Anda di halaman 1dari 10

SKOR :

UAS FILSAFAT ILMU


Oleh :

Nama : Syamsah Fitri


NIM : 8176171034
Kelas : A1 / Pasca Pendidikan Matematika
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Dr. Arif Rahman, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A. 2017 / 2018
1. Buatlah peta konsep sejarah dan perkembangan ilmu sejak zaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Renaisance atau Aufklarung hingga
zaman Moderrn dan Kontemporer, serta substansi objek kajian setiap zaman,
Jawab : Referensi
https://www.wattpad.com/19095473-zaman-yunani-kuno-abad-pertengahan-abad-modern-dan

Buku online: Suaedi. 2016. pengantar filsafat Ilmu. Bogor. IPB Press

Zaman Yunani Kuno Substansi objek kajian: Kelahiran filsafat pada Abad Pertengahan Substansi objek kajian: Pemikiran filsafat pada abad
zaman Yunani Kuno merupakan reaksi terhadap mitos-mitos yang ini bersifat teologis dogmatis. Gereja sebagai institusi pada waktu menjadi
berkembang pada waktu itu mengenai asal-usul dan kejadian alam semesta. satu-satunya otoritas yang mengakui kebenaran dan keabsahan pemikiran
Para filsuf menerangkan asal-usul dan kejadian alam semesta berdasarkan filsafat dan ilmu pengetahuan. Pada abad ini terjadi sekularisasi ilmu, yakni
analisis pemikiran rasional, padahal manusia pada zaman itu belum mampu pemisahan antara aktivitas ilmiah dengan aktivitas keagamaan
terlepas dari mitos.

Zaman Renainsance Substansi objek kajian: Zaman ini terkenal dua hal Zaman Modern Substansi objek kajian: Manusia pada zaman modern
yang sangat penting. Pertama, berkurangnya kekuasaan Gereja. Kedua, tidak mau diikiat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada
semakin bertambahnya kekuasaan ilmu pengetahuan. pada dirinya sendiri.

Zaman Kontemporer Substansi objek kajian: Perkembangan filsafat pada


zaman ini ditandai dengan munculnya aliran filsafat (kelanjutan dar zaman
modern), yaitu neo-thomisme, neo-kantianisme, dan sebagainya, serta aliran
filsafat baru, yaitu: fenomologi, eksistensialisme, pragmatisme, dan
postmodernisme.
Sejarah dan
Perkembangan Ilmu
Zaman Yunani Kuno Zaman Abad Zaman Renaisance/ Zaman Zaman
(6 SM-6M) Pertengahan (6-14 M) Modern (Abad 17-19 Kontemporer (20 M-
Aufklarung (14-19 M) M) Sekarang)
Kosmosentris Filsafat Metafisi Teosentris Antropo Antroposentris Logosentri
Spekulatif ka sentris Dan Metode
Ilmu Sebagai Eksperimental s
Thales Plato Aristote Pelayan Teologi Coper Galileo
Penemuan
les nicus Galilei Rene Isaac
Berbagai Teknologi
Descartes Newton Canggih
Heleosent Gerak
rime Parbola Sistem Teori
Koordin Gravitasi
at
2. Jelaskan metode-metode ilmiah dan aliran-aliran pemikiran untuk memperoleh ilmu
pengetahuan!
Jawaban:
Metode Ilmiah
Pada metode ilmiah, untuk memperoleh pengetahuan dilakukan dengan cara menggabungkan
pengalaman dan akal pikiran sebagai pendekatan bersama dan dibentuk dengan ilmu. Secara
sederhana teori ilmiah harus memenuhi 2 syarat utama yaitu harus konsisten dengan teori-teori
sebelumnya dan harus cocok dengan fakta-fakta empiris. Pada metode ilmiah dibutuhkan proses
peramalan dengan deduksi. Deduksi pada hakikatnya bersifat rasionalistis dengan mengambil
premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya.
Menurut AR Lacey untuk menemukan kebenaran yang pertama kali dilakukan adalah
menemukan kebenaran dari masalah, melakukan pengamatan baik secara teori dan ekperimen
untuk menemukan kebenaran, falsification atau operasionalism (experimental opetarion,
operation research), konfirmasi kemungkinan untuk menemukan kebenaran, Metode hipotetico
deduktif, Induksi dan presupposisi/teori untuk menemukan kebenaran fakta
Kerangka berpikir yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri
dari langkah-langkah sebagai berikut:
Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-
batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi
yang menjelaskan hubungan yang mubgkin terdapat antara berbagai faktor yang saling
mengkait dan bentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional
berdasrakan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan
faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan
yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang
dikembangkan.
Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan
hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung
hipotesis tersebut atau tidak.
Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu
di tolak atau diterima. Seandainya dalam pengujian terdapat fakta-fakta yang cukup dan
mendukung maka hipotesis tersebut akan diterima dan sebaliknya jika tidak didukung fakta
yang cukup maka hipotesis tersebut ditolak. Hipotesis yang diterima dianggap menjadi
bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni
mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya
serta telah teruji kebenarannya.
Menurut Sulistyarso dkk (2012) metode-metode untuk memperoleh pengetahuan ada 6
yaitu:
- Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh
pengetahuan dengan melalui pengalaman.
- Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena
rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling
dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin
bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri
barang sesuatu.
- Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang
pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang
alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan
disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah
mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan
hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang
gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan
didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para
penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri
terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
- Intisionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan
seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan
dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
- Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis
sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.
Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan.
Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu
pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
- Metode Ilmiah yang sudah dijelakan di atas
Kesimpulannya dari penjabaran di atas adalah Metode ilmiah terdiri atas serangkaian kegiatan
yang berupa: pengenalan dan perumusan masalah, pengumpulan informasi yang relevan,
perumusan hipotesis, pelaksanaan eksperimen dan publikasi atau penyebaran informasi. Ada dua
asas yang mendasari teori metode ilmiah, yaitu: Pertama, penyelidikan harus fokus pada satu
persoalan; Kedua,usaha untuk menemukan sebuah solusi harus merupakan usaha untuk
menggabungkan dugaan yang berani dengan kritisisme yang tajam.

Referensi :
Samiha Yulia. 2016. Standar Menilai Teori dalam Metode Ilmiah pada Kajian Filsafat Ilmu.
Jurnal Studi Islam. Volume 14, Nomor 2, Desember
Karim, Abdul. 2014. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jurnal Fikrah, Vol. 2, No. 1,
Juni

3. Apa manfaat filsafat sebagai metode berpikir kritis untuk mempertanyakan kepastian dan
kebenaran ilmiah dalam pengembangan ilmu?
Jawaban:
Tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran
berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian) dengan cara menganalisa
dan melakukan perenungan. Kebiasaan menganalisis segala sesuatu dalam hidup seperti yang
diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan
objektif dalam melihat dan memecahkan beragam masalah. Dengan berpikir kritis, seseorang
tidak akan mudah untuk membenarkan suatu kepastian dan kebenaran ilmiah dalam
pengembangan ilmu, sehingga akan mencari kebenaran dan melakukan penganalisaan terlebih
dahulu agar benar-benar dapat dipastikan bahwa suatu kepastian dan kebenaran ilmiah yang
akan dijadikan landasan dalam pengembangan ilmu memang benar-benar pasti benar dan juga
sesuai sehingga ilmu yang dikembangkan nantinya juga akan memiliki nilai guna atau manfaat
bagi banyak manusia.
Filsafat ilmu (Caswili, 2014) merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan
metode keilmuan.Dengan adanya filsafat ilmu, seseorang akan meragukan semua hal yang
disampaikan kepadanya. Dengan sikap ragu inilah, seseorang akan mempelajari dan mencari
kebenaran dari ilmu yang ada. dalam kegiatan mencari kebenaran ini, seseorang akan melakukan
penyelidikan-penyelidikan tentang kebenaran ilmu yang disampaikan padanya sehingga melalui
penyelidikan-penyelidikan inilah ilmu pengetahuan berkembang. Seorang filsuf juga biasanya
adalah orang yang memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang tinggi untuk memperoleh
sesuatu yang baru. Biasanya seorang filsuf selalu menanyakan kebenaran terhadap segala hal.
Irmayanti M Budianto pernah mencatat beberapa peran filsafat, baik dalam kehidupan maupun
dalam bidang keilmuan:
filsafat atau berfilsafat mengajak manusia bersikap arif dan berwawasan luas terdapat
berbagai masalah yang dihadapinya, dan manusia diharapkan mampu untuk memecahkan
masalah-masalah tersebut dengan cara mengidentifikasinya agar jawaban-jawaban dapat
diperoleh dengan mudah.
berfilsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas
dasar pandangan hidup dan atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.
Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan lainnya (interaksi dengan
masyarakat, komunitas, agama, dan lain-lain) secara lebih rasional, lebih arif, dan tidak
terjebak dalam fanatisme yang berlebihan.
Keempat, terutama bagi para ilmuwan ataupun para mahasiswa dibutuhkan kemampuan
untuk menganalisis, analisis kritis secara komprehensif dan sistematis atas berbagai
permasalahan ilmiah yang dituangkan di dalam suatu riset, penelitian, ataupun kajian
ilmiah lainnya. Dalam era globalisasi, ketika berbagai kajian lintas ilmu pengetahuan atau
multidisiplin melanda dalam kegiatan ilmiah, diperlukan adanya suatu wadah, yaitu sikap
kritis dalam menghadapi kemajemukan berpikir dari berbagai ilmu pengetahuan berikut
para ilmuannya.

Referensi :
https://www.scribd.com/doc/87799581/3-cara-berpikir-filsafat

https://yogapermanawijaya.wordpress.com/2014/10/26/landasan-berfikir-filsafat-manfaat-dan-
penerapanya-pembagian-filsafat-ciri-filsafat-dan-landasan-filsafat/

4. Jelaskan secara sistematik pengembangan ilmu bebas nilai dan terikat dengan nilai serta
peran etika, kekuasaan dan media massa dalam menentukan kebenaran!
Jawaban:
Ilmu Bebas Nilai
Josep Situmorang menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada 3 faktor sebagai indikator bahwa
ilmu itu bebas nilai, yaitu:
1. Ilmu harus bebas dari pengendalian-pengendalian nilai. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus
bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor ideologis, religius, kultural, dan sosial.
2. Diperlukan adanya kebebasan usaha ilmiah agar otonom ilmu terjamin.
3. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat
kemajuan ilmu, karena nilai etis sendiri itu bersifat universal.
Ilmu Tidak Bebas Nilai Terikat
Ilmu yang tidak bebas nilai (value bond) memandang bahwa ilmu itu selalu terikat dengan nilai
dan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai. Perkembangan nilai tidak
lepas dari dari nilai-nilai ekonomis, sosial, religius, dan nilai-nilai yang lainnya. Ilmu yang tidak
bebas nilai ini memandang bahwa ilmu itu selalu terkait dengan nilai dan harus di kembangkan
dengan mempertimbangkan nilai. Ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai
kepentingan-kepentingan baik politik, ekonomi, sosial, keagamaan, lingkungan dan sebagainya.
Peran
Makna etika dipakai dalam dua bentuk arti, pertama, etika merupakan kumpulan suatu ilmu
pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia.seperti ungkapan saya
pernah belajar etika. Arti kedua merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-
hal,perbuatan-perbuatan,atau manusia-manusia yang lain. Seperti ungkapan ia bersifat etis atau
ia seorang yang jujur atau pembunuhan merupakan sesuatu yang tidak susila.
Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa obyek formal etika
adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat pula dikatakan bahwa etika mempelajari
tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi yang normatif
yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai
tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena
disekelilingnya.
Dalam kasus tersebut peran etika, kekuasaan dan media massa dalam menentukan kebenaran
sangat diperlukan. Pemegang kekuasaan harus benar-benar dapat mengambil tindakan yang adil
dalam menetukan kebenaran dengan mempertimbangkan keselamatan bumi dan seisinya
termasuk manusia didalamnya. Media massa sebagai pemilik peran yang cukup penting dalam
penyebaran informasi juga harus dapat memberikan informasi kepada orang lain dengan
melibatkan nilai etika sehingga membuat para penerima informasi dapat berpikir secara kritis
dalam menentukan kebenaran dan mengambil tindakan yang dapat membantu menyelesaiakn
permasalahan diatas yang berhubungan dengan peran teknologi dan akibatnya bagi kehidupan
manusia.

Referensi :
http://www.kumpulanmakalah.com/2017/26/ilmu-pengertahuan-dan-nilai.html)
http://www.kumpulanmakalah.com/2016/09/ilmu-pengertahuan-dan-nilai.html (diakses tanggal
25 november 2017)
http://asbarsalim009.blogspot.co.id/2015/03/paradigma-ilmu-bebas-nilai-dan-ilmu.html

5. Apa dan bagaimana pandangan dan wawasan anda dalam menghadapi perkembangan ilmu
pendidikan dan teknologi yang berlangsung dengan begitu cepat, spektakuler, mendasar;
yang secara ekstensif menyentuh semua segi dan sendi kehidupan dan secara intensif
merombak budaya manusia?
Jawaban:
Manusia menggunakan teknologi kare-na memiliki akal. Dengan akalnya manusia ingin keluar
dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman, dan sebagainya. Perkem-bangan teknologi
terjadi karena seseorang menggunakan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang
dihadapinya. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini,
karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap
inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Teknologi juga
memberikan banyak kemu-dahan, serta sebagai cara baru dalam melaku-kan aktivitas manusia.
Manusia juga sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi teknologi
yang telah dihasilk-an dalam dekade terakhir ini.
Pada era globalisasi saat ini, penguasa-an teknologi menjadi prestise dan indikator kemajuan
suatu negara. Negara dikatakan maju jika memiliki tingkat penguasaan teknologi tinggi (high
technology), sedangkan negara-negara yang tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi
sering disebut seba-gai negara gagal (failed country). Akan tetapi teknologi juga memiliki
dampak yang sangat buruk bagi kehidupan pada era zaman sekarang yaitu perubahan social .
Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, organisasi atau
komunitas, ia dapat menyangkut struktur sosial atau pola nilai dan norma serta peran.
Generasi muda khususnya dikalangan pelajar saat ini mulai kehilangan nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia itu sendiri. Hal ini dikarenakan perkembangan zaman yang sangat pesat. Pada saat ini,
generasi muda yang hidup dalam kondisi nyaman, aman, tentram cenderung apatis, tidak banyak
berbuat hanya mempertahankan apa yang telah di capai tanpa keinginan dan kerja keras untuk
mencapai sesuatu yang lebih baik lagi. Bahkan generasi muda saat ini cenderung tidak produktif
malah sebaliknya bersikap konsumtif, seharusnya melalui generasi muda terlahir inspirasi dan
ide-ide kreatif untuk mengatasi persoalan atau masalah.
Kemajuan ini memiliki sisi baik dan buruk juga terhadap perkembangan sosial, mutu pendidikan
dan budaya kita, masalah ini dapat diselesaikan dengan cara bagaimana kita menyikapi
persoalan ini. Jika persoalan ini membuat kebiasaan yang merupakan warisan kebudayaan kita
luntur, maka itu merupakan sisi yang buruk atau dapat disebut dengan negatif. Maka dari itu kita
harus bisa memilah milah bagaimana yang baik dan buruknya. Bukan disini saya tidak
mengharapkan adanya perkembangan pendidikan dan iptek, tetapi disini saya menekankan
pendidikan dan iptek boleh berkembang dan itu adalah hal yang sangat bagus, tetapi kita tidak
boleh meninggalkan jati diri kita atau kebudayaan kita atau kebiasaan kita yang merupakan
warisan dari leluhur kita.

Referensi :
Khusnan Ahmad, 2014. Pola Pikir, Sikap Dan Perilaku Toleran Peserta Didik. Jurnal fikroh,
vol.8 no.1 juli
Ngafifi Muhammad, 2014. Kemajuan Teknologi dan Pola Pikir Hidup Manusia Dalam
Perspektif Sosial Budaya. Jurnal pembangunan pendidikan. Vol.2. No.1
Wilda El Minnah, 2012. Pola Pikir dan Pendidikan. Jurnal al-ulum. Vol.1 no.1