar enzim hati dan bilirubin. Pada perlemakan hati akut ditemukan gejala
kegagalan fungsi hati seperti hipoglikemia, gangguan pembekuan darah, dan
perubahan kesadaran sekunder akibat ensefalopati hepatik. 4
Keracunan parasetamol dan hepatitis virus akut juga dapat menyebabkan
gambaran klinis gagal hati. Pasien dengan apendisitis akut biasanya mengalami
demam dan nyeri perut kanan bawah. Nyeri dapat berupa nyeri tekan maupun
nyeri lepas dan lokasi nyeri dapat berpindah ke atas sesuai usia kehamilan karena
uterus yang semakin membesar. Apendisitis akut pada kehamilan memiliki tanda-
tanda yang khas, yaitu tanda Bryan (timbul nyeri bila uterus digeser ke kanan) dan
tanda Alder (apabila pasien berbaring miring ke kiri, letak nyeri tidak berubah).
Meskipun jarang, penyakit Graves juga dapat menyebabkan hiperemesis. Oleh
karena itu, perlu dicari apakah terdapat peningkatan FT4 atau penurunan TSH.
Kadar FT4 dan TSH pada pasien hiperemesis gravidarum dapat sama dengan
pasien penyakit Graves, tetapi pasien hiperemesis tidak memiliki antibodi tiroid
atau temuan klinis penyakit Graves, seperti proptosis dan pembesaran kelenjar
tiroid. Jika kadar FT4 meningkat tanpa didapatkan bukti penyakit Graves,
pemeriksaan tersebut perlu diulang pada usia gestasi yang lebih lanjut, yaitu
sekitar 20 minggu usia gestasi, saat kadar FT4 dapat menjadi normal pada pasien
tanpa hipertiroidisme. Pemberian propiltiourasil pada pasien hipertiroidisme dapat

11
meredakan gejala-gejala hipertiroidisme, tetapi tidak meredakan mual dan
muntah. Sebuah studi lain yang menarik menemukan adanya hubungan antara
infeksi kronik Helicobacter pylori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum. 7

2.12 Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat
memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada
tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. Literatur
lain menyebutkan, prognosis hiperemesi gravidarum umumnya baik, namun dapat
menjadi fatal bila terjadi deplesi elektrolit dan ketoasidosis yang tidak dikoreksi
dengan tepat dan cepat.5

12
BAB III

PENUTUP

Diagnosis dan penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan yang


tepat dapat mencegah komplikasi hiperemesis gravidarum yang membahayakan
ibu dan janin. Ketepatan diagnosis sangat penting, karena terdapat sejumlah
kondisi lain yang dapat menyebabkan mual dan muntah dalam kehamilan. Tata
laksana komprehensif dimulai dari istirahat, modifikasi diet dan menjaga asupan
cairan. Jika terjadi komplikasi hiperemesis gravidarum, penata-laksanaan utama
adalah pemberian rehidrasi dan perbaikan elektrolit.
Terapi farmakologi dapat diberikan jika dibutuhkan, seperti piridoksin,
doxylamine, prometazin, dan meto-klopramin dengan memperhatikan
kontraindikasi dan efek sampingnya. Beberapa terapi alternatif sudah mulai
diteliti untuk penatalaksanaan hiperemesis gravidarum, seperti ekstrak jahe dan
akupuntur, dengan hasil yang bervariasi.

13
DAFTAR PUSTAKA

1 Wibowo B, Soejono A. Hiperemesis gravidarum dalam ilmu kebidanan. Edisi


ketiga cetakan ketujuh. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo;
2005.h.275-280.
2 Hartanto H. Penyakit saluran cerna. Dalam: Cunningham FG. Obstetric
Williams. Edisi ke-21. Jakarta: EGC; 2005.h.1424-1425
3 Obstetri patologi. (1975). Bandung: Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas
Kedokteran, Universitas Padjadjaran.
4 Gunawan K, Manengkei PSK, Ocviyanti D. Diagnosis dan tatalaksana
hiperemesis gravidarum. Vol.61. Jakarta: J Indon Med Assoc; 2011.h.459-65
5 Moeloek FA. Hiperemesis gravidarum. Dalam : Standar Pelayanan Medik:
Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia;2006.h.21-22
6 Li, L., Li, L., Zhou, X., Xiao, S., Gu, H. and Zhang, G. (2015). Helicobacter
pyloriInfection Is Associated with an Increased Risk of Hyperemesis
Gravidarum: A Meta-Analysis. Gastroenterology Research and Practice,
2015, pp.1-13.
7 Mehmet Yasar, Mustafa Sagit, Semih Zeki Uludag, Ibrahim Ozcan. (2016).
Does odor and taste identification change during hyperemesis gravidarum?.
National Center for Biotechnology Information, 2016, pp.1-13

14

Anda mungkin juga menyukai